Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 25  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 25
"Yang paling utama, kita harus berlaku lebih waspada. Biarpun yang akan kukantongi adalah daftar palsu. semuanya harus bersikap seakan-akan mati-matian melindungi benda ini, untuk melenyapkan kecurigaan mereka. Kalau kita terlalu mudah membiarkan mereka merampas daftar palsu, mereka juga akan berbalik pikir dan curiga."
Semua orang membenarkan perkataan Cu - Lie Seng. Waktu itu Tang San Siansu menoleh kepada Ho Beng Su. Katanya: "Ho-kisu, tampaknya mereka dari partaimu..."
Muka Kiu-ci-sin-kai berobah merah.
"Benar, mereka murid-murid kaipang." dia menyahuti. "Tadi juga kulihat beberapa orang hiocu yang telah berkumpul menjadi satu Melihat demikian kukira urusan ini sudah ditangani langsung oleh pangcu kai-pang..."
"Hemmm, jadi maksudmu sekarang ini para pengemis itu bergerak dibawah pimpinan pangcunya?" menegasi Tang San Siansu.

"Jika ada urusan penting, biasanya cuma diselesaikan lewat Tianglo. Tetapi kalau urusan demikian pentingnya, maka semua hiocu dari berbagai daerah dipanggil berkumpul dan yang berhak mengumpulkan hiocu adalah pangcu. Memang menurut perkiraanku sekarang ini yang memimpin mereka adalah pangcu..."
"Kalau begitu kita tunggu saja biar pangcu mereka menunjukkan dirinya sendiri !" kata Tang San Siansu tawar.
Semua orang baru menyadari sekarang mengapa pengemis-pengemis tadi demikian lihai dan gesit, sehingga dapat datang dan pergi begitu cepat. Mereka adalah orang-orang lihai tapi para pengemis itu bisa membuat mereka jadi kelabakan dan tak seorang pengemispun yang dapat mereka tawan.
Tak tahunya para pengemis itu merupakan ketua-ketua daerah cabang kaipang yang semuanya jelas memang memiliki kepandaian tinggi. Lolosnya semua pengemis itupun disebabkan faktor lain yaitu semuanya memakai bahan peledak yang mengeluarkan gumpalan asap menyakiti mata, kalau tidak. biarpun kepandaian pengemis-pengemis itu tinggi, tapi lak mungkin mereka bisa pergi segampang itu.
Cu Lie Seng telah menceritakan rencananya untuk menghadapi para pengemis dan kemungkinan serangan rombongan lain, Tang San Siansu sendiri memberikan petunjuk agar mereka bersikap seakan-akan tak terjadi sesuatu. Dengan sombong Tang San Siansu bilang:
"Jika nanti mereka memperlihatkan diri lagi, kita cuma harus hati-hati pada bahan peledak yang mengeluarkan asap, seterusnya kita harus menangkap satu-dua orang dari mereka. Kalau pangcu mereka sendiri yang memperlihatkan diri, biar aku yang membekuknya."
Merekapun kembali ke tenda masing-masing. tapi sekarang mereka berlaku hati-hati dan waspada, karena mereka kuatir di serang mendadak oleh musuh. Tampaknya bahwa rombongan mereka selama ini dibayangi musuh.
Malam semakin larut ....
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suara burung kulik terdengar terbang di atas udara dengan suara kepak sayapnya yang memecah keheningan malam itu. Di kegelapan malam berkumpul belasan orang. Tempat itu terlindung oleh batu-batu gunung, dan juga sulit sekali dilihat oleh orang yang kebetulan lewat di tempat tersebut, itulah di sebelah barat dari lembah di kaki gunung Cu-san, tapi tempatnya yang melesak berada di balik batu-batu tebing yang tinggi, sehingga siapapun sulit mengetahui bahwa di situ terdapat tempat yang cukup luas.
Rupanya para pengemis yang tadi menyerang rombongan Tang San Siansu telah berkumpul di situ. Di tengah-tengah mereka duduk seorang pengemis tua dengan muka yang guram. Empat orang pengemis terluka akibat penyerangan tersebut inilah yang membuat muka pengemis tua yang jadi pemimpin mereka murung.
"Apakah luka-luka kalian tak membahayakan ?" tanyanya pada keempat orang pengemis yang duduk dengan muka pucat karena luka di dalam tubuh.
"Kami kira masih bisa menyembuhkannya, pangcu," menyahuti salah seorang dari keempat pengemis yang terluka. Sedangkan pengemis-pengemis lainnya cuma berdiam diri memandang dengan kuatir kepada ke empat kawan mereka.
"Yang terpenting usaha kita berhasil. Tadi aku berhasil menerjang Cu Lie Seng dan mencopet daftar nama orang orang kangouw dari sakunya..." Sambil berkata begitu, dia merogo sakunya, mengeluarkan sebuah lipatan kertas, menyerahkan kepada pemimpinnya.
Muka para pengemis yang berkumpul di situ tampak berseri-seri. Memang tujuan mereka adalah merampas daftar nama orang2 kangouw yang diketahui tersimpan di saku Cu Lie Seng, yang akan membawanya kekotaraja.
Mereka sebelumnya memang sudah bertekad hendak mengadu jiwa jika gapal merampas daftar namun orang-orang kangouw dari tangan Cu Lie Seng, sebab mereka mengetahui bahwa rombongan Cu Lie Seng terdiri orang-orang lihai, termasuk Tang San Siansu.
Mereka yakin, jika mereka berterang menghadapi rombongan Cu Lie Seng, kemungkinan gagal akan besar sekali. Karenanya mereka memikirkan cara yang paling baik dan aman, yaitu dengan mempergunakan bahan peledak yang mengeluarkan asap air mata, dan secara nekad akan merampas daftar nama orang-orang kangouw dari tangan Cu Lie Seng.
Dan pengemis yang berhasil mencopet daftar nama orang-orang kangouw dari saku Cu Lie Seng memang berlaku sangat nekad, membiarkan tubuhnya dihantam oleh Cu Lie Seng dengan "Liong-beng-kun" nya, asal dia bisa mencopet daftar nama orang-orang kangouw.
Dia cuma memasang punggungnya terhantam telak oleh tangan Cu-Lie Seng, tangannya bekerja merogoh saku pemuda itu, dan dia untung memilki lwekang yang tinggi sehingga punggungnya dilindungi oleh hawa murninya kalau tidak, kontan di-situ juga si pengemis akan mati.
"Giau-hio-cu, jasamu sangat besar sekali, tanpa perduli keselamatanmu telah berhasil melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya." menghibur pemimpinnya, setelah mendengar cerita Giau-hiocu cara dia bisa mencopet daftar nama orang-orang kangouw tersebut. "Ini memiliki arti yang sebesar-besarnya untuk kepentingan sahabat-sahabat kangouw lainnya, karena dengan daftar ini kita bisa mengetahui siapa-siapa saja yang berkhianat dan bekerja untuk raja lalim itu!"
Semua mata mengawasi pangcu kaipang, waktu pemimpin mereka membuka lipatan kertas yang berisikan nama-nama orang kangouw.
Lama pangcu kaipang itu membacanya mendadak mukanya berobah pucat, dia juga mengeluarkan seruan tertahan. Semua pengemis mengawasi dengan hati tak tenang. Pangcu kaipang itu menghela napas, sikapnya jadi lesu.
"Sia-sia pengorbanan kalian," menggumam pangcu kapang itu pada akhirnya, perlahan suaranya. Dia meremas daftar nama orang-orang kangouw dan katanya:"Inilah daftar nama palsu !"
Semua pengemis berseru tertahan, mereka gusar bukan main telah dipermainkan oleh Cu Lie Seng. Tapi merekapun heran, mengapa pangcu mereka bisa ketahui bahwa daftar nama itu adalah palsu?
Setelah terdiam sejenak dan kemarahannya berkurang, pangcu kaipang itu menyodorkan kertas daftar nama orang-orang kangouw kepada Giau hiocu, katanya: "Bacalah ....."
Giau-hiocu dan pengemis-pengemis lainnya segera melihat isi daftar nama orang-orang kangouw. Tapi mereka tak mengetahui dimana letak kepalsuan daftar itu. Pada barisan pertama terlihat nama Huan su-to-jin dari Kun lun-san, kemudian Cing Siang Hu, diri Ceng-sia pai. Ada ratusan nama orang-orang kangouw yang tercatat disitu.
Giou hiocu tidak membaca terus daftar nama itu. Dia menoleh kepada pangcunya, dengan kecewa dia bertanya. "Benarkah daftar ini daftar palsu pangcu?"
Pangcunya mengangguk.
"Ya, coba kau baca pada baris keenam belas." menyahuti pangcu itu dengan suara tawar.
Gihou-hiou segera membaca baris keenam belas. Dia jadi berseru kaget dan mukanya berobah merah padam, Di situ tertulis nama Toan Yok, dari kaipang.
Toan Yok adalah pangcu Kaipang ! Dan ini mana mungkin bisa terjadi?
Jelaslah kini bahwa daftar yang dipegangnya memang daftar palsu. Tak mungkin nama Toan Yok, tertulis disitu jika daftar iiu daftar nama yang asli. Sedangkan Toan Yok mati-matian berusaha merebut daftar nama-nama orang kangouw, untuk mengetahui siapa-siapa saja yang sudah jadi pengkhianat dan mau bekerja pada Kaisar penjajah.
"Sekarang kau sudah mengerti, bukan?" tanya pangcu kaipang, Toan Yok, dengan muka yang murung. "inilah liciknya pemuda she Cu itu. Dia telah membuat daftar palsu dan membiarkan daftar ini diambil oleh kita untuk mengadu domba satu dengan yang lainnya diantara sesama kita!
Dia rupanya tahu dalam perjalanan pulang ke kotaraja pasti akan mengalami rintangan yang tidak sedikit, maka dipersiapkan daftar palsu ini, Sia-sia penyelidikan yang kita lakukan selama ini. karena biarpun kita berhasil merampas daftar nama orang-orang kangouw, inilah daftar palsu!" Dan Toan Yok menghela napas dalam-dalam kecewa sekali. Tapi mendadak dia menepuk pahanya.
"Dengarlah!" katanya pada pengemis-pengemis lain yang duduk dengan murka, penasaran dan kecewa bercampur aduk menjadi satu. "Ada untungnya kita memperoleh- daftar nama ini! Biarpun Cu Lie Seng sangat licik, tapi dia sudah melakukan suatu kekeliruan ! Nama-nama yang tercatat di sini semuanya pasti bukan orang-orang yang bekerja untuk pihaknya, dia sengaja memfitnah orang kangouw yang tak mau tunduk padanya. Karenanya, sekarang kita sudah memiliki pegangan, bahwa orang-orang yang tertulis namanya di sini adalah sahabat kita dalam menghadapi kerajaan penjahat ! Sebab itu, daftar palsu inipun memiliki kegunaan yang cukup besar buat kita!"
Muka pengemis-pengemis lainnya juga jadi girang, mereka segera bisa tersenyum-senyum lagi. Jadi tidak terlalu sia-sia apa yang telah mereka lakukan belum lama itu dengan penuh kenekadan. sedikitnya mereka bisa memiliki pegangan bahwa orang-orang yang tercatat dalam daftar palsu ini adalah orang-orang yang tak mau bekerja pada pemerintah penjahat itu !
Toan Yok menghela napas.
"Tadi kalian sudah berjuang demikian gagah dan terhormat," kata Toan Yok kemudian. "Ini membuat aku terharu atas kesetiaan kalian. Kalian juga telah melarang aku sementara ini tidak memperlihatkan diri, karena kalian kuatirkan keselamatanku ! Melihat keadaan demikian tampaknya sulit aku berdiam diri saja, bagaimanapun aku harus tampil untuk mengurusnya."
"Tapi pangcu... mereka semuanya merupakan iblis-iblis tangguh, jumlah mereka banyak. Kalau cuma menghadapi Tang San si keparat, tentu kami akan menyetujui pangcu mengurusnya, sekarang keadaannya tidak cocok dan kurang bermanfaat jika pangcu sendiri yang mengurusnya.
Bukan berarti kami mengartikan bahwa kepandaian pangcu belum cukup mengatasi mereka, namun kita harus mempertimbangkan sebaik-baiknya, agar kerugian kita tidak terlalu besar. Kalau pangcu lerluka, tentu kami seperti si buta kehilangan tongkat. Keadaan demikian lebih berat dan berbahaya, sebab kami tak tahu lagi apa yang harus dilakukan tanpa memperoleh petunjuk pangcu," kata Giau-hiocu.
"Sebab itu pangcu, biarlah kami-kami saja dulu yang mengurusnya. Kalau keadaan sudah terlalu parah, barulah pangcu yang tampil."
Toan Yok seorang berilmu tinggi dan berpengalaman. Dia seorang tokoh persilatan ternama, dengan kaipangnya yang disegani semua orang kangouw. Tetapi diapun bisa memaklumi perasaan hiocu-hiocunya ini. lawan berjumlah sangat banyak, terdiri dari tokoh-tokoh hitam rimba persilatan, jika dia sendiri yang menghadapinya, ini sangat berbahaya.
Menghadapi Tang San Siansu seorang saja, belum tentu Toan Yok bisa merobohkan pendeta itu, biarpun Tang San Siansu belum tentu bisa mengalahkannya. Tapi ini merupakan resiko yang sangat besar, dimana dia harus menghadapi Tang San Siansu yang didampingi oleh Ban It Say, Cu Lie Seng, Thio Yu Liang. Bwee-sim-mo-li, Pak-mo, See mo dan yang lain-lainnya....
"Laporan buat pangcu," kata pengemis yang duduk disebelah kanan Toan Yok. "Tadi di antara orang-orangnya si pemuda she Cu ini terdapat Ho Beng Su."
Toan Yok mengangguk dengan muka muram.
"Ya, kitapun harus menangkapnya, untuk dihukum atas pengkhianatan yang dilakukannya," kata ketua Kaipang. "Dia berkhianat meninggalkan pintu perguruan kita serta kini menjadi budak raja lalim itu. Dosanya sangat besar. Walaupun bagaimana dia harus dapat kita tangkap, untuk dibawa pulang ke pusat dan menjatuhkan hukuman sesuai dengan dosanya itu"
"Apakah tak perlu dinasehati satu kali lagi padanya, pangcu?" tanya pengemis itu.
"Ciang-hiocu, sudah terbukti dia berkhianat dan menjadi budak raja lalim itu, melanggar pantangan terbesar dari partai kita. Jika iapun dalam keadaan terdesak nanti dan tak bisa mengadakan perlawanan, jatuh ketangan kita dan tahu akan menerima hukuman berat, kemudian menyatakan ia menyesal atas jalannya yang keliru itu, lalu apa yang hendak dipertimbangkan lagi ? Coba jika kita gagal nanti menangkapnya, jangan berharap dia bisa menyesali kesesatannya itu!"
Ciang hiocu, pengemis yang duduk di sebelan kanan itu mengangguk-angguk, demikian juga pengemis-pengemis yang lainnya.
"Sekarang," kata Toan Yok lebih jauh, "kita harus mengawasi terus rombongan Tang San si pendeta busuk, jika ada kesempatan kita akan turun tangan. Akupun akan perintahkan pada semua Tianglo berkumpul dan nanti membantu kita menghadapi pihak Tang San si pendeta jahat !"
Kemudian Toan Yok memberikan berbagai petunjuk kepada semua pengemis itu, apa yang harus mereka lakukan lebih jauh. Setelah selesai, penemuan tersebut bubar, mereka berpencar, tapi mempunyai tujuan satu, yaitu akan terus mengawasi rombongan Tang San Siansu, mereka tak akan turun tangan sebelum ada kesempatan baik.
Mereka menyadari, betapapun Tang San Siansu dan rombongannya merupakan tokoh lihai rimba persilatan, karenanya mereka tak dapat turun tangan secara ceroboh dan sembarangan. Ini bukan berarti mereka gentar berurusan dengan Tang San Siansu dan rombongannya, tapi mereka hendak mencegah jatuh korban dipihak kaipang, kalau bisa sedikit mungkin dan tujuan mereka tercapai, yaitu merampas daftar nama orang-orang kangouw yang asli.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SINAR matahari pagi mulai menghanga-ti sekitar lembah di kaki gunung Cu-san, burung-burung mulai berkicau. Tang San Siansu dan rombongannya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka selalu berwaspada terhadap kemungkinan adanya serangan mendadak dari pihak lawan. Mereka yakin, di samping pihak kaipang yang hendak mengganggu dan menyerang mereka, pasti banyak orang-orang kangouw berbagai aliran yang tengah mengincar mereka.
Karena itu, walaupun mereka tidak gentar menghadapi pihak mana pun yang hendak merampas daftar, tapi setidak-tidaknya rombongan Tang San Siansu bersikap waspada dan hati-hati. Inilah yang menyebabkan mengapa Tang San Siansu memilih perjalanan mereka dengan berjalan kaki, sebab menurut Tang San Siansu jika mereka mempergunakan kuda, tentu binatang itu bisa panik dan lari sembrawut sulit dikendalikan, yang akhirnya memisahkan mereka satu dengan yang lainnya pada jarak yang cukup jauh, jika di serangan mendadak dari pihak lawan.
Sedangkan melakukan perjalanan dengan jalan kaki menyebabkan mereka selalu bisa tetap bersama jika ada serangan lawan, sehingga kekuatan mereka tidak terpecahkan.
Melakukan perjalanan di lembah pada kaki gunung Cu-san ternyata tidak begitu mudah, karena selain cukup banyak tempat-tempat yang curam dan semak-belukar tumbuh liar sekali. Menjelang tengah hari, mereka berada disebelah lainnya dari lembah itu, tapi belum berhasil keluar dari lembah tersebut. Bwee sim-mo-li tampak jengkel dan sering menggerutu, tapi Tang San Siausu tak mengacuhkan sikap iblis-wanita ini.
"Kita istirahat disini," kata Tang San Siansu dan duduk disebongkah batu gunung, menghapus keringat yang mengucur deras di mukanya.
Yang lainnya segera mencari tempat yang sejuk dan teduh terhindar dari sinar matahari yang memancar begitu terik. Tapi, belum lagi mereka sempat membuka buntalan masing-untuk mengeluarkan bekal makanan, mendadak terdengar suara gemuruh yang deras sekali, berisik disertai jatuhnya batu-batu kerikil. Semua orang menoleh ke atas dan jadi kaget.
Sebungkah batu gunung berukiran besar menggelundung turun ke arah mereka. "Menyingkir!" Teriak Tang San Siansu, dia sendiri sudah melesat ketempat yang sekiranya aman dari sambaran batu yang tengah meluncur turun dengan cepat. Yang lainnya juga cepat cepat menyingkir.
Diiringi suara berisik, batu besar itu ambruk di bawah tebing, menyebabkan debu bertebaran kemana-mana, diiringi juga dengan batu-batu kerikil yang ikut berjatuhan akibat tebing kena benturan bongkahan batu tersebut.
Gusar bukan main Tang San Siansu menoleh ke atas, karena pendeta ini menduga pasti ada seseorang yang sengaja mendorong jatuh batu di atas tebing itu, untuk mencelakai rombongannya. Sedangkan Cu Lie Seng dan yang lainnya juga telah mengawasi ke atas.
Tebing itu cukup tinggi, mungkin hampir seratus tombak, di tepi tebing itu, berdiri sesosok tubuh, bahkan terdengar suara tertawa yang nyaring bergema di sekitar lembah tersebut.
Tidak kepalang marahnya Tang San siansu darahnya meluap. Dia mengibaskan tangannya, tubuhnya meloncat gesit dan ringan sekali, maksudnya hendak mendaki tebing itu buat mengejar orang yang telah menyerang rombongannya dengan bongkahan batu besar itu. Namun, dia membatalkan maksudnya, karena orang di atas tebing itu justru sambil terus tertawa tengah meluncur menuruni tebing !
Yang mengejutkan, orang itu tampaknya tak mengalami kesulitan apa-apa menuruni tebing itu, tubuhnya berlari-lari dengan telapak kaki setiap menginjak tebing seperti melekat sehingga tubuhnya tidak jatuh ke bawah.
Itulah ilmu yang sangat menakjubkan, karena tebing itu sendiri hampir berada dalam posisi tegak menjulang ke atas, walau pun ginkang seseorang sudah mahir, namun berlari-lari menuruni tebing yang posisinya maupun letak kedudukannya tegak ke atas seperti tebing ini, merupakan pekerjaan yang tidak mudah.
Namun kenyataannya orang itu dapat berlari dengan cepat, bahkan dalam waktu singkat telah sampai di bawah tebing di dalam lembah.
Sekarang Tang San Siansu dan yang lainnya baru bisa melihat jelas, dialah seorang nenek-nenek tua yang mungkin usianya sudah mencapai tujuh puluh tahun, karena badannyapun sudah agak membungkuk! Entah siapa nenek tua ini, Tang San Siansu dan yang lainnya jadi benanya-tanya, karena nenek tua ini tampaknya sudah makan nyali macan sehingga berani membentur rombongan pendeta tersebut.
"Kalian kaget, heh ?" tanya si nenek dengan suara nyaring, bergema disekitar lembah itu, sikapnya sinis sekali. "Aku tahu batu itu tak mungkin bisa mencelakai kalian, tapi yang kuinginkan kalian menjadi kaget. Nah, kalian tadi kaget, bukan?" Sambil bertanya begitu- si nenek tua tersebut memperlihatkan sikap serius sekali, matanya terbuka lebar-lebar, kemudian tertawa nyaring lagi, seakan juga apa yang telah dilakukannya menyebabkannya merasa Iucu.
Ban It Say sejak tadi sudah mendongkol apa lagi sekarang melihat kelakuan nenek tua seperti mengejek dan tidak memandang sebelah mata, sudah tak bisa menahan diri. Tahu-tahu dia meloncat ke depan, ke dekat si nenek tua, tangan kanannya menyambar ke pundak nenek tua tersebut, diiringi bentakannya- "Kau rupanya sudah tak sabar ingin pergi ke neraka, siluman tua!"
"Ih,ih,ih, ihi. ihi, jangan galak-galak begitu dong!" menyahuti nenek tua itu, tahu-tahu tubuhnya sudah melejit ke samping dia sudah terhindar dari sambaran tangan Ban-It Say.
Congkoan Gi-lim-kun bukan orang sembarangan, kepandaiannya tinggi, karena itu, dia tambah penasaran karena nenek tua tersebut bisa menghindari tangannya, apa lagi peristiwa ini disaksikan oleh Tang San Siansu dan kawan-kawannya yang lain, jelas ini menyebabkan dia menjadi malu kehilangan muka terang setengah kalap dia lompat lagi ke dekat nenek tua tersebut, sekali ini dia menyerang dahsyat dengan kedua tangannya.
Angin pukulan kedua tangannya menimbulkan suara kesiutan keras sekali. Sekaligus dia menyerang empat bagian mematikan dan berbahaya di tubuh nenek tua itu, dia juga tak tanggung-tanggung mempergunakan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya.
Dalam gusarnya, dia tak peduli bahwa lawannya ini adalah seorang nenek tua yang karena sudah tuanya sampai badannya agak membungkuk. Dia menghendaki kematian si nenek.
Tapi nenek tua itu tetap tenang, bahkan sekali ini dia tak memperlihat usaha untuk menghindar, cuma berdiri di tempatnya dengan bibir tersenyum mengejek, tangan kanannya saja yang terangkat, jari telunjuk dengan ibu jarinya menjentik, meluncur benda putih berkilauan tertimpa matahari.
"Serrrr...!" kuat sekali benda putih kecil itu menyambar ke dada Ban It Say.
Ban It Say kaget sebagai orang berpengalaman dia menyadari benda ini tak boleh diremehkan. Tapi dia tak mau menghentikan sambaran tangan kanannya, yang tetap menyambar ke arah leher si nenek, sedangkan tangan kirinya menyampok benda putih itu.
Benda putih itu kena disampok oleh Ban It Say, tapi tidak terpental, melainkan meledak dan hancur tanpa bekas.
Kaget Ban It Say, dia menyangka bahwa si nenek sudah mempergunakan bahan peledak yang mungkin saja beracun. Tapi yang membuat Ban It Say lebih kaget lagi, tubuhnya menggigil, sampai tangan kanannya yang menyambar ke leher si nenek seperti tergetar keras, memaksa dia menarik pulang tangan kanannya itu membatalkan serangannya.
Cepat-cepat Ban It Say mengempos hawa murni tubuhnya, karena dirasakan pecahan benda putih itu mendatangkan hawa dingin luar biasa pada dirinya, yang membuat dia jadi menggigil. Dengan mengerahkan lwekangnya dia bermaksud mengusir hawa dingin tersebut, tapi gagal. Tubuhnya tetap menggigil, hawa dingin yang berasal dari ledakan benda putih sinenek begitu dingin, seakan menusuk ke tulang-tulang tubuhnya, bahkan kedua kakinya ikut menggigil.
Menyadari bahaya yang mengancam dirinya, Ban It Say tidak buang-buang waktu lagi segera meloncat ke belakang buat menjauhi si nenek. Dengan keadaan seperti itu, waktu tubuhnya menggigil kedinginan, si nenek bisa saja membarengi menyerang dirinya, itulah sebabnya Ban It Say meloncat mundur.
Semua orang yang menyaksikan kejadian ini jadi heran bukan main. Mereka melihat tangan kanan Ban It Say hampir mengenai sasarannya, yaitu leher si nenek, tapi mendadak mereka melihat Ban It Say menarik pulang tangan kanannya, bahkan kemudian berdiri menggigil, dibarengi lagi dengan loncat ke belakang menjauhi si nenek. Entah apa yang terjadi ?
"Siluman tua, kau gunakan ilmu siluman apa, heh?" Teriak Ban It Say bertambah kalap, dia sudah berusaha mengendalikan hawa dingin yang menyerang dirinya, dia berhasil hatinya dirasakan ulu hatinya jadi dingin sekali. "Kau harus membayar semua ini dengan jiwamu!"
Dengan gesit Ban It Say sudah meloncat lagi kepada si nenek bermaksud untuk membinasakan si nenek tua. Sekarang dia sudah bersiap-siap, dengan lwekang yang disalurkan melindungi sekujur tubuhnya, karena kuatir nenek tua itu mempergunakan benda putih yang bisa mendatangkan rasa dingin luar biasa itu.
Sekarang, biarpun si nenek mempergunakan lagi benda putihnya yang sangat dingin itu, jangan harap bisa membuat Ban It Say menggigil seperti tadi. Kalau tadi dia kena dibikin gemetar oleh si-nenek akibat hawa dingin dari benda putih itu, karena sebelumnya Ban It Say memandang rendah si nenek yang sudah tua ini, dia pikir satu atau duakali serangan sudah bisa merobohkan si nenek.
Sekarang Ban It Say tidak berani meremehkan lagi, dia mempergunakan delapan bagian tenaganya untuk menerjang si nenek.
Si nenek tua bungkuk itu tetap tenang, dia sama sekali tak bermaksud untuk menghindar dari terjangan Ban It Say, hanya tangannya menjentik dua kali. Kini dua butir benda putih berkilauan menyambar pada dada dan perut Ban It Say.
Karena tadi sudah mengalami akibat menyampok benda nutih itu tubuhnya jadi menggigil kedinginan, sekarang Ban It Say tidak pedulikan kedua benda putih itu, yang seperti kristal atau kaca bening, dia membiarkan saja benda itu menyambar ke dadanya dan perutnya, sedangkan kedua tangannya telah diulurkan untuk mencengkeram pundak dan dada si nenek tua.
Tubuh Ban It Say sendiri menyambar terapung dari tengah udara, sikapnya seperti seekor elang yang hendak menyambar arak kelinci.
"Tukkk . . . ! Tukkkk . .. . ! Dua benda putih yang dijentik si nenek mengenai dada dan perut Ban It Say. Bukan main akibatnya Ban It Say, congkoan Gi-lim-kun dari kota-raja yang berkepandaian tangguh, ternyata begitu kesambar dua benda kecil berwarna putih dan sebesar biji lengkeng itu, terpental keras sekali terbanting di tanah dengan tubuh menggigil keras.
Karena waktu dia kena disambar kedua benda tersebut, tubuhnya seperti diguyur air yang sangat dingin, dadanya seperti beku dan dinginnya bukan main, membuat tubuhnya menggigil dan tenaganya seperti lenyap.
Jauh lebih dingin dari yang pertama tadi, sehingga tak ampun lagi tubuhnya meluncur terbantihg ditanah! Semua kawan-kawannya jadi kaget, Tang San Siansu sudah meloncat ke depan si nenek untuk mencegah nenek itu mempergunakan kesempatan tersebut menyerang Ban It Say lebih jauh.
Sedangkan Thio Yu Liang berdua Cu Lie Seng loncat ke dekat Ban It Say, untuk memberikan pertolongan.
Muka Ban It Say pucat pias, dia rebah di tanah dengan badan menggigil keras, giginya sampai bercatrukan dan bibirnya gemetar tak bisa bicara !
"Ban-taijin, kenapa kau?" tanya Cu Lie Seng kuatir dan campur heran menyaksikan keadaan Ban It Say seperti itu.
Ban It Say menggigil keras tak sanggup bicara, dia cuma menunjuk kearah si nenek tua yang waktu itu tengah berhadapan dengan Tang San Siansu. Cepat-cepat Thio Yu Liang memeriksa keadaan kawannya, alisnya jadi mengkerut dalam-dalam.
Dia tidak menemukan kelainan pada peredaran darah kawannya ini, tak ada yang tertotok, atau juga tak ada tubuhnya yang terluka. Tapi mengapa Ban It Say menggigil keras seperti ini?
Untuk menolongi kawannya, Thio Yu Liang segera menotok jalan darah Ciu-ma-hiat dan Yui-si-hiat, untuk menenangkan Ban It Say. Tapi siapa sangka, begitu kedua jalan darah ini ditotok oleh Thio Yu Liang seketika Ban It Say menjerit-jerit: "Dingin...! Dingin..!" Tubuhnya menggigil semakin keras. "Aduhh... dingin sekali...!"
Thio Yu Liang terkesiap, mukanya pucat. Apakan dia telah melakukan sesuatu kekeliruan pada totokannya. Tapi setelah memeriksanya, totokannya tepat pada tempatnya. Ini memang untuk pertolongan pertama pada orang yang keseimbangan dirinya tak terkuasai lagi. Tapi mengapa begitu Ban It Say tertotok malah bukannya jadi lebih baik dan lebih tenang, seb-ahtnya jidi menjerit-jerit karena penderitaannya rupanya bertambah besar juga.
"Ban-toako... kenapa kau sebenarnya...?" Tanya Thio Yu Liang sambil menggoncang-goncang badan Ban It Say dengan kedua tangannya. "Bagian manamu yang terserang ?"
"Aduhhh...! Dingin... Dinginnn.... Sangat dinginnnn . . .!" merintih Ban It Say menggigil keras sekali, giginya tetap bercatrukan.
Ban It Say seorang berkepandaian tinggi di kotaraja dia merupakan salah seorang jago istana yang paling diandalkan oleh Kaisar. Tapi sekarang, tanpa melalui pertempuran seru dengan si nenek belum lagi berhasil menyerang nenek bungkuk itu, dia sudah rubuh dan keadaannya jadi seperti ini.
Thio Yu Liang berdua Cu Lie Seng benar-benar heran dan tidak mengerti, mereka sampai saling tatap keheranan, akhirnya Cu Lie Seng berkata sambil mengerutkan alisnya : "Entah ilmu siluman apa yang dipergunakan nenek tua itu ?"
Cepat-cepat Thio Yu Liang menotok beberapa jalan darah yang berhubungan dengan jantung yang bisa mendatangkan hawa hangat pada tubuh jika jalan darah itu ditotok.
Dan begitu Thio Yu Liang menotok kembali Ban It Say kelojotan menggigil keras kedinginan, disertai jeritan-jeritan nyaring. Thio Yu Liang tak peduli, dia menotok Iagi dua jalan darah, tetap saja dia gagal. Setiap kali ditotok bukannya lebih tenang dan lebih baik keadaannya. Ban It Say malah menjerit-jerit seperti babi hendak dipotong, selalu menyebut-nyebut "Dingin .... Aduhhh dingin... dingin sekali .... Aduhhh, dingin.
Thio Yu Liang mengerutkan alisnya. Dia berdiri dengan gusar, Katanya pada Cu Lie Seng. "Cu kongcu, kita harus membekuk siluman tua itu buat memaksanya agar menyembuhkan Ban toako. Entah ilmu siluman apa yang sudah dipergunakannya?!"
Dia segera memutar mbuhnya, tapi dilihatnya Tang San Sian-su tengah berhadapan dengan nenek tua bungkuk itu, sedang bicara. Maka Thio Yu Liang menahan langkah kakinya, dia berdiri diam saja karena Thio Yu Liang tahu kalau dia maju mencampuri urusan ini Tang San Sian su pasti menjadi tak senang dan tersinggung.
Tang San Siansu waktu itu sudah berhadapan dengan nenek bungkuk sedangkan nenek bungkuk iiu sama sekali tidak gentar.
"Siapa kau mengapa mengganggu kami?" tegur si pendeta dengan suara tawar.
Si nenek tertawa nyaring, kemudian mengawasi tajam Tang San Siansu. "Siapa aku? Huh-huh-huh apakah kau tak kenal lagi kepadaku ! Kita pernah ketemu, tak mungkin kau lupa padaku!"
Tang San Siansu mengawasi tajam si nenek tua, mengurutkan alisnya dan berpikir keras untuk mengingat-ingat siapa sebenarnya nenek bungkuk ini. tapi tetap saju gagal untuk mengingatnya.
"Jangan berbelit-belit, perkenalkan siapa dirimu, aku paling tak mau membunuh orang yang tak bernama...!"
"Kalau kau memang tak biasa membunuh orang yang tak mau memberitahukan namanya kepadamu, ya kau menggelinding pergi-saja tak usah berdiri didepanku, karena aku tak mungkin memberitahukan namaku padamu."
Muka Tang San Siansu jadi berobah, matanya bersinar tajam, dia gusar mendengar jawaban si nenek tua yang seakan mengejek dan meremehkannya, si nenek sama sekali tak memperlihatkan perasaan gentar dan malah menantang sekali.
Biasanya, jika seseorang berhadapan dengan Tang San Siansu, tentu akan gentar dan belum apa-apa sudah menjadi gugup. Tapi nenek tua ini bahkan seperti sengaja hendak memancing kemurkaan Tang San Siansu.
"Hemm. kalau kau tak mau memberitahukan namamu secara baik baik, biarlah aku yang akan memaksa engkau memberitahukan namamu !" Sambil berkata begitu Tang San Siansu menyampok dengan tangan kanannya ke dada si nenek tua, maksudnya hendak memaksa nenek tua itu meloncat mundur ke belakang dan nanti dia akan menyusuli dengan pukulan tangan kirinya pada si nenek tua, pukulan yang menutup jalan keluar si nenek dari jaring pengaruh lingkungan pukulannya tersebut. Biasanya, jika Tang San Siansu menyerang seperti itu, sulit buat lawannya menghindarkan.
Tapi nenek tua ini benar-benar berani di samping juga sangat lihai, sebab sama sekali dia tidak gentar menghadapi pukulan-pukulan yang dilakukan Tang San Siansu. Dia menghindarkan cepat sekali tangan kanan si pendeta, waktu tangan kiri Tang San Siansu menyambar menutup jalan keluar baginya, si nenek juga tidak jadi gugup, cuma jari telunjuknya menjentil dua kali.
Segera tampak dua butir benda putih masing masing sebesar biji lengkeng menyambar ke dada Tang San Siansu.
Tang San Siansu kaget, karena dia merasakan hawa dingin menyambar pada dada di jurusan ulu hati. Hawa dingin itu bukan hawa dingin biasa, karena dinginnya luar-biasa. "Ihhh . . . !" Tang San Siansu cepat-cepat meugempos sinkangnya, dia menutup semua jalan darahnya, menahan napasnya juga.
Dia tidak sampai roboh seperti Ban It Say, karena sinkangnya memang lebih tinggi dari Congkoan Gi lim kun itu, dia cuma tergetar duakali, kemudian bisa membendung hawa dingin yang menyerang dirinya. Kedua tangannya sudah menyerang lagi mempergunakan pukulan mematikan yang mengandung tenaga dalam yang dahsyat !
Muka si nenek berobah, rupanya dia kaget melihat ketangguhan Tang San Siansu, yang tidak roboh walaupun dihantam oleh dua butir peluru es yang dingin luar biasa.
Tadi, Ban It Say waktu menyampok hancur peluru esnya, congkoan Gi-lim-kun itu sudah menggigil sekujur badannya, dan waktu dihantam oleh dua butir peluru, dia roboh dengan menderita kedinginan yang dahsyat.
Tapi, Tang San Siansu yang menyambuti dua butir peluru esnya dengan badannya, ternyata tak menderita apa-apa, dia cuma merasa hawa dingin yang menyusup kedalam jantungnya, waktu dia mengempos sinkangnya si pendeta sudah bisa mengendalikan diri menghalau hawa dingin dan justru sekarang menyerang dengan kedua tangannya memakai ilmu pukulan "Liong beng-kun" yang dahsyat luar biasa !
Angin pukulan "Liong beng kun" menyambar ke arah badan si nenek kuat sekali, membuat bajunya berkibar. Tapi nenek ini juga lihai, dia tak percuma sudah dapat merobohkan Ban It Say dengan serangan peluru esnya. sebab tubuhnya juga bisa bergerak sangat gesit, dia tak mau membiarkan badannya dijadikan sasaran kedua tangan si pendeta, badannya seperti bayangan melesat ke samping, tapi kedua tangan Tang San Siansu seperti tumbuh mata yang bisa mengikuti gerak badan si-nenek, diiringi ejekannya: "Mau kemana kau? "
Kaget si nenek, karena pendeta ini benar-benar lihai sekali. Tangannya juga mengandung maut. Si nenek rupanya menyadari kalau dia tak bisa menghindarkan diri dari ke dua tangan si pendeta, dia akan mengalami luka yang tidak ringan, bahkan kemungkinan dia bisa terbinasa di waktu itu juga dengan badan melotot !
Tidak buang waktu lagi tangan si nenek bergerak, jari telunjuknya menjentik, badannya juga bergerak lincah untuk menjauhi lagi.
Tiga peluru esnya meluncur pesat menyambar dada Tang San Siansu.
Tapi tiga butir peluru es itu tak berhasil mencapai dada si pendeta, tenaga pukulan tangan si pendeta membuat peluru es itu seperti terbendung di tengah udara, bahkan meledak. Memancar hawa dingin yang luar biasa, bahkan Tang San Siansu merasakan hawa dingin menyusup kedalam pernapasannya.
Namun dia sudah mengerahkan sinkangnya, dia tidak gentar pada hawa dingin itu, yang tidak membuat dia sampai menggigil, biarpun badannya seperti dibungkus hawa dingin itu. Badannya seperti bayangan sudah melayang pula menyambar pada si nenek, disusul dengan pukulan "Liong-beng-kun" lagi.
Sekali ini si nenek tidak mengelak dari pukulan si pendeta, melainkan menangkis dengan tangan kanannya, maka terdengar suara
""Dessss... Dukkkkk!" Tangannya saling bentur dengan tangan si pendeta, keras dilawan keras, karena tenaga serangan si pendeta ditangkis oleh kekuatan yang tidak kalah kuatnya dari tangan si nenek. Cuma saja yang membuat si nenek harus kagum dan mengakui kelihaian Tang San Siansu. justeru dia merasakan tenaga mendesak dari Tang San Siansu mendadak saja berobah menjadi lunak, dari keras menjadi lembek seakan kekuatan itu lenyap dengan tiba-tiba dan berusaha menyelusup ke dalam badan si nenek dengan hawa sinkang yang mematikan!
Tak ayal lagi sinenek juga menarik tangan kanannya, dia mengibas, untuk menghalau tenaga lunak sinkang lawan, berbareng tangan kirinya melontarkan empat butir peluru esnya. Dia yakin sekuat-kuatnya sinkang Tang SanSiansu, tak mungkin sanggup menyambuti empat butir peiuru esnya sekaligus seperti itu.
Dua butir saja sudah bisa merobohkan Ban It Say, maka empat butir pasti jauh lebih dahsyat dari tadi.
Tang San Siansu benar-benar lihai dan tangguh, biarpun dia merasakan sambaran angin yang sangat dingin, luar biasa, dia tidak gentar pada peluru es lawannya, dia menyampok dengan tangannya dan tubuhnya mengejar lagi ke tempat si nenek.
Keempat butir peluru itu meledak, hawa dingin yang terpancar tersebar di sekitar tempat itu. Sekali ini hawa dingin itu seperti membungkus kepala dan tubuhnya, dinginnya menyusup sampai ketulang sumsum.
Badan Tang San Siansu menggigil kedinginan, sedangkan jago-jago lainnya yang berdiri cukup jauh menggigil juga terkena sambaran hawa dingin tersebut. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya daya perlawanan yang diberikan Tang San Siansu menghadapi hawa dingin yang terpancar dari enpat butir peluru yang meledak itu.
Tan San Siansu sebetulnya tidak memandang sebelah mata pada si nenek, tadi benturan tangannya dengan tangan nenek itu sudah membuat dia bisa menakar kekuatan sinkang si nenek bungkuk yang masih satu tingkat bawah sinkangnya.
Dia ingin cepat cepat membekuk nenek tua tersebut, tapi hawa dingin sekali ini benar-benar mengganggunya. Jika tadi dia menyampok pecah keempat butir peluru es, dikiranya paling tidak dia akan diserang hawa dingin seperti sebelumnya dan dia masih sanggup menghadapi dan membendung hawa dingin itu dengan kekuatan sinkangnya. Siapa tahu hawa dingin tersebut hebat sekali, sampai tubuhnya menggigil juga.
Sebagai orang yang berpengalaman Tang San Siansu tahu jika dia menderita kedinginan yang luar biasa dahsyatnya, setidak tidaknya sinkangnya akan terganggu, dia bisa terluka di dalam. Biarpun sangat penasaran dan mendongkol, tak urung Tang San Siansu membatalkan pukulan berikutnya si nenek, dia telah loncat ke belakang menjauhi diri, dan pada keningnya butir-butir keringat tampak mengucur deras!
Biarpun dia kedinginan, tapi hawa panas dari sinkangnya karena dikerahkan terlalu berlebihan, membuatnya berkeringat seperti itu! Dan inilah yang bisa membuatnya terluka di dalam jika Tang San Siansu masih bersikeras hendak menerobos si nenek dengan pukulannya disertai pengerahan tenaga sinkang berlebihan.
Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini jadi memandang heran dengan hati bertanya-tanya, entah siapa nenek lihai ini?
Tang San Siansu merupakan satu-satunya orang yang paling lihai diantara mereka semua dan sekarang ternyata tidak sanggup untuk membekuk nenek tua itu, benar-benar mereka jadi heran dan kagum pada si nenek yang pasti memiliki kepandaian luar biasa.
Ban It Say sendiri yang berkepandaian tinggi paling tidak cuma setingkat dibawali Tang San Siansu, dapat dirobohkan mudah seperti itu oleh si nenek.
Semua orang yang berkumpul disitu adalah jago-jago kelas satu dan juga datuk-datuk iblis yang kejam dan ganas, karena itu, mereka jadi berpikir siapa nenek bungkuk ini, mengapa kepandaiannya begitu tinggi, sedangkan sebelumnya mereka belum pernah mendengar tentang nenek tua ini.
Tang San Siansu berdiri, dengan mata terbuka lebar-lebar karena gusar campur penasaran, dia sudah dapat menghalau hawa dingin yang tadi mempengaruhi dirinya, karena sekarang si pendeta terpisah cukup jauh. Dengan suara bengis dia menegur: "Bukankah kau Toat-beng-sin-ciang Khu Cian?"
Si nenek bungkuk tertawa dingin.
"Tadinya kukira otakmu sudah kering dan jadi pendeta tolol, karena tak kenal lagi padaku. Tak tahunya kau masih bisa mengenali siapa diriku ! Benar ! Aku Khu Cian. aku hendak memberitahukan kepadamu, kalau tak menyerahkan daftar nama orang orang kangouw kepadaku, jangan harap kau dan yang lainnya bisa meninggalkan tempat ini!"
Tang San bisa menduga nenek tua itu Toat beng-sin-ciang karena tadi waktu sinenek menghindar dari pukulannya dan jurus yang dipakai menangkis pukulannya. Dulu, diapun pernah menerima tangkisan seperti itu, waktu Liong-beng-kunnya belum mahir seperti sekarang, dan orang itu tak lain Toat-beng-sm-ciang Khu Cian yang pernah membantui keluarga Cang.
Dan akhirnya Toat-ben-sin-kiang Khu Cian menghilang dengan membawa lari puteri keluarga Cang. Dan ingatan ini membuat Tang San Siansu jadi heran campur kaget, sebab dia tidak menyangka si nenek tua bungkuk ini dalam sekian tahun saja sudah mendapat kemajuan yang sangat luar biasa pada kungfunya dibandingkan dulu waktu dia membantui keluarga Cang.
Yang tidak dimengerti Tang San Siansu, entah dari mana diperolehnya peluru-peluru es yang luar biasa itu, sehingga merupakan senjata rahasia yang ampuh.
Tang San Siansu tertawa dingin. "Jadi kau mengharapkan daftar nama orang-orang kangouw ? Kukira kau bermimpi, Toat-beng-sin-ciang ! Kau jangan harap bisa memperoleh apa yang kau inginkan !" Dan penasaran sekali pendeta tangguh ini sudah loncat menerjang pada nenek bungkuk itu lagi.
Si nenek sendiri tahu bahwa si pendeta sangat tangguh, kepandaiannya juga berada di atasnya, kalau memang mereka bertempur secara biasa, lama kelamaan si nenek pasti jatuh di bawah angin.
Hal inilah yang tidak diinginkan olehnya. Melihat si pendeta sudah menerjang padanya, dia menjentikkan jari telunjuknya, beruntun enam butir peluru es-nya menyambar Tang San Siansu.
Sekarang pendeta ini pintar, dia tidak mau menangkis atau menyampok peluru-peluru es itu, juga tak mau membiarkan peluru-peluru es itu mengenai tubuhnya, dia cuma berkelit mengelakkan sambaran dari enam butir peluru es itu, sehingga keenam peluru itu melesat terus lewat di sisi tubuhnya, masih menyebabkan Tang San Siansu merasakan napasnya dingin sekali, namun dia bisa loncat maju terus kepada si nenek, untuk didesak oleh pukulan-pukulan Liong-beng- kun, sekarang malah dia menyerang dengan jurus-jurus yang paling ampuh, membuat si nenek terdesak juga.
Berkali-kali nenek bungkuk itu mempergunakan berbagai kesempatan untuk menjentik peluru-peluru esnya, sehingga biarpun ia mulai terdesak oleh si pendeta, Tang San Siansu tak bisa terlalu menerjang dekat padanya. Semakin lama membuat si pendeta semakin penasaran.
Jika dia tengah merangsek, maka peluru es si nenek menyambar padanya, dan dia harus menghindarkannya, ini membuat dia terpaksa menunda desakannya dan dimanfaatkan si nenek untuk memperbaiki posisi dirinya.
Pertempuran itu berlangsung terus, sampai akhirnya Tang San Siansu karena murka tanpa bisa melampiaskannya, telah berjingkrak- jingkrak marah, pukulan-pukulan Liong-beng kunnya semakin dahsyat saja, dia telah mengempos sinkangnya. Angin pukulannya membuat daun-daun dari pohon jadi rontok dan batu-batu kerikil kecil beterbangan di sekitar pertempuran itu !
Diam-diam si nenek berpikir: "Si keledai gundul keparat ini ternyata sudah memperoleh kemajuan yang pesat dibandingkan dengan dulu ketika dia merusak keluarga Cang, kalau keadaan ini berlangsung terus tentu tak membawa keuntungan buat diriku!" Dan berpikir begitu, si nenek berulangkali menjentik lebih sering dengan peluru esnya, yang menyambar berbagai tubuh si pendeta.
Mendadak saja Tang San Siansu meraung dahsyat, mukanya merah hitam, dia rupanya sudah mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu jurus "Liang-beng kun" yang paling dahsyat, yang tak akan dipergunakan jika menghadapi lawan yang kepandaiannya tak begitu tinggi.
Liong beng-kun terdiri 8 jurus, dan jurus ke delapan inilah yang paling dahsyat dan sekarang dipergunakan oleh Tang San Siansu untuk merobohkan si nenek.
Si nenek terkejut, peluru esnya sudak tak dipeduiikan Tang San Siansu, menyambar pada tubuhnya dan empat butir mengenai badannya tanpa si pendeta menggigil. Sepasang tangannya menyambar-nyambar gencar sekali diiringi kekuatan yang mematikan!
Nenek bungkuk itu jadi sibuk sekali mengelakkan diri dari kedua tangan Tang San Siansu. dia berusaha menjauhi diri tapi Tang San Siangsu sudah mendesaknya dengan perkelahian dari jarak dekat, dia tidak memberikan kesempatan kepada si nenek mempergunakan peluru esnya.
Jika tokh ada peluru es si nenek yang mengenai badan si pendeta, itupun tak membuat si pendeta menggigil, karena dia telah mengempos lwekang yang tertinggi, yang membuat tubuhnya seperti kebal terhadap serangan hawa dingin tersebut.
Itulah waktu yang sangat menentukan, sebab Tan San Siansu sudah memakai jurus pukulan yang paling dahsyat dan dia tidak mau membiarkan si nenek selalu main kucing-kucingan dengannya, sedangkan si nenek juga sudah memusatkan seluruh kekuatan sinkangnya pada kedua tangannya mengadakan perlawanan, dengan bergerak cepat berkelebat ke sana ke mari.
Tubuh kedua orang yang tengah bertempur itu berkelebat-kelebat seperti bayangan, sulit diikuti oleh pandangan mata biasa. Cu Lie Seng mengerutkan alisnya, dia menoleh kepada Pak-mo, bisiknya:
"Kita harus membekuk nenek bungkuk itu... siluman tua itu harus dapat ditangkap hidup-hidup. Kalian pergi berempat dengan See-mo, Lammo dan Tong-mo membantui guruku."
Pak-mo bimbang, dia bilang: "bagaimana kalau nanti Tang San Siansu tersinggung."
"Aku yang bertanggung jawab!" menyahuti Cu Lie Seng,"
"Yang terpenting siluman tua itu harus dibekuk."
Pak-mo mengangguk. Segera dia memberitahukan ketiga datuk iblis lainnya, Lammo, See-mo dan Tong-mo, kemudian berempat mereka tahu-tahu sudah meloncat ke tengah gelanggang. Mereka juga berseru: "Tang San Taisu, maafkan kami diperintahkan Cu-kongcu untuk membantumu membekuk siluman tua ini, agar dia tidak bisa melarikan diri!"
Sebetulnya sebagai jago nomor satu Tang San Siansu paling pantang menerima bantuan dari siapapun dalam setiap pertempuran, karena dia bisa tersinggung jika ada orang yang mau ikut campur dalam pertempurannya.
Tetapi sekarang biarpun dia telah mengempos sinkangnya dan juga mempergunakan jurus pukulan yang paling tangguh tapi belum bisa merobohkan nenek tua itu, maka diapun diam-diam girang menerima bantuan Tong-mo berempat, tapi untuk harga dirinya dia pura-pura tak mendengar dan membiarkan Tong mo berempat membantunya.
Si nenek mengeluh, karena menghadapi Tang San Siansu saja sudah payah dan kewalahan, apa lagi sekarang di tambah keem-pat datuk iblis tersebut, yang biarpun kepandaiannya tidak sehebat Tang San Siansu, tapi mereka merupakan datuk-datuk iblis yang tangguh dan kepandaiannya tidak bolen dipandang remeb.
Tapi, si nenek tidak memperlihatkan perasaan kagetnya, dia malah mengejek. "Bagus! Memang ada baiknya kalian maju semua ! Mengapa cuma berempat saja untuk menotongi si pendeta yang sudah mau mampus ini? Mengapa tidak semua saja turun tangan, agar si pendeta ini bisa diselamatkan".
"Jangan rewel !" Bentak Pak-mo. tangannya sudah menyerang ke pinggang si nenek, demikian juga Tong-mo, See-mo dan Lam-mo sudah ikut menyerang juga. Sekarang si nenek dikepung olen lima oiang lawan yang semua nya berkepandaian sangat tinggi, tapi dia sudah tak bisa mundur lagi, dia harus menghadapinya.
Mati-matian dia berusaha mempergunakan peluru-peluru esnya, tapi usahanya tetap gagal, setiapkali ia menjentik dengan jari telunjuknya, selalu lawannya yang disambar peluru esnya akan mengelak tanpa menyampok dan tak mau menyambuti sambaran peluru es itu, dengan demikian lawan-lawannya tak perlu menderita kedinginan seperti yang diharapkan.
Satu kali, si nenek berseru keras karena pundaknya kena diserempet oleh tangan kiri Tang San Siansu. Biarpun cuma keserempet saja, tapi akibatnya sudah cukup membuat si nenek bungkuk terhuyung dengan muka berobah pucat, karena dia sudah menderita lula tak ringan, luka akibat pukulan Liong beng-kun! "
Kesempatan itu dipergunakan oleh Pak-mo dan See mo buat menghamam si nenek bungkuk. Tapi Toat-beng-sin ciang masih sempat mengelakan pukulan tersebut, biarpun kakinya terserimpet dan hampir saja dia roboh terguling.
Tang San Siansu tak mau membuang kesempatan yang ada, dia tertawa dingin, badannya menerjang sambil melakukan serangan kedua tangannya berkesiutan dahsyat, angin pukulannya mengandung maut.
Si nenek bungkuk mengeluh, sekali ini, jiwanya benar-benar terancam bahaya maut, jika sampai terserang oleh Tang San-Siansu. Tadi saja cuma kena terserempet dia sudah terluka di dalam, apalagi kalau terpukul telak. Tapi sebagai orang yang berkepandaian tinggi, tentu saja Toat-beng sin-ciang tidak mau manda begitu saja, mati-matian dia masih mengelakkan dengan meloncat ke belakang.
Dia memang berhasil menjauhi Tang San Siansu, tapi punggungnya disambut oleh telapak tangan Lam-mo yang telak sekali menghantam pundaknya, sehingga mengeluarkan suara nyaring. Badan si nenek bungkuk bergoyang goyang seperti mau rubuh, dia memuntahkan darah segar, mukanya pucat.
"Sekali ini jangan harap kau lolos dari kematian, siluman tua!" Tang San Siansu mengejek sambil loncat menyerang lagi.
"Menyerahlah siluman tua !" mengejek Tong-mo ikut menyerang.
Mata si nenek berkunang-kunang, dia gusar dan penasaran. Mati matian dia mengempos seluruh sisa tenaganya, dia berusaha menangkis serangan Tang San Siansu dan Tong-mo. Waktu itu See-mo. Lam-mo dan Pak-mo juga tengah loncat menyerang kepadanya, ke-berbagai bagian di tubuhnya yang bisa mematikan.
Si nenek bungkuk benar benar kejepit, sulit buat dia menghindar. Dan benturan tangannya dengan tangan Tang San Siansu membuat badannya seperti diterjang angin topan sampai terbang sejauh dua tombak lebih. Belum lagi badannya turun ke tanah, Lam mo menyambuti tubuh si nenek bungkuk deman telapak tanyannya menghantam iganya, nyaring pukulan itu, dan tubuh si nenek bungkuk benar-benar rubuh terguling di tanah!
Tang San Sainsu tidak puas, dia loncat hendak menghantam lagi, tiba tiba terdengar orang mengejek dengan suara gusar: "Sungguh manusia-manusia tidak tahu malu dan hanya pandai main keroyok saja!"
Disusul berkelebat sesosok bayangan dan sambaran tongkat yang berkelebar ke sana kemari, diiringi kekuatan sinkang yang tangguh sekali, sehingga ujung tongkat itu mengandung tenaga yang bisa menghancurkan batu gunung, apa lagi kalau mengenai badan manusia tentu bisa mematikan!
Pak mo. See-mo. Lam-mo, Tong-mo maupun Tang San Siansu lompat mundur, untuk melihat orang yang baru muncul itu. Segera mereka mengenali, orang yang muncul dengan pakaian penuh tambalan tidak lain dari Toan Yok, pangcu Kaipang !
"Kiranya kau, anjing kudisan ?" Teriak Tang San Siansu gusar, karena dia anggap munculnya Toan Yok merupakan rintangan yang menjemukan dan menjengkelkan, tadi dia bersama Lam-mo berempat hampir berhasil untuk menjatuhkan pukulan yang sangat menentukan pada Toat beng-sin ciang siapa tahu muncul pemimpin pengemis ini, sehingga Toat-beng-sin-ciang waktu itu sudah dapat berdiri lagi biarpun dengan muka pucat, tapi dia sudah bisa menguasai posisi kuda2 kakinya.
Cuma saja, dia dalam keadaan terluka di dalam yang tidak ringan ini membuatnya biarpun dapat berdiri kembali mengatur posisi dirinya, tetap saja sulit buat dia melakukan pertempuran yang menentukan, dia sementara ini tak dapat mengerahkan terlalu besar kekuatan sinkangnya, karena bisa membahayakan kesalamatan dirinya.
Toan Yok tertawa mengejek, sikapnya menghina : "Tidak tahunya Tang San si pendeta gundul cuma pandai main keroyok ! Cissssss, aku tak pernah menyangka sebelumnya, sahabat-sahabat kangouw jika mengetahui hal ini pasti akan tertawa terbahak-bahak sampai mati!"
Muka Tang San Siansu merah padam karena gusar, tubuhnya melesat disusul tangannya menyambar hebat sekali pada Toan Yok karena dia mempergunakan "Liong beng-kun", ancamnya:
"Kau harus mampus, jembel busuk ! Jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan bernapas."
Memang Tang San Siansu bermaksud membunuh pengemis ini, yang sempat menyaksikan dia bersama Lam-mo berempat mengeroyok Toat beng sin ciang. Apa yang dikatakan Toan Yok bahwa sahabat-sahabat kangouw akan tertawa dan mengejek Tang-San, hal ini tidak keliru, berarti Tang-San Siansu akan kehilangan muka terangnya.
Karena itu dia bertekad walaupun bagaimana Toan Yok harus dibinasakan, juga Toat-beng sin ciang, dia menyerang tak tanggung-tanggung.
Toan Yok tidak gentar, dia menghadapi serangan Tang San Siansu dengan tongkatnya, yang menyambar-nyambar cepat dan mengandung tenaga sinkang yang dahsyat dia bertempur melayani si pendeta dengan jarak terpisah cukup jauh.
Tentu saja hal ini membuat Tang San Siansu tambah murka ?sebab "Liong beng kun" ampuh kalau dipergunakan berkelahi jarak dekat, dan hilang sebagian keampuhannya jika bertempur jarak jauh. Beberapa kali dia berusaha merampas tongkat sipengemis, sebab tanpa tongkatnya Toan-Yok akan terpaksa melayani setiap pukulan si pendeta deigan kedua tangannya.
Lam-mo berempat dengan Pak mo, See-mo dsn-Toiig mo saling pandang, akhirnya mereka saling mengangguk dan kemudian menerjang maju untuk mengeroyok Toan-Yok.
Karena menginginkan kematian pengemis ini, maka sekali inipun Tang San Siansu sudah tak menghiraukan lagi tata krama pertempuran, sudah tak memperdulikan harga diri lagi, dia tak mencegah keempat orang kawannya ikut maju untuk mengepung Toan-Yok.
Toan Yok tertawa tergelak-gelak dikepung kelima orang lawannya yang semuanya tangguh dan tangannya mengandung maut. Sedikitpun dia tidak jeri, biarpun Toat-beng-sin-cisng sementara itu tengah duduk bersila mengatur pernapasannya dan tak bisa membantunya.
Sambil memutar tongkatnya, dia bersiul nyaring, terdengar suara teriakan ramai, dari beberapa penjuru tampak bermunculan puluhan orang pengemis, yang semuanya memakai baju dan celana penuh tambalan.
Puluhan orang pengemis itu menyerbu buat menyerang Tang San Siansu dan yang lainnya. Cu Lie Seng dan Bwee-sim-mo-li maupun Ho Beng Su harus turun tangan juga melayani pengemis-pengemis itu, sebab mereka diserang oleh enam orang pengemis.
Bahkan yang melayani Ho Beng Su adalah Giau-hiocu dan seorang kawannya, bengis Giau-biocu membentak: "Pengkhianat, apakah kau tidak mau menyerahkan diri secara baik-baik ?"
Ho Beng Su tertawa dingin. "Aku bukan murid Kaipang lagi, mengapa aku harus tunduk pada kalian ? Majulah, marilah kita buktikan siapa sebenarnya yang memiliki kepandaian!"
Dan dia menyerang bertubi-tubi dengan kedua tangannya. Giau hiocu tambah gusar, bersama temannya gencar sekali menyerang Ho Beng Su.
Cu Lie Seng menghadapi lima orang pengemis, dia tertawa dingin dan berulangkali tangannya menghantam mempergunakan "Liong-beng- kun". Biarpun tenaga dalam Cu Lie Seng belum setinggi Tang San Siansu, tapi jurus pukulan yang dilakukannya dahsyat sekali, juga memang pengemis-pengemis itu tak selihai Toan Yok, karenanya mereka selama itu tak bisa merangsek Cu Lie Seng.
Bwee-sim mo li terkikik genit, dia menjentikkan jari telunjuknya menyerang dengan jarum-jarum beracun, namun para pengemis itu rupanya mengetahui berbahayanya jarum beracun si iblis wanita ini, mereka selalu menghindarkannya.
Thio Yu Liang yang waktu itu sedang coba menolong Ban It Say, jadi agak panik juga. Dia tahu jumlah pengemis cukup banyak juga mereka adalah hiocu hiocu dari Kaipang yang kepandaiannya juga tidak rendah, karenanya mereka merupakan lawan yang tidak ringan.
Thio Yu Liang tidak jeri, dia telah menghunus pedangnya, kalau ada pengemis yang menyerangnya, dia akan menghadapi dengan pedangnya. Sedangkan Ban It Say sekarang sudah tidak menggigil keras seperti tadi, biarpun seluruh hawa dingin yang menguasai dirinya belum lenyap, dan juga tubuhnya menjadi lemas akibat menggigil kedinginan terus menerus. Napasnya masih lemah dengan demikian dia belum bisa untuk ikut bertempur.
Tidak kepalang besarnya penasaran Tang San Siansu, dia berulangkali berjingkrak murka sambil menyerang, tapi Toan Yok benar-benar lihai, dia bisa menghadapinya dengan sama baiknya, tanpa gentar sedikitpun juga.
Lam-mo berempat telah menghadapi belasan orang pengemis yang mengepung mereka. Benar kepandaian keempat datuk iblis ini sangat tangguh tapi penyerang mereka berjumlah banyak, biarpun para pengemis itu tak bisa merobohkan mereka, namun mereka pun sulit untuk merobohkan pengemis-pengemis itu.
Suara pertempuran jadi ramai sekali di-lembah tersebut, suaranya menggema. Juga ada satu dua orang pengemis yang terdesak oleh Bwee-sim-moli atau lawan lainnya, mempergunakan peluru asapnya yang meledak nyaring dan menebarkan asap yang tebal sekali.
Dengan cara demikian pengemis-pengemis itu selalu dapat meloloskan diri dari tekanan dan ancaman tangan maut lawannya.
Toan Yok berulangkali menghalau pukulan-pukulan tangan Tang San Siansu, sampai akhirnya dia juga balas menyerang dengan jurus jurus Kouw-kouw pang hoat" (ilmu tongkat penggebuk anjing) yang merupakan ilmu andalan Kaipang. Tongkat bambu hijau seperti juga menjema jadi seekor naga perkasa yang meliuk-liuk menyambar-nyambar bagian mematikan di tubuh lawan.
Hal ini membuat Tang San Siansu buat sementara waktu tak bisa mendesak Toan Yok. biarpun dia selalu coba menerjang dengan "Liong-beng-kun" nya.
Toat-beng-sin-ciang rupanya berhasil menguasai luka di dalam tubuhnya, tenaganya pulih sebagian. Dia tiba-tiba menjentikan jari telunjuknya, menyerang Cu Lie Seng dengan burir-butir puluru esnya.
Cu Lie Seng terkesiap, hawa dingin luar biasa menyambar ke tengkuk dan pinggangnya. Dia tahu lihainya butir-butir peluru es Toat beng-sin ciang, karena itu tak mau dia menyan.poknya, dia cuma berkelit.
Berulang-kali dia harus menghindar dari peluru es itu, sebab Toa-beng sin-ciang selalu menyerangnya dengan peluru es itu. ini sangat mengganggu perhatian Cu Lie Seng menghadapi pengemis-pengemis yang jadi lawannya.
Toan Yok rupanya mengetahui bahwa Toat beng-sinciang dalam keadaan terluka di dalam, dia kuatirkan kalau orang ini memakai tenaga dalam berlebihan sehingga si nenek bungkuk bisa terluka di dalam yang lebih parah, maka dia berteriak:
"Khu bungkuk, mengapa kau tak pergi angkat kaki ? Kami akan melindungimu, pergilah !"
Toat-beng-sin ciang tidak gusar biarpun dipanggil dengan sebutan Khu bungkuk, dia malah tertawa.
"Apakah aku manusia yang benar-benar tidak kenal budi, sehingga di saat orang Iain mati matian ingin menolongi diriku dan aku sendiri melarikan diri ?"
Bersambung ke jilid 26

This entry was posted on Senin, Agustus 02, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar