Jilid 9 : Ada Sembilan Jurus Telapak Maut  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe

Jilid 9 : Ada Sembilan Jurus Telapak Maut
"TIDAK sepantasnya kalau kau buat dia jadi gusar dan mendongkol sekali... " bisiknya.
"Semestinya engkau harus mengobati luka yang diderita olehnya." sambung perempuan itu.
"Tapi dia sama sekali tidak memperdulikan diriku ?"
"Aaaa biar." pikir perempuan itu lagi, "Kalau dia tidak sanggup dan demikian tinggi hatinya sehingga melampaui dirimu, tak nanti hatimu akan tertarik olehnya, aku harus mencari akal yang bagus untuk membuat dia jadi lupa dengan pemuda itu, sebab jika cinta yang bersemi di balik kesalahpahaman ini dibiarkan berlarut-larut, maka akibatnya akan sukar dilukiskan dengan kata-kata... " berpikir sampai disini, sambil tertawa dia lantas berkata.
"Kalau dia memang tak mau menerima tawaran yaa sudahlah, kenapa mesti dipikirkan terus ? Mari kita pulang saja "


Gadis suci dari Nirwana memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia berseru.
"Tidak Hal ini merupakan salah paham, aku harus menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya "
"Tapi Leng-cu. orang itu sudah pergi jauh."
"Tenaga dalamnya telah punah." seru gadis suci dari Nirwana dengan hati gelisah, "pada saat ini dia tak kan pergi terlalu jauh, mari kita susul dirinya.."
Habis berkata ia segera berangkat lebih dahulu mengejar kearah mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri tadi.

Diam-diam perempuan itu menghela napas panjang, pikirnya.
"Aaaiii sekarang aku baru merasa betapa pentingnya selain waktu yang amat singkat, tapi sekarang keadaan sudah terlambat." Ia segera ulapkan kepada kelima orang lainnya sambil berseru
"Cepat kalian menyebarkan diri kesekeliling tempat ini dan coba periksa jejaknya, semoga saja ia belum jauh meninggalkan lembah ini."
Keempat dayang itu sekalian segera mengiakan dan dengan cepat menyebarkan diri untuk mencari jejak sianak muda itu

Sepeninggalnya beberapa orang itu, perempuan cantik itu berjalan menghampiri manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara.
"Mungkin kalian berdua adalah manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara yang menyebut diri sebagai pelayan dari Gak In Ling bukan ?"
"Tempo dulu hanya sebutan saja, tapi sekarang hal itu memang merupakan kenyataan " jawab manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu.
"Kalau memang demikian adanya, mengapa kalian berdua tidak mengiringi disamping majikanmu itu ?"
"Selamanya persoalan yang telah diputuskan oleh majikan kami tak dapat digugat lagi." jawab manusia aneh dari utara sambil menghela nanas panjang, "dalam keadaan begini, yaa, apa boleh buat. Terpaksa kami hanya dapat melindungi keselamatan jiwanya secara diam-diam saja."
"Kalau memang begitu, tahukah kalian ke mana perginya sianak muda itu ? Apakah kalian bersedia memberitahukan kepadaku ?"
"Tuan muda dibelakang batu cadas didepan sebelah sana." sahut manusia sesat dari selatan, sambil berkata ia segera menuding kearah batu besar di- mana Gak In Ling melenyapkan diri tadi.
"Menurut dugaanku kalau tidak salah, mungkin sejak kini kalian akan kehilangan jejaknya." kata perempuan itu.
Tertegun hati manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara sesudah mendengar perkataan itu,jelas mereka percaya penuh bahwa apa yang diucapkan oleh perempuan aneh yang amat cerdik ini merupakan suatu kenyataan-
Sementara itu manusia sesat dari selatan setelak berpaling kearah rekannya, manusia aneh dari utara, sambil menuding mayat Gak In Hong yang menggeletak diatas tanah serunya dengan gelisah.
"Cepat bopong tubuhnya, mari kita pergi mencari jejaknya."
Selesai berkata kedua orang itu siap meninggalkan tempat tersebut.

Perempuan peramal sakti Ki Giok Peng gelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya.
"Aaaiii sungguh tak disangka hanya dikarenakan Gak In Ling seorang, seluruh dunia
persilatan telah terjadi kegaduhan."
Nada suaranya amat berat, membuat siapapun yang mendengar akan merasakan betapa risaunya perasaan hati orang ini.
Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian, dari siang sampai senja semestinya merupakan suatu jangka waktu yang amat panjang sekali hampir setiap jengkal tanah disekitar lembah itu sudah diperiksa dengan seksama, akan tetapi jejak Gak In Ling ternyata sama sekali lenyap tak berbekas.
Dengan perasaan kecewa gadis suci dari Nirwana berjalan balik kehadapan perempuan peramal sakti Ki Giok Peng, serunya dengan hati amat gelisah. "sebenarnya kemana dia telah pergi ?Jejaknya sama sekali lenyap tak berbekas."

"Leng-cu, mari kita pulang saja." bujuk Ki Giok Peng sambil memberi hormat, "Seandainya dia sudah mati, sekarang mungkin mayatnya sudah menjadi dingin dan kaku, seandainya dia belum mati suatu ketika dikemudian hari kita akan berjumpa kembali, sekarang mungkin dia sudah tak berada didalam lembah ini lagi."
Gadis suci dari Nirwana termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan perasaan apa boleh buat ia berkata. "Baiklah, mari kita berangkat "
Sejak peristiwa itulah senyuman riang gembira yang semula menghiasi wajahnya yang cantik telah lenyap tak berbekas dan tak pernah muncul kembali diujung bibirnya.

Sang surya telah tenggelam dibalik bukit dan rembulanpun muncul dihias angkasa, suasana dalam lembah yang terpencil itu tercekam kembali dalam keheningan serta kesunyian yang memilukan-
Diatas tanah berbaringlah empat sosok mayat yang dadanya terbelah dan noda darah berceceran diatas tanah, ditengah kesunyian dan kegelapan pemandangan seperti itu nampak mengerikan sekali.
Dari belakang batu cadas yang amat besar perlahan-lahan muncul seorang pemuda baju hitam yang bibirnya penuh berlepotan darah, dibawah sorot cahaya rembulan yang keperak-perakan tampaklah wajah yang pucat-pias bagaikan mayat, sepintas lalu keadaannya mirip sekali dengan sukma yang gentayangan-

Dia bukan lain adalah Gak In Ling yang menderita luka parah, selama ini rupanya ia menyembunyikan diri di dalam sebuah Liang gua yang dalam dibawah batu cadas tersebut, oleh karena itulah tak seorang manusiapun yang berhasil menemukan jejaknya.
Dengan susah payah GakIn Ling berjalan menuju ketepi sungai, angin malam berhembus lewat mengibarkan baju hitamnya yang tipis membuat sekujur badannya merinding dan bersin tiada hentinya.
Pemuda tampan yang dihari-hari biasa memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, pada saat ini ternyata tak mampu menahan hawa dingin dimalam hari yang cerah tersebut.

Bibirnya ternyata kering dan hatinya panas bagaikan dibakar, meskipun pemuda itu sadar bila kehausan itu dihilangkan dengan meneguk air itu berarti akan mempercepat saat ajalnya, akan tetapi pada saat ini ia tak mau memikirkan soal itu, dengan susah payah ia berjalan ketepi sungai.
Jarak sejauh lima puluh tombak dirasakan olehnya seakan-akan begitu jauh dan tidak sampai-sampai, baru saja duapuluh tombak ditempuh, badannya sudah lelah tak bertenaga, akhirnya ia roboh terjengkang dan jatuh terduduk diatas tanah.
Sementara ia masih duduk tepekur sambil memandang kejauhan yang diliputi kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba dari sisi tubuhnya berkumandang suara teguran yang seram dan bercampur nada bangga.
"Omitohud Gak sicu, selamat berjumpa kembali "

Dari suara teguran itu Gak In Ling segera mengetahui siapakah orang itu, hatinya kontan tercekat dan sekujur badannya tanpa terasa gemetar keras, diam-diam ia menghela napas, panjang dan berpikir.
"Meskipun aku Gak In Ling bakal menemui ajalku, sungguh tak kusangka akhirnya aku harus menemui ajal di tangan Buddha antik, apakah hal ini sudah merupakan suratan takdir?"
Berpikir sampai disini, dengan suara ketus ia segera berseru. "Buddha antik, sungguh tepat sekali saat kedatanganmu."
Belum habis Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, mendadak dia merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan tahu-tahu dihadapan matanya telah melayang datang Buddha antik beserta tiga orang manusia berbaju merah darah.
Dengan pandangan yang sangat tajam Buddha antik mengamati wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, kemudian dengan suara dingin ia berkata.
"Seandainya aku tidak mengetahui keadaan sicu yang sesungguhnya pada saat ini, tidak nanti aku akan berani datang kemari secara gegabah dengan membawa tiga orang teman ?"
"He he he kalau begitu aku merasa amat berbangga menerima kunjunganmu ini." ejek Gak
In Ling sambil tertawa dingin.

Buddha antik menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haa haa.. .. haa Gak In Ling, saat kematianmu sudah berada diambang pintu, kenapa engkau tidak kelihatan panik? Melihat ketenangan hatimu itu, bukan saja aku Buddha antik jadi amat kagum oleh kehebatan tenaga dalammu, aku pun amat mengagumi akan keberanian serta kejantananmu itu " Gak In Ling tertawa dingin.
"Kau tak usah banyak ngebacot pentang mulut anjingmu itu, aku sudah tahu bahwa engkau adalah Budda antik gadungan " serunya.
Sepasang alis mata Buddha antik gadungan berkernyit, tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya yang sangat tajam, perlahan ujarnya. "Apakah kau ingin mengetahui siapakah aku yang sebenarnya ?" Dengan sikap yang sangat dingin Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.
"Untuk mengetahui siapakah dirimu pada saat ini, aku rasa sudah amat terlambat, lebih baik aku tak usah mengetahui asal-usulmu lagi" sahutnya cepat.

Tiba-tiba salah seorang manusia berkerudung merah yang berdiri dibela kang Buddha antik menyela dengan nada dingin.
"Pada saat ini waktu menunjukkan hampir mendekati kentongan kedua tengah malam, aku rasa sudah tidak sepantasnya kalau kita membicarakan soal masalah tetek- bengek lagi, bukankah begitu ?"
Air muka Buddha antik berubah hebat, dengan hati terkesiap buru-buru dia memotong pembicaraannya dan mengangguk.
"Perkataan saudara sedikitpun tidak salah, hai, Gak In Ling, aku lihat dendam sakit hatimu yang sedalam lautan itu terpaksa baru akan kau tuntut balas pada penitisanmu yang akan datang. sekarang, terimalah kematian untukmu "
Dengan napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, dia ayunkan telapak tangan kanannya kedepan dan langsung membabat kearah tubuh sianak muda itu.

Dalam hati diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan menunggu Malaikat Elmaut datang menjemput sukmanya untuk pulang kealam baka.
Pada saat yang amat kritis dan jiwanya terancam antara mati dan hidup itulah mendadak dari atas permukaan sungai berkumandang datang suara gelak tertawa panjang yang amat keras dan menjulang tinggi keangkasa, begitu keras gelak tertawa tersebut hingga serasa memekakkan telinga setiap orang yang hadir ditempat itu, meskipun suaranya tidak begitu tinggi akan tetapi cukup mendatangkan perasaan bergidik bagi siapa pun juga.

Air muka Buddha antik serta tiga orang manusia berbaju merah darah itu berubah sangat hebat, telapak tangannya yang sudah diangkat ketengah udara serta siap melancarkan serangan itu-pun tanpa sadar diturunkan kembali kebawah, mereka segera putar badan menghadap kearah sungai dan alihkan seluruh perhatiannya kearah mana berasalnya suara tertawa tadi.
Begitu bertemu dengan apa yang terlihat, keempat orang itu dengan hati terperanjat segera mundur beberapa langkah kebelakang.
Dibawah cahaya rembulan yang memancarkan sinar keperak-perakan, tampaklah diatas permukaan air sungai berdiri berjajar dua orang kakek tua berambut putih bagaikan salju dan berjenggot sepanjang dada, kakek tua yang berada di sebelah kiri memakai jubah panjang berwarna putih, wajahnya amat cerah, alis matanya panjang dan berwajah saleh serta penuh perasaan welas-kasih.
Sebaliknya orang berada disebelah kanan berdandan aneh sekali, pakaiannya yang dikenakan adalah jubah panjang berwarna merah darah, dua ekor sulaman naga hijau yang amat besar dan memancarkan cahaya tajam tertera pada jubah lebarnya itu dan kedua ekor kepala naga tadi bertemu diatas dada, diantara kibaran jenggotnya yang berwarna ke perak-perakan, sulaman tersebut nampak begitu hidup dan amat menyolok.
Hanya saja raut wajah orang ini berbeda jauh dengan warna jubah yang dikenakan olehnya, dia memiliki wajah yang pucat pias bagaikan kertas, sepasang matanya merah berapi-api, suatu perbedaan yang menyolok sekali dengan raut wajahnya yang pucat dan seperti orang mati itu.

Dari gerak-gerik dua orang kakek tua yang berdiri diantara gulungan ombak itu, dengan cepat Buddha antik menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan musuh yang amat tangguh, kepada tiga orang manusia berkerudung merah yang berada dibelakang tubuhnya mereka saling bertukar pandangan sekejap. kemudian ujarnya dengan suara lantang.
"Entah siapakah dua orang cianpwe yang berada diatas permukaan sungai itu ? Ada maksud serta tujuan apakah kalian munculkan diri ditempat ini?"
Menggunakan kesempatan dikala Buddha antik sedang bercakap-cakap dengan dua orang kakek tua itu, tiga orang manusia berkerudung merah lainnya perlahan-lahan berjalan kedepan menghampiri tubuh Gak In Ling yang menggeletak diatas tanah itu.
Kakek berjubah merah yang berdiri disebelah kanan itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Buddha antik, sebaliknya sambil tertawa dingin ia berkata.
"Hm aku perintahkan kalian untuk menghentikan langkah kaki kalian semua ditempat itu, kalau kalian berani membangkang dan bergerak setengah langkah lagi kedepan, akaa kusuruh kalian menemui ajal ditempat ditengah genangan darah "
Ancaman tersebut diutarakan dengan nada yang dingin dan seram membuat orang jadi terkesiap.
Jarak diantara kakek tua itu dengan para jago berkerudung merah paling sedikit masih ada selisih empat puluh tombak jauhnya, kalau dibilang kakek tua baju merah itu mampu untuk merintangi perbuatan tiga manusia berkerudung merah dalam serangannya terhadap Gak In Ling, kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak masuk diakal.

Tetapi entah dari mana datangnya suatu kekuatan yang tak berwujud, ternyata ketiga orang manusia berkerudung merah itu benar-benar tidak berani melanjutkan langkahnya untuk mendekati Gak In Ling.
Buddha antik segera memutar sepasang biji matanya, dengan suara lantang ia berseru.
"Cianpwe berdua, kalian adalah jago-jago lihay yang sama sekali tidak terikat oleh segala peraturan didalam dunia persilatan, lain halnya dengan boanpwe sekalian yang hidup dalam sungai telaga, mau tak mau terpaksa kami harus menuruti peraturan dan perintah yang telah diberikan kepada kami untuk dilaksanakan, untuk itu aku berharap agar cianpwe berdua bisa menjadi maklum adanya serta memahami kesulitan yang sedang kami hadapi."

Kakek baju merah itu segera tertawa dingin.
"He he he hwesio gadungan, kalau engkau merasa bahwa perbuatanmu ada alasannya,
nah, sekarang juga katakanlah, tapi sebelum itu aku akan memperingatkan kalian lebih dahulu, kalau engkau terus menipu atau membohongi aku dengan sepatah kata pun, aku akan membacokmu hidup, hidup "
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada suara yang dingin menyeramkan membuat bulu kuduk oraag pada bangkit berdiri.

Tercekat hati Buddha antik mendengar ancaman tersebut, dengan ujung matanya dia melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian sambil keraskan kepala jawabnya.
"Perkumpulan kami merupakan salah satu perkumpulan besar dalam dunia persilatan, tanpa alasan dan sebab musabab orang ini telah membinasakan empat orang anak murid dari perkumpulan kami, perbuatannya keji, telengas dan sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan sehingga membuat orang yang menyaksikan jadi ngeri dan bergidik, karena perbuatannya yang terkutuk itulah terpaksa aku datang kemari untuk membuat perhitungan dengan dirinya."
"Apakah jantung dari keempat sosok mayat itu dicomot keluar olehnya " sela kakek baju putih dengan suara keras, nada ucapannya menunjukkan bahwa dia merasa amat tidak puas.
Buddha antik licik dan banyak akal, mendengar perkataan itu dalam hati kecilnya merasa amat kegirangan, dengan suara lantang ia segera menjawab.
"Sedikitpun tidak salah, perbuatan itu memang dia yang melakukan, kalau tidak percaya cianpwe boleh tanyakan sendiri kepadanya, aku percaya berada dihadapan kalian dua orang tua pastilah dia takkan berani bicara bohong"

Orang ini benar-benar amat beracun hatinya dan berbahaya sekali membuat hati orang bergidik, mula-mula dia mengatur cerita bohong dengan maksud merusak nama lawannya, kemudian dengan menggunakan bukti yang ada untuk meyakinkan ucapannya. Dari sini dapatlah dinilai sampai dimana busuknya hati Buddha antik. Terdengar kakek baju merah itu mendengus dingin lalu menegur. "Eeei, bocah cilik, apakah engkau ada perkataan lain yang hendak kau ucapkan ?"
Gak In Ling menggerakkan biji matanya yang telah tak bertenaga, lalu menjawab dengan dingin.
"Orang itu memang mati ditanganku "
"Aku sedang bertanya kepadamu apa alasan sehingga kau melakukan pembunuhan itu? Apakah kau sudah mendengar atau tidak?" seru manusia baju putih dengan suara keras, nada suara nya menunjukkan kalau dia mulai gusar.

Perlahan-lahan Gak la Ling pejamkan matanya kembali, dengan dingin dan ketus ia menjawab.
"Dikolong langit banyak terdapat manusia-manusia yang membuat pahala dengan mengikuti nama baik majikannya, aku sebatang kara dan tiada kekuatan apa-apa, banyak bicara sekalipun tiada gunanya, kalian berdua sebagai tokoh-tokoh sakti yang sudah mengasingkan diri dari persoalan keduniawian, aku lihat lebih baik jangan mencampuri urusan tetek bengek seperti ini lagi "
Mendengar perkataan itu kakek baju merah jadi gusar sekali, segera bentaknya.
"Bocah cilik, kau berani menasehati diriku, hm Rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup dan ingin mencari mampus ?"
Sambil berkata ia gerakkan badannya siap menerjang maju kedepan, tapi dengan cepat tubuhnya telah ditarik oleh kakek baju putih, terdengar ia berkata.
"Dikolong langit memang banyak terdapat orang-orang yang mencari pahala dengan membonceng nama besar majikannya. Makhluk tua, bukankah kau juga termasuk salah seorang diantaranya?"

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak kakek baju merah itu, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha masuk diakal, masuk diakal. Hei, bocah cilik, setelah aku turun tangan mencampuri urusan ini, sudah tentu aku tak boleh memiliki perasaan berat sebelah. Nah, katakanlah apa yang hendak kau katakan-"
Buddha antik yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa amat gelisah sekali, pengalamannya yang luas dengan cepat menyatakan bahwa kakek tua yang berada disampingnya pada saat ini rupa-rupanya jauh lebih bersimpati terhadap Gak In Ling daripada dirinya.
la segera tundukkan kepalanya, sambil berpura-pura membenahi pakaiannya yang kusut, diam-diam ia mengirim kisikan kepada ketiga orang rekannya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Gunakan kesempatan yaag sangat baik ini untuk turun tangan, jangan membiarkan bangsat cilik itu mendapat kesempatan untuk bicara, kalau tidak maka diantara kita berempat akan terancam bahaya dan mungkin kita takkan tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"

Agaknya ketiga orang manusia berkerudung merah itupun mempunyai jalan pikiran yang sama pada saat Buddha antik menengadah kembali, tiba-tiba terdengar tiga kali bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, terlihatlah tiga sosok bayangan merah secara terpisah bersama-sama menerjang kearah Gak In Ling.
Ketiga orang manusia berkerudung merah itu rata-rata merupakan jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, setelah turun tangan bersama secara tiba-tiba dapat dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh beberapa orang itu, dalam waktu singkat mereka sudah berada di hadapan lawannya.
Selisih jarak antara Gak In Ling dengan beberapa orang itu tinggal beberapa depa saja, menurut keadaan yang sebenarnya sulit bagi sianak muda itu untuk melepaskan diri dari mara bahaya, siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali berada di luar dugaan-
Pada saat ketiga orang itu ayunkan telapak tangannya untuk membinasakan Gak In Ling itulah mendadak terdengar bentakan nyaring yang bernada amat menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian-"Roboh kalian semua"
Bersamaan dengan menggalanya suara bentakan, kakek baju merah itu ayunkan tangannya kedepan dan terlihatlah lima titik cahaya merah yang amat menyilaukan mata meluncur kearah depan-
Jerit kesakitan yang amat menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, tiga orang manusia berkerudung merah itu menggeliat dan segera roboh terkapar diatas tanah.
Sekali ayunkan telapaknya orang itu mampu orang dari jarak sejauh empat puluh tombak, jangan dikata korban yang dibunuh adalah seorang jago persilatan yang sangat lihay. sekalipun seorang yang tidak mengerti ilmu silatpun belum tentu ada berapa orang jago lihay yang mampu untuk membereskan jiwanya.
Dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang tua itu benar-benar sangat lihay sehingga sangat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Gak In Ling yang menyaksikan kelihayan kakek baju merah itupun diam-diam bergumam seorang diri.
"Ujung jarinya berwarna merah, tetapi dalam telapak maut yang kupelajari sama sekali tak terdapat jurus ilmu jari."
Setelah didalam satu jurus kakek baju merah itu berhasil membinasakan tiga orang, dengan
penuh kegembiraan orang itu tertawa terbahak-bahak. "Haa..,,. haa haa mantap. mantap."
Sebaliknya kakek baju putih yang berada di samping kirinya dengan suara hambar berkata.
"Kesempatan untuk membunuh orang sudah lewat."
Kakek baju merah itu nampak tertegun, kemudian membantah.
"Pembunuhan ini mana boleh masuk hitungan ? Kita toh sudah berjanji bahwa perhitungan ini hanya berlaku selama berada dalam dunia persilatan saja "
"Bukankah kita telah berjanji, setelah membuka pantangan membunuh tidak diperkenankan pula setengah jalan? Tetapi dalam sekejap mata harus diteruskan sampai selesai. Disini hanya terdapat beberapa orang saja, setelah pantangan membunuh kau langgar dan pembunuhan tersebut tak kau kerjakan hingga selesai, bukankah itu berarti bahwa kau telah kehilangan kesempatan membunuh lagi ?"

Kakek baju merah itu berpikir sebentar, kemudian dengan perasaan menyesal ia berkata.
"Aaah, benar juga perkataanmu. Sayang sekali, kalau tahu begitu aku takkan melakukan pembunuhan "
Satelah berhenti sebentar, tiba-tiba serunya
"Oa ya disini masih ada dua orang lagi, kalau sekarang juga kulanjutkan seranganku, bukankah itu berarti aku sudah mengacaukan pembunuhan di tengah jalan?"

Sejak menyaksikan anak buahnya menemui ajal dalam keadaan yang tidak jelas duduk perkaranya, Buddha antik sudah merasa terkesiap sehingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu melakukan sesuatu apapun, kini kesadarannya telah pulih kembali, ia tak berani berdiam disana lebih lama lagi, sepasang kakinya menjejak tanah sekuat tenaga dan tubuhnya cepat-cepat kabur menuju kearah lembah. .
Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar kakek baju merah itu tertawa dingin dan berseru. "Hm Kau akan lari kemana ?"
Buddha antik merasakan urat nadi pada pergelangan tangan kanannya mengencang dan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya seketika musnah tak berbekas, rupanya ia sudah terjatuh ke tangan kakek baju merah itu.
Gak In Ling perlahan-lahan menengadah dan menyapu sekejap kearah Buddha antik, kemudian sambil tertawa dingin ejeknya.
"Buddha antik, sayang sekail aku orang she Gak tidak dapat turun tangan sendiri untuk membinasakan dirimu, akan tetapi aku dapat menyaksikan engkau berangkat selangkah lebih duluan, hal ini merupakan suatu kejadian yang patut digembirakan olehku "

Buddha antik sendiri rupanya sudah menyadari bahwa jiwanya bakal melayang ditangan kakek baju merah itu, mend engar perkataan tersebut, dengan nada dingin ia menjawab.
"Selisih jarak antara lima puluh langkah dengan seratus langkah hanya terpaut kecil sekali, luka dalam yang kau deritapun tak ada orang yang mampu untuk mengobatinya, setelah aku mati kaupun akan menyusul diriku serta menemui aku masuk Ling kubur. sekalipun aku mati duluan, kematian inipun tidak terasa sepi "
Kakek tua baju merah itu tertawa seram, tiba-tiba selanya. "He...he he..,.. hwesio gadungan, apakah perkataanmu telah selesai kau ucapkan ?" Wajahnya menyeringai seram, rupa-rupanya ia sudah siap sedia untuk turun tangan-Tiba-tiba kakek tua baju putih itu buka suara dan berkata.
"Tunggu sebentar, hwesio gadungan seandainya aku sanggup menyembuhkan luka yang diderita oleh bocah itu, kau akan mempertaruhkan apa?" sambil berkata ujung matanya diam-diam melirik sekejap kearah kakek tua baju merah itu.

Rupanya kakek baju merah itu seorang yang paling suka bertaruh, mendengar tentang soal pertaruhan sekilas rasa girang dengan cepat menghiasi wajahnya. Dengan pikiran yang cermat Buddha antik berpikir sebentar, kemudian jawabnya.
"Andaikata cianpwe benar-benar dapat menyembuhkan penyakit yang diderita orang ini, aku pun bersedia mati ditangan orang ini "
Buddha antik gadungan ini benar-benar seorang manusia yang licik dan berbahaya, ternyata dia bermaksud untuk mengulur waktu.
Kakek tua baju putih itu pura-pura tidak mengerti dan sinar matanya segera menyapu sekejap kearah kakek tua baju merah itu sambil bertanya. "Tua bangka, apakah kau setuju ?"
"Seandainya kau benar-benar ada maksud untuk bertaruh dengan orang ini, aku sih masih dapat menyabarkan diri dan untuk sementara waktu tak akan membinasakan dirinya lebih dahulu"
"Baik, kalau begitu kita putuskan demikian saja," jawab kakek baju putih itu sambil mengangguk.
Habis berkata ia berjongkok dan memeriksa nadi Gak In Ling.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian yang mencekam seluruh jagad. Lama... lama sekali, akhirnya kakek baju putih itu bangkit berdiri dan gelengkan kepalanya berulang kali, serunya.
"Habis sudah kali ini aku benar-benar kalah, penyakit yang diderita orang ini rupanya memang sudah tak dapat ditolong oleh seluruh manusia dikolong langit ini "
Mendengar jawaban itu terjelaslah hati Buddha antik, diapun berpikir didalam hati kecilnya.
"Habis sudah riwayatku, kalau ia tak dapat disembuhkan, bukankah itu berarti bahwa akupun akan kehilangan kesempatan untuk melarikan diri. Rupanya nasibku memang akan habis disini."
Tiba-tiba terdengar kakek tua baju merak itu buka suara dan berkata.
"Hem, dikolong langit masa ada penyakit yang tak dapat disembuhkan ? Tua bangka, kau, jangan mengigau seenaknya sendiri"
"Ha ha , ha akhirnya kau terjebak pula oleh siasatku "pikir kakek tua baju putih itu dalam
hati kecilnya sambil tertawa geli. Setelah termenung sebentar, iapun segera berkata. "Jadi kaupun ingin bertaruh ?"
"Bertaruh ya bertaruh."jawab kakek tua baju merah itu tanpa berpikir panjang lagi "cara kita masih juga seperti dahulu, kalau aku yang menang bertaruh maka kau ijinkan aku untuk melakukan satu kali pembunuhan, secara puas, bagaimana ?"

"Baik." sahut rekannya mengangguk. Kakek baju merah itu segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Buddha antik "Hei, hwesio gadungan aku anjurkan kepadamu lebih baik janganlah mencoba-coba untuk mengambil suatu tindakan yang bodoh. Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku membacok badan mu hidup-hidup"
Selesai berkata ia segera berjalan kehadapan Gak In Ling, berjongkok di sisi tubuhnya dan mulai memeriksa denyutan nadinya. .
Sepasang alisnya matanya berkernyit, wajah kakek tua baju merah itu berubah jadi amat serius, lama lama sekali ia baru bangkit berdiri dan putar otak dengan kepala tertunduk. mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan keadaan rekannya itu, kakek tua baju putih itu segera tertawa terbahak-bahak
"Haa... haa hai tua bangka, Kau sudah tertipu Hawa murninya tersumbat karena hatinya
mengalami kesedihan yang keliwat batas, kemudian badabnya termakan pula oleh sebuah pukulan, coba bayangkan penyakit semacam ini mana mungkin bisa disembuhkan Lebih baik kau menyerah saja "
"Tua bangka, kau benar-benar licik " teriak kakek tua baju merah itu dengan suara gemas.
Mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia tertawa terbahak-bahak sambil berseru. "Ha ha ha tua bangka, kali ini-engkaulah yang akan menderita kalah "
"Siapa yang bilang ?" seru kakek baju putih tertegun- "Masa kau mampu untuk menyembuhkan penyakitnya ?"
Kakek tua baju merah itu tidak menjawab, sambil ulapkan tangannya kearah Buddha antik ia berseru.
"Hwesio gadungan, sekarang enyahlah kau dari sini, Kami akan jalankan pertarungan ini hingga sampai pada akhirnya, bila bocah ini telah sembuh dengan sendirinya akan bisa datang mencari dirimu untuk membikin perhitungan"

Mendengar dirinya bebas Buddha antik jadi berlega hati dan keberaniannya pun jadi pulih kembali seperti sedia kala, ia segera menjawab. "Bolehkah aku mengetahui nama besar cianpwe berdua "
Pada waktu itu kakek baja merah tersebut sedang gembira, tanpa berpikir ia menjawab. "Yang seorang bernama Ki-san (suka kebajikan) dan yang lain bernama Ki-oh (suka kebejadan) "
Air muka Buddha antik gadungan seketika berubah hebat setelah mendengar disebutnya nama itu, secara beruntung ia mundur empat langkah kebelakang, serunya.
"Oooh, kiranya Lan In Lojin serta Ciang liong-sian dua orang loelanpwe, boanpwe mohon diri
lebih dahulu."
Selesai berkata ia putar badan dan sekuat tenaga melarikan diri terbirit-birit dari tempat itu, keadaannya mirip sekali dengan anjing buduk yang kena digebuk.

Sepeninggalnya Buddha antik kakek tua baju putih alihkan sorot matanya daa melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian kepada kakek baju merah tegurnya. "Dengan cara apakah engkau akan menyembuhkan penyakit yang diderita ini?"
"Itu, obat mujarabnya berada ditengah sungai" jawab kakek baju merah sambil tertawa. Satu ingatan berkelebat didalam benak kakek baju putih itu, pikirnya didalam hati.
"Gembong iblis ini benar-benar seorang pecandu judi, untuk menangkan pertaruhannya, ternyata dia bersedia menghadiahkan buah naga air yang sudah diincarnya selama belasan tahun, tak aneh kalau dia merasa begitu yakin kalau jiwa bocah ini dapat diselamatkan olehnya." berpikir sampai disini, sambil tertawa dia lantas berkata. "Apakah engkau akan menghadiahkan buah naga air tersebut kepadanya ?"
"Yang sebenarnya maksud serta tujuan kedatanganku kemari meskipun alasannya karena buah naga air, tetapi maksudku yang sebenarnya adalah untuk membunuh beberapa orang guna untuk memantabkan hatiku "

Terkesiap juga hati Gak In Ling mendengar ucapan itu, pikirnya didalam hati.
"Perangai orang ini amat keji dan sadis, kekejaman hatinya benar-benar mengejutkan hati orang, sungguh tak kunyana dikolong langit masih terdapat gembong iblis yang membunuh orang sebagai bahan kesenangan- Betul-betul mengerikan-" Sementara itu kakek baju putih sudah berkata lagi.
"Jadi kau sudah menduga pasti ada orang yang akan datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika tersebut ?"
"Paling sedikit hwesio gadungan itu adalah rombongan yang pertama, tentu saja dibelakang mereka masih terdapat banyak orang lagi yang akan datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika itu dan dengan sendirinya tujuanku pun akan tercapai." Mendadak ia membungkam sebentar, kemudian ia bertanya.
"Tua bangka, sebenarnya apa sih tujuanmu menarik aku untuk bersama-sama berdiri diatas permukaan air ?"
"Sekarang baru teringat akan kejadian itu, aku lihat pertanyaanmu itu kau ajukan terlalu lambat"

Kakek baju merah itu jadi amat gusar, teriaknya keras.
"Hm Tindakanmu ini bukankah kurang mencerminkan tindak-tanduk seorang lelaki sejati?"
"Kalau kau tidak datang, akupun tidak bisa berbuat apa-apa, setelah engkau datang sendiri ke mari, toh bukan aku yang memaksa dirimu untuk menghendaki kehendakku, kenapa menyalahkanku? "
Kakek baju merah ita berpikir sebentar lalu sambil menghela napas panjang katanya. "Aaaiii sudah, sudahlah, anggap saja aku yang lagi sial, dan kembali terjebak oleh siasat setanmu." setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh. "Kembalilah ketepi daratan dan jagalah bocah itu, aku akan pergi mengambil buah itu."
"Hati-hati dengan makhluk ganas tersebut " seru kakek baju putih memperingatkan-
"Engkau maksudkan aku tak mampu untuk menyembuhkan penyakitnya ?"
Kakek jubah putih itu rupanya telah memahami bagaimanakah watak dari orang itu, ia segera gelengkan kepalanya dan menjawab.
"Buah naga air tak boleh dibiarkan terlalu lama meninggalkan batangnya, kalau engkau ada maksud untuk membinasakan hwesio gadungan tadi maka daya khasiat buah tersebut tak boleh dihilangkan dengan sia-sia, sebab kalau tidak maka dalam pertaruhan ini kau akan menderita
kalah."
Dengan kepala tertunduk kakeh baju merah itu berpikir sebentar, dia tahu jika pertarungan ini dimenangkan oleh pihak lawan, maka niscaya dia akan dikurung kembali dalam lembah Lan- in kok selama lima tahun, pada waktu itu kecuali setiap hari harus menemani kakek baju putih itu, perbuatan apapun tak dapat dilakukan, keadaannya pada saat itu pasti akan tersiksa sekali, maka sambil tertawa katanya. "Kalau memang begitu aku harap engkau suka membantu diriku "
Tidak menantikan jawaban dari kakek baju putih lagi, dia enjotkan badan dan terjun kedalam air, dalam beberapa kali kelebatan saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan-
Setelah kakek baju merah itu terjun ke dalam air, kakek baju putih itu segera alihkan sorot matanya kearah Gak In Ling sambil bertanya. "Bocah, apakah kau bernama Gak In Ling?" Sianak muda itu mengangguk.
"Benar, darimana cianpwe bisa mengetahui akan namaku ?"
"Asal usulmu telah kuketahui semua, karena tempo dulu ayahmu pernah datang berkunjung ke lembah Lan-in-kok."
Satu ingatan berkelebat dalam benak pemuda itu, dengan nada kaget tanyanya. "Jadi cianpwe benar-benar adalah Lan ln Lojin ?"
"Sedikitpun tidak salah "
"Tapi orang itu... " kata Gak In Ling dengan ragu-ragu.
"Maksudmu kenapa kakek tua baju merah bisa berada bersama-sama ku ?" tanya Lan in Lojin-
"Benar " pemuda itu mengangguk. Lan in Lojin menghela napas panjang.
"Aaaiiijiwa manusia sebenarnya bajik, meskipun tingkah laku orang itu amat kejam daa tak kenal prikemanusiaan akan tetapi semua kekejamannya itu diciptakan oleh pengaruh keadaan berbicara mengenai asal-usulnya ia adalah seorang manusia yang patut dikasihani."
"Jadi maksudmu kesenangannya membunuh manusia adalah suatu perbuatan yang pantas ?" tanya Gak In Ling terperanjat.
"Akan kuceritakan asal-usulnya kepadamu, mungkin setelah kau mengetahui kejadian yaag menimpa dirinya maka engkau tak akan mempunyai kesan buruk terhadap dirinya lagi." Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.
"Sejak kecil dia mengalami nasib yang sangat buruk. ayahnya mati karena dibunuh dan dicelakai oleh komplotan sahabat serta familinya sendiri, karena mengincar harta kekayaan yang dimiliki orang tuanya, bukan saja sang ayah dibunuh bahkan ibunya yang telah menjandapun diusir sehingga setiap hari harus mengemis dijalan untuk menyambung hidupnya, setiap hari ia dicaci- maki dihina ditertawakan membuat dia yang pada waktu itu berusia tiga belas tahun mempunyai kesan yang amat buruk terhadap orang lain, tidak dapat dihindarkan lagi tertanam suatu watak yang bengis dalam hatinya. Suatu malam ketika ia berusia empat belas tahun, pada waktu itu sedang hujan badai yang amat deras, ibunya yang paling dia kasihi ternyata diperkosa orang dan kemudian dibunuh, rasa dendam, benci yang bertumpuk-tumpuk membuat wataknya berubah makin kejam.
Untuk membalaskan dendam bagi kematian orang tuanya ia telah berkelana hampir tiga puluh tahun lamanya, tetapi selalu gagal untuk mempelajari serangkaian ilmu silat yang agak genah, tiga kali menuntut balas hampir saja jiwanya ikut melayang, dalam putus asanya tiba-tiba ia mengembara keluar perbatasan dan sejak itulah dalam dunia persilatan telah kehilangan orang tersebut."

Lan In Lojin menghela napas panjang, dengan wajah serius sambungnya lebih jauh.
"Siapa tahu, setelah ia lenyap hampir lima puluh tahun lamanya, dalam dunia persilatan telah terjadi suatu gelombang besar yang amat mengejutkan setiap orang, dalam semalaman saja laki perempuan sampir dua ratus orang banyaknya yang berdiam didesa kelahirannya telah ditemukan mati dalam keadaan mengenaskan diseluruh jalan besar, tak seorangpun yang lolos dalam pembunuhan masal itu, mereka yang dahulu pernah menganiaya serta menghina dirinyapun mati secara konyol, kabar berita itu dengan cepatnya tersiar dalam dunia persilatan, semua orang menyebut dirinya cing-liong-oh-mo iblis bengis naga hijau, semua partai menghimpuni kekuatan untuk membinasakan dirinya, akan tetapi ilmu silat yang dimiliki orang itu amat tinggi, setiap kali terjadi pengeroyokan semua orang yang ikut dalam pergerakan tersebut tak seorangpun yang pernah kembali lagi dalam keadaan hidup.
Sejak itulah di- mana ia munculkan diri, bagaikan terserang wabah penyakit yang menular, orang-orang pada menghindarkan diri dan mengungsi, sedang diapun menjadi lambang dari segala kebejadan dan kejahatan yang ada dikolong langit.. "
"Bagaimana selanjutnya ?" tanya Gak In Ling sambil mengerdipkan sepasang matanya.
"Akhirnya dia ditaklukkan orang "
"Dan orang itu pastilah locianpwe." Lan In Lojin mengangguk.
"Benar kami telah bertempur selama tiga hari tiga malam lamanya diatas gunung Kun-san "
"Dan akhirnya locianpwe berhasil menangkan penarungan tersebut ? Bukan begitu ?"
"Tidak Dalam ilmu silat aku tak berhasil memenangkan dirinya." jawab Lan In Lojin sambil gelengkan kepalanya.
"Lalu secara bagaimana engkau berhasil menaklukkan dirinya ?"
"Kami bertaruh"

Mendengar sampai disini, Gak In Ling pun memahami duduk persoalannya, rupanya kecerdasan Lan Io Lojin jauh lebih tinggi daripada dirinya, tentu saja kesempatan untuk menangkan pertaruhan jauh lebih banyak daripada lawannya.
Lan In Lojin memandang sekejap kearah permukaan sungai, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
"Sejak itulah ia telah merubah namanya sendiri sebagai Ciang-liong-sian, ia telah berjanji dengan diriku, setiap kali kalah bertaruh maka dia harus dikurung selama lima tahun didalam lembah Lan- in- kok, dan setiap kali menang bertaruh maka ia diperbolehkan melakukan pembunuhan satu kali."
Pada saat itulah tiba-tiba dari permukaan sungai berkumandang datang suara deburan ombak yang menerjang tepi pantai, mendengar suara tersebut dengan wajah berubah jadi amat tegang Lan In Lojin segera bangkit berdiri dan menuju ketepi pantai.

Tampaklah Ciang-liong-sian sambil membawa sebiji buah berwarna putih mulus yang besarnya bagaikan telur ayam sedang bergerak menuju ke- atas daratan, dibelakang tubuhnya mengikuti seekor makluk aneh sebesar gayung air yang menyerupai naga, juga menyerupai ular dengan sebuah tanduk diatas kepalanya.
Menyaksikan peristiwa itu Lan In Lojin setera membentak keras, dengan cepat tubuhnya meloncat setinggi belasan tombak keangkasa lalu menerjang kearah sungai, dari tengah udara dengan ilmu lek peng-ngo-gi atau membumi rata lima bukit dia hajar makhluk aneh tersebut.
Tiada desiran angin yang berhembus lewat dari telapaknya, namun muncullah segulung tenaga tekanan tak berwujud yang dengan cepat menghantam makhluk aneh itu sehingga tercebur kembali kedalam air sungai.
Dalam pada itu Ciang-liong-sian sudah berada diatas daratan, sambil lari menuju kearah Gak In Ling serunya dengan cemas.
"Cepatlah kau telan buah ini, kalau tidak maka khasiatnya akan lenyap seketika "

Terhadap kekejaman yang dilakukan orang ini Gak In Ling sudah mempunyai kesan yang lebih baik, sambil menatap tajam wajah ciang-liong-sian diapun berkata. "Aku orang she Gak takkan membicarakan tentang budi kebaikanmu ini lagi "
Sambil berseru dia menerima buah berwarna putih itu dan segera dimasukkan kedalam mulut.
Ciang-liong-sian agaknya dibikin tertegun oleh perkataan tersebut, sesudah termangu-mangu sejenak ia berseru dengan nada keheranan-"Sebenarnya apa maksud dari perkataanmu itu?" Gak In Ling mengedipkan sepasang matanya kemudian menjawab. "Karena selama hidup aku sudah tak dapat membalas budi kebaikanmu lagi."

Ciang-liong-sian tertawa terbahak-bahak. dengan sepasang matanya yang amat tajam ia menatap wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, seakan-akan sedang menikmati sesuatu yang indah serunya kembali.
"Hei, bocah muda, kau benar-benar tampan sekali. Setelah kau telan buah naga air bukan saja tenaga dalammu telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, mungkin wajah mupun akan bertambah tampan, benar-benar berharga sekali, benar-benar tak kecewa pekerjaanku "
"Mungkin aku hanya menyia-nyiakan harapan dari locianpwe " sambung Gak In Ling sambil tertawa sedih.
Habis berkata perlahan-lahan ia pejamkan matanya kembali.
Dari arah sungai terdengarlah Lan In Lojin sedang membentak dengan suara yang amat keras. "Binatang Kau akan lari kemana ?"

Ciang-liong-sian segera berpaling, tampaklah ombak disungai menggulung setinggi bukit, keadaan benar-benar mengerikan sekali, sementara Lan In Lojin sambil berdiri kekar di tepi daratan melancarkan pukulan-pukulan dahsyat kearah sungai, posisinya nampak terjepit dan mengerikan-
Setelah berdiam selama banyak tahun dengan Lan In Lojin, kesan ciang-liong-sian terhadap sahabatnya ini boleh dibilang sudah mendalam sekali, walaupun dia tahu bahwa sahabatnya mempunyai keyakinan untuk menangkan pertarungan ini akan tetapi ia tetap merasa tak lega hati, sambi mengempos tenaganya, ia bersiap sedia untuk memberi bantuan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari tepi pantai berkelebat lewat serentetan cahaya putih dan kemudian lenyap didalam sungai, bersamaan itu pula gulungan ombak yang amat dahsyat diatas permukaan air pun menjadi tenang kembali.
Baik Lan In Lojin maupun ciang-liong-sian jadi tertegun menyaksikan peristiwa itu, tiba-tiba dari tempat kejauhan berkumandang datang suara seruan seseorang yang amat nyaring, "Kalian pergilah dari sini "
"Tolong tanya siapakah namamu ?" seru Lan In Lojin dengan suara lantang.
"Gadis suci dari Nirwana, burung hong aneh dari luar lautan "
Air muka Lan In Lojin segera berubah jadi muram, pikirnya.
"Dunia persilatan yang sudah tenang, rupanya takkan menjadi tenang untuk selamanya." Sementara itu Ciang-liong-sian telah berkata sambil tertawa.
"Aku lihat kau tak dapat melakukan perbuatan yang memikirkan tentang keselamatan umat manusia lagi, bagaimana tua bangka ? Bila beberapa orang perempuan yang berkepandaian silat tinggi itu mulai memperebutkan dunia persilatan maka kekacauan yang bakal terjadi akan sepuluh kali lipat lebih hebat daripada kekacauan yang kuciptakan beberapa tahun berselang haa haa haa bagaimana ? Aku lihat kali ini kau sudah tak dapat kembali kelembah Lan- in- kok lagi."

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah berjalan kearah daratan-
Lan In Lojin tampak berpikir sebentar, kemudian bertanya.
"Aku mempunyai suatu akal yang sangat bagus, cuma aku tak tahu apakah engkau si tua bangka menyetujuinya atau tidak."

Khasiat dari buah naga air itu benar-benar luar biasa dan mustajab sekali, dalam waktu yang amat singkat Gak In Ling telah berhasil menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya dan segera bangkit berdiri, wajahnya pada saat ini merah bercahaya dan ketampanannya jauh lebih mengesankan daripada keadaannya tempo hari. Dengan alis berkerut Ciang-liong-sian segera berseru.
"Tua bangka, kalau ada perkataan cepat-cepat utarakan keluar, janganlah kau putar-putar jadi membingungkan "
"Baik engkau maupun aku adalah sama-sama orang yang telah berusia seratus tahun, apakah kita masih harus memperebutkan nama dan kekuasaan dengan orang-orang muda itu ?"
Napsu membunuh tiba-tiba memancar keluar dari balik mata ciang-liong-sian, ia tertawa terbahak-bahak.
"Haa... haa haa tua bangka, aku sudah mengetahui maksud hatimu."
Lan In Lojin melirik kearah samping kanan kemudian bisiknya lirih. "Apakah engkau menyetujuinya ?"
"Kalau dahulu mungkin tidak setuju, tapi sekarang aku dapat menyetujuinya." Habis berkata ia melirik sekejap kearah Gak In Ling.
Setelah mendapat persetujuan dari rekannya, Lan In Lojin segera berpaling kearah Gak In Ling dan berkata dengan wajah serius.
"Gak In Ling, tahukah engkau bahwa dikolong langit beberapa saat kemudian bakal terjadi badai hujan deras yang amat hebat?"
"Jangan- jangan ia maksudkan diriku ?" pikir Gak In Ling dengan perasaan hati agar tergerak.
Berpikir sampai disitu, dia menjawab. "Boanpwe telah mengetahuinya."
"Apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan situasi yang amat gawat ini ?" Kembali Gak In Ling merasakan hatinya agak bergerak. pikirnya didalam hati.
"Urusan pribadikupun tidak sempat untuk diselesaikan, mana aku punya waktu untuk mengurusi persoalan seperti itu ?" Maka ia segera menjawab.
"Mungkin boanpwe tak dapat melakukan sesuatu apapun untuk menanggulangi situasi yang amat gawat tersebut."

"Tetapi aku telah mengetahuinya bahwa hanya kau seorang yang mampu untuk mengatasi situasi yang gawat ini dan hanya kaulah yang mampu untuk menyelamatkan umat persilatan dari bencana badai yang amat luar biasa ini."
"Cianpwe, aku harap kau sudilah kiranya memaafkan aku orang she Gak, sebab didalam kenyataan aku Gak In Ling mempunyai kesulitanku sendiri, dan bukannya aku tak bersedia untuk menyumbangkan tenagaku..."
"Aku mengetahui bahwa engkau sudah pernah menelan pil cui-sim-wan yang akan mempersingkat hidupmu, tetapi pengaruh racun itu bukanlah suatu racun yang tak dapat diobati."

Mendengar jawaban tersebut, keputus-asaan yang selama ini mencekam hatinya tiba-tiba punah tak berbekas, dan harapan untuk hiduppun muncul kembali didalam hatinya, dengan suara tertahan ia berseru.
"Siapakah yang mempuyai obat mujarab untuk menyembuhkan diriku dari pengaruh racun
tersebut ?"
"Gadis suci dari Nirwana "
Begitu mengetahui nama gadis itu, dengan cepat Gak In Ling gelengkan kepalanya sambil berseru. "Aku tidak ingin hidup terus"
Dari perubahan air muka Gak In Ling, dengan cepat ciang-liong-sian mengetahui bahwa pemuda itu pastilah menaruh kesan yang jelek terhadap gadis itu, dengan cepat serunya.
"Hm, agaknya kau memang mempunyai sikap seorang jantan yang tak sudi tunduk pada kaum wanita."
Merah padam selembar wajah Gak In ling karena jengah, buru-buru dia alihkan pokok para bicaraan kesoal lain dan bertanya.
"Cianpwee, sebenarnya apa tujuan serta maksudmu ?"
"Gak In Ling," sahut Lan Ie Lojin dengan wajah serius, "benarkah engkau tak tersedia memikirkan keselamatan dari umat manusia dikolong langit ?"

Air muka Gak In Ling berubah hebat, buru buru ia berseru.
"Boanpwe tidak lebih hanya seorang angkatan muda yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan, kenapa sih cianpwe mesti harus mencari aku seorang manusia yang sama sekali tidak berguna ini ?"
"Karena hanya engkau seoranglah yang pantas memikul tanggung jawab yang amat berat ini?"
"Boanpwe sama sekali tidak mengerti akan maksud dari perkataan cianpwe itu."
"Karena beberapa orang pemimpin persilatan yang berkuasa pada saat ini semuanya adalah kaum wanita."
"Lalu apa sangkut pautnya hal ini dengan diriku ?"
"Dikemudian hari engkau tentu akan mengetahui dengan sendirinya, seandainya engkau mempunyai kebajikan dan keinginan untuk menyelesaikan tugas mulia tersebut, maka sepantasnya kalau engkau laksanakan semua perbuatan seperti apa yang kukatakan kepadamu."

Perlahan-lahan Gak in Ling menengadah ke atas, sebenarnya dia memiliki suatu watak yang suka berbuat kebajikan untuk umat manusia, tetapi waktu yang tersedia amat terbatas sekali, dan dia lagi tidak ingin bertemu kembali dengan gadis suci dari Nirwana, oleh sebab itulah ia tidak dapat mengabulkan permintaan itu.
Menyaksikan kesemuanya itu dengan perasaan kecewa Lan In Lojin menghela napas panjang katanya.
"Aaaiii. .. mungkin juga engkau memang benar-benar mempunyai kesulitan yang amat terpaksa, baiklah. Mungkin kejadian itu memang sudah merupakan suratan takdir yang tak dapat diselamatkan oleh kekuatan umat manusia, mari kita pergi dari sini " Habis berkata ia segera putar badan dan berjalan menuju kemulut lembah tersebut.
Tiba-tiba Gak In Ling berseru keras. "Locianpwe, boanpwe menyanggupi permintaanmu itu "
Suaranya agak gemetar, jelas beberapa patah kata itu diutarakan keluar setelah menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya.

Ciang-liong-sian dengan cepat putar badan dan berkata sambil tertawa keras.
"Haa haa sejak ini hari, sembilan jurus telapak maut akan muncul kembali dalam dunia persilatan, seringkali diwaktu senggang aku selalu membayangkan sampai kapankah manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai jagoan dalam dunia persilatan bakal roboh bergelimpangan termakan oleh pukulan telapak mautku, dan kapan kegemaranku untuk membunuh orang bisa terpenuhi, ternyata sekarang kesempatannya telah tiba Haa ha. ha tua bangka...Engkau tentu tidak akan pernah membayangkan bukan, kalau aku selalu menantikan saat seperti ini ?"
Seolah-olah hanya membunuh manusialah yang akan menggirangkan hatinya, teringat kalau sebentar lagi ia boleh melampiaskan kegemarannya untuk membunuh manusia, kakek tua baju merah itu jadi kegirangan setengah mati.

Sebaliknya Gak In Ling yang mendengar perkataan itu jadi terperanjat, segera serunya. "Telapak maut ? Semuanya terdiri dari sembilan jurus banyaknya? Aneh sekali"
"Kenapa ? Apakah kau merasa terkejut bercampur heran ?" tegur ciang-liong-sian-Sebelum pemuda itu sempat menjawab, Lan In Lojin telah berkata lebih dahulu.
"Mari kita berbicara sambil melakukan perjalanan Sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk berangkat "
Sesudah berhenti sebentar, kepada ciang-liong-sian ia berkata.
"Sepanjang jalan kau tidak diperkenankan untuk turun tangan membunuh orang lain"
"Tapi aku toh menangkan taruhan itu, kemenangan tersebut sama sekali belum kunikmati barang satu kalipun" bantah ciang-liong-sian dengan dahi berkerut.
"Tadi bukankah kau sudah membunuh orang ?" ciang-liong-sian jadi amat gelisah, buru-buru katanya.
"Aah, mana mungkin Aku tak pernah membunuh seorang manusiapun ditempat ini"
Lan In Lojin segera melompat dua puluh tombak jauhnya kesebelah kanan, dari balik semak belukar dia mengangkat sesosok mayat dan berseru.
"Kalau memang begitu, aku ingin bertanya siapakah yang telah membunuh orang ini ?"

"Oh, sungguh tak kusangka kau berhasil mengetahui rahasiaku itu." seru ciang-liong-sian dengan nada amat kecewa.
"Ketika kau tertawa terbahak-bahak tadi. Dari balik biji matamu telah memancarkan napsu membunuh, pada saat itulah aku sudah tahu kalau kau telah melakukan pembunuhan "
Dengan perasaan apa boleh buat ciang-liong-sian gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Aaaii kau memang luar biasa sekali. Nah, cepatlah ambil keluar lilinmu itu, aku akan segera melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang mengincar buah naga air disekeliling tempat ini"
Lan In Lojin gelengkan kepalanya dengan perasaan sedih, dari sakunya dia segera mengambil keluar sebatang lilin yang pendek sekali dan panjangnya cuma satu sentimeter, kemudian memasang api dan menyulut lilin tersebut.
Bersamaan dengan bersinarnya lilin tadi, ciang-liong-sian bersuit panjang dengan nada yang mengerikan sekali, badannya berkelebat kedepan dan seketika lenyap dari pandangan-

Lan In Lojin menghela napas panjang berat sementara Gak In Ling tidak habis mengerti perbuatan apakah yang sedang dilakukan oleh mereka berdua.
Lilin yang panjangnya satu senti meter itu dalam waktu tingkat sudah habis terbakar, cahaya apinya semakin lama semakin lemah dan akhirnya hampir padam.
Sebelum cahaya api lilin itu padam keseluruhannya, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat dan ciangliong-sian muncul kembali ketempat semula. Lan In Lojin segera menghela napas panjang dan gelengkan kepalanya berulang kali.
"Engkau memang keterlaluan sekali, sehingga waktu sedetikpun tidak kau buang dengan begitu saja."
"Haa haa haa.. lima belas orang.... lima belas orang" "Semuanya kau bunuh mati ?"
"Belum pernah aku biarkan korbanku roboh dalam keadaan hidup, tentu saja mati semua " Gak In Ling jadi amat terperanjat, pikirnya.
"Dalam waktu yang demikian singkatnya, ia berhasil membinasakan lima belas orang jago, ia memang benar-benar hebat sekali. Kalau seseorang tidak memiliki dasar ilmu silat yang baik, tak mungkin mereka berani datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika tersebut, sebaliknya dengan dasar ilmu silat yang tinggi ternyata berhasil dibunuh oleh orang ini tanpa menimbulkan kegaduhan atau suara barang sedikitpun juga, dari sini bisa dibuktikan betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang ini...."
Kemudian ia berpikir lebih jauh: "Apakah orang-orang itu betul-betul datang kemari ikut memperebutkan buah naga air ? Benarkah buah naga air itu adalah sebiji buah yang langka dan amat berharga sekali ?"

Sementara itu Lan In Lojin telah berkata. "Mari kita pergi "
"Pergi kegunung Tiang Pek San atau telaga Yau-ti ?" tanya Gak In Ling dengan perasaan tidak tenang. Lan In Lojin mengangguk.
"Benar, ayo berangkat " habis berkata ia segera berangkat lebih dahulu meninggalkan tempat
itu.
Gak In Ling segera menyusul di belakangnya, sedang ciang-liong-sian berada paling belakang.
Dengan gerakan tubuh yang sangat cepat ke tiga orang itu berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka telah lenyap di-dalam kegelapan-

Lama sekali sesudah kepergian ketiga orang itu, dari tengah lembah muncul kembali beberapa puluh sosok bayangan manusia, mereka menyapu sekejap kearah mayat yang bergelimpangan diatas tanah, kemudian dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuh-merekapun berlalu pula menuju kemulut lembah.
Salju yang tebal menyelimuti hampir seluruh puncak gunung Tiang-pek-san, tinggi permukaan diatas bukit itu kurang lebih ada beberapa ribu meter dari permukaan air laut, tiga sosok bayangan manusia dua orang kakek tua dan seorang pemuda tampan sedang berjalan diatas salju yang putih dengan kecepatan bagaikan terbang, dalam waktu singkat mereka telah berada kurang lebih empat-lima puluh tombak jauhnya dari tempat semula.
Tiba-tiba ketiga orang itu menghentikan gerakan tubuhnya di depan sebuah hutan pohon song yang teratur rapi sekali, terdengar kakek tua baju merah itu berkata.
“Disinilah tempatnya, tak mungkin bakal salah lagi”
“Bagaimana caranya kita memberitahukan kedatangan kita kepada orang-orang itu?” tanya sang kakek baju putih dengan cepat.
“Kita terjang masuk saja kedalam dengan kekerasan.”
“Menurut pendapat boanpwe,” sambung sang pemuda yang bukan lain Gak In Ling, “Kemungkinan besar kita sudah berada dibawah pengawasan mereka!”
Lan In Lojin segera tertawa.
“Kita tokh bukan datang untuk mencari balas, apa yang perlu dirisaukan lagi? Ayoh berangkat, kita masuk kedalam hutan!”
Selesai berkata ia segera bergerak lebih dahulu menuju kedalam hutan pohon song tersebut.
(Bersambung ke Jilid 10)

Selengkapnya......

Jilid 8 : Yau-ti giok-li, Leng-cu dari Nirwana  

Diposting oleh jagatcerita

TELAPAK SETAN
Karya : Tjan Ing Djioe


Jilid 8 : Yau-ti giok-li, Leng-cu dari Nirwana
"LENG-CU, orang ini " Su Put Siang si empat tidak mirip berdiri melongo dengan perasaan cak habis mengerti, ia tidak paham apa sebabnya sang Leng-cu memerintahkan dirinya untuk melepaskan orang itu.
"Lepaskan dirinya " kembali gadis suci dari Nirwana mengulangi kembali kata-katanya.
Terpaksa Empat tidak mirip melepaskan cekalannya, dengan pandangan termangu- mangu ditatapnya wajah gadis itu tanpa berkedip. sementara matanya terbelalak dan mulutnya melongo, seakan-akan ia sedang menjumpai suatu kejadian yang sangat aneh.
Setelah terlepas dari cekalan lawannya, Gak In Ling segera melemaskan otot-otot lengannya, kemudian dengan suara dingin ia menegur. "Leng-cu, apakah engkau tidak menyesal ?"
"Hee hee hee... . Gak In Ling," seru gadis suci dari Nirwana sambil tertawa dingin. "Apakah engkau mengira dengan mengandalkan serangkaian permainan telapak mautmu yang tidak komplit itu maka dikolong langit lantas tiada tandingan lagi ?"

Ditengah keketusan nada suara itu terselip pula nada menghina dan pandang rendah lawannya.
Gak In Ling sama sekali tidak gusar, mungkin hal ini disebabkan karena masih ada urusan yang lebih penting lagi yang harus diselesaikan olehnya dengan cepat, membuat ia tak mau menggubris semua penghinaan pada saat ini.
"Tidak "jawabnya tawa. "Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan seperti itu, dan lagi akupun tahu bahwa kepandaian silatku masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan Leng-cu" selesai berkata ia siap berlalu dari sana.
"Engkau hendak pergi kemana ?" tiba-tiba gadis suci dari Nirwana menegur.
"Lembah pemutus sukma "
"He hee.. . engkau anggap dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu, seluruh lembah tersebut dapat kau ratakan dengan tanah ?" ejek gadis suci dari Nirwana sambil tertawa dingin-
"Mungkin." jawab Gak In Ling, dengan sedih ia memandang sekejap keujung langit, "atau mungkin juga disanalah merupakan tempat peristirahatanku yang terakhir "
Tanpa berpaling ia segera berlalu dari situ. Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat ia menghadang jalan pergi sianak muda itu. "Seandainya aku tidak mengijinkan dirimu untuk tinggalkan lembah ini ?" serunya.
"Aku rasa Leng-cu bukanlah seorang manusia yang plin-plan serta menjilat ludah yang telah dilontarkan sendiri bukan ?"
"Siapa tahu kalau kali ini merupakan pengecualian ?"

Hawa amarah dengan cepat berkobar menyelimuti seluruh wajahnya, setelah harus bersabar dan bersabar terus lama kelamaan Gak In Ling tak kuat juga untuk menahan dirinya, ia segera mengambil keputusan untuk mengadu jiwa dengan lawannya. Ditatapnya gadis itu dengan marah, lalu tegurnya ketus.
"Boleh saja kalau engkau hendak menahan diriku, tapi engkaupun harus memperlihatkan dahulu sampai dimanakah kepandaian silat yang kau miliki ? Mampukah engkau untuk membinasakan diriku disini ?"
"Huh Apa sulitnya untuk membinasakan dirimu?" teriak Su Put Siang dengan kasar. "Keparat cilik, bersiap-siaplah untuk menghadapi seranganku " Sambil berkata ia bersiap sedia untuk melancarkan serangan-
Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang datang dua buah bentakan yang amat keras. "Tunggu sebentar " suara ini berasal dari gadis suci dari Nirwana.
"Gak In Ling" bentakan kedua bernada berat dan berasal dari sisi kanan lembah tersebut. Mendengar bentakan itu Gak In Ling berpaling kearah mana berasalnya suara itu, kemudian berseru tertahan dan tubuhnya secara beruntun mundur tiga- empat langkah kebelakang dengan sempoyongan-"Aaaah "
Kiranya dari balik batu cadas yang berserakan disamping kanan lembah itu muncullah empat orang manusia berkerudung merah, tanpa dipikir lebih jauh lagi dapat diketahui bahwa mereka berasal dari lembah pemutus sukma.

Gak In Ling kaget bukan lantaran jeri terhadap mereka, melainkan mayat gadis yang berada dalam bopongan salah seorang manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan yang membuat dirinya tercekat.
"Gak In Ling " terdengar orang itu berseru "Terimalah kembali tubuh cicimu "
Air muka Gak In Ling berubah hebat, sepasang matanya yang tajam berubah jadi merah membara, napsu membunuh-perlahan-lahan menyelimuti seluruh wajahnya.
Dendam sedalam lautan, benci setinggi bukit, bagaikan tanggul sungai Huanghoo yang jebol
dengan cepatnya menerjang dan menghantam hati sanubarinya, membuat pemuda itu hanya
teringat akan bunuh... akan darah
Sepasang matanya yang memancarkan cahaya seram dan menggidihkan hati itu meratap tajam wajah keempat orang itu, selangkah demi selangkah didekatinya musuh-musuh yang berkerudung merah itu dengan garang, keadaannya pada saat itu tak ubahnya bagaikan binatang liar yang siap menerkam serta mencabik-cabik tubuh korbannya.

Dari balik pandangan mata Gak In Ling yang kaku terselip cahaya yang menggidikkan, dengan termangu- mangu ia menatap wajah ke empat orang manusia berkerudung merah yang sedang mendekati kearahnya itu, ditinjau dari keadaan bisa ditarik kesimpulan bahwa perasaan hatinya pada saat itu sedang kalut sekali.
Dalam kenyataan memang demikian keadaannya, sebab dari dandanan serta potongan badan orang-orang itu, ia sudah tahu kalau mereka berasal dari lembah pemutus sukma, ditempat itulah ibu serta encinya disekap.

Gadis suci dari Nirwana dengan cepat melemparkan sebuah kerlingan mata kearah Su-put-siang kemudian secara diam-diam mengundurkan diri kearah samping, gadis yang memiliki kecerdasan luar biasa ini telah menduga bakal terjadinya suatu peristiwa yang luar biasa ditempat itu.
Tampaklah sepasang bijimatanya yang jeli memancarkan sinar mata yang sukar diartikan menatap tajam wajah Gak In Ling, la tidak memperlihatkan sikap prihatinnya karena bakal terjadi bencana, pun tidak menunjukkan gembira karena akan berlangsungnya suatu kejadian besar ditempat itu.
Dalam sekejap mata keempat orang manusia berkerudung merah itu sudah berada kurang lebih lima depa dihadapan Gak In Ling, empat orang, delapan buah sorot mata yang menggidikkan bersama-sama ditujukan keatas wajah Gak In Ling, seakan-akan mereka hendak mencari suatu gejala yang aneh diantara wajahnya yang tampan dan kaku itu.

Gak In Ling sendiri sama sekali tidak merasakan sesuatu atas tingkah laku dari lawannya, karena pada saat itu seluruh perhatiannya sedang ditujukan kearah mayat gadis muda yang berada dalam bopongan manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan itu.
Tampaklah raut wajah gadis itu ditutup oleh secarik kain berwarna hijau, tangan kirinya menekan diatas bibirnya dan noda darah yang telah membeku menutupi celah-celah jari diatas tangannya, rambut yang hitam terurai dalam keadaan yang kalut, keadaannya nampak mengerikan sekali.
Empat manusia berkerudung merah itu menghentikan tubuh mereka kurang lebih tiga depa di hadapan Gak In Ling, sikap mereka sedikitpun tidak memperlihatkan rasa gentar ataupun takut, jelas mereka sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap sianak muda itu.

Su-put-siang yang menyaksikan hal itu segera mendengus dingin, tentu saja perbuatannya ini bukan disebabkan karena ia gusar terhadap sikap orang-orang itu terhadap Gak In Ling, sebaliknya ia mendongkol sekali karena keempat orang manusia berkerudung merah itu sama sekali tidak menggubris Leng-cu-nya.
Mendengar dengusan tersebut, keempat orang manusia berkerudung merah itu bersama-sama alihkan sinar matanya, dengan cepat mereka berdiri tertegun dan ingatan yang sama terlintas dalam benak mereka.
"Aaah sungguh cantik jelita wajah gadis ini, mungkinkah dia adalah bidadari yang baru turun dari kahyangan ?"
Gemar akan segala yang indah adalah watak setiap manusia pada umumnya, sorot mata mereka berempat dengan cepat terhisap oleh kecantikan wajah dara baju putih itu, dan tanpa sadar hampir bersamaan waktunya mereka menegur secara berbareng. "Siapakah engkau ?"

Gadis suci dari Nirwana mendengus dingin, ia mencibirkan bibirnya yang kecil mungil dan menjawab.
"Kalian tak usah menduga siapakah aku, lebih baik cepat-copatlah menyelesaikan pekerjaan kalian, sebab bila kalian sudah tahu siapa aku, mungkin pekerjaan kalian akan terbengkalai sebab kalian akan segera kehilangan daya kekuatan untuk melaksanakan tugas tersebut"
Walaupun nada suaranya merdu dan enak didengar, tetapi mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali bagi yang mendengar.
Keempat orang manusia berkerudung merah itu adalah jago-jago yang diandaikan oleh pihak lembah pemutus sukma untuk melaksanakan tugas baik kepandaian silat yang mereka miliki maupun pengalaman dalam dunia persilatan boleh dibilang termasuk jagoan kelas satu dikolong langit, akan tetapi setelah mendengar perkataan itu, seolah-olah terpengaruh oleh sesuatu kekuatan yang tak terwujud ternyata tak seorangpun yang berani membantah.

Buru-buru mereka alihkan kembali sorot matanya kearah wajah Gak In Ling, kemudian terdengarlah suara orang yang membopong mayat gadis itu berseru sambil tertawa dingin. "Gak In Ling, tahukah engkau kami datang kemari untuk mencari siapa ?"
Sepasang mata Gak In Ling masih menatap diatas tubuh mayat gadis itu tanpa berkedip. jawabnya dengan kaku.
"Semoga saja engkau bukan datang kemari untuk mencari diriku "
Orang yang berada disebelah kiri dengan suaranya yang serak segera tertawa mengejek, serunya sinis.
"Hee hee hee apakah engkau sudah menyadari bahwa kepandaian silatmu masih bukan tandingan kami ?"

Mendengar ejekan tersebut, dengan cepat Gak In Ling menengadah keatas, dari balik sepasang matanya tiba-tiba memancar keluar sinar mata yang mengerikan sekali perlahan-lahan ia sapu wajah keempat orang manusia berkerudung merah.
Tatkala sorot mata mereka saling beradu satu sama lainnya, tanpa sadar keempat orang manusia berkerudung merah itu bersama-sama mundur dua langkah kebelakang.
"Huh Dengan andalkan kekuatan kalian ?" seru Gak In Ling dengan nada seram. "Sepuluh orang seperti kalianpun masih bukan tandinganku."

Empat orang dayang cantik baju putih yang berada dibelakang gadis suci dari Nirwana tanpa terasa bersama-sama alihkan sinar matanya kearah Leng-cu mereka sesudah mendengar ucapan sang pemuda yang amat sombong itu, rupanya mereka hendak melihat reaksi dari Leng-cu mereka untuk membuktikan ucapan pemuda itu.
Su-put-siang adalah seorang manusia yang amat berangasan, ia segera mendengus dingin dan bergumam.
"Hmm bocah ingusan yang tidak tahu diri... "
Sebaliknya gadis suci dari Nirwana memperlihatkan serentetan cahaya mata yang sangat aneh katanya dengan suara mendalam.
"Dia bukanlah seorang manusia yang tekebur, kemungkinan besar apa yang diucapkan olehnya sedikitpun tidak salah "

"Leng-cu, engkau tokh baru saja bertemu dengan dia, darimana engkau tahu kalau ucapan-nya bukan tekebur ?" bantah Su-put-siang tidak puas.
Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, lalu balik bertanya dengan nada dingin. "Jadi engkau tidak percaya ?"
Mimpipun Su-put-siang tidak menyangka kalau Leng-cu-nya yang cantik jelita dan dihari biasa itu selalu nampak lincah, ini hari bisa berubah jadi berangasan. Mendengar perkataan itu ia jadi amat terperanjat sekali, sambil memberi hormat buru-buru jawabnya. "Budak tua tidak berani"
Sementara dalam hati kecilnya diam-diam ia berpikir.
"Kemurungan dan kesedihan yang diderita oleh bocah cilik itu rupanya merupakan penyakit menular yang amat jahat, sehingga Leng cu ikut ketularan-"

Dalam pada itu lelaki berkerudung merah yang berada disebelah kanan telah menyadari akan sikap mereka berempat yang memalukan, dari jengah ia menjadi gusar dan segera berteriak keras,
"Bangsat, kau tak usah tekebur lebih dulu, kalau memang punya kepandaian ayolah silahkan untuk turun tangan "
Gak In Ling segera maju selangkah kedepan, hardiknya ketus. "Jadi kau ingin mencoba ?"
Nada suaranya amat dingin bagaikan angin dingin yang menghembus keluar dan kutub utara membuat bulu kuduk semua orang pada bangun berdiri.

Sekali lagi keempat orang manusia berkerudung merah itu melompat mundur dua langkah kebelakang terpengaruh oleh kesadisan serta kekuatan sikap pemuda Gak In Ling, sekalipun mereka tidak bersedia untuk melakukan hal itu, tetapi dalam hati kecilnya secara otomatis memperlihatkan reaksinya dan gerakan selanjutnyapun tidak dapat dibendung lagi.
Dari balik mata manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan tiba-tiba memancar cahaya yang sadis sekali, tangan kirinya membopong mayat gadis tersebut sedangkan tangan kanannya laksana kilat menyingkap kain kerudung hijau yang menutupi wajah mayat itu, bentaknya kembali dengan nada dingin.
"Keparat cilik, coba kau lihat dulu siapakah dia, setelah itu barulah bicara secara tekebur "

Selembar wajah yang cantik dan putih bersih mengikuti terbukanya kain kerudung hijau itu segera tertera dengan amatjelasnya dihadapan Gak In Ling.
Diam-diam sianak muda itu merasakan hati nya bergidik sekali sehiagga tak dapat dikuasai lagi ia mundur tiga langkah ke belakang, wajahnya yang tampan dan memancarkan cahaya kemerah-merahan itu seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dia merasakan bagaikan ada beribu-ribu batang anak panah beracun yang secara tiba-tiba menusuk serta menembusi uluhati dan jantungnya.
Ternyata raut wajah dari mayat itu persis seperti raut mukanya, atau dengan perkataan lain kemungkinan besar dia adalah saudara Gak ln Ling sendiri.

Menyaksikan reaksi dari Gak In Ling, perasaan tidak tenang yang semula menyelimuti perasaan keempat manusia berkerudung merah itu segera pulih kembali dalam ketenangan, hawa amarah dan sikap angkuhpun muncul kembali dalam hati kecil mereka.
Tampak manusia berkerudung merah yang membopong mayat gadis itu menatap wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, kemudian sambil tertawa seram tanyanya dengan nada mengejek. "He... he... Gak In Ling, kenalkah kau dengan gadis ini ?"
Sejak menyaksikan raut wajah dari mayat gadis itu, Gak In Ling telah merasakan seolah-olah sukmanya melayang meninggalkan raganya, mendapat pertanyaan itu dengan kaku ia menggeleng. "Aku tidak kenal "
"Tidak kenal? Aku lihat raut wajahmu telah berubah sangat hebat sekali apakah kau
merasakan sesuatu yang tidak beres dengan mayat gadis ini ?"
"Benar, karena dia terlalu mirip dengan wajahku" kembali Gak In Ling menjawab dengan kaku.

Manusia berkerudung merah yang berada di samping kiri segera tertawa dingin dan mengejek.
"He he.. . he.,.. aku dengar katanya kau mempunyai seorang enci, benarkah itu ?"
Air muka Gak In Ling berubah semakin hebat, suatu firasat jelek terlintas didalam benak dan menyelimuti seluruh pikiran dan perasaannya, ia tarik napas panjang-panjang, dengan perasaan hati yang sedih diam-diam pemuda itu berdoa.
"Oh, Thian kini keluarga Gak kami hanya tinggal tiga orang. Gak In Ling mohon kepadamu
ya, Thian, ampunilah mereka dan lepaskanlah, mereka dari segala penderitaan-"
Gak ln Ling meskipun tidak mengutarakan semua isi hatinya, tetapi ditinjau dari permohonannya yang mendekati setengah merengek, dan muncul dari mulut seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, bisa ditarik kesimpulan betapa murung dan ngerinya sianak muda itu dalam menghadapi kenyataan dihadapan matanya.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak gadis suci dari Nirwana, gadis yang cerdik melebihi orang lain ini rupanya telah dapat menduga apa yang sedang terjadi dihadapannya pada saat ini.

Sementara itu Gak In Ling telah menarik napas panjang, dengan suara berat jawabnya.
"Ssdikitpun tidak salah, aku memang mempunyai seorang enci dan sekarang bersama ibuku disekap dalam lembak pemutus sukma."
"Nah, kalau begitu ketahuilah kami datang dari lembah pemutus sukma." sambung manusia berkerudung merah yang lainnya sambil tertawa dingin.
Sorot mata yang seram dan menggidikkan hati terpancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dengan perasaan cemas buru-buru ia berseru.
"Aku percaya bahwa kalian tak akan turun tangan sekeji ini terhadap mereka, bukankah begitu ? Perbuatan semacam ini bukanlah perbuatan gagah dari seorang enghiong seorang pria sejati, kalian tokh manusia-manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, tidak mungkin-.. "

"Selamanya tindakan yang diambil lembah pemutus sukma adalah tindakan keji serta bertujuan untuk mencapai apa yang diharapkan, sekalipun perbuatan yang kami lakukan melanggar dari kebiasaan seorang enghiong." tukas manusia berkerudung merah disamping kanan sambil tertawa dingin.
"Gak In Ling, kau tidak seharusnya memasuki lembah kami serta mengacau ketenteraman lembah, ini... , ketahuilah, siapa berani membuat keonaran di lembah kami maka dia menerima pembalasan yang setimpal dengan perbuatannya itu."
Suaranya seram dan mengerikan, seakan-akan mereka hendak menyiksa Gak In Ling dengan kata-kata itu sehingga ia lebih menderita.

Air muka Gak In Ling yang pucat mulai berubah jadi merah, mengikuti berlalunya kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu, wajahnya kian lama kian bertambah merah, dan akhirnya wajah pemuda itu berubah jadi marah padam bagaikan darah.
Sorot matanya yang semula nampak lemah dan mohon belas kasihan, kini telah lanyap tidak berbekas, sebagai gantinya terpancarlah keluar dari balik matanya api dendam yang tiada taranya serta napsu membunuh yang berkobar-kobar.
Gadis suci dari Nirwana yang berada disamping kalangan, mengawasi gerak-gerik Gak In Ling dengan seksama, tatkala dilihatnya sianak muda itu terpengaruh oleh emosi hatinya, dalam hati segera ia berpikir.
"Engkau begitu terpengaruh oleh emosi, perbuatanmu dapat menghancurkan serta memusnahkan diri sendiri. Kenapa sih kau brgitu tidak kenal bagaimana cara untuk menyayangi diri sendiri ?"

Gadis itu tak tahu apa sebabnya ia harus memikirkan tentang persoalan itu, dan dia sendiripun tak tahu kenapa dirinya begitu menaruh perhatian terhadap pemuda itu.
Dalam pada itu Gak In Ling meskipun sembilan puluh lima persen telah menduga siapakah mayat gadis itu, akan tetapi ia masih tetap mengharapkan suatu kekeliruan, dengan kepala tertunduk segera ujarnya. "Aku percaya bahwa dia bukanlah enciku"
Keempat orang manusia berkerudung merah itu segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu, gelak tertawa keempat orang itu sangat keras hingga menggetarkan seluruh lembah itu.
Pantulan-suara tertawa mereka seakan-akan martil yang beratnya mencapai ribuan kati, satu demi satu menghantam dada Gak In Ling membuat perasaan hatinya hancur dan remuk- redam,

Tak kuasa lagi Gak In Ling menutupi sepasang telinganya dengan telapak tangan, kemudian bentaknya dengan keras. "Berhenti Apa yang perlu kalian tertawakan?"
Suaranya amat keras bagaikan guntur yang membelah bumi membuat hati orang bergetar keras.
Keempat orang itu segera menghentikan gelak tertawanya, sambil menuding kearah mayat gadis itu teriak mereka dengan suara lantang. "Orang ini bukan lain adalah encimu "
Satu-satunya harapan yang tersembunyi di balik hatinya kini pudar dan lenyap bersamaan dengan meluncurnya kata-kata tersebut, tiga orang keluarga Gak yang masih tersisa dikolong langit kini telah berkurang seorang lagi.
Dendam sakit hati sedalam lautan, rasa benci setinggi langit dan kobaran api marah yang tiada taranya menyelimuti seluruh badan Gak In Ling, membuat peredaran darah dalam nadinya bergerak semakin cepat, ia merasakan seluruh darahnya mendidih.
Dengan cepat Gak In Ling menengadah ke- atas, dengan sepasang matanya yang merah berapi-api menatap kearah empat orang manusia berkerudung merah itu dengan penuh kebencian, hal ini membuat musuh-musuhnya mundur empat-lima langkah kebelakang dengan ketakutan-
Dalam beberapa menit yang amat singkat Gak In Ling telah berubah, ia tidak mirip sebagai seorang manusia lagi. Tapi lebih menyerupai malaikat bengis yang baru turun dari langit.

Perlahan-lahan Gak In Ling melangkahkan kakinya yang berat berjalan mendekati kearah ke empat orang itu, dengan suara yang menyeramkan ia berteriak.
"Seorang dari keluarga Gak mati, maka aku Gak In Ling akan menebusnya dengan seratus lembar jiwa orang persilatan kalian-.. kalian adalah rombongan yang pertama " Gadis suci dari Nirwana yang menyaksikan hal itu kembali berpikir didalam hatinya.
"Rangsangan serta tekanan bathin yang diterimanya pada saat ini mungkin akan menutupi ke sadaran serta perasaan baik dalam hati kecilnya, apa yang harus kulakukan pada saat ini ?"
Mengikuti jalannya pikiran tersebut, tanpa terasa selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati sianak muda itu

Sementara itu empat orang manusia berkerudung merah itu mundur terus kebelakang mengikuti semakin majunya Gak In Ling mendekati kearahnya, tak seorangpun diantara mereka yang memperlihatkan gerakan hendak melakukan perlawanan. Tiba-tiba Gak In Ling membentak dengan suara keras. "Lepaskan dia "
Suaranya keras bagaikan halilintar, di tengah keseraman terselip pula wibawa yang besar.
Manusia berkerudung merah yang membopong mayat gadis itu tak dapat mengusahakan diri dan segera bongkokkan badan serta meletakkan mayat tersebut diatas tanah.
Gak In Ling menyapu sekejap mayat cicinya, perlahan-lahan ia membengkok dan membelai rambutnya yang panjang, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dengan tangan yang gemetar keras ia mencekal telapak tangan encinya Gak In Hong yang menempel diatas bibirnya, belum sempat ia menarik turun telapak tangan itu, tiba-tiba terdengar salah seorang diantara manusia berkerudung merah itu berseru dengan nada lantang.
"Gak In Ling, inilah peringatan yang diberikan Lembah pemutus sukma kami terhadap dirimu, jikalau engkau punya nyali untuk menyatroni lembah kami lagi, maka ibumu akan tiba gilirannya untuk dibunuh nah, tugasku telah selesai dan kamipun harus segera tinggalkan tempat ini "
Keempat orang itu bersuit nyaring, dengan gerakan tubuh yang cepat mereka berkelebat menuju kearah jalan semula.

Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan tersebut, tangannya yang menggenggam telapak encinya gemetar semakin keras, air mata jatuh berlinang semakin deras, demi keselamatan ibunya ia memang tidak mempunyai keberanian untuk menyatroni lembah pemutus sukma lagi.
Perlahan-lahan ia menarik telapak tangan encinya dan menurunkan dari atas bibirnya, tiba-tiba...
Diantara pandangan matanya yang kabur, ia menemukan beberapa huruf darah yang rupanya diukir diatas telapaknya dengan menggunakan pisau, rupanya tulisan itu sengaja ditinggalkan oleh Gak In Hong sesaat sebelum menemui ajalnya.
Dengan cepat Gak In Ling menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian memeriksa tulisan itu dengan seksama, terbacalah tulisan darah diatas telapak tangan encinya itu berbunyi demikian-
"Ibu mati dibenteng Hui-in-cai. Enci mati dilembah Toan-hun-kok."
Walaupun hanya beberapa patah tulisan yang amat singkat, akan tetapi seluruh harapan Gak In Ling telah ikut musnah dengan terbacanya beberapa tulisan kecil itu.

Pada waktu itulah tiba-tiba terdengar dua kali bentakan gusar berkumandang datang dari kejauhan-
"Kalian berempat jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"
Sementara itu keempat manusia berkerudung merah itu sudah berada sepuluh tombak lebih dan tempat semula, mendengar bentakan itu mereka segera menghentikan langkah kakinya dan alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, dan dengan cepatnya pula mereka berdiri tertegun ditempat itu.
Terdengar manusia berkerudung yang berada disebelah kanan mendengus dingin lalu berkata.
"Hmm, aku kira siapa yang telah datang, tak tahunya adalah kalian, manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara, apakah kalian yakin bahwa dengan kekuatan kalian berdua mampu untuk menahan kepergian kami berempat?" nada suaranya amat sombong dan sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap lawannya.
Gadis suci dari Nirwana sendiri segera alihkan sorot matanya sesudah mendengar orang yang baru datang bukan lain adalah manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara yang selama ini menggetarkan sungai telaga.

Tampaklah kurang lebih lima tombak dihadapan empat manusia berkerudung merah itu berdirilah dua orang manusia aneh yang berdandan sangat aneh sekali dengan sorot mata yang tajam serta wajah memancarkan hawa gusar yang amat tebal.
Manusia berambut putih yang berada disebelah kiri adalah manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu, sedangkan manusia bercambang dan bermata besar yang ada disebelah kanan adalah manusia aneh dari utara Lui Beng Wan-
Diantara kedua orang itu, manusia aneh dari utara Lui Beng Wan memiliki watak yang berangasan sekali, mendengar perkataan itu ia segera tertawa seram sambil berkata.
"Haa haa haa kami tidak mampu untuk menahan kalian beberapa orang? Benar-benar
suatu lelucon yang sama sekali tidak menggeIikan "
Terkesiap hati manusia berkerudung merah yang ada disebelah kiri, pikirnya didalam hati.
"Ah jangan- jangan mereka telah melepaskan diri dari pihak banteng Hui-in-cay "

Meskipun dalam hati berpikir demikian, di luaran ia tak mau kalah dengan begitu saja, sambil tertawa dingin segera serunya kembali.
"Hm, jangan lupa kalian adalah termasuk golongan mana ? Kalau bicara mengenai tingkat kedudukan mungkin kami berempat masih jauh berada diatas kedudukan kalian berdua."
Diatas raut wajah manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yo yang penuh berkeriput seketika muncullah delapan buah jalur yang sukar ditemukan dengan pandangan mata biasa, tak usah diragukan lagi ucapan dari manusia berkerudung merah itu telah mendatangkan pelbagai perubahan dalam hati kecilnya.
Manusia aneh dari utara Lui Beng Wan sama sekali tidak mau menggubris ucapan dari lawannya, dengan penuh kegusaran kembali ia berseru lantang.
"Mari mari jangan menggonggong terus disitu menyerupai anjing gila, kalau aku tak mampu
untuk membinasakan kalian keempat ekor anjing dalam lima puluh gebrakan, aku akan mengorok leherku sendiri dihadapan kalian-.." sambil berkata dengan langkah lebar ia segera berjalan mendekati lawannya.

Berbicara tentang kepandaian silat, walaupun keempat orang manusia berkerudung merah itu termasuk jago-jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan, tetapi kalau dikatakan mereka berani menandingi kemampuan dari manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara dua orang tokoh sakti dalam dunia persilatan ini, boleh dibilang diantara mereka masih terpaut selisih yang amat besar.
Ditinjau dari perkataan manusia aneh dari utara Lui Beng Wan baru-baru ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa napsu membunuh yang berkobar didalam hati kecil jago tua itu sudah tak dapat dihindarkan lagi, takut mati adalah ciri khas setiap manusia, tanpa sadar dengan perasaan bergidik keempat orang manusia berkerudung merah itu mulai menggerakkan tubuhnya mundur ke belakang.
"Kalian jangan lupa," teriak manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan dengan gusar, "benteng Hui-in-cay letaknya berada dibawah kedudukan lembah Toan-bun-kok, jika... "
Agaknya pada waktu itu manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu telah mengambil keputusan terakhir, sebelum orang itu sempat menyelesaikan kata-katanya dia telah menukas lebih dahulu.
"Sebelum kami berdua datang kemari telah kami pertimbangkan resiko serta akibat-akibatnya, sekalipun kami berdua selamanya melakukan pekerjaan dengan mempertimbangkan baik buruknya lebih dahulu, akan tindakan kami pada saat ini merupakan pengecualian-.. kami ingin bertanya kepadamu, sebenarnya dendam sakit hati apakah yang sudah terikat antara keluarga Gak dengan lembah pemutus sukma kalian ? Kenapa kalian celakai ibu Gak In Ling lebih dahulu kemudian encinya. Asal kalian masih mempunyai perasaan perikemanusiaan, tidak nanti akan melakukan perbuatan terkutuk semacam ini, hmh Terhadap manusia keji yang tak kenal prikemanusiaan seperti kalian ini, kenapa kami harus berlaku sungkan dan melepaskan kalian pergi dalam keadaan hidup ?"
Makin berbicara dia semakin gusar, sepasang matanya dengan memancarkan napsu membunuh yang amat tebal dengan penuh kebencian menyapu keempat orang itu, setelah berhenti sebentar ujarnya kembali dengan nada suara yang menyeramkan.
"Ini hari kalian tak usah banyak bicara lagi, sejak kini manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara telah bebas merdeka tanpa terikat oleh siapapun, kalau kalian merasa punya kepandaian keluarkanlah semuanya "

Gadis suci dari Nirwana yang selama ini membungkam terus hatinya merasa tergetar keras sesudah mendengar ucapan itu, diam-diam pikirnya didalam hati.
"Oh, apa yang telah terjadi ? Tempo dulu apakah gerak-gerik manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara itu berada dibawah perintah orang? Dikolong langit dewasa ini siapakah yang mampu untuk menundukkan serta memerintah kedua orang gembong iblis tersebut? Ataukah mungkin ketenangan yang menyelimuti dunia persilatan selama ini hanya diluaran saja yang damai? Padahal yang sebenarnya sudah terjadi pergolakan yang amat besar?"
Pelbagai masalah yang mencurigakan hati ini dengan cepat memenuhi benak gadis aneh yang berotak cerdas ini.

Sementara itu keempat orang manusia berkerudung merah itu sama sekali tidak menyangka kalau persoalan itu bakal berlangsung hingga mencapai keadaan yang sama sekali tak terduga seperti ini, untuk beberapa saat lamanya mereka kehilangan daya upaya untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya kini.
Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara selangkah demi selangkah maju ke arah depan, Malaikat Elmautpun semakin lama semakin mendekati keempat orang itu, mereka walaupun telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melakukan perlawanan yang terakhir, tetapi perasaan percaya pada diri sendiri telah lenyap dari dalam hati mereka, dibalik sorot matanya terpancarlah perasaan kuatir, tidak tenang dan ngeri.
Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara seruan seseorang dengan nada yang menyeramkan.
"Hutang ada pemiliknya, siapa yang berhutang dia harus membayarnya, kalian berdua tidak usah mencampuri urusan ini"

Dari nada suara orang ini dengan cepat manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara telah mengetahui siapakah orang tersebut dengan perasaan tercekat mereka segera menghentikan langkahnya, empat buah sorot mata yang memancarkan perasaan simpatik dan penuh kuatir hampir bersamaan waktunya sama-sama dialihkan keatas wajah Gak In Ling.
Mereka berdua telah merasakan bahwa pemuda yang pemurung ini telah berubah, berubah jadi semakin murung dan semakin sadis, pada saat itu wajahnya yang semula memerah kini sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, kelopak matanya masih basah oleh air mata, namun sorot matanya penuh mengandung perasaan dendam, pembunuhan terhadap keluarganya telah membuat pemuda itu mengalami tekanan bathin yang amat hebat, membuat perangai serta wataknya, sama sekali berubah.

"Majikan muda," terdengar manusia aneh dari selatan Lui Beng Wan buka suara serta menegur, "yang sudah lewat biarkanlah lewat, kau adalah satu-satunya anggauta keluarga Gak yang masih hidup, dahulu budak sekalian tak berani memberitahukan jejak musuh yang sebenarnya kepadamu karena kuatir mendatangkan bencana yang lebih besar bagi dirimu, tapi sekarang keadaan telah berbeda, urusanmu merupakan urusanku juga, mungkin keadaanpun akan segera mengalami perubahan yang sangat besar"

Gak In Ling mengerdipkan matanya lalu menggeleng dengan sikap yang sangat hambar, jawabnya.
"Persoalan itu adalah urusan dikemudian hari, aku rasa kalian berdua harus mempertimbangkannya lebih dahulu secara baik-baik." ia berhenti sebentar kemudian tambahnya.
"Dan sekarang, aku harap kalian berdua suka mengundurkan diri untuk sementara waktu."
Suaranya amat tenang dan datar, akan tetapi mengandung suatu kekuatan yang membuat orang merasa sungkan untuk membangkang.
Tanpa sadar manusia dari sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara bersama-sama mengundurkan diri kesisi kanan, dengan pandangan tertegun mereka memanda kearah sianak muda itu tanpa berkedip.
Gadis suci dari Nirwana sendiripun menunjukkan sikap yang aneh sekali, pikirnya didalam hati.
"Didalam sedihnya orang ini masih ingat menguasai dirinya sehingga bersikap demikian tenang, benar-benar suatu keajaiban yang tak pernah kuduga sebelumnya."

Pada saat Gak In Ling buka suara tadi, ke empat orang manusia berkerudung merah itu telah memutar tubuhnya, sekarang mereka telah melupakan bahwa dihadapannya masih terdapat manusia sesat dan manusia aneh dua orang musuh tangguh, karena semua perhatian mereka telah di tujukan kepada pemuda dihadapannya.
Dengan pandangan yang menyeramkan Gak In Ling menyapu sekejap kearah empat orang itu kemudian ujarnya dengan nada seram.
"Pihak benteng Hwi-in-cay telah membinasakan ibuku, aku Gak In Ling akan menyapu benteng-tersebut rata menjadi tanah dan mencuci dengan darah segar mereka, lembah pemutus sukma telah membunuh enciku, aku orang she Gak akan membasmi semua orang yang berada didalam lembah itu, dan kalian berempat adalah orang pertama yang harus lenyap lebih dahulu dari muka bumi "

Setelah mengetahui bahwa disekeliling mereka terkepung oleh musuh tangguh, dalam putus asanya timbullah niat didalam hati mereka berempat untuk melakukan perlawanan sampai titik terakhir.
Salah seorang diantara manusia berkerudung merah itu segera berseru dengan gusar.
"Keparat cilik, engkau tak usah tekebur lebih dahulu. Kalau punya kepandaian perlihatkan dahulu dihadapan kami "
"He... he he..rupanya engkau ingin mencoba lebih dahulu." ejek Gak In Ling sambil tertawa
seram.
Perlahan-lahan hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapaknya dan siap melancarkan serangan dahsyat.
"Tunggu sebentar " tiba-tiba gadis suci dari Nirwana membentak dengan suara dingin. "Sebelum duduknya persoalan ini dapat dibikin jelas, aku tidak memperkenankan kalian untuk bertempur lebih dahulu."
"Apakah nona merasa punya kemampuan untuk mencampuri urusan ini ?" tegur manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu dengan nada dingin. Melihat ada orang berani pandang enteng Leng-cu nya, Empat tidak mirip jadi naik pitam segera bentaknya keras. "Hmm Sebelum bicara, periksalah dahulu disekeliling tempat ini"

Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara segera alihkan sorot matanya ke arah
sekeliling tempat itu, kemudian dengan nada terperanjat mereka berseru. "Aaaah Leng-cu dari
Nirwana berada disini ?"
Diujung puncak bukit disekeliling tempat itu berkibarlah delapan buah panji besar berwarna kuning pada badan tengah pada panji tadi bersulamkan sebuah huruf "Leng" yang berwarna emas dan memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata, entah tulisan itu terbuat dari bahan apa.
Kedelapan panji besar berwarna kuning itu bukan lain adalah lambang atau ciri khas dari gadis suci dari nirwana setiap kali ia munculkan diri disuatu tempat.

Sementara itu Su-put-siang merasa girang sekali ketika menyaksikan manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara yang nama besarnya amat menggetarkan sungai telaga itu dibikin terkesiap oleh delapan lembar panji kuning dari Leng-cu-nya ini, dengan suara dingin, ia segera berseru.
"Kalian benar-benar punya mata tak berbiji, Leng-cu kami sudah beberapa waktu lamanya berada disini "
Manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara segera berpikir dalam hatinya.
"Jangan-jangan gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari ini bukan lain adalah gadis suci dari Nirwana yang mirip dengan naga sakti yang nampak kepala tak nampak ekornya itu ? Kalau memang demikian keadaannya, mungkin tindak-tanduk majikan kecil yang begitu gegabah dan kasar itu akan menimbulkan-.. "

Belum habis kedua orang jago sakti dari dunia persilatan itu berpikir, tiba-tiba terdengarlah dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh lembah tersebut.
Begitu mengerikan jeritan kesakitan itu sehingga mendirikan bulu roma semua orang yang berada ditempai itu, tanpa sadar beberapa orang jago itu segera alihkan sinar matanya kearah Gak ln Ling.
Jeritan kaget kembali berkumandang memecahkan kesunyian, semua orang berdiri terbelalak dengan mulut melongo sesudah mengetahui apa yang telah terjadi, sementara gadis suci dari Nirwana buru-buru alihkan sorot matanya kearah lain-

Diantara empat orang manusia berkerudung merah yang hadir ditempat itu, kini telah berkurang dua orang, sementara dalam genggaman Gak In Ling telah bertambah dengan dua buah jantung manusia yang berlumuran darah segar.
Peristiwa berdarah ini benar-benar mengerikan sekali, membuat dua orang manusia berkerudung merah lainnya segera mundur empat-lima tombak jauhnya kebelakang dengan perasaan terkesiap.
Dengan wajah yang sadis Gak In Ling membuang jantung yang berhasil dicopot keluar dari rongga dadanya itu keatas tanah, kemudian bentaknya dengan keras. "Bajingan keparat, kalian hendak lari kemana ?"
Tubuhnya bagaikan seekor burung rajawali melayang ketengah udara dan menubruk kearah salah seorang manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan, serangannya amat cepat sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Menyaksikan datangnya ter jangan tersebut, orang itu jadi ketakutan setengah mati, meskipun ia tak sempat melihat jelas warna telapak dari Gak In Ling, akan tetapi orang itu dapat menduga bahwa sianak muda itu pasti telah menggunakan telapak mautnya untuk menghadapi dirinya.
Dalam keadaan cemas bercampur gelisah, ia tidak memperdulikan tindakannya memalukan atau tidak- segera teriaknya dengan keras.
"Leng-cu, tolonglah aku." belum habis ucapan itu diutarakan keluar, jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian di tempat itu, dengan keadaan yang mengerikan manusia berkerudung merah itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Setelah melihat serangannya mengenai sasaran Gak In Ling segera enjotkan badan dan menerjang pula kearah manusia berkerudung merah yang terakhir.
"Tahan " bentak gadis suci dari Nirwana dengan suara keras. Akan tetapi bentakannya itu tetap masih terlambat satu tindak.
Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma segera berkumandang memecahkan kesunyian, manusia berkerudung merah yang terakhir itupun jatuh terkapar diatas tanah tanpa bernyawa lagi.

Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu yang amat singkat sekali dan boleh dibilang dalam sekejap mata.
Terhadap bentakan gadis suci dari Nirwana Gak In Ling sama sekali tidak menggubris atau mendengarnya, setelah mencopot keluar jantung dari keempat orang musuhnya, perlahan-lahan ia mendekati mayat encinya.
Setelah berjongkok disisi jenasah itu, ia letakkan keempat buah jantung manusia yang berlumuran darah itu disisi tubuh itu, kemudian gumamnya seorang diri dengan nada yang amat lirih.
"Cici, sudah lihatkah engkau akan semua perbuatan yang kulakukan barusan ? Aku sudah mulai membalas dendam untuk kematianmu yang malang ini... tapi, sampai kapankah dendam sakit hati dari ayah dan ibu bisa kutuntut balas? Musuh besar dari keluarga kita begitu banyak jumlahnya, sedangkan usiaku hanya tinggal setengah tahun lagi, oh cici, beritahukanlah kepada adikmu yang malang ini, apa yang harus kulakukan-"

Makin lama ucapan itu semakin lirih sehingga akhirnya begitu lemah dan sama sekali tidak terdengar lagi, semua orang hanya menyaksikan mulutnya kemak-kemik tetapi tak tahu apa yang sedang diucapkan olehnya.
Air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya membasahi kelopak matanya pipinya, dan bajunya...
Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara hanya dapat berdiri menjublek ditempat semula tanpa mampu berbuat sesuatu apapun, perasaan mereka ikut tertindih sehingga terasa berat sekali, mereka iba dan kasihan, terhadap pemuda malang yang hidup sebatang kara dengan dibebani dendam kesumat yang tiada taranya itu, untuk beberapa saat kedua orang jago tua itu tak tahu mesti berkata apa untuk menghibur hatinya.
Mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang datang.
"Gak In Ling, berani benar engkau membunuh orang dihadapan Pun Leng-cu ? Hmm, rupanya engkau sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap diriku "
Walaupun nada suaranya mengandung kegusaran, akan tetapi terselip pula perasaan itu dan kasihan terhadap pemuda itu.

Gak In Ling sama sekali tidak menengok juga tidak menjawab, seakan-akan dia sama sekali tidak mendengar bentakan dari gadis cantik baju putih itu, mulutnya masih tetap berkemak-kemik menggumam seorang diri.
Melihat perkataannya sama sekali tidak digubris, kali ini gadis suci dari Nirwana benar-benar dibikin amat gusar sekali, sebagai seorang ketua dari sebuah perkumpulan besar, ia selalu disanjung dan dihormati oleh setiap orang, belum pernah ucapannya dianggap angin oleh orang lain, apalagi orang itu adalah seorang pemuda.
Sepasang matanya melotot besar dan memancarkan cahaya yang menakutkan sekali, kembali bentaknya dengan keras.
"Gak In Ling, sudah dengarkah engkau akan perkataanku?"
Dengan perasaan tidak tenang manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu menyapu sekejap kearah gadis suci dari Nirwana, kemudian serunya dengan nada agak tergagap.
"Leng-cu, sekarang pikiran maupun perasaannya sedang dipengaruhi oleh emosi, aku mohon sudilah kiranya kau suka mengampuni dirinya satu kali ini"
Sementara itu Gak In Ling masih tetap tidak menjawab, keadaannya sama sekali tidak berbeda dengan keadaan semula.

Keadaan ini dengan cepat membuat gadis suci dari Nirwana tak mampu untuk menguasai diri lagi, telapak tangannya segera diayun kedepan
"Blaam"
Ditengah benturan keras, empat buah jantung manusia yang diletakkan Gak In Ling disisi tubuh jenasah kakaknya itu segera terpukul telak sehingga mencelat sejauh lima tombak lebih dari tempat semula.
Gak In Ling merasa amat terperanjat dan dengan cepat bangkit berdiri dari atas tanah, ketika ia berpaling maka tampaklah gadis suci dari Nirwana sedang memandang ke arahnya dengan penuh kegusaran- Hal ini membuktikan kalau serangan itu dilancarkan oleh gadis tersebut.
Gak In Ling menyeka air mata yang membasahi wajahnya, lalu dengan kaku ia bertanya. "Kaukah yang melakukan hal ini ?"

"Sedikitpun tidak salah "jawab gadis suci dari Nirwana dengan penuh kegusaran- "Kau mau apa?”
Napsu membunuh melintas diatas wajah Gak In Ling, bentaknya nyaring. "Dengan berdasarkan apakah engkau melancarkan serangan kepadaku ? Ayo jawab ?"
"Melenyapkan bencana demi umat manusia dalam persilatan"
Gak In Ling segera ayunkan telapak tangannya ke depan, dengan menggunakan jurus "Hiat-yu Weng-hong" atau hujan darah angin amis dia mengirim sebuah pukulan dahsyat ke arah gadis tersebut.
Menyaksikan datangnya serangan yang amat dahsyat itu, gadis suci dari Nirwana merasa amat terkesiap. buru-buru ia enjotkan badannya dan laksana kilat meloncat mundur sejauh empat tombak lebih dari tempat semula, gerakan tubuhnya lincah, enteng dan cepat sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Pada saat ini pikiran Gak In Ling masih kalut dan tak sadar, meskipun tenaga dalamnya telah dihimpun dan kendatipun serangan tersebut dilancarkan dengan menggunakan ilmu telapak maut. Akan tetapi daya kekuatannya amat terbatas, oleh karena itu sekalipun serangan tersebut dilancarkan secara tiba-tiba, akan tetapi sama sekali tidak berhasil melukai tubuh gadis suci dari Nirwana.
Ketika menyaksikan serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya, Gak In Ling nampak agak tertegun, buru-buru ia merubah gerakan siap melancarkan serangan berikutnya.

Akan tetapi sebelum ia sempat melancarkan serangan balasan, terdengarlah gadis cantik baju putih itu telah membentak keras. "Kau sambutlah pula sebuah pukulan dahsyatku ini "
Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu, segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan hembusan angin puyuh menghajar keatas dada sianak muda itu.
Gak In Ling yang sedang dilanda kesedihan boleh dibilang kesadarannya pada saat ini sama sekali tidak beres ketika ia merasa datangnya angin pukulan yang maha dahsyat itu, untuk menghindar sudah tak sempat lagi.
Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad, terdengar gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada cemas.
"Aaah Kau " Buru-buru ia buyarkan serangannya dan berusaha untuk menarik kembali tenaga
pukulannya tetapi... mungkinkah serangan yang telah dilepaskan dapat ditarik kembali ?
"Blaaaaam... " terdengar benturan yang amat keras bergema diseluruh angkasa, tubuh Gak In Ling terpental sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh terjengkang diatas tanah.
Gadis suci dari Nirwana tertegun, dengan cepat tubuhnya berkelebat menghampiri Gak in Ling yang sementara itu sudah terkapar diatas tanah tanpa bisa berkutik.
"Leng-cu " terdengar manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu berseru dengan nada cemas, "ampunilah selembar jiwanya, dia adalah satu-satunya anggauta keluarga Gak yang masih hidup,"
Suaranya keras tapi kedengaran agak gemetar.

Gadis suci dari Nirwana putar badan, dengan wajah tidak tenang ia berkata.
"Apakah kalian dapat menjamin bahwa sejak kini dia tak akan membunuh manusia lagi ?"
Tiba-tiba manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu bertekuk lutut dan jatuhkan diri diatas tanah serunya.
"Aku oei Hoa Yu berani bersumpah dihadapan Thian, bahwa orang yang dibunuh Gak kongcu selama ini semuanya adalah manusia laknat yang pantas dimusnahkan dari muka bumi"
"Hm Aku tidak menanyakan yang lain, aku tanya bertanya kepada kalian apakah kamu berdua berani menjamin bahwa sejak ini hari ia tak akan membunuh manusia lagi ?"
Mendengar ucapan itu manusia aneh dari utara Lui Beng Wan segera jatuhkan diri berlutut pula diatas tanah, sambil menghela napas panjang dia berkata. "Leng-cu, lepaskanlah dirinya... "

Gadis suci dari Nirwana dibikin bingung oleh sikap serta perbuatan kedua orang jago libay itu, karena tak dapat mengambil keputusan, tanpa sadar dia alihkan sorot matanya kearah Su-put-siang.
Empat tidak mirip anggukkan kepalanya dan berkata dengan nada berat.
"Leng-cu, lepaskanlah dirinya. Mungkin dosa serta kesalahan yang ia lakukan masih belum cukup untuk dijatuhi dengan hukuman mati " Gadis suci dari Nirwana segera mengangguk.
"Baiklah, kalian boleh bangkit berdiri " serunya. Habis berkata ia putar badan dan segera berlalu.
Buru-buru manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara mengucapkan banyak-banyak terima kasih, kemudian berkelebat menuju kesisi tubuh Gak In Ling dan memayangnya bangun.

Sambil menatap wajah sang pemuda yang pucat bagaikan mayat, manusia sesat dari selatan Oei Beng Ya bertanya.
"Majikan muda, bagaimana perasaanmu pada saat ini?" Gak In Ling gelengkan kepalanya, bukan menjawab malah dia balik bertanya. "Bersediakah kalian untuk melakukan suatu perkerjaan bagi diriku?"
"Urusan apa ? Katakanlah " sahut kedua orang jago itu hampir berbareng. Gak In Ling menghela napas panjang.
"Aaii carilah suatu tempat yang baik dan kuburlah jenasah kakakku ini."
Sambil berkata dengan susah payah ia meronta dari cekalan kedua orang itu, dan berdiri sendiri dengan sempoyongan-
Buru-buru manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu memegang tubuhnya, dengan nada lirih nasehatnya.
"Majikan muda, janganlah terlalu menuruti emosi, cepatlah atur pernapasan dan sembuhkan dahulu luka dalammu, sebentar lagi aku serta si makhluk tua itu akan menemani engkau untuk menguburkan jenasah kakakmu "
"Tidak Aku tidak akan ikut dengan kalian-" sahut Gak In Ling sambil memandang awan putih yang bergerak diangkasa
"Lalu kau akan pergi kemana ?" tanya manusia aneh dari utara dengan nada gelisah. Gak In Ling tertawa tawa.
"Mungkin aku akan pergi ketempat lain yang tak dapat didatangi oleh orang lain-"
"Pergi ketempat yang tak dapat didatangi oleh orang lain ?" gumam manusia sesat dari selatan dengan wajah tertegun.

Gadis suci dari Nirwanapun diam-diam terkesiap melihat keadaan dari sianak muda itu, pikirnya.
" jangan- jangan pukulanku yang begitu ringan telah melukai isi perutnya... "
Berpikir sampai disini sepasang matanya yang jeli tanpa merasa telah menyapu sekejap ke arah Gak In Ling, kebetulan sekali sepasang mata sang pemuda yang sayu itu sedang memandang kearahnya, dua pasang saling bertemu, membuat jantung gadis itu berdebar keras, buru-buru dia alihkan pandang matanya kearah lain-
Setelah memandang sekejap kearah gadis itu dengan susah payah Gak In Ling berkata.
"Leng-cu, kau seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar dan bisa bertindak secara adil dan bijaksana, ku berharap sejak kini kau bersedia mencurahkan perhatianmu terhadap lembah pemutus sukma, basmilah manusia laknat yang berdiam disana dan selamatkanlah umat persilatan dari bencana."
"Apakah engkau anjurkan diriku berbuat demikian karena disanalah musuh-musuhmu berdiam." sela gadis suci dari Nirwana.

Hawa segar berkelebat lewat dari balik mata Gak In Ling, serunya dengan suara dingin.
"Aku orang she Gak tidak akan serendah dan sehina seperti apa yang Leng-cu lukiskan itu, aku tak nanti akan mohon pada orang lain untuk membalaskan dendam bagiku atas kematian ayah dan ibuku "
Bicara sampai disini ia segera putar badan dan berlalu dari lembah tersebut.
Manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu dengan cepat menghadang jalan pergi sianak muda itu sambil serunya dengan nada gemetar.
"Majikan muda, engkau sudah menderita luka dalam yang sangat parah, engkau akan pergi kemana ?"

Dengan tangannya yang dingin bagaikan es, Gak In Ling mencekal tangan manusia sesat dari selatan, kemudian ujarnya.
"Empek Oei, lepaskanlah aku pergi, aku dilahirkan tanpa waktu yang ditentukan lebih dahulu, akupun tak ingin mati ditunggui orang lain di sampingku, kalian sudah melayani aku hampir dua belas tahun lamanya, selamanya kalian selalu dapat memahami perasaanku, kali ini ijinkanlah aku pergi seorang diri "
"Apakah kau sudah melupakan dendam sakit hatimu ?" tanya Oei Hoa Yu dengan air mata bercucuran.
"Tak akan kulupakan untak selamanya. Dendam sakit hati itu tak akan kulupakan untuk selamanya" jawab Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Dalam pada itu manusia aneh dari utara Lui Bang Wan telah menyusul datang, ia segera berseru.
"Kalau memang begitu, maka tidak sepantasnya kalau engkau mencari mati sebelum tugasmu kau selesaikan"
"Aku sendiri tidak rela mati dengan begini saja." gumam Gak In Ling dengan lirih, "tetapi luka yang kuderita cukup parah, dan dalam hati aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, aku mohon kepada kalian agar sukalah membiarkan aku mencari tempat yang tenang seorang diri"
Habis berkata ia putar badan melanjutkan kembali langkahnya menuju kearah depan-Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada dingin.
"Jikalau dugaanku tidak keliru, maka kau tak akan berjalan sejauh lima ratus tombak dari tempat ini "
Gak In Ling tidak berpaling, juga tak menghentikan langkah kakinya, ia masih melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan-

Menyaksikan hal itu gadis suci dari Nirwana segera membentak nyaring. "Gak in Ling, engkau dengar tidak perkataan ku itu ?"
Gak In Ling tetap tidak menggubris, dengan mulut membungkam ia teruskan perjalanannya munuju kedepan.
Tertegun hati gadis suci dari Nirwana menyaksikan tindakan sianak mada itu, tiba-tiba ia menjejakkan sepasang kakinya melayang kedepan dan menghadang jalan pergi Gak In Ling sambil bentaknya. "Sudah kau dengar tidak perkataanku?"
Gak In Ling segera tertawa dingin.
"Hee hee hee... . mati hidupku, apa sangkut pautnya dengan dirimu?" ia mengejek.
"Aku hanya bermaksud hanya memberi peringatan kepadamu "
Gak In Ling menghindarkan diri kesamping dari hadangan gadis itu, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.
"Aku orang she Gak hanya seerang manusia tak bernama dalam dunia persilatan, setelah kau melukai diriku, buat apa sekarang masih berpura-pura berlagak sok baik hati ? Hmm, apakah perbuatanmu itu tidak mirip kucing sedang menangisi tikus ?"
Gadis suci dari Nirwana jadi amat gelisah sekali, buru-buru ia berseru.
"Hawa murnimu telah tersumbat oleh kesedihan dan kemurungan yang kelewat batas, sekalipun aku tidak melukai dirimu, engkaupun tidak akan hidup sampai hari ini."

Satu ingatan dengan cepat berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling, pikirnya dalam hati.
"Tidak aneh kalau serangan gencarku tadi tidak berhasil melukai dirinya. Aaaiii mati ya sudah, urusanpun bisa beres sampai disini saja, perduli amat apa yang bakal kualami "
Sementara ingatan tersebut masih melintas diatas wajahnya, ia telah berada belasan tombak jauhnya dari tempat semula.
Diatas wajah gadis suci dari Nirwana yang cantik jelita tiba-tiba terlintas kemurungan dan kekesalan yang tebal, kembali ia berteriak dengan keras. "Hey, sudah kau dengar tidak semua perkataanku itu ?"
"Hmm, aku sudah tiada harapan untuk hidup lebih lama lagi, kenapa aku mesti mendengarkan penjelasan dari Leng-cu?"
Beberapa saat kemudian tubuhnya sudah membelok dibalik batu cadas dan lenyap.

Gadis suci dari Nirwana tidak habis mengerti apa sebabnya ia begitu menguatirkan keselamatan sianak muda itu, kini setelah berulang kali dipandang remeh oleh Gak In Ling hatinya jadi amat sedih sekali, hingga tanpa terasa ia mengucurkan air mata.
"Leng-cu, karena persoalan apakah engkau merasa sedih ?" tiba-tiba serentetan suara teguran yang lirih berkumandang disisi telinganya.
Mendengar suara itu seakan-akan telah bertemu dengan orang yang dikasihi dengan cepat gadis suci dari Nirwana berseru.
"Enci Peng" ia segera jatuhkan diri kedalam pelukan perempuan itu.
Orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan yang berpakaian amat sederhana dengan rambut disanggul jadi satu, kecantikan wajahnya sangat menawan hati, meskipun usianya sudah mencapai tigapuluh tahunan akan tetapi tetap masih mempesonakan.
Su-put-siang serta empat orang dayang baju hijau yang berada disekeliling situ dengan cepat naju memberi hormat sambil sapanya. "Menghunjuk hormat untuk Kun-su"

Manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu segera merasakan hatinya agak tergerak, pikirnya.
"Jangan- jangan orang ini adalah juru pikir yang sangat diandalkan oleh gadis suci dari Nirwana yang amat tersohor kecerdasannya itu ? Mungkinkah dia "Sin- gwa- liong- bun" ahli pikir dari pintu naga Ki Giok Peng ?" Sementara itu perempuan tadi sudah berkata.
"Kalian tak usah banyak adat, siapakah yang kalian baru saja jumpai ?"
"Gak In Ling "jawab Su-put-siang dengan cepat.
Air muka perempuan itu seketika berubah hebat setelah mendengar nama pemuda itu, serunya.
"Leng-cu, lupakanlah dia, mari kita pulang."
Terkesiap hati, gadis suci dari Nirwana, tanpa sadar ia berseru.
"Enci Peng, kau telah apakan orang itu?"
Melihat sikap Leng-cu yang gugup, perempuan itu segera berpikir dalam hati kecilnya. "Ah, dugaanku ternyata tidak salah. Tidak seharusnya aku datang demikian lambatnya." Berpikir sampai disini ia lalu menjawab.
"Aku sama sekali tidak berjumpa dengan dirinya, Leng-cu Apakah engkau telah melukai dirinya?"
Dengan wajah amat sedih gadis suci dari Nirwana mengangguk.
(Bersambung ke Jilid 9)

Selengkapnya......