Jilid 4 : Umur Gak In Ling mengandalkan racun  

Diposting oleh jagatcerita

ELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe

Jilid 4 : Umur Gak In Ling mengandalkan racun
TAPI Gak ln Ling tetap gelengkan kepalanya.
"Jangan, kau jangan ikut. Sebab orang yang berada dalam lembah itu jauh lebih menakutkan dari pada setan, kalau tidak tanyakanlah sendiri kepada..." bicara sampai disini ia segera berpaling ke belakang, tapi dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun, sebab pada saat itu Thian-hong pangcu sedang mengikuti di belakang tubuhnya persis pada jarak lima depa.
Dengan muka tercengang segera tegurnya: "Pangcu, apakah engkau juga akan ikut menempuh bahaya ?"
Merah jengah selembar wajah Thian-hong pangcu, tiba-tiba ia tertawa dingin, dan menjawab: "Penghuni yang berdiam dalam lembah ini sangat membahayakan jiwa dan keselamatan dari umat persilatan didaratan Tionggoan, sejak dahulu aku memang ada maksud untuk menyelidiki lembah ini. Hmm, kau tak usah berpikir yang bukan-bukan, janganlah kau anggap kedatanganku kemari adalah disebabkan karena dirimu."
"Oooh, kalau memang begitu aku orang she Gak-lah yang terlalu berlagak pintar." ujar pemuda itu kemudian dengan hambar.

"Ei, benarkah orang yang berada dalam lembah ini jauh lebih menakutkan daripada setan?" terdengar pria bertato sembilan naga telah berseru pula dengan nada cemas. "Kalau memang begitu aku si manusia bertato sembilan naga harus mengobrak-abrik orang itu, dan ingat urusan ini sama sekali tak ada urusannya dengan dirimu." dalam gugupnya ternyata pria kasar inipun meniru lagak Thian-hong pangcu.

Gak In Ling ingin cepat-cepat menemukan Buddha Antik dan tak ingin membuang waktu dengan percuma, setelah memandang sekejap kearah dua orang itu ujarnya dengan hambar:
"Kalau memang begitu, mari kita kerjakan urusan masing-masing." dengan langkah lebar ia berjalan lebih dahulu memasuki lembah tersebut.
"Hm, kau tak boleh aku ikut, justru aku akan sengaja ikuti terus dirimu, akan kulihat apa yang bisa kau lakukan-" pikir pria bertato sembilan naga didalam hati. Berpikir sampai disitu diapun dengan cepat membuntuti dibelakangnya.

Thian-hong pangcu berpaling dan memandang sekejap kearah lima orang yang masih bersemadhi, melihat In Hong Totiang dan Liau Wan Taysu telah mendusin, hatinya jadi lega dan dengan cepat gadis itu memburu dibelakang Gak ln Ling.
Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang itu memang sangat tinggi, sepanjang perjalanan walaupun tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, akan tetapi kalau dibandingkan dengan orang biasa, langkah mereka lima enam kali lipat jauh lebih cepat.

Tidak selang beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah memasuki mulut selat Toan-hun kok yang sempit, didepan mereka muncullah cabang jalan yang satu menuju ketenggara sedang yang lain-menuju kearah timur laut, jalan manakah yang harus ditempuh tak seorangpun yang tahu. .
Pada jalan masuk kedua buah jalan simpangan tadi tersebar tengkorak-tengkorak manusia yang berserakan dimana-mana,jumlah mereka sampai ratusan dan sepintas memandang suasana ditempat itu terasa seram dan mengerikan sekali.

Tanpa sadar Thian-hong pangcu menggeserkan tubuhnya dua langkah kesamping Gak In Ling, mungkin dalam perasaan seorang gadis hanya mendekati kaum pria yang dicintainyalah dirinya baru terasa aman-
Sementara itu manusia bertato sembilan naga telah bergumam dengan suara yang kasar: "Maknya, neneknya kenapa begitu banyak barang-barang yang menjijikkan berserakan disini ? Benarkah mereka jauh lebih menakutkan daripada setan ?"

Dengan cepatnya mereka bertiga telah tiba dijalan persimpangan tersebut, Gak in Ling segera berhenti dan bertanya:
"Kalian berdua akan memilih jalan yang mana ?"
"Kau sendiri ?" pria bertato sembilan naga balik bertanya.
"Aku memilih jalan yang ini " sahut Gak In Ling sambil menuding ke arah jalan yang bercabang kearah Timur- laut.
"Oooh, hah hah hah kebetulan sekali, akupun hendak melewati jalan yang ini " sambil tertawa terbahak-bahak pria bertato sembilan naga segera berjalan lebih dahulu memasuki jalan cabang tadi.

Gak In Ling tertegun, ketika ia berpaling kearah Thian-hong pangcu maka tampaklah gadis baju putih itu sudah melewati disisi tubuhnya dan berangkat menyusul dibelakang pria bertato sembilan naga.
Jalan lembah itu berliku liku bagaikan usus kambing, tidak selang beberapa saat kemudian bayangan punggung kedua orang itu sudah lenyap dibalik tikungan yang pertama, mereka berdua tak seorangpun yang berpaling kearah Gak In Ling, mungkin dalam perkiraan mereka sianak muda itu pasti akan menyusul dibelakangnya.
Gak In Ling tidak langsung berangkat kearah Timur- laut, sambil menoleh jalan yang ada disebelah kiri, pikirnya.
Jikalau tiga orang mengambil jalan yang sama, bukankah itu berarti telah meninggalkan sebuah jalan kehidupan bagi Buddha Antik? Biarlah aku mengambil jalan yang kearah tenggara saja."
Sementara itu hendak berjalan menuju kekiri, tiba-tiba satu ingatan berkelebat kembali dalam benaknya.
"Buddha Antik adalah seorang jago bu-lim yang amat tersohor, sekalipun ia berjumpa dengan Thian-hong pangcu, belum tentu gadis itu akan menyusahkan dirinya, aku rasa kalau aku orang she Gak harus berjalan seorang diri malah kekuatanku terasa jauh lebih lemah."
Senyuman dingin tersungging diujung bibirnya, untuk beberapa saat ia tak tahu jalan manakah yang harus ditempuh olehnya.

Pada saat itulah dari dalam lembah tiba-tiba berkumandang datang suara bentakan keras dari pria bertato sembilan naga.
"Maknya bangsat Kalian anggap setelah kamu semua menyaru sebagai setan dan malaikat maka yayamu lantas ketakutan dan lari terbirit-birit?"
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.
Gak In Ling terkejut, dengan cepat ia putar badan dan lari menuju kearah mana berasal-nya suara tadi.

Baru saja bayangan tubuh Gak In Ling lenyap dibalik tikungan yang pertama, dari balik jalan persimpangan yang menuju kearah tenggara tiba-tiba muncul dua orang manusia aneh yang berwajah menyeramkan, sambil memandang bayangan punggung sang pemuda yang lenyap ditikungan mereka tertawa dingin, kemudian bagaikan hembusan puyuh kedua orang itu menyusul dari belakangnya.
Dengan kecepatan yang tinggi Gak In Ling melayang masuk kedalam lembah, sepanjang jalan ia lihat tulang putih yang memantulkan api fosfor berserakan dimana-mana pemandangan sekitar tempat itu mengerikan sekali bagaikan masuk ke kerajaan setan saja.
Setelah melalui tujuh- delapan tikungan, pemuda itu mulai bingung dan tak dapat membedakan arah lagi.
Pada tikungan kesepuluh akhirnya Gak In Ling menemukan cahaya terang memancar masuk dari arah depan, apa yang kemudian terlihat olehnya membuat sianak muda itu tertegun.

Ditengah gelanggang tampaklah pria bertato sembilan naga sedang memutar senjata toyanyadan melangsungkan pertarungan sengit melawan tiga orang manusia aneh berbaju hitam yang mukanya corang- coreng oleh lima- enam warna, pertarungan itu berjalan seru dan ramai sekali.
Thian-hong pangcu sendiri berada lima tombak diluar gelanggang, sorot matanya yang jeli menyapu sekejap kearah Gak In Ling, seakan-akan ia sudah lama sekali menantikan kedatangannya .

Dengan pandangan yang tajam Gak In Ling menyapu sekejap seluruh pemandangan dalam lembah itu, ia lihat luas lembah tersebut kurang- lebih duapuluh tombak persegi, batu cadas berserakan disana-sini, tanaman gundul dan gersang sekali, diatas dinding tebing batu disebelah depan terdapat sebuah mulut gua yang tidak terlalu besar, dan tempat itulah merupakan pusat dari lembah tersebut.
Setelah menyapu sekejap suasana dalam gelanggang pertarungan, ia segera mengetahui bahwa pria bertato sembilan naga berhasil menguasai keadaan dan merebut diatas angin, hal ini melegakan hatinya, tanpa banyak berpikir- pemuda ini segera melangkah kearah mulut gua.

Mendadak dari belakang tubuh sianak muda itu berkumandang datang suara teguran yang amat menyeramkan-
"Bangsat!! Engkau tak usah menuju kesana lagi, ditempat inilah mayatmu akan bersemayam antuk selama-lamanya "
Mendengar suara teguran tersebut, Gak In Ling merasa terperanjat, dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan berpaling kebelakang.

Tampaklah dua orang manusia aneh bermuka hijau bergigi taring dan berwajah mengerikan sedang berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan mukanya, kehadiran orang itu sangat mengejutkan hatinya, pemuda itu segera berpikir.
"Sejak kapan kedua orang makhluk aneh itu tiba disini ? Kenapa aku sama sekali tidak merasakannya ?"
Berpikir sampai disitu, ia segera buka suara dan menjawab dengan dingin. "Hmm, dengan andalkan apakah kalian berdua berani omong besar ?"
ooo
"Haaah haaah haaah " manusia aneh yang ada disebelah kanan tertawa seram.
"Kami berdua disebut Siu-kok-siang-hun sepasang sukma penjaga lembah, bangsat, pernah kau dengar lembah itu? IHemm hemm... "

Thian-hong pangcu yang ikut mendengar pembicaraan itu dari sisi kalangan, wajahnya segera berubah hebat, pikirnya.
"Kedua orang ini menyebut dirinya sebagai Siu-kok-siang-hun sepasang sukma penjaga lembah, kalau begitu semua orang yang hendak memasuki lembah ini sepanjang jalan telah mati dibunuh oleh mereka berdua, dus berarti kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini pasti luar biasa sekali."
Berpikir demikian tanpa sadar ia maju ke-muka dan mendekati pemuda she Gak itu. Dalam pada itu Gak In Ling telah berkata kembali sambil tertawa dingin.
"Heh heh heh jadi kalau begitu tulang putih yang berserakan dalam lembah ini adalah hasil
karya dari kalian berdua ?"

"Tentu saja "jawab manusia aneh yang berada disebelah kiri sambil tertawa lengking. "oleh karena tulang putih yang berserakan dijalan masuk lembah itu sudah terlalu banyak, maka dari itu engkau sibangsat cilik baru dapat hidup sampai ditempat ini " Gak In Ling tertawa dingin.
"Apakah itu pengecualian yang kalian berdua berikan khusus buat aku orang she Gak?" sambil berkata diam-diam hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak.
"Haaahh haahh haahh sedikitpun tidak salah, dan sudah sepantasnya kalau engkau
mengucapkan banyak terima kasih kepada toa-ya mu berdua."
Habis berkata manusia aneh yang berada disebelah kanan segera menerjang maju kedepan.

Pada waksu itu Thian-hong pangcu telah berada kurang lebih dua depa disamping sianak muda itu, melihat datangnya tubrukan hatinya tercekat, ia berpaling ke arah Gak In Ling dan serunya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Gak In Ling, kedua orang ini mampu membinasakan segenap jago yang datang kedalam lembah ini, hal tersebut membuktikan bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, sewaktu bertarung nanti aku harap engkau suka berhati-hati."
"Engkau tak usah kuatir, itu urusan pribadiku "jawab sang pemuda ketus.

Pada saat itulah dari arah gelanggang pertarungan berkimandang datang suara teriakan pria bertato sembilan naga. "Enyah kau bangsat dari tempat ini"
“Ploook”
Dan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera menggema memenuhi angkasa, jelas ada seseorang yang menemui ajalnya dj ujung toya besinya.
Setelah berhasil membunuh seorang musuhnya, napsu membunuh berkobar dalam dada pria bertato sembilan naga, ia tertawa terbahak-bahak dan berseru keras. "Huh Tiga orang tak mampu, apa gunanya kalian berdua ? Roboh kamu "
Mengikuti bentakan yang amat keras itu, kembali terdengar dua kali jeritan ngeri memecahkan kesunyian, tak usah dilihat lagi jelas kedua orang musuhnya yang tertinggal mati konyol pula diujung toya bajanya.

Melihat rekannya pada binasa, sepasang sukma penjaga lembah jadi amat gusar, orang yang ada disebelah kanan segera membentak keras.
"Bangsat Lembah pencabut nyawa takkan- mengijinkan orang lain untuk berlagak -sok, terimalah seranganku "
Dengan dahsyatnya ia menerjang kearah pria bertato sembilan naga dengan jurus "Tui san-tiam hay" atau mendorong gunung membendung samudra, diiringi desiran angin tajam ia hajar musuhnya habis-habisan-
"Kembali" bentak Gak In Ling pula dengan sorot mata berkilat.

Tubuhnya loncat maju kedepan, dengan jurus "Lek-peng-ngo-gi" atau lima bukit hancur merata ia sambut datangnya serangan orang itu dengan keras lawan keras.
Gerakan tubuh kedua belah pihak sama-sama cepatnya, dalam waktu singkat empat buah telapak telah saling beradu satu sama lainnya.
"Blaaam "
Ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh jagad menggeletar diangkasa, pasir dan debu seketika beterbangan diangkasa bagaikan ketimpa angin puyuh, sebuah Ling sedalam tiga depa muncul diatas permukaan tanah.
Ditengah gulungan angin kencang, tubuh Gak In Ling terdorong mundur dua langkah ke-belakang, darah panas dalam dadanya bergolak kencang, hal ini membuat hatinya amat terkesiap. sebab dari bentrokan tersebut ia dapat menilai bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini rupanya masih jauh diatas Buddha Antik.

Sebaliknya manusia aneh itu sendiri harus mundur sejauh empat- lima langkah sebelum berhasil berdiri tegak. lengan kanannya terasa kaku dan linu sekali, sedangkan dadanya jadi sesak dan hampir saja muntah darah segar.
Dengan sorot mata yang tajam dan penuh memancarkan rasa ketakutan ia menatap wajah Gak In Ling, kemudian tegurnya. "Siapa engkau ?"
"Gak In Ling "
"Apa ? Gak In Ling?" teriak sepasang sukma penjaga lembah hampir berbareng, dari balik mata kedua orang itu segera memancarkan napsu membunuh yang amat tebal, selangkah demi selangkah mereka mendekati sianak muda itu. Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Hmm Kenapa kalian berdua tak berani menjumpai orang dengan wajah aslimu ?" Sambil berkata hawa murninya dihimpun ke dalam telapak.

Manusia aneh yang berada disebelah kanan menyapu sekejap kearah Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan naga, kemudian sambil tertawa dingin jengeknya. "Jadi kalian berdua pun akan menceburkan diri didalam air keruh ini ?"
"Haah.... haah haah... apa itu air keruh dan air jernih, kalau mau bergebrak, ayoh sekarang
juga kita bergebrak " sahut pria bertato sembilan naga sambil tertawa bergelak.
Gak In Ling tidak ingin ribut terlalu lama dengan orang-orang itu, ia membutuhkan Buddha Antik yang ingin ditemuinya secepat mungkin, sambil tertawa dingin segera serunya. "Apakah Buddha Antik berada didalami lembah ini ?" Manusia aneh yang berada disebelah kanan tertawa seram.
"Hmm, asal engkau mampu menangkan kami berdua, dengan sendirinya Buddha Antik akan munculkan diri untuk menemui dirimu."

Napsu membunuh melintas dalam wajah Gak ln Ling, tiba-tiba dengan menggunakan jurus "Wong-hong-hui-si" atau angin puyuh terbangkan serat, ia hantam kedua orang musuhnya sambil membentak.
"Sambutlah seranganku ini " angin pukulan yang tajam dengan cepat menerjang dada kedua orang itu.
Sejak permulaan sepasang sukma penjaga- lembah sudah bermaksud untuk membinasakan Gak ln ling, melihat datangnya ancaman tersebut mereka membentak keras, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan cepat mengerubuti sianak muda itu, jurus serangan yang digunakan ganas dan keji, sedang arah yang dituju semuanya merupakan jalan darah kematian ditubuh musuhnya.

Kiranya Gak in Ling menyerang musuhnya dengan jurus angin puyuh terbangkan serat itu bukan lain adalah hendak memancing lawannya masuk jebakan, setelah sepasang sukma penjaga lembah melancarkan serangan balasan, tiba-tiba badannya berputar melepaskan diri dari kepungan kedua orang itu, permainan telapaknya dengan cepat berubah, laksana kilat ia lancarkan tujuh kali serangan berantai kearah manusia aneh yang berada disebelah kanan.

Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling memang tinggi sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, setelah serangannya dipusatkan pada satu orang maka daya tekanan yang terpancar keluar tentu saja luar biasa hebatnya.
Terlihatlah bayangan telapaknya meluncur kesana- kemari, seluruh angkasa penuh dengan cahaya tajam yang berkilauan, untuk beberapa saat sulit bagi orang untuk membedakan mana yang serangan asli dan mana yang palsu, yang terasa hanya tekanan yang mendesak ketubuhnya kian lama kian bertambah berat membuat dada sesak.

Ilmu silat yang dimiliki sepasang sukma penjaga lembah sendiri tidak lemah. Tapi mereka tak pernah menyangka kalau gerakan tubuh dari Gak In Ling bisa sedemikian cepatnya, menanti mereka menyadari akan bahaya yang mengancam, manusia aneh yang ada disebelah kiri sudah tak sempat untuk memberikan pertolongan lagi.
Dengan cepat manusia aneh disebelah kanan memutar badan, baru saja ia bermaksud ayun telapaknya melancarkan serangan balasan, siapa sangka angin pukulan yang dipancarkan Gak In Ling telah mencapai depan dadanya tidak sampai setengah depa.

Mati hidup hanya terpaut pada satu detik, manusia aneh itu segera mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelamatkan dirinya, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras, tubuhnya laksana kilat membubung ke angkasa dan secara nyaris ia loloskan diri dari ancaman angin pukulan lawan-
Thian-hong pangcu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat terperanjat, tanpa terasa ia berteriak keras.
"Ei, bukankah engkau adalah In-tiong-hok bangau ditengah mega Go To Peng ?" Bersamaan dengan jeritan sang dara, tiba-tiba Gak In Ling tertawa dingin, bayangan hitam nampak berkelebat lewat dan tahu-tahu jejak tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Sekonyong- konyong . . . .

Dari tengah udara berkumandang datang jeritan kaget dari manusia aneh itu, disusul... Blaaam
Sebuah benda berat terbanting keatas tanah dengan keras, dan Gak in Ling pun sambil mencekal sebuah topeng kulit manusia berdiri dihadapan musuhnya.
Menanti pria bertato sembilan naga angkat kepala, tampaklah olehnya manusia aneh yang di kenal sebagai manusia berwajah seram tadi kini sudah berubah jadi seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah putih bersih, ia tak tahu dengan gerakan tubuh apakah si anak muda itu mencopot topeng lawan, teriaknya dengan hati terkejut.
"Waduuuh waduh., eeei kakek bangkotan, apakah engkau siluman monyet yang muncul
kembali dikolong langit, kok- aneh benar mukamu bisa herubah-ubah."
Sambil berkata ia menatap wajah orang itu dengan pandangan tercengang bercampur kaget.

Sedangkan Thian-hong pangcu sendiri dengan pikiran bimbang memandang kearah Gak In Ling, sedang hatinya berpikir terus.
"Sebenarnya sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang-dimiliki orang ini ?"
Dengan sorot mata yang menggidikkan hati Gak In Ling menatap kearah kakek tua itu, lalu ujarnya dengan suara yang menyeramkan-
"Bangau ditengah mega, bagaimanakah kau tahu caranya Tiang- kang sam-kiat serta chin-hway ngo-gi menemui ajalnya ?"
Tanpa sadar Bangau-ditengah-mega Go To Peng mundur tiga langkah kebelakang, dalam waktu singkat diatas wajahnya secara berturut-turuf menampilkan perasaan kaget, gusar, murung dan takut.

Gak In Ling membanting topeng kulit manusia itu keras-keras keatas tanah, lalu sambil berpaling kearah manusia aneh yang lain serunya pula dengan nada seram.
"Belibis ditengah mega, apakah engkau akan memaksa aku orang she Gak untuk mencopot pula topeng kulit manusia yang kau kenakan ?"
Mendengar ucapan tersebut manusia aneh tadi mundur selangkah kebelakang dengan ketakutan, walaupun hatinya merasa ngeri tapi ia tidak sudi menurut perkataan orang dengan begitu saja, sebab bagaimanapun juga mereka berdua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan-

Dengan sorot mata penuh kebencian Belibis ditengah- mega menatap wajah pemuda itu, kemudian jengeknya sinis.
"Huhh Asal engkau memiliki kemampuan tersebut, silahkan melakukan sendiri," sembari berkata hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak.
"Hm Kalau engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk turun tangan sendiri. Maka kemungkinan besar sebelum saat ajalmu tiba siksaan yang paling hebat akan kau rasakan lebih dulu." seru Gak In Ling dengan napsu membunuh berkobar-kobar.

Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati manusia aneh itu, keseraman dan kengerian yang dipancarkan dari tubuh sianak muda itu seketika memaksa lawannya tanpa sadar mundur tiga langkah kebelakang.
Tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, semua orang hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu Gak In Ling sudah balik kembali ketempat semula. Sedang manusia aneh yang berada dihadapannya kedengaran menjerit kaget.
Menanti semua orang berpaling lagi kearah-nya, maka topeng bengis yang semula menutupi wajahnya kini sudah lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya dihadapan mereka berdirilah seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang bermuka merah padam dan memelihara jenggot panjang .

Semua perubahan yang berlangsung dalam kalangan terjadi dalam waktu yang amat singkat, dalam kalangan itu kecuali Thian-hong pangcu siapapun tak sempat menyaksikan gerakan tubuh macam apakah yang telah dipergunakan Gak In Ling.
Pria bertato sembilan naga sambil mengerdipkan matanya segera tertawa dengan wajah melongo.
"Waduuuh gerakan apakah yang telah digunakan ? Ehmm, memang luar biasa "

Dalam pada itu Gak In Ling sudah membanting topeng kulit manusia itu keatas tanah, lalu sambil menyapu wajah kedua orang musuhnya ia mengejek sinis. "Belibis ditengah mega, apa yang hendak kau katakan lagi ?"
Air muka Bangau-ditengah-mega Go To Peng serta Belibis-di tengah-mega Go To Ki berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sejak mereka mengetahui bahwa pemuda yang munculkan diri di tempat itu bukan lain adalah Gak ln Ling, kedua orang itu telah sadar kehadirannya di sana adalah untuk mencabut nyawa mereka berdua. Pada saat itulah mereka telah ambil keputusan untuk berusaha menyingkirkan musuh bebuyutan ini.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan siapapun, dan yang paling penting ternyata ilmu silat yang dimiliki pihak lawan telah mencapai kesempurnaan yang begitu hebat.

Wajah Bangau-ditengah-mega Go To Peng yang pucat pias bagaikan mayat nampak berkerut kencang, tiba-tiba ia berkata.
"Gak In Ling, aku dengan dirimu toh tak pernah kenal, apa yang hendak kau lakukan terhadap
diriku ?"
Ketika mengucapkan kata kata "kita tidak pernah saling kenal"-sengaja kalimat tersebut di utarakan dengan suara yaag keras, sedang sinar matanya tanpa sadar melirik kearah Thian-hong pangcu, rupanya ia sedang mohon bantuan dari gadis muda itu.
Manusia, siapa yang tak takut mati ? Meski pun Bangau- ditengah- megago To Peng serta Belibis- ditengah- megago To Ki adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, namun setelah keselamatan mereka terancam, merekapun melupakan apa artinya malu.

Gak In Ling segera tertawa dingin,jengeknya. "Hee hee hee dua bersaudara dari keluarga Go, masa tempo dulu kalian berani melakukan, sekarang sudah tak punya keberanian untuk mengakuinya ?"
Nada suara pemuda ini terasa dingin mengerikan dan penuh mengandung hawa pembunuhan. selangkah demi selangkah ia maju mendekati kedua orang musuhnya.
Dengan penuh ketakutan Belibis- ditengah- megagoTo Ki mundur dua langkah kebelakang jeritnya.
"Gak In Ling, apa yang harus kuakui... apa yang harus kuakui ? coba katakanlah lebih dulu."
Suaranya agak gemetar dan kegagahan yang diperlihatkan semula kini sudah lenyap tak berbekas, mungkin mereka telah sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih dibawah kepandaian musuhnya, maka kedua orang itu jadi putus asa dan ketakutan-Gak In Ling menengadah lalu tertawa seram
"Haa haa haa. urusan apakah itu? Kalau tidak jelas tanyakan sendiri setelah bertemu dengan Tiang- kang Sam- kiat serta cin-hway ngo-gi..."
Gelak tertawanya keras hingga menembusi angkasa dan penuh mengandung napsu membunuh serta kesadisan-

Thian-hong pangcu mengerutkan dahinya, dengan suara ketus segera bentaknya. "Gak In Ling Kau tak boleh membinasakan mereka berdua "
Mendengar perkataan itu sepasang alis Gak In Ling kontan berkerut, tiba-tiba ia putar badan dan tertawa dingin.
"Hee hee hee bukankah sedari tadi aku sudah berkata pangcu, diantara kita berdua selamanya tidak bisa hidup saling berdampingan, keputusanku untuk membunuh kedua orang ini sudah bulat, bilamana pangcu merasa tidak puas, tak ada halangannya maju bersama mereka, aku sama sekali tak gentar untuk menghadapi kalian secara berbareng."

Dari perkataan pihak musuhnya, Bangau- di tengah- mega go To Peng serta Belibis-ditengah mega Go To Ki telah mengetahui bahwa jiwa mereka berdua tak dapat tertolong lagi, binatang yang terkurung akan menunjukkan kenekadannya demikian pula halnya dengan kedua orang bersaudara ini, setelah harapan hidupnya musnah mereka berdua segera saling bertukar pandangan sekejap kemudian tanpa mengeluarkan sedikit suarapun melancarkan tubrukan kearah Gak in Ling.

Bangau-ditengah-mega Go To Peng meloncat ketengah udara dan menyerang kearah bawah dengan jurus "Hui-po-nu-thiau" atau gelombang dahsyat diair terjun, sebaliknya Belibis ditengah mega Go To Ki menerjang dari samping dengan jurus "Peng-hun-ciu-si" atau bagi rata adil makmur, arah yang dituju bukan lain adalah jalan kematian diatas lambung musuhnya.

Setelah timbul kenekadan serta niat untuk mengadu jiwa, serangan-serangan yang dilancarkan kedua orang ini bukan saja amat dahsyat laksana ambruknya gunung Thay-san, bahkan tempat-tempat yang diserangpun merupakan bagian yang vital dan berbahaya ditubuh manusia, seakan-akan dengan jurus serangan tersebut mereka hendak membinasakan musuhnya.

Baru saja Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, angin pukulan yang dilancarkan kedua orang itu sudah mendekati tubuhnya, kecepatan gerak yang dilancarkan benar-benar mengerikan sekali.
Diatas wajah Gak In Ling sama sekali tidak terlintas rasa kaget ataupun tercengang, hanya napsu membunuh yang terpancar keluar dari balik matanya kini bertambah tebal.
Pada saat empat buah telapak dari dua bersaudara she Go hampir mengenai diatas dada Gak In Ling itulah, tiba-tiba...
Sianak muda itu membentak nyaring, sepasang telapaknya diayun ke depan secepat kilat, cahaya merah menyelimuti daerah sekitar beberapa tombak ditempat itu.

"Blaaaam. " dua ledakan dahsyat yang memekakkan telinga menggelegar diudara, dua jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma bergema memecahkan kesunyian-.. disusul plak Plak Dua sosok tubuh yang tinggi besar terbanting diatas tanah pada jarak kurang lebih satu tombak dari tempat semula, darah kental mengucur keluar dari tujuh lubang indera, pada detik itu juga nyawa mereka berdua telah lenyap tinggalkan raga.
Dua orang jago persilatan yang seringkali melakukan kejahatan dan sudah terlalu banyak membunuh jago kangouw itu akhirnya menemui ajalnya ditangan seorang pemuda yang masih muda belia, mereka tak pernah menyangka kalau pada akhirnya jiwa mereka bakal lenyap karena suatu hutang lama yang pernah mereka lakukan pada belasan tahun berselang.

Napsu membunuh yang menyelimuti diwajari Gak In Ling perlahan-lahan lenyap kembali dengan termangu- mangu ia memandang dua sosok mayat yang terkapar diatas tanah, bibirnya sementara berkemak-kemik tiada hentinya namun tiada seorangpun yang tahu apa yang sedang dia ucapkan-

Dalam pada itu pria bertato sembilan naga telah dibikin terkejut hingga berdiri termangu-mangu, dia merasa kepandaian silat yang dimilikinya sudah cukup ampuh, tapi tak pernah menyangka kalau pihak lawan dengan usia yang jauh lebih muda daripada dirinya ternyata memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.
Sekilas napsu membunuh berkelebat dalam mata Thian-hong pangcu, perlahan-lahan ia berjalan mendekati punggung Gak In Ling, pada saat itu gadis tersebut telah merasa bahwa sehari pemuda itu tidak mati maka sehari pula dunia persilatan tak akan mendapat ketenangan, karena perbuatan yang dilakukan orang ini memang benar mengerikan sekali.
Akhirnya dara cantik baju putih itu berhenti pada jarak tiga depa- dibelakang Gak in Ling, telapaknya beberapa kali diangkat keatas tapi setiap kali niat tersebut dibatalkan-

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Gak in Ling menyeka keringat yang membasahi keningnya, kemudian berkata dengan suara hambar.
"Pangcu, saat ini merupakan kesempatan yang paling baik bagimu untuk turun tangan"
Ucapan halus, tenang dan wajar sekali, seakan akan orang yang hendak dibunuh oleh Thian hong pangcu bukanlah dirinya melainkan orang lain-
Thian-hong pangcu mengertak gigi, tiba-tiba ia tarik kembali telapak tangannya dan berseru sambil tertawa dingin.
"Engkau tak usah kuatir, tak nanti kuhantam dirimu secara membokong. Aku pasti akan memberi suatu kesempatan kepadamu untuk melakukan pertarungan secara adil "

Perlahan-lahan Gak ln Ling putar badannya dan memandang sekejap kearah dara cantik baju putih itu dengan pandangan tenang, kemudian katanya.
"Apakah pangcu sudah mengambil keputusan untuk tidak melepaskan diriku lagi ?"
"Kepandaian silat yang kau miliki toh tidak berada dibawah kepandaian silatku, siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan, mulai dari sekarang, apakah engkau tidak merasa terlalu pagi untuk membicarakan soal mati hidup ?"
Dalampada itu pria bertato sembilan naga telah mendusin akan apa yang sudah terjadi, menyaksikan keanehan itu buru-buru teriaknya.
"Eei, eei bukankah tadi masih baik-baik saja, kenapa sekarang sudah cekcok kembali ?"

Gak In Ling tertawa tawar.
"Aku tahu pangcu berhati bajik dan penuh welas-asih, aku orang she Gak merasa tak tega untuk mencelakai dirimu, tetapi ini hari juga akan kuberitahukan kepadamu bahwa semua orang yang kubunuh adalah manusia-manusia yang dosanya telah bertumpuk-tumpuk."
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan- "Didalam lembah pemutus nyawa tulang putih berserakan di mana-mana, itulah hasil karya yang mereka lakukan, apakah manusia keji semacam ini tidak pantas untuk dibunuh ?"
"Memang mereka patut dibunuh, tetapi kau bukan membunuh mereka karena ingin melenyapkan kaum jahat dari maka bumi, kau melakukan pembunuhan tersebut karena demi kepentingan pribadimu sendiri, bukankah begitu?"
Gak In Ling menghela napas panjang.
"Apapun alasanku sehingga membunuh mereka berdua, sekalipun kuucapkan belum tentu kau akan percaya, lagi pula akupun tidak bersedia mencari simpati atau belas kasihan orang lain terhadap diriku, oleh sebab itu lebih baik tak usah kukatakan apakah alasanku sehingga melakukan kesemuanya ini."

Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Persoalannya bukan pada belas kasihan atau tidak, simpati atau tidak, yang menjadi masalah pada saat ini adalah bagaimana caramu untuk tancap kaki didalam dunia persilatan sejak kini ?"
"Batas waktu setahun akan berlalu dengan cepatnya." kata Gak In Ling sambil tertawa sedih. "paling banter para jago didaratan Tionggoan akan menggali jenasahku dari Liang kubur, kenapa hal itu mesti dipikirkan lagi ?"
Selesai berkata dia lanjutkan langkahnya menuju kedalam lembah.

Air muka Thian-hong pangcu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu. tanpa terasa ia berseru.
"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu itu, apakah engkau dapat menerangkan lebih jauh" kali ini suaranya telah berubah jadi lembut dan halus sekali.
"Lebih baik pangcu tak usah tahu." kata Gak In ling sambil tertawa tawa.
"Tapi aku ingin memahaminya."
"Hey, akupun tidak mengerti" teriak pria bertato sembilan naga pula dengan suara keras.

Gak In Ling menyapu wajah kedua oraig itu sekejap. lalu berkata.
"Tempat ini tak bisa ditinggali terlalu lama, kalau memang pangcu serta saudara ini merasa bahwa semua manusia yang tinggal dalam lembah ini patut dibunuh, lebih baik biarkanlah aku orang she Gak lanjutkan kembali perjalanan ku seorang diri."
"Eei. hal ini mana boleh jadi, masa ada keramaian yang begitu menarik hati engkau tidak perkenankan diriku untuk nonton, itu namanya tidak adil." gembor pria bertato sembilan naga tanpa berpikir.
sebaliknya Thian-hong pangcu menatap wajah sianak muda itu dan berkata. "Engkau toh tak pernah memberi penjelasan kepadaku, maka sampai sekarangpun aku masih belum mengerti."
Suaranya lembut dan sangat halus, bahkan mendekati permohonan-Mendengar ucapan itu Gak In Ling segera menghentikan langkahnya dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya.
"Aku hanya bisa hidup selama setahun saja dikolong langit " selesai berkata dengan langkah lebar ia berjalan menuju kemulut gua.

Thian-hong pangcu merasakan hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, dengan cepat ia loncat kemuka dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, ujarnya dengan lirih.
"Gak In Ling, pernahkah engkau mendengar tentang kata-kata yang berbunyi demikian-"obat mujarab menyelamatkan manusia dari kematian?" suaranya penuh mengandung nasihat serta anjuran sementara titik air mata tak dapat dikuasai lagi menetes keluar membasahi pipinya.
Perkenalannya dengan Gak In Ling baru berlangsung tidak sampai satu hari, bahkan gadis ini pernah berhasrat untuk membunuh dirinya.
Akan tetapi setelah mengetahui bahwa sianak muda itu hanya mampu hidup dikolong langit hanya setahun belaka, tak dapat dibendung lagi air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.
Hati kaum wanita... selamanya memang merupakan teka teki yang tak bisa diraba dan diselami oleh siapapun.

Dalam hati Gak In Ling menghela napas sedih, tapi diluaran ia berlagak pilon dan seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, ujarnya sambil tertawa.
"Dikolong langit sudah tiada obat mujarab lagi yang bisa menyembuhkan penyakit yang ku-derita, pangcu Kembalilah... Lembah Toan hun kok adalah sarang naga dan gua harimau
tempat ini berbahaya sekali dan setiap saat jiwa kita akan terancam oleh maut, sedang engkau adalah seorang pemimpin persilatan yang mengatur semua rencana besar bagi kedamaian serta keamanan umat manusia, tindakanmu menempuh bahaya bukanlah suatu keputusan yang cerdik, karena itu aku harap engkau suka keluar dari lembah ini."

Tiba-tiba Thian-hong pangcu angkat kepala nya yang telah basah oleh air mata, ujarnya.
"Aku akan menyertai dirimu, agar engkau tidak berkelana seorang diri."
"Benar, dan akupun akan turut serta pula" sambung pria bertato sambilan naga dengan cepat.
Dalam pikiran orang ini, selamanya mungkin tak pernah kenal akan arti sedih atau murung, kendatipun menghadapi masalah yang bagaimana seriusnya ia tetap tenang dan bersikap wajar.
Sementara itu Gak In Ling merasakan hatinya bergerak setelah mendengar ucapan-ucapan tersebut, ia tarik napas panjang dan alihkan sorot matanya kearah lain, ujarnya sambil tertawa hambar.
"Pangcu, jikalau engkau hendak memikirkan bagi kedamaian serta keselamatan seluruh umat persilatan, maka tidak sepantasnya kalau engkau selidiki lembah ini"
"Mengapa aku harus memikirkan mereka?" jawab Thian-hong pangcu dengan cepat. Gak In ling tertegun-
"Lalu siapakah yang pangcu pikirkan?" ia bertanya
"Tentu saja memikirkan dirimu "
"Akupun memikirkan dirimu " gembor pria bertato sembilan saga dengan keras.

Perlahan-lahan Thian-hong pangcu tundukkan kepalanya, mungkin gadis yang berwatak keras kepala ini benar-benar telah berubah.
Secara tiba-tiba Gak In Ling merasakan pikirannya jadi kalut dan bingung sekali, dengan suara berat serunya.
"Kalian memikirkan seseorang yang usianya tinggal setahun belaka, kalian terlalu goblok"
Gelak tertawanya penuh mengandung nada ejekan, tetapi tak dapat menutupi rasa sedih dan pedihnya yang tak terhingga.
"Tidak mungkin hanya setahun-.. tidak mungkin hanya setahun-" seru Thian-hong pangcu sambil menengadah keatas langit.

Perkataan itu seakan-akan diucapkan bagi Gak In Ling, tapi seakan-akan juga sedang memperkuat kepercayaannya pada diri sendiri.
Pada saat itulah tiba-tiba dari bukit mulut gua berkumandang datang gelak tertawa yang sangat keras dan memekakkan telinga.
"Haa haa , haa jangan dibilang setahun, mungkin hari inipun tak bisa dilewatkan dalam
keadaan hidup,"

Bersamaan dengan menggemanya gelak tertawa, dari balik gua muncullah seorang kakek tua yang gemuk. cebol berambut putih, bermata cekung dan muka seram bagaikan setan.
Begitu melihat kemunculan orang itu, dengan hati terkejut Thian-hong pangcu -segera berteriak keras. "Aah Hiat-mo-ong ?"
Pada saat yang bersamaan di belakang tubuh mereka bertiga melayang turun tujuh orang manusia aneh yang rambutnya terurai sebahu, dengan cepatnya Gak In Ling bertiga dikepung ditengah kalangan-
Siapapun tak menduga pada saat itu pula diatas puncak bukit sebelah depan tiba-tiba muncul pula empat orang dayang baju merah yang masing-masing membawa sebuah tanda pengenal.
Suasana dalam kalangan seketika diliputi oleh ketegangan, setiap saat suatu pertarungan sengit bakal meledak.

Suasana dalam lembah ketika itu benar-benar diliputi ketegangan, siapapUn di antara mereka tak ada yang mengetahui bahwa empat orang dayang baju merah telah muncul di puncak sebelah depan-
Demikian halnya pula dengan orang-orang dari lembah Toan-hun-kok, tak seorangpun yang mengetahui akan kehadiran dayang-dayang tersebut sebab kemunculan Thian-hong pangcu serta Gak In Ling yang sudah cukup merepotkan diri mereka sehingga tak sempat untuk memikirkan yang lain-

Sejak kecil Gak In Ling berdiam didalam benteng oh-liong-poo, kecuali manusia aneh dari utara serta manusia sesat dari selatan tiada orang lain yang menemani dirinya, sebaliknya dua orang tokoh sakti itu karena terikat oleh sesuatu pembatasan membuat kedua orang itu kecuali melayani kebutuhannya tak dapat membicarakan masalah tentang dunia persilatan dengan majikan mudanya, oleh sebab itu meskipun nama besar "Hiat-mo-ong" atau Raja- iblis- berdarah ini amat tersohor serta ditakuti setiap orang, tetapi pemuda ini sama sekali tidak mengenali dirinya.
Begitulah, sambil mengerdipkan sepasang matanya Gak In Ling berpaling kearah Thian-hong pangcu dan bertanya.
"Pangcu, engkau kenal dengan orang ini ?" sikapnya wajar dan sedikitpun tidak menanjukan rasa jeri ataupun takut.

Perasaan hati Thian-hong pangcu yang bergolak oleh emosi perlahan-lahan jadi reda dan tenang kembali, mendengar pertanyaan itu dia segera mengangguk.
"Sekarang musuh tangguh sedang berada di depan mata, maafkanlah aku tak dapat membicarakan tentang asal-usulnya dengan dirimu " habis berkata ia segera maju kedepan dan serunya, kembali dengan nada dingin.
"Hiat-mo-ong, engkau masih ingat dengan sumpahmu dimasa lampau ?"
Dengan suatu gerakan yang cepat ringan dan cekatan Hiat-mo-ong melayang keluar dari guanya, tak nampak kekuatan yang dipergunakan tapi tubuhnya bagaikan kapas saja melayang di-angkasa, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek cebol itu luar biasa dahsyatnya.
Dengan sorot mata yang tajam Hiat-mo-ong menatap wajah Thian-hong pangcu tanpa berkedip. lama sekali ia baru menjawab.
"Aku tidak goblok, tidak bodoh tentu saja masih ingat dengan jelas sekali "
"Hee hee hee kalau memang begitu, mengapa kau tinggalkan Khong ciang ?"

Hiat-mo-ong menengadah dan tertawa seram.
"Haa.... haa. ... haa cian-jiat-ji-siu sepasang kakek Cacad sudah banyak tahun mengundurkan diri dari dunia persilatan, mati hidupnya tidak ketahuan, sampai sekarangpun tak tahu dimanakah batang hidung mereka, kenapa aku tak boleh munculkan diri dalam dunia persilatan ? Kedatanganku pada saat inipun sudah merasa agak menyesal karena terlambat beberapa tahun lamanya."
"Hee hee hee sekalipun dua kakek Cacad sudah tak ada, tetapi didaratan Tionggoan
pada saat ini toh masih ada aku" sahut Thian-hong pangcu dengan sorot mata mengandung napsu membunuh. Hiat-mo-ong tertawa menghina.

"Sebelum aku masuk ke daratan Tionggoan memang sudah kudengar kalau daratan Tionggoan pada saat ini telah menjadi jajahan dari dua orang gadis aneh, akan tetapi... "
"Akan tetapi kenapa ?"
Hiat mo-ong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil tertawa jawabnya.
"Aku berani datang kemari, seharusnya kau pun bisa memahami apa maksud dari perkataanku yang belum habis diucapkan itu."
Napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Thian-hong pangcu, katanya dengan dingin.
"Kalau memang begitu cobalah sendiri, apakah aku punya kemampuan untnk melenyapkan dirimu atau tidak... "
Tubuhnya segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya diangkat dan siap melancarkan serangan-

Tapi sebelum ia sempat melancarkan pukulannya, Gak In Ling telah berseru dengan lantang.
"Huuh Engkau Hiat- mo-ong paling banter hanya seorang jagoan kelas dua atau tiga didalam dunia persilatan, berani benar adu kekuatan dengan pangcu kami, andaikata majikanmu datang sendiri, nah mungkin saja pangcu kami baru terpaksa harus turun tangan sendiri."
Bicara sampai disitu ia loncat kehadapan Thian-hong pangcu, dan ujarnya dengan nada serius.
"Pangcu, ijinkanlah tecu untuk menghadapi manusia kurcaci ini."

Tindakan yang dilakukan Gak In Ling ini secara tiba-tiba membingungkan hati Hiat-mo-ong, dengan mata terbelalak lebar-lebar ia memandang kearah sianak muda itu tanpa berkedip. sedang dalam hati pikirnya dengan keheranan.
"Kalau ditinjau dari ribut-ribut yang baru saja berlangsung diantara mereka berdua, jelas menunjukkan bahwa kedua orang itu berada pada posisi yang saling bermusuhan, kenapa sekarang bajingan itu menyebut dirinya sebagai anak murid perkumpulan Thian-hong-pang ? Sungguh aneh sekali."

Bagaimanapun rasa curiga dan sangsi yang berkecamuk didalam benak Hiat-mo-ong, ia tidak bisa tidak. harus mempercayai karena orang kang ouw tak ada yang sudi menurunkan derajat sendiri dihadapan orang lain, apalagi menuruti perintah orang lain, sudah tentu manusia seperti
Gak In Ling yang memiliki ilmu silat amat lihay, tak akan bersedia mengaku jadi anak buah perkumpulan orang...

Pria bertato sembilan naga, adalah seorang pria kasar yang berpikiran polos, kalau Hiat-mo-ong yang tersohor karena kelicikan serta kepintarannya itupun untuk beberapa saat tak dapat menebak keadaan yang sebenarnya, bisa dibayangkan darimana pria ini dapat berpikir sejauh ini ?
Tanpa terasa ia segera bergumam seorang diri
"Ooh, rupanya bocah itu diurusi oleh perempuan tersebut. Huh sungguh tak becus "
Tanpa terasa sepasang matanya dialihkan ke Thian-hong pangcu.

Sementara itu dara cantik baju putih itu sedang berdiri dengan muka tercengang dan tidak habis mengerti, hal itu semakin membingungkan hati pria bertato sembilan naga, pikirnya lebih jauh.
"Aneh benar kalau dilihat tampang gadis itu, rupanya dia sendiripun tak tahu sedari kapan dia mempunyai seorang auggauta macam pemuda itu, makinya.. sebenarnya apa yang sudah terjadi"
Sedikitpun tidak salah, Thian-hong pangcu memang dibikin kebingungan dan tak habis mengerti oleh tindakan Gak In Ling yang secara tiba-tiba itu, sambil menatap wajah pemuda itu tanpa terasa ia berseru. "Gak ln Ling... "
"Pangcu, engkau harus menjaga diri baik-baik demi kesejahteraanmu serta keamanan didalam dunia persilatan-" tukas pemuda she Gak dengan cepat. "Terhadap manusia kelas dua dan tiga macam mereka buat apa mesti turun tangan sendiri? Andaikata dalam pertarungan nanti tecu tak untung dan menderita kalah, barulah pangcu turun tangan sendiri."

Pada dasarnya Thian-hong pangcu adalah seorang manusia yang cerdik, dalam menghadapi persoalan apapun biasanya ia dapat menebak secara jitu, justru pada saat ini pikirannya sedang kalut dan tidak tenang, ia tak dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari pemuda itu, pikirnya didalam hati.
"Ooh, mungkin Gak In Ling ada permintaan yang hendak diajukan kepadaku, maka menggunakan kesempatan ini sengaja ia cari hati dihadapanku."
Berpikir sampai disini ia termenung lagi be berapa saat lamanya, kemudian berpikir lebih jauh.
"Tapi hal ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin dengan wataknya yang angkuh tidak mungkin dia adalah manusia seperti itu, lalu apa sebabnya ia berbuat begitu ?"

Di pihak lain Hiat-mo-ong merasa hawa amarahnya berkobar didalam dada setelah berulang kali dimaki Gak In Ling sebagai manusia kelas dua atau kelas tiga didalam dunia persilatan, dengan gemas dan penuh perasaan dendam ia menghardik.
"Bocah keparat yang masih belum hilang bau teteknya, kalau aku adalah jago kelas dua atau kelas tiga dalam dunia kangouw, lalu kau adalah jago kelas berapa ?"
"Hee hee hee apakah aku telah salah berbicara ?" ejek Gak ln Ling dengan nada seram.
"Hmm, apa engkau anggap benar ?"
"Huh Didalam lembah Toaa-hun-kok ini sudah ada puluhan orang yang menemui ajalnya ditanganku, aku rasa semua tingkah laku serta perbuatan mereka adalah mendapat perintah darimu, sedang engkau sendiri bukankah sedang menjalankan perintah dari majikanmu?"
Walaupun ucapan itu merupakan suatu dugaan belaka, tapi nada ucapannya begitu pasti dan meyakinkan-

Hiat-mo-ong licik dan banyak akal, namun ia tak dapat menebak apakah Gak In Ling benar-benar mengetahui latar belakangnya atau tidak. kendatipun begitu, ia sudah mempertingkat kewaspadaannya.
"Bajingan ini tak dapat dibiarkan hidup di kolong langit, aku harus lenyapkan dirinya secepat mungkin " teriaknya kemudian-
Dari sikap keragu-raguan yang diperlihatkan Hiat- mo-ong serta lama sekali tidak menjawab. Gak In Ling mengetahui bahwa apa yang diduganya semula sedikitpun tidak salah, ia segera tertawa dingin dan serunya.
"Apakah engkau menginginkan penjelasan yang lebih terang lagi dari diriku?"
"Penjelasan apa ?"
"Apa yang kusaksikan didalam gedung keluarga Gak. tidak lain adalah hasil siasat licik dari majikanmu, bukankah begitu ?" jengek sang pemuda sambil tertawa dingin. Airmuka Hiat- mo-ong berubah hebat, bentaknya.
"Keparat yang tak tahu diri, ucapanmu ngawur dan seenaknya saja. Hm Rupanya kau sudah bosan hidup "

Dengan menggunakan jurus "Mo-ciang-peng san" atau telapak iblis meratakan bukit, ia mengirim satu pukulan dahsyat kearah dada Gak In Ling.
Desiran angin tajam yang disertai ledakan guntur menggeletar diang kas a, begitu hebatnya serangan itu hingga mengejutkan hati orang.
Sejak permulaan tadi Gak In Ling sudah tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Hiat- mo-ong jauh diatas kepandaian Go To Peng, Go To Ki serta Buddha Antik, hawa murninya diam-diam telah dihimpun kedalam telapak dan setiap saat dapat melancarkan serangan balasan.
Begitu menyaksikan serangan dari Hiat- mo ong telah meluncur datang, Gak In Ling tidak berani berayal, buru-buru bentaknya keras. "Bagus sekali datangnya serangan itu "

Dengan jurus "Kua-hay-peng-mo" atau melewati samudra melenyapkan iblis, laksana kilat tubuhnya bergeser delapan depa kesamping, sepasang telapaknya diiringi desiran angin yang kencang menghajar iga kiri Hiat-mo-ong, kecepatannya menghadapi perubahan amat cepat dan ancamannya ganas sekali, seakan-akan dia sudah tahu disitulah letak titik kelemahan dari jurus serangan yang akau dilancarkan musuhnya.
Hiat-mo-ong mimpipun tak pernah menyangka Gak In Ling dengan usianya yang masih begitu muda ternyata memiliki kekuatan tenaga dalam yang sama sekali diluar dugaan, sejak dilihatnya sianak muda itu geserkan badannya ketika menyambut datangnya serangan, ia sudah tahu bahwa gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya.

Oleh sebab itu, jurus telapak iblis meratakan bukit hanya digunakan sampai setengah jalan lalu ditarik kembali, dari menyerang ia mengubah posisinya jadi bertahan, dengan sepasang telapaknya ia sambut datangnya serangan dari Gak In Ling yang mengancam iga kirinya.
Dalam anggapan Hiat-mo-ong, kendatipun Gak In Ling memiliki perubahan jurus yang cepat dan kepandaiannya yang tinggi, namun dengan usianya yang masih muda tentu tenaga dalam yang dimiliki tidak akan begitu sempurna, maka sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

Siapa sangka kejadian diluar dugaan, dengan sikap yang wajar sianak muda itu ayunkan telapak tangannya.
"Blaaam" dengan cepat sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakan keras yang menggeletar diudara, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa keadaan benar-benar mengerikan sekali.
Dengan sempoyongan Hiat- mo-ong tergetar mundur tiga langkah kebelakang, dadanya terasa jadi sesak dan sepasang lengannya jadi linu dan kaku, hatinya terasa amat terkesiap.

Dengan pandangan kaget bercampur ngeri ia menyapu sekejap kearah Gak In Ling, sementara tubuhnya berdiri menjublek ditempat semula, ia tak mengira kalau musuhnya begitu kuat dan hebatnya.
"Mungkinkah itu ?" pikir Hiat-mo ong dengan hati tercekat "Mungkinkah dikolong langit benar-benar terdapat kejadian yang aneh seperti ini ?"
Dia ingin menyeka matanya dengan tangan agar apa yang terlihat bisa lebih jelas, tapi sepasang tangannya terasa linu dan kaku, begitu sakit sampai tak kuat diangkat lagi. Thian-hong pangcu sendiripun merasa amat terkesiap. pikirnya.
"Sebenarnya sampai dimana sih kesempurnaan tenaga dalam yang dia miliki ? Air pasang, perahupun bertambah tinggi, belum pernah aku lihat dia menderita kalah."
Sebaliknya pria bertato sembilan naga segera bertepuk tangan bersorak-sorai karena kegirangan, teriaknya.
"Waduuuh bocah, kamu memang hebat, kamu memang hebat "

Teriakan keras dari pria bertato sembilan naga segera mengejutkan hati Hiat-mo-ong yang pada waktu itu masih berdiri menjublek dengan mata terbelalak mulut melongo, tampak biji matanya berputar lalu membentak keras.
"Ini hari lembah Toan-hun-kok akan menjadi tempat kubur bagi kalian semua, serbu " Begitu perintah diturunkan, tujuh orang manusia aneh berambut panjang yang berdiri dibelakang Thian-hong pangcu tanpa mengeluarkan sedikit suarapun segera menerjang maju kedepan, dengan gencar dan hebatnya mereka serang dara cantik baju putih itu serta pria bertato sembilan naga.

Jangan dilihat pria bertato sembilan maga adalah seorang kasar yang berhati polos, yang sebenarnya dia adalah seorang jago dari kalangan lurus yang amat benci terhadap segala macam kejahatan, ketika dilihatnya ketujuh orang manusia aneh itu menerjang ke depan, toyabajanya segera diputar lalu sambil membentak keras ia menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Thian-hong pangcu sudah bikin persiapan, meskipun gerakan tubuhnya sedikit lebih lambat daripada pria bertato sembilan naga, akan tetapi serangan yang dilancarkan olehnya telah mengenai sasarannya lebih dahulu.
Dalam waktu singkat sembilan orang jago lihay itu sudah bertarung jadi satu, bayangan manusia berkelebat silih berganti, angin puyuh menderu- deru mengelilingi daerah seluas beberapa tombak. pasir dan batu beterbangan diangkasa membuat siapapun yang berada disitu merasakan napasnya jadi sesak.
Agaknya ketujuh orang manusia aneh berambut panjang itu memiliki serangkaian ilmu silat yang sangat lihay, meskipun tenaga dalam yang dimiliki Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan naga jarang ditemui tandingannya dikolong langit, tetapi setelah bertemu dengan tujuh orang musuh tangguh, seketika itu juga mereka rasakan agak ngotot dan tertekan hebat.

Dipihak lain rupanya sebelum melakukan penyerangan, ketujuh orang manusia aneh itu sudah kompromi lebih dulu, begitu melancarkan serangan enam orang diantaranya segera mengerubuti Thian-hong pangcu seorang, sedangkan hanya ada seorang jago yang menghadapi pria bertato sembilan naga, hal ini membuat dara cantik baju putih itu tak mampu menerjang keluar dari kepungan-
Dengan pandangan yang menyeramkan Hiat-mo-ong memandang sekejap kearah Gak In Ling, kemudian katanya.
"Hmm tidak sampai berapa jurus lagi, pangcumu itu akan menemui ajalnya ditempat ini."
"Huuh Hanya mengandalkan beberapa orang setan kerbau malaikat ular semacam itu ?" Jengek Gak In ling sambil tertawa dingin, rasa kuatirnya dengan cepat ditekan kedalam dada.

Mendengar perkataan itu Hiat-mo-ong segera angkat kepala menyapu sekejap kearah tujuh orang anak buahnya yang sedang bertarung sengit ditengah gelanggang, tampaklah olehnya meskipun mereka menerjang musuhnya dengan gagah perkasa dan tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri, akan tetapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda untuk merebut kemenangan, bahkan ada kalanya malahan terdesak hebat sehingga kacau-balau tak keruan, hal ini segera mengejutkan hatinya.
"Oooh Sungguh tak nyana Thian-hong pangcu yang tidak lebih hanya seorang gadis muda lemah ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tinggi dan hebat." ia berpikir didalam hati, "kalau dia saja begitu lihay, apalagi perempuan yang bernama Gadis suci dari nirwana, entah bagaimana dahsyatnya." Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia bersuit panjang.

Gak In Ling terperanjat ketika mendengar suara suitan panjang itu, baru saja ia hendak buka suara, tiba-tiba dari balik gua muncul kembali enam orang manusia aneh yang punya dandanan persis seperti tujuh orang manusia aneh pertama tadi.
Berhubung gua-gua itu sebagian besar tersembunyi di balik batu cadas yang besar, maka bila tidak ada orang yang muncul disana, siapapun tak akan menduga kalau ditempat itu terdapat sebuah gua.
Begitu munculkan diri, tanpa berpikir panjang keenam orang manusia aneh itu segera menerjang kearah Thian-hong pangcu, seakan-akan sebelum kejadian Hiat-mo-ong telah memberi petunjuk kepada mereka tujuan yang mesti diserang.

Menyaksikan peristiwa itu Gak in Ling merasa amat terperanjat, ia tahu segenap prajurit dan panglima yang ada didalam lembah Toan-hun-kok, sebagian besar merupakan jago-jago lihay yang berkepandaian tinggi.
Jikalau satu lawan enam, pemuda itu masih yakin Thian-hong pangcu mampu untuk menghadapinya. Sekalipun tidak berhasil merebut kemenangan, sedikit banyak tidak sampai dikalahkan- Tapi sekarang dara cantik itu sekaligus harus menghadapi duabelas orang musuh, ia tak bisa bayangkan apa yang bakal terjadi.

Rupanya Hiat-mo-ong sudah melihat akan ketidaktenangan pemuda lawannya, sambil tertawa dingin ia segera mengejek.
"Gak In Ling, hendak kulihat apa yang hendak kau lakukan untuk mengatasi situasi seperti ini
?"
Baru saja perkataan itu diselesaikan, tiba-tiba dari atas tebing berkumandang datang suara bentakan nyaring.
"Hm Main kerubut dan andalkan jumlah banyak apakah kalian hendak merusak peraturan dunia persilatan ?"
Bersamaan dengan selesainya perkataan tadi, dua kali jeritan ngeri menggema memecahkan kesunyian, dua orang diantara enam orang manusia aneh yang hendak menerjang kearah Thian-hong pangcu telah roboh terkapar diatas tanah, disusul dalam lembah tersebut muncullah empat orang dayang cilik baju merah yang membawa tanda perintah ditangannya, diantara mereka berdirilah seorang dara berbaju merah bergaun merah dan berkerudung kain merah.

Pria bertato sembilan naga serta Thian-hong pangcu yang sedang bertarung masih belum merasakan apa-apa, sebaliknya Gak In Ling serta Hiat-mo-ong diam-diam merasa tertegun dan kaget, karena kedatangan orang-orang itu sangat cepat dan ganas sekali sehingga sukar membuat orang untuk mempercayainya.
Gak ln Ling berpaling memandang sekejap kearah orang-orang itu, kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir.
"Aaah kemungkinan besar gadis suci dari nirwana telah tiba, tidak aneh kalau kelihayan nya
luar biasa."

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dingin segera ujarnya.
"Menurut penilaianku, pada hari ini lembah Tan-hui-kok akan mengalami kehancuran total dan mungkin sejak detik ini akan terhapus dari dunia persilatan-"
Dalampada itu gadis berkerudung merah itu sudah ikut terjun kedalam gelanggang pertarungan, tampaklah telapak tangannya beterbangan klan kemari dengan kecepatan bagaikan kilat, kelihayannya sama sekali tidak berada dibawah kepandaian Thian-hong pangcu.

Dalam waktu singkat situasi dalam gelanggang pun mengalami perubahan besar, setelah hati nya merasa lega Gak In Ling pun melangkah maju kedepan, sambil mengawasi wajah Hiat- mo-ong, serunya.
"Hiat- mo-ong, sekarang tibalah giliranmu untuk berangkat menghadap raja akhirat."
Hiat-mo ong tidak mengucapkan sepatah katapun, sinar matanya yaag tajam dengan cepat menyapu sekejap sekeliling tempat itu, otaknya berputar kencang untuk mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya.
Tetapi sebelum ingatan apapun berhasil ia dapatkan, Gak In Ling telah mengangkat sepasang telapaknya sambil membentak nyaring. "Hiat- mo-ong Apakah engkau kenal dengan telapakku ini ?"

Hiat-mo-ong angkat kepala, tapi setelah sorot matanya terbentur dengan telapak lawan, dengan ketakutan dia mundur dua langkah kebelakang, serunya tertahan-"Aaah telapak maut "
Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, sambil tertawa dingin ujarnya. "Engkau meracuni umat persilatan didaratan Tionggoan, hutang darah harus dibayar dengan darah, ini hari aku orang she Gak adalah utusan pencabut nyawa yang khusus datang kemari untuk membetot nyawa anjingmu. Nah, serahkanlah jiwamu " Selangkah demi selangkah ia maju mendekati Hiat-mo-ong.

Tercekat hati iblis tua itu menyaksikan kegagahan serta kesadisan yang diperlihatkan oleh Gak In Ling, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.
Dipihak lain jeritan-jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, jelas ada beberapa orang yang telah menemui ajalnya.
Mendadak Gak In Ling membentak keras, dengan jurus hujan darah angin amis ia menerjang kearah Hiat-mo-ong, tampaklah cahaya darah tersebar memenuhi angkasa, begitu hebatnya serangan itu sehingga menggetarkan hati semua orang.
Begitu menyaksikan pihak lawan mengeluarkan pukulan mautnya, semangat tempur dari Hiat mo-ong seketika lenyap tak berbekas, dalam keadaan begini tentu saja ia tak berani melancarkan serangan balasan-

Tanpa memperdulikan tindakannya memalukan atau tidak. dengan gerakan keledai malas bergulingan ia menggulingkan tubuhnya diatas tanah dan menghindar sampai tiga- empat tombak jauh-nya dari tempat semula, kemudian meloncat bangun dan ditengah suitan nyaring tanpa berpikir lagi ia kabur masuk ke dalam gua.
Begitu mendengar suara suitan tersebut, manusia manusia aneh lainnyapun jadi gugup, mereka kabur terbirit-birit dan lari tunggang langgang dalam sekejap mata jeritan ngeri menggema silih berganti, ada empat orang manusia aneh yang roboh dalam keadaan binasa, sedang sisanya cepat-cepat lari masuk kedalam gua untuk menyelamatkan diri.

Terhadap kesemuanya itu, seolah-olah Gak In Ling sama sekali tidak merasakan, dengan termangu- mangu dia memandang kearah mulut gua dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.
Gumamnya seorang diri.
"Tenaga dalam yang kumiliki telah turun kejurang kehancuran-.. oooh, Thian Mengapa engkau bersikap begitu tak adil terhadap keluarga Gak kami ?"
Alis matanya yang panjang mengerdip beberapa kali, air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi wajahnya yang tampan-

Sekalipun dihadapan orang ia tunjukkan sikapnya yang kukuh dan keras kepala, sekali pun dihadapan orang ia memandang hambar tentang keselamatan jiwanya, tapi bagaimana juga dia tetap adalah seorang manusia, bahkan seorang pemuda yang lemah lembut. Setelah teringat bahwa usianya sangat terbatas sedangkan pekerjaan besar yang harus diselesaikan belum berhasil dipenuhi timbullah rasa sedih dalam hatinya.
(Bersambung ke Jilid 5)

Selengkapnya......

Jilid 3 : Siasat licik si Buddha Antik  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe

Jilid 3 : Siasat licik si Buddha Antik
MELIHAT nenek tua itu berkata dengan air mata mengembeng dalam kelepak matanya dara cantik baju putih itu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan lemas:
"Hal ini tak dapat disalahkan dirimu, dengan jurus "Hiat-yu-seng-hong" atau hujan darah angin amis itu kendatipun hanya satu jurus.. Aiii Mari kita pergi saja dari sini " Sementara itu bayangan punggung Gak in Ling telah lenyap dari pandangan mata.

Bagi anak murid perkumpulan Thian-hong-pang, kecuali beberapa orang yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, sebagian masih bingung dan tak habis mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, namun mereka tak heran bertanya, melihat ketuanya sudah berlalu mereka pun ikut berlalu pula dari sana.
Setelah keluar dari kuil, dara cantik baju putih itu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, melihat suasana sepi-senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun dia menghela napas panjang, setelah masuk kedalam sebuah kereta yang indah berangkatlah rombongan itu meninggalkan kuil.

Fajar menyingsing dari ufuk sebelah timur, kicauan burung berkumandang memecahkan kesunyian dipagi hari itu, malam telah lewat dan sinar matahari pun memancarkan sinar keemas-emasannya ke seluruh jagad.
Lilin raksasa yang berada dalam kuil telah terbakar sampai bagian yang terakhir, lama
kelamaan padam dan sirap dari kegelapan- ruang kuilpun pulih kembali dalam kesunyian-

Pada saat itulah dari atas atap ruangan itu melayang turun dua sosok bayangan manusia, mereka adalah dua orang kakek bersulamkan burung hong warna biru pada dadanya, setelah mencapai permukaan dengan tajam mereka menyapu sekeliling isi ruangan kuil kemudian baru berlalu dari sana.
Inilah peraturan dari perkumpulan Thian-hong-pang sebelum lilin tersulut sampai padam orang-orang mereka tidak akan meninggalkan tempat pertemuan itu.
Tidak lama setelah kedua orang kakek itu lenyap dari pandangan dari dalam ruang kuil tiba-tiba muncul kembali seorang manusia aneh berjubah padri dan berkerudung merah, dengan cepat orang itupun menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu melayang keluar dari ruangan dan berangkat kearah kanan bangunan kuil itu.

Baru saja bayangan tubuh manusia aneh berkerudung merah itu lenyap di balik tembok pekarangan, dari tembok sebelah kiri melayang kembali seorang gadis baju putih bersulamkan burung hong warna merah pada dadanya yang berwajah amat cantik.
Ia memandang sekejap kearah mana manusia aneh berkerudung merah tadi melenyapkan diri, kemudian mendengus dingin dan meloncat masuk kedalam ruang kuil dengan gerakan amat cepat.
Setelah menyapu sekejap seluruh ruangan, sinar matanya yang jeli mendadak ditujukan ke-arah patung arca Ji-lay-hud, gumamnya.
"Apakah dia tidak kembali lagi kesini ?" setelah berhenti sebentar, ia bergumam kembali.
"Hmm, kalau tahu dia takkan kembali lagi kesini, tidak seharusnya kulepaskan dirinya dengan begitu saja "
Tiba-tiba sambil mendengus dingin ia lancarkan satu pukulan kearah depan-
Blaaam Dengan telak angin pukulan itu bersarang dalam perut patung Ji-lay-hud yang gendut
sehingga mengakibatkan munculnya sebuah lubang yang besar, dibalik patung ternyata
merupakan sebuah ruang yang kosong melompong.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, napsu membunuh melintas dalam pandangannya, kembali dara itu bergumam:
"Jangan-jangan orang yang baru saja kabur itulah biang- keladinya aduh celaka...."
Dengan cepat dia enjotkan badan dan mengejar kearah mana bayangan tubuh manusia aneh berkerudung merah tadi melenyapkan diri.

Dalam pada itu setelah Gak In Ling keluar dari kuil bobrok ia merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, pemuda itu sadar bahwa luka dalam yang dideritanya pada saat ini pasti merupakan hasil karya dari seseorang yang bersembunyi didalam patung pemujaan tersebut.
Dengan hati mendongkol bercampur dendam segera gumamnya. "Buddha Antik. Buddha Antik tidak seharusnya kulepaskan dirimu dengan begitu saja."
Dengan langkah yang gontai ia berjalan menuju kedalam hutan sebelah kanan ruang kuil itu.
Sebenarnya bisa saja bagi pemuda itu untuk membongkar rahasia yang sebenarnya terjadi ketika ia masih berada dalam ruang kuil itu, tetapi ia tak ingin meminjam kekuatan orang lain untuk menyelesaikan persoalan pribadinya, lagipula dia pun tahu bahwa Nenek-bermuka-besi Lau In Hong adalah seorang jagoan dari kalangan lurus, setelah pendekar wanita itu berusia lanjut, ia tidak ingin merusak nama baiknya di hadapan orang banyak, maka secara sukarela ia berlalu dari kuil tadi.

Setelah masuk kedalam hutan, Gak In Ling mencari sebuah pohon besar dan duduk bersila disana untuk mengatur pernapasan serta berusaha untuk menyembuhkan luka yang dideritanya.
Ketika burung berkicau menandakan fajar telah menyingsing, Gak In Ling sudah berada dalam keadaan tenang serta lupa terhadap segala-galanya, tindakan seperti ini merupakan tindakan yang sangat gegabah, bagi Gak In Ling tentu saja dia mengetahui akan resikonya, tapi keadaan serta waktu tidak mengijinkan dirinya untuk memikirkan persoalan itu lebih jauh.

Tiba-tiba dari jarak dua puluh tombak dibelakang tubuh Gak In Ling yang sedang bersemadhi, mendadak muncul seorang manusia aneh berkerudung merah, dengan sorut mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, tatkala menemukan sang pemuda yang sedang bersemadhi dibawah pohon, napsu membunuh yang menggidikkan hati seketika menyelimuti seluruh wajahnya.
Sambil tertawa dingin, manusia aneh berkerudung merah itu bergumam seorang diri.
"Gak In Ling... Gak In Ling siapa suruh nasibmu sejelek ini.. rupanya engkau memang ditakdirkan untuk mati ditanganku "
Sambil berkata perlahan-lahan dia melepaskan kain kerudung merah yang menutupi wajahnya, siapakah dia ? Ternyata bukan lain adalah Buddha Antik, padri keji yang bermuka saleh.

Dengan cepat Buddha Antik menyimpan kain kerudung merahnya kedalam saku, kemudian selangkah demi selangkah mendekati Gak In Ling sambil melangkah maju hawa murninya dihimpun kedalam telapak dan siap melancarkan sebuah pukulan yang mematikan-
Keselamatan Gak In Ling pun sedetik demi sedetik ikut lenyap mengikuti semakin dekatnya padri tua itu, kini Buddha Antik telah berada pada jarak satu tombak dari hadapan tubuhnya, andaikata serangan itu dilepaskan niscaya pemuda she Gak itu takkan lolos dari kematian-
Akan tetapi ia tidak segera melancarkan serangan mautnya, sebab dalam pemikirannya asal telapak itu diayun ke bawah maka musuhnya ini akan menemui ajalnya, maka ia memberi waktu yang cukup bagi pemuda itu untuk hidup beberapa menit lagi.
Senyuman yang menyeringai seram menghiasi raut wajahnya yang saleh, penampilan yang sangat tidak sesuai dengan raut wajahnya ini membuat siapapun yang kebetulan melihat tentu akan meninggaikan satu tanda tanya yang besar.
Kian lama kian mendekat pada saat itu wajah Gak Ia Ling yang pucat-pias sudah mulai bersemu merah, hal ini menunjukkan bahwa luka dalamnya sudah mulai sembuh kembali.
Tentu saja pemuda itu mimpipun tak pernah mengira kalau Malaikat Elmaut semakin lama semakin mendekati pula dirinya.

Kini Buddha Antik sudah berada kurang lebih lima depa dihadapan sianak muda itu, hawa murninya telah dihimpun semua kedalam telapak sambil menyeringai penuh kekejian, pikirnya.
"Bangsat cilik, tidak sepantasnya engkau datangkan banyak kesulitan bagi aku Buddha Antik dan tidak seharusnya engkau memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna hee hee...sekarang, janganlah salahkan kalau terpaksa aku harus bertindak keji terhadap dirimu "
Sambil berpikir, sepasang telapaknya perlahan-lahan didorong kearah dada sianak muda itu.

Nampaknya jago muda itu sebentar lagi akan menemui ajalnya ditangan padri keji yang berwajah saleh ini, pada saat yang kritis dan sangat berbahaya itulah mendadak bayangan putih berkelebat lewat. Tiba tiba disisi tubuh Gak In Ling melayang turun seorang gadis cantik baju putih yang punya sulaman burung hong merah di atas dadanya, begitu enteng dan cepatnya gerakan orang itu sehingga sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun. Menyaksikan kehadiran gadis cantik itu, Buddha Antik terkesiap, pikirnya: "Aduh, celaka kembali ia menggagalkan usahaku untuk melenyapkan bangsat ini "

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, serangan yang semula ditujukan kearah Gak In Ling itu dengan cepat dialihkan kearah dada gadis baju putih itu, kemudian sambil berpura-pura kaget ia berseru:
"Omitohud Rupanya pangcu dari perkumpulan Thian-hong-pang. oh, hampir saja aku salah membunuh orang."
Licik sekali orang ini dan pandai benar ia menguasai gelagat, sekalipun dalam hati ia amat terkejut namun wajahnya masih tetap tenang-tenang saja seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun.
Dengan pandangan tajam ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang memandang sekejap kearah padri tua itu, kemudian sambil memberi hormat katanya:
"Oooh, rupanya taysu, apakah taysu sengaja berada disini untuk melindungi keselamatannya ?"
"Entah siapakah orang ini ?" jawab Buddha Antik dengan suara yang lirih. "Kebetulan saja aku lewat ditempat ini, karena aku takut ia diganggu atau dianiaya oleh binatang buas, maka sengaja aku berdiri disini untuk melindungi keselamatannya."
"Oooh, betapa saleh dan welas kasihnya padri agung ini " puji gadis itu didalam hati.

Haruslah diketahui bahwa ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini bukanlah seorang jago yang gampang ditipu, tetapi karena Buddha Antik sudah tersohor karena kesalehannya dikolong langit, maka dia pun tak menduga kalau padri tua itu sebenarnya adalah seorang manusia yang licik sekali.
Kembali Thian-hong pangcu melirik sekejap kearah Gak In Ling, lalu berkata kembali:
"Orang ini bukan lain adalah Gak In Ling yang bikin meluruh dunia persilatan jadi tidak tenang."
Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, sambil berpura-pura tak paham sengaja ia bertanya.
"Watak setiap manusia sebenarnya adalah saleh, aku pikir asal engkau suka menasehati dirinya maka ia tentu akan bersedia untuk merubah watak-watak jeleknya itu " seraya berkata ia menatap wajah gadis itu dengan tajam.
"Aku rasa hal ini tak mungkin bisa dilakukan-" sahut sang dara sambil menggeleng. Betapa girangnya Buddha Antik mendengar jawaban itu, tiba-tiba ujarnya kembali.

"Ooh.... ya, aku masih ada sedikit urusan yang harus segera diselesaikan dikota cin-hway, tolong li sicu suka berjaga sebentar disini, sekalian aku harap agar li sicu suka menasehati dirinya agar suka bertobat dari dosanya serta banyak melakukan kebajikan-"
Habis berkata ia melirik sekejap kearah Gak In Ling dan berpikir didalam hati.
"Gak In Ling, sekarang engkau harus berjumpa dengan pangcu dari perkumpulan Thian-hong-pang yang paling benci terhadap segala kejahatan, h mm.. sekalipun aku tidak turun tangan, engkaupun jangan harap bisa lolos dari tangannya dalam keadaan hidup." Berpikir sampai disini buru-buru ia putar badan dan kabur dari sana.
Memandang bayangan punggung Buddha Antik yang lenyap dari pandangan, ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini bergumam seorang diri.
"Meskipun padri saleh itu mempunyai hati yang bajik bagaikan Pousat, sayang sekali orang yang dituju olehnya bukanlah seseorang yang bisa dirubah watak-watak jeleknya."
Dengan sorot mata penuh napsu membunuh ia berjalan maju kedepan dan mendekati sianak muda itu.
Raut wajah Gak In Ling yang tampan berkerut kencang penuh penderitaan, mungkin gumam dari Thian-hong pangcu telah menusuk perasaan halusnya sehingga membuat dia merasa sakit hati.
Tiba-tiba Thian-hong pangcu alihkan sinar matanya kearah wajah sianak muda itu, hatinya bergetar keras dan tanpa terasa naps u membunuh yang telah berkobar dalam hatinya lenyap tidak berbekas, dengan suara dingin ia berkata.
"Gak In Ling, jika engkau mempunyai keberanian maka sembuhkan lebih dahulu luka dalam yang engkau derita itu, kemudian baru langsungkan pertarungan melawan diriku."

Gak In Ling tarik napas panjang, ia paksakan diri untuk menahan emosi yang berkobar dalam dadanya, kemudian membuyarkan hawa murni yang berkumpul dipusar dan membuka matanya.
"Aku orang she Gak mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nona yang tidak membinasakan diriku," sahutnya, "kalau ingin ber duel untuk menentukan siapa menang siapa kalah sekarang juga kita boleh langsungkan pertarungan tersebut." sambil berkata ia loncat bangun, namun air mukanya masih pucat-pias bagaikan mayat, jelas luka dalam yang dideritanya sama sekali belum sembuh.

"Hm, luka dalam yang kau derita toh belum sembuh, lebih baik sembuhkan dulu baru kita bertarung."
"Haahaa haa " Gak In Ling tertawa seram. "Pangcu menyembuhkan luka dalamku atau tidak itu toh urusan pribadiku, apakah engkau tidak merasa bahwa urusan yang kau campuri sudah terlalu banyak ?"
Ucapannya sombong dan jumawa sekali, seakan-akan pemuda itu hendak melampiaskan semua kekesalannya yang menumpuk dalam dadanya selama beberapa hari belakangan ini.
Gadis cantik baju putih merupakan ketua perkumpulan Thian-hong-pang yang disegani dan dihormati oleh setiap umat persilatan yang ada di-kolong langit, belum pernah ada orang yang berani bersikap sombong dan jumawa seperti ini.

Mendengar ucapan tersebut tentu saja ia jadi naik pitam, dengan mata melotot penuh kegusaran bentaknya nyaring.
"Hmm, engkau anggap aku jeri terhadapmu" sambil tersenyum telapaknya disiapkan dan segera diayun kedepan.
Pada saat itulah dari atas pohon besar dimana Gak In Ling bersandar tadi berkumandang suara yang amat gemuruh, disusul suara seseorang yang kasar dan keras bergema memecahkan kesunyiannya. "Hey Hey Kalian jangan bergebrak lebih dulu "

Seorang pria kekar yang berbadan setengah telanjang dengan mencekal sebuah toya besi yang besar telah berdiri ditengah kalangan, pada tubuhnya yang setengah telanjang itu terlihatlah sembilan buah tato yang melukiskan sembilan ekor naga berwarna merah.
Baik Gak ln Ling maupun gadis baju putih itu sama-sama merasa terperanjat, pikir mereka hampir berbareng.
"Dengan kepandaian silat yang kumiliki, kenapa tak kuketahui kehadiran orang ini ?"
Berpikir sampai disini mereka segera alihkan kembali sorot matanya kearah pria kekar itu.
Tampak olehnya orang itu berusia dua puluh lima-enam tahunan, alisnya tebal matanya besar, hidungnya besar mulutnya lebar, cambang yang kaku memenuhi separuh bagian wajahnya, jika ditinjau dari suara langkahnya ketika melayang turun keatas tanah, jelas menunjukkan bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak terlalu lihay.

Setelah mencapai diatas tanah, pria kekar itu menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian teriaknya dengan keras.
"Kamu benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, menolong anjing malah digigit"
"Hmm, andaikata nona itu tidak datang tepat pada waktunya, mungkin engkau telah modar ditangan kepala gundul itu," setelah menelan ludah ia meneruskan.
"Huh Untung pada waktu itu aku tidak menolong dirimu, kalau tidak maka keadaanku pasti akan seperti nona ini, bukan mendapat pujian malahan dicaci- maki."
Thian-hong pangcu segera merasakan hatinya agak bergerak setelah mendengar perkataan itu, dengan hati curiga pikirnya.
"Jangan-jangan ketika aku tiba disini Budha Antik memang sedang bersiap-sedia untuk membinasakan dirinya, tapi hal ini tak mungkin terjadi. Bukankah Buddha Antik dikenal sebagai padri yang saleh dalam dunia persilatan? Masa dia... "
Berpikir sampai disini dia segera angkat kepala memandang sekejap kearah pria kekar itu, kemudian berpikir lebih jauh.
"Potongan orang ini seperti orang kasar yang jujur, sepantasnya kalau perkataannya dapat
dipercaya, akan tetapi "

Untuk beberapa saat lamanya, gadis yang terkenal karena kecerdasan serta ketelitiannya inijadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan-Sementara itu Gak In Ling telah menegur dengan suara dingin.
"Siapa yang suruh engkau menolong diriku." Pria bertato sembilan naga itu melototkan matanya bulat-bulat, sahutnya dengan jengkel.
"Kalau engkau tidak membutuhkan bantuan ku, kenapa tidak kau katakan sedari tadi ? Pada waktu itu hampir saja aku meloncat turun dari atas pohon."
Gak In Ling adalah seorang pemuda yang cerdik, setelah mendengar ucapan pria kekar itu diapun segera mengetahui bahwa dia adalah seorang kasar yang masih polos dan bicaranya spontan, hawa gusar yang semula menyelimuti dadanya seketika lenyap tak berbekas.

"Untung kau tidak sampai menolong diriku" ujarnya kemudian dengan suara hambar.
"Kenapa?" tanya pria bertato sembilan naga sambil mengerdipkan matanya tanda kebingungan-"Apakah engkau bukan orang baik-baik ?"
Orang ini memang rada tolol, masa dikolong langit benar-benar terdapat orang jahat yang mengaku dirinya jahat ?
"Siapa tahu aku memang jahat" sahut Gak In Ling sambil tertawa hambar.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Thian-hong pangcu, ia merasa seolah-olah dirinya telah berhasil memahami sesuatu, ia segera menengadah dan memperhatikan pria polos itu.
"Siapa engkau ? Ada urusan apa datang kemari ?"

Rupanya pria kekar itu mempunyai kesan yang sangat baik terhadap ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini, mendengar pertanyaan tersebut tanpa berpikir panjang lagi segera ia menjawab.
"Suhuku menyebutku sebagai Kiu-bun-liong Tato-sembilan naga, adapun maksud kedatangan, ku pada malam ini adalah untuk mencari sebatang pohon buah ci-ci-ko yaug berdaun tujuh, agar ilmu Kun-goan-kang yang sedang aku yakini bisa mencapai kesempurnaan-"

"Apa ? Buah ci-ci ko yang berdaun tujuh?" seru Thian-hong pangcu dengan terperanjat. Biji matanya yang jeli tanpa terasa menyapu sekejap kearah Gak In Ling, "menurut anggapannya diatas wajah sianak muda itu pasti akan menampilkan rasa kaget yang tak terhingga sebab buah ciciko berdaun tujuh adalah obat paling mujarab dikolong langit untuk menambah kesempurnaan tenaga dalam serta mengobati luka dalam yang parah.
Tetapi gadis itu segera merasa kecewa, karena diatas wajah Gak In Ling sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun, seakan-akan persoalan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.
Setelah termenung dan berpikir sebentar, maka ia bertanya kembali. "Buah ciciko berdaun tujuh itu sekarang berada dimana ?"

Pria tato sembilan naga itu menggerakkan bibirnya seperti mau menjawab, tiba-tiba ia batalkan niatnya dan balik membentak dengan gusar. "Apakah engkau hendak ikut mencuri buah tersebut ?"
"Benda berharga dikolong langit, siapa melihat dia ikut mendapat bagian, dari mana engkau bisa mengatakan kalau aku mencuri ?" sahut Thian hong pangcu setelah ia melirik sekejap kearah Gak In Ling.
Pria tato sembilan naga benar-benar seorang pria yang polos, mendengar ucapan itu hatinya semakin gelisah, sambil siapkan toyanya membentak lagi dengan gusar. "cepat katakan Beranikah engkau mencuri buah mustika itu ?"
Kalau dilihat dari tampangnya, andaikata Thian-hong pangcu mengatakan berani maka dia akan segera turun tangan-
Kebetulan sekali pada saat itulah angin kencang berhembus lewat membawa suara bentakan seseorang dengan nada yang amat gusar.
"Buddha Antik Kalau engkau berani maju selangkah lagi kedepan, jangan salahkan kalau pinto akan bertindak kurang ajar "

Diatas wajah Gak In Ling yang tampan dan tenang tiba-tiba terlintas hawa napsu membunuh yang amat tebal, setelah mendengar suara bentakan itu, dia enjotkan badan segera meluncur kearah mana berasalnya suara bentakan tadi.
Selama ini Thian-hong pangcu selalu memperhatikan gerak-gerik Gak In Ling, melihat pemuda itu berlalu dari situ, dengan nyaring ia membentak.
"Gak In Ling, engkau hendak pergi kemana ?" laksana kilat dia gerakkan tubuhnya dan menyusul dari belakang.
Pria tato naga sembilan melongo, sambil memandang kearah mana lenyapnya dua sosok bayangan manusia itu gumamnya seorang diri.
"Cepat amat lari mereka berdua... wah, sama dengan terbang saja. celaka, arah mereka pergi justeru ketempat buah itu... "
Buru-buru dia siapkan toyanya kemudian berlarian pula mengajar dari belakang kedua orang
itu..
Setelah menembusi hutan yang lebar dihadapan Gak ln Ling muncullah sebuah bukit terjal yang penuh dengan batu cadas yang berserakan, suara bentakan tidak lain berasal dari balik bukit terjal tersebut.
Dalam pada itu sang surya telah muncul di angkasa, berjuta juta rentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata menerangi seluruh jagad.
Dengan gerakan tubuh yang cepat laksana gerakan kilat Gak In Ling berloncatan diantara batu-batu yang berserakan dan lari naik keatas bukit, kurang lebih dua puluh tombak dibelakangnya mengikuti seorang dara cantik baju putih.

Semakin mendekati puncak bukit itu, suara bentakan serta makian semakin jelas berkumandang masuk kedalam pendengaran sianak muda itu, rupanya sudah ada orang yang turun tangan bertarung.
Tidak selang beberapa saat kemudian Gak In Ling telah mencapai puncak bukit tersebut, ketika ia melongok kebawah hatinya tertegun, rupanya ia berdiri dipinggir jurang dan dibawah jurang terbentang sebuah lembah yang amat luas, suara bentakan tadi berasal dari dalam lembah tersebut.
Gak In Ling melongok kebawah dan menyapu sekejap sekeliling tempat itu, dia lihat pada saat itu Buddha Antik sedang menerjang kearah dinding bukit dimana ia berdiri sekarang, sedangkan dibelakangnya membuntuti enam orang jagoan yang terdiri dari hwesio, tosu dan manusia biasa.

Satu ingatan berkelebat dalam benak anak muda itu, ia menyapu kembali kearah dinding bukit tepat dibawahnya, terlihatlah kurang lebih dua puluh tombak dibawah tebing atau tepatnya ditengah celah-celah batu yang tertutup oleh lalang tumbuh sebatang tumbuhan yang berwarna merah darah, mengertilah pemuda itu apa yang sedang terjadi.
Pada saat itu Budha Antik sudah sangat dekat dengan dinding bukit, rupanya ia sedang berusaha untuk merampas tumbuhan berwarna merah darah itu.
Gak In Ling teramat gusar, napsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia membentak keras. "Buddha Antik, serahkan jiwa anjingmu "
Dengan jurus "Hiat-yu-seng-hong" atau hujan darah angin amis ia menerjang kebawah bagaikan seekor burung elang yang sedang menerkam mangsanya, serentetan cahaya merah darah dengan cepat menyelimuti seluruh tubuhnya.

Dari bentakan yang keras Buddha Antik sudah tahu siapakah yang datang, saking kagetnya sukma terasa melayang tinggalkan raganya, ia tidak memperdulikan buah ciciko yang sudah hampir terjatuh ke tangannya lagi, sambil berjumpalitan diudara sepasang kakinya segera menjejak dinding bukit, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya ia melayang sejauh dua puluh tombak lebih dari tempat semula dan tepat melayang turun dibelakang lima orang pengejarnya, setelah mencapai tanah tanpa berpaling lagi ia melarikan diri terbirit-birit kearah lembah sebelah kanan-

Sebenarnya serangan telapak maut yang di-lancarkan Gak In Ling dikala Buddha Antik sedang tidak bersiap-siaga itu mampu menghancurkan tubuh padri licik tadi menjadi berkeping-keping, tapi sayang luka dalam yang diderita pemuda itu belum sembuh, ketika jurus hujan darah angin amis tadi digunakan sampai separuh jalan itu ia sudah merasakan tenaga dalamnya tak mampu disalurkan kembali, dalam keadaan begini terpaksa sambil menggertak gigi karena mendongkol ia saksikan Buddha Antik kabur dari tempat itu.
Dengan kaburnya Buddha Antik dari tempat kejadian, maka sekarang Gak In Ling lah yang mencapai sisi buah mustika ciciko itu, tanpa pikir panjang lagi buah tadi segera dicabut olehnya dan melayang keatas tanah.
Thian-hong pangcu dengan cepat menyusul datang, ia segera menghadang didepan tubuh anak muda itu.

Lima orang yang berada dalam lembah, mimpipun tak pernah menyangka kalau buah mustika ciciko berdaun tujuh yang dijaganya setengah harian lebih bukan terjatuh ketangan Buddha Antik sebaliknya kena dipetik oleh seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya, sambil membentak penuh kegusaran dengan cepat mereka mengepung Gak In Ling serta Thian- hong pangcu di tengah kalangan-
Gak In Ling sama sekali tidak menggubris kelima orang yang mengepung dirinya itu, disapunya sekejap buah ciciko yang berada dalam genggamannya, dia lihat tumbuhan tersebut berakar panjang yang tegak dan berwarna hijau, pada tangkainya tumbuh tujuh lembar daun merah yang berbentuk bulat pipih, pada ujung setiap daun berwarna merah tadi tumbuh sebutir buah merah yang berbau harum serta besarnya bagaikan sebutir mutiara, butiran kecil itulah yang mungkin dinamakan buah ciciko.
Setelah memandang sekejap buah tadi, pemuda she Gak baru memandang kearah lima orang jago tadi, ujarnya dengan nada hambar.
"Kalau kutinjau dari usia kalian berlima, aku rasa kalian pastilah merupakan jago jago yang punya nama besar dalam dunia persilatan " Thian-hong pangcu berkata pula setelah menyapu kelima orang itu.
"ln Hok Liau Wan Sungguh tak nyata kalian sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar ternyata masih belum dapat menghilangkan rasa tamak dalam hati kalian, hanya disebabkan sebatang tumbuhan saja kalian bersedia melakukan pertarungan. hmm sekarang setelah bertemu dengan aku, apa yang hendak kalian kata kan lagi ?"
Air muka In Hok Totiang dan Liau Wan Taysu berubah hebat, mereka jadi gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun, sedangkan tiga orang yang lainpun mukanya berubah hebat, keadaan mereka bagaikan tikus yang bertemu dengan kucing.

Melihat sikap beberapa orang itu, Gak In Ling keheranan- Pikirnya didalam hati.
"Gadis ini masih berusia sangat muda, tapi setiap patah kata serta tingkah lakunya cukup menggetarkan hati setiap jago yang ada dalam dunia persilatan- Sungguh luar biasa sekali, hal ini sangat tidak masuk diakaL"
Sementara itu Thian-hong pangcu telah mendengus kembali. "Hmm, apa yang hendak kalian katakan lagi?" serunya.
In Hok Totiang ragu-ragu sebentar, kemudian sambil keraskan kepala dia maju kedepan dan menjawab.
"Adapun maksud kedatangan kami semua ke tempat ini, semula adalah ingin menyelidiki lembah Toan-hun-kok. tapi siapa sangka baru saja tiba ditempat ini kami telah menemukan buah ciciko yang mujarab itu."
"Hmm oleh karena itu kalian berhasrat untuk mendapatkannya, bukankah begitu ?" dengus Thian-hong pangcu.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata kembali.
"Apakah kalian yakin dengan kekuatan yang kamu miliki akan berhasil menyelidiki rahasia dari lembah tersebut ?"

"Omitohud " seru Liau Wan Taysu dengan alis berkerut. "Banyak sekali anak murid yang kuutus datang kemari lenyap tak berbekas, karena itu meskipun kami berlima menyadari bahwa kepandaian silat yang kami miliki masih bukan tandingan lawan, namun masa depan kami sendiri maka terpaksa kami harus mencobanya sekalipun harus menempuh bahaya."
Sementara mereka masih berbicara, Gak In Ling telah memetik ketujuh butir ciciko itu dan diletakkan dalam genggamannya, kemudian berkata.
Tindakan Gak In Ling yang sama sekali di luar dugaan ini mencengangkan hati para jago, mereka mengira sianak muda itu adalah anak murid dari perkumpulan Thian-hong-pang, tanpa terasa jago-jago lihay itu merasa amat berterima kasih sekali terhadap gadis tersebut.
"Pangcu, tolong bagikan ketujuh buah ciciko ini kepada mereka semua." sambil berkata ia angsurkan buah ciciko tadi kedepan-
Tapi mereka tak pernah menduga bahwa rasa kejut yang dialami Thian-hong pangcu jauh lebih hebat daripada mereka sendiri, dengan sorot mata yang curiga bercampur tak percaya ia menatap wajah pemuda itu, lama-lama sekali ia baru berkata dengan nada dingin.

"Gak In Ling, kebutuhanmu mungkin jauh lebih besar daripada mereka, benarkah engkau rela memberikan buah ciciko ini kepada mereka ?"
Hawa gusar memancar keluar dari balik mata Gak In Ling yang aneh, tetapi ia menahan diri kembali sebab dia tak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang-orang itu.
Dengan pandangan dingin disapunya sekejap Thian-hong pangcu, kemudian membentak keras.
"Sambutlah buah ini " tangan diayun, enam biji buah ciciko segera memencar kedepan bagaikan enam buah kilatan cahaya dan masing-masing meluncur kearah enam orang yang berbeda.

Pada saat yang bersamaan keenam orang dalam kalangan bersama-sama menerima sebutir buah ciciko yang disambit kearah mereka, tapi tak seorangpun yang melakukan pemeriksaan, dengan dua belas buah mata yang aneh mereka menatap wajah sianak muda itu, karena tindakan dari lawannya ini telah membuat hati orang-orang itu tercengang dan tidak habis mengerti.
Thian-hong pangcu sendiri dengan pandangan yang tidak tenang serta permintaan maaf memandang kearah sianak muda itu, menanti ia berhasil melihat bahwa ditangan Gak In Ling masih tersisa satu butir buah ciciko, rasa tidak tenang tadi baru pulih kembali seperti sedia kala, inikah yang dinamakan cinta.
In Hok Totiang maju selangkah kedepan, setelah memberi hormat ujarnya.
"Siauw sicu berjiwa besar dan berdada lapang, pinto merasa amat kagum sekali, bolehkah aku tahu siapa namamu ?" sambil berkata ia memandang ke arah pemuda itu dengan sorot mata kagum bercampur menghormat.
Keempat orang lainnyapun mempunyai pandangan yang sama, mereka ingin sekali mengetahui siapakah gerangan pemuda yang berjiwa besar dan bersedia membagikan buah mustika yang berhasil didapatkannya itu.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Thian hong-pangcu, pikirnya, "oh, rupanya inilah kesempatan yang paling baik dari Gak In Ling untuk mencari simpati dari para jago, hampir saja aku kena dikelabui oleh tindakannya ini." Menurut perkiraannya apa yang dipikirkan tentu tak akan salah lagi.

Siapa tahu Gak In Ling cuma tertawa hambar belaka setelah mendengar perkataan itu. katanya.
"Aku bukanlah seseorang yang patut saudara sekalian ingat terlalu, lebih baik namaku tak usah kalian ketahui " setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Buah ciciko setelah dipetik dari tangkainya tak dapat disimpan terlalu lama, aku harap kalian segera menelan buah tersebut " habis berkata perlahan-lahan ia berlalu dari tempat itu
"Omitohud.. " seru Lian Wan Taysu sambil merangkap tangannya memuji keagungan Buddha, "Aku rasa sudah sepantasnya kalau sicu menelan lebih dahulu buah ciciko itu "

"Siapa yang makan buah ciciko dia akan mendapat tambahan tenaga dalam dan menambah usia, sebaliknya kalau aku yang menelan buah itu maka perbuatanku ini hanya membuang dengan percuma sebuah buah langka dalam kolong langit" jawab Gak In Ling hambar, berpalingpun tidak.
"Tapi buah tersebut dapat menyembuhkan pelbagai penyakit dan luka dalam, kenapa sicu mengatakan hanya membuang percuma sebuah benda langka dalam kolong langit ?" . Gak In Ling tertawa tawa.
"Keputusanku sudah bulat, terima kasih atas perhatian dari taysu dan engkaupun tak usah memaksa diriku lagi."

Selama ini Thian-hong-pangcu hanya mendengarkan setiap patah kata dari Gak In Ling dengan cermat dan seksama, walaupun setiap patah katanya tak dapat ditangkap artinya oleh lima orang jago yang hadir dalam kalangan, tetapi bagi pendengaran gadis cantik baju putih ini seakan-akan sebuah batu cadas yang menindih diatas dadanya, membuat pikiran dan perasaannya bergolak keras.
Tak tahan lagi ia segera menyela.
"Apakah engkau tidak merasa bahwa keputusan yang telah kau ambil itu terlalu merugikan dirimu ?" Gak In Ling, tertawa dingin-
"Hee hee hee. ... keputusan yang ku ambil mungkin saja justru merupakan apa yang pangcu butuhkan, bukankah kehidupanku dalam kolong langit hanya akan memusingkan kepala pangcu saja ?"

Airmuka Thian-hong pangcu berubah hebat serunya tanpa sadar.
"Darimana engkau tahu kalau itulah yang kubutuhkan?" suaranya keras dan penuh emosi.
Tiba-tiba dari atas puncak tebing moloncat datang sesosok bayangan manusia, dia bukan lain adalah pria tato sembilan naga, berhubung ilmu meringankan tubuhnya agak cetek maka ketika mencapai permukaan tanah ia maju kedepan dengan sempoyongan.
Namun pria itu sama sekali tidak menggubris keadaannya itu, dengan sorot mata yang tajam disapunya sekejap sekeliling tempat itu, setelah menjumpai tangkai buah ciciko dengan ketujuh daunnya berada ditangan Gak In Ling, ia segera membentak.
"Bajingan cilik, semula aku tak habis mengerti apa sebabnya engkau lari dengan begitu cepatnya oh, rupanya engkau hendak merampok buah ciciko ? Bagus sekali, aku akan mengadu jiwa dengan dirimu."

Habis berkata, toya besinya segera disapu ke depan denganjurus "ciu-hong-sau-llok-yap" atau daun berguguran terhembus angin dingin.
Weesss Diiringi desiran angin tajam ia memutar toy anyamembabat kearah pinggang Gak In Ling, senjata itu belum mencapai sasaran desiran dingin telah menyengat badan, hal ini menunjukkan betapa kuatnya tenaga yang dimiliki pria itu.
Menengar datangnya desiran angin tajam, Gak In Ling putar badan, sorot matanya dengan berkilat, setelah memandang datangnya ancaman tersebut tiba-tiba laksana kilat cengkeram ujung toyadengan jurus "Lekshu-ki-liong" atau tenaga sakti menundukkan naga.

Gerakan yang dilakukan, secara tiba tiba ini mengejutkan setiap para jago yang hadir dalam gelanggang, sebab serangan toya yang dilancarkan tato sembilan naga luar biasa sekali danpria itu sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Tanpa sadar Thian- hong-pangcu maju selangkah kedepan- tapi sayang gerakannya itu terlambat.
Blaaam Ditengah getaran yang amat keras, Gak In Ling terseret maju sampai tiga- empat langkah kedepan dengan sempoyongan setelah terhajar oleh sapuan toya lawan, air mukanya berubah jadi hijau keabu-abuan, tetapi ia masih mencekal ujung toya pria tato sembilan naga itu kencang-kencang.

Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.
"Oh aku lupa kalau luka dalam yang sedang kuderita belum sembuh."
Ia segera menengadah memandang sekejap kearah pria tato sembilan naga, kemudian tanya nya dengan tenang. "Berapa buah ciciko yang engkau butuhkan ?"
Dengan sekuat tenaga pria tato sembilan naga membetot toya besinya, dalam perkiraannya pasti toya tersebut akan berhasil dicabut lepas karena Gak In Ling berbadan lemah dan masih muda belia.
Siapa tahu peristiwa yang kemudian terjadi jauh diluar dugaannya, dia merasa toyanya bagaikan berdempetan dengan sebuah bukit karang yang amat berat, jangan dikata untuk mencabut keluar sekalipun untuk menggoyangkanpun dia tak mampu. Hal ini amat mengejutkan hatinya, dengan perasaan kaget pikirnya didalam hati.
"Mungkinkah bocah ini pandai ilmu sihir? Kalau tidak mengapa toyaku seakan-akan tertindih dengan bukit karang yang berat ?"
Sepasang matanya memandang kearah Gak In Ling dengan sorot mata tertegun, ia tak tahu apa yang musti dikatakan-

Dengan hambar Gak In Ling memandang sekejap kearahnya, lalu bertanya kembali.
"Eeii, sudah dengar belum pertanyaanku? Aku tanya engkau butuh berapa butir buah ciciko ?"
"Sebutirpun sudah cukup,"
Gak In Ling segera ayun telapaknya kedepan dan melemparkan buah ciciko yang tinggal sebutir itu ketangan pria tato sembilan naga, serunya. "Nah, buah itu boleh kau telan"
Meskipun pria tato sembilan naga adalah seorang kasar dan berangasan tapi pikirannya polos sekali, sambil menerima buah ciciko itu tanyanya. "Eli, engkau masih punya berapa butir ?"
"Sebutirpun dia sudah tak punya" jawab In Hok Totiang dengan cepat.

Tertegun hati pria tato sembilan naga setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba ia berseru.
"Sungguhkah itu ? Bocah cilik, aku kembalikan buah ciciko ini kepadamu, akupun takkan
berlatih segala macam ilmu silat lagi, nih,terimalah kembali "
Dengan langkah lebar ia berjalan kehadapan Gak In Ling, kemudian angsurkan buah ciciko tersebut ketangan pemuda itu.

Dari balik mata Gak In Ling memancarlah serentetan cahaya yang sangat aneh, sambil tertawa ia menepuk bahu pria tato sembilan naga, kemudian katanya dengan nyaring.
"Kalau engkau tidak berlatih ilmu tersebut gurumu pasti akan merasa menyesal dan kecewa
sekali."
"Tapi, kalau kumakan buah ini bukankah engkau jadi tak mendapat bagian ?"
"Aku toh tidak membutuhkannya." sahut Gak In Ling sambil menggeleng.

Pria tato sembilan naga adalah seorang lelaki yang berhati polos, mendengar perkataan itu ia mengira ucapan tersebut adalah sungguh, maka sambil tertawa ujarnya. "Hey bocah, engkau adalah manusia paling baik yang pernah kujumpai selama hidup " .
Dengan tangan kanannya ia genggam bahu sianak muda, sedang wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan-
Apa yang terjadi didepan mata memancing rasa haru dihati para jago yang hadir disana, berpuluh buah mata yang memancarkan rasa terima kasih segera dialihkan kearah pemuda she Gak.

Than- hong pangcu paling tergetar hatinya setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya. "la memang berjiwa besar, padahal diantara orang yang hadir ditempat ini dialah yang paling membutuhkan benda tersebut, sayang sekali ditempat ini tak ada delapan butir buah ciciko."
Sementara itu sambil memutar badan Gak In Ling telah berkata kembali.
"Harap saudara sekalian suka menelan buah tersebut, aku akan tetap berjaga disini untuk melindungi keselamatan kalian selama kalian bersemadhi."
Dengan langkah gontai ia berjalan kearah kanan, dan disitu ia berjaga-jaga sambil menyapu keadaan disekeliling lembah tersebut.

Semua jago mengetahui akan sifat dari buah ciciko tersebut, merekapun tak berani membuang waktu dengan percuma lagi, dengan hati girang dan rasa berterima kasih buah itu segera ditelan kedalam perut lalujatuhkan diri bersila untuk mengatur pernapasan-
Asal manusia masih terdiri dari darah dan daging, siapakah yang masih dapat melepaskan diri dari ketamakan serta keserakahan mementingkan diri sendiri ?
Dengan pandangan iba Thian-hong pangcu menyapu sekejap kearah para jago yang hadir di tempat itu, kemudian sambil menghela napas pikirnya.
"Meraka semua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan, tetapi tingkah laku mereka jika dibandingkan dengan pemuda ini... oh masih terpaut jauh sekali," Berpikir sampai disitu, ia segera berjalan mendekati pemuda itu.
Sorot mata yang dingin, hambar dan ketus yang semula menyelimuti wajahnya, entah sejak kapan telah lenyap tak berbekas, siapapun tidak tahu apa sebabnya bisa demikian-
Gadis cantik baju putih itu berhenti kurang lebih dua depa dibelakang Gak In Ling, ujarnya dengan suara lirih.
"Gak In Ling, buah ciciko ini engkaulah yang mendapatkan, aku tidak membutuhkannya, siIahkan engkau menerima kembali !"

Gak In Ling putar badan, setelah memandang sekejap wajah gadis itu sahutnya dengan ketus.
"Bilamana pangcu tidak ingin menelannya, kenapa tidak dibuang saja ke dalam jurang sebelah sana ? Bukankah dengan begitu tak usah merepotkan, dirimu lagi ?"
Thian-hong pangcu tertegun, lalu dengan dingin teriaknya. "Kau kau... apa maksudmu?"
Gak In Ling menyapu sekejap wajah gadis cantik berbaju putih itu dengan pandangan dingin tiba-tiba ia menghela napas dan putar badan kemudian berjalan menuju kearah mana bayangan Buddha Antik melenyapkan diri tadi, sambil berjalan katanya.

"Kalau memang pangcu menaruh curiga bahwa pembagian yang kulakukan ini bukan muncul dan hati-sanubariku, tentu saja engkau berhak untuk jangan menelan buah ciciko itu, aku orang she Gak tidak akan memaksa dirimu untuk menuruti perkataanku." Habis berkata tubuhnya sudah berada lima tombak jauhnya dari tempat semula.

Melihat Gak in Ling telah salah mengartikan maksud ucapannya, Thian-hong pangcu merasa
hatinya jadi kecut dan hampir saja mengucurkan airmata, bibirnya yang kecil- mungil dicibirkan
beberapa kali namun tak sepatah kata yang meluncur keluar, akhirnya dengan nada gegetun ia
membatin didalam hati. "Ooh engkau memang kejam "
Tiba tiba ia temukan bahwa pemuda she Gak itu sudah berada sepuluh tombak dari mulut lembah, hatinya jadi terperanjat dan segera teriaknya dengan suara gemetar. "Gak In Ling, engkau akan pergi kemana ?"
Gak In Ling sama sekali tidak menghentikan langkahnya, hanya dengan dingin ia menjawab.
"Aku hendak pergi kemana yang harus aku pergi "
"Bagaimana dengan orang-orang ini ?" tanya Thian-hong pangcu dengan gelisah. Gak In Ling menghentikan langkahnya dan putar badan.
"Aku percaya pangcu takkan tinggalkan mereka selagi orang orang itu bersemadhi."

Thian-hong pangcu memandang sekejap ke-arah pemuda itu dengan pandangan sedih, akhirnya dia telan buah ciciko tersebut kedalam perut dan duduk bersila diatas tanah, pikirnya.
"Kalau aku berbuat begitu, engkau pasti tak akan pergi dari sini."
Tindakan dara cantik tersebut sama sekali diluar dugaan Gak In Ling, ia tak habis pikir apa sebabnya gadis itu menelan buah ciciko secara suka rela setelah sebelumnya menampik untuk makan buah itu.
Dengan perasaan apa boleh buat Gak In Ling gelengkan kepalanya dan berjalan kembali, terpaksa ia harus memikul tanggung jawab untuk melakukan perlindungan terhadap orang-orang itu.
ooo

Waktu berlalu dengan cepatnya ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, dan waktu yang berlalu detik demi detik, menit demi menit itu mendatangkan manfaat yang amat besar bagi setiap jago yang sedang duduk bersemedhi di tempat itu, sebab dalam waktu yang amat singkat tenaga dalam yang mereka miliki telah mendapat kemajuan yang amat pesat.

Dengan wajah termangu- mangu Gak In Ling menengadah memandang awan yang bergerak di- angkasa dibawah sorot cahaya matahari yang berwarna keemas-emasan, wajahnya yang tampan tiba-tiba terlintas kemurungan serta kekesalan yang tebal, siapa pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.
Pada saat itulah perlahan-lahan Thian-hong pangcu membuka kembali matanya yang jeli, diantara para jago yang hadir disana tenaga dalam yang dia miliki paling sempurna, karena itu diapun yang sadar paling dahulu.
Diatas raut wajah yang merah dadu pada saat itu terlintas cahaya tajam yang bergemerlapan, hal itu menambah kecantikan diatas wajahnya.
Setelah memandang sekejap kearah Gak In Ling dengan pandangan dalam, ia loncat bangun dari atas tanah dan berjalan menghampiri dirinya.
Gak In Ling sama sekali tidak merasakan akan kehadiran dari gadis itu, mungkin ketika ia sedang memikirkan satu masalah penting yang maha besar.
Akhirnya Thian-hong pangcu berhenti pada jarak tiga depa dibelakang tubuh Gak In Ling, tegurnya dengan suara lirih.
"Apa sih yang sedang kau pikirkan?" suaranya lembut dan halus, penuh mengandung perasaan kuatir dan memperhatikan-
"Pangcu telah sadar dari semedhi. itu berarti urusanku ditempat ini telah selesai " sahut Gak In Ling tanpa berpaling.

Habis berkata ia merogoh kedalam saku dan ambil keluar sebotol porselin berwarna hijau tua kemudian dengan langkah lebar berjalan menuju kelembah bukit sebelah kanan-
Air muka Thian-hong pangcu berobah hebat, tiba-tiba ia meloncat kedepan dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, serunya. "Engkau hendak pergi kemana?"
"Pangcu, apakah engkau tidak merasa bahwa urusanku yang kau urusi sudah terlalu banyak ?" kata pemuda she Gak dengan alis berkerut dan suara ketus.
"Kemanapun engkau akan pergi aku takkan turut campur, hanya lembah itu saja tak boleh kau masuki."
"Mengapa ?" tanya Gak In Ling sambil tertawa dingin.

Dengan muka merah jengah Thian-hong pangcu alihkan sorot matanya kearah lain, lalu menjawab.
"Karena engkau akan menemui ajal ditempat itu." "Hmm Bukankah pangcu mengharapkan aku mati ?"
"Kapan sih, aku pernah mengatakan bahwa aku berharap agar engkau mati? coba katakan " seru Thian-hong pangcu dengan penuh emosi.
Suaranya agak gemetar, di balik kelopak matanya yang jeli secara lapat-lapat tampak mengembang air mata, tapi wataknya yang keras kepala telah mencegah air mata itu tidak sampai meleleh keluar.

Gak In Ling jadi tidak tega juga melihat keadaan gadis itu, pikirnya.
"Perempuan ini berhati bajik dan berbudi luhur, demi menjaga ketenangan serta ketenteraman
dunia persilatan dia akan membinasakan diri ku, tindakan ini bukanlah suatu tindakan yang keliru,
justru kesalahan terletak pada diriku yang tak dapat menunjukkan dosa serta kesalahan dari
orang-orang yang kubunuh, aii "

Gak In Ling sebenarnya adalah seorang pemuda berhati panas dan berwajah dingin, ia mempunyai perasaan untuk berbakti bagi masyarakat dan bekerja untuk kebenaran, tetapi sayang sekali ia tak dapat memberi penjelasan kepada orang lain terhadap apa yang hendak dilakukan olehnya.
Perlahan-lahan ia menengadah memandang langit dan biru, lalu menghela napas panjang, ujarnya.
"Mungkin pangcu memang tak mempunyai perasaan seperti itu, tapi sayang sekali keputusan dan tekadku sudah bulat, biarlah maksud baik pangcu kuterima didalam hati."
Selesai berkata dengan langkah lebar dia lanjutkan kembali perjalanannya menuju kesebelah kanan lembah tersebut,

Thian-hong pangcu terkesiap. Sekali lagi ia loncat kedepan dan menghadang dihadapan sianak muda itu sambil serunya.
"Asal engkau mampu menangkan diriku, maka dengan bebas engkau boleh lanjutkan perjalananmu menuju kedalam lembah ini "
Tertegun hati Gak In Ling mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata.
"Pangcu menganggap bahwa aku orang she Gak jeri terhadap dirimu ?"
"Tentu saja lebih baik kau tidak takut"
Gak In Ling mencabut keluar penutup dari botol porselen berwarna hijau-tua itu kemudian ambil keluar sebutir pil berwarna hijau dan siap ditelan kedalam perut.

Semua gerak-gerik sianak muda itu tidak lolos dari pengawasan Thian-hong pangcu, begitu ia menjumpai bentuk serta warna dari botol porselen itu, hatinya langsung saja merasa terkejut, sebab bentuk dari botol tersebut mengingatkan ia akan botol racun yang pernah didengarnya dari berita persilatan-
Menanti Gak In Ling telah ambil keluar obat tadi, wajahnya berubah semakin hebat, jeritnya. "Gak In Ling, jangan kau telan obat itu"
Sambil menjerit tubuhnya berkelebat maju kedepan dan menerjang kearah sianak muda itu, tangan kanan mengeluarkan jurus "clong-hay-lau ciang" atau mencari jarum didasar lautan, bagaikan sambaran burung elang dia mencengkeram obat ditangan pemuda itu.
Serangan yang dilancarkan Thian-hong pangcu ini jauh diluar dugaan Gak in Ling, ia mengira dara tersebut melancarkan serangan menggunakan kesempatan ketika ia sedang mengambil obat, kejadian ini membuat hatinya tertegun.
Buru-buru obat hijau itu disingkirkan ketangan kanan, lalu dengan gerakan "To-pau-hoan-wi" atau copot jubah ganti posisi laksana kilat ia mengundurkan diri sejauh empat tombak lebih dari tempat semula, dengan suatu gerakan yang manis sekali ia berhasil menghindari sambaran kilat lawan-
Tapi ia cepat, Thian-hong pangcu lebih cepat lagi, baru saja sepasang kaki Gak In Ling menginjak tanah, jurus serangan "Kim-liong-tam-jiu" atau naga emas unjuk cakar dari Thian-hong pangcu kembali telah menyusul datang.

Kali ini Gak In Ling telah bikin persiapan yang matang, dengan alis berkerut sindirnya.
"Pangcu, pandai sekali engkau gunakan waktu yang paling tepat. Hmm, kau anggap serangan mu itu akan berhasil ?"
Sementara berbicara ia telah mengubah gerakannya jadi jurus "cian-li lay-hong" atau pelangi muncul seribu li, sambil putar badan ia balik menerjang kedepan-
Pikiran Thian-hong pangcu pada saat ini kacau dan bingung sekali, ia tak tahu bagaimana mesti menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dalam keadaan begini dia merasa hanya menguasai sianak muda itu secepatnya baru bisa menghalangi dia untuk menelan obat berwarna hijau tersebut.

Karena itu, kendatipun mendengar sindiran dari Gak In Ling namun gadis itu sama sekali tak ambil perduli, dengan sepenuh tenaga ia lancarkan kembali serangan-serangan dahsyatnya.
Thian-hong pangcu adalah salah seorang diantara dua gadis aneh yang menguasai seluruh dunia persilatan, dengan usianya yang masih begitu muda ternyata dia mampu menaklukkan segenap jago lihay yang ada didalam dunia persilatan, hal ini menunjukkan bahwa kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar luar biasa sekali.

Terlihatlah tubuhnya yang langsing bergerak dan menari kian- kemari bagaikan kupu-kupu yang bermain diantara wanginya bunga, tapi ditengah keindahan terseliplah perubahan-perubahan yang amat banyak dan sama sekali tak terduga, ayunan telapak menimbulkan deruan angin pukulan yang mendesir, begitu dahsyatnya hawa serangan tersebut sehingga seakan-akan gulungan ombak ditengah samudra luas.
Gak In Ling sendiri walaupun memiliki ilmu telapak maut yang amat lihay, tetapi kepandaian tersebut tak dapat digunakan olehnya, karena pertama luka dalam yang dideritanya belum sembuh, dalam keadaan begini tenaga murninya tak dapat digunakan seperti apa yang sebenarnya.
Kedua, ia tak tega membinasakan gadis cantik yang berhati baik ini diujung telapaknya, maka setelah lewat lima puluh jurus air muka Gak In Ling berubah semakin pucat, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya. Ia menengadah memandang kearah gadis cantik baju putih itu, kemudian serunya.
"Pangcu, tidak sampai sepuluh jurus lagi, engkau akan berhasil membinasakan aku orang she
Gak "

Thian-hong pangcu sama sekali tidak menghentikan serangannya, sambil mempergencar tekanannya ia menyahut.
"Gak In Ling, asal kau bersedia tak akan menelan obat itu, aku pasti takkan menyerang dirimu
lagi"
Ditengah kelembutan suaranya terkandung beberapa bagian nada memohon, siapapun tak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan gadis cantik yang berhati dingin itu pada saat tersebut.
Gak In Ling segera tergerak hatinya sesudah mendengar ucapan itu, mendadak ia membentak keras. "Tahan "
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat semua orang merasakan pendengarannya jadi sakit, sambil membentak dengan gesit ia mundur tiga tombak kebelakang, menggunakan kesempatan itulah pil berwarna hijau tadi segera dimasukkan kedalam mulut dan ditelannya.

Thian hong pangcu merasa amat terperanjat ketika secara tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, tanpa terasa ia menghentikan serangannya dan berdiri tertegun, tapi otaknya yang cerdik segera memahami akan peristiwa yang akan terjadi didepan mata, tapi sayang hal itu sudah terlambat.
Dengan wajah yang sedih dan menampilkan rasa hati yang tersiksa, dara ayu itu berkata. "Mengapa kau telan obat tersebut ?"
"Agar aku memiliki kemampuan untuk berduel melawan diri pangcu. "jawab Gak In Ling sambil tertawa hambar.
"Aku toh mempunyai obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam yang kau derita itu"
"Tapi sayang aku tidak bersedia menerima budi kebaikan dari pangcu, karena kita berdua berada dalam keadaan yang berbeda serta posisi yang berbeda pula."
Mendengar ucapan itu Thian hong pangcu menundukkan kepalanya, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat.

"Begitu bencikah engkau terhadap diriku ?" bisiknya lirih, suaranya kedengaran agak gemetar.
Gak In Ling tercekat hatinya, seakan-akan ia telah memahami akan sesuatu, tapi ia tak berani memastikan dan iapun tidak berharap apa yang terpikir olehnya itu merupakan suatu kenyataan, sebab ia tahu bahwa kehidupannya dialam ini sudah tidak terlalu lama lagi.
Gak ln Ling angkat bahu dan menekan perasaan hatinya, kemudian sambil tertawa tawa jawabnya.
"Aku sama sekali tidak membenci dirimu, aku hanya merasa bahwa perbuatan yang akan ku lakukan sejak kini adalah perbuatan-perbuatan yang melanggar peraturan pangcu serta menyiakan harapan para jago dunia persilatan, jikalau pangcu tidak melenyapkan diriku dari permukaan bumi, maka dalam waktu setengah tahun yang akan datang, dunia persilatan tak akan mengalami ketenangan-"
Selesai berkata-kata perlahan-lahan ia duduk bersila diatas tanah.

Bibir Thian-hong pangcu yang kecil bergetar keras, dengan menggunakan suara yang amat lirih sehingga hampir saja dia sendiripun tidak mendengar, gumamnya seorang diri.
"Aku tahu bahwa engkau bukanlah seorang manusia yang gemar membunuh manusia, kau lakukan perbuatan itu karena mempunyai sebab-sebab tertentu, tapi mengapa engkau selalu tak mau mengatakannya kepadaku? Apakah sebelum kita saling berjumpa muka, engkau telah membenci diriku ?"
Suara itu penuh mengandung keluhan, kesedihan dan rintihan yang menggetarkan hati orang, dari sini pula bisa ditarik kesimpulan bahwa gadis itu memang mempunyai sesuatu terhadap pemuda she Gak ini.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang yang kasar berkumandang memecah kesunyian-
"Waduh waduh enaknya Benar-benar segar sekali "
Dari nada suara itu Thian hong pangcu segera mengetahui siapakah dia, hatinya kontan terkejut, pikirnya.
"Sungguh tak kusangka kalau tenaga dalam yang dimiliki pria tato sembilan naga jauh diatas In Hok dan Liau Wan sekalian lima orang, tapi siapakah orang ini ? Kenapa belum pernah kudengar namanya disebut orang didalam dunia persilatan ?"

Sementara gadis cantik itu masih berpikir, pria bertato sembilan naga itu sudah berjalan mendekati Gak In Ling, dengan sorot mata yang tajam ia memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian ia angkat kepala memandang kearah Thian-hong pangcu sambil serunya penuh kegusaran-
"Hey, nona ? Barusan ia telah berkelahi dengan bajingan yang mana ?"
Hawa-amarah berkobar dalam dada Thian hong pangcu, rupanya dia hendak mengumbar napsu, tapi setelah berpikir sebentar, bathinnya,
"Buat apa aku mesti bertengkar dengan orang kasar seperti dia ? Lebih baik tak usah dilayani saja "

Berpikir demikian, iapun balik bertanya sambil tertawa.
"Apa yang hendak kau lakukan setelah mengetahui siapakah orang itu?"
"Akan kuhajar orang itu "
Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.
"Kenapa sih engkau hendak membantu dirinya ?" ia berseru sambil menuding kearah Gak In Ling.
Pria bertato sembilan naga tertegun, kemudian dengan sepasang mata melotot bulat serunya. "Apakah engkau tidak bersedia membantu dirinya ?"
"Aku harus membantu orang yang berhati baik saja, kalau orang jahat tak sudi kubantu"
"Dia toh orang baik" jawab pria tato sembilan naga sambil tertawa. Ucapannya begitu meyakinkan dan sama sekali tidak bersipat paksaan, seakan-akan dia telah mengetahui baik buruknya tabiat sianak muda itu.

"Darimana engkau bisa tahu kalau dia adalah orang baik dan bukan orang jahat ?" tanya Thian-
hong pangcu lagi.
"Aku merasa bahwa dia adalah orang baik maka dia pasti orang baik, apa yang mesti dibicarakan lagi ?"
Thian-hong pangcu tahu bahwa pembicaraan ini bila diteruskan lebih jauh maka sampai di
manapun pembicaraan tersebut tidak akan menjadi jelas, terpaksa ia menggeleng dan berkata.
"Tapi aku merasa "
"Kenapa ? Apakah engkau beranggapan bahwa dia bukan orang baik ?" tukas pria bertato sembilan naga dengan mata melotot dan nada penuh kegusaran-
Rupanya asal Thian-hong pangcu anggukkan kepalanya, maka ia segera akan turun tangan-
Sekilas perasaan yang sangat aneh berkelebat diatas wajah Thian-hong pangcu, sambil memandang awan yang melayang di angkasa gumamnya. "Mungkin saja dia orang baik "

Nadanya aneh dan membuat orang tak dapat menebak perasaan hatinya pada saat itu sebenarnya sedih atau gembira, murung atau gusar.
Mungkin jago perempuan yang aneh dan menggetarkan dunia persilatan ini telah menjumpai persoalan paling sulit yang belum pernah dihadapinya dan tak dapat dipecahkan oleh kekuatan ilmu serta kecerdasan otaknya.
Jalan pikiran pria bertato sembilan naga sederhana sekali, tentu saja ia tak dapat berpikir sejauh itu, yang diharapkan olehnya hanya mendengar orang lain mengatakan bahwa Gak In Ling adalah orang baik, sebab hal itu sudah cukup memuaskan hatinya. Sambil tertawa ia segera memuji.

"Wah wah wah aduh, nona, kau memang pintar dan hebat sekali, bukan saja pandai melihat orang rupanya engkaupun mempunyai kepandaian yang sangat lihay didalam mengenal watak orang seperti halnya dengan diriku "
Pada waktu itu pikiran Thian- hong pangcu sedang amat kacau, apa yang diucapkan pria bertato sembilan naga tak sepatah katapun yang terdengar olehnya, ia cuma tertawa tawa saja sebagai pengganti jawaban-

Suasana dalam kalanganpun berubah jadi hening dan sunyi sekali ketika itulah tiba-tiba Gak In Ling membuka matanya kembali, wajahnya yang semula pucat pias kini telah pulih kembali jadi kemerah-merahan, rupanya luka dalam yang sedang diderita olehnya telah sembuh kembali seperti sedia kala.
Setelah meloncat bangun dari atas tanah, Gak In Ling menyapu sekejap kearah kedua orang itu dengan pandangan hambar, lalu berkata.
"Aku rasa sudah lebih dari cukup bila ada kalian berdua yang melakukan perlindungan terhadap orang-orang gila, aku... "

"Gak In Ling," sela Thian-hong pangcu dengan gelisah, "obat yang engkau telan barusan, apakah... apakah... " dia ulangi perkataan itu sampai beberapa kali namun tiada keberanian untuk mengutarakan lebih lanjut, dari balik matanya yang jeli terpancar keluar perasaan yang sedih, murung dan tidak tenang.
Gak In Ling menghela napas panjang, sambungnya "obat itu bukan lain adalah cui-sim-wan, obat penghancur hati "
"Cui-sim-wan ?" jerit Thian-hong pangcu dengan badan gemetar keras. "Gak In Ling, bukankah engkau telah menghancurkan dirimu sendiri ?" suaranya tajam dan penuh mengandung nada teguran-

Sementara itu pria bertato sembilan naga cuma bisa mengawasi kedua orang itu dengan mata melotot, sebentar ia menoleh kearah Gak In Ling sebentar lagi berpaling kearah dara baju putih itu, rupanya dia tidak tahu apakah yang disebut obat penghancur hati itu. Gak In Ling tertawa hambar.
"Di dalam kolong langit hanya benda itulah yang bisa memulihkan kembali tenaga dalamku untuk sementara waktu."
Bicara sampai disitu ia putar badan dan berangkat kedalam lembah sebelah kanan-Dengan cekatan pria bertato sembilan naga meloncat kesisi sianak muda itu serunya. "Hey, engkau hendak pergi kemana ?"
"Tuh, pergi kesitu." sahut Gak In Ling sambil menuding kearah lembah, sementara kakinya sama sekali tidak berhenti.
"Bagus, akupun hendak mengikuti dirimu " tanpa banyak bicara pria tadi mengikuti disamping pemuda tersebut.

Melihat pria kasar itu mengikuti dirinya, dengan serentak Gak In Ling berhenti berjalan, sambil menggeleng, katanya.
"Lembah ini disebut lembah pemutus nyawa, dan tersohor sebagai tempat yang paling berbahaya dikolong langit, kalau toh tiada seseorang yang hendak kau cari disana, lebih baik jangan ikut masuk"
"Omong kosong... omong kosong" teriakpria bertato sembilan naga sambil menepuk dada sendiri. "Aku simanusia bertato sembilan naga sejak kecil sampai dewasa selalu berdiam dalam
kuburan, setanpun tidak kutakuti apa yang mesti kujerikan lagi apalagi menghadapi
menghadapi bahaya."
(Bersambung ke Jilid 4)

Selengkapnya......