Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 23  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 23
Tidak buang waktu segera Giok Han mengambil botol obat yang warnanya coklat, dan memasukkan tiga butir di mulut si gadis, yang menelannya mempergunakan bantuan air ludahnya. Sesudah meneIan obat itu, In-Bwee diam sejenak, napasnya semakin lama semakin teratur dan perlahan-lahan pandangan matanya pulih bisa melihat jelas lagi. Dengan tubuh masih lesu si gadis kemudian bangun duduk untuk memusatkan sinkangnya, guna memulihkan luka di dalam tubuhnya.
Cun Siang berdiri agak jauh, disamping kawannya, yaitu wanita yang bersama dia di tawan Ban It Say. Dia mmta wanita itu membuka tali yang mengikat tangannya. Biarpun tangan wanita itu diikat juga oleh tali yang besar, tapi dia bisa membuka tali yang mengikat tangan Cun Siang.
Setelah tangannya bebas dari ikatan tali, Cun Siang cepat-cepat membukakan tali yang mengikat tangan wanita itu.
Giok Han membiarkan In Bwee mengerahkan sinkangnya duduk bersemedi untuk melawan goncangan luka dalam tubuh, supaya tak terlalu membahayakan, setidak-tidaknya agar dia bisa memperingan luka didalam tubuhnya. Dia menghampiri Cun Siang dan wanita itu.
Cepat-cepat Cun Siang dan wanita itu berlutut didepan Giok Han. "Terima kasih atas pertolongan In-kong." Kata mereka berbareng.

Giok Han cepat cepat menyingkir ke-belakang ke samping tak mau menerima hormat kedua oraag itu. Dia juga mengeluarkan tangannya menyuruh mereka bangun. "Jangan banyak peradatan, kami memanj berkewajiban menolong siapa saja yang ditindas oleh manusia-manusia kejam seperti para tentara kerajaan itu! Siapakah kalian?"
"Aku Tio Cun Siang dan ini isteriku Ho Bin Nio. Kami telah dicelakai oleh pasukan kerajaan itu... menjelaskan Cun Siang.
"Mengapa pasukan kerajaan hendak mencelakai kalian?" tanya Giok Han ingin tahu.
Tapi Cun Siang tampak ragu ragu, dia melirik pada isterinya, kemudian isterinya setelah mengangguk, barulah CunSiang bilang: "Kalau di depan In-kong yang telah menyelamatkan jiwa kami berdua tidak bicara terus terang, bukanlah perbuatan yang pantas dan terpuji. Kami telah diselamatkan In kong karenanya kami harus memberikan penjelasan yang terang. Kami berdua adalah utusan Tio-Hong Gan taijin, untuk menyelidiki keadaan diselatan ini, karena belakangan ini kami sudah mendengar pihak kerajaan sedang mengerahkan jago-jagonya untuk pergi menghancurkan pasukan kami!"
Kaget dan girang Giok Han mendengar kedua orang ini anak buah Thio Hong Gan, pejuang yang semakin Iama sekarang semakin bergerak maju, sebab sudah bertambah beberapa kora yang berhasil direbutnya.
Segera Giok Han maju memegang tangan Cun Siang, membuat sepasang suami isteri itu kaget tak terkira, hampir saja Cun Siang menarik tangannya buat menyerang, untung Giok Han sambil tertawa sudah bilang: "Kalau begitu kita orang sendiri! Akupun sedang melakukan perjalanan untuk bergabung dengan Thio taijin."
Cun Siang dan isterinya mengawasi Giok Han ragu-ragu, mereka tak bisa mempercayai begitu saja apa yang dikatakan tuan penolong ini, sudah menyelamatkan jiwa mereka tokh tetap mereka harus bersikap waspada.
"Aku Giok Han, anak Jenderal Giok Hu yang dicelakai oleh kaisar lalim itu, guruku perintahkan bahwa sekarang saatnya aku menggabungkan diri dengan Thio-taijin." memberitahukan Giok Han.
Tak terkira kaget dan girangnya Cun Siang dan isterinya, bahkan Cun Siang tiba-tiba berlutut, diikuti oleh isterinya yang menganggukkan kepala sambil menangis.
"Thian rupanya memiliki mata! Kami berdua memang diperintahkan Thio-taijin untuk menyelidiki tentang anak Giok Hu Goanswe yang lolos dari tangan jahat orang-orangnya kaisar lalim itu. Siapa tahu kami bertamu dengan kongcu di sini."
"Kaget Giok Han. ..Benarkah itu ?" tanyanya kemudian.
"Tugas kami ialah menyelidiki tentang orang orang yang dihimpun Siangkoan Giok Lin. Orang she Siangkoan telah diberi kekuasaan oleh Kaisar lalim itu untuk menghimpun orang-orang kangouw. Rupanya sekarang raja lalim itu sudah menyadari bahwa kekuatan kita bukanlah hal yang bisa diremehkan, apa lagi sekarang Thio-tai jin sudah berhasil masuk Ciatkang, itulah sebabnya raja lalim itu ingin merangkul orang-orang kangouw, agar membantu pihak kerajaan memusuhi kita ! Daftar mereka ada di tangan Siangkoan Giok Lin, sebab kemarin malam orang kaisar lalim itu sudah datang untuk mengambil daftar orang-orang kangouw yang mau tunduk dan bekerja pada pemerintah!
Kalau hal itu terjadi, tentu menimbulkan banjir darah yang hebat diantara kita-kita sendiri diadu domba oleh raja lalim itu, karena kita orang-orang Han ingin diadu agar menjadi lemah kekuatan dan persatuan kita, kemudian raja lalim itu baru menggempur hancur, menggagalkan perjuangan suci kita!
Di samping tugas penting itu, kami diberi tugas yang tak kalah pentingnya, yaitu menyelidiki dan kalau bisa mencari kontak untuk bertemu dengan anak Giok Hu Goanswe, untuk dihubungi dan diajak menemui Thio taijin yang siang dan malam selalu menguatirkan keselamatan kongcu dan berduka sekali pada peristiwa yang menimpa Giok Hu Goanswe. Kalau saja peristiwa itu bisa digagalkan dan Giok Hu Goanswe bisa diajak berdiri di pihak kita, niscaya kerajaan ini akan kembali ke tangan kita orang-orang Han dalam waktu singkat!"
Cun Siang bicara sambil menangis, sebentar-sebentar menyusut air matanya. Giok Han terharu mendengar Thio Hong Gan begitu memperhatikan keselamatan dirinya. Dia merasa berterima kasih dan berduka ingat pada keluarganya yang telah dihancurkan oleh orang orang kaisar lalim itu.
Dia jadi ikut menangis, tapi cuma sebentar, cepat-cepat menghapus air matanya lagi, dia bilang: "Baiklah! Aku tak lama lagi akan menghubungi Thio-taijin, sekarang aku mau membereskan dulu beberapa orang yang mungkin bisa membahayakan usaha Thio-taijin. Usaha besar ini harus dapat dijaga jangan sampai gagal, karena rakyat selama ini sudah tertindas benar oleh kaisar yang lalim itu !"
"Benar Giok Kongcu, menurut Thio-taijin justeru semakin lama raja lalim itu semakin ganas, rakyat sudah semakin menderita, kaki tangan kaisar lalim itu bertindak semakin ganas dan sadis tanpa pandang bulu, sehingga menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat. Kami juga berhasil menghimpun rakyat yang ikut bergabung dengan kita, jumlahnya sudah melebihi dari empat ratus ribu orang...!"
Giok Han girang bukan main mendengar kemajuan yang dicapai oleh pasukan Thio Hong Gan dalam mengadakan pemberontakan untuk mengambil pulang negeri mereka dari tangan raja penjajah.
"Giok kongcu, balehkah kami mengetahui siapa-siapa saja orang yang hendak kongcu bereskan ?" tanya CJ Siang kemudian.
"Yang pertama-tama harus disingkirkan adalah Siangkoan Giok Lin, karena dengan matinya dia tentu usaha raja lalim itu buat mempengaruhi dan "membeli" orang-orang gagah kangouw lewat tangan kotor Siangkoan Giok-Lin bisa digagalkan. Orang lainnya adalah Tang San Siansu, ia sekarang menjadi tangan Cu Bian Liat, thaykam keparat itu ! Demikian pula Cu Bian Liat harus dilenyapkan, aku akan berusaha untuk membunuhnya. Kalau urusan ini berhasil tanpa rintangan, tentu berkurangnya rintangan buat usaha-besar Thio-taijin."
Cun Siang dan isterinya mengangguk-angguk kagum. Mereka sudah menyaksikan betapa tinggi kepandaian Giok Hu, mereka yakin Giok Hu pasti bisa membereskan Siangkoan Giok Lin dan yang lainnya. "Biarlah kami ikut membantui dulu kongcu, baru nanti kami kembali ke markas."
Giok Han menggeleng. "Kalian sudah terluka, tampaknya Tio hujin juga dalam keadaan terluka tidak ringan. Bawalah isterimu pulang ke markas, kirim salam kepada kawan kawan dan Thio-jin, beritahukan juga tak lama lagi pasti aku akan bergabung dengan mereka. Tentang daftar orang-orang gagah yang bersedia bekerja pada kerajaan bisa kuusahakan merampas dari tangan Siangkoan Giok Lin. Memang berbahaya kalau kita tak berhasil memperoleh daftar itu, sebab besok-besok kita akan kemasukan mata-mata musuh, bisa saja seorang kangouw yang kita kira sahabat tak tahunya berdiri dipihak kerajaan ! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan daftar itu. Tenanglah Tio-suheng, ajaklah isterimu pulang untuk merawat lukanya."
Cu Siang mengangguk berterima kasih, dia yakin Giok Han pasti berhasil membunuh Siangkoan Giok Lin dan memperoleh daftar orang-orang kangouw yang bekerja pada pihak kerajaan. Kepandaian Giok Han beberapa tingkat di atasnya. Secara selintas dan cepat dia menceritakan bahwa di kota ini dia mempunyai dua orang kawan, anak buah Thio-Hong Gan juga yang bekerja untuk memata-matai pihak kerajaan, di samping itu menampung orang-orang Thio Hong Gan yang kebetulan datang di kota ini.
Kakek tua yang binasa di tangan Ban It Say salah seorang dari mata mata yang ditempatkan Thio Hong Gan. Dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, selain merawat Tio Cun Siang dan isterinya yang terluka karena gagal menyerbu gedung slangkoan Giok Lin, tak berhasil merampas daftar orang-orang kangouw yang berhasil dibujuk orang she Siangkoan itu untuk bekerja di kaki Kaisar penjajah, juga memang mereka telah dilukai oleh orang-orang Siangkoan Giok Lin.
Beruntung suami isteri itu bisa meloloskan diri dan menumpang di rumah kakek tua A-nam, mata-mata Thio Hong Gan yang berjuang dengan sepenuh kemampuannya tanpa pamrih. Tapi siapa tahu, jejak sepasang suami isteri ini diendus oleh pihak Siangkoan Giok Lin, dengan munculnya Ban It Say dan juga matinya kakek tua itu. Kalau saja tak muncul Giok Han dan In Bwee, tentu celakalah Cun Siang dan isterinya.
Selama mendengarkan cerita Cun Siang, Giok Han sering melirik kepada In Bwee yang masih mengerahkan sinkangnya dengan duduk bersila buat menyembuhkan luka di dalam tubuhnya. Memang luka di dalam tubuh tak bisa disembuhkan dengan satu kali saja pemusatan tenaga sinkang, namun setidaknya bisamengurangi luka itu agar tak terlalu parah.
Lama juga ln Bwee mengerahkan pemusatan sinkangnya, sampai akhirnya dia menyudahi dan meloncat berdiri. Mukanya masih agak pucat.
Giok Han cepat-cepat menghampiri, muka si gadis berobah merah, cepat cepat menutupi dadanya dengan kedua tangannya, isteri Cun-Siang segera membuka buntalan bajunya yang cuma dua potong, dia berikan kepada In Bwee. Gadis itu cepat cepat memakainya, walaupun ukuran baju itu agak kebesaran tapi jauh lebih baik dari pada dadanya yang putih montok itu terlihat orang.
Giok Han menceritakan apa yang telah didengarnya dari Cun Siang, dia juga memperkenalkan Cun Siang suami isteri kepada In Bwee. Mereka segera merundingkan cara untuk membunuh Siangkoan Giok Lin. Akhirnya Giok Han bilang: "Tio-suheng percayalah, aku berdua Cang-kouwnio akan berusaha membunuh orang she Siangkoan itu. Sekarang pergilah kau kembali ke samping Thio-taijin, beritahukan pada Thio-taijin kalian sudah bertemu denganku, dalam waktu dekat aku akan berangkat bergabung. Tenaga kalian sangat diperlukan oleh Thio-taijin. Berangkatlah sekarang, kalau Ban-It Say, congkoan Gi-lim-kun tadi, menyusul mengejar kita sampai disitu, kami yang akan menghadapi, kalian bisa mempunyai waktu yang cukup buat meninggalkan tempat ini."
Tio Cun Siang dan isterinya bimbang, namun Giok Han mendesaknya terus, maka akhirnya dengan hati dan perasaan berat merekapun pamitan untuk berpisah dengan anak jenderal Giok Hu yang tampaknya memiliki kepandaian tinggi serta tangguh ini. Kenyatsan yang aangat menggembirakan, karena merekapun yakin Thio Hong Gan kalau menerima laporan ini pasti ikut gembira....
Setelah Tio Cun Siang dan isterinya pergi, Giok Han mengawasi In Bwee, dengaa sorot mata memancarkan kekuatiran yang sangat dia bertanya: "Bagaimana keadaan lukamu, nona Cang?"
"Tangan orang she Ban itu ternyata berbisa juga." bilang In Bwee dengan muka murung, "Mungkin aku memerlukan waktu satu bulan agar tenaga dalam pulih dan kesehatanku baik kembali."
"Baiklah kalau begitu, sementara ini kau beristirahat dulu, untuk menyembuhkan lukamu. Marl kita mencari tempat untuk berdiam sementara waktu. Dalam kesempatan itu aku akan pergi mencari Siangkoan Giok Lin, untuk membunuhnya kau dapat memusatkan sinkang untuk menyembuhkan lukamu."
In Bvves tiba-tiba teringat sesuatu. Dia memegang tangan Giok Han.
"Hampir aku lupa memberitahukan padamu! Dulu aku sudah menjanjikan kau akan memberitahukan rahasia Siangkoan Giok Lin. bukan ?"
Gok Han mengangguk, mengawasi si gadis dengan sikap berkuatir. "Ya. tapi bukan sekarang waktunya. Kini kau perlu mencurahkan seluruh perhatian untuk penyembuhan lukamu itu."
In Bwee sangat bsrsyukur dan berterima kasih atas sikap demikian baik dari Giok Han, yang memperhatikan dan menguatirkan kesehatannya. Dia menggeleng. "Dengan memberitahukan padamu rahasia Siangkoan Giok Lin tidak berarti aku harus mempergunakan caranya! Guruku pernah memberitahukan kepadaku bahwa kematian Siangkoan Giok Lin terletak pada... pada selangkangannya ! Dia memiliki ilmu kebal, sulit untuk menotoknya ataupun juga melumpuhkannya dengan menyerang anggota tubuhnya yang tain. Kau harus menyerang pada bagian yang mematikan, yaitu pada selangkangannya, tiga dim dari tepi kiri selangkangannya. Di jalan darah *Uh bian-hiat"nya."
Girang Giok Han mengetahui kelemahan orang she Siangkoan itu. Dia mengingatnya baik- baik. Kemudian dia minta agar In Bwee duduk bersila untuk mencurahkan sinkangnya dan coba menyembuhkan lagi luka di dalam tubuhnya.
Si gadis menggeleng.
Biarpun aku memerlukan waktu satu bulan untuk menyembuhkan lukaku ini agar menjadi sehat seperti semula, tapi bukan berarti keadaanku sekarang ini sangat menguatirkan. Sekarang aku sudah pulin sebagian besar, kau jangan terlalu kuatir."
Giok Han menggeleng.
"Tidak nona Gang, kau tak boleh terlalu memakai tenagamu pada saat-saat sekarang ini dan harus benar-benar beristirahat sambil memusatkan tenaga dalammu, agar kesehatanmu pulih benar. Peliharalah kesehatanmu baik-baik, urusan penting apapun bisa ditunda, sampai nanti setelah kau sembuh kita melakukannya bersama sama ! Sedangkan orang she Siangkoan iru biar aku sendiri yang menghadapinya. kukira tak ada kesulitan apa-apa, terlebih lagi jika kaki tangan kaisar lalim yang sebetulnya berada di gedung orang she Siangkoan itu sudah meninggalkan rumahnya dan pulang ke kota raja, tentu tak ada kesulitan apa-apa lagi buat membunuh Siangkoan Giok Lin !"
Si gadis sangat bersyukur, dia menatap si pemuda dangan sorot mata berterima kasih. Tanpa disadari tangannya masih memegangi tangan Giok Han, dan pemuda itupun balas menggenggam tangan si gadis. Mata mereka saling menatap, dan sinar mata mereka bicara lebih banyak dibandingkan kalau memakai mulut... seluruh isi hati mereka terpancar jelas-jelas dari sorot mata masing-masing... keduanya sudah maklumi apa yang mereka rasakan dan pikirkan.
Tiba-tiba Giok Han tersadar, dia segera menarik tangan si gadis diajak meninggalkan tempat itu, "Kita harus mencari tempat bersembunyi yang benar-benar aman, karena di saat kau sedang berobat menyembuhkan luka di dalam tubuhmu, tak boleh terganggu perhatianmu. Sedapat mungkin kita mencari tempat yang jarang didatangi manusia...!"
In Bwee menatap Gtok Han dengan pipi berobah merah, namun dia bertanya: "Kemana kita mencari tempat yang aman dari incaran orang-orang kaisar lima itu? Sekarang saja kaki tangan raja laim itu mungkin sedang melacak menyelidiki jejak kita !"
"Mari kita pergi melihat dulu keadaan didepan sana, mungkin bisa dipakai untuk berdiam sementara,"
"Tapi kita jangan menumpang di rumah penduduk, hal itu akan membahayakan. Kita tak bisa mengatakan pemilik rumah yang kita tumpangi akan berkhianat, tapi yang banyak terjadi memang begitu, ia melapor kepada yang berwajib."
Giok Han cuma mengangguk. Begitulah mereka melakukan perjalanan tanpa tahu harus pergi kemana. Tapi setelah berjalan setengah harian, mereka tiba di sebuah bukit yang agak terjal. Keadaan di situ sepi sekali tampak juga sebuah bongkahan batu besar.
"Aku akan menggeser batu besar itu. kau boleh bersemedi di belakang bongkahan batu itu, sehingga tak ada seorangpun yang bisa melihatmu !"
In Bwee masih tak mengerti apa yang dimaksudkan Giok Han, tapi pemuda itu sudah mulai bekerja Dia memusatkan sinkang pada kedua lengannya, kemudian mengangket bungkah batu yang berukuran besar, yang digeser hampir menempel pada bukit.
Kemudian dia mengumpulkan ranting dan cabang pohon yang telah kering, yang diletakkan di atas batu itu, ditimbuni oleh daun daun, sehingga tampaknya di atas bungkahan batu itu bertumbuhan pohon-pohon liar. Padahal di bawahnya terdapat ruang terpisah yang cukup lebar. Dengan cara demikian tentu orang tak akan mencurigakan bahwa di balik bongkahan batu itu ada orang.
In Bwee memuji kecerdikan Gtok Han, dia tak rewel ketika Giok Han minta dia duduk di balik bongkahan batu itu, bersemedi untuk memusatkan sinkangnya, agar luka di dalam tubuhnya bisa disembuhkan.
"Nah, di sini kau aman, biarlah aku akan kembali ke dalam kota, untuk mencari orang she Siangkoan itu ! Percayalah, aku akan mengurus orang she Siangkoan itu sebaik-baiknya, kau jangan kuatirkan apa-apa tentang diriku, karena kau perlu memusatkan seluruh perhatian pada pemusatan tenaga sinkangmu."
In Bwee mengangguk dan memejamkan matanya. Sedangkan Giok Han mempergunakan ginkangnya untuk kembali ke dalam kota, mendatangi rumah Siangkoan Giok Lin.
Dia bertekad walaupun bagaimana dia harus berhasil memperoleh daftar orang-orang kangouw yang ada di tangan Siangkoan Giok Lin. Jika tidak, tentu Thio Hong Gan banyak mendapat kesulitan. Sulit mengetahui orang-orang kangouw mana yang sudah menjadi anjingnya kaisar lalim itu, bisa jadi musuh dalam selimut buat Thio Hong Gan, berarti juga mengancam perjuangan suci Thio Hong Gan.
Karena mengetahui di kota banyak sekali berkumpul pahlawan kaisar, Giok Han bertindak hati-hati sekali. Dia sudah merencanakan, yang pertama-tama dilakukannya ialah menyelidiki dulu keadaan rumah Siangkoan Giok Lin, apakah orang-orang kaisar dari kota-raja masih berada di rumah orang she Siangkoan itu
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PENGEMIS itu berjalan terpincang-pincang, dengan tongkat cukup panjang ditangan kiri, mengetuk-ngetuk jalanan, sambil- melangkah perlahan-lahan, rupanya dia buta tak bisa melihat. Di tangan kanannya memegang sebuah mangkok untuk tempat menerima derma yang diberikan orang padanya.
Kaki kanannya pincang, dia jalan terseok-seok, mukanya kotor, kumis jenggotnya tak keruan, topinya juga kotor sekali dibeleseki sampai menutup sebagian wajahnya. Usianya mungkin empat puluh tahun. Pengemis ini berjalan terus perlahan-lahan, akhirnya berhenti di sebuah rumah makan, minta sedekah.
Tak ada seorangpun yang memperhatikannya, termasuk pelayan-pelayan rumah makan itu tak mengacuhkannya. Tapi, biarpun buta, biji mata pengemis itu sering menatap bersinar ke dalam ruang rumah makan itu, kemudian dipejamkan lagi, sambil mulutnya komat-kamit minta belas kasihan kepada orang-orang yang lewat di dekatnya, agar memberi sedekah padanya.
Lama juga si pengemis berdiam di depan rumah makan, dia berjalan lagi terseok-seok menyusuri jalan tersebut, akhirnya masuk ke sebuah lorong yang cukup panjang. Dia berjalan terus dengan kepala tertunduk, sampai akhirnya berhenti di depan rumah yang megah dan mewah. Pengemis ini menggumam perlahan: "Tampaknya" sepi, apakah anjing-anjing kaisar lalim itu sudah tak berdiam di rumah ini ?"
Lama pengemis itu memperhatikan rumah tersebut, sedangkan gedung itu tetap sunyi, sepi, tak terlihat seorang manusiapun juga. Daun pintunya yang tebal lebar itu tertutup rapat-rapat. Perlahan-lahan si pengemis melangkah menghampiri pintu. Dia berdiri di situ memperhatikan keadaan di sekitarnya, rupanya dia cuma pura-pura buta sebab matanya bersinar tajam dan bisa melihat apapun juga di sekelilingnya.
Diangkat tongkat pada tangan kirinya, ujung tongkat diketukan cukup keras pada daun pintu. Setelah itu tongkatnya diturunkan lagi, menanti dengan kepala ditundukkan. Daun pintu terbuka, seorang berpakaian sebagai pelayan di rumah tersebut keluar dengan muka masam setelah melihat yang melihat yang mengetuk pintu seorang pengemis kotor dan buta.
"Sial ! Mengapa kau mengganggu ketenanganku ?" bentak si pelayan! "Hayo pergi! Menggelinding dari sini !" bentakan itu disusul dengan tangan kanannya diulurkan buat mendorong pundak si pengemis, sampai tubuh si pengemis terhuyung-huyung mundur ke belakang beberapa langkah, rupanya si pelayan mendorong dengan tenaga yang kuat.
"Toaya... bermurah hatilah memberi sedekah kepadaku si pengemis melarat... Kasihanilah, aku pengemis buta yang tak bisa melihat keindahan alam, tak bisa menikmati keindahan apapun lagi...!"
"Jangan rewel, ayo pergi ! Atau kau mau kulemparkan baru mau menggelinding pergi dari sini ?" si pelayan yang rupanya tadi sedang tertidur dan terbangun kaget karena ketukan tongkat si pengemis pada daun pintu. Semula dia menyangka yang mengetuk pintu sahabat majikannya, tak tahunya hanya seorang pengemis. Dia jadi uring-uringan dan galak.
"Apakah Toaya tak berkasihan padaku ?" tanya si pengemis. "Baiklah, kalau Toaya tak mau memberi derma dan sedekah kepadaku, jelas akupun tak bisa memaksa...!"
Si pelayan rupanya sebal melihat pengemis kotor ini, dia cuma "hemmm! "beberapakali dan menutup daun pintu. Cuma saja, si pelayan jadi kaget campur heran. Daun pintu tidak bisa ditutup rapat, biarpun dia mendorong kuat-kuat. Dia membuka lagi. Si pengemis sedang menurunkan tongkatnya. Tidak ada orang lain disekitar tempat itu. Si pelayan mendeliki si pengemis buta, dia membentak: "Kau masih belum menggelinding pergi, pengemis menyebalkan ?"
"Aku akan segera pergi Toaya, jangan galak-galak...! "kata si pengemis. Pelayan itu kembali mau menutup daun pintu, sama saja hasilnya dengan tadi, yaitu daun pintu tidak bisa ditutup rapat-rapat. Tentu saja dia semakin penasaran dan heran, tapi tidak segera membuka lebar daun pintu, cuma mengintai dari sela daun pintu. Rupanya semua ini akibat ulah si pengemis. Tongkatnya dilintangkan dan ujung tongkat menunjang daun pintu, sehingga pintu tak bisa ditutup.
Karena penasaran, si pelayan mendorong kuat-kuat agar daun pintu rapat. Dia pikir, berapa kuatnya sih tenaga seorang pengemis buta yang tampaknya kurang makan itu ?Tapi dia kecele, karena tetap saja daun pintu iiu tidak bisa didorong rapat biarpun sudah dikerahkan seluruh tenaganya.
Dengan murka dia membuka lebar-lebar daun pintu, sedangkan si pengemis buta sudah menurunkan tongkatnya dan bersiap-siap hendak berangkat meninggalkan tempat itu.
"Gembel busuk, kau harus dihajar.!" teriak si pelayan meloncat ke belakang si pengemis, tangan kanannya diulurkan menjambak punggung pengemis itu, maksudnya dia hendak menarik tubuh si pengemis untuk dibantingnya.
Tapi dia menyambar tempat kosong, jari-jari tangannya yang semula tampak sudah hampir berhasil menjambak baju di punggung si pengemis, cuma terpisah beberapa dim saja, telah menyambar tempat kosong karena tubuh si pengemis mendadak seperti bisa maju ke depan lebih cepat dari sebelumnya, seperti punggung si pengemis ada matanya bisa melihat sambaran tangan si pelayan.
Tidak kepalang marah dan penasaran si pelayan, dia membentak bengis sambil mengulangi jambakannya. Sekali ini dia menjambak dengan mempergunakan tenaga sepenuhnya.
Si pengemis mendadak menjerit : "Aduhhh ! Aduhhh . . . kakiku !" Dan dia memutar tubuhnya ke samping, membungkuk buat melihat kakinya, mungkin dia sudah kesandung batu dan sepatunya yang sudah tak keruan bentuknya itu menyebabkan ibu jari kakinya muncul tercuat keluar tak bisa melindungi lagi jari kakinya dari bongkahan batu yang terantuk itu, sehingga dia menderita kesakitan.
Karena si pengemis membungkuk menyingkir ke samping buat melihat kakinya, akibatnya jelek sekali buat si pelayan yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya buat menjambak sambil setengah menghantam dengan tangannya ke punggung si pengemis.
Karena begitu tangannya diulurkan, mendadak lenyap sasarannya, bahkan waktu itu keseimbangan tubuhnya lenyap, tubuhnya terjerunuk mencium tanah sampai mukanya kotor oleh tanah dan abu !
Si pelayan menjerit marah sambil meloncat berdiri, mukanya kotor sekali, hidungnya juga sudah bocor mengeluarkan darah, karena tadi mencium jalanan. Dia loncat ke dekat si pengemis untuk memukul kuat-kuat pada si pengemis. Karena tadi dia sudah mendapat pengalaman pahit, sekali ini biarpun memukul sangat kuat si pelayan tak membabi buta, dia tidak ceroboh dan berhati-hati.
Si pengemis seperti tidak tahu beberapa kali hendak dipukul oleh si pelayan, dia mengayunkan tongkatnya ke belakang, untuk di kempit pada ketiaknya, karena tangannya hendak mengurut-urut ibu jari kakinya.
Ujung tongkatnya muncul di samping ketiak belakang, dan mungkin secara kebetulan saja ujung tongkat itu menyodok perut si pelayan. Sodokan ujung tongkat itu ternyata kuat sekali, sebab si pelayan merasakan perutnya seperti dihantam sesuatu yang beratnya ratusan kaki, membuat isi perutnya jungkir balik, tak bisa dipertahankan lagi badannya kejengkang ke belakang, bergulingan beberapakali sambil teraduh-aduh memegangi perutnya yang sakit sekali.
Si pengemis sudah menggerakkan tongkatnya untuk mulai melangkah pergi, jalannya terseok-seok karena kakinya memang pincang. Dia tetap membawa sikap seperti tidak tahu berulangkali dirinya telah gagal diserang oleh si pelayan.
Pelayan itu biarpun perutnya masih sakit, mukanya masih meringis, dengan kemarahan meluap sudah melompat bangun, meraung penasaran dan berlari mengejar si pengemis. "Akan kuhajar mampus kau! Akan kuhajar mampus kau !" Teriaknya mengancam. Dan memang dia bermaksud untuk menyiksa pegemis itu, yang dikiranya sudah mempermainkan dirinya.
Pengemis itu tetap berlenggang-Ienggok terseok-seok dengan langkah pincang, seperti tak mendengar teriakan si pelayan. Biarpun si pelayan berlari-lari buat menyusulnya, tetap saja jarak mereka terpisah satu depa lebih, pelayan itu tak berhasil mendekati si pengemis. Memang ini luar biasa.
Tampaknya si pengemis jalan terseokseok, namun tubuhnya itu meluncur ke depan ringan sekali, seperti melayang tak menginjak tanah sehingga biarpun si pelayan mengejarnya menggunakan seluruh tenaganya berlari di belakang pengemis itu, tetap saja dia tak berhasil mendekati pengemis yang luar biasa ini tanpa berapa si pelayan sudah mengejar si pengemis cukup jauh, tapi tetap saja dia tak berhasil mengejar pengemis itu, jarak mereka terpisah cukup jauh. Bukan main penasaran hatinya, dia mengejar mati-matian mengerahkan seluruh sisa tenaganya, tetap saja dia tak berhasil mencapai si pengemis.
Sampai akhirnya, napasnya seperti tersendat habis, memburu keras, kerongkongannya kering. Kalau semula dia memaki-maki sambil mengejar, sekarang cuma mengejar dengan mulut tertutup rapat-rapat !
Ketika mereka berada dilorong jalan yang sepi, mendadak pengemis itu berhenti melangkah. Dia berdiri tegak menghadapi pelayan yang sudah mengejarnya kehabisan tenaga.
"Akan kumampusi kau!" Serak suara si pelayan, tangannya diangkat untuk memukul. Disangkanya si pengemis sudah tak kuat berlari menghindar lagi darinya, biarpun dia sudah kehabisan tenaga, tapi dengan sisa-tenaganya dia ingin memukul pengemis itu.
Si pengemis tak berusaha mengelak, berdiri diam ditempatnya dengan bibir tersenyum. Waktu tangan si pelayan hampir mengenai mukanya, tahu-tahu tubuhnya sudah menyingkir ke samping, sehingga kepalan tangan pelayan itu lewat di samping mukanya.
Pada waktu itulah tongkat si pengemis menotok punggung pelayan tersebut, hebat kesudahannya. Tubuh pelayan itu seperti didorong oleh suatu kekuatan yang dahsyat, sehingga tubuhnya terjerunuk ke depan, mukanya kemudian menghantam tanah, hidungnya patah, darah mengucur keluar, giginyi juga rontok tiga, matanya berkunang-kunjug, gelap penglihatannya.
Si pengemis menggunakan ujung tongkatnya menyontek baju di punggung pelayan tersebut, dia menghentak perlahan, seperti tak memakai tenaga. Tapi kesudahannya benar benar mengejutkan, karena badan pelayan itu seperti sehelai daun kering yang ringan terlempar ke samping, punggungnya membentur keras pada dinding tembok rumah penduduk, sampai terdengar suara benturan yang nyaring, tubuh si pelayan meloso jatuh di bawah tembok dengan mata terbuka lebar-lebar dan mulut ternganga ketakutan, matanya itu biarpun terbuka lebar namun gelap tak ada yang bisa dilihat, berkunang-kunang.
Tenang sekali si pengemis menghampiri pelayan dan ujung tongkatnya mengetuk perlahan dagu si pelayan, segera kepala pelayan itu menengadah.. Dagunya seperti dipukul martil saja, sakitnya bukan main, suara rintihannya terdengar perlahan.
Pelayan yang semula, begitu garang dan bengis, sekarang jadi kuncup nyalinya, segera sadar bahwa dia keliru melihat lawan. Pengemis ini rupanya bukan pengemis sembarangan, dia ternyata memiliki tenaga yang kuat, tadi rupanya pengemis ini pura-pura saja tak melayaninya, namun sengaja memancingnya ke-lorong yang sepi dan tak ada orang lain di situ.
Diam-diam pelayan ini mengeluh, bila ia tidak terpancing dan ribut di depan rumah majikannya, pasti kawan-kawannya akan mengetahui keributan itu dan membantuinya, tidak seperti sekarang dia jadi mati kutu.
"Dengarlah baik baik," suara si pengemis tawar. "Aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu, kau harus menjawabnya jujur, jangan sekali-sekali berpikir untuk berbohong, karena aku tak jamin lagi keselamatan jiwamu."
"Apa... apa yang ingin kau tanyakan?"
Si pelayan lemas tak bertenaga didukdi bawah tembok menderita kesakitan karena luka terbanting beberapakali, sikapnya sudah tak bengis dan galak seperti semula, suaranya juga serak gemetar ketakutan. Yang dikuatirkannya dirinya disiksa lagi oleh pengemis ini.
"Pertanyaanku yang pertama," kata si pengemis, perlahan-lahan dan suaranya tetap tawar. " Apa yang sedang dilakukan Siang koan-Giok Lin sekarang ini?"
Kaget dan heran sipelayan. Mau apa pengemis ini bertanya tentang majikannya. Segera dia menduga pasti pengemis ini musuh majikannya.
"Loya... loya sedang dikamar perpustakaannya menghitung... menghitung penghasilan kemarin yang baru disetor oleh perusahaan-perusahaannya," jawab si pelayan terpaksa.
"Pertanyaanku yang kedua: Apakah orang-orangnya dari kotaraja masih berada dirumahnya?" tanya sipengemis tak mengacuhkan sikap ketakutan sipelayan.
"Ooo, kawan-kawan loya?" tanya si pengemis. "Mereka... mereka masih berdiam dirumah loya, mungkin sore ini... mereka akan mengadakan pemeriksaan dikota ini." Si pelayan menyangka sipengemis ini jeri pada utusan kaisar dari kotaraja maka dia sengaja bilang begitu untuk menggertak. Tapi, hasilnya malah, membuat dia tambah pecah nyalinya, karena tahu-tahu tongkat si pengemis menyabet pipinya. Perlahan tampak pukulan gagang tongkat si pengemis, tapi pipi si pelayan segera bengkak besar dan dia kesakitan sampai rasanya menusuk-nusuk otak dan uluhatinya.
"Bicara yang jujur," suara si pengemis tambah tawar, "Aku tahu kau bicara tidak jujur, sekali lagi melakukan hal itu maka kepalamu akan ku hantam dengan tongkatku ini dan akibatnya kau tentu bisa membayangkan sendiri ....!"
"Ampun... ampun... aku tak berani berdusta lagi, Loya sekarang sedang mempersiapkan .... keberangkatannya kekota raja."
"Maksudmu majikanmu itu akan berangkat ke kotaraja?" menegasi pengemis ini tawar. "Bersama siapa dia berangkat ke kotaraja? Kapan berangkatnya?"
"Loya... berangkat malam ini, jam tiga. Kepergiannya dikawal oleh empat orang mereka semua dari kotaraja." pelayan itu kini patuh menjawab sebenarnya.
"Apakah keempat orang yang akan mengawal majikanmu ke kotaraja berada di rumah majikanmu ?"
"Dua orang berdiam di rumah loya, dua orang lagi berada di rumah Tihu, jam satu nanti mereka akan datang menggabungkan diri."
"Siapa dua orang yang sekarang berada di rumah loyamu itu ?" tanya pengemis itu lagi.
"Thio-taijin dan Cu kongcu," menyahusi si pelayan.
Yang kau maksudkan Thio-taijin itu apakah bukan Thio Yu Liang ? Dan yang kau sebut Cu-kongcu ita apakah bukan Cu Lie Seng ?" tanya si pengemis lagi.
"Be... benar," si pelayan tambah yakin bahwa pengemis ini bukan pengemis sembarangan, dia menyesal mengejar-ngejar pengemis ini tadi seperti mencari penggebuk saja.
"Lalu dua orang lainnya yang akan menjemput loyamu nanti, yang sekarang berdiam di rumah Tihu, siapa mereka?" tanya si pengemis lagi.

"Aku mendengarnya mereka adalah... Ban-taijin dan.... dan yang seorang lagi tak begitu jelas... entah siapa dia, aku tak. mengetahuinya..."
"Plakkkkk!" tahu-tahu tongkat si pengemis menepuk perlahan pipi si pelayan yang sebelah kiri, perlahan sampokan tongkat itu, tapi gigi si pelayan copot dua.
"Bicara yang benar dan jujur. Siapa yang seorang lagi?" bentak si pengemis. "Atau kau hendak kepalamu itu kuhajar pecah?"
Rasa sakit yang ditanggung pelayan itu bukan main menyiksanya, akibat terjerunuk. mukanya menubruk jalanan, terbanting membentur tembok rumah dan pipinya duakali dipukul oleh tongkat si pengemis benar-benar merupakan luka yang mendatangkan rasa sakit yang menyiksa benar, kepalanya pusing, matanya gelap, rasa sakit di sekujur punggungnya karena tulang punggungnya seperti patah atau sedikitnya retak akibat benturan kuat pada tembok, membuat dia hampir tak sanggup bicara lebih jauh.
Namun rasa takut yang hebat karena kuatir disiksa lebih jauh oleh pengemis ini, terpaksa dia menyariuii: "Sungguh... aku tak mengetahui siapa orang yang keempat itu... sungguh Toaya... aku tidak bicara bohong." Saking ketakutan dia memanggil si pengemis dengan sebutan Toaya, tuan besar.
"Bohong! Kau rupanya minta dihajar lagi, heh?" mengancam si pengemis.
Pelayan itu merintih dengan muka meringis ketakutan, dia hampir pingsan, menangis ketakutan setengah mati. "Jangan... jangan mempersakiti aku lagi, Toaya, aku sudah bicara yang jujur.... aku tak tahu siapa orang orang keempat itu yang akan mengawal Loya .... Sumpah mati apapun aku mau.... ampuni aku, Toaya.... jangan mempersakitiku lagi.... aku mempunyai lima orang anak dan isteriku juga tak bisa apa-apa, kalau aku mati siapa yang memberi makan pada mereka?"
"Hemmm. kau menyebut-nyebut tentaag isteri dan anak anakmu untuk minta dikasihani, bukan ?" tanya si pengemis dingin. "Tapi, kalau kau tak bicara jujur, sulit aku mengampuni jiwa anjingmu." Tongkatnya diangkat mengancam akan memukul pelayan itu lagi. Keruan saja si pelayan menjerit-jerit ketakutan sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya, menghiba-hiba minta ampun, air matanya mengucur banyak sekali, tidak malu-malu dan lupa rasa sakit di tubuhnya, dia coba bergerak untuk berlutut.
Tapi, waktu itu tongkat si pengemis sudah turun, menotok jalan darah Yu-ci-hiat nya di tengkuk, seketika si pengemis pingsan tidak sadarkan diri.
"Kau beristirahatlah di situ," kata si pengemis tawar, sambil ngeloyor pergi meninggalkannya, tapi sekarang langkah kakinya tidak terseok-seok seperti tadi, melainkan ringan sekali berlari dengan ginkang yang sangat tinggi"!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"KITA harus membagi diri menjadi dua rombongan, dan kukira yang paling baik daftar itu dibawa oleh Cu kongcu!"
Orang yang berkata itu adalah seorang bertubuh tinggi besar. memiliki uiat-urat tangan yang kasar bertonjolan pada tangannya, mukanya bengis, dia bicara sambil mengangkat cawan araknya, meneguknya kemudian seakan menantikan jawaban yang lain-nya yang berkumpul di ruangan tersebut.
Orang ini tak lain Ban It Say, dan dia berkumpul di ruangan itu bersama Siangkoan Giok Lin, Thio Yu Liang, Cu Li Seng dan seorang berpakaian penuh tambalan, dilihat dari keadaannya yang kotor dan mesum, dialah seorang pengemis.
Usianya mungkin empat puluh tahun lebih, kumis jenggotnya di biarkan tumbuh kasar di mukanya, waktu Ban It Say bicara, dia cuma memutar-mutar cawan araknya di atas meja dengan tangan kanannya, seperti sedang berpikir keras.
"Apa yang dibilang Ban Toako memang tak salah," kata Siangkoan Giok Lin. "Kita harus membagi diri menjadi dua rombongan, untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang mengincar daftar ini. Entah bagaimana pendapat Cu-kongcu ?"
Cu Lie Seng sejak tadi berdiam diri dengan muka yang dingin kaku, waktu Siang-koan Giok Lin minta pendapatnya dia tetap diam tak segera menyahuti, hanya matanya memandang kepada orang-orang yang berkumpul di situ satu persatu.
Kemudian dia baru menghela napas, katanya: "Siapa sih yang memiliki nyali begitu besar untuk menghadang kita dan merampas daftar itu ? Biarpun sudah makan sepuluh nyali macan rasanya sulit buat mereka mengambil daftar itu dari tangan kita ! Rasanya Ban taijin bicara terlalu berlebih-lebihan, kita tak usah kuatir terhadap siapapun juga."
Muka Ban It Say merah merasa malu, dia adalah congkoan Gi-lim-kun berkepandaian tinggi, berkata seperti itu Cu Lie Seng jelas ingin mengatakan bahwa dia seorang pengecut, yang kuatir berlebih-lebihan. Sebetulnya dia bermaksud mempermudah pengiriman daftar-daftar orang kangouw yang sekarang jadi rebutan dan banyak yang mengincar. Tapi, ia tak berani bicara lagi, biarpun hatinya mendongkol terhadap pemuda yang angkuh ini.
Cu Lie Seng tidak peduli sikap congkoan Gi-lim-kun tersebut, dia menoleh pada Thio Yu Liang, tanyanya: "Bagaimana pendapat Thio tai-jin ?"
Thio Yu Liang batuk-batuk, kemudian menyahuti hati-hati : "Kukira memang ada baiknya daftar itu bawa oleh Cu-kongcu. Dengan kepandaian Cu kongcu dan beberapa orang pengawalmu, niscaya daftar itu bisa sampai ditangan Cu-kong-kong dengan selamat. Tentang cara pengiriman itu lebih baik diatur oleh kongcu, kami cuma mematuhi perintah saja."
Senang tampaknya Cu Lie Seng, dia mengangguk-angguk tersenyum, walaupun senyumnya itu tetap tawar dan dingin. "Baiklah, kukira sudah dapat dipastikan sekarang bahwa aku yang akan membawa daftar itu. kalian ikut dalam rombonganku, untuk memperkuat kedudukan kita selama dalam perjalanan ! Kuakui orang-orang Thio Hong Gan dan pihak-pihak lain mengincar daftar ini, tapi kukira kita bisa menghadapi mereka tanpa perlu gentar."
Siangkoan Giok Lin mengangguk-angguk, dia tak berusaha menentang keputusan putera Cu kongkong, yang diketahuinya sangat berkuasa itu. Semua orang yang lainnya berdiam juga. Sedangkan Cu Lie Seng telab berkata lagi: "Yang ingin kujelaskan kepada kalian, baru beberapa hari ini guruku, Tang San Siansu, sudah tiba di sini, beliau yang akan mendamping aku pulang kekota raja."
Semua orang terkejut campur girang. Adanya Tang San Sianau jelas merupakan jaminan bahwa dalam perjalanan mereka tak akan menemui kesulitan berapa banyakpun orang tangguh berusaha menghadang mereka. Karenanya mereka segera tertawa riang.
"Sungguh beruntung kami jika bisa melakukan perjalanan dengan guru kongcu, ini merupakan kehormatan terbesar buat kami. Sekarang kami tak perlu bimbang dan kuatir lagi, rintangan apapun yang terjadi tentu bisa kita atasi!" kata Ban It Say untuk memulihkan suasana, ikut memuji Cu Lie Seng.
Pemuda itu mengangguk, kemudian menjelaskan rencana perjalanan mereka dengan suara perlahan. Semua orang itu menggeser duduk masmg-masing, untuk lebih dekat mendengarkan rencana perjalanan yang diuraikan Cu Lie Seng.
"Di manakah guru kongcu ? Mengapa tak mengajaknya kemari?" tanya Siangkoan Giok Lin. "Aku menyesal sekali tak bisa melayani guru Kongcu yang terkenal sebagai satu-satunya jago tanpa tanding jaman ini!"
Sebal Cu Lie Seng mendengar perkataan Siangkoan Giok Lin, dia tahu orang she Siangkoan ini cuma menjilat-jilat memuji untuk menyenangkan hatinya, sebab Siangkoan Giok Lin memang seorang yang pandai menepuk pantat untuk meraih keuntungan pribadi. Cuma saja mengingat bahwa orang ini diperlukan Hongsiang untuk menundukkan jago-jago kangouw, dia tersenyum.
"Guruku tak mau merepotkan Lopeh, karenanya sekarang dia berdiam di rumah Tihu."
Siangkoan Giok Lin mengangguk-angguk katanya: "Kongcu sendiri memiliki kepandaian demikian tangguh, entah bagaimana hebatnya kepandaian guru kongcu" pujinya lagi. Dia melambaikan tangan memanggil pelayan-pelayan wanitanya untuk menambahi arak dan mengganti makanan yang sudah dingin dengan makanan yang baru.
Ban It Say meremas pantat seorang pelayan dengan sikap ceriwis, dia memang paling tidak boleh melihat muka cantik. Pelayan-pelayan Siangkoan Giok Lin semuanya cantik-cantik dan montok, karenanya tangan Ban It Say jadi gatal. Dia meremas begitu sambil tertawa-tawa senang. Si pelayan tak berani mengelak, cuma senyum-senyum malu saja.
Siangkoan Giok Lin juga tersenyum-senyum, dia memang ingin menyenangkan tamu-tamunya, sengaja telah menampilkan pelayan-pelayan wanita ynng cantik cantik.
Thio Yu Liang, juga rupanya jadi gatal pula tangannya, dia menarik lengan seorang pelayan agar lebih dekat, harum semerbak pelayan itu, gadis berusia 19 atau 20 tahun, berwajah cantik dan montok. Dia melirik pada Siangkoan Giok Lin, katanya: "Kukira Siangkoan Kisu tak keberatan menghadiahkan dia untukku."
"Silahkan... silahkan...!" Tertawa Siangkoan Giok Lin. "jangankan hanya seorang, jika Taijin mau tiga atau empat orang menemanimu, itupun dapat saja Taijin ambil..."
Thio Yu Liang sudah berdiri, dia tertawa-tawa menyeret pelayan yang masih berusia muda dan cantik itu, "Maafkan, perutku sangat sakit dan ingin minta nona manis ini untuk memijitkannya dulu."
Pelayan itu masih gadis. Dia bekerja di gedung Siangkoan Giok Lin sejak berusia delapan rahun, Selama itu tak pernah disentuh laki laki, sekarang ada orang yang menyeretnya seperti itu dan bisa menduga apa yang acan dilakukan Thio Yu Liang, dia jadi ketakutan, mukanya pucat pias.
"Loya..." ratapnya sambil mengawasi Siangkoan Giok Lin.
Siangkoan Giok Lin mendelik, "Ayo temani Thio-taijin, awas jangan membuat Thio thaijin jadi gusar."
Thio Yu Liang tampaknya sudah tak sabar dia menyeret gadis pelayan tersebut menuju kekamarnya. Tentu saja pelayan ini, tambah ketakutan dan bingung, dia hendak meronta dari cekalan Thio Yu Liang, tapi tenaganya mana cukup untuk menghadapi kekuatan Thio Yu Liang? Seperti semut dengan gajah saja.
Bahkan terlalu takut dia menangis "Jangan aku, taijin .... aku . . . aku . . . tak bisa menemani taijin ..."
Thio Yu Liang tertawa-tawa, tak peduli dengan sikap si pelayan, ditariknya terus dan hatinya semakin senang saja. Justeru menjadi kegemarannya adalah gadis-gadis yang memberikan perlawanan seperti ini, untuk lebih menghangati darah dan tubuhnya. Justeru wanita yang menerima dan berdiam saja membuatnya sebal dan muak, membuatnya jadi tak terangsang.
"Thio-taijin, jam tiga kau sudah harus bersiap-siap kita berangkat jam empat!" Bilang Cu Lie Seng. Dia tawar saja menyaksikan ini sama sekali tak coba mencegah kelakuan dan perbuatan Thio Yu Liang, cuma dia mengingatkan agar Thio Yu Liang tidak lupa daratan sehingga lupa bahwa pagi ini mereka akan berangkat jam empat. Perbuatan-perbuatan seperti itu memang sudah jadi biasa di-kalangan mereka.
Thio Yu Liang tertawa. "Kongcu jangan kuatir, jam dua aku sudah siap dan selesai," Teriaknya dan masuk dalam kamarnya menyeret pelayan yang masih gadis itu.
Semua orang diruang itu tertawa, mereka asyik makan minum dan beberapa menit kemudian terdengar jerit yang cukup keras di kamar Thio Yu Liang, Siangkoan Giok Lin geleng-geleng kepala sambil tersenyum, katanya : "Akh. anak itu benar-benar tidak tahu diri, mengapa harus menjerit-jerit segala ? Bukankah Thio-taijin memberikan kesenangan kepadanya ? Oya, apakah Kongcu tak bermaksud istirahat dulu ?"
Cu Lie Seng mengangguk perlahan, dja berdiri untuk kembali ke kamarnya. Siangkoan Giok Lin segera sibuk mengirim beberapa orang pelayannya, yang semuanya masih muda dan cantik-cantik, untuk melayani putera Cu-kongkong ini. Tapi empat orang pelayan yang diutus Siangkoan Giok Lin di usir keluar oleh Cu Lie Seng, karena dia tak mau mensia-siakan latihan lwekangnya dengan main perempuan.
Ban It Say membawa dua orang pelayan yang dianggapnya paling cantik untuk menemaninya di kamar melewati waktu selama belum jam keberangkatan mereka.
Si pengemis tua yang sejak tadi berdiam diri saja, tanpa ikut bicara, cuma memandang semua yang terjadi dengan sorot mata mengiri. Setelah Cu Lie Seng, Ban It Say dan Thio Yu Liang menghilang di kamar masing-masing, si pengemis menoleh pada Siangkoan Giok Lin, yang duduk di sampingnya.
"Toako, semuanya berjalan lancar, mereka tampaknya menyukai aku dan ini sangat penting sekali, agar laporan pada Cu-kong-kong semua bernada baik." Ujar Siangkoan Giok Lin.
"Tentu saja, jasa-jasamu juga akan kulaporkan kepada Cu-kongkong kelak, untuk mendapat tempat yang layak untukmu."
Si pengemis tersenyum.
"Ya. kuharap saja kau tak melupakan aku, Siangkoan-ya," bilang si pengemis. Dia maklum, sebagai seorang yang senang bermuka-muka, seorang penjilat, niscaya Siangkoan Giok Lin selalu harus berusaha mencari jalan untuk menyenangkan orang-orang yang akan jadi "jembatan" nya untuk mencapai cita-citanya.
Siangkoan Giok Lin telah dihubungi Kaisar, diperintahkan untuk merangkul orang-orang kangouw, tentu saja Kai-sarpun sudah tahu dari laporan orang-orangnya bahwa Siangkoan Giok Lin paling pandai mengambil hati siapapun juga, ltulah sebabnya tugas ini diberikan kepada Siangkoan Giok Lin.
Namun, sebagai orang yang cerdik dan licik, Siangkoan Giok Lin tahu bahwa ia harus mendapat muka dari Cu kongkong, orang ke-biri yang paling berkuasa saat itu. Jika Cu-kongkong tak menyukainya, biarpun dia diperintahkan langsung oleh Kaisar, niscaya dirinya terancam bahaya tidak ringan, itulah sebabnya orang-orang Cu-kongkong dijamunya sebaik mungkin, berusaha menyenangkan hati mereka.
Apa lagi pada saat itu hadir Cu Lie Seng, anak Cu-kongkong, maka dia melayani, sedapat mungkin menyenangkan pemuda yang berkepandaian tinggi tersebut, agar kelak menyampaikan kata-kata yang baik tentang dirinya di hadapan Cu-kongkong. Karena itu, walaupun di rumahnya kini merupakan arena perbuatan maksiat, ia tak berusaha menghalangi, juga menyembunyikan perasaan tak senangnya. Jika bisa, dia malah ingin menganjurkan Cu Lie Seng melakukan apa saja disukainya.
Memang begitulah sifat manusia. Jika memerlukan sesuatu tentu akan berusaha menyenangkan orang yang bisa memungkinkan ia berhasil dalam mencapai cita-cita dan keperluannya. Apa pun akan dilakukan untuk menyenangkan orang yang, dianggap bisa menjadi "jembatan" untuk mencapai cita citanya. apa lagi seorang manusia hcik dan cerdik seperti Siangkoan Giok Lin, untuk mencapai cita-citanya ia tak segan-segan mengorbankan harga dirinya.
Sudah lupa apa yang disebut dosa. Sudah lupa apa yang disebut harga diri. Sudah lupa apa itu penderitaan dari korban-korban perbuatannya. Sudah lupa juga pada ancaman hukuman neraka kelak.
Yang terpenting bisa mencapai cita citanya, apapun akan dilakukannya. Dan dia bercita-cita menjadi satu-satunya orang kepercayaan Kaisar.
Sedangkan si pengemis bermuka kasar dan mesum itu tak lain dari Kiu cie Sinkay (pengemis sakti berjari sembilan) Ho Beng Su, di kaipang ia memiliki kedudukan tinggi, sebagai salah seorang Hiocu (pimpinan daerah), namun sifat tamak masih tetap bersemayam di hatinya, ia terbujuk oleh rayuan Siangkoan Giok Lin.
Karenanya juga, ia bersedia bekerjasama dengan Siangkoan Giok Lin, buat Kaisar dan kerajaan, sebab Siangkoan Giok Lin sudah membujuknya bahwa Ho Beng Su akan mendapat kedudukan sangat baik, harta dan pangkat yang akan dihadiahkan oleh Kaisar.
Manusia yang masih mengejar keduniawian, tak akan puas dengan kedudukan yang bagaimana tinggi sekalipun. Biarpun dalam kaipang Ho Beng Su memiliki kedudukan yang sudah tinggi, tapi sifat tamaknya menghendaki untuk mendapat yang lebih lagi.
la sebetulnya mempunyai cita-cita untuk merebut kedudukan Pangcu Kaipang, tapi sejauh itu usahanya tak pernah berhasil. Sebab itu dia akhirnya memutuskan untuk tunduk pada kerajaan dan nanti memanfaatkan kekuatan kerajaan untuk menggempur kaipang dan merampas kedudukan pangcu (ketua) kaipang.
Siangkoan Giok Liu yaag mengetahui cita-cita Ho Beng Su, mempergunakan kesempatan itu untuk membujuknya, menjanjikan kalau Ho Beng Su sudah memperlihatkan beberapa perbuatan yang berjasa kepada kerajaan, maka dijaminnya pihak kerajaan akan membantu dan mendukung Ho Beng Su sebagai pangcu kaipang.
Memang yang dijanjikan Siangkoan Giok Lin bukan janji kosong, kaisarpun lebih senang yang menjadi ketua berbagai perkumpulan dan pintu perguruan silat adalah orang-orang yang telah tunduk dan bekerja untuk kerajaan, sehingga tak ada kesulitan di waktu-waktu mendatang, seluruh perkembangan dalam kalangan kangouw dapat dikuasai dan dikendalikan dengan baik. Ho Beng Su memang akan didukung untuk menjadi pangcu Kaipang.
Ho Beng Su sendiri biarpun sudah mengkhianati pintu perguruannya sendiri, merasa bahwa ia tak keliru jalan, karena dia memang memiliki ambisi yang besar. Sekarang dia mengandalkan Siangkoan Giok Lin, agar dirinya bisa dekat dengan Kaisar, karena di ketahuinya Siangkoan Giok Lin belakangan ini menjadi orang kepercayaan raja untuk membujuk orang orang Kangouw.
Nanti, setelah dia bisa dekat Kaisar, Ho Beng Su akan merebut kedudukan itu, ia yang akan berusaha menjadi orang kepercayaan Kaisar. Selama itu, Ho Beng Su menyimpan saja cita cita dan rencananya, yaitu rencana untuk menjadi pangcu kaipang merangkap menjadi ketua orang-orang kangouw !
Memang demikianlah sifat-sifat orang yang memiliki jiwa dan hati kotor, selalu tak kenal puas dan jika memperoleh kesempatan pasti akan cakar-cakaran, untuk memperebutkan kedudukan, tanpa perduli lagi apakah harus mengorbankan kawan atau memang harus memusnahkan rekan-rekannya, pasti akan dilakukan apa yang dianggapnya bisa membuatnya lebih dekat dengan cita-citanya.
Kepandaian Kiu ci sin-kai sebetulnya tidak rendah, tapi sejauh itu dia tak mau memperlihatkan kepandaiannya di depan Cu Lie Seng, dia pikir pemuda angkuh itu pasti tak senang jika dia ikut-ikutan mengatur, dia membiarkan saja Cu Lie Seng mengatur dia dan reman-temannya.
Dia hanya mendengar dan memperhatikan saja, untuk ikut arus angin ke arah mana yang sekiranya bisa lebih menguntungkan kedudukannya.
Dia sebetulnya senang sekali main perempuan cantik, walaupun dalam kaipang memang terdapat peraturan keras sekali, setiap anggota kaipang dilarang mempermainkan wanita baik-baik, tapi Ho Beng Su sejak menjabat kedudukan Hio-cu kaipang, secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi seringkali mempermainkan anak isteri orang.
Pada dasarnya memang dia memiliki sifat-sifat yang tak baik dan buruk, namun orang kangouw sejauh itu belum melihat isi hati sebenarnya dari Hio-cu kaipang tersebut.
Cuma malam ini, dia mempunyai rencana lain. Yang lainnya menghabiskan waktu dengan pelayan-pelayan wanita Siangkoan Giok Lin yang cantik cantik, Ho Beng Su tidak mau mengikuti apa yang dilakukan rckan-rekannya, sebab dia ingin menyimpan tenaga.
Dia cuma berunding dengan Siangkoan Giok Lin, perihal rencana keberangkatan rombongan mereka. "Kita boleh tenang dan gembira, karena Tang San Siansu akan bersama rombongan kita!" Siangkoan Giok Lin tertawa bilang begitu pada kawannya. "Biarpun ada iblis dan jin dari neraka turun, tak mungkin ada yang sanggup mengambil daftar itu dari tangan kita, Tang San Siansu pasti tak akan meinbiarkan hal itu terjadi !"
"Ya, akupun sudah dengar kehebatan Tang San Siansu, dan sejauh ini aku belum pernah bertemu dengannya." Menyahuti Ho Beng Su dengan tawar.
Dia tidak percaya apa yang diceritakan oleh teman-temannya dalam kalangan kangouw bahwa Tang San Siansu merupakan jago nomor satu di jaman itu, biar bagaimana dia merasa itu cuma hanya cerita yang terlalu dilebih-lebihkan. Karenanya hatinya mendongkol melihat Siangkoan Giok Lin begitu kegirangan dan yakin dengan adanya Tang San-Siansu rombongan mereka tak akan menghadapi kesulitan apa-apa.
Sampai jauh malam kedua sahabat itu, bercakap-cakap, membicarakan rencana-rencana mereka selanjutnya setelah tiba dikota raja.
Tapi, tanpa mereka ketahui sepasang mata bersinar tajam tengah mengawasi mereka dari luar jendela, mengintai dengan sikap hati-hati. Sebagian dari percakapan mereka telah didengarnya, tapi sebagian lagi tak terdengar olehnya, karena tadi waktu Cu Lie Seng memberitahukan rencana perjalanan mereka kepada kawan-kawannya. suaranya perlahan sekali.
Setelah melihat Ho-Beng Su dan Siangkoan Giok Lin berdua yang tertinggal diruang tersebut, orang yang mengintai itu, yang berpakaian penuh tambalan, dengan langkah sangat ringan meninggalkan jendela, berindap-indap mencari kamar Cu Lie Seng!
Waktu melewati jendela, Ban It Say, di dengarnya suara isak tangis wanita diseling oleh suara tertawa senang Ban It Say dan juga bujuk rayunya, Orang itu yang tak lain pengemis tua yang tadi telah mempermainkan pelayan Siangkoan Giok Lin, merasa sebel dan tubuhnya ringan sekali menjauhi jendela itu, menghampiri jendela kamar yang lainnya.
Kembali didengar suara lenawa cekikikan dari Thio Yu Liang dan wanita yang tadi diseret masuk ke dalam kamar. Rupanya Thio Yu Liang pandai sekali membujuk gadis pelayan yang tadi begitu ketakutan dan menjerit ketika berada didalam kamar berdua Thio Yu Liang kini sudah jinak dan tertawa cekikikan berdua dengannya.
Pengemis tua itu tidak berhenti di jendela kamar Thio Yu Liang, ringan sekali langkah kakinya, tubuhnya meloncat ke dekat jendela kamar lainnya, dia mendekati jendela itu hati-hati, karena dia yakin inilah jendala dari kamar yang ditempati oleh Cu Lie Seng.
Tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia merapatkan diri di dekat jendela mengintai ke dalam.
Dugaaannya tidak salah, itulah kamar Cu Lie Seng. Pemuda bangsawan itu tengah duduk bersemedhi di pembaringan, untuk mengatur pernapasannya. Matanya terpejamkan. Si pengemis mengerutkan alisnya, diam-diam dia kagum bahwa dalam usia semuda itu Cu Lie Seng dapat mengatasi diri tak terlibat dalam urusan wanita.
Hal ini memang memungkinkan Cu Lie Seng mencapai kemajuan yang lebih cepat dalam latihan tenaga dalamnya.
Mendadak terdengar suara tertawa dari arah sebelah kanan, cepat-cepat si pengemis tua melompat ke langkah wuwungan, bersembunyi di situ, Dua orang pelayan Siankoan Giok Lin muncul dari arah dapur sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Mereka tampaknya senang sekali, membicarakan perihal kelakuan tamu-tamu terhormat dari majikannya, yang ternyata hampir semuanya doyan wanita cantik.
Setelah kedua pelayan itu menjauh, si pengemis tua meloncat turun kembali ke tanah. Dia bermaksud hendak, mengintai lagi, Waktu itulah terdengar: "Sahabat, mengapa tidak masuk saja?"
Kaget pengemis tua ini, tak disangkanya Cu Lie Seng memiliki pendengaran begitu tajam dan sudah mengetahui kehadirannya. Dia cepat-cepat meloncat hendak menjauhi, tapi daun jendela sudah terbuka, disusul melesat keluar sesosok tubuh gesit sekali. ltulah Cu Lie Seng.

This entry was posted on Senin, Agustus 02, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar