Jilid 6 : Membebaskan Buddha Antik asli dari kurungan  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe

Jilid 6 : Membebaskan Buddha Antik asli dari kurungan
MENGHINDARKAN diri, balas menyerang semua dilakukan pada saat yang bersamaan dan menggunakan kecepatan yang luar biasa sekali, bukan saja angin pukulan terasa menderu- deru bahkan amat menyilaukan mata, hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini sama sekali tidak berada dibawah Gak In Ling.
Si anak muda itu sendiri juga tak menyangka kalau tenaga dalam serta gerakan jurus yang dimiliki orang itu telah mencapai puncak kesempurnaan, karena bertindak gegabah dengan cepat ia terjerumus dalam posisi yang terdesak hebat.

Setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin, semangat tempur Kongsun To berlipat ganda, jurus demi jurus dilancarkan tiada hentinya membuat orang lain tak mampu melancarkan serangan balasan-
Diatas kening Leng In poocu mulai dibasahi eleh keringat dingin, ia bukan menguatirkan keselamatan dari Gak In Ling, sebaliknya menguatirkan kekalahan sianak muda ini bisa mengakibatkan dirinya akan terkurung untuk selamanya ditempat itu atau bahkan menemui ajalnya ditangan Kongsun To.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertempur sebanyak puluhan jurus, dengan dilangsungkannya pertarungan ini maka peredaran darah dalam tubuh pemuda itu beredar semakin kencang, itu berarti kadar racun yang mengeram dalam tubuhnya ikut menyebar semakin cepat, ketika secara tiba-tiba pemuda itu merasakan perubahan didalam tubuhnya, ia merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Kalau pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, mungkin aku benar- benar akan menderita kekalahan-"
Berpikir sampai disitu, ia segera membentak keras. "Tunggu sebentar " Sambil berseru dia loncat keluar dari gelanggang.
Kongsun To mengira Gak In Ling sudah menyadari bahwa dia bukan tandingannya dan minta berhenti, sebagai orang yang berakal licik dan pada dasarnya memang tiada bermaksud menghabisi nyawa Gak In Ling, dengan cepat ia tarik kembali serangannya dan loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula, serunya dengan wajah mengejek. "Engkau jeri ?" Gak In Ling tertawa dingin-
"Karena aku merasa tak mampu membinasakan dirimu, maka aku suruh engkau berhenti bertempur "
Kong sun To berdiri tertegun setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan bimbang.
"Perkataanmu itu kau ucapkan untuk siapa?" Jelas ia merasa tak mengerti dengan ucapan lawannya, sebab ditinjau dari situasi pertarungan yang dihadapinya, Gak In Ling terdesak dibawah angin-
"Tentu saja kuucapkan bagimu " sahut sang pemuda.
"Haahaa sekarang aku sudah paham, engkau tentu merasa takut menderita kekalahan ditanganku sehingga malu bertemu dengan orang- lain ?"
"Hmm, pikiran seperti itu masih terlalu pagi untuk diungkapkan-" sambil berkata sianak muda itu segera ayunkan telapak tangannya yang berwarna merah dan berseru sambil tertawa dingin. "coba engkau lihatlah ini"
Kongsun To menengadah ke atas, setelah mengetahui apa yang terlihat dengan ketakutan ia mundur selangkah ke belakang, airmukanya berubah hebat, lama sekali baru pulih kembali dalam ketenangan-
"Gak In Ling" katanya kemudian dengan suara menyeramkan- "Bila kita sampai berjumpa lagi dikemudian hari, mungkin akan kugunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk merebut kemenangan dari tanganmu "
"Hmm " Gak In Ling mendengus dingin. "Bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, mungkin engkau tak akan punya waktu untuk menggunakan benda-benda racunmu itu." habis berkata ia segera berjalan menghampiri Leng In poocu, sementara Kongsun To sendiri tercekam dalam kebimbangan dan kebingungan-
Dua kali dentingan nyaring menggema diang kasadan dua batang rantai bajapun putus jadi dua bagian, Leng In poocu serta seorang kakek berjubah padri berambut panjang dan bermuka penuh tato segera bebas dari belenggu, diantara ketiga orang itu hanya kakek bercodet saja yang belum menyanggupi untuk menerima syarat apapun dari Gak in Ling.
Rambut yang panjang hampir menutupi wajah mereka, kecuali perbedaan pakaian yang dikenakan, hampir boleh dibilang tiada perbedaan lain yang terdapat diantara orang-orang itu.
Dengan pandangan yang tajam Leng In poocu menatap tajam wajah Gak In Liig kemudian berkata.
"Gak-heng, sekarang engkau boleh ajukan syarat yang kau kehendaki."
Gak In Ling memandang sekejap kearahnya dengan pandangan hambar, lalu menggeleng. "Aku tidak mempunyai permintaan apa-apa terhadap dirimu "
sahutnya dengan tenang. "Apakah engkau tidak merasa terlalu rugi?"
Sekali lagi Gak In Ling menggeleng setelah menyapu sekejap sekeliling ruangan itu. "Aku sama sekali tidak mempunyai jalan pikiran seperti itu." setelah berhenti sebentar, tiba-tiba tegurnya dengan suara dingin. "Buddha Antik berada dimana ?"
"Akulah Buddha Antik "jawab kakek berjubah padri dan wajah penuh codet itu sambil maju selangkah kedepan.
Mendengar jawaban itu Gak In Ling melengak, ditinjau dari sudut manapun juga ia tidak berhasil menemukan suatu persamaan apapun antara Buddha Antik yang berada dihadapannya saat ini dengan Budha Antik yang pernah dijumpainya belum lama berselang. Ia jadi sangsi dan tanyanya dengan ragu. ^
"Sebenarnya dalam dunia persilatan semua terdapat berapa orang Buddha Antik ?"
"Buddha Antik hanya aku seorang "jawab padri bermuka codet sambil menghela napas.
"Tidak. aku pernah berjumpa dengan Buddha Antik kedua," sahut Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya, "bersediakah taysu memperlihatkan telapak tanganmu kepada aku ?"
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benakpadri bercodot itu, pikirnya didalam hati.
"oraag yang dia temui mungkinkah dirinya." Ingatan tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya, ia segera maju kedepan dan secara sukarela memperlihatkan lengan kanannya kepada sia nak muda itu.
"Mungkin siau-sicu pernah menyaksikan raut wajahku pada masa yang lampau..." tanyanya dengan suara berat.
Gak In Ling menyapu sekejap lengan kanan Buddha Antik, kemudian dengan hati kecewa menggeleng
"Terima kasih taysu." katanya.
Buddha Antik tarik kembali lengan kanannya dan berkata lagi dengan suara berat.
"Raut wajahku sudah hampir lima belas tahun lamanya dirusak orang, mungkin selama lima belas tahun belakangan ini raut wajahku yang lampau telah melakukan banyak kejahatan dan perbuatan terkutuk... aaaaiii... "
Gak In Ling tidak menggubris padri bermuka codet lagi, dengan hati. kecewa ia berjalan kehadapan Kongsun To dan berkata. "Berikan obat pemunah bagianku itu "
Dengan gerakan yang cepat dan cekatan Nabi racun Kongsun To mengambil keluar sebutir pil berwarna hitam diantara botol-botol obatnya, siapapun tak sempat dari botol manakah dia mengambil obat tersebut, dari sini dapat dinilai betapa licik dan berhati- hatinya orang ini.
Tanpa ragu-ragu ataupun berpikir panjang Gak In Ling menelan obat itu kedalam perut.
Melihat sikap sang pemuda yang begitu gegabah, Kongsun To dengan wajah tercengang segera menegur.
"Apakah engkau tak takut aku main gila dengan dirimu ?" "sekalipun aku takut juga tak ada gunanya."
"Haa haa , perkataanmu memang benar, dan engkau memang pemuda yang amat
cerdik." seru Kongsun To sambil tertawa.
Pada saat itulah tiba tiba dari sisi kanan berkumandang datang suara langkah manusia yang lirih, baru saja Gak In Ling hendak berpaling, tiba-tiba Kongsun To berteriak keras.
"Roboh kalian semua, bangsat"
Tidak terlihat bagaimanakah ia menggerakkan tubuhnya, dari balik ruangan berkumandang dua kali dengusan berat.
Menanti Gak In Ling putar badan, maka terlihatlah dalam ruangan itu sudah bertambah dengan dua sosok mayat, disisinya tampak nasi dan sayur berserakan diatas tanah, rupanya kedua orang itu adalah petugas pengantar makanan dari lembah itu. Leng In poocu tertawa dingin.
"Kongsun-heng, cepat amat gerakan tubuhmu." ejeknya.
"IHee hee... terima kasih, terima kasih, sayang aku telah menumpahkan santapan enak kalian berdua." seru Kongsun To pula sambil tertawa dingin.
Gak In Ling segan mendengarkan cekcok dan ribut diantara manusia-manusia aneh itu, setelah menyapu sekejap kearah dua sosok mayat yang terkapar dilantai tanah, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, kepada Nabi racun itu segera serunya. "Bagaimana dengan syarat-syarat yang
lain-"
"Hm jangan terburu napsu, aku tokh belum lolos dari kurungan," sambung kakek licik itu dengan cepat.
"Hm Engkau jangan lupa, bahwa pada saat ini engkau masih berada didaratan Tionggoan." setelah berhenti sejenak. dengan nada memerintah serunya kembali.
"Sekarang engkau harus memunahkan lebih dahulu racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu."
"Gak-heng" seru Leng In poocu sambil tertawa. "aku lihat engkau sangat menguatirkan sekali keselamatan mereka, hubungan persahabatan semacam ini sungguh jarang kutemui dikolong
langit."
Walaupun Gak In Ling dapat menangkap maksud dari ucapan Leng In poocu namun ia tidak membantah ataupun mengakui, hanya ujarnya sambil tertawa hambar.
"Setiap umat persilatan di kolong langit wajib menguatirkan keselamatan mereka, demikian pula dengan diriku."
Dari salah seorang korbannya yang terkapar mati diatas tanah, Kongsun To melepaskan jubah panjang yang dikenakan dan segera dipakai di badan, setelah itu ujarnya.
"Baiklah, mari sekarang juga kita berlalu dari sini " tanpa menanti yang lain lagi ia berjalan lebih dahulu menuju keluar.
Leng In poocu segera menyusul dibelakangnya, sedangkan Buddha Antik berada dipaling belakang.
Setelah berjalan beberapa langkah dan tidak melihat Gak In Ling mengikuti di belakang mereka, Buddha Antik segera menghentikan langkahnya dan berpaling. "Sicu, engkau tidak ikut keluar ?" tegurnya
"Tidak- aku ingin berhenti sebentar lagi di sini." sahut sang pemuda setelah melirik sekejap kearah gua bagian dalam.
Buddha Antik gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang.
"Lembah Toan-hun-kok adalah sarang naga gua harimau, dengan tenaga gabungan Kongsun To, Leng In poocu serta aku, akhirnya kami masih tertawan juga oleh mereka, apalagi sicu hanya seorang diri. Siau-sicu, aku harap engkau suka bertindak hati-hati dan jangan menempuh bahaya dengan percuma."
Dengan penuh rasa terima kasih Gak In Ling tertawa jawabnya.
"Terima kasih atas perhatian dari taysu, harap taysu suka menasehati kedua orang nona itu cepat-cepat tinggalkan tempat ini, ingatkan mereka bahwa kepentingan umat persilatan jauh lebih penting dari urusan ditempat ini "
"Kalau engkau tidak pergi, masa mereka bersedia pergi dari sini?"
Gak In Ling tartawa tawa "Mungkin mereka berharap. agar aku bisa cepat-cepat mati."
"Aaaah Masa begitu ?" Gak In Ling tidak mengomentari ucapan itu lagi, ia putar badan dan menambahkan-
"Setelah bertemu dengan mereka, taysu akam mengerti dengan sendirinya, sekarang pikiranku sedang kalut dan kacau tak karuan, harap taysu segera tinggalkan tempat ini"
Buddha Antik mengiakan dengan nada berat, ia dapat ikut merasakan bahwa pemuda pemurung ini seolah-olah mempunyai rahasia hati yang tak dapat diberitahukan kepada orang lain akhirnya ia hanya bisa berpesan dengan nada berat.
"Siau-sicu, sebelum melakukan sesuatu tindakan terlebih dahulu pikirlah tiga kali." kemudian tanpa banyak bicara lagi diapun keluar dari ruangan itu.
Baru saja Buddha Antik menarik napas kebebasan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat di hadapan matanya dan serentetan suara yang merdu telah menyusup masuk kedalam telinganya. "Dimanakah Gak In Ling ?"
Suaranya begitu cemas, gelisah dan tidak tenang, dia bukan lain adalah Thian-hong pangcu.
Melihat dara cantik yang berada di hadapannya, Buddha Antik segera membathin dalam hatinya.
"omitohud Gadis ini benar-benar mempunyai kecantikan yang luar biasa sekali " Ia segera balik bertanya. "Kalian sudah menelan obat pemunah?" thian- hong pangcu mengangguk. "Sudah, dimana Gak In Ling ?" tanyanya gelisah. "Masih berada dalam ruangan "
"Kenapa tidak keluar ? Apa yang sedang dilakukan didalam sana ?" tanya perempuan berkerudung merah dengan cepat.
Melihat sikap serta tingkah laku dua orang gadis itu, Buddha Antik kembali berpikir didalam
hati.
"Jika kutinjau dari sikap mereka yang gelisah dan tidak tenang, sedikitpun tidak nampak kalau mereka mengharapkan pemuda itu cepat mati, tapi apa sebabnya pemuda itu berkata demikian?" berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Tempat ini tidak dapat didiami terlalu lama dia suruh aku menyampaikan kepada kalian berdua, katanya demi masa depan dan kesejahteraan umat persilatan lebih baik kalian berdua segera tinggalkan tempat ini"
Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan firasat jelek dalam hati kedua orang gadis itu, dengan perasaan tidak senang thian- hong pangcu segera bertanya.
"Tapi ia tidak akan menerjang masuk kelambung lembah Toan-hun-kok seorang diri, bukan?"
"Aaaiii semoga saja ia dapat merubah rencananya semula." sahut Buddha Antik sambil menghela napas panjang.
Mendengar jawaban tersebut, kedua orang gadis tersebut berseru tertahan, tiba-tiba Thian-hong pangcu berseru sambil menahan isak tangis.
"oh, Gak In Ling, Gak In Ling kau... kau tidak seharusnya pergi menempuh bahaya, kami
belum pernah kami membenci dirimu " sambil berseru ia segera menerjang masuk kedalam
ruangan, diikuti gadis berkerudung merah itu pun menyusul dari belakangnya.
Jeritan yang melengking dan menyayatkan hati itu segera menyayatkan hati Buddha Antik. Nabi racun Kongsun To serta Leng In poocu, dengan cepat mereka memburu kembali kedalam ruangan-
Ketika ketiga orang itu masuk kembali kedalam ruang batu yang mengurung mereka selama hampir lima belas tahun lamanya itu, yang ditemui hanyalah dua orang gadis yang berdiri menjublek dalam ruangan, mata mereka terbelalak dan sukma serasa telah melayang tinggalkan raganya.
Kedua orang itu bukan lain adalah gadis berkerudung merah serta Thian-hong pangcu, dari sikap mereka jelas terlihat bahwa kedua orang itu merasa sedih sekali.
Dengan pandangan yang tajam Leng Inpoo cu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika sorot matanya membentur pada pintu batu disebelah dalam ia segera berseru.
"Gak In Ling seorang diri telah menerobos masuk lembah Toan-hun-kok dan kini sudah berada dilambung bukit, tak ada gunanya kita berdiam terlalu lama ditempat ini "
"Benar "jawab Kongsun To sambil mendengus. "Terlalu lama berada disini, kemungkinan besar kita akan terkurung selama lima belas tahun lagi di dalam gua yang gelap ini."
Selamanya dia tidak akur dengan Leng In poocu, maka dalam pembicaraannya kata-katanya selalu mengandung nada sindiran yang tajam.
Leng In poocu bukan manusia sembarangan tentu saja ia tak sudi menerima kata-kata tersebut dengan begitu saja, serunya.
"Kong-heng, apakah engkau tidak merasa bahwa nyalimupun kecil sekali Tetapi tiap orang mempunyai pandangan yaag berbeda, aku tak berani menahan dirimu terlalu lama, jika Kongsun-heng ingin berlalu dari sini, nah silahkan"
Nabi racun Kongsun To jadi naik pitam, sorot matanya berubah jadi merah berapi, katanya kembali dengan dingin.
"Leng heng, engkau jangan melulu menuduh orang lain saja yang bernyali kecil, kalau mulut sudah terlanjur busuk. macam dirimu itulah keadaannya."
Buddha Antik yang berada disamping lapangan segera menyadari bahwa percekcokan itu bila dilanjutkan maka suatu pertarungan sengit tidak bisa dihindarkan lagi, mengingat diri mereka masih berada dalam sarang naga gua harimau, bila pertarungan benar-benar telah terjadi, itu berarti sama halnya dengan menggali Ling kabur buat diri sendiri. oleh sebab itu buru-buru ia menasehati.
"Kalaupun kalian berdua mempunyai pendapat yang saling berbeda, aku percaya bahwa pendapat itu tak akan lebih memalukan daripada peristiwa terkurungnya kita ditempat ini sejak lima belas tahun berselang, entah bagaimanakah pendapat kalian atas ucapanku itu ?"
Baik Kongsun To maupun Leng In poocu sama-sama merasakan hatinya terperanjat setelah mendengar perkataan itu, mereka saling bertukar pandangan sekejap lalu menjawab. "Perkataan taysu tepat sekali "
Buddha Antik tersenyum, sambil berpaling kearah Thian-hong pangcu ujarnya dengan suara berat.
"Pangcu, menurut pendapatku lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini "
"Dari jalan yang manakah Gak In Ling masuk kedalam lambung lembah Toan-hun-kok ?" bukannya menjawab Thian-hong pangcu malah balik bertanya, suaranya penuh kepedihan dan entah sedari kapan airmata telah membasahi pipinya.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, dengan wajah serius segera ujarnya.
"Gak sicu berulang kali menyatakan kepadaku, bahwa pangcu adalah seorang pemimpin umat persilatan didaratan Tionggoan, ia menganjurkan agar pangcu sagera tinggalkan tempat ini, perhatian yang dia berikan terhadap diri pangcu tidak berada dibawah perhatian pangcu atas dirinya, jikalau pangcu bersikeras untuk memasuki lambung lembah, bukankah itu berarti bahwa engkau menyia-nykkan maksud baik Gak sicu ?"
Senyum getir terlintas diatas wajah Thian-hong pangcu, sambil gelengkan, kepala ia menjawab.
"Ia bukan menguatirkan diriku, bukan menaruh perhatian kepadaku, tapi umat persilatan yang ada dikolong langit... "
"Hm tak kusangka bocah keparat itu masih mempunyai parasaan suci seperti itu " pikir Kongsun To didalam hati. Sebaliknya Leng In poocu berpikir lain-
"Hm, rupanya bocah she Gak itu adalah seorang pendekar yang berjiwa besar.. "
cuma pikiran semacam itu hanya sebentar saja berkelebat dalam benak mereka untuk kemudian lenyap tak berbekas, sebab mereka masing-masing mempunyai cara berpikir sendiri-sendiri.
"Apakah pangcu bersikeras akan memasuki lembah ini ?" tanya Buddha Antik kembali. "sedikitpun tidak salah, dimanakah pintunya ?"
"Aku sendiripun tak tahu ia lewat pintu yang mana" jawab padri bermuka codet itu sambil menggeleng, sambil menuding kearah dua sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, dia melanjutkan-
"Mungkin sewaktu kedua orang ini masuk kedalam ruangan tadi, pintu masuknya telah terlihat olehnya."
"Kalau ada pintu, kita pasti akan berhasil untuk menemukannya." sela perempuan berkerudung merah secara tiba-tiba. "Silahkan kalian bertiga segera tinggalkan tempat ini "
Selesai berkata ia segera maju kedepan dan rupanya sedang mencari letak pintu masuk rahasia
itu.
"Li sicu berdua, bagaimanakah pendapat kalian tentang tenaga dalam yang kumiliki ?" tanya Buddha Antik secara tiba-tiba.
Thian-hong pangcu tertegun mendengar pertanyaan itu, setelah sangsi sejenak jawabnya. "Boleh dibilang jago paling lihay dalam dunia persilatan " Bhuddha Antik mengangguk. ujarnya kembali.
"Tetapi dengan tenaga gabungan kami bertiga, akhirnya tokh kami terkurung juga selama lima belas tahun dalam gua ini. Ilmusilat yang dimiliki majikan tempat ini luar biasa sekali dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, oleh karena itu menurut dugaanku seandainya majikan tempat ini tidak berhasrat membunuh Gak In Ling keadaan mungkin mendingan, kalau ia bermaksud membinasakan dirinya, mungkin pada saat ini Gak sicu telah mendingin."
Meskipun tujuan dari ucapan itu hanya menakut-nakuti dua orang gadis tersebut, namun dalam kenyataan begitulah adanya.
Tapi sayang, bukan saja ucapan itu tidak mendatangkan hasil apapun, sebaliknya malah makin mempertebal niat kedua orang gadis itu untuk menemukan Gak In Ling.
"sekalipun dia sudah mati, kami harus menemukan jenazahnya." ujar Thian-hong pangcu
Selesai berkata ia berjalan menuju kearah yang berlawanan dari perempuan berkerudung merah itu, dan diatas dinding batu ia berusaha menemukan pintu rahasia tersebut.
Buddha Antik yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghalangi niat kedua orang gadis tersebut masuk kedaiam lembah Toan-hun-kokpun mengalami kegagalan totai, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya akhirnya ia cuma bisa menghela napas sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Leng In poocu memandang sekejap kearah dua orang gadis itu tiba-tiba ia berkata.
"Jikalau kailan mencari dengan cara begitu maka sampai hari geiappun belum tentu jalan masuk itu berhasil ditemukan, menurut pendapat ku lebih baik kailan masuk lewat mulut gua yang pernah kita lalui lima belas tahun yang lampau, sebab kemungkinan berhasiljauh lebih besar."
Dalam pada itu Thian-hong pangcu berdua memang sedang putus asa karena tidak berhasil menemukan suatu tanda yang menunjukkan disana ada pintu rahasia, mendengar ucapan tersebut mereka segera hentikan pekerjaannya dan bertanya. "Berapa jauh letaknya dari tempat
ini ?"
"Kita harus melewati bukit ini lebih dahulu, menurut perhitungan dari kekuatan langkah kita mungkin tidak sampai setengah jam kita bisa mencapai tempat itu." Buddha Antik yang ikut mendengar perkataan itujadi tertegun, pikirnya.
"Pada lima belas tahun yang lalu terang-terangan kami masuk lewat dari tempat ini, masa dibelakang gunung sanapun ada tempat masuk ?" Sebaliknya Kongsun To sambil tertawa dingin pikirnya.
"Aku orang she Kongsun tak pernah berpikir bahwa siasat mengelabui langit menyebrangi sungai ini bisa digunakan untuk menghadapi dua orang gadis cilik ini, dia memang licik"
Pada waktu itu Thian-hong pangcu berdua sedang bingung dan pikirannya kalut, mereka tak berpikir lebih jauh, setelah gagal menemukan jalan masuk maka harapannyapun digantungkan pada petunjuk dari Leng in poocu.
"Kalau begitu mari kita berangkat" serunya kemudian. Leng In poocu tertawa.
"Menolong orang bagaikan menolong api, mari kita berangkat sekarang juga " habis berkata ia berjalan lebih dahulu tinggalkan ruangan ini disusul dua orang gadis itu dan paling depan adalah Kengsun To.
Sedangkan Buddha Antik sendiri setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia menyadari akan sesuatu, sambil mengangguk ia menghela napas panjang.
"Omitohud Mungkin perbuatan itu merupakan tindakan bajik pertama yang pernah dilakukan
Leng sicu selama hidupnya " iapun melangkah keluar dari ruangan itu dan menyusul rekan-rekan
lainnya.
OodwoO

Sekarang marilah kita kembali kepada Gak In ling, setelah Buddha Antik tinggalkan ruangan tersebut, ia segera masuk kelorong batu.
Gak In Ling adalah seorang pemuda cerdas. la bukannya tidak tahu kalau lembah Toan-hun kok sarang naga gua harimau, bila ia masuk kedalam seorang diri maka itu berarti menghantar kematian bagi diri sendiri.
Tetapi Buddha Antik adalah satu-satunya titik terang yang berhasil ia temukan sejak munculnya dalam dunia persilatan, lagipula dalam kehidupan yang terbatas, ia tak mau melepaskan titik terang yang berhasil diperolehnya itu dengan begitu saja, sebab untuk mencari titik terang ke dua bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.
Maka tanpa berpikir panjang lalu dia mengambil keputusan untuk memasuki lembah Toan-hun kok yang merupakan sarang naga gua harimau itu untuk menemukan Buddha Antik, titik terang yang berhasil ia temukan untuk memecahkan rahasia yang memusingkan kepalanya itu.
Ketika Gak in Ling baru saja melangkah masuk kedalam lorong batu itu sejauh empat lima depa, tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara ledakan yang amat keras bagaikan ambruknya bukit karang.
Tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkahnya, dalam waktu singkat itulah sebuah pintu besar yang terbuat dari batu cadas telah menyumbat jalan mundur pada lorong rahasia itu.
Menyaksikan kesemuanya itu, Gak In Ling tertawa dingin.
"Sekalipun kalian menyumbat semuanya jalan mundurku juga tak apa, sebab sebelum lembah Toan-hun-kok berhasil kumusnahkan tak nanti aku orang she Gak tinggalkan tempat ini.
Dengan wajah yang teguh dan serius, ia me lanjutkan perjalanannya masuk kedalam gua.
Baru saja pemuda itu maju beberapa langkah kedepan, tiba-tiba disisi telinganya berkumandang datang suara teguran seseorang yang terasa amat dikenal olehnya.
"Gak In Ling, sudahkah engkau pertimbangkan akibat serta resiko yang bakal kau terima ?"
Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan itu, pikirnya.
"Suara orang itu amat kukenal, seakan-akan aku pernah mendengarnya disuatu tempat tapi siapakah dia ?"
Untuk beberapa lamanya ia tak dapat menduga siapakah orang itu.
Dengan penuh perhatian Gak In Ling mengamat-amati asal suara yang muncul secara tiba-tiba itu, ia menemukan dinding lorong itu licin dan rata sekali, disana sini terdapat lubang-lubang kecil seperti sarang lebah, jelas suara tersebut berasal dari pancaran lewat lubang-lubang kecil tersebut.
"Suaramu amat kukenal," seru Gak In Ling kemudian, "aku ingin tahu engkau sahabatku atau musuhku ?"
"DidaLam dunia yang kejam dan brutal ini siapa yang kuat akan menindas yang lemah, tiada kawan atau lawan dalam keadaan seperti ini, lebih baik engkau tak usah berpikir yang bukan-bukan." jawab orang itu ketus. Gak In Ling kembali tertawa dingin-
"Hee... hee itu tokh menurut pandanganmu, sayang pendapatku berbeda sekali, bagiku
dikolong langit ini kalau bukan sahabat dia tentulah lawan"
"Haa haa baiklah, kalau engkau bersikeras dengan pandanganmu itu, biarlah aku turuti
kemauan mu itu, kemungkinan besar aku adalah musuhmu"
Habis berkata orang itu menghela napas panjang, suaranya lama sekali mengalun dalam ruangan tersebut.
Dari pembicaraan orang itu, Gak In Ling tahu bahwa banyak bicara tak ada gunanya, maka sambil tertawa seram serunya kembali.
"Dimanakah aku bisa bertemu dengan dirimu sehingga kita bisa langsungkan pertarungan yang menentukan mati hidup kita berdua ?"
"DidaLam lima li kabut dan awan, aku akan bertemu dengan dirimu "jawab orang itu hambar. Setelah berhenti sebentar ujarnya kembali.
"Sewaktu engkau melewati altar pesan terakhir, aku harap engkau bisa tinggalkan beberapa pesan terakhir ditempat itu, walaupun belum tentu bisa kulakukan pesan terakhirmu itu, tetapi di dalam lingkaran yang memungkinkan aku pasti akan berusaha untuk memenuhi keinginanmu itu" selesai berkata ia menghela napas lagi dengan suara berat, suara itu kian lama kian lirih dan akhirnya lenyap dari pendengaran-
Tercekat hati Gak In Ling mendengar perkataan itu, dari ucapan orang tadi ia tahu bahwa orang tersebut sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti dirinya, itu berarti perjalanannya lebih banyak bahaya daripada rejeki.
Dari balik mata Gak In Ling tiba-tiba memancar keluar cahaya yang menggidikan hati, pikirnya dengan gemas.
"Hmm Sekalipan aku orang she Gak ada pesan terakhir, juga tak akan kuutarakan sehingga kalian manusia-manusia laknat mengetahuinya."
Dengan dada yang dibusungkan dan langkah yang tegap. ia lanjutkan perjalanan menuju kedalam
Lorong batu yang gelap dan lembab penuh mengandung suasana yang mengerikan, untung perasaan danpikiran Gak In Ling pada saat ini sedang dibakar oleh kemarahan, dia hanya tahu membalas dendam dan tidak memperdulikan hal lainnya lagi, kalau tidak. kendatipun nyalinya besar, sedikit banyak bulu kuduknya akan bangun berdiri.
Lorong batu yang sempit seakan-akan tiada akhirnya, dengan kedepan tubuh Gak In Ling, sekalipun sudah melakukan perjalanan selama sepertanak nasi masih belum menemukan sedikit cahayapun, seperti juga ketika datang untuk pertama kalinya di tempat itu, ia sama sekail tak bisa menduga harus berjalan berapa lama lagi baru tiba ditempat tujuan ?
Tapi ada satu hal yang aneh, selama Gak In Ling melakukan perjalanannya kecuali suara manusia yang didengarnya tadi, ia tidak menemukan apa-apa lagi, diantaranya pada tikungan-tikungan yang sempit dan terjal di mana merupakan tempat yang strategis untuk memasang jebakan, diapun tidak menemukan gangguan apapun.
Mungkin hal ini disebabkan karena mereka tak memandang sebelah matapun terhadap Gak In Ling, mungkin juga karena mereka yakin bisa merebut kemenangan maka mereka tak ada perlunya untuk memasang jebakan disana.
Pokoknya, kesunyian serta keheningan seperti ini sama sekali tidak menguntungkan bagi Gak In Ling.
Kembali sianak muda itu membelok pada tiga buah tikungan, tiba-tiba pandangan matanya jadi silau, ia telah sampai didalam sebuah ruang kecil yang empat dindingnya bertaburkan ratna-mutu manikam yang beraneka warna, suasana jadi terang-benderang dan amat menyilaukan mata. Gak ln Ling tertawa dingin, pikirnya. "Hm, akhirnya sampai juga ditempai tujuan... "
Sementara ia berpikir, sorot matanya telah terbentur dengan sebuah meja batu yang kecil serta sebuah kursi batu kecil ditengah ruangan, di-atas meja terteralah kertas dan alat menulis, kecuali itu tiada apapun yang terlihat.
Gak In Ling segera mendekati meja batu itu, pada permukaan meja yang licin terukirlah beberapa huruf yang besar yang berwarna merah darah. "Tinggalkan pesan terakhir ditempat ini"
Tulisan tersebut seketika memancing rasa gusar dalam dada Gak In Ling, kakinya dengan cepat melancarkan sebuah tendangan kearab meja batu itu.
"Braaak " ditengah benturan yang sangat keras, meja batu itu seketika hancur berantakan, kertas dan alat tulispun tersebar diatas tanah.
Pada saat itulah, suara yang pernah didengar tadi kini muncul kembali dari balik dinding.
"Aaii... engkau terlalu tekebur dan sombong... "
Tertegun hati Gak in Ling setelah mendengar ucapan itu, segera pikirnya didalam hati. "oh
rupanya semua gerak-gerikku selalu berada daLam pengawasan orang ini."
Napsu membunuh seketika bangkit, sambil menatap tajam kearah mana berasalnya suara itu bentaknya keras.
"Sebenarnya jarak dari sini menuju ketempat pertemuan diantara kita berdua masih seberapa jauh ? Hmm Main gila dari balik dinding dan menakut-nakuti orang dengan omong besar, engkau anggap perbuatanmu itu bisa membikin aku orang she Gak jadi ketakutan?"
"Selama ini engkau belum pernah mempertimbangkan tindakanmu itu d engan pikiran serta hati yang tenang, apa salahnya kalau engkau pertimbangkan kembali tindakanmu ini?" ujar suara itu kembali. Gak In Ling tertawa dingin-
"Sebelum aku masuk kemari, jika tidak ku pertimbangkan lebih dahulu, tidak nanti akan ku lakukan tindakan seperti ini "
"Apakah engkau tidak merasa perlu untuk mempertimbangkan sekali lagi ?"
"omong kosong "
"Baiklah kalau begitu Lima puluh tombak disebelah depan sana merupakan Ngo-li-in-wu lima li kabut dan awan- Nah, kita berjumpa lagi disana." habis berkata terdengarlah suara "Krek" diikuti gemerincingnya ramai dan muncullah sebuah pintu rahasia diatas dinding ruangan itu.
Gak In Ling tarik napas panjang, selangkah demi selangkah dia berjalan masuk kedalam pintu rahasia tersebut.
Walaupun airmukanya tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perubaban apapun, tetapi hati kecilnya merasa amat tegang, sebab pada saat ini musuh berada dalam gelap sedangkan dia terang, setiap saat mara bahaya bakal mengancam keselamatan jiwanya.
Baru saja GakIn Ling melangkah masuk ke dalam ruangan itu, pintu batu dibelakang tubuh nya secara otomatis telah menutup kembali.
Angin dingin berhembus lewat dari arah depan, kabut yang tipis mulai menyeiimut seluruh lorong, udara ditekelihng tempat itu lembab dan basah sekali.
"Mungkin tempat inilah yang dimaksudkan lima li kabut dan awan-" pikir sianak muda itu di dalam hati.
Ia percepat langkah kakinya dan menerjang maju kedepan.
Semakin kedalam ia berjalan, kabut yang menyelimuti sekitar tempat itu bertambah tebal, dari terang suasana jadi gelap. cahaya yang memancar masukpun terasa semakin lemah.
Gak In Ling mengerahkan segenap daya penglihatannya untuk mengamati suasana disekeliling tempat itu, tetapi pemandangan yang mampu tercapai olehnya hanya dalam lingkungan dua-tiga depa belaka, lebih dari itu yang terlihat hanyalah kabut putih.
Pada saat itu Gak In Ling telah masuk ke dalam sebuah lapangan, kabut yang menyelimuti tempat itu jauh lebih tebal dari tempat manapun, ketajaman matanya hanya mampu menangkap benda-benda yang berada pada jarak satu tombak belaka.
Perlahan-lahan Gak in Ling menghentikan langkahnya, dengan waspada dan sangat hati-hati dia awasi sekeliling tempat itu.
Mendadak dari arah belakang muncul suara yang amat lirih, begitu lirih suaranya seakan-akan seuntai daun yang rontok dari tangkainya.
Ketajaman pendengaran yang dimiliki Gak In Ling luar biasa sekali, apalagi setelah ia berada didalam sarang naga gua harimau, kewaspadaannya dipertingkat hingga mencapai tingkatnya, tentu saja suara yang lirih itu tak lolos dan pengawasannya.
Begitu suara lirih itu tertangkap oleh pendengarannya, laksana kilat Gak In Ling putar badannya, tapi apa yang dilihatnya seketika mencekatkan hati sianak muda itu, air mukanya berubah hebat.
Kurang lebih lima depa dihadapan Gak In Ling berdirilah seorang kakek berjubah kuning yang usianya antara lima puluh tahunan, cukup di tinjau dari sorot matanya yaag tajam dapat diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang jauh berada diatas kepandaian Hiat-mo-ong.
cuma bukan kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang itu yang mengejutkan hatinya...
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang dan berusaha menekan pikiran serta perasaannya yang bergolak keras, ia maju kedepan dan memberi hormat, katanya. "Keponakan menghunjuk hormat untuk ong supek."
"Hmm, bukankah engkau sudah katakan tadi, kalau bukan sahabat tentu lawan, aku bukan sahabatmu, dengan sendirinya merupakan musuh mu, sebutan supek tak berani kuterima lagi." kata kakek jubah kuning dengan dingin.
Rupanya orang ini bukan lain adalah manusia yang berada dalam lorong rahasia serta berulang kali memberi nasehat kepada sianak muda itu.
Merah jengah selembar wajah Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan lirih.
"Tadi keponakan masih belum tahu kalau orang itu adalah supek."
"Hm. Sekalipun sudah tahu juga sama saja keadaannya, karena bagaimanapun juga dalam kenyataan bukan sahabatmu "
"Tetapi. ... engkau juga bukan musuhku, bukan?" seru Gak In Ling tanpa terasa dengan hati terkejut.
Kakek jubah kuning itu segera tertawa dingin. "Bukan ?justru akulah musuhmu" jengeknya sinis.
Tanpa sadar Gak In Ling mundur selangkah kebelakang dengan hati terkesiap. sambil menatap kakek jubah kuning itu dengan wajah hijau membesi, serunya kembali. "Lalu di manakah ibuku dan enciku ?"
"Hee... hee... hee... mereka telah menjadi tawanan didalam lembah Toan-hun-kok ini" jawab kakek berjubah kuning kembali sambil tertawa dingin.
"Apa ?" ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, begitu menggetarkan hati Gak In ling sehingga membuat pikirannya jadi kabur dan tak sadar, dia merasa otaknya kosong melompong, wajahnya yang semula merah padam kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.
Dalam hati kecil kakek berjubah kuning itu secara lapat-lapat timbul perasaan simpatik dan kasihan, tetapi ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Kesunyian yang mengerikan mencekam seluruh ruangan itu, begitu sepinya sampai kedua belah pihak dapat mendengar detak jantungnya masing-masing. Airmuka Gak In Ling yang pucat pias bagaikan mayat mulai berubah jadi semu merah kembali, dari semu merah berubah jadi merah padam, dari balik sorot matanya yang dingin terpancarlah napsu membunuh serta rasa dendam yang amat tebal.
Dengan langkah yang berat ia maju kedepan menghampiri kakek jubah kuning itu, kemudian dengan suara yang mengerikan ia berkata.
"Keponakan berharap bisa mengetahui sebab-sebab kematian dari ayahku. Aku minta engkau suka mengatakannya kepadaku."
Sikap yang keren serius dan mengerikan itu menggetarkan hati kakek berjubah kuning, tanpa terasa dia mundur dua langkah kebelakang, jawabnya dengan ketus. "Darimana aku bisa tahu ?"
Gak in Ling tertawa dingin.
"Kalau memang begitu dari mana engkau bisa tahu untuk menggabungkan diri dengan pihak Toan-hun-kok ?"
"Darimana engkau bisa tahu kalau aku mengabdi kepada mereka?" seru kakek berjubah kuning dengan airmuka berubah hebat.
"Karena tenaga dalam yang engkau miliki masih belum berhak untuk memimpin segenap kekuatan yang ada didalam lembah ini."
Rupanya ucapan yang pedas dari Gak In Ling ini telah menyinggung perasaan halus kakek berjubah kuning itu, dari balik matanya yang melotot bulat segera memancarkan keluar serentetan cahaya yang amat tajam, dia tatap muka pemuda itu dengan tajam kemudian membentak nyaring.
"Itukah sifatmu terhadap seorang angkatan yang lebih tua daripada dirimu ?"
Sejak Gak In Ling mengetahui kalau ibu serta encinya telah ditawan didalam lembah Toan hun-kok, terhadap supeknya yang semula telah menyanggupi untuk menjaga serta merawat ibu dan encinya ini telah membenci hingga merasuk ketulang sumsum, dalam keadaan begini tentu saja ia tak pernah mengingat tentang hubungan antara angkatan tua dengan angkatan yang lebih muda lagi. Mendengar perkataan tersebut, ia segera menengadah dan tertawa keras, sambil mengertak gigi serunya.
"Angkatan tua ? Haa.. haaa haa.... menjual sahabat mencari pahala, mengingkari janji yang telah diucapkan sendiri, angkatan tua semacam ini buat apa mesti dihormati ? Hm, mengenalpun aku sudah muak dan malu sekali "
Entah dikarenakan ketukan Ling-sim nya atau terpengaruh oleh ucapan Gak In ling yang keras dan tajam, tanpa sadar kakek jubah kuning itu berseru.
"Orang yang membinasakan ayahmu, memaksa dirimu bukan cuma aku seorang.... kau jangan menuduh aku yang bukan-bukan-"
Rupanya dia hendak mencuci bersih semua dosa serta kesalahan yang ditimpakan kepadanya.
Mendengar perkataan itu sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya amat terperanjat, ia segera maju selangkah kedepan dan membentak dengan nada dingin. "Tua bangka sialan, engkau telah apakan ibu serta enciku ? Ayo jawab "
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat orang merasakan hatinya bergetar keras.
Tercekat hati kakek berjubah kuning itu setelah mendengar bentakan tersebut, ia segera tersadar kembali dari lamunannya, dengan perasaan kaget pikirnya.
"Ini hari aku kenapa sih ? Kenapa perasaan dan pikiranku bisa goyah dan selalu merasa tak tenang ? Untung apa yang barusan kukatakan tidak terlalu banyak, kalau tidak akibat yang harus kutanggung benar-benar mengerikan sekali." Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia segera tertawa dingin dan berkata.
"Hee hee hee kalau aku tidak mengatakannya keluar, apakah engkau punya keberanian
untuk menantang aku seorang tua untuk bertarung ?"
Gak In Ling maju dua langkah kedepan, serunya dengan nada yang menggidikkan hati.
"Bukan saja aku akan turun tangan untuk bertempur dengan dirimu, bahkan, akan ku binasakan pula engkau tua bangka berhati binatang yang terkutuk sehingga mayatmu terkapar diatas tanah dalam keadaan yang sangat mengerikan "
Sambil berkata dari balik matanya yang tajam terpancarlah napsu membunuh yang menggidikkan hati.
Setelah berulang kali dicaci maki oleh Gak In Ling dengan kata-kata yang pedas dan tidak sedap didengar, rasa iba dan menyesal yang semula sudah menyelimuti hati kakek jubah kuning itu, tanpa sadar telah lenyap tak berbekas bagaikan asap yang hilang diang kas a, pikirnya didalam hati.
"Kalau membabat rumput tidak sampai ke- akar- akarnya, angin musim semi berhembus lewat rumput itu akan tumbuh kembali, demi keamanan serta keselamatan diriku sendiri, aku harus mulai sekarang mengadakan persiapan-persiapan lebih dahulu."
Teringat akan ancaman jiwa yang mungkin akan menyelesaikan hidupnya, rencana untuk melenyapkan Gak in Ling dari muka bumipun semakin mencekam seluruh pikiran dan perasaannya.
Ia segera tertawa dingin dan berkata.
"Hee hee hee kalau engkau memang begitu tak tahu diri, janganlah kau salahkan kalau aku tak akan teringat akan hubungan kita di masa lalu lagi. Mari, mari.., silahkan kau segera turun tangan."
Sambil berkata diam-diam hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam sepasang telapak tangan dan bersiap siaga menantikan datangnya serangan dari sianak muda itu.
Diam-diam Gak In Lingpun menilai keadaan yang sedang dihadapinya ketika itu, dia tahu kalau pada saat ini kakek baju kuning itu tidak berhasil dikuasai maka sulitlah baginya untuk menyelidiki jejak dari ibu serta encinya.
oleh karena itu setelah mendengar perkataan tersebut tanpa ragu-ragu lagi, dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat kedepan, menggunakan jurus serangan "Lui-tiam-siang-ciau" atau guntur dan kilat menggeletar bersama, laksana petir yang menyambar membelah angkasa ia mengirim sebuah sodokan dahsyat kearak dada serta lambung kakek baju kuning itu, hardiknya.
"Hm, kalau begitu rasakanlah seranganku " Kepandaian silat yang dimiliki kakek jubah kuning itujauh berada diatas kepandaian silat dari ayah ibu Gak In Ling sendiri, tentu saja terhadap datangnya serangan dari sianak muda ini ia tidak pandang sebelah mata.
Tetapi apa yang terjadi kemudian ternyata benar-benar berada diluar dugaannya semula, tatkala dilihatnya serangan yang dilancarkan Gak In Ling cepat bagaikan petir yang menyambar diudara, kakek baju kuning itu tertegun bercampur kaget, pikirnya dengan perasaan terkesiap.
"Sungguh aneh, mengapa gerakan tubuhnya bisa begitu cepat dan dahsyat sehingga mengejutkan hati." sambil berpikir dengan cepat badannya menyusut mundur sejauh lima depa kebelakang, dengan suatu gerakan yang manis ia menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.
Kemudian secepat kilat melancarkan serangan balasan-
Gak In Ling sendiripun mengetahui dengan jelas sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki kakek baju kuning itu, akan tetapi ia tak menyangka dengan usia lawannya yang sudah begitu lanjut ternyata dalam beberapa tahun yang amat singkat berhasil mendapatkan kemajuan yang begitu mengejutkan hati, sehingga membuat sebuah serangannya yang semula diduga akan mendatangkan hasil ternyata mengenai sasaran kosong. Tanpa sadar gerakan tubuhnya jadi agak terlambat.
Tatkala kakek baju kuilog itu mengundurkan diri kebelakang tadi, secara diam-diam hawa murninya telah dihimpun semua kedalam sepasang telapaknya dan setiap saat siap dilancarkan kedepan, dengan melambatnya gerakan tubuh dari Gak In Ling itu justru secara kebetulan telah memberikan peluang yang amat bagus baginya untuk melepaskan serangan mautnya.
Terdengar kakek baju kuning itu membentak. "Bocah keparat Sambutlah pula sebuah seranganku ini "
Dengan menggunakan gerakan "Hong-kian-Cian-in" atau angin berhembus buyarkan awan, sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah sianak muda itu.
Gulungan angin pukulan yang menderu- deru bagaikan berhembusnya angin puyuh menyelimuti daerah seluas lima tombak disekeliling tempat itu, jelas kakek baju kuning itu ada maksud membinasakan lawannya didalam sebuah serangannya.
Meskipun Gak In Ling sendiri belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan dan pengalamannya dalam menghadapi serangan lawan masih cetek. akan tetapi kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika serangan pertamanya tadi gagal mengenai lawannya, ia telah menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya, dalam waktu yang amat singkat itulah suatu cara untuk mengatasi krisis tersebut berhasil ia dapatkan-
Baru saja angin pukulan kakek baju kuning yang amat dahsyat itu hampir mengenai tubuh-nya, mendadak Gak In Ling tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat merendah kebawah, dengan gerakan "To-coan-seng-gi" atau bulan berputar lintang bergeser, badannya melayang kearah kanan dan dengan tepat sekali berhasil menghindarkan diri dari datangnya ancaman angin pukulan yang datang dari arah depan-
Diantara bergeletarnya telapak kanan, secepat kilat ia lancarkan sebuah serangan kembali dengan jurus "Keng-to-liat-an" atau ombak dahsyat retakkan pantai, dan dengan cepat menerobos kearah iga kanan kakek baju kuning itu.
Tindakan tersebut kembali mengejutkan hati kakek baju kuning itu sehingga tanpa sadar ia berseru tertahan, ia tak menduga kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak In Ling jauh lebih lihay daripada dugaannya semula.
Berpikir sampai disini timbullah perasaan ingin menang sendiri dalam hati kakek tua baju kuning itu, terhadap datangnya ancaman dari sisi tubuhnya itu bukan saja ia tidak menghindar, sebaliknya malah menyongsong datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Bagus sekali datangnya seranganmu itu " bentaknya keras.
Bersamaan dengan bentakan itu serangan pertama dibuyarkan diganti dengan gerakan lain, tubuhnya berputar keSamping kiri. Dengan jurus "Lek-peng-ngo gi" atau membumi rata lima bukit, dengan suatu kekuatan yang luarbiasa bagaikan guntur yang membelah bumi disambutnya pukulan dari Gak In Ling itu dengan kekerasan-
Menyaksikan tindakan lawannya ini, napsu membunuh yang amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, ia mendengus dingin dan angin pukulannya secara diam-diam ditambah pula dengan beberapa bagian hawa murninya.
Sementara itu kakek tua baju kuning itu jadi amat girang menyaksikan pemuda itu menyambut datangnya ancaman itu tanpa menghindar, pikirnya didalam hati.
"IHm, bangsat cilik yang tak tahu diri, cahaya kunang-kunang berani diadu dengan cahaya rembulan, rupanya engkau memang sudah bosan hidup dan ingin mencari jalan kematian buat diri sendiri."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak ia merasakan datangnya daya tekanan tak berwujud yang amat berat dan menembusi pertahanan angin pukulan daya kikangnya dan langsung menerjang kearah dada.
Bersamaan itu pula angin pukulan yang dilepaskan olehnya seakan-akan terbentur diatas sebuah dinding baja tak terwujud yang amat kuat, sedikitpun ia tak berdaya untuk menembusinya

Dalam keadaan seperti ini kakek tua baju kuning itu baru menyadari babwa keadaannya sangat berbahaya dan gelagat kurang baik, untuk menghindarkan diri sudah tak sempat lagi, ia segera menjerit tertahan-"Aduh celaka "
Belum habis jeritan itu berkumandang dari mulutnya, angin pukulan yang ia lepaskan telah saling membentur dengan daya kekuatan tak terwujud yang dilancarkan oleh Gak In Ling.
"Blaaaam... " ledakan dahsyat seakan-akan gugurnya bukit karang tertimpa gempa segera menggoncangkan seluruh permukaan bumi disekeliling tempat itu, suara pantulan nyaring menggema tak hentinya sangat memekakkan telinga, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya benturan yang baru saja berlangsung itu.
Ditengah kaburnya suasana karena pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh udara, tubuh kakek tua baju kuning itu secara berturut-turut mundur empat- lima langkah kebelakang dengan sempoyongan, sepasang lengannya jadi linu dan kaku sehingga dengan lemas terkulai ke bawah, hawa panas menekan dadanya membuat darah bergolak dengan kerasnya dan hawa murni terasa tersumbat, dengan sorot mata yang berkunang-kunang, ia berpaling kearah Gak In Ling.
Sianak muda itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula, air mukanya merah berdarah diliputi napsu membunuh yang menakutkan sekali, pada saat itu dengan pandangan yang bengis dan menyeringai seram sedang menatap kearahnya tanpa berkedip.
Buru-buru kakek tua baju kuning itu alihkan sorot matanya kearah lain- Dalam hati kecilnya ia sudah mengaku kalah danjeri terhadap lawannya, akan tetapi berhubung gerak-geriknya selalu diawasi oleh orang lain, kakek tua itu tak berani menceritakan keadaan yang sebenarnya.
Terdengar Gak In Ling tertawa dingin dengan nada yang menyeramkan, kemudian berkata.
"ong Pek Siu Jika engkau adalah seorang manusia yang bisa melihat gelagat, maka sekarang juga sudah tidak sepantasnya bagimu untuk mencari penyakit buat diri sendiri "
Nada suara pemuda ini dingin, seram dan penuh kewibawaan, membuat orang yang mendengar jadi bergidik dan ngeri.
Rupanya orang yang bernama ong Pek siu ini bakan lain adalah sang Loo-ji dari Tay san sam-gi tiga setia kawan dari gunung Taysan yang nama besarnya sudah menggetarkan seluruh dataran Tionggoan sejak belasan tahun berselang.
Pertarungan baru berlangsung beberapa gebrakan saja, kendatipun ong Pek Siu sudah menyadari bahwa ia bukan tandingan dari Gak In Ling namun sebagai seorang jago yang punya nama besar dalam dunia persilatan tentu saja ia tak sudi untuk mengaku kalah dan takluk dengan begitu saja.
setelah tarik napas panjang dan tenteramkan perasaan hatinya yang goncang ia berkata.
"Gak In Ling, engkau jangan terburu napsu, sekarang dirimu masih berada di sarang naga gua harimau, kalau didalam dua-tiga jurus gebrakan engkau masih belum dapat mengalahkan aku, maka selembar jiwamu untuk selamanya akan terbenam dalam lembah ini " Gak in Ling tertawa dingin.
"Hee hee hee seandainya didalam satu gebrakan saja aku telah berhasil menguasai dirimu ?"
ia mengejek.
Mendengar perkataan tersebut mula-mula ong Pek Siu nampak tertegun, kemudian sambil menengadah keatas ia tertawa terbahak-bahak.
"Haa haa haa tentu saja aku akan menyerahkan diri kepadamu dan terserah engkau hendak berbuat apa atas diriku, akan tetapi, percayakah engkau bahwa kemampuanmu telah berhasil mencapai hingga tarap sedemikian tingginya ?"
Dalam hati kecilnya Gak In Ling sangat menguatirkan keselamatan ibunya, ia tidak ingin terlalu lama bersilat lidah di sana sehingga membuang waktu dengan percuma, sambil mendengus dingin perlahan-lahan telapak kanannya diangkat keatas sambil bentaknya. "ong Pek siu, kenalkah engkau dengan telapak tanganku ini ?"
ong Pek siu segera alihkan sinar matanya kearah mana yang ditujukan kepadanya, tetapi begitu melihat apa yang ditunjuk sianak muda itu kepada iya, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat karena ketakutan secara beruntun ia mundur beberapa langkah kebelakang, serunya dengan suara tergagap.
"Te.. telapak maut ? Kau kau telah berhasil meyakinkan ilmu telapak maut ?"
Gak In Ling mendengus dingin, selangkah demi selangkah perlahan-lahan ia maju kedepan mendekati tubuh ong Pek siu.
Mengikuti semakin mendekatnya langkah Gak In Ling kearahnya, setindak demi setindak ong Pek Siu pun mengundurkan diri kebelakang.
Semula dia telah menghimpun segenap tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi serangan dari Gak In Ling sambil mengulur waktu dan menunggu datangnya bala bantuan-
Tetapi sekarang setelah ia menyaksikan "Telapak maut" hatinya jadi bergidik dan pecah nyali, ia tahu dibawah serangan dahsyat dari telapak maut tak mungkin ia dapat meloloskan diri dalam keadaan hidup,.... atau dengan perkataan lain kesempatan jiwanya telah berada didalam cengkeraman lawan-
Kini yang terlintas didalam benaknya hanyalah bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari tangan elmaut, ia sedang berusaha untuk menyelamatkan diri sebelum malaikat elmaut sempat datang untuk menjemput sukmanya pulang ke-aLam baka.
Waktu berlalu dalam keheningan dan kesepian yang mencengkam disekeliling tempat itu, dari balik kabut putih yang tebal sering kali terdengar dengusan napas ong Pek Siu yang berat serta memperdengarkan rintihan karena ngeri dan takutnya itu.
Tiba-tiba ong Pek siu yang sedang mundur kebelakang segera menghentikan tubuhnya, air mukanya seketika berubah hebat dan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tak usah berpaling lagi ia telah mengetahui bahwa dirinya telah mengundurkan diri sehingga tiba ditepi jurang yang amat terjal.
Sedikitpun tidak salah dibelakang tubuhnya terbentang sebuah tebing yang curam dengan jurang yang menganga dibelakangnya, kabut putih yang amat tebal menyelimuti daerah sekeliling tempat itu membuat orang sulit untuk melihat jelas jurang tersebut, serta menentukan berapa dalamkah jurang itu.
Selangkah demi selangkah Gak In Ling maju mendekat, sekarang ong Pek Siu tak dapat mundur lagi kebelakang, perasaan hatinya mengikuti langkah kaki lawannya yang semakin mendekat terasa bergidik dan berdebar dengan kerasnya.
Pada saat tubuh Gak In Ling sudah berada kurang lebih tiga depa dihadapan ong Pek Siu itulah tiba-tiba sekilas bayangan terlintas dalam benak kakek tua baju kuning itu, dengan cepat ia membentak keras.
"Gak In Ling, kalau engkau ada maksud untuk membinasakan ibumu didalam lembah pemutus sukma ini, silahkan engkau maju mendekat satu langkah lagi kedepan "
Ancaman ini ternyata mendatangkan hasil yang amat manjur, mendengar ucapan tersebut tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkah kakinya.
ong Pek Siu tarik napas panjang-panjang, keringat dingin telah membasahi telapak tangannya, sambil berusaha keras untuk menenangkan hatinya ia mengejek. "Hm Kenapa? Kenapa engkau tidak lanjutkan seranganmu itu ?"
napsu membunuh yang semula menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, perlahan-lahan makin berkurang, sambil tertawa dingin serunya. "Hee hee hee engkau hendak menakut-nakuti aku ?"
Setelah hatinya berhasil ditenangkan, ong Pek Siu tertawa terbahak-bahak.
"Haa haa haa menakut-nakuti dirimu ? Kalau engkau menganggap ucapanku itu hanya gertak sambal belaka dan sengaja hanya untuk menakut-nakuti dirimu, kenapa tidak kau lanjukan seranganmu itu ?"
Dalam suara gelak tertawanya terdengar agak gemetar, sayang sekali pada waktu itu benak Gak In Ling sedang dipenuhi oleh persoalan lain, sehingga titik kelemahan itu sama sekali tak diperhatikan olehnya.
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya kembali Gak In Ling tertawa dingin sambil ujarnya.
"Sebelum engkau berhasil memaksa ibuku sehingga menemui ajalnya, setiap saat aku orang she Gak mampu untuk membinasakan dirimu" seketika itu juga Suatu ingatan kecil tiba-tiba berkelebat didalam benak ong Pek siu, sengaja ia melirik sekejap kearah belakang tubuhnya, lalu sambil tertawa dingin pula, ejeknya.
"Hee hee menurut anggapanmu, di-tempat ini hanya terdiri engkau dan aku dua orang belaka
?"
"Hm Setelah aku berani memasuki lembah pemutus sukma ini seorang diri, itu menandakan pula bahwa dalam hati kecilku sudah sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap kalian"
"IHaa haa engkau pandang sebelah mata terhadap kami atau tidak- itu urusanmu sendiri, yang menjadi persoalan sekarang adalah setelah kematianku maka ibumu pun segera akan ikut menghembuskan napasnya yang terakhir, selisih waktu diantara kami berdua tak akan berbeda dalam seperempat jam belaka."
Sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya terkesiap sehingga darah dalam tubuhnya terasa tersirap. apa yang diucapkan oleh ong Pek Siu barusan boleh dibilang dapat diterima dengan akal sehat, dan kemungkinan besar untuk terjadi peristiwa semacam ini pun ada, hal ini membuat orang lain jadi sulit untuk membedakan apakah ucapan itu merupakan suatu siasat licik dari lahirnya ataukah merupakan kenyataan-
Keadaan Gak In Ling pada saat ini benar-benar terdesak sekali, waktu baginya untuk putar otak sempit sekali dan untuk sesaat sulit baginya untuk menemukan jalan yang paling baik untuk mengatasi kesulitannya itu, hatinya jadi amat cemas bercampur gelisah sehingga keadaannya bagaikan semut yang berada diatas kuali panas.
Perlahan-lahan ong Pek Siu mulai menggeserkan kakinya kedepan, ujarnya dengan suara lantang.
"Gak In Ling, sekarang hanya ada dua jalan yang dapat kau pilih menurut seleramu sendiri "
"Dua jalan yang bagaimana ?" tanya Gak In Ling tanpa terasa, dalam kesulitannya
untuk memperoleh jalan pemecahan yang paling baik untuk mengatasi persoalan itu, ia ajukan
pertanyaan tanpa disadari. ong Pek Siu tertawa bangga.
"Haa haa haa sebenarnya gampang sekali jalan yang kuberikan kepadamu itu, cuma sayang
aku takut engkau tak akan menerimanya." Airmuka Gak In Ling berubah hebat, tegur nya dengan
nada ketus.
"Hm, rupanya engkau sengaja sedang mengulur waktu ?" ong Pek Siu tertawa ringan-
"Aku tak perlu mengulur waktu karena aku tahu bahwa engkau adalah seorang anak yang berbakti, tak mungkin engkau lakukan perbuatan secara gegabah." Menyaksikan kesemuanya itu dalam hati kecilnya Gak In Ling segera berpikir.
"Sungguh tak kusangka akhirnya aku Gak In Ling pun terjatuh kedalam cengkeramannya, apakah keturunan keluarga Gak harus berakhir sampai disini saja."
Berpikir sampai disini, rasa sedih dan murung dengan cepat menyelimuti seluruh wajah dan sorot matanya memancarkan napsu membunuh yang semua menyelimuti seluruh wajahnya. Terdengar ia menghela napas panjang dengan suara yang amat berat, kemudian berkata. "Kalau begitu cepatlah katakan kepadaku"
"Jalan pertama menerjang masuk kedalam lembah pemutus sukma ini dengan jalan kekerasan, cuma sebagai imbalan dari perbuatannya itu mungkin selembar jiwa ibumu akan ikut melayang tinggalkan raganya."
"Bagaimana dengan jalan yang kedua ?" tanya Gak In Ling dengan suara amat gelisah.
Sekilas cahaya keji berkelebat diatas wajah ong Pek Siu, sambil menyeringai seram jawabnya.
"Jalan yang kedua, bersama ibumu dikurung dalam sebuah gua yang lembab dan gelap."
Beberapa patah kata ini bagaikan beribu-ribu batang anak panah yang bersama-sama menembusi ulu hati Gak In Ling, mendatangkan siksaan bathin yang tak terkirakan hagi sianak muda itu, dengan cepat ia menyeka wajahnya yang merah padam dan bermandikan keringat,
sementara sang badan gemetar keras menahan emosi Lama lama sekali, akhirnya dengan suara gemetar Gak In Ling berseru keras. "Engkau... kau hatimu benar-benar kejam "
"Haa. ... haa haa aku bisa berbuat seperti ini karena demi engkau." jawab Ong Pek Siu dengan nada yang menyeramkan, senyum licik tersungging di ujung bibirnya.
(Bersambung ke Jilid 7)

Selengkapnya......

Jilid 5: Lengcu timur dari Nirwana  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe

Jilid 5: Lengcu timur dari Nirwana
Di KOLONG langit masih ada suratan apa lagi yang jauh lebih menyedihkan daripada kematian dirinya sendiri ?

Pada waktu itulah, tiba-tiba ia mendengar pria bertato sembilan naga sedang berteriak keras.
"Eeei Eeei Bukankah engkau si-perempuan berkerudung telah membantu dirinya? Mengapa sekarang malahan bertengkar dengan dirinya ?"
Gak In Ling merasa hatinya agak bergerak setelah mendengar perkataan itu, buru-buru ia menyeka airmata yang membasahi wajahnya, lalu putar badan dan menghampiri Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu.
Terdengar gadis baju merah itu sedang berkata dengan suara yang amat dingin.
"Anak murid perkumpulanmu sering kali melewati batas wilayah dan mencelakai jiwa anak
murid kami, sekarang malah engkau menuduh diriku hmm, aku benar-benar tak bisa mengerti
bagaimana caranya engkau sebagai seorang ketua mendidik serta menguasai anak buah... "

Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.
"Apakah engkau memaksa aku untuk mengambil beberapa contoh yang bisa dijadikan sebagai bukti ?" serunya.
"Tentu saja aku harus mencari bukti yang nyata "
"Eei, eeh nanti dulu, jangan ribut dulu " sela Gak In Ling berusaha melerai. "Kemungkinan besar diantara kalian memang sudah terjadi suatu kesalah pahaman."
Gadis berkerudung merah itu sama sekali tidak melirik kearah Gak In Ling barang sekejap pun, hardiknya dingin:
"Siapa engkau ? Berani benar banyak ngebacot ditempat ini ?"
Pria bertato sembilan naga amat menghormati Gak In Ling, ketika didengarnya gadis berkerudung merah itu bicara kasar dan kurang ajar terhadap pemuda itu, sepasang matanya kontan melotot besar, sambil mencekal toya besinya dia siap menerjang maju kedepan. Dengan cepat Gak In Ling menarik tangannya, ia menjawab dengan nada hambar:
"Aku sih cuma seorang manusia tak bernama dalam dunia persilatan, seorang gelandangan yang tak punya tempat tinggal."
"Hmm, tapi menurut penilaianku, semestinya engkau adalah anak murid dari perkumpulan thian- hong-pang . "

Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Dalam perkumpulan kami tidak terdapat seorang manusia macam dia." sahutnya. Mendengar ucapan itu gadis berkerudung merah jadi tertegun, kemudian tertawa sinis.
"Huuh Engkau sebagai anak murid perkumpulan thian- hong-pang, tapi orang lain tidak mengakui dirimu sebagai anak buahnya, belum pernah kujumpai manusia yang tak tahu malu seperti dirimu itu."
Ucapan ini tajam dan sinisnya bukan kepalang, siapapun tak akan tahan mendengar sindiran seperti ini.
Pria bertato sembilan naga tak dapat menahan diri lagi, sambil meraung keras, gembornya. "Kau ini macam apa? Maknya. ...dianggap nya kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih lihay dari pada dirinya ?"

"Saudara, harap tutup mulut" cegah Gak In Ling dengan cepat, sorot matanya segera dialihkan kearah gadis baju merah itu, kemudian menambahkan lebih jauh.
"Mungkin saja aku adalah seorang manusia yang paling tak tahu malu dikolong langit, tapi setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya. Pangcu maupun Lengcu sama-sama merupakan dua kekuatan besar didalam dunia penilaian, asal kalian berdua dapat bergandengan tangan dan bekerja sama, rasanya tidak terlalu sukar untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, sekarang aku mempunyai seratus persen keyakinan yang bisa membuktikan-bahwa anak buah kalian berdua bukanlah mati di pihak kalian sendiri, cuma sayang buktinya kurang cukup hingga sukar untuk membuat kalian percaya, tapi aku tetap berharap agar kalian berdua suka menyelidiki masalah ini secara bijaksana dan otak dingin."

Gadis berkerudung merah itu mendengus dingin.
"Hm Siapakah namamu, cepat katakan"
Hawa gusar terlintas diwajah Gak In Ling, akan tetapi ia tetap bersabar diri. "Aku bernama Gak In Ling "jawabnya.
"Oooh, jadi engkau yang bernama Gak in Ling?" seru gadis berkerudung merah itu dengan wajah tertegun. Sorot matanya tanpa terasa menyapu wajah pemuda itu tajam-tajam, kembali pikirnya : "Hai... tampan juga wajahnya...."
"Lengcu, bukankah engkau sedang mencari diriku?" ujar pemuda itu lagi dengan suara hambar.
"Hm, rupanya engkau sedikit tahu diri " sambil berkata gadis itu alihkan sorot matanya
kearah lain-
"Lengcu, kalau engkau hendak membinasakan diriku, maka alangkah baiknya kalau mengijinkan aku untuk menerjang masuk kedalam lembah Toan-hua-kok ini dan mati didalam gua."

Gadis berkerudung merah itu tertawa dingin “Hm, engkau tak usah banyak bicara, dibawah panjiku manusia semacam- engkau tidak digunakan untuk melakukan pertarungan pertama, aku lihat lebih baik engkau bunuh diri saja"
Diatas wajah Gak In Ling terlintas napsu membunuh yang amat tebal, jangan dikata wataknya memang tinggi hati dan sombong, sekalipun terbuat dari tanah liatpun mungkin akan terbakar juga oleh hawa amarah yang berkobar.

Gak In Ling tak pernah menyangka maksud baiknya untuk memikirkan keselamatan dunia persilatan ditukar dengan sindiran tajam yang begitu sinis sehingga membuat ia tak bisa menahan diri lagi.
Dengan cepat Gak In Ling putar badannya, lalu berkata dengan nada yang seram.
"Hm, tak kusangka Lengcu nirwana adalah seorang manusia yang bodoh dan tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. tak sepantasnya kalau aku orang she Gak mempercayai berita dalam dunia persilatan dengan begitu saja."
Gadis berkerudung merah mengerutkan alisnya dan maju tiga langkah kedepan, hardiknya dengan ketus:
"Kurang ajar engkau berani menghina Lengcu kami ?"
"Oooh, jadi eagkau bukan lengcu itu sendiri?" seru Gak In Ling tertegun.
"Lengcu kami bukan seorang manusia biasa, hmm Manusia kurcaci macam engkau tidak nanti berhak untuk menjumpainya "
Gak In Ling benar-benar sudah naik pitam, sorot matanya membara dan ia membentak dengan keras.
"Mungkin aku orang she Gak sudah mengalah terlalu lama terhadap dirimu. sehingga kau anggap diriku jeri terhadapmu."
"Aku tahu selama ini engkau mengalah terus karena engkau takut mati." sela gadis berkerudung merah itu sebelum sang pemuda sempat menyelesaikan kata-katanya.

"Haa ha... haa... meskipun aku Gak In Ling bukan seorang enghiong hohan, tapi soal mati hidup sudah tak pernah kupikirkan lagi didalam hatiku, kalau engkau memang berhasrat untuk membinasakan orang she Gak ditanganmu, ayo sekarang juga silahkan turun tangan "
"Bagus, bagus sekali seorang enghiong ho-han memang tak boleh tunduk terhadap kaum wanita." teriak pria bertato sembilan naga didalam hati kecilnya.
"Hm apakah engkau hendak melakukan pergulatan bagaikan binatang yang terjebak?" Kembali perempuan berkerudung merah itu mengejek sambil tertawa dingin.

Pada saat ini perasaan antipati sudah muncul dalam hati Gak In Ling terhadap anak buah dari Yau Ti lengcu itu, ia merasa muak dan sebal, maka dengan ketus katanya:
"Engkau tak usah sombong dan tekebur, belum tentu engkau mampu untuk mempertahankan diri sebanyak sepuluh jurus diujung telapakku."
"Apa ?" jerit perempuan berkerudung merah.
Perkataan ini memang tak masuk diakal dan sukar untuk bikin gadis itu untuk mempercayainya, sekalipun Thian- hong pangcu yang berada di sisinya pun diam-diam berpikir. "Gak In Ling, engkau terlalu congkak dan omong besar."

Dengan wajah yang mengerikan dan suara yang tenang Gak in Ling berkata kembali:
"Aku bilang, tidak sampai sepuluh jurus aku orang she Gak dapat memaksa dirimu untuk terkapar diatas tanah dan menemui ajalmu dalam lembah Toan-hun-kok ini."
Perempuan berkerudung merah adalah seorang gadis yang sombong dan tinggi hati, dihina dan diejek oleh musuhnya dengan kata-kata yang begitu menghina apalagi berada dihadapan thian-hong pangcu, tentu saja membuat hatinya jadi panas sekali, dengan mata melotot dan memancarkan sinar kebengisan ia membentak:
"Bangsat, kalau hanya bicara melulu tidak ada gunanya, lihat seranganku ini " dengan jurus "Han yo-sui" atau bebek kedingingan bermain diair, ia terjang tubuh sianak muda itu.

Walaupun perempuan ini bukan lengcu nirwana. Tetapi dari tanda perintah yang dibawanya serta dikawal oleh empat orang dayang cantik, bisa ditarik kesimpulan bahwa kedudukannya amat tinggi, dan dengan sendirinya ilmu silat yang dimilikinya lihay sekali.
Setelah serangan dilancarkan, angin pukulan menderu- deru dan desiran tajam memanjang bagaikan bianglala, telapaknya berputar silih berganti sementara badannya bagaikan burung walet melayang kesana- kemari dengan gesitnya. Begitu lincah dan enteng, badannya sehingga menyilaukan mata.

Melihat serangan musuh, Gak In Ling merasakan hatinya tercekat, pikirnya didalam hati.
"Dibawah panji-panji nirwana, rupanya tak ada manusia yang lemah, tidak aneh kalau kata katanya begitu sombong dan takabur "
Ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya hanya dalam waktu singkat, pemuda itu tidak berani bertindak gegabah, buru-buru dengan gerakan tukar jubah ganti posisi, dia loncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Dalam anggapan perempuan berkerudung merah itu Gak In Ling pasti tak akan berhasil lolos dari cengkeramannya, atau paling sedikit walaupun nyaris dapat melepaskan diri dari terjangan kilatnya, keadaan pemuda itu tentu gelagapan dan mengenaskan sekali.
Siapa tahu dugaannya meleset sama sekali, bukan saja Gak In Ling dapat melepaskan diri dari terjangan kilatnya bahkan semua gerakan dilakukan dengan enteng dan leluasa sekali, tanpa terasa lagi ia menjerit tertahan-

Buru- buru jurus yang pertama dibuyarkan dan berganti dengan gerakan yang lain, baru saja sepasang kaki Gak In Ling menempel permukaan tanah, ia telah menerjang kembali kedepan sambil secara beruntun melancarkan tujuh buah serangan berantai.
Serangannya tajam dan ganas sekali, dimana angin pukulan dan bayangan jarinya dituju kejalan darah kematian di sekujur badan lawannya.
Dibawah serangan yang begitu gencar, Gak In Ling dengan gerakan yang enteng dan lincah tetap menerobos lewat diantara sambaran-sambaran lawan, meskipun tubuhnya tidak sampai terkena tapi seakan-akan ia telah kehilangan daya untuk membalas.
Empat orang dayang baju merah yang menyaksikan jalannya pertempuran itu dari sisi kalangan, sama-sama berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo, diatas wajahnya jelas menampilkan rasa kasihan, simpatik, kaget dan tak tenang, rupanya tanpa sadar mereka sedang menguatirkan keselamatan pemuda tampan itu.

Pria bertato sembilan naga paling gelisah dan cemas, diantara beberapa orang itu, terdengar ia bergumam seorang diri.
"Ayo, bocah tambah tenaga bagus, pukul terus, hajar saja dia sampai mampus "
Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, entah berapa banyak kekuatan tubuhnya yang terbuang oleh teriakan-teriakannya itu.
Ketegangan dan mara bahaya mencekam seluruh kalangan membuat suasana jadi sesak, dalam waktu singkat pertarungan sudah berlangsung sebanyak tujuh jurus, akan tetapi selama ini Gak In Ling tidak pernah melancarkan serangan balasan-

Gadis berkerudung merah itn segera melancarkan serangan yang kedelapan, sambil tertawa dingin ia berseru.
"Gak In Ling, tahukah engkau ini jurus yang keberapa ?"
"Jurus kedelapan-" jawab Gak In Ling sambil menghindar kesamping kanan dari gadis itu. "Nona, kita toh tak pernah terikat oleh dendam sakit hati apapun juga, demi kesejahteraan dunia persilatan, aku... "
"Tak usah banyak bicara lagi." bentak perempuan berkerudung merah. "Kalau engkau tidak mati, aku tak akan berhenti menyerang"
Cahaya membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dalam waktu yang amat singkat alisnya telah berkerut dan ia telah mengambil suatu keputusan yang menakutkan,

Baru saja perempuan itu menyelesaikan jurus yang kedelapan, siap melancarkan jurus yang kesembilan, tiba-tiba sia nak muda itu membentak nyaring.
"Hm, rupanya kau sudah bosan hidup, dan ingin mencari jalan kematian bagi diri sendiri"
Cahaya merah memancar keseluruh angkasa muncullah bayangan telapak yang tak terhitung jumlahnya menyelimuti seluruh tubuh perempuan berkerudung merah itu.
Begitu menyaksikan cahaya merah memancar keempat penjuru, hati perempuan berkerudung merah itu tercekat oleh rasa ngeri, dengan kagetnya dia menjerit. "Ah Telapak maut"

Laksana kilat tubuhnya melayang kesamping dengan menggunakan gerakan yang paling diandalkan oleh Ya u Ti lengcu yakni gerakan "Sian-cu Leng-in" atau bidadari jalan diatas awan, ia loncat sejauh tiga tonbak dari tempat semula.
Dalam perkiraan perempuan berkerudung merah itu, dengan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dia pasti akan berhasil melepaskan diri dari lingkaran pengaruh cahaya merah yang dipancarkan dari telapak maut sianak muda itu, siapa tahu gerakan tubuh Gak In Ling jauh lebih cepat daripada dirinya, belum sempat sepasang kaki perempuan berkerudung merah itu menyentuh tanah, tiba-tiba dari atas kepalanya sudah terdengar bentakan dari Gak In Ling berkumandang datang. "Engkau akan lari ke mana ?"
Cahaya merah dengan kencangnya mengikuti datang dan tetap menekan disekitar batok kepalanya.

Mendengar bentakan itu perempuan berkerudung merah tadi semakin terkesiap. dia tahu bahwa selembar jiwanya sudah tergenggam dalam cengkeraman malaikat elmaut, pikirannya jadi kacau dan timbullah keinginan untuk mempertahankan hidupnya, membuat dara itu tanpa sadar melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat kedepan-
Nampaklah sepasang, telapak Gak in Ling yang berwarna merah darah sudah makin mendekati batok kepala perempuan berkerudung merah itu, dan rupanya sebentar lagi dia akan menemui ajalnya.

Di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba Thian-hong-pangcu membentak keras. "Gak ln Ling, jangan lukai dirinya "
Segulung angin pukulan yang kencang, bagaikan angin puyuh dengan cepat menerjang kearah dada dianak muda itu.
Sebenarnya Gak In Ling memang tiada berhasrat mencelakai perempuan itu, maka selama delapan jurus yang pertama ia tak pernah melancarkan serangan balasan, kini setelah mendengar bentakan keras dari Thian-hong pangcu, dengan cepat segenap tenaga pukulannya ditarik kembali dan ia meloncat kearah samping.
"Blaaam" ditengah udara bergeletar ledakan keras, diikuti Gak In Ling mendengus berat.
Pertarungan seru yang sedang berlangsungpun segera berhenti, suasana dalam kalangan diliputi oleh kesunyian yang menyeramkan-
Sinar mata semua orang segera ditujukan ke satu arah, yakni ditujukan kearah Gak In Ling yang terkapar diatas tanah, darah kental mengucur keluar dari mulutnya, wajah yang tampan kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sehingga menakutkan sekali.

Dengan sorot mata yang pudar ia menyapu sekejap seluruh orang yang hadir didalam kalangan, dibalik biji matanya yang hambar dan tinggi hati sama sekali tidak nampak perasaan benci, yang ada hanya kemurungan serta kesedihan yang membuat orang jadi bingung.

Empat orang dayang baju merah dengan tangan yang gemetar berdiri menjublek disisi kalangan, empat pasang mata dialihkan ketubuh pemuda itu, mereka tak dapat menilai apakah Gak In Ling seorang baik atau bukan, tetapi menurut perasaan mereka majikannya telah salah melukai seseorang yang tidak sepantasnya dilukai.
Perempuan berkerudung merah itu sendiri mundur kebelakang dengan sorot mata memancarkan rasa penyesalan, tangannya yang diluruskan ke bawah tampak agak gemetar.
Pria bertato sembilan naga sendiri melototkan sepasang matanya bulat-bulat, mulutnya terbuka lebar, perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini boleh dibilang membingungkan hatinya.

Dia dengan Gak In Ling walaupun baru bergaul selama satu hari, tapi setiap patah kata dan tingkah laku pemuda itu telah berkesan dalam hati kecilnya, bahkan menimbalka rasa hormat dan sayang bagi dirinya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thian-hong pangcu berteriak nyaring. "oooh kau terluka ?" Tubuhnya dengan cepat berkelebat kemuka dan menubruk kearah Gak In Ling yang sedang merangkak bangun itu.
"Hey, kau mau apa?" bentak pria bertato sembilan naga dengan penuh kegusaran- "Aku akan beradu jiwa dengan kalian."
Toya besi dalam genggamannya diiringi desiran angin tajam segera disapu ke depan dengan jurus "Heng-sau cian-kim" atau menyapu rata selaksa prajurit, dari desiran tajam yang dihasilkan oleh angin pukulan itu dapat diketahui bahwa babatannya disertai tenaga yang amat besar.

Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah jadi sangat terperanjat melihat datangnya serangan itu, buru-buru mereka loncat mundur beberapa tombak kebalakang den-gelagapan-
"Ee ee... engkau jangan salah paham" teriak Thian-hong pangcu dengan suara tertahan-"Aku tidak bermaksud untuk mencelakai jiwanya engkau jangan menaruh curiga."
Sepasang mata pria bertato sembilan naga telah berubah jadi merah berapi, melihat serangannya gagal secara beruntun ia lancarkan tujuh buah serangan berantai, sambil menyerang teriaknya marah.
"Hm kalian menyebut diri sebagai dua pemimpin besar dalam dunia persilatan, mengembar-gemborkan tujuan untuk mewujudkan kedamaian dan kebenaran bagi umat persilatan, tapi kalian sama sekali tak pantas dinilai dengan dirinya... kalian sama sekali tak bisa membedakan mana yang lurus dan mana yang bengkok, kalian hanya pandai melakukan perbuatan menuruti emosi dan suara hati."

Jangan dilihat dia hanya seorang manusia kasar, setiap patah katanya ternyata amat menusuk perasaan orang.
Secara beruntun Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah harus menghindarkan diri kembali dari ancaman ketujuh buah serangan kilat itu, mereka gagal menembusi pertahanan bayangan toya dari pria bertato sembilan naga, hal ini bukanlah dikarenakan ilmu silat pria kasar itu amat lihay dan melebihi mereka berdua melainkan tindakan pria itu sendiri yang nekad membuat mereka jadi jeri.
Setiap jurus dan gerakannya dalam melancarkan serangannya, yang diutamakan adalah bagaimana caranya melukai lawan, pertahanan terhadap dirinya sendiri boleh dibilang sama sekali terbuka, rupa-rupanya ia sudah tidak memperdulikan keselamatan pribadi.

Pepatah-kuno mengatakan: satu orang sudah nekad, maka selaksa orang tak mampu melawan-Kendatipun ilmu silat yang dimiliki kedua orang perempuan itu sangat tinggi, tetapi bila mereka tidak melukai pria bertato sembilan naga lebih dahulu, tak mungkin pertahanan bisa dijebolkan dalam waktu singkat.
Dengan pandangan sedih Gak In Ling menyaksikan jalannya pertarungan ditengah gelanggang gumamnya seorang diri.
"Heng-tay, engkau adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki didalam dunia persilatan, tapi beradu jiwa bagi diriku tindakan tersebut sama sekali tak ada harganya."

Sejenak kemudian dari dalam sakunya Gak In Ling ambil keluar botol berwarna hijau tua ketika sorot matanya yang sayu memandang botol dalam genggamannya, tangan yang mencekal tadi nampak mulai gemetar keras.
Dengan pandangan ngeri ia memandang botol persolen ditangannya, lalu berseru dengan penuh kepedihan-
"Setengah tahun setengah tahun ooh... Terlalu pendek. terlalu pendek sekali yaa, Thian Hukuman yang kau timpakan pada keluarga Gak kami terlalu berat, apakah engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk menyaksikan manusia-manusia laknat itu hidup dengan suka ria diatas jagad tanpa berhasil kujamah dan kulenyapkan-.. "
Airmata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang pucat, dengan penuh kepedihan ia menggigit bibirnya sendiri.
Hidup, belum tentu merupakan suatu kejadian yang paling baik, tapi hidup jauh lebih baik daripada mati, tapi ketika suatu kehidupan sudah dirasakan tiada artinya dan tiada harganya lagi, keadaan tersebut jauh lebih baik diakhiri dengan suatu kematian.

Gak In Ling, walaupun tidak menginginkan suatu kehidupan yang penuh penderitaan, akan tetapi dia harus tetap hidup untuk menyelesaikan tugas penting yang menjadi bebannya, oleh sebab itu ia tak dapat mati dengan begitu saja.
Perlahan-lahan Gak In Ling membuka penutup botol persolen itu dan mengambil keluas sebutir pil berwarna hijau tua, kemudian obat tadi dimasukkan ke dalam mulutnya.

Thian-hong pangcu walaupun selama ini selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan maut dari pria bertato sembilan naga, namun pikirannya sama sekali tertuju kearah pemuda itu.
Apa yang dilakukan Gak In Ling dapat dilihat olehnya dengan jelas, hampir saja jantungnya copot karena kaget, tak tertahan lagi ia berteriak nyaring.
"Gak in Ling, engkau tak boleh menelan obat itu, tak boleh... " suaranya penuh perasaan sedih dan memohon, sementara air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Mendengar jeritan itu, perempuan berkerudung merah tadi pun melirik sekejap kearah Gak In Ling, setelah melihat obat yang ditelan diapun menjerit tertahan-"Aaah Pil cui-sim-wan "
"Pil cui-sim-wan ?" Pria bertato sembilan naga pan terperanjat, tanpa sadar jurus serangan-nyapun makin memgendor.
Menggunakan kesempatan itulah perempuan berkerudung merah melancarkan serangan dengan jurus "Tiam-sak-seng-kim" atau menutul batu jadi emas, ia totok jalan darah cian-keng-hiat di atas bahu pria bertato sembilan naga itu. Sementara itu Thian-hong pangcu telah meloncat kehadapan Gak In Ling.

Rupanya takdir telah menentukan lain, menanti dara cantik baju putih itu berhasil tiba di-hadapan sang pemuda, obat cui-sim-wan tadi telah tertelan kedalam perut sang pemuda yang keras kepala ini.
"Ooooh... mengapa kau hancurkan dirimu sendiri ?" keluh Thian-hong pangcu.
Dengan pandangan dingin Gak In Ling menyapu sekejap kearahnya kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya, ia sama sekali tidak menggubris ucapan gadis itu.

Napas Gak In Ling yang memburu perlahan-lahan jadi tenang dan teratur kembali, wajahnya yang pucat kinipun sudah berubah jadi semu merah, dari luaran ia nampak sudah sembuh kembali, tapi dalam kenyataan kesegaran tersebut diperoleh seakan-akan seorang pemadat yang baru saja menghisap candu.
Keheningan dan kesunyian mencekam seluruh kalangan, begitu sepi sehingga setiap orang dapat mendengar detak jantungnya sendiri, dalam keedaan begini Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah telah melupakan perselisihan mereka, seluruh pikiran dan perhatian mereka telah ditumpahkan ketubuh Gak In Ling.

Suasana yang sesak kian mencekam seluruh jagad, membuat lembah Toan-hun-kok berubah jadi sepi sesunyi kuburan-
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepatnya akhirnya Gak In Ling menghela napas panjang dan membuka matanya kembali, sosot matanya memancarkan kemurungan dan kepedihan Thian-hong pangcu segera maju kedepan, tegurnya. "Kau kau apakah kau dalam keadaan baik ?"

Gak In Ling loncat bangun dari atas tanah-wajahnya yang tampan diliputi keketusan dan kehambaran, ia sapu sekejap wajah kedua orang dara itu kemudian berkata dengan dingin-
"Mungkin kalian berdua merasa kecewa bukan ?"
"Apa yang kami kecewakan?" tanya perempuan berkerudung merah tanpa berpikir panjang.
"Kecewa karena aku tidak mati"
"Apakah engkau mengira bahwa kami mengharapkan engkau lekas mati?" tanya Thian-hong pangcu dengan sedih.
"Semoga saja kalian tidak berharap begitu."
"Asal sejak ini hari engkau takkan memusuhi umat persilatan didaratan Tionggoan lagi, persoalan yang sudah lewat tak akan kuungkap kembali." ujar perempuan berkerudung merah pula dengan suara yang lebih lembut.
"Setiap orang yang kucari dan setiap orang yang hendak kubunuh, tak akan tertolong oleh siapapun."
"Seandainya ada orang yang berhasil menolong korban-korbanmu itu ?"
"Kecuali kalau dia mampu membinasakan aku orang she Gak "

"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, apakah engkau yakin bisa menangkan semua jago dalam dunia persilatan?" ujar Thian-hong pangcu dengan sedih.
Suaranya lembut dan halus, seakan-akan seorang isteri yang setia sedang menasehati suaminya.
Gak In Ling menengadah memandang langit nan biru, lalu menghela napas panjang. "Mungkin ucapanmu itu tidak salah." sahutnya.
Mendengar jawaban itu, satu ingatan berkelebat dalam benak Thian-hong pangcu, ujarnya lagi dengan lembut.
"Asal orang yang kau cari benar-benar telah melakukan kejahatan lebih dahulu dan dosa-dosa mereka dapat dibuktikan, kendatipun engkau tidak menjatuhi hukuman terhadnp mereka, umat persilatan, pasti akan membantu dirimu untuk melampiaskan dendam sakit hati ini... "
Dari perkataan itu sudah jelas sekali menunjukkan bahwa gadis ini memperingatkan bahwa ia bersedia membantu usaha pemuda itu.

"Aku tidak mengharapkan orang lain menemui ajalnya karena persoalan dari aku orang she Gak. Perkataanmu itu tak bisa kuterima." tukas Gak In Ling dengan cepat.
"Darimana engkau bisa tahu kalau orang lain akan menemui ajalnya karena persoalanmu itu?" tanya perempuan berkerudung merah.
"Karena orang-orang yang hendak kucari itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, di antara mereka yang paling lemahpun memiliki ilmu silat yang seimbang dengan kepandaianku."

Ucapan ini dengan cepat mengejutkan hati dua orang gadis itu, mereka pernah menyaksikan sendiri sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, seandainya apa yang dia ucapkan tidak salah maka kendatipun segenap kekuatan inti yang ada dalam dunia persilatan di himpun menjadi satu belum tentu bisa membantu usaha pemuda itu.
Setelah berpikir sebentar, Thian-hong pangcu bertanya kembali. "Bagaimana dengan mereka yang berilmu silat paling tinggi?"
"Ilmu silat yang dimilikinya jauh diatas kepandaian yang kumiliki, kalau dicarikan perbandingannya maka bagaikan sinar rembulan dan cahaya kunang-kunang."

Tiba-tiba perempuan berkerudung merah itu teringat kembali akan lengcunya yang memiliki ilmu silat amat tinggi, dengan gelisah segera tanyanya.
"Siapakah mereka? Asal engkau sebutkan nama-namanya, mungkin saja ada orang yang mampu menangkan mereka"
Tertegun hati Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, ia sadar dirinya telah terlanjur bicara, airmukanya segera berubah hebat dan katanya dengan tawar.
"Semoga saja dalam setengah tahun kemudian kita jangan sampai bertemu lagi, sebab bila sampai terjadi pertarungan lagi maka belum tentu aku akan mengalah seperti apa yang kulakukan pada saat ini."
Habis berkata ia segera berjalan menuju ke arah mulut gua dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.

Perubahan sikap yang diperlihatkan Gak In Ling ini sangat mencengangkan hati dua orang dara tersebut, dalam hati kecilnya perempuan berkerudung merah segera berpikir.
"Kenapa sih tabiat orang ini begitu aneh ?Barusaja baik tiba-tiba jadi ketus, sungguh membingungkan."
Dalam pada itu Thian-hong pangcu telah menghadang jalan pergi sianak muda itu, tegurnya.
"Apakah engkau hendak masuk kedalam ?"
"Apakah pangcu kembali akan menghalangi jalan pergiku ?"

Dengan pandangan sedih Thian-hong pangcu menyapu sekejap wajah pemuda itu, kemudian menjawab.
"Lembah Toan-hun-kok bisa bertahan selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, tanpa seorangpun mampu membasmi mereka dari muka bumi, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang mereka miliki bukan hanya terbatas pada Hiat-mo-ong seorang, kepergianmu seorang diri apakah tidak merasa bahwa kekuatan yang kau miliki terlalu lemah ?"
"Aku rasa persoalan ini merupakan masalah pribadiku sendiri, aku minta engkau tak usah mencampurinya." jawab Gak In Ling ketus. Airmuka Thian-hong pangcu berubah hebat.
"Kau kau benar-benar kejam.... engkau tak dapat menyelami perasaan orang lain-..."
teriaknya.
Dengan cepat Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah lain, kemudian menjawab.
"Jika engkau berdua dapat menyelami perasaan orang, aku hanya berharap agar kalian dapat memikirkan keselamatan serta keamanan bagi umat manusia yang ada dikolong langit."
Habis berkata ia berjalan lewat disisi tubuh Thian-hong pangcu dan buru-buru masuk kedalam gua.

Thian-hong pangcu menghela napas sedih, setelah termenung sebentar sambil menggigit bibir tiba-tiba ia berpaling kearah perempuan berkerudung merah itu dan berkata.
"Seorang tamu tak akan merepotkan dua orang tuan rumah, harap engkau utusan timur suka menyampaikan kepada lengcu kalian, bahwa mulai saat ini seluruh keamanan dunia persilatan kuserahkan pada dia seorang untuk mengendalikannya." selesai berkata dengan langkah cepat ia menyusul kedalam gua di mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri.

Dengan wajah kaget dan tertegun perempuan berkerudung merah itu berdiri menjublek ditempat semula, pikirnya,
"Ucapan itu kenapa harus aku yang sampai kan ?"
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil menuding kearah pria bertato sembilan naga pesannya kepada keempat orang dayang itu.
"Setelah membebaskan jalan darah orang itu kalian segera pulang kegunung dan lapor kepada lengcu, katakanlah andaikata didalam tiga hari aku utusan timur belum kembali juga, itu berarti sejak detik ini utusan timur sudah tak dapat melayani lengcu lagi."
Selesai berkata ia segera lari masuk kedalam gua itu pula.

Hati perempuan memang sukar diraba. Sementara itu, setelah Gak In Ling masuk kedalam gua, ia merasa ruang dalam gua tadi luas sekali, dindingnya terbuat dari batu dan licin bagaikan cermin, jelas tempat itu bukan gua alam tapi dibuat oleh tenaga manusia.
Setelah berbelak-belok beberapa kali dan kurang lebih sudah mencapai tiga- empat puluh tombak dalamnya, Gak In Ling masih belum berhasil menemukan suatu ruangan, hal ini membuat hatinya amat terkejut.
Pada saat itulah mendadak dari dalam gua berkumandang datang suara pembicaraan manusia, terdengar seseorang yang bersuara serak sedang berkata.
"Menurut cahaya sang surya seharusnya harusnya sekarang sudah mendekati tengah hari, kenapa belum nampak ada yang mengirim nasi ? Apakah mereka hendak siksa kita sampai mati karena kelaparan?"

"Sekalipun mereka benar-benar akan menyiksa kita sampai mati kelaparan, apa yang dapat kau katakan ?" sambung seorang yang lain dengan nada dingin. "Hmm Mereka berani ?"
"Kenapa tidak berani? Meskipun dahulu engkau "Tok-seng" Nabi bisa Kongsun To pernah menggemparkan dunia persilatan, namun pada saat ini kau masih berada dalam genggamannya, sekalipun bocah yang berumur tiga tahunpun takkan jeri terhadap dirimu "
Rupanya orang yang pertama tadi dibikin gusar oleh ucapan tersebut, terdengar ia meraung dengan gusar.
"Leng Inpoocu, apakah engkau ingin merasakan kelihayanku ?"
"Hm, engkau kira aku jeri terhadap dirimu ?" jawab Leng In poocu sambil mendengus dingin-Tiba-tiba suara yang lain berkumandang menengahi percekcokan itu.
"Omitohud Selama banyak tahun sicu berdua bukan hanya berkelahi satu kali saja, tapi menang kalah, selalu tak bisa ditentukan, apa sih gunanya membuang tenaga lagi dengan percuma?"

Rupanya si Nabi racun Kongsun To adalah seorang manusia yang tidak pakai aturan, dengan cepat dia menyambung kembali.
"Benar, benar, Buddha Antik, selama banyak tahun aku belum pernah bergebrak melawan dirimu. Mari, mari kita adu kepandaian, coba lihat siapa yang lebih unggul diantara kita."
"Aku menyadari bahwa kepandaianku masih belum mampu menangkan diri sicu," jawab orang yang disebut Buddha Aantik itu
"Eei kamu tak usah kuatir, aku akan tetap menggunakan peraturan lama, tak akan aku
gunakan jurus racun, semuanya pakai jurus murni," seru Nabi racun lagi.
Ketika Gak In Ling mendengar bahwa didalam gua itu terdapat juga siBuddha Antik yang paling dibenci, darah panas seketika bergelora dalam rongga dadanya, dengan langkah yang lebih cepat lagi dia mendekati kearah berasal nya suara tadi.
Tiga buah tikungan kembali sudah dilewati akhirnya setelah berjalan beberapa saat lamanya sampailah pemuda itu disuatu tempat yang terbuka, sebuah ruang batu seluas dua puluh tombak lebih muncul didepan mata, pada sisi kanan ruang batu itu terdapat sebuah lorong yang entah menghubungkan tempat itu dengan mana, sedang suara pembicaraan ya bergema tadi berasal dari dalam sebuah dinding batu berwarna putih yang ada disebelah kanan-
Gak In ling sama sekali tidak ragu-ragu, dengan langkah yang cepat ia berjalan menuju ke samping kiri.
Tiba-tiba...
"Gak In Ling, apakah kau sudah bosan hidup dan kepingin cari kematian buat diri sendiri ?" suara teguran seseorang berkumandang memecahkan kesunyian-
Apa yang dipikir dan diperhatikan Gak In Ling pada saat ini adalah menemukan persembunyiannya Buddha Antik, ketika secara tiba-tiba namanya disebut orang hatinya jadi amat terperanjat. Dengan cepat ia putar badan sambil silangkan telapaknya didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ketika sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi, terlihatlah Thian-hong pang cu serta perempuan berkerudung merah telah berdiri berjejer kurang lebih lima depa dihadapannya.
Gak In Ling segera tertawa dingin dan menegur.
"Kedatangan kalian berdua apakah dikarenakan aku orang she Gak ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab Thian hong pangcu sambil mengangguk.
"Apakah diantara kita bertiga harus diputuskan lebih dahulu siapa yang berhak melanjutkan hidup dan siapa yang pantas menemui ajalnya ?" seru pemuda itu lagi sambil tertawa dingin.
"Apakah maksudmu, selain percekcokan dan perkelahian, diantara kita sudah tiada urusan lain lagi ?" bantah Thian-hong pangcu dengan wajah yang sedih. Sambil bicara dari pancaran matanya terlintaslah rasa murung dan kesal.
Gak In Ling bukan seorang tolol ataupun bodoh, sudah tentu ia dapat menangkap arti dari perkataan itu, tetapi berada dalam keadaan seperti ini ia tetap berlagak pilon seolah-olah sama sekali tidak paham dengan maksud perkataan itu. Dengan cepat pokok pembicaraan dialihkan kemasalah lain, ujarnya dengan hambar.
"Kalau memang kedatangan kalian berdua bukanlah mencari aku orang she Gak guna bertarung, aku harap kamu berdua segera tinggalkan tempat ini, masa depan dunia persilatan tergantung diatas bahu kalian berdua, menempuh bahaya karena urusan yang begini sepele sama sekali tak ada harganya bagi kalian berdua... "
Selesai berkata tanpa menantikan jawaban lagi ia segera berjalan menuju kedinding batu sebelah kiri.
"Engkau hendak menjebolkan dinding batu itu?" seru perempuan berkerudung merah tanpa terasa.
"Sedikitpun tidak salah "
"Tahukah engkau siapa saja yang terkurung didalam ruangan gua batu itu ?" Gak In Ling menghentikan langkahnya kemudian menjawab.
"Nabi racun Kongsun To, Leng In poocu dan Buddha Antik."
Ketika mengucapkan nama Buddha Antik, suaranya sengaja diperkeras dan diperberat. "Pernahkah engkau mendengar kata-kata yang berbunyi Nabi racun mengejutkan kolong langit, pedang Leng In bagaikan malaikat ?" seru Thian hong pangcu kembali. Mendengar perkataan ini Gak In Ling hatinya terjelos, pikirnya didalam hati. "Mungkin aku akan menemui suatu kesulitan yang besar sekali."
Walaupun dalam hati ia mempuyai pendapat demikian, tetapi perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, dengan suara hambar ia hanya berkata.
"Ucapanmu itu memang sangat mengejutkan hati orang, tetapi bagaimanapun juga ruangan ini harus dijebolkan"
Sekalipun Thian-hong pangcu belum terlalu lama berkumpul dengan Gak In Ling, akan tetapi dia sudah memahami sifat serta tabiatnya, ia mengerti apa yang telah diucapkan oleh si anak muda itu pasti akan dilakukan olehnya, dengan cepat dara cantik baju putih itu meloncat kehadapan pemuda itu sambil serunya dengan suara berat.
"Gak In ling, perkataanmu selalu menggembar-gemborkan demi kesejahteraan dan keamanan umat persilatan didaratan Tionggoan, tapi pernahkah engkau berpikir apa akibatnya andaikata Nabi racun Kongsun To dilepaskan dari kurungan itu ?"
Gak In Ling tertegun, ia tak pernah mempertimbangkan akibat dari perbuatannya itu. Sudah tentu hal ini disebabkan karena ia masih belum tahu bagaimanakah watak serta tabiat dari Nabi racun Kongsun To itu sendiri.
Gak In Ling berdiri tertegun dan lama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, pada saat itu suasana ruang dalam pun sunyi senyap dan tak kedengaran suara apapun, jelas pembicaraan diantara mereka telah tercuri dengar oleh orang-orang itu.
Gak In Ling memandang sekejap kearah dua orang gadis itu, seakan-akan sedang berkata terhadap mereka, ia bergumam seorang diri.
"Tetapi Buddha Antik berada didalam, bagaimana juga aku harus masuk kedalam."
Menyaksikan si anak muda itu sudah tergerak hatinya oleh perkataannya, Thian-hong pangcu melanjutkan kembali kata-katanya.
"Demi masalah pribadimu serta kepuasan bagi dirimu sendiri, engkau membuat segenap umat persilatan jadi sengsara dan mendapat celaka, coba bayangkan tegakah Ling-simmu berbuat begitu ?Jawablah "
Perkataan ini mengandung maksud yang sangat dalam dan mengetuk perasaan halus sianak muda itu, membuat Gak In Ling jadi sangsi dan tak tahu apa yang harus dilakukan, tapi ia bersumpah akan mencabut jiwa Buddha Antik, mungkinkah ia tinggalkan tempat tersebut dengan begitu saja ?
Antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi, antara dendam dan cinta telah menyulitkan pemuda angkuh she Gak ini, dalam benaknya segara muncul pelbagai ingatan serta pikiran yang saling bertentangan, ia mulai merasakan kebingungan, kebimbangan dan kekacauan-
Pada saat itulah dari balik dinding berkumandang kembali suara terlakan dari Nabi racun Kongsun To.
"Hei, manusia yang menamakan dirinya Gak In Ling, andaikata engkau mampu melepaskan aku dari tempat kurungan ini, maka aku akan menyanggupi tiga syarat yang kau ajukan-" Jelas manusia racun itu hendak mencengkeram kesempatan baik ini untuk melarikan diri.
"Sungguhkah perkataanmu itu ?" tanya Gak In Ling dengan perasaan hati agak tergerak.
"Apa itu sungguh atau palsu " maki Nabi racun Kongsun To marah-marah. "Selama hidup aku Nabi racun belum pernah mengucapkan kata kata yang palsu ataupun membohongi orang lain."
Gak In Ling yang dasarnya memang tidak mengenali orang itu tentu saja tidak memahami watak serta tingkah lakunya, sepasang matanya yang jeli tanpa terasa dialihkan kearah Thian-hong pangcu dengan sorot penuh selidik.
"Walaupun selama hidup Nabi racun Kongsun To tak pernah berbohong dan menipu orang lain, tetapi manusia ini licik dan sangat berbahaya." ujar Thian hong pangcu dengan sedih. "Andai kata engkau lepaskan dirinya, maka ia akan memperlihatkan permainan setan kepadamu."
Setelah mengetahui bahwa Nabi racun Kong sun To tak pernah berbohong, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling tegurnya kearah balik dinding. "Syarat macam apakah yang engkau sanggupi ?"
"Asal aku mampu melakukan serta mengerjakan pasti akan kupenuhi, tapi engkau tak boleh minta aku untuk mati "
Kongsun To manusia yang ahli dalam penggunaan racun memang lihay sekali dalam melakukan semua pekerjaan, sebelum terlanjur ia telah mempersiapkan jalan mundur bagi diri sendiri.
"Baik, kita putuskan dengan janji ini," jawab Gak In Ling sambil mengangguk, selesai berkata ia siap menghantam dinding ruangan tersebut.
"Gak In Ling, sebelum bertindak aku harap engkau suka mempertimbangkan lebih dahulu tentang keamanan serta keselamatan sendiri" ajar Thian-hong pangcu lagi dengan penuh perhatian-
Gak In Ling seketika merasakan perasaan hatinya jadi hangat sekali, tapi ketika teringat olehnya bahwa kehidupan selama setengah tahun dengan cepatnya akan berakhir dan pada saat itu semua kehangatan akan musnah, ia jadi murung dan kesal kembali, sambil tertawa hambar katanya.
"Sekarang dia sedang membutuhkan bantuan dariku,aku percaya perbuatannya tidak akan sampai merugikan diriku "
"Tetapi andaikata mereka sudah kau lepas kan dari kurungan dan pada saat itu mereka sudah tiada lagi yang diharapkan lagi darimu, bagaimana keadaannya ?" sambung perempuan berkerudung merah dari samping. Gak In Ling tertawa.
"Sebelum mereka terlepas dari kurungan, akan kubicarakan syarat-syarat tersebut lebih dahulu "jawabnya.
Dalam pada itu Nabi racun Kongsun To telah berseru kembali dari dalam ruangan-"Ayoh, cepat Apakah engkau tak mampu untuk menjebolkan pintu batu tersebut ?"
Gak In Ling mengerutkan dahinya, dalam hati ia segera mengambil keputusan dan serunya. "Harap kalian berdua suka mengundurkan diri kesamping."
Dengan mengguna kan jurus menyapu rata lima bukit, pemuda itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas dinding batu itu.
Blaaaam Di tengah ledakan yang amat dahsyat, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebongkah batu cadas yang keras terhajar hancur dari atas dinding ruangan, begitu dahsyat dan kuatnya angin pukulan yang dilancarkan Gak In Ling itu sehingga muncullah sebuah lubang sebesar tiga depa di tempat itu.
Dengan cepat Gak In Ling loncat kemuka dan menghadang didepan mulut gua tadi, tiba-tiba tercium bau harum disisi tubuhnya, ketika ia berpaling tampaklah dua orang nona sudah berdiri dikedua belah sisinya.
Tebaran bubuk dinding memusingkan kepala dan mengaburkan pandangan semua orang, pada saat itulah dari dalam ruangan berkumandang suara gelak tertawa Nabi racun Kongsun To yang amat keras.
"Haaah haah haaah aku telah bebas.... aku telah bebas basah haaah...."
Ditengah gelak tawa yang keras dan memekakkan telinga itu, terbawa pula suara gemerincingnya rantai yang saling beradu.
Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu segera menengok kedalam, tiba-tiba kedua orang gadis itu menjerit tertahan dan loncat mundur ketempat semula, keadaan mereka bagaikan terpa gut oleh ular berbisa.
Gak In Ling tertegun, dengan cepat ia menengok kedalam, setelah mengetahui apa yang terjadi sadarlah sianak muda itu.
DidaLam ruangan terlihatlah seorang kakek tua berambut putih bermata cekung dan berjenggot panjang terpantek diatas dinding, dua buah rantai yang amat besar dan kuat menembusi tulang bahunya dan membelenggu kakek itu didinding batu, pakaian yang dikenakan sudah compang-camping tak karuan sehingga bagian bawahnya boleh dibilang sama sekali tak tertutup,
Dengan pandangan yang seksama Gak In Ling memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, terlihat olehnya ruang batu itu berliku-liku seperti sebuah lorong rahasia, kalau diujung lorong tidak terdapat sebuah pintu batu mungkin tempat itu sama sekali tak mirip seperti sebuah ruangan.
Bau busuk dan hawa lembab memancar keluar dari ruangan tadi, begitu tak sedap baunya sampai-sampai memuakkan sekali. Ketika ia menyaksikan bahwa ditempat itu tiada orang lain, hatinya kaget bercampur heran, setelah sangsi sebentar akhirnya ia melangkah masuk kedalam ruangan itu.
Sejak dinding itu berlubang, dengan pandangan yang tajam kakek itu menatap terus wajah Gak In Ling tanpa berkedip. menanti pemuda itu melangkah masuk kedalam ruangan, ia baru berkata sambil tertawa.
"Selama banyak tahun akhirnya aku berhasil juga mendapatkan kesempatan untuk meloloskan
diri."
sikapnya begitu girang dan bangga, seakan-akan Gak In Ling memang sudah menolong dia. Gak In Ling maju dua langkah kedepan, lalu menegur.
"Siapakah engkau ? Dan siapa namamu d i- antara tiga orang yang ada disini ? Dimana pula mereka berdua ?"
"Haa haa. . .. haa aku adalah Nabi racun Kongsun To " setelah berhenti sebentar ia melanjutkan- "Engkau takut ?" Gak In Ling tertawa dingin.
"Hee hee.. hee jangan dikata badanmu masih dirantai diatas dinding, sekalipun kau sudah
bebas merdekapun aku tak nanti akan jeri terhadap dirimu."
"Sebentar lagi aku tokh akan bebas merdeka " seru Kengsun To dengan senyum mengejek.
"Hmm Engkau mengira bahwa aku pasti akan menolong dirimu?^
Rupanya Nabi racun Kongsun To sudah menduga kalau Gak In Ling pasti akan mengucapkan kata-kata tersebut, bukannya terkejut atau heran dia malah tertawa. "Haa.... haa aku sudah menduga kalau engkau akan bersikap begitu terhadap diriku"
Gak In Ling terperanjat, suatu firasatjelek terlintas diatas wajahnya, serunya tanpa sadar.
"Kalau memang begitu engkau tak akan seyakin itu "
"Hee hee. ... bocah cilik aku Nabi racun Kongsun To kalau tak mampu mengalahkan dirimu, buat apa aku cari nama dan berkelana dalam dunia persilatan ?" seru Kongsun To sambil tertawa dingin. Setelah berhenti sebentar, ia tertawa terbahak-bahak lalu melanjutkan-
"Sekarang aku akan memberitahukan dirimu secara terus-terang, d isaat dinding batu itu kau jebolkan tadi, tanpa disadari kalian telah keracunan hebat"
Gak In Ling merasa amat terkejut, tapi dengan cepat sambil tertawa lantang sahutnya. "Hmm Siasat yang kau gunakan memang luar biasa sekali "
"Siasat apa ?"
"Siasat benteng kosong" jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Mendengar perkataan itu Nabi racun Kongsun To angkat kepala dan tertawa tergelak.
"Haa haa bocah cilik, kalau engkau tak percaya silahkan mengerahkan tenaga dan
mencobanya sendiri. Selama hidup belum pernah ku lakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan keberhasilannya, apalagi urusan ini penting sekali."
Dalam hati kecilnya Gak In Ling memang merasa curiga, karena sewaktu menjebolkan dinding tembok tadi ia sama sekali tidak mencium bau yang terasa aneh olehnya, mendengar perkataan itu ia segera menurut dan diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya.
Tiba-tiba air mukanya berubah hebat, napsu membunuh menyelimuti wajahnya yang tampan, selangkah demi selangkah ia maju ke depan, serunya.
"Kongsun To, engkau tak pernah menyangka dengan tindakanmu ini, bukan?"
Airmuka Nabi racun Kongsun To masih tetap tenang seperti sedia kala, sambil tertawa seram ia menjawab.
"Bukankah sudah kukatakan, selamanya aku tak pernah melakukan tindakan yang tidak meyakinkan diriku, tindakanmu itupun sudah berada dalam dugaanku." Gak In Ling merasakan hatinya makin tercekat sesudah mendengar perkataan itu.
"Setelah engkau mati, aku bisa menggeledah isi sakumu sendirL Hm Bukankah racun ini bisa kupunahkan kembali ?"
"Ha haa.... kalau engkau menginginkan tak usah digeledah lagi, aku akan mempersilahkan engkau untuk memilihnya sendiri."
Sambil berkata dari balikjubahnya yang robek mencomot sana merogo kemari, dalam waktu singkat sudah ada dua puluh botol lebih obat yang beraneka macam dipaparkan dihadapan pemuda itu, katanya.
"Diantara lima belas buah botol ini ada tiga belas botol berisi obat racun yang amat keji, sebuah botol berisi racun berdaya kerja lambat dan hanya satu botol saja yang berisi obat pemunah, jikalau engkau punya keberanian untuk mengadu nasib, aku bersedia menyerah kalah dengan begini saja."
Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka kalau Nabi racun Kongsun To bakal menggunakan tindakan semacam itu untuk menghadapi dirinya, tanpa terasa ia berdiri tertegun-
"Engkau tak usah putar otak lebih jauh." kata Kougsun To lagi sambil tertawa, "kalau di kolong langit masih ada orang yang mampu mengenali jenis racun yang kupergunakan, apa guna nya aku pergunakan julukan sebagai Nabi racun?"
Satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benak Gak In Ling, baru saja dia akan buka suara Kongsun To sudah berkata lagi.
"Sedikitpun tidak salah, engkau dapat menggunakan binatang untuk mencoba obatku ini, tapi dalam satu tiga perempat jam dari mana engkau mampu untuk mengumpulkan lima belas macam binatang ?"
Tindak-tanduk orang ini memang licik dan berbahaya sekali, bahkan semua yang sedang dipikir oleh orang lain telah berhasil ditebak semua olehnya.
Dalam keadaan begini boleh dibilang Gak In Ling sudah kehabisan akal, ia segera tertawa dingin-
"Hmm Engkau cukup keji dan hebat." serunya.
"Hee hee.. hee sekarang engkau bersedia membebaskan diriku, bukan ?"
Gak In Ling ingin cepat-cepat temukan Buddha Antik, sambil menggeleng dia bertanya. "Dimanakah dua orang lainnya ?"
"Apakah engkau juga akan melepaskan mereka berdua ?" tanya Kongsun To dengan nada tertegun-
Sebelum Gak In Ling sampat menjawab.
Leng In poocu yang berada didalam sudah berseru dengan suara lantang. "Ada apa ? Apakah engkau Kongsun To merasa tidak puas ?"
"Sedikitpun tidak salah." sahut Kongsun To dengan mata melotot, "aku memang merasa tidak puas, sebab selembar nyawaku harus kutukar dengan tiga macam syarat." Leng In poocu tertawa dingin.
"Hee hee engkau anggap aku Leng ciau adalah seorang manusia yang suka mencari
keuntungan dari orang lain ? Engkau bisa mengabulkan tiga macam syaratnya, apakah aku tak bisa penuhi juga tiga buah syaratnya ? Hmm, apa yang hendak. kau katakan lagi?"
"Haa haa anggaplah aku memang berpandangan sempit." seru Kongsun To kemudian
tertawa terbahak-bahak.
Gak In Ling yang selama ini membungkam segera berseru sambil tertawa dingin.
"Tiada halangannya bagiku untuk melepaskan engkau lebih dahulu, tapi kita harus bicarakan dulu pertukaran syaratnya."
"Nah, katakanlah"
Gak Ia Ling berpikir sebentar, lalu berkata "Pertama, mulai hari ini engkau tak boleh membunuh orang lagi didaratan Tionggoan."
"Tidak boleh membunuh semua orang pria atau tak boleh membunuh kaum wanita ?"
"Tentu saja baik lelaki maupun perempuan tak boleh dibunuh "
"Wah kalau begitu aku merasa keberatan," seru Nabi racun Kongsun To sambil geleng kepalanya berulang kali. "bagiku permintaan itu termasuk dua macam syarat."
"Engkau ingin mengingkari janji ?" tegur Gak In Ling dengan alis berkerut.
Kongsun To tenang sekali, jawabnya. "Manusia tokh dibagi antara laki dan perempuan, sedang laki dan perempuan merupakan jenis yang berbeda, tentu saja harus dianggap sebagai dua syarat."
Nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, rupanya dia akan turun tangan untuk membunuh kakek tua itu
Menyaksikan tingkah laku dari lawannya, Nabi racun Kongsun To tetap tenang-tenang saja sengaja ia berkata sambil tertawa hambar.
"Sekalipun aku dibunuh, pada akhirnya kalianpun tak akan lolos dari kematian."
"Engkau anggap aku takut menghadapi kematian ?" seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-
"Haa haa aku tahu kalau engkau tak takut mati." jawab Kongsun To sambil tertawa seram, "bahkan dua orang gadis itupun tidak takut mati, tapi, pernahkah engkau membayangkan dengan kematiannya berdua maka dunia persilatan akan jadi kalut dan kacau tidak karuan?"
orang ini benar benar licik sekali, rupanya dia hendak menggunakan pembicaraan yang telah didengarnya tadi sebagai senjata untuk memaksa lawannya tunduk.
Sedikitpun tidak salah, napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak In Ling perlahan-lahan lenyap tak berbekas, ia menghela napas di dalam hati dan mengangguk. "Baiklah, anggap saja sebagai dua syarat "
"Haa haa rupanya engkau bijaksana sekali hebat, hebat... ." seru Kongsun To sambil
tertawa hambar.
Gak In Ling mendengus dingin-"Hmm, mana obat pemunahnya ?" "Engkau toh belum lepaskan diriku, kenapa aku mesti serahkan dulu obat pemunah itu kepadamu ?"
"Ingin kuperiksa dulu obat pemunah itu cukup atau tidak ?"
"Untuk bagian satu orang, aku rasa jauh lebih dari cukup "
"Untuk tiga orang " seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-
"Wah, keberatan. Permintaaan sudah melebihi tiga syarat yang kita janjikan-"
napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak ln Ling muncul kembali dibalik sorot mata nya, dengan nada yang seram ia berseru. "Manusia she Kongsun, rupanya engkau cari mati"
Sepasang telapak segera diulangkan didepan dada, dan rupanya serangan yang maha dahsyat segera akan dilancarkan-
Sebagai manusia yang licik dan banyak akal setelah meninjau sejenak situasi yang dihadapinya pada saat itu, Nabi racun Kongsun To menyadari apabila ia tidak menolong kedua orang gadis itu, maka pemuda itu akan mengadu jiwa. Buru-buru serunya dengan nada gelisah.
"Baik, baiklah.... biar kutolong kalian bertiga, anggap saja untuk kali ini aku telah berbuat murah hati."
Gak In Ling tertawa dingin, perlahan-lahan ia turunkan kembali sepasang telapaknya dan berkata.
"Aku ingin memeriksa lebih dahulu obat pemunahnya itu "
"Engkau tidak percaya dengan diriku ?" seru sikakek dengan sorot mata berkilat.
"Tentu saja tidak percaya "
Mendengar perkataan itu Nabi racun Kong sun To naik pitam, ia mendengus dan berkata.
"Kalau tidak percaya lebih baik mati, sekalipun aku harus mati didalam gua ini juga tidak akan kuberikan obat pemunah tersebut padamu." habis berkata ia segera pejamkan mata rapat-rapat
Melihat kakek itu sudah unjukkan keras kepalanya, dia tahu kalau tidak mengalah maka suasana tak akan beres, maka diapun berkata. "Baiklah, aku orang she Gak bersedia mempercayai dirimu." Sambil berkata ia segera berjalan menghampiri Nabi racun Kongsun To itu.
Ketika mengetahui bahwa Gak In Ling bersedia mempercayai dirinya, dari balik mata Kong sua To segera memancar wajah kegirangan, sinar kegirangan tersebut muncul dari hati sanubarinya dan sudah puluhan tahun lamanya tak pernah muncul, cuma sayang tidak lama kemudian cahaya tersebut telah sirap kembali. Kakek tua itu segera memegang rantai yang membelenggu tubuh nya dan berkata.
"Rantai besi ini diikatkan pada dinding bata, dibalik dinding tersembunyi alat rahasia yang amat lihay, oleh sebab itulah meskipun sudah banyak tahun aku dikurung di tempat ini tapi selamanya tak berani menarik. Mari, mari siap kau tarik ujung yang sana dan aku akan menarik dari ujung sebelah sini, dengan begitu rantai ini akan patah.
Gak In Ling menurut dan segera memegang ujung rantai tersebut, serunya. "Ayo tarik "
"cukupkah tenaga dalammu ?" Gak In Ling tertawa dingin.
"cukup atau tidak. setelah engkau terlepas dari kurungan boleh dicoba sendiri" Kongsun To agak tertegun, tiba-tiba ia tertawa dan menjawab.
"Haa haa benar, ucapanmu memang benar. Sekalipun tidak engkau ucapkan, aku pun tak
akan lepaskan dirimu dengan begitu saja."
Tidak menunggu Gak In Ling buka suara lagi, ia segera membentak keras.
"Tariiik " sambil menggentak rantai baja itu segera dibetot kebelakang dan
"Blaaaam"
Rantai baja sebesar ibujari itu tertarik patah jadi dua bagian- Gak In Ling maupun Nabi racun Kongsun To sama-sama mundur selangkah ke belakang, pikir pemuda itu dalam hati dengan perasaan tercekat.
"Luar biasa sekali tenaga dalam yang dimiliki orang ini."
Rasa terkejut yang dialami Kongsun To be berapa kali lipat lebih hebat daripada Gak In Ling, diatas wajahnya sama sekali tidak terlintas rasa gembira atau senang karena lolos dari kurungan, sebaliknya pikiran dan perasaannya terasa bertambah hebat. Lama... lama sekali, kakek itu baru menatap wajah Gak In Ling sambil berkata.
"Tenaga dalam yang engkau miliki sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada apa yang kuduga semula, engkau memang luar biasa sekali"
"Hmm, aku merasa bangga sekali mendengar pujianmu itu." jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Habis berkata ia segera berjalan maju beberapa langkah kedalam, tidak berapa jauh ia temukan sebuah ruang batu lagi yang luasnya sepuluh tombak persegi, disana nampak dua orang kakek tua dalam keadaan mengenaskan dirantai pula diatas dinding batu.
Memandang bayangan punggung Gak In Ling yang lenyap dibalik ruangan, tiba tiba Kongsun To membentak nyaring.
"Gak In Ling, benarkah engkau hendak menyelamatkan mereka ?"
Gak In Ling segera berhenti dan putar badan, dengan wajah berubah memberat ia tertawa dingin.
"Apakah engkau hendak menghalangi diriku" jengeknya.
"Sedikitpun tidak salah, aku memang bermaksud begitu." jawab Kongsun To sambil tertawa dingin pula.
Leng In poocu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gelisah, ia segera berseru.
"Waah, kalau engkau berhasil bereskan dia badanmu tentu akan bertambah gemuk karena tak usah menepati janji lagi."
"Leng-heng," ujar Kong sun To sambil tertawa dingin, "sebelum engkau berhasil meloloskan diri, lebih baik kurangilah penggunaan akal licik dihadapanku "
Melihat Kongsun To tak mau masuk perangkap. Leng In poocu sadar bahwa satu pertarungan sengit tak dapat dihindari lagi, dalam hati segera pikirnya.
"Meskipun Gak In Ling belum tentu mampu menangkan Kongsun To, tetapi harapan bagiku untuk lolos masih tetap ada." Maka sambil tertawa dingin serunya.
"Asal engkau pergunakan obat-obat racun yang pernah mengangkat namamu dalam dunia persilatan, bukankah pertarungan sengit dapat kau hindari dengan begitu saja ?"
"Hee... . hee Leng-heng, apakah engkau tidak menilai orang lain terlalu tinggi ? Terhadap
dirimupun aku tidak gunakan racun, apalagi untuk menghadapi dirinya ?" Bicara sampai disini ia berpaling dan ujarnya kembali kepada Gak In Ling.
"Bocah, engkau boleh berlega hati Paling banter aku cuma melukai dirimu dan tidak sampai mencabut selembar jiwamu, karena aku masih menepati janjiku " Gak In Ling tertawa dingin
"orang tua, kau boleh legakan hatimu. Sebelum engkau punahkan racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu, akupun takkan mencabut jiwamu "
Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke arah Kongsun To dengan sikap yang congkak dan tinggi hati.
Leng In poocu yang berada disamping kalangan diam-diam merasa terperanjat, pikirnya. "Tekebur amat bocah ini."
Kongsun To sebagai Nabi racun yang sangat dihormati orang tentu saja tak kuat menahan penghinaan yang terasa tajam baginya itu, api kegusaran membakar dadanya membuat napsu membunuh tak bisa dikendalikan lagi, dengan mata berkilat hardiknya.
"Kurang ajar, rupanya engkau benar-benar ingin modar ?"
Gak In Ling ingin buru-buru membuat perhitungan dengan Buddha Antik, ia tak ingin banyak membuang waktu lagi, sambil ayun sepasang telapaknya kedepan bentaknya. "Sambutlah seranganku ini"
Dengan jurus "Gan-liok-peng-sah" atau Belibis hinggap di pasir datar, laksana kilat ia menotok dada Kongsun To dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Pada saat Gak In Ling membetot putus rantai besi tadi, Kengsun To sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu luar biasa sekali, oleh sebab itulah meskipun dalam pembicaraan ia berlagak seolah-olah sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap pemuda she Gak. tapi dalam kenyataannya ia sudah mempunyai perasaan was- was yang tinggi terhadap diri musuhnya itu.
Maka ketika dilihatnya Gak In Ling melancarkan serangan, ia tak berani bertindak gegabah buru-buru dengan gunakan jurus Jian-liong-ki-hong" atas menunggang naga naik burung hong ia loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula, tidak menunggu Gak In Ling berganti jurus, dengan menggunakan gerakan "Liong-hui-hong wu" atau naga terbang burung hong menari dia balik menghantam iga kiri pemuda itu.
(Bersambung ke Jilid 6)

Selengkapnya......