Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 26
Jangan bicara lagi soal budi-kebaikan, cepat angkat kaki, kami bisa mengurus diri kami sendiri. Kau sudah terpukul jurus "Liong-bengkun" pendeta busuk ini, jika tidak cepat-cerat diobati, tentu kau menghadapi saat-saat sulit di waktu mendatang . . . sedikitnya kau akan cacad jika terlambat mengobati luka itu !"
Sebetulnya Toat-beng-sin-ciang sudah bertekad hendak mengadu jiwa, tapi mendengar kemungkinan dia bercacad kalau terlambat mengobati lukanya, di mana dia telah terpukul "Liong-bengkun"- nya Tang San Siansu, alisnya jadi mengkerut. Dia mendengar juga bahwa pengemis-pengemis ini mempunyai jalan sendiri untuk meninggalkan musuh dari tempat itu, maka dia jadi ragu-ragu.
Betapapun besar keinginannya untuk ambil bagian dalam pertempuran tersebut, namun dengan luka yang dideritanya cukup parah seperti itu, apa yang bisa dilakukannya.
"Ayo cepat .... jika terlambat, kukira biarpun datang obat dewa tak mungkin lukamu itu bisa disembuhkan !" Berseru Toan Yok, kuatir sekali, sebab dia melihat Toat-beng-sin ciang bimbang dan kalau membandel tak mau angkat kaki, mereka akan mengalami kesulitan lebih lama.
Benar mereka selama ini bisa menghadapi Tang San Siansu dan orang-orangnya, tapi lewat satu dua jam lagi pasti akan terdesak dan sulit buat rombongan pengemis ini merebut kemenangan, itulah sebabnya Toan Yok mendesak agar Toat-beng sin-ciang mau cepat cepat meninggalkan tempat itu lebih dulu.
Toat-beng sin-ciang akhirnya menyadari maksud baik para penolongnya ini, dia juga tahu jika dia cepat-cepat angkat kaki hanya akan menambahkan kesulitan para pengemis itu, maka keputusannya jadi bulat tanpa bilang apa-apadia memutar tubuhnya dan berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu.
Tang San Siansu gusar bukan main, dia menjerit sambil menghantam Toan Yok. Bagaimanapun ia tak mau Toat-bengsin-ciang lolos dari tangannya. Tapi justeru dia dihalangi Toan Yok, yang selalu dapat memunahkan setiap pukulannya.
Serangannya sekali inipun dapat dipunahkan oleh pengemis tersebut, yang menghindar ke samping. Kesempatan ini dipergunakan Tang San Siansu buat meninggalkan Toan Yok untuk mengejar Toat-beng-sin-ci-ang,akan tetapi Toan Yok sudah melesat menghadang di depan sambil mengayun tongkatnya.
Bertambah penasaran saja Tang San Siansu, kalau dia tak pedulikan serangan tongkat si pengemis, niscaya akan membuat dia terluka, karena pukulan tongkat Toan Yok disertai tenaga sinkang yang dahsyat, berkesiutan nyaring memecah udara.
Terpaksa Tang San Siansu harus menghadapi tongkat si pengemis, karena itu Toat-beng-sin-ciang dilihatnya telah sempat berlari cukup jauh.
Bwee sim mo li, Cu Lie Seng maupun yang lainnya terkejut melihat Toat-beng-sin-ciang hendak meninggalkan lembah itu, tapi merekapun tak berdaya untuk mengejar, karena waktu itu justeru mereka telah dikepung oleh pengemis-pengemis yang jumlahnya sangat banyak dan kepandaiannyapun tidak lemah.
Toan Yok tertawa bergelak-gelak. "Pendeta busuk, hari ini kau ketemu batu sebetulnya hari ini adalah hari kematianmu, tapi tuan pengemismu ingin mengampuni dulu jiwa anjingmu pada badanmu ! Nah jika ada kesempatan tentu aku akan menagih jiwamu lagi!" Sambil berkata begitu Toan Yok memutar tongkatnya gencar sekali menyerang bertubi-tubi Tang San Siansu, sehingga si pendeta biarpun tengah kalap dan penasaran campur murka, tak urung harus melompat duakali menjauhi diri dari sambaran tongkat si pengemis.
Waktu itu Toan Yok mengayunkan tangan kirinya, menimpuk dengan beberapa peluru yang meledak di kaki Tang San Siansu dan mengeluarkan gumpalan asap yang sangat tebal. Menyusuli dengan itu, ketika Tang San Siansu mencak-mencak kalap Toan Yok sudah menimpukkan tiga butir peluru asapnya yang meledak menggelegar dan gumpalan asap ditempat itu semakin tebal saja.
Pengemis-pengemis lainnya juga sudah mengikuti perbuatan pemimpin mereka, masing-masing melemparkan peluru asap kepada lawan-Iawan mereka, seketika terdengar suara le dakan di sana-sini nyaring sekali, gumpalan asap tebal juga memenuhi lembah tersebut.
Tang San Siansu serabutan menyerang ditengah-tengah gumpalan asap dengan kedua tangannya, seperti kalap, dia benar-benar merasa hari ini pamornya runtuh bisa dipermainkan rombongan pengemis tersebut.
Tapi para pengemis itu sudah nyingkir dari lembah, karena tak lama kemudian setelah gumpalan asap itu menipis, di lempat itu sudah tak terlihat seorang pengemispun juga. Sedangkan Cu Lie Sang dan yang lainnya berdiri dengan muka merah padam karena gusar dan mata merah berair, akibat asap yang membuat mata mereka pedih dan keluarkan air mata !
"Terkutuk !" Teriak Tang San Siansu, "Pengemis busuk itu harus kucari dan ku-mampusi !"
Cu Lie Seng sambil menghapus air matanya, karena masih terasa matanya sangat pedih, menghampiri gurunya.
"Sudahlah suhu, bukankah mereka tak berhasil mendapatkan apapun dari kita ? Nantipun mereka akan memperlihatkan diri lagi untuk coba-coba mendapatkan daftar nama orang kangouw ini !" sambil bilang begitu Cu Lie Seng menepuk-nepuk sakunya.
Tang San Siansu tersadar, kemarahannya reda sebagian, tapi dia masih memaki bengis: "Kalau lain kesempatan bisa kutemukan pengemis busuk itu, akan kuhancurkan tubuhnya jadi ratusan potong ! Tak akan kubiarkan dia mati dengan enak !"
Tang San Siansu dengan rombongannya akhirnya meninggalkan lembah tersebut buat melanjutkan perjalanan mereka. Sikap mereka sekarang semakin hati-hati dan waspada.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DUA orang Persia tampak mengiringi seorang gadis tengah mendaki di sebuah bukit yang ada di sebelah pintu kota, daerah itu cukup lebat oleh pohon-pohon yang tumbuh tinggi, juga tidak begitu ramai, karena jarang orang mengambil jalan melewati bukit tersebut, yang disebut oleh para pedagang keliling sebagai bukit-iblis (Mo Gai) dan angker sekali.
Gadis itu berusia masih muda tapi sangat lincan, daoat mendaki bukit itu dengan mudah. Sedangkan kedua orang Persia itu bertubuh tinggi besar dan mukanya bengis. Tapi dari sikap mereka tampak jelas mereka menghormati gadis ini, mata mereka tidak menatap kedepan saja, sebab selalu memandang liar sekeliling, penuh waspada, kalau-kaiau ditempat itu ada bahaya yang bisa mengancam gadis yang tengah mereka kawal.
Sedangkan gadis didepan kedua laki laki Persia itu sama sekali tak kuatirkan sesuatu, dia seenaknya saja berlari-lari mendaki bukit riang sikap dan wajahnya, bahkan sebentar-sebentar dia meloncat cukup tinggi memetik bunga yang tumbuh di pohon liar yang dilewatinya.
Melihat cara berlari ketiga orang itu, jelas mereka memiliki ginkang dan ilmu silat yang cukup tinggi, biarpun kedua tubuh orang Persia itu besar kekar, namun mereka bisa berlari ringan sekali seperti juga kedua kaki mereka masing-masing tak menginjak tanah.
Siapakah gadis itu dan kedua orang Persia tersebut? Benar mereka tak lain dari Cu Siauw Hoa dan kedua orang pengawal pribadinya. la tengah melakukan perjalanan buat menyusul kakaknya, Cu Lie Seng, yang sudah melakukan perjalanan lebih dulu pulang ke-kotaraja.
Biarpun mendongkol ditinggal oleh kakaknya, tapi Cu Siauw Hoa seorang gadis periang, karena itu dalam setengah hari saja, kemendongkolannya hatinya sudah lenyap, dia bisa melakukan perjalanan dengan riang. Sebetulnya dia bersama kedua pengawalnya tadi mempergunakan kuda dalam perjalanan tersebut, ketika lewat dikaki bukit Mo-gai ini, dan turun dari kudanya mendaki bukit itu.
Tentu saja kedua pengawalnya terpaksa harus mengikuti nona majikan mereka kuatir kalau-kalau diatas bukit ada ancaman bahaya. Kuda mereka ditinggal di kaki bukit.
Siauw Hoa senang sekali melihat pohon-pohon yang tumbuh lebat, burung-burung yang terbang karena kaget atas kehadiran ketiga orang manusia ini. Siauw Hoa juga terkadang mengejar kupu-kupu, yang ditangkap dan kemudian dilepaskannya lagi. Tertawanya yang renyai seringkali bergema di bukit tersebut.
Mendadak, Siauw Hoa berhenti berlari. Tangan kirinya diangkat, mengisyaratkan agar kedua orang Persia itu juga berhenti dan jangan bersuara.
Apa yang dilihat Siauw Hoa. Terpisah kurang lebih duapuluh tombak lebih, di bawah sebatang pohon, dekat susunan bongkahan batu gunung, tampak duduk dua sosok tubuh. Siauw Hoa malah bisa mengenalinya dengan segera, yang seorang adalah pemuda yang pernah ditraktir makan olehnya, yaitu Giok Han !
Dan yang membuat darah Siauw Hoa mendidih marah, dia melihat Giok Han duduk berendeng mesra dengan seorang gadis cantik jelita !
Benar Siauw Hoa selalu bersikap yang kekanak-kanakan manja dan jail, tapi sejak pertemuan dengan Giok Han timbul perasaan aneh, ia menyukai pemuda itu, sampai pemuda tersebut akhirnya meninggalkan dia karena ingin menyusul "sahabat"-nya. yaitu si pengemis kotor mesum.
Sejak saat itu Siauw Hoa tergoda terus menerus perasaannya, sering kali dia teringat pada Giok Kan yang gagah dan tampan. Tapi dia tak tahu kemana harus mencari pemuda itu.
Sekarang dia kebetulan sekali bisa bertemu dengan pemuda itu, yang sebetulnya merupakan pertemuan yang menggembirakan tapi kenyataannya malah kebalikannya, pertemuan ini membuat Siauw Hoa menjadi marah campur duka !
Pemuda yang selama ini dikenang dan dipikiri siang dan malam, tak tahunya sedang asyik duduk berdua-duaan dengan seorang gadis cantik di tempat demikian sunyi sepi pada bukit Mo-gai !
Lama Siauw Hoa berdiri dengan muka merah padam, dan dia jadi tambah mendongkol mendengar si gadis cantik di sebelah Giok Han tengah bicara manja: "Giok Han Koko... sebetulnya aku sudah tahu, sejak pertemuan kita yang pertama, bahwa kau seorang yang baik !"
"Akupun begitu, karena aku segera merasakan bahwa kau adalah sahabatku yang terdekat, biarpun sebelumnya kita belum berkenalan !" menyahuti Giok Han.
"Sahabat ? Sampai sekarang kau masih menganggap aku sebagai sahabatmu?" tanya gadis itu, yang tidak lain Cang In Bwee.
Giok Han menggeleng.
"Tentu saja tidak. Aku sudah mengetahui isi hatimu. Akupun harus mengakuinya bahwa perasaanku sama dengan perasaanmu. Sebelumnya aku kuatir kau akan mentertawakan aku. karenanya aku maun membatasi diri dan tak pernah berani bersikap lebih manis padamu, nanti kau bilang aku ceriwis Bweemoay "
"Ihhh, siapa bilang kau pemuda alim ? Memang kau ceriwis! Sejak pertemuan kita yang pertama kali saja kau sudah tak mau berpisah denganku, Bukankah benar begitu ?"
Giok Han tertawa.
"Ya.. sampai sekarang akupun tak pernah mau berpisah dengan kau, Bwee-moay! Kalau kau meninggalkan aku pasti dunia ini lenyap keindahannya.."
"Ihhhhh. merayu nih ?" tertawa In Bwee, tapi dia menyenderkan kepala di dada Giok Han, pemuda itupun merangkulnya lembut.
Selanjutnya cuma terdengar suara bisik-bisik mereka saja, Siauw Hoa tidak bisa mendengar jelas lagi.
Semakin lama darah Siauw Hoa semakin mendidih, hatinya hancur berkeping-keping, Dia sudah terlanjur menyukai Giok Han, siapa tahu sekarang harus menyaksikan pemuda yang disenanginya itu tengah bermesra-mesraan dengan seorang gadis lain. Penasaran, sakit hati, cemburu dan marah bercampur jadi satu.
Karena dalam keadaan sedih dan marah, Siauw Hoa lupa bahwa dia sedang diam-diam mengintai Giok Han dan In Bwee, dia berdiri tanpa mempergunakan ginkangnya, sehingga sebuah ranting terinjak patah dan mengeluarkan suara nyaring.
Suara patahnya ranting ini membuat Giok Han dan Cang In Bwee yang sedang asyik masyuk pacaran, jadi kaget bukan main, mereka sampai meloncat berdiri dengan muka berobah merah, karena menyangka ada orang yang menyaksikan mereka tengah berkasih-kasihan.
Tetapi Giok Han tambah kaget campur heran, ketika mengenali orang yang berdiri terpisah tak terlalu jauh dannya tidak lain dari Cu Siauw Hoa, gadis yang pernah mentraktir makan padanya belum lama yang lalu In Bwee juga mengenali Siauw Hoa, gadis yang dulu pernah menbuatnya cemburu karena mentraktir Giok Han, yang membuat dia cari gara-gara pada kedua orang Persia yang menjadi pengawal itu, yang dianggap sebagai saingannya.
Siauw Hoa sebetulnya hendak memutar tubuhnya, untuk berlari sejauh mungkin, karena matanya sudah merah dan hampir saja air matanya menitik turun. Penasaran, sakit hati, cemburu dan marah campur aduk jadi satu, tapi Giok Han dan In Bwee berdua keburu melihatnya, maka dia cuma berdiri dengan muka yang cemberut masam dan mulut dimonyongkan. Justeru dengan keadaannya seperti itu wajah gadis ini tambah cantik saja.
"Nona Cu, kau di sini?" menyapa Giok Han yang kemudian jadi girang bertemu dengan orang yang pernah mentraktirnya, sedangkan In Bwee sebaliknya mengawasi Cu Siauw Hoa dengan mata mendelik dan muka yang cemberut memperlihatkan perasaan tak senang atas kehadiran gadis ini, yang pernah dianggap sebagai saingannya.
"Mari kuperkenalkan kau dengan .... dengan nona Cang !"
Tetapi Siauw Hoa mengawasi dengan sorot mata dingin, kemudian ketus dia bilang: "Aku tak perlu kenal dengan nona Cang-mu itu! Silahkan kalian meneruskan acara kalian, aku mau pergi...!" Dia memutar tubuhnya mau mengajak kedua pengawalnya untuk berlalu meninggalkan tempat itu.
Giok Han tertegun mendengar kata-kata Cu Siauw Hoa begitu ketus. Dulu, Siauw Hoa gadis yang manis dan ramah, yang sikapnya sangat menyenangkan sekali. Tapi mengapa sekarang jadi ketus demikian ?
Cang In Bwee lain lagi, jika tadi dia berdiam diri saja, sekarang ssulah mendengar perkataan Siauw Hoa, jadi meluap kemarahannya, dia bilang tanpa mengawasi Siauw Hoa, seakan-akan sedang mengawasi langit: "Hu! Hu ! Aku tak sangka di dunia ada gadis yang tak tahu malu yang kerjanya tukang ngintip."
Siauw Hoa tahu kata kata sendirian itu ditujukan kepadanya. kemarahan campur cemburu telah meledak membuat dia batal pergi, dengan galak dau mata melotot dia membentak: "Apa kau bilang?"
In Bwee tertawa tawar mengejek, dia tak menyahuti. Siauw Hoa tambah penasaran dia melangkah empat langkah menghampiri, bentaknya lagi galak, karena hatinya tengah sakit dan mendongkol betapa pria yang disukainya ternyata tengah berkasih-kasihan mesra dengan wanita lain, dan sekarang gadis saingannya itu ikut mengejeknya. "Coba kau ulangi lagi kata-katamu tadi !"
In Bwee tertawa tawar, sedikitpun tidak takut pada sikap Siauw Hoa yang galak. Memang, seorang wanita yang sedang jatuh cinta tentu tak akan takut mati biarpun menghadapi bahaya yang bagaimana besarpun juga, jika pria yang dicintainya itu diincar oleh wanita lain.
"Tadi kubilang benar-benar mengherankan di dunia ada gadis yang; tak tahu malu yang kerjanya tukang ngintip . . . ! Mengapa aku tak berani mengucapkannya ? Ada urusan apa dengan kau ?"
Muka Siauw Hoa merah padam dibakar marah, tahu-tahu tangan kanannya yang sejak tadi telah dialiri oleh tenaga dalamnya, terayun hendak memukul kepala In Bwee. Maksudnya sekali pukul hendak merubuhkan gadis yang dibencinya setengah mati ini, yang jadi saingannya.
Kalau bisa dia ingin membunuh In Bwee, sebab gadis inilah yang telah bermesraan deagan Giok Han, jika tidak ada gadis ini tentu Giok Han akan memperhatikannya dan membalas pancaran kasihnya.
In Bwee juga bukan gadis sembarangan, dia memiliki kepandaian tinggi, merupakan wanita gemblengan, melihat datangnya pukulan Siauw Hoa, sama sekali ia tidak berusaha menghindar, cuma mengawasi dengan sorot mata berkeredep tajam sekali, waktu pukulan Siauw Hoa hampir sampai dia baru menangkis dengan mempergunakan jari telunjuk dan jari tengah yang dijadikan satu untuk menyampok pergelangan tangan Siauw Hoa, sedangkan tangan kirinya sudah nyelonong masuk hendak menghantam dada Siauw Hoa. Angin pukulan itu bercuitan nyaring, menunjukkan tenaga pukulan In Bwee hebat sekali.
Siauw Hoa segera mengetahui gadis ini mempunyai kepandaian cukup berarti, pergelangan tangannya yang kena disampok oleh kedua jari tangan In Bwee terpental ke samping, karena sampokan kedua jari tangan In Bwee bukan sampokan biasa saja, walaupun cuma dua jari tangan namun mengandung tenaga Lwekang yang kuat. Dan sekarang malah tangan kiri In Bwee mengancam dadanya.
Siauw Hoa tentu saja tak mau tinggal diam menerima pukulan itu, sambit berseru nyaring tubuhnya tahu-tahu berputar ke samping, dibarengi oleh kedua tangannya yang menyambar berulangkali, selain memunahkan pukulan tangan kiri In Bwee, juga disusuli oleh serangan balasan yang dahsyat mematikan !
Turun tangannya sekali ini bukan cuma sekedar untuk suatu pertandingan saja bagi Siauw Hoa. dia tengah dibakar cemburu dan marah, maka dia bermaksud untuk membunuh saingannya ini. Setiap pukulan yang dilakukannya semuanya berbahaya, karena selain kuat juga mengandung tenaga sinkang yang dahsyat.
In Bwee diam-diam juga kaget, dia tidak menyangka gadis yang demikian cantik, yang pernah dilihatnya waktu Siau Hoa mentraktir Giok Han makan dan pernah membuat dia cemburu setengah mati, ternyata memiliki kepandaian yang tangguh. Maka selanjutnya In-Bwee semakin berhati-hati penuh kewaspadaan.
Dia menghadapi setiap pukulan-pukulan Siauw Hoa dengan tangkisan yang sama dahsyatnya, selalu disusul dengan balas menyerang pada tempat-tempat mematikan dianggota tubuh Siauw Hoa. Kedua gadis ini mati-matian mengerahkan seluruh kepandaian dan sinkang mereka untuk saling merobohkan, biarpun mereka baru bertempur, tapi sudah mempergunakan kepandaian masing-masing yang terhebat, jika sekali terpukul bisa membuat lawan mati atau sedikitnya terluka berat !
Yang jadi sibuk justeru Giok Han melihat kedua gadis yang dikenalnya dan juga In-Bwee yang dikasihinya, bertempur dengan pukulan-pukulan mematikan itu. Berulangkali dia tak kalah hebatnya menyerang dahsyat mendesak Siauw Hoa, keduanya seperti nekad dan kalap, bertempur tanpa memperdulikan keselamatan dirinya, mati matian berusaha untuk merobohkan lawannya, sehingga jalannya pertempuran itu seperti juga kedua gadis ini sedang mengadu jiwa!
Perkelahian yang membuat Giok Han semakin bingung, sampai dia maju ke-arah perkelahian, untuk memisahkan, sebab setelah berteriak-teriak puluhan kali meminta agar kedua gadis itu berhenti berkelahi tetap tak diladeni oleh kedua gadis itu.
"Berhenti... ayo berhenti!" Teriak Giok-Han sambil berusaha menyelip di tengah-tengah kedua gadis yang sedang bertempur. "Marilah kita bicara baik-baik..."
Tapi belum lagi selesai perkataannya, kepalan tangan Siauw Hoa telah singgah di dadanya, sakitnya bukan main, sebab pukulan itu bukan pukulan main-main, justru disertai oleh tenaga dalam yang kuat sekali, sampai tubuh Giok Han terhuyung mundur. Dia tidak menyangka akan terpukul seperti itu, di mana Siauw Hoa tak menahan kepalan tangannya ketika dia menyelinap di tengah-tengah kedua gadis itu.
Belum lagi lenyap rasa kaget dan kesakitan yang diderita Giok Han, perutnya jaga tertendang kuat sekali oleh kaki In Bwee, yang sebetulnya hendak menendang pinggang Siauw Hoa. Sebetulnya Giok Han bisa saja berkelit, kalau memang dalam keadaan biasa. Justeru disebabkan bingung kedua orang gadis yang sama menarik hatinya berkelahi nekad seperti itu, dia sama sekali tak terpikir bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan dirinya terserang.
Itulah sebabnya duakali beruntun dia telah terpukul dan tertendang oleh Siauw Hoa maupun In Bwee, bahkan tendangan dan pukulan itu dilakukan kedua gadis tersebut dengan tenaga yang hebat, tak mengherankan menyebabkan rasa sakit yang bukan main.
Karena dia terhuyung mundur beberapa langkah, Giok Han sudah berada di luar gelanggang karena perkelahian mereka tanpa memperdulikan Giok Han yang berdiri dengan muka meringis. Kedua orang gadis itu semakin kalap dan berkelahi dengan semakin dahsyat, pukulan-pukulan mereka semakin kuat dan tangguh, sehingga menimbulkan kesiuran angin yang bercuitan keras, tubuh mereka juga seperti menjadi rapat satu dengan yang lain, tidak peduli apakah mereka sekali-sekali terserang oleh pihak lawan.
Rambut Siauw Hoa sudah tidak rapi seperti tadi, karena duakali terkena pukulan tangan In Bwee.
In Bwe juga tidak luput dari pukulan tangan Siauw Hoa, yang tigakali telah menghantam pundak, leher dan dadanya, ketiga pukulan itu sebetulnya kuat dan berbahaya, tapi dalam keadaan nekad In Bwee seperti tidak merasa sakit oleh pukulan Siauw Hoa dan selalu membalas menyerang dengan sama hebatnya, justeru terpukul oleh lawannya membuat In Bwee semakin kalap, pakaiannya sudah tidak rapi lagi, tapi tak dipedulikan.
Kedua orang Persia yang jadi pengawal Siauw Hoa berdiri di pinggir dengan sikap bersiap-siap, jika majikan mereka terdesak atau terancam, mereka akan menyerbu untuk membantui majikan mereka. Kedua orang Persia itu mengawasi tajam sekali.
Giok Han benar-benar bingung, dia selalu bersera nyaring: "Berhentilah ! Dengar
dulu kata kaiaku ! Oooo. kalian apa untungnya berkelahi seperti itu . . . ayo berhenti ! Aku mohon, berhentilah . . . !"
Tapi usaha Giok Han untuk menghentikan perkelahian di antara kedua gadis itu tetap saja gagal. Kedua gadis itu tidak mengacuhkannya, mereka tetap berkelahi dengan seru.
Suatu kali dengan menjerit gusar Siauw Hoa menghantam sekaligus mempergunakan kedua tangannya ke dada In Bwee. sedangkan In Bwee tak berusaha menangkis, malah balas membarengi dengan pukulan kedua tangannya pada leher dan pinggang Siauw Hoa tangan kanannya dengan sikap membacok memakai tepian telapak tangan memukul leher Siauw Hoa, sedangkan tangan kirinya telah menghantam pinggang Siauw Hoa.
"Dukkkk . . . ! Bukkkk . . . !
Siauw Hoa meloncat mundur, In Bwee juga terhuyung mundur. Mereka berdua sama-sama terserang oleh pukulan lawan, In Bwee terpukul dadanya, sedangkan Siauw Hoa terpukul leher dan pinggangnya, sehingga mereka terhuyung mundur akibat kuatnya pukulan tersebut.
Namun kedua gadis ini sama-sama wanita gemblengan sehingga mereka tidak roboh, cuma muka mereka berobah agak pucat dan merah bergantian karena marah dan sakit
Tidak membuang waktu lagi Giok Han mempergunakan kesempatan tersebut melompat menyelak ditengah-tengah kedua wanita tersebut sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Berhenti . . . dengarkanlah dulu kata-kataku !"
Siauw Hoa mengawasi mendelik, pada pemuda yang pernah menarik hatinya, pemuda yang tampan dan sempat mencuri hatinya, yang selalu dipikirkannya, tapi sekarang entah mengapa dia melihat Giok Han dengan perasaan benci dan marah.
Dia tidak meladeni Giok Han, cuma mendengus dan meloncat mundur ke dekat kedua orang pengawalnya. "Tangkap kedua pemberontak itu !" perintahnya kepada kedua orang Persia itu sambil menunjuk Giok Han dan In Bwee.
Kedua orang Persia itu memiliki tubuh tinggi besar, mereka membentak bengis sambil meloncat kedepan Giok Han dan In Bwee tangan mereka juga bekerja, menghantam kepada In Bwee dan Giok Han. Masing-masing melakukan penyerangan yang bisa mematikan.
Giok Han mengerutkan alisnya, mendongkol melihat kedua orang Persia menyerangnya dan In Bwee dengan pukulan ganas dan mematikan. Dia berseru nyaring, tubuhnya tahu-tahu berkelebat ke samping kiri, dia sudah berada di belakang orang Persia yang ada di sebelah kiri, berbareng telapak tangannya menghantam pundak orang Persia itu.
Tapi, orang Persia ini tidak percuma jadi pengawal Siauw Hoa, karena kepandaiannya bukan sembarangan, dia mengetahui ancaman bahaya dari arah belakangnya, tangannya yang gagal menyerang Giok Han tidak ditarik pulang, melainkan disapukan ke belakang sambil berteriak, karena dia memakai tenaga yang jauh lebih besar dikerahkan kepada tangannya.
Hebat bukan main, angin pukulannya itu bercuitan nyaring, sehingga orang segera bisa mengetahui jika pukulan ini mengenai sasaran, niscaya akan menyebabkan Giok Han sedikitnya terluka parah !
Tapi Giok Han tidak membatalkan pukulannya biarpun melihat lawannya balas menyerang begini dahsyat padanya. Tangannya rurua terus dengan tenaga kuat dan beradu dengan tangan orang Persia tersebut. Terjadi benturan dahsyat, Giok Han terkejut juga, karena dirasakan pergelangan tangannya tergetar, rupanya tenaga pukulan orang Persia itu benar-benar kuat.
Sedangkan orang Persia itu tidah kurang kagetnya, tangannya jadi lumpuh tak bisa digerakkan sesaat lamanya, saking kagetnya dia sampai menjerit dan mukanya berobah memperlihatkan dia terheran-heran.
Orang Persia yang seorangnya lagi sudah meloncat kedekat In Bwee dan menyerang bertubi-iubi. Keduanya jadi bertempur sengit sekali, sebab In Bwee telah melayaninya dengan mempergunakan ginkangnya, sebentar-sebentar gadis ini meloncat ke sana-sini lincah bukan main, seperti mempermainkan orang Persia itu.
Tubuh orang Persia yang jadi lawannya tinggi besar, memiliki tenaga sangat kuat, karena itu In Bwee tidak mau melayaninya dengan kekerasan, dia bertempur dengan mengandalkan kelincahannya. Beberapakali hampir saja pukulan orang Persia itu mengenai dirinya, tapi dia bisa menyelamatkan dirinya.
Sebetulnya In Bwee hendak mempergunakan peluru asapnya, tapi akhirnya dia membatalkan keinginannya tersebut, sebab dia tahu jika mempergunakan peluru asapnya, biarpun dia berhasil merubuhkan lawannya, tentu Siauw Hoa akan mengejeknya.
Karena itu, dia ingin memperlihatkan kepandaiannya bahwa dia bisa merobohkan pengawal Siauw Hoa ini dengan mempergunakan ilmu silatnya, tanpa bantuan peluru asapnya. Beberapa kali setiap ada kesempatan dia balas menyerang, dengan pukulan-pukulan yang dahsyat.
Cuma saja, karena kuatnya tubuh lawan tersebut, sehingga biarpun beberapakali dadanya terkena pukulan tangan In Bwee yang terisi tenaga dalam yang kuat tetap saja dia tidak roboh
Orang Persia itu sendiri semakin lama semakin penasaran karena beberapa pukulannya selalu mengenai tempat kosong, dielakkan oleh In Bwee.
Dia yakin, kalau gadis itu coba menangkis pukulannya, tentu dia bisa merobohkan gadis ini. Tapi justeru In Bwee seperti main kucing-kucmgan, sehingga dia selama itu tidak bisa mendesak terlalu hebat kepada lawannya yang selalu melejit ke kiri maupun ke kanan.
Saking penasarannya, beberapakali orang Persia tersebut meloncat berjingkrak dan meraung sambil mendesak semakin hebat.
Untuk merobohkan orang Persia itu bukan kesulitan yang berarti buat Giok Han. Tapi dia sudah mengetahui kedua orang Persia ini adalah pengawal Siauw Hoa, karenanya dia sungkan turunkan tangan keras pada lawannya.
Tapi, setelah orang Persia itu mendesak semakin kalap, di samping itu Giok Han melihat In Bwee juga didesak oleh rangsekan hebat orang Persia yang satunya, maka akhirnya Giok Han memutuskan untuk merobohkan dulu kedua orang Persia itu.
"Sahabat, jika kau tak mau berhenti menyerang untuk membiarkan majikanmu mendengarkan keteranganku, akan merugikan dirimu sendiri!" bilang Giok Han dengan suara yang nyaring.
Orang Persia itu tidak peduli dengan ancaman Giok Han, karena badannya sudah meloncat ke depan lebih dekat pada Giok Han, dibarengi teriakannya yang bengis kedua tangannya diulurkan hendak mencekik lerer Giok Han.
Habislah kesabaran Giok Han. Dia tidak bergerak lebih jauh untuk mengelakkan kedua tangan lawannya, dia menunggu sampai kedua tangan lawannya sudah dekat, barulah dia membentak diiringi kedua tangannya menyelusup naik ke atas di antara sela-sela kedua tangan orang Persia itu, kemudian Giok Han membentangkan kedua tangannya, sehingga kedua tangan orang Persia itu tertolak ke kiri-kanan, dadanya jadi lowong terbuka tanpa penjagaan.
Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Giok Han, tahu tahu tangannya sudah menjadi satu, menghantam kedepan, ke ulu hati orang Persia itu "Dukkkkkk .... !"
"tangan Giok Han telah menghantam ulu hati orang Persia itu, badan yang tinggi besar itu terhuyung ke belakang dengan diiringi teriakan kesakitan, mukanya juga pucat.
Giok Han bertindak cepat, dia meloncat ke dekat In Bwee, tangannya juga bekerja mencengkeram baju dipundak orang Persia yang jadi lawan si gadis. Berbareng dengan itu ia memusatkan tenaga dalamnya, membentak nyaring, melontarkan tubuh yang tinggi besar itu.
Orang Persia yang satu tersebut, yang sedang mendesak In Bwee, kaget ketika baju dipunggungnya dicengkeram Giok Han, bahkan tahu-tahu tubuhnya sudah terbang di tengah udara, mati-matian dia berusaha untuk mengendalikan tubuhnya supaya tidak terbanting ditanah, dia berusaha mengimbangi badannya. Tapi usahanya itu gagal, sebab badannya terbanting jatuh di tanah, kepalanya pusing bukan main.
Tidak kepalang marah dan mendongkol Siauw Hoa menyaksikan peristiwa ini, karena dua orarg pengawalnya dirobohkan oleh Giok Han. Dia menjerit nyaring, tubuhnya meloncat kedepan sambil tangannya merabah pinggangnya.
"Sreengggg...!" tahu-tahu berkelebat sinar yang berkilauan putih gemerlapan, ditangan Siauw Hoa sudah tercekal sebatang pedang, yang menikam lurus ke leher Giok-Han!
Giok Han menghindari tikaman itu, dia-heran mengapa Siauw Hoa yang sebelumnya begitu ramah dan baik hati, sekarang tampak jadi demikian telengas, pedangnya meluncur dengan tikaman-tikaman yang mematikan tanpa memberikan kesempatan kepada Giok Han untuk balas menyerang.
In Bwee mendongkol melihat Siauw Hoa menyerang Giok Han dengan gencar dia ce-pat-cepat berseru. "Perempuan tidak tahu malu, akulah lawanmu ! Mari kita bertanding 10 jurus lagi!"
Memang Siauw Hoa membenci In Bwee setengah mati, karena menganggap In Bwee sebagai saingannya. Sekarang mendengar tantangan In Bwee tidak perlu sampai dua kali, pedangnya tahu-tahu berobah arah, sasarannya jadi diganti, bukan Giok Han lagi, melainkan In Bwee.
Pedang menyambar-nyambar dengan ujungnya yang bergetar, sehingga tampaknya pedang itu bisa berobah menjadi belasan mata pedang yang memusingkan kepala.
In Bwee juga tidak tinggal diam, cepat luar biasa tangannya menghunus senjata, sebatang pedang pendek, dia menghadapi serangan Siauw Hoa dengan tak hentinya mengejek.
"Perempuan tidak tahu malu mengapa engkau seperti perempuan sinting yang tidak hujan tidak angin menyerang kami? Hmmm, apa kekuasaanmu sehingga menyebut kami berdua sebagai pemberontak?"
Siauw Hoa mendengus, dia tidak melayani ejekan In Bwee melainkan pedangnya seperti hujan telah menikam dan menabas In-Bwee, sedetik juga dia tidak memberikan kesempatan pada ln Bwee untuk balas menyerang padanya. Yang luar biasa justeru cara menyerangnya itu selalu datang beruntun seperti sambung menyambung tidak berkeputusan.
Benar Cang ln Bwee memiliki kepandaian tinggi merupakan wanita gemblengan namun menghadapi serangan pedang yang datangnya seperti kalap dan nekad, membuat dia harus main mundur dan selalu berusaha mengelakkan dulu tanpa memperoleh kesempatan untuk balas menikam pada lawannya.
Pedang pendeknya berkelebat-kelebat dan terkadang diputar unluk menutupi dirinya dengan sinar pedangnya tersebut, sehingga semua serangan Siauw Hoa dapat dibendung-nya dengan baik.
Waktu itu Giok Han tambah bingung. Jika sebelumnya Siauw Hoa dan In Bwee bertempur dengan tangan kosong, tapi sekarang memakai pedang. Perkelahian dengan senjata tajam sangat berbahaya, sedikit saja lengah tentu salah seorang, diantara mereka akan terluka atau terbinasa.
Karena itu berulangkali Giok Han berseru agar kedua gadis itu berhenti bertanding. Sampai akhirnya setelah berseru-seru terus tanpa diladeni oleh kedua gadis tersebut, Giok Han tidak sabar lagi, apa lagi melihat serangan-serangan kedua gadis itu dalam perkelahian dengan pedang berlangsung semakin cepat dan mematikan.
Dengan cepat Giok Han meloncat ke tengah gelanggang. Sekarang dia bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Tubuhnya menyelinap diantara kedua pedang yang sedang rnenyambar-nyambar itu, kedua tangannya bergerak dan dengan gerakan sangat manis dia berhasil menjepit pedang Siauw Hoa maupun pedang pendek In Bwee.
Kedua pedang itu terjepit kuat sekali, sehingga tak bisa bergerak lebih jiuh. Sungguh kepandaian yang sangat mengagumkan, karena sekaligus Giok Han bisa menjepit kedua pedang itu, apa yang dilakukannya sebenarnya sangat berbahaya karena jika dia melakukan suatu kekeliruan, bagaimana kecilnya sekalipun, niscaya jari tangannya buntung terbabat oleh pedang. Begitu juga kalau sinkangnya kurang kuat, niscaya berbahaya sekali melakukan tindakan seperti itu.
In Bwee dan Siauw Hoa terkejut karena tahu-tahu pedang mereka terjepit di kedua tangan Giok Han dan tidak bisa digerakkan lebih jauh. Kalau In Bwee berdiam diri dan tidak berusaha menarik pedangnya dari jepitan Giok Han, lain dengan Siauw Hoa yang mati-matian mengerahkan tenaga dalamnya buat menarik terlepas pedangnya dari jepitan tangan Giok Han. Namun usahanya itu tidak berhasil, jepitan Giok Han kuat sekali.
"Nona, sabar, tenanglah, dengarkan dulu keteranganku...!" Giok Han coba membujuk.
Muka Siauw Hoa merah padam, dia marah dan penasaran bukan main. "Laki-laki mata keranjang, genit dan tidak tahu malu!" Teriak Siauw Hoa sambil menarik sekuat tenaga pedangnya agar terlepas dari jepitan tangan Giok Han. Dimaki seperti itu tentu saja Giok Han jadi bengong.
Dia mata keranjang ? Genit ? Tidak tahu malu ? Kenapa ? Benar-benar membuat Giok Han tidak mengerti.
Waktu dia bengong seperti itulah tenaga menjepit jari tangannya pada pedang Siauw Hoa jadi mengendur tanpa disadarinya, Siauw Hoa telah menarik pedangnya sekuat tenaga sehingga pedang lolos dari jepitan jari tangan.
Dia malah membarengi dengan menikam dan tangan kirinya menghantam sekuat tenaga pakai telapak tangan pada dada Giok Han, angin pukulan itu menderu deru menerbangkan baju Giok Han yang jadi berkibar-kibar. Rupanya Siauw Hoa benar-benar telah kalap dan hendak menyerang untuk mematikan Giok Han maupun In Bwee.
Giok Han cepat sadar, dia berseru nyaring, kedua tangannya tampak menyambar lagi hendak menjepit pedang Siauw Hoa. Namun sekali ini Siauw Hoa benar-benar telah waspada, tadi pedangnya telah terjepit oleh jari tangan Giok Han. merupakan pelajaran pahit untuknya, membuat dia berhati-hati waktu menyerang.
Kini, melihat jari tangan Giok Han hendak menjepit pedangnya lagi, dia segera menggetarkan pedangnya, mau tak mau Giok Han harus membatalkan maksudnya mejjepit pedang lawan, menarik pulang tangannya dengan segera, sebab jika dia meneruskan usahanya untuk menjepit pedang gadis ini, pasti jari tangannya terbabat putus oleh pedang itu !
"Nona !" berseru Giok Han sambil mengelakkan pukulan tangan kiri Siauw Hoa. "Apakah benar-benar kau tidak bisa diajak bicara baik-baik ?"
Siauw Hoa gagal dengan dua serangannya itu, tikaman pedang dan pukulan telapak tangan kirinya, dia tidak melanjutkan penyerangan lainnya, badannya ringan meloncat ke belakang, mukanya merah padam dan pucat bergantian, mendelik pada Giok Han dan In Bwee berganti-gantian.
"Ingatlah, kemanapun kalian pergi, aku akan tetap mengejar kalian, kalian akan menerima pembalasan yang jauh lebih hebat dari penghinaan yang kalian lakukan padaku hari ini !" mengancam Siauw Hoa dengan suara tersendat-sendat, karena gadis ini berusaha menahan isak tangisnya, dia tidak mau menangis di depan Giok Han dan In Bwee, gadis yang jadi saingannya itu.
Heran dan tertegun Giok Han mendengar ancaman Siauw Hoa. Penghinaan apa yang telah dilakukannya terhadap Siauw Hoa ? Mengapa gadis ini tampaknya demikian membenci dan sakit hati begitu besar padanya dan In Bwee.
"Dengar dulu Siauw Hoa kau keliru dan salah paham...!" Giok Han hendak menjelaskan.
Tapi Siauw Hoa sudah memutar tubuhnya dengan pedang masih tercekal di tangannya, dia memberi isyarat kepada kedua orang Persia yang tengah merangkak bangun untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tangan kirinya memperbaiki baju di pundaknya yang robek, agar kulit pundaknya yang putih itu tidak kelihatan.
Luka baju bisa ditambal, tapi luka di hati mana bisa ditambal ? Pukulan-pukulan yang tadi jatuh ditubuhnya waktu bertempur dengan In Bwee tidak dirasakan sakit, karena yang sakit adalah hatinya. Dia penasaran sekali mengetahui pemuda yang dipikirkannya siang malam ini ternyata mencintai gadis lain, musnah harapannya yang semula telah tumbuh semakin lama semakin subur. Seperti pohon yang mendadak disiram oleh guyuran air panas, sehingga seketika pohon yang baru mau tumbuh itu jadi mati !
Cinta dan Benci sebetulnya terpisah tidak terlalu jauh," tidak lebih dari selembar rambut dibelah tujuh. Perbatasan yang ada di antara dua perasaan itu memang sangat tipis sekali. Seseorang yang gagal dalam cinta, bisa mendadak jadi membenci kepada orang yang pernah dicintainya.Bahkan bencinya itu hebat sekali, perasaan benci yang seperti merasuk tulang maupun daging di sekujur tubuhnya.
Demikian juga halnya dengan Siauw Hoa dia pergi dengan menahan isak tangisnya dan menenteng pedangnya, meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Giok Han yang berdiri tertegun karena bingung disamping In Bwee.
Sedangkan In Bwee tersenyum mengejek, senang hatinya bisa melayani Siauw Hoa, sehingga wanita itu akhirnya pergi sendirinya. Yang membuat In Bwee puas dia tidak sampai roboh di tangan Siauw Hoa.
Benar kepandaian In Bwee tinggi dan dia merupakan wanita gemblengan namun ilmu pedang Siauw Hoa tampaknya merupakan ilmu pukulan dan pedang yang lihai, karena setiap jurusnya mengandung hawa pukulan dan tikaman yang mematikan!
Setelah bertempur dengan Siauw Hoa sekian banyak jurus, In Bwee di dalam hati harus mengakui bahwa sebenarnya kepandaian Siauw Hoa lebih tinggi satu tingkat darinya. Cuma yang membuat In Bwee heran, mengapa gadis secantik dan sehalus Siauw Hoa bisa memiliki kepandaian begiiu tinggi dan aneh pula perangainya.
Dia tahu bahwa Siauw Hoa juga menaruh hati pada Giok Han, tapi adatnya yang angkuh dan sombong membuat Siauw Hoa tidak bisa diajak bicara baik-baik, malah tadi saja dia memperlihatkan kebencian yang berlebih-lebihan kepada Giok Han dan In Bwee.
Sikapnya itu seperti sikap seorang pembesar kerajaan yang perintahnya tidak diindahkan, atau maksud hatinya ditentang
Sambil memasukkan pedang pendek ke dalam sarungnya. In Bwee tertawa.
"Giok Han koko . . . dia sangat mencintaimu!" katanya dengan suara halus.
Muka Giok Han berobah merah, dia tersadar dari tertegunnya menoleh mengawasi In Bwee, yang waktu itu juga sedang memandanginya dengan pipi yang merah dan bibir tersenyum.
"Kau jangan bergurau, Bwee-moay... kau telah mengetahui isi hatiku, jangan menggodaku !" kata Giok Han hati-hati, karena dia kuatir nanti timbul salah paham lagi antara dia dengan In Bwee.
Senang mendengar perkataan Giok Han seperti itu, la Bwee maju mendekati, memegang tangan Giok Han. Matanya memandang terang sekali kepada orang muda yang jadi pujaan hatinya ini, "Benarkah Han koko . . ? Apakah nanti kau tidak akan mengkhianatiku ? Mengkhianati cinta kita?" tanyanya dengan suara tergetar, walaupun dia merasa malu untuk bertanya begitu, namun kata-kata itu meluncur sendirinya dari mulutnya. Cuma saja, setelah bertanya seperti itu dia akhirnya menunduk malu dengan pipi yang berobah merah.
Giok Han tersenyum, dia memegang dagu In Bwee, mengangkat dagu si gadis sehingga kepalanya menengadah, mata mereka jadi bertemu.
"In Bwee. kau adalah gadis yang membuat hidupku jadi terang benderang, membuat hidupku menjadi ada artinya !" bilang Giok Han. "Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati cinta kita ?"
"Benarkah, Han ko ?" lirih sekali suara In Bwee, dia bertanya sambil melirik.
Giok Han mengangguk dan si gadis menjatuhkan kepalanya di dada si pemuda, menjatuhkan dirinya dalam pelukan Giok Han.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cinta memang seringkali membuat seseorang berada dalam keadaan yang lain dari sebelumnya. Begitu juga halnya dengan Siauw-Hoa. Gadis yang memang semula begitu polos dan periang, sekarang sejak jatuh hati pada Giok Han, setelah berhari-hari memikirkan pemuda itu, membayangkan wajahnya penuh kerinduan, sampai akhirnya harus menerima kenyataan yang begitu pahit bahwa pemuda yang dipujanya itu mencintai gadis lain, telah menghancurkan sifat sifatnya yang semula.
Jika sebelumnya dia begitu periang dan polos, sekarang justeru hatinya dibakar oleh dendam dan sakit hati yang dalam. Cintanya terasa dicampakkan dan hancur jadi puing-puing. Rasa bencinya membakar hati dan semakin membesar juga.
Memang, jika seseorang yang mengejar cinta, waktu-waktunya dirasakan sangat manis. Tapi begitu mengetahui bahwa dia hanya bertepuk sebelah tangan saja, niscaya timbul kekecewaan yang sangat besar, bahkan kekecewaan itu bisa membakar jiwanya, dari cinta menjadi benci yang besar dan dahsyat.
Sambil berlari-lari menenteng pedangnya, di belakangnya mengikuti kedua orang pengawalnya, Siauw Hoa menahan isak tangisnya, air matanya bercucuran membasahi pipinya, dia seperti hendak menjerit sekuat suaranya, untuk melampiaskan tekanan yang terasa begitu berat membebani hatinya maupun perasaannya.
Sebelumnya Siauw Hoa senang sekali menyaksikan panorama yang indah, pemandangan alam yang menarik hati, tapi sekarang sedikitpun dia tidak memiliki selera untuk melihat pemandangan alam di sekelilingnya.
Setelah berlari sekian lama, akhirnya gadis ini berhenti, memasukkan pedang kedalam sarung, berdiri tegak, tangannya menghapus matanya, menyusut air mata.
Kedua pengawalnya juga ikut berhenti, mereka saling pandang dan tak tahu bagaimana harus menghibur majikan mereka. Padahal mereka tahu Siauw Hoa sebetulnya jatuh hati dan mencintai Giok Han, dan kejadian tadi membuat majikan mereka jadi patah hati.
Tapi mereka tidak berani sembarangan bicara, hanya berdiam diri terpisah cukup jauh dan prajurit tidak memperhatikan kelakuan majikan mereka..
Siauw Hoa berdiri tegak cukup lama, mukanya jadi keras dan akhirnya terdengar gumamnya yang perlahan: "Tunggulah Giok Han.... nanti kau akan tahu siapa aku... aku mau lihat jika sudah sampai saatnya, apa yang akan kau lakukan terhadapku, apakah kau akan mengemis-ngemis pengampunan dariku atau tetap mencintai kambing jelek itu?!"
Dia sudah bertekad, untuk memounuh Giok Han dan In Bwee. Ya, membunuh kedua orang yang telah melukai perasaan dan hatinya. Merusak jiwanya. Menbuat dia menderita kesedihan dan ikian berat. Dia sebagai puteri Cu-kongkong, sekarang serasa menerima penghinaan yang sangat besar.
Biasanya dia dimanjakan dan setiap keinginannya di turuti, baik oleh ayahnya maupun oleh yang lain-lainnya. Tapi sekarang di saat dia jatuh cinta, cintanya itu telah terbentur kegagalan... dia jadi patah hati.
Timbul tekadnya, bagaimanapun juga dia akan membuat kedua orang itu merangkak-rangkak di bawah kakinya, menghiba-hiba pengampunan darinya. Dia tersenyum sinis dan bibirnya itu memperlihatkan betapa hatinya sangat membenci kedua orang itu. Dan tekadnya itu sudah bulat, bagaimanapun juga memang dia ingin membunuh Giok Han dan In Bwee.
Jika nanti Giok Han memohon pengampunan darinya dan menyatakan bahwa ia sebelumnya mencintai Siauw Hoa, tetap gadis ini tak akan melayani lagi. Hatinya telah luka, dia benci, benci sekali pada Giok Han. Ya. benci sekali juga pada In Bwee, gadis saingannya itu, tidak kepalang bencinya!
Tetapi, setelah hatinya dibakar oleh rasa panas dan marah yang seperti itu, dia jadi mengucurkan air mata menangis lagi. Mengapa nasibnya demikian buruk. Dia yakin dirinya lebih cantik dari ln Bwee. Jauh lebih kaya dari ln Bwee, segala apa dia punya, ayahnya orang kedua yang paling berkuasa di seluruh kerajaan.
Tapi mengapa justeru Giok Han memilih ln Bwee. Justeru dia juga telah memperlakukan Giok Han dengan manis, tapi tokh pemuda itu masih menyatakan cintanya pada ln Bwee. Bahkan ia mendengar sendiri dengan kedua telinganya pernyataan cinta Giok Han pada In Bwee. Benar benar melukai hatinya, menyayat perasaannya.
Setelah menangis cukup lama, Siauw Hoa akhirnya berlari lagi dengan cepat, seperti orang kalap. Kedua pengawalnya kaget dan cepat-cepat menyusul. Siauw Hoa bertekad hendak cepat-cepat pulang ke kotaraja, kemudian mengatur rencananya untuk mencelakai Giok Han dan In Bwe. Dia akan mengerahkan orang-orang ayahnya yang semuanya berkepandaian tinggi, untuk menyeret Giok Han dan In Bwee ke depan kakinya, dia mau lihat nanti apa yang akan dilakukan dan dikatakan Giok Han...
Rasanya Siauw Hoa tidak sabar ingin sampai di kota raja. Semula dia tak mau ikut kakaknya, Cu Lie Seng, pulang ke kota raja, karena dia hendak mengambil jalan sendiri, melakukan perjalanan sambil menikmati pemandangan alam yang indah serta menarik hati, justeru sekarang dia tidak sabar ingin cepat cepat bertemu dengan kakaknya itu.
Untuk menceritakan padanya bahwa ada dua orang pemberontak, yang masing-masing bernama Giok Han dan Cang In Bwee.... Berbagai cara dia akan pergunakan, untuk memberikan hajaran kepada Giok Han dan In Bwee yang telah melukai perasaan maupun hatinya, kalau kedua orang itu sudah merangkak-rangkak di depan kakinya seperti dua ekor anjing, barulah hati Siauw Hoa puas.
Dan hati gadis yang puteri bangsawan ini sudah semakin keras membatu, tekadnya telah berkarat di hatinya!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Burung kulik memperdengarkan suaranya yang panjang dan kepak sayapnya juga seringkali terdengar. "Kelepak... kelepak...." di antara suaranya angin yang mempermainkan daun-daun dari pohon-pohon yang bertumbuhan di hutan kecil itu.
Bunyi dari suara binatang-binatang hutan itu merupakan keadaan yang tetap setiap hari di hutan tersebut. Manusia boleh tua dan mati, pohon boleh tua dan mati, burung dan binatang lainnya boleh mati, tapi keadaan di hutan itu tak akan berobah. Selalu diisi oleh suara binatang penghuni hutan tersebut.
Tapi di antara suara-suara binatang penghuni hutan tersebut, justeru sore itu ditambah juga oleh suara desah manusia yang memburu keras. Rupanya, di dalam hutan kecil itu, dibalik pohon-pohon yang rimbun dan tersembunyi, duduk seorang manusia.
Dia seorang nenek tua yang mukanya pucat dan tubuhnya menggigil, napasnya memburu keras sekali, tampaknya tengah menderita sesuatu yang kurang beres puda tubuhnya. Beberap kali nenek tua itu berusaha mengempos semangat dan tenaga dalamnya untuk bertahan agar tidak menggigil seperti itu, namun usahanya gagal.
Tubuhnya menggigil semakin keras, mukanya yang pucat memperlihatkan dia sangat menderita, meringis seperti sedang menahan rasi sakit yang hebat.
Nenek tua itu tidak lain dari Toat Beng Sin ciang Khu Cian. Dia waktu melarikan diri dari lembah dalam keadaan terluka parah, akibat tangan maut Tang San Siansu yang mempergunakan pukulan "Liong beng-kun"nya.
Sebetulnya, kalau waktu itu Toat-beng-sin-ciang memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan mempergunakan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan diri, lukanya tidak terlalu parah, setidak-tidaknya dia bisa mengendalikan tubuhnya tidak menderita rasa sakit di dalam tubuh yang hebat seperti sekarang, di mana seluruh isi perutnya seakan terbalik-balik dan sangat menyiksanya.
Tapi justeru tadi Toan Yok telah minta agar dia meloloskan diri lebih dulu, dengan terpaksa dia menuruti permintaan Toan Yok, dia berlari-lari dengan mempergunakan ginkangnya untuk menjauhi lembah dan mencari tempat persembunyian.
Setelah berlari-lari sekian lama, dia sampai di hutan kecil ini. Sebetulnya Toat-beng sin-ciang masih hendak menyingkir lebih jauh, tapi mendadak napasnya sesak, tenggorokannya kering, napasnya seperti tertutup dan sesak sekali dadanya.
Seluruh isi perutnya seperti jungkir balik berantakan, mendatangkan rasa sakit tidak terkira. Karenanya, dia membatalkan keinginannya untuk menyingkir lebih jauh, dia duduk di bawah sebatang pohon di balik kerimbunan pohon, sehingga dia tersembunyi dari pandangan orang yang lewat di hutan kecil tersebut.
Cepat-cepat dia memusatkan tenaga dalamnya dan menghirup hawa udara dalam-dalam. Hatinya tercekat.
Dia merasakan jantungnya sakit dan perih sekali, seperti disiram oleh cuka disusul kemudian seluruh isi perutnya seperti jungkir balik, membuat dia mandi keringat dingin menahan rasa sakit yang tak terkira.
Saat itulah Toat-beng-sin ciang Khu-Ci an menyadari dirinya sudah terluka parah oleh "Liong beng-kun''nya Tang San Siansu. Hatinya jadi dingin. Biasanya, jika seseorang jadi korban pukulan "Liong beng-kun" Tang San Siansu, tipis harapan bisa hidup terus. Yang membuat Toat-beng-sin-ciang penasaran justeru dia kemungkinan tak memiliki kesempatan untuk membalas sakit hatinya ini.
Ada lagi yang memberatkan hatinya, muridnya sekarang tidak berada didekatnya, jika dia harus mati di tempat ini, tentu muridnya tak mengetahui. Yang terpenting muridnya juga tak mengetahui bahwa yang menyebabkan kematiannya adalah Tang San Siansu sehingga muridnya itu tak bisa membalaskan sakit hatinya.
Mati-matian Toat-beng-sin-ciang mengerahkan tenaga dalamnya, dia juga sudah menelan beberapa pil obat, Kemudian duduk bersemedhi guna mencurahkan seluruh konsentrasi pengerahan sinkangnya. Perlahan-lahan rasa sakit di perutnya dan dijantungnya berkurang walaupun masih tetap terasa sakit menyiksa.
Cuma napas Toat beng-sinciang yang sekarang jadi memburu keras serta panas sekali.
Seharian dia berusaha mengerahkan sinkangnya untuk mengalahkan siksaan lukanya itu. Tapi dia gagal. Perasaan sakit pada perutnya tak bisa juga dilenyapkan.
Sebetulnya Toat-beng-sin-ciang pun boleh bersyukur, sebab dia terpukul tidak terlalu telak, tidak terduga sepenuhnya! Kalau saja dia terserang telak oleh pukulan "Liong-beng-kun" biarpun dia mempunyai obat dewa dan tenaga sinkang yang sempurna, jangan harap dia bisa hidup dengan keadaan utuh!
Seseorang yang jadi korban pukulan Li-ong beng-kun tentu akan rusak isi perut dan syarafnya, akan menjadi manusia patung yang lupa seluruh daya ingatnya syaraf-saraf otaknya banyak yang putus dan orang itu akan jadi seperti orang tolol, apapun tidak diingatnya lagi.
Beberapa organ isi tubuhnya juga rusak, termasuk beberapa macam isi perutnya, usus, ginjal dan jantung. Semuanya mengalami kerusakan perlahan-lahan tapi pasti, sehingga setelah melewatkan waktu satu tahun, korban pukulan Liong beng-kun tersebut, jadi mati sendirinya!
Toat-beng-sm ciang bukan tidak mengetahui hal itu. Dia telah mendengar kehebatan Liong-beng-kun dari Tang San Siansu. Namun sejauh itu dia masih yakin bahwa dirinya bisa menghadapi Tang San Siansu. Namun siapa sangka, justeru sekarang dia terluka ditangan Tang San Siansu, kemungkinan dirinya akan jadi lumpuh dan ingatannya lenyap, dia akan hidup sebagai manusia tanpa ingatan seperti patung, tapi bernapas dan hidup.
Kelak setelah setahun barulah dia mati . . . , , !
Menggidik Toatbeng sin ciang berpikir hal itu disebabkan dia takut mati! Sebagai wanita gemblengan, seorang pedekar wanita yang sejak kecilnya sudah memiliki jiwa gagah dan kesatria, apa lagi sekarang usianya sudah demikian lanjut, dia tidak pernah gentar menghadapi kematian !
Diapun bahkan senang dan bahagia kalau bisa mati secara gagah dalam pertempuran dengan lawan tangguh ! Tapi sekarang yang membuat dia jadi penasaran dan menggidik ngeri, sebab dia akan mati meroyot perlahan-lahan, karena anggota dalam tubuhnya mengalami kerusakan secara perlahan-lahan, namun pasti, sampai akhirnya dia mati !
Inilah cara kematian yang hina ! Cara kematian yang memalukan dan membuat dia kecewa! Seorang pendekar harus mati dengan penuh kegagahan! Mati karena suatu pertempuran dan mempertahankan hidupnya sampai pada titik akhir darahnya, tetap melayani musuhnya sampai napasnya yang terakhir !
Tapi sekarang ? Dia telah melarikan diri dalam keadaan terluka ! Dia juga sekarang menderita luka yang sangat parah, perlahan-lahan anggora dalam tubuhnya akan mengalami kerusakan dan pada akhirnya dia mati juga !
Terpikir seperti itu, dia menyesal bukan main ! Dia kecewa karena tadi tidak berusaha mengadu jiwa saja dengan Tang San Siansu agar mereka mati bersama-sama !
Sekarang biarpun dia bisa meloloskan diri dari Tang San Siansu dan orang-orangnya, apa gunanya? Tak ada artinya, karena tokh dia akan mati juga oleh lukanya yang parah ini !
Lama Toat beng-sin ciang mengerahkan sinkangnya, dan akhirnya dia menghela napas selelah merasakan isi perutnya masih mendatangkan rasa sakit yang hebat, seperti terbalik-balik. jantungnya juga masih dingin seperti direndam di dalam salju.
"Akan kucari Tang San Siansu si gundul untuk mengajaknya mengadu jiwa!" pikir Toat-beng-sin ciang jadi nekad. Hemm, dia bisa membunuhku, tapi dia juga harus mati bersamaku!"
Karena berpikir begitu, Toat beng sin-ciang meloncat berdiri, dia ingin kembali ke lembah, untuk mengadu jiwa dengan Tang San Siansu atau anak buahnya. Jika dia gagal membunuh Tang San Siansu, tapi kalau bisa merobohkan beberapa orang anak buah si pendeta, itupun sudah jauh lebih terhormat mati dengan membunuh lawan lawannya.
Sedangkan mati dengan keadaan seperti sekarang, melarikan diri tapi lukanya tetap ? membuat dia akan mati, membuat Toat-beng-sin-ciang benar-benar penasaran.
Akan tetapi, begitu Toat-beng-sin ciang berdiri segera dia merasakan dunia seperti berputar keras sekali, tubuhnya seperti melayang-layang melambung kecengah udara, juga perutnya melilit sakit bukan main, keringat dingin telah mengucur keluar dari sekujur tubuhnya, Matanya berkunang-kunang dan biji matanya seperti mau meloncat keluar, kepalanya berdenyut-denyut seperti hendak meledak pecah, seluruh syarafnya seperti hendak putus.
Toat-beng-sin-ciang mengeluh perlahan dan tubuhnya terguling di atas tanah, di atas tumpukan daun-daun kering, dunia seperti berputar, pinggangnya seperti mau patah, seluruh otot-otot disekujur tubuhnya seperti mengejang.
Benar-benar penderitaan yang luar biasa. Sebagai wanita gemblengan Khu Cian atau yang dikenal oleh orang kangouw dengan gelaran Toat-beng-sin ciang, sejak muda tidak pernah takut pada penderitaan.
Bersambung ke jilid 27
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 26
Jangan bicara lagi soal budi-kebaikan, cepat angkat kaki, kami bisa mengurus diri kami sendiri. Kau sudah terpukul jurus "Liong-bengkun" pendeta busuk ini, jika tidak cepat-cerat diobati, tentu kau menghadapi saat-saat sulit di waktu mendatang . . . sedikitnya kau akan cacad jika terlambat mengobati luka itu !"
Sebetulnya Toat-beng-sin-ciang sudah bertekad hendak mengadu jiwa, tapi mendengar kemungkinan dia bercacad kalau terlambat mengobati lukanya, di mana dia telah terpukul "Liong-bengkun"- nya Tang San Siansu, alisnya jadi mengkerut. Dia mendengar juga bahwa pengemis-pengemis ini mempunyai jalan sendiri untuk meninggalkan musuh dari tempat itu, maka dia jadi ragu-ragu.
Betapapun besar keinginannya untuk ambil bagian dalam pertempuran tersebut, namun dengan luka yang dideritanya cukup parah seperti itu, apa yang bisa dilakukannya.
"Ayo cepat .... jika terlambat, kukira biarpun datang obat dewa tak mungkin lukamu itu bisa disembuhkan !" Berseru Toan Yok, kuatir sekali, sebab dia melihat Toat-beng-sin ciang bimbang dan kalau membandel tak mau angkat kaki, mereka akan mengalami kesulitan lebih lama.
Benar mereka selama ini bisa menghadapi Tang San Siansu dan orang-orangnya, tapi lewat satu dua jam lagi pasti akan terdesak dan sulit buat rombongan pengemis ini merebut kemenangan, itulah sebabnya Toan Yok mendesak agar Toat-beng sin-ciang mau cepat cepat meninggalkan tempat itu lebih dulu.
Toat-beng sin-ciang akhirnya menyadari maksud baik para penolongnya ini, dia juga tahu jika dia cepat-cepat angkat kaki hanya akan menambahkan kesulitan para pengemis itu, maka keputusannya jadi bulat tanpa bilang apa-apadia memutar tubuhnya dan berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu.
Tang San Siansu gusar bukan main, dia menjerit sambil menghantam Toan Yok. Bagaimanapun ia tak mau Toat-bengsin-ciang lolos dari tangannya. Tapi justeru dia dihalangi Toan Yok, yang selalu dapat memunahkan setiap pukulannya.
Serangannya sekali inipun dapat dipunahkan oleh pengemis tersebut, yang menghindar ke samping. Kesempatan ini dipergunakan Tang San Siansu buat meninggalkan Toan Yok untuk mengejar Toat-beng-sin-ci-ang,akan tetapi Toan Yok sudah melesat menghadang di depan sambil mengayun tongkatnya.
Bertambah penasaran saja Tang San Siansu, kalau dia tak pedulikan serangan tongkat si pengemis, niscaya akan membuat dia terluka, karena pukulan tongkat Toan Yok disertai tenaga sinkang yang dahsyat, berkesiutan nyaring memecah udara.
Terpaksa Tang San Siansu harus menghadapi tongkat si pengemis, karena itu Toat-beng-sin-ciang dilihatnya telah sempat berlari cukup jauh.
Bwee sim mo li, Cu Lie Seng maupun yang lainnya terkejut melihat Toat-beng-sin-ciang hendak meninggalkan lembah itu, tapi merekapun tak berdaya untuk mengejar, karena waktu itu justeru mereka telah dikepung oleh pengemis-pengemis yang jumlahnya sangat banyak dan kepandaiannyapun tidak lemah.
Toan Yok tertawa bergelak-gelak. "Pendeta busuk, hari ini kau ketemu batu sebetulnya hari ini adalah hari kematianmu, tapi tuan pengemismu ingin mengampuni dulu jiwa anjingmu pada badanmu ! Nah jika ada kesempatan tentu aku akan menagih jiwamu lagi!" Sambil berkata begitu Toan Yok memutar tongkatnya gencar sekali menyerang bertubi-tubi Tang San Siansu, sehingga si pendeta biarpun tengah kalap dan penasaran campur murka, tak urung harus melompat duakali menjauhi diri dari sambaran tongkat si pengemis.
Waktu itu Toan Yok mengayunkan tangan kirinya, menimpuk dengan beberapa peluru yang meledak di kaki Tang San Siansu dan mengeluarkan gumpalan asap yang sangat tebal. Menyusuli dengan itu, ketika Tang San Siansu mencak-mencak kalap Toan Yok sudah menimpukkan tiga butir peluru asapnya yang meledak menggelegar dan gumpalan asap ditempat itu semakin tebal saja.
Pengemis-pengemis lainnya juga sudah mengikuti perbuatan pemimpin mereka, masing-masing melemparkan peluru asap kepada lawan-Iawan mereka, seketika terdengar suara le dakan di sana-sini nyaring sekali, gumpalan asap tebal juga memenuhi lembah tersebut.
Tang San Siansu serabutan menyerang ditengah-tengah gumpalan asap dengan kedua tangannya, seperti kalap, dia benar-benar merasa hari ini pamornya runtuh bisa dipermainkan rombongan pengemis tersebut.
Tapi para pengemis itu sudah nyingkir dari lembah, karena tak lama kemudian setelah gumpalan asap itu menipis, di lempat itu sudah tak terlihat seorang pengemispun juga. Sedangkan Cu Lie Sang dan yang lainnya berdiri dengan muka merah padam karena gusar dan mata merah berair, akibat asap yang membuat mata mereka pedih dan keluarkan air mata !
"Terkutuk !" Teriak Tang San Siansu, "Pengemis busuk itu harus kucari dan ku-mampusi !"
Cu Lie Seng sambil menghapus air matanya, karena masih terasa matanya sangat pedih, menghampiri gurunya.
"Sudahlah suhu, bukankah mereka tak berhasil mendapatkan apapun dari kita ? Nantipun mereka akan memperlihatkan diri lagi untuk coba-coba mendapatkan daftar nama orang kangouw ini !" sambil bilang begitu Cu Lie Seng menepuk-nepuk sakunya.
Tang San Siansu tersadar, kemarahannya reda sebagian, tapi dia masih memaki bengis: "Kalau lain kesempatan bisa kutemukan pengemis busuk itu, akan kuhancurkan tubuhnya jadi ratusan potong ! Tak akan kubiarkan dia mati dengan enak !"
Tang San Siansu dengan rombongannya akhirnya meninggalkan lembah tersebut buat melanjutkan perjalanan mereka. Sikap mereka sekarang semakin hati-hati dan waspada.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DUA orang Persia tampak mengiringi seorang gadis tengah mendaki di sebuah bukit yang ada di sebelah pintu kota, daerah itu cukup lebat oleh pohon-pohon yang tumbuh tinggi, juga tidak begitu ramai, karena jarang orang mengambil jalan melewati bukit tersebut, yang disebut oleh para pedagang keliling sebagai bukit-iblis (Mo Gai) dan angker sekali.
Gadis itu berusia masih muda tapi sangat lincan, daoat mendaki bukit itu dengan mudah. Sedangkan kedua orang Persia itu bertubuh tinggi besar dan mukanya bengis. Tapi dari sikap mereka tampak jelas mereka menghormati gadis ini, mata mereka tidak menatap kedepan saja, sebab selalu memandang liar sekeliling, penuh waspada, kalau-kaiau ditempat itu ada bahaya yang bisa mengancam gadis yang tengah mereka kawal.
Sedangkan gadis didepan kedua laki laki Persia itu sama sekali tak kuatirkan sesuatu, dia seenaknya saja berlari-lari mendaki bukit riang sikap dan wajahnya, bahkan sebentar-sebentar dia meloncat cukup tinggi memetik bunga yang tumbuh di pohon liar yang dilewatinya.
Melihat cara berlari ketiga orang itu, jelas mereka memiliki ginkang dan ilmu silat yang cukup tinggi, biarpun kedua tubuh orang Persia itu besar kekar, namun mereka bisa berlari ringan sekali seperti juga kedua kaki mereka masing-masing tak menginjak tanah.
Siapakah gadis itu dan kedua orang Persia tersebut? Benar mereka tak lain dari Cu Siauw Hoa dan kedua orang pengawal pribadinya. la tengah melakukan perjalanan buat menyusul kakaknya, Cu Lie Seng, yang sudah melakukan perjalanan lebih dulu pulang ke-kotaraja.
Biarpun mendongkol ditinggal oleh kakaknya, tapi Cu Siauw Hoa seorang gadis periang, karena itu dalam setengah hari saja, kemendongkolannya hatinya sudah lenyap, dia bisa melakukan perjalanan dengan riang. Sebetulnya dia bersama kedua pengawalnya tadi mempergunakan kuda dalam perjalanan tersebut, ketika lewat dikaki bukit Mo-gai ini, dan turun dari kudanya mendaki bukit itu.
Tentu saja kedua pengawalnya terpaksa harus mengikuti nona majikan mereka kuatir kalau-kalau diatas bukit ada ancaman bahaya. Kuda mereka ditinggal di kaki bukit.
Siauw Hoa senang sekali melihat pohon-pohon yang tumbuh lebat, burung-burung yang terbang karena kaget atas kehadiran ketiga orang manusia ini. Siauw Hoa juga terkadang mengejar kupu-kupu, yang ditangkap dan kemudian dilepaskannya lagi. Tertawanya yang renyai seringkali bergema di bukit tersebut.
Mendadak, Siauw Hoa berhenti berlari. Tangan kirinya diangkat, mengisyaratkan agar kedua orang Persia itu juga berhenti dan jangan bersuara.
Apa yang dilihat Siauw Hoa. Terpisah kurang lebih duapuluh tombak lebih, di bawah sebatang pohon, dekat susunan bongkahan batu gunung, tampak duduk dua sosok tubuh. Siauw Hoa malah bisa mengenalinya dengan segera, yang seorang adalah pemuda yang pernah ditraktir makan olehnya, yaitu Giok Han !
Dan yang membuat darah Siauw Hoa mendidih marah, dia melihat Giok Han duduk berendeng mesra dengan seorang gadis cantik jelita !
Benar Siauw Hoa selalu bersikap yang kekanak-kanakan manja dan jail, tapi sejak pertemuan dengan Giok Han timbul perasaan aneh, ia menyukai pemuda itu, sampai pemuda tersebut akhirnya meninggalkan dia karena ingin menyusul "sahabat"-nya. yaitu si pengemis kotor mesum.
Sejak saat itu Siauw Hoa tergoda terus menerus perasaannya, sering kali dia teringat pada Giok Kan yang gagah dan tampan. Tapi dia tak tahu kemana harus mencari pemuda itu.
Sekarang dia kebetulan sekali bisa bertemu dengan pemuda itu, yang sebetulnya merupakan pertemuan yang menggembirakan tapi kenyataannya malah kebalikannya, pertemuan ini membuat Siauw Hoa menjadi marah campur duka !
Pemuda yang selama ini dikenang dan dipikiri siang dan malam, tak tahunya sedang asyik duduk berdua-duaan dengan seorang gadis cantik di tempat demikian sunyi sepi pada bukit Mo-gai !
Lama Siauw Hoa berdiri dengan muka merah padam, dan dia jadi tambah mendongkol mendengar si gadis cantik di sebelah Giok Han tengah bicara manja: "Giok Han Koko... sebetulnya aku sudah tahu, sejak pertemuan kita yang pertama, bahwa kau seorang yang baik !"
"Akupun begitu, karena aku segera merasakan bahwa kau adalah sahabatku yang terdekat, biarpun sebelumnya kita belum berkenalan !" menyahuti Giok Han.
"Sahabat ? Sampai sekarang kau masih menganggap aku sebagai sahabatmu?" tanya gadis itu, yang tidak lain Cang In Bwee.
Giok Han menggeleng.
"Tentu saja tidak. Aku sudah mengetahui isi hatimu. Akupun harus mengakuinya bahwa perasaanku sama dengan perasaanmu. Sebelumnya aku kuatir kau akan mentertawakan aku. karenanya aku maun membatasi diri dan tak pernah berani bersikap lebih manis padamu, nanti kau bilang aku ceriwis Bweemoay "
"Ihhh, siapa bilang kau pemuda alim ? Memang kau ceriwis! Sejak pertemuan kita yang pertama kali saja kau sudah tak mau berpisah denganku, Bukankah benar begitu ?"
Giok Han tertawa.
"Ya.. sampai sekarang akupun tak pernah mau berpisah dengan kau, Bwee-moay! Kalau kau meninggalkan aku pasti dunia ini lenyap keindahannya.."
"Ihhhhh. merayu nih ?" tertawa In Bwee, tapi dia menyenderkan kepala di dada Giok Han, pemuda itupun merangkulnya lembut.
Selanjutnya cuma terdengar suara bisik-bisik mereka saja, Siauw Hoa tidak bisa mendengar jelas lagi.
Semakin lama darah Siauw Hoa semakin mendidih, hatinya hancur berkeping-keping, Dia sudah terlanjur menyukai Giok Han, siapa tahu sekarang harus menyaksikan pemuda yang disenanginya itu tengah bermesra-mesraan dengan seorang gadis lain. Penasaran, sakit hati, cemburu dan marah bercampur jadi satu.
Karena dalam keadaan sedih dan marah, Siauw Hoa lupa bahwa dia sedang diam-diam mengintai Giok Han dan In Bwee, dia berdiri tanpa mempergunakan ginkangnya, sehingga sebuah ranting terinjak patah dan mengeluarkan suara nyaring.
Suara patahnya ranting ini membuat Giok Han dan Cang In Bwee yang sedang asyik masyuk pacaran, jadi kaget bukan main, mereka sampai meloncat berdiri dengan muka berobah merah, karena menyangka ada orang yang menyaksikan mereka tengah berkasih-kasihan.
Tetapi Giok Han tambah kaget campur heran, ketika mengenali orang yang berdiri terpisah tak terlalu jauh dannya tidak lain dari Cu Siauw Hoa, gadis yang pernah mentraktir makan padanya belum lama yang lalu In Bwee juga mengenali Siauw Hoa, gadis yang dulu pernah menbuatnya cemburu karena mentraktir Giok Han, yang membuat dia cari gara-gara pada kedua orang Persia yang menjadi pengawal itu, yang dianggap sebagai saingannya.
Siauw Hoa sebetulnya hendak memutar tubuhnya, untuk berlari sejauh mungkin, karena matanya sudah merah dan hampir saja air matanya menitik turun. Penasaran, sakit hati, cemburu dan marah campur aduk jadi satu, tapi Giok Han dan In Bwee berdua keburu melihatnya, maka dia cuma berdiri dengan muka yang cemberut masam dan mulut dimonyongkan. Justeru dengan keadaannya seperti itu wajah gadis ini tambah cantik saja.
"Nona Cu, kau di sini?" menyapa Giok Han yang kemudian jadi girang bertemu dengan orang yang pernah mentraktirnya, sedangkan In Bwee sebaliknya mengawasi Cu Siauw Hoa dengan mata mendelik dan muka yang cemberut memperlihatkan perasaan tak senang atas kehadiran gadis ini, yang pernah dianggap sebagai saingannya.
"Mari kuperkenalkan kau dengan .... dengan nona Cang !"
Tetapi Siauw Hoa mengawasi dengan sorot mata dingin, kemudian ketus dia bilang: "Aku tak perlu kenal dengan nona Cang-mu itu! Silahkan kalian meneruskan acara kalian, aku mau pergi...!" Dia memutar tubuhnya mau mengajak kedua pengawalnya untuk berlalu meninggalkan tempat itu.
Giok Han tertegun mendengar kata-kata Cu Siauw Hoa begitu ketus. Dulu, Siauw Hoa gadis yang manis dan ramah, yang sikapnya sangat menyenangkan sekali. Tapi mengapa sekarang jadi ketus demikian ?
Cang In Bwee lain lagi, jika tadi dia berdiam diri saja, sekarang ssulah mendengar perkataan Siauw Hoa, jadi meluap kemarahannya, dia bilang tanpa mengawasi Siauw Hoa, seakan-akan sedang mengawasi langit: "Hu! Hu ! Aku tak sangka di dunia ada gadis yang tak tahu malu yang kerjanya tukang ngintip."
Siauw Hoa tahu kata kata sendirian itu ditujukan kepadanya. kemarahan campur cemburu telah meledak membuat dia batal pergi, dengan galak dau mata melotot dia membentak: "Apa kau bilang?"
In Bwee tertawa tawar mengejek, dia tak menyahuti. Siauw Hoa tambah penasaran dia melangkah empat langkah menghampiri, bentaknya lagi galak, karena hatinya tengah sakit dan mendongkol betapa pria yang disukainya ternyata tengah berkasih-kasihan mesra dengan wanita lain, dan sekarang gadis saingannya itu ikut mengejeknya. "Coba kau ulangi lagi kata-katamu tadi !"
In Bwee tertawa tawar, sedikitpun tidak takut pada sikap Siauw Hoa yang galak. Memang, seorang wanita yang sedang jatuh cinta tentu tak akan takut mati biarpun menghadapi bahaya yang bagaimana besarpun juga, jika pria yang dicintainya itu diincar oleh wanita lain.
"Tadi kubilang benar-benar mengherankan di dunia ada gadis yang; tak tahu malu yang kerjanya tukang ngintip . . . ! Mengapa aku tak berani mengucapkannya ? Ada urusan apa dengan kau ?"
Muka Siauw Hoa merah padam dibakar marah, tahu-tahu tangan kanannya yang sejak tadi telah dialiri oleh tenaga dalamnya, terayun hendak memukul kepala In Bwee. Maksudnya sekali pukul hendak merubuhkan gadis yang dibencinya setengah mati ini, yang jadi saingannya.
Kalau bisa dia ingin membunuh In Bwee, sebab gadis inilah yang telah bermesraan deagan Giok Han, jika tidak ada gadis ini tentu Giok Han akan memperhatikannya dan membalas pancaran kasihnya.
In Bwee juga bukan gadis sembarangan, dia memiliki kepandaian tinggi, merupakan wanita gemblengan, melihat datangnya pukulan Siauw Hoa, sama sekali ia tidak berusaha menghindar, cuma mengawasi dengan sorot mata berkeredep tajam sekali, waktu pukulan Siauw Hoa hampir sampai dia baru menangkis dengan mempergunakan jari telunjuk dan jari tengah yang dijadikan satu untuk menyampok pergelangan tangan Siauw Hoa, sedangkan tangan kirinya sudah nyelonong masuk hendak menghantam dada Siauw Hoa. Angin pukulan itu bercuitan nyaring, menunjukkan tenaga pukulan In Bwee hebat sekali.
Siauw Hoa segera mengetahui gadis ini mempunyai kepandaian cukup berarti, pergelangan tangannya yang kena disampok oleh kedua jari tangan In Bwee terpental ke samping, karena sampokan kedua jari tangan In Bwee bukan sampokan biasa saja, walaupun cuma dua jari tangan namun mengandung tenaga Lwekang yang kuat. Dan sekarang malah tangan kiri In Bwee mengancam dadanya.
Siauw Hoa tentu saja tak mau tinggal diam menerima pukulan itu, sambit berseru nyaring tubuhnya tahu-tahu berputar ke samping, dibarengi oleh kedua tangannya yang menyambar berulangkali, selain memunahkan pukulan tangan kiri In Bwee, juga disusuli oleh serangan balasan yang dahsyat mematikan !
Turun tangannya sekali ini bukan cuma sekedar untuk suatu pertandingan saja bagi Siauw Hoa. dia tengah dibakar cemburu dan marah, maka dia bermaksud untuk membunuh saingannya ini. Setiap pukulan yang dilakukannya semuanya berbahaya, karena selain kuat juga mengandung tenaga sinkang yang dahsyat.
In Bwee diam-diam juga kaget, dia tidak menyangka gadis yang demikian cantik, yang pernah dilihatnya waktu Siau Hoa mentraktir Giok Han makan dan pernah membuat dia cemburu setengah mati, ternyata memiliki kepandaian yang tangguh. Maka selanjutnya In-Bwee semakin berhati-hati penuh kewaspadaan.
Dia menghadapi setiap pukulan-pukulan Siauw Hoa dengan tangkisan yang sama dahsyatnya, selalu disusul dengan balas menyerang pada tempat-tempat mematikan dianggota tubuh Siauw Hoa. Kedua gadis ini mati-matian mengerahkan seluruh kepandaian dan sinkang mereka untuk saling merobohkan, biarpun mereka baru bertempur, tapi sudah mempergunakan kepandaian masing-masing yang terhebat, jika sekali terpukul bisa membuat lawan mati atau sedikitnya terluka berat !
Yang jadi sibuk justeru Giok Han melihat kedua gadis yang dikenalnya dan juga In-Bwee yang dikasihinya, bertempur dengan pukulan-pukulan mematikan itu. Berulangkali dia tak kalah hebatnya menyerang dahsyat mendesak Siauw Hoa, keduanya seperti nekad dan kalap, bertempur tanpa memperdulikan keselamatan dirinya, mati matian berusaha untuk merobohkan lawannya, sehingga jalannya pertempuran itu seperti juga kedua gadis ini sedang mengadu jiwa!
Perkelahian yang membuat Giok Han semakin bingung, sampai dia maju ke-arah perkelahian, untuk memisahkan, sebab setelah berteriak-teriak puluhan kali meminta agar kedua gadis itu berhenti berkelahi tetap tak diladeni oleh kedua gadis itu.
"Berhenti... ayo berhenti!" Teriak Giok-Han sambil berusaha menyelip di tengah-tengah kedua gadis yang sedang bertempur. "Marilah kita bicara baik-baik..."
Tapi belum lagi selesai perkataannya, kepalan tangan Siauw Hoa telah singgah di dadanya, sakitnya bukan main, sebab pukulan itu bukan pukulan main-main, justru disertai oleh tenaga dalam yang kuat sekali, sampai tubuh Giok Han terhuyung mundur. Dia tidak menyangka akan terpukul seperti itu, di mana Siauw Hoa tak menahan kepalan tangannya ketika dia menyelinap di tengah-tengah kedua gadis itu.
Belum lagi lenyap rasa kaget dan kesakitan yang diderita Giok Han, perutnya jaga tertendang kuat sekali oleh kaki In Bwee, yang sebetulnya hendak menendang pinggang Siauw Hoa. Sebetulnya Giok Han bisa saja berkelit, kalau memang dalam keadaan biasa. Justeru disebabkan bingung kedua orang gadis yang sama menarik hatinya berkelahi nekad seperti itu, dia sama sekali tak terpikir bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan dirinya terserang.
Itulah sebabnya duakali beruntun dia telah terpukul dan tertendang oleh Siauw Hoa maupun In Bwee, bahkan tendangan dan pukulan itu dilakukan kedua gadis tersebut dengan tenaga yang hebat, tak mengherankan menyebabkan rasa sakit yang bukan main.
Karena dia terhuyung mundur beberapa langkah, Giok Han sudah berada di luar gelanggang karena perkelahian mereka tanpa memperdulikan Giok Han yang berdiri dengan muka meringis. Kedua orang gadis itu semakin kalap dan berkelahi dengan semakin dahsyat, pukulan-pukulan mereka semakin kuat dan tangguh, sehingga menimbulkan kesiuran angin yang bercuitan keras, tubuh mereka juga seperti menjadi rapat satu dengan yang lain, tidak peduli apakah mereka sekali-sekali terserang oleh pihak lawan.
Rambut Siauw Hoa sudah tidak rapi seperti tadi, karena duakali terkena pukulan tangan In Bwee.
In Bwe juga tidak luput dari pukulan tangan Siauw Hoa, yang tigakali telah menghantam pundak, leher dan dadanya, ketiga pukulan itu sebetulnya kuat dan berbahaya, tapi dalam keadaan nekad In Bwee seperti tidak merasa sakit oleh pukulan Siauw Hoa dan selalu membalas menyerang dengan sama hebatnya, justeru terpukul oleh lawannya membuat In Bwee semakin kalap, pakaiannya sudah tidak rapi lagi, tapi tak dipedulikan.
Kedua orang Persia yang jadi pengawal Siauw Hoa berdiri di pinggir dengan sikap bersiap-siap, jika majikan mereka terdesak atau terancam, mereka akan menyerbu untuk membantui majikan mereka. Kedua orang Persia itu mengawasi tajam sekali.
Giok Han benar-benar bingung, dia selalu bersera nyaring: "Berhentilah ! Dengar
dulu kata kaiaku ! Oooo. kalian apa untungnya berkelahi seperti itu . . . ayo berhenti ! Aku mohon, berhentilah . . . !"
Tapi usaha Giok Han untuk menghentikan perkelahian di antara kedua gadis itu tetap saja gagal. Kedua gadis itu tidak mengacuhkannya, mereka tetap berkelahi dengan seru.
Suatu kali dengan menjerit gusar Siauw Hoa menghantam sekaligus mempergunakan kedua tangannya ke dada In Bwee. sedangkan In Bwee tak berusaha menangkis, malah balas membarengi dengan pukulan kedua tangannya pada leher dan pinggang Siauw Hoa tangan kanannya dengan sikap membacok memakai tepian telapak tangan memukul leher Siauw Hoa, sedangkan tangan kirinya telah menghantam pinggang Siauw Hoa.
"Dukkkk . . . ! Bukkkk . . . !
Siauw Hoa meloncat mundur, In Bwee juga terhuyung mundur. Mereka berdua sama-sama terserang oleh pukulan lawan, In Bwee terpukul dadanya, sedangkan Siauw Hoa terpukul leher dan pinggangnya, sehingga mereka terhuyung mundur akibat kuatnya pukulan tersebut.
Namun kedua gadis ini sama-sama wanita gemblengan sehingga mereka tidak roboh, cuma muka mereka berobah agak pucat dan merah bergantian karena marah dan sakit
Tidak membuang waktu lagi Giok Han mempergunakan kesempatan tersebut melompat menyelak ditengah-tengah kedua wanita tersebut sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Berhenti . . . dengarkanlah dulu kata-kataku !"
Siauw Hoa mengawasi mendelik, pada pemuda yang pernah menarik hatinya, pemuda yang tampan dan sempat mencuri hatinya, yang selalu dipikirkannya, tapi sekarang entah mengapa dia melihat Giok Han dengan perasaan benci dan marah.
Dia tidak meladeni Giok Han, cuma mendengus dan meloncat mundur ke dekat kedua orang pengawalnya. "Tangkap kedua pemberontak itu !" perintahnya kepada kedua orang Persia itu sambil menunjuk Giok Han dan In Bwee.
Kedua orang Persia itu memiliki tubuh tinggi besar, mereka membentak bengis sambil meloncat kedepan Giok Han dan In Bwee tangan mereka juga bekerja, menghantam kepada In Bwee dan Giok Han. Masing-masing melakukan penyerangan yang bisa mematikan.
Giok Han mengerutkan alisnya, mendongkol melihat kedua orang Persia menyerangnya dan In Bwee dengan pukulan ganas dan mematikan. Dia berseru nyaring, tubuhnya tahu-tahu berkelebat ke samping kiri, dia sudah berada di belakang orang Persia yang ada di sebelah kiri, berbareng telapak tangannya menghantam pundak orang Persia itu.
Tapi, orang Persia ini tidak percuma jadi pengawal Siauw Hoa, karena kepandaiannya bukan sembarangan, dia mengetahui ancaman bahaya dari arah belakangnya, tangannya yang gagal menyerang Giok Han tidak ditarik pulang, melainkan disapukan ke belakang sambil berteriak, karena dia memakai tenaga yang jauh lebih besar dikerahkan kepada tangannya.
Hebat bukan main, angin pukulannya itu bercuitan nyaring, sehingga orang segera bisa mengetahui jika pukulan ini mengenai sasaran, niscaya akan menyebabkan Giok Han sedikitnya terluka parah !
Tapi Giok Han tidak membatalkan pukulannya biarpun melihat lawannya balas menyerang begini dahsyat padanya. Tangannya rurua terus dengan tenaga kuat dan beradu dengan tangan orang Persia tersebut. Terjadi benturan dahsyat, Giok Han terkejut juga, karena dirasakan pergelangan tangannya tergetar, rupanya tenaga pukulan orang Persia itu benar-benar kuat.
Sedangkan orang Persia itu tidah kurang kagetnya, tangannya jadi lumpuh tak bisa digerakkan sesaat lamanya, saking kagetnya dia sampai menjerit dan mukanya berobah memperlihatkan dia terheran-heran.
Orang Persia yang seorangnya lagi sudah meloncat kedekat In Bwee dan menyerang bertubi-iubi. Keduanya jadi bertempur sengit sekali, sebab In Bwee telah melayaninya dengan mempergunakan ginkangnya, sebentar-sebentar gadis ini meloncat ke sana-sini lincah bukan main, seperti mempermainkan orang Persia itu.
Tubuh orang Persia yang jadi lawannya tinggi besar, memiliki tenaga sangat kuat, karena itu In Bwee tidak mau melayaninya dengan kekerasan, dia bertempur dengan mengandalkan kelincahannya. Beberapakali hampir saja pukulan orang Persia itu mengenai dirinya, tapi dia bisa menyelamatkan dirinya.
Sebetulnya In Bwee hendak mempergunakan peluru asapnya, tapi akhirnya dia membatalkan keinginannya tersebut, sebab dia tahu jika mempergunakan peluru asapnya, biarpun dia berhasil merubuhkan lawannya, tentu Siauw Hoa akan mengejeknya.
Karena itu, dia ingin memperlihatkan kepandaiannya bahwa dia bisa merobohkan pengawal Siauw Hoa ini dengan mempergunakan ilmu silatnya, tanpa bantuan peluru asapnya. Beberapa kali setiap ada kesempatan dia balas menyerang, dengan pukulan-pukulan yang dahsyat.
Cuma saja, karena kuatnya tubuh lawan tersebut, sehingga biarpun beberapakali dadanya terkena pukulan tangan In Bwee yang terisi tenaga dalam yang kuat tetap saja dia tidak roboh
Orang Persia itu sendiri semakin lama semakin penasaran karena beberapa pukulannya selalu mengenai tempat kosong, dielakkan oleh In Bwee.
Dia yakin, kalau gadis itu coba menangkis pukulannya, tentu dia bisa merobohkan gadis ini. Tapi justeru In Bwee seperti main kucing-kucmgan, sehingga dia selama itu tidak bisa mendesak terlalu hebat kepada lawannya yang selalu melejit ke kiri maupun ke kanan.
Saking penasarannya, beberapakali orang Persia tersebut meloncat berjingkrak dan meraung sambil mendesak semakin hebat.
Untuk merobohkan orang Persia itu bukan kesulitan yang berarti buat Giok Han. Tapi dia sudah mengetahui kedua orang Persia ini adalah pengawal Siauw Hoa, karenanya dia sungkan turunkan tangan keras pada lawannya.
Tapi, setelah orang Persia itu mendesak semakin kalap, di samping itu Giok Han melihat In Bwee juga didesak oleh rangsekan hebat orang Persia yang satunya, maka akhirnya Giok Han memutuskan untuk merobohkan dulu kedua orang Persia itu.
"Sahabat, jika kau tak mau berhenti menyerang untuk membiarkan majikanmu mendengarkan keteranganku, akan merugikan dirimu sendiri!" bilang Giok Han dengan suara yang nyaring.
Orang Persia itu tidak peduli dengan ancaman Giok Han, karena badannya sudah meloncat ke depan lebih dekat pada Giok Han, dibarengi teriakannya yang bengis kedua tangannya diulurkan hendak mencekik lerer Giok Han.
Habislah kesabaran Giok Han. Dia tidak bergerak lebih jauh untuk mengelakkan kedua tangan lawannya, dia menunggu sampai kedua tangan lawannya sudah dekat, barulah dia membentak diiringi kedua tangannya menyelusup naik ke atas di antara sela-sela kedua tangan orang Persia itu, kemudian Giok Han membentangkan kedua tangannya, sehingga kedua tangan orang Persia itu tertolak ke kiri-kanan, dadanya jadi lowong terbuka tanpa penjagaan.
Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Giok Han, tahu tahu tangannya sudah menjadi satu, menghantam kedepan, ke ulu hati orang Persia itu "Dukkkkkk .... !"
"tangan Giok Han telah menghantam ulu hati orang Persia itu, badan yang tinggi besar itu terhuyung ke belakang dengan diiringi teriakan kesakitan, mukanya juga pucat.
Giok Han bertindak cepat, dia meloncat ke dekat In Bwee, tangannya juga bekerja mencengkeram baju dipundak orang Persia yang jadi lawan si gadis. Berbareng dengan itu ia memusatkan tenaga dalamnya, membentak nyaring, melontarkan tubuh yang tinggi besar itu.
Orang Persia yang satu tersebut, yang sedang mendesak In Bwee, kaget ketika baju dipunggungnya dicengkeram Giok Han, bahkan tahu-tahu tubuhnya sudah terbang di tengah udara, mati-matian dia berusaha untuk mengendalikan tubuhnya supaya tidak terbanting ditanah, dia berusaha mengimbangi badannya. Tapi usahanya itu gagal, sebab badannya terbanting jatuh di tanah, kepalanya pusing bukan main.
Tidak kepalang marah dan mendongkol Siauw Hoa menyaksikan peristiwa ini, karena dua orarg pengawalnya dirobohkan oleh Giok Han. Dia menjerit nyaring, tubuhnya meloncat kedepan sambil tangannya merabah pinggangnya.
"Sreengggg...!" tahu-tahu berkelebat sinar yang berkilauan putih gemerlapan, ditangan Siauw Hoa sudah tercekal sebatang pedang, yang menikam lurus ke leher Giok-Han!
Giok Han menghindari tikaman itu, dia-heran mengapa Siauw Hoa yang sebelumnya begitu ramah dan baik hati, sekarang tampak jadi demikian telengas, pedangnya meluncur dengan tikaman-tikaman yang mematikan tanpa memberikan kesempatan kepada Giok Han untuk balas menyerang.
In Bwee mendongkol melihat Siauw Hoa menyerang Giok Han dengan gencar dia ce-pat-cepat berseru. "Perempuan tidak tahu malu, akulah lawanmu ! Mari kita bertanding 10 jurus lagi!"
Memang Siauw Hoa membenci In Bwee setengah mati, karena menganggap In Bwee sebagai saingannya. Sekarang mendengar tantangan In Bwee tidak perlu sampai dua kali, pedangnya tahu-tahu berobah arah, sasarannya jadi diganti, bukan Giok Han lagi, melainkan In Bwee.
Pedang menyambar-nyambar dengan ujungnya yang bergetar, sehingga tampaknya pedang itu bisa berobah menjadi belasan mata pedang yang memusingkan kepala.
In Bwee juga tidak tinggal diam, cepat luar biasa tangannya menghunus senjata, sebatang pedang pendek, dia menghadapi serangan Siauw Hoa dengan tak hentinya mengejek.
"Perempuan tidak tahu malu mengapa engkau seperti perempuan sinting yang tidak hujan tidak angin menyerang kami? Hmmm, apa kekuasaanmu sehingga menyebut kami berdua sebagai pemberontak?"
Siauw Hoa mendengus, dia tidak melayani ejekan In Bwee melainkan pedangnya seperti hujan telah menikam dan menabas In-Bwee, sedetik juga dia tidak memberikan kesempatan pada ln Bwee untuk balas menyerang padanya. Yang luar biasa justeru cara menyerangnya itu selalu datang beruntun seperti sambung menyambung tidak berkeputusan.
Benar Cang ln Bwee memiliki kepandaian tinggi merupakan wanita gemblengan namun menghadapi serangan pedang yang datangnya seperti kalap dan nekad, membuat dia harus main mundur dan selalu berusaha mengelakkan dulu tanpa memperoleh kesempatan untuk balas menikam pada lawannya.
Pedang pendeknya berkelebat-kelebat dan terkadang diputar unluk menutupi dirinya dengan sinar pedangnya tersebut, sehingga semua serangan Siauw Hoa dapat dibendung-nya dengan baik.
Waktu itu Giok Han tambah bingung. Jika sebelumnya Siauw Hoa dan In Bwee bertempur dengan tangan kosong, tapi sekarang memakai pedang. Perkelahian dengan senjata tajam sangat berbahaya, sedikit saja lengah tentu salah seorang, diantara mereka akan terluka atau terbinasa.
Karena itu berulangkali Giok Han berseru agar kedua gadis itu berhenti bertanding. Sampai akhirnya setelah berseru-seru terus tanpa diladeni oleh kedua gadis tersebut, Giok Han tidak sabar lagi, apa lagi melihat serangan-serangan kedua gadis itu dalam perkelahian dengan pedang berlangsung semakin cepat dan mematikan.
Dengan cepat Giok Han meloncat ke tengah gelanggang. Sekarang dia bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Tubuhnya menyelinap diantara kedua pedang yang sedang rnenyambar-nyambar itu, kedua tangannya bergerak dan dengan gerakan sangat manis dia berhasil menjepit pedang Siauw Hoa maupun pedang pendek In Bwee.
Kedua pedang itu terjepit kuat sekali, sehingga tak bisa bergerak lebih jiuh. Sungguh kepandaian yang sangat mengagumkan, karena sekaligus Giok Han bisa menjepit kedua pedang itu, apa yang dilakukannya sebenarnya sangat berbahaya karena jika dia melakukan suatu kekeliruan, bagaimana kecilnya sekalipun, niscaya jari tangannya buntung terbabat oleh pedang. Begitu juga kalau sinkangnya kurang kuat, niscaya berbahaya sekali melakukan tindakan seperti itu.
In Bwee dan Siauw Hoa terkejut karena tahu-tahu pedang mereka terjepit di kedua tangan Giok Han dan tidak bisa digerakkan lebih jauh. Kalau In Bwee berdiam diri dan tidak berusaha menarik pedangnya dari jepitan Giok Han, lain dengan Siauw Hoa yang mati-matian mengerahkan tenaga dalamnya buat menarik terlepas pedangnya dari jepitan tangan Giok Han. Namun usahanya itu tidak berhasil, jepitan Giok Han kuat sekali.
"Nona, sabar, tenanglah, dengarkan dulu keteranganku...!" Giok Han coba membujuk.
Muka Siauw Hoa merah padam, dia marah dan penasaran bukan main. "Laki-laki mata keranjang, genit dan tidak tahu malu!" Teriak Siauw Hoa sambil menarik sekuat tenaga pedangnya agar terlepas dari jepitan tangan Giok Han. Dimaki seperti itu tentu saja Giok Han jadi bengong.
Dia mata keranjang ? Genit ? Tidak tahu malu ? Kenapa ? Benar-benar membuat Giok Han tidak mengerti.
Waktu dia bengong seperti itulah tenaga menjepit jari tangannya pada pedang Siauw Hoa jadi mengendur tanpa disadarinya, Siauw Hoa telah menarik pedangnya sekuat tenaga sehingga pedang lolos dari jepitan jari tangan.
Dia malah membarengi dengan menikam dan tangan kirinya menghantam sekuat tenaga pakai telapak tangan pada dada Giok Han, angin pukulan itu menderu deru menerbangkan baju Giok Han yang jadi berkibar-kibar. Rupanya Siauw Hoa benar-benar telah kalap dan hendak menyerang untuk mematikan Giok Han maupun In Bwee.
Giok Han cepat sadar, dia berseru nyaring, kedua tangannya tampak menyambar lagi hendak menjepit pedang Siauw Hoa. Namun sekali ini Siauw Hoa benar-benar telah waspada, tadi pedangnya telah terjepit oleh jari tangan Giok Han. merupakan pelajaran pahit untuknya, membuat dia berhati-hati waktu menyerang.
Kini, melihat jari tangan Giok Han hendak menjepit pedangnya lagi, dia segera menggetarkan pedangnya, mau tak mau Giok Han harus membatalkan maksudnya mejjepit pedang lawan, menarik pulang tangannya dengan segera, sebab jika dia meneruskan usahanya untuk menjepit pedang gadis ini, pasti jari tangannya terbabat putus oleh pedang itu !
"Nona !" berseru Giok Han sambil mengelakkan pukulan tangan kiri Siauw Hoa. "Apakah benar-benar kau tidak bisa diajak bicara baik-baik ?"
Siauw Hoa gagal dengan dua serangannya itu, tikaman pedang dan pukulan telapak tangan kirinya, dia tidak melanjutkan penyerangan lainnya, badannya ringan meloncat ke belakang, mukanya merah padam dan pucat bergantian, mendelik pada Giok Han dan In Bwee berganti-gantian.
"Ingatlah, kemanapun kalian pergi, aku akan tetap mengejar kalian, kalian akan menerima pembalasan yang jauh lebih hebat dari penghinaan yang kalian lakukan padaku hari ini !" mengancam Siauw Hoa dengan suara tersendat-sendat, karena gadis ini berusaha menahan isak tangisnya, dia tidak mau menangis di depan Giok Han dan In Bwee, gadis yang jadi saingannya itu.
Heran dan tertegun Giok Han mendengar ancaman Siauw Hoa. Penghinaan apa yang telah dilakukannya terhadap Siauw Hoa ? Mengapa gadis ini tampaknya demikian membenci dan sakit hati begitu besar padanya dan In Bwee.
"Dengar dulu Siauw Hoa kau keliru dan salah paham...!" Giok Han hendak menjelaskan.
Tapi Siauw Hoa sudah memutar tubuhnya dengan pedang masih tercekal di tangannya, dia memberi isyarat kepada kedua orang Persia yang tengah merangkak bangun untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tangan kirinya memperbaiki baju di pundaknya yang robek, agar kulit pundaknya yang putih itu tidak kelihatan.
Luka baju bisa ditambal, tapi luka di hati mana bisa ditambal ? Pukulan-pukulan yang tadi jatuh ditubuhnya waktu bertempur dengan In Bwee tidak dirasakan sakit, karena yang sakit adalah hatinya. Dia penasaran sekali mengetahui pemuda yang dipikirkannya siang malam ini ternyata mencintai gadis lain, musnah harapannya yang semula telah tumbuh semakin lama semakin subur. Seperti pohon yang mendadak disiram oleh guyuran air panas, sehingga seketika pohon yang baru mau tumbuh itu jadi mati !
Cinta dan Benci sebetulnya terpisah tidak terlalu jauh," tidak lebih dari selembar rambut dibelah tujuh. Perbatasan yang ada di antara dua perasaan itu memang sangat tipis sekali. Seseorang yang gagal dalam cinta, bisa mendadak jadi membenci kepada orang yang pernah dicintainya.Bahkan bencinya itu hebat sekali, perasaan benci yang seperti merasuk tulang maupun daging di sekujur tubuhnya.
Demikian juga halnya dengan Siauw Hoa dia pergi dengan menahan isak tangisnya dan menenteng pedangnya, meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Giok Han yang berdiri tertegun karena bingung disamping In Bwee.
Sedangkan In Bwee tersenyum mengejek, senang hatinya bisa melayani Siauw Hoa, sehingga wanita itu akhirnya pergi sendirinya. Yang membuat In Bwee puas dia tidak sampai roboh di tangan Siauw Hoa.
Benar kepandaian In Bwee tinggi dan dia merupakan wanita gemblengan namun ilmu pedang Siauw Hoa tampaknya merupakan ilmu pukulan dan pedang yang lihai, karena setiap jurusnya mengandung hawa pukulan dan tikaman yang mematikan!
Setelah bertempur dengan Siauw Hoa sekian banyak jurus, In Bwee di dalam hati harus mengakui bahwa sebenarnya kepandaian Siauw Hoa lebih tinggi satu tingkat darinya. Cuma yang membuat In Bwee heran, mengapa gadis secantik dan sehalus Siauw Hoa bisa memiliki kepandaian begiiu tinggi dan aneh pula perangainya.
Dia tahu bahwa Siauw Hoa juga menaruh hati pada Giok Han, tapi adatnya yang angkuh dan sombong membuat Siauw Hoa tidak bisa diajak bicara baik-baik, malah tadi saja dia memperlihatkan kebencian yang berlebih-lebihan kepada Giok Han dan In Bwee.
Sikapnya itu seperti sikap seorang pembesar kerajaan yang perintahnya tidak diindahkan, atau maksud hatinya ditentang
Sambil memasukkan pedang pendek ke dalam sarungnya. In Bwee tertawa.
"Giok Han koko . . . dia sangat mencintaimu!" katanya dengan suara halus.
Muka Giok Han berobah merah, dia tersadar dari tertegunnya menoleh mengawasi In Bwee, yang waktu itu juga sedang memandanginya dengan pipi yang merah dan bibir tersenyum.
"Kau jangan bergurau, Bwee-moay... kau telah mengetahui isi hatiku, jangan menggodaku !" kata Giok Han hati-hati, karena dia kuatir nanti timbul salah paham lagi antara dia dengan In Bwee.
Senang mendengar perkataan Giok Han seperti itu, la Bwee maju mendekati, memegang tangan Giok Han. Matanya memandang terang sekali kepada orang muda yang jadi pujaan hatinya ini, "Benarkah Han koko . . ? Apakah nanti kau tidak akan mengkhianatiku ? Mengkhianati cinta kita?" tanyanya dengan suara tergetar, walaupun dia merasa malu untuk bertanya begitu, namun kata-kata itu meluncur sendirinya dari mulutnya. Cuma saja, setelah bertanya seperti itu dia akhirnya menunduk malu dengan pipi yang berobah merah.
Giok Han tersenyum, dia memegang dagu In Bwee, mengangkat dagu si gadis sehingga kepalanya menengadah, mata mereka jadi bertemu.
"In Bwee. kau adalah gadis yang membuat hidupku jadi terang benderang, membuat hidupku menjadi ada artinya !" bilang Giok Han. "Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati cinta kita ?"
"Benarkah, Han ko ?" lirih sekali suara In Bwee, dia bertanya sambil melirik.
Giok Han mengangguk dan si gadis menjatuhkan kepalanya di dada si pemuda, menjatuhkan dirinya dalam pelukan Giok Han.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cinta memang seringkali membuat seseorang berada dalam keadaan yang lain dari sebelumnya. Begitu juga halnya dengan Siauw-Hoa. Gadis yang memang semula begitu polos dan periang, sekarang sejak jatuh hati pada Giok Han, setelah berhari-hari memikirkan pemuda itu, membayangkan wajahnya penuh kerinduan, sampai akhirnya harus menerima kenyataan yang begitu pahit bahwa pemuda yang dipujanya itu mencintai gadis lain, telah menghancurkan sifat sifatnya yang semula.
Jika sebelumnya dia begitu periang dan polos, sekarang justeru hatinya dibakar oleh dendam dan sakit hati yang dalam. Cintanya terasa dicampakkan dan hancur jadi puing-puing. Rasa bencinya membakar hati dan semakin membesar juga.
Memang, jika seseorang yang mengejar cinta, waktu-waktunya dirasakan sangat manis. Tapi begitu mengetahui bahwa dia hanya bertepuk sebelah tangan saja, niscaya timbul kekecewaan yang sangat besar, bahkan kekecewaan itu bisa membakar jiwanya, dari cinta menjadi benci yang besar dan dahsyat.
Sambil berlari-lari menenteng pedangnya, di belakangnya mengikuti kedua orang pengawalnya, Siauw Hoa menahan isak tangisnya, air matanya bercucuran membasahi pipinya, dia seperti hendak menjerit sekuat suaranya, untuk melampiaskan tekanan yang terasa begitu berat membebani hatinya maupun perasaannya.
Sebelumnya Siauw Hoa senang sekali menyaksikan panorama yang indah, pemandangan alam yang menarik hati, tapi sekarang sedikitpun dia tidak memiliki selera untuk melihat pemandangan alam di sekelilingnya.
Setelah berlari sekian lama, akhirnya gadis ini berhenti, memasukkan pedang kedalam sarung, berdiri tegak, tangannya menghapus matanya, menyusut air mata.
Kedua pengawalnya juga ikut berhenti, mereka saling pandang dan tak tahu bagaimana harus menghibur majikan mereka. Padahal mereka tahu Siauw Hoa sebetulnya jatuh hati dan mencintai Giok Han, dan kejadian tadi membuat majikan mereka jadi patah hati.
Tapi mereka tidak berani sembarangan bicara, hanya berdiam diri terpisah cukup jauh dan prajurit tidak memperhatikan kelakuan majikan mereka..
Siauw Hoa berdiri tegak cukup lama, mukanya jadi keras dan akhirnya terdengar gumamnya yang perlahan: "Tunggulah Giok Han.... nanti kau akan tahu siapa aku... aku mau lihat jika sudah sampai saatnya, apa yang akan kau lakukan terhadapku, apakah kau akan mengemis-ngemis pengampunan dariku atau tetap mencintai kambing jelek itu?!"
Dia sudah bertekad, untuk memounuh Giok Han dan In Bwee. Ya, membunuh kedua orang yang telah melukai perasaan dan hatinya. Merusak jiwanya. Menbuat dia menderita kesedihan dan ikian berat. Dia sebagai puteri Cu-kongkong, sekarang serasa menerima penghinaan yang sangat besar.
Biasanya dia dimanjakan dan setiap keinginannya di turuti, baik oleh ayahnya maupun oleh yang lain-lainnya. Tapi sekarang di saat dia jatuh cinta, cintanya itu telah terbentur kegagalan... dia jadi patah hati.
Timbul tekadnya, bagaimanapun juga dia akan membuat kedua orang itu merangkak-rangkak di bawah kakinya, menghiba-hiba pengampunan darinya. Dia tersenyum sinis dan bibirnya itu memperlihatkan betapa hatinya sangat membenci kedua orang itu. Dan tekadnya itu sudah bulat, bagaimanapun juga memang dia ingin membunuh Giok Han dan In Bwee.
Jika nanti Giok Han memohon pengampunan darinya dan menyatakan bahwa ia sebelumnya mencintai Siauw Hoa, tetap gadis ini tak akan melayani lagi. Hatinya telah luka, dia benci, benci sekali pada Giok Han. Ya. benci sekali juga pada In Bwee, gadis saingannya itu, tidak kepalang bencinya!
Tetapi, setelah hatinya dibakar oleh rasa panas dan marah yang seperti itu, dia jadi mengucurkan air mata menangis lagi. Mengapa nasibnya demikian buruk. Dia yakin dirinya lebih cantik dari ln Bwee. Jauh lebih kaya dari ln Bwee, segala apa dia punya, ayahnya orang kedua yang paling berkuasa di seluruh kerajaan.
Tapi mengapa justeru Giok Han memilih ln Bwee. Justeru dia juga telah memperlakukan Giok Han dengan manis, tapi tokh pemuda itu masih menyatakan cintanya pada ln Bwee. Bahkan ia mendengar sendiri dengan kedua telinganya pernyataan cinta Giok Han pada In Bwee. Benar benar melukai hatinya, menyayat perasaannya.
Setelah menangis cukup lama, Siauw Hoa akhirnya berlari lagi dengan cepat, seperti orang kalap. Kedua pengawalnya kaget dan cepat-cepat menyusul. Siauw Hoa bertekad hendak cepat-cepat pulang ke kotaraja, kemudian mengatur rencananya untuk mencelakai Giok Han dan In Bwe. Dia akan mengerahkan orang-orang ayahnya yang semuanya berkepandaian tinggi, untuk menyeret Giok Han dan In Bwee ke depan kakinya, dia mau lihat nanti apa yang akan dilakukan dan dikatakan Giok Han...
Rasanya Siauw Hoa tidak sabar ingin sampai di kota raja. Semula dia tak mau ikut kakaknya, Cu Lie Seng, pulang ke kota raja, karena dia hendak mengambil jalan sendiri, melakukan perjalanan sambil menikmati pemandangan alam yang indah serta menarik hati, justeru sekarang dia tidak sabar ingin cepat cepat bertemu dengan kakaknya itu.
Untuk menceritakan padanya bahwa ada dua orang pemberontak, yang masing-masing bernama Giok Han dan Cang In Bwee.... Berbagai cara dia akan pergunakan, untuk memberikan hajaran kepada Giok Han dan In Bwee yang telah melukai perasaan maupun hatinya, kalau kedua orang itu sudah merangkak-rangkak di depan kakinya seperti dua ekor anjing, barulah hati Siauw Hoa puas.
Dan hati gadis yang puteri bangsawan ini sudah semakin keras membatu, tekadnya telah berkarat di hatinya!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Burung kulik memperdengarkan suaranya yang panjang dan kepak sayapnya juga seringkali terdengar. "Kelepak... kelepak...." di antara suaranya angin yang mempermainkan daun-daun dari pohon-pohon yang bertumbuhan di hutan kecil itu.
Bunyi dari suara binatang-binatang hutan itu merupakan keadaan yang tetap setiap hari di hutan tersebut. Manusia boleh tua dan mati, pohon boleh tua dan mati, burung dan binatang lainnya boleh mati, tapi keadaan di hutan itu tak akan berobah. Selalu diisi oleh suara binatang penghuni hutan tersebut.
Tapi di antara suara-suara binatang penghuni hutan tersebut, justeru sore itu ditambah juga oleh suara desah manusia yang memburu keras. Rupanya, di dalam hutan kecil itu, dibalik pohon-pohon yang rimbun dan tersembunyi, duduk seorang manusia.
Dia seorang nenek tua yang mukanya pucat dan tubuhnya menggigil, napasnya memburu keras sekali, tampaknya tengah menderita sesuatu yang kurang beres puda tubuhnya. Beberap kali nenek tua itu berusaha mengempos semangat dan tenaga dalamnya untuk bertahan agar tidak menggigil seperti itu, namun usahanya gagal.
Tubuhnya menggigil semakin keras, mukanya yang pucat memperlihatkan dia sangat menderita, meringis seperti sedang menahan rasi sakit yang hebat.
Nenek tua itu tidak lain dari Toat Beng Sin ciang Khu Cian. Dia waktu melarikan diri dari lembah dalam keadaan terluka parah, akibat tangan maut Tang San Siansu yang mempergunakan pukulan "Liong beng-kun"nya.
Sebetulnya, kalau waktu itu Toat-beng-sin-ciang memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan mempergunakan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan diri, lukanya tidak terlalu parah, setidak-tidaknya dia bisa mengendalikan tubuhnya tidak menderita rasa sakit di dalam tubuh yang hebat seperti sekarang, di mana seluruh isi perutnya seakan terbalik-balik dan sangat menyiksanya.
Tapi justeru tadi Toan Yok telah minta agar dia meloloskan diri lebih dulu, dengan terpaksa dia menuruti permintaan Toan Yok, dia berlari-lari dengan mempergunakan ginkangnya untuk menjauhi lembah dan mencari tempat persembunyian.
Setelah berlari-lari sekian lama, dia sampai di hutan kecil ini. Sebetulnya Toat-beng sin-ciang masih hendak menyingkir lebih jauh, tapi mendadak napasnya sesak, tenggorokannya kering, napasnya seperti tertutup dan sesak sekali dadanya.
Seluruh isi perutnya seperti jungkir balik berantakan, mendatangkan rasa sakit tidak terkira. Karenanya, dia membatalkan keinginannya untuk menyingkir lebih jauh, dia duduk di bawah sebatang pohon di balik kerimbunan pohon, sehingga dia tersembunyi dari pandangan orang yang lewat di hutan kecil tersebut.
Cepat-cepat dia memusatkan tenaga dalamnya dan menghirup hawa udara dalam-dalam. Hatinya tercekat.
Dia merasakan jantungnya sakit dan perih sekali, seperti disiram oleh cuka disusul kemudian seluruh isi perutnya seperti jungkir balik, membuat dia mandi keringat dingin menahan rasa sakit yang tak terkira.
Saat itulah Toat-beng-sin ciang Khu-Ci an menyadari dirinya sudah terluka parah oleh "Liong beng-kun''nya Tang San Siansu. Hatinya jadi dingin. Biasanya, jika seseorang jadi korban pukulan "Liong beng-kun" Tang San Siansu, tipis harapan bisa hidup terus. Yang membuat Toat-beng-sin-ciang penasaran justeru dia kemungkinan tak memiliki kesempatan untuk membalas sakit hatinya ini.
Ada lagi yang memberatkan hatinya, muridnya sekarang tidak berada didekatnya, jika dia harus mati di tempat ini, tentu muridnya tak mengetahui. Yang terpenting muridnya juga tak mengetahui bahwa yang menyebabkan kematiannya adalah Tang San Siansu sehingga muridnya itu tak bisa membalaskan sakit hatinya.
Mati-matian Toat-beng-sin-ciang mengerahkan tenaga dalamnya, dia juga sudah menelan beberapa pil obat, Kemudian duduk bersemedhi guna mencurahkan seluruh konsentrasi pengerahan sinkangnya. Perlahan-lahan rasa sakit di perutnya dan dijantungnya berkurang walaupun masih tetap terasa sakit menyiksa.
Cuma napas Toat beng-sinciang yang sekarang jadi memburu keras serta panas sekali.
Seharian dia berusaha mengerahkan sinkangnya untuk mengalahkan siksaan lukanya itu. Tapi dia gagal. Perasaan sakit pada perutnya tak bisa juga dilenyapkan.
Sebetulnya Toat-beng-sin-ciang pun boleh bersyukur, sebab dia terpukul tidak terlalu telak, tidak terduga sepenuhnya! Kalau saja dia terserang telak oleh pukulan "Liong-beng-kun" biarpun dia mempunyai obat dewa dan tenaga sinkang yang sempurna, jangan harap dia bisa hidup dengan keadaan utuh!
Seseorang yang jadi korban pukulan Li-ong beng-kun tentu akan rusak isi perut dan syarafnya, akan menjadi manusia patung yang lupa seluruh daya ingatnya syaraf-saraf otaknya banyak yang putus dan orang itu akan jadi seperti orang tolol, apapun tidak diingatnya lagi.
Beberapa organ isi tubuhnya juga rusak, termasuk beberapa macam isi perutnya, usus, ginjal dan jantung. Semuanya mengalami kerusakan perlahan-lahan tapi pasti, sehingga setelah melewatkan waktu satu tahun, korban pukulan Liong beng-kun tersebut, jadi mati sendirinya!
Toat-beng-sm ciang bukan tidak mengetahui hal itu. Dia telah mendengar kehebatan Liong-beng-kun dari Tang San Siansu. Namun sejauh itu dia masih yakin bahwa dirinya bisa menghadapi Tang San Siansu. Namun siapa sangka, justeru sekarang dia terluka ditangan Tang San Siansu, kemungkinan dirinya akan jadi lumpuh dan ingatannya lenyap, dia akan hidup sebagai manusia tanpa ingatan seperti patung, tapi bernapas dan hidup.
Kelak setelah setahun barulah dia mati . . . , , !
Menggidik Toatbeng sin ciang berpikir hal itu disebabkan dia takut mati! Sebagai wanita gemblengan, seorang pedekar wanita yang sejak kecilnya sudah memiliki jiwa gagah dan kesatria, apa lagi sekarang usianya sudah demikian lanjut, dia tidak pernah gentar menghadapi kematian !
Diapun bahkan senang dan bahagia kalau bisa mati secara gagah dalam pertempuran dengan lawan tangguh ! Tapi sekarang yang membuat dia jadi penasaran dan menggidik ngeri, sebab dia akan mati meroyot perlahan-lahan, karena anggota dalam tubuhnya mengalami kerusakan secara perlahan-lahan, namun pasti, sampai akhirnya dia mati !
Inilah cara kematian yang hina ! Cara kematian yang memalukan dan membuat dia kecewa! Seorang pendekar harus mati dengan penuh kegagahan! Mati karena suatu pertempuran dan mempertahankan hidupnya sampai pada titik akhir darahnya, tetap melayani musuhnya sampai napasnya yang terakhir !
Tapi sekarang ? Dia telah melarikan diri dalam keadaan terluka ! Dia juga sekarang menderita luka yang sangat parah, perlahan-lahan anggora dalam tubuhnya akan mengalami kerusakan dan pada akhirnya dia mati juga !
Terpikir seperti itu, dia menyesal bukan main ! Dia kecewa karena tadi tidak berusaha mengadu jiwa saja dengan Tang San Siansu agar mereka mati bersama-sama !
Sekarang biarpun dia bisa meloloskan diri dari Tang San Siansu dan orang-orangnya, apa gunanya? Tak ada artinya, karena tokh dia akan mati juga oleh lukanya yang parah ini !
Lama Toat beng-sin ciang mengerahkan sinkangnya, dan akhirnya dia menghela napas selelah merasakan isi perutnya masih mendatangkan rasa sakit yang hebat, seperti terbalik-balik. jantungnya juga masih dingin seperti direndam di dalam salju.
"Akan kucari Tang San Siansu si gundul untuk mengajaknya mengadu jiwa!" pikir Toat-beng-sin ciang jadi nekad. Hemm, dia bisa membunuhku, tapi dia juga harus mati bersamaku!"
Karena berpikir begitu, Toat beng sin-ciang meloncat berdiri, dia ingin kembali ke lembah, untuk mengadu jiwa dengan Tang San Siansu atau anak buahnya. Jika dia gagal membunuh Tang San Siansu, tapi kalau bisa merobohkan beberapa orang anak buah si pendeta, itupun sudah jauh lebih terhormat mati dengan membunuh lawan lawannya.
Sedangkan mati dengan keadaan seperti sekarang, melarikan diri tapi lukanya tetap ? membuat dia akan mati, membuat Toat-beng-sin-ciang benar-benar penasaran.
Akan tetapi, begitu Toat-beng-sin ciang berdiri segera dia merasakan dunia seperti berputar keras sekali, tubuhnya seperti melayang-layang melambung kecengah udara, juga perutnya melilit sakit bukan main, keringat dingin telah mengucur keluar dari sekujur tubuhnya, Matanya berkunang-kunang dan biji matanya seperti mau meloncat keluar, kepalanya berdenyut-denyut seperti hendak meledak pecah, seluruh syarafnya seperti hendak putus.
Toat-beng-sin-ciang mengeluh perlahan dan tubuhnya terguling di atas tanah, di atas tumpukan daun-daun kering, dunia seperti berputar, pinggangnya seperti mau patah, seluruh otot-otot disekujur tubuhnya seperti mengejang.
Benar-benar penderitaan yang luar biasa. Sebagai wanita gemblengan Khu Cian atau yang dikenal oleh orang kangouw dengan gelaran Toat-beng-sin ciang, sejak muda tidak pernah takut pada penderitaan.
Bersambung ke jilid 27
This entry was posted
on Senin, Agustus 02, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar