Jilid 11 : Membawa Gak-In-ling ke puncak terpencil  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe


Jilid 11 : Membawa Gak-In-ling ke puncak terpencil
GAK IN LING tertawa dingin
"Aku Gak In Ling "jawabnya tegas.
Dewi burung hong indah adalah seorang gadis yang angkuh dan tinggi hati, mendengar ucapan tersebut hawa amarahnya segera berkobar di dalam dada, napsu membunuh yang mengerikan pun tersorot keluar dari balik matanya, dengan nada dingin ia bertanya. "Apakah kau yakin sanggup menghadapi aku di dalam beberapa jurus ?"
"Ha. haa haa. belum pernah aku berpikir sampai kesitu." sahut Gak In Ling sambil tertawa terbahak-bahak. "tetapi aku sebagai salah seorang masyarakat dunia persilatan didaratan Tionggoan ini merasa berkewajiban untuk membela keadilan serta kebenaran, sekalipun harus mengorbankan selembar jiwaku, pengorbanan ini juga sangat berguna sekali."
Tiba-tiba dewi burung hong indah tertawa merdu sekali.

"coba lihatlah dahulu orang itu " serunya sambil menuding mayat Hiat-mo-ong yang terkapar diatas tanah, setelah itu ia melanjutkan-
"Jikalau engkau masih tetap keras kepala dan tak tahu diri, maka kemungkinan besar kematian yang akan kau alami jauh lebih mengerikan daripada dirinya."
Mendengar perkataan itu Gak In Ling segera alihkan sorot matanya kearah tubuh Hiat mo-ong yang menggeletak diatas tanah, sekujur badannya kontan merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, terlihatlah pada saat itu Hiat-mo-ong sedang berkelejat tiada hentinya di atas tanah, seluruh anggauta badannya gemetar keras dan berubah jadi hitam-pekat, sepasang matanya melotot keluar seakan-akan mau meloncat keluar dari dalam kelopok matanya, ditambah pula raut wajahnya yang memang jelek, keadaan nya pada saat itu boleh dibilang jauh lebih mengerikan daripada iblis bengis yang muncul dari neraka tingkat ke delapan belas.
Mulutnya yang besar megap-megap seakan-akan sedang berusaha menjerit sekeras-kerasnya, akan tetapi tak kedengaran sedikit suarapun yang berkumandang keluar, dari sini dapat dilihat betapa besarnya siksaan yang sedang diderita olehnya pada saat ini.
Gak In Ling alihkan kembali sinar matanya kearah dewi burung hong indah, ia lihat gadis itu masih tetap berdiri tenang ditempat semula seolah-olah sama sekali tak pernah terjadi sesuatu apapun, hal ini membuat hatinyajadi amat gusar sekali, pikirnya.
"Dikolong langit ternyata terdapat manusia yang kejam dan berhati telengas seperti dia... benar-benar luar biasa."
Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia maju ke depan, telapaknya diayun ke depan mengirim satu pukulan dengan jurus Tiem-sak-seng-kim atau menutul batu berubah emas.
"Blaaam." di tengah benturan yang sangat keras serangan tersebut telah bersarang diatas dada Hiat-mo-ong membuat gembong iblis tua itu menemui ajalnya seketika itu juga.
Demikianlah seorang gembong iblis yang sudah banyak melakukan kejahatan harus merasakan dahulu suatu siksaan badan serta penderitaan yang luar biasa sebelum akhirnya harus binasa, mungkin inilah ganjaran bagi orang yang gemar melakukan kejahatan serta berhati bengis tak kenal prikemanusiaan-
Setelah berhasil membinasakan Hiat-mo-ong untuk beberapa saat lamanya Gak In Ling berdiri termangu-mangu ditempat itu.
Pada wakta itulah dewi burung hong indah berseru sambil tertawa merdu.
"Gak In Ling, apakah kau anggap sebelum tindakanmu itu aku tak menduga sampai kesana?"
Gak In Ling segera putar badannya kebelakang, ketika sorot matanya saling membentur dengan sepasang mata dewi burung hong indah, pemuda itu segera merasakan hatinya tercekat, karena dibalik sorot matanya yang indah penuh mengandung cahaya dingin yang tajam dan mengerikan.
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, sesudah berhasil menenangkan hatinya dengan wataknya yang angkuh dan tinggi hati, tentu saja ia tak mau tunduk dengan begitu saja. Ia tertawa tawa lalu berkata.
"Nona memiliki kecerdasan yang luar biasa tentu saja semua perbuatanku tak dapat mengelabui engkau." suaranya mendatar dan tenang sekali.
Melihat ketenangan lawannya, dewi burung hong indah berpikir juga dalam hatinya.
"orang ini terang-terangan mengetahui bahwa dia bukan tandinganku, akan tetapi sikap dan air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa jeri ataupun takut, keadaan seperti ini belum pernah kuduga sebelumnya."
Berpikir sampai disini, ia lantas tertawa dingin dan berkata dengan suara merdu.
"Hemm, sikapmu benar-benar tenang sekali. Tahukah engkau apa sebabnya nonamu walaupun sudah menduga akan tetapi sama sekali tidak menghalangi perbuatanmu itu?"
Dari sorot mata tajam yang memancar keluar dari balik mata dewi burung hong indah, Gak In Ling sudah dapat menyelami perasaan hatinya, dengan nada dingin ia segera menjawab.
"Apa salahnya kalau aku yang mewakili dirimu untuk menanggung dosa karena sudah membinasakan Hiat-mo-ong dari muka bumi?"
Sekali lagi dewi burung hong indah tertegun sesudah mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia berkata.
"Gak In Ling, kau adalah satu satunya orang yang dapat menebak isi hatiku, kecerdasanmu ternyata sama sekali tidak berada dibawah kepandaian nonamu "
Mendadak dari balik sorot matanya yang indah terpancar keluar napsu membunuh yang amat tebal sekali, namun hanya didalam beberapa kejapan saja napsu membunuh yang amal tebal itu sudah lenyap tak berbekas.
"cuma," ujar Gak In Ling kembali dengan nada dingin, "meskipun aku telah mengetahui bahwa kepandaian silatku masih bukan tandinganmu, akan tetapi aku tidak akan menyerah dan mudah dibunuh dengan begitu saja, aku lihat terpaksa nona harus mengerahkan sedikit tenaga untuk turun tangan sendiri."
Dewi burung hong indah segera tertawa terkikik dengan nada yang amat sinis.
"Harus menggunakan tenaga untuk turun tangan ? Haa
haa...,. haa kalau menghadapi manusia seperti engkau aku
harus mengerahkan tenaga, apa gunanya aku berambisi untuk merajai kolong langit ? Mari, mari kalau kau mampu menangkan kaki dari nonamu ini... maka sejak hari ini nonamu tak akan mencari gara-gara dengan dirimu lagi"
Perkataan ini boleh dibilang mendekati tekebur dan omong besar, dia ingin melayani Gak In Ling yang berkepandaian tinggi dengan sepasang kakinya belaka, hal ini benar-benar suatu ucapan yang amat besar, sampai dimana kepandaian yang dia miliki ? Dan lagi siapa yang mau percaya dengan ucapannya itu? Karena Gak In Ling memiliki pukulan telapak maut yaag dianggap sebagai kepandaian ampuh di kolong langit.
Hawa amarah yang tak terkendalikan menghiasi seluruh wajah Gak In Ling, meskipun tindakan seperti itu merupakan suatu kesempatan yang paling baik baginya untuk meloloskan diri dari mara bahaya, akan tetapi ia merasa berat hati untuk menerima tawaran yang mendekati suatu penghinaan itu Dia merasa gengsinya diinjak-injak dan dipandang rendah sekali.

Dengan suara dingin Gak In Ling segera berkata.
"Aku lebih rela mati disepasang telapak tangan nona walaupun didalam dua-tiga gebrakan saja, daripada mencari untung di bawah sepasang kaki nona itu."
Kembali serentetan cahaya yang sangat aneh melintas diwajah dewi burung hong indah, pikirnya didalam hatL
"orang ini sudah berada ditepi lembah kematian, akan tetapi ia tak bersedia mencari keuntungan dengan cara yang tak benar, dari sini dapat dilihat bahwa jiwanya memang besar dan jujur,jarang sekali dikolong langit terdapat manusia semacam ini, mungkin didalam persilatan memang bukan keseluruhannya merupakan manusia-manusia licik yang berbahaya."
Berpikir rampai disini, tiba-tiba kaki kirinya menjejak permukaan tanah, sedangkan kaki kanannya laksana kilat menyapu kearah pinggang Gak Ing Ling, serunya.
"Tindakan ini merupakan kerelaan nonamu sendiri, sekalipun akhirnya aku sampai mati, tak akan kusesali kembali kematianku itu."
Kakinya menyambar ke depan dengan dahsyatnya, jurus serangan yang dipergunakan ternyata adalah gerakan Heng-sau-cian-kim atau menyapu rontok ribuan prajurit.
Sepasang alis berkerut, tubuhnya berputar cepat kesamping sejauh tiga depa, setelah menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut belum sempat ia buka suara tiba-tiba ia dengar dewi burung hong indah telah berteriak keras. "Lihatlah jurus seranganku ini "
Air muka Gak In Ling yang semula telah mengendor segera berubah jadi tegang kembali sesudah mendengar seruan itu, ketika ia menengadah keatas maka terlihatlah tubuh dewi burung hong indah sudah melayang ditengah udara, sepasang ujung kakinya yang runcing telah berada lima cun diatas tenggorokannya.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini benar-benar dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat, Gak In Ling sama sekali tak sempat menyaksikan bagaimanakah caranya gadis itu membuyarkan serangan untuk berganti jurus, ia hanya merasa bahwa tubuhnya tahu-tahu sudah berada diudara.
Saking terkesiapnya keringat dingin dengan cepat mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Gak In Ling, untung tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, meskipun menghadapi mara bahaya namun gerakan tubuhnya sama sekali tidak kacau, tanpa berpikir panjang lagi dengan sekuat tenaga ia menjejakkan sepasang kakiaya keatas tanah, dengan gerakan pindah badan berganti tempat laksana kilat dia melayang mundur kebelakang sejauh satu tombak lebih.
Dibawah sorot cahaya sang surya tampaklah pada ujung sepatu dewi burung hong sudah terdapat ujung senjata kaitan pendek yang memancarkan cahaya berkilat, seandainya tendangan tersebut bersarang telak niscaya tenggorokannya sudah terhajar sampai muncul lubang besar.
Ada satu hal yang membuat Gak In Ling heran dan tak habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya dewi burung hong indah dengan kepandaian silatnya yang amat tinggi dan mampu membunuh orang tanpa berwujud, kenapa telah memasang senjata kaitan yang tajam pada ujung sepatunya?
Tentu saja kaitan pada ujung sepatunya ada kegunaannya, dan untuk mengetahui kegunaan tersebut pada lain bagian akan diceritakan tersendiri.
Setelah meloncat mundur beberapa tombak kebelakang, dengan cepat Gak In Ling berpikir didalam hati kecilnya.
"Tubuhnya masih berada diudara, mungkin ia tak sempat untuk mengejar diriku lagi." Baru saja dia akan buka suara, tiba-tiba dari tengah udara berkumandang kembali
Suara bentakan nyaring dari dewi burung hong indah, tampaklah ujung bajunya menari ditengah udara, dan tiba-tiba sepasang kakinya yang bersepatu merah bagaikan sepasang sayap yang mengebas keras dan tubuhnya sekali lagi meloncat setinggi lima depa keudara.
Kemudian sepasang lengannya dikebaskan bagaikan orang mendayung perahu, badannya laksana sambaran kilat kembali menerjang kearah Gak In Ling.
Semua gerakan itu walaupun panjang dilukiskan dalam kata-kata, namun dalam kenyataan nya berlangsung dalam sekejap mata, mungkin Gak In Ling sendiripun baru saja berdiri tegak ditanah.
Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka bakal menjumpai kejadian yang sama sekali tidak terduga seperti ini, baru saja sorot matanya dialihkan ketengah udara, terlihatlah berpuluh-puluh buah cahaya merah telah menerjang datang dari delapan penjuru bagaikan turunnya hujan badai yang amat deras.
Ilmu siiat yang dimiliki dewi burung hong indah merupakan suatu aliran tersendiri, didalamnya tercakup pula suatu keanehan, kelincahan, kesadisan serta kehebatan.
Meskipun Gak In Ling memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, namun berada dalam keadaan serta posisi yang amat terdesak seperti ini, kendatipun ia berkepandaian lihay namun tidak mampu juga baginya untuk meloloskan diri.
Demi keselamatan jiwanya Gak In Ling tak sempat untuk berpikir lebihjauh, bentaknya. "Terimalah seranganku ini"
Dengan gerakan Pat-hong-hong-yu atau hujan badai didelapan penjuru, ia lancarkan dua sapuan tajam kesekeliling tempat itu.
Dasar tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling amat sempurna, ditambah pula ia telah makan buah naga air, tanpa disadari kesempurnaan tenaga dalamnya telah bertambah maju satu tingkat, meskipun dalam serangannya itu dia hanya menggunakan tenaga sebesar tujuh bagian, akan tetapi deruan angin pukulan yang terpancar keluar benar-benar menggetarkan hati setiap orang.
Terdengar dewi burung hong indah yang berada ditengah udara tertawa merdu, lalu berseru.
"Haa haa haa akhirnya engkau turun tangan juga." bayangan kakinya mendadak lenyap tak berbekas, gerakannya begitu cepat sehingga semua gerakannya hampir boleh dibilang dilakukan hampir bersamaan waktunya.
Dalam hati Gak In Ling merasa amat menyesal setelah melepaskan serangannya tadi, setelah berhasil mendesak mundur dewi burung hong indah, ia tidak mendesak lebih jauh dengan melancarkan serangan lain sambil menarik diri tubuhnya meloncat mundur lima depa kebelakang.
Siapa tahu, baru saja badannya mundur ke belakang dewi burung hong indah segera melancarkan serangan kembali, kali ini serangannya jauh lebih dahsyat daripada serangan semula, terdengarlah deruan angin serangan mendesing amat memekakkan telinga.
Meskipun dalam keadaan seperti itu Gak In Ling tidak ingin turun tangan lagi, akan tetapi situasi yang sedang dihadapinya tidak mengijinkan dirinya untuk berbuat demikian, keinginan untuk mempertahankan hidup membuat dia mau tak mau harus melawan dengan sepenuh tenaga.
Suatu pertarungan sengit yang mendebarkan h atipun segera berlangsung ditempat itu.
Di pihak lain bayangan merah beterbangan bagaikan sekuntum bunga berwarna merah yang terhembus angin puyuh, bergerak kesana kemari tiada hentinya sementara titik-titik ujung kaki menerobos masuk kebalik angin pukulan melepaskan ancaman yang membahayakan jiwanya.
Untuk beberapa saat lamanya suasana tetap berlangsung dalam keadaan seimbang dan seru.
Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam waktu singkat lima puluhan gebrakan sudah lewat tanpa terasa, walaupun sepintas lalu nampaknya menang kalah masih belum dapat ditentukan, tetapi bila dilihat dengan seksama maka tampaklah walaupun angin pukulan yang dilancarkan Gak In Ling amat dahsyat dan amat memekakkan tenaga, tapi ia selalu gagal untuk membelit ujung pakaian dari dewi burung hong indah, atau dengan perkataan lain angin pukulan dari sianak muda itu tak mampu menyuwil tubuh gadis itu apalagi menyarangkan pukulan dengan telak.
Sebaliknya ujung kaki dewi burung hong indah seringkali muncul pada suatu posisi yang sama sekali tak terduga oleh Gak In Ling, membuat ia tak mampu menduga lebih dahulu kearah manakah tendangan itu akan tiba, dengan sendirinya tanpa disadari situasi dalam pertarungan itu sepenuhnya beraba dibawah cengkeraman dara baju merah itu.
Tidak selang beberapa saat kemudian, kembali tiga puluh-gebrakan sudah lewat, saat itu sang surya telah condong kesebelah barat. Keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi seluruh jidat anak muda itu, nampak jelas kalau pemuda itu sudah kepayahan-
Dewi burung hong indah sendiri sejak permulaan hingga detik itu selalu menggerakkan kakinya untuk melancarkan tendangan-tendangan kilat, semua gerakan dilakukan dengan luwes dan leluasa sedikitpun tidak nampak kepayahan-
Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit itu, mendadak napsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dengan nada dingin ia segera membentak keras.
"Nona, aku harap kau suka menghentikan seranganmu sampai disini saja, janganlah memaksa aku Gak In Ling untuk menempuh jalan yang nekad " sambil berkata secara beruntun dia lepaskan kembali dua jurus pukulan-
Dewi burung hong indah yang berada diudara dengan gesit dan manis sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut, kemudian diapun balas melancarkan dua buah serangan yang memaksa Gak In Ling terpaksa mundur tiga langkah kebelakang, katanya dengan suara merdu.
"Gak In Ling, rupanya kau masih mempunyai ilmu
simpanan yang belum sempat kau keluarkan, kenapa tidak
sekalian kau keluarkan pula. Ayo cepatlah dan tak usah
sungkan-sungkan"
"Asalkan nona melayani seranganku dengan sepasang telapak. maka akupun akan melakukan perlawanan dengan segenap tenaga pula. "jawab Gak in Ling dengan nada dingin.
Sambil tetap melancarkan serangannya, dewi burung hong indah tertawa merdu, ia berseru.
"Untuk melayani sepasang kaki nonamupun kau tak mampu untuk menghadapinya, apalagi kalau aku mempergunakan sepasang telapakku ?" Gak In Ling tertawa dingin-
"Akan tetapi aku merasa kalau menangpun kemenangan tersebut didapatkan dengan tidak cemerlang." serunya.
"Hee.. hehee kalau merasa tidak punya ilmu simpanan, yaa, sudahlah, apa sih gunanya menghantam muka sendiri sampai bengkak dan mengaku sebagai gemuk ?" ejek dewi burung hong indah sambil tertawa mengejek.
Beberapa patah kata itu dengan cepat mengobarkan hawa amarah dalam hati Gak In Ling meskipun ia berhati bajik dan tak ingin mencari keuntungan, tapi suka menang sendiri adalah sifatnya yang paling khas dari seorang pemuda, Gak In Ling yang masih muda belia tentu saja tidak dapat terhindar dari sifat itu.
Pada saat ucapan dewi burung hong indah baru saja selesai diutarakan keluar, tiba-tiba dengan sepasang alis mata berkernyit Gak In Ling membentak keras.
"Kalau memang begitu, akan kuperlihatkan keampuhanku " habis berkata ia segera melakukan gerakan, ditengah gerakan merah yang menyelimuti seluruh angkasa muncullah berpuluh puluh buah telapak merah yang dalam waktu singkat mengurung seluruh tubuh gadis muda baju merah itu.
Serangan yang dilancarkan Gak In Ling dalam keadaan gusar.ini benar-benar mengerikan sekali, begitu ia turun tangan ia segera mengeluarkan jurus Hiat-yu-seng-hong atau hujan darah angin amis, serta Hiat-liu-biau-kan atau darah mengalir menggenangi tiang.
Telapak maut adalah serangkaian ilmu sakti dalam kolong langit, meskipun dewi burung hong indah pernah mendengar nama kepandaian tersebut akan tetapi belum pernah menjumpainya, menyaksikan datangnya ancaman tersebut hatinya jadi amat terperanjat.
Tanpa sadar ia berteriak kaget. "Aaah telapak maut "
Walaupun penggunaan telapak maut oleh Gak In Ling secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan hatinya, akan tetapi dewi burung hong indah sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman dan memiliki ilmu silat yang tinggi sama sekali tidak dibikin gugup olehnya.
Biji matanya yang indah menyapu sekejap kesekeliling tempat itu. Tiba-tiba satu senyuman tersungging diujung bibirnya, dalam hati ia segera berpikir. "Rupanya telapak mautnya itu belum berhasil dilatih hingga sempurna... "
Ingatan tersebut dalam sekejap mata telah berkelebat lewat, setelah mengetahui bahwa telapak maut yang dimiliki Gak In Ling belum mencapai kesempurnaan, timbullah kembali perasaan ingin menang dalam hatinya.
Telapak tangannya segera diayun kebelakang untuk menggerakkan badannya, bukan mundur malah dia menerkam maju kedepan dan menggunakan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat menerjang kearah sianak muda itu, sepasang kakinya melancarkan serangan berbareng dengan memakai jurus Lian-pian-peng-hua atau kaki dan kancing maju bersama, arah yang dituju adalah dada pemuda itu.
Semua perubahan berlangsung dengan begitu cepatnya, sehingga membuat orang sama sekali tak ada waktu untuk berdiri ragu.
Ketika gadis itu menjerit kaget tadi, tanpa disadari Gak In Ling sudah merasa kasihan dan suatu kekuatan yang tak berwujud telah mengerem kekuatan serangannya, kendatipun pemuda she Gak itu berada dalam keadaan gusar akan tetapi sebagian tenaga kekuatannya telah ditarik kembali.
Ia telah melupakan bahwa pertaruhan yang sedang berlangsung adalah suatu pertarungan yang menentukan antara hidup dan mati, diapun lupa kalau gadis yang sedang dihadapinya pada saat ini adalah seorang iblis perempuan yang membunuh orang tanpa berkedip. ia semakin tak habis mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba ia menarik kembali serangannya.
"Blaaam " ditengah benturan keras berkumandanglah suara dengusan berat, tubuh Gak In Ling yang tinggi kekar tahu-tahu sudah kena ditendang oleh dewi burung hong indah sehingga terpental sejauh dua tombak dari tempat semula dan roboh terkapar diatas permukaan salju.
Bunga-bunga salju segera beterbangan keempat penjuru ketika tertimpa oleh terjangan tubuhnya.
Dengan susah payah Gak In Ling menggeserkan badannya dan berusaha untuk bangkit berdiri, mendadak dadanya terasa tertekan oleh segulung kekuatan besar membuat badannya dipaksa untuk berbaring kembali diatas tanah.
Gak In Ling mengedipkan matanya yang berkunang-kunang, tampaklah tepat dihadapan tubuhnya berdirilah dewi burung hong indah dengan wajah yang dingin kaku, sepasang kakinya menginjak tepat diatas dada sianak muda itu.
Dewi burung hong indah sendiripun memandang Gak In Ling dengan pandangan dingin, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling. Mungkin air muka Gak In Ling yang pucat pias serta darah kental yang berlumuran diujung bibirnya telah membuat sebuah bekas luka yang lain dihati kecilnya.
Akan tetapi sekalipun perasaan hatinya terjadi pergolakan keras, akan tetapi wajahnya yang dingin kaku tetap seperti semula, sedikitpun tak mengalami perubahan barang sedikitpun juga, terdengar ia berkata dengan nada dingin.
"Gak In Ling, sudahkah kau pikirkan hukuman apa yang akan nonamu jatuhkan terhadap dirimu ?"
Gak In Ling tidak menjawab secara langsung, hanya dengan nada yang hambar ia berkata.
"Terlalu banyak persoalan yang harus kupikirkan, aku tidak pernah memikirkan persoalan itu "
"Apakah kau masih tidak puas dengan jalannya pertarungan ini?" Seakan-akan sedang mengejek Gak In Ling gelengkan kepala.
"Sekalipun dua jurus seranganku itu tidak kutarik kembali, akupun tak dapat menghindarkan diri dari kejadian semacam ini." sahutnya.
Sekali lagi dewi burung hong indah merasakan hatinya tergerak. ujarnya dengan suara lantang.
"Kau memang jujur sekali, sekarang coba katakanlah bagaimana pendapatmu tentang diriku."
"Aku hanya menguatirkan keselamatan umat persilatan yang ada dikolong langit, karena dalam dunia persilatan mulai detik ini telah bertambah lagi dengan seorang iblis perempuan yang brutal, sadis dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan barang sedikitpun juga."
Airmuka dewi burung hong indah seketika itu juga berubah hebat, napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, sambil tertawa dingin ia berseru. "Kau maksudkan iblis tersebut adalah aku?"
"Sedikitpun tidak salah "
"Hee hee.... hee. ..." dewi burung hong indah tertawa dengan seramnya, "tahukah engkau pada saat ini keselamatan jiwamu berada ditangan siapa ?" Perlahan-lahan Gak In Ling memejamkan matanya, lalu menjawab.
"Asal nona mengerahkan sedikit tenaga lagi pada kaki kananmu Utu, maka aku akan segera tinggalkan bumi ini untuk selama-lamanya "
Dewi burung hong indah sama sekali tidak menyangka kalau Gak In Ling memandang harnbar soal mati hidupnya, ia menjadi mendongkol sekali sehingga bentaknya. "Kau anggap nonamu tidak berani untuk melakukan hal seperti itu ?"
"Aku tahu dikolong langit tiada perbuatan yang tak berani engkau lakukan-"
Perlahan-lahan dewi burung hocg indah menarik kembali injakan kakinya pada dada sianak itu, seakan-akan sedang berbicara terhadap diri sendiri ia berguman.
"Dikolong langit tiada orang yang berani menantang aku dengan cara seperti ini, tapi mengapa aku tak dapat membinasakan dirinya ? Ah benar, dikolong langit memang tiada perbuatan yang tak berani kulakukan, tetapi kenapa aku tidak mampu untuk turun tangan ? Kenapa ? Kenapa hal ini bisa terjadi ?"
Kian lama suara bisikan itu kian bertambah lirih sehingga akhirnya Gak In Ling tak dapat mendengar apa yang sedang diucapkan oleh gadis baju merah itu.
Perlahan-lahan sianak muda itu membuka kembali matanya, dengan susah payah ia merangkak bangun lalu berdiri dengan langkah yang gontai.
"Kau ingin melarikan diri?" ejek dewi burung hong indah sambil tertawa dingin.
"sekarang sudah tiada kemungkinan semacam itu lagi bagi diriku "
"Lalu mau apa kau bangkit dari atas tanah" Gak In Ling tertawa dingin-
"Hee hee hee selama aku orang she Gak masih bisa bernapas, aku tak sudi untuk tunduk dihadapan orang lain, andaikata nona bersedia untuk turun tangan, sekaranglah waktunya bagimu untuk turun tangan "
Tiba-tiba sekilas cahaya yang aneh memancar keluar dari balik mata dewi burung hong indah yang jeli, sambil tertawa seram ujarnya.
"Aku akan suruh engkau secara perlahan-lahan mendekati kelubang kematian agar semua orang yang berada dikolong langit tahu, beginilah akibatnya jika seseorang berani menentang aku si dewi burung hong indah."
Belum habis gelak tertawanya berkumandang datang, sepasang kakinya telah menjejak tanah dan bayangan merah berkelebat lewat, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dua puluh tombak tingginya ditengah udara.
Ketika berada ditengah udara sepasang lengannya kembali mendayung kebelakang, mengikuti bergemanya suara suitan panjang, badannya meluncur lima enam tombak lagi diudara.
Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan burung hong, tidak selang beberapa saat kemudian dewi burung hong indah sudah melompat naik keatas punggung burung hong yang beraneka warna bulunya.
Dengan termangu-mangu Gak In Ling menyaksikan burung hong itu terbang membumbung tinggi keangkasa, tiba-tiba teriaknya keras. "Apakah kau mengira aku pasti akan mati?"
Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara gelak tertawa dewi burung hong indah yang nyaring.
"Haahaa haa setelah aku dewi burung hong indah berani
mengatakannya keluar, tentu saja itu berarti bahwa aku sudah
melakukan sesuatu diatas badanmu, apakah kau kuatir tak
jadi mati ? cuma, engkau harus ingat bahwa rasanya sangat
luar biasa dan tak sedap dibadan- haa haa haa "
cepat amat gerak terbang burung hong itu, dalam sekejap mata bayangan itu sudah lenyap diujung langit.
Dengan mata kepala sendiri Gak In Ling pernah menyaksikan bagaimana perempuan itu menghukum mati Hiat-mo-ong dengan cara hanya memberikan sebuah totokan pada punggungnya, akan tetapi akibatnya ternyata luar biasa sekali dan cukup menyiksa orang itu sehingga sekarat.
Tentu saja sianak muda itupun mengetahui, setelah dara itu berani mengucapkan kata-kata semacam itu, hal itu berarti pula bahwa ancamannya bukanlah gertak sambal belaka.
Dengan termangu-mangu Gak Ia Ling memandang kearah mana bayangan tubuh dari dewi burung hong indah melenyapkan diri.
"Benar-benar seorang perempuan yang berbisa yang amat berbahaya sekali "
Angin dingin berhembus lewat mengibarkan ujung pakaian Gak In Ling yang berwarna hitam, sepintas memandang ke empat kejauhan yang terlihat hanyalah permukaan tanah yang putih berlapiskan salju, pemandangan seperti itu benar-benar mengenaskan sekali.
Gak In Ling segera menggerakkan kakinya dengan maksud untuk mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk mengatur pernapasan-
Beberapa langkah ia baru berjalan, tiba-tiba dari sekeliling tubuhnya berkumandang datang suara bentakan yaog amat keras. "Gak in Ling, berhenti"
Terjelos perasaan Gak in Ling, tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya dan memandang sekeliling tempat itu.
Kurang lebih dua tombak disekeliling tempat itu berdirilah delapan orang pria kekar berkerudung kain merah, dari dandanan mereka tidak sulit untuk mengenali rombongan orang-orang itu sebagai para jago dari lembah pemutus sukma. Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.
"Aaaaiii , baru saja meninggaikan sarang naga, sekarang
telah terjebak kembali dalam gua harimau. Nampaknya sulit bagi aku orang she Gak untuk meninggalkan gunung Tay-pek-san pada hari ini dalam keadaan selamat tanpa cidera." Ia segera tertawa dingin dan berseru.
"Sungguh kebetulan sekali saat kedatangan kalian semua "
Pria berkerudung merah yang berada dipaling depan segera berseru.
"Jangan-jangan kau masih mempunyai tenaga simpanan yang luar biasa."
Nada suaranya angkuh dan tekebur sekali.
Gak In Ling segera tertawa dingin.
"Hee hee hee...,. seandainya pada saat ini aku masih mempunyai tenaga simpanan, aku percaya kaliaa semua takkan berani datang kemari." serunya.
"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, cuma sayang seribu kali sayang pada saat ini keadaanmu ibaratnya kambing yang akan disembelih, bicara omong- kosong apa gunanya ?"
Seorang pria berkerudung merah yang berada dibelakang punggung Gak in Ling segera berseru.
"cun-heng, saat ini bukan waktunya untuk bersilat lidah, jika masalah besar sampai terbengkalai bukan saja engkau tak dapat bertanggung jawab mungkin setiap orang yang hadir ditempat inipun sukar antuk melepaskan diri dari pertanggungan jawab." Nada ucapannya kasar dan sama sekali tak sungkan-sungkan.
"Perkataan ini sedikitpun tidak salah." sambung pria berkerudung merah yang lain-"mari kita cepat membawa pulang mayat dari keparat cilik ini pulang dan segera memberi laporan-"
Diikuti usul-usul lainnya saling berkumandang memecahkan kesunyian, akan tetapi pada garis besarnya menyetujui sikap tersebut.
Walaupun pria she cung itu merasa sangat tidak puas, akan tetapi perasaan tersebut tak berani diutarakan keluar, ia segera mendengus dingin.
"Hm Meskipun kokeu memerintahkan kita untuk membawa pulang mayatnya, tetapi hal itu dimaksudkan apabila keadaan terlalu mendesak atau terpaksa, sekarang kita sudah kehilangan seorang pemimpin yang mati dibunuh perempuan itu, sudah sepantasnya kalau kekosongan jabatan itu cepat-cepat diisi kembali, oleh karena itu menurut pendapat siaute lebih baik kita bawa pulang keparat ini dalam keadaan hidup, hidup, kalau kalian takut terjadi kerepotan, biarlah aku yang mempertanggungjawabkan seorang diri."
"Ah, siapa yang bilang kalau cara ini tak baik ? cung-henglah yang terlalu banyak curiga" kata orang yang berada dlbelakang punggung Gak in Ling itu.
Selesai berkata mendadak ia ayunkan ujung jarinya ke udara dan didalam waktu singkat jalan darah pay-sim-hiat serta jalan tidur dari Gak In Ling telah tertotok olehnya, kemudian membopong tubuh pemuda itu dalam rangkulannya.
Pria berkerudung merah yang lain segera membopong jenasah dari Hiat-mo-ong dan berangkatlah mereka menuju kearah sebelah timur. Tiba-tiba pria she cung itu berseru.
"Saudara-saudara sekalian, apakah kita harus berlaku secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling ?"
"Siapa yang kita takuti lagi?" seru tujuh orang lainnya dengan nada keheranan.
"Apakah kalian sudah melupakan apa yang barusan telah terjadi ?" kata pria she cung itu sambil melirik sekejap ketengah udara.
Mula-mula ketujuh orang temannya sama-sama berdiri tertegun dan serentak melirik sekejap kearah tengah udara, tiba-tiba salah seorang diantaranya tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Haa haa haa. cung-heng, engkau jadl orang terlalu tak bernyali, rupanya kau terlalu jerih untuk menghadapi kematian
it

Sejak merasa gusar dan mendongkol tadi hingga sekarang pria she cung itu belum ada kesempatan untuk melampiaskan kemendongkolannya itu, mendengar ucapan itu iapun segera melimpahkan semua kemarahannya kepada orang itu, serunya dengan gusar.
"orang she Lau, engkau mengatakan siapa yang takut mati
"Kenapa ?" jawab pria she Lau itu dengan marah pula. "Apakah kau ingin turun tangan melawan aku ?"
"Hm Kau anggap aku jeri terhadap dirimu ?" sambil berkata selangkah demi selangkah pria she cung itu berjalan maju kedepan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara teguran yang amat merdu berkumandang datang.
"Eeei, rupanya kalian belum pergi ?"
Keadaan dari delapan orang pria berkerudung merah itu sudah ibarat burung yang tersambar panah, mendengar teguran yang amat merdu itu saking terperanjatnya sampai untuk beberapa saat lamanya mereka tak mampu mengucapkan sepatah katapun, enam belas buah sorot mata bersama-sama dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi.
Padahal dalam kenyataan berpaling pada saat ini hanyalah suatu perbuatan yang tak ada gunanya, sebab gadis itu tahu-tahu sudah berjalan diantara sekeliling delapan orang itu.
Begitu mengetahui siapakah orang yang sedang dihadapinya, dengan perasaan terperanjat ke delapan orang pria berkerudung merah itu menjerit sekeras-kerasnya.
"Ah Dewi burung hong indah?" Sedikitpun tidak salah, orang itu bukan lain adalah dewi burung hong indah yang telah kembali setelah berlalu tadi, siapapun tak dapat menduga apa sebabnya gadis ini kembali lagi ? Dan apa pula yang hendak dilakukan olehnya
Dengan biji matanya yang jeli dewi burung hong indah melirik sekejap kearah Gak in Ling yang berada dalam bopongan seorang pria berkerudung merah itu, lalu katanya. "Lepaskan dia dari boponganmu dan baringkan diatas tanah Awas, perlahan sedikit "
Suaranya begitu merdu, manis didengar dan mempesonakan, sedikitpun tidak mengandung rasa gusar, sikapnya jauh berbeda kalau dibandingkan dengan sikapnya yang kasar dan keras terhadap Gak In Ling tadi.
Akan tetapi, kendatipun perkataan tersebut diutarakan dengan lembut dan merdu, justru dibalik kemanisan suaranya itulah terselip suatu kewibawaan serta kekerenan yang membuat orang sama sekali tak berani menentang terhadap perintahnya, membuat orang tanpa sadar tunduk dan menuruti perkataannya.
Pria berkerudung merah itu benar-benar menuruti perkataannya dan membaringkan tubuh Gak In Ling diatas tanah, sikapnya seakan-akan sedang yang kehilangan sukma.
Dewi burung hong indah melirik sekejap ke arah Gak In Ling yang berbaring diatas tanah, kemudian menengadah dan menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ujarnya sambil tertawa.
"Kalian sama-sama mengenakan kain kerudung merah diatas wajah, kalau dugaanku tidak keliru maka kedudukan kalian didalam lembah pemutus sukma pasti tak begitu penting bukan ? sekarang pemimpin kalian sudah mati, sedang kalianpun tidak akan berhasil mendapatkan Gak In Ling, sekalipun pulang akhirnya tokh kematian yang bakal kalian temukan, menurut pendapat nonamu lebih baik kalian berdelapan sama-sama menemui pemimpin kalian saja "
Ucapannya merdu, dan amat mempesonakan- Tetapi bagi pendengaran kedelapan orang manusia berkerudung merah itu, ucapan itu tidak ubahnya merupakan suatu perintah menuju ke maut, air muka beberapa orang itu seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.
Dewi burung hong indah memandang sekejap kearah orang-orang itu, lalu sambil tertawa ujarnya lagi.
"Tempo hari kalian semua adalah jago-jago lihay yang pemberani dan bernyali besar, kenapa sekarang menjadi lemah tak bertenaga dan menunjukkan perasaan tidak tenang, ada apa sih ?"
Pria she cung itu mengempos tenaga memberanikan diri, serunya dengan cepat.
"Kami sekalian boleh dibilang sama sekali tidak terikat oleh dendam sakit hati ataupun perselisihan apapun dengan diri nona, kenapa nona terlalu mendesak diri kami bahkan menjatuhkan hukuman mati pula terhadap kami, dengan alasan apa nona berbuat demikian ?"
Suaranya walaupun nyaring namun menunjukkan perasaan mohon balas kasihan-Dewi burung hong indah tertawa merdu, godanya
"Aduh kalian tokh laki-laki kekar yang pemberani, masa takut sama seorang perempuan lemah seperti aku ?"
Bagaikan balon yang kehabisan udara lalu kempes, pria she Lau itu berseru dengan suara yang masam.
"Kami sekalian telah menyadari bahwa kepandaian silat yang kami miliki masih bukan tandingan dari nona."
"Ah, masa kalian tidak akan melakukan perlawanan dan mudah dibunuh dengan begitu saja" kata dewi burung hong indah.
Pria she cung itu mundur dua langkah ke belakang, dengan ketakutan katanya lirih. "Apakah nona sudah bertekad untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap kami sekalian "
"Dengarlah," kata dewi burung hong indah setelah berpikir sebentar, "sekarang juga kalian semua boleh berdiri pada posisi delapan penjuru, usahakanlah untuk mempergunakan seganap kemampuan yang kalian miliki untuk mencari jalan hidup sendiri-sendiri, jikalau diantara kalian ada yang berhasil melampaui jarak sejauh dua tombak dari tempat ini, maka dialah yang akan kuberi ampun selembar jiwanya dan akan kubiarkan berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"
Begitu ucapan tersebut diucapkan keluar, di atas keputus-asaan yang dengan jelas tertera diwajah kedelapan orang manusia itu segera terlintas rasa girang yang bukan kepalang, jelas mereka masing-masing telah menganggap dirinya sebagai orang yang paling beruntung.
Dalam kenyataan memang demikianlah adanya, meskipun ilmu silat yang dimiliki dewi burung hong indah tinggi dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, tetapi kalau dikatakan dalam jarak lingkaran dua tombak dia akan membinasakan delapan orang tokoh lihay dalam persilatan secara berbareng, pekerjaan ini boleh dibilang amat sulit sekali dan siapapun tak akan percaya kalau hal ini bakal berhasil.
Karena mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedelapan orang tokoh lihay tersebut, jarak dua tombak hanya diperlukan dalam dua tiga kali lompatan saja sudah dapat dilampaui, dan waktu dua tiga kali lompatan itu-pun relatip singkat sekali.
Tanpa sadar kedelapan orang itu bersama-sama mundur kearah belakang, tiba-tiba terdengar salah seorang diantara pria baju merah itu berseru. "Apakah nona maksudkan dengan menganndalkan kekuatanmu seorang ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab dewi burung hong indah sambil tertawa merdu tiada hentinya. "Disini tokh tiada orang lain kecuali aku." sesudah berhenti sebentar, ia menyambung lebih jauh.
"Bukan saja aku akan menggunakan kekuatanku seorang, lagipula tak akan kupergunakan senjata rahasia, tentang soal itu kalian boleh berlega hati dan tak usah kuatir."
Rasa girang yang melintas diatas wajah delapan orang pria itu bertambah tebal lagi, jelas mereka mengira kalau dewi burung hong indah memang ada maksud untuk melepaskan mereka pergi dalam keadaan hidup tanpa cidera.
Tetapi mereka telah melupakan sesuatu, lupa bahwa pertarungan tersebut merupakan suatu pertaruhan bagi nama baik dara tersebut.
Dewi burung hong indah memandang sekejap kearah delapan orang pria yang mundur terus kebelakang itu, serunya kembali.
"Untuk adilnya maka nonamu akan memberi komando, setelah aku memberi tanda nanti kalian boleh segera lari secepat-cepatnya, kalau di antara kalian ada yang berani bergerak lebih dahulu, jangan sesalkan kalau aku berlaku
kejam"
Sesudah ancaman tersebut diutarakan keluar delapan orang pria itu benar-benar tidak berani mundur lagi secara sembarangan-
"Aku akan menghitung sampai angka ketiga setelah kusebutkan angka ketiga maka kalian boleh segera melarikan diri." ujar dewi buruag hong indah sambil tertawa.
Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan-
"Satu... " "Dua... "
Kedelapan orang pria baju merah itu segera mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam sepasang kaki, yang dipikirkan mereka pada saat ini hanyalah lari secepat-cepatnya, siapa dapat berlari dengan cepat dialah yang akan la los dari ancaman bahaya maut itu.
Dewi burung hong indah sendiri tetap tersenyum dengan penuh kelincahan, sedikitpun tak tampak tanda-tanda kalau dia sedang menyalurkan hawa murninya untuk bersiap-sedia.
Ketegangan dan keseriusan menyelimuti seluruh angkasa disekeliling tempat itu, delapan orang pria baju merah itu seakan-akan dapat mendengar detak jantungnya sendiri, kengerian kematian menyelimuti seluruh angkasa. Mendadak dewi burung hong indah berseru keras. "Tiga "
Begitu angka ketiga diutarakan keluar, delapan orang pria baju merah itu bagaikan kesurupan setan, bagai sambaran kilat cepatnya segera melarikan diri menuju kearah delapan penjuru yang saling berlawanan.
Dis inilah letaknya kunci yang paling penting untuk menentukan mati hidup mereka, tentu saja semua orang telah mempergunakan segenap kekuatan tubuh yang dimiliki untuk berusaha meloloskan diri dari tempat itu, pada dasarnya tenaga dalam yang mereka miliki memang tidak lemah, setelah berlarian dengan sepenuh tenaga bisa dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh mereka.
Tampaklah delapan orang pria itu bagaikan delapan buah jalur bayangan merah, bagaikan bayangan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong segera melarikan diri menuju kearah delapan penjuru yang saling berbeda.
Air muka dewi burung hong indah sedikitpun tidak menunjukkan perasaan gugup dan gelisah, napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, tiba-tiba ia membentak nyaring. "Roboh kalian semua "
Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu, ia putar badan pada poros yang sama sekali tidak berubah, jari tangannya melentik dan meluncurlah delapan buah desiran angin tajam yang secara terpisah mengancam tubuh kedelapan orang itu.
Tiba-tiba...
Delapan kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian yang menyelimuti sekeliling tempat itu, begitu seram suaranya membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.
Mengikuti bergemanya delapan kali jeritan ngeri tersebut, hampir pada saat yang bersamaan kedelapan buah bayangan merah itu bersama-sama roboh terkapar diatas tanah, karena begitu cepatnya gerakan mereka untuk menerjang kedepan membuat tubuh yang sudah tak bernyawa itu tak mampu mempertahankan gerakannya lagi, diatas tanah seketika, itu juga muncullah delapan buah jalur panjang yang sangat dalam sekali. Dari sini dapat ditarik kesimpulan betapa besarnya tenaga terjangan tersebut.
Salju putih yang terdorong dengan cepat mengubur sebagian dari tubuh mereka, akan tetapi oraug-orang itu sudah tidak menunjukkan reaksi apa-apa lagi, jelas orang orang itu sudah putus nyawa.
Dengan pandangan yang sangat hambar dewi burung hong indah menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian sambil bergumam seorang diri katanya^
"Aaaah masih untung kedelapan orang itu belum sampai melewati jarak sejauh dua tombak. kalau tidak. aku bisa berabe, mana aku mampu untuk menghidupkan mereka lagi?" Sambil berkata perlahan-lahan dia berjalan menuju kearah Gak In Ling.
Dari atas tubuh Gak In Ling memancar keluar hawa panas yang sangat tinggi membuat lapisan salju yang berada disekeliling tubuhnya jadi melumer, hal ini membuat sekujur badannya jadi basah kuyup oleh air, untung pada waktu itujalan darah tidurnya masih tertotok. kalau tidak pasti ia takkan kuat menahan diri.
Setelah memandang tubuh sianak muda itu beberapa saat lamanya, dewi burung hong indah mendadak bergumam kembali. "Kenapa aku kembali, tahukah engkau ?"
Sambil berkata ia segera berjongkok dan memeluk tubuh Gak In Ling dari atas permukaan salju.
Air muka dewi burung hong indah pada saat ini luar biasa sekali, seakan-akan ia memperlihatkan rasa sayang dan sedih, tetapi seakan-akan juga menunjukkan perasaan mendongkol bercampur gusar, sebentar di balik biji matanya yang jeli tampaklah murung sekali, seolah-olah ada sesuatu persoalan yang telah merisaukan hatinya.
Ia membopong tubuh Gak In Ling menuju kehadapan sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian ayunkan telapaknya menyapu bersih lapisan salju yang berada diatas batu cadas tersebut, kemudian membaringkan tubuh Gak In Ling disana.
Dalam pada itu sang surya telah tenggelam disebelah barat, separuh cahayanya yang berwarna kemerah-merahan menongol sedikit dari balik bukit, menunjukkan seakan-akan ia merasa berat hati untuk meninggalkan dunia yang penuh kemaksiatan serta kejahatan ini.
Dengan termangu-mangu dewi burung hong indah menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. angin dingin berhembus lewat menggoyangkan ujung pakaiannya yang berwarna merah, dibawah sorot cahaya sang surya yang hampir tenggelam dengan dihiasi salju nan putih, gadis itu nampak begitu cantik, begitu mempesonakan hati orang, sayang Gak Ia Ling pada saat itu berada dalam keadaan tak sadar sehingga tak dapat menikmati keindahan tersebut.
Lama sekali dewi burung hong indah termenung dan berpikir keras, akhirnya ia bergumam dan menghibur diri sendiri.
"Ah, perduli amat Sejak kini dia menjadi sahabat atau lawanku, yang penting toh aku tak jeri terhadap dirinya, apa salahnya kalau kutolong dirinya sampai sadar ?"
Berpikir sampai disini sepasang telapaknya segera bekerja cepat menotok bebas jalan darah Pay-sim-hiat diatas tubuh sianak muda itu, baru saja telapak tangannya akan membebaskan jalan darah tidurnya, tiba-tiba satu ingatan kembali berkelebat dalam benaknya, taapa terasa ia berpikir lebih jauh.
"Seandainya kubebaskan jalan darah tidurnya, setelah sadar kembali mungkin dia tak akan bersedia menerima pengobatanku, aku lihat lebih baik jalan darah tidurnya jangan dibebaskan lebih dahulu."
Sifat gadis ini memang keras kepala dan tegas, perduli melakukan pekerjaan apapun juga selalu dilaksanakan apa yang telah diucapkan olehnya, dan semua perbuatan itu dilakukan dengan tanpa ragu-ragu. Setelah selesai mengambil keputusan dengan cepatnya pula dia turun tangan untuk menyembuhkan luka dari Gak In Ling.
Tampaklah dia melompat naik keatas permukaan batu itu lalu duduk bersila disamping tubuh Gak In Ling, telapak tangannya yang putih bersih ditempelkan diatas jalan darah Leng-tay-hiat diatas badan pemuda itu, perlahan-lahan hawa murninya disalurkan kedalam tubuh lawan untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Sang surya telah lenyap dibalik bukit, senjapun menjelang tiba, pemandangan diatas bukit Tiang-pekssan yang dingin dan tertutup lapisan salju kelihatan bertambah indah di tempat itu.
Seorang gadis cantik baju merah menemani seorang pemuda tampan baju hitam duduk bersanding diatas sebuah batu cadas yang amat besar, keadaan mereka bagaikan sepasang Kim-tong-giok li bocah dewa-dewi dan kahyangan-
Kesunyian telah menyelimuti seluruh jagad, waktu sedetik demi sedetik berlalu dengan cepatnya, sang rembulan muncul diawan mendatangkan pemandangan yang semakin indah.
Perlahan-lahan dewi burung hong indah meloncat, turun dari atas batu cadas itu, setelah menyeka keringat yang membasahi jidatnya dia menengadah dan berkata.
"Akhirnya apa yang kuusahakan selama ini telah berhasil juga mencapai pada tujuan-Aai... waktu telah mendekati kentongan ketiga, mereka pasti telah datang ketempat tinggalku untuk mencari aku. Apa yang harus kulakukan sekarang ?"
Ia menengadah dan berpekik nyaring untuk memanggil datang burung hongnya itu, kemudian perlahan-lahan naik keatas punggung burung tersebut.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa terasa ia bergumam kembali.
"Apa salahnya kalau kubawa serta dirinya untuk pergi kesana pula?" sesudah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh.
"Ah tidak boleh jadi, seandainya ilmu silat yang dimilikinya tiba-tiba menjadi amat tinggi, bukankah itu berarti telah menambah seorang musuh tangguh bagi diriku ?"
Berpikir sampai dlsini, tanpa terasa sepasang-biji matanya yang jeli berpaling kearah Gak In Ling.
Angin malam yang amat dingin berhembus lewat menggoncangkan ujung baju sianak muda itu dan menimbulkan suara desingan yang tajam, ditengah kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, membuat suasana terasa bertambah sedih. Kembali dewi burung hoag indah bergumam seorang diri. "Tempat ini pasti dingin sekali."
Sesudah berhenti sebentar, seakan-akan mentertawakan diri sendiri ia berpikir lebih jauh.
"Kenapa sih aku pada hari ini? Kenapa selalu memikirkan keselamatan orang lain?" Walaupun diluaran ia berkata demikian, akan tetapi sepasang kakinya telah bergerak meloncat turun dari atas punggung burung hong-nya dan berjalan kembali kearah batu cadas dimana Gak In Ling sedang berbaring.

Dewi burung hong indah segera membopong tubuh Gak In Ling dan kembali bergumam.
"Biarlah kubawa dirinya menuju kesana, tempat itu jauh lebih hangat daripada tempat ini, bagaimanapun juga pokoknya aku tak akan membawa dirinya keatas bukit itu, semuanya biarlah tergantung pada nasib."
Setelah meloncat naik keatas punggung burung hong, dia memberi komando dan burung hong itupun segera mementaogkan sayapnya untuk terbang keangkasa, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan malam...
-ooOdwOoo-

Tempat itu merupakan sebuah bukit yang terjal dengan batu cadas berserakan dimana- mana dan pohon yang tumbuh dipermukaan tanah.
Sang surya telah muncul diufuk sebelah timur dan cahaya keemasan memancar ke seluruh penjuru, diangkasa terbanglah seekor burung rajawali yang amat besar, berputar kesana- kemari mengitari puncak tersebut.

Dari dalam sebuah gua yang berdinding batu perlahan-lahan berjalan keluar seorang pemuda berbaju hitam, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian wajahnya nampak tertegun dan segera bergumam seorang diri.
"Aku telah berada dimana ?Jangan-jangan tempat ini adalah lembah pemutus sukma" Pemuda itu bukan lain adalah Gak In Ling.
Setelah memandang lagi sekeliling tempat itu dengan seksama, kembali Gak In Ling dengan gelengkan kepalanya ia berkata.
"Tidak tidak benar, tempat ini pastilah bukan lembah pemutus sukma. tapi. sebenar nya aku telah berada dimana ?"

Pada saat itulah tiba-tiba dari tengah udara berkumandang -datang suara teriakan-teriakan yang amat keras. "Tolong,. tolong tayhiap..Tolonglah aku"
Mendengar teriakan tersebut Gak In Ling segera menengadah keatas, ketika sorot matanya membentur dengan apa yang terlihat olehnya, hatinya kontan saja jadi tertegun.
Kurang lebih lima puluh tombak diatas kepalanya, pada sebuah dinding tebing yang curam dan licin bagaikan cermin tergantunglah sebuah keranjang, dalam keranjang tersebut duduklah seorang pria setengah baya yang memakai pakaian ringkas.
Dengan ketajaman matanya yang melebihi orang, Gak In Ling memperhatikan orang itu dengan lebih seksama lagi, terlihatlah olehnya orang itu bermata tikus beralis tipis, hidung betet bibir tebal dan potongannya memuakkan sekali, membuat kesan orang yang melihat wajahnya adalah buruk sekali.

Tetapi setelah memperhatikan pula keadaannya yang berada didalam bahaya hal ini membuat orang mau tak mau harus berusaha untuk menyelamatkan jiwanya.
Gak In Ling memperhatikan kearah tengah udara, ia saksikan beberapa ekor burung elang sedang beterbangan mengitari diatas batok kepala orang itu, dari keadaan burung elang itu tampaklah bahwa setiap saat mereka hendak menyerang mangsanya serta menghabiskan daging tubuhnya.
Menyaksikan kesemuanya itu, tanpa terasa Gak In Ling segera didalam hatinya.
"Dari keadaan serta dandanan orang itu, jelas dia memiliki serangkaian ilmu silat, tetapi... kenapa ia sama sekali tidak bergerak ?" berpikir demikian, diapun segera berpikir keras.
"Aku lihat engkau memiliki serangkaian ilmu silat yang cukup tangguh,jarak dan situ sampai puncak bukitpun paling tidak hanya dua puluh tombak belaka, apa salahnya kalau engkau mendekati naik keatas "
"Tali yang terikat disebelah atas sudah rusak dan menipis, jika aku bergerak sembarangan miscaya tali itu akan putus, kalau tayhiap tidak percaya silahkan periksalah keadaan disebelah bawah sana."
Mendengar perkataan itu Gak In Ling segera menengok ke bawah, bulu kuduknya kontan pada berdiri semua...
Pada dasar jurang yang dalamnya mencapai ratusan tombak. tampaklah keranjang bambu berserakan dimana-mana, tulang manusia pun bertumpuk-tumpuk dan paling sedikit mencapai ratusan buah banyaknya, ditinjau dari bambu-bambu yang berceceran diatas tanah dapat dibuktikan bahwa orang-orang itu kebanyakan terjatuh dari atas tebing.
"Siapakah orang yang telah melakukan kesemuanya ini ?" pikir Gak In Ling didalam hati kecilnya. "Perbuatan orang itu benar-benar amat keji dan brutal sekali" Berpikir sampai disini, dia lantas menengadah dan berseru.
"Baiklah, harap engkau suka menunggu sebentar lagi, aku akan segera naik keatas bukit untuk menolong jiwamu."
"Tayhiap. harap cepat-cepat kau tolong diriku" kembali orang itu berteriak dengan perasaan tak tenang, "kalau tidak maka aku pasti akan diterkam oleh burung-burung elang tersebut."
"Apakah engkau tak mampu untuk mengusir burung-burung elang lebih dahulu sehingga tidak mengusik dirimu ?" Dengan muka masam, orang itu berteriak.
"Mana aku berani bergerak ? Asal sedikit bergerak saja niscaya tubuhku akan terjatuh ke- dalam jurang dan hancur lebur, tayhiap Aku mohon kepadamu harap sedikit lebih cepat, bila kau dapat menyelamatkan selembar jiwaku maka didalam penirisan yang akan datang aku bersedia menjadi kerbau atau
kuda."
Dengan dahi berkerut Gak In Ling berpikir didalam hati kecilnya.
"orang ini benar-benar tidak berjiwa seorang kesatria, seandainya aku tidak memandang pada kedudukan sebagai sesama umat persilatan, segan aku untuk mengurusi dirimu "
Berpikir sampai disini, iapun segera berteriak. "Aku tidak membutuhkan kesemuanya itu, kau... "
Rupanya orang itu takut sekali kalau Gak In Ling berlalu dari sana tanpa menggubris dirinya lagi, dengan suara keras kembali sambungnya lebih jauh.
"Kalau begitu tayhiap menginginkan apa ? Uang emas ? Perak ? Katakan saja berapa jumlah yang kau inginkan, hamba pasti akan memberikan kepadamu sejumlah yang engkau minta,aku pasti tak akan mengingkari janji "
Mendengar perkataan itu Gak In Ling jadi naik pitam, dengan suara dingin segera ujarnya.
"sebenarnya engkau menginginkan hidup atau tidak ?"
"Ingin Ingin Ingin "jawab orang itu dengan amat cemas bercampur gelisah. "Tayhiap katakan saja apa yang kau inginkan, hamba pasti... "
"Kalau ingin hidup tutuplah mulut anjing- mu itu " bentak Gak In Ling dengan suara keras.
Menyaksikan Gak In Ling yang menjadi naik pitam, orang itu benar-benar tidak berani bersuara lagi, namun dalam hati kecilnya dengan perasaan mendongkol pikirnya.
"Hmm Keparat cilik, anak jadah kalau aku sudah ditolong naik keatas tebing nanti, pada saat itulah kau akan tahu sampai dimanakah kelihayan dari aku harimau mata tiga"
Gak In Ling berhasil menemukan sebuah jalan gunung kecil disisi gua tersebut dengan cepat ia meloncat turun kebawah dan bergerak menuju kedasar jurang tadi.
Dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini, tidak sulit baginya untuk menuruni tebing yang curam itu, tidak selang beberapa saat kemudian Gak Ia Ling telah berada didasar jurang tadi.

Yang dipikirkan Gak In Ling pada saat ini adalah menyelamatkan jiwa orang yang tergantung dalam keranjang itu, setibanya didasarjurang ia segera mencari jalan kecil lainnya dan mendaki keatas puncak tebing sebelah depan, tangan dan kakinya segera berkerja cepat untuk mendaki terus keatas puncak tebing tadi.
Tebing itu merupakan suatu bukit yang berdiri sendiri, tingginya meskipun hanya dua ratus tombak akan tetapi berhubung dinding tebingnya licin bagaikan cermin, maka tatkala sianak muda Itu berhasil mencapai puncak tebing tadi, dua jam telah dilewatkan tanpa terasa.
Setelah berada diatas puncak tebing itu, pemandangan seketika berubah, hutan pohon song yang lebat tersebar dimana-maaa, begitu lebatnya pepohonan disana hingga membuat pemandangan nampak indah sekali.

Gak In Ling nampak tertegun, segera pikirnya didalam hati.
"Sungguh tak kusangka diatas tebing yang berdiri tersendiri ini terdapat pemandangan yang demikian indahnya."
Sambil berpikir diapun berjalan menuju ke-sisi sebelah kanan-
Setelah berjalan maju beberapa langkah ke-depan, dengan suara lantang ia segera berteriak.
"Hey, engkau berada dimana ?"
Suaranya menggema, diangkasa dan mendengung tiada hentinya, akan tetapi tiada jawaban yang kedengaran-
Gak In Ling tercengang bercampur heran, ia segera ulangi kembali teriakannya itu sampai beberapa kali, namun suasana tetap sunyi-sepi dan tak terdengar sedikit suara pun-
Pada saat itulah, tiba-tiba dari dalam hutan berkumandang datang suara orang berbatuk, diikuti bergemanya suara langkah kaki manusia, seorang penebang kayu yang sudah tua, berkepala botak dan berjenggot warna keperak-perakkan perlahan lahan muncul dari balik hutan

Selengkapnya......

Jilid 10 : Dewi burung hong indah  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe

Jilid 10 : Dewi burung hong indah
BELUM jauh mereka melangkah masuk kedalam hutan itu, mendadak dari sekeliling tempat itu berkumandanglah suara bentakan-bentakan yang amat nyaring disusul munculnya beberapa orang gadis muda yang dengan cepatnya mengepung ketiga orang itu di dalam kalangan, setiap orang memancarkan sikap bermusuhan dan dilihat dari gerak-gerik gadis-gadis itu, rupanya setiap saat suatu pertempuran sengit bakal berlangsung.

Dengan pandangan tajam Gak In Ling menyapu sekejap kearah sekeliling tempat itu, kemudian sambil menghela napas panjang, pikirnya.
"Gadis-gadis muda yang berkumpul ditempat ini rata-rata masih muda belia dan berwajah cantik jelita, sekalipun tidak termasuk paling cantik dikolong langit akan tetapi termasuk manusia manusia pilihan, entah gadis suci dari Nirwana berhasil mengumpulkan gadis-gadis ini dari tempat mana saja?"

Sementara itu Lan In Lojin telah tertawa terbahak-bahak sambil berkata lantang.
"Nona-nona sekalian jangan salah paham, kedatangan kami bertiga ketempat ini bukan lain adalah untuk menyambangi Leng-cu kalian "
Mendengar perkataan tersebut, sorot mata para gadis itu bersama-sama dialihkan kearah seorang gadis muda baju hijau yang berusia paling tua diantara rombongan iru, rupanya mereka sedang menantikan keputusannya.
Perlahan-lahan gadis muda baju hijau itu maju kedepan, kemudian dengan suara dingin katanya.
"Untuk menyambangi Leng-cu kami harus melewati jalan yang bagaimana, apakah kalian bertiga sama sekali tidak
tahu?"
Mendengar perkataan itu Gak In Ling berdiri tertegun, pikirnya didalam hati.
"Masa untuk menyambangi Leng-cu mereka terdapat sebuah jalan khusus yang ditujukan kepada orang-orang luar yang sengaja datang kemari untuk bertemu dengan ketuanya ?" Tampaklah Lan In Lojin sambil tertawa telah berkata.
"Kami bertiga baru pertama kali ini datang berkunjung kemari, oleh karena itu tidak mengetahui jalan manakah yang harus ditempuh, harap nona suka memberi petunjuk."

"Mana tanda pengenalnya ?" tanya gadis baju hijau itu dengan sikap yang amat teliti. sekali lagi ketiga orang itu berdiri tertegun.
"Tanda pengenal ? Tanda pengenal apa ?" seru mereka hampir berbareng.
Air muka para gadis yang berada disana segera berubah bebat, terdengar gadis baju hijau itu berseru.
"Kalau kalian bertiga memang tidak memiliki tanda pengenal, untuk menjumpai Leng-cu kami tentu saja boleh, tetapi terpaksa pelayanan nya jauh berbeda."
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, badannya dengan suatu gerakkan yang aneh dan cepat bagaikan sambaran kilat berkelebat kedepan mencengkeram urat nadi pada pargelangan kanan Lan In Lojin dengan jurus "Sin-lekshu-ciau" atau tenaga sakti menundukkan naga.

Lan In Lojin sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu segera melancarkan serangannya setelah mengatakan akan menyerang, sehingga membuat ia sama sekali tak ada kesempatan untuk berbicara, kejadian ini dengan cepatnya membangkitkan hawa gusar dalam hatinya.
Terdengar ia tertawa terbahak-bahak, sambil tetap berdiri tenang ditempat semula, serunya.
"Haa haa haa. .. nona, kau terlalu pandang rendah akan diriku."
Gelak tertawanya amat keras dan nyaring sehingga membubung tinggi keangkasa, membuat telinga jadi sakit seperti ditusuk jarum.

Dikala Lan In Lojin masih tertawa terbahak-bahak itulah, gadis baju hijau itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya, biji mata yang jeli berkilat dan tiba-tiba ia mengirim sebuah totokan keatas jalan darah cian-cing-hiat diatas bahu kakek tua itu.
Pada saat itulah dari arah lima tombak di sebelah belakang, berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring.
"Lan-ji, jangan bertindak gegabah cepat mundur kebelakang "suara orang ini nyaring dan tajam, hal tersebut menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna.
Sungguh cepat reaksi dari gadis baju hijau itu, ketika mendengar peringatan tersebut tanpa berpikir panjang lagi ia segera buyarkan serangan daa meloncat mundur sejauh delapan depa dari tempat semula, kemudian dengan cepat berpaling kearah mana berasal nya suara tadi.

Kurang lebih lima tombak didalam hutan dari belakang sebuah pohon yang besar muncullah seorang nenek tua berambut putih, berwajah penuh keriput, bertongkat emas dan menyoren sebuah seruling perak diatas punggungnya.
Melihat kemunculan nenek tua itu. para gadis yang berada disana bersama-sama memberi hormat dengan sikap yang sangat hormat.

Sebaliknya Lan In Lojin serta ciang-liong-sian segera menunjukkan sikap yang amat kaget sekali, air muka mereka berdua berubah hebat, dengan nada tercengang serunya dengan keras.
"Aaah Engkau adalah Kim-ciang-sin-ti tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji " Perasaan hati Gak In Ling pun agak tergugah, pikirnya.
"Kalau ditinjau dari perubahan wajah kedua orang ini, jelas tenaga dalam yang dimiliki orang itu paling sedikit tidak berada dibawah mereka berdua, benarkah dibawah komando gadis suci dari Nirwana, ia telah berhasil mengumpulkan segenap jago lihay yang berada dikolong langit untuk sama-sama tunduk dibawah perintahnya ?"

Dalam pada itu nenek tua itu sendiripun agak tertegun ketika mengetahui siapakah dua orang yang sedang dihadapinya, sambil tertawa ia segera mengangguk dan berkata.
"Sungguh tak kusangka dua orang jago lihay yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, kini munculkan diri kembali di-dalam dunia persilatan, sungguh luar biasa
sekali."
"Akan tetapi kalau dibandingkan dengan dirimu, mungkin kemunculan kami masih terlambat satu tindak bukan ?" kata ciang-liong-sian sambil tertawa bergelak. Tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji tertawa.
"Bukan saja lebih lambat satu tindak daripada diriku, mungkin sudah ada tiga orang lain-nya yang berjalan lebih dahulu di depan kalian "

Satu ingatan berkelebat dalam benak Lan In Lojin, dengan nada terperanjat serunya. "Maksudmu ketiga orang itupun sudah datang kemari ?"
"Sedikitpun tidak salah, kemunculanku di-tempat ini pun atas undangan dari mereka bertiga."
Ciang-liong-sian dengan cepat menarik kembali senyuman diatas bibirnya, dengan keheranan ia berkata.
"Gadis suci dari Nirwana tokh masih berusia amat muda sekali, sungguh tak kusangka ternyata ia sanggup mengundang kalian semua untuk membantu dirinya, apa sih keistimewaannya sehingga kalian semua bersedia untuk melaksanakan perintahnya ?"

Air muka tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji berubah jadi serius, katanya dengan sungguh-sungguh.
"Meskipun usia Leng-cu masih amat muda, akan tetapi kecerdasannya jauh diatas orang biasa, kalau ingin kuceritakan maka kisahnya tidak ada habis-habisnya, asal kalian berdua bersedia untuk tinggal selama tiga hari dengan Leng-cu, maka aku tanggung kamu tak akan rela untuk meninggalkan gunung Tiang-pek-san dengan begitu saja."
Lan In Lojin sangat mengenal watak tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji, meskipun dia mengetahui bahwa nenek tua ini terkenal akan sifatnya yang aneh, ditambah pula ilmu silatnya amat lihay sehingga para jago baik dari kalangan lurus maupun dari kalangan sesat hampir semuanya jeri dan segan terhadap dirinya, akan tetapi selama hidup belum pernah berbicara bohong.

Maka mendengar perkataan itu, tanpa dia sadari lagi berseru. "Benarkah sudah terjadi peristiwa semacam itu ?"
"Sejak kapan sih aku pernah membohongi orang lain ?" seru Leng Siang Ji nenek tua bersenjata tongkat dan seruling itu dengan dahi berkerut kencang.
Untung Lan In Lojinlah yang mengucapkan kata-kata itu. Seandainya orang lain yang berkata demikian niscaya dia telah turun tangan untuk memberi pelajaran kepadanya. Rupanya Lan In Lojin mengetahui bahwa ia telah salah bicara, buru-buru katanya.
"Aah, aku telah salah berbicara, harapkan kaa memakluminya dan jangan sampai dipikirkan didalam hati."

Setelah orang berkata demikian, tentu saja Tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji tidak berkata apa-apa lagi, dengan air muka yang jauh lebih lunak ia bertanya.
"Bolehkah aku mengetahui dengan maksud serta tujuan apakah kalian bertiga datang keatas gunung Tai-pek-san ?"
"Kami ada urusan hendak berjumpa dengan Leng-cu kalian " sahut Lan In Lojin sambil tanpa sadar melirik sekejap kearah Gak In Ling yang berada disampingnya.
Dari dalam hati kecil Gak In Ling segera timbul suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dangau kata-kata, menghadap orang yang tidak ingin dijumpainya lagi, bagi dirinya pekerjaan tersebut boleh dibilang merupakan suatu perbuatan yang amat menekan bathin.
Pemuda itu mulai menyesal, menyesal karena menerima tawaran itu, dia merasa tidak sepantasnya untuk menyanggupi permintaan dari Lan In Lojin untuk datang menemui gadis suci dari Nirwana yang sudah tak ingin ditemuinya lagi.

Terdengar tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji berkata dengan suara dingin.
"Dibalik hutan merupakan suatu daerah yang amat berbahaya sekali, setiap jengkal tanah mengandung hawa pembunuhan yang amat tebal, jika kalian bertiga ingin bertemu dengan Leng-cu kami, tidak sepantasnya kalau berjalan melewati tempat ini, memandang wajah kalian berdua sebagai sahabat lamaku, terimalah sebuah tanda pengenal ini sebagai pas jalan kalian untuk masuk kedalam markas,"
Habis berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah tanda pengenal Pek-Giokhu dan diserahkan ketangan Lan In Lojin, kemudian sambil menuding jalan yang berada disebelah kanan katanya.
"Kalian boleh mengikuti jalan yang ada di balik batu cadas putih itu untuk masuk kedalam, disana pasti akan muncul seseorang untuk memberi petunjuk jalan kepada kalian,"
Tidak sampai ketiga orang itu untuk berbicara. Nenek tua itu segera memberi tanda kepada beberapa orang gadis itu, dan di dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik hutan-

"Huh Tempat ini benar benar misterius sekali." gumam ciang-liong-sian seorang diri. Agaknya Lan In Lojin tidak ingin berdiam disitu terlalu lama, ia segera berseru. "Mari kita berangkat"
Habis berkata ia berangkat lebih dahulu menuju kearah mana yang ditunjukkan nenek tua tadi, sedangkan ciang-liong-sian serta Gak In Ling mengintil dibelakangnya.

Ketika mereka tiba dibelakang batu cadas putih, seseorang segera munculkan diri untuk menghadang jalan pergi ketiga orang itu, untung mereka membawa tanda pengenal sehingga sepanjang perjalanan walaupun harus melewati hampir tiga puluh buah pos penjagaan baik besar maupun keeil, akan tetapi semuanya dapat dilewati dengan lancar tanpa mengalami kesulitan barang sedikit-pun juga.

Ketika waktu menunjukkan hampir mendekati tengah hari, sampailah mereka didalam sebuah lembah yang berpemandangan sangat indah sekali.
Gak In Ling segera pentang matanya memandang kearah depan, tampaklah lembah itu luar biasa sekali, rumput yang hijau tumbuh dengan suburnya, pemandangan disana justeru merupakan kebalikan dari salju putih yang menyelimuti wilayah pegunungan Tiangpek-san yang lain-

Di tengah hijaunya rumput bunga bwee yang berwarna merah tumbuh dimana-mana, sebuah bangunan rumah yang megah dan mentereng muncul dari balik pohon bwee yang lebat, sehingga membuat pemandangan disana benar-benar kelihatan indah. Dalam hati Gak In Ling berpikir.
"Tempat ini benar-benar sangat indah bagaikan berada di-Nirwana, seandainya aku bisa hidup mengasingkan diri ditempat ini dan selamanya tidak mencari urusan keduniawian lagi, hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat mengesankan-"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu berkumandang datang disusul berkumandangnya suara pembicaraan seseorang.

"Bilamana kedatangan siau-moay agak terlambat, aku harap kalian bertiga suka memaafkan "
Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah orang itu, hatinya tertegun dan segera berpikir.
"Kenapa siperempuan naga peramal sakti sendiri yang menyambut kedatangan kami ?" Sementara itu Lan In Lojin telah berkata.
"Tidak berani tidak berani terus-terang saja kami katakan, adapun maksud serta tujuan kedatangan kami berdua adalah untuk menemani Gak In Ling."

"Leng-cu kami sejak pertama kali dulu sudah mengetahui kalau Gak In Ling telah menelan pil cui-sim-cu," tukas perempuan naga peramal sakti Ki Gick Peng sambil tertawa, "dan apa tujuan dari kedatangan kalian bertigapun telah diketahui pula olehnya, dengan demikian malahan sungguh kebetulan sekali, sebab Leng-cu kami masih terdapat beberapa buah persoalan yang hendak diruncingkan secara langsung dengan Gak In Ling sendiri, apakah kalian berdua... "
"Haa haa haa buat kami kemana sajapun bolehlah, kau tak usah terlalu menguatirkan kami berdua." sambung ciang-liong-sian dengan cepat. Perempuan naga peramal sakti tertawa.
"Leng-cu telah memerintahkan diriku untuk menyampaikan permintaan maaInya berhubung tak dapat menyambut sendiri kedatangan kalian bertiga." katanya.

Bicara sampai disana ia segera memberi tanda kepada dua orang dayang cilik yang berada dibelakangnya, kemudian kepada dua orang kakek tua tadi katanya. "Silahkan kalian berdua duduk beristirahat dalam ruang tamu "
Setelah kedua orang kakek itu berlalu mengikuti kedua orang dayang tadi, perempuan naga peramal saktipun berpaling kearah Gak In Ling sambil ujarnya. "Saudara Gak, silahkan mengikuti aku"
Habis berkata ia segera putar badan berjalan menuju kesebuah bangunan gedung berwarna putih.

Dengan perasaan kaku Gak In Ling mengikuti dibelakangnya, dalam waktu yang amat singkat itulah perasaan hatinya amat kacau, karena ia tak dapat menduga bagaimanakah sikap gadis suci dari Nirwana terhadap dirinya setelah saling berjumpa nanti ?
Tiba-tiba perempuan naga peramal sakti memperlambat langkah kakinya sehingga jalan bersanding dengan sianak muda itu, sambil berpaling ia bertanya.
"Saudara Gak. apakah kedatanganmu kali ini adalah diluar kehendakmu sendiri ?"
"Benar" jawab Gak In Ling setelah berpikir sebentar, senyum tawa tersungging dibibirnya.
"Tahukah engkau bila seseorang berada dalam keadaan uring-uringan, apa yang dapat dilakukan olehnya ?"

"Mungkin pendirian serta sikapnya terlalu menuruti pada emosi serta perasaan sendiri."
Perempuan naga peramal sakti tertawa lega, kembali ia bertanya.
"Menurut tanggapanmu patutkah kita mengalah kepada orang semacam ini?"
"Sudah sepantasnya kalau kita mengalah"
"Saudara Gak. kau cerdik sekali " puji perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng sambil tertawa.

Merah padam selembar wajah Gak In Ling mendengar ucapan itu, dengan nada kikuk serunya.
"Nona, kau terlalu memuji "
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba dibawah bangunan loteng itu, Gak In Ling segera menengadah keatas dan tampaklah pintu gerbang yang berwarna merah terpentang lebar-lebar. Disisi kiri- kanan piatu gerbang masing-masing berdiri dua orang gadis berbaju hijau, sikap mereka keren dan serius sekali.

Dengan dipimpin oleh perempuan naga peramal sakti yang berjalan didepan, mereka melewati sebuah penutup kain dan masuk kedalam ruang tengah yang amat luas.
Dengan hati tercekat Gak In Ling menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ia saksikan perlengkapan dalam ruangan itu indah sekali seperti istana kaisar, dibelakang sebuah meja duduklah seorang gadis muda baju putih yang berwajah amat cantik, orang itu bukan lain adalah gadis suci dari Nirwana.

Disamping kiri gadis suci dari Nirwana duduklah Su-put-siang, sedangkan kursi disebelah kanannya masih kosong, dibawah meja tadi berdirilah dayang-dayang cantik berbaju putih, wajah mereka semua amat keren dan serius seakan-akan sedang menghadapi suatu pengadilan.
Ketika menyaksikan Gak In Ling berjalan masuk kedalam ruangan, mula-mula gadis dari Nirwana menunjukkan wajah kegirangan, tapi hanya sebentar saja rasa girang itu sudah lenyap tak berbekas, sorot mata yang dingin dengan cepat dialihkan kearah lain dan pura-pura tidak melihat.

Perempuan naga peramal sakti Ki Giok Pengjadi tertegun menyaksikan hal itu, pikirnya dalam hati dengan perasaan tercengang. "Aaii... Leng-cu, kenapa sih ?"
Dan dengan cepat ia berseru deagan suara lantang. "Leng-cu, saudara Gak telah tiba."
"cici, silahkan kembali dan duduk kemari." kata gadis suci dari Nirwana dengan suara sabar.
Perempuan naga peramal sakti jadi amat gelisah, kembali ia berseru. "Leng-cu... "
"Silahkan duduk "

Diam-diam perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng menghela napas panjang, pikirnya. "Aah, kalau dilihat dari keadaannya, urusan pada hari ini bakal celaka...""
Berpikir sampai disini, terpaksa ia berjalan balik kekursi yang kosong itu dan duduk kembali disana.
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dengan suara berat katanya.
"Gak In Ling menghunjuk hormat untuk Leng-cu " sambil berkata ia membungkuk badan dan memberi hormat.

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana tertawa dingin dan berkata.
"Aku orang tak berani menerima penghormatan besar dari engkau Gak In Ling "
Membalas hormatpun ternyata tidak dilakukan-
Berhadapan dengan orang yang begitu banyak, bukan saja gadis suci dari Nirwana tidak mempersilahkan tamunya untuk mengambil tempat duduk. malahan sikapnya begitu ketus dan dingin, jangan dibilang Gak In Ling adalah seorang pemuda yang berwatak tinggi hati, sekalipun seorang manusia yang berhati sabarpun tak akan tahan menghadapi pelayanan semacam ini.

Air muka Gak In Ling seketika berubah hebat, akan tetapi ia masih tetap menyabarkan diri dan menekan perasaan amarahnya didalam hati, sambil menghela napas panjang katanya. "Mungkin aku memang tidak pantas untuk menyambangi diri Leng-cu."
Sekujur hati gadis suci dari Nirwana gemetar keras, tetapi ia tak dapat membendung hawa gusar yang berkobar dalam hatinya, sambil tertawa dingin segera jawabnya.
"Hmm Mungkin memang begitulah keadaannya "

Tiba-tiba air muka Gak In Ling berubah semakin hebat, dengan cepat dia menengadah ke- atas dan berkata dengan hambar. "Mungkin tidak seharusnya aku berkunjung kemari... "
Suaranya datar dan hambar sekali, bahkan kedengaran nyata bahwa ia menunjukkan perasaan yang amat menyesal.

Jantung gadis suci dari Nirwana berdetak keras, tubuhnya agak gemetar, ia sendiripun tak tahu mengapa dia mengucapkan kata-kata semacam itu terhadap pemuda tersebut, tetapi kata-kata itu sudah terlanjur meluncur keluar dan tidak mungkin bisa ditarik kembali.
Sepasang biji mata yang jeli, perlahan-lahan dialihkan kewajah Gak In Ling, kemudian dengan suara yang jauh lebih lunak dia bertanya. "sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"

Dalam hati kecilnya Gak In Ling tertawa dingin, pikirnya.
"Secara terang-terangan kau telah mengetahui maksud serta tujuan dari kedatanganku Gak In Ling, kenapa sih mesti banyak bertanya lagi" berpikir sampai disini ia menjadi mendongkol sekali, dengan suara hambar jawabnya.
"Aku pikir lebih baik tak usah kuutarakan lagi " sambil berkata tiba-tiba ia menggeser kakinya dan siap berlalu dari tempat itu.

Gadis suci dari Nirwana merasa amat terperanjat, Air mukanya berubah hebat.
"Hm Sekalipun tidak kau ucapkan, akupun sudah tahu apa maksud serta tujuan dari kedatanganmu kemari." katanya.
Perlahan-lahan Gak In Ling menarik kembali sinar matanya dan menyapu sekejap kearah gadis itu, kembali ia berkata dengan nada hambar.
"Leng-cu adalah seorang manusia yang amat cerdas dan pintar sekali dikolong langit, tentu saja maksud serta tujuan dari kedatanganku orang she Gak ketempat ini takkan lolos dari pandangan matamu, hal ini hanya bisa menyalahkan aku orang she Gak yang benar-benar tak tahu diri, serta melakukan perbuatan yang tak dapat dilakukan tapi secara nekad dilakukannya juga . "

Perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng yang menyaksikan gelagat semakin klan semakin tidak beres, buru-buru bangkit berdiri dan berkata dengan hati cemas.
"Saudara Gak. Leng-cu kami sama sekali tiada bermaksud lain, harap kau jangan salah paham."
Gak In Ling tertawa sinis. "Aku orang she Gak hanyalah seorang manusia yang tak jelas asal-usulnya serta berkeliaran dalam dunia persilatan tanpa tujuan, jangan kata tak berani menaruh kesalah paha man terhadap Leng-cu, sekalipun benar-benar telah terjadi kesalah pahaman, apa yang dapat kulakukan lagi ?" nada suaranya amat berat, seakan-akan memperlihatkan betapa dan risaunya perasaan hati sianak muda pada saat itu.

Dengan mata kepala sendiri gadis suci dari Nirwana dapat menyaksikan kematian dari enci Gak In Ling, maka dari itu mendengar beberapa patah kata yang amat menyedihkan tadi, tanpa disadari timbullah perasaan menyesal dalam hati kecilnya, rasa sesal tersebut susah dilukiskan dengan kata-kata terutama sekali setelah meresapi menderita serta sengsaranya hidup pemuda itu.

Dengan cepat gadis suci dari Nirwana bangkit berdiri, kemudian tegurnya dengan suara lantang.
"Gak In Ling, sebenarnya apa maksudmu mengutarakan kata-kata semacam itu ?"
"Apakah Leng-cu takut kalau sampai aku menaruh perasaan salah paham terhadap dirimu?" ejek si pemuda sambil tertawa tawa.
"Siapa yang takut"
Jawaban ini hanya merupakan suatu jawaban secara spontan saja, sebenarnya sama sekali tidak mengandung suatu maksud tertentu.
"Kalau memang begitu bagus sekali." sahut sang pemuda hambar.
Sesudah menanti sebentar, ia menambahkan "kalau memang begitu aku ingin mohon diri terlebih dahulu "

Habis memberi hormat kepada gadis suci dari Nirwana, ia putar badan dan siap berlalu dari sana.
"Saudara Gak " seru perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng dengan hati cemas. "Apakah perjalananmu menuju kegunung Tiang-pek-san yang begini jauhnya ini hanya merupakan suatu perjalanan yang sia-sia belaka ?"
Gak In Ling sama sekali tidak berpaling, mendengar perkataan itu dia menghentikan langkahnya dan berseru
dengan nada kebingungan. "Aku semestinya tidak pantas datang kemari "
"Apakah pihak Tiang-pek-san telah menghina dirimu ?" teriak gadis suci dari Nirwana dengan jengkel.

Dengan cepat Gak In Ling memutar badannya, hawa gusar seakan-akan hendak meledak dari dalam benaknya, akan tetapi ketika ia menyaksikan genangan air mata yang mengembang dalam kelopak mata gadis suci dari Nirwana, kata-kata pedas yang telah menempel diujung bibirnya itu tanpa terasa telah tertelan kembali kedalam perut.

Sebenarnya gadis itu memang berwajah amat cantik, kini berada dalam keadaan sedih dan murung, wajahnya kelihatan jauh bertambah menarik serta mempesonakan hati. Dengan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, serunya.
"Aku tidak seharusnya menimbulkan kemarahan dari Leng-cu, anggap saja apa yang telah aku ucapkan barusan sebagai suatu impian yang jelek bagi diri Leng-cu, mungkin sejak ini hari kau tidak akan bertemu lagi dengan orang yang menimbulkan kemarahanmu itu."
Selesai berkata ia melanjutkan perjalanannya dan dengan langkah lebar ia menuju kepintu luar.

Gadis suci dari Nirwana tak dapat menahan pergolakan dalam hati kecilnya lagi, dengan suara gemetar serunya.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan bagimu" habis berkata buru-buru dia berjalan masuk kedalam ruang belakang.
Hati seorang gadis, mungkin untuk selamanya tak dapat diduga oleh orang lain-
Dengan sedih perempuan naga peramal sakti menghela napas panjang pula, diam-diam gumamnya seorang diri.
"Semoga Thian suka membantu umatNya, agar Gak In Ling yang keras hati dapat merubah perasaan hatinya... "

Mengikuti guman tsrsebut, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, tentu saja Gak In Ling tak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu, ia segera meloncat ke luar, dari ruang tengah dan laksana kilat melenyapkan dirinya ditengah pepohonan bunga bwee. Dari belakang tubuhnya terdengar suara perempuan naga peramal sakti berteriak keras.
"Gak In Ling, kau tidak sepantasnya mengambil keputusan tanpa berpikir panjang batalkanlah niatmu untuk pergi."

Akan tetapi Gak In Ling sama sekali tidak menggubris, dengan gerakan yeng lebih cepat ia berlalu dari tempat itu.
Tidak lama setelah Gak In Ling lenyapkan diri dibalik pepohonan bunga b wee, gadis suci Nirwana muncul dari ruang belakang sambil membawa sebuah kotak putih yang terbuat dari batu pualam, sorot matanya yang jeli dengan cepat menyapu sekejap dalam ruangan itu, tiba-tiba wajahnya berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, serunya dengan gemetar. "Kemana perginya orang itu?"

Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, siapapun diantara mereka tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, karena kepergian dari Gak In Ling sedemikian cepatnya sehingga tak mungkin dapat dicegah kembali, kendatipun perempuan naga peramal sakti telah menduga sampai kesitu, akan tetapi ia tidak bisa ilmu silat, apa yang harus dilakukan olehnya?
Dengan perasaan hati yang kaku gadis suci dari Nirwana meletakkan kotak pualam itu di atas meja, lalu dengan putus asa tanyanya.
"cici, apakah dia telah pergi ?"
Dengan perasaan yang halus perempuan naga peramal sakti mencekal sepasang tangan gadis suci dari Nirwana yang gemetar keras, ujarnya dengan suara lirih. "Leng-cu, percayakah engkau dengan rencana serta siasatku ?"

Keadaan gadis suci dari Nirwana pada saat ini seakan-akan telah kehilangan pendirian serta kesadarannya, dengan kaku dia mengangguk.
Walaupun perempuan naga peramal sakti sendiri tidak mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan rencananya, akan tetapi untuk menghibur hati Leng-cunya yang masih muda- belia itu, dia pun tak berani menunjukkan perasaan sangsi. Maka dengan nada yang seakan-akan yakin akan berhasil ia berkata.
"Kepergiannya pasti tak akan terlalu jauh, mari kita segera bergerak dan mungkin akan berhasil menyusul dirinya."

Bicara sampai disini ia berhenti sebentar kemudian dengan suara setengah berbisik ujarnya kembali kepada gadis suci dari Nirwana.
"Lain kali kalau engkau berjumpa lagi dengan dirinya, harap Leng- cu jangan bersikap begitu kasar terhadap dirinya, ketahuilah dibawah tekanan keadaan yang mengenaskan serta menyedihkan, dia telah kehilangan rasa percayanya pada diri sendiri, engkau harus bersikap agar dia tahu bahwa sebenarnya kau dengan bersungguh hati dan setulus hati sedang memperhatikan serta menguatirkan keselamatan jiwanya, hanya sikap yang hangat itulah yang akan mencairkan perasaan hatinya yang dingin serta telah membeku itu" Dengan air mata bercucuran gadis suci dari Nirwana mengangguk.
"Aku dapat berbuat demikian, pasti akan ku lakukan seperti apa yang kau katakan." jawabnya lirih.

Kali ini suaranya kedengaran begitu lembut, dan manja.
Diam-diam perempuan naga peramal sakti menghela napas panjang dan dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Aaiii sejak jaman dahulu kala sampai sekarang cinta akan mendatangkan banyak kesengsaraan dan kesedihan, cinta memang benar-benar menakutkan " berpikir sampai disini ia segera berkata.
"Persoalan ini tak dapat ditunda-tunda lagi Leng-cu Kau harus segera berangkat"
"Baik, aku akan segera menyusul dirinya "jawab gadis suci dari Nirwana sambil mengangguk.
Dengan langkah yang cepat ia loncat turun dari mimbar dan berlalu dari ruangan itu.
"Leng-cu, aku ikut" teriak Su-put-siang dengan hati gelisah.

"Tidak- kau tak usah ikut" suara itu terpancar datang dari tempat kejauhan-
Su-put-siang tahu bahwa ilmu silat yang di milikinya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan Leng-cu nya, setelah menyadari bahwa dia telah ketinggalan jauh, terpaksa orang itu menghentikan gerakan tubuhnya.
—oooooo—

Mari sekarang kita ikuti diri Gak In Ling.
Setelah meninggalkan ruanjan tengah, ia tidak pergi mencari Lan In Lojin serta ciang- liong sian, sebaliknya dengan gerakan yang amat cepat dia bergerak menuju kemulut lembah.
Dengan gerakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tidak selang beberapa saat kemudian tubuhnya sudah keluar dari jalan lembah tersebut.
Setelah berhasil menemukan jalan keluar, Gak In Ling langsung berlarian menuju kebawah gunung Tai-pek-san, berhubung sewaktu datang tadi semua penjaga dalam pos-pos penjagaan telah mengenal dirinya, maka ketika pemuda itu bergerak keluar tak seorangpun yang menghalangi jaLan perginya .

Sepanjang perjalanan Gak In Ling berlarian terus tiada hentinya, dalam waktu singkat ia sudah menempuh jarak sejauh empat puluh li lebih, karena perasaan hatinya tidak tenang, tentu saja arah tujuannya sama sekali tidak diperhatikan olehnya, menanti ia menyadari akan hal tersebut tubuhnya telah berada diatas sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi keangkasa.
Terpaksa Gak in Ling menghentikan langkah kakinya dan menentukan arah kembali, pikirnya di dalam hati.
"Hiiii kenapa sih aku ini ? Kenapa untuk menentukan arah timur- barat saja tidak mampu ?"

Setelah berdiri termangu- mangu beberapa saat lamanya, dia pun mentukan arah yang sebenarnya dan bergerak menuju kearah timur.
Pada saat itulah tiba tiba dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan burung hong yang amat keras dan memekakkan telinga, jika ditinjau dari jarak suara tadi, kurang-lebih burung hong itu berada pada ketinggian sepuluh tombak diatas angkasa.
Gak In Ling amat terperanjat, dengan cepat dia menghentikan langkah kakinya dan menengadah keatas, dimana sorot matanya memandang dan hatinya merasa amat terperanjat sekali.

Tampak kurang lebih delapan tombak diatas kepalanya terbanglah seekor burung hong yang amat besar bagaikan kereta kuda yang memiliki bulu beraneka warna.
Paruhnya tajam dan berwarna emas, mata nya merah berapi-api, sekilas memandang burung itu kelihatan mengerikan sekali, namun binatang tersebut sama tiada maksud untuk melakukan sergapan-

Gak In Ling pun merasa lega, perlahan-lahan dia mulai menuruni puncak bukit itu.
Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara bentakan yaag merdu dan amat nyaring.
"Hei, berhenti " meskipun suaranya tidak begitu keras, akan tetapi mengandung daya kekuatan yang cukup menggetarkan hati manusia.
Mendengar bentakan itu Gak In Ling tertegun dan tanpa terasa ia menghentikan langkah kakinya, tetapi hanya sebentar saja ia berhenti kemudian meneruskan kembali perjalanannya menuruni bukit tersebut.

Siapa sangka baru saja sianak muda itu melanjutkan kembali langkahnya sejauh dua tindak. mendadak dari tengah udara berkelebat lewat sesosok bayangan merah dan tahu-tahu kurang lebih lima depa di hadapan Gak In Ling telah bertambah dengan seorang gadis muda yang amat cantik dan berbaju warna merah.
Gak In Ling merasa amat terperanjat, segera pikirnya didalam hati.
"Gerakan tubuh perempuan ini benar-benar cepat sukar dilukiskan dengan kata-kata, sehingga dengan ketajaman matakupun tak mampu melihat jelaS gerakan tubuhnya, mungkin tenaga dalam yang dimiliki orang ini tidak dibawah aku, kenapa sih semua jagoan yang kutemui pastilah seorang gadis muda yang berwajah cantik? Bahkan kepandaian mereka rata-rata berada diatas kepandaianku ? Aaai semoga saja dia datang bukan untuk memusuhi diriku."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa lagi sorot matanya yang tajam dengan cepat menyapu sekejap keatas wajah gadis itu.
Gadis muda baju merah itu berusia antara delapan-sembilan belas tahun, matanya jeli dengan alis yang melentik, hidung mancung dengan bibir kecil- mungil, wajahnya bulat telur dan kecantikan wajahnya sama sekali tidak berada di bawah kecantikan gadis suci dari Nirwana, hanya dari balik matanya secara lapat-lapat memancarkan hawa napsu membunuh yang sangat tebal membuat orang merasa tak berani untuk mendekatinya.

Dengan pandangan dingin gadis muda baju merah itu memandang sekejap kearah Gak Ia Ling kemudian dengan suara dingin katanya.
"Bukankah engkau baru saja datang dari tempat tinggal gadis suci dari Nirwana ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab sang pemuda sambil alihkan sorot matanya kearah lain-
Napsu membunuh yang amat tebal melintas lewat diatas wajah gadis cantik baju merah itu, kembali ia bertanya.
"Apakah engkau adalah anak buah dibawah perintah gadis suci dari Nirwana?"
"Aku dengan nona tokh tidak saling mengenal satu sama lainnya, buat apa nona menanyai diriku dengan begitu jelas ?" Dara muda baju merah itu tertawa dingin.
"Buat apa ? Aku akan menyaksikan apakah kau sepantasnya diberi kematian atau lebih pantas dibiarkan hidup"

Gak In Ling adalah seorang psmuda angkuh yang tinggi hati, tentu saja ia tak tahan mendengar perkataan semacam itu, mendengar perkataan tersebut tak tahan lagi ia tertawa dingin dan mengejek.
"Maksud nona, apakah engkau telah menguasai soal mati hidupku ? Dan eng kaukah yang akan menentukan kematian atau kehidupan bagiku ?"
"Tentu saja" jawab dara baju merah itu tanpa pikir panjang lagi.

Perkataan itu diucapkan amat lancar dan leluasa, seakan-akan mati hidup Gak in Ling memang benar-benar sudah berada dibawah cengkeramannya.
Mendengar ucapan itu Gak In Ling jadi naik pitam, sambil tertawa dingin ia segera berseru.
"Kalau memang begitu silahkan engkau mencoba-coba."
"Jadi kau benar-benar tak mau berbicara?" ejek dara muda baju merah itu sambil tertawa dingin.
"Tentu saja tak mau bicara ?" jawab Gak In Ling ketus.
Dari balik sorot mata dara muda baju merah itu segera terpancarlah napsu membunuh yang sangat tebal, ia tertawa dingin dan mengejek.
"He he... he... jikalau nonamu ingin membinasakan dirimu, maka perbuatan ini dapat kulakukan dengan gampang sekali bagaikan-.. "
Belum habis ia berkata, tiba-tiba gadis itu putar badan dan membentak kearah sebuah batu cadas yang menonjol keluar kurang lebih dua puluh tombak dihadapannya.
"Kawanan tikus dari manakah yang bersembunyi ditempat itu, ayoh cepat menggelinding ke luar dari tempat itu "

Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu jadi amat terperanjat .sekali, pikirnya didalam hati.
"Jarak dari tempat ini sampai kearah batu cadas itu amat jauh sekali, dan lagi orang itu sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, ternyata ia berhasil menemukan jejaknya dengan jitu, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa "
Dikala Gak In Ling masih termenung dan memikirkan persoalan itu, mendadak dari balik batu berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras, disusul seseorang menjawab.
"Ha ha ha bocah perempuan, sedari kapan sih engkau telah mengetahui tempat persembunyianku ?"

Dari belakang batu cadas itu muncullah seorang manusia aneh yang berwajah jelek sekali.
Begitu menyaksikan raut wajah orang itu, Gak In Ling merasa amat terperanjat, serunya tanpa sadar. "Hiat-mo-ong "
Sedikitpun tidak salah, orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah IHiat-mo-ong raja iblis darah yang datang dari lembah pemutus sukma.
Dengan pandangan yang amat dingin Hiat-mo-ong menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian dengan langkah lebar berjalan maju ke depan, sikapnya amat tenang dan terbuka, jelas ia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap muda-mudi yang berada dihadapannyaitu.
"Ei, tua- bangka Benar-benar tidak lucu lagakmu itu" maki dara muda baju merah sambil tertawa.
Meskipun ia sedang memaki orang, akan tetapi nada suara yang meluncur keluar dari mulutnya kedengaran- begitu lunak. halus dan sedap di dengar.

Air muka Hiat-mo-ong seketika itu juga berubah hebat, dia menghentikan gerakan tubuhnya kurang lebih dua tombak dihadapan dara muda baju merah itu, kemudian dengan gusar bentak-nya.
"Bocah perempuan, tahukah kau apa yang akan kulakukan untuk menghukum dirimu ?"
"Hanya mengandalkan kekuatan kau seorang?"
"Haa ha haa " Hiat-mo-ong tertawa terbahak-bahak
"hanya andalkan aku seorang pun sudah lebih dari cukup, masih membutuhkan berapa orang lagi ?"
Berbicara sampat disini dengan pandangan yang tajam dia melirik sekejap kearah Gak In Ling, jelas dalam hati kecilnya dia mengira hanya Gak In Linglah satu-satunya musuh tangguh yang patut dia kuatirkan kelihayannya. Dara muda baju merah itu tertawa manis, kembali dia bertanya.
"Tahukah kau siapa aku ?"

"Aaah, benar " seru Hiat-mo-ong dengan lagak tengiknya. "Sebelum aku menjatuhkan hukuman mati atas dirimu, memang sudah sepantasnya kalau kau melaporkan dahulu siapakah namamu, sebab terhadap gadis cantik-jelita semacam kau untuk selama hidup aku tak akan dapat melupakannya kembali."
Tiba-tiba dari balik sorot mata dara muda baju merah itu terpancarlah serentetan cahaya tajam yang sangat kuat, membuat Gak In Ling menyaksikan kejadian itu jadi amat terkesiap. segera pikirnya didalam hati.
"jangan- jangan tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini telah mencapai pada puncak kesempurnaan yang bisa digunakan dan ditarik menurut kehendak hatinya seneiri, tetapi hal ini mana mungkin dapat terjadi ?"

Terdengar suara tertawa dara muda baju merah itu kedengaran semakin manis, sama sekali ia baru berkata kembali.
"Angkatlah kepalamu dan lihatlah keangkasa, mungkin kau segera akan mengetahui siapakah aku "
Mendengar perkataan itu dengan cepat Hiat mo-ong menengadah keangkasa dan terlihatlah olehnya seekor burung hong yang amat besar sedang terbang menggilingi tempat itu,
wajahnya yang semula sombong dan tinggi hati mendadak terlintas rasa ngeri dan ketakutan yang bukan kepalang, dengan suara tertahan ia berseru. "Kau... cay-hong-sian-cu ?"
"Haa haa haa apakah tidak mirip?" tanya dara baju merah itu sambil tertawa bergelak.

Dalam benak Hiat mo-ong pada waktu yang amat singkat inilah segera teringat kembali akan beberapa patah kata yang ditinggalkan seorang iblis perempuan pada delapan puluh tahun berselang, perempuan iblis yang suka membunuh orang tanpa berkedip itu pernah berkata demikian-
"Seratus tahun kemudian, didalam dunia persilatan bakal muncul kembali seorang malaikat elmaut perempuan yang memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi daripada diriku sendiri, aku harap kalian semua suka menantikan akan kehadiran orang itu."

Sejak ucapan tersebut tersiar kedalam dunia persilatan, maka orang itupun lenyap dari keramaian dunia. Bila dihitung kembali -sampai sekarang, bukankah tepat sudah hampir seratus tahun lamanya ?
Perlahan-lahan Hiat-mo-ong mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan. Serunyad engan perasaan tidak tenang .
"Kau kau datang untuk memenuhi janji yang-pernah tersiar dalam dunia persilatan tempo dulu ?"

Dara muda baju merah itu tertawa.
"Aaah Sungguh tak kusangka engkau masih teringat akan pesan terakhir dari guruku, memandang diatas hal ini aku akan memberikan suatu kematian yang utuh bagimu "
Perkataan tersebut diutarakan masih dengan nada yang merdu nyaring dan mempesonakan hati setiap orang yang mendengar, siapapun tak akan percaya bahwa perkataan itu ibaratnya perintah kematian yaag telah dijatuhkan oleh malaikat elmaut.
Mendengar perkataan itu rasa ngeri dan seram yang semula telah menghiasi wajah
Hiat-mo ong kini kian bertambah tebal, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dan harapan untuk hidup dikolong langitpun muncul kembali dalam hatinya. Hiat-mo-ong segera tertawa dingin dan berseru.
"Apakah nona mengira aku akan menyerah dan mudah dibunuh dengan demikian saja ?"

Menggunakan kesempatan ketika mengucapkan kata-kata tersebut, secara diam-diam hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam sepasang telapaknya dan siap melancarkan serangan maut bilamana kesempatan baik telah tiba, cay-hong-sian-cu Dewi burung hong indah bukanlah seorang gadis yang bodoh dan bisa disergap orang dengan begitu gampang, menyaksikan tingkah laku dari musuhnya itu dalam hati ia tertawa dingin, namun diluaran wajahnya masih tetap tenang dan senyuman manis yang menggiurkan itupun masih tersungging dibibirnya, ia berkata.
"Aku memang ingin sekali mengunjungi lembah pemutus sukma, nonamu ingin sekali melihat apakah disana... "

Belum habis dewi burung hong indah menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar Hiat-mo-ong membentak. "Sambutlah seranganku ini"
Bersamaan dengan bergemanya suara bentakan itu, angin pukulan yang maha dahsyat tahu-tahu sudah berada setengah depa diatas dada dewi burung hong indah.
Rupanya Hiat-mo-ong sudah mengambil keputusan untuk melakukan perlawanan yang gigih sebelum ajal menjelang tiba, didalam serangan yang dilancarkan keluar itu ia sudah menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan tersebut apalagi jika mengena pada sasarannya,

Angin pukulan menderu- deru bagaikan hembusan angin puyuh, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, begitu dahsyatnya membuat Gak In Ling yang berada disisi kalanganpun merasakan hatinya amat terperanjat.
Tiba-tiba satu ingatan aneh berkelebat lewat didalam benak dewi burung hong indah, rasa kaget terlintas diatas wajahnya dan wajahnya menunjukkan perubahan seakan-akan ia tak tahu apa yang harus, dilakukan olehnya pada waktu itu, sepasang biji matanya yang jeli secara diam-diam melirik sekejap kearah Gak In Ling.

Pemuda she Gak itu sama sekali tak menduga kalau gadis muda itu sengaja sedang berpura-pura untuk menilai perasaan hatinya, dia mengira dewi burung hong indah betul-betul sedang terancam oleh mara bahaya, meskipun terhadap gadis cantik ini dia tidak menaruh kesan yang baik, akan tetapi sebagai seorang pria sejati yang memiliki jiwa satria, ia tak ingin membiarkan orang lain terancam oleh bahaya sementara ia sendiri hanya berpeluk tangan belaka, tanpa disadari lagi tubuhnya segera maju satu langkah kedepan siap memberikan pertolongannya.

Tanpa alasan dewi burung hong indah merasakan hati kecilnya agak tergerak. suatu perasaan yang sangat aneh muncul dalam tubuhnya sesudah menyaksikan tingkah dari pemuda tersebut.
Dalam pada itu telapak tangan Hiat-mo-ong adah berada tiga cun diatas dada dewi burung hong indah, angin pukulan yang sangat tajam berhembus lewat menerbangkan batu, pasir dan rerumputan disekeliling tempat itu, tapi aneh sekali ternyata ujung baju yang dikenakan gadis muda baju merah itu sama sekali tidak berkibar barang sedikitpun jua.

Semua perubahan itu terjadi dalam waktu yang amat singkat, mati hidup pun terletak peda detik penentuan yang terakhir itu...
Pada saat itulah mendadak dewi burung hong indah tertawa merdu, serunya. "Engkau masih terpaut sangat jauh... "
Sambil berkata tubuhnya bergerak dengan suatu gerakan yang amat manis dan tahu-tahu ia sudah terlepas dari lingkaran bayangan telapak dari Hiat-mo-ong.

Meskipun Gak In Ling berada disisi kalangan dan bertindak sebagai penonton, akan tetapi kecuali menyaksikan berkelebatnya bayangan merah, ia tidak berhasil menyaksikan sesuatu apapun jua, hal ini membuat hatinya merasa amat terperanjat sekali. pikirnya. "Gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan olehnya ? Kenapa begitu cepatnya ?"
Tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling setingkat lebih tinggi daripada tenaga dalam yang dimiliki Hiat-mo-ong, sebagai seorang penonton yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalanganpun ia tak berhasil melihat jelas gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan oleh dewi burung hong indah, apalagi Hiat-mo-ong sendiri sudah tentu tak usah dikatakan lagi.

Ketika Hiat-mo-ong menyaksikan serangannya sudah hampir mengenai pada sasarannya, dalam hati merasa amat girang, siapa tahu mendadak pandangan matanya menjadi kabur dan tahu2 serangannya telah mengena disasaran yang kosong
"Blaam "
Ditengah ledakan yang amat dahsyat, tanah di mana dewi burung hong indah semula berdiri telah terhantam keras sehingga muncul sebuah liang besar sedalam tiga depa, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya angin pukulan yang dilepaskan itu.

Hiat-mo-ong memiliki pengalaman yang amat luas dalam menghadapi serangan musuh, ketika menyaksikan serangannya tidak mengenai sasaran malahan ia kehilangan jejak musuhnya, dalam hati segera ia menyadari bahwa gelagat titiak menguntungkan bagi dirinya.
Dalam keadaan begini ia tak berani bertindak gegabah lagi, dengan cepat tubuhnya dihentikan lalu miring kesamping, denganjurus "To-ta-kim-clong" atau memukul keras genta emas, dia kirim satu pukulan kearah belakang, serangan tersebut cepat dan sangat diluar dugaan-

Akan tetapi sayang sekali dewi burung hong indah jauh lebih cepat lagi daripadanya, kembali serangan yang dilancarkan Hiat-mo-ong ini mengenai pada sasaran yang kosong, paling mengenaskan lagi ternyata tak mampu melihat jelas gerakan tubuh dari musuhnya dan iapun tak tahu saat ini dewi burung hong indah berada dimana.

Dalam waktu yang amat singkat, Hiat-mo-ong segera menyadari bahwa tenaga dalamnya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan dewi burung hong indah, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajahnya yang pucat pias bagaikan mayat.
Pada saat itulah dari belakang punggung Hiat-mo-ong berkumandang datang suara teguran seseorang dengan suara yang amat merdu.
"Hey, asal ini hari engkau sanggup melihat jelas gerakan badan dari nonamu, maka akan aku ampuni selembar jiwamu..."

Ucapan yang disertai dengan gelak tertawa merdu itu muncul dari belakang tubuhnya, nada suaranya masih tetap tenang seperti biasa, membuat orang tak dapat meresapi apakah pada waktu itu sedang gusar atau tidak.
"Sebenarnya pada waktu itu Hiat-mo-ong sudah putus asa dan mengira jiwanya pasti akan melayang ditangan musuhnya, setelah mendengar perkataan itu, timbul kembali harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, diam-diam ia berpikir.
"Meskipun tenaga dalam yang aku miliki masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan dirimu, tetapi kalau untuk melihat badanmu saja tak sanggup, aku benar-benar tidak percaya."
Berpikir sampai disini dengan cepat dia putar badannya memandang kearah belakang, siapa tahu yang terlihat hanya tempat kosong, sementara bayangan tubuh gadis tersebut sudah lenyap dari pandangan-

Dengan cepat ia berputar pula kesamping, kebelakang putar-balik, hampir semua gerakan berputar telah dipergunakan olehnya dengan harapan bisa melihat jelas tubuh gadis itu, akan tetapi semua usahanya itu gagal total dan sama sekali tidak ada gunanya.
Kali ini Gak In Ling dapat melihat lebih jelas lagi, tampaklah tubuh dewi burung hong indah berdiri kurang lebih setengah depa dibelakang tubuh Hiat-mo-ong, tubuhnya begitu enteng dan ringan seakan-akan sesuatu benda yang lebih enteng daripada kapas yang diikat bersama dengan tubuh lawannya, kendatipun ia berputar dengan cara apapun juga gadis itu selalu ikut berputar dan seakan-akan sedikit pun tak mengeluarkan tenaga. Tanpa sadar Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya d idalam hati.
"Ilmu silat yang dimilikinya entah sudah berhasil mencapai tarap yang bagaimana tingginya? Aaaiii..kelihatannya nasib diriku Gak In Lingpun tak akan jauh berbeda dengan Hiat-mo-
ong."

Demi keselamatan jiwanya mau tak mau Hiat-mo-ong harus berputar terus-menerus dengan harapan berhasil melihat tubuh musuhnya, tidak sampai sepertanak nasi kemudian seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, tubuhnya terasa lelah sekali, dan napasnya tersengal-sengal.
Tiba-tiba dewi burung hong indah yang berada di belakang tubuhnya tertawa ringan dan berkata.
“Setelah berputar tiga kali lingkaran lagi dan bila engkau masih tetap belum bisa melihat tubuh nonamu, terpaksa engkau harus menyerahkan nyawamu”

Bulu kuduk di sekujur tubuh Hiat mo ong pada bangun berdiri setelah mendengar perkataan itu, dia segera mengerahkan kemampuannya untuk berputar sebanyak dua kali lingkaran, tiba-tiba dia berputar pada arah yang berlawanan, bersamaan dengan perputaran itu sepasang tangannya diayun kebelakang melancarkan sebuah pukulan dengan jurus Lui-tian-ciau-hou atau guntur dan halilintar bersatu padu.

Walau pun rencana ini sangat ganas dan keji akan tetapi saying sekali kepandaiannya masih bukan tandingan orang, bukan saja ia gagal untuk melihat jelas tubuh dewi burung hong indah, bahkan serangan terakhir yang dilancarkan pun sama sekali tidak mengenai pada sasarannya.

Melihat serangannya gagal mengenai sasaran, sadarlah Hiat mo ong bahwa kesempatan terakhir bagi dirinya untuk melanjutkan hidup sudah lewat, sepasang kakinya dengan sekuat tenaga menjejak keatas tanah dan tubuhnya segera melompat kedepan secepat kilat.

Tetapi saying sekali semuanya telah terlambat…baru saja sepasang kakinya meninggalkan permukaan tanah, mendadak ruas ketujuh pada tulang punggungnya jadi kaku dan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya punah tak berbekas.
“Blaaaaamm…!” di tengah benturan yang amat keras, tubuhnya sudah terkapar di atas tanah.

Selesai membereskan Hiat-mo-ong, perlahan-lahan dewi burung hong indah berjalan ke hadapan Gak In Ling dan berhenti kurang lebih lima depa di hadapannya, dengan suara dingin ia menegur.
“Gak In Ling, bagaimana pendapatmu tentang ilmu silat yang kau miliki jika dibandingkan dengan kepandaiannya?”

“Eh, darimana kau bisa tahu akan namaku?” seru Gak In Ling dengan perasaan tertegun.
“Tentu saja aku sudah pernah berjumpa dengan dirimu, maka kuketahui namamu, apa sih yang kau herankan?” seru dewi burung hong indah dengan nada dingin.
Selama pembicaraan berlangsung dengan si anak muda itu, nada suaranya selalu dingin dan menyeramkan.

Gak In Ling berpikir sebentar, lalu berkata:
“Aku belum pernah berjumpa dengan dirimu!”
“Hmm..pada waktu itu kau sedang mengalami mara bahaya, untuk menyelamatkan jiwa sendiri pun tidak mampu, sekali pun nonamu berdiri disamping tubuhmu belum tentu kau dapat melihat aku, apalagi…”

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, dengan cepat ia berseru.
“Oooh..jadi kau adalah si burung hong dari luar lautan?”
“Hmmm…engkau memang cerdik.”
Sekarang Gak In Ling baru teringat akan beberapa patah kata dari Lan In Lojin, pada saat itu ia tak dapat mempercayainya kalau beberapa orang gadis mampu mengacaukan dunia persilatan sehingga terjadi badai besar di seluruh kolong langit, meskipun ia pernah bertemu dengan Thian-hong pangcu juga pernah bertemu dengan gadis suci dari Nirwana, dan mengetahui pula kalau ilmu silat yang dimiliki perempuan-perempuan itu sanggup digunakan untuk mengacaukan seluruh dunia persilatan, tetapi mereka semua mempunyai hati untuk menolong sesame manusia serta mencegah terjadinya kejahatan dalam dunia persilatan, tak mungkin gadis-gadis tersebut dapat melakukan perbuatan semacam itu, tapi sekarang setelah berjumpa dengan dewi burung hong indah yaitu dara muda baju merah itu, ia baru percaya kemungkinan terjadi badai dalam dunia persilatan amat besar sekali.

Perlahan-lahan Gak In Ling menengadah ke atas, ditatapnya wajah dewi burung hong indah dengan bersungguh hati, lalu ujarnya.
“Ilmu silat yang nona miliki sangat tinggi dan luar biasa sekali, di kolong langit sukar sekali untuk mencari tandingan dan dengan andalkan kemampuan yang nona miliki boleh dibilang seluruh jagad yang demikian luasnya ini sudah menjadi milik nona serta berada dibawah kekuasaan nona, tapi kenapa sih kau harus berkunjung ke daratan Tionggoan untuk mencari perbagai persoalan yang akan merepotkan nona sendiri?”

Di balik sepasang biji mata dewi burung hong indah yang jeli terlintas perasaan girang yang luar biasa, tapi perasaan tersebut sukar ditemukan oleh orang lain.
Terdengar ia tertawa dingin dan berseru.
“Huh! Apa sih yang kau ketahui?”
“Mungkin aku sama sekali tidak mengetahui tentang persoalan apapun, akan tetapi beberapa patah kataku ini kuucapkan dari hati sanubariku yang jujur.”

“kau amat jujur dan polos, saying sekali pengetahuan serta pengalamanmu masih terlalu sedikit, sehingga terhadap berita yang tersiar dalam dunia persilatanpun sama sekali tak tahu” ujar dewi burung hong indah sambil tertawa.

Inilah tertawa yang pertama kalinya diperlihatkan gadis itu terhadap Gak In Ling, seandainya pada saat ini Gak In Ling dapat berbicara dengan perasaan hati yang tenang dan tanpa dipengaruhi oleh emosi, maka ia akan melihat bahwa senyuman yang ditujukan kepadanya jauh berbeda sekali dengan senyuman yang ditujukan kepada Hiat-mo-ong tadi, hanya saying sekali Gak In Ling sama sekali tidak memperhatikan akan hal itu.

Terdengar si anak muda itu menghela napas dengan nada berat.
“Aaai..jadi kedatangan nona adalah untuk mewujudkan berita yang tersiar didalam dunia persilatan itu?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Lalu apa yang hendak nona lakukan?”
“Aku akan menunggu seseorang sehingga ia pun tiba di daratan Tionggoan, setelah itu nonamu baru akan turun tangan,” jawab dewi burung hong indah dengan wajah menyeramkan.

Gak In Ling amat terperanjat, serunya tanpa sadar.
“Menunggu seseorang? Siapa?”
“Hm, buat apa sih kau bertanya begitu banyak?” tegur sang dara dengan nada dingin.
Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan.
“Dia dating dari wilayah Tibet dan selama berada di daratan Tionggoan markas besarnya berada di lembah pemutus sukma.”

Lembah pemutus sukma, begitu nama tersebut melintas dalam benaknya dengan cepat pula Gak In Ling dapat menduga manusia macam apakah orang yang dimaksudkan itu dan lebih menakutkan lagi ternyata dia datang bersama-sama dewi burung hong indah.

Pelbagai persoalan yang merisaukan hatinya seketika menyumbat seluruh benak Gak In Ling dia tak tahu apa sebabnya hatinya begitu menguatirkan bagi keselamatan dunia persilatan, dia hanya merasa munculnya satu tenaga dorongan yang membuat dia harus menyediakan tenaganya untuk berbakti bagi umat persilatan.

Kembali Gak In Ling menghela napas panjang, lalu berkata lagi.
“Nona, apakah kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan di luar langit masih ada langit?”
“Di atas manusia masih ada manusia bukan?” sambung dewi burung hong indah dengan cepat, sesudah berhenti sebentar dengan nada dingin dan sinis ia menambahkan.
“Lalu siapakah yang kau maksudkan sebagai manusia di atas manusia, masih ada manusia itu?” Kau…Gak In Ling?”

Sepasang alis mata Gak In Ling kontan berkernyit sesudah mendengar perkataan itu, akan tetapi ia masih tetap menyabarkan diri dan berkata dengan suara hambar.
“Tentu saja yang itu bukanlah diriku, cuma…”

“Gak In Ling, apakah kau menganggap bahwa dirimu pantas untuk member nasehat kepadaku?” tukas dewi burung hong indah dengan nada ketus.
“Bukan aku yang sedang member nasehat kepadamu, tetapi kebenaran serta keadilan bagi seluruh dunia persilatanlah yang sedang memperingatkan dirimu.”

“Siapa yang mengatakan ucapan seperti itu?” seru dewi burung hong indah sambil tertawa dingin, sepasang alis matanya berkernyit.
(Bersambung ke Jilid 11)

Selengkapnya......