Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 28
"Iblis tidak tahu malu !"
Kata-kata makian itu membuat Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan terkejut juga marah, dia sampai memutar tubuhnya dengan cepat dan tangan kanannya bergerak menghantam ke arah gerombolan pohon dari mana datangnya suara makian tersebut.
Angin pukulan itu bercuitan karena Bwee-sim-mo-li mempergunakan jurus pukulan menghantam udara kosong disertai tenaga sinkang yang kuat, maka tak heran daun daun beterbangan kena di sambar tenaga pukulan yang sangat dahsyat itu.
Berkelebat sesosok bayangan sambil memperdengarkan tertawa dingin, meloncat keluar dari tempat persembunyiannya di belakang pohon-pohon yang rimbun, karena angin pukulan itu jelas kuat sekali dan jika dia menangkis pasti akan membahayakan keselamatan dirinya, dia dalam keadaan berjongkok.
Bwe-sim-mo li tidak mau memberikan kesempatan kepada orang yang sejapat memakinya itu buat mengadakan persiapan, setelah pukulan tangan kanannya berhasil memaksa orang itu keluar dari tempat bersembunyinya, tanpa menunggu sampai kedua kaki orang itu hinggap di tanah, badan Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan telah melesat sangat cepat dan ringan, kedua tangannya bergerak-gerak seperti cakar naga yang hendak mencengkeram mangsanya, dari kedua telapak tangan Bwee-sim-mo li meluncur angin pukulan yang dahsyat.
Orang itu berseru kaget, dia mati-matian menangkis memakai kedua tangannya, sebab sudah tidak keburu mengelakkan lagi pukulan iblis yang ganas ini. Tapi, tenaga dalamnya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan tenaga dalam Bwee-sim-mo-li, sebab begitu tenaga dalam mereka saling bentur, tak ampun lagi badan orang itu terpental berguling-guling di tanah diiringi jerit kesakitan !
Bwee-sim-mo-li diam tak mengejar lebih jauh, dia membiarkan orang itu meloncat berdiri, dan melihat pakaian orang itu penuh tambalan, berpakaian sebagai pengemis, yaitu anggota dari Kaipang!
"Hmm, kukira siapa, tak tahunya kura-kura miskin melarat dari kaipang!" mengejek Bwee-sim-mo-li tawar. "Baik, kau sudah bosan hidup rupanya berani mengintip apa yang kulakukan ! Setiap orang yang bertemu denganku sebetulnya sudah lebih dari cukup untuk aku membunuhnya, apalagi sekarang kau demikian kurang ajar berani mengintai apa yang kulakukan !"
Pengemis itu memang anggota kaipang usianya baru tigapuluh tahun. Di dalan kaipang dia dipanggil dengan sebutan Lo kan,kepandaiannya cukup tinggi dan menduduki tingkat keempat. Tadi dia memang kebetulan sekali lewat di dekat tempat di mana Bwee-sim mo-li tengah memaksa Su Nan Su untuk mengisi kesepian hatinya.
Sebetulnya pengemis ini, yang tengah ikut Toan Yok untuk memata-matai semua rombongan Cu Lie Seng ingin sekali keluar untuk melabrak Bwee-sim-mo li, tapi dia menyadari kepandaiannya tidak mencukupi untuk menandingi iblis yang kejam itu.
Karenanya dia berdiam diri saja di tempat persembunyiannya, di balik pohon-pohon yang rimbun. Dia memang menyaksikan semua yang dilakukan Liok Bi Lan terhadap Su Nan Su. Sampai akhirnya dia menyaksikan betapa kejamnya Liok Bi Lan menotok beberapa titik jalan darah mematikan di tubuh Su Nan Su, dengan tenaga totokan yang telah diperhitungkan benar sehingga Su Nan Su tidak mati di waktu itu juga, diberi kesempatan untuk pulang ke dalam kampung.
Rasa gusar dan muak melihat apa yang dilakukan Bwee-sim-mo-li, membuat Lo-kan jadi tak bisa menahan diri dan memakinya juga setelah Su Nan Su berlari-lari pergi.
Waktu itu melompat "lenyap" dari hadapan Su Nan Su, sebetulnya Bwee-sim-mo-li tidak pergi jauh, sebab dia cuma menempatkan dirinya di atas sebatang cabang pohon, berjongkok dan tertawa geli ketika melihat Su Kan Su lari terbirit-birit karena menyangka dia telah menghilang dan sebagai hantu cantik yang sangat menakutkan sekali."
Lo kan berada di tempat itu juga secara kebetulan. Dia diperintahkan Toan Yok, pangcunya, untuk menyelidiki keadaan orang-orangnya Cu Lie Seng. Dan dia bertemu dengan Bwee-sim-mo-li, walaupun jeri, tapi dia gagah sekali, dia tidak segera lari meninggalkan tempat itu, karena Lo kan ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan Liok Bi Lan membawa-bawa Su Nan Su.
Dan akhirnya Lo-kan mengerti apa yang mereka lakukan di tempat itu, setelah menyaksikan sendiri semua yang dilakukan Bwee-sim mo-li dan Su Nan Su. Sungguh memuakkannya.
Tetapi sekarang dengan saling beradunya kekuatan tangkisan yang dilakukannya dengan tenaga pukulan Bwee-sim-mo-li dia semakin yakin bahwa dirinya bukan tandingan iblis yang jahat dan kejam ini. Maka dia pikir jalan yang paling baik adalah menyingkir, karena percuma saja jika dia melakukan perlawanan.
Sambil meloncat berdiri dia memutar tubuhnya hendak melesat pergi dari tempat itu dengan mempergunakan ginkangnya. Tapi, baru saja tubuhnya melesat ke tengah udara, tiba-tiba melesat beberapa sinar terang dan kedua pahanya dirasakan sakit bukan main, membuat dia menjerit dan rubuh terjungkel lagi di tanah, dengan kedua kaki lumpuh tak bisa berdiri lagi, sebab Bwee-sim mo li telah menyerangnya dengan jarum beracunnya !
"Hemmm !" si iblis melangkah menghampiri dengan muka dingin pada pengemis ini.
"Kau harus mati. Sudah ku katakan tadi, siapa saja, bertemu denganku berarti dia harus mati, apa lagi kau yang dengan sengaja mengintai apa yang kulakukan! Kematianmu tentu saja bukan cara yang enak, harus perlahan-lahan!"
Lo kan nekad, dia tahu tak mungkin lolos dari tangan ibis yang kejam ini. Maka jalan satu-satunya ialah mengadu jiwa dengan iblis tersebut. Melihat Bwee sim-mo-li tengah melangkah menghampirinya, tahu-tahu tangan dirinya menekan tanah, tubuhnya melesat menubruk si iblis dengan tangan kanan menyambar ke dada Bwee-sim mo-li, maksudnya hendak mengadu jiwa.
Dia tidak peduli lagi dengan penjagaan dirinya dan keselamatannya, juga tangan kirinya ikut melakukan serangan tenaga pukulannya bercuitan, dia telah mempergunakan seluruh Lwekang-nya
Bwee sim mo li benar-benar lihai, karena sedikitpun dia tidak berkisar dari tempatnya.berdiri. Matanya saja mengawasi tajam dan waktu kedua tangan pengemis ini hampir mencapai sasaran, tahu-tahu dia menekuk ke-dua lututnya, dan kedua tangannya dilonjorkan.
"Nggggekkkkk... Blesssss!"
Sepuluh jari tangan Bwee-sim- mo li menancap dalam sekali dada si pengemis, mata Lo-kan mendelik, mulutnya terbuka lebar, seperti juga dia tidak percaya pada jurus yang begitu aneh dan cepat, di mana kesepuluh jari tangan iblis tersebut bisa menembusi dadanya tanpa dia melihat gerakan kedua tangan iblis tersebut, dan akhirnya tubuhnya mengejang, waktu Bwee-sim-mo-li menarik ke sepuluh jari tangannya dari dada si pengemis, badan Lokan terguling dengan dada mengeluarkan darah sangat banyak, memancur... kemudian berkelojotan sejenak, terdengar suara di tenggorokannya dan tubuhnya kemudian diam kaku, tak bergerak lagi mati.
Bwee-sim-mo Ii tertawa mengejek, dia mempergunakan baju korbannya untuk menyusut tangannya, agar bersih dari lumuran darah, Kemudian seperti tidak terjadi sesuatu dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi meninggalkan mayat Lokan menggeletak disitu. Tubuh Bwee-sim-mo li melesat berkelebat, lenyap dalam kegelapan malam . . .
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Malam memang selalu gelap. Tapi tidak ada sesuatu yang abadi, kegelapan itu akhirnya lenyap dengan munculnya matahari fajar menggantikan rembulan untuk menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat, mengusir kegelapan.
Tapi disaat fajar mulai menyingsing, tampak balasan sosok tubuh sedang menuju ke suatu tempat yang tampak merupakan tujuan mereka. Semuanya membekal senjata tajam, sikap mereka penuh kewaspadaan, dan yang lebih luar biasa semua orang berpakaian sebagai TOSU, pendeta penganut agama To.
Sikap mereka tegang, terlihat jelas dari muka masing-masing yang tak ada senyum dan serius sekali, mata mereka bersinar tajam, penuh kewaspadaan.
Didepan rombongan tosu ini, berlari seorang tosu berusia lanjut. Dia memang seorang berilmu tinggi, karena badannya ringan sekali seperti terbang berkelebat pergi mendekati tempat yang dituju, kedua kakinya seperti tidak menginjak tanah.
Waktu sampai ditempat tujuan mereka yaitu sebuah lapangan tidak begitu besar dan di kejauhan terlihat belasan tenda perkemahan semuanya berhenti berlari, Yang menjadi pemimpin rombongan tosu itu, yaitu tosu tua yang sudah berusia kurang lebih enam puluh tahun dan berjalan di sebelah depan, mengisyaratkan dengan pedangnya yang dikibaskan ke atas maka belasan tosu itu berpencar membagi diri mengambil sikap seperti mengepung.
"Hmm. . sekarang kita harus mempertaruhkan nama baik Kun lun kita, jika memang tak berhasil kita harus membuang jiwa !" menggumam tosu yang sudah tua itu kepada tosu yang berdiri di sampingnya yang menemaninya walaupun kawan-kawannya yang lain sudah berpencar mengambil tempat masing-masing disekitar tempat itu.
"Benar, suheng!" mengangguk tosu yang diajak bicara itu mungkin berusia lima puluh empat tahun, sikapnya gagah sekali, matanya bersinar tajam menunjukkan dia memiliki kepandaian tinggi. "Usaha kita sekali ini harus berhasil, jika gagal lebih baik kita tak perlu kembali ke Kun-lun-san! "
"Bagus... apakah semuanya sudah siap?" tanya pemimpin tosu-tosu itu lagi.
"Semua sudah siap, suheng" Mereka hanya menanti perintah Suheng .,..!" menyahuti tosu yang seorang itu.
Tosu tua itu mengawasi ke tenda-tenda yang terpisah tak jauh lagi yang dari tempat dia dan tosu-tosu lainnya berada. Sampai akhirnya diiringi dengan suara nyaring, badannya telah meloncat menghampiri tenda-tenda itu, diikuti oleh tosu-tosu yang lainnya.
Gerakan tubuh mereka semuanya ringan dan gesit, juga ditangan masing-masing sudah mencekal pedang yang berkilauan terkena sinar matahari pagi. Semuanya menyerbu ke tenda tenda itu.
Dari dalam tenda keluar belasan orang juga. Mereka tak lain Tang Siansu dan yang lain-lainnya. Mereka sudah mengetahui kedatangan belasan orang tosu ini, Tang San Siansu tak mau para pengawalnya menjadi kurban dan berjatuhan mati di tangan para tosu itu yang tampaknya lihai dan gagah.
Sebagai seorang yang sudah mencapai sinkang sangat tajam. Yang luar biasa justeru dia bisa menerka berapa tinggi kepandaian tamu yang tak diundang dengan hanya mendengar suara langkah kakinya saja!
Dan sekarang dia juga tahu bahwa belasan orang tosu yang menyatroni rombongannya semua berkepandaian tinggi, karenanya dia telah perintahkan Cu Lie Seng tak keluar, dia saja bersama-sama dengan Pak mo, See-mo dan yang lain-lainnya keluar menyambut.
Tosu tua itu sudah berdiri di depan Tang San Siansu, bentaknya tanpa memberi hormat kepada pendeta itu. "Kerbau gundul cepat kau berikan daftar nama orang-orang gagah dan menyerahkan orang kepada kami!"
Waktu itu Tang San Siansu sudah melihat jelas tosu tua itu. dia tertawa bergelak-gelak sampai tubuhnya ikut tergoncang. "Ah, kiranya Yuan Ci Tojin ! Siapa sangka kau datang berkunjung kemari ! Sayang aku tak bisa menyambut kedatanganmu dengan jamuan yang meriah ! "
"Jangan banyak rewel, cepat serahkan daftar nama orang-orang gagah dan menyerahkan orang pada kami ! "
"Siapa yang hendak kau minta?" Tanya Tang San Siansu dingin dan tidak memandang sebelah mata pada tosu ini, bahkan mata nya yang tajam luar biasa telah mengawasi satu persatu tosu-tosu lainnya.
"Orang yang hendak kami minta adalah muridmu, Cu Lie Seng! Dia akan kami bawa ke Kun lun.san, nanti Ciangbunjin kami akan mengadilinya !"
Tang San Siansu tetap tenang, dia tidak memperlihatkan sedikitpun perasaan kaget, malah kemudian dengan sikap mengejek dia bilang: "Kalian hendak minta muridku agar bisa dibawa oleh kalian ke Kun lun-san ?" tanyanya dingin. "Bagus ! Kukira kau sudah makan nyali macan dan gajah sehingga berani bersikap demikian kurang ajar padaku !"
Tosu tua yang jadi pemimpin rombongan tosu itu, yang tadi disebut gelarannya oleh Tang San Siansu dengan panggilan Yuan Ci Tojin, tidak mau rewel, tangan kanannya telah melepaskan jarum jarum "Bwee-hoa-ciam" yang sangat halus empat puluh batang lebih Bwee-hoa-ciam sudah menyambar ke dada Tang San Siansu.
Yuan Ci Tojin adalah tosu berkepandaian tinggi, dia melatih senjata rahasianya itu selama duapuluh tahun lamanya. Tak pernah ada orang yang sanggup menerima timpukan jarum Bwee-hoa-ciamnya, apa lagi dia memang menyerang dengan sekaligus begitu yaitu mempergunakan Bwee-hoa-ciam dengan jumlah sangat banyak, biarpun Tang San Siansu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin dia bisa lolos dari sambaran jarun Bwee-hoa-ciam.
Melatih Bwee-hoa ciam bukanlah pekerjaan yang mudah, seseorang harus melatih untuk mengendalikan dulu bobot jarum yang dipergunakan sebagai senjata rahasia, sebab tenaga menimpuk jarum-jarum yang berukuran halus dan kecil itu, harus disertai dengan sinkang kuat.
Jika tidak, jangan harap Bwee-hoa-ciam bisa memberikan hasil yang sempurna, tenaga menancapnya tentu tidak bisa terlalu kuat. Sekarang jarum-jarum Bwee-hoa-ciam itu dilepas oleh seorang ahli seperti Yuan Ci Tojin. tenaga sinkang tojin itu cukup tinggi, maka jarum-jarum itu secepat kilat telah menyambar sekujur badan Tang San siansu.
Namun Tang Siansu sediktpun tidak memandang sebelah mata pada senjata rahasia tosu tersebut, malah dengan gesit tahu tahu di tangannya sudah tercekal sebatang tombak yang diambil dari salah seorang Kim-ie-wie yang berdiri tak begitu jauh darinya.
Dan, sekali memutar tombak itu, maka rontoklah jarum-jarum Bwee-hoa ciam tersebut, sebagian menjadi bubuk, sedangkan sebagian lagi menempel di ujung tombak itu, seperti bunga bwee.
Tidak kepalang kaget dan kagumnya Yuan Ci Tojin dan kawan-kawannya melihat kehebatan sinkang Tang San Siansu. Sebagai orang yang sudah mencapai tingkat sangat tinggi maka Tang San Siansu dapat mempergunakan sinkangnya dengan baik, dia leluasa untuk menyalurkan tenaga dalamnya baik pada lengan maupun benda yang dicekalnya.
Karena tenaga dalam itu telah disalurkan pada batang tombak, maka batang tombak seperti berobah jadi besi berani yang memiliki daya menarik yang kuat, jarum-jarum tersedot keujung tombok itu dan berkumpul menempel menjadi satu seperti bunga bwee yang gompiok!
Yuan Ci Tojin menyerang, pedangnya berkelebat secepat kilat akan menikam leher Tang San Siansu, namun pedangnya dapat di-sampok oleh tombak Tang San Siansu begitu keras, sehingga pedang patah jadi dua !
Yuan Ci Tojin yang sudah nekad tidak mundur, dia menyerang terus dengan pedang buntungnya. Tang San Siansu beberapa kali memaksa tosu itu untuk merobah cara menyerangnya karena tombaknya dapat mendesak hebat sekali. Tenaga dalam tosu itu bagaimanapun memang masih berada dibawah sinkang Tang San Siansu.
Tosu-tosu lainnya sudah menyerbu, mereka menyerang Tang San Siansu. "Biarkan aku yang membereskan mereka semua !" Teriak Tang San Siansu kepada kawan-kawannya. Pak-mo dan yang lainnya jadi berdiri diam menyaksikan jalannya pertempuran tersebut tanpa ikut turun tangan, mereka diam-diam semakin kagum pada Tang San Siansu, karena dengan cara bertempur seperti sekarang ini Tang San Siansu seperti sedang mempercontohkan kepandaiannya yang memang sangat tinggi, sehingga setiap serangannya itu membikin tosu-tosu yang berjumlah belasan orang tersebut tak dapat mendesaknya sedikitpun juga.
Bahkan Tang San Siansu selalu berhasil mendesak lawan-lawannya dengan tombaknya yang digerakkan sangat dahsyat,sehingga bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara bercuitan nyaring, karena kuatnya sinkang yang telah disalurkan pada batang tombak tersebut.
Yuan Ci Tojin sudah mengambil pedang salah seorang temannya, membuang pedang buntungnya, kemudian menyerang lebih dahsyat pada Tang San Siansu. Dengan dibantu oleh teman-temannya Yuan Ci Tojin jadi lebih hebat dari tadi, karena kalau tadi dia hanya seorang diri menghadapi Tang San Siansu, sekarang Tang San Siansu dibikin sibuk oleh teman-temannya dan Yuan Ci Tojin bisa menyerang semakin hebat.
Tang San Siansu mengempos semangatnya, waktu dia mengayunkan tombak pada tangannya seperti gulungan sinar hitam, terdengar dua kali jeritan disusul meloncat mundur dua orang tosu dengan dada yang berlumuran darah. Tapi kedua orang tosu itu tidak roboh, mereka nekad sekali meloncat maju lagi, sekali ini tanpa peduli akan keselamatan dirinya, mereka sudah meloncat dekat sekali dengan pedang menikam dada Tang San Siansu.
Tapi, belum lagi pedang mereka tiba di sasaran, tombak Tang San Siansu telah berkelebat membuat leher mereka robek oleh mata tombak, sampai kepala kedua tosu itu hampir putus dari lehernya, karena luka di dileher mereka begitu besar, darah juga mancur deras.
Mata kedua tosu itu terbuka lebar-lebar, mereka tidak percaya bahwa di dunia ada kecepatan yang demikian seperti yang dilakukan Tang San Siansu.
Dalam keadaan seperti ini Yuan Ci Tojin yang sudah nekad tidak tinggal diam, pedangnya berkelebat menikam. "Brettttt!" mata pedangnya berhasil memobek baju di pundak Tang San Siansu.
Sebetulnya mata pedang itu menikam pundak Tang San Siansu, namun kulit pundak Tang San Siansu keras melebihi besi, dia memiliki ilmu kebal, sehingga pedang tak dapat menikam tembus pundaknya, melesat melejit ke samping, merobek baju Tang San Siansu saja.
Tapi, hebat kesudahannya untuk Yuan Ci Tojin. Karena gagal serangannya itu, waktu tangannya tengah terulur menikamkan pedangnya, mata Tang San Siansu menyambar bersilang dari samping kanan ke kiri, masuk ke bawah ketiak Yuan Ci Tojin waktu itulah mata tombak tersebut telah menikam ke iga Yuan Ci Tojin, ketika Tang San Siansu mengangkat tombaknya, maka tubuh Yuan Ci Tojin yang seperti disate oleh tombak itu terangkat naik ke tengah udara !
Kawan-kawan Yuan Ci Tojin kaget, mereka merasa ngeri bukan main dan marah kalap sekali, mereka meloncat bersama menikam dan menabas dengan pedang masing-masing.
Tang San Siansu memutar tombaknya, badan Yu Ci Tojin yang berada di mata tombaknya ikut berputar, dan terdengar suara "Desssss... Bleeesssss...!" berulangkali, sebab pedang-pedang para tosu itu telah menabas dan menikam badan Yuan Ci Tojin sampai badan tosu itu terpotong-potong, kaki tangannya buntung!
Yuan Ci Tojin benar-benar kuat, karena dia tidak mati biarpun keadaannya sudah demikian, tiba-tiba dia mengempos seluruh sisa tenaganya, dengan mengerang, tahu tahu tubuhnya yang sudah racik itu meluncur terlepas dari mata tombak, karena tubuhnya seperti bisa meloncat ke atas, dan kepalanya menyeruduk akan membentur kuat sekali kepala Tang San Siansu !
Inilah cara mengadu jiwa dari orang-orang Kun lun-pai, saat terakhir Yuan Ci Tojin tidak mau mati sendirian, dia telah mengempos semangatnya yang terakhir untuk mati bersama dengan Tang San Siansu.
Kaget Tang San Siansu, dia tak keburu mengelakkan benturan kepala Yuan Ci Tojin, dan satu-satunya jalan hanyalah mengerahkan sinkangnya pada kepalanya.
"Dukkkkk ....!" kepala Yuan Ci Tosu membentur kepala Tang San Siansu, darah bercampur otak segera berpercikan kemana-mana, badan Yuan Ci Tojin meloso roboh terbanting di tanah, berkelojotan beberapakali, kemudian diam tak bergerak lagi, mati.
Ternyata akibat benturan kepalanya dengan kepala Tang San Siansu menyebabkan kepala Yuan Ci Tojin sendiri yang pecah hancur dan mati, sedangkan kepala Tang San Siansu sama sekali tak mengalami cidera, kepala Tang San Siansu begitu kuat.
Dia cuma merasa agak gelap pandangan matanya dan berkunang-kunang ketika kepala Yuan Ci Tojin membentur kepalanya, itu hanya sekejap dan beberapa detik, kemudian matanya bersinar tajam lagi memandang terang.
Bahkan, dengan kepala berlumuran darah dan otak, darah dan otak Yuan Ci Tojin yang menodai baju dan kepalanya.
Tang San Siansu mengamuk seperti naga terluka. Tombak ditangannya menyambar-nyambar memakai "Liong beng-kun" dahsyat sekali ! Angin pukulan kedua tangannya menderu-deru dansyat, bagaikan amukan badai, setiapkali telapak tangannya itu, baik tangan kiri maupun tangan kanan menyambar, maka maka terdengar jerit menyayatkan hati, seorang tosu telah terpental dan ambruk dengan mata juling dan mulut terbuka, dada yang melesak karena tulangnya hancur remuk, hanya sempat berkelojotan beberapakali dan kemudian putus napas!
Waktu itu cuma tinggal lima orang tosu. mereka tidak berusaha melarikan diri biarpun melihat kawan-kawan mereka seorang demi seorang roboh mati di tangan Tang San Siansu.
Mereka benar-benar nekad dan seperti sengaja hendak mati dengan semangat penuh, mempertaruhkan jiwa dengan Tang San Siansu. Kelitna tosu itu menjerit serentak, mereka meloncat kalap menikam dengan pedang masing-masing.
Melihat serangan yang datang serentak seperti ini, Tang San Siansu tidak berkelit, kedua tangannya berkelebatan dan lima batang pedang lawannya kena dirampas semua nya, dan waktu Tang San Siansu menggerakan tangannya lagi, pedang-pedang itu patah menjadi sepuluh potong.
Dan si pendeta bukan hanya sampai di situ saja bertindak, kedua tangannya cepat sekali telah menyambar dahsyat, beruntun telah mematikan kelima tosu itu, yang masing-masing terpental akibat pukulan mematikan " Liong-beng-kun".
Setelah membereskan kelima tosu ini. Tang San Siansu berdiri dengan sikap angker, kepala dan baju berlumuran darah dan otak menyebabkan keadaannya sangat mengerikan. Teman-temannya yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut diam diam menggidik.
Demikian hebat Tang San Siansu, seorang diri telah berhasil membereskan senua lawan-lawannya yang berjumlah belasan orang itu, bahkan tosu-tosu yang memiliki kepandaian tidak rendah !
Pak-mo dan yang lainnya diam-diam juga jadi semakin tunduk pada Tang San - Siansu. Mereka memiliki kepandaian tinggi, sebagai datuk persilatan, yang ditakuti oleh orang-orang kangouw, juga mereka telengas dan kejam, namun mereka tidak dapat melebihi kehebatan Tang San Siansu!
Waktu itu dengan suara angkuh Tang San Siansu sudah bilang: "Mereka benar-benar sengaja mengantar jiwa..! Kun-lun-pai harus dibasmi rata dengan bumi, tak ada seorang Kun-lun-pai yang dapat dibiarkan hidup ! Jika kita telah sampai di kotaraja, nanti akan kuminta pada Cu-kongkong untuk membasmi habis semua orang-orang Kun-lun-pai !"
Kemudian Tang San Siansu pergi ke tendanya, dia salin pakaian dan membersihkan badannya dari noda darah. Baru kemudian dia bercakap-cakap dengan See-mo, Cu Lie Seng dan yang lain-lainnya.
"Kita harus melakukan perjalanan empat atau selambat-lambatnya lima hari lagi, kita segera sampai di kotaraja!" bilang Tang San Siansu dengan muka yang angker.
"Selama lima hari itu kita tak boleh lengah. Justeru umumnya yang dilakukan olen orang lain ialah semakin dekat pada tujuan, semakin lengah, sehingga kita bisa terkecoh oleh lawan, yang mendadak melakukan serangan total.
Kita harus waspada, jangan sampai semakin dekat kandang sendiri dibikin malu. Jika memang mereka tahu kita selalu waspada, kupikir merekapun akan berpikir dua-kali untuk bertindak ...!"
"Suhu bagaimana dengan orang-orang Siao-lim sie?" tanya Cu Lie Seng sambil mengawasi gurunya.
"Kukira sekarang sudah tiba saatnya. Setelah kita tiba di kotaraja nanti kita bicarakan lagi tentang Siao-lim-sie. Memang sekarang sudah kucapai tingkat yang tertinggi dari "Liong-beng kun" dan tak ada seorangpun yang sanggup mengatasi jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun'ku itu ! Kukira, tahun ini adalah tahun terakhir untuk Siao-lim-si, kalau mereka tetap tidak tahu diri dan tidak mau menyerahkan kedudukan Ciangbunjin Siao lim si padaku, maka mereka harus dibabat habis semuanya, kuilnya kita ratakan dengan bumi dan semua pendeta Siao-lim kita bunuh habis mereka!"
"Tetapi kitab-kitab pusaka milik Siao-lim-si itu..." Cu Lie Seng ragu-ragu.
Tang San Siansu tertawa dingin.
"Tentu saja waktu kita menyerbu kesana, yang paling utama adalah menyelamatkan dulu kitab-kitab itu, sebagian dari kita memecah diri untuk membereskan kitab-kitab pusaka itu... aku dengan yang lain akan menghabisi pendeta-pendeta Siao lim-si... kemudian kita bakar kuil itu !"
Cu Lie Seng tampak girang. Kalau gurunya berhasil mendapatkan kitab-kitab pusaka Siao lim-si, jelas akhirnya warisan kitab-kitab pusaka itu jatuh ke tangannya, karena dia murid kesayangan Tang San Siansu, tak ada murid lainnya lagi, ilmu silat andalan maupun kitab pusaka semuanya akan jatuh di tangannya !
Tiba-tiba muka TangSan Siansu berobah. "Ehhhhh, mana dia Bi Lan ?" tanyanya.
Dia tidak melihat Bwee-sim-mo-li sejak tadi, rupanya sekarang baru menyadarinya. Dia celingukan ke sana kemari, tapi Bwee-sim-mo li memang tidak berada di antara mereka.
"Ya, sejak tadi kami tak melihatnya juga," menyahuti See-mo.
"Aku berada di sini !" Tiba-tiba di luar tanda terdengar suara Bwee-sim-mo-li, disusul munculnya iblis kejam itu dengan bibir tersenyum-senyum.
Tang San Siansu mengerutkan alis dan menatap tajam menyelidik pada Bwee-sim-mo-li, kemudian dia menggerendeng: "Pakaianmu tidak rapi, apakah kau..." Tapi dia tidak meneruskan kata-katanya tersebut.
Bwee-sim-mo-li tahu bahwa Tang San Siansu cemburu padanya, pasti dia menduga Bwee-sim-mo li telah pergi mencari mangsa, korbannya lagi, yaitu orang orang muda. Sebagai seorang yang licik, Bwee-sim mo li cepat-cepat memperlihatkan wajah seperti marah, menggerutu juga:
"Mengapa pakaianku yang kau ributkatn? Aku baru bangun dari tidur karena mendengar suara ribut-ribut dan langsung keluar ! Apakah, di dunia ini ada orang yang bangun tidur dengan pakaian yang tetap rapi dan utuh?"
Tang San Siansu diam tidak menyahuti, cuma mukanya yang masam memperlihatkan bahwa dia mendongkol dan tidak senang. Yang lain-lainnya segera keluar dari tenda meninggalkan Tang San Siansu, karena setiap kali Tang San Siansu sedang uring-uringan seperti itu, mereka bisa jadi korban dimaki olehnya. Maka yang paling selamat adalah cepat cepat menjauhinya.
Sekarang tinggallah Tang San Siansu berdua dengan Bwee-sim-mo-li di dalam tenda itu. Bwee-sim-mo-li tahu pendeta ini sedang ngambek. Karena memang selama ini dia jeri dan gentar terhadap kepandaian dahsyat Tang San Siansu, maka dia mengalah dan tak mau membawa adat. Dia menghampiri dan duduk di samping Tang San Siansu.
"Mengapa sih kau selalu marah marah saja ?" tanya Bwee-sim- mo-li berbisik lirih manja sekali, tangannya memegang tangan kanan Tang San Siansu, mengusap usap seperti orang yang tengah bersedih hati.
Tang San Siansu melirik.
"Kau sangat liar... tetap saja kau tak bisa tenang di sampingku, selalu hendak mencari korban-korbanmu saja...!" menggumam Tang San Siansu dan wajahnya memperlihatkan rasa cemburu yang nyata sekali.
Bwee-sim-mo-li tersenyum manja. "Kau ini ada-ada saja... Apakah Taisu memang menduga begitu jelek padaku ? selama ini aku telah digembirakan olehmu, aku tak pernah merasa kesepian lagi ! Mengapa aku harus mencari korban-korbanku lagi ? Di dalam dunia ini mana ada manusia yang melebihi kehebatan taisu ? Mana ada laki-laki yang sanggup menandingi kehebatan taisu?"
Mendengar pujian tidak langsung Bwee-sim mo-li, Tang San Siansu berkurang mendongkolnya, dia melirik. "Benarkah aku merupakan satu-satunya laki-laki yang paling hebat ?" tanyanya.
Bwee-sim-mo-li mengangguk.
"Apakah aku pernah berdusta di depan taisu ? Apakah aku pernah menyatakan pada taisu bahwa aku tak pernah senang dengan taisu ? Aku tidak pernah bilang bahwa kau gagal menyenangkan hatiku, bukan ?"
Senang hati Tang San Siansu. Dia mencekal tangan Bwee-sim-mo-li. "Aku inginkan kau selalu berada di sampingku !" bisiknya.
"Tentu... aku juga senang jika selalu bisa berada di samping taisu... tapi yang kukuatirkan...." Bwee-sim mo-li tidak meneruskan kata-katanya.
"Apa yang kau kuatirkan? Apakah kau takut nanti ada yang berusaha menghalangi hubungan kita?" tanya Tang San Siansu cepat dan matanya memandang tajam. "Atau kau sudah jatuh hati pada laki-laki lain?"
Bwee-sim-mo-li menggeleng.
"Bukan... bukan...!" jawabnya segera. "Tapi yang kukuatirkan justeru kalau Taisu sudah bosan padaku dan menendangku! " kata-kata ini diiringi dengan sikap sangat manja, menjatuhkan kepala di dada Tang San Siansu, membiarkan pendeta itu memeluk tubuhnya.
Tang San Siansu tertawa gembira, dia memeluk Bwee-sim-mo-li dengan hangat mulutnya mencium pipi Bwee sim mo-li yang putih halus.
Bwee sim-mo li mengikik sambil tertawa genit, tangannya mendorong dada Tang San Siansu.
"Kenapa?" tanya Tang San Siansu sambil memandang dengan mata terbuka lebar-lebar.
"Geli, kumis jenggotmu begitu kasar," menjelaskan Bwee sim- mo-li sambil tertawa.
Tang San Siansu juga tertawa, rasa cemburunya sudah lenyap seluruhnya. Dia memeluk lagi Bwee sim mo li, namun sekali ini waktu tangannya menggerayang, Bwee-sim-mo-li telah mendorong lagi dadanya. Sekali ini Tang San Siansu jadi mendongkol.
"Mengapa hari ini sikapmu aneh sekali, Bi Lan?" tegurnya dengan hati tak senang.
"Tunggu dulu... semuanya dapat berlangsung dengan lancar dan menyenangkan, tapi aku benar-benar mendongkol dan penasaran !"
"Apa yang membuat kau penasaran?!"
"Kau ! Engkau yang telah membuat aku sangat penasaran !"
"Kenapa? "Tang San Siansu mengawasi semakin tajam, matanya yang memang sudah, besar semakin besar saja seperti juga biji matanya hendak meloncat keluar. "Aku membuat kau penasaran? Kenapa? Katakan. kenapa?"
"Dulu kau sudah berjanji akan memberitahukan latihan-latihan "Liong-beng kun" padaku, tapi sekarang sudah sekian lama kita bersahabat, tapi tak pernah sepatah kata kouw-hoat (teori) dari jurus pukulan "Liong-beng-kun" yang kau beritahukan padaku!"
"Ooooh tentang persoalan itu !" kata Tang San Siansu sambil tertawa bergelak-gelak. "Kukira kau sudah jatuh hati pada laki-laki lain sehingga jadi penasaran padaku! Kalau soal itu gampang ! Gampang sekali! Nanti akan kuajarkan padamu teori dan latihan jurus-jurus pukulan "Liongbeng-kun", jangan kuatir, aku tak akan membohongimu !"
"Nah, nah apakah ini tidak membuat aku penasaran ! Kau selalu menggampangkan persoalan, selalu bilang gampang, gampang, gampang... tapi buat aku sendiri, sudah sekian lama kunanti-nantikan kau beritahukan kauw-hoat "Liong-beng-kun", tetap saja kau tak mau memberi tahukan! Apakah keadaan seperti ini tidak membuatku selalu jadi penasaran?"
Tang San Siansu berdiam sejenak, alisnya berkerut. Di dalam hati ia berpikir: "Hemmm. iblis ini kira aku mudah ditipunya! Dia iblis liar, sekarang dia tunduk padaku dan menuruti apa yang kuinginkan karena dia memang mempunyai maksud-maksud tertentu, disamping itu memang dia sangat takut padaku ! Coba kalau dia tak gentar padaku, apakah dia mau tunduk seperti ini! Mengajarkan dia Liong-beng-kun ? Memberi tahukan teori jurus jurus pukulan "Liong-beng-kun" padanya?
Ooooh, ini hanya membuat dia seperti tumbuh sayap ! Dia tentu kelak tak tunduk lagi padaku ! Dikiranya aku ini terlalu bodoh untuk menuruti keinginannya!"
Waktu Tang Sin Siansu sedang berpikir seperti itu. Bwee-sim-mo-li mengawasi saja, Dia juga berpikir: "Hemmm, setan keparat ini licik sekali, dia selalu mengelak dan tak mau memberitahukan kouwkoat "Liong-beng-kun"-nya, Kalau memang sudah diberitahukan kouwhoat itu dan aku berhasil merobek seluruh kouwhoat Liong-beng-kun" darinya, walaupun dia cuma memberitahukan dan membacakan kouwhoat "Liong-beng kun" satu kali saja, itu sudah cukup untuk aku memahami jurus pukulan itu, setidak-tidaknya untuk menciptakan jurus-jurus lain yang bisa mengatasi "Liong-beng kun", selanjutnya aku tidak perlu gentar lagi padanya ....! Tapi, bagaimana caranya untuk membujuk dia memberitahukan kouwhoat beng-kun nya ?"
Tang San Siansu melihat Bwee-sim-mo-li berdiam diri seperti itu, tiba-tiba tertawa bergelak-gelak dan mengulurkan kedua tangannya, merangkul erat sekali.
"Mengapa kau harus bersedih hati seperti itu?" Apakah kau tidak percaya padaku dan kuatir aku mendustaikau ?" bisik Tang San Siansu sambil menciumi pipi dan leher Bwee-sim-mo li.
Bwee-sim-moli menghela napas dalam-dalam.
"Aku benar-benar sedih... aku penasaran, karena merasa cuma dipermainkan olehmu, taisu." menyahuti Bwee sim-mo-li. Suaranya mengandung kesedihan.
Tang San Siansu tertawa. "Kau menuduh aku membuat kau penasaran, sedangkan sebenarnya aku berusaha untuk menyenangkan kau! Tentang kouwhoat "Liong-beng kun" nanti pasti kuberitahukan, sekarang belum waktunya!"
"Kenapa belum waktunya ? Nanti atau sekarang toh sama saja ?" mendesak Bwee-sim-mo-li.
Sekarang bukan saatnya yang tepat, nanti jika kita sudah tiba di kotaraja akan kuberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun" itu padamu!"
"Mengapa tidak sekarang? Apa bedanya disini dengan di kotaraja?" mendesak Bwee sim-mo-li sambil mengawasi Tang San Siansu dengan sorot mata tajam.
Sekarang aku tentu akan membuat muridku nanti mendongkol...." menyahuti Tang San Siansu.
"Maksudmu Cu Lie Seng, Cu-kongcu ?" tanya Bwee-sim-mo-li menegasi.
Tang San Siansu mengangguk.
"Benar ... jika dia mengetahui aka memberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun" kepadamu, tentu dia akan tersinggung dan merasa tidak puas. Sebagai murid tunggal pasti dia ingin agar seluruh kepandaianku hanya diwarisi padanya! Jika ada perasaan tidak senang padanya tentu keadaan-keadaan selanjutnya kurang menggembirakan !"
Bwee-sim-mo li tiba mendorong pundak Tang San Siansu, kemudian tertawa keras: "Lucu! Sungguh taisu ini sangat lucu !"
Muka Tang San Siansu berobah tidak senang dia mengawasi tajam pada Bwee-sim-mo-li, karena dia tersinggung dirinya disebut lucu, dan juga tertawa Bwee-sim-mo li seperti mengejeknya.
"Apa yang lucu di diriku ?" tanyanya mendongkol. "Apa yang kau tertawakan ? Apakah memang benar-benar ada sesuatu yang lucu dan tidak beres pada diriku ?"
Bwee-sim-mo-li masih tertawa terus, sampai memegangi perutnya, karena tertawa geli seperti itu.
"Tentu saja bukan tubuhmu yang lucu, taisu ! Tetapi sikapmu ! Mana ada sejarahnya dalam dunia kangouw seorang guru kuatir dan takut muridnya tidak senang karena si guru memberituhukan kouwhoat kepandaiannya kepada orang lain? Yang selalu terjadi justeru si murid yang takut dan kuatir kalau-kalau gurunya gusar dan menjadi tidak senang hati oleh tindakannya, bukan si guru yang harus takut dan kuatir!"
Muka Tang Sar Siansu berobah. "Aku tidak takut, mengapa aku harus takut pada Cu si tolol itu ?" katanya dengan suara agak keras menunjukkan perasaan tak senangnya. "Cuma aku tak mau melukai perasaannya, karena aku kuatir jika dia merasa iri dan tak senang hati nanti, nanti pelajarannya mengalami kemunduran, semangat untuk berlatihnya akan turun dan ini mempengaruhi kemajuannya untuk latihan "Liong-beng-kun" yang tengah diyakininya!
Aku menginginkan dia berhasil melatih dengan sempurna seluruh kepandaian yang kuwariskan padanya, karena dia satu-satunya murid tunggalku ! Karena itu, aku tak mau jika kelak dia cuma membawa malu untukku, karena sebagai murid tunggalku dia bisa dirobohkan oleh orang lain !
Dia harus memiliki kepandaian yang dahsyat dan siapapun tak boleh mengalahkannya ! Harus dia satu-satunya yang berkepandaian tertinggi didalam dunia kangouw!"
Bwee-sim-mo li tertawa lagi.
"Sungguh keinginan yang sangat terpuji, karena seorang guru demikian memperhatikan untuk perkembangan muridnya !" memuji Bwe-sim-mo-li. Dia cerdik, segera dia tahu si pendeta ini merasa tak senang oleh kata-katanya.
Tapi memang tadi sengaja Bwee-sim mo li melontarkan kata-kata itu untuk memancing emosi Tang San Siansu, dia tengah mengatur siasat untuk menyudutkan Tang San Siansu dan akkirnya nanti mau memberitahukan teori jurus jurus pukulan "Liong-beng-kun" padanya.
"Tapi sayang... ada sesuatu yang harus disayangkan! "
"Apa yang kurang ? Aku telah mendidik muridku dengan sebaik-baiknya, apakah kau anggap kemajaan muridku itu masih kurang dan pantas ditertawakan orang-orang gagah dalam kangouw ?"
"Bukan! Bukan itu maksudku ! Tetapi sayangnya, justeru kau tak bisa membuat muridmu itu merupakan ciangbunjin dari seluruh pintu perguruan silat dalam kangouw ! Coba kau bayangkan taisu, kalau memang kedudukan ciangbunjin dari semua pintu perguruan silat dijabat oleh muridmu, bukankah hal itu sangat menggembirakan sekali?"
Tang San Siansu tertegun mendengar perkataan Bwee-sim-mo-li, tapi kemudian dia bertanya: "Maksudmu itu menjabat semua kedudukan ciangbunjin dari pintu-pintu perguruan silat di seluruh kangouw? Begitu maksudmu?"
Bwee sim-mo-li mengangguk.
"Ya, dia murid seorang yang paling tangguh seperti taisu, tentu tak ada seorangpun yang berani menentang ! Menjadi bengcu saja tidak cukup. Hanya jadi pemimpin kalangan kangouw, dengan kedudukan ciangbunjin dari setiap perguruan silat ditangan orang-orang lain, tentu suatu waktu akan ada sikap membangkang dan memberontak ! Apa salahnya kalau memang kedudukan ciangbunjin dari setiap pintu perguruan dipegang oleh muridmu, sehingga seluruh kangouw dikuasai sepenuhnya!
Tang San Siansu mengangguk-angguk ragu-ragu. Memang saran yang dikemukakan Bwee sim-mo li merupakan salah satu cara dan jaian terbaik untuk menguasai rimba persilatan ! Muridnya memang tengah berusaha untuk menguasai kangouw dengan menyatakan bahwa dirinya sebagai bengcu atau ketua kangouw, dan alangkah lebih baiknya kalau kedudukan ciangbunjin dari semua pintu perguruan silat dipegang oleh muridnya, tentu tak ada satupun pintu perguruan siiat yang berani membangkang atau memberontak lagi !
"Bagus !" akhirnya Tang San Siansu berseru nyaring sambil menepuk paha Bwee-sim-mo-li. "Apa yang kau sarankan memang merupakan pendapat yang sangat baik.
Kedudukan Ciangbunjin Siao- lim-si, Butong, Kun-lun, Go bie pai dan lain-lainnya dipegang oleh muridku ! Dalam sejarah persilatan memang belum terjadi seluruh pintu perguruan silat dipegang oleh satu orang !
Dan ini memang bisa lebih mudah untuk menertibkan orang-orang kangouw! Aku akan berusaha menundukkan semua pintu perguruan silat, agar mereka mengakui muridku sebagai ciangbunjin mereka, supaya ciangbunjin mereka menyerahkan kedudukan ciangbunjin pada muridku! Jika mereka membangkang tak mau menyerahkan kedudukan ketua perguruan silatnya, maka kita babat habis mereka!"
Setelah berkata begitu, Tang San Siansu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali. Tampak dia sangat gembira. Dia memeluk Bwee-sim-mo-li sambil menciumi dan memujinya: "Kau benar-benar sangat cerdas sekali bisa memberikan saran yang demikian bagus !"
"Tapi sayangnya," kata Bwee-sim-mo-li lagi. "Kau tak pernah menepati janjimu, taisu ! Kalau kau memberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun" kepadaku, sehingga kepandaianku lebih mahir dan lebih tinggi tingkatnya, tentu tak akan sia-sia apa yang telah kau lakukan, aku bisa mendampingimu menghadapi seluruh orang kangouw tanpa perlu gentar ! Aku selalu akan mendukung muridmu itu agar mencapai kedudukan tertinggi di dalam kalangan kangouw!"
"Hah-hah-bah-hah, kembali kau penasaran tentang kouw-hoat "Liong-beng-kun", percayalah, nanti akan kuberitahukan kepadamu!" kata Tang San Siansu.
"Tapi Taisu, jika kau memberitahukan sekarang padaku teori jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun"- muridmu itu juga tak akan mengetahui, aku tak akan memberitahukan pada siapapun juga, kau tak usah kuatir...!" janji Bwee sim-mo li.
"Bukankah kita hanya berdua saja, tak ada orang yang mengetahui jika memang kau atau aku tak memberitahukannya ?"
"Sabarlah... nanti juga aku akan tepati janji. Jangan kuatir, aku tidak akan membohongimu... sekarang janganlah mengganggu kegembiraanku dengan permintaan yang tidak-tidak ! Ayo, kita bersenang-senang...!"
"Tapi taisu harus berjanji benar-benar tak akan mengingkari janjimu itu untuk memberitahukan padaku kouwhoat "Liong beng-kun" !"
"Jangan kuatir... nanti setelah tiba di kota raja, selama lima hari akan kuberitahukan kau teori jurus-jurus "Liong-beng-kun"
"Benar, taisu ?"
"Pasti kutepati janjiku itu ! Aku juga berharap memang kau bisa mendukung muridku, secara tidak langsung membantuku untuk meringankan tugasku menghadapi orang-orang kangouw ! Sekarang saja kepandaianmu sudah demikian tinggi, kalau memang kau kuberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun", niscaya kepandaianmu memperoleh kemajuan yang pesat sekali sehingga sulit orang menandingimu lagi !"
Girang Bwee-sim-mo-li, dia akan menahan diri untuk bersabar selama beberapa hari lagi, sampai mereka tiba di kotaraja dan akan mendesak Tang San Siansu untuk menepati janjinya memberitahukan padanya teori jurus pukulan "Liong-beng-kun".
Mati-matian Bwee-sim-mo li ingin sekali mengetahui teori jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun" yang diketahuinya memiliki kepentingan sangat besar untuk perkembangan ilmu silatnya, sehingga dia pasti bisa lebih tinggi lagi kepandaiannya.
Diam-diam sebetulnya Bwee sim-mo-li juga memiliki ambisi untuk menjadi satu-satunya orang yang paling lihai dalam kalangan kangouw, dia juga hendak menjadi ketua dari seluruh orang-orang kangouw.
Keinginannya itu memang sudah terpikirkan olehnya cukup lama. Jika sekarang dia sengaja menganjurkan Cu Lie Seng untuk jadi ketua kangouw, itulah disebabkan dia memang sangat cerdik, hanya memancing agar Tang San Siansu mau memberitahukan kouwhoat jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun".
Justeru Bwee-sim-mo-li yang sudah memiliki kepandaian sangat tinggi ini merasa gentar pada si pendeta sebab jurus pukulan "Liong-beng-kun" itu, kalau dia sudah mengetahui seluruh kouwhoat jurus pukulan "Liong-beng-kun", niscaya dia bisa melihat kelemahan jurus pukulan itu, berarti juga dia bisa mempersiapkan ilmu silat untuk mematahkan Liong-beng-kun, yang nanti akan dipergunakan untuk merobohkan Tang San Siansu.
Di saat itu kalau dia sudah berhasil tentu dia tak perlu gentar lagi pada Tang San Siansu. Dan kalau saatnya sudah tiba, dia pasti tidak akan mendukung Cu Lie Seng melainkan ingin merampas kedudukan ketua Kangouw untuk dirinya sendiri !
Tang San Siansu yang sedang gembira, tampak tak sabar. Tangannya kasar sekali mengangkat badan Bwee-sim-mo-li, membantingnya !
Bwee-siin mo-li menjerit lirih dan menggeliat, sedangkan Tang San Siansu sudah menjambak rambut Bwee sim mo-li, kemudian menengadahkan kepala iblis perempuan ini. Waktu itu Bwe sim-mo li merintih dengan memejamkan matanya.
Tangan kiri Tang San Siansu menampari muka Bwee sim-mo-li kuat sekali, sampai terdengar suara "plakkkk . . . plokkk ..." tidak hentinya, sampai muka iblis itu merah akibat tamparan kuat itu.
"Ayolah...! " suara Bwee sim-mo li semakin lirih, dia menggeliat lagi. "Ayolah Taisu..." dan pukulan-pukulan Tang San Siansu semakin keras memukuli muka dan tubuh Bwee-sim mo li, sedangkan Bwee-sim-mo-li tampaknya semakin terangsang !
Rupanya, Bwee-sim-mo-li memiliki semacara penyakit jiwa, yaitu histeris dan baru bisa memperoleh kegembiraan dengan Tang San Siansu jika sudah diperlakukan kasar dan tubuhnya dipersakiti ! Semakin hebat perlakuan yang mempersakiti dirinya, semakin hebat rangsangan yaig diperolehnya.
Waktu itu matanya sudah terbalik-balik dan hanya terlihat putihnya saja. Tangannya mencengkeram kuat-kuat pundak Tang San Siansu.
"Akan kumampusi kau!" kata Tang San Siansu dengan napas memburu keras dan mengangkat badan Bee-sim-moli yang dibanting berulangkali sampai gedebak-gedebuk keras sekali, dan memang ini yang diinginkan Bwee-sim-mo-li dan dia seperti tenggelam semakin dalam, dalam kesenangan yang bisa diberikan Tang San Siansu, karena pendeta yang kasar ini mengetahui apa yang di inginkan Bwee-sim mo-li dan telah memenuhi apa yang diinginkan Bwee-sim-mo-li ....
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cu-kongkong Cu Biau Liat mengangguk-angguk sambil mengawasi daftar nama-nama orang gagah yang tertulis di secarik kertas berukuran panjang itu, mukanya berseri-seri. Di depannya berdiri dengan sikap hormat Siangkoan Giok Lin dan See-mo.
"Bagus!" kata Cu kongkong kemudian sambil menggulung lagi daftar nama nama orang partai, "Kau telah melakukan tugas dengan baik, Siangkoan-kisu ! Kau memang layak menerima penghargaan tertinggi dari Hongsiang ! Nanti akan kuberitahukan pada Hongsiang tentang jasa-jasamu, dan jika terbukti nanti seluruh usaha kita berhasil menindas pemberontak, pasti pangkat tinggi adalah bagianmu !"
Siangkoan Giok Lin cepat-cepat menekuk kaki kanannya berlutut mengucapkan terima kasih.
Cu kong-kong menoleh pada See-mo, setelah memberi isyarat pada Siangkoan Giok Lin agar berdiri lagi. "Sekarang kita sudah mendapatkan posisi sebaik-baiknya di kalangan kangouw, baik di Utara, Barat, Selatan dan Timur ! Semua ini berkat bantuan dari kalian! Tentu semua ini tak akan dilupakan Hongsiang.
Sekarang yang kuinginkan, Thio Hong Gan harus ditumpas, jika memungkinkan kepalanya dibawa kemari, untuk diperlihatkan pada Hongsiang, Selanjutnya, kalian tak usah bersusah payah lagi, untuk menduduki salah satu jabatan penting di kerajaan ! Semuanya pasti menerima penghargaan dari Hong-siang !"
"Baik kongkong, nanti kami akan usahakan membawa kepala pemberontak itu !"
"Bagus... sekarang aku ingin memberikan instruksi pada beberapa orang jenderal di perbatasan, agar untuk sementara ini mereka pulang ke kotaraja, sebab tenaga mereka diperlukan untuk ikut membasmi Thio Hong Gan dan pasukannya yang liar itu! Dalam waktu tiga bulan usaha ini sudah harus berhasil, karena Hongsiang kemarin menegurku, agar tak terlalu lama-lama menyelesaikan persoalan ini! Nah, sampaikanlah pesanku ini pada teman-teman kalian !" Setelah berkata begitu Cu kongkong mengibaskan tangannya, sikapnya mempersilahkan tamu-tamunya untuk berlalu.
Setelah See mo dan Siangkoan Giok Lin keluar, Cu-kongkong seorang diri di dalam ruangan itu. Sepasang alisnya mengkerut.
"Hemmm, manusia-manusia liar dan kasar hendak duduk sebagai pejabat pemerintahan...! Tapi. biarlah, untuk sementara waktu ini memang aku perlu merangkul mereka, jika segalanya sudah selesai, mereka akan dibereskan !"
Dan Cu kong-kong tersenyum, dia menepuk tangannya. Segera menghadap seorang pengawalnya. Dia perintahkan memanggil Tang San Siansu. Sekarang ini memang Tang-San Siansu merupakan satu-satunya orang yang paling diandalkan oleh Cu kongkong.
Namun sebagai seorang cerdik, tentu saja Cu-kong-kong tahu bagaimana menguasai dan mengendalikan "macan" ini, kalau sekali meleset saja, tentu bisa membahayakan dirinya juga. Selain licik, Tang San Siansu diketahuinya memiliki jiwa yang buruk sekali.
Tak lama kemudian Tang San Siansu sudah datang menghadap. Dia memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya, Cu-kongkong mempersilahkan dia duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
"Taisu, usaha besar yang selama ini kau lakukan telah berjalan dengan lancar. Coba sekarang kau jelaskan, apa rencanamu selanjutnya?"
"Siao-lim-si... jika telah dapat dihancurkan atau dikuasai, semuanya akan berjalan lebih lancar lagi kongkong !" menyahuti Tang San Siansu. "Dalam beberapa waktu mendatang, aku akan berusaha membasminya. Pertama-tama aku akan memaksa mereka menyerahkan kedudukan Ciangbunjin pada Cu-ji (anak Cu), jika mereka bersikeras dan menolak hal itu, berarti Siao-lim-si harus di bakar musnah dan seluruh pendetanya harus dibasmi."
Cu-kong kong mengangguk-angguk kemudian katanya: "Memang itu merupakan salah satu jalan yang cukup baik untuk mendukung lebih lancarnya usaha besar kita ! Tapi perlu kuingatkan padamu taisu, apakah tindakan seperti itu tak terlalu berat, apa lagi mengingat sekarang ini usaha kita untuk menguasai orang-orang kangouw belum berhasil sepenuhnya, yang kukuatirkan mereka akan mendapat kesan kurang baik pada kita atas penghancuran Siao-lim-si. . ."
"Tapi kongkong harus ingat, tidak semua orang senang pada Siao lim-si. Syukur kalau Siao-lim-si mau baik-baik menyerah dan menyerahkan kedudukan Ciangbunjin pada Cu-ji. tapi jika membangkang apa salahnya kita hancurkan ! inipun sebagai contoh yang sangat baik sekali buat seluruh orang-orang persilatan agar mereka selanjutnya tidak banyak lagak lagi dan patuh pada setiap perintah kongkong...!"
Cu Bin Liat mengangguk-angguk sambil tertawa. "Semua ini berkat bantuan taisu, sehingga aku bisa melaksanakan tugas dari Hongsiang dengan sebaik-baiknya ! Nah, jika memang taisu menganggap itu merupakan salah satu jalan yang baik buat kita, siiahkan taisu atur segalanya !"
"Terima kasih kongkong...!" dan Tang San Siansu kemudian mengundurkan diri.
Cu Bian Liat tidak segera meninggalkan ruang kerjanya, dia berdiam diri dengan sepasang alis yang mengkerut, karena dia tengah berpikir keras, yang dipikirkannya adalah Tang San Siansu.
Dan Cu Bian Liat ingin jika saja sudah selesai menumpas Thio Hong Gan, pemimpim pemberontak itu berhasil di tangkap atau dibawa kepalanya kehadapan-nya, maka Tang San Siansu akan disingkirkan !
Tentu saja menyingkirkan Tang San Siansu bukan urusan yang gampang, tapi dia mempunyai cara yang telah tersusun baik, karena dia hendak menyingkirkan Tang San Siansu dengan cara halus, sehingga nanti Tang San Siansu sendiri tidak akan menyadari dirinya telah disingkirkan oleh Cu Bian Liat !
Terpikir begitu, Cu Bian Liat tersenyum puas. Dia mengutamakan sekarang adalah cara-cara agar anaknya, Cu Lie Seng berhasil mendapat dulu semua warisan kepandaian Tang San Siansu, setelah tiba saatnya barulah Tang San Siansu yang dianggap bisa berbahaya itu disingkirkan ! menunggang macan memang sulit untuk turun maupun juga untuk menyingkirkannya, dan Cu Bian Liat tak akan bertindak tanggung-tanggung jika kelak hendak menyingkirkan Tang San Sian-su !
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cu Siauw Hoa duduk termenung didepan jendela kamarnya menghadap keluar taman yang indah dan semarak dengan dengan bunga-bunga beraneka macam dan warna, harum semerbak tersiar dari bunga-bunga yang banyak tumbuh di taman tersebut.
Pikiran Siauw Hoa tidak tenang, dia selalu teringat pada Giok Han dan Cang In Bwee, setiap kali teringat pada kedua orang itu, hatinya semakin dibakar oleh rasa marah dan cemburu. Rasa benci yang tumbuh di hatinya semakin lama semakin hebat juga.
Sudah merupakan tekad bulat pada gadis bangsawan ini untuk membunuh Giok Han dan Cang In Bwee. Dia sudah seminggu tiba di istana ayahnya, selama itu dia telah memikirkan cara-cara terbaik untuk melenyapkan Cang In Bwee, gadis yang jadi saingannya dan berusaha untuk menarik perhatian Giok Han.
Jika Giok Han benar-benar mencintainya dan melepaskan Cang In Bwee, juga nanti terbukti bahwa Giok Han lebih mencintai Siauw Hoa, maka gadis bangsawan ini tidak akan membunuhnya. Tapi jika nanti Giok Han terbukti lebih mencintai In Bwee, tak ada pilihan lain, dia akan membunuh Giok Han juga dengan cara apapun !
Dia tengah mempertimbangkan, untuk mengirim puluhan orang Gi-lim-kun dan Kim-ie-wi yang berkepandaian tinggi, untuk mencari Giok Han dan Cang In Bwee dan membunuh kedua orang itu, cuma saja mengingat kepandaian Giok Han sangat tinggi, gadis bangsawan ini ragu-ragu kembali.
Dia tahu, jika mengirim orang-orang berkepandaian tanggung, niscaya Giok Han tak berhasil diganggu. Cang In Bwee biarpun memiliki kepandaian di bawah Giok Han, tetap saja sulit dibunuh selama dia bersama-sama dengan Giok Han, sebab Giok Han akan melindunginya.
Satu-satunya jalan adalah minta pada Tang San Siansu, guna memimpin beberapa orang berkepandaian tinggi, supaya pergi membunuh Cang In Bwee dan kalau perlu membunuh Giok Han sekalian.
Rasa benci yang sudah membakar hati dan jiwa Siauw Hoa demikian hebatnya, sehingga dari rasa mencintai akhirnya berobah menjadi rasa benci yang begitu hebat. Selama belum bisa membuat Giok Han dan Gang In Bwe hancur, dia belum puas.
Selama seminggu itulah Siauw Hoa tenggelam dalam keragu-raguan. Dia memang sebetulnya ingin mengadukan pengalamannya itu pada ayahnya, yang pasti bisa mengirim orang-orang berkepandaian tinggi untuk menangkap Giok Han dan Cang In Bwee yang dicap oleb Siauw Hoa sebagai "pemberontak-pemberontak", namun sejauh itu dia masih malu untuk menceritakan pengalamannya itu pada ayahnya!
Sebagaimana lazimnya gadis-gadis Iain, demikian juga keadaan Siauw Hoa yang merasa malu kalau harus menceritakan isi hati yang sebenarnya pada ayahnya.
Karena itu selama seminggu Siauw Hoa masih diliputi keraguan dan belum bisa memastikan tindakan apa yang hendak dilakukan.
Sebetulnya, sebagai puteri bangsawan yang paling berkuasa seperti Cu-kongkong, Siauw-Hoa tidak kekurangan orang-orang muda yang bisa dipilih menjadi suaminya. Tetapi sejauh itu, dari sekian banyak putera-putera pembesar kerajaan maupun bangsawan yang coba mendekatinya, tak seorangpun yang menarik perhatian Siauw Hoa.
Memang gadis ini selalu bergaul dengan lincah dan manis terhadap orang muda manapun juga, namun sejauh itu masih terbatas sebagai sahabat biasa saja. Umumnya orang-orang muda itu memperlihatkan sikap menjilat dan coba-coba memanggil hatinya dengan berbagai sikap yang dibuat-buat.
Hal ini yang tak menyenangkan hati Siauw Hao. Terlebih lagi umumnya orang-orang muda itu berusaha mendekati Siauw Hoa lebih banyak terdorong oleh keinginan menjadi mantu Cu-kongkong orang kedua yang paling berkuasa setelah Kaisar di seluruh kerajaan tersebut !
Berbeda dengan Giok Han, orang muda itu benar-benar menarik hati dan juga telah merebut hati Siauw Hoa, sehingga gadis bangsawan ini mencintainya. Namun cintanya itu terbentur pada keadaan yang begitu pahit, dimana Giok Han ternyata mencintai Cang In Bwee!
Hal ini membuat Siauw Hoa jadi marah dan penasaran, dia sebetulnya ingin memperlihatkan betapapun sebagai puterinya Cu-kongkong dia sangat berkuasa dan bisa saja memaksa Giok Han menjadi suaminya dengan memanfaatkan kekuasaan ayahnya.
Cuma saja, sebagai gadis umumnya, rasa harga dirinya jauh lebih menang dari cintanya, karena dia merasa begitu rendah kalau harus menghiba-hiba pada Giok Han, untuk memperoleh cintanya! Dia tak mau memaksa Giok Han untuk mencintainya!
Sejak kecil Siauw Hoa sudah demikian dimanjakan, dan siapapun memperlakukannya dengan hormat. Sekarang Giok Han ternyata tak mencintainya, betapa sakit hatinya. Bahkan dengan telinganya sendiri didengar Giok Han mencintai Cang In Bwee, kenyataan yang membuat perasaan terluka !
Baru sekali ini signdis merasa kecewa dan sedih, mengapa Giok Han tak mencintainya, padahal sebelumnya demikian banyak orang muda yang berusaha mengejar cinta Siauw Hoa dan gsdis ini umumnya memperlihatkan sikap masa bodo pada orang-orang muda itu !
Memang cinta sulit dibilang juga, dapat datang kapan saja, di mana saja dan tanpa memandang tingkat dan golongan. Karena itu Siauw Hoa sendiri sering menyesali dirinya, mengapa dia harus mencintai Giok Han, sehingga sekarang perasaannya demikian menderita oleh cintanya tersebut.
Waktu itu, dia tengah berusaha mencari jalan untuk melampiaskan penasaran-penasaran maupun kecewanya. Terkadang didorong oleh emosinya dia hendak menbunuh Giok Han dan Cang In Bwee, agar kedua orang muda itu mengetahui siapa dia sebenarnya, yang memiliki kekuasaan demikian besar.
Tapi, dilain waktu Siauw Hoa diliputi rasa rindu yang demikian besar, mendambakan sikap lembut dan kasih sayang Giok Han, mengharapkan cinta pemuda itu. Segala macam perasaan berkecamuk menyiksa perasaan Siauw Hoa.
Dia telah mempertimbangkan dan memikirkannya selama seminggu itu, tapi tak juga berhasil untuk memutuskan tindakan apa yang harus ditempuhnya.
Bersambung ke jilid 29
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 28
"Iblis tidak tahu malu !"
Kata-kata makian itu membuat Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan terkejut juga marah, dia sampai memutar tubuhnya dengan cepat dan tangan kanannya bergerak menghantam ke arah gerombolan pohon dari mana datangnya suara makian tersebut.
Angin pukulan itu bercuitan karena Bwee-sim-mo-li mempergunakan jurus pukulan menghantam udara kosong disertai tenaga sinkang yang kuat, maka tak heran daun daun beterbangan kena di sambar tenaga pukulan yang sangat dahsyat itu.
Berkelebat sesosok bayangan sambil memperdengarkan tertawa dingin, meloncat keluar dari tempat persembunyiannya di belakang pohon-pohon yang rimbun, karena angin pukulan itu jelas kuat sekali dan jika dia menangkis pasti akan membahayakan keselamatan dirinya, dia dalam keadaan berjongkok.
Bwe-sim-mo li tidak mau memberikan kesempatan kepada orang yang sejapat memakinya itu buat mengadakan persiapan, setelah pukulan tangan kanannya berhasil memaksa orang itu keluar dari tempat bersembunyinya, tanpa menunggu sampai kedua kaki orang itu hinggap di tanah, badan Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan telah melesat sangat cepat dan ringan, kedua tangannya bergerak-gerak seperti cakar naga yang hendak mencengkeram mangsanya, dari kedua telapak tangan Bwee-sim-mo li meluncur angin pukulan yang dahsyat.
Orang itu berseru kaget, dia mati-matian menangkis memakai kedua tangannya, sebab sudah tidak keburu mengelakkan lagi pukulan iblis yang ganas ini. Tapi, tenaga dalamnya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan tenaga dalam Bwee-sim-mo-li, sebab begitu tenaga dalam mereka saling bentur, tak ampun lagi badan orang itu terpental berguling-guling di tanah diiringi jerit kesakitan !
Bwee-sim-mo-li diam tak mengejar lebih jauh, dia membiarkan orang itu meloncat berdiri, dan melihat pakaian orang itu penuh tambalan, berpakaian sebagai pengemis, yaitu anggota dari Kaipang!
"Hmm, kukira siapa, tak tahunya kura-kura miskin melarat dari kaipang!" mengejek Bwee-sim-mo-li tawar. "Baik, kau sudah bosan hidup rupanya berani mengintip apa yang kulakukan ! Setiap orang yang bertemu denganku sebetulnya sudah lebih dari cukup untuk aku membunuhnya, apalagi sekarang kau demikian kurang ajar berani mengintai apa yang kulakukan !"
Pengemis itu memang anggota kaipang usianya baru tigapuluh tahun. Di dalan kaipang dia dipanggil dengan sebutan Lo kan,kepandaiannya cukup tinggi dan menduduki tingkat keempat. Tadi dia memang kebetulan sekali lewat di dekat tempat di mana Bwee-sim mo-li tengah memaksa Su Nan Su untuk mengisi kesepian hatinya.
Sebetulnya pengemis ini, yang tengah ikut Toan Yok untuk memata-matai semua rombongan Cu Lie Seng ingin sekali keluar untuk melabrak Bwee-sim-mo li, tapi dia menyadari kepandaiannya tidak mencukupi untuk menandingi iblis yang kejam itu.
Karenanya dia berdiam diri saja di tempat persembunyiannya, di balik pohon-pohon yang rimbun. Dia memang menyaksikan semua yang dilakukan Liok Bi Lan terhadap Su Nan Su. Sampai akhirnya dia menyaksikan betapa kejamnya Liok Bi Lan menotok beberapa titik jalan darah mematikan di tubuh Su Nan Su, dengan tenaga totokan yang telah diperhitungkan benar sehingga Su Nan Su tidak mati di waktu itu juga, diberi kesempatan untuk pulang ke dalam kampung.
Rasa gusar dan muak melihat apa yang dilakukan Bwee-sim-mo-li, membuat Lo-kan jadi tak bisa menahan diri dan memakinya juga setelah Su Nan Su berlari-lari pergi.
Waktu itu melompat "lenyap" dari hadapan Su Nan Su, sebetulnya Bwee-sim-mo-li tidak pergi jauh, sebab dia cuma menempatkan dirinya di atas sebatang cabang pohon, berjongkok dan tertawa geli ketika melihat Su Kan Su lari terbirit-birit karena menyangka dia telah menghilang dan sebagai hantu cantik yang sangat menakutkan sekali."
Lo kan berada di tempat itu juga secara kebetulan. Dia diperintahkan Toan Yok, pangcunya, untuk menyelidiki keadaan orang-orangnya Cu Lie Seng. Dan dia bertemu dengan Bwee-sim-mo-li, walaupun jeri, tapi dia gagah sekali, dia tidak segera lari meninggalkan tempat itu, karena Lo kan ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan Liok Bi Lan membawa-bawa Su Nan Su.
Dan akhirnya Lo-kan mengerti apa yang mereka lakukan di tempat itu, setelah menyaksikan sendiri semua yang dilakukan Bwee-sim mo-li dan Su Nan Su. Sungguh memuakkannya.
Tetapi sekarang dengan saling beradunya kekuatan tangkisan yang dilakukannya dengan tenaga pukulan Bwee-sim-mo-li dia semakin yakin bahwa dirinya bukan tandingan iblis yang jahat dan kejam ini. Maka dia pikir jalan yang paling baik adalah menyingkir, karena percuma saja jika dia melakukan perlawanan.
Sambil meloncat berdiri dia memutar tubuhnya hendak melesat pergi dari tempat itu dengan mempergunakan ginkangnya. Tapi, baru saja tubuhnya melesat ke tengah udara, tiba-tiba melesat beberapa sinar terang dan kedua pahanya dirasakan sakit bukan main, membuat dia menjerit dan rubuh terjungkel lagi di tanah, dengan kedua kaki lumpuh tak bisa berdiri lagi, sebab Bwee-sim mo li telah menyerangnya dengan jarum beracunnya !
"Hemmm !" si iblis melangkah menghampiri dengan muka dingin pada pengemis ini.
"Kau harus mati. Sudah ku katakan tadi, siapa saja, bertemu denganku berarti dia harus mati, apa lagi kau yang dengan sengaja mengintai apa yang kulakukan! Kematianmu tentu saja bukan cara yang enak, harus perlahan-lahan!"
Lo kan nekad, dia tahu tak mungkin lolos dari tangan ibis yang kejam ini. Maka jalan satu-satunya ialah mengadu jiwa dengan iblis tersebut. Melihat Bwee sim-mo-li tengah melangkah menghampirinya, tahu-tahu tangan dirinya menekan tanah, tubuhnya melesat menubruk si iblis dengan tangan kanan menyambar ke dada Bwee-sim mo-li, maksudnya hendak mengadu jiwa.
Dia tidak peduli lagi dengan penjagaan dirinya dan keselamatannya, juga tangan kirinya ikut melakukan serangan tenaga pukulannya bercuitan, dia telah mempergunakan seluruh Lwekang-nya
Bwee sim mo li benar-benar lihai, karena sedikitpun dia tidak berkisar dari tempatnya.berdiri. Matanya saja mengawasi tajam dan waktu kedua tangan pengemis ini hampir mencapai sasaran, tahu-tahu dia menekuk ke-dua lututnya, dan kedua tangannya dilonjorkan.
"Nggggekkkkk... Blesssss!"
Sepuluh jari tangan Bwee-sim- mo li menancap dalam sekali dada si pengemis, mata Lo-kan mendelik, mulutnya terbuka lebar, seperti juga dia tidak percaya pada jurus yang begitu aneh dan cepat, di mana kesepuluh jari tangan iblis tersebut bisa menembusi dadanya tanpa dia melihat gerakan kedua tangan iblis tersebut, dan akhirnya tubuhnya mengejang, waktu Bwee-sim-mo-li menarik ke sepuluh jari tangannya dari dada si pengemis, badan Lokan terguling dengan dada mengeluarkan darah sangat banyak, memancur... kemudian berkelojotan sejenak, terdengar suara di tenggorokannya dan tubuhnya kemudian diam kaku, tak bergerak lagi mati.
Bwee-sim-mo Ii tertawa mengejek, dia mempergunakan baju korbannya untuk menyusut tangannya, agar bersih dari lumuran darah, Kemudian seperti tidak terjadi sesuatu dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi meninggalkan mayat Lokan menggeletak disitu. Tubuh Bwee-sim-mo li melesat berkelebat, lenyap dalam kegelapan malam . . .
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Malam memang selalu gelap. Tapi tidak ada sesuatu yang abadi, kegelapan itu akhirnya lenyap dengan munculnya matahari fajar menggantikan rembulan untuk menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat, mengusir kegelapan.
Tapi disaat fajar mulai menyingsing, tampak balasan sosok tubuh sedang menuju ke suatu tempat yang tampak merupakan tujuan mereka. Semuanya membekal senjata tajam, sikap mereka penuh kewaspadaan, dan yang lebih luar biasa semua orang berpakaian sebagai TOSU, pendeta penganut agama To.
Sikap mereka tegang, terlihat jelas dari muka masing-masing yang tak ada senyum dan serius sekali, mata mereka bersinar tajam, penuh kewaspadaan.
Didepan rombongan tosu ini, berlari seorang tosu berusia lanjut. Dia memang seorang berilmu tinggi, karena badannya ringan sekali seperti terbang berkelebat pergi mendekati tempat yang dituju, kedua kakinya seperti tidak menginjak tanah.
Waktu sampai ditempat tujuan mereka yaitu sebuah lapangan tidak begitu besar dan di kejauhan terlihat belasan tenda perkemahan semuanya berhenti berlari, Yang menjadi pemimpin rombongan tosu itu, yaitu tosu tua yang sudah berusia kurang lebih enam puluh tahun dan berjalan di sebelah depan, mengisyaratkan dengan pedangnya yang dikibaskan ke atas maka belasan tosu itu berpencar membagi diri mengambil sikap seperti mengepung.
"Hmm. . sekarang kita harus mempertaruhkan nama baik Kun lun kita, jika memang tak berhasil kita harus membuang jiwa !" menggumam tosu yang sudah tua itu kepada tosu yang berdiri di sampingnya yang menemaninya walaupun kawan-kawannya yang lain sudah berpencar mengambil tempat masing-masing disekitar tempat itu.
"Benar, suheng!" mengangguk tosu yang diajak bicara itu mungkin berusia lima puluh empat tahun, sikapnya gagah sekali, matanya bersinar tajam menunjukkan dia memiliki kepandaian tinggi. "Usaha kita sekali ini harus berhasil, jika gagal lebih baik kita tak perlu kembali ke Kun-lun-san! "
"Bagus... apakah semuanya sudah siap?" tanya pemimpin tosu-tosu itu lagi.
"Semua sudah siap, suheng" Mereka hanya menanti perintah Suheng .,..!" menyahuti tosu yang seorang itu.
Tosu tua itu mengawasi ke tenda-tenda yang terpisah tak jauh lagi yang dari tempat dia dan tosu-tosu lainnya berada. Sampai akhirnya diiringi dengan suara nyaring, badannya telah meloncat menghampiri tenda-tenda itu, diikuti oleh tosu-tosu yang lainnya.
Gerakan tubuh mereka semuanya ringan dan gesit, juga ditangan masing-masing sudah mencekal pedang yang berkilauan terkena sinar matahari pagi. Semuanya menyerbu ke tenda tenda itu.
Dari dalam tenda keluar belasan orang juga. Mereka tak lain Tang Siansu dan yang lain-lainnya. Mereka sudah mengetahui kedatangan belasan orang tosu ini, Tang San Siansu tak mau para pengawalnya menjadi kurban dan berjatuhan mati di tangan para tosu itu yang tampaknya lihai dan gagah.
Sebagai seorang yang sudah mencapai sinkang sangat tajam. Yang luar biasa justeru dia bisa menerka berapa tinggi kepandaian tamu yang tak diundang dengan hanya mendengar suara langkah kakinya saja!
Dan sekarang dia juga tahu bahwa belasan orang tosu yang menyatroni rombongannya semua berkepandaian tinggi, karenanya dia telah perintahkan Cu Lie Seng tak keluar, dia saja bersama-sama dengan Pak mo, See-mo dan yang lain-lainnya keluar menyambut.
Tosu tua itu sudah berdiri di depan Tang San Siansu, bentaknya tanpa memberi hormat kepada pendeta itu. "Kerbau gundul cepat kau berikan daftar nama orang-orang gagah dan menyerahkan orang kepada kami!"
Waktu itu Tang San Siansu sudah melihat jelas tosu tua itu. dia tertawa bergelak-gelak sampai tubuhnya ikut tergoncang. "Ah, kiranya Yuan Ci Tojin ! Siapa sangka kau datang berkunjung kemari ! Sayang aku tak bisa menyambut kedatanganmu dengan jamuan yang meriah ! "
"Jangan banyak rewel, cepat serahkan daftar nama orang-orang gagah dan menyerahkan orang pada kami ! "
"Siapa yang hendak kau minta?" Tanya Tang San Siansu dingin dan tidak memandang sebelah mata pada tosu ini, bahkan mata nya yang tajam luar biasa telah mengawasi satu persatu tosu-tosu lainnya.
"Orang yang hendak kami minta adalah muridmu, Cu Lie Seng! Dia akan kami bawa ke Kun lun.san, nanti Ciangbunjin kami akan mengadilinya !"
Tang San Siansu tetap tenang, dia tidak memperlihatkan sedikitpun perasaan kaget, malah kemudian dengan sikap mengejek dia bilang: "Kalian hendak minta muridku agar bisa dibawa oleh kalian ke Kun lun-san ?" tanyanya dingin. "Bagus ! Kukira kau sudah makan nyali macan dan gajah sehingga berani bersikap demikian kurang ajar padaku !"
Tosu tua yang jadi pemimpin rombongan tosu itu, yang tadi disebut gelarannya oleh Tang San Siansu dengan panggilan Yuan Ci Tojin, tidak mau rewel, tangan kanannya telah melepaskan jarum jarum "Bwee-hoa-ciam" yang sangat halus empat puluh batang lebih Bwee-hoa-ciam sudah menyambar ke dada Tang San Siansu.
Yuan Ci Tojin adalah tosu berkepandaian tinggi, dia melatih senjata rahasianya itu selama duapuluh tahun lamanya. Tak pernah ada orang yang sanggup menerima timpukan jarum Bwee-hoa-ciamnya, apa lagi dia memang menyerang dengan sekaligus begitu yaitu mempergunakan Bwee-hoa-ciam dengan jumlah sangat banyak, biarpun Tang San Siansu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin dia bisa lolos dari sambaran jarun Bwee-hoa-ciam.
Melatih Bwee-hoa ciam bukanlah pekerjaan yang mudah, seseorang harus melatih untuk mengendalikan dulu bobot jarum yang dipergunakan sebagai senjata rahasia, sebab tenaga menimpuk jarum-jarum yang berukuran halus dan kecil itu, harus disertai dengan sinkang kuat.
Jika tidak, jangan harap Bwee-hoa-ciam bisa memberikan hasil yang sempurna, tenaga menancapnya tentu tidak bisa terlalu kuat. Sekarang jarum-jarum Bwee-hoa-ciam itu dilepas oleh seorang ahli seperti Yuan Ci Tojin. tenaga sinkang tojin itu cukup tinggi, maka jarum-jarum itu secepat kilat telah menyambar sekujur badan Tang San siansu.
Namun Tang Siansu sediktpun tidak memandang sebelah mata pada senjata rahasia tosu tersebut, malah dengan gesit tahu tahu di tangannya sudah tercekal sebatang tombak yang diambil dari salah seorang Kim-ie-wie yang berdiri tak begitu jauh darinya.
Dan, sekali memutar tombak itu, maka rontoklah jarum-jarum Bwee-hoa ciam tersebut, sebagian menjadi bubuk, sedangkan sebagian lagi menempel di ujung tombak itu, seperti bunga bwee.
Tidak kepalang kaget dan kagumnya Yuan Ci Tojin dan kawan-kawannya melihat kehebatan sinkang Tang San Siansu. Sebagai orang yang sudah mencapai tingkat sangat tinggi maka Tang San Siansu dapat mempergunakan sinkangnya dengan baik, dia leluasa untuk menyalurkan tenaga dalamnya baik pada lengan maupun benda yang dicekalnya.
Karena tenaga dalam itu telah disalurkan pada batang tombak, maka batang tombak seperti berobah jadi besi berani yang memiliki daya menarik yang kuat, jarum-jarum tersedot keujung tombok itu dan berkumpul menempel menjadi satu seperti bunga bwee yang gompiok!
Yuan Ci Tojin menyerang, pedangnya berkelebat secepat kilat akan menikam leher Tang San Siansu, namun pedangnya dapat di-sampok oleh tombak Tang San Siansu begitu keras, sehingga pedang patah jadi dua !
Yuan Ci Tojin yang sudah nekad tidak mundur, dia menyerang terus dengan pedang buntungnya. Tang San Siansu beberapa kali memaksa tosu itu untuk merobah cara menyerangnya karena tombaknya dapat mendesak hebat sekali. Tenaga dalam tosu itu bagaimanapun memang masih berada dibawah sinkang Tang San Siansu.
Tosu-tosu lainnya sudah menyerbu, mereka menyerang Tang San Siansu. "Biarkan aku yang membereskan mereka semua !" Teriak Tang San Siansu kepada kawan-kawannya. Pak-mo dan yang lainnya jadi berdiri diam menyaksikan jalannya pertempuran tersebut tanpa ikut turun tangan, mereka diam-diam semakin kagum pada Tang San Siansu, karena dengan cara bertempur seperti sekarang ini Tang San Siansu seperti sedang mempercontohkan kepandaiannya yang memang sangat tinggi, sehingga setiap serangannya itu membikin tosu-tosu yang berjumlah belasan orang tersebut tak dapat mendesaknya sedikitpun juga.
Bahkan Tang San Siansu selalu berhasil mendesak lawan-lawannya dengan tombaknya yang digerakkan sangat dahsyat,sehingga bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara bercuitan nyaring, karena kuatnya sinkang yang telah disalurkan pada batang tombak tersebut.
Yuan Ci Tojin sudah mengambil pedang salah seorang temannya, membuang pedang buntungnya, kemudian menyerang lebih dahsyat pada Tang San Siansu. Dengan dibantu oleh teman-temannya Yuan Ci Tojin jadi lebih hebat dari tadi, karena kalau tadi dia hanya seorang diri menghadapi Tang San Siansu, sekarang Tang San Siansu dibikin sibuk oleh teman-temannya dan Yuan Ci Tojin bisa menyerang semakin hebat.
Tang San Siansu mengempos semangatnya, waktu dia mengayunkan tombak pada tangannya seperti gulungan sinar hitam, terdengar dua kali jeritan disusul meloncat mundur dua orang tosu dengan dada yang berlumuran darah. Tapi kedua orang tosu itu tidak roboh, mereka nekad sekali meloncat maju lagi, sekali ini tanpa peduli akan keselamatan dirinya, mereka sudah meloncat dekat sekali dengan pedang menikam dada Tang San Siansu.
Tapi, belum lagi pedang mereka tiba di sasaran, tombak Tang San Siansu telah berkelebat membuat leher mereka robek oleh mata tombak, sampai kepala kedua tosu itu hampir putus dari lehernya, karena luka di dileher mereka begitu besar, darah juga mancur deras.
Mata kedua tosu itu terbuka lebar-lebar, mereka tidak percaya bahwa di dunia ada kecepatan yang demikian seperti yang dilakukan Tang San Siansu.
Dalam keadaan seperti ini Yuan Ci Tojin yang sudah nekad tidak tinggal diam, pedangnya berkelebat menikam. "Brettttt!" mata pedangnya berhasil memobek baju di pundak Tang San Siansu.
Sebetulnya mata pedang itu menikam pundak Tang San Siansu, namun kulit pundak Tang San Siansu keras melebihi besi, dia memiliki ilmu kebal, sehingga pedang tak dapat menikam tembus pundaknya, melesat melejit ke samping, merobek baju Tang San Siansu saja.
Tapi, hebat kesudahannya untuk Yuan Ci Tojin. Karena gagal serangannya itu, waktu tangannya tengah terulur menikamkan pedangnya, mata Tang San Siansu menyambar bersilang dari samping kanan ke kiri, masuk ke bawah ketiak Yuan Ci Tojin waktu itulah mata tombak tersebut telah menikam ke iga Yuan Ci Tojin, ketika Tang San Siansu mengangkat tombaknya, maka tubuh Yuan Ci Tojin yang seperti disate oleh tombak itu terangkat naik ke tengah udara !
Kawan-kawan Yuan Ci Tojin kaget, mereka merasa ngeri bukan main dan marah kalap sekali, mereka meloncat bersama menikam dan menabas dengan pedang masing-masing.
Tang San Siansu memutar tombaknya, badan Yu Ci Tojin yang berada di mata tombaknya ikut berputar, dan terdengar suara "Desssss... Bleeesssss...!" berulangkali, sebab pedang-pedang para tosu itu telah menabas dan menikam badan Yuan Ci Tojin sampai badan tosu itu terpotong-potong, kaki tangannya buntung!
Yuan Ci Tojin benar-benar kuat, karena dia tidak mati biarpun keadaannya sudah demikian, tiba-tiba dia mengempos seluruh sisa tenaganya, dengan mengerang, tahu tahu tubuhnya yang sudah racik itu meluncur terlepas dari mata tombak, karena tubuhnya seperti bisa meloncat ke atas, dan kepalanya menyeruduk akan membentur kuat sekali kepala Tang San Siansu !
Inilah cara mengadu jiwa dari orang-orang Kun lun-pai, saat terakhir Yuan Ci Tojin tidak mau mati sendirian, dia telah mengempos semangatnya yang terakhir untuk mati bersama dengan Tang San Siansu.
Kaget Tang San Siansu, dia tak keburu mengelakkan benturan kepala Yuan Ci Tojin, dan satu-satunya jalan hanyalah mengerahkan sinkangnya pada kepalanya.
"Dukkkkk ....!" kepala Yuan Ci Tosu membentur kepala Tang San Siansu, darah bercampur otak segera berpercikan kemana-mana, badan Yuan Ci Tojin meloso roboh terbanting di tanah, berkelojotan beberapakali, kemudian diam tak bergerak lagi, mati.
Ternyata akibat benturan kepalanya dengan kepala Tang San Siansu menyebabkan kepala Yuan Ci Tojin sendiri yang pecah hancur dan mati, sedangkan kepala Tang San Siansu sama sekali tak mengalami cidera, kepala Tang San Siansu begitu kuat.
Dia cuma merasa agak gelap pandangan matanya dan berkunang-kunang ketika kepala Yuan Ci Tojin membentur kepalanya, itu hanya sekejap dan beberapa detik, kemudian matanya bersinar tajam lagi memandang terang.
Bahkan, dengan kepala berlumuran darah dan otak, darah dan otak Yuan Ci Tojin yang menodai baju dan kepalanya.
Tang San Siansu mengamuk seperti naga terluka. Tombak ditangannya menyambar-nyambar memakai "Liong beng-kun" dahsyat sekali ! Angin pukulan kedua tangannya menderu-deru dansyat, bagaikan amukan badai, setiapkali telapak tangannya itu, baik tangan kiri maupun tangan kanan menyambar, maka maka terdengar jerit menyayatkan hati, seorang tosu telah terpental dan ambruk dengan mata juling dan mulut terbuka, dada yang melesak karena tulangnya hancur remuk, hanya sempat berkelojotan beberapakali dan kemudian putus napas!
Waktu itu cuma tinggal lima orang tosu. mereka tidak berusaha melarikan diri biarpun melihat kawan-kawan mereka seorang demi seorang roboh mati di tangan Tang San Siansu.
Mereka benar-benar nekad dan seperti sengaja hendak mati dengan semangat penuh, mempertaruhkan jiwa dengan Tang San Siansu. Kelitna tosu itu menjerit serentak, mereka meloncat kalap menikam dengan pedang masing-masing.
Melihat serangan yang datang serentak seperti ini, Tang San Siansu tidak berkelit, kedua tangannya berkelebatan dan lima batang pedang lawannya kena dirampas semua nya, dan waktu Tang San Siansu menggerakan tangannya lagi, pedang-pedang itu patah menjadi sepuluh potong.
Dan si pendeta bukan hanya sampai di situ saja bertindak, kedua tangannya cepat sekali telah menyambar dahsyat, beruntun telah mematikan kelima tosu itu, yang masing-masing terpental akibat pukulan mematikan " Liong-beng-kun".
Setelah membereskan kelima tosu ini. Tang San Siansu berdiri dengan sikap angker, kepala dan baju berlumuran darah dan otak menyebabkan keadaannya sangat mengerikan. Teman-temannya yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut diam diam menggidik.
Demikian hebat Tang San Siansu, seorang diri telah berhasil membereskan senua lawan-lawannya yang berjumlah belasan orang itu, bahkan tosu-tosu yang memiliki kepandaian tidak rendah !
Pak-mo dan yang lainnya diam-diam juga jadi semakin tunduk pada Tang San - Siansu. Mereka memiliki kepandaian tinggi, sebagai datuk persilatan, yang ditakuti oleh orang-orang kangouw, juga mereka telengas dan kejam, namun mereka tidak dapat melebihi kehebatan Tang San Siansu!
Waktu itu dengan suara angkuh Tang San Siansu sudah bilang: "Mereka benar-benar sengaja mengantar jiwa..! Kun-lun-pai harus dibasmi rata dengan bumi, tak ada seorang Kun-lun-pai yang dapat dibiarkan hidup ! Jika kita telah sampai di kotaraja, nanti akan kuminta pada Cu-kongkong untuk membasmi habis semua orang-orang Kun-lun-pai !"
Kemudian Tang San Siansu pergi ke tendanya, dia salin pakaian dan membersihkan badannya dari noda darah. Baru kemudian dia bercakap-cakap dengan See-mo, Cu Lie Seng dan yang lain-lainnya.
"Kita harus melakukan perjalanan empat atau selambat-lambatnya lima hari lagi, kita segera sampai di kotaraja!" bilang Tang San Siansu dengan muka yang angker.
"Selama lima hari itu kita tak boleh lengah. Justeru umumnya yang dilakukan olen orang lain ialah semakin dekat pada tujuan, semakin lengah, sehingga kita bisa terkecoh oleh lawan, yang mendadak melakukan serangan total.
Kita harus waspada, jangan sampai semakin dekat kandang sendiri dibikin malu. Jika memang mereka tahu kita selalu waspada, kupikir merekapun akan berpikir dua-kali untuk bertindak ...!"
"Suhu bagaimana dengan orang-orang Siao-lim sie?" tanya Cu Lie Seng sambil mengawasi gurunya.
"Kukira sekarang sudah tiba saatnya. Setelah kita tiba di kotaraja nanti kita bicarakan lagi tentang Siao-lim-sie. Memang sekarang sudah kucapai tingkat yang tertinggi dari "Liong-beng kun" dan tak ada seorangpun yang sanggup mengatasi jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun'ku itu ! Kukira, tahun ini adalah tahun terakhir untuk Siao-lim-si, kalau mereka tetap tidak tahu diri dan tidak mau menyerahkan kedudukan Ciangbunjin Siao lim si padaku, maka mereka harus dibabat habis semuanya, kuilnya kita ratakan dengan bumi dan semua pendeta Siao-lim kita bunuh habis mereka!"
"Tetapi kitab-kitab pusaka milik Siao-lim-si itu..." Cu Lie Seng ragu-ragu.
Tang San Siansu tertawa dingin.
"Tentu saja waktu kita menyerbu kesana, yang paling utama adalah menyelamatkan dulu kitab-kitab itu, sebagian dari kita memecah diri untuk membereskan kitab-kitab pusaka itu... aku dengan yang lain akan menghabisi pendeta-pendeta Siao lim-si... kemudian kita bakar kuil itu !"
Cu Lie Seng tampak girang. Kalau gurunya berhasil mendapatkan kitab-kitab pusaka Siao lim-si, jelas akhirnya warisan kitab-kitab pusaka itu jatuh ke tangannya, karena dia murid kesayangan Tang San Siansu, tak ada murid lainnya lagi, ilmu silat andalan maupun kitab pusaka semuanya akan jatuh di tangannya !
Tiba-tiba muka TangSan Siansu berobah. "Ehhhhh, mana dia Bi Lan ?" tanyanya.
Dia tidak melihat Bwee-sim-mo-li sejak tadi, rupanya sekarang baru menyadarinya. Dia celingukan ke sana kemari, tapi Bwee-sim-mo li memang tidak berada di antara mereka.
"Ya, sejak tadi kami tak melihatnya juga," menyahuti See-mo.
"Aku berada di sini !" Tiba-tiba di luar tanda terdengar suara Bwee-sim-mo-li, disusul munculnya iblis kejam itu dengan bibir tersenyum-senyum.
Tang San Siansu mengerutkan alis dan menatap tajam menyelidik pada Bwee-sim-mo-li, kemudian dia menggerendeng: "Pakaianmu tidak rapi, apakah kau..." Tapi dia tidak meneruskan kata-katanya tersebut.
Bwee-sim-mo-li tahu bahwa Tang San Siansu cemburu padanya, pasti dia menduga Bwee-sim-mo li telah pergi mencari mangsa, korbannya lagi, yaitu orang orang muda. Sebagai seorang yang licik, Bwee-sim mo li cepat-cepat memperlihatkan wajah seperti marah, menggerutu juga:
"Mengapa pakaianku yang kau ributkatn? Aku baru bangun dari tidur karena mendengar suara ribut-ribut dan langsung keluar ! Apakah, di dunia ini ada orang yang bangun tidur dengan pakaian yang tetap rapi dan utuh?"
Tang San Siansu diam tidak menyahuti, cuma mukanya yang masam memperlihatkan bahwa dia mendongkol dan tidak senang. Yang lain-lainnya segera keluar dari tenda meninggalkan Tang San Siansu, karena setiap kali Tang San Siansu sedang uring-uringan seperti itu, mereka bisa jadi korban dimaki olehnya. Maka yang paling selamat adalah cepat cepat menjauhinya.
Sekarang tinggallah Tang San Siansu berdua dengan Bwee-sim-mo-li di dalam tenda itu. Bwee-sim-mo-li tahu pendeta ini sedang ngambek. Karena memang selama ini dia jeri dan gentar terhadap kepandaian dahsyat Tang San Siansu, maka dia mengalah dan tak mau membawa adat. Dia menghampiri dan duduk di samping Tang San Siansu.
"Mengapa sih kau selalu marah marah saja ?" tanya Bwee-sim- mo-li berbisik lirih manja sekali, tangannya memegang tangan kanan Tang San Siansu, mengusap usap seperti orang yang tengah bersedih hati.
Tang San Siansu melirik.
"Kau sangat liar... tetap saja kau tak bisa tenang di sampingku, selalu hendak mencari korban-korbanmu saja...!" menggumam Tang San Siansu dan wajahnya memperlihatkan rasa cemburu yang nyata sekali.
Bwee-sim-mo-li tersenyum manja. "Kau ini ada-ada saja... Apakah Taisu memang menduga begitu jelek padaku ? selama ini aku telah digembirakan olehmu, aku tak pernah merasa kesepian lagi ! Mengapa aku harus mencari korban-korbanku lagi ? Di dalam dunia ini mana ada manusia yang melebihi kehebatan taisu ? Mana ada laki-laki yang sanggup menandingi kehebatan taisu?"
Mendengar pujian tidak langsung Bwee-sim mo-li, Tang San Siansu berkurang mendongkolnya, dia melirik. "Benarkah aku merupakan satu-satunya laki-laki yang paling hebat ?" tanyanya.
Bwee-sim-mo-li mengangguk.
"Apakah aku pernah berdusta di depan taisu ? Apakah aku pernah menyatakan pada taisu bahwa aku tak pernah senang dengan taisu ? Aku tidak pernah bilang bahwa kau gagal menyenangkan hatiku, bukan ?"
Senang hati Tang San Siansu. Dia mencekal tangan Bwee-sim-mo-li. "Aku inginkan kau selalu berada di sampingku !" bisiknya.
"Tentu... aku juga senang jika selalu bisa berada di samping taisu... tapi yang kukuatirkan...." Bwee-sim mo-li tidak meneruskan kata-katanya.
"Apa yang kau kuatirkan? Apakah kau takut nanti ada yang berusaha menghalangi hubungan kita?" tanya Tang San Siansu cepat dan matanya memandang tajam. "Atau kau sudah jatuh hati pada laki-laki lain?"
Bwee-sim-mo-li menggeleng.
"Bukan... bukan...!" jawabnya segera. "Tapi yang kukuatirkan justeru kalau Taisu sudah bosan padaku dan menendangku! " kata-kata ini diiringi dengan sikap sangat manja, menjatuhkan kepala di dada Tang San Siansu, membiarkan pendeta itu memeluk tubuhnya.
Tang San Siansu tertawa gembira, dia memeluk Bwee-sim-mo-li dengan hangat mulutnya mencium pipi Bwee sim mo-li yang putih halus.
Bwee sim-mo li mengikik sambil tertawa genit, tangannya mendorong dada Tang San Siansu.
"Kenapa?" tanya Tang San Siansu sambil memandang dengan mata terbuka lebar-lebar.
"Geli, kumis jenggotmu begitu kasar," menjelaskan Bwee sim- mo-li sambil tertawa.
Tang San Siansu juga tertawa, rasa cemburunya sudah lenyap seluruhnya. Dia memeluk lagi Bwee sim mo li, namun sekali ini waktu tangannya menggerayang, Bwee-sim-mo-li telah mendorong lagi dadanya. Sekali ini Tang San Siansu jadi mendongkol.
"Mengapa hari ini sikapmu aneh sekali, Bi Lan?" tegurnya dengan hati tak senang.
"Tunggu dulu... semuanya dapat berlangsung dengan lancar dan menyenangkan, tapi aku benar-benar mendongkol dan penasaran !"
"Apa yang membuat kau penasaran?!"
"Kau ! Engkau yang telah membuat aku sangat penasaran !"
"Kenapa? "Tang San Siansu mengawasi semakin tajam, matanya yang memang sudah, besar semakin besar saja seperti juga biji matanya hendak meloncat keluar. "Aku membuat kau penasaran? Kenapa? Katakan. kenapa?"
"Dulu kau sudah berjanji akan memberitahukan latihan-latihan "Liong-beng kun" padaku, tapi sekarang sudah sekian lama kita bersahabat, tapi tak pernah sepatah kata kouw-hoat (teori) dari jurus pukulan "Liong-beng-kun" yang kau beritahukan padaku!"
"Ooooh tentang persoalan itu !" kata Tang San Siansu sambil tertawa bergelak-gelak. "Kukira kau sudah jatuh hati pada laki-laki lain sehingga jadi penasaran padaku! Kalau soal itu gampang ! Gampang sekali! Nanti akan kuajarkan padamu teori dan latihan jurus-jurus pukulan "Liongbeng-kun", jangan kuatir, aku tak akan membohongimu !"
"Nah, nah apakah ini tidak membuat aku penasaran ! Kau selalu menggampangkan persoalan, selalu bilang gampang, gampang, gampang... tapi buat aku sendiri, sudah sekian lama kunanti-nantikan kau beritahukan kauw-hoat "Liong-beng-kun", tetap saja kau tak mau memberi tahukan! Apakah keadaan seperti ini tidak membuatku selalu jadi penasaran?"
Tang San Siansu berdiam sejenak, alisnya berkerut. Di dalam hati ia berpikir: "Hemmm. iblis ini kira aku mudah ditipunya! Dia iblis liar, sekarang dia tunduk padaku dan menuruti apa yang kuinginkan karena dia memang mempunyai maksud-maksud tertentu, disamping itu memang dia sangat takut padaku ! Coba kalau dia tak gentar padaku, apakah dia mau tunduk seperti ini! Mengajarkan dia Liong-beng-kun ? Memberi tahukan teori jurus jurus pukulan "Liong-beng-kun" padanya?
Ooooh, ini hanya membuat dia seperti tumbuh sayap ! Dia tentu kelak tak tunduk lagi padaku ! Dikiranya aku ini terlalu bodoh untuk menuruti keinginannya!"
Waktu Tang Sin Siansu sedang berpikir seperti itu. Bwee-sim-mo-li mengawasi saja, Dia juga berpikir: "Hemmm, setan keparat ini licik sekali, dia selalu mengelak dan tak mau memberitahukan kouwkoat "Liong-beng-kun"-nya, Kalau memang sudah diberitahukan kouwhoat itu dan aku berhasil merobek seluruh kouwhoat Liong-beng-kun" darinya, walaupun dia cuma memberitahukan dan membacakan kouwhoat "Liong-beng kun" satu kali saja, itu sudah cukup untuk aku memahami jurus pukulan itu, setidak-tidaknya untuk menciptakan jurus-jurus lain yang bisa mengatasi "Liong-beng kun", selanjutnya aku tidak perlu gentar lagi padanya ....! Tapi, bagaimana caranya untuk membujuk dia memberitahukan kouwhoat beng-kun nya ?"
Tang San Siansu melihat Bwee-sim-mo-li berdiam diri seperti itu, tiba-tiba tertawa bergelak-gelak dan mengulurkan kedua tangannya, merangkul erat sekali.
"Mengapa kau harus bersedih hati seperti itu?" Apakah kau tidak percaya padaku dan kuatir aku mendustaikau ?" bisik Tang San Siansu sambil menciumi pipi dan leher Bwee-sim-mo li.
Bwee-sim-moli menghela napas dalam-dalam.
"Aku benar-benar sedih... aku penasaran, karena merasa cuma dipermainkan olehmu, taisu." menyahuti Bwee sim-mo-li. Suaranya mengandung kesedihan.
Tang San Siansu tertawa. "Kau menuduh aku membuat kau penasaran, sedangkan sebenarnya aku berusaha untuk menyenangkan kau! Tentang kouwhoat "Liong-beng kun" nanti pasti kuberitahukan, sekarang belum waktunya!"
"Kenapa belum waktunya ? Nanti atau sekarang toh sama saja ?" mendesak Bwee-sim-mo-li.
Sekarang bukan saatnya yang tepat, nanti jika kita sudah tiba di kotaraja akan kuberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun" itu padamu!"
"Mengapa tidak sekarang? Apa bedanya disini dengan di kotaraja?" mendesak Bwee sim-mo-li sambil mengawasi Tang San Siansu dengan sorot mata tajam.
Sekarang aku tentu akan membuat muridku nanti mendongkol...." menyahuti Tang San Siansu.
"Maksudmu Cu Lie Seng, Cu-kongcu ?" tanya Bwee-sim-mo-li menegasi.
Tang San Siansu mengangguk.
"Benar ... jika dia mengetahui aka memberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun" kepadamu, tentu dia akan tersinggung dan merasa tidak puas. Sebagai murid tunggal pasti dia ingin agar seluruh kepandaianku hanya diwarisi padanya! Jika ada perasaan tidak senang padanya tentu keadaan-keadaan selanjutnya kurang menggembirakan !"
Bwee-sim-mo li tiba mendorong pundak Tang San Siansu, kemudian tertawa keras: "Lucu! Sungguh taisu ini sangat lucu !"
Muka Tang San Siansu berobah tidak senang dia mengawasi tajam pada Bwee-sim-mo-li, karena dia tersinggung dirinya disebut lucu, dan juga tertawa Bwee-sim-mo li seperti mengejeknya.
"Apa yang lucu di diriku ?" tanyanya mendongkol. "Apa yang kau tertawakan ? Apakah memang benar-benar ada sesuatu yang lucu dan tidak beres pada diriku ?"
Bwee-sim-mo-li masih tertawa terus, sampai memegangi perutnya, karena tertawa geli seperti itu.
"Tentu saja bukan tubuhmu yang lucu, taisu ! Tetapi sikapmu ! Mana ada sejarahnya dalam dunia kangouw seorang guru kuatir dan takut muridnya tidak senang karena si guru memberituhukan kouwhoat kepandaiannya kepada orang lain? Yang selalu terjadi justeru si murid yang takut dan kuatir kalau-kalau gurunya gusar dan menjadi tidak senang hati oleh tindakannya, bukan si guru yang harus takut dan kuatir!"
Muka Tang Sar Siansu berobah. "Aku tidak takut, mengapa aku harus takut pada Cu si tolol itu ?" katanya dengan suara agak keras menunjukkan perasaan tak senangnya. "Cuma aku tak mau melukai perasaannya, karena aku kuatir jika dia merasa iri dan tak senang hati nanti, nanti pelajarannya mengalami kemunduran, semangat untuk berlatihnya akan turun dan ini mempengaruhi kemajuannya untuk latihan "Liong-beng-kun" yang tengah diyakininya!
Aku menginginkan dia berhasil melatih dengan sempurna seluruh kepandaian yang kuwariskan padanya, karena dia satu-satunya murid tunggalku ! Karena itu, aku tak mau jika kelak dia cuma membawa malu untukku, karena sebagai murid tunggalku dia bisa dirobohkan oleh orang lain !
Dia harus memiliki kepandaian yang dahsyat dan siapapun tak boleh mengalahkannya ! Harus dia satu-satunya yang berkepandaian tertinggi didalam dunia kangouw!"
Bwee-sim-mo li tertawa lagi.
"Sungguh keinginan yang sangat terpuji, karena seorang guru demikian memperhatikan untuk perkembangan muridnya !" memuji Bwe-sim-mo-li. Dia cerdik, segera dia tahu si pendeta ini merasa tak senang oleh kata-katanya.
Tapi memang tadi sengaja Bwee-sim mo li melontarkan kata-kata itu untuk memancing emosi Tang San Siansu, dia tengah mengatur siasat untuk menyudutkan Tang San Siansu dan akkirnya nanti mau memberitahukan teori jurus jurus pukulan "Liong-beng-kun" padanya.
"Tapi sayang... ada sesuatu yang harus disayangkan! "
"Apa yang kurang ? Aku telah mendidik muridku dengan sebaik-baiknya, apakah kau anggap kemajaan muridku itu masih kurang dan pantas ditertawakan orang-orang gagah dalam kangouw ?"
"Bukan! Bukan itu maksudku ! Tetapi sayangnya, justeru kau tak bisa membuat muridmu itu merupakan ciangbunjin dari seluruh pintu perguruan silat dalam kangouw ! Coba kau bayangkan taisu, kalau memang kedudukan ciangbunjin dari semua pintu perguruan silat dijabat oleh muridmu, bukankah hal itu sangat menggembirakan sekali?"
Tang San Siansu tertegun mendengar perkataan Bwee-sim-mo-li, tapi kemudian dia bertanya: "Maksudmu itu menjabat semua kedudukan ciangbunjin dari pintu-pintu perguruan silat di seluruh kangouw? Begitu maksudmu?"
Bwee sim-mo-li mengangguk.
"Ya, dia murid seorang yang paling tangguh seperti taisu, tentu tak ada seorangpun yang berani menentang ! Menjadi bengcu saja tidak cukup. Hanya jadi pemimpin kalangan kangouw, dengan kedudukan ciangbunjin dari setiap perguruan silat ditangan orang-orang lain, tentu suatu waktu akan ada sikap membangkang dan memberontak ! Apa salahnya kalau memang kedudukan ciangbunjin dari setiap pintu perguruan dipegang oleh muridmu, sehingga seluruh kangouw dikuasai sepenuhnya!
Tang San Siansu mengangguk-angguk ragu-ragu. Memang saran yang dikemukakan Bwee sim-mo li merupakan salah satu cara dan jaian terbaik untuk menguasai rimba persilatan ! Muridnya memang tengah berusaha untuk menguasai kangouw dengan menyatakan bahwa dirinya sebagai bengcu atau ketua kangouw, dan alangkah lebih baiknya kalau kedudukan ciangbunjin dari semua pintu perguruan silat dipegang oleh muridnya, tentu tak ada satupun pintu perguruan siiat yang berani membangkang atau memberontak lagi !
"Bagus !" akhirnya Tang San Siansu berseru nyaring sambil menepuk paha Bwee-sim-mo-li. "Apa yang kau sarankan memang merupakan pendapat yang sangat baik.
Kedudukan Ciangbunjin Siao- lim-si, Butong, Kun-lun, Go bie pai dan lain-lainnya dipegang oleh muridku ! Dalam sejarah persilatan memang belum terjadi seluruh pintu perguruan silat dipegang oleh satu orang !
Dan ini memang bisa lebih mudah untuk menertibkan orang-orang kangouw! Aku akan berusaha menundukkan semua pintu perguruan silat, agar mereka mengakui muridku sebagai ciangbunjin mereka, supaya ciangbunjin mereka menyerahkan kedudukan ciangbunjin pada muridku! Jika mereka membangkang tak mau menyerahkan kedudukan ketua perguruan silatnya, maka kita babat habis mereka!"
Setelah berkata begitu, Tang San Siansu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali. Tampak dia sangat gembira. Dia memeluk Bwee-sim-mo-li sambil menciumi dan memujinya: "Kau benar-benar sangat cerdas sekali bisa memberikan saran yang demikian bagus !"
"Tapi sayangnya," kata Bwee-sim-mo-li lagi. "Kau tak pernah menepati janjimu, taisu ! Kalau kau memberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun" kepadaku, sehingga kepandaianku lebih mahir dan lebih tinggi tingkatnya, tentu tak akan sia-sia apa yang telah kau lakukan, aku bisa mendampingimu menghadapi seluruh orang kangouw tanpa perlu gentar ! Aku selalu akan mendukung muridmu itu agar mencapai kedudukan tertinggi di dalam kalangan kangouw!"
"Hah-hah-bah-hah, kembali kau penasaran tentang kouw-hoat "Liong-beng-kun", percayalah, nanti akan kuberitahukan kepadamu!" kata Tang San Siansu.
"Tapi Taisu, jika kau memberitahukan sekarang padaku teori jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun"- muridmu itu juga tak akan mengetahui, aku tak akan memberitahukan pada siapapun juga, kau tak usah kuatir...!" janji Bwee sim-mo li.
"Bukankah kita hanya berdua saja, tak ada orang yang mengetahui jika memang kau atau aku tak memberitahukannya ?"
"Sabarlah... nanti juga aku akan tepati janji. Jangan kuatir, aku tidak akan membohongimu... sekarang janganlah mengganggu kegembiraanku dengan permintaan yang tidak-tidak ! Ayo, kita bersenang-senang...!"
"Tapi taisu harus berjanji benar-benar tak akan mengingkari janjimu itu untuk memberitahukan padaku kouwhoat "Liong beng-kun" !"
"Jangan kuatir... nanti setelah tiba di kota raja, selama lima hari akan kuberitahukan kau teori jurus-jurus "Liong-beng-kun"
"Benar, taisu ?"
"Pasti kutepati janjiku itu ! Aku juga berharap memang kau bisa mendukung muridku, secara tidak langsung membantuku untuk meringankan tugasku menghadapi orang-orang kangouw ! Sekarang saja kepandaianmu sudah demikian tinggi, kalau memang kau kuberitahukan kouwhoat "Liong-beng-kun", niscaya kepandaianmu memperoleh kemajuan yang pesat sekali sehingga sulit orang menandingimu lagi !"
Girang Bwee-sim-mo-li, dia akan menahan diri untuk bersabar selama beberapa hari lagi, sampai mereka tiba di kotaraja dan akan mendesak Tang San Siansu untuk menepati janjinya memberitahukan padanya teori jurus pukulan "Liong-beng-kun".
Mati-matian Bwee-sim-mo li ingin sekali mengetahui teori jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun" yang diketahuinya memiliki kepentingan sangat besar untuk perkembangan ilmu silatnya, sehingga dia pasti bisa lebih tinggi lagi kepandaiannya.
Diam-diam sebetulnya Bwee sim-mo-li juga memiliki ambisi untuk menjadi satu-satunya orang yang paling lihai dalam kalangan kangouw, dia juga hendak menjadi ketua dari seluruh orang-orang kangouw.
Keinginannya itu memang sudah terpikirkan olehnya cukup lama. Jika sekarang dia sengaja menganjurkan Cu Lie Seng untuk jadi ketua kangouw, itulah disebabkan dia memang sangat cerdik, hanya memancing agar Tang San Siansu mau memberitahukan kouwhoat jurus-jurus pukulan "Liong-beng-kun".
Justeru Bwee-sim-mo-li yang sudah memiliki kepandaian sangat tinggi ini merasa gentar pada si pendeta sebab jurus pukulan "Liong-beng-kun" itu, kalau dia sudah mengetahui seluruh kouwhoat jurus pukulan "Liong-beng-kun", niscaya dia bisa melihat kelemahan jurus pukulan itu, berarti juga dia bisa mempersiapkan ilmu silat untuk mematahkan Liong-beng-kun, yang nanti akan dipergunakan untuk merobohkan Tang San Siansu.
Di saat itu kalau dia sudah berhasil tentu dia tak perlu gentar lagi pada Tang San Siansu. Dan kalau saatnya sudah tiba, dia pasti tidak akan mendukung Cu Lie Seng melainkan ingin merampas kedudukan ketua Kangouw untuk dirinya sendiri !
Tang San Siansu yang sedang gembira, tampak tak sabar. Tangannya kasar sekali mengangkat badan Bwee-sim-mo-li, membantingnya !
Bwee-siin mo-li menjerit lirih dan menggeliat, sedangkan Tang San Siansu sudah menjambak rambut Bwee sim mo-li, kemudian menengadahkan kepala iblis perempuan ini. Waktu itu Bwe sim-mo li merintih dengan memejamkan matanya.
Tangan kiri Tang San Siansu menampari muka Bwee sim-mo-li kuat sekali, sampai terdengar suara "plakkkk . . . plokkk ..." tidak hentinya, sampai muka iblis itu merah akibat tamparan kuat itu.
"Ayolah...! " suara Bwee sim-mo li semakin lirih, dia menggeliat lagi. "Ayolah Taisu..." dan pukulan-pukulan Tang San Siansu semakin keras memukuli muka dan tubuh Bwee-sim mo li, sedangkan Bwee-sim-mo-li tampaknya semakin terangsang !
Rupanya, Bwee-sim-mo-li memiliki semacara penyakit jiwa, yaitu histeris dan baru bisa memperoleh kegembiraan dengan Tang San Siansu jika sudah diperlakukan kasar dan tubuhnya dipersakiti ! Semakin hebat perlakuan yang mempersakiti dirinya, semakin hebat rangsangan yaig diperolehnya.
Waktu itu matanya sudah terbalik-balik dan hanya terlihat putihnya saja. Tangannya mencengkeram kuat-kuat pundak Tang San Siansu.
"Akan kumampusi kau!" kata Tang San Siansu dengan napas memburu keras dan mengangkat badan Bee-sim-moli yang dibanting berulangkali sampai gedebak-gedebuk keras sekali, dan memang ini yang diinginkan Bwee-sim-mo-li dan dia seperti tenggelam semakin dalam, dalam kesenangan yang bisa diberikan Tang San Siansu, karena pendeta yang kasar ini mengetahui apa yang di inginkan Bwee-sim mo-li dan telah memenuhi apa yang diinginkan Bwee-sim-mo-li ....
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cu-kongkong Cu Biau Liat mengangguk-angguk sambil mengawasi daftar nama-nama orang gagah yang tertulis di secarik kertas berukuran panjang itu, mukanya berseri-seri. Di depannya berdiri dengan sikap hormat Siangkoan Giok Lin dan See-mo.
"Bagus!" kata Cu kongkong kemudian sambil menggulung lagi daftar nama nama orang partai, "Kau telah melakukan tugas dengan baik, Siangkoan-kisu ! Kau memang layak menerima penghargaan tertinggi dari Hongsiang ! Nanti akan kuberitahukan pada Hongsiang tentang jasa-jasamu, dan jika terbukti nanti seluruh usaha kita berhasil menindas pemberontak, pasti pangkat tinggi adalah bagianmu !"
Siangkoan Giok Lin cepat-cepat menekuk kaki kanannya berlutut mengucapkan terima kasih.
Cu kong-kong menoleh pada See-mo, setelah memberi isyarat pada Siangkoan Giok Lin agar berdiri lagi. "Sekarang kita sudah mendapatkan posisi sebaik-baiknya di kalangan kangouw, baik di Utara, Barat, Selatan dan Timur ! Semua ini berkat bantuan dari kalian! Tentu semua ini tak akan dilupakan Hongsiang.
Sekarang yang kuinginkan, Thio Hong Gan harus ditumpas, jika memungkinkan kepalanya dibawa kemari, untuk diperlihatkan pada Hongsiang, Selanjutnya, kalian tak usah bersusah payah lagi, untuk menduduki salah satu jabatan penting di kerajaan ! Semuanya pasti menerima penghargaan dari Hong-siang !"
"Baik kongkong, nanti kami akan usahakan membawa kepala pemberontak itu !"
"Bagus... sekarang aku ingin memberikan instruksi pada beberapa orang jenderal di perbatasan, agar untuk sementara ini mereka pulang ke kotaraja, sebab tenaga mereka diperlukan untuk ikut membasmi Thio Hong Gan dan pasukannya yang liar itu! Dalam waktu tiga bulan usaha ini sudah harus berhasil, karena Hongsiang kemarin menegurku, agar tak terlalu lama-lama menyelesaikan persoalan ini! Nah, sampaikanlah pesanku ini pada teman-teman kalian !" Setelah berkata begitu Cu kongkong mengibaskan tangannya, sikapnya mempersilahkan tamu-tamunya untuk berlalu.
Setelah See mo dan Siangkoan Giok Lin keluar, Cu-kongkong seorang diri di dalam ruangan itu. Sepasang alisnya mengkerut.
"Hemmm, manusia-manusia liar dan kasar hendak duduk sebagai pejabat pemerintahan...! Tapi. biarlah, untuk sementara waktu ini memang aku perlu merangkul mereka, jika segalanya sudah selesai, mereka akan dibereskan !"
Dan Cu kong-kong tersenyum, dia menepuk tangannya. Segera menghadap seorang pengawalnya. Dia perintahkan memanggil Tang San Siansu. Sekarang ini memang Tang-San Siansu merupakan satu-satunya orang yang paling diandalkan oleh Cu kongkong.
Namun sebagai seorang cerdik, tentu saja Cu-kong-kong tahu bagaimana menguasai dan mengendalikan "macan" ini, kalau sekali meleset saja, tentu bisa membahayakan dirinya juga. Selain licik, Tang San Siansu diketahuinya memiliki jiwa yang buruk sekali.
Tak lama kemudian Tang San Siansu sudah datang menghadap. Dia memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya, Cu-kongkong mempersilahkan dia duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
"Taisu, usaha besar yang selama ini kau lakukan telah berjalan dengan lancar. Coba sekarang kau jelaskan, apa rencanamu selanjutnya?"
"Siao-lim-si... jika telah dapat dihancurkan atau dikuasai, semuanya akan berjalan lebih lancar lagi kongkong !" menyahuti Tang San Siansu. "Dalam beberapa waktu mendatang, aku akan berusaha membasminya. Pertama-tama aku akan memaksa mereka menyerahkan kedudukan Ciangbunjin pada Cu-ji (anak Cu), jika mereka bersikeras dan menolak hal itu, berarti Siao-lim-si harus di bakar musnah dan seluruh pendetanya harus dibasmi."
Cu-kong kong mengangguk-angguk kemudian katanya: "Memang itu merupakan salah satu jalan yang cukup baik untuk mendukung lebih lancarnya usaha besar kita ! Tapi perlu kuingatkan padamu taisu, apakah tindakan seperti itu tak terlalu berat, apa lagi mengingat sekarang ini usaha kita untuk menguasai orang-orang kangouw belum berhasil sepenuhnya, yang kukuatirkan mereka akan mendapat kesan kurang baik pada kita atas penghancuran Siao-lim-si. . ."
"Tapi kongkong harus ingat, tidak semua orang senang pada Siao lim-si. Syukur kalau Siao-lim-si mau baik-baik menyerah dan menyerahkan kedudukan Ciangbunjin pada Cu-ji. tapi jika membangkang apa salahnya kita hancurkan ! inipun sebagai contoh yang sangat baik sekali buat seluruh orang-orang persilatan agar mereka selanjutnya tidak banyak lagak lagi dan patuh pada setiap perintah kongkong...!"
Cu Bin Liat mengangguk-angguk sambil tertawa. "Semua ini berkat bantuan taisu, sehingga aku bisa melaksanakan tugas dari Hongsiang dengan sebaik-baiknya ! Nah, jika memang taisu menganggap itu merupakan salah satu jalan yang baik buat kita, siiahkan taisu atur segalanya !"
"Terima kasih kongkong...!" dan Tang San Siansu kemudian mengundurkan diri.
Cu Bian Liat tidak segera meninggalkan ruang kerjanya, dia berdiam diri dengan sepasang alis yang mengkerut, karena dia tengah berpikir keras, yang dipikirkannya adalah Tang San Siansu.
Dan Cu Bian Liat ingin jika saja sudah selesai menumpas Thio Hong Gan, pemimpim pemberontak itu berhasil di tangkap atau dibawa kepalanya kehadapan-nya, maka Tang San Siansu akan disingkirkan !
Tentu saja menyingkirkan Tang San Siansu bukan urusan yang gampang, tapi dia mempunyai cara yang telah tersusun baik, karena dia hendak menyingkirkan Tang San Siansu dengan cara halus, sehingga nanti Tang San Siansu sendiri tidak akan menyadari dirinya telah disingkirkan oleh Cu Bian Liat !
Terpikir begitu, Cu Bian Liat tersenyum puas. Dia mengutamakan sekarang adalah cara-cara agar anaknya, Cu Lie Seng berhasil mendapat dulu semua warisan kepandaian Tang San Siansu, setelah tiba saatnya barulah Tang San Siansu yang dianggap bisa berbahaya itu disingkirkan ! menunggang macan memang sulit untuk turun maupun juga untuk menyingkirkannya, dan Cu Bian Liat tak akan bertindak tanggung-tanggung jika kelak hendak menyingkirkan Tang San Sian-su !
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cu Siauw Hoa duduk termenung didepan jendela kamarnya menghadap keluar taman yang indah dan semarak dengan dengan bunga-bunga beraneka macam dan warna, harum semerbak tersiar dari bunga-bunga yang banyak tumbuh di taman tersebut.
Pikiran Siauw Hoa tidak tenang, dia selalu teringat pada Giok Han dan Cang In Bwee, setiap kali teringat pada kedua orang itu, hatinya semakin dibakar oleh rasa marah dan cemburu. Rasa benci yang tumbuh di hatinya semakin lama semakin hebat juga.
Sudah merupakan tekad bulat pada gadis bangsawan ini untuk membunuh Giok Han dan Cang In Bwee. Dia sudah seminggu tiba di istana ayahnya, selama itu dia telah memikirkan cara-cara terbaik untuk melenyapkan Cang In Bwee, gadis yang jadi saingannya dan berusaha untuk menarik perhatian Giok Han.
Jika Giok Han benar-benar mencintainya dan melepaskan Cang In Bwee, juga nanti terbukti bahwa Giok Han lebih mencintai Siauw Hoa, maka gadis bangsawan ini tidak akan membunuhnya. Tapi jika nanti Giok Han terbukti lebih mencintai In Bwee, tak ada pilihan lain, dia akan membunuh Giok Han juga dengan cara apapun !
Dia tengah mempertimbangkan, untuk mengirim puluhan orang Gi-lim-kun dan Kim-ie-wi yang berkepandaian tinggi, untuk mencari Giok Han dan Cang In Bwee dan membunuh kedua orang itu, cuma saja mengingat kepandaian Giok Han sangat tinggi, gadis bangsawan ini ragu-ragu kembali.
Dia tahu, jika mengirim orang-orang berkepandaian tanggung, niscaya Giok Han tak berhasil diganggu. Cang In Bwee biarpun memiliki kepandaian di bawah Giok Han, tetap saja sulit dibunuh selama dia bersama-sama dengan Giok Han, sebab Giok Han akan melindunginya.
Satu-satunya jalan adalah minta pada Tang San Siansu, guna memimpin beberapa orang berkepandaian tinggi, supaya pergi membunuh Cang In Bwee dan kalau perlu membunuh Giok Han sekalian.
Rasa benci yang sudah membakar hati dan jiwa Siauw Hoa demikian hebatnya, sehingga dari rasa mencintai akhirnya berobah menjadi rasa benci yang begitu hebat. Selama belum bisa membuat Giok Han dan Gang In Bwe hancur, dia belum puas.
Selama seminggu itulah Siauw Hoa tenggelam dalam keragu-raguan. Dia memang sebetulnya ingin mengadukan pengalamannya itu pada ayahnya, yang pasti bisa mengirim orang-orang berkepandaian tinggi untuk menangkap Giok Han dan Cang In Bwee yang dicap oleb Siauw Hoa sebagai "pemberontak-pemberontak", namun sejauh itu dia masih malu untuk menceritakan pengalamannya itu pada ayahnya!
Sebagaimana lazimnya gadis-gadis Iain, demikian juga keadaan Siauw Hoa yang merasa malu kalau harus menceritakan isi hati yang sebenarnya pada ayahnya.
Karena itu selama seminggu Siauw Hoa masih diliputi keraguan dan belum bisa memastikan tindakan apa yang hendak dilakukan.
Sebetulnya, sebagai puteri bangsawan yang paling berkuasa seperti Cu-kongkong, Siauw-Hoa tidak kekurangan orang-orang muda yang bisa dipilih menjadi suaminya. Tetapi sejauh itu, dari sekian banyak putera-putera pembesar kerajaan maupun bangsawan yang coba mendekatinya, tak seorangpun yang menarik perhatian Siauw Hoa.
Memang gadis ini selalu bergaul dengan lincah dan manis terhadap orang muda manapun juga, namun sejauh itu masih terbatas sebagai sahabat biasa saja. Umumnya orang-orang muda itu memperlihatkan sikap menjilat dan coba-coba memanggil hatinya dengan berbagai sikap yang dibuat-buat.
Hal ini yang tak menyenangkan hati Siauw Hao. Terlebih lagi umumnya orang-orang muda itu berusaha mendekati Siauw Hoa lebih banyak terdorong oleh keinginan menjadi mantu Cu-kongkong orang kedua yang paling berkuasa setelah Kaisar di seluruh kerajaan tersebut !
Berbeda dengan Giok Han, orang muda itu benar-benar menarik hati dan juga telah merebut hati Siauw Hoa, sehingga gadis bangsawan ini mencintainya. Namun cintanya itu terbentur pada keadaan yang begitu pahit, dimana Giok Han ternyata mencintai Cang In Bwee!
Hal ini membuat Siauw Hoa jadi marah dan penasaran, dia sebetulnya ingin memperlihatkan betapapun sebagai puterinya Cu-kongkong dia sangat berkuasa dan bisa saja memaksa Giok Han menjadi suaminya dengan memanfaatkan kekuasaan ayahnya.
Cuma saja, sebagai gadis umumnya, rasa harga dirinya jauh lebih menang dari cintanya, karena dia merasa begitu rendah kalau harus menghiba-hiba pada Giok Han, untuk memperoleh cintanya! Dia tak mau memaksa Giok Han untuk mencintainya!
Sejak kecil Siauw Hoa sudah demikian dimanjakan, dan siapapun memperlakukannya dengan hormat. Sekarang Giok Han ternyata tak mencintainya, betapa sakit hatinya. Bahkan dengan telinganya sendiri didengar Giok Han mencintai Cang In Bwee, kenyataan yang membuat perasaan terluka !
Baru sekali ini signdis merasa kecewa dan sedih, mengapa Giok Han tak mencintainya, padahal sebelumnya demikian banyak orang muda yang berusaha mengejar cinta Siauw Hoa dan gsdis ini umumnya memperlihatkan sikap masa bodo pada orang-orang muda itu !
Memang cinta sulit dibilang juga, dapat datang kapan saja, di mana saja dan tanpa memandang tingkat dan golongan. Karena itu Siauw Hoa sendiri sering menyesali dirinya, mengapa dia harus mencintai Giok Han, sehingga sekarang perasaannya demikian menderita oleh cintanya tersebut.
Waktu itu, dia tengah berusaha mencari jalan untuk melampiaskan penasaran-penasaran maupun kecewanya. Terkadang didorong oleh emosinya dia hendak menbunuh Giok Han dan Cang In Bwee, agar kedua orang muda itu mengetahui siapa dia sebenarnya, yang memiliki kekuasaan demikian besar.
Tapi, dilain waktu Siauw Hoa diliputi rasa rindu yang demikian besar, mendambakan sikap lembut dan kasih sayang Giok Han, mengharapkan cinta pemuda itu. Segala macam perasaan berkecamuk menyiksa perasaan Siauw Hoa.
Dia telah mempertimbangkan dan memikirkannya selama seminggu itu, tapi tak juga berhasil untuk memutuskan tindakan apa yang harus ditempuhnya.
Bersambung ke jilid 29
This entry was posted
on Senin, Agustus 02, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar