Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 22  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 22
Orang tua berjenggot dan kumis sudah memutih itu, yang tadi tampak lemah dan ketakutan, sekarang justeru sudah berdiri tegak di depan pintu dengan pedang tergenggam di tangannya, sikapnya gagah sekali.
Tentara kerajaan yang lain jadi kaget dan marah, mereka segera lompat turun dari kuda masing-masing menyerbu ke pada kakek tua tersebut, dengan senjata telanjang siap mengeroyok. Tapi waktu itu orang yang berpakaian sebagai perwira, yang tadi dibisiki oleh tentara kerajaan yang sudah menggeletak tak bernyawa karena perutya dilobangi oleh mata pedang kakek itu, sudah berseru:
"Biarkan aku yang menghadapinya!" Suaranya belum habis tubuhnya sudah melayang di tengah udara, dia bukan meloncat turun dari kudanya ke tanah, melainkan tubuhnya melambung dari punggung kudanya dan hinggap di tanah tepat di depan pintu rumah kakek itu, bahkan tangan kanannya menyambar dengan kecepatan luar biasa seperti cakar naga yang hendak merampas pedang ditangan kakek tersebut.
Kakek tua itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi, karena tadi dia cuma pura-pura ketakutan dan bingung, waktu tentara kerajaan yang seorang hendak memaksa masuk rumahnya, dia telah membarengi dengan tikaman pedang, pedangnya itu memang telah disimpannya di balik jubahnya ketika hendak membukakan pintu.

Sekarang melihat perwira kerajaan tersebut melompat menubruk ke arahnya sambil tangannya diulurkan untuk merampas pedangnya, dia tidak tinggal diam. Gesit sambaran tubuh perwira kerajaan tersebut tangannya juga sangat sebat.
Tapi pedang si kakek tua inipun sangat cepat. Dia segera menggeser kedudukan pedangnya yang diturunkan kebawah dengan pundak yang direndahkan mempergunakan jurus: "Seng Lo Ko Goan" atau "Bintang jatuh ditanah Tinggi", kemudian pedangnya ditegakkan dengan mata pedang menghadap keatas siap menerima perut si perwira kerajaan tersebut.
Tapi perwira kerajaan itu benar-benar sangat tangguh dan berkepandaian tinggi, karena dia tertawa dingin, kemudian cepat sekali tangannya yang batal menyerang itu di tarik pulang, tahu-tahu kaki kanannya menendang ke pergelangan tangan si kakek yang kena jitu sekali, tampai kakek tua itu terkejut merasakan tangannya tergetar keras, pedangnya seperti mau terlepas dari genggamannya.
Yang membuat kakek tua tersebut lebih kaget lagi justeru pada saat itu tampak tangan kiri lawannya sudah menyambar ke-arah dadanya. Dia tak bisa diam saja karena kagetnya, harus menyelamatkan dadanya yang hendak dicengkeram.
Maka dengan jurus "Yauw Cu Hoan Sin" atau "Elang Membalikkan Badan", dia segera menggeser sambil memutar badan bagian atas, untuk menghindarkan cengkeraman tangan lawan, Justeru apa yang dilakukannya itu melakukan kekeliruan yang tak disangkanya, karena begitu dia memiringkan tubuhnya kesamping, saat itulah tangan kanan lawannya bergerak lagi, tahu-tahu dia merasakan tenaga genggaman pada pedangnya jadi lenyap, entah bagaimana caranya perwira kerajaan itu sudah berhasil merampas pedangnya, yang pindah ke tangan si perwira tersebut.
Bahwa tangan kiri siperwira kerajaan itu tahu-tahu berobah arah menyambar kesamping maka tak ampun lagi dada kakek tua itu kena digempur keras, sampai dia terhenyak dan terpental dengan punggung menghantam tembok dan benturan itu sangat keras sekali!
Darah segera terpancur keluar dari mulutnya, muntah cukup banyak. Si perwira kerajaan yang berhasil merampas pedang kakek itu berdiri mengejek, dia tak meneruskan serangannya, membolang-balingkan pedang itu, kemudian "trskkknggg!" pedang itu dipatahkan menjadi dua potong dan membuangnya ke tanah. Dengan sinis dia berkata : "Apakah kau masih mau melindungi pemberontak itu ? Tidak mau cepat-cepat mengeluarkan pemberontak itu ?"
Kakek tua itu biarpun sudah tak bersenjata pedang, juga terluka cukup parah, dengan mulut berlumuran darah memaksakan diri mengempos seluruh sisa tenaga yang masih ada, dia tahu-tahu menubruk sangat cepat sekali, untuk menerjang kepada lawannya, dia bermaksud untuk mengadu jiwa.
Sepasang tangannya diulurkan untuk mencengkeram dada lawannya. Apa yang di lakukannya benar-benar merupakan tindakan yang sangat nekad, karena dia tidak mengadakan perlindungan dan penjagaan untuk dirinya, di mana dia rupanya memang bermaksud untuk mati bersama dengan lawannya.
Cara mengadu jiwa seperti yang dilakukan oleh kakek tua tersebut merupakan perbuatan yang sudah benar-benar nekad, karena dalam berbagai hal umumnya seseorang yang nekad, masih melakukan suatu gerak pukulan untuk melindungi juga tubuhnya dari kemungkinan serangan lawan.
Si perwira kerajaan tak gentar melihat kenekatan lawannya, karena dia hanya berdiri diam di tempatnya, kemudian dengan cepat dia mempergunakan tangan kanannya untuk menyentil waktu melihat serangan lawan sudah hampir tiba, di saat itulah terjadi suatu peristiwa yang benar-benar mengejutkan.
Kakek tua yang nekad dan hendak mengadu jiwa itu tak berhasil dengan serangannya, karena dia tak bisa mendekati lawannya, sentilan jari tangan perwira kerajaan tersebut membuat dia terjangkang rubuh, sebab yang disentil oleh perwira kerajaan tersebut adalah titik jalan darah yang berbahaya di pelipisnya !
Tidak ampun lagi tubuh kakek tua itu terjungkal rubuh terjengkang ke belakang, bersamaan dengan itu berkelojotan di lantai dengan mata mendelik terbuka lebar-lebar, dadanya bergerak-gerak keras, kemudian diam tak bergerak.
Si perwira kerajaan telah memberi isyarat kepada beberapa orang tentara kerajaan yang sedang berdiri menanti perintahnya. Tak ayal Iagi lima orang tentara kerajaan sudah menyerbu masuk ke dalam rumah dengan senjata terhunus, bersamaan dengan itu mereka menjerit, dua orang di antaranya terpental, karena dari dalam telah menerobos, keluar seorang laki laki bertubuh tinggi tegap dengan lumuran darah di beberapa tempat di anggota tubuhnya, menerjang keluar sambil mengayunkan goloknya ke kiri kanan. Goloknya itulah yang menyebabkan beberapa orang tentara terjungkel rubuh dan menjerit karena terluka pada lengannya.
Sisa tentara kerajaan yang lain, tiga orang, cepat-cepat menerjang dengan senjata masing masing. Tapi, orang bersenjata golok tersebut dapat menangkis dengan goloknya, sehingga pedang ketiga orang tentara kerajaan itu terpental keras, berbareng dengan itu golok orang tersebut telah menabas perut salah seorang tentara kerajaan yang ada di sebelah kanan, seketika terjungkel dan mati tak bergerak.
Dua orang tentara kerajaan yang lain segera meloncat ke samping. Orangbersenjati golok tersebut telah meloncat menerjang ke pintu hendak menerobos keluar.
Di saat itulah tahu-tahu ada tangan yang menyambar, dan golok ditangan orang itu kena dirampas dengan mudah. Bahkan, sebelum orang bersenjata golok tersebut tahu apa-apa, tubuhnya terpental karena dadanya terasa sakit kena digempur oleh tangan yang menyambar sangat kuat, dia terjengkang dan terlempar.
Orang bersenjata golok itu, walaupun sudah terampas goloknya dan dia sendiri kena dihajar terpental, cepat bukan main dia telah meloncat berdiri lagi, dengan gesit menerjang kalap kepada orang yang telah merubuhkannya tadi, yang tak lain adalah perwira kerajaan yang tadi sudah merobohkan si kakek.
"Cun Siang... lari... jangan layani. lari dari belakang ! "Kakek tua yang tadi telah dirobohkan si perwira kerajaan, masih sempat berseru dengan suara perlahan lemah menganjurkan kepada orang yang bersenjata golok itu agar melarikan diri.
Namun peringatannya itu sudah terlambat, sebab waktu itu tampak si perwira kerajaan sudah meloncat ke depan, ketika orang bersenjata golok itu henddk menerjang nekad, dia telah didahulukan oleh perwira tersebut, yang mencengkram pundak orang tersebut, golok rampasannya menabas lengan kanan orang itu yang seketika tertabas buntung sebatas siku, pundaknya memperdengarkan suara "krekkkkkk . . .krakkkkkkk... !" Tulang pipe (tulang selangkahnya) jadi hancur kena remasan tersebut, dan orang itu lunglai rubuh di lantai. Tapi tidak terdengar suara jeritannya, dia masih berusaha merangkak bangun untuk mengadu jiwa pada si perwira.
Tapi perwira itu tertawa keras. "Kau masih penasaran dan hendak mengadakan perlawaran ?" ejeknya. "Baik, aku ingin melihat sampai sejauh maca kenekadanmu.
"Berdirilah !" Setelah mengejek begitu, si perwira kerajaan itu berdiri menantikan orang tersebut, yang tadi dipanggil si kakek dengan sebutan Cun Siang.
Beberapa orang pasukan tentara kerajaan sudah ada yang masuk, mereka bersiap sedia. Tapi tanpa perintah dari perwiranya, mereka tak berani menyerbu untuk membekuk Cun Siang. Cuma berdiri diam mengawasi saja.
Sedangkan Cun Siang sudah merangkak berdiri, mukanya bengis penuh dendam, mukanya itu penuh luka-luka goresan senjata, banyak mengeluarkan darah, begitu juga luka dibeberapa anggota tubuh lainnya, ditambah oleh tangannya yang baru saja tertabas putus oleh goloknya sendiri yang dirampas oleh si perwira kerajaan itu. maka darah yang keluar terlalu banyak.
Biarpun hatinya tabah dan dia nekad sekali, akibat kekurangan daran tenaganya sudah tak ada, dia cuma bisa berdiri dengan kaki gemetar, mata seperti juga hendak meloncat keluar dari rongga matanya dan mulutnya digigit kuat-kuat untuk menam m ^isa tenaganya.
Tapi tanpa si perwira kerajaan turun tangan, dia sudah terjungkel rubuh kembali...
Si perwira kerajaan mendengus, dia mengibaskan tangannya dan beberapa orang tentara kerajaan telah meloncat maju untuk membekuk orang itu, yang diringkus kasar sekali.
Si perwira jalan berlenggang keluar dari rumah itu. Namun waktu melewati si kakek tua, mendadak kakek tua yang sudah payah keadaannya dan masih menyender di tembok, sudah menerjang dengan sisa tenaga terakhir dia ingin mencekik batang leher si perwira, tapi belum lagi kedua tangannya yang hendak mencekik itu mengenai leher si perwira saat itulah mata si kakek mendelik, mulutnya terbuka dan mukanya memperlihatkan kesakitan yang hebat, dia mengejang kaku dengan dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi, kemudian rubuh terkulai.
Rupanya golok di tangan si perwira sudah menancap diperutnya... dia kalah cepat dengan si perwira, karena sebelum bisa mencekik, justeru golok lawannya sudah menghunjam perutnya. Napasnya seketika putus.
Si perwira melangkah keluar tanpa menoleh kepada kakek tua yang sudah jadi mayat, dia meloncat ke atas kudanya, sedangkan orang yang tadi bersenjata golok dan sekarang sudah jadi tawanan sudah digusur oleh beberapa orang tentara kerajaan, keluar dari rumah itu.
Orang itu, Cun Siang, masih berusaha memberikan perlawanan Tangannya yang tinggal satu masih berusaha memukul tentara yang menyeretnya, tapi tenaganya sudah habis, dia tidak bisa berbuat apa-apa. karena tubuhnya diseret terus keluar... darah mengucur keluar dari tangannya yang buntung... dan dia didorong terguling-guling di tanah.
"Ikat pinggangnya dan seret oleh kuda!" Perintah si perwira.
Dua orang tentara kerajaan segera meloncat ke dekat tawanan mereka, mengikat pinggang orang itu dengan seutas tambang yang sangat besar dan panjang, juga kedua tangan Cun Siang. Cuma kedua kaki Cun Siang yang dibiarkan tak terikat, karena dia mau diseret kuda dan harus berlari-lari mengikuti kuda yang akan menyeretnya.
Keadaan Cun siang sudah lemah terlalu banyak darah yang dikeluarkan. Hatinya pun sedih bukan main, karena melihat kakek tua pemilik rumah itu sudah jadi korban keganasan si perwira kerajaan, sehingga menemui kematian dengan cara yang begitu mengenaskan.
Dia sendiri memang dalam keadaan luka parah waktu minta menumpang di rumah kakek itu, untuk berobat. Tapi siapa tahu jejaknya sudah diendus oleh pasukan kerajaan yang memang hendak menangkapnya, berakhir dengan kematian kakek itu.
"Geledah rumah ini perintah perwira kerajaan itu sambil menghampiri kudanya dan meloncat naik kepelana kudanya, duduk di situ mengawasi kerja anak buahnya. Enam orang tentara kerajaan menyerbu ke dalam rumah untuk memeriksa. Akhirnya mereka keluar kembali sambil menyeret seorang wanita yang dalam keadaan terluka parah serta sudah tak bertenaga. Wanita itu baru berusia antara duapuluh empat atau duapuluh lima tahun, dia dicampakkan sampai terjerambab di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Tapi, sedikitpun tak terlihat rasa takut di mukanya, karena wanita itu mengawasi si perwira dengan sorot mata penuh kebencian.
"Hemmmm, dua penjahat sudah berhasil ditangkap!" menggumam si perwira. "Pemberontak-pemberontak yang pasti menerima hukuman mati! Ikat dan seret juga wanita itu dengan seekor kuda!"
Perintah itu segera dilaksanakan, kedua tangan wanita itu diikat oleh seutas tambang, begitu juga pinggangnya yang diikat oleh seutas tambang lainnya. Cuma kedua kakinya yang dibiarkan tak terikat.
"Seret mereka!" perintah si perwira, kuda yang ditunggangi segera diputar untuk mengajak pasukannya meninggalkan tempat itu. Sedangkan di kejauhan satu dua orang penduduk menyaksikan dengan perasaan sedih dan takut melihat tindakan para tentara kerajaan yang demikian sadis dan ganas.
Cun Siang dan wanita itu, kedua-duanya dalam keadaan terluka cukup parah, diseret berlari-lari di belakang kuda yang menarik tambang yang mengikat tubuh mereka. Walau-pun sudah tak memiliki tenaga lagi, kedua orang itu masih tetap harus berlari lari, disamping itu kalau mereka sudah benar-benar tak kuat berlari, tubuh mereka terseret oleh lari kuda yang tidak perlahan.
Waktu itu, mendadak dari samping rumah seorang penduduk meloncat dua sosok tubuh yang menghadang di tengah jalan raya, menahan jalannya pasukan kerajaan. Kedua orang itu sepasang muda-mudi, mereka tak lain Giok Han berdua dengan Cang In Bwee.
Kebetulan mereka menyaksikan perbuatan kejam pasukan kerajaan terhadap kedua orang yang tengah diseret oleh dua ekor kuda, maka tak pikir panjang Giok Han segera hendak menolongi kedua orang itu. Cang Ing Bwee tak menghalangi, karena diapun gusar melihat keganasan pasukan kerajaan yang bertindak semena-mena.
Muka si perwira berobah melihat dua o-rang menghadang jalan maju dia dan pasukannya. Segera dia Keprak kudanya maju mendekati kedua orang itu.
"Menyingkir kalau tak mau ditabrak kuda !" Bentak perwira tersebut garang. Dia juga tak menghentikan kudanya, karena bermaksud sengaja menubruk kedua orang itu. Tapi, kedua kudanya menerjang maju, Giok-Han tak meloncat ke pinggir atau menyingkir, maiah dia menyambuti dada kuda dengan pukulan tangan kanannya. Kuat pukulan yang dilakukan disertai tenaga Lwexang, angin berkesiutan keras.
Si perwira kaget, tapi sudah terlambat buat menahan lari kudanya. Telak sekali sebelah depan leher kudanya itu kena dihantam telapak tangan Giok Han, seketika kuda itu kesakitan, meringkik liar mengangkat kedua kaki depannya. Kalau memang si-perwira tak memiliki ilmu yang tinggi tentu tubuhnya sudan terbanting jatuh dari punggung kudanya.
Untung saja dia gesit dan linear, begitu kudanya terpukul dan mengangkat kedua kakinya, dia sudah meloncat turun dari kuJanyu dengan tubuh yang ringan. Kudanya meringkik nyaring, kemudian lunslai roboh menggeletak di tanah tak bergerak lagi. Pukulan yang dilakukan Giok Han ternyata merupakan puKulan mematikan.
Mata si perwira tajam mengawasi Giok-Han dan Cang In Bwee bergantian, kemudian dengan garang karena marah berkata: "Sahabat, siapa kalian berdua ? Mengapa mencari urusan dengan kami pihak kerajaan ?" tegurnya. "Apakah kalian sudah bosan hidup?"
"Bebaskan kedua orang itu, mereka jangan disiksa seganas itu." Bilang Giok Han dengan suara tawar. "Kalau kalian membebaskan kedua orang itu, kami tak akan menghalangi lagi jalan kalian! "
Si perwira gusar bukan main sampai dia tertawa, menyeramkan suara tertawanya." Ooo, kalian kira Ban It Say dapat digertak begitu oleh kalian ? Walaupun kalian tambah empat pasang kaki dan tangan, tetap kalian juga harus ditangkap, karena kemungkinan besar kalian sahabat kedua pemberontak ini !" Setelah berkata begitu, tubuh Ban It Say menerjang maju.
Dia seorang berkepandaian tinggi, tangannya tangguh sekali, maka Ban It Say yakin dalam satu dua jurus bisa membekuk pemuda dan gadis ini. Karenanya dia tidak perintahkan anak buannya, melainkan dia turun tangan-sendiri.
Giok Han dan Cang In Bwee kaget mengetahui perwira kerajaan ini Ban It Say, yang sangat terkenal di kota raja sebagai congkoan Gi lim-kun, yang berkepandaian tinggi dan selalu bertindak semena-mena terhadap orang yang lemah tak berdaya.
Sedangkan Giok Han sendiri meluap kemarahannya dia masih ingat. Ban It Say adalah salah satu dari orang-orang yang menghancurkan keluarganya, yang dikirim Cu Bian Liat. Congkoan Gi-lim kun ini bersama Thio Yu Liang merupakan dua orang yang memimpin pasukan kerajaan untuk "menghukum" ayahnya, menghancurkan keluarganya.
Sekarang Siapa sangka bisa bertemu di sini, Giok Han girang campur gusar. Tak menunggu tangan Ban It Say tiba pada sasaran, dia sudah memapaki dengan loncatan yang cepat, tangannya diulurkan untuk menyambuti pukulan Ban It Say. Sekali turun tangan Giok Han lantas mempergunakan sinkangnya,dikerahkan pada jari-jari tangannya, karena mengetahui bahwa lawannya bukan orang lemah yang bisa dipandang remeh.
Ketika tangannya beradu dengan Congkoan Gi-lim-kun tercebur, terdengar bentrokan sangat nyaring, disusul dengan pengerahan tenaga yang kuat, karena Giok Han merasakan tenaga dalam Ban It Say seperti datang bergelombang semakin lama semakin kuat. Maka dia membendung tenaga lawan dengan memusatkan tenaga sinkangnya. Mereka mengadu kekuatan.
Ban ItSay bukan hanya mempergunakan sinkangnya saja, mengetahui lawannya yang masih muda tapi memiliki tenaga dalam yang kuat, segera membaiengi dengan tangan kirinya untuk mencengkeram pundak Giok Han.
Giok Han mana bisa diserang seperti itu, biarpun tangan kanannya sedang menahan tangan congkoan Gi-lim kun tersebut, dia juga bisa mengerahkan tenaga sinkang pada tangan kirinya. Ketika tangan lawan menyambar ke pundaknya, dia menurunkan pundaknya dengan menekuk kaki kirinya, kemudian menghantam pusar lawannya.
Kembali Ban It Say kaget campur heran, karena lawannva biarpun berusia masih muda tapi memiliki ilmu yang tinggi. Dia tak menyangka bahwa lawannya bisa melakukan tindakan demikian maka segera dia meloncat kebelakang menarik pulang kedua tanganya. Dia memandang tajam,
"Bocah, ternyata kau memang kawan pemberontak-pemberontak ini! Atas nama Kaisar aku menangkapmu juga!" Dan segera Ban It Say mengisyaratkan kepada pasukannya untuk menyerbu maju menangkap Giok Han dan Cang In Bwee.
Belasan orang tentara menyerbu maju lengkap dengan senjata tajam terhunus. Mereka menerjang untuk mengeroyok Giok Han dan In Bwee. Semuanya berpikir, dengan mengandalkan jumlah banyak tentu Giok Han dan In Bwee dapat dibikin tak berdaya dan akan mereka tangkap dengan mudah.
Namun tak mereka sangka-sangka, justeru waktu itu Giok Han sudah memukul telak sekali dada seorang tentara kerajaan yang paling depan sampai terpental dan dadanya melesak. karena kuatnya pukulan yang dilakukan Giok Han bahkan tentara kerajaan yang seorang itu terlambung ke tengah udara sambil menjerit, berkelojotan ketika terbanting di tunah dengan mulut berbusa, lidah terjulur keluar seperti anjing kepanasan dan matanya mendelik dengan hidung keluar darah!
Giok Han bukan hanya merobohkan seorang tentara kerajaan itu, karena begitu berhasil memukul terpental tentara kerajaan yang seorang kaki kanannya juga sudah melayang menendang selangkangan tentara kerajaan yang lainnya yang menyerbu dari arah samping kanan.
Tak ampun lagi tubuh tentara kerajaan itu terputar-putar menjerit kesakitan sambil memegangi selangkangan, tubuhnya berpusing berjingkrak-jingkrak karena rasa sakit yang serasa seperti menerobos sampai ke ubun-ubun kepalanya. Sakitnya bukan main, bahkan akhirnya dia roboh pingsan tidak ingat diri.
Teman temannya yang lain dari kedua tentara kerajaan itu jadi bimbang dan gentar melihat dalam waktu singkat Giok Han sudah berhasil memukul roboh dua orang teman mereka, maka sejenak mereka berhenti menyerbu.
Ban It Say mendongkol bukan main, apa lagi melihat pasukan tentaranya berdiam diri tak meneruskan serbuan mereka. Maka dibentaknya bengis. "Tangkap kedua pemberontak itu!"
Bentakan ini menyebabkan pasukan tentara kerajaan itu sadar apa yang di perintahkan atas mereka segera meloncat menerjang lagi sambil mengayunkan senjata masing-masing, untuk menyerang Giok Han maupun Cang In Bwee. waktu itu Giok Han pun tak sungkan sungkan lagi, dia segera menampar muka seorang tentara kerjaan yang ada di sebelah kiri, membuat tentara itu kelojotan sambil membuang senjata, memegangi mukanya, karena matanya dirasakan gelap,dan tulang mukanya seperti jadi hancur akibat pukulan tersebut, sakitnya sampai terasa diulu hati. Giok Han pun membarengi dengan pukulan lainnya pada tentara lainnya, yang mengalami nasib yang sama.
Cang In Bwee tidak tinggal diam, gadis ini memiliki kepandaian yang mengagumkan karena begitu tangan dan kakinya bergerak, dia sudah merobohkan tiga orang tentara kerajaan yang jungkir balik kesakitan.
Menyaksikan ini kemarahan Ban It Say meluap. Dia tahu, kedua orang ini orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, menyaksikan dalam waktu singkat, dia sudah melihat bahwa setiap pukulan Giok Han maupun In Bwe memiliki tenaga yang ampuh dan kuat sekali, tidak mungkin pasukannya itu bisa menghadapinya. Maka dia membentak keras
"Semua minggir, biasa aku yang menghadapi kedua pemberontak itu." Dengan langkah lebar dia maju ke tengah gelanggang.
Tentara kerajaan yang tidak terluka segera mengundurkan diri meninggalkan arena pertempuran sambil menggotong kawan mereka yang terluka. Memang mereka girang menerima perintah mudur, sebab hati mereka gentar dan jeri kepada kedua orang muda ini yang dalam satu dua gebrak sudah dapat merobohkan kawan-kawan mereka begitu mudah.
Maka mendengar Ban It Say perintahkan mereka mundur, girang bukan main hati tentara-tentara kerajaan itu yang tak ayal lagi segera meninggalkan Giok Han dan In Bwee.
Ban It Say sudah berada di depan sepasang orang muda itu, yang diawasi tajam tajam.
"Apakah kau juga orang-orang Thio Hong Can dan Giam cu." tegurnya dingin.
"Kalau ya kenapa, kalau tidak kenapa ?" menyahuti Cang In Bwee sebelum Giok Han menjawab pertanyaan congkoan Gi-lim-kun itu.
"Kalau memang kau benar orang-orang Giam cu atau Thio Hong Gan, kalian harus ditangkap, karena kalian bekerja untuk pemberontak, bermaksud memberontakan terhadap kekuasaan Kaisar yang ada, karenanya kalian harus menerima hukuman. Tapi kalau memang kalian bukan orang-orang Giamcu maupun Tho Hong Gun. aku masih memberi kesempatan kepada kalian untuk cepat-cepat angkat kaki. Aku akan meramkan mata dan tak akan mengganggu kalian."
"Hemmm, aku tidak mengharapkan belas kasihanmu !" kata In Bwee, yang sudah berkaia lagi mendahului Giok Han "Yang kami harapkan kau bebaskan kedua orang tawananmu itu, kalian boleh pergi tanpa kami ganggu!"
"Kalau aku menolak permintaan kalian?" tanya Ban It Say mengejek dan sinis, menahan kemarahan hati yang sudah meluap.
"Kami akan tetap merampas kedua tawanan itu!" menyahuti In Bwee tegas.
"Ya, kami akan mengambil kedua tawanan itu dari tangan kalian !" kata Giok Han ikut bicara.
"Baik, ambilah oleh kalian ! "Berbareng dengan kata-katanya itu, cepat bukan main kedua tangan Ban It Say sudah meluncur kepada Giok Han dan In Bwee jari-jari tangannya terpentang siap mencengkeram seperti jari-jari naga dan mengandung tenaga sinkang yang amat ampuh. Dia hendak mencengkeram batok kepala Giok Han dan In Bwee.
Dia seorang congkoan Gi-lim kun, yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi serta di kotaraja terkenal sebagai salah seorang jago utama Kaisar. Sekarang dia diejek dan seperti tidak dipandang mata oleh la Bwee dan Giok Han, tentu saja jadi murka, dapat dibayangkan kekuatan singkang yang dipergunakannya.
Giok Han dan In Bwee walaupun tampak tidak memandang mata kepada congkoan Gi-lim kun ini diam diam di hati masing-masing sudah tahu, bahwa lawan mereka ini bukanlah orang sembarangan. Melihat lawan menyerang dahsyat seperti itu, mereka tidak berani menyambuti dengan kekerasan, cuma menghindar, masing-masing meloncat ke kiri dan kanan, terpisah agak jauh, membuat Ban It Say dalam waktu beberapa detik harus memutuskan apakah dia akan menyerang Giok Han atau kepada ln Bwee, karena keduanya berada di tempat yang bertolak kebelakang, di kiri dan kanan.
Tapi akhirnya Ban It Say memilih Giok Han sebagai sasaran dari tangan kanannya yang menyerang pada titik kematian di ulu hati Giok Han. Tangannya begitu cepat sulit diikuti oleh pandangan mata, juga memang gerakan tangannya adalah jurus yang aneh sulit ditentukan arah sasaran yang sebenarnya. Tak percuma Ban It Say sebagai congkoan Gi-lim-kun, karena kepandaiannya memang sangat tangguh.
Giok Han tertawa mengejek dan menghindar lagi. Tapi sekarang dia mengelak bukan berdiam diri seperti tadi, melainkan tangan kanannya tahu-tahu sudah nyelonong ke arah pelipis lawannya, tangan kirinya menyampok tangan Ban It Say.
Pukulan itu bukan pukulan sembarangan, karena itulah jurus kesembilan dari "Sin-beng-kun" yang khusus dipelajari Giok Han untuk menghadapi "Liong-heng-kun"-nya Tang San Siansu.
Tangannya panas seperti api membakar, seperti api yang siap menyambar membakar apapun yang berada di dekatnya.
Tidak kepalang kaget congkoan Gi-lim-kun tersebut, tangannya seperti terbakar oleh api yang panas luar biasa, juga urat nadi pusat di pergelangan tangannya berdenyut keras, seakan seluruh darah deras berkumpul di situ berdesak-desakan akan meletus! Tentu saja dia kaget tidak terkira, karena denyut urat pusat nadi di pergelangan tangan merupakan urat nadi yang terpenting, kalau sampai nadi pusat di pergelangan tangan meletus, biarpun dia memiliki kepandaian lima atau enam kali lipat lebih lihai dari sekarang, niscaya dirinya akan mati seketika begitu pembuluh darah itu meletus.
Tak pikir lagi tangannya segera ditarik pulang dan dia meloncat mundur, memandang Giok Han dengan terheran-heran. Usia orang ini masih muda, mengapa dia memiliki kepandaian demikian tinggi dan ampuh sekali ? Murid siapakah dia ?
Giok Han tertawa mengejek. "Ayo maju lagi, mengapa bengong di situ?" tantangnya. Dia, tahu Ban It Say kaget karena menerima salah satu jurus "Sin beng-kun" yang sangat ampuh itu, dan memang Giok Han sengaja mempergunakan jurus-jurus ampuh itu, dia ingin membekuk Bin It Say, karena congkoan Gi-lim-kun ini termasuk salah seorang musuhnya yang ikut menghancurkan keluarganya.
Ban It Say tidak bengong terlalu lama, walaupun bagaimana dia seorang lihai berkepandaian tinggi dan memiliki kedudukan terhormat di kotaraja sebagai congkoan Gi-lim-kun. Sekarang dia dibikin tercengang seakan tak berdaya terhadap lawannya yang masih muda belia ini, bahkan di depan anak buahnya, mereka menyaksikan apa yang terjadi.
Timbul penasaran dan kemarahan yang meluap sampai memukul ubun-ubun kepalanya. Tak buang waktu lagi tubuhnya loncat ke depan Giok Han dan sekarang dia menyerang dengan penuh perhitungan, mempergunakan ilmu andalannya.
Tangan kanannya berkesiutan mengeluarkan angin yang menderu-deru menerjang Giok Han. Jari-jari tangannya siap untuk merobek kulit tubuh dan mencopot daging tubuh lawan, mencengkeram mati jalan darah terpenting di tubuh lawan.
Giok Han tahu Ban It Say memang berkepandaian tinggi, kalau tadi dia berhasil membuat congkoan Gi-lim-kun itu kaget karena Ban It Say tak menyangka dia memiliki ilmu mujijat seperti Sin-beng-kun, memandang rendah padanya sehingga mempergunakan tenaga sinkangnya tak sepenuhnya, juga kurang waspada.
Tentu saja hal ini membuat Ban It Say menderita kerugian, pelajaran pahit tadi membuat Ban It Say sekarang hati-hati dan jauh lebih tangguh dari tadi. Angin pukulan kedua tangannya seperti juga ingin melepaskan baju yang melekat di tubuh Giok Han, karena menyambar-nyambar dahsyat membuat baju pemuda itu jadi beterbangan keras sekali.
Tak ayal lagi Giok Han mempergunakan jurus-jurus Sin-beng-kun untuk menghadapinya berulangkali Ban It Say terkejut menerima tangkisan Giok Han yang dahsyat dan aneh, tapi dia tidak sampai harus menghentikan serangan-serangannya, karena Ban It Say masih dapat bertahan.
Giok Han telah menduga bahwa congkoan Gi-lim-kun ini paling lama bisa bertahan cuma 10 jurus. Tidak lebih dari itu. Karena Sin beng-kun adalah pukulan mujijat yang diperuntukkan Giok Han menghadapi Tang San Siansu. Dan dugaan pemuda ini memang tepat. Sebab pada jurus ke enam saja Ban It Say mulai gugup dan panik, karena dia seperti terkurung suatu kekuatan yang menyesakkan napasnya, biarpun dia memusatkan sinkangnya pada kedua lengannya, namun tampaknya dia tidak berhasil untuk menghalau kekuatan Sin-heng kun pemuda tersebut.
Mati-matian Ban It Say mencurahkan seluruh kekuatan singkangnya, tetap saja dia terdesak. Masih untung buat Ban It Say karena usianya yang masih muda Giok Han kalah pengalaman dan latihan dibandingkan dengannya, kalau tidak dalam tiga jurus dengan Sin-beng-kunnya itu Gion Han pasti sudah dapat merobohkan Ban It Say.
Pada jurus kedelapan tangan Giok Han berputar-putar dan di sekitar kepala Ban It Say berkeliling sebuah bola api yang panas bukan main melingkar isi kepala serta otak nya, matanya juga pedas sekali. Ban It Say semakin kaget, tapi waktu dia mau meloncat mundur dan terpikir untuk perintahkan pasukannya buat mengeroyok Giok Han, keadaan sudah terlambat. Belum lagi dia meloncat menjauhi Giok Han, tahu-tahu tangan kanan Giok Han berhasil mencengkram lengan Ban It Say. Walau congkoan Gi lim-kun ini hendak melepaskan tangannya dari cengkeraman jari-jari tangan Giok Han yang begitu kuat dan sangat panas, tangan kiri Giok Han sudah menyambar lagi pada leher di bawah cuping daun telinga.
Bagian dari anggota tubuh di situ memang merupakan daerah paling lemah buat pertahanan seorang manusia, lehernya terkena pukulan begitu kuat seketika tubuh Ban It Say terhuyung, namun dia masih bisa mempertahankan kuda-kuda-nya sehingga tidak sampai mencium tanah.
Mukanya merah padam. Giok Han tak memberi kesempatan kepada musuhnya belum Ban It Say sempat memperbaiki posisi tubuhnya, pemuda ini tahu-tahu sudah berada di sampingnya dan tangannya menghantam iga kanan Ban It Say, sampai congkoan Gi lim-kun itu terhenyak kesakitan, mukanya meringis dan buyarlah kekuatan tenaga kuda-kuda kedua kakinya, dia jatuh terduduk dengan muka pucat, mulutnya tampak merah karena darah mengucur keluar.
"Orang she Ban, hari ini adalah hari kematianmu, untuk membayar hutang jiwa dari keluarga Jenderal Giok Hu!" Teriak Giok Han yang menghampiri dengan muka yang kaku dingin tak memancarkan perasaan, memandang tajam penuh dendam, karena yang terduduk tak berdaya ini adalah seorang musuhnya yang ikut menghancurkan keluarganya.
Muka Ban It Say masih pucat waku dia bertanya bingung: "Si.... siapa kau ? Dan . . . mengapa kau kait-kaitkan aku dengan persoalan Jenderal Giok Hu almarhum ?"
"Jangan pura pura tolol bertanya seperti itu ! Tentu kau sendiri sudah tahu mengapa kau harus mati hari ini, untuk menebus dosa-dosamu yang telah mencelakai keluarga jenderal Giok Hu. Kau juga termasuk salah satu yang mengambil bagian menghancurkan keluarga Jenderal Giok Hu."
Sekarang Ban It Say gentar terhadap pemuda di depannya, dia melihat kenandaian pemuda ini benar benar tangguh dan jurus-jurus silatnya mujijat sulit dihadapi. Dia jadi lemah dan lenyap keberanian maupun keangkuhannya.
"Tunggu dulu, dengar dulu penjelasanku!" Serak suara Ban It Say waktu bilang begitu, dia juga menggoyang-goyangkan tangannya mencegah Giok Han maju lebih dekat padanya. Beberapa orang pasukannya telah coba mengurung Giok Han, tapi tak seorangpun berani menyerbu untuk menyerang Giok Han.
Mereka menyaksikan betapa congkoan mereka sangat mudah dirubuhkan pemuda tangguh itu, aoalagi mereka, jika maju sama saja dengan mengantarkan jiwa. Semuaoya jadi berdiri diam, seakan menanti keputusan atau perintah congkoan mereka.
"Beritahukan dulu padaku, siapa kau sebenarnya agar aku mengetahui jelas duduk persoalannya !" Bilang Bin It Say gugup ketua melihat Giok Han tetap maju selangkah demi selangkah mendekati tanpa melayani permintaannya. Mata pemuda itu memancarkan sinar berkilauan seakan menusuk kedalam haci Ban It Say.
Melangkah maju menghampiri tiga langkah Giok Han akhirnya berhenti dan mukanya kaku tak berperasaan ketika bertanya: "Apa yang ingin kau jelaskan ? Duduk persoalan sudah jelas, kau salah seorang yang ikut menghancurkan rumah tangga dan keluarga Jenderal Giok Hu."
"Aku hanya seorang yang makan gaji negara, maka aku harus taat pada perintah. Aantara aku dengan Jenderal Giok Hu tak ada permusuhan, cuma melaksanakan perintah dari Cu-kong-kong untuk membasmi jenderal yang mau memberontak itu..."

"Bohong ! Mana mungkin jenderal setia itu ingin memberontak dan itu pasti fitnah belaka, alasan yang kalian cari cari untuk mencelakai keluarga jenderal Giok Hu !" bentak Giok Han dan suaranya penuh kemarahan.
"Tapi kami hanya mengiringi thaykam yang jadi utusan Hongsiang, untuk menghukum jenderal Giok Hu. Kami melaksanakan perintah, janganlah menimpahkan dendam itu kepadaku ssluruhnya, karena Thio Yu Ling, congkoan Kim-ie-wie juga ikut pada pengawalan thay kan yang hendak menghukum jenderal Giok Hu. Hukuman yang dijatuhkan pada diri Jenderal Giok Hu berasal dari firman Hongsiang, maka seluruhnya menjadi tanggung-jawab Hongsiang! Kami yang makan gaji negara cuma melaksanakan perintah dan tugas kewajiban belaka...!"
"Manusia pengecut," memaki Giok Han mendongkol. "Sekarang kau hendak pungkiri perbuatan kejam yang pernah kau lakukan bersama-sama dengan kawanmu itu. Walaupun demikian, tetap saja kau harus mati !"
"Tunggu . . .kau belum memberitahukan siapa dirimu dan masih ada hubungan apa antara kau dengan keluarga Jenderal Giok Hu?" Ban It Say bertanya seperti itu, sebab dia tak berhasil menduga siapa ini. Yang diketahuinya bahwa seluruh keluarga Giok Hu telah dibasmi bersama Thio Yu Ling.
Namun mendadak mukanya berobah, jadi pucat pias dan memandang Giok Han dengan sorot roata guram. Dia teringat sesuatu dan pundaknya jadi terasa dingin seperti ditempelkan batangan es. Dia ingat waktu terjadi pembasmian keluarga pemberontak Jen-deral Giok Hu, ada seorang anak Jenderal Giok Hu yang tak ditemukan, walaupun telah dicari disekitar tempat kediaman Jenderal Giok Hu, tetap saja anak Jenderal itu menghilang.
Waktu itu dia tak begitu memperhatikan keadaan tersebut, karena dianggapnya apa yang bisa dilakukan oleh anak jenderal tersebut. Siapa tahu, sekarang timbul urusan pembunuhan keluarga jendral Giok Hu, maka teringat pada lenyapnya anak Jenderal Giok Hu di saat pembasmian keluarga jenderal itu, seketika Ban It Say menduga bahwa pemuda di depannya ini apakah bukan anak jenderal tersebut?
Giok Han berkata sinis: "Kalau aku tak menjelaskan siapa diriku, tentu kau mati dengan mata tak meram serta penasaran. Baiklah, akulah anak jenderal Giok Hu yang sempat lolos dan tangan mautmu dan kawan-kawanmu ! Sudah dengar jelas ? Akulah Liong-kak-sin-hiap, anak jenderal Giok Hu yang akan mengadakan perhitungan dengan semua orang-orang yang pernah ikut ambil bagian mencelakai keluargaku !"
Ban It Say sudah berdiri dan otaknya berpikir keras. Dugaannya benar. Pemuda ini anak jenderal Giok Hu yang lenyap pada hari itu. Sekarang muncul lagi dengan kepandaian yang sangat tangguh. Dia tidak kaget lagi mendengar keterangan Giok Han, sebab dia sudah menduga. Otaknya bekerja keras untuk mencari jalan lolos dari tangan pemuda ini. Sekali saja dia bisa lolos, selanjutnya dia akan melakukan pengejaran ketat pada Giok Han.
Akan diajaknya pasukan Gi-lim-kun yang umumnya memiliki ilmu silat tinggi untuk mencari pemuda yang jadi cucu jenderal Giok Hu. Waktu itu diapun bisa memakai pahlawan istana lainnya, baik dari Kim-ie-wie maupun dari pasukan pribadi Kaisar, untuk membantunya mengadakan pengejaran pada Giok Han, dengan tuduhan pemuda itu bermaksud memberontak!
Cang In Bwee mengawasi Giok Han, namun dia jadi kaget karena tahu-tahu secara mendadak Ban It Say loncat menyerang untuk menyergapnya.
Ban It Say licik, dia tahu kepandaian Cang In Bwee jauh di bawah kepandaian Giok Han, karenanya dia memilih "pengemis" kotor ini sebagai sasaran tangannya, di mana dia hendak menangkap In Bwee, untuk dijadikan sandera. Sambil menyerang In Bwee dia juga berseru:
"Tangkap pemberontak itu mati atau hidup!" Serunya itu ditujukan buat pasukannya.
Sejak tadi semua pasukan Ban It Say cuma berdiri ragu ragu, tapi mendengar perintah congkoan mereka, tak berayal lagi mereka meluruk menyerang Giok Han untuk mengeroyok.
In Bwee coba menangkis cengkeraman tangan kanan kanan Ban It Say, tapi tangan kiri Ban It Say tahu-tahu menyambar sudah berada di depan mukanya. Ban It Say girang dia yakin bisa menawan pengemis kotor ini dan bisa memaksa Giok Han agar menyerah untuk ditawan olehnya. Tangannya cuma terpisah beberapa dim lagi dari muka In Bwee.
Tapi tak disangka-sangkanya, Ban It Say merasakan tangannya yang kiri dan tengah hendak mencengkeram muka In Bwee, sakit luar biasa, gatal gatal, seperti tertusuk sesuatu. Bahkan dia mendengar In Bwee tertawa sambil meloncat mundur. Tubuh Ban It Say juga mengejang, rasanya tak enak, tangannya sudah kejang sulit digerakkan, seperti tak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan muka berobah pucat dan mata memandang murka kepada In Bwee.
Apa yang terjadi dan mengapa Ban It Say mendadak menarik tangannya yang hampir mengenai muka In Bwee, bahkan dia merasakan tangannya jadi kejang kaku tak bertenaga sulit untuk digerakkan ?
Rupanya In Bwee menyadari juga bahaya yang mengancam dirinya, keselamatan jiwanya terancam oteh tangan maut Ban It Say, kalau saja mukanya kena dicengkeram, dan pasti dia akan ditawan oleh congkoan Gi-lim-kun tersebut. Dalam keadaan terancam bahaya seperti itu. In Bwee tidak tinggal diam, sebab cepat sekali tangannya terangkat ke atas, seperti menyambuti tangan Ban It Say.
Padahal dia mempergunakan jarum beracun untuk menyambuti pukulan Ban It Say, sehingga congkoan Gi-lim-kun itu kesakitan dan menarik tangannya membatalkan cengkeramannya.
In Bwee melakukan pembelaan diri seperti itu karena tahu kalau dia menangkis dengan kekerasan cengkraman Ban It Say, pasti dia kalah tenaga lwekang, dan akan jatuh ketangan musuh. Memang Ban It Say sengaja menyerang mencengkram muka In Bwee dengan harapan In Bwee coba menangkis tangannya.
Waktu itulah Ban It Say akau mencengkeram tangan In Bwee, batal menyerang mukanya, mencengkeram pa ia nadi jalan darah "cung koan-niat," nya, pasti akan membuat tubuh In Bwee jadi lumpuh tak bertenaga dan jatuh ke dalam tangan Ban It Say, untuk dijadikan sandera.
Ban It Say sudah memperhitungkan segalanya sebaik-baiknya,tapi siapa tahu juteru In Bwee juga sangat cerdik Dalam keadaan terjepit di- bawah ancaman lawan, dia masih bisa meloloskan diri dengan mempergunakan jarum beracun yang dipergunakan menyambuti tangan Ban tt Say. Setelah Ban It Say menjerit dan tertusuk jarumnya, In Bwee juga tidak tinggal diam, tubuhnya ringan meloncat ke belakang.
Dia mengejek sinis mentertawai ketololan lawannya, yang kena diselomoti seperti itu.
Ban It Say melihat keadaan tangan kiri nya. Ada titik hitam di tangannya, tanda bekas tertusuk sesuatu, yang di sekitarnya berwarna gelap kehitam-hitaman. Meluap darah Ban It Say, dia berjingkrak sambil meraung sengit, karena segera diketahui dirinya sudah dilukai dengan senjata yang beracun,
Matanya bengis mengawasi si pengemis, dia memusatkan seluruh tenaganya, untuk loncat menyerang. Tapi, sebelum dia meloncat, sempat ditelannya beberapa pil, untuk penawar racun. Pil, yang ditelannya adalah pil yang dibuat tabib istana, karena dia yakin pil itu bisa memunahkan racun yang di pergunakan si pengemis. Diiringi raungan bengis dia loncat menerjang si pengemis, sepasang tangannya bergerak-gerak dengan tenaga sinkang penuh pada lengannya. Dia bertekad hendak membunuh si pengemis.
Giok Han terkejut melihat kekalapan congkoan Gi lim-kun itu, sebab diketahuinya kepandaian In Bvvee berada dibawahnya, tentu agak sulit menghadapi congkoan Gi-lim-kun yang memang berkepandaian tinggi.
Tapi untuk menolongi In Bwee dan menghadapi Ban It Say diapun tak bisa, dirinya sedang dikeroyok oleh belasan orang tentara kerajaan yang mempergunakan berbagai macam senjata tajam.
Cang In Bwee cendiri menyadari bahwa dirinya sulit mengimbangi Ban It Say, dia memang masih setingkat di bawah sinkang congkoan Gi-lim-kun tersebut. Tapi kini mau tak mau dia harus menghadapi congkoan Gi-lim-kun tersebut, dia berharap bisa mempergunakan racun lagi, Waktu itu sepasang tangan Ban It Say sudah menyambar didepan mukanya, dan In Bwee tidak tinggal diam dia mengelakkan beberapa kali pukulan yang di lakukan congkoan Gi-lim-kun tersebut, bahkan dia telah coba balas menyerang.
Seluruh kepandaiannya dipergunakan, dia mengandalkan Ginkangnya untuk menghindari setiap sambaran tangan lawannya, dan setiap ada kesempatan In Bwee mempergunakan racunnya untuk menerima serangan, misalnya dengan mempergunakan jurus beracun atau peluru beracunnya.
Tapi Ban It Say dalam keadaan kalap benar-benar tangguh sekali, sebab setiap In Bwee melontarkan peluru beracunnya, congkoan Gi-lim-kun yang sudah berpe ngalaman tersebut tidak menyampok dengan tangannya, melainkan menyambuti peluru itu agar tak meledak, kemudian dia melontarkan kembali kepada In Bwee. Dengan demikian. In Bwee sering kecele melihat timpukannya gagal.
Ban It Say bukan hanya menggagalkan setiap timpukan peluru racun dan juga jarum beracun, In Bwee, melainkan dia sudah menyerang gencar sekali.
Masih tertolong In Bwee, memiliki ginkang yang aneh gerak-geriknya, juga tubuhnya kecil lincah, sehingga selama itu masih bisa menghadapi lawannya yang tangguh dan kalap ini.
Giok Han yang sedang dikeroyok belasan orang tentara kerajaan bekerja cepat, berulang kali sudah merobohkan lawan-lawannya Mungkin sudah delapan orang tentara kerajaan yang menggeletak terluka, sebagian tak bisa bergerak bangun, cuma mengerang-erang kesakitan.
Giok Han mau secepatnya merobohkan semua tentaia kerajaan itu, untuk dapat menghadapi Ban It Say dan menolongi In Bwe, dia kuatir bukan main pada keselamatan gadis itu, yang tengah terancam ditengah kekalapan congkoan Gi-lim-kun itu.
Tetapi setiap ada seorang tentara kerajaan yang dirobohkan, maka maju dua tiga orang tentara kerajaan yang lainnya, yang mengeroyok dan mengepung Giok Han semakin lama bukannya semakin sedikit malah jadi semakin banyak. Dengan demikian Giok Han tak berdaya untuk menggeser tubuhnya kedekat In Bwee.
Keadaan In Bwe semakin terancam, sebab biarpun dia memiliki kepandaian yang tinggi, namun menghadapi lawan kalap seperti Ban It Say benar-benar membuat dia jadi sering terdesak sampai tak bisa balas menyerang.
Kekalapan Ban It Say demikian besar dan dia menyerang tanpa memperdulikan keselamatan dirinya, seakan juga hendak mengadu jiwa. Sebab itu, In Bwee sering terdesak tanpa bisa balas menyerang. Menghadapi lawan yang kalap memang lebih sulit dari lawan yang biasa, apa lagi lawannya ini merupakan komandan pasukan yang khusus menjaga keselamatan kaisar, yang pasti mempunyai kepandaian tinggi.
Dalam keadaan seperti itu, In Bwee berulangkali berusaha menjauhi Ban It Say, tokh dia selalu gagal. Ban It Say selalu mendesaknya dan menyebabkan mereka bertempur jarak dekat, sebab Ban It Say melancarkan pukulan-pukulan kilat mengandung maut serta mematikan.
Suatu kali In Bwee sulit untuk menghindarkan lagi tangan kanan Ban It Say yang menyambar cepat sekali, dia sudah tidak keburu untuk loncat menjauhi diri. Terpaksa dia harus menangkis tangan kanan lawannya, biarpun dia tahu tenaga pukulan yang dilakukan lawannya itu sangat kuat sekali, sebab tenaga sinkangnya tampaknya sudah dipusatkan disitu.
Angin pukulan itu sampai berkesiutan keras, Dess:.... bukkk" Tangan In Bwee saling bentur dengan tangan Ban It Say. Akibatnya benar benar hebat untuk In Bwee, tubuhnya yang kecil langsing terpental seperti terdorong oleh suatu kekuatan yang tak terlihat, bagaikan sehelai daun kering dia melayang di tengah udara setinggi tiga tombak, dengan menderita kesakitan pada tulang tangannya yang tadi dipakai buat menangkis pukulan lawannya.
Untungsaja In Bwee mempunyai ginkang yang tinggi, dia berpoksai di tengah udara agar tubuhnya tak sampai terbanting di tanah. Tapi, begitu kedua kakinya hinggap di tanah, tangan Ban It Say sudah menyambar datang lagi. Lawannya tidak tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada In Bwee untuk mengadakan persiapan.
Kaget In Bwee, hatinya mencelos. Bahaya maut sudah mengancam datang dari arah atas kepalanya. Dia baru saja hinggap, belum keburu mengerahkan tenaga sinkangnya pada tangan untuk menangkis.
Tapi sebagai seorang berkepandaian tinggi, tentu saja In Bwee tak mau begitu saja batok kepalanya dihantam pecah hancur berantakan, dia telah me-ngigoskan secepat kilat, tapi masih terlambat, pundaknya kena dihantam oleh serempetan tangan Ban It Say, nyerinya bukan main, sampai In Bwee meringis menahan sakit. Menyusul lagi tangan kiri nan It Say menyambar ke-dadanya.
In Bwee dalam kesakitan seperti itu masih berusa ia menghindarkan tangan kiri lawan dengan mendoyongkan tubuhnya kesamping kanan, tapi terlambat. Baju didada nya kena dijambret robek, malah dadanya kena dicengkeram keras sekali, untung saja terlepas dan cuma kulit dadanya yang terkelupas, darah segera mengucur keluar.
Sejenak Ban It Say tertegun melihat dada yang membulat montok padat dan putih mulus mencuat keluar dari robekan baju, diantara darah yang merah membasahi baju dan kulit dada In Bwee. In Bwee cepat-cepat menutupi dengan tangannya, agar dadanya tak terlihat olen Ban It Say.
"Hah-hah-hah-hah-hah !" Tertawa Ban-It Say nyaring sekali. "Tak tahunya kau budak hina siluman wanita !" Sambil berkata begitu, tubuhnya meloncat lagi, sekarang dia memukul kearah kepala la Bwe dengan mengerahkan sinkang sepenuhnya, yang semuanya berkumpul di kepalan tangan kanannya, dia mau menghantam pecah batok kepala In Bwee.
Maut benar benar mengancam In Bwee dia dalam keadaan kikuk melindungi dadanya agar tak terlihat orang, juga dia baru saja terluka, sekarang dia diserang begitu hebat. maka dia berada pada posisi yang terancam benar buat keselamatan jiwanya.
Biarpun Giok Han sibuk menghadapi pengeroyoknya yang berjumlah sangat banyak namun matanya tak pernah lepas mengawasi In Bwee.
Melihat In Bwee terluka, Giok Kan seperti kalap menerjang tiga orang lawannya yang dirobohkan dengan pukulan-pukulan yang dahsyat, dia ingin segera me-nolongi In Bwee. Tapi, tiga orang lawan iiu rubuh, maju enam orang lawan lainnya, yang tetap melibaikan Giok Han dengan serangan-serangan mematikan, terpaksa Giok Han harus melayani lagi, tak bisa mendekati In Bwee.
Hati Giok Han kuatir bukan main, apa lagi sekarang dilihatnya jiwa In Bwee terancam kematian, Ban It Say tengah meloncat melayang di udara dengan tangan kanan berkesiutan menghantam ke arah batok kepala In Bwee.
In Bwee sendiri mengeluh, tenaganya seperti lenyap, lukanya di dada tak ringan, selain kulit dadanya terkelupas, juga memang dia tergempur oleh tenaga pukulan Ban It Say.
Datangnya tangan mengandung maut hendak memukul kepalanya sulit untuk dihindarkan, untuk mengerahkan tenaga menerima serta menangkis pukulan Jtu, juga sudah tidak mungkin. Maka jalan satu-satunya mengadu jiwa dengan menyambuti pukulan itu sedapatnya dan sekuat sisa tenaganya. Hati In Bwee berdebar, dia menyadari bagitu tangannya bentrok di udara dengan tangan lawannya, maka habislah dia !
Tapi, waktu tangan Ban It Say terpisah tak jauh lagi, cuma setengah meter dari kepala In Bwee, mendadak congkoan Gi-lim-kun itu mengeluh, matanya dirasakan berkunang-kunang, tubuhnya seperti jadi kejang dan kepalanya seperti dihantam oleh palu yang berat dan keras. Tenaganya juga seperti lenyap. Dia tahu-tahu rubuh terjungkel, di tanah.
In Bwee kaget, tapi juga tak mau mensia-siakan kesempatan ini, sebab dia segera meloncat menjauhi Ban It Say, yang waktu itu sudah meloncat berdiri lagi, berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang, dia rupanya sedang berusaha mengendalikan tubuhnya, memulihkan tenaganya.
Mengapa terjadi begitu?
Ternyata dia saat saat In Bwee menghadapi detik-detik menentukan, waktu Ban It Say hampir berhasil mencelakainya justru racun yang tadi dipergunakan In Bwee pada jarumnya yang melukai tangan Ban It Say, sudah bekerja ! Pil obat yang diminum Ban It Say hanya dapat bertahan sebentar saja, racun kemudian bekerja keras, sehingga mata Ban It Say gelap serta badannya jadi mengejang dan dia gagal untuk mencelakai lawannya.
Giok Han tadi mencelos hatinya, karena tahu mencelos hatinya, karena tahu sahabatnya akan celaka ditangan Ban It Say. Tapi dia jadi heran melihat Ban It Say roboh sendirinya sebelum serangannya itu tiba pada sasaran, sedangkan In Bwee sudah meloncat menjauhi diri dari congkoan GLiim-kun itu. Giok Han jadi agak tenang, walaupun dilipua tanda tanya mengapa Ban It Say bisa roboh sebelum serangannya tiba pada sasarannya.
Dia cuma menduga mungkin In Bwee yang sangat cerdik sudah berhasil mempergunakan senjata rahasia beracun.
Semangat Giok Han terbangun, dia memperhebat, pukulan-pukulannya pada pasukan tentara kerajaan, sehingga dua orang seketika terpental dengan dada terpukul rusak, karena tenaga pukulan yang kuat itu membuat tulang dada mereka patah dan jatuh terbanting di tanah berkelojotan dengan lidah terjulur dan mata melotot seperti bijimata mau keluar, kemudian pingsan tak sadarkan diri.
Menyusul Giok Han meloncat menghindarkan tabasan golok seorang lawannya di sebelah kanan, tangannya bekerja lagi. Sekali ini dia bernasil memukul muka tentara yang seorang itu sampai tulang pipinya remuk, waktu terjengkang ke belakang tentara kerajaan itu berkelojotan seperti seekor babi ingin dipotong, sakitnya bukan main, di samping pandangan matanya jadi gelap, dia menjerit jerit kesakitan dengan tubuh tak hentinya berkelojotan.
Tentara kerajaan yang lainnya jadi gentar menyaksikan kawan kawan mereka roboh dengan keadaan yang mengenaskan seperti itu karena hebatnya pukulan Giok Han, mereka jadi ragu-ragu untuk maju terus,bahkan beberapa orang segera meloncat mundur, kuatir jadi sasaran pukulan Giok Han.
Mempergunakan kesempatan tersebut Giok Han menyambar pundak seorang tentara yang ada didekatnya, dia memutar tubuh tentara itu, membuka jalan keluar dari keroyokan lawan-lawannya. tubuhnya kemudian meloncat kedekat In Bwee sambil melemparkan tubuh tentara yang tadi dicengkeram punduknya.
In Bwee menyambar tangan Giok Han. "Mari kita tolongi mereka dulu !"
Giok Han menurut, dia meloncat berdua In Bwee kedekat Cun Siang dan wanita yang jadi tawanan. Di situ berjaga tiga orang tentara kerajaan. Mudah saja Giok Han dan In Bwee merobohkan ketiga orang tentara kerajaan itu. Giok Han sekaligus menghantam dua orang roboh dengan dada rusak karena tulang patah dan pingsan, sedangkan In Bwee membereskan yang seorang, yang dihantam oleh peluru beracunnya, maka tidak sempat menjerit lagi tentara kerajaan yang seorang itu roboh di tanah pingsan tak sadarkan diri.
Giok Han berdua la Bwee bekerja cepat, mereka telah membuka ikatan tali pada pinggang Cun Siang dan wanita itu. ln Bwee menggotong wanita itu, sedangkan Giok Han menggendong Cun Siang, yang belum sempat dibuka ikatan pada tangannya.
Mereka segera menyingkir dari situ, sebelum Ban It Say berhasil menguasai keadaan dirinya. Dalam waktu singkat Giok Han sudah lenyap dari para pengejarnya, yaitu tentara-tentara kerajan yang berusaha mengejar mereka sambil berteriak-teriak: "Tangkap ! Tangkap pemberontak !"
Ban It Say ingih berdiri di tempatnya berusaha menguasai diri karena rasa sakit di kepalanya semakin hebat sehingga dia meringis menahan rasa sakit yang terlalu dahsyat, sampai tangannya yang merogoh saku bajunya gemetar, mengeluarkan botol pil obatnya, menelan lima butir.
Rasa sakit itu berangsur-angsur mulai berkurang, tapi itu memakan waktu cukup lama, mungkin lebih dari sepuluh menit. Butir-butir keringat mengucur deras dari sekujur tubuh Ban It Say, dia cepat cepat menghampiri kudanya meloncat ke punggung binatang tunggangannya tersebut.
"Ayo berangkat! Cepat ! Jangan kejar mereka !" Dia bermaksud akan pulang cepat cepat untuk mempergunakan singkang-nya dan mencari obat yang cocok untuk menawarkan racun yang sudah terlanjur mengendap di dalam badannya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, Ban It Say menyadari tadi dia sudah melakukan kekeliruan. Dia terlalu kalap, sehingga darahnya beredar jauh lebih cepat dari wajarnya, racun ini terbawa arus darah lebih cepat.
Coba kalau dia tidak mengumbar amarahnya, mungkin racun tak bekerja sehebat itu, dua butir pil yang telah ditelannya bisa membendung sedikitnya buat beberapa hari.
Sekarang setelah dia mengalami kejadian yang sangat pahit, di mana kepalanya sakit luar biasa, tangannya lunglai tak bertenaga, barulah dia kaget. Untung dia masih memiliki simpanan pil obat penawar racun, yang segera ditelannya sekaligus lima butir, sehingga sakit di kepalanya berangsur-angsur berkurang dan dia sudah bisa menggerakkan tangan kakinya, tak mengejang lagi tubuhnya, itulah sebabnya dia mau cepat-cepat meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan Giok Han dan In Bwee yang sudah melarikan diri dengan membawa ke dua tawanannya. Yang terpenting, dia ingin oiengooati dulu dirinya ....
Tentara kerajaan yang semula pura-pura mengejar, karena mereka takut pada Ban It Say yang murka jika tawanan itu lolos, padahal hati mereka gentar buat mengejar sungguh-sungguh pada Giok Han dan In Bwee yang sangat lihai dan tangguh itu. Sekarang mendengar perintah Ban It say mereka jadi girang, segera menggotong kawan kawan mereka yang terluka dan berangkat meninggalkan tempat tersebut.
Dalam waktu singkat tempat itu jadi sepi lagi.... seperti tak. pernah terjadi sesuatu di tempat tersebut.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
GIOK HAN berdua In Bwee berlari cepat sekali, tapi tak lama kemudian Giok Han terpaksa memperlambat larinya, karena dilihatnya In Bwee yang menggotong tawanan wanita yang mereka rampas sudah sempoyongan tak bisa berlari cepat.
Luka di dadanya tampaknya tidak ringan, di mana selain kulit dadanya terkelupas, juga ia terluka di dalam dari tenaga pukulan tangan Ban It Say, itulah sebabnya dia tidak bisa lari secepat semula. Semakin lama lukanya jadi semakin berat.
Karena kuatir Ban It Say dan pasukannya melakukan pengejaran terus. In Bwee masih memaksakan diri berlari terus. Tapi akhirnya dia tidak kuat lagi, segera menurunkan tawanan wanita yang digendongnya, dia sendiri roboh menggeletak di tanah.
Giok Han kaget, cepat-cepat menurunkan Cun Siang. Dia memeriksa keadaan ln Bwee. Ternyata keadaan gadis ini menguatirkan sekali, sekujur tubuh dan mukanya bercucuran keringat yang besar-besar seperti kacang hijau. Cepat-cepat Giok Han menotok beberapa jalan darah di tubuh si gadis, agar darah yang keluar terus menerus dari luka di dadanya berhenti.
Ambilkan... ambilkan... kantong obatku... di dalam sakuku..." Suara In Bwee lemah sekali. Dia sudah berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, matanya mulai kabur gelap, apapun tak bisa di lihatnya dengan jelas.
Giok Han sudah mengesampingkan tata krama antara pria dan wanita, segera dirogoh saku baju si gadis mengeluarkan sebuah kantong yang terbuat dari kain warna merah, di. dalam penuh bermacam macam obat yang bermacam warna. Giok Han jadi bingung, obat yang mana harus diberikan kepada In-Bwee.
"Ambilkan tiga butir obat yang berwarna coklat..." suara In Bwee semakin lemah, Kata-kata selanjutnya sudah tak jelas terdengar lagi.
Bersambung ke jilid 23

This entry was posted on Senin, Agustus 02, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar