Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 27
Dia tidak akan berkedip menghadapi penderitaan maupun kematian. Tapi sekarang justeru rasa sakit yang dideritanya demikian dahsyat, sehingga rasanya tidak tertanggung lagi, tanpa dikehendaki dia menggeliat di atas tanah pada tumpukan daun-daun kering dan mengeluh ....
Cuma dua kali Toat-beng-sing-ciang menggeliat dan mengeluh, karena tubuhnya kemudian diam tidak bergerak lagi, tidak terdengar pula keluhannya, karena dia pingsan tidak sadarkan diri.
Burung kulik terbang di atas hutan kecil itu memperdengarkan suaranya diiringi kepak sayapnya. Selanjutnya cuma terdengar suara binatang-binatang yang jadi penghuni hutan tersebut, mengisi kesunyian di tempat itu, bergurau dengan angin .....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kesepian sangat dibenci oleh Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan. Sejak dia berobah menjadi iblis yang paling ditakuti orang-orang kangouw, sepak terjangnya selalu menuju pada kesenangan-kesenangan yang sadis dan kejam. Dia selalu hendak mengisi waktu-waktu sepinya dengan perbuatan-perbuatan cabul, yang akhirnya pasti selesai dengan lumuran darah! Banyak pria-pria yang mati di tangan iblis ini, terutama para orang mudanya.
Tak ada yang ditakuti Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan, dia selalu melakukan apa yang hendak dilakukannya. Tapi sekarang, justeru dia terpaksa sekali mesti tunduk pada Cu Lie Seng, murid Tang San Siansu.
Yang membuat takut Bwee-sim-mo li Liok Bi Lan bukanlah Cu Lie Seng. atau ayahnya, Cu Bian Liat, orang kedua yang paling berkuasa di kerajaan pada saat sekarang, setelah Kaisar.
Justeru yang membuat Bwee-sim-mo-li gentar adalah Tang San Siansu, pendeta itu terlalu lihai, terutama sekali Liong beng-kunnya. Dalam suatu pertempuran dua tahun yang lalu, Bwee-sim-mo-li pernah dirubuhkan dan hampir saja dia dihajar dengan Liong-beng-kun si pendeta.
Sebagai seorang berpengalaman dan malang melintang dalam dunia kangouw dengan kekejamannya, Bwee-sim-mo li tahu akan kekejaman Tang San Siansu, juga dia tahu Liong-beng-kun merupakan jurus pukulan yang bisa membuat orang mati dengan sangat menderita.
Sebab itu, tanpa peduli lagi akan harga dirinya, dia mengakui kalah dan selanjutnya akan patuh pada setiap perintah Tang San Siansu. Dengan pengakuannya itu, Tang San Siansu tak mendesaknya lebih jauh dan bahkan minta agar Bwee-sim-mo-li mendampingi muridnya, membantu usaha muridnya.
Biar-pun gusar, tapi Bwee-sim-mo-li tak mau memperlihatkan perasaannya itu pada Tang San Siansu, dia mematuhi perintah tersebut, cuma di dalam hatinya dia bertekad akan melatih ilmunya lebih hebat lagi dan suatu saat kelak akan dipergunakan untuk merobohkan Liong-beng-kunnya Tang San Siansu.
Sekarang dia tengah berada dalam perjalanan bersama dengan Tang San Siansu maupun yang lain-lainnya, termasuk Cu Lie Seng, selama itu memang Tang San Siansu telah "memakai"-nya untuk mengisi kesepian pendeta tersebut, menemaninya dengan segala kemesraan.
Tapi, dia biarpun tampaknya senang bermesraan dengan pendeta ini, hatinya selalu diliputi kebencian dan mengutuk habis-habisan pada pendeta yang seorang ini, yang kepandaiannya memang tangguh dan berada diatas kepandaiannya sendiri.
Sebetulnya Bwee-sim-mo li mengincar Cu Lie Seng. Pemuda itu sudah mewarisi kepandaian Tang San Siansu, berusia muda dan tampan, juga putera dari orang yang sangat berkuasa di seluruh kerajaan setelah Kaisar.
Maka Cu Lie Seng merupakan satu-satunya orang muda yang paling menarik hati Bwee-sim-mo-li Tapi Tang San Siansu seringkali berpesan padanya, agar dia tidak mengganggu dari hidup muridnya, jangan coba-coba mencumbunya, karena Tang San Siansu menghendaki Cu Lie Seng benar-benar mewarisi seluruh kepandaiannya dan kelak menjadi orang tanpa tanding, satu-satunya orang yang berkepandaian tertinggi.
Cu Lie Seng merupakan satu-satunya harapan Tang San Siansu untuk memperlihatkan kepada seluruh dunia kangouw bahwa muridnya bisa menjadi orang tergagah.
Karena pesan Tang San Siansu itulah Bwee-sim-mo-li tak pernah berani mengganggu pemuda bangsawan tersebut. Setiap kali menemani Tang San Siansu bermesra-mesraan Bwee-sim- mo-li selalu merasa muak. Pendeta ini memang memiliki kepandaian tinggi, tapi dia memiliki wajah yang memuakkan, sudah tua dan juga tubuhnya yang gemuk membuat si pendeta sering kesulitan napas di saat mereka bermesraan ....
Melakukan perjalanan mengawal Cu Lie Seng yang membawa daftar nama para pendekar yang bersedia bekerja pada kerajaan sebetulnya merupakan pekerjaan yang tidak disenangi Bwe-sim.mo li. Dia memiliki beberapa orang dayang yang siap melayaninya dengan penuh hormat dan Bwe sim-mo li juga selalu diperlakukan sebagai dewi yang agung.
Sekarang dia harus menempuh perjalanan yang melelahkan, menjemukan dan penuh kesepian, jika biasanya dia bisa memanfaatkan para pemuda untuk mengisi kesepian hatinya, sekarang tidak, Paling tidak Tang San Siansu saja yang menghangatkan tubuhnya dan ini menjemukan selain membosankan.
Karenanya tak mengherankan selama dalam perjalanan Bwe-sim-mo-li lebih banyak termenung saja, berdiam diri, dia jadi alim sekali dan jarang bicara jika tidak perlu. Hanya sekali-sekali saja melirik kepada Cu Lie Seng, pemuda bangsawan yang tampan itu. Akh, betapa mengasyikkan jika dia bisa mempengaruhi Cu Lie Seng, selain tampan dan angkuh.
Hanya adanya Tang San Siansu membuat Bwee-sim-mo-li selama itu tak berani berterang memperlihatkan perasaan sukanya pada pemuda bangsawan tersebut. Dia masih bisa menahan diri.
Setelah melakukan perjalanan lebih dari setengah bulan, hatinya mulai berontak karena kesepian yang sangat. Selama dalam perjalanan hatinya jadi gersang dilanda kesepian, selain pertempuran demi pertempuran dengan orang-orang yang berusaha menghadang rombongan mereka, tidak pernah ada sesuatu yang menarik hatinya.
Rasanya Bwee-sim-mo-li sudah ingin cepat-cepat meninggalkan rombongannya tersebut, untuk ber-senang-senang kembali dilayani oleh para dayangnya, pelayan-pelayannya yang cantik dan tahu akan selera dewinya ini.
Malam itu, hawa udara dingin sekali. Rombongan Cu Lie Seng berkemah diluar pimu kampung Yuan-ci. Malam ini Tang San Siansu tidak seperti saat-saat sebelumnya, dia lebih serius tidak banyak bicara, pendiam dan juga tak mau bertemu dengan siapapun juga. Dia berdiam di dalam kemahnya seorang diri dan tak ada yang mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh pendeta yang sakti ini.
Cu Lie Seng berada di dalam kemahnya dan tidak bisa tidur, hatinya gelisah sekali. sebab dia merasakan malam ini seakan-akan ada ancaman untuk rombongannya. Perasaan hati kecilnya menyatakan kemungkinan adanya penyerbuan dari para pendekar yang hendak memperebutkan daftar nama orang-orang gagah.
Karena itu. biarpun malam sudah larut dan dingin Cu Lie Seng tetap tidak tidur, pakaiannya tetap tak dibuka, dia dalam keadaan siap untuk menghadapi segala kemungkinan, kalau ada penyerbuan dari pihak lawan.
Memang selama dalam perjalanan ke kota raja, banyak kesulitan yang dialami rombongannya, sebab banyak sekali orang-orang kangouw dan berbagai kalangan, yang secara berganti-gantian menyerbu rombongannya, berusaha meminta atau merampas daftar nama orang-orang gagah.
Sejauh itu, dia dan gurunya maupun para pembantunya, berhasil menghalau penyerbu-penyerbu ini. Memang ada juga yang terluka, tapi tak berarti.
Seperti Pak-mo terluka pada lengannya karena dikeroyok oleh dua puluh orang pengeroyok waktu terjadi penyerbuan lebih dari seratus orang yang tak diketahui dari aliran atau pintu perguruan mana, karena semuanya mengenakan topeng yang terbuat dari kain hitam, menutupi seluruh wajah mereka, hanya mempunyai dua lobang untuk mata mereka.
Cu Lie Seng tidik gentar menghadapi siapapun yang menghadang rombongannya, dia yakin bisa menghadapinya, terutama sekali di-samping ada para pahlawan istana Kaisar, juga ada pembantu-pembantunya yang berkepandaian tinggi, seperti See mo, Pak-mo, Tong-mo can Lam mo.
Kepandaian Bwee-sim-mo-li juga tidak rendah. Karena itu, tak pernah Cu-Lie Seng berkuatir sebab merasa pihaknya sangat kuat, dan yang benar-benar jadi andalannya adalah Tang San Siansu, sang guru yang kepandaiannya hebat sekali, hampir tak ada tandingan !
Memang sebelumnya Kaisar juga telah menduga bahwa pengiriman daftar nama-nama orang gagah yang bersedia bekerja pada kerajaan pasti akan mengalami kesulitan. Itulah sebabnya mengapa diperintahkan congkoan Gi-lim-kun dan Congkoan Kim-ie-wie untuk mengawal Cu Lie Seng.
Tapi yang tidak disangka oleh Cu Lie Seng, justeru yang berusaha merampas daftar nama orang-orang gagah itu demikian banyaknya.
Sebagai pemuda yang cerdik, dia berpikir sebetulnya cukup Siangkoan Giok Lin ikut dengannya ke kotaraja, di sana dia bisa menuliskan daftar nama-nama orang gagah itu. Sekarang Siangkoan Giok Lin ikut serta dengannya, sedangkan tentang daftar nama orang-orang gagah telah tersiar luas dalam dunia kangouw, dengan demikian jelas memancing keinginan para orang-orang gagah kangouw untuk merampas daftar itu.
Hal ini pernah diberitahukan kepada Tang San Siansu, tadinya lebih sempurna rencana mereka kalau hanya sekedar mengundang Siangkoan Giok Lin ke kotaraja, disana barulah Siangkoan Giok Lin menuliskan nama orang-orang yang tersedia bekerja untuk kerajaan, sehingga tidak menimbulkan kericuhan yang demikian berbelit dan rintangan yang demikian banyak selama dalam perjalanan ke kotaraja.
Tetapi Tang San Siansu tidak memperhatikan apa yang diberitahukan muridnya, dengan angkuh dia bilang: "Sekarang siapa yang berani mati mencoba untuk merampas daftar itu? Mereka hanya manusia-manusia tak berharga untuk dipikirkan. Siapa yang bisa merampas daftar mana itu? Kukira, tak ada seorangpun yang bisa merampas daftar itu selama aku berada di sini !"
Perjalanan yang dilakukan ronbongan ini berlangsung penuh kewaspadaan. Dan justeru malam itu setelah berkemah, waktu Cu Lie Seng dan yang lainnya berada di dalam kemah masing-masing, Bwee sim-mo-li keluar dari tendanya.
Perkemahan yang didirikan oleh mereka terdiri dari tenda-tenda berukuran tak begitu besar, hanya bisa ditempati oleh beberapa orang saja. Bwee sim-mo-li sendiri memperoleh kemah untuk seorang diri.
Cuma Tang San Siansu pada malam-malam sebelumnya suka datang ke tenda Bwee-sim mo-li, atau sebaliknya Bwee-sim-mo-li juga dipanggil menemani Tang San Siansu di tendanya.
Malam ini benar-benar Bwee-sim-mo-li gelisah karena kesepian yang sangat menyiksanya. Jika sebelumnya dia masih berusaha untuk menahan diri tak melakukan sesuatu dalam kesepiannya itu,inilah disebabkan dia masih gentar untuk berurusan dengan Tang San Siansu.
Tapi sekarang setelah melakukan perjalanan berhari-hari lamanya, kesepiannya semakin bergolak. Dan dia tak tahan lagi, dia keluar dari kemahnya. Maksudnya hendak mencari sasaran untuk mengurangi kesepiannya, mencari calon korbannya.
Sekarang mereka berada diluar pintu kampung Yuan-ci, jarak ke dalam perkampungan tersebut tidak terlalu jauh, dan Bwe sim-mo-li yakin bahwa didalam perkampungan itu pasti ada satu dua orang pemuda yang bisa menambal kesepian hatinya.
Baju yang robek mudah ditambal dan di jahit, tapi hati yang kesepian sulit untuk ditambal dengan apapun, dengan gelak tawa sekalipun, Bila dengan tambalan seorang pria yang menghangati tubuhnya!
Hati-hati Bwee sim-mo-li keluar dari tendanya, dia melihat ada beberapa orang Kim-ie-wie yang telah melakukan penjagaan, keadaan sepi sekali. Para penjaga itupun melihat Bwee-sim-mo- li, tapi mereka mengenali iblis wanita ini, mereka hanya memberi hormat, dan menyapa dengan suara sangat menghormat, mereka tak berani banyak-banyak bertanya, karena Bwee sim-mo-li cuma Hm mendengar begitu saja dan melangkah terus.
"Aku hendak berangin-angin dulu!" gumam Bwee-sim-mo li kemudian.
Sudah bulat tekad Bwee-sim-mo li, dia akan mencari korbannya didalam perkampungan Yuan ci. Sebetulnya dia bisa saja mengambil satu atau dua orang pengawal Kim-ie-wie, tapi ia kuatir nanti mereka banyak mulut sehingga Tang San Siansu mendengar perbuatannya dan ini pasti menimbulkan hal yang kurang menggembirakan.
Sebab itulah Bwee-sim-mo li memilih jalan lain, yaitu akan mencari korbannya di dalam perkampungan Yuan-ci. Setelah meninggalkan perkemahan cukup jauh, barulah Bwee-sim-mo-li mempergunakan ginkangnya untuk berlari dengan cepat menghilang dalam kegelapan, pergi memasuki perkampungan Yuan ci.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hawa malam cukup dingin, tapi didepan warung arak, "Hian - louw " semuanya masih tampak berkumpul beberapa orang.
Mereka adalah pemuda-pemuda kampung itu yang senang sekali menghabisi waktu-waktu di malam hari dengan mengobrol, sambil menghangati tubuh mereka dengan arak.
Memang warung arak "Hian louw" ini buka sampai larut malam, mendekati fajar barulah ditutup.
Diantara para pemuda itu, yang jumlahnya enam orang, terdapat Su Nan Su, seorang pemuda yang pandai sekali bercerita. Walau-pun usianya baru duapuluh tiga tahun, tapi orang muda ini selalu bercerita menarik dan membuat para pendengarnya tertarik.
Tidak mengherankan kalau kawan-kawannya seringkali minta padanya untuk bercerita, mereka mentraktir pemuda itu minum arak. Semakin larut malam, semakin banyak arak yang diminumnya dan membuat dia mulai mabuk, cerita Su Nan Su semakin menarik juga
"Sebetulnya," bercerita Su Nan Su pada malam itu. "Tidaklah terlalu menakutkan sekali, jika saja Thang mau melihat kenyataan bahwa hantu yang muncul di depannya adalah wanita cantik jelita, dia pasti bisa menghadapinya lebih tenang. Namun, Thang seperti orang-orang lainnya, sudah terpengaruh sejak kecil pada cerita-cerita hantu yang menakutkan, sehingga begitu hantu itu memperlihatkan diri, dia sudah gemetar ketakutan, bahkan kemudian pingsan...!"
Kawan-kawannya tertawa. Memang yang biasa diceritakan Su Nan Su umumnya cerita-cerita tentang hantu yang menyeramkan tapi sangat menarik hati.
"Su-laoko, jika kebetulan kau yang berhadapan dengan hantu yang cantik itu, apakah kau juga akan ketakutan terkencing-kencing dan pingsan seperti yang dialami oleh Thang ?" Tanya salah seorang kawannya yang memiliki potongan tubuh kurus jangkung seperti orang berpenyakit paru-paru.
Su Nan Su tersenyum dan menggeleng. "Mengapa harus takut? Bukankah tadi sudah kukatakan, seharusnya Thang tidak perlu takut, karena yang muncul di hadapannya bukanlah hantu yang menakutkan, dengan muka yang bengis atau bertaring, justeru yang muncul di depannya adalah hantu cantik jelita, yang menarik hati, mempunyai potongan tubuh sangat menggiurkan.
Mengapa harus takut? Bukankan dengan hantu itu Thang bisa bersenang-senang ? Biarpun hantu tapi tokh dia sangat cantik dan kita tidak rugi apa-apa bermesraan dengannya, bahkan kita seharusnya merasa beruntung, karena jarang sekali manusia bisa mendapat kesempatan untut bermesra-mesra dengan hantu cantik !"
Kawan-kawannya tertawa. Memang mereka senang sekali mendengar cerita Su Nan Su, yang acapkali sangat menarik hati, tegang tapi juga menyenangkan untuk mengisi waktu-waktu luang mereka di malam hari yang dingin ini.
"Tapi Su-Iaoko, bagaimana kalau waktu kalian bermesra-mesraan dan hantu itu memperlihatkan ujudnya yang asli, dengan dada berlobang dan menyiarkan bau busuk, atau dengan muka bertaring menakutkan, bisa juga dalam bentuk tengkorak yang menakutkan. Inhhh, aku takut... biarpun dibayar seratus tail perak untuk bermesraan dengan hantu bagaimana cantiknya dia, tetap saja aku tidak berani !" bilang salah seorang kawannya yang lain yang memiliki bentuk kepala agak gepeng, sehingga dagunya turun ke bawah panjang sekali, tidak normal seperti dagu-dagu lainnya yang wajar.
Su Han Su mengangkat cawan araknya, tenang sekali sikapnya, kemudian setelah meneguk arak didalam cawannya, baru dia menyahuti: "A-puy kau keliru! jangankan memperlihatkan bentuknya atau ujutnya yang menyeramkan sedangkan yang sudah diperlihatkan begitu cantik jelita, Bagaimana mungkin hantu itu bisa memperlihatkan ujud yang lain dan menakutkan!? Jika pertama kalinya ia muncul dan sudah memperlihatkan ujud-nya yang cantik jelita montok menarik hati tak mungkin ujudnya bisa berobah, paling tidak dia hanya menghilang! Akh, kau ini ada-ada saja, A puy, jika memang dibayar mengapa harus takut? Tidak dibayar saja aku mau, apa lagi bertaruh dan dibayar 100 tail perak ! Kalau memang terjadi hal seperti itu, biarlah nanti uang yang 100 tail itu ku-pergunakan seluruhnya untuk mentraktir kalian minum arak sampai sinting!"
Mendengar perkataan Su Nan Su seperti itu, kawannya tertawa ramai. Sedangkan kakek Sie bungkuk, pemilik warung arak, tengah duduk melenggut di sudut ruangan di atas kursi yang sudah tidak bagus lagi karena sudah hampir rusak, jadi terbangun dari tidurnya, dengan mata masih menguntuk dia menoleh keluar karena suara tartawa para pemuda yang berkumpul di ruang depan warung araknya itu telah mengejutkannya. Kemudian tak acuh dia menunduk lagi, melenggut pula, ingin meneruskan tidurnya.
"Ayo cerita lagi, Su-lao-ko... bagaimana dengan Thang yang tolol itu? Setelah dia pingsan, apa yang dilakukan hantu cantik itu padanya ?" tanya salah seorang kawannya.
"Hantu cantik itu berusaha menyadarkan Thang, tapi Thang benar-benar manusia pengecut. Begitu dia siuman dari pingsannya dan melihat hantu cantik masih tetap berada di depannya, dia jadi kelojotan ketakutan setengah mati, lalu pingsan lagi !"
Kawan-kawan Su Nan Su tertawa terping-kal-pingkal lagi. "Benar-benar pengecut Thang seperti anak kecil saja !" gumam A-puy.
"Hu. sia-sia dia jadi laki laki kalau memang pengecut seperti itu !" Gumam pemuda yang tubuhnya kurus seperti menderita sakit paru-paru.
"Benar," mengangguk Su Nan Su, "sudah kubilang tadi, seharusnya dia tidak perlu ketakutan hebat seperti itu ! Dia pingsan jika memang hantu itu mau mencekiknya tokh akan dicekiknya juga. Mengapa harus pingsan ? Apakah dengan pingsan hantu itu akan pergi ? Tentu tidak ! Karenanya, benar benar tolol si Thang, seharusnya dia lebih tenang dan tabah, jika memang dia tabah tak ada hantu yang menang dari manusia!"
Su Nan Su mengambil cawan araknya dan meneguknya lagi, tapi waktu Su Nan Su hendak menaruh cawan araknya dan siap meneruskan ceritanya, mendadak A-puy jadi pucat, tangannya dingin sekali mencekal tangan Su Nan Su, tubuhnya gemetar dan suaranya tergetar. "Su-laoko... Su-laoko.... coba kau lihat ke situ...!" Dia mengawasi keluar warung arak.
Su Nan Su dan yang lainnya jadi heran, mereka menoleh ke arah yang diawasi A-puy. Muka mereka semuanya seketika berobah jadi pucat dan jantung mereka berdegup jauh lebih cepat. Su Nan Su sendiri hampir tak mempercayai matanya.
Terpisah cukup jauh dari ruang depan warung arak, di bawah sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan depan warung arak tersebut, berdiri sesosok tubuh dengan pakaian serba putih bersih.
Yang mengejutkan justru orang itu adalah wanita yang sangat cantik. Biarpun terpisah cukup jauh, mereka bisa melihat jelas wanita cantik itu beidiri tenang-tenang di bawah pohon sambil tersenyum manis sekali.
"Hantu cantik . . ." Suara A puy semakin gemetar.
"Tenang...!" Su Nan Su berusaha menenangkan teman-temannya, karena yang lainnya pun sudah gemetar ketakutan. "Tabah, kita harus tabah."
"Dia pasti tentu. . di malam selarut ini mana mungkin ada wanita yang keluyuran di jalan, apa lagi seorang wanita cantik jelita seperti dia...!" gumam orang yang bertubuh kurus seperti sakit paru-paru. Suaranya gemetar, mukanya pucat, jelas dia ketakutan sekali.
"Apalagi pula dia wanita asing, bukan penduduk kampung kita," gumam tiga orang lainnya, suaranya gemetar keras sampai giginya bercatrukan menahan perasaan ngeri dan takut.
"Dia .... dia pasti hantu...!" matanya juga mengawasi kepada wanita di bawah pohon itu, seperti juga biji matanya mau meloncat keluar dari rongga matanya.
Su Nin Su juga ketakutan, tapi dia berusaha menahan rasa takutnya agar tetap tenang, karena selama ini di depan kawan-kawannya dia bersikap seakan-akan dirinya pemberani dan tak akan gentar terhadap hantu.
"Tenang .... kita tunggu saja, kita lihat apa yang akan dilakukan hantu itu ....!" katanya sambil cepat-cepat mengambil cawan araknya dan meneguknya, karena lehernya dirasakan telah kering.
Sie bungkuk, pemilik warung arak tersebut, terbangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih mengantuk dia mengawasi ke arah wanita cantik itu berada. Hatinya jadi berdebar ketakutan, apa lagi mendengar kata-kata para pemuda itu bahwa wanita yang berada di luar warungnya itu adalah hantu cantik.
Biarpun usia Sie bungkuk sudah tua, namun dia seorang pengecut, Sekujur tubuhnya jadi menggigil keras, bajunya sudah basah sebab dari sekujur tubuhnya mengalir keringat dingin, mukanya pucat pias, dia sampai mengigil sambil terkencing-kencing, kemudian dengan memaksakan diri dan lutut gemetar keras serta lemas tak bertenaga, setengah merangkak dia pergi ke kolong meja dagangannya, untuk bersembunyi di situ. Cuma saja, giginya bercatrukan keras, sehingga tetap terdengar suara bercatrukan giginya tersebut.
Wanita cantik yang tadi berdiri di bawah pohon yang tumbuh di tepi jalan di depan warung arak, sekarang telah melangkah menghampiri warung arak tersebut dengan langkah kaki yang sangat ringan, sikapnya tenang sekali, mukanya luar biasa cantiknya.
Sekarang para pemuda itu semakin yakin bahwa wanita ini adalah hantu cantik, karena tak mungkin ada wanita secantik itu. Bibirnya yang tersenyum manis sebetulnya sangat menarik hati, tapi sekarang di mata para orang muda itu malah merupakan senyum yang sangat menakutkan, mengerikan sekali, membuat tubuh mereka semakin menggigil keras dengan semakin mendekatnya wanita cantik itu dengan mereka.
Tapi, hidung mereka kembang kempis coba mengendus-endus mencium sesuatu, tak ada bau busuk, tak ada harum semerbak, sebab setiap cerita hantu yang mereka dengar, jika hantu yang muncul pasti menimbulkan hawa yang bau busuk atau sebaliknya harum semerbak.
Tetapi setelah wanita cantik itu berada semakin dekat dengan mereka, mendadak hati mereka seperti mau copot, terbawa oleh siliran angin tercium harum semerbak yang memabukkan kepala, jantung mereka seperti mau berhenti berdenyut, semangat mereka serasa terbang meninggalkan raga semuanya diliputi ketegangan, tubuh mereka mengigil keras dan kalau mereka tidak malu tentu masing-masing akan berusaha lari meninggalkan warung arak ini.
Cuma sayangnya, tenaga mereka seperti lenyap dan kedua lutut mereka seperti tidak menuruti kata hati lagi, lemas tidak bisa lari atau digerakkan, sehingga mereka duduk saja di tempat masing-masing dengan perasaan takut yang semakin hebat menyerang mereka.
Wanita cantik itu mengawasi mereka sambil tersenyum manis. Kemudian waktu bicara, suaranya sangat merdu sekali. "Sungguh cerita yang menarik tentang hantu cantik itu.... maukah kau bercerita lagi dan membiarkan aku ikut mendengarkan ceritamu??" Kata-kata itu ditujukan kepada Su Nan Su.
"Matilah kau !" bisik A-puy dengan suara perlahan sekali di samping Su Nan Su dengan suara gemetar "Dia pasti hantu cantik yang kau ceritakan tadi telah mengganggu si Thang, dia tentu tak senang dan marah...!"
Su Nan Su menelan ludah, tenggorokannya terasa kering sekali Sebetulnya diapun merasa takut, tapi dia malu jika kawan-kawannya mengetahui dia merasa takut. Akhirnya dengan memaksakan diri dia menoleh dan tersenyum kepada wanita itu.
"Siapakah kouwnio... mengapa malam selarut ini masih berada di luar rumah ? Apakah kouwnio tidak kuatir nanti diganggu orang jahat ?" Suara Su Nan Su gemetar dan serak, tapi dia berhasil menindih sebagian rasa takutnya karena malu kalau dia memperlihatkan perasaan takutnya di depan teman-temannya,
"Aku memang sangat takut diganggu orang jahat," menyahuti wanita cantik itu. "Kedatanganku ke kampung Yuan-ci ini untuk menjenguk sanak-familiku yang tinggal di sini, tapi aku tiba terlambat sudah selarut maiam ini... beruntung tak ada penjahat yang menggangguku!"
Hati Su Nan Su jadi lebih tenang waktu mendengar jawaban wanita cantik ini, dia melirik kepada teman-temannya, kemudian kembali mengawasi wanita cantik ini. Di dalam hati dia berpikir: "Tak mungkin dia hantu... mungkin benar keterangannya itu bahwa dia kemalaman tiba di kampung ini, dia bermaksud menengoki sanak familinya..."
"Kalau kami boleh tahu, siapakah sanak famili kouwnio yang tinggal di sini ?" tanya Su Nan Su, suaranya tidak gemetar seperti tadi, malah matanya kini sempat menikmati seraut wajah yang benar-benar cantik, sulit bertemu dengan wanita secantik ini di dunia.
"Nanti akan kuberitahukan ! Tapi sekarang aku tertarik untuk mendengar cerita tentang hantu tadi...!" menyahuti wanita itu. "Lagi pula, kalau aku datang kerumah sanak familiku itu di malam selarut ini tentu kurang pantas, akan mengejutkan mereka. Boleh aku duduk bersama kalian ?"
Su Nan Su bimbang sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Silahkan!" katanya.
Wanita itu duduk di kursi yang kosong, dan A puy bersama kawan-kawannya kembang-kempis hidungnya, karena mereka mencium harum semerbak berasal dari tubuh wanita cantik ini.
Sedangkan Su Nan Su kini semakin tenang, karena dia sudah memperhatikan muka dan keadaan tubuh wanita cantik itu tak ada tanda-tandanya dia sebagai hantu.
"Ceritaku sudah habis, kalau memang kouwnio mau, besok boleh kuceritakan tentang hantu...! Sekarang sudah larut malam lebih baik nona pergi ke rumah sanak-familimu itu, mereka tentu tak gusar atas kedatanganmu, bahkan mereka akan membenarkan tindakan nona, sebab di malam selarut ini berkeliaran seorang diri, sungguh tidak pantas untuk seorang wanita... apa lagi secantik kouwnio !"
Wanita itu tersenyum, tahu tahu tangannya diulurkan menggenggam tangan Su Nan Su yang ada diatas meja, membuat semangat Su Nan Su seperti mau terbang dari tubuhnya karena kaget.
Dia mau menarik tangannya dari cekatan tangan wanita cantik itu, tapi tidak bisa, karena cekalannya kuat. Juga jari-jari tangan halus itu sudah mengusap dengan lembut, sehingga hati Su Nan Su tergoncang oleh berbagai perasaan.
Merasakan ucapan jari-jari tangan wanita ini, yang demikian halus Su Nan Su semakin yakin bahwa wanita cantik ini bukanlah hantu, sebab hantu tak bisa memegang seperti itu, juga tak mungkin berani memperlihatkan diri di tempat yang ramai seperti saat itu, di mana Su Nan Su berkumpul dengan beberapa orang temannya, juga dibawah terangnya api pelita. Dia jadi diam saja pada akhirnya, membiarkan tangannya dipegang wanita cantik itu.
"Kau sangat baik hati, terima kasih atas perhatianmu," kata wanita itu, "Aku sangat berterima kasih benar kepadamu dan tak akan melupakan budimu. Maukah kau mengantarkan aku ke rumah sanak familiku ? Tidak jauh, Letaknya berada di tengah-tengah perkampungan ini."
Su Nan Su mengeluh. Dia memang sudah tidak setakut seperti tadi, tapi untuk mengantar wanita cantik ini tentu saja dia jadi pikir dua kali. Betapa tidak, bagaimana kalau nanti ternyata wanita cantik ini adalah hantu yang menakutkan ?"
"Bagaimana?" tanya wanita itu. "Aku Liok Bi Lan tentu tak akan melupakan budi kebaikanmu."
Betapa indah dan enak didengar nama wanita ini, Liok Bin Lan. Apakah hantu bisa mempunyai nama sebagus ini ? Hantu biasanya akan mengganggu orang jika korbannya sedang sendirian. Tidak seperti sekarang, ditengah teman-temannya dia muncul, maka Liok Bi Lan pasti bukan hantu. Tapi untuk pergi mengantarkan sendirian, Su Nan Su masih ragu-ragu, maka akhirnya dia bilang: "Baik, kami akan mengantarkan kau ke rumah sanak familimu, aku dengan beberapa orang kawanku akan mengantarkan kau ke sana !" Setelah berkata begitu, Su Nan Su membusungkan dadanya, lenyap perasaan takutnya, dia bilang kepada kawan-kawannya:
"Sahabat, mari kita pergi mengantarkan nona Liok ke rumah sanak familinya."
Tapi A-puy dan pemuda lainnya menggeleng, mereka tetap takut dan tak mau terlibat dalam urusan ini. Mereka tetap kuatir kalau-kalau wanita cantik ini hantu.
"Ayolah... tidakkah kalian kasihan pada nona Liok jika dia pergi sendirian ke rumah sanak familinya, sedangkan malam sudah demikian larut?" membujuk Su Nan Su jengkel melihat semua kawannya menggeleng saja tak mau ikut.
"Ya, aku takut... tolonglah antarkan aku," mohon Liok Bi Lian sambil memperlihatkan sikap memelas dan minta dikasihani.
"Pergilah kau antarkan, Su-laoko... nanti selesai mengantarkan, kau kembali kemari, kami akan mentraktir kau lima kati arak!" kata A-puy.
"Ya, pergilah kau antarkan Su-laoko... kukira memang tepat kau yang mengantarkannya!" menganjurkan pemuda yang kurus berdada tipis seperti menderita sakit paru-paru.
Su Nan Su sebetulnya tadi sudah setengah mabuk, karena sudah banyak sekali arak yang diminum. Tapi tadi ketika wanita cantik ini muncul, karena rasa kagetnya yang tak terhingga, membuat mabuknya lenyap. Dia mendongkol mendengar kata-kata teman2nya, yang jelas-jelas mengejeknya, disindirnya, agar dia membuktikan keberaniannya, sebab selama ini Su Nan Su memang mengaku tak akan takut pada hantu yang bagaimanapun juga.
Dia jadi salah tingkah. Namun karena tak mau menjadi malu didepan teman-temannya, juga memang dia yakin wanita ini adalah manusia bukan hantu, dia memberanikan diri." Baiklah. mari kouwnio kuantarkan kau !" Sambil bilang begitu dia bangkit berdiri. "Kalian jangan kemana-mana ya, aku akan segera kembali....!"
Kawan-kawannya cuma mengangguk saja, sedangkan Liok Bi Lan sudah bangkit dan melangkah dengan langkahnya yang membuat semua teman-teman Su Nan Su, termasuk A-puy, jadi memandang kepergian gadis itu berdua Su Nan Su dengan menelan air ludah.
"Kalau memang wanita itu bukan hantu, beruntunglah nasib Su Nan Su," menggumam A-puy waktu kedua orang itu sudah lenyap dalam kegelapan.
"Kalau aku tak mau mempertaruhkan diri seperti itu, aku yakin wanita itu pasti hantu cantik seperti yang tadi diceritakan Su Nan Su, tak mungkin tidak wanita itu pasti hantu ! Aku yakin hal ini, mana mungkin seorang wanita secantik itu bisa keluyuran di tengah malam, seorang diri lagi !" menggumam katanya.
Demikianlah, mereka jadi membicarakan tentang wanita itu yang kecantikannya luar biasa, tapi juga mereka merasa takut dan ngeri kalau ingat bahwa kemungkinan wanita cantik itu adalah hantu.
Kini marilah kita melihat Su Nan Su dan Liok Bi Lan. Tentu anda sudah dapat menerka siapa adanya wanita sangat cantik jelita yang bernama Liok Bi Lan itu, bukan. Benar! dia tak lain dari Bwee sim-mo-li Liok Bi Lan !
Hatinya girang dapat memancing Su Nan Su, tampaknya pemuda ini masih muda dan juga bertubuh tegap gagah, walaupun sekali melihat saja Bwee-sim-mo-li tahu bahwa orang muda ini sedikitpun tidak mengerti ilmu kungfu.
Namun hal itu tak menjadi persoalan lagi, sebab yang terpenting buat Bwa-sim-mo li bagaimana mengisi kesepiannya, yang sudah berhari-hari dalam kegersangan.
"Di mana rumah sanak familimu?" tanya Su Nan Su sambil melirik mengawasi Bwee-sim-mo-li yang cantik jelita ini, yang sejak tadi berdiam diri saja.
"Masih jauhkah?"
"Aku sendiri tidak begitu jelas letak rumahnya dia hanya memberitahukan padaku bahwa rumahnya berada ditengah-tengah kampung, kalau kutanyakan pada penduduk tentu akan banyak yang kenal akan keluarga itu,"
Alis Su Nan Su mengkerut, sulit mencari rumah seseorang tanpa mengetahui alamatnya yang tepat. Tanyanya kemudian: "Siapa nama sanak familimu itu?"
"Dia She Yang bernama Cie Siong," menjelaskan Bwee-sim-mo-li seenaknya. "Dia mempunyai dua orang anak yang kini mungkin berusia lima dan enam tahun. Isterinya bernama Hiau Kee Niang."
"Aku tak pernah dengar nama itu di kampung ini," menggumam Su Nan Su "Apakah kau tak keliru rumahnya ada dikampung ini?"
Bwee sim-mo-li sengaja memperlihatkan perasaan bingung, dia bilang: "Justeru inilah yang membingungkan mencari orang di malam hari, kalau besok pagi tentu aku bisa bertanya-tanya kepada penduduk kampung ini dan mereka bisa memberitahukan dimana rumah pamanku itu..."
"Kalau begitu sudahlah, kita kembali saja ke kedai arak dulu, kau tunggu sampai pagi hari baru mencari rumah familimu itu!" menyarankan Su Nan Su.
Bwee-sim-mo li sengaja memperlihatkan sikap bimbang, sampai akhirnya dia mengangguk. "Baiklah... memang sejak semula sudah kurasakan kurang sopan datang ke rumah orang di malam selarut ini ! Biarlah aku menunggu sang fajar di kedai arak itu bersama kau dan teman-teman !"
Girang bukan main hati Su Nan Su, karena segera dia menduga dengan penuh keyakinan bahwa wanita cantik ini benar-benar seorang manusia, bukan hantu seperti yang dikuatirkannya. Karena wanita cantik ini lebih senang menunggu di kedai arak, bukan mengajaknya ke tempat sepi!
"Mari kita kembali ke kedai arak!" ajak Su Nan Su tak sabar, hatinya semakin besar dan tenang, sekarang dia sudah tidak curiga bahwa Liok Bi Lan hantu yang bisa mencelakainya.
"Baik, tapi aku tadi meninggalkan pauw-hokku dipintu perkampungan, aku hendak mengambilnya dulu..!" kata Liok Bi Lan
Kaget hati Su Nan Su, dia memandang curiga lagi pada Liok Bi Lan, dia benar-benar bimbang.
Bwee sim moli rupanya mengetahui hal ini, sengaja dia bilang: "Biar aku yang pergi mengambilnya sendiri, kau boleh kembali ke kedai arak, nanti aku menyusul ke sana !"
Mendengar perkataan Liok Bi Lan seperti itu, kesangsian Su Nan Su semakin besar. Dia bukan sangsi bahwa wanita ini hantu, tapi kuatir wanita ini nanti tak kembali lagi ke kedai arak, melainkan pergi entah kemana !"
"Apakah kau tidak kuatir diganggu orang jahat jika pergi mengambil pauwhokmu seorang diri ? Biar kuantarkan !" bilang Su Nan Su.
Bwee-sim-mo-Ii cuma mengangguk. Dia sudah melangkah menuju ke pintu perkampungan tersebut, diikuti oleh Su Nan Su, yang jadi bawel dan cerewet sekali bertanya ini dan itu tentang keluarga gadis yang cantik ini.
Bwee-sim-mo-li memberikan keterangan bohong seenaknya, dia menceritakan bahwa ayahnya seorang hartawan, tapi dia hendak di kawinkan dengan seorang pemuda yang tak dicintainya, maka dia melarikan diri. Karena tak tahu mau pergi kemana, maka tujuannya akhirnya pada familinya di kampung ini untuk menumpang sementara waktu.
Tetapi ketika sampai di luar pintu perkampungan, Bwee-sim-mo-li tidak berhenti melangkah. Tak ada barang di gerbang pintu kampung tersebut. Su Nan Su mulai curiga ketika melihat wanita yang mengaku bernama Liok Bi Lan ini masih terus berjalan. Dia mulai ingat lagi akan dugaan-dugaan teman-temannya, A puy dan lain-lainnya, bahwa wanita cantik ini adalah hantu.
Dia jadi takut dan tubuhnya mulai menggigil dengan jantung berdegup keras. Keadaan di situ gelap dan sepi sekali tidak ada seorang manusiapun juga.
"Di.. di... dimana kau . . . taruh pauwhokmu?" tanya Su Nan Su akhirnya, terpaksa, dengan suara gemetar, karena Bwee-sim mo-Ii masuh terus juga melangkah meninggalkan perkampungan tersebut.
"Tidak jauh lagi, di sana..." menunjuk Bwee-sim-mo-li sambil tertawa melirik manis sekali pada Su Nan Su.
Entah mengapa Su Nan Su sekali ini melihat senyum Bwee-sim-mo-li tanpa tertarik sedikitpun juga, bahkan tubuhnya menggigil, rasa takutnya semakin besar. Dia mendadak berhenti melangkah, bahkan kalau bisa memutar tubuhnya untuk lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan perempuan ini karena dia segera mulai menduga-duga lagi bahwa Liok Bin Lan ini adalah hantu .... bukankah Liok Bin Lan tengah memancingnya untuk pergi ketempat sepi dan gelap? Tapi sayang kedua kakinya jadi lemas tak bertenaga karena rasa takutnya, dia berdiri dengan lutut menggigil.
Liok Bi Lan tertawa, menghampiri dan memegang tangan Su Nan Su, memijat jalan darah "koai-hiat, lemaslah benar-benar seluruh tubuh Su Nan Su, sedikitpun tidak bertenaga, sehingga waktu tangannya ditarik dia terseret mengikuti Liok Bi Lan tanpa ada perlawanan sedikitpun, hanya menurut saja, meninggalkan perkampungan Yuan ci semakin jauh.
Keringat dingin membanjiri tubuh Su Nan Su, dia ketakutan setengah mati. Di luar keinginannya, dia mengikuti saja diseret oleh wanita cantik tersebut, benar-benar tidak berdaya untuk memberikan perlawanan. Untuk memberontak saja dia tidak sanggup, bahkan tenaganya semua seperti telah lenyap sehingga sedikitpun dia tidak bisa menggerakkan tangannya yang dicekal oleh wanita cantik ini.
Yang membuat dia tambah ketakutan, Liok Bi Lan telah menyeretnya ke tempat yang gelap dan rimbun oleh pohon-pohon.
Liok Bi Lan menyeret Su Nan Su seperti terbang karena dia telah mempergunakan ginkangnya yang sangat tinggi, sedikitpun tidak ada kesulitan buat dia menyeret tubuh Su Nan Su yang sebetulnya tidak enteng itu.
Hal ini malah membuat Su Nan Su tambah ketakutan, bayangkan saja di kedua sisi telinganya berkesiuran angin yang kencang, dirinya seperti tergantung di tengah udara di tenteng, diseret dengan cepat sekali, seperti tengah diajak terbang.
Tentu saja dia jadi menduga bahwa Liok Bi Lan benar-benar hantu yang bisa terbang ! Dugaannya semakin kuat, karena waku itu dia merasakan kakinya tidak menginjak tanah, terseret seperti terbang saja, seperti kapas, yang dibawa lari oleh wanita itu secepat kilat.
Pohon-pohon dan barang barang lainnya yang berkelebat tidak bisa dilihatnya dengan jelas, bahkan kepalanya seketika jadi pusing,dan akhirnya dengan perasaan ngeri sekali dia memejamkan matanya rapat-rapat.
Dia ingin menangis saja layaknya untuk merengek agar hantu cantik ini mengampuni-nya. Tapi tidak ada suara yang meluncur keluar dari mulutnya, cuma bibirnya saja yang gemetaran, karena menahan rasa takut.
Liok Bi Lan tak peduli dengan keadaan Su Nan Su dia terus, juga berlari kepohon-pohon yang rimbun, di sana tumbuh pohon-pohon yang tinggi dan batangnya menjulang ke atas dengan daun-daun yang lebat sehingga di situ gelap sekali, sedikitpun sinar bulan tak bisa menerobos masuk.
Di tempat itu Liok Bi Lan baru berhenti berlari, Dia melepaskan cekalan pada tangan Su Nan Su.
Kontan kedua kaki Su Nan Su yang memang sudah lemas, tak bisa berdiri karena menggigil gemeteran, telah tertekuk dan dia menjatuhkan dirinya berlutut sambil tidak hentinya memanggut-manggutkan kepalanya.
"Ampunilah... ampunilah aku .... jangan menggungguku . . . tadi yang kuceritakan kepada teman-temanku adalah .... adalah kejadian yang terlalu kulebih-lebihkan!" merapat Su Nan Su sambil menangis saking ketakutan.
Liok Bi Lan berdiri dengan senyumnya yang manis. Dia bertanya-tawar: "Mengampuni kau? Kenapa? Kau tidak bersalah apa-apa padaku...! Berdirilah!"
"Aku... aku telah menceritakan tentang kejadian antara hantu cantik sesungguhnya hal itu terlalu dilebih-lebihkan...!"
"Hemmm, aku bukan hantu cantik, aku manusia !" kata Liok Bi Lan tawar. "Ayo, berdirilah, aku mau bicara dengan kau !"
Hati Su Nan Su berdebar keras. Dengan kedua kaki masih menggigil karena rasa takut, dia mengangkat kepalanya sambil berdiri mengawasi kepada wanita cantik di depannya.
"Be... benarkah kau... kau manusia biasa ? Manusia seperti aku ?" tanyanya dengan suara bimbang.
Liok Bi Lan mengangguk. "Benar... kau tidak perlu takut, aku manusia yang sama seperti kau ! Aku bukan hantu ! Apakah kau kira hantu dapat memegang tanganmu seperti tadi ? Apakah hantu dapat menginjak tanah dengan kedua kakinya? Nan, kau lihatlah apakah kedua kakiku ini menginjak tanah?" Sambil berkata begitu sengaja Liok Bi Lian mengangkat sedikit gaunnya, sehingga terlihat kedua kakinya yang memang menapak tanah.
Su Nan Su mengawasi dengan mata terbuka lebar-lebar, dia melihat kedua kaki wanita cantik ini memang menginjak tanah. Menurut cerita orang-orang tua, jika hantu tak bisa menginjak tanah, kedua kakinya tak menyentuh bumi, karena tubuhnya melayang-layang. Tapi, wanita cantik ini berdiri dengan kedua kaki menempel di tanah, Dia melihat jelas.
"Jadi... jadi kau manusia biasa ?" Dia mencgasi lagi sambil mengawasi dengan sikap masih ragu-ragu.
Liok Bi Lan mengangguk. "Ya,.. kau tidak usah takut, aku mengajakmu kemari untuk minta pertolongan kepadamu!"
"Katakanlah... katakanlah pertolongan apa yang bisa kuberikan ? Mengantarkan kau ke rumah sanak familimu ? Atau aku harus mengantarkan kau pulang ?" Tanya Su Nan Su dengan suara masih gemetar oleh rasa takut, dia ingin cepat-cepat bisa meninggalkan tempat ini dan kembali ditengah-tengah kawan-kawannya, karena berada di tempat ini, yang gelap dan rimbun oleh pohon, menimbulkan suasana yang mengerikan.
"Aku sedang kesepian, justeru aku hendak minta padamu supaya menemaniku untuk mengurangi kesepianku itu !" menyahuti Liok Bi Lan.
Semangat Su Nan Su kembali terbang meninggalkan raganya Memang biasa nya hantu wanita yang mengganggu korbannya, selalu pura-pura kesepian dan nanti jika korbannya sudah kena dicumbunya. ia akan memperlihatkan ujudnya yang sebenarnya, sangat menakutkan dan mengerikan sekali.
Apakah wanita ini benar-benar manusia ? Kembali keraguan memenuhi benak Su Nan Su. Dia sampai mengawasi wanita cantik di depannya dengan sepasang mata terbuka lebar-lebar.
"Berdirilah !" perintah Liok Bi Lan lagi.
Biarpun kedua lututnya masih gemetaran tapi Su Nan Su telah berdiri. Dia ketakutan setengah mati. "Ampunilah aku... biarkan aku pergi meninggalkan tempat ini...!" memohon Su Nan Su dengan suara yang tidak begitu jelas, karena suaranya gemetar dan dia menghapus air matanya, saking ketakutan dia tidak malu-malu lagi menangis.
"Jangan cengeng seperti banci !" bentak Liok Bi Lan dengan suara nyaring. "Aku memilih kau karena semula kusangka kau seorang laki-laki jantan yang gagah dan pemberani. Tak tahunya kau seorang manusia tidak punya guna ! Tapi aku sudah terlanjur mengajakmu kemari, maka aku cuma minta kau menghiburku, mengisi kesepianku, jika telah selesai segalanya, kau boleh meninggalkan tempat ini...!"
Dibentak begitu Su Nan Su tidak berani rewel lagi, dia cuma menyuaut air matanya dan juga keringat dingin yang memenuhi wajah maupun tubuhnya, dia masih diliputi rasa takut dan ngeri yang tidak kepalang. Keadaan di tempat itu sunyi sepi dan hanya terdengar suara binatang malam penghuni hutan yang memperdengarkan suaranya.
"Sekarang kau jawablah pertanyaanku!" kata Liok Bi Lan lagi dengan suara tawar. "Tidak boleh satu pertanyaan juga yang kau jawab dengan main-main ! Aku menghendaki setiap jawabanmu dengan jujur, sekali saja kau berbohong, aku tidak akan sungkan-sungkan membunuhmu! Mengerti kau ?!"
"Me... mengerti I" menyahuti Su Nan Su sambil menunduk ketakutan, diam-diam di dalam hati dia berdoa pada Thian agar hantu ini tidak mengganggunya.
"Apakah kau sudah kawin?" tanya Liok Bi Lan mulai dengan pertanyaan-rertanyaan yang harus dijawab oleh Su Nan Su.
"Be... belum...!!"
"Sudah pernah berhubungan dengan wanita ?"
"Be . .. belum !"
"Jawab yang jujur!" bentak Liok Bi Lan nyaring.
Tubuh Su Nan Su gemetar keras, dia tersentak oleh bentakan itu, saking ketakutan sampai melangkah mundur dua tindak, mukanya pucat pias.
"Su... sudah !"
"Sering?!"
"Se... sering...!"
"Dengan bunga raya ?!"
"Ya... dengan bunga raya (pelacur) !"
"Tidak pernah dengan anak isteri keluarga kaik-baik?!" tanya Liok Bi Lan lagi.
"Be... belum pernah !"
"Jawab yang jujur, atau aku akan menyiksamu !" mengancam Liok Bi Lan.
"Sungguh! bersumpah apapun aku berani, belum pernah aku mengganggu anak isteri orang lain... dengan bunga raya memang sudah sering....!".
"Hmmm, tentu kau sudah berpengalaman untuk urusan pria dan wanita, bukan?" tanya Liok Bi Lan lagi.
"Tidak... tidak berpengalaman.... yang berpengalaman urusan wanita adalah temanku .... Si A-puy .... dia berpengalaman sekali, karena sudah banyak benar bunga raya yang menjadi langganannya dia selalu pergi ketempat pelesiran, sedikitnya setiap bulan sempai sepuluh kali ... !"
"Hmmm, aku tidak bertanya tentang temanmu itu! Aku bertanya tentang dirimu!" bentak Liok Bi Lan.
Kuncup lagi hati Su Nan Su, dia sampai merasakan sepasang lututnya lemas tidak bertenaga, tidak ampun lagi dia jatuh duduk dan menangis pula, karena dia tambah ketakutan.
"Aku . . . aku telah memberitahukan yang sebenarnya...!" Dia bilang diantara isak tangis karena ketakutan."kalau memang kau kesepian, A-puy dapat menghiburmu!"
"Aku menginginkan kau yang menghibur mengisi kesepian ku!" Kata Liok Bi Lan sambil tertawa dingin, "Dengarlah aku bukan hantu ! percayalah, aku manusia biasa sepeni kau, yang mempunyai daging, tulang dan juga panca indera yang lengkap seperti kau ! Aku menghendaki kau mengisi kesepian hatiku ! Kulihat yang kau takuti adalah hantu... lihatlah, apakah aku mirip hantu?!"
Su Nan Su mengawasi bimbang, tubuhnya masih menggigit menahan rasa takut.
"Kalau memang kau bukan hantu....!" kata Su Nan Su yang kemudian mendapat akal. "Baiklah, mari kita kembali ke dalam kampung disana kita bisa menyewa kamar rumah penginapan .... aku jamin kau pasti terbebaskan dari kesepian, aku... aku akan berusaha menghiburmu...!"
Liok Bi Lan tertawa dingin, "Hemm, kau hendak membuktikan bahwa aku bukan hantu bukan? Apakah ada hantu yang bisa berbicara tentang hantu? Percayalah aku bukan hantu!
Su Nan Su mengawasi, dia masih ragu-ragu. Tapi Liok Bi Lan sudah bilang lagi; "Lihatlah, apakah hantu memiliki bentuk badan sebagus ini?" saat itu Liok Bi Lan telah melepaskan segala sesuatu yang menempel di tubuhnya.
Sinar bulan yang memang tak bisa menembus rimbunnya daun-daun pohon, tapi tak menjadi persoalan untuk memperlihatkan keindahan tubuh Liok Bi Lan pada Su-Nan Su. Bahkan tubuh Liok Bi Lan begitu putih mulus bersinar dalam kegelapan tersebut seperti sepotong giok yang bercahaya terang Su Nan Su bisa melihat jelas.
Darahnya mendesir, rasa takut dan kagum terhadap tubuh Liok Bi Lan bercampur menjadi satu.
Liok Bi Lan sudah melangkah mendekati Su Nan Su, sikapnya sekarang tidak galak seperti tadi, malah sangat manja sekali, karena saat itu kedua tangannya sudah melingkari leher Su Nan Su.
"Ayolah, kau harus mengisi kesepianku!" berbisik Liok Bi Lan
Sebetulnya Su Nan Su masih ketakutan tapi keindahan tubuh Liok Bi Lan membuat darahnya mendesir jauh lebih cepat, dia juga akhirnya mulai melupakan rasa takutnya ketika tangan Liok Bi Lan demikian pandainya membuat Su Nan Su menjelma jadi laki-laki yang benar-benar sangat jantan.
Akhirnya Su Nan Su memang benar-benar sudah melupakan semua rasa takutnya, dia juga sudah tidak ingat lagi apakah wanita yang ada dalam pelukannya ini hantu atau memang gadis cantik manusia sama seperti dirinya.
Dia telah tenggelam dalam cumbu rayu dengan Liok Bi Lan, napas Su Nan Su memburu keras, seperti juga dia tengah berlari kuat-kuat, begitu panas napasnya.
Tapi, mendadak terdengar suara seruan marah Liok Bi Lan. "Laki-.laki bodoh tidak punya guna !" Disusul juga dengan tubuh Su Nan Su terpental keras terbanting di tanah ! Rupanya dia tidak berhasil mengisi kesepian Liok Bi Lan.
Justeru Bwee-sim-mo li membawa Su Nan Su demi kepentingan untuk mengisi "kesepian jiwa dan hatinya yang dirasakannya belakangan ini sangat gersang sekali, tapi laki-laki ini justeru terlalu mementingkan dirinya sendiri, bukan Liok Bin Lan yang terobati dari rasa kesepiannya, malah Su Nan Su yang seperti laki-laki rakus yang telah berusaha mendapatkan semua-nya untuk dia.
Dan semuanya berlangsung begitu singkat dan cepat, membuat Liok Bi Lan jadi sangat kecewa, maka akhirnya dia mendorong dada Su Nan Su, sampai badan -laki-laki itu "terbang" ke tengah udara kemudian terbanting keras di tanah !
Su Nan Su waktu sangat lemas tak bertenaga, tahu-tahu dadanya didorong begitu kuat, sampai terpental. Waktu terbanting, dia kesakitan sekali, menyebabkan dia berteriak, matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing bukan main.
Liok Bi Lan telah meloncat bangun dan mengenakan pakaiannya lagi dengan muka merah padam karena mendongkol, karena apa yang diinginkannya tidak juga diperolehnya. Dia menyesal sekali selama ini tak bisa memperoleh pemuda atau orang muda yang benar-benar jantan dan tangguh untuk mengisi kesepian hatinya.
Seakan saja dia mendapat orang muda yang bersemangat pada awalnya saja, kemudian seperti balon yang kempis, sebelum dia memperoleh kesempatan melenyapkan kesepian hatinya.
Waktu itu Su Nan Su sudah merangkak bangun, dia berdiri gemetar ketakutan. Sebetulnya kedua lututnya lemas tidak bertenaga, tapi rasa takutnya menyebabkan dia berhasil berdiri dengan memaksakan diri mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
"Pakailah kembali bajumu !" perintah Liok Bi Lan dengan suara yang bengis.
Su Nan Su mematuhi perintah itu, tangannya gemetar waktu dia memakai kembali bajunya. Kemudian selesai mengikat tali pinggangnya dia berdiri ketakutan dengan kedua tangan diturunkan, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia yakin, bahwa wanita ini manusia, sebab kalau hantu tentu dia tak bisa merabahi seluruh tubuh yang begitu padat berisi, juga dengus napasnya begitu hangat,
Tapi, sekarang, dia tidak tahu mengapa wanita cantik ini begitu marah kepadanya. Dia jadi tidak mengerti akan sikap wanita ini, yang sebentar hangat sebentar marah, sebentar mesra, sebentar bengis.
"Kau seharusnya dihukum mati" kata Liok Bi Lan tawar. "Telah kau kecewakan hatiku... tapi biarlah, aku tidak mau melihat kau mampus di depan mataku !" Setelah berkata begitu, tanpa bisa diikuti oleh pandangan mata Su Nan Su tangan kanan Liok Bi Lan telah menyambar menotok beberapa jalan darah Su Nan Su, totokan itu telah diperhitungkan, biarpun jatuh di jalan darah yang mematikan, tapi tidak membuat Su Nan Su jatuh rubuh mati seketika. Dan itu sudah diperhitungkan benar-benar oleh Liok Bi Lan.
"Sekarang," kata Liok Biak Lan sambil tersenyum bengis setelah menotok beberapa titik jalan darah Su Nan Su. "Kau lihatlah baik-baik !" Setelah bekata begitu Liok Bi Lan mengerahkan sinkangnya, maka dari sekujur tubuhnya mengepul asap putih yang tipis.
Kaget setengah mati Su Nan Su. "Hantu...!" teriaknya sambil mundur. Karena memang dia tahu dari cerita-cerita, jika hantu hendak pergi, tentu dengan mudah tubuhnya menghilang setelah dari badannya mengeluarkan gumpalan asap.
Dan sekarang wanita cantik ini juga mengeluarkan asap dari sekujur tubuhnya, tentu saja membuat Su Nan Su jadi ketakutan lagi. Dia mengawasi dengan mata terbelalak lebar-lebar pada Liok Bi Lan. asap yang keluar dari tubuh wsnita ini semakin lama semakin banyak.
Asap itu berasal pengarahan sinkang yang benar-benar telah mencapai tingkat sangat tinggi.
Sambil tertawa nyaring Liok Bi Lan mempergunakan gingkangnya, tahu-tahu tubuhnya melesat lenyap dari tempatnya. Su Nan Su memang tengah ketakutan, dia juga tak bisa mengikuti gerakan badan Liok Bi Lan begitu cepat, karena tahu-tahu telah lenyap dari penglihatannya.
Dia sampai menggigil keras sekali, karena menyangka hantu di depannya telah menghilang. Setelah tersadar pada keadaannya, dengan diiringi jerit ketakutan Su Nan Su berlari sekuat tenaganya meninggikan tempat itu, kembali ke warung arak di mana teman-temannya telah menanti.
Si bungkuk, pemilik warung arak itu, juga teman-temannya, jadi kaget tidak terkira karena mendengar jeritan yang panjang penuh rasa ngeri dan ketakutan Su Nan Su yang dari kejauhan mendesir semakin mendekati. Akhirnya tampak Su Nan Su berlari seperti terbang saja kerakusan bukan main disertai jeritannya, napasnya memburu keras sekali, ketika sampai di dekat warung arak dia berhenti dengan napas memburu: "Hantu... han... hantu itu... dia... dia benar hantu... hantu cantik... aku... aku telah dipaksa... untuk mengisi keispian hatinya...!"
Kawan-kawannya telah berlari keluar ruangan warung arak, mengelilingi Su Nan Su unruk mendengar ceritanya tentang hantu cantik itu, wajah mereka pucat, Sedangkan Su Nan Su sendiri demikian pucat mukanya, sehingga seperti kapur tembok, badannya menggigil keras sekali.
"Di mana hantu itu sekarang ?" tanya A-puy, dari mukanya jelas dia merasa ngeri.
"Dia .... dia menghilang...!" Berkata sampai di situ napas Su Nan Su tersendat, lehernya seperti dicekik sesuatu, napasnya jadi putus dan dadanya seperti hendak meledak karena sesak tak terkira, dia berkelojotan dan rubuh terguling di tanah, badannya berguling-guling tanpa mengeluarkan suara tenggorokannya saja yang terdengar bunyi "Krokkkkkk ! Krokkkk....!"
Semua kawan-kawannya kaget dan ketakutan, apa yang telah terjadi pada Su Nan Su? Mereka merasakan seluruh bulu tengkuk jadi berdiri.
Tubuh Su Nan Su berkelojotan dengan mata mendelik lebar-lebar, tubuh terbuka serta lidah melelet keluar, kedua tangannya memegangi lehernya seperti juga lehernya itu sedang tercekik sesuatu.
Kemudian dadanya mengejang kaku diam tak bergerak lagi. Napasnya telah putus, lidahnya terjulur panjang.
Sebetulnya Su Nan Su mati akibat totokan yang dilakukan Liok Bi Lan dengan perhitungan tepat, dia membiarkan Su Nan Su sempat berlari mencapai warung arak itu. Dia memperhitungkan sangat jitu, karena sekarang Su Nan Su sudah menggeletak mati dicekik oleh hantu cantik itu, muka mereka pucat pias dan seperti telah berjanji semuanya berlari meninggalkan warung arak tersebut, mereka pulang kerumah masing-masing dengan badan menggigil.
Tak seorangpun berani menyentuh tubuh Su Nan Su yang menggeletak di tanah dalam keadaan kejang kaku dengan mata mendelik dan lidah terjulur panjang.
Sie bungkuk juga ketakutan, dengan badan gemetar dia berusaha menutup warung araknya, kemudian melingkar di pembaringan dalam kamarnya dengan tubuh tidak hentinya menggigil keras.
Tubuh Su Nan Su yang sudah kaku dingin tidak berjiwa lagi menggeletak saja di jalan.. Sie bungkuk maupun teman-teman Su Nan Su tidak berani memeriksa keadaan Su Nan Su mereka menunggu sampai besok pagi, dengan para penduduk lainnya barulah memeriksa keadaan Su Nan Su.
Mereka semua yakin bahwa Su Nan Su mati karena menjadi korban hantu cantik.. dicekik mati, Tapi tak seorangpun yang tahu bahwa sebenarnya Su Nan Su mati akibat totokan dibeberapa titik jalan darahnya yang telah membuat napasnya tersumbat dan akhirnya membuat dia mati seperti tercekik karena memang dia tidak bisa bernapas lagi peristiwa ini telah menggemparkan penduduk kampung tersebut, seluruh penduduk kampung Yuan-ci jadi ketakutan selama beberapa hari berikutnya, mereka takut kalau-kalau hantu cantik itu muncul lagi dan menggangu mereka.
Bersambung ke jilid 28
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 27
Dia tidak akan berkedip menghadapi penderitaan maupun kematian. Tapi sekarang justeru rasa sakit yang dideritanya demikian dahsyat, sehingga rasanya tidak tertanggung lagi, tanpa dikehendaki dia menggeliat di atas tanah pada tumpukan daun-daun kering dan mengeluh ....
Cuma dua kali Toat-beng-sing-ciang menggeliat dan mengeluh, karena tubuhnya kemudian diam tidak bergerak lagi, tidak terdengar pula keluhannya, karena dia pingsan tidak sadarkan diri.
Burung kulik terbang di atas hutan kecil itu memperdengarkan suaranya diiringi kepak sayapnya. Selanjutnya cuma terdengar suara binatang-binatang yang jadi penghuni hutan tersebut, mengisi kesunyian di tempat itu, bergurau dengan angin .....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kesepian sangat dibenci oleh Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan. Sejak dia berobah menjadi iblis yang paling ditakuti orang-orang kangouw, sepak terjangnya selalu menuju pada kesenangan-kesenangan yang sadis dan kejam. Dia selalu hendak mengisi waktu-waktu sepinya dengan perbuatan-perbuatan cabul, yang akhirnya pasti selesai dengan lumuran darah! Banyak pria-pria yang mati di tangan iblis ini, terutama para orang mudanya.
Tak ada yang ditakuti Bwee-sim-mo-li Liok Bi Lan, dia selalu melakukan apa yang hendak dilakukannya. Tapi sekarang, justeru dia terpaksa sekali mesti tunduk pada Cu Lie Seng, murid Tang San Siansu.
Yang membuat takut Bwee-sim-mo li Liok Bi Lan bukanlah Cu Lie Seng. atau ayahnya, Cu Bian Liat, orang kedua yang paling berkuasa di kerajaan pada saat sekarang, setelah Kaisar.
Justeru yang membuat Bwee-sim-mo-li gentar adalah Tang San Siansu, pendeta itu terlalu lihai, terutama sekali Liong beng-kunnya. Dalam suatu pertempuran dua tahun yang lalu, Bwee-sim-mo-li pernah dirubuhkan dan hampir saja dia dihajar dengan Liong-beng-kun si pendeta.
Sebagai seorang berpengalaman dan malang melintang dalam dunia kangouw dengan kekejamannya, Bwee-sim-mo li tahu akan kekejaman Tang San Siansu, juga dia tahu Liong-beng-kun merupakan jurus pukulan yang bisa membuat orang mati dengan sangat menderita.
Sebab itu, tanpa peduli lagi akan harga dirinya, dia mengakui kalah dan selanjutnya akan patuh pada setiap perintah Tang San Siansu. Dengan pengakuannya itu, Tang San Siansu tak mendesaknya lebih jauh dan bahkan minta agar Bwee-sim-mo-li mendampingi muridnya, membantu usaha muridnya.
Biar-pun gusar, tapi Bwee-sim-mo-li tak mau memperlihatkan perasaannya itu pada Tang San Siansu, dia mematuhi perintah tersebut, cuma di dalam hatinya dia bertekad akan melatih ilmunya lebih hebat lagi dan suatu saat kelak akan dipergunakan untuk merobohkan Liong-beng-kunnya Tang San Siansu.
Sekarang dia tengah berada dalam perjalanan bersama dengan Tang San Siansu maupun yang lain-lainnya, termasuk Cu Lie Seng, selama itu memang Tang San Siansu telah "memakai"-nya untuk mengisi kesepian pendeta tersebut, menemaninya dengan segala kemesraan.
Tapi, dia biarpun tampaknya senang bermesraan dengan pendeta ini, hatinya selalu diliputi kebencian dan mengutuk habis-habisan pada pendeta yang seorang ini, yang kepandaiannya memang tangguh dan berada diatas kepandaiannya sendiri.
Sebetulnya Bwee-sim-mo li mengincar Cu Lie Seng. Pemuda itu sudah mewarisi kepandaian Tang San Siansu, berusia muda dan tampan, juga putera dari orang yang sangat berkuasa di seluruh kerajaan setelah Kaisar.
Maka Cu Lie Seng merupakan satu-satunya orang muda yang paling menarik hati Bwee-sim-mo-li Tapi Tang San Siansu seringkali berpesan padanya, agar dia tidak mengganggu dari hidup muridnya, jangan coba-coba mencumbunya, karena Tang San Siansu menghendaki Cu Lie Seng benar-benar mewarisi seluruh kepandaiannya dan kelak menjadi orang tanpa tanding, satu-satunya orang yang berkepandaian tertinggi.
Cu Lie Seng merupakan satu-satunya harapan Tang San Siansu untuk memperlihatkan kepada seluruh dunia kangouw bahwa muridnya bisa menjadi orang tergagah.
Karena pesan Tang San Siansu itulah Bwee-sim-mo-li tak pernah berani mengganggu pemuda bangsawan tersebut. Setiap kali menemani Tang San Siansu bermesra-mesraan Bwee-sim- mo-li selalu merasa muak. Pendeta ini memang memiliki kepandaian tinggi, tapi dia memiliki wajah yang memuakkan, sudah tua dan juga tubuhnya yang gemuk membuat si pendeta sering kesulitan napas di saat mereka bermesraan ....
Melakukan perjalanan mengawal Cu Lie Seng yang membawa daftar nama para pendekar yang bersedia bekerja pada kerajaan sebetulnya merupakan pekerjaan yang tidak disenangi Bwe-sim.mo li. Dia memiliki beberapa orang dayang yang siap melayaninya dengan penuh hormat dan Bwe sim-mo li juga selalu diperlakukan sebagai dewi yang agung.
Sekarang dia harus menempuh perjalanan yang melelahkan, menjemukan dan penuh kesepian, jika biasanya dia bisa memanfaatkan para pemuda untuk mengisi kesepian hatinya, sekarang tidak, Paling tidak Tang San Siansu saja yang menghangatkan tubuhnya dan ini menjemukan selain membosankan.
Karenanya tak mengherankan selama dalam perjalanan Bwe-sim-mo-li lebih banyak termenung saja, berdiam diri, dia jadi alim sekali dan jarang bicara jika tidak perlu. Hanya sekali-sekali saja melirik kepada Cu Lie Seng, pemuda bangsawan yang tampan itu. Akh, betapa mengasyikkan jika dia bisa mempengaruhi Cu Lie Seng, selain tampan dan angkuh.
Hanya adanya Tang San Siansu membuat Bwee-sim-mo-li selama itu tak berani berterang memperlihatkan perasaan sukanya pada pemuda bangsawan tersebut. Dia masih bisa menahan diri.
Setelah melakukan perjalanan lebih dari setengah bulan, hatinya mulai berontak karena kesepian yang sangat. Selama dalam perjalanan hatinya jadi gersang dilanda kesepian, selain pertempuran demi pertempuran dengan orang-orang yang berusaha menghadang rombongan mereka, tidak pernah ada sesuatu yang menarik hatinya.
Rasanya Bwee-sim-mo-li sudah ingin cepat-cepat meninggalkan rombongannya tersebut, untuk ber-senang-senang kembali dilayani oleh para dayangnya, pelayan-pelayannya yang cantik dan tahu akan selera dewinya ini.
Malam itu, hawa udara dingin sekali. Rombongan Cu Lie Seng berkemah diluar pimu kampung Yuan-ci. Malam ini Tang San Siansu tidak seperti saat-saat sebelumnya, dia lebih serius tidak banyak bicara, pendiam dan juga tak mau bertemu dengan siapapun juga. Dia berdiam di dalam kemahnya seorang diri dan tak ada yang mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh pendeta yang sakti ini.
Cu Lie Seng berada di dalam kemahnya dan tidak bisa tidur, hatinya gelisah sekali. sebab dia merasakan malam ini seakan-akan ada ancaman untuk rombongannya. Perasaan hati kecilnya menyatakan kemungkinan adanya penyerbuan dari para pendekar yang hendak memperebutkan daftar nama orang-orang gagah.
Karena itu. biarpun malam sudah larut dan dingin Cu Lie Seng tetap tidak tidur, pakaiannya tetap tak dibuka, dia dalam keadaan siap untuk menghadapi segala kemungkinan, kalau ada penyerbuan dari pihak lawan.
Memang selama dalam perjalanan ke kota raja, banyak kesulitan yang dialami rombongannya, sebab banyak sekali orang-orang kangouw dan berbagai kalangan, yang secara berganti-gantian menyerbu rombongannya, berusaha meminta atau merampas daftar nama orang-orang gagah.
Sejauh itu, dia dan gurunya maupun para pembantunya, berhasil menghalau penyerbu-penyerbu ini. Memang ada juga yang terluka, tapi tak berarti.
Seperti Pak-mo terluka pada lengannya karena dikeroyok oleh dua puluh orang pengeroyok waktu terjadi penyerbuan lebih dari seratus orang yang tak diketahui dari aliran atau pintu perguruan mana, karena semuanya mengenakan topeng yang terbuat dari kain hitam, menutupi seluruh wajah mereka, hanya mempunyai dua lobang untuk mata mereka.
Cu Lie Seng tidik gentar menghadapi siapapun yang menghadang rombongannya, dia yakin bisa menghadapinya, terutama sekali di-samping ada para pahlawan istana Kaisar, juga ada pembantu-pembantunya yang berkepandaian tinggi, seperti See mo, Pak-mo, Tong-mo can Lam mo.
Kepandaian Bwee-sim-mo-li juga tidak rendah. Karena itu, tak pernah Cu-Lie Seng berkuatir sebab merasa pihaknya sangat kuat, dan yang benar-benar jadi andalannya adalah Tang San Siansu, sang guru yang kepandaiannya hebat sekali, hampir tak ada tandingan !
Memang sebelumnya Kaisar juga telah menduga bahwa pengiriman daftar nama-nama orang gagah yang bersedia bekerja pada kerajaan pasti akan mengalami kesulitan. Itulah sebabnya mengapa diperintahkan congkoan Gi-lim-kun dan Congkoan Kim-ie-wie untuk mengawal Cu Lie Seng.
Tapi yang tidak disangka oleh Cu Lie Seng, justeru yang berusaha merampas daftar nama orang-orang gagah itu demikian banyaknya.
Sebagai pemuda yang cerdik, dia berpikir sebetulnya cukup Siangkoan Giok Lin ikut dengannya ke kotaraja, di sana dia bisa menuliskan daftar nama-nama orang gagah itu. Sekarang Siangkoan Giok Lin ikut serta dengannya, sedangkan tentang daftar nama orang-orang gagah telah tersiar luas dalam dunia kangouw, dengan demikian jelas memancing keinginan para orang-orang gagah kangouw untuk merampas daftar itu.
Hal ini pernah diberitahukan kepada Tang San Siansu, tadinya lebih sempurna rencana mereka kalau hanya sekedar mengundang Siangkoan Giok Lin ke kotaraja, disana barulah Siangkoan Giok Lin menuliskan nama orang-orang yang tersedia bekerja untuk kerajaan, sehingga tidak menimbulkan kericuhan yang demikian berbelit dan rintangan yang demikian banyak selama dalam perjalanan ke kotaraja.
Tetapi Tang San Siansu tidak memperhatikan apa yang diberitahukan muridnya, dengan angkuh dia bilang: "Sekarang siapa yang berani mati mencoba untuk merampas daftar itu? Mereka hanya manusia-manusia tak berharga untuk dipikirkan. Siapa yang bisa merampas daftar mana itu? Kukira, tak ada seorangpun yang bisa merampas daftar itu selama aku berada di sini !"
Perjalanan yang dilakukan ronbongan ini berlangsung penuh kewaspadaan. Dan justeru malam itu setelah berkemah, waktu Cu Lie Seng dan yang lainnya berada di dalam kemah masing-masing, Bwee sim-mo-li keluar dari tendanya.
Perkemahan yang didirikan oleh mereka terdiri dari tenda-tenda berukuran tak begitu besar, hanya bisa ditempati oleh beberapa orang saja. Bwee sim-mo-li sendiri memperoleh kemah untuk seorang diri.
Cuma Tang San Siansu pada malam-malam sebelumnya suka datang ke tenda Bwee-sim mo-li, atau sebaliknya Bwee-sim-mo-li juga dipanggil menemani Tang San Siansu di tendanya.
Malam ini benar-benar Bwee-sim-mo-li gelisah karena kesepian yang sangat menyiksanya. Jika sebelumnya dia masih berusaha untuk menahan diri tak melakukan sesuatu dalam kesepiannya itu,inilah disebabkan dia masih gentar untuk berurusan dengan Tang San Siansu.
Tapi sekarang setelah melakukan perjalanan berhari-hari lamanya, kesepiannya semakin bergolak. Dan dia tak tahan lagi, dia keluar dari kemahnya. Maksudnya hendak mencari sasaran untuk mengurangi kesepiannya, mencari calon korbannya.
Sekarang mereka berada diluar pintu kampung Yuan-ci, jarak ke dalam perkampungan tersebut tidak terlalu jauh, dan Bwe sim-mo-li yakin bahwa didalam perkampungan itu pasti ada satu dua orang pemuda yang bisa menambal kesepian hatinya.
Baju yang robek mudah ditambal dan di jahit, tapi hati yang kesepian sulit untuk ditambal dengan apapun, dengan gelak tawa sekalipun, Bila dengan tambalan seorang pria yang menghangati tubuhnya!
Hati-hati Bwee sim-mo-li keluar dari tendanya, dia melihat ada beberapa orang Kim-ie-wie yang telah melakukan penjagaan, keadaan sepi sekali. Para penjaga itupun melihat Bwee-sim-mo- li, tapi mereka mengenali iblis wanita ini, mereka hanya memberi hormat, dan menyapa dengan suara sangat menghormat, mereka tak berani banyak-banyak bertanya, karena Bwee sim-mo-li cuma Hm mendengar begitu saja dan melangkah terus.
"Aku hendak berangin-angin dulu!" gumam Bwee-sim-mo li kemudian.
Sudah bulat tekad Bwee-sim-mo li, dia akan mencari korbannya didalam perkampungan Yuan ci. Sebetulnya dia bisa saja mengambil satu atau dua orang pengawal Kim-ie-wie, tapi ia kuatir nanti mereka banyak mulut sehingga Tang San Siansu mendengar perbuatannya dan ini pasti menimbulkan hal yang kurang menggembirakan.
Sebab itulah Bwee-sim-mo li memilih jalan lain, yaitu akan mencari korbannya di dalam perkampungan Yuan-ci. Setelah meninggalkan perkemahan cukup jauh, barulah Bwee-sim-mo-li mempergunakan ginkangnya untuk berlari dengan cepat menghilang dalam kegelapan, pergi memasuki perkampungan Yuan ci.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hawa malam cukup dingin, tapi didepan warung arak, "Hian - louw " semuanya masih tampak berkumpul beberapa orang.
Mereka adalah pemuda-pemuda kampung itu yang senang sekali menghabisi waktu-waktu di malam hari dengan mengobrol, sambil menghangati tubuh mereka dengan arak.
Memang warung arak "Hian louw" ini buka sampai larut malam, mendekati fajar barulah ditutup.
Diantara para pemuda itu, yang jumlahnya enam orang, terdapat Su Nan Su, seorang pemuda yang pandai sekali bercerita. Walau-pun usianya baru duapuluh tiga tahun, tapi orang muda ini selalu bercerita menarik dan membuat para pendengarnya tertarik.
Tidak mengherankan kalau kawan-kawannya seringkali minta padanya untuk bercerita, mereka mentraktir pemuda itu minum arak. Semakin larut malam, semakin banyak arak yang diminumnya dan membuat dia mulai mabuk, cerita Su Nan Su semakin menarik juga
"Sebetulnya," bercerita Su Nan Su pada malam itu. "Tidaklah terlalu menakutkan sekali, jika saja Thang mau melihat kenyataan bahwa hantu yang muncul di depannya adalah wanita cantik jelita, dia pasti bisa menghadapinya lebih tenang. Namun, Thang seperti orang-orang lainnya, sudah terpengaruh sejak kecil pada cerita-cerita hantu yang menakutkan, sehingga begitu hantu itu memperlihatkan diri, dia sudah gemetar ketakutan, bahkan kemudian pingsan...!"
Kawan-kawannya tertawa. Memang yang biasa diceritakan Su Nan Su umumnya cerita-cerita tentang hantu yang menyeramkan tapi sangat menarik hati.
"Su-laoko, jika kebetulan kau yang berhadapan dengan hantu yang cantik itu, apakah kau juga akan ketakutan terkencing-kencing dan pingsan seperti yang dialami oleh Thang ?" Tanya salah seorang kawannya yang memiliki potongan tubuh kurus jangkung seperti orang berpenyakit paru-paru.
Su Nan Su tersenyum dan menggeleng. "Mengapa harus takut? Bukankah tadi sudah kukatakan, seharusnya Thang tidak perlu takut, karena yang muncul di hadapannya bukanlah hantu yang menakutkan, dengan muka yang bengis atau bertaring, justeru yang muncul di depannya adalah hantu cantik jelita, yang menarik hati, mempunyai potongan tubuh sangat menggiurkan.
Mengapa harus takut? Bukankan dengan hantu itu Thang bisa bersenang-senang ? Biarpun hantu tapi tokh dia sangat cantik dan kita tidak rugi apa-apa bermesraan dengannya, bahkan kita seharusnya merasa beruntung, karena jarang sekali manusia bisa mendapat kesempatan untut bermesra-mesra dengan hantu cantik !"
Kawan-kawannya tertawa. Memang mereka senang sekali mendengar cerita Su Nan Su, yang acapkali sangat menarik hati, tegang tapi juga menyenangkan untuk mengisi waktu-waktu luang mereka di malam hari yang dingin ini.
"Tapi Su-Iaoko, bagaimana kalau waktu kalian bermesra-mesraan dan hantu itu memperlihatkan ujudnya yang asli, dengan dada berlobang dan menyiarkan bau busuk, atau dengan muka bertaring menakutkan, bisa juga dalam bentuk tengkorak yang menakutkan. Inhhh, aku takut... biarpun dibayar seratus tail perak untuk bermesraan dengan hantu bagaimana cantiknya dia, tetap saja aku tidak berani !" bilang salah seorang kawannya yang lain yang memiliki bentuk kepala agak gepeng, sehingga dagunya turun ke bawah panjang sekali, tidak normal seperti dagu-dagu lainnya yang wajar.
Su Han Su mengangkat cawan araknya, tenang sekali sikapnya, kemudian setelah meneguk arak didalam cawannya, baru dia menyahuti: "A-puy kau keliru! jangankan memperlihatkan bentuknya atau ujutnya yang menyeramkan sedangkan yang sudah diperlihatkan begitu cantik jelita, Bagaimana mungkin hantu itu bisa memperlihatkan ujud yang lain dan menakutkan!? Jika pertama kalinya ia muncul dan sudah memperlihatkan ujud-nya yang cantik jelita montok menarik hati tak mungkin ujudnya bisa berobah, paling tidak dia hanya menghilang! Akh, kau ini ada-ada saja, A puy, jika memang dibayar mengapa harus takut? Tidak dibayar saja aku mau, apa lagi bertaruh dan dibayar 100 tail perak ! Kalau memang terjadi hal seperti itu, biarlah nanti uang yang 100 tail itu ku-pergunakan seluruhnya untuk mentraktir kalian minum arak sampai sinting!"
Mendengar perkataan Su Nan Su seperti itu, kawannya tertawa ramai. Sedangkan kakek Sie bungkuk, pemilik warung arak, tengah duduk melenggut di sudut ruangan di atas kursi yang sudah tidak bagus lagi karena sudah hampir rusak, jadi terbangun dari tidurnya, dengan mata masih menguntuk dia menoleh keluar karena suara tartawa para pemuda yang berkumpul di ruang depan warung araknya itu telah mengejutkannya. Kemudian tak acuh dia menunduk lagi, melenggut pula, ingin meneruskan tidurnya.
"Ayo cerita lagi, Su-lao-ko... bagaimana dengan Thang yang tolol itu? Setelah dia pingsan, apa yang dilakukan hantu cantik itu padanya ?" tanya salah seorang kawannya.
"Hantu cantik itu berusaha menyadarkan Thang, tapi Thang benar-benar manusia pengecut. Begitu dia siuman dari pingsannya dan melihat hantu cantik masih tetap berada di depannya, dia jadi kelojotan ketakutan setengah mati, lalu pingsan lagi !"
Kawan-kawan Su Nan Su tertawa terping-kal-pingkal lagi. "Benar-benar pengecut Thang seperti anak kecil saja !" gumam A-puy.
"Hu. sia-sia dia jadi laki laki kalau memang pengecut seperti itu !" Gumam pemuda yang tubuhnya kurus seperti menderita sakit paru-paru.
"Benar," mengangguk Su Nan Su, "sudah kubilang tadi, seharusnya dia tidak perlu ketakutan hebat seperti itu ! Dia pingsan jika memang hantu itu mau mencekiknya tokh akan dicekiknya juga. Mengapa harus pingsan ? Apakah dengan pingsan hantu itu akan pergi ? Tentu tidak ! Karenanya, benar benar tolol si Thang, seharusnya dia lebih tenang dan tabah, jika memang dia tabah tak ada hantu yang menang dari manusia!"
Su Nan Su mengambil cawan araknya dan meneguknya lagi, tapi waktu Su Nan Su hendak menaruh cawan araknya dan siap meneruskan ceritanya, mendadak A-puy jadi pucat, tangannya dingin sekali mencekal tangan Su Nan Su, tubuhnya gemetar dan suaranya tergetar. "Su-laoko... Su-laoko.... coba kau lihat ke situ...!" Dia mengawasi keluar warung arak.
Su Nan Su dan yang lainnya jadi heran, mereka menoleh ke arah yang diawasi A-puy. Muka mereka semuanya seketika berobah jadi pucat dan jantung mereka berdegup jauh lebih cepat. Su Nan Su sendiri hampir tak mempercayai matanya.
Terpisah cukup jauh dari ruang depan warung arak, di bawah sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan depan warung arak tersebut, berdiri sesosok tubuh dengan pakaian serba putih bersih.
Yang mengejutkan justru orang itu adalah wanita yang sangat cantik. Biarpun terpisah cukup jauh, mereka bisa melihat jelas wanita cantik itu beidiri tenang-tenang di bawah pohon sambil tersenyum manis sekali.
"Hantu cantik . . ." Suara A puy semakin gemetar.
"Tenang...!" Su Nan Su berusaha menenangkan teman-temannya, karena yang lainnya pun sudah gemetar ketakutan. "Tabah, kita harus tabah."
"Dia pasti tentu. . di malam selarut ini mana mungkin ada wanita yang keluyuran di jalan, apa lagi seorang wanita cantik jelita seperti dia...!" gumam orang yang bertubuh kurus seperti sakit paru-paru. Suaranya gemetar, mukanya pucat, jelas dia ketakutan sekali.
"Apalagi pula dia wanita asing, bukan penduduk kampung kita," gumam tiga orang lainnya, suaranya gemetar keras sampai giginya bercatrukan menahan perasaan ngeri dan takut.
"Dia .... dia pasti hantu...!" matanya juga mengawasi kepada wanita di bawah pohon itu, seperti juga biji matanya mau meloncat keluar dari rongga matanya.
Su Nin Su juga ketakutan, tapi dia berusaha menahan rasa takutnya agar tetap tenang, karena selama ini di depan kawan-kawannya dia bersikap seakan-akan dirinya pemberani dan tak akan gentar terhadap hantu.
"Tenang .... kita tunggu saja, kita lihat apa yang akan dilakukan hantu itu ....!" katanya sambil cepat-cepat mengambil cawan araknya dan meneguknya, karena lehernya dirasakan telah kering.
Sie bungkuk, pemilik warung arak tersebut, terbangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih mengantuk dia mengawasi ke arah wanita cantik itu berada. Hatinya jadi berdebar ketakutan, apa lagi mendengar kata-kata para pemuda itu bahwa wanita yang berada di luar warungnya itu adalah hantu cantik.
Biarpun usia Sie bungkuk sudah tua, namun dia seorang pengecut, Sekujur tubuhnya jadi menggigil keras, bajunya sudah basah sebab dari sekujur tubuhnya mengalir keringat dingin, mukanya pucat pias, dia sampai mengigil sambil terkencing-kencing, kemudian dengan memaksakan diri dan lutut gemetar keras serta lemas tak bertenaga, setengah merangkak dia pergi ke kolong meja dagangannya, untuk bersembunyi di situ. Cuma saja, giginya bercatrukan keras, sehingga tetap terdengar suara bercatrukan giginya tersebut.
Wanita cantik yang tadi berdiri di bawah pohon yang tumbuh di tepi jalan di depan warung arak, sekarang telah melangkah menghampiri warung arak tersebut dengan langkah kaki yang sangat ringan, sikapnya tenang sekali, mukanya luar biasa cantiknya.
Sekarang para pemuda itu semakin yakin bahwa wanita ini adalah hantu cantik, karena tak mungkin ada wanita secantik itu. Bibirnya yang tersenyum manis sebetulnya sangat menarik hati, tapi sekarang di mata para orang muda itu malah merupakan senyum yang sangat menakutkan, mengerikan sekali, membuat tubuh mereka semakin menggigil keras dengan semakin mendekatnya wanita cantik itu dengan mereka.
Tapi, hidung mereka kembang kempis coba mengendus-endus mencium sesuatu, tak ada bau busuk, tak ada harum semerbak, sebab setiap cerita hantu yang mereka dengar, jika hantu yang muncul pasti menimbulkan hawa yang bau busuk atau sebaliknya harum semerbak.
Tetapi setelah wanita cantik itu berada semakin dekat dengan mereka, mendadak hati mereka seperti mau copot, terbawa oleh siliran angin tercium harum semerbak yang memabukkan kepala, jantung mereka seperti mau berhenti berdenyut, semangat mereka serasa terbang meninggalkan raga semuanya diliputi ketegangan, tubuh mereka mengigil keras dan kalau mereka tidak malu tentu masing-masing akan berusaha lari meninggalkan warung arak ini.
Cuma sayangnya, tenaga mereka seperti lenyap dan kedua lutut mereka seperti tidak menuruti kata hati lagi, lemas tidak bisa lari atau digerakkan, sehingga mereka duduk saja di tempat masing-masing dengan perasaan takut yang semakin hebat menyerang mereka.
Wanita cantik itu mengawasi mereka sambil tersenyum manis. Kemudian waktu bicara, suaranya sangat merdu sekali. "Sungguh cerita yang menarik tentang hantu cantik itu.... maukah kau bercerita lagi dan membiarkan aku ikut mendengarkan ceritamu??" Kata-kata itu ditujukan kepada Su Nan Su.
"Matilah kau !" bisik A-puy dengan suara perlahan sekali di samping Su Nan Su dengan suara gemetar "Dia pasti hantu cantik yang kau ceritakan tadi telah mengganggu si Thang, dia tentu tak senang dan marah...!"
Su Nan Su menelan ludah, tenggorokannya terasa kering sekali Sebetulnya diapun merasa takut, tapi dia malu jika kawan-kawannya mengetahui dia merasa takut. Akhirnya dengan memaksakan diri dia menoleh dan tersenyum kepada wanita itu.
"Siapakah kouwnio... mengapa malam selarut ini masih berada di luar rumah ? Apakah kouwnio tidak kuatir nanti diganggu orang jahat ?" Suara Su Nan Su gemetar dan serak, tapi dia berhasil menindih sebagian rasa takutnya karena malu kalau dia memperlihatkan perasaan takutnya di depan teman-temannya,
"Aku memang sangat takut diganggu orang jahat," menyahuti wanita cantik itu. "Kedatanganku ke kampung Yuan-ci ini untuk menjenguk sanak-familiku yang tinggal di sini, tapi aku tiba terlambat sudah selarut maiam ini... beruntung tak ada penjahat yang menggangguku!"
Hati Su Nan Su jadi lebih tenang waktu mendengar jawaban wanita cantik ini, dia melirik kepada teman-temannya, kemudian kembali mengawasi wanita cantik ini. Di dalam hati dia berpikir: "Tak mungkin dia hantu... mungkin benar keterangannya itu bahwa dia kemalaman tiba di kampung ini, dia bermaksud menengoki sanak familinya..."
"Kalau kami boleh tahu, siapakah sanak famili kouwnio yang tinggal di sini ?" tanya Su Nan Su, suaranya tidak gemetar seperti tadi, malah matanya kini sempat menikmati seraut wajah yang benar-benar cantik, sulit bertemu dengan wanita secantik ini di dunia.
"Nanti akan kuberitahukan ! Tapi sekarang aku tertarik untuk mendengar cerita tentang hantu tadi...!" menyahuti wanita itu. "Lagi pula, kalau aku datang kerumah sanak familiku itu di malam selarut ini tentu kurang pantas, akan mengejutkan mereka. Boleh aku duduk bersama kalian ?"
Su Nan Su bimbang sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Silahkan!" katanya.
Wanita itu duduk di kursi yang kosong, dan A puy bersama kawan-kawannya kembang-kempis hidungnya, karena mereka mencium harum semerbak berasal dari tubuh wanita cantik ini.
Sedangkan Su Nan Su kini semakin tenang, karena dia sudah memperhatikan muka dan keadaan tubuh wanita cantik itu tak ada tanda-tandanya dia sebagai hantu.
"Ceritaku sudah habis, kalau memang kouwnio mau, besok boleh kuceritakan tentang hantu...! Sekarang sudah larut malam lebih baik nona pergi ke rumah sanak-familimu itu, mereka tentu tak gusar atas kedatanganmu, bahkan mereka akan membenarkan tindakan nona, sebab di malam selarut ini berkeliaran seorang diri, sungguh tidak pantas untuk seorang wanita... apa lagi secantik kouwnio !"
Wanita itu tersenyum, tahu tahu tangannya diulurkan menggenggam tangan Su Nan Su yang ada diatas meja, membuat semangat Su Nan Su seperti mau terbang dari tubuhnya karena kaget.
Dia mau menarik tangannya dari cekatan tangan wanita cantik itu, tapi tidak bisa, karena cekalannya kuat. Juga jari-jari tangan halus itu sudah mengusap dengan lembut, sehingga hati Su Nan Su tergoncang oleh berbagai perasaan.
Merasakan ucapan jari-jari tangan wanita ini, yang demikian halus Su Nan Su semakin yakin bahwa wanita cantik ini bukanlah hantu, sebab hantu tak bisa memegang seperti itu, juga tak mungkin berani memperlihatkan diri di tempat yang ramai seperti saat itu, di mana Su Nan Su berkumpul dengan beberapa orang temannya, juga dibawah terangnya api pelita. Dia jadi diam saja pada akhirnya, membiarkan tangannya dipegang wanita cantik itu.
"Kau sangat baik hati, terima kasih atas perhatianmu," kata wanita itu, "Aku sangat berterima kasih benar kepadamu dan tak akan melupakan budimu. Maukah kau mengantarkan aku ke rumah sanak familiku ? Tidak jauh, Letaknya berada di tengah-tengah perkampungan ini."
Su Nan Su mengeluh. Dia memang sudah tidak setakut seperti tadi, tapi untuk mengantar wanita cantik ini tentu saja dia jadi pikir dua kali. Betapa tidak, bagaimana kalau nanti ternyata wanita cantik ini adalah hantu yang menakutkan ?"
"Bagaimana?" tanya wanita itu. "Aku Liok Bi Lan tentu tak akan melupakan budi kebaikanmu."
Betapa indah dan enak didengar nama wanita ini, Liok Bin Lan. Apakah hantu bisa mempunyai nama sebagus ini ? Hantu biasanya akan mengganggu orang jika korbannya sedang sendirian. Tidak seperti sekarang, ditengah teman-temannya dia muncul, maka Liok Bi Lan pasti bukan hantu. Tapi untuk pergi mengantarkan sendirian, Su Nan Su masih ragu-ragu, maka akhirnya dia bilang: "Baik, kami akan mengantarkan kau ke rumah sanak familimu, aku dengan beberapa orang kawanku akan mengantarkan kau ke sana !" Setelah berkata begitu, Su Nan Su membusungkan dadanya, lenyap perasaan takutnya, dia bilang kepada kawan-kawannya:
"Sahabat, mari kita pergi mengantarkan nona Liok ke rumah sanak familinya."
Tapi A-puy dan pemuda lainnya menggeleng, mereka tetap takut dan tak mau terlibat dalam urusan ini. Mereka tetap kuatir kalau-kalau wanita cantik ini hantu.
"Ayolah... tidakkah kalian kasihan pada nona Liok jika dia pergi sendirian ke rumah sanak familinya, sedangkan malam sudah demikian larut?" membujuk Su Nan Su jengkel melihat semua kawannya menggeleng saja tak mau ikut.
"Ya, aku takut... tolonglah antarkan aku," mohon Liok Bi Lian sambil memperlihatkan sikap memelas dan minta dikasihani.
"Pergilah kau antarkan, Su-laoko... nanti selesai mengantarkan, kau kembali kemari, kami akan mentraktir kau lima kati arak!" kata A-puy.
"Ya, pergilah kau antarkan Su-laoko... kukira memang tepat kau yang mengantarkannya!" menganjurkan pemuda yang kurus berdada tipis seperti menderita sakit paru-paru.
Su Nan Su sebetulnya tadi sudah setengah mabuk, karena sudah banyak sekali arak yang diminum. Tapi tadi ketika wanita cantik ini muncul, karena rasa kagetnya yang tak terhingga, membuat mabuknya lenyap. Dia mendongkol mendengar kata-kata teman2nya, yang jelas-jelas mengejeknya, disindirnya, agar dia membuktikan keberaniannya, sebab selama ini Su Nan Su memang mengaku tak akan takut pada hantu yang bagaimanapun juga.
Dia jadi salah tingkah. Namun karena tak mau menjadi malu didepan teman-temannya, juga memang dia yakin wanita ini adalah manusia bukan hantu, dia memberanikan diri." Baiklah. mari kouwnio kuantarkan kau !" Sambil bilang begitu dia bangkit berdiri. "Kalian jangan kemana-mana ya, aku akan segera kembali....!"
Kawan-kawannya cuma mengangguk saja, sedangkan Liok Bi Lan sudah bangkit dan melangkah dengan langkahnya yang membuat semua teman-teman Su Nan Su, termasuk A-puy, jadi memandang kepergian gadis itu berdua Su Nan Su dengan menelan air ludah.
"Kalau memang wanita itu bukan hantu, beruntunglah nasib Su Nan Su," menggumam A-puy waktu kedua orang itu sudah lenyap dalam kegelapan.
"Kalau aku tak mau mempertaruhkan diri seperti itu, aku yakin wanita itu pasti hantu cantik seperti yang tadi diceritakan Su Nan Su, tak mungkin tidak wanita itu pasti hantu ! Aku yakin hal ini, mana mungkin seorang wanita secantik itu bisa keluyuran di tengah malam, seorang diri lagi !" menggumam katanya.
Demikianlah, mereka jadi membicarakan tentang wanita itu yang kecantikannya luar biasa, tapi juga mereka merasa takut dan ngeri kalau ingat bahwa kemungkinan wanita cantik itu adalah hantu.
Kini marilah kita melihat Su Nan Su dan Liok Bi Lan. Tentu anda sudah dapat menerka siapa adanya wanita sangat cantik jelita yang bernama Liok Bi Lan itu, bukan. Benar! dia tak lain dari Bwee sim-mo-li Liok Bi Lan !
Hatinya girang dapat memancing Su Nan Su, tampaknya pemuda ini masih muda dan juga bertubuh tegap gagah, walaupun sekali melihat saja Bwee-sim-mo-li tahu bahwa orang muda ini sedikitpun tidak mengerti ilmu kungfu.
Namun hal itu tak menjadi persoalan lagi, sebab yang terpenting buat Bwa-sim-mo li bagaimana mengisi kesepiannya, yang sudah berhari-hari dalam kegersangan.
"Di mana rumah sanak familimu?" tanya Su Nan Su sambil melirik mengawasi Bwee-sim-mo-li yang cantik jelita ini, yang sejak tadi berdiam diri saja.
"Masih jauhkah?"
"Aku sendiri tidak begitu jelas letak rumahnya dia hanya memberitahukan padaku bahwa rumahnya berada ditengah-tengah kampung, kalau kutanyakan pada penduduk tentu akan banyak yang kenal akan keluarga itu,"
Alis Su Nan Su mengkerut, sulit mencari rumah seseorang tanpa mengetahui alamatnya yang tepat. Tanyanya kemudian: "Siapa nama sanak familimu itu?"
"Dia She Yang bernama Cie Siong," menjelaskan Bwee-sim-mo-li seenaknya. "Dia mempunyai dua orang anak yang kini mungkin berusia lima dan enam tahun. Isterinya bernama Hiau Kee Niang."
"Aku tak pernah dengar nama itu di kampung ini," menggumam Su Nan Su "Apakah kau tak keliru rumahnya ada dikampung ini?"
Bwee sim-mo-li sengaja memperlihatkan perasaan bingung, dia bilang: "Justeru inilah yang membingungkan mencari orang di malam hari, kalau besok pagi tentu aku bisa bertanya-tanya kepada penduduk kampung ini dan mereka bisa memberitahukan dimana rumah pamanku itu..."
"Kalau begitu sudahlah, kita kembali saja ke kedai arak dulu, kau tunggu sampai pagi hari baru mencari rumah familimu itu!" menyarankan Su Nan Su.
Bwee-sim-mo li sengaja memperlihatkan sikap bimbang, sampai akhirnya dia mengangguk. "Baiklah... memang sejak semula sudah kurasakan kurang sopan datang ke rumah orang di malam selarut ini ! Biarlah aku menunggu sang fajar di kedai arak itu bersama kau dan teman-teman !"
Girang bukan main hati Su Nan Su, karena segera dia menduga dengan penuh keyakinan bahwa wanita cantik ini benar-benar seorang manusia, bukan hantu seperti yang dikuatirkannya. Karena wanita cantik ini lebih senang menunggu di kedai arak, bukan mengajaknya ke tempat sepi!
"Mari kita kembali ke kedai arak!" ajak Su Nan Su tak sabar, hatinya semakin besar dan tenang, sekarang dia sudah tidak curiga bahwa Liok Bi Lan hantu yang bisa mencelakainya.
"Baik, tapi aku tadi meninggalkan pauw-hokku dipintu perkampungan, aku hendak mengambilnya dulu..!" kata Liok Bi Lan
Kaget hati Su Nan Su, dia memandang curiga lagi pada Liok Bi Lan, dia benar-benar bimbang.
Bwee sim moli rupanya mengetahui hal ini, sengaja dia bilang: "Biar aku yang pergi mengambilnya sendiri, kau boleh kembali ke kedai arak, nanti aku menyusul ke sana !"
Mendengar perkataan Liok Bi Lan seperti itu, kesangsian Su Nan Su semakin besar. Dia bukan sangsi bahwa wanita ini hantu, tapi kuatir wanita ini nanti tak kembali lagi ke kedai arak, melainkan pergi entah kemana !"
"Apakah kau tidak kuatir diganggu orang jahat jika pergi mengambil pauwhokmu seorang diri ? Biar kuantarkan !" bilang Su Nan Su.
Bwee-sim-mo-Ii cuma mengangguk. Dia sudah melangkah menuju ke pintu perkampungan tersebut, diikuti oleh Su Nan Su, yang jadi bawel dan cerewet sekali bertanya ini dan itu tentang keluarga gadis yang cantik ini.
Bwee-sim-mo-li memberikan keterangan bohong seenaknya, dia menceritakan bahwa ayahnya seorang hartawan, tapi dia hendak di kawinkan dengan seorang pemuda yang tak dicintainya, maka dia melarikan diri. Karena tak tahu mau pergi kemana, maka tujuannya akhirnya pada familinya di kampung ini untuk menumpang sementara waktu.
Tetapi ketika sampai di luar pintu perkampungan, Bwee-sim-mo-li tidak berhenti melangkah. Tak ada barang di gerbang pintu kampung tersebut. Su Nan Su mulai curiga ketika melihat wanita yang mengaku bernama Liok Bi Lan ini masih terus berjalan. Dia mulai ingat lagi akan dugaan-dugaan teman-temannya, A puy dan lain-lainnya, bahwa wanita cantik ini adalah hantu.
Dia jadi takut dan tubuhnya mulai menggigil dengan jantung berdegup keras. Keadaan di situ gelap dan sepi sekali tidak ada seorang manusiapun juga.
"Di.. di... dimana kau . . . taruh pauwhokmu?" tanya Su Nan Su akhirnya, terpaksa, dengan suara gemetar, karena Bwee-sim mo-Ii masuh terus juga melangkah meninggalkan perkampungan tersebut.
"Tidak jauh lagi, di sana..." menunjuk Bwee-sim-mo-li sambil tertawa melirik manis sekali pada Su Nan Su.
Entah mengapa Su Nan Su sekali ini melihat senyum Bwee-sim-mo-li tanpa tertarik sedikitpun juga, bahkan tubuhnya menggigil, rasa takutnya semakin besar. Dia mendadak berhenti melangkah, bahkan kalau bisa memutar tubuhnya untuk lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan perempuan ini karena dia segera mulai menduga-duga lagi bahwa Liok Bin Lan ini adalah hantu .... bukankah Liok Bin Lan tengah memancingnya untuk pergi ketempat sepi dan gelap? Tapi sayang kedua kakinya jadi lemas tak bertenaga karena rasa takutnya, dia berdiri dengan lutut menggigil.
Liok Bi Lan tertawa, menghampiri dan memegang tangan Su Nan Su, memijat jalan darah "koai-hiat, lemaslah benar-benar seluruh tubuh Su Nan Su, sedikitpun tidak bertenaga, sehingga waktu tangannya ditarik dia terseret mengikuti Liok Bi Lan tanpa ada perlawanan sedikitpun, hanya menurut saja, meninggalkan perkampungan Yuan ci semakin jauh.
Keringat dingin membanjiri tubuh Su Nan Su, dia ketakutan setengah mati. Di luar keinginannya, dia mengikuti saja diseret oleh wanita cantik tersebut, benar-benar tidak berdaya untuk memberikan perlawanan. Untuk memberontak saja dia tidak sanggup, bahkan tenaganya semua seperti telah lenyap sehingga sedikitpun dia tidak bisa menggerakkan tangannya yang dicekal oleh wanita cantik ini.
Yang membuat dia tambah ketakutan, Liok Bi Lan telah menyeretnya ke tempat yang gelap dan rimbun oleh pohon-pohon.
Liok Bi Lan menyeret Su Nan Su seperti terbang karena dia telah mempergunakan ginkangnya yang sangat tinggi, sedikitpun tidak ada kesulitan buat dia menyeret tubuh Su Nan Su yang sebetulnya tidak enteng itu.
Hal ini malah membuat Su Nan Su tambah ketakutan, bayangkan saja di kedua sisi telinganya berkesiuran angin yang kencang, dirinya seperti tergantung di tengah udara di tenteng, diseret dengan cepat sekali, seperti tengah diajak terbang.
Tentu saja dia jadi menduga bahwa Liok Bi Lan benar-benar hantu yang bisa terbang ! Dugaannya semakin kuat, karena waku itu dia merasakan kakinya tidak menginjak tanah, terseret seperti terbang saja, seperti kapas, yang dibawa lari oleh wanita itu secepat kilat.
Pohon-pohon dan barang barang lainnya yang berkelebat tidak bisa dilihatnya dengan jelas, bahkan kepalanya seketika jadi pusing,dan akhirnya dengan perasaan ngeri sekali dia memejamkan matanya rapat-rapat.
Dia ingin menangis saja layaknya untuk merengek agar hantu cantik ini mengampuni-nya. Tapi tidak ada suara yang meluncur keluar dari mulutnya, cuma bibirnya saja yang gemetaran, karena menahan rasa takut.
Liok Bi Lan tak peduli dengan keadaan Su Nan Su dia terus, juga berlari kepohon-pohon yang rimbun, di sana tumbuh pohon-pohon yang tinggi dan batangnya menjulang ke atas dengan daun-daun yang lebat sehingga di situ gelap sekali, sedikitpun sinar bulan tak bisa menerobos masuk.
Di tempat itu Liok Bi Lan baru berhenti berlari, Dia melepaskan cekalan pada tangan Su Nan Su.
Kontan kedua kaki Su Nan Su yang memang sudah lemas, tak bisa berdiri karena menggigil gemeteran, telah tertekuk dan dia menjatuhkan dirinya berlutut sambil tidak hentinya memanggut-manggutkan kepalanya.
"Ampunilah... ampunilah aku .... jangan menggungguku . . . tadi yang kuceritakan kepada teman-temanku adalah .... adalah kejadian yang terlalu kulebih-lebihkan!" merapat Su Nan Su sambil menangis saking ketakutan.
Liok Bi Lan berdiri dengan senyumnya yang manis. Dia bertanya-tawar: "Mengampuni kau? Kenapa? Kau tidak bersalah apa-apa padaku...! Berdirilah!"
"Aku... aku telah menceritakan tentang kejadian antara hantu cantik sesungguhnya hal itu terlalu dilebih-lebihkan...!"
"Hemmm, aku bukan hantu cantik, aku manusia !" kata Liok Bi Lan tawar. "Ayo, berdirilah, aku mau bicara dengan kau !"
Hati Su Nan Su berdebar keras. Dengan kedua kaki masih menggigil karena rasa takut, dia mengangkat kepalanya sambil berdiri mengawasi kepada wanita cantik di depannya.
"Be... benarkah kau... kau manusia biasa ? Manusia seperti aku ?" tanyanya dengan suara bimbang.
Liok Bi Lan mengangguk. "Benar... kau tidak perlu takut, aku manusia yang sama seperti kau ! Aku bukan hantu ! Apakah kau kira hantu dapat memegang tanganmu seperti tadi ? Apakah hantu dapat menginjak tanah dengan kedua kakinya? Nan, kau lihatlah apakah kedua kakiku ini menginjak tanah?" Sambil berkata begitu sengaja Liok Bi Lian mengangkat sedikit gaunnya, sehingga terlihat kedua kakinya yang memang menapak tanah.
Su Nan Su mengawasi dengan mata terbuka lebar-lebar, dia melihat kedua kaki wanita cantik ini memang menginjak tanah. Menurut cerita orang-orang tua, jika hantu tak bisa menginjak tanah, kedua kakinya tak menyentuh bumi, karena tubuhnya melayang-layang. Tapi, wanita cantik ini berdiri dengan kedua kaki menempel di tanah, Dia melihat jelas.
"Jadi... jadi kau manusia biasa ?" Dia mencgasi lagi sambil mengawasi dengan sikap masih ragu-ragu.
Liok Bi Lan mengangguk. "Ya,.. kau tidak usah takut, aku mengajakmu kemari untuk minta pertolongan kepadamu!"
"Katakanlah... katakanlah pertolongan apa yang bisa kuberikan ? Mengantarkan kau ke rumah sanak familimu ? Atau aku harus mengantarkan kau pulang ?" Tanya Su Nan Su dengan suara masih gemetar oleh rasa takut, dia ingin cepat-cepat bisa meninggalkan tempat ini dan kembali ditengah-tengah kawan-kawannya, karena berada di tempat ini, yang gelap dan rimbun oleh pohon, menimbulkan suasana yang mengerikan.
"Aku sedang kesepian, justeru aku hendak minta padamu supaya menemaniku untuk mengurangi kesepianku itu !" menyahuti Liok Bi Lan.
Semangat Su Nan Su kembali terbang meninggalkan raganya Memang biasa nya hantu wanita yang mengganggu korbannya, selalu pura-pura kesepian dan nanti jika korbannya sudah kena dicumbunya. ia akan memperlihatkan ujudnya yang sebenarnya, sangat menakutkan dan mengerikan sekali.
Apakah wanita ini benar-benar manusia ? Kembali keraguan memenuhi benak Su Nan Su. Dia sampai mengawasi wanita cantik di depannya dengan sepasang mata terbuka lebar-lebar.
"Berdirilah !" perintah Liok Bi Lan lagi.
Biarpun kedua lututnya masih gemetaran tapi Su Nan Su telah berdiri. Dia ketakutan setengah mati. "Ampunilah aku... biarkan aku pergi meninggalkan tempat ini...!" memohon Su Nan Su dengan suara yang tidak begitu jelas, karena suaranya gemetar dan dia menghapus air matanya, saking ketakutan dia tidak malu-malu lagi menangis.
"Jangan cengeng seperti banci !" bentak Liok Bi Lan dengan suara nyaring. "Aku memilih kau karena semula kusangka kau seorang laki-laki jantan yang gagah dan pemberani. Tak tahunya kau seorang manusia tidak punya guna ! Tapi aku sudah terlanjur mengajakmu kemari, maka aku cuma minta kau menghiburku, mengisi kesepianku, jika telah selesai segalanya, kau boleh meninggalkan tempat ini...!"
Dibentak begitu Su Nan Su tidak berani rewel lagi, dia cuma menyuaut air matanya dan juga keringat dingin yang memenuhi wajah maupun tubuhnya, dia masih diliputi rasa takut dan ngeri yang tidak kepalang. Keadaan di tempat itu sunyi sepi dan hanya terdengar suara binatang malam penghuni hutan yang memperdengarkan suaranya.
"Sekarang kau jawablah pertanyaanku!" kata Liok Bi Lan lagi dengan suara tawar. "Tidak boleh satu pertanyaan juga yang kau jawab dengan main-main ! Aku menghendaki setiap jawabanmu dengan jujur, sekali saja kau berbohong, aku tidak akan sungkan-sungkan membunuhmu! Mengerti kau ?!"
"Me... mengerti I" menyahuti Su Nan Su sambil menunduk ketakutan, diam-diam di dalam hati dia berdoa pada Thian agar hantu ini tidak mengganggunya.
"Apakah kau sudah kawin?" tanya Liok Bi Lan mulai dengan pertanyaan-rertanyaan yang harus dijawab oleh Su Nan Su.
"Be... belum...!!"
"Sudah pernah berhubungan dengan wanita ?"
"Be . .. belum !"
"Jawab yang jujur!" bentak Liok Bi Lan nyaring.
Tubuh Su Nan Su gemetar keras, dia tersentak oleh bentakan itu, saking ketakutan sampai melangkah mundur dua tindak, mukanya pucat pias.
"Su... sudah !"
"Sering?!"
"Se... sering...!"
"Dengan bunga raya ?!"
"Ya... dengan bunga raya (pelacur) !"
"Tidak pernah dengan anak isteri keluarga kaik-baik?!" tanya Liok Bi Lan lagi.
"Be... belum pernah !"
"Jawab yang jujur, atau aku akan menyiksamu !" mengancam Liok Bi Lan.
"Sungguh! bersumpah apapun aku berani, belum pernah aku mengganggu anak isteri orang lain... dengan bunga raya memang sudah sering....!".
"Hmmm, tentu kau sudah berpengalaman untuk urusan pria dan wanita, bukan?" tanya Liok Bi Lan lagi.
"Tidak... tidak berpengalaman.... yang berpengalaman urusan wanita adalah temanku .... Si A-puy .... dia berpengalaman sekali, karena sudah banyak benar bunga raya yang menjadi langganannya dia selalu pergi ketempat pelesiran, sedikitnya setiap bulan sempai sepuluh kali ... !"
"Hmmm, aku tidak bertanya tentang temanmu itu! Aku bertanya tentang dirimu!" bentak Liok Bi Lan.
Kuncup lagi hati Su Nan Su, dia sampai merasakan sepasang lututnya lemas tidak bertenaga, tidak ampun lagi dia jatuh duduk dan menangis pula, karena dia tambah ketakutan.
"Aku . . . aku telah memberitahukan yang sebenarnya...!" Dia bilang diantara isak tangis karena ketakutan."kalau memang kau kesepian, A-puy dapat menghiburmu!"
"Aku menginginkan kau yang menghibur mengisi kesepian ku!" Kata Liok Bi Lan sambil tertawa dingin, "Dengarlah aku bukan hantu ! percayalah, aku manusia biasa sepeni kau, yang mempunyai daging, tulang dan juga panca indera yang lengkap seperti kau ! Aku menghendaki kau mengisi kesepian hatiku ! Kulihat yang kau takuti adalah hantu... lihatlah, apakah aku mirip hantu?!"
Su Nan Su mengawasi bimbang, tubuhnya masih menggigit menahan rasa takut.
"Kalau memang kau bukan hantu....!" kata Su Nan Su yang kemudian mendapat akal. "Baiklah, mari kita kembali ke dalam kampung disana kita bisa menyewa kamar rumah penginapan .... aku jamin kau pasti terbebaskan dari kesepian, aku... aku akan berusaha menghiburmu...!"
Liok Bi Lan tertawa dingin, "Hemm, kau hendak membuktikan bahwa aku bukan hantu bukan? Apakah ada hantu yang bisa berbicara tentang hantu? Percayalah aku bukan hantu!
Su Nan Su mengawasi, dia masih ragu-ragu. Tapi Liok Bi Lan sudah bilang lagi; "Lihatlah, apakah hantu memiliki bentuk badan sebagus ini?" saat itu Liok Bi Lan telah melepaskan segala sesuatu yang menempel di tubuhnya.
Sinar bulan yang memang tak bisa menembus rimbunnya daun-daun pohon, tapi tak menjadi persoalan untuk memperlihatkan keindahan tubuh Liok Bi Lan pada Su-Nan Su. Bahkan tubuh Liok Bi Lan begitu putih mulus bersinar dalam kegelapan tersebut seperti sepotong giok yang bercahaya terang Su Nan Su bisa melihat jelas.
Darahnya mendesir, rasa takut dan kagum terhadap tubuh Liok Bi Lan bercampur menjadi satu.
Liok Bi Lan sudah melangkah mendekati Su Nan Su, sikapnya sekarang tidak galak seperti tadi, malah sangat manja sekali, karena saat itu kedua tangannya sudah melingkari leher Su Nan Su.
"Ayolah, kau harus mengisi kesepianku!" berbisik Liok Bi Lan
Sebetulnya Su Nan Su masih ketakutan tapi keindahan tubuh Liok Bi Lan membuat darahnya mendesir jauh lebih cepat, dia juga akhirnya mulai melupakan rasa takutnya ketika tangan Liok Bi Lan demikian pandainya membuat Su Nan Su menjelma jadi laki-laki yang benar-benar sangat jantan.
Akhirnya Su Nan Su memang benar-benar sudah melupakan semua rasa takutnya, dia juga sudah tidak ingat lagi apakah wanita yang ada dalam pelukannya ini hantu atau memang gadis cantik manusia sama seperti dirinya.
Dia telah tenggelam dalam cumbu rayu dengan Liok Bi Lan, napas Su Nan Su memburu keras, seperti juga dia tengah berlari kuat-kuat, begitu panas napasnya.
Tapi, mendadak terdengar suara seruan marah Liok Bi Lan. "Laki-.laki bodoh tidak punya guna !" Disusul juga dengan tubuh Su Nan Su terpental keras terbanting di tanah ! Rupanya dia tidak berhasil mengisi kesepian Liok Bi Lan.
Justeru Bwee-sim-mo li membawa Su Nan Su demi kepentingan untuk mengisi "kesepian jiwa dan hatinya yang dirasakannya belakangan ini sangat gersang sekali, tapi laki-laki ini justeru terlalu mementingkan dirinya sendiri, bukan Liok Bin Lan yang terobati dari rasa kesepiannya, malah Su Nan Su yang seperti laki-laki rakus yang telah berusaha mendapatkan semua-nya untuk dia.
Dan semuanya berlangsung begitu singkat dan cepat, membuat Liok Bi Lan jadi sangat kecewa, maka akhirnya dia mendorong dada Su Nan Su, sampai badan -laki-laki itu "terbang" ke tengah udara kemudian terbanting keras di tanah !
Su Nan Su waktu sangat lemas tak bertenaga, tahu-tahu dadanya didorong begitu kuat, sampai terpental. Waktu terbanting, dia kesakitan sekali, menyebabkan dia berteriak, matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing bukan main.
Liok Bi Lan telah meloncat bangun dan mengenakan pakaiannya lagi dengan muka merah padam karena mendongkol, karena apa yang diinginkannya tidak juga diperolehnya. Dia menyesal sekali selama ini tak bisa memperoleh pemuda atau orang muda yang benar-benar jantan dan tangguh untuk mengisi kesepian hatinya.
Seakan saja dia mendapat orang muda yang bersemangat pada awalnya saja, kemudian seperti balon yang kempis, sebelum dia memperoleh kesempatan melenyapkan kesepian hatinya.
Waktu itu Su Nan Su sudah merangkak bangun, dia berdiri gemetar ketakutan. Sebetulnya kedua lututnya lemas tidak bertenaga, tapi rasa takutnya menyebabkan dia berhasil berdiri dengan memaksakan diri mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
"Pakailah kembali bajumu !" perintah Liok Bi Lan dengan suara yang bengis.
Su Nan Su mematuhi perintah itu, tangannya gemetar waktu dia memakai kembali bajunya. Kemudian selesai mengikat tali pinggangnya dia berdiri ketakutan dengan kedua tangan diturunkan, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia yakin, bahwa wanita ini manusia, sebab kalau hantu tentu dia tak bisa merabahi seluruh tubuh yang begitu padat berisi, juga dengus napasnya begitu hangat,
Tapi, sekarang, dia tidak tahu mengapa wanita cantik ini begitu marah kepadanya. Dia jadi tidak mengerti akan sikap wanita ini, yang sebentar hangat sebentar marah, sebentar mesra, sebentar bengis.
"Kau seharusnya dihukum mati" kata Liok Bi Lan tawar. "Telah kau kecewakan hatiku... tapi biarlah, aku tidak mau melihat kau mampus di depan mataku !" Setelah berkata begitu, tanpa bisa diikuti oleh pandangan mata Su Nan Su tangan kanan Liok Bi Lan telah menyambar menotok beberapa jalan darah Su Nan Su, totokan itu telah diperhitungkan, biarpun jatuh di jalan darah yang mematikan, tapi tidak membuat Su Nan Su jatuh rubuh mati seketika. Dan itu sudah diperhitungkan benar-benar oleh Liok Bi Lan.
"Sekarang," kata Liok Biak Lan sambil tersenyum bengis setelah menotok beberapa titik jalan darah Su Nan Su. "Kau lihatlah baik-baik !" Setelah bekata begitu Liok Bi Lan mengerahkan sinkangnya, maka dari sekujur tubuhnya mengepul asap putih yang tipis.
Kaget setengah mati Su Nan Su. "Hantu...!" teriaknya sambil mundur. Karena memang dia tahu dari cerita-cerita, jika hantu hendak pergi, tentu dengan mudah tubuhnya menghilang setelah dari badannya mengeluarkan gumpalan asap.
Dan sekarang wanita cantik ini juga mengeluarkan asap dari sekujur tubuhnya, tentu saja membuat Su Nan Su jadi ketakutan lagi. Dia mengawasi dengan mata terbelalak lebar-lebar pada Liok Bi Lan. asap yang keluar dari tubuh wsnita ini semakin lama semakin banyak.
Asap itu berasal pengarahan sinkang yang benar-benar telah mencapai tingkat sangat tinggi.
Sambil tertawa nyaring Liok Bi Lan mempergunakan gingkangnya, tahu-tahu tubuhnya melesat lenyap dari tempatnya. Su Nan Su memang tengah ketakutan, dia juga tak bisa mengikuti gerakan badan Liok Bi Lan begitu cepat, karena tahu-tahu telah lenyap dari penglihatannya.
Dia sampai menggigil keras sekali, karena menyangka hantu di depannya telah menghilang. Setelah tersadar pada keadaannya, dengan diiringi jerit ketakutan Su Nan Su berlari sekuat tenaganya meninggikan tempat itu, kembali ke warung arak di mana teman-temannya telah menanti.
Si bungkuk, pemilik warung arak itu, juga teman-temannya, jadi kaget tidak terkira karena mendengar jeritan yang panjang penuh rasa ngeri dan ketakutan Su Nan Su yang dari kejauhan mendesir semakin mendekati. Akhirnya tampak Su Nan Su berlari seperti terbang saja kerakusan bukan main disertai jeritannya, napasnya memburu keras sekali, ketika sampai di dekat warung arak dia berhenti dengan napas memburu: "Hantu... han... hantu itu... dia... dia benar hantu... hantu cantik... aku... aku telah dipaksa... untuk mengisi keispian hatinya...!"
Kawan-kawannya telah berlari keluar ruangan warung arak, mengelilingi Su Nan Su unruk mendengar ceritanya tentang hantu cantik itu, wajah mereka pucat, Sedangkan Su Nan Su sendiri demikian pucat mukanya, sehingga seperti kapur tembok, badannya menggigil keras sekali.
"Di mana hantu itu sekarang ?" tanya A-puy, dari mukanya jelas dia merasa ngeri.
"Dia .... dia menghilang...!" Berkata sampai di situ napas Su Nan Su tersendat, lehernya seperti dicekik sesuatu, napasnya jadi putus dan dadanya seperti hendak meledak karena sesak tak terkira, dia berkelojotan dan rubuh terguling di tanah, badannya berguling-guling tanpa mengeluarkan suara tenggorokannya saja yang terdengar bunyi "Krokkkkkk ! Krokkkk....!"
Semua kawan-kawannya kaget dan ketakutan, apa yang telah terjadi pada Su Nan Su? Mereka merasakan seluruh bulu tengkuk jadi berdiri.
Tubuh Su Nan Su berkelojotan dengan mata mendelik lebar-lebar, tubuh terbuka serta lidah melelet keluar, kedua tangannya memegangi lehernya seperti juga lehernya itu sedang tercekik sesuatu.
Kemudian dadanya mengejang kaku diam tak bergerak lagi. Napasnya telah putus, lidahnya terjulur panjang.
Sebetulnya Su Nan Su mati akibat totokan yang dilakukan Liok Bi Lan dengan perhitungan tepat, dia membiarkan Su Nan Su sempat berlari mencapai warung arak itu. Dia memperhitungkan sangat jitu, karena sekarang Su Nan Su sudah menggeletak mati dicekik oleh hantu cantik itu, muka mereka pucat pias dan seperti telah berjanji semuanya berlari meninggalkan warung arak tersebut, mereka pulang kerumah masing-masing dengan badan menggigil.
Tak seorangpun berani menyentuh tubuh Su Nan Su yang menggeletak di tanah dalam keadaan kejang kaku dengan mata mendelik dan lidah terjulur panjang.
Sie bungkuk juga ketakutan, dengan badan gemetar dia berusaha menutup warung araknya, kemudian melingkar di pembaringan dalam kamarnya dengan tubuh tidak hentinya menggigil keras.
Tubuh Su Nan Su yang sudah kaku dingin tidak berjiwa lagi menggeletak saja di jalan.. Sie bungkuk maupun teman-teman Su Nan Su tidak berani memeriksa keadaan Su Nan Su mereka menunggu sampai besok pagi, dengan para penduduk lainnya barulah memeriksa keadaan Su Nan Su.
Mereka semua yakin bahwa Su Nan Su mati karena menjadi korban hantu cantik.. dicekik mati, Tapi tak seorangpun yang tahu bahwa sebenarnya Su Nan Su mati akibat totokan dibeberapa titik jalan darahnya yang telah membuat napasnya tersumbat dan akhirnya membuat dia mati seperti tercekik karena memang dia tidak bisa bernapas lagi peristiwa ini telah menggemparkan penduduk kampung tersebut, seluruh penduduk kampung Yuan-ci jadi ketakutan selama beberapa hari berikutnya, mereka takut kalau-kalau hantu cantik itu muncul lagi dan menggangu mereka.
Bersambung ke jilid 28
This entry was posted
on Senin, Agustus 02, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar