Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 24  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 24
Kepandaian Cu Lie Seng cukup tinggi, dia murid tokoh tangguh seperti Tang San Siansu dan beberapa tokoh persilatan lainnya, karenanya pemuda ini tak kenal takut. Begitu dia mengetahui ada tamu tak diundang yang berkunjung di depan jendelanya, dia tak segera berteriak memanggil orang-orangnya ataupun Siangkoan Giok Lin, melainkan membuka daun jendela dan melompat keluar dari jendela kamarnya itu untuk menangkap sendiri tamu tak diundang tersebut.
Waktu Cu Lie Seng sudah berada di luar jendela kamarnya, dia melihat sesosok tubuh sedang melesat hendak pergi, maka dia meloncat lagi tinggi sekali sambil bentaknya: "Mau lari kemana kau ?" Tubuhnya seperti juga kilat cepatnya menubruk kearah bayangan itu. Namun orang yang ditubruknya juga memiliki kepandaian tinggi, karena tubrukan Cu Lie Seng mengenai tempat kosong.
"Kalau kau mempunyai nyali, ayo ikut denganku !" mengejek si pengemis tua itu untuk membakar hati dan perasaan Cu Lie Seng, dia juga sudah melesat pergi.

Cu Lie Seng cerdik bukan main, jika saja pengemis itu berlari terus tanpa menantangnya, niscaya ia akan mengejarnya untuk membekuk, tapi sekarang mendengar pengemis itu menantangnya, dia malah menahan kakinya berdiri di tempatnya. Hmmm, bukankah dia sedang melaksanakan tipu-daya "memancing harimau meninggalkan kandang" untuk memancingku !" pikirnya.
Maka dia tidak mengejar, berdiri di tempatnya mengawasi kepergian si pengemis.
Pengemis yang tadi mengintai sudah berdiri di atas genteng. Dia menoleh dan kecewa melihat Cu Lie Seng tak mengejarnya, bahkan berdiri di situ mengawasinya saja dengan sorot mata tajam. Pengemis ini segera menyadari bahwa dia sudah gagal memancing Cu Lie Seng untuk mengejarnya, namun dia tidak kehabisan akal maka tantangnya: "Kau ternyata manusia pengecut tak bernyali, jangan kuatir, tak mungkin kau dikeroyok oleh teman-temanku !" Ejeknya.
Cu Lie Seng panas hatinya, tapi dia tetap tidak bergerak dari tempatnya berada. "Siapa kau sahabat ?" tegurnya bengis dan dingin. "Turunlah, kalau kau punya urusan denganku, mari kita bicara di sini! "
"Hu, aku tak menyangka putera tunggal si kebiri yang sudah mau mampus itu adalah manusia paling pengecut di dunia ini, sama seperti bapak-moyangnya yang selalu bersembunyi ekor tapi mencelakai rakyat memakai tangan anak buahnya" mengejek pengemis itu lagi.
Merah mula Cu Lie Seng. Tapi dia sudah yakin pengemis ini hendak memancing-nya, maka dia tetap berdiri di tempatnya. Dengar suara dingin dia bilang: "Kalau kan ingin mengetahui lebih jelas tentang diriku, turunlah, aku akan perlihatkan kepadamu apakah aku ini manusia pengecut atau manusia yang tidak tahu malu seperti yang kau sebutkan ! Turunlah ! "
"Hemmm, sudah jelas kau manusia paling pengecut di dunia ini. Bukankah dengan berdiam terus di situ kau menghendaki nanti teman-temanmu, Ban It say si manusia yang punya tawa yang menyebalkan itu ! Atau kau mengharapkan juga bantuan orang she-Thio untuk bersama-sama mengeroyokku?"
"Aku jamin kau tidak akan dikeroyok! Itu jaminanku, siapa saja yang berani mengeroyokmu, akan kuhukum seberat-beratnya !" Menyahuti Cu Lie Seng tambah gusar.
"Kau tak usah banyak-banyak alasan, pulang saja ke pangkuan ibumu. menyusulah sepuas-puasmu!" mengejek pengemis itu lagi.
Habis kesabaran Cu Lie Seng. Walaupun menduga pengemis ini hendak memancingnya, tapi sekarang dia sulit mengendalikan diri. Dia jadi kalap diejek seperti itu. Walaupun bagaimana Cu Lie Seng masih berusia muda, perasaan yang lebih diutamakan. Dia juga yakin dirinya memiliki kepandaian tinggi, jarang orang bisa melukai dirinya, karenanya biarpun nanti ada teman-teman si pengemis yang tengah menanti di suatu tempat, dia tidak takut.
Tanpa bicara lagi badannya seperti anak panah terlepas dari busur, telah melesat menyambar ke pengemis.
Tapi pengemis itu yang tahu sudah berhasil memanas-manasi hati Cu Lie Seng, tak membuang waktu, sama cepat dan gesitnya dengan ginkangnya melesat pergi meninggalkan rumah Siangkoan Giok Lin. Kedua orang itu jadi saling mengejar. Karena terlalu cepat mereka berlari mempergunakan ginkang tinggi. badan mereka sudah tak bisa dilihat jelas, cuma tampak seperti kedua sosok bayangan yang berkelebat samar; kaki mereka seperti sudah tak menginjak bumi lagi.
Untung saja waktu itu tengah malam dan sepi, kalau saja ada penduduk kota yang melihat kedua sosok bayangan yang saling kejar seperti itu, jelas akan menyangka telah melihat dua setan yang sedang gentayangan di tengah kota !
Si pengemis memang memiliki ginkang tinggi, karena sejauh itu Cu Lie Seng tetap tak berhasil mengejarnya. Biarpun Cu Lie Seng penasaran dan mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih dekat pada pengemis itu, tetap saja usahanya gagal. Bahkan ketika tiba di sebuah tikungan, ia kehilangan jejak si pengemis.
Bukan main mendongkol dan penasaran Cu Lie Seng, dia berpura-pura di tempat itu mencari si pengemis, yang diduga bersembunyi di sekitar tempat itu. Tapi usahanya tetap saja tak berhasil.
Waktu itulah mendadal dia teringat sesuatu, dia cepat-cepat berhenti mencari jejak si pengemis, malah secepat kilat tubuhnya sudah berlari lari kembali ke rumah Siangkoan Giok Lin. Keadaan di rumah Siangkoan Giok-Lin sepi-sepi saja, tak terjadi sesuatu. Cu Lie-Seng langsung kekamarnya dan melihat barang-barang di dalam kamarnya sudah tak teratur seperti semula, bahkan buntalannya dalam keadaan terbuka. Segera Cu Lie Seng memeriksa buntalannya, tak ada yang lenyap.
"Hemm, tentu dia mencari ini!" menggumam Cu Lie Seng sambil merogoh saku bajunya mengeluarkan segulung kertas." Daftar orang-orang kangouw inilah yang diincarnya !"
Dan dia tertawa dingin, memasukkan lagi gulungan kertas itu ke daiam sakunya. Menutup jendelanya dan pergi tidur!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Si pengemis tua yang semula jalan terseok-seok dan tampak lerrah yang pernah mempermainkan pelayan Siangkoan Gion Lin, ternyata tak ada apa-apa pada kakinya, dia cuma-pura pura terseok-seok, karena waktu dikejar oleh Cu Lie Seng dia bisa bergerak sangat gesit.
Dia berhasil memancing Cu Lie Seng sampai jauh dan kemudian menyelinap kembali ke-rumah Siangkoan Giok Lin. Segera dia memeriksa kamar Cu Lie Seng, sebab tadi didengarnya banwa daftar orang-orang kangouw yang bersedia tunduk dan bekerja pada kerajaan berada ditangan Cu Lie Seng.
Tetapi pengemis ini tak berhasil menemukannya. Rupanya Cu Lie Seng selalu membawa bawa daftar orang-orang kangouw itu didalam sakunya.
Si pengemis membanting-banting kaki, dia menyesal tadi tak ngadu kepandaian saja dengan Cu Lie Seng, dengan kemungkinan bisa mengambil daftar orang-orang kangkouw disaku pemuda she Cu tersebut.
Dia bersusah payah memancing Cu Lie Seng dengan harapan bisa memeriksa kamar si pemuda she Cu, tapi harapannya ternyata nihil. Barang yang dicarinya tak berhasil ditemukan.
Karena tahu tak lama lagi Cu Lie Seng akan pulang kekamarnya ini tak membuang waktu lagi pengemis meninggalkan kamar itu, cepat luar biasa dia keluar dari rumah Siang koan Giok Lin. Dan memang tak lama kemudian Cu lie Seng kembali kekamarnya, namun tak menemukan si pengemis.
Pengemis itu berlari cepat sekali keluar kota. Dan dia tiba disebuah tempat yang banyak terdapat batu-batu gunung berukuran besar, tubuhnya menyelinap kebelakang batu-batu gunung itu.
"Nona Cang !" panggil si pengemis. perlahan suaranya.
"Kau sudah kembali? "jawaban dari balik batu.
"Ya sudah kuselidiki keadaan dirumah Siangkoan Giok Lin, Dia bersama orang-orang raja lalim itu akan berangkat meninggalkan kota ini pada jam empat malam ini, menuju kekotaraja!" si pengemis duduk sambil meletakkan tongkatnya.
Oraug dibalik bongkahan batu itu, nona Cang berseru kaget. "Kau...kau..." karena dia melihat yang muncul seorang pengemis tua. bukan Giok Han, seperti yang disangkanya.
Si pengemis tertawa dia menarik kumis jenggotnya yang segera terlepas dan membuka baju luarnya, baju penuh tambalan. "A-ku telah menyamar sebagai pengemis, ternyata penyamaranku sangat baik, sampai kau ju ga tak mengenaliku."
Cang In Bwee tertawa geli, "Nakal kau!" katanya. "Aku jadi kaget, kukira pengemis mana yang mau cari urusan denganku ! Aku pernah menyamar sebagai pengemis, sekarang kau menyamar sebagai pengemis jelas kita orang segolongan, dari kalangan pengemis!" Giok Han tertawa. Dia menceritakan "tadi waktu pergi hendak hendak menyelidiki gedung Siangkoan Giok Lin, dia bertemu dengan seorang pengemis. Maka timbul pikiran untuk menyamar sebagai pengemis. Dia membujuk si pengemis agar menjual sepotong pakaian penuh tambalan kepadanya, kemudian diapun memakai kumis dan jenggot palsu, me ngotori mukanya, sehingga tak ada lagi orang yang mengenalinya.
Karena diberi uang cukup banyak oleh Giok Han, pengemis itu tak keberatan memberikan pakaiannya sepotong pada pemuda yang tak dikenalnya ini.
Kemudian Giok Han juga menceritakan pengalamannya menyelidiki gedung Siangkoan Giok Lin, Tentang rencana Stankoan Giok Lin serta rombongannya yang akan berangkat kekotaraja pada jam empat pagi ini.
"Hemmm, tampaknya kita tak mudah merampas daftar orang orang kangouw dari tangan Cu Lie Seng, Di sampingnya masih banyak yang lainnya, yang memiliki kepandaian tak rendah. Yang lebih berbahaya lagi Tang San Siansu akan bersama sama mereka. Ini sulitnya!" menggumam si gadis dengan muka murung.
Giok Han mengangguk.
"Sebetulnya ini menggembirakan," kata Giok Han. "Kita telah memperoleh kesempatan."
"Kesempatan apa yang menggembirakan?" tanya Cang In Bwee tak mengerti.
"Kau bermusuhan dengan Tang San Si-ansu, dia musuh besarmu juga orang yang harus dimusnahkan manurut perintah guruku. Maka kita bisa saja mampergunakan kesempatan ini untuk berurusan dengannya, memancingnya dan kita kemudian menghadapinya bersama-sama. Tak mungkin dia bisa merobohkan kita. Tetapi urusan daftar orang-orang kangouw mempunyai kepentingan yang lebih besar.
Walaupun bagaimana kita harus menyingkirkan dulu urusan pribadi, kita harus berusaha mengambil daftar orang-orang kangouw. Kalau tidak niscaya Thio Hong Gan akan mengalami kesulitan dalam usaha besarnya...!"
Cang In Bwee mengiyakan membenarkan perkataan Giok Han. Lalu mengangkat kepalanya mengawasi si pemuda. "Lalu apa rencanamu ?" tanyanya.
"Kita akan menguntit rombongan mereka, jika ada kesempatan barulah kita rampas daftar orang-orang kangouw dari tangan muridnya, Cu Lie Seng. Tetapi kita harus bekerja hati-hati, jika gagal habislah harapan kita bisa menghadiahkan daftar orang-orang kangouw itu pada Thio Hong Gan."
"Baik! Kita atur begitu saja "
"Tapi..." Giok Han tampak ragu-ragu, dia mengawasi bimbang si gadis.
"Kenapa ?" taaya In Bwee heran.
"Kesehatanmu belum pulih... bagaimana kita bisa menguntit mereka ?"
"Jangan kuatir," tertawa si gadis. "bukankah kita cuma meoguntit mereka, dan belum bermaksud turun tangan? Selama itu aku bisa mempergunakan kesempatan untuk menyembuhkan lukaku. Asal kita hati-hati, bukankah tidak ada kesulitan ?"
Giok Han mengangguk. Mereka bertekad walaupun bagaimana daftar orang-orang kangouw yang berada ditangan Cu Lie Seng harus mereka rampas, untuk diserahkan kepada Thio Hong Gan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Enam orang gadis berpakaian serba putih dan semuanya cantik-cantik, bertubuh montok dan masih berusia muda, melangkah ringan memasuki sebuah pintu rembulan yang terukir indah sekali. Mereka masing-masing membawa sebuah nampan makanan. Dengan sikap hormat keenam gadis ini masuk ke ruang yang diatur sangat mewah, yang di sekelilingnya terdapat taman bunga yang tumbuh semerbak dengan warna-warnanya yang meriah. Tak jauh dari undakan anak tangga yang menuju ke ruang mewah tersebut, ada kolam yang airnya bening, diatur langat bagus sekali.
Keenam gadis berpakaian patih ita berlutut setelah menaiki undakan anak tangga. "SianIi (Dewi), kami telah menyelesaikan tugas kami," bilang keenam orang gadis itu dengan sikap hormat sekali.
"Hemmm, bagus! Masuklah kalian!" terdengar jawaban dari ruang dalam yang terhalang oleh tirai sutera yang halus dan indah. Dari dalam ruangan ini tersiar harum semerbak yang menyebabkan orang bisa merasakan, dirinya seperti berada di tempat yang sama indahnya di sorga.
Keenam gadis berpakaian serba putih itu mengiyakan, mereka bangkit dan membawa nampan masing-masing masuk ke ruang dalam.
Di dalam ruangan diatur sangat indah, juga luas. Di sudut kiri dari ruangan itu terdapat sebuah pembaringan, di atas pembaringan itu rebah seorang wanita yang cantik luar biasa. Sikapnya angkuh sekali, dia cuma melirik waktu keenam gadis berpakaian serba putih itu berlutut di samping ranjangnya.
"Bagaimana hasil tugas kalian?" tanya wanita cantik yang rebah di ranjang.
"Semuanya berjalan lancar tak ada ha-largan, sianli," menyahuti salah seorang dari keenam gadis berpakaian serba putih itu.
"Berkat doa Sianli, maka kami berhasil mengumpulkan beberapa pemuda yang kami anggap memenuhi persyaratan."
"Bagus. Tapi, apakah tak terjadi pertempuran dalam usaha kalian?" tanya Sianii itu dengan suara tawar.
"Tidak, Sianli. Bahkan lihatlah.... kami berhasil mengambil hadiah-hadiah menarik ini untuk Sianli."
Setelah berkata begitu, wanita berpakaian serba putih tersebut membuka tutup nampannya, ternyata di situ terdapat barang-barang permata yang berkilauan, seperti berlian, mutiara dan giok. Bermacam-roacam perhiasan.
Kelima orang kawannya juga membuka nampan masmg-masing, isinya bukan makanan, sama seperti nampan gadis yang pertama tadi, berisi permata mutu manikam yang nilainya sangat tinggi.
Sianli di atas pembaringan cuma melirik, tersenyum hangat.
"Bagus, simpanlah semuanya di tempat penyimpanan itu !" kata si Dewi sambil menunjuk kepada dinding yang ada di seberangnya.
Keenam gadis cantik berpakaian serba putih itu telah mengiyakan dan pergi ke dekat tembok. Salah seorang diantara mereka, yang rupanya jadi pemimpin dari kelima kawannya, telah menekan sebuah tombol dan dinding itu bisa terbuka.
Rupanya pada tembok itu dipasangi alat rahasia, sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga tersebut. Isi enam nampan itu dipindahkan ke dalam kotak penyimpanan di tembok.
"Sekarang," kata Sianli itu setelah keenam orang gadis berpakaian serba putih tersebut berlutut lagi di samping pembaringan, "kalian bawalah salah satu di antara calon-calon yang terbaik," dia berdiam sejenak, kemudian meneruskan, ,.yang termuda dan yang tergagah !"
"Baik, Sianli. Budak-budakmu akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya, agar Sianli tak kecewa !"
Keenam gadis berpakaian serba putih itu yang rupanya pelayan Sianii tersebut, segera mengundurkan diri. Sedangkan Sianli itu duduk di tepi pembaringan. Dia tersenyum. "Besok aku harus mendampingi bocah menyebalkan itu kembali ke kotaraja ! Hu ! Hu ! Kalau saja bukan murid Tang San si gundul, tidak akan kupedulikan permintaannya untuk mengawal keselamatannya !" Tampak-nya dia jadi kesal sekali.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Sianli itu menoleh ke pintu, dia melihat seorang pelayannya yang berpakaian serba putih sudah muncul diikuti oleh seorang pemuda berwajah putih halus dan bertubuh cukup gagah. Pemuda itu memandang bingung sekeliling ruangan dan juga pada Sianli itu, rupanya dia tak tahu mengapa dirinya dibawa ke situ.
"Sianli, tugas sudah dilaksanakan !" melapor pelayan itu dengan sikap hormat.
"Bagus A-hiang. Sekarang kau boleh mengundurkan diri, mengasolah ! Nanti kalau kubutuhkan kau, akan kupanggil !"
"Baik, Sianli." Si pelayan melirik pada si pemuda dan melangkah pergi, waktu lewat di sisi si pemuda dia masih sempat berpesan, suaranya perlahan sekali: "Layani Sianli baik-baik, jangan membuat Sianli gusar kalau sayang jiwamu !"
Pemuda itu diam saja, dia tengah kebingungan. Ketika Sianli itu melambaikan tangannya menyuruh dia maju mendekat ke pembaringan, si pemuda melangkah ragu-ragu.
"Siapa namamu?" tanya Sianli. halus suaranya, lirikan matanya genit sekali, bergairah.
"Aku Yao Can," menyahuti si pemuda, dia juga terheran-heran melihat di dunia ada wanita yang cantik luar biasa seperti yang ada di depannya, seperti seorang bidadari dari kahyangan. Entah apa yang diinginkan wanita cantik ini darinya ?

"Berapa umurmu ?" tanya Sianli itu lagi.
"Duapuluh tiga tahun."
"Usia yang masih muda sekali," menggumam Sianli. "Apakah kau sudah menikah ?"
"Belum..."
"Sayang ! Tentunya kau belum berpengalaman!" menggumam Sianli itu lagi, membuat si pemuda yang mengaku bernama Yao Cun bertambah heran dan tidak mengerti cuma mengawasi saja.
"Siapakah Sianli . . . ? Dan mengapa aku diajak kemari ?" tanya si pemuda.
"Tentang siapa diriku, tak perlu kau bertanya-tanya, cukup kau panggil aku dengan Sianli saja. Pertanyaanmu mengapa kau diajak kemari oleh pelayan-pelayanku, tentu kau bisa ketahui nanti. Sekarang aku ingin tanya kepadamu, apakah kau senang berada di sini ?"
Pemuda itu mengawasi keadaan ruangan yang sangat mewah tersebut, kemudian mengangguk. "Senang... tetapi ini tempat yang asing sekali untukku... terlalu mewah..." Sianli turun dari pembaringan, menghampiri pemuda itu, "Jangan pedulikan barang-barang yang tak berjiwa itu, Sekarang lihatlah padaku. Senangkah kau padaku?"
Pemuda itu tambah bingung, tapi melihat sinar mata yang liar dan memancarkan gairah, si pemuda tahu apa yang tengah dihadapinya, wanita yang penuh dengan pengaruh nafsu birahi, yang genit sekali, yang tampak cantik seperti bidadari.
Laki-laki manakah yang tak senang bercakap cakap dengan wanita secantik ini? Orang gila saja masih akan memandang terbengong-bengong pada kecantikan seorang wanita, apa lagi kecantikan yang luar biasa seperti wajah wanita ini yang ada dihadapannya. Maka pemuda itu mengangguk ragu-ragu.
"Tentu saja... aku senang, Tetapi aku tak tahu siap Sianli sebenarnya..."
Sianli melangkah mendekati pemuda itu, menarik tangannya sehingga si pemuda melangkah mendekatinya, diajak duduk di pinggir pembaringan. Pembaringan itu demikian empuk dan hangat.
"Aku menyukai kau, tapi janganlah kau membuatku jadi sebal dengan semua pertanyaanmu yang tetek bengek tak keruan itu. Sekarang aku menginginkan kau mendampingi ku dengan penuh kehangatan!" Waktu bicara tangan Sianli meraba-raba tangan pemuda itu yang diusap-usap lembut sekali.
Tubuh pemuda itu menggigil dia tampak mengalami tekanan batin yang hebat. Darahnya mendesir lebih cepat dari yang normal. Tubuhnya semakin lama menggigil semakin keras. Harum semerbak yang menerpa hidungnya membuat semangatnya seperti melayang-layang meninggalkan raganya, apalagi sekarang tangannya diusap-usap oleh jari-jari tangan lentik berkulit halus lembut sekali membuat dadanya berdegup keras.
"Apa... apa maksud Sianli?" tanya pemuda itu seperti orang tolol.
Sanli tersenyum, dia menarik tangan si pemuda sehingga tubuhnya berada dekat dengannya dan dia merebahkan kepala didada si pemuda.
"Peluklah aku....!" pinta Sianli dengan suara yang sengau serak perlahan, gemetar.
Pemuda itu tambah kebingungan, tapi tangannya tanpa disadari telah memeluk badan Sianli, yang montok padat. Tuburi pemuda ini gemetaran, giginya sampai bergemerutukan. Tapi dia berusaha mengembalikan gemetar tubuhnya, biarpun selalu gagal. Hangatnya tubuh wanita cantik dalam dekapannya membuat dia seperti terbang ke dunia lain.
"Jari-jari tanganmu dingin sekaii," bisik Sianli sambil nengusap perlahan-lahan dada pemuda ini. Dada yang berdegup keras dan cepat.
"Oooo - -" pemuda itu ingin melepaskan dekapannya, menarik tangannya, kaget sekali tampaknya. Tapi Sianli sudah memeluknya. "Biarpun tanganmu dingin, kukira tak apa-apa."
Memang, tangan pemuda itu dingin sekali karena perasaan yang bergolak di dalam hatinya. Dia tak kenal siapa wanita cantik yang genit dan hangat yang berada daiam pelukannya. Tetapi darahnya bergolak semakin lama semakin keras. Apa lagi tangan Sianli itu mulai berkeliaran kemana-mana, sehingga pakaian pemuda itu sudah tak keruan letaknya.
Lupalah pemuda itu terhadap segalanya, dia sudah tak berpikir apa-apa lagi, hanya satu yang diingatnya dan diinginkannya, yaitu tubuh yang montok dan hangat.
Kamar itu tak berpintu, tapi tak ada seorangpun di sekitar tempat itu. Sianli juga tak canggung-canggung bersikap mesra sekali pada pemuda tersebut. Matanya semakin lama semakin redup. Cuma, akhirnya dia kecewa setelah semuanya berlangsung, pemuda ini tak memberikan apa yang diharapkannya.
Tahu-tahu tangan kanannya menyampok dada pemuda itu. Perlahan saja kelihatannya, tapi badan pemuda itu terpental jauh, terbanting di lantai diiringi jerit kematian. Waktu tubuhnya terbanting di lantai, dia kelojotan beberapa kali, kemudian mengejang diam, karena kepalanya telah pecah!
"Hu! Cuma mengotori saja...!" menggerutu Sianli sambil menyambar bajunya dan mengenakannya dengan marah-marah. Kemudian dia menepuk tangan beberapa kali. A-hiang cepat muncul, Dia tak kaget melihat pemuda yang tadi diajak masuk olehnya ke ruang itu sudah menggeletak mati dengan kepala pecah dan tubuh telanjang bulat. Apa yang disaksikannya seperti juga pemandangan yang biasa saja. Dengan sikap hormat dia berlutut.
"Ada perintah lagi, Sianli?"
"Bawa yang kedua," perintah Sianli dengan muka yang masam "manusia apa yang kau bawa ini, apapun dia tak bisa, cuma mengotori tubuhku saja!"
Muka A-hiang jadi pucat, cepat cepat dia mengangguk-anggukkan kepalanya dalam keadaan berlutut. "Ampuni budakmu, Sianli... budakmu akan berusaha mempersembahkan yang diinginkan Sianli."

"Cepat laksanakan tugasmu!" perintah Sianli, tanpa berani berayal, A-hiang segera menggotong Yao Cun yang masih dalam keadaan telanjang bulat dan kepala yang telah pecah hancur menyebabkan kematiannya itu, keluar dari ruangan tersebut. Seorang pelayan lainnya kawan A hiang sudah datang membersihkan lantai dari noda darah.
Tak lama kemudian A-hiang muncul lagi, dia bersama seorang pemuda berpakaian sebagai pelajar, yang waktu masuk ke dalam ruangan dengan senyum-senyum ceriwis.
"Sianli, semoga dia tak mengecewakanmu" melapor A hiang. Sianli yang luar biasa ini, melambaikan tangannya agar si pemuda yang tampaknya ceriwis datang mendekatinya.
Pemuda itu melirik pada A-hiang, kemudian sambil tersenyum senyum menghampiri Sianli mulutnya juga ceriwis sekali. "Aduhhh, cantik luar biasa, sungguh membuat aku seperti bermimpi dan seperti sedang berada di sorga! "puji pemuda itu.
Sianli tersenyum senang mendengar pujian. Lenyap kemendongkolan hatinya. Tanyanya: "Siapa namamu?"
Cepat-cepat pemuda ini merangkapkan kedua tangannya dan menjura. "Hakseng bermana Thio Giam Keng. Siapakah nama nona?"
"Nanti akan kuberitahukan siapa diriku. Sekarang jawablah dulu pertanyaan-pertanyaanku." bilang Sianli.
"Silahkan, silahkan, dengan senang hati Hakseng akan menjawab dengan jujur dan sebenarnya setiap pertanyaan nona. Apa yang ingin nona tanyakan."
"Berapa umurmu?" tanya Sianli.
"Duapuluh tujuh tahun."
"Sudab menikah?"
Pemuda pelajar itu tersenyum ceriwis. "Apa artinya sebuah pernikahan ? Bagi seorang laki laki menikah atau tidak bukan suatu persoaIan ..."
"Maksudmu ?"
"Bukankah tanpa menikah seorang laki-laki tak terikat dan bebas bersenang-senang dengan wanita-wanita yang diinginkannya ?" balik tanya si pemuaa pelajar she Thio tersebut.
Sianli tersenyum. "Maksudmu kau sudah berpengalaman dalam urusan wanita?"
Thio Giam Keng tersenyum ceriwis. "Hakseng tak berani berkata begitu, tapi dari sekian banyak wanita yang pernah bersenang senang dengan Hak-seng tak ada seorangpun secantik nona. Hari ini benar-benar Hak seng sangat beruntung."
Sianli tersenyum penuh arti, dia menepuk tepi pembaringan, katanya: "Duduklah kau di sini."
Thio Giam Keng menghampiri, tapi dia tidak duduk di tepi pembaringan, melainkan tangannya ceriwis sekali mencolek pipi Sianli pujinya: "Betapa cantiknya nona... kalau tadi pelayanmu tak memberitahukan bahwa kau seorang manusia biasa, pasti aku akan menyangka bahwa kau seorang bidadari yang baru turun dari kahyangan."
Sianli menyambar menggenggam tangan Thio Giam Keng. menggenggam hangat dan tangannya yang lain mengusap-usap.
"Kau pemuda yang sangat menyenangkan!" Dan dia menarik tangan pemuda itu. Thio Giam Keng sengaja membiarkan tubuhnya terseret maju ke dekat Sianli dan malah kedua tangannya tahu-tahu merangkul tubuh yang padat berisi. Dia juga mencium pipi Sianli dengan napas yang mendengus hangat.
"Nona, kau cantik sekali, matipun aku rela jika bisa bersama kau satu malam saja!" bisik Thio Giam Keng merayu.
Sianli tertawa kegelian karena cuping telinganya dicium lagi oleh pemuda itu.
"Benarkah ?" rintih Sianli bergelinjang dalam rangkulan si pemuda, matanya liar dan basah berminyak.
"Benar.. di dunia kukira tak ada wanita yang bisa menandingi kecantikanmu... benar-benar mengherankan dan hampir membuatku tak percaya bahwa di dalam dunia ada wanita secantik kau !"
Sianli memeluk erat, hangat sekali. Kedua orang ini lupa segalanya. Keadaan di ruang itu menjadi panas sekali, biarpun hawa udara di luar ruang yang terbuka itu sangat dingin, tapi kedua orang ini seperti tak merasakannya.
Thio Giam Keng yang sehari-harinya seorang pemuda bedodoran pengganggu anak isteri penduduk, ternyata memang sangat pandai merayu. Tapi, setelah semuanya menjadi dingin, kembali Sianli kecewa. Dia mengambil jubah luarnya yang tipis, tubuhnya yang montok berbayang samar. Dia cemberut dengan muka masam.
"Mana kepandaianmu yang kau tonjol-tonjolkan tadi ? Bukankah kau mengatakan pandai sekali dalam urusan wanita ?" mengejek Sianli melirik pada Thio Giam Keng yang rebah lemas di pembaringan.
Pemuda pelajar ini menyeringai tertawa. "Nanti kita ulangi, akan kuperlihatkan kepadamu yang lebih luar biasa.. jangan kau menghinaku dulu, bukankah kita belum selesai sampai di sini ?"
"Hemmm, bicaramu terlalu besar, aku tak percaya lagi padamu. Tadi kau bilang rela mati jika dapat bersenang-senang denganku, walaupun hanya untuk satu hari saja, bukan?"
Muka Thio Giam Keng berobah pucat, sampai terlompat duduk memandang Sianli dengan mata terbuka lebar lebar.
"Aku... apakah aku tak berhasil menyenangkan hati... nona?" tanyanya gugup.
Tahu-tahu tangan Sianli menjambak rambut pemuda itu, menghentaknya. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan pemuda itu. Hentakannya itu menyebabkan tubuh si pemuda she Thio terlempar ke lantai dengan bantingan sangat keras, sampai dia menjerit kesakitan.
"Jawab pertanyaanku ! Bukankah tadi kau bicara seperti itu ?" bentak Sianli dengan suara dingin.
Thio Giam Keng meringis kesakitan, dia mengusap-usap pinggul dan meraba kepalanya, karena rambutnya tadi ditarik dan di-jambak keras sekali. "Be... benar... memang aku bicara begitu... tapi aku akan berusaha untuk menyenangkan kau, nona... percayalah, aku akan berusaha menyenangkan kau...!"
Muka Sianli dingin sekali, melangkah mendekati si pemuda dengan tindakan kaki perlahan-lahan. Sedikitpun tak tampak perasaan apa-apa di mukanya. Tiba-tiba dia bilang: "Kau juga pemuda tidak berguna, menyebalkan !"
Lemaslah tubuh Thio Giam Keng, tahulah dia apa yang akan menimpa dirinya. Tadi sudah diberitahukan oleh A hiang bahwa dia tak berhasil menyenangkan hati majikannya, celakalah dia. Cepat-cepat dia menggoyang-goyangkan tangannya. "Dengar dulu, nona... dengar dulu..." Tapi, baru bicara sampai di situ, dia menjerit sekuat suaranya, karena kepalanya dirasakan seperti di tancap cakar-cakar besi, kelima jari tangan Sianli sudah menoblos batok kepalanya, sampai berlobang dalam sekali. Mata Thio Giam Keng terbuka lebar-lebar seperti tak percaya apa yang terjadi, mulutnya terbuka, suara jeritannya berobah menjadi suara mengorok, tubuhnya berkelojotan dua kali, kemudian kejang, jiwanya sudah melayang Waktu Sianli mencabut kelima jari tangannya yang berlumuran darah campur otak dari kepala Thio-Gian Keng. pemuda pelajar itu sudah menggeletak tak bernapas lagi !
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Hemmm!" mendengus Sianli dengan wajah yang mengejek. "Bwee sim-mo-li hendak dipermainkan oleh kau ? Mana bisa ? Dengan sombong kau memiliki kepandaian yang tinggi dalam rayuan dan cumbuan pada wanita, nyatanya kau tak lebih dari seekor anjing keparat ! Sudah pantas dan cukup layak kau dihukum mati dengan cara demikian!"
Setelah berkata begitu, Sianli berteriak keras memanggil A hiang. Cepat sekali A-hiang muncul. Melihat tangan Sianli berlumuran darah cepat-cepat dia mempergunakan sewaskom air dan sepotong kain sutera mencucinya hati-hati.
"Kembali kau gagal menyerahkan orang yang benar-benar kuinginkan, A-hiang," bilang Sianli, yang ternyata tak lain dari Bwee-sim-mo li, iblis wanita yang paling ditakuti orang-orang kangouw. Tawar suaranya.
"Ya. Sianli. Budakmu akan berusaha mencari pemuda yang benar-benar bisa jadi idaman hati Sianli." Menyahuti A-hiang, sambil membersihkan hati-hati sekali kelima jari tangan Bwee-sim-mo-li.
"Kukira. sulit mendapatkan pria tambatan hati seperti yang kuinginkan. Telah lebih dari limapuluh orang pemuda yang gagal memenuhi keinginanku, dan mereka semuanya harus membuang jiwa di ruang ini. Lama-lama aku jadi berpikir, apakah semua laki-laki memang tak memiliki kemampuan untuk menyenangkan diriku? Aku mulai kuatir tak ada pemuda yang bisa menyenangkan hatiku."
"Sianli jangan kuatir," A-hiang bicara hati-hati sekali. "Nanti suatu saat, jika sudah sampai waktunya, tentu budak-budakmu berhasil mencarikan kau pemuda yang benar-benar dapat menyenangkan hatimu!"
Sianli tertawa tawar. "Ya mudah-mudahan saja begitu," katanya. "Tapi. biarpun pemuda-pemuda itu bisa menyenangkan hatiku, sedikitnya mereka sudah memberikan kemajuan buat latihan lwekangku. Karena itu aku tak terlalu menyesali kau, A-hiang."
"Terima kasih Sianli" A-hiang selesai membersihkan jari-jari tangan Sianli. dia membawa pergi waskom yang berisi air merah bercampur darah. Kemudian kembali untuk memberikan wangi-wangian pada tangan Bwee-sim-mo li.
Bwee-sim mo-Ii rebah saja di pembaringan, seperti sedang berpikir sesuatu, sampai akhirnya ia menghela napas dalam-dalam.
"Apa yang Sianli pikirkan." tanya A-hiang. "Tak usah Sianli gelisah, budak-budakmu akan sekuat tenaga mencari pemuda yang Sianli inginkan."
"Aku sedang memikirkan, jika saja lima-puluh orang pemuda lagi gagal menyenangkan hatiku, berarti kekecewaan hatiku semakin besar, namun latihan Iwekangku sudah cukup kuat dengan diperoleh lebih dari seratus sari-hidup pemuda-pemuda itu. Namun aku masih kuatir, apakah sudah cukup dan sama kuatnya seperti yang dimiliki Tang San Siansu?"
"Tang San Siansu tak berarti apa-apa bagi Sianli, jika Sianli telah menyelesaikan latihan sinkangmu, tentu Tang San Siansu bisa Sianli atasi. Dia memang memiliki kepandaian tinggi, tapi mana bisa menandingi Sianli ?" A-hiang memuji dengan sikap sungguh-sungguh.
Senang hati Bwee-sim-mo-li. "Aku cuma kuatir, dari seratus sari-hidup pemuda-pemuda itu tidak semuanya murni. Mereka ada yang sudah pernah main perempuan-perempuan lain, tidak perjaka-murni."
"Kalau begitu, nanti budak-budakmu mencarikanmu pemuda pemuda yang benar-benar masih perjaka," berjanji A-hiang.
"Mana bisa?" menggumam Sianli dengan mata memandang kosong pada langit-langit kamar. "Apakah kau bisa tahu dan memastikan seorang pemuda masih perjaka tulen. Laki-laki biasanya pembohong, juga biarpun mereka belum menikah, sulit menjamin mereka masih perjaka asli."
Pipi A-hiang berobah merah, mengangguk. "Benar apa yang Sianli bilang, tapi budak budakmu nanti akan berusaha menyelidiki sebaik-baiknya sebelum menyeret pemuda manapun ke hadapan Sianli. Paling tidak, mereka masih belum menghambur-hamburkan terlalu banyak sari - hidupnya, baru satu dua kali saja dia bersenang-senang dengan wanita lain, itupun kalau benar tidak ada pemuda-pemuda yang masih perjaka."
Tiba-tiba Bwie-rim-mo-li bangun duduk dan tersenyum.
"A-hiang, kau benar-benar muridku yang setia dan patuh, yang selalu berusaha menyenangkan hatiku. Baiklah, jika kau berhasil mempersembahkan pemuda yang kuidam-idamkan, yaitu masih perjaka asli, akan kuwariskan kau pukulan maut, Eng-kut-kun" (Pukulan Tulang Elang)
A-hiang cepat-cepat berlutut. "Terima kasih atas budi kebaikan Sianli. Budakmu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan pemuda-pemuda yang Sianli inginkan."
"Baiklah, kukira jari-jari tanganku sekarang sudah bersih," kata Bwee-sim mo-li. "Bereskan mayat pemuda itu."
"Ya, Sianli," cepat-cepat A hiang membawa mayat Thio Giam Keng, kemudian datang kembali membersihkan lantai, sedangkan Bwee-sim-mo li rebah di pembaringan empuk mewah itu dengan pikian menerawang memikirkan sesuatu.
Mendadak Cun-hiang, salah seorang murid Bwee-sim mo-li lainnya muncul dan berlutut dengan sikap sanpat menghormat.
"Melapor pada Sianli, Tang San Siansu datang berkunjung dan sedang menanti di luar. Apakah boleh dibiarkan kemari?" bilang Cun- hiang.
Alis Bwee-sim-mo li mengkerut, tapi akhirnya dia mengangguk. "Suruh dia masuk," suaranya perlahan. Dia juga sudah merapikan pakaiannya.
Cun hiang mengundurkan diri. Waktu A-hiang ingin keluar meninggalkan ruangan setelah membersihkan lantai dari percikan nona darah, Bwee-sim mo-li memanggilnya: "Kamari kau, A hiang."
Cepat-cepat A-hiang mendekat, Bwe-sim-mo li mengawasi muridnya, dengan suara perlahan dia bilang: "Pergi kau selidiki, apa yang tengah dilakukan Cu Lie Seng dan yang lain lainnya dirumah Siangkoan Giok Lin, nanti berikan laporan kepadaku!"
"Baik, Sianli ...!" menyahuti A-hiang, dia mengundurkan diri.
Bwee-sim rao-li duduk terdiam di pinggir pembaringan. Otaknya tampak bekerja sedang mennkirkan sesuatu. la ingat, sekarang ini bekerja buat Cu-kongkong dan selalu diperintah perintah oleh Cu Lie Seng, putera Cu-kongkong, sebetulnya membuat hatinya tidak puas. Tapi dia jeri pada Tang San Siansu, guru Cu Lie Seng, karenanya juga sementara ini dia tidak memperlihatkan perasaan tidak puasnya tersebut, cuma saja diam-diam dia telah melatih dengan giat semacam ilmu tenaga dalam kelas satu, dengan bantuan dari sari-hidup pemuda untuk mencapai kesempurnaan, karena sinkang yang dilatihnya agak sesat.
Dia mempunyai rencana, kalau latihannya sudah dirasakan cukup, akan dipergunakan menghadapi Tang San Siansu, berusaha unruk merobonkannya.
Kalau berhasil, dia selanjutnya tak mau di-bawah perintah Cu Lie Seng. Dengan bantuan 12 orang murid-muridnya, dia mencari pemuda-pemuda yang dikehendakinya.
Waktu itu Cun hiang telah muncul kembali mengiringi seorang pendeta bertubuh kekar dan perkasa. Dialah Tang San Siansu, satu satunya orang yang berhasil menundukkan Bwee sim-mo-li, yang kepandaiannya lebih tinggi dari iblis wanita tersebut. Waktu memasuki ruangan, Tang San Siansu sudah tertawa dengan suara parau.
"Bie Lan Moay-moay, mengapa kau menjauhi diri dari rombongan kami?" tegur pendeta ini.
Bwee-sim-mo-li Liok Bie Lan cepat-cepat menyambut si pendeta dengan muka berseri-seri, ramai senyumnya. "Siapa sangka aku memperoleh kesempatan dan kehormatan dikunjungi Taisu. Sementara ini aku hendak beristirahat, sambil menunggu perintah Taisu, karena itu aku tak menggabungkan diri dengan muridmu itu, Cu Lie Seng."
"Kukira kau sudah mau memisahkan diri dari kami," kata Tang San Siansu, tawar. "Tapi mudah-mudahan saja dugaanku itu keliru."
"Mana berani aku memisahkan diri dari Taisu, justeru Taisulah satu-satunya orang yang kuandalkan untuk menghadapi semua orang kangouw."
Tang San Siansu tertawa bergelak-gelak. "Benarkah itu ? Kukira kau sendiri merupakan iblis-wanita yang sangat ditakuti oleh semua orang kangouw, bagaimana mungkin kau harus mengandalkan aku lagi sebagai tulang punggungmu ?"
"Taisu terlalu memuji," bilang Bwee-sim-mo-li. "Percayalah Taisu, kau satu satunya orang yang kukagumi. Jika aku menemui kesulitan tentu hanya kepadamu saja aku bisa meminta pertolongan. Bukankah begitu?"
Si pendeta tersenyum, mengawasi Bwee-simmo-li. Iblis-wanita ini semakin lama semakin cantik saja. Biarpun usianya sudah tidak muda lagi, namun Liok Bie Lan benar-benar merupakan wanita sangat cantik yang kemontokan tubuhnya tidak kalah dibandingkan dengan gadis-gadis muda remaja.
Bukan main kagumnya Tang San Siansu, karena kecantikan wajah Bwee-sim-mo- li memiliki daya tarik tersendiri yang sungguh menggairahkan, matanya yang bersinar memancarkan gairah seakan memiliki kekuatan magnit membetot sukma.
"Bie Lan Moay moay, kau semakin lama kian cantik saja." puji Tang San Siansu, karena goncangan hati yang dialaminya melihat kecantikan Bwee-sim-mo-li yang benar-benar mengagumkan. "Kukira, banyak sekali pria yang sudah bertekuk lutut di bawah kakimu, bukan ?"
"Jangan memujiku terus menerus, Taisu, lama lama aku tak kuat lagi menerima pujianmu dan nanti bisa jadi berkepala besar," merendah Liok Bie Lan. "Apakah memang aku masih cantik ?"
"Tentu... aku tak sangka bahwa semakin lama kau semakin cantik saja. Hari ini baru kulihat bahwa kau memang benar-benar sangat cantik."
Bwee sim- mo-li tertawa, menghampiri si pendeta, kemudian merangkul lehernya.
"Taisu, tertarikkah kau padaku ?" bisik Bwee sim-mo-li dengan sikap manja, matanya memandang dengan gairah, tubuhnya begitu hangat memeluk si pendeta dadanya yang padat membusung rapat menekan dada Si pendeta.
"Sudah berapa banyak pemuda yang kau korbankan, Bie Lan Moay-moay ?" balas tanya si pendeta.
Bwee-sim-mo li terkejut, dia merenggangkan pelukannya, menatap si pendeta seperti tidak mengerti apa yang ditanyakan si pendeta "Apa maksudmu, Taisu ?"

"Kudengar akhir-akhir ini murid-murid-mu rajin sekali menangkapi pemuda-pemuda muda sama seperti seorang pemburu menangkap kelinci-kelinci saja. Tentu semuanya itu atas perintahmu, bukan ?"
"Aku kesepian, Taisu," akhirnya Bwee-sim-mo-li bisa mengendalikan goncangan hatinya. Semula dia menyangka si pendeta mengetahui dia memanfaatkan sari-hidup pe-muda-nemudi itu untuk kepentingan latihan sinkangnya. Tapi, dia masih tak yakin bahwa Tang San Siansu mengetahui hal itu, maka dia beralasan bahwa dia kesepian.
"Tak ada seorangpun yang mau menemaniku. Pemuda-pemuda itu bodoh-bodoh semua tak ada yang bisa menyenangkan hatiku, maka aku mengganti-ganti mereka"
"Mengapa tidak memberitahukan kepada ku sejak dulu bahwa kau kesepian, Bie Lao Maay-moay ?" bilang si pendeta sambil tertawa dan memeluk Bwee sun-mo-li. "Jika saja kau mau berterus terang padaku, maka aku dapat menggembirakan hatimu. Benar usiaku tidak muda lagi, tapi kutira bicara soal pengalaman dalam urusan yang satu itu aku jauh lebih menang dibandingkan dengan pemuda manapun juga."
"Akh, Taisu mana mau padaku ? Aku manusia apa sehingga bisa menerima kehormatan dari Taisu ?" Sengaja Bwee-sim-mo li merendah, sedangkan hatiiya merasa lega, sebab si pendeta sudah tidak mendesaknya terus masalah pemuda-pemuda yang ditawan oleh murid-muridnya. Tampaknya si pendeta mau mempercayai keterangannya bahwa dia kesepian dan hendak ditemani dan dihangati oleh pemuda-pemuda itu...Taisu hanya bergurau saja."
Tang San Siansu merangkul Bwee sim-mo-li. dengar sungguh-sungguh dia bilang: "Siapa yang mengatakan aku main-main ? Apakah aku pernah bicara main-main dengan kau. Bie Lan Moay moay ? Aku telah bicara yang sejujurnya, bahwa aku hari ini baru menyadari kau sebenarnya seorang wanita yang memiliki kecantikan luar biasa, kedatanganku kemari sebetulnya hendak memberitahukan kepadamu, bahwa jam 4 pagi hari ini kita akan berangkat ke kotaraja, tapi siapa sangka justru aku melihat kau demikian cantik, marilah kita melewatkan sisa-sisa waktu kita berdua, untuk bersenang-senang."
Bwe sim-mo-li tertawa bergelinjang dalam pelukan si pendeta, liar sekali. Dan memang akhirnya dia harus mengakui Tang San Siansu bisa melebihi dari kemampuan pemuda-pemuda yang pernah coba menghangatinya dan pada akhirnya di bunuh-bunuhnya itu. Satu kemenangan Tang San Siansu dia memiliki sinkang yang sudah terlatih tinggi maka dia bisa memakai sinkangnya yang disalurkannya sekehendak hati untuk menyenangkan Bwee sim-mo li.
Ruangan yang semula dingin itu jadi hangat, Tang San Siansu sendiri seperti lupa, bahwa tak lama lagi, jam 4 pagi dia harus berangkat bersama rombongan muridnya untuk kembali ke kotaraja. Dia sibuk sekali dengan Bwee sim mo-li.
Dua orang manusia yang berbeda kelamin tapi memiliki tabiat dan watak sama buruk dan bejadnya, telah bertemu dan merasa sangat cocok satu dengan yang lainnya menyebabkan mereka berdua lupa pada segala sesuatu apapun juga.
Dua manusia yang sama kejamnya dan sama sesatnya ini, menghalalkan apapun yang mereka senangi. Karenanya juga, mereka sudah tak peduli lagi sekelilingnya, mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Bwee-si m rno-li sendiri sebetulnya memiliki rencana yang cuma diketahui olehnya. Dia sengaja melayani Tang San Siansu dan berusaha menyenangkan hati si pendeta, jika bisa dia hendak menguasai pendeta ini dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Benar kepandaian Tang San Siansu lebih tinggi darinya, tapi Tang San Siansu tetap seorang laki-laki.
Bukankah ada kata-kata yang menyatakan bahwa laki-laki biasanya bertekuk lutut di bawah kaki wanita cantik? Dan Bwe sim mo-li ingin memanfaatkan kecantikan wajah maupun kemontokan badannya menaklukkan Tang San Siansu. dan rencana-rencananya itu sudah memenuhi otaknya, dia menghendaki juga kepandaian Tang San Siansu.
Bwee sim-mo li yakin, jika berhasil memakai kecantikannya menundukkan pendeta ini jelas akhirnya ia berhasil membujuk si pendeta untuk memberitahukan kouwhoat ( teori ) ilmu silat andalan sipendeta tersebut.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
JAM empat pagi rombongan Cu Lie Seng meninggalkan gedung Siangkoan Giok Lin. Mereka terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi sekali. Bahkan diantara mereka tampak Tang San Siansu. Bwee-sim-mo li, Pak Mo Tang Mo, See Mo dan Lam Mo, Ban It Say, Thio Yu Liang dan si pengemis tua yang sudah mengkhianati kaipang yaitu Kiu ci-sin kai Ho Beng Su.
Siangkoan Giok Lin selalu jalan berendeng disamping Cu Lie Seng, dia berusaha bermuka-muka pada putera Cu kongkong ini.
Dengan jumlah mereka yang cukup banyak dan semuanya terdiri orang-orang berkepandaian tinggi, siapa yang berani untuk menghadang mereka buat merebut daftar orang-orang kangouw? Siapa yang memiliki nyali dan keberanian untuk berurusan dengan rombongan orang-orang yang semuanya sangat lihai dan ganas ini ?
Tang San Siansu sudah memberitahukan kepada semua orang dalam rombongannya, bahwa mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sampai dikota Ceng shia, dari sana barulah mempergunakan kuda. Alasannya agar tidak terlalu menarik perhatian orang.
Sedangkan pasukan tentara kerajaan yang semula dibawa Cu Lie Seng, diperintahkan pulang lebih dulu kekotaraja, karena Tang San Siansu bilang mereka tak diperlukan lagi. Dengan adanya dia dalam rombongan itu, di tambah oleh tokoh-tokoh persilatan yang semuanya lihai dan berkepandaian tinggi, tak ada yang perlu dikuatirkan lagi.
Rombongan Tang San Siansu tiba didepan lembah yang ada dikaki gunung Cu-san sebelah barat, pada sore itu, mereka bermaksud beristirahat disitu.
Tapi, waktu Tang San Siansu tengah mengatur rombongannya untuk mengambil posisi yang berpencar mendirikan tenda-tenda, mendadak terdengar suara langkah kaki kuda yang dilarikan cepat sekali. Mata Tang San Siansu berkilat tajam, menoleh menatap bengis kepada penunggang kuda yang tengah mendatangi.
Ternyata penunggang kuda itu seorang laki-laki tua berusia enam pulah tahun lebih, tubuhnya kurus mukanya pucat seperti orang penyakitan dan lemah.
Penunggang kuda itu melarikan terus tunggangannya tanpa menoleh. Ban It Say segera hendak mengejar, tapi ditahan Tang San Siansu. "Biarkan dia pergi. Tak mungkin dia mata-mata musuh. Siapa yang memiliki nyali untuk berurusan dengan kita?"
Ban It Say mengiyakan. dia juga melihat penunggang kuda itu pucat dan lemah seperti orang penyakitan, karenanya diapun yakin bahwa orang itu mata-mata musuh.
Mereka mendirikan tenda-tenda yang jaraknya terpisah cukup jauh, Maksud Tang-San Siansu jika ada rombongan musuh menyerang, mereka tidak terkepung disuatu tempat, ini bisa memungkinkan mereka memberikan perlawanan kepada musuh.
Tempat di mana rombongan Tang San-Siansu bermalam ternyata sangat sepi, tak terlihat seorang manusiapun lewat di jalan depan lembah tersebut sejak orang bermuka pucat dan lemah berpenyakitan itu, tak ada orang lain yang lewat di situ.
Magrib telah lewat, malam membuat tempat itu jadi gelap. Rombongan Tang San Siansu beristirahat. Sedangkan Tang San Siansu didalam tendanya bukan seorang diri, melainkan berdiam dengan Bwee-sim-mo-li ! Mereka tengah bermesra-mesraan untuk melenyapkan dinginnya hawa malam.
Tetapi, di luar dugaan penglihatan Tang-San Siansu dan rombongannya, justeru diantara semak belukar dikegelapan malam beberapa sosok tubuh bergerak hati-hati dan perlahan-lahan mendekati tenda-tenda tersebut, Jumlah sosok tubuh itu mungkin lebih dari sepuluh orang, semuanya berpakaian penuh tambal, tanda bahwa mereka adalah rombongan pengemis.
Dari sikap pengemis-pengemis yang mendekati tenda, jelas mereka bersikap hati-hati, agar orang-orang yang tengah beristirahat didalam tenda itu tak mengetahui kedatangan mereka. Lama juga rombongan pengemis itu mengintai tenda-tenda rombongan Tang San Siansu, sampai akhirnya waktu mendekati tengah malam, terdengar suara pekik kera, dan para pengemis itu mendekam di tanah.
Ternyata suara pekik kera itu adalah pekik pemimpin mereka, yang meniru pekik seekor kera. Rupanya waktu yang mereka nantikan telah tiba. Pengemis-pengemis itupun bukan hanya belasan orang saja, sebab di belakang mereka ada rombongan pengemis lainnya, yang jumlahnya cukup banyak, mungkin hampir duapuluh orang.
Mereka rupanya memecah diri menjadi dua rombongan dan perintah-perintah dikeluarkan oleh pemimpin mereka dengan meniru suara pekik kera. Perlahan-lahan mereka merangkak mendekati tenda-tenda rombongan Tang San Siansu.
Waktu terdengar lagi suara pekik kera, mendadak rombongan penjemis itu menyerbu salah sebuah tenda yang ada di sebelah kanan, kurang lebih delapan orang yang menyerbu masuk ke dalam tenda itu kepandaian mereka rata-rata tinggi, karena selain gesit,merekapun dapat melakukan penyerangan ke arah tempat yang mereka duga penghuni tenda rebah tidur.
Namun mereka kecewa. Tenda itu kosong, tidak ada seorang manusiapun juga. Cepat-cepat kedelapan pengemis itu menerobos keluar dari tenda, tapi sudah terlambat. Di situ tampak Cu Lie Seng berdua Thio Yu Liang menghadang jalan keluar pengemis-pengemis itu.
Tanpa banyak bicara pengemis-pencemis itu menerjang Thio Yu Liang dan Cu Lie Seng, tapi kedua orang tersebut masing-masing memiliki kepandaian tinggi, dua orang pengemis yang maju paling depan dibikin terpental oleh pukulan tangan Cu Lie Seng, sedangkan Thio Yu Liang membikin terbanting seorang pengemis lainnya.
Lima orang pengemis lainnya nekad menerjang terus, tapi dengan mudah merekapun dirubuhkan, Cu Lie Seng mempergunakan pukulan-pukulan "Liong-beng-kun" merobohkan lawan-lawannya karenanya para pengemis itu jadi tak berdaya, sedangkan Thio Yu Liang mempergunakan pedangnya untuk melukai lawan-lawannya.
Kedelapan pengemis yang terpelanting itu merangkak bangun. Cu Lie Seng maju hendak membekuk salah seorang di antara mereka, mendadak pengemis itu mengayunkan tangannya. Cu Lie Seng melihat lawannya menyerang mempergunakan senjata rahasia, mengibaskan tangannya untuk menghalau senjata-senjata rahasia lawan.
Tapi dia mengibas tempat kosong, karena tak ada senjata rahasia yang berhasil disampoknya. Rupanya si pengemis cuma menggertak dengan gerak-tangannya tersebut, begitu Cu Lie Seng mengibas, dia menubruk membenturkan kepala pada perut Cu Lie Seng.
Kaget pemuda che Cu, dia coba berkelit, tapi terlambat, samping pinggangnya masih kena diseruduk oleh pengemis itu. Sakit dan gusar Cu Lie Seng tak pikir dua kali, telapak tangannya menghantam dahsyat punggung pengemis itu, sampai terdengar suara "Dessss! Bukkkkkk!", disusul suara tertahan dari si pengemis. Tapi kemudian secepat kilat pengemis itu berlari menerobos keluar tenda, tangannya kembali bergerak.
Cu Lie Seng menubruk karena menyangka pengemis ini cuma ingin menggertaknya lagi. Tapi dadanya segera jadi panas, karena sesuatu benda meledak keras di depan dadanya, asap tebal mengepul di dalam tenda itu.
Pengemis-pengemis lainnya juga bersama-sama secara berbareng telah membanting sesuatu benda, yang meledak dan mengeluarkan gumpalan asap, sehingga di dalam tenda itu penuh oleh gumpalan asap.
Gumpalan asap itu membuat mata Cu Lie Seng dan Thio Yu Liang jadi pedih-pedih... mereka mengibas-ngibaskan lengan baju untuk membuyarkan gumpalan asap dan menerobos keluar. Setelah berada di luar tenda, mereka bisa bernapas lega.
Tapi pengemis-pengemis itu sudah lari cukup jauh.
"Kejar !" teriak Thio Yu Liang, Tapi lengannya dipegang Cu Lie Seng.
"Jangan biarkan mereka lolos, kongcu !"
Thio Yu Liang masih ngotot agar Cu Lie Seng bersama dia mengejar pengemis-pengemis itu. Tapi Cu Lie Seng tetap menahannya "Biarkan mereka pergi !"
Pengemis-pengemis yang lainnya, yang tadi menyerbu ke tenda lain, sudah berhasil melarikan diri juga setelah membanting cukup banyak bahan-bahan peledak yang menimbulkan gumpalan asap tebal.
Tadi Tang San Siansu berdua Bwee-sim-mo-li tengah asyik-masyuk hangat mesra, jadi terkejut ada beberapa pengemis yang menerjang masuk ke dalam tenda mereka. Tang San Siansu menghantam dengan telapak tangannya, dua orang pengemis terjengkang rubuh, tapi waktu Tang San Siansu hendak bangun, berdiri untuk menghajar pengemis pengemis yang lain, sudah terdengar suara ledakan yang ramai dan tenda itu sudah dipenuhi oleh asap tebal.
Rupanya pengemis-pengemis itu membanting beberapa bahan peledak yang menimbulkan gumpalan asap tebal di dalam tenda. Bukan main gusar Tang San Siansu dan Bwee-sim-mo-li, mereka berusaha mencari jalan keluar dari tenda, karena napas mereka sesak dan mata mereka pedih sampai mengeluarkan air mata.
Tetapi pengemis pengemis yang lain sudah melarikan diri.
Ban It Say, Pak-mo, Tong-mo, Lam-mo dan See-mo sudah keluar dari tenda mereka, tapi disambut oleh pengemis pengemis yang melemparkan bahan peledak yang mengeluarkan asap tebal, sekitar tempat itu jadi penuh oleh gumpalan asap yang tebal.
Begitu.juga ketika Ho Beng Su keluar dari tendanya, disambut oleh ledakan-ledakan yang menyebabkan keadaan disekitarnya penuh oleh gumpalan asap. Ho Beng Su memaki kalang kabutan sambil mengibas-ngibaskan lengan bajunya untuk menghalau gumpalan asap itu, sambil menyerang membabi buta dalam gumpalan asap kepada pengemis-pengemis tersebut.."
Gumpalan-gumpalan asap itu tidak terlalu lama sudah membuyar dan keadaan di depan lembah bisa terlihat jelas lagi. Tapi di situ sudah tak ada pengemis-pengemis yang tadi menyerang, mereka telah meninggalkan tempat itu.
"Kejar!" teriak Tang San Siansu. "Mereka tak mungkin bisa pergi jauh!"
Tapi Cu Lie Seng cepat-cepat menghampiri gurunya. "Suhu, biarkan mereka pergi, kita jangan memecah kekuatan dengan mengejar mereka ke berbagai jurusan Jika nanti mereka datang lagi, kita baru habisi mereka."
Tang San Siansu mendongkol bukan main, tapi dia anggap alasan yang dikemukakan muridnya memang benar. Kalau mereka mengejar pengemis-pengemis itu, jelas mereka harus membagi diri keempat penjuru, karena mereka tak mengetahui kemana perginya pengemis-pengemis itu, apakah ke jurusan Selatan, Barat, Utara atau Timur. Dia tidak memaksa lagi untuk mengejar pengemis-pengemis itu.
Cu Lie Seng merogoh sakunya, tiba-tiba mukanya berobah. Dia juga mengeluarkan seruan tertahan.
"Kenapa?" tanya Tang San Siansu dan yang lainnya hampir berbareng, hati mereka merasa tidak enak menduga sesuatu.
"Daftar itu dapat dicopet oleh salah seorang pengemis-pengemis itu yang membentur pinggangku dengan kepalanya," menyahuti Cu Lie Seng.
"Hah? Celaka!" Berseru Thio Yu Liang dan Siangkoan Giok Lin hampir bersamaan. Kita harus mengejar mereka..."
Cu Lie Seng sudah menggeleng, sikapnya sudah tenang kembali.
"Tenang..! Tenang...!" Dia memberi isyarat agar semua orang mendekat padanya. "Aku sudah menduga," katanya dengan suara perlahan, "banyak pihak yang akan menghadang perjalanan kita. Karenanya siang-siang sudah kusiapkan salinan daftar nama orang-orang kangouw itu.
Tentu saja yang kukantongi ini adalah daftar orang-orang kangouw yang keliru, bukan yang sebenarnya. Dengan cara demikian kita bisa membuat mereka saling mencurigai, karena mereka tak mengetahui siapa yang benar-benar telah bersedia untuk bekerja demi kerajaan! Aku menulis nama-nama mereka yang tak bersedia bekerja sama dengan kita!"
Muka orang-orang itu jadi berobah tenang, malah tersenyum-senyum. Siangkoan Giok Lin malah segera memuji: "Sungguh Cu-kongcu sangat cerdik. Dengan demikian mereka akan keliru memusuhi teman-temannya sendiri! Bagus! Selanjutnya kita, harus hati-hati, karena kukira masih ada rombongan iainnya yang mengincar daftar nama-nama itu! "
Cu Lie Seng mengangguk. "Ya aku telah membuat lagi daftar palsu, kalau mereka hendak mengambil daftar palsu itu, tentu kita tak perlu mati-matian mempertahankan, karena kita tak akan menderita kerugian apapun juga, bahkan mendapat keuntungan mereka jadi saling curiga mencurigai di antara sesama teman mereka!
Tang San Siansu menarik tangan muridnya. "Daftar nama-nama orang kangouw yang asli kau simpan di mana?"
Bersambung ke jilid 25

This entry was posted on Senin, Agustus 02, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar