Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 20
Belum jauh gadis itu menjalankan keledainya. mendadak lompat seseorang ke tengah jalan menghalangi jalan maju keledai si gadis, kedua tangannya memegang tali les keledai. Oang itu bertubuh tinggi besar, mukanya brewok lebat, matanya memancarkan kekejaman hatinya.
"Anak manis, tampaknya kau memiliki banyak uang, aku Si Kadal Tua Lo Pi sedang kesulitan uang, anakku sedang sakit dan harap nona berbaik hati untuk membagi uang kepadaku."
Dia bicara dengan suara yang kaku dan nyengir-nyengir mengancam, matanya yang menunjukkan kekejaman hatinyapun memandang dengan sikap yang sangat kurangajar sekali.
Si gadis baju merah duduk di atas keledainya tenang-tenang, sejak tadi dia bersikap gembira dan riang, baru sekarang alisnya mengkerut sedikit. Dia tidak senang atas sikap lancang si Kadal Tua Lo Pi, tapi dia tak marah.
"Berapa usia anakmu, paman Lo Pi ? Sudan dibawa ke tabib?" tanyanya sabar.
"Belum. Aku tidak punya uang. Tadi kulihat kau membeli semangka tanpa tawar dan kemudian menghadiahkan sebuah semangka buat pengemis busuk cilik itu, maka kupikir nona tentu banyak uang dan aku minta agar kau mau membagi uang kepadaku. Tentunya nona manis tak keberatan, bukan?"
Si Kadal Tua Lo Pi sebetulnya buaya darat di kota itu, dia jagoan di kota tersebut karena memiliki sedikit ilmu silat. Setiap hari malang melintang di kota itu memeras pemilik-pemilik toko dan orang orang kaya.
Sedangkan pihak kepolisian tidak berdaya berurusan dengannya, karena memang si Kadal tua Lo Pi mempunyai anak buah sangat banyak jumlahnya, jika dia ditangkap para anak buahnya selalu menimbulkan kerusuhan di kota tersebut. Memang sebelumnya si Kadal Tua Lo Pi pernah ditahan polisi. tapi berakibatnya pengacauan yang menimbulkan kerusuhan buat penduduk kora Yang-cu, banyak warga kota itu yang terluka oleh sepak terjang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, maka akhirnya pihak yang berwajib melepaskan Lo Pi dari tahanan.
Semakin lama memang Lo Pi semakin berani dan kurang ajar. sehingga banyak penduduk kota itu yang menjadi korban pemerasannya yang semakin terang-terangan. Kebetulan tadi dia berada di situ dan menyaksikan apa yang dilakukan gadis itu, maka pikirnya gadis cantik ini pasti korban yarg empuk sekali untuk diperas. Banyak perhiasan yang dipakai gadis itu yang nilainya tentu lebih dari ribuan tail perak.
"Kasihan, sudah berapa hari anakmu itu sakit, Lopeh?" tanya gadis itu sambil mero-go kantong uangnya.
"Sudah . . . seminggu," jawab si Kadal Tua Lo Pi, m-itanya melirik ke arah kantong uang gadis itu, isinya tentu padat dan penuh karena tampaknya kantong uang itu cukup berat, Tangannya jadi gatal, mendadak dia menyambar merampas kantong uang itu. Si gadis tak menyangka memandang heran pada Lo Pi, yang waktu itu sudah berhasil mengambil kantong uang si gadis dan melihat isi nya.
Benar saja, isinya penuh sekali dengan uang uang logam emas dan perak. Muka si Kadal Tua jadi berseri-seri kegirangan. "Kukira sudah cukup uang ini, nona cantik. Semoga kau tambah cantik." Dia memasukkan kantong uang itu ke dalam sakunya.
Alis si gadis naik, dia mendongkol untuk kelancangan si Kadal Tua. Tadi dia tak menyangka si Kadal Tua Lo Pi akan bertindak seperti itu maka kantong uangnya kena dirampas.
Dilihatnya Lo Pi melangkih meninggalkannya sambil tertawa bergelak-gelak kegirangan. Orang-orang yang ada di tepi jalan raya yang menyaksikan kejadian tersebut tak seorangpun berani maju untuk menegur si Kadal Tua Lo Pi, mereka diam saja karena tahu penyakit kalau berurusan deugan si Kadal Tua yang memang menjagoi kota itu dengan ilmu silatnya.
"Hei, mau kau bawa kemana uangku?" bentak gadis itu, tubuhnya ringan turun dari keledainya. Tangannya tahu-tahu diulur menjambak pundak Lo Pi. Keras cengkeram jari-jari tangannya, sebab Lo Pi tahu-tahu merasakan pundaknya sangat sakit, membuat dia meringis. Belum lagi Lo Pi menyadari apa yang terjadi, tubuhnya tiba-tiba melayang di tengah udara dan terbanting keras sekali di jalan raya sampai debu mengepul tinggi, Lo Pi berkelojotan kesakitan pinggulnya menghantam batu jalan, matanya sampai mendelik seperti biji matanya itu mau meloncat keluar sakitnya bukan main terbanting seperti itu, pinggangnya juga seperti mau patah.
Tapi dia satu jagoan, dia cepat bisa bangun berdiri biarpun mukanya meringis menahan sakit, mengawasi bengis kepada si gadis. Mendadak dia bengong heran, karena si gadis dilihatnya berdiri tenang di tempatnya, sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri. Mulutnya tersenyum-senyum dan mengawasi si kadal Tua seakan anak-anak yang merasa senang serta bangga karena menang main kelereng.
Ditangannya tampak kantong uang nya yang dilempar-lempar rendah dan ditangkap berulang kali.
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik saja, tadi gadis itu selain bisa membanting tubuh si Kadal Tua yang tinggi besar dan sangat berat, juga tangannya begitu cepat bisa mengambil kembali kantong uang nya dari saku baju si Kadal Tua, dalam sekejap mata kantong uang itu sudah pindah tangan lagi tanpa ada seorangpun yang bisa menyaksikan dengan cara bagaimana gadis itu merogoh saku baju si Kadal Tua mengambil kantong uangnya.
Orang-orang yang berkumpul disitu lupa dan bersorak ramai, tapi waktu Lo Pi mengawasi sekeliling dengan maia mendelik kelam, seketika suara sorak-sorai itu lenyap, sunyi senyap, kuncup hati orang-orang yang berkerumun di tepi jalan menyaksikan keadaan itu.
Kemudian dengan langkah lebar Lo pi menghampiri gadis cantik itu dengan sikap mengancam, membuat semua orang yang ada di situ sangat kuatir buat keselamatan si gadis baju merah.
"Budak hina, rupanya kau mau mampus kuhajar, ya?! "memaki Lo Pi siap untuk memukul si gadis.
Gadis baju merah itu tetap berdiri tenang di tempatnya, sedikitpun tidak gentar oleh gertakan Lo Pi, malah mulutnya tetap tersenyum-senyum. "Masih kurang cuma dibanting seperti tadi dan minta tambah lagi?", tanyanya mengejek.
"Kalau kau menginginkan uangku. beritahukan saja tadi padaku, akan kuberikan. Tidak perlu kau rampas dengan sikap lancang kurang-ajar seperti tadi! Sekarang, biarpun kau menginginkan satu ci, tak akan kuberikan, walaupun kau berlutut sambil menangis air mata darah di kakiku!"
"Budak hina beritahukan namamu! "bentak Lo Pi. ..Sebelum mampus, dengarlah baik-baik siapa aku, agar nanti di depan Gam-lo-ong kau bisa memberitahukan siapa yang mengirim kau ke neraka! Aku si Kadal Tua Lo Pi adalah raja di kota ini, tak seorangpun berani membantah atau membangkang terhadgp setiap perintah dan keinginanku. Kau berani berlaku kurang ajar menantang di depanku- apakah sudah punya tiga kepala dan enam tangan?"
"Hemmm, melihat kelakuan buruk seperti kau ini jelas kau bukan manusia baik, setidak-tidaknya pasti kau manusia busuk yang jahat Apa yang kau ceritakan tadi bahwa anakmu sakit pasti cerita bohong saja. Justeru sekarang kau yang harus mendengar baik-baik namaku, agar nanti kau tidak penasaran Aku she Cu, namaku Bunga Kecil Cukup jelas? Cu Siauw Hoa! Nah, ingat baik baik nama itu kalau kelak kau ingin melakukan kejahatan lagi, agar lebih hati-hati tidak bertindak ceroboh seperti tadi"
Si Kadal Tua Lo Pi yang selalu kata-katanya ditanggapinya oleh gadis itu semakin gusar saja, tubuhnya menggigil menahan marah. Selama menjagoi di kota Yang-cu belum pernah ada orang yang berani memakinya, biasanya dia yang seenak perutnya memaki siapa saja yang tak disenanginya, atau kalau perlu dia akan menghajarnya dan menyiksa orang yang jadi korbannya.
Tapi sekarang gadis muda ini berani menantangnya, mengejeknya malah. Dia mendelik sambil melangkah maju, mulutnya mempedengarkan tertawa bergelak-gelak mengandung kekejaman dan ancaman yang menakutkan. Waktu sampai di depan si gadis, tangan kanannya di-ayun akan memukul muka yang putih mulus itu, tangan kirinya menjambak payudara si gadis, dada yang begitu membusung padat berisi, maksudnya ingin berlaku kurangajar.
Si Kadal Tua Lo Pi sekali ini keliru dengan tindakannya. Masih bagus kalau tadi dia tidak menyerang dengan tangan kirinya ke dada si gadis yang membusung padat berisi itu, cukup ingin menampar muka gadis itu, mungkin dia tak akan mengalami kecelakaan. Sekarang justeru jadi lain. Gadis ini mendongkol bukan main melihat keceriwisan si Kadal Tua. Tahu- tahu tubuh si gadis lenyap dari depan si Kadal Tua, karena loncatannya sangat gesit sukar dilihat jelas, hanya gumpalan merah saja. Tangan kanan Lo Pi yang memukul mukanya dielakkan, tangan kanan itu dibiarkan lewat disamping mukanya, kemudian cepat tangan kiri si Kadal Tua Lo Pi yang mau berbuat kurang ajar telah dicengkeram, terdengar suara "krakkkkk krakkkkk ..."* disusul oleh jerit kesakitan si Kadal Tua Lo Pi, bahkan kemudian tubuhnya terbang ke tengah udara, tak bisa ditahan lagi kebanting kuat di batu jalan raya, menggelepar-gelepar berkelojotan dengan mata mendelik lidah terjulur keluar seperti anjing yang kecapaian.
Matanya ber-kunang-kunang dan menjadi gelap tak bisa melihat apapun, ditambah menderita kesakitan akibat tulang siku tangannya yang kiri telah patah!
Gadis baju merah itu masih berdiri tenang di tempatnya, seperti tidak terjadi sesuatu di situ, hanya tangan kanannya dengan jari-jari yang lentik bentuknya serta runcirg mengebut-ngebut perlahan bajunya, yang mungkin ditempel debu. Perlahan-lahan dia menghampiri keledainya tidak perduli pada si Kadal Tua Lo Pi lagi, melompat naik ke atas keledainya.
Si Kadal Tua Lo Pi kesakitan dan penasaran, dia belum kapok. Kalau memang dia seorang yang mudah menyerah pada kesulitan, tentu tak mungkin bisa menempatkan dirinya jadi jagoan di kota Yang cu.
Biarpun matanya masih kunang-kunang gelap, tangannya sakit bukan main, dia masih memaksakan diri untuk bangun. Tubuhnya bergoyang-goyang akan jatuh, tapi mati-matian dia berusaha menahan dengan kuda-kuda ke dua kakinya agar tidak rubuh lagi. Semua orang yang berkumpul di sekitar tempat ini hanya menyaksikan berdiam diri, mereka takut untuk bersorak atau juga mengejek sang jagoan yang baru saja dipecundangi gadis cantik manis yang semula tak disangka orang memiliki ilmu yang sam at tinggi.
Si Kadal Tua Lo Pi berteriak nyaring. "Mengapa kalian diam saja, goblok ? Hayo-mampuskan budak hina itu! Cingcang tubuhnya hancur lumat jadi bubur !" Suara Lo Pi menggema di sekitar tempat itu, karena dia berteriak sekuat suaranya.
Menyusul itu belasan sosok bayangan melompat ke tengah jalan raya menghalang di depan keledai si gadis. Di tangan masing-masing mencekal berbagai senjata tajam, seperti pedang, golok, tongkat. ioya pendek ataupun trisula. Semuanya laki-laki bertubuh tinggi besar dan memiliki tampang muka bukan orang baik-baik.
Rupanya mereka anak buah Si Kadal Tua Lo Pi, yang sejak tadi cuma berdiri bengong melihat pemimpin mereka dipecundangi. Memang sebagai seorang jagoan Lo Pi mempunyai banyak sekali anak buah, yang selalu berkeliaran bersamanya, berada tak jauh dari Si Kadal Tua Lo Pi, Begitu dia berteriak menganjurkan untuk meT cingcang tubuh gadis cantik manis itu, segera anak buahnya yang sejak tadi sudah ada di situ berduyun-duyun lompat buat menghalangi kepergian gadis itu, yang tak lain Cu Siauw Hoa. adik kandung Cu Lie Seng, puteri kesayangan Cu-kongkong, yang kebetulan berada di Yang-cu karena ikut kakaknya, Cu Lie Seng, menginap di rumah Sam-cong-tok.
Jika Cu Lie Seng selalu sibuk mengurusi orang-orang Kangouw dengan para anak buahnya yang lihai-lihai, justeru Siauw,Hoa setiap hari menghabiskan waktunya untuk main-main, pergi ke tempat-tempat yang indah pemandangan alamnya, memetik bunga yang menarik hati atau juga melihat-lihat keadaan kota itu.
Siapa sangka, hari ini justeru ia dihalangi oleh si Kadal Tua Lo Pi, yang mau merampas kantong uangnya. Siauw Hoa pikir cukup memberi pelajaran pahit pada Lo Pi dengan membantingnya satu kali. Siapa tahu Lo Pi tidak kenal kapok dan terlalu nekad, malah ingin berbuat karang ajar untuk meremas dadanya yang membusung padat dengan tangan kirinya.
Naik darah Siauw Hoa, jadi marah campur benci, itulah sebabnya dia turun tangan langsung mematahkan tangan kiri si Kadal Tua Lo Pi. Tidak disangkanya, si Kadal Tua Lo Pi mempunyai anak buah banyak jumlahnya, sekarang saja belasan orang anak buah jagoan itu sudah mengurungnya dengan senjata siap tergenggam di tangan masing-masing untuk menyerangnya.
Siauw Hoa menahan keledainya, duduk di atas tunggangannya tenang sekali, matanya menyapu mengawasi satu persatu anak buah si Kadal Tua Lo Pi. Tak ada seorangpun di antara anak buah Lo Pi yang memiliki muka yang baik, semuanya tampang jahat dan bengis Juga sinar mata mereka rakus sekali seperti mau melahap bulat-bulat keindahan bentuk tubuh maupun kecantikan wajah Siauw Hoa.
Cuma saja tadi dia sudah menghajar Lo Pi, anak buah jagoan itu tidak berani ceroboh untuk berlaku kurang ajar padanya, Mengandalkan jumlah banyak anak buah Lo Pi yakin bisa menangkap hidup-hidup Siauw Hoa, yang nanti akan mereka giliran untuk memperkosanya. Mereka merasa sayang kalau harus membunuh wanita secantik Siauw Hoa.
Tenang sekali Siauw Hoa turun dari keledainya, dia kuatir kalau tetap duduk di keledainya orang-orang Lo Pi menyerangnya, sehingga melukai keledainya. Untuk dirinya memang tidak perlu gentar, karena yakin tak mungkin anak buah si Kadal Tua Lo Pi bisa melukainya, berapa banyakpun jumlah mereka. Yang dikuatirkan Siauw Hoa adalah keselamatan keledai tunggangannya.
"Apa lagi yang kalian ingini dariku?" tanya Siauw Hoa tenang dan sabar, sedikitpun tidak tampak rasa takut. "Jangan cari kesulitan untuk kalian. Bubarlah !"
Anak buah si Kadal Tua Lo Pi tampak saling melirik di antara kawannya dan tertawa-tawa. Mereka anggap perkataan si gadis lucu sekali, karena janganlah menghadapi belasan orang, melawan empat atau lima orang dari rombongan mereka si gadis pasti sudah dapat dibekuk.
Biarpun gadis ini memiliki kepandaian tinggi, tetap saja dia wanita, yang tenaganya terbatas. Dikeroyok demikian banyak orang, biarpun si gadis ditambah lagi sepasang tangan, tidak nanti bisa menghadapi rombongan mereka. Anak buah si Kadal Toa Lo Pi jadi semakin berani, sikap mereka mulai kurang ajar cengar-cengir di depan si gadis.
Si Kadal Tua Lo Pi sakit hati tangannya di patahkan Siauw Hoa, jadi gusar dan sangat marah melihat anak buahnya semua cengar-cengir seperti kuda yang diberi bawang. "Mengapa kalian tidak turun tangan hanya bengong seperti orang tolol ?" Teriak si Kadal Tua mendongkol, suaranya bengis menakutkan.
Anak buah Lo Pi kaget, semuanya seperti baru ingat tugas tugas mereka. Tidak buang waktu lagi karena telah dibentak bengis seperti itu oleh Lo Pi, mereka meloncat maju kedepan, menusuk, menikam, membacok, menotok dan memukul dengan toya-pedang, golok dan macam- macam senjata tajam lainnya yang menghujani Siauw Hoa.
Penduduk kota itu yang menyaksikan keadaan seperti ini jidi menjerit kaget, mereka sangat kuatir keselamatan gadis baja merah ini, juga merasa ngeri dan takut melihat senjata-senjata tajam itu sudah menyambar menghujani tubuh si gadis.
Mereka tak bisa membayangkan, entah bagaimana jadinya kalau senjata-senjata itu berhasil menyerang sasarannya, pasti tubuh si gadis benar benar hancur menjadi bubur dicingcang oleh senjata-senjata tersebut.
Gadis baju merah ini tenang-tenang di-tempatnya, dia menanti senjata-senjata lawan-lawannya datang dekat baru mau menghindarkan dan menangkisnya. Namun, belum lagi Siauw Hoa menangkis atau mengelakkan senjata lawan, tahu tahu berkelebat sesosok bayangan, disusul dengan suara berkerontangan karena senjata-senjata anak buah si Kadal Tua Lo Pi sudah pindah tangan dirampas oleh sosok bayangan yang baru datang.
Semuanya melompat mundur diiringi teriakan kaget campur marah, Mereka akhirnya melihat di tempat itu sudah tambah seorang pemuda berumur tidak lebih dari 20 tahun, mulanya tampan, di tangannya memegang belasan batang senjata mereka, yang tadi telah dirampasnya.
Siauw Hoa juga kaget dan heran, dia tidak kenal pemuda yang menolonginya. Di-awasinya dengan heran, tapi gadis ini jadi malu karena pemuda itupun sedang mengawasinya dan malah mengangguk waktu Siauw Hoa memandang kepadanya.
Entah mengapa mendadak saja hati Siauw Hoa jadi berdebar-debar. Dia tahu pemuda ini tentunya menolonginya karena melihat dia dikepung oleh belasan orang yang hendak mencelakainya, namun maksud baik pemuda ini sempat membuat hati si gadis berdebar-debar. Biasanya orang menghormatinya, apa yang dilakukan untuk bermuka-muka. Berbeda dengan yang dilakukan pemuda tak dikenal ini. sehingga membuat si gadis merasakan suatu debaran hati yang yang lain, apa lagi memang pemuda inipun tampak gagah.
"Bocah ingusan, kau berani kurang ajar pada kami dan mau mampus rupanya?!" Teriak beberapa orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, bengis mengandung ancaman untuk menyerang.
"Cincang dua-duanya !" Si Kadal Tua Lo Pi memberikan perintah, karena dilihatnya semua anak buahnya cuma bengong-bengong saja tidak segera menyerang.
Mendapat dorongan dari pemimpin mereka, anak buah si Kadal Tua Lo Pi tidak berani main lambat-lambatan lagi, mereka segera menyerbu kepada si pemuda tampan yang sudah merampas senjata mereka, sehingga pemuda itupun tidak sempat untuk bicara sepatah dua patah kata dengan Siauw Hoa, sebab dia diserbu belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi. Belasan batang senjata tajam yang tadi dirampasnya, telah dilemparkan ke samping, dibuang ko tepi jalan, sedangkan kedua tangannya yang sudah kosong dipergunakan untuk menjambak kesana - kemari cepat luar biasa, tahu-tahu tubuh- tubuh beterbangan.
Anak buah si Kadal Tua Lo Pi satu persatu dilemparkan ke tengah udara, jatuh terbanting di jalan raya tidak bisa bergerak lagi, pingsan tak sadarkan diri ! Singkat sekali waktu yang di pergunakan pemuda itu, karena belasan orang itu seketika telah dilamparkan semua, jatuh pingsan.
Yang masih bernasib bagus terbanting dan tidak pingsan, segera angkat kaki, kabur, biarpun Lo Pi , berteriak-teriak menganjurkan menyerang lagi.
Pemuda itu menoleh kepada Siauw Hoa, tersenyum penuh persahabatan. "Nona, kau tidak apa-apa ?"
Siauw Hoa waktu itu tengah berdiri keheranan melihat ketangkasan pemuda ini.
Melihat gerakannya yang sangat gesit dan tangannya yang lincah, pemuda ini pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tadi dia begitu mudah merampas belasan senjata dari belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi. sebagian besar sampai pingsan tak sadarkan diri.
Di dalam hati Siauw Hoa kagum sekali pada ketangkasan pemuda itu, juga mengakui bahwa kepandaiannya tidak sehebat pemuda ini. Mendadak pemuda itu menoleh padanya menanyakan keadaannya, muka si gadis jadi berobah merah, dia menggeleng sambil mengawasi dengan perasaan berterima kasih.
Sebetulnya dia memang tidak gentar menghadapi belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, karena dia yakin bisa mengatasi mereka dengan mudah. Tidak urung pertolongan pemuda ini membuat dia berterima kasih. Apalagi tampaknya pemuda ini sangat menguatirkan keselamatannya, maka ia semakin berterima kasih.
Mengetahui gadis itu tidak mengalami kekurangan apa-apa. si pemuda jadi tersenyum senang. Tahu-tahu tubuhnya meloncat gesit sekali dan sudah berada di samping si Kadal Tua Lo Pi. Tidak bicara lagi pemuda itu sudah memukul dada Lo Pi, sehingga terpental keras terpelanting bergulingan di jalan raya dengan mata mendelik, mulut terbuka dan lidah terjulur keluar, reban tak bergerak lagi, pingsan tak sadarkan diri.
"Orang-orang jahat tidak tahu malu, hanya berani menghina wanita saja !" menggumam pemuda itu sambil memutar lubah tidak perduli lagi pada Lo Pi dari anak buahnya yang menggeletak pingsan tercecer di jalan raya, dia melangkah menghampiri Siauw Hoa. "Sayang aku tiba di tempat ini terlambat sehingga nona dikagetkan oleh orang-orang jahat tidak tahu malu ini. Apakah tidak ada sesuatu yang kurang, nona ?"
Siauw Hoa merangkapkan tangan memberi hormat pada pemuda itu. "Terima kasih atas pertolonganmu. Apakah boleh kuketahui tuan penolongku?" Polos dan lancar cara bicara maupun sikap Siauw Hoa, sikap seorang wanita yang biasa berkelana di dalam kalangan kangouw, tidak malu-malu atau canggung seperti wanita-wanita umumnya yang tak mempelajari ilmu silat.
"Aku Giok Han," memberitahukan pemuda itu, yang memang tak lain Giok Han, kebetulan dia lewat di kota Yang-cu setelah tak berhasil mencari si pengemis yang ternyata seorang gadis. Sedang melewati jalan raya itu dilihatnya ramai-ramai orang berkerumun, maka segera dihampirinya. Begitu melihat belasan orang mengurung seorang gadis, di tangan belasan orang iu juga masing-masing tergenggam senjata tajam yang siap dipergunakan.
Darah Giok Han seketika meluap, apalagi memang dilihatnya belasan orang itu yang semuanya bertampang bukan orang baik-baik, sudah meloncat maju untuk mencelakai gadis ysng sangat cantik manis itu. Tidak buang waktu lagi Giok Han meloncat untuk menolongi gadis itu. "Bolehkah aku mengerahui nama nona dan mengapa mereka hendak mengganggumu?"
"Aku Cu Siauw Hoa," menyahuti Siauw Hoa. "Aku sendiri tak tahu mengapa mereka hendak menggangguku. Tadinya, dia si Kadal Tua Lo Pi hendak merampas kantong uangku, tapi dia sudah kuhajar dan mungkin penasaran dia memanggil anak buahnya agar mencincang hancur tubuhku menjadi bubur! "
"Manusia jahat...." mengguman Giok Han mendongkol dan melirik pada si Kadal Tua Lo Pi yang masih menggeletak pingsan dengan mata mendelik dan lidah terjulur. Badannya diam tidak berkelojotan seperti tadi. Kemudian Giok Han baru menoleh lagi pada Siauw Hoa, diam-diam hatinya memuji kecantikan wajah gadis di depannya. Jarang ada gadis jang secantik Siauw Hoa. "Nona mau pergi kemana?"
"Aku sedang melihat-lihat keramaian kota. Untuk sementara aku memang tinggal di kota ini menumpang di rumah seorang sahabat ayahku. Kau sendiri mau pergi kemana?" balik bertanya Siauw Hoa, senang dia ber-cakap-cakap dengan pemuda yang sopan tapi jujur dan polos cara bicaranya, tidak bermuka-muka, bicara wajar dan sikapnya biasa saja.
"Aku baru tiba di kota ini dan kebetulan melihat kau ingin diganggu oleh orang-orang jahat itu, Cu-kouwnio..."
"Dan kau segera turun tangan menolongiku, Giok-kongcu?" memotong Siauw Hoa sambil teriawa. Giok Han juga tertawa. Walaupun mereka baru berkenalan, tapi mereka bisa bercakap cakap sangat akrab, seperti sahabat iama tak perduli orang-orang yang berkerumun tengah mengawasi mereka.
"Oya. tadi kau bilang baru tiba di kota ini dan belum lagi sempat kemana mana karena harus menolongiku, maka aku yakin kau pasti melupakan sesuatu!"
"Melupakan sesuatu? Apa maksud Cu-kouwnio?" Heran dan tidak mengerti pemuda ini atas perkataan Siaw Hoa.
"Kau tidak ingat? Coba pikir-pikir, apa yang sudah kau lupakan? Liharlah matahari suduh naik tinggi sekali ..."
GioK Han menengok ke atas, dia melihat matahari memang sudah tinggi, hari telah mendekati lohor. Tapi dia tidak mengerti apa maksud gadis ini dengan memberitahukan padanya tentang matahari yang sudah naik tinggi seperti itu. Apa yaag telah dilupakannya?
"Kau tidak ingat juga?" tanya Siauw Hoa sambil tertawa geli melihat muka Giok Han seperti kebingungan.
Giok Han menggeleng. "Benar. Aku tak tahu apa yang dimaksudkan Cu-kouwnio." jawabnya.
"Perutmu! Bukankah kau sekarang belum makan? Bukankah tadi kau bilang baru saja tiba di kota ini dan melihat aku ingin diganggu orang jahat, sehingga kau cepat-cepat turun tangan menolongiku. Pasti kau belum sempat mencari rumah penginapan, juga belum makan!"
Giok Han tertawa keras mendengar keterangan si gadis, benar-benar jenaka gadis ini. Tak salah dugaan gadis itu dia memang belum makan. "Tidak salah, Cu kounio. Aku memang belum makan," katanya polos. "Dan kau tentunya sudah lapar."
"Aku ingin mentraktir kau makan, karena tadi kau telah menolongiku."
"Terima kasih, jangan merepotkan nona."
"Jangan menolak ini sebagai pernyataan terima kasihku, juga untuk mengikat tali persahabatan. Kalau kau menolak kutraktir, berarti kau tak mau bersahabat denganku."
Giok Han tahu tak mungkin menolak, karena bisa menyinggung perasaan si gadis. Dia mengangguk "Baiklah, kita makan di mana ?"
"Ayo ikut denganku, akan kujamu kau dengan makanan yang terlezat di kota ini!" Siauw Hoa menuntun keledainya, Giok Han ikut di belakangnya dengan hati bimbang. Gadis ini baru dikenalnya, tapi ia demikian baik hati, sampai persoalan makan saja diperhatikannya. Sebetulnya Giok Han merasa agak canggung diktraktir gadis itu, diapun tak berdaya untuk menolaknya.
Siauw Hoa mengajak si pemuda ke rumah makan yang memasang merek "Fang hsiang-louw", sebuah ruman makan bertingkat dua dan ramai oleh pengunjungnya Di sana tampak banyak kuda yang ditambat pada depan rumah makan itu dengan seorang pelayan siap menyambut tamu.
Keledai Siauw Hoa telah disambut oleh pelayan itu, yang juga mempersilahkan mereka masuk. Gadis ini berpakaian mewah seperti puteri dan keluarga bangsawan, tak mengherankan kalau pelayan itu bersikap sangat menghormat.
Bukankah di dunia ini segalanya memang selalu dinilai untuk awalnya dari luar. Jika berpakaian mentereng dan mewah, tentu akan dilayani oleh setiap orang dengan hormat, baik pelayan rumah makan, rumah penginapan, ataupun pelayan-pelayan toko, pasti akan melayani mereka, yang lebih diutamakan dari mereka yang berpakaian sederhana ?
Ini sudah hukum dunia, cuma Giok Han merasa muak melihat sikap pelayan yang terlalu menghormat dengan dibuat-buat, demikian juga dua orang pelayan di ruang dalam yang menyambut mereka Giok Han berpakaian sederhana, tani ia berjalan dengan nona cantik berpakaian mentereng ini. iapun dihormat dengan sikap yang berlebihan dari pelayan-pelayan itu.
Di dalam ruang makan penuh oleh tamu, suara mereka juga berisik. Giok Han dnn Siauw Hoa dipersilahkan duduk di sebuah meja yang masih kosong. Si gadis segera memesan bermacam-macam makanan. Lidah ayam cah, kaki ayam tim kolesom, kodok goreng cara Souwciu, ikan gurame masak jamur..." banyak sekali makanan yang dipesan si gadis, semuanya merupakan makanan yang mahal-mahal dan belum pernah didengar Giok Han sebelumnya.
"Rupanya kau ahli makan Cukouwnio," kata Giok Han sambil tertawa setelah si pelayan pergi tergopoh-gopoh untuk mempersiapkan pesanannya yang serba istimewa ini.
"Kau seperti hafal dan kenal semua makanan yang istimewa, rupanya setiap hari memang kau bersantap dengan sayur-sayur seperti itu."
"Kau tahu tidah ayam cah merupakan makanan kegemaranku, sedangkan kodok goreng cara Souwcu makanan yang paling lezat di dunia, tak ada duanya. Nanti kau boleh buktikan." Siauw Hoa mengerling manis, tersenyum memikat dan bibirnya yang tipis kecil itu tersenyum menambah cantik gadis ini.
"Aku belum pernah mendengar nama-nama makanan yang kau pesan tadi, apa lagi memakannya. Karenanya, aku tak tahu bagaimana rasa makanan itu." Giok Han polos-mengakui. "Tapi kukira, semua makanan yang kau pesan itu pasti mahal sekali."
"Soal uang tak jadi soal, asal memang cocok dengan selera kita. Itu adalah pepatah yang biasa dipergunakan oleh para ahli makan. Ku kira memang tak salah kata-kata itu, setiapkali kita makan, tentu kita mau makan yang enak-enak, bukan?"
Giok Han tersenyum tak menyahuti. Gadis ini memang luar biasa. Sikapnya selalu lincah dan riang. Mereka baru berkenalan, tapi gadis ini tak canggung dan bersikap seakan mereka sudah bersahabat karib. Melihat dandanannya, tentu dia bukan gadis sembarangan, setidak-tidiknya dia puteri seorang kaya raya. Tapi mengapa dia berkeliaran seorang diri ? Juga, dia tampaknya memiliki ilmu silat yang tidak rendah, karena tadi waktu menghadapi Lo pi dia pun sanggup merubuhkan jagoan itu. Siapakah dia sebenarnya ? Siapa ayahnya? Apakah seorang hartawan atau seorang pembesar negeri ?
Makanan yang dipesan si gadis cepat sekali sudah disajikan, satu meja penuh. Giok Han merasa kenyang sebelum memakannya, melihat makanan demikian banyak, lenyap selera makannya, karena dia sendiri jadi bingung, tak tahu yang mana harus dimakan lebih dulu.
Siauw Hoa sudah mulai menyumpit jamur di masakan ikan gurame, mulutnya yang tipis bagus itu kecap-kecip tampaknya dia tengah merasakan apakah masakan ini cukup asam-garamnya. Kemudian meng-angguk-angguk. "Koki rumah makan ini cukup pandai, cuma sayangnya jamurnya terlalu lama digodok dalam masakan ini. Seharusnya dia memasukkannya 2 menit setelah ikan gurame ini hendak diangkat."
"Rupanya nonapun ahli memasak," memuji Giok Han. "Kau mengetahui masakan dengan baik, sampai hal yang sekecil-kecilnya kesalahan yang dilakukan koki, kau mengetahuinya."
"Aku memang senang memasak, jika di rumah aku sering memasakan untuk ayah. Ayah selalu memuji bahwa masakanku jauh lebih lezat dari makanan manapun," menyahuti si gadis bangga. "Oya, apakah ibumu tak pernah membuatkan masakan-masakan seperti ini ?"
Giok Han tertegun. Sejak kecil dia tak pernah lagi merasakan kasih sayang ayah ibunya, bahkan waktu kecil itu dia sudah terancam jiwanya oleh orang-orang Cu-kongkong.
Kedua orang tuanya dan juga keluarganya telah dibinasakan oleh kaki-tangan Cu-kong-kong. cuma dia seorang yang bisa diselamatkan jangankan mencicipi masakan ibunya, mendengar kata-kata yang manis memanjakan dari ibunya sudah tak pernah lagi setelah peristiwa menyedihkan hari itu.
Hidupnya selalu dikejar-kejar ketakutan, juga tertekan oleh kesedihan jika teringat pada peristiwa yang terjadi di keluarganya. Hidup di bawah bimbingan yang keras dan disiplin. Terlebih lagi setelah berdiam di Siauw Lim Si, di mana penghuninya semua pendeta-pendeta yang ciacai tak makan masakan berjiwa. Mereka selalu makan sayur-sayuran. Giok Han juga ikut makan sayur-sayuran saja.
Melihat Giok Han diam dengan muka berobah sedih, Siauw Hoa kaget- "Apakah.... apakah aku salah bicara ?" tanyanya ragu-ragu.
Giok Han menggeleng perlahan, sikapnya sedih.
"Kau beruntung masih mempunyai orang tua. Sejak kecil aku tak mempunyai ayah dan ibu." Menjelaskan Giok Han.
"Ooo. maafkan, aku telah menimbulkan kesedihanmu."
"Tak apa-apa. Aku sudah biasa hidup sederhana, karenanya aku belum pernah mendengar, apalagi memakannya, masakan-masakan seperti ini semua." Sambil berkata Giok Han menunjuk pada sayur-sayur yang ada di atas meja.
Sejak kecil Siauw Hoa berada ditengah-tengah keluarga bangsawan, ayahnya memiliki kedudukan tertinggi di daratan Tionggoan setelah Kaisar. Di istana ayahnya banyak sekali koki dan pelayan.
Setiap keinginannya selalu diperolehnya, tinggal memberikan perintah pada pelayan-pelayan maupun anak buah ayahnya. Tak pernah merasakan susah sejak kecil, hidup dalam kemewahan dan dimanja.
Tapi mendengar keterangan Giok Han yang nadanya seperti mengeluh, tak urung Siauw Hoa terharu juga.
Sudahlah, mari kita sikat habis makanan ini !" katanya gembira, untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Giok Han juga sudah tertawa lagi, karena Siauw Hoa mengajaknya bicara dengan gembira tertawa-tawa membicarakan tentang cara memasak sayur-sayur yang mereka makan, bagaimana membuatnya bagaimana penyajiannya dan lain-lainya.
Cepat sekali Giok Han melupakan kesedihannya itu. Siauw Hoa juga bercerita dia mendatangi tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah, banyak tempat-tempat yang telah dikunjunginya. Giok Han mendengarkan tertarik campur heran, karena demikian luas pengetahuan gadis ini.
Menarik sekali bercakap-cakap dengan gadis cantik manis juga sangat ramah dan riang seperti Siauw Hoa. Tanpa mereka sadari dua orang bertubuh tinggi besar, bermata biru langit, bibir yang lebar dan berewok yang memenuhi janggut, menghampiri meja Siauw Hoa dan Giok Han.
Kedua orang itu bukan orang Han. mereka tampaknya-seperti orang Persia. Kedua orang ini menekuk kaki mereka, memberi hormat pada Siauw Hoa.
"Siaow-kuncu, Siauw cukong memanggil segera pulang," kata salah seorang dari kedua orang Persia dengan sikap horrnat. "Kami menunggu perintah Siauw-kuncu"
Muka Siauw Hoa berobah, dingin dan tak acuh mengibaskan tangannya. "Kalian tunggu di luar, aku belum mau pulang."
"Tapi Siauw-kuncu ..."
"jangan rewel, keluar kalian jangan mengganggu kesenanganku !" bentak Siauw Hoa.
"Baik, baik," kedua orang Persia itu cepat-cepat meninggalkan ruang makan itu dengan sikap menghormat campur takut.
Giok Han menyaksikan peristiwa ini heran dan tak mengerti. Siapa sebenarnya gadis ini ? Melihat kedua orang Persia yang bersikap begitu hormat, juga panggilan "Siauw-kuncu", tentunya gadis ini puteri seorang pembesar negeri. Waktu itu mulai timbul keraguan di hati Giok Han.
Dia tak tahu apakah gadis ini bisa dijadikan sahabatnya atau tidak. Apakah ayah si gadis pembesar kerajaan yang bekerja, jadi kaki tangan Cu-kongkong atau bukan ? Giok Han jadi dingin sikapnya dan berdiam diri saja.
Kalau tadi Giok Han bercakap cakap dengan riang bersama si gadis, sekarang dia cuma menjawab satu dua perkataan saja. Selera makannya juga lenyap.
Siauw Hoa merasakan perobahan sikap Giok Han, bola matanya yang bening mengawasi Giok Han. "Orang-orangku itu memang tak tahu aturan, harap kau maafkan." Si gadis meletakkan sumpitnya. "Lebih baik kita pergi ke taman "Cing-ki-louw" yang ada di pintu barat kota ini. Di sana kita bisa mengobrol tanpa diganggu orang orangku. Pemandangan di sana sangat indah."
Giok Han tersenyum. "Maaf, aku sangat berterima kasih atas kebaikan nona yang telah menjamu makan padaku. Aku ingin melanjutkan perjalanan, nanti jika ada kesempatan kita bertemu lagi."
Muka si gadis berobah, wajah yang cantik jadi berobah sedih. "Kau marah?" tanyanya.
"Marah? Mengapa aku harus marah ? Nona tak berbuat salah apa-apa padaku. Aku yang seharusnya minta maaf, karena tak bisa mengiringi kegembiraan nona buat pergi ke-Cing-ki-louw."
"Kau mau pergi kemana ?"
"Mungkin mencari rumah penginapan, atau mungkin juga meneruskan perjalanan, karena hari belum lagi sore."
Siau Hoa menunduk sedih, suaranya perlahan waktu menggumam: "Aku benar-benar bernasib buruk. Baru saja gembira karena mendapat sahabat, sudah diganggu oleh orang-orang ayah. Sudahlah, kau mau pergi, pergilah. mungkin kau tak mau bersahabat denganku." waktu bilang begitu, dia menunduk tak menatap pada Giok Han, hati Giok Han tergerak. Dia terharu melihat kebaikan dan kesungguhan had gadis ini yang mau bersahabat dengannya, Tapi dia ragu kalau-kalau gadis ini puteri pembesar kerajaan. Sedangkan Giok Han memusuhi Kaisar dan Cu-kongkong, berarti juga musuh semua pembesar kerajaan.
Hal inilah yang membuat Giok Han merasa sulit bergaul dengan gadis ini, walaupun hatinya tertarik pada gadis yang cantik dan ramah ini. Sikapnya yang lincah dan akrab membuat Giok Han semula merasakan persahabatan yang intim. Tapi sekarang, di antara mereka berdua seperti dibendung selapis benda yang memisahkan mereka.
Mendadak di luar terdengar suara ribut-ribut. Bahkan Giok Han mendengar suara orang Persia yang tadi menemui Siau Hoa, yang membentak keras: "Kunyuk belang, kau mencari mampus ?" Dibarengi oleh suara "Serrrr..! Serrrrr! Desssss!"
Muka Siau Hoa berobah, dia melirik pada Giok Han, yang waktu itu sudah berdiri dan memandang ke luar.
"Entah mereka bentrok dengan siapa ?!" menggumam Siau Hoa sambil berdiri lesu." Mari kita lihat."
Ketika berada diluar, Giok Han kaget, karena dilihatnya kedua orang Persia itu mengeroyok seseorang yang dikenalnya. Orang itu berpakaian compang camping, dengan muka yang kotor mesum, karenanya tadi orang Persia itu menyebutnya sebagai kunyuk belang, pengemis tersebut tidak lain si pengemis yang telah meninggalkannya beberapa waktu yang lalu.
Tak buang waktu lagi Giok Han segera lompat sambit berseru: "Hentikan, dia sahabatku !" Dan tangan Giok Han menyampok kepalan tangan kiri orang Persia yang ada di-kanan.
Tenaga orang Persia itu kuat, tapi dia memiliki tenaga gwakang, tenaga luar dan kasar, cuma mengandalkan kekuaran badan saja, sedangkan Giok Han menangkis dengan mempergunakan tenaga lunak, tenaga pukulan orang Persia, yang kebetulan sedang mengancam dada si pengemis, seperti amblas kedalam lautan, lenyap. Orang Persia itu kaget dan melompat mundur, kawannya juga berhenti menyerang si pengemis.
"Sahabat," panggil Giok Han sambil menghampiri si pengemis. "Kau membuat aku pusing mencari carimu !"
Si pengemis melirik Giok Han seperti juga tak kenal padanya, dingin sekali. "Buat apa kau mencari-cariku?"
"Sahabat, kau... kau marah padaku? " tanya Giok Han.
"Cissss, buat apa marah padamu?" dan si pengemis melangkah pergi.
"Sahabat" panggil Giok Han mengejar.
Tapi pengemis itu tak mengacuhkannya dan berlari pergi. Giok Han jadi berdiri tertegun di tempatnya.
Siau Hoa yang menyaksikan Giok Han menangkis pukulan orang Persia dengan mudah dan kemudian memanggil-manggil si pengemis dengan sebutan "Sahabat", alisnya jadi mengkerut.
Apakah pengemis kotor mesum itu sahabat Giok Han ? Sedangkan kedua orang Persia itu memandang penasaran pada Giok-Han. Cuma saja mereka mengetahui Giok-Han kawan Siau-kuncu mereka, tak berani mereka bertindak sembarangan.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalia berkelahi dengan pengemis kotor itu?" tanya Siau hoa pada kedua orang Persia.
"Tadi dia menghampiri kami dan minta sedekah. Kami bilang tak ada uang kecil untuknya, tahu-tahu muka kami digamparnya!"
"waktu memberi tahukan demikian, muka kedua orang Persia itu berobah merah.
Sebetulnya mereka orang-orang berkepandaian tinggi tapi tadi kcolongan digampar pengemis itu karena mereka tidak berwaspada selain tangan si pengemis memang menyambarnya begitu cepat.
"Apakah kalian tak kenal pengemis itu? " tanya Siau Hoa lagi, sebagai gadis cerdik, dia segera bisa menduga bahwa didalam urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Bukankah Giok Han tadi memanggil-manggil si pengemis dengan sebutan "sahabat" ? Dan juga si pengemis seperti marah pada Giok Han tak melayani pemuda itu.
"Kami tak pernah bertemu dengan pengemis kotor itu sebelumnya, Siauw-kongcu. kami juga heran dia seperti sengaja mencari urusan dengan kami. Kalau saja tidak dihalangi... dihalangi dia..."
Tapi orang Persia itu tak meneruskan perkataannya, karena Siauw Hoa sudah mendeliki mata padanya. Yang dimaksudkan orang Persia dengan sebutan "dia" adalah Giok Han yang dimaksudkan kalau saja Giok Han tidak menghalanginya, tentu mereka bisa menghajar si pengemis yang sudah berlaku kurang ajar menampar mereka.
"Sudahlah kalian lain kali tak boleh mencari-cari urusan karena jika diketahui oleh ayahKU tentu mempersulit diriku juga, lain kali tentu aku tak diijinkan untuk keluyuran diluar."
Kedua orang Persia itu mengangguk, tapi mata mereka melirik Giok Han, seakan-akan masih penasaran karena tadi Giok Han sudah menghalangi mereka menghajar sipengemis.
Giok Han lesu menphampiri si gadis, merangkapkan kedua tangannya memberi hormat. "Cu-kounio. aku sebetulnya, masih ingin mengobrol dengan kau, tapi ada sesuatu yang perlu kuurus maka terpaksa kita harus berpisah."
"Ya, aku tahu engkau hendak melakukan sesuatu. Percuma jika memang kau mau pergi." menyahut Siauw Hoa, tawar. Dia menduga, tentu Giok Han hendak mengejar sipengemis sahabatnya itu. Melihat sikap Giok Han yang tak tenang, jelas Giok Han seperti lebih mementingkan si pengemis dari dirinya, diam-diam Siauw Hoa mendongkol.
Dia cantik jelita, selalu memperlakukan Giok Han dengan riang dan baik, sedangkan si pengemis compang camping dan kotor, tapi Giok Han lebih mementingkan "sahabat" nya itu. Dia jadi heran juga. Biasanya pemuda pemuda lain akan merasa beruntung jika bisa bercakap-cakap dengannya satu dua patah saja, tapi Giok Han ternyata lain, dia malah lebih mementingkan sahabatnya yang kotor mesum itu.
Bukankah kata-kata yang biasa dipergunakan orang ialah pemuda akan lupa sahabat jika sedang asyik mengobrol dengan wanita cantik?
Dugaan Siauw Hoa tidak keliru, karena dia sudah berlari ke arah tadi dimana si pengemis kotor itu pergi. Siauw Hoa mengawasi kepergian Giok Han sesaat lamanya, biarpun mukanya dingin tak memperlihatkan perasaan apa-apa, hatinya justeru tengah digeluti oleh perasaan yang tidak enak, yang aneh, yang selama ini belum pernah dirasakannya.
Dia juga menyesal, mengapa tak bisa lebih lama lagi mengobrol dengan pemuda yang menarik hati itu? Mengapa harus berpisah secepat itu ? Akhirnya Siauw Hoa menghela napas, mengajak orang Persia itu meninggalkan tempat tersebut.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ruangan itu besar dan penuh oleh perabotan yang mewah, di sebelah kanan ruang itu tampak meja ukir dari kayu cendana. Di kursi yang ada di dekatnya duduk seorang bertubuh agak gemuk berjubah pendeta usianya limapulun tahun lebih.
Tubuhnya diam tak bergerak, tapi kedua tangannya bergerak-gerak perlahan sekali, cuma saja setiapkali tangan itu bergerak, lambat-lambat mengeluarkan suara "Wutttut . . . Wuttttt . . . !" yang santer dan kuat, membuat ruangan itu seperti bergoncang ada gempa.
Semakin lama tangan pendeta itu bergerak semakin lambat, tapi tenaga yang keluar dari kedua telapak tangannya semakin kua ruangan itu seperti dilanda angin topan yang keras.
Mendadak pendeta itu berhenti menggerakan tangannya, menoleh ke pintu ruangan. Matanya bersinar tajam. "Mengapa kau tak masuk?" tegurnya, parau suaranya.
Daun pintu terbuka, tampak Cu Lie Seng masuk dan memberi hormat. "Tecu mengganggu latihan suhu, ada sesuatu yang perlu tecu laporkan."
"Sudah kau dapat barang yang kuinginkan itu?" tanya pendeta tersebut yang tak lain dari Tang San Siansu.
"Tecu sudah berhasil menyelidiki dan mengetahui di mana adanya Liong kak-tung. Bahkan tecu sudah bertemu dengan seseorang yang memakai gelaran Liong kak-sin-hiap."
Alis Tang San Siansu bergerak-gerak, keningnya mengkerut, tanganya terkepal, tapi tak berkata apa-apa.
Cu Lie Seng meneruskan perkataannya: "Tecu menerima laporan bahwa Liong-kak-tung berada di tangan Toat-beng-sin-ciang. Dia pemilik terakhir Liong-kak-tung. Bersama-sama dengan Bwee-sim-mo li suhu, tecu sudah pergi kesana. Pak-mo, Tong-mo, See-mo dan Lam-mo juga ikut serta.
Toat-beng-sin-ciang mengandalkan racunnya, ia rupanya seorang yang benar-benar ahli mempergunakan racun. Waktu tecu sampai di sana, ada seorang pengemis berusia muda yang menghalangi tecu dan yang lainnya, mungkin dia murid Toat-beng-sin-ciang.
Tecu bermaksud menawannya, tapi gagal, karena waktu itu muncul orang yang mengaku sebagai Liong-kak-sin hiap dan menolongnya. Jika saja tecu berhasil menawan hidup-hidup pengemis iiu, niscaya tecu bisa mengorek keterangan dirinya."
"Sekarang di mana pengemis itu ?" tanya Tang San Siansu, dingin suaranya. Walaupun hatinya agak tegang mendengar barang yang selama ini dicari-carinya sudah diketahui berada di mana" wajahnya tetap dingin dan biasa saja.
"Dia melarikan diri, demikian juga pemuda yang menolonginya berhasil lolos. Tapi, tecu kira mereka melarikan diri tak jauh dari tempat ini kalau memang suhu mau mencari mereka, tentu tak begitu sulit, tecu sudah perintahkan Pak-mo berempat pergi menyelidiki dan mencari jejak pengemis itu dan pemuda yang bergelar Liong-kak-sin-hiap."
"Hemmm, bagaimana kepandaian pernuda yang bergelar Liong-kak-sin-hiap itu?"
"Ampunkan tecu suhu, karena tecu tak berhasil menangkapnya. Tapi tecu berjanji, jika suatu saat nanti tecu berhasil mencarinya, tentu tecu akan menangkapnya hidup-hidup, untuk mengorek keterangan. Kepandaiannya memang tinggi, tapi tecu bisa mengatur siasat sebaik-baiknya."
"Kecewa kau menjadi muridku, sudah cukup banyak kepandaian yang kuwariskan kepadamu. Tapi, mengapa kau membiarkan kedua orang itu lolos?" tegur Tang San Siansu.
Muka Cu Lie Seng berobah merah, dia malu. Memang gurunya sudah mewariskan bermacam-macam ilmu, biasanya Cu Lie Seng-pun bersikap congkak dan yakin bahwa dia sudah memiliki kepandaian tanpa tandingan.
Menurut gurunya, yang bisa menandingi Cu Lie Seng saat itu cuma beberapa orang saja, itupun tokoh-tokoh tua berkepandaian tinggi. Tapi sekarang, selain dia gagal menawan pengemis yang diduga nurid Toat - beng - sin-ciang, juga dia tak berhasil menangkap pemuda yang memakai gelaran Liong-kak-sin-hiap.
"Dalam waktu dekat tecu akan berusaha menangkap mereka," janji Cu Lie Seng menunduk.
"Dalam penyelidikanmu itu,apakah sudah dapat dipastikan bahwa Liong-kak- tung berada di tangan Toat-beng-sin-ciang? "menegaskan gurunya.
"Sembilan bagian memang dia pemilik terakhir tongkat Liong-kak-tung, tapi sejauh itu tecu belum berhasil bertemu dengannya. Kemarin waktu gagal menangkap pengemis itu. tecu sudah merusak tempat kediamannya, mungkin Toat beng-sin-ciang dalam waktu dekat memperlihatkan diri, di waktu itu pasti tecu lebih mudah untuk membekuknya dan memaksa dia menyerahkan tongkat Liong-kak tung.
Tang San Siansu menggeleng-geleng perlahan, gumamnya: "Toat-beng-sin-ciang bukan orang berkepandaian lemah, walaupun aku yakin kau bersama-sama Tong-mo, Pak-mo, See-mo, Lam mo dan Bwee-sim-mo-lie bisa menghadapi mereka, tapi agar urusan tak jadi berantakan, aku akan ikut buat membekuk Toat-beng-sin ciang. Sekarang pergilah kau selidiki, dimana dia berdiam, secepatnya beritahukan padaku setelah berhasil mengetahui beradanya Toat beng-sin-ciang. Demikian juga halnya dengan pengemis dan pemuda yang mengaku sebagai Liong-kak-sin-hiap kau selidiki di mana mereka berada. Jika sudah mengetahui, segera bersama-sama denganku pergi untuk membekuk mereka. "
"Baik suhu," Cu Lie Seng mengundurkan diri dari ruangan itu, untuk melaksanakan perintah gurunya.
Tang San Siansu duduk diam di kursinya, tak melatih kedua tangannya lagi. Kalau tadi dia tengah menyempurnakan latihan Liong-beng- kun". Sekarang dia sudah mencapai tingkat sangat tinggi, telah sampai pada titik penentuan dari latihannya. Itulah sebabnya selama seminggu ini dia selalu mengurung diri untuk melatih bagian terakhir ilmunya yang dahsyat itu.
Mungkin memerlukan waktu tiga hari lagi untuk merampungkan latihannya tersebut, sehingga dia benar-benar sangat tangguh dengan ilmunya yang terlatih sampai pada titik yang tertinggi, Cuma saja mendengar ada pemuda yang bergelar "Liong-kak-sin-hiap", dia jadi penasaran dan ingin cepat cepat menangkap pemuda itu. buat mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu.
Hal ini disebabkan si pemuda memakai gelaran dari nama senjata yang paling ditakuti Tang San Siansu, senjata yang bisa memunahkah ilmu "Liong beng-kun" nya !
Tang San Siansu sekarang sudah mencapai tingkat latihan "Liong beng-kun" yang sangat tinggi. Dapat dikatakan jarang ada lawan yang bisa menandingi pendeta bekas murid Siauw Lim si ini. Memang ambisi Tang San Siansu ingin menguasai rimba persilatan terutama sekali untuk merampas kedudukan pimpinan atau Ciangbunjin Siauw Lim Si karena dia sakit hati pernah diusir dari Siauw Lim Si.
Yang membuatnya tak berani segera turun tangan, ia tahu Siauw Lim Si merupakan pintu perguruan yang memiliki murid-murid lihai. merupakan pintu perguruan besar yang disegani semua orang. Bekerja seorang din saja tak mungkin bisa menguasai Siauw Lim Si, akhirnya Tang San Siansu menghamba pada Cu-kongkong.
Ia bukan tak mempunyai maksud. Dengan menghamba pada kebiri yang paling berkuasa pada saat itu, niscaya ia bisa memanfaatkan kekuasaan Cu-kongkong untuk membantunya, memperalat pembesar kerajaan itu. meminjam tangan Cu-kongkong buat merampas Siauw Lim Si. Tapi tak disangkanya, justeru gurunya yang semula diduga sudah mati, ternyata masih hidup.
Karenanya setelah meninggalkan Siauw Lim Si, Tang San Siansu mati-matian melatih Liong beng kunnya lebih giat, ia mengurung diri dan hanya mendidik Cu Lie Seng. Luka di dalam tubuh yang disebabkan pukulan gurunya, memaksa dia harus menyembuhkannya dengan mengorbankan lwekangnya sebagian, setelah setahun barulah lwekangnya pulih.
Dendamnya pada Siauw Lim Si semakin hebat, dia bertekad walaupun bagaimana harus merampas kedudukan pimpinan Siauw Lim Si, jika perlu membumi hangus kan Siauw Lim Si.
Tentu saja jika jalan ini ditempuh, dia akan memanfaatkan kekuasaan Cu kongkong, meminjam tangannya untuk mengerahkan pasukan tentara untuk menghancurkan Siauw Lim Si, dengan tuduhan bahwa Siauw Lim Si ingin memberontak pada kerajaan, dan Kaisar menghukum pintu perguruan itu !
Siapa sangka sekarang justeru didengar-nya ada seorang pemuda berkepandaian tinggi yang memakai gelaran Liong-kak-sin-hiap membuat Tang San Siansu tak sabar ingin cepat-cepat menangkap nemuda itu, untuk dikorek keterangannya.
Entah murid siapa pemuda itu, tapi yang pasti ada tantangan dengannya, karena pemuda itu memakai gelaran Liong-kak-sin hiap, yang berhubungan dengan Liong-kak-tung, senjata yang paling ditakuti oleh Tang San Siansu, sebab Liong-kak-tung bisa menghancurkan sinkangnya dan latihan Liong beng-kunnya bisa buyar kalau terserang oleh totokan Liong-kak-tung pada beberapa jalan darah tertentu di tubuhnya.
Mati atau hidup pemuda itu harus ditangkap, juga pengemis yang diduga murid Toat-beng-sin ciang, harus ditangkap juga, buat mengetahui dimana bersembunyinya Toat-beng-sin-ciang yang menurut muridnya justeru merupakan pemilik terakhir Liong-kak-tung, senjata yang diinginkan benar oleh Tan San Siansu.
Kalau usaha mendapatkan Liong-kak-tung sudah berhasil, selanjutnya Tang San Siansu tak takut pada apapun juga, terhadap siapapun dia tak gentar lagi, karena Liong beng-kunnya sudah dilatih demikian hebat dan tinggi jarang ada orang yang bisa mengalahkan Tang San Siansu sekarang ini, apa lagi kalau Liong-kak-tung sudah berada di tangannya.
Tang San Siansu tak perlu kuatir lagi nanti seseorang mempergunakan senjata yang menakutkan baginya itu untuk menyerang dirinya. Mati-matian Tang San Siansu menyuruh muridnya mencari dan menyelidiki di mana adanya Liong-kak-tung.
Siapa tahu, sekarang muridnya sudah memperoleh kabar yang menggembirakan, yaitu Liong kak-tung berada di tengah Toat-beng-sin-ciang.
Tang San Siansu memang pernah mendengar perihal Toat-beng-sin-ciang, seorang jago tua yang berperangai aneh, tapi Tang San Siansu yakin ia bisa menghadapi Toat-beng-sin ciang dengan Liong-beng-kunnya. Berita yang dibawa muridnya menyenangkan, juga menggelisahkan Tang San Siansu.
Rasanya dia tak sabar lagi,ingin cepat-cepat mengetahui dimana adanya Toat-beng-sin ciang buat merampas Liong kak-tung. Semakin cepat semakin baik baginya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Giok Han mencari-cari si pengemis, tapi tetap tak berhasil menemukan jejaknya, biarpun dia sudah berlari ke sana kemari cukup jauh. Karena sudah mengetahui bahwa pengemis itu seorang gadis, Giok Han bisa menduga-duga mungkin si pengemis marah melihat dia bersama-sama dengan Siauw Hoa di rumah makan dan pengemis itu jadi iak mau meladeni nya lagi, tak acuh.
Entah mengapa Giok Han merasa pengemis itu merupakan sahabatnya, biarpun mereka berkenaIan belum terlalu lama. Sikap dan kelakuan si pengemis yang selalu bicara blak-blakan dengannya, juga memang si pengemis pernah menjanjikan padanya untuk bantu menghadapi Siangkoan Giok Lin, rupanya pengemis itu menyimpan sesuatu rahasia.
Banyak yang ingin diketahui Giok Han, terutama sekali Toat-beng-sin ciang apakah mempunyai hubungan dengan si pengemis ?" Mengapa gadis ini berpakaian sebagai pengemis ? Padahal waktu kopiahnya terbuka sehingga rambutnya terurai, sekilas Giok Han bisa melihat pengemis ini yang cukup cantik, walaupun mukanya begitu kotor tak karuan.
Di samping itu Giok Han mengetahui bahwa pengemis itu terancam keselamatannya oleh Cu Lie Seng dan orang-orangnya, biar bagaimanapun sikap si pengemis terhadapnya, tetap dia bermaksud membantu pengemis itu.
Tapi setelah mencari-cari sekian lama tetap tak berhasil bertemu dengan pengemis itu, Giok Han jadi putus asa. Waktu itu dia berada didepan pintu kota sebelah selatan, terpisah kurang lebih lima lie. Di sana sepi, hanya banyak pohon-pohon yang rindang tumbuh dikedua tepi jalan tersebut.
Kemana harus dicarinya pengemis itu ? Kemana perginya pengemis yang memiliki kelakuan aneh dan juga penuh dengan rahasia itu ? Sedangkan Giok Han berdiri di situ mengawasi sekitarnya dengan putus asa karena tak berhasil mencari si pengemis mendadak dilihatnya ada sesosok tubuh dari balik sebatang pohon yang berputar-putar menghampiri padanya.
Giok Han mengawasi lebih tegas, ternyata orang itu berjalan bukan dengan kedua kakinya, melainkan jungkir balik, jalan dengan tangannya yang kiri tubuhnya berputar-putar seperti gangsing dan ringan menghampiri Giok Han.
Orang itu tak lain See-mo Uh Ma, iblis dari Barat yang bertubuh cebol seperti tinggi tubuh seorang anak berusia 12 tahun. See-mo tak kenal Giok Han lagi, karena dulu waktu dia pernah bertemu dengan Giok Han dan mengajarkan "Tok Pie Ginkang", pemuda ini masih kecil.
Sekarang See-mo cuma tahu bahwa Giok Han "Liong-kak-sin-hiap" yang pernah dikepung dia dan kawan-kawan-nya, tapi tak berhasil menundukkannya.
See-mo tengah menyelidiki keadaan di sekitar itu, mencari Giok Han dan si pengemis atas perintah Cu Lie Seng Demikian juga Pak-mo, Lam-mo dan Tong-mo, semuanya mencari Giok Han dan si pengemis ditempat berpencaran.
Tak disangkanya ia melihat Giok-Han tengah berlari lari mendatangi, dia mendekam diatas cabang pohon mengawasi gerak-gerik Giok Han. Melihat si pemuda berhenti berlari dan berdiri diam mengawasi sekitar tempat itu, See-mo yang tak bisa menahan diri lagi ingin cepat cepat menangkapnya segera lompat turun buat menangkap Li-ong-kak-sin-hiap ini.
Tentu Cu-cukongnya girang sekali. Dengan mempergunakan "Tok-Pie Ginkang", tubuhnya jumpalitan, kedua kakinya menjulang ke atas, kepala dibawah dan dia maju berputar seperti gangsing, di mana kelima jari tangannya yang bertenaga itu berputar seperti roda saja.
"Bocah, sekarang kau tak bisa pergi lagi!" Teriak See-mo waktu dia sudah dekat dengan Giok Han. "Kau harus baik-baik turut denganku menemui Siauw-cukongku!"
Dalam jengkelnya, Giok Han jadi ingin mempermainkan si cebol ini, timbul kegembiraannya. Dia tadi begitu kesal karena tak berhasil mencari si pengemis, tapi sekarang timbul keinginannya untuk coba-coba kepandaian See-mo, karena dulu ia pernah diajarkan ilmu "Tok Pie Gin kang". Tapi Giok Han tak tahu apa namanya ilmu tersebut, dia hanya tahu ilmu ini bisa di pergunakan untuk jalan dengan kepala dibawah dan hanya mempergunakan tangan kiri saja berputar seperti gangsing.
Mendadak tubuh Giok Han melompat ke-atas loncatannya tinggi, waktu tubuhnya meluncur turun, kepalanya lebih dulu, kemudian tangan kirinya menyangga tubuhnya, berputar-putar seperti yang dilakukan See mo.
"Ihhhhh! "Si cebol berseru kaget, dia mengenali Giok Han mempergunakan ilmu andalannya sendiri, dari mana pemuda ini memperoleh dan mempelajari ilmu andalannya tersebut ? Dia jadi mengawasi bengong sebentar, sedangkan tubuhnya sejenak berhenti berputar.
Dia tak mengerti mengapa Giok-Han bisa melakukan seperti yang dilakukannya, yaitu tubuh berjungkir balik seperti itu. "Ayo, mari kita main-main !" ajak Giok Han. "Bukankah kau senang main-main?"
"Hahaha... haha...!" tertawa See-mo setelah berkurang rasa kagetnya. "Kau mencuri dari mana ilmuku "Tok Pie Ginkang itu ?"
Tubuh Giok Han berputar-putar, sengaja tertawa. ingin mempermaiankan See-mo.
"Aku diajarkan olehmu, aku anak angkatmu, bukan ?" menjawab si pemuda.
"Apa ?" kembali See-mo kaget. "Kau... kau anak angkatku ? Aku mengajarkan kau Tok Pie Ginkang ?"
"Ya", menyahuti Giok Han. "Nah, ayolah kita main-main, mengapa bengong saja di situ ?"
See-mo seperti berpikir keras, lenyap kegembiraannya untuk men;alankan Tok Pie-Ginkang, yang sedang dipikirkannya siapakah pemuda di depannya ini, yang mengaku sebagai anak angkatnya dan juga mengaku pernah menerima pengajaran ilmu "Tok Pie Gin-kang" langsung dari dia.
"Siapa namamu ?" Tanya See-mo mengawasi tajam pada Giok Han, karena tetap saja dia tak ingat siapa pemuda ini, tak mengenalinya dan memang dia merasa baru satu kali bertemu dengan Giok Han yaitu ketika ia bersama Pak mo, Lam-mo danTong-mo serta yang lain-lannya mengeroyok Giok Han.
Tapi See-mo cuma tahu bahwa pemuda ini bergelar "Liong-kak-sin-hiap" dan mempunyai kepandaian yang tinggi tak bisa diremehkan. Tapi sekarang justru Giok Han membawakan jurus-jurus "Tok Pie Ginkang" jurus ilmu andalannya karuan saja dia jadi tercengang dan bingung.
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 20
Belum jauh gadis itu menjalankan keledainya. mendadak lompat seseorang ke tengah jalan menghalangi jalan maju keledai si gadis, kedua tangannya memegang tali les keledai. Oang itu bertubuh tinggi besar, mukanya brewok lebat, matanya memancarkan kekejaman hatinya.
"Anak manis, tampaknya kau memiliki banyak uang, aku Si Kadal Tua Lo Pi sedang kesulitan uang, anakku sedang sakit dan harap nona berbaik hati untuk membagi uang kepadaku."
Dia bicara dengan suara yang kaku dan nyengir-nyengir mengancam, matanya yang menunjukkan kekejaman hatinyapun memandang dengan sikap yang sangat kurangajar sekali.
Si gadis baju merah duduk di atas keledainya tenang-tenang, sejak tadi dia bersikap gembira dan riang, baru sekarang alisnya mengkerut sedikit. Dia tidak senang atas sikap lancang si Kadal Tua Lo Pi, tapi dia tak marah.
"Berapa usia anakmu, paman Lo Pi ? Sudan dibawa ke tabib?" tanyanya sabar.
"Belum. Aku tidak punya uang. Tadi kulihat kau membeli semangka tanpa tawar dan kemudian menghadiahkan sebuah semangka buat pengemis busuk cilik itu, maka kupikir nona tentu banyak uang dan aku minta agar kau mau membagi uang kepadaku. Tentunya nona manis tak keberatan, bukan?"
Si Kadal Tua Lo Pi sebetulnya buaya darat di kota itu, dia jagoan di kota tersebut karena memiliki sedikit ilmu silat. Setiap hari malang melintang di kota itu memeras pemilik-pemilik toko dan orang orang kaya.
Sedangkan pihak kepolisian tidak berdaya berurusan dengannya, karena memang si Kadal tua Lo Pi mempunyai anak buah sangat banyak jumlahnya, jika dia ditangkap para anak buahnya selalu menimbulkan kerusuhan di kota tersebut. Memang sebelumnya si Kadal Tua Lo Pi pernah ditahan polisi. tapi berakibatnya pengacauan yang menimbulkan kerusuhan buat penduduk kora Yang-cu, banyak warga kota itu yang terluka oleh sepak terjang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, maka akhirnya pihak yang berwajib melepaskan Lo Pi dari tahanan.
Semakin lama memang Lo Pi semakin berani dan kurang ajar. sehingga banyak penduduk kota itu yang menjadi korban pemerasannya yang semakin terang-terangan. Kebetulan tadi dia berada di situ dan menyaksikan apa yang dilakukan gadis itu, maka pikirnya gadis cantik ini pasti korban yarg empuk sekali untuk diperas. Banyak perhiasan yang dipakai gadis itu yang nilainya tentu lebih dari ribuan tail perak.
"Kasihan, sudah berapa hari anakmu itu sakit, Lopeh?" tanya gadis itu sambil mero-go kantong uangnya.
"Sudah . . . seminggu," jawab si Kadal Tua Lo Pi, m-itanya melirik ke arah kantong uang gadis itu, isinya tentu padat dan penuh karena tampaknya kantong uang itu cukup berat, Tangannya jadi gatal, mendadak dia menyambar merampas kantong uang itu. Si gadis tak menyangka memandang heran pada Lo Pi, yang waktu itu sudah berhasil mengambil kantong uang si gadis dan melihat isi nya.
Benar saja, isinya penuh sekali dengan uang uang logam emas dan perak. Muka si Kadal Tua jadi berseri-seri kegirangan. "Kukira sudah cukup uang ini, nona cantik. Semoga kau tambah cantik." Dia memasukkan kantong uang itu ke dalam sakunya.
Alis si gadis naik, dia mendongkol untuk kelancangan si Kadal Tua. Tadi dia tak menyangka si Kadal Tua Lo Pi akan bertindak seperti itu maka kantong uangnya kena dirampas.
Dilihatnya Lo Pi melangkih meninggalkannya sambil tertawa bergelak-gelak kegirangan. Orang-orang yang ada di tepi jalan raya yang menyaksikan kejadian tersebut tak seorangpun berani maju untuk menegur si Kadal Tua Lo Pi, mereka diam saja karena tahu penyakit kalau berurusan deugan si Kadal Tua yang memang menjagoi kota itu dengan ilmu silatnya.
"Hei, mau kau bawa kemana uangku?" bentak gadis itu, tubuhnya ringan turun dari keledainya. Tangannya tahu-tahu diulur menjambak pundak Lo Pi. Keras cengkeram jari-jari tangannya, sebab Lo Pi tahu-tahu merasakan pundaknya sangat sakit, membuat dia meringis. Belum lagi Lo Pi menyadari apa yang terjadi, tubuhnya tiba-tiba melayang di tengah udara dan terbanting keras sekali di jalan raya sampai debu mengepul tinggi, Lo Pi berkelojotan kesakitan pinggulnya menghantam batu jalan, matanya sampai mendelik seperti biji matanya itu mau meloncat keluar sakitnya bukan main terbanting seperti itu, pinggangnya juga seperti mau patah.
Tapi dia satu jagoan, dia cepat bisa bangun berdiri biarpun mukanya meringis menahan sakit, mengawasi bengis kepada si gadis. Mendadak dia bengong heran, karena si gadis dilihatnya berdiri tenang di tempatnya, sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri. Mulutnya tersenyum-senyum dan mengawasi si kadal Tua seakan anak-anak yang merasa senang serta bangga karena menang main kelereng.
Ditangannya tampak kantong uang nya yang dilempar-lempar rendah dan ditangkap berulang kali.
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik saja, tadi gadis itu selain bisa membanting tubuh si Kadal Tua yang tinggi besar dan sangat berat, juga tangannya begitu cepat bisa mengambil kembali kantong uang nya dari saku baju si Kadal Tua, dalam sekejap mata kantong uang itu sudah pindah tangan lagi tanpa ada seorangpun yang bisa menyaksikan dengan cara bagaimana gadis itu merogoh saku baju si Kadal Tua mengambil kantong uangnya.
Orang-orang yang berkumpul disitu lupa dan bersorak ramai, tapi waktu Lo Pi mengawasi sekeliling dengan maia mendelik kelam, seketika suara sorak-sorai itu lenyap, sunyi senyap, kuncup hati orang-orang yang berkerumun di tepi jalan menyaksikan keadaan itu.
Kemudian dengan langkah lebar Lo pi menghampiri gadis cantik itu dengan sikap mengancam, membuat semua orang yang ada di situ sangat kuatir buat keselamatan si gadis baju merah.
"Budak hina, rupanya kau mau mampus kuhajar, ya?! "memaki Lo Pi siap untuk memukul si gadis.
Gadis baju merah itu tetap berdiri tenang di tempatnya, sedikitpun tidak gentar oleh gertakan Lo Pi, malah mulutnya tetap tersenyum-senyum. "Masih kurang cuma dibanting seperti tadi dan minta tambah lagi?", tanyanya mengejek.
"Kalau kau menginginkan uangku. beritahukan saja tadi padaku, akan kuberikan. Tidak perlu kau rampas dengan sikap lancang kurang-ajar seperti tadi! Sekarang, biarpun kau menginginkan satu ci, tak akan kuberikan, walaupun kau berlutut sambil menangis air mata darah di kakiku!"
"Budak hina beritahukan namamu! "bentak Lo Pi. ..Sebelum mampus, dengarlah baik-baik siapa aku, agar nanti di depan Gam-lo-ong kau bisa memberitahukan siapa yang mengirim kau ke neraka! Aku si Kadal Tua Lo Pi adalah raja di kota ini, tak seorangpun berani membantah atau membangkang terhadgp setiap perintah dan keinginanku. Kau berani berlaku kurang ajar menantang di depanku- apakah sudah punya tiga kepala dan enam tangan?"
"Hemmm, melihat kelakuan buruk seperti kau ini jelas kau bukan manusia baik, setidak-tidaknya pasti kau manusia busuk yang jahat Apa yang kau ceritakan tadi bahwa anakmu sakit pasti cerita bohong saja. Justeru sekarang kau yang harus mendengar baik-baik namaku, agar nanti kau tidak penasaran Aku she Cu, namaku Bunga Kecil Cukup jelas? Cu Siauw Hoa! Nah, ingat baik baik nama itu kalau kelak kau ingin melakukan kejahatan lagi, agar lebih hati-hati tidak bertindak ceroboh seperti tadi"
Si Kadal Tua Lo Pi yang selalu kata-katanya ditanggapinya oleh gadis itu semakin gusar saja, tubuhnya menggigil menahan marah. Selama menjagoi di kota Yang-cu belum pernah ada orang yang berani memakinya, biasanya dia yang seenak perutnya memaki siapa saja yang tak disenanginya, atau kalau perlu dia akan menghajarnya dan menyiksa orang yang jadi korbannya.
Tapi sekarang gadis muda ini berani menantangnya, mengejeknya malah. Dia mendelik sambil melangkah maju, mulutnya mempedengarkan tertawa bergelak-gelak mengandung kekejaman dan ancaman yang menakutkan. Waktu sampai di depan si gadis, tangan kanannya di-ayun akan memukul muka yang putih mulus itu, tangan kirinya menjambak payudara si gadis, dada yang begitu membusung padat berisi, maksudnya ingin berlaku kurangajar.
Si Kadal Tua Lo Pi sekali ini keliru dengan tindakannya. Masih bagus kalau tadi dia tidak menyerang dengan tangan kirinya ke dada si gadis yang membusung padat berisi itu, cukup ingin menampar muka gadis itu, mungkin dia tak akan mengalami kecelakaan. Sekarang justeru jadi lain. Gadis ini mendongkol bukan main melihat keceriwisan si Kadal Tua. Tahu- tahu tubuh si gadis lenyap dari depan si Kadal Tua, karena loncatannya sangat gesit sukar dilihat jelas, hanya gumpalan merah saja. Tangan kanan Lo Pi yang memukul mukanya dielakkan, tangan kanan itu dibiarkan lewat disamping mukanya, kemudian cepat tangan kiri si Kadal Tua Lo Pi yang mau berbuat kurang ajar telah dicengkeram, terdengar suara "krakkkkk krakkkkk ..."* disusul oleh jerit kesakitan si Kadal Tua Lo Pi, bahkan kemudian tubuhnya terbang ke tengah udara, tak bisa ditahan lagi kebanting kuat di batu jalan raya, menggelepar-gelepar berkelojotan dengan mata mendelik lidah terjulur keluar seperti anjing yang kecapaian.
Matanya ber-kunang-kunang dan menjadi gelap tak bisa melihat apapun, ditambah menderita kesakitan akibat tulang siku tangannya yang kiri telah patah!
Gadis baju merah itu masih berdiri tenang di tempatnya, seperti tidak terjadi sesuatu di situ, hanya tangan kanannya dengan jari-jari yang lentik bentuknya serta runcirg mengebut-ngebut perlahan bajunya, yang mungkin ditempel debu. Perlahan-lahan dia menghampiri keledainya tidak perduli pada si Kadal Tua Lo Pi lagi, melompat naik ke atas keledainya.
Si Kadal Tua Lo Pi kesakitan dan penasaran, dia belum kapok. Kalau memang dia seorang yang mudah menyerah pada kesulitan, tentu tak mungkin bisa menempatkan dirinya jadi jagoan di kota Yang cu.
Biarpun matanya masih kunang-kunang gelap, tangannya sakit bukan main, dia masih memaksakan diri untuk bangun. Tubuhnya bergoyang-goyang akan jatuh, tapi mati-matian dia berusaha menahan dengan kuda-kuda ke dua kakinya agar tidak rubuh lagi. Semua orang yang berkumpul di sekitar tempat ini hanya menyaksikan berdiam diri, mereka takut untuk bersorak atau juga mengejek sang jagoan yang baru saja dipecundangi gadis cantik manis yang semula tak disangka orang memiliki ilmu yang sam at tinggi.
Si Kadal Tua Lo Pi berteriak nyaring. "Mengapa kalian diam saja, goblok ? Hayo-mampuskan budak hina itu! Cingcang tubuhnya hancur lumat jadi bubur !" Suara Lo Pi menggema di sekitar tempat itu, karena dia berteriak sekuat suaranya.
Menyusul itu belasan sosok bayangan melompat ke tengah jalan raya menghalang di depan keledai si gadis. Di tangan masing-masing mencekal berbagai senjata tajam, seperti pedang, golok, tongkat. ioya pendek ataupun trisula. Semuanya laki-laki bertubuh tinggi besar dan memiliki tampang muka bukan orang baik-baik.
Rupanya mereka anak buah Si Kadal Tua Lo Pi, yang sejak tadi cuma berdiri bengong melihat pemimpin mereka dipecundangi. Memang sebagai seorang jagoan Lo Pi mempunyai banyak sekali anak buah, yang selalu berkeliaran bersamanya, berada tak jauh dari Si Kadal Tua Lo Pi, Begitu dia berteriak menganjurkan untuk meT cingcang tubuh gadis cantik manis itu, segera anak buahnya yang sejak tadi sudah ada di situ berduyun-duyun lompat buat menghalangi kepergian gadis itu, yang tak lain Cu Siauw Hoa. adik kandung Cu Lie Seng, puteri kesayangan Cu-kongkong, yang kebetulan berada di Yang-cu karena ikut kakaknya, Cu Lie Seng, menginap di rumah Sam-cong-tok.
Jika Cu Lie Seng selalu sibuk mengurusi orang-orang Kangouw dengan para anak buahnya yang lihai-lihai, justeru Siauw,Hoa setiap hari menghabiskan waktunya untuk main-main, pergi ke tempat-tempat yang indah pemandangan alamnya, memetik bunga yang menarik hati atau juga melihat-lihat keadaan kota itu.
Siapa sangka, hari ini justeru ia dihalangi oleh si Kadal Tua Lo Pi, yang mau merampas kantong uangnya. Siauw Hoa pikir cukup memberi pelajaran pahit pada Lo Pi dengan membantingnya satu kali. Siapa tahu Lo Pi tidak kenal kapok dan terlalu nekad, malah ingin berbuat karang ajar untuk meremas dadanya yang membusung padat dengan tangan kirinya.
Naik darah Siauw Hoa, jadi marah campur benci, itulah sebabnya dia turun tangan langsung mematahkan tangan kiri si Kadal Tua Lo Pi. Tidak disangkanya, si Kadal Tua Lo Pi mempunyai anak buah banyak jumlahnya, sekarang saja belasan orang anak buah jagoan itu sudah mengurungnya dengan senjata siap tergenggam di tangan masing-masing untuk menyerangnya.
Siauw Hoa menahan keledainya, duduk di atas tunggangannya tenang sekali, matanya menyapu mengawasi satu persatu anak buah si Kadal Tua Lo Pi. Tak ada seorangpun di antara anak buah Lo Pi yang memiliki muka yang baik, semuanya tampang jahat dan bengis Juga sinar mata mereka rakus sekali seperti mau melahap bulat-bulat keindahan bentuk tubuh maupun kecantikan wajah Siauw Hoa.
Cuma saja tadi dia sudah menghajar Lo Pi, anak buah jagoan itu tidak berani ceroboh untuk berlaku kurang ajar padanya, Mengandalkan jumlah banyak anak buah Lo Pi yakin bisa menangkap hidup-hidup Siauw Hoa, yang nanti akan mereka giliran untuk memperkosanya. Mereka merasa sayang kalau harus membunuh wanita secantik Siauw Hoa.
Tenang sekali Siauw Hoa turun dari keledainya, dia kuatir kalau tetap duduk di keledainya orang-orang Lo Pi menyerangnya, sehingga melukai keledainya. Untuk dirinya memang tidak perlu gentar, karena yakin tak mungkin anak buah si Kadal Tua Lo Pi bisa melukainya, berapa banyakpun jumlah mereka. Yang dikuatirkan Siauw Hoa adalah keselamatan keledai tunggangannya.
"Apa lagi yang kalian ingini dariku?" tanya Siauw Hoa tenang dan sabar, sedikitpun tidak tampak rasa takut. "Jangan cari kesulitan untuk kalian. Bubarlah !"
Anak buah si Kadal Tua Lo Pi tampak saling melirik di antara kawannya dan tertawa-tawa. Mereka anggap perkataan si gadis lucu sekali, karena janganlah menghadapi belasan orang, melawan empat atau lima orang dari rombongan mereka si gadis pasti sudah dapat dibekuk.
Biarpun gadis ini memiliki kepandaian tinggi, tetap saja dia wanita, yang tenaganya terbatas. Dikeroyok demikian banyak orang, biarpun si gadis ditambah lagi sepasang tangan, tidak nanti bisa menghadapi rombongan mereka. Anak buah si Kadal Toa Lo Pi jadi semakin berani, sikap mereka mulai kurang ajar cengar-cengir di depan si gadis.
Si Kadal Tua Lo Pi sakit hati tangannya di patahkan Siauw Hoa, jadi gusar dan sangat marah melihat anak buahnya semua cengar-cengir seperti kuda yang diberi bawang. "Mengapa kalian tidak turun tangan hanya bengong seperti orang tolol ?" Teriak si Kadal Tua mendongkol, suaranya bengis menakutkan.
Anak buah Lo Pi kaget, semuanya seperti baru ingat tugas tugas mereka. Tidak buang waktu lagi karena telah dibentak bengis seperti itu oleh Lo Pi, mereka meloncat maju kedepan, menusuk, menikam, membacok, menotok dan memukul dengan toya-pedang, golok dan macam- macam senjata tajam lainnya yang menghujani Siauw Hoa.
Penduduk kota itu yang menyaksikan keadaan seperti ini jidi menjerit kaget, mereka sangat kuatir keselamatan gadis baja merah ini, juga merasa ngeri dan takut melihat senjata-senjata tajam itu sudah menyambar menghujani tubuh si gadis.
Mereka tak bisa membayangkan, entah bagaimana jadinya kalau senjata-senjata itu berhasil menyerang sasarannya, pasti tubuh si gadis benar benar hancur menjadi bubur dicingcang oleh senjata-senjata tersebut.
Gadis baju merah ini tenang-tenang di-tempatnya, dia menanti senjata-senjata lawan-lawannya datang dekat baru mau menghindarkan dan menangkisnya. Namun, belum lagi Siauw Hoa menangkis atau mengelakkan senjata lawan, tahu tahu berkelebat sesosok bayangan, disusul dengan suara berkerontangan karena senjata-senjata anak buah si Kadal Tua Lo Pi sudah pindah tangan dirampas oleh sosok bayangan yang baru datang.
Semuanya melompat mundur diiringi teriakan kaget campur marah, Mereka akhirnya melihat di tempat itu sudah tambah seorang pemuda berumur tidak lebih dari 20 tahun, mulanya tampan, di tangannya memegang belasan batang senjata mereka, yang tadi telah dirampasnya.
Siauw Hoa juga kaget dan heran, dia tidak kenal pemuda yang menolonginya. Di-awasinya dengan heran, tapi gadis ini jadi malu karena pemuda itupun sedang mengawasinya dan malah mengangguk waktu Siauw Hoa memandang kepadanya.
Entah mengapa mendadak saja hati Siauw Hoa jadi berdebar-debar. Dia tahu pemuda ini tentunya menolonginya karena melihat dia dikepung oleh belasan orang yang hendak mencelakainya, namun maksud baik pemuda ini sempat membuat hati si gadis berdebar-debar. Biasanya orang menghormatinya, apa yang dilakukan untuk bermuka-muka. Berbeda dengan yang dilakukan pemuda tak dikenal ini. sehingga membuat si gadis merasakan suatu debaran hati yang yang lain, apa lagi memang pemuda inipun tampak gagah.
"Bocah ingusan, kau berani kurang ajar pada kami dan mau mampus rupanya?!" Teriak beberapa orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, bengis mengandung ancaman untuk menyerang.
"Cincang dua-duanya !" Si Kadal Tua Lo Pi memberikan perintah, karena dilihatnya semua anak buahnya cuma bengong-bengong saja tidak segera menyerang.
Mendapat dorongan dari pemimpin mereka, anak buah si Kadal Tua Lo Pi tidak berani main lambat-lambatan lagi, mereka segera menyerbu kepada si pemuda tampan yang sudah merampas senjata mereka, sehingga pemuda itupun tidak sempat untuk bicara sepatah dua patah kata dengan Siauw Hoa, sebab dia diserbu belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi. Belasan batang senjata tajam yang tadi dirampasnya, telah dilemparkan ke samping, dibuang ko tepi jalan, sedangkan kedua tangannya yang sudah kosong dipergunakan untuk menjambak kesana - kemari cepat luar biasa, tahu-tahu tubuh- tubuh beterbangan.
Anak buah si Kadal Tua Lo Pi satu persatu dilemparkan ke tengah udara, jatuh terbanting di jalan raya tidak bisa bergerak lagi, pingsan tak sadarkan diri ! Singkat sekali waktu yang di pergunakan pemuda itu, karena belasan orang itu seketika telah dilamparkan semua, jatuh pingsan.
Yang masih bernasib bagus terbanting dan tidak pingsan, segera angkat kaki, kabur, biarpun Lo Pi , berteriak-teriak menganjurkan menyerang lagi.
Pemuda itu menoleh kepada Siauw Hoa, tersenyum penuh persahabatan. "Nona, kau tidak apa-apa ?"
Siauw Hoa waktu itu tengah berdiri keheranan melihat ketangkasan pemuda ini.
Melihat gerakannya yang sangat gesit dan tangannya yang lincah, pemuda ini pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tadi dia begitu mudah merampas belasan senjata dari belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi. sebagian besar sampai pingsan tak sadarkan diri.
Di dalam hati Siauw Hoa kagum sekali pada ketangkasan pemuda itu, juga mengakui bahwa kepandaiannya tidak sehebat pemuda ini. Mendadak pemuda itu menoleh padanya menanyakan keadaannya, muka si gadis jadi berobah merah, dia menggeleng sambil mengawasi dengan perasaan berterima kasih.
Sebetulnya dia memang tidak gentar menghadapi belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, karena dia yakin bisa mengatasi mereka dengan mudah. Tidak urung pertolongan pemuda ini membuat dia berterima kasih. Apalagi tampaknya pemuda ini sangat menguatirkan keselamatannya, maka ia semakin berterima kasih.
Mengetahui gadis itu tidak mengalami kekurangan apa-apa. si pemuda jadi tersenyum senang. Tahu-tahu tubuhnya meloncat gesit sekali dan sudah berada di samping si Kadal Tua Lo Pi. Tidak bicara lagi pemuda itu sudah memukul dada Lo Pi, sehingga terpental keras terpelanting bergulingan di jalan raya dengan mata mendelik, mulut terbuka dan lidah terjulur keluar, reban tak bergerak lagi, pingsan tak sadarkan diri.
"Orang-orang jahat tidak tahu malu, hanya berani menghina wanita saja !" menggumam pemuda itu sambil memutar lubah tidak perduli lagi pada Lo Pi dari anak buahnya yang menggeletak pingsan tercecer di jalan raya, dia melangkah menghampiri Siauw Hoa. "Sayang aku tiba di tempat ini terlambat sehingga nona dikagetkan oleh orang-orang jahat tidak tahu malu ini. Apakah tidak ada sesuatu yang kurang, nona ?"
Siauw Hoa merangkapkan tangan memberi hormat pada pemuda itu. "Terima kasih atas pertolonganmu. Apakah boleh kuketahui tuan penolongku?" Polos dan lancar cara bicara maupun sikap Siauw Hoa, sikap seorang wanita yang biasa berkelana di dalam kalangan kangouw, tidak malu-malu atau canggung seperti wanita-wanita umumnya yang tak mempelajari ilmu silat.
"Aku Giok Han," memberitahukan pemuda itu, yang memang tak lain Giok Han, kebetulan dia lewat di kota Yang-cu setelah tak berhasil mencari si pengemis yang ternyata seorang gadis. Sedang melewati jalan raya itu dilihatnya ramai-ramai orang berkerumun, maka segera dihampirinya. Begitu melihat belasan orang mengurung seorang gadis, di tangan belasan orang iu juga masing-masing tergenggam senjata tajam yang siap dipergunakan.
Darah Giok Han seketika meluap, apalagi memang dilihatnya belasan orang itu yang semuanya bertampang bukan orang baik-baik, sudah meloncat maju untuk mencelakai gadis ysng sangat cantik manis itu. Tidak buang waktu lagi Giok Han meloncat untuk menolongi gadis itu. "Bolehkah aku mengerahui nama nona dan mengapa mereka hendak mengganggumu?"
"Aku Cu Siauw Hoa," menyahuti Siauw Hoa. "Aku sendiri tak tahu mengapa mereka hendak menggangguku. Tadinya, dia si Kadal Tua Lo Pi hendak merampas kantong uangku, tapi dia sudah kuhajar dan mungkin penasaran dia memanggil anak buahnya agar mencincang hancur tubuhku menjadi bubur! "
"Manusia jahat...." mengguman Giok Han mendongkol dan melirik pada si Kadal Tua Lo Pi yang masih menggeletak pingsan dengan mata mendelik dan lidah terjulur. Badannya diam tidak berkelojotan seperti tadi. Kemudian Giok Han baru menoleh lagi pada Siauw Hoa, diam-diam hatinya memuji kecantikan wajah gadis di depannya. Jarang ada gadis jang secantik Siauw Hoa. "Nona mau pergi kemana?"
"Aku sedang melihat-lihat keramaian kota. Untuk sementara aku memang tinggal di kota ini menumpang di rumah seorang sahabat ayahku. Kau sendiri mau pergi kemana?" balik bertanya Siauw Hoa, senang dia ber-cakap-cakap dengan pemuda yang sopan tapi jujur dan polos cara bicaranya, tidak bermuka-muka, bicara wajar dan sikapnya biasa saja.
"Aku baru tiba di kota ini dan kebetulan melihat kau ingin diganggu oleh orang-orang jahat itu, Cu-kouwnio..."
"Dan kau segera turun tangan menolongiku, Giok-kongcu?" memotong Siauw Hoa sambil teriawa. Giok Han juga tertawa. Walaupun mereka baru berkenalan, tapi mereka bisa bercakap cakap sangat akrab, seperti sahabat iama tak perduli orang-orang yang berkerumun tengah mengawasi mereka.
"Oya. tadi kau bilang baru tiba di kota ini dan belum lagi sempat kemana mana karena harus menolongiku, maka aku yakin kau pasti melupakan sesuatu!"
"Melupakan sesuatu? Apa maksud Cu-kouwnio?" Heran dan tidak mengerti pemuda ini atas perkataan Siaw Hoa.
"Kau tidak ingat? Coba pikir-pikir, apa yang sudah kau lupakan? Liharlah matahari suduh naik tinggi sekali ..."
GioK Han menengok ke atas, dia melihat matahari memang sudah tinggi, hari telah mendekati lohor. Tapi dia tidak mengerti apa maksud gadis ini dengan memberitahukan padanya tentang matahari yang sudah naik tinggi seperti itu. Apa yaag telah dilupakannya?
"Kau tidak ingat juga?" tanya Siauw Hoa sambil tertawa geli melihat muka Giok Han seperti kebingungan.
Giok Han menggeleng. "Benar. Aku tak tahu apa yang dimaksudkan Cu-kouwnio." jawabnya.
"Perutmu! Bukankah kau sekarang belum makan? Bukankah tadi kau bilang baru saja tiba di kota ini dan melihat aku ingin diganggu orang jahat, sehingga kau cepat-cepat turun tangan menolongiku. Pasti kau belum sempat mencari rumah penginapan, juga belum makan!"
Giok Han tertawa keras mendengar keterangan si gadis, benar-benar jenaka gadis ini. Tak salah dugaan gadis itu dia memang belum makan. "Tidak salah, Cu kounio. Aku memang belum makan," katanya polos. "Dan kau tentunya sudah lapar."
"Aku ingin mentraktir kau makan, karena tadi kau telah menolongiku."
"Terima kasih, jangan merepotkan nona."
"Jangan menolak ini sebagai pernyataan terima kasihku, juga untuk mengikat tali persahabatan. Kalau kau menolak kutraktir, berarti kau tak mau bersahabat denganku."
Giok Han tahu tak mungkin menolak, karena bisa menyinggung perasaan si gadis. Dia mengangguk "Baiklah, kita makan di mana ?"
"Ayo ikut denganku, akan kujamu kau dengan makanan yang terlezat di kota ini!" Siauw Hoa menuntun keledainya, Giok Han ikut di belakangnya dengan hati bimbang. Gadis ini baru dikenalnya, tapi ia demikian baik hati, sampai persoalan makan saja diperhatikannya. Sebetulnya Giok Han merasa agak canggung diktraktir gadis itu, diapun tak berdaya untuk menolaknya.
Siauw Hoa mengajak si pemuda ke rumah makan yang memasang merek "Fang hsiang-louw", sebuah ruman makan bertingkat dua dan ramai oleh pengunjungnya Di sana tampak banyak kuda yang ditambat pada depan rumah makan itu dengan seorang pelayan siap menyambut tamu.
Keledai Siauw Hoa telah disambut oleh pelayan itu, yang juga mempersilahkan mereka masuk. Gadis ini berpakaian mewah seperti puteri dan keluarga bangsawan, tak mengherankan kalau pelayan itu bersikap sangat menghormat.
Bukankah di dunia ini segalanya memang selalu dinilai untuk awalnya dari luar. Jika berpakaian mentereng dan mewah, tentu akan dilayani oleh setiap orang dengan hormat, baik pelayan rumah makan, rumah penginapan, ataupun pelayan-pelayan toko, pasti akan melayani mereka, yang lebih diutamakan dari mereka yang berpakaian sederhana ?
Ini sudah hukum dunia, cuma Giok Han merasa muak melihat sikap pelayan yang terlalu menghormat dengan dibuat-buat, demikian juga dua orang pelayan di ruang dalam yang menyambut mereka Giok Han berpakaian sederhana, tani ia berjalan dengan nona cantik berpakaian mentereng ini. iapun dihormat dengan sikap yang berlebihan dari pelayan-pelayan itu.
Di dalam ruang makan penuh oleh tamu, suara mereka juga berisik. Giok Han dnn Siauw Hoa dipersilahkan duduk di sebuah meja yang masih kosong. Si gadis segera memesan bermacam-macam makanan. Lidah ayam cah, kaki ayam tim kolesom, kodok goreng cara Souwciu, ikan gurame masak jamur..." banyak sekali makanan yang dipesan si gadis, semuanya merupakan makanan yang mahal-mahal dan belum pernah didengar Giok Han sebelumnya.
"Rupanya kau ahli makan Cukouwnio," kata Giok Han sambil tertawa setelah si pelayan pergi tergopoh-gopoh untuk mempersiapkan pesanannya yang serba istimewa ini.
"Kau seperti hafal dan kenal semua makanan yang istimewa, rupanya setiap hari memang kau bersantap dengan sayur-sayur seperti itu."
"Kau tahu tidah ayam cah merupakan makanan kegemaranku, sedangkan kodok goreng cara Souwcu makanan yang paling lezat di dunia, tak ada duanya. Nanti kau boleh buktikan." Siauw Hoa mengerling manis, tersenyum memikat dan bibirnya yang tipis kecil itu tersenyum menambah cantik gadis ini.
"Aku belum pernah mendengar nama-nama makanan yang kau pesan tadi, apa lagi memakannya. Karenanya, aku tak tahu bagaimana rasa makanan itu." Giok Han polos-mengakui. "Tapi kukira, semua makanan yang kau pesan itu pasti mahal sekali."
"Soal uang tak jadi soal, asal memang cocok dengan selera kita. Itu adalah pepatah yang biasa dipergunakan oleh para ahli makan. Ku kira memang tak salah kata-kata itu, setiapkali kita makan, tentu kita mau makan yang enak-enak, bukan?"
Giok Han tersenyum tak menyahuti. Gadis ini memang luar biasa. Sikapnya selalu lincah dan riang. Mereka baru berkenalan, tapi gadis ini tak canggung dan bersikap seakan mereka sudah bersahabat karib. Melihat dandanannya, tentu dia bukan gadis sembarangan, setidak-tidiknya dia puteri seorang kaya raya. Tapi mengapa dia berkeliaran seorang diri ? Juga, dia tampaknya memiliki ilmu silat yang tidak rendah, karena tadi waktu menghadapi Lo pi dia pun sanggup merubuhkan jagoan itu. Siapakah dia sebenarnya ? Siapa ayahnya? Apakah seorang hartawan atau seorang pembesar negeri ?
Makanan yang dipesan si gadis cepat sekali sudah disajikan, satu meja penuh. Giok Han merasa kenyang sebelum memakannya, melihat makanan demikian banyak, lenyap selera makannya, karena dia sendiri jadi bingung, tak tahu yang mana harus dimakan lebih dulu.
Siauw Hoa sudah mulai menyumpit jamur di masakan ikan gurame, mulutnya yang tipis bagus itu kecap-kecip tampaknya dia tengah merasakan apakah masakan ini cukup asam-garamnya. Kemudian meng-angguk-angguk. "Koki rumah makan ini cukup pandai, cuma sayangnya jamurnya terlalu lama digodok dalam masakan ini. Seharusnya dia memasukkannya 2 menit setelah ikan gurame ini hendak diangkat."
"Rupanya nonapun ahli memasak," memuji Giok Han. "Kau mengetahui masakan dengan baik, sampai hal yang sekecil-kecilnya kesalahan yang dilakukan koki, kau mengetahuinya."
"Aku memang senang memasak, jika di rumah aku sering memasakan untuk ayah. Ayah selalu memuji bahwa masakanku jauh lebih lezat dari makanan manapun," menyahuti si gadis bangga. "Oya, apakah ibumu tak pernah membuatkan masakan-masakan seperti ini ?"
Giok Han tertegun. Sejak kecil dia tak pernah lagi merasakan kasih sayang ayah ibunya, bahkan waktu kecil itu dia sudah terancam jiwanya oleh orang-orang Cu-kongkong.
Kedua orang tuanya dan juga keluarganya telah dibinasakan oleh kaki-tangan Cu-kong-kong. cuma dia seorang yang bisa diselamatkan jangankan mencicipi masakan ibunya, mendengar kata-kata yang manis memanjakan dari ibunya sudah tak pernah lagi setelah peristiwa menyedihkan hari itu.
Hidupnya selalu dikejar-kejar ketakutan, juga tertekan oleh kesedihan jika teringat pada peristiwa yang terjadi di keluarganya. Hidup di bawah bimbingan yang keras dan disiplin. Terlebih lagi setelah berdiam di Siauw Lim Si, di mana penghuninya semua pendeta-pendeta yang ciacai tak makan masakan berjiwa. Mereka selalu makan sayur-sayuran. Giok Han juga ikut makan sayur-sayuran saja.
Melihat Giok Han diam dengan muka berobah sedih, Siauw Hoa kaget- "Apakah.... apakah aku salah bicara ?" tanyanya ragu-ragu.
Giok Han menggeleng perlahan, sikapnya sedih.
"Kau beruntung masih mempunyai orang tua. Sejak kecil aku tak mempunyai ayah dan ibu." Menjelaskan Giok Han.
"Ooo. maafkan, aku telah menimbulkan kesedihanmu."
"Tak apa-apa. Aku sudah biasa hidup sederhana, karenanya aku belum pernah mendengar, apalagi memakannya, masakan-masakan seperti ini semua." Sambil berkata Giok Han menunjuk pada sayur-sayur yang ada di atas meja.
Sejak kecil Siauw Hoa berada ditengah-tengah keluarga bangsawan, ayahnya memiliki kedudukan tertinggi di daratan Tionggoan setelah Kaisar. Di istana ayahnya banyak sekali koki dan pelayan.
Setiap keinginannya selalu diperolehnya, tinggal memberikan perintah pada pelayan-pelayan maupun anak buah ayahnya. Tak pernah merasakan susah sejak kecil, hidup dalam kemewahan dan dimanja.
Tapi mendengar keterangan Giok Han yang nadanya seperti mengeluh, tak urung Siauw Hoa terharu juga.
Sudahlah, mari kita sikat habis makanan ini !" katanya gembira, untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Giok Han juga sudah tertawa lagi, karena Siauw Hoa mengajaknya bicara dengan gembira tertawa-tawa membicarakan tentang cara memasak sayur-sayur yang mereka makan, bagaimana membuatnya bagaimana penyajiannya dan lain-lainya.
Cepat sekali Giok Han melupakan kesedihannya itu. Siauw Hoa juga bercerita dia mendatangi tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah, banyak tempat-tempat yang telah dikunjunginya. Giok Han mendengarkan tertarik campur heran, karena demikian luas pengetahuan gadis ini.
Menarik sekali bercakap-cakap dengan gadis cantik manis juga sangat ramah dan riang seperti Siauw Hoa. Tanpa mereka sadari dua orang bertubuh tinggi besar, bermata biru langit, bibir yang lebar dan berewok yang memenuhi janggut, menghampiri meja Siauw Hoa dan Giok Han.
Kedua orang itu bukan orang Han. mereka tampaknya-seperti orang Persia. Kedua orang ini menekuk kaki mereka, memberi hormat pada Siauw Hoa.
"Siaow-kuncu, Siauw cukong memanggil segera pulang," kata salah seorang dari kedua orang Persia dengan sikap horrnat. "Kami menunggu perintah Siauw-kuncu"
Muka Siauw Hoa berobah, dingin dan tak acuh mengibaskan tangannya. "Kalian tunggu di luar, aku belum mau pulang."
"Tapi Siauw-kuncu ..."
"jangan rewel, keluar kalian jangan mengganggu kesenanganku !" bentak Siauw Hoa.
"Baik, baik," kedua orang Persia itu cepat-cepat meninggalkan ruang makan itu dengan sikap menghormat campur takut.
Giok Han menyaksikan peristiwa ini heran dan tak mengerti. Siapa sebenarnya gadis ini ? Melihat kedua orang Persia yang bersikap begitu hormat, juga panggilan "Siauw-kuncu", tentunya gadis ini puteri seorang pembesar negeri. Waktu itu mulai timbul keraguan di hati Giok Han.
Dia tak tahu apakah gadis ini bisa dijadikan sahabatnya atau tidak. Apakah ayah si gadis pembesar kerajaan yang bekerja, jadi kaki tangan Cu-kongkong atau bukan ? Giok Han jadi dingin sikapnya dan berdiam diri saja.
Kalau tadi Giok Han bercakap cakap dengan riang bersama si gadis, sekarang dia cuma menjawab satu dua perkataan saja. Selera makannya juga lenyap.
Siauw Hoa merasakan perobahan sikap Giok Han, bola matanya yang bening mengawasi Giok Han. "Orang-orangku itu memang tak tahu aturan, harap kau maafkan." Si gadis meletakkan sumpitnya. "Lebih baik kita pergi ke taman "Cing-ki-louw" yang ada di pintu barat kota ini. Di sana kita bisa mengobrol tanpa diganggu orang orangku. Pemandangan di sana sangat indah."
Giok Han tersenyum. "Maaf, aku sangat berterima kasih atas kebaikan nona yang telah menjamu makan padaku. Aku ingin melanjutkan perjalanan, nanti jika ada kesempatan kita bertemu lagi."
Muka si gadis berobah, wajah yang cantik jadi berobah sedih. "Kau marah?" tanyanya.
"Marah? Mengapa aku harus marah ? Nona tak berbuat salah apa-apa padaku. Aku yang seharusnya minta maaf, karena tak bisa mengiringi kegembiraan nona buat pergi ke-Cing-ki-louw."
"Kau mau pergi kemana ?"
"Mungkin mencari rumah penginapan, atau mungkin juga meneruskan perjalanan, karena hari belum lagi sore."
Siau Hoa menunduk sedih, suaranya perlahan waktu menggumam: "Aku benar-benar bernasib buruk. Baru saja gembira karena mendapat sahabat, sudah diganggu oleh orang-orang ayah. Sudahlah, kau mau pergi, pergilah. mungkin kau tak mau bersahabat denganku." waktu bilang begitu, dia menunduk tak menatap pada Giok Han, hati Giok Han tergerak. Dia terharu melihat kebaikan dan kesungguhan had gadis ini yang mau bersahabat dengannya, Tapi dia ragu kalau-kalau gadis ini puteri pembesar kerajaan. Sedangkan Giok Han memusuhi Kaisar dan Cu-kongkong, berarti juga musuh semua pembesar kerajaan.
Hal inilah yang membuat Giok Han merasa sulit bergaul dengan gadis ini, walaupun hatinya tertarik pada gadis yang cantik dan ramah ini. Sikapnya yang lincah dan akrab membuat Giok Han semula merasakan persahabatan yang intim. Tapi sekarang, di antara mereka berdua seperti dibendung selapis benda yang memisahkan mereka.
Mendadak di luar terdengar suara ribut-ribut. Bahkan Giok Han mendengar suara orang Persia yang tadi menemui Siau Hoa, yang membentak keras: "Kunyuk belang, kau mencari mampus ?" Dibarengi oleh suara "Serrrr..! Serrrrr! Desssss!"
Muka Siau Hoa berobah, dia melirik pada Giok Han, yang waktu itu sudah berdiri dan memandang ke luar.
"Entah mereka bentrok dengan siapa ?!" menggumam Siau Hoa sambil berdiri lesu." Mari kita lihat."
Ketika berada diluar, Giok Han kaget, karena dilihatnya kedua orang Persia itu mengeroyok seseorang yang dikenalnya. Orang itu berpakaian compang camping, dengan muka yang kotor mesum, karenanya tadi orang Persia itu menyebutnya sebagai kunyuk belang, pengemis tersebut tidak lain si pengemis yang telah meninggalkannya beberapa waktu yang lalu.
Tak buang waktu lagi Giok Han segera lompat sambit berseru: "Hentikan, dia sahabatku !" Dan tangan Giok Han menyampok kepalan tangan kiri orang Persia yang ada di-kanan.
Tenaga orang Persia itu kuat, tapi dia memiliki tenaga gwakang, tenaga luar dan kasar, cuma mengandalkan kekuaran badan saja, sedangkan Giok Han menangkis dengan mempergunakan tenaga lunak, tenaga pukulan orang Persia, yang kebetulan sedang mengancam dada si pengemis, seperti amblas kedalam lautan, lenyap. Orang Persia itu kaget dan melompat mundur, kawannya juga berhenti menyerang si pengemis.
"Sahabat," panggil Giok Han sambil menghampiri si pengemis. "Kau membuat aku pusing mencari carimu !"
Si pengemis melirik Giok Han seperti juga tak kenal padanya, dingin sekali. "Buat apa kau mencari-cariku?"
"Sahabat, kau... kau marah padaku? " tanya Giok Han.
"Cissss, buat apa marah padamu?" dan si pengemis melangkah pergi.
"Sahabat" panggil Giok Han mengejar.
Tapi pengemis itu tak mengacuhkannya dan berlari pergi. Giok Han jadi berdiri tertegun di tempatnya.
Siau Hoa yang menyaksikan Giok Han menangkis pukulan orang Persia dengan mudah dan kemudian memanggil-manggil si pengemis dengan sebutan "Sahabat", alisnya jadi mengkerut.
Apakah pengemis kotor mesum itu sahabat Giok Han ? Sedangkan kedua orang Persia itu memandang penasaran pada Giok-Han. Cuma saja mereka mengetahui Giok-Han kawan Siau-kuncu mereka, tak berani mereka bertindak sembarangan.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalia berkelahi dengan pengemis kotor itu?" tanya Siau hoa pada kedua orang Persia.
"Tadi dia menghampiri kami dan minta sedekah. Kami bilang tak ada uang kecil untuknya, tahu-tahu muka kami digamparnya!"
"waktu memberi tahukan demikian, muka kedua orang Persia itu berobah merah.
Sebetulnya mereka orang-orang berkepandaian tinggi tapi tadi kcolongan digampar pengemis itu karena mereka tidak berwaspada selain tangan si pengemis memang menyambarnya begitu cepat.
"Apakah kalian tak kenal pengemis itu? " tanya Siau Hoa lagi, sebagai gadis cerdik, dia segera bisa menduga bahwa didalam urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Bukankah Giok Han tadi memanggil-manggil si pengemis dengan sebutan "sahabat" ? Dan juga si pengemis seperti marah pada Giok Han tak melayani pemuda itu.
"Kami tak pernah bertemu dengan pengemis kotor itu sebelumnya, Siauw-kongcu. kami juga heran dia seperti sengaja mencari urusan dengan kami. Kalau saja tidak dihalangi... dihalangi dia..."
Tapi orang Persia itu tak meneruskan perkataannya, karena Siauw Hoa sudah mendeliki mata padanya. Yang dimaksudkan orang Persia dengan sebutan "dia" adalah Giok Han yang dimaksudkan kalau saja Giok Han tidak menghalanginya, tentu mereka bisa menghajar si pengemis yang sudah berlaku kurang ajar menampar mereka.
"Sudahlah kalian lain kali tak boleh mencari-cari urusan karena jika diketahui oleh ayahKU tentu mempersulit diriku juga, lain kali tentu aku tak diijinkan untuk keluyuran diluar."
Kedua orang Persia itu mengangguk, tapi mata mereka melirik Giok Han, seakan-akan masih penasaran karena tadi Giok Han sudah menghalangi mereka menghajar sipengemis.
Giok Han lesu menphampiri si gadis, merangkapkan kedua tangannya memberi hormat. "Cu-kounio. aku sebetulnya, masih ingin mengobrol dengan kau, tapi ada sesuatu yang perlu kuurus maka terpaksa kita harus berpisah."
"Ya, aku tahu engkau hendak melakukan sesuatu. Percuma jika memang kau mau pergi." menyahut Siauw Hoa, tawar. Dia menduga, tentu Giok Han hendak mengejar sipengemis sahabatnya itu. Melihat sikap Giok Han yang tak tenang, jelas Giok Han seperti lebih mementingkan si pengemis dari dirinya, diam-diam Siauw Hoa mendongkol.
Dia cantik jelita, selalu memperlakukan Giok Han dengan riang dan baik, sedangkan si pengemis compang camping dan kotor, tapi Giok Han lebih mementingkan "sahabat" nya itu. Dia jadi heran juga. Biasanya pemuda pemuda lain akan merasa beruntung jika bisa bercakap-cakap dengannya satu dua patah saja, tapi Giok Han ternyata lain, dia malah lebih mementingkan sahabatnya yang kotor mesum itu.
Bukankah kata-kata yang biasa dipergunakan orang ialah pemuda akan lupa sahabat jika sedang asyik mengobrol dengan wanita cantik?
Dugaan Siauw Hoa tidak keliru, karena dia sudah berlari ke arah tadi dimana si pengemis kotor itu pergi. Siauw Hoa mengawasi kepergian Giok Han sesaat lamanya, biarpun mukanya dingin tak memperlihatkan perasaan apa-apa, hatinya justeru tengah digeluti oleh perasaan yang tidak enak, yang aneh, yang selama ini belum pernah dirasakannya.
Dia juga menyesal, mengapa tak bisa lebih lama lagi mengobrol dengan pemuda yang menarik hati itu? Mengapa harus berpisah secepat itu ? Akhirnya Siauw Hoa menghela napas, mengajak orang Persia itu meninggalkan tempat tersebut.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ruangan itu besar dan penuh oleh perabotan yang mewah, di sebelah kanan ruang itu tampak meja ukir dari kayu cendana. Di kursi yang ada di dekatnya duduk seorang bertubuh agak gemuk berjubah pendeta usianya limapulun tahun lebih.
Tubuhnya diam tak bergerak, tapi kedua tangannya bergerak-gerak perlahan sekali, cuma saja setiapkali tangan itu bergerak, lambat-lambat mengeluarkan suara "Wutttut . . . Wuttttt . . . !" yang santer dan kuat, membuat ruangan itu seperti bergoncang ada gempa.
Semakin lama tangan pendeta itu bergerak semakin lambat, tapi tenaga yang keluar dari kedua telapak tangannya semakin kua ruangan itu seperti dilanda angin topan yang keras.
Mendadak pendeta itu berhenti menggerakan tangannya, menoleh ke pintu ruangan. Matanya bersinar tajam. "Mengapa kau tak masuk?" tegurnya, parau suaranya.
Daun pintu terbuka, tampak Cu Lie Seng masuk dan memberi hormat. "Tecu mengganggu latihan suhu, ada sesuatu yang perlu tecu laporkan."
"Sudah kau dapat barang yang kuinginkan itu?" tanya pendeta tersebut yang tak lain dari Tang San Siansu.
"Tecu sudah berhasil menyelidiki dan mengetahui di mana adanya Liong kak-tung. Bahkan tecu sudah bertemu dengan seseorang yang memakai gelaran Liong kak-sin-hiap."
Alis Tang San Siansu bergerak-gerak, keningnya mengkerut, tanganya terkepal, tapi tak berkata apa-apa.
Cu Lie Seng meneruskan perkataannya: "Tecu menerima laporan bahwa Liong-kak-tung berada di tangan Toat-beng-sin-ciang. Dia pemilik terakhir Liong-kak-tung. Bersama-sama dengan Bwee-sim-mo li suhu, tecu sudah pergi kesana. Pak-mo, Tong-mo, See-mo dan Lam-mo juga ikut serta.
Toat-beng-sin-ciang mengandalkan racunnya, ia rupanya seorang yang benar-benar ahli mempergunakan racun. Waktu tecu sampai di sana, ada seorang pengemis berusia muda yang menghalangi tecu dan yang lainnya, mungkin dia murid Toat-beng-sin-ciang.
Tecu bermaksud menawannya, tapi gagal, karena waktu itu muncul orang yang mengaku sebagai Liong-kak-sin hiap dan menolongnya. Jika saja tecu berhasil menawan hidup-hidup pengemis iiu, niscaya tecu bisa mengorek keterangan dirinya."
"Sekarang di mana pengemis itu ?" tanya Tang San Siansu, dingin suaranya. Walaupun hatinya agak tegang mendengar barang yang selama ini dicari-carinya sudah diketahui berada di mana" wajahnya tetap dingin dan biasa saja.
"Dia melarikan diri, demikian juga pemuda yang menolonginya berhasil lolos. Tapi, tecu kira mereka melarikan diri tak jauh dari tempat ini kalau memang suhu mau mencari mereka, tentu tak begitu sulit, tecu sudah perintahkan Pak-mo berempat pergi menyelidiki dan mencari jejak pengemis itu dan pemuda yang bergelar Liong-kak-sin-hiap."
"Hemmm, bagaimana kepandaian pernuda yang bergelar Liong-kak-sin-hiap itu?"
"Ampunkan tecu suhu, karena tecu tak berhasil menangkapnya. Tapi tecu berjanji, jika suatu saat nanti tecu berhasil mencarinya, tentu tecu akan menangkapnya hidup-hidup, untuk mengorek keterangan. Kepandaiannya memang tinggi, tapi tecu bisa mengatur siasat sebaik-baiknya."
"Kecewa kau menjadi muridku, sudah cukup banyak kepandaian yang kuwariskan kepadamu. Tapi, mengapa kau membiarkan kedua orang itu lolos?" tegur Tang San Siansu.
Muka Cu Lie Seng berobah merah, dia malu. Memang gurunya sudah mewariskan bermacam-macam ilmu, biasanya Cu Lie Seng-pun bersikap congkak dan yakin bahwa dia sudah memiliki kepandaian tanpa tandingan.
Menurut gurunya, yang bisa menandingi Cu Lie Seng saat itu cuma beberapa orang saja, itupun tokoh-tokoh tua berkepandaian tinggi. Tapi sekarang, selain dia gagal menawan pengemis yang diduga nurid Toat - beng - sin-ciang, juga dia tak berhasil menangkap pemuda yang memakai gelaran Liong-kak-sin-hiap.
"Dalam waktu dekat tecu akan berusaha menangkap mereka," janji Cu Lie Seng menunduk.
"Dalam penyelidikanmu itu,apakah sudah dapat dipastikan bahwa Liong-kak- tung berada di tangan Toat-beng-sin-ciang? "menegaskan gurunya.
"Sembilan bagian memang dia pemilik terakhir tongkat Liong-kak-tung, tapi sejauh itu tecu belum berhasil bertemu dengannya. Kemarin waktu gagal menangkap pengemis itu. tecu sudah merusak tempat kediamannya, mungkin Toat beng-sin-ciang dalam waktu dekat memperlihatkan diri, di waktu itu pasti tecu lebih mudah untuk membekuknya dan memaksa dia menyerahkan tongkat Liong-kak tung.
Tang San Siansu menggeleng-geleng perlahan, gumamnya: "Toat-beng-sin-ciang bukan orang berkepandaian lemah, walaupun aku yakin kau bersama-sama Tong-mo, Pak-mo, See-mo, Lam mo dan Bwee-sim-mo-lie bisa menghadapi mereka, tapi agar urusan tak jadi berantakan, aku akan ikut buat membekuk Toat-beng-sin ciang. Sekarang pergilah kau selidiki, dimana dia berdiam, secepatnya beritahukan padaku setelah berhasil mengetahui beradanya Toat beng-sin-ciang. Demikian juga halnya dengan pengemis dan pemuda yang mengaku sebagai Liong-kak-sin-hiap kau selidiki di mana mereka berada. Jika sudah mengetahui, segera bersama-sama denganku pergi untuk membekuk mereka. "
"Baik suhu," Cu Lie Seng mengundurkan diri dari ruangan itu, untuk melaksanakan perintah gurunya.
Tang San Siansu duduk diam di kursinya, tak melatih kedua tangannya lagi. Kalau tadi dia tengah menyempurnakan latihan Liong-beng- kun". Sekarang dia sudah mencapai tingkat sangat tinggi, telah sampai pada titik penentuan dari latihannya. Itulah sebabnya selama seminggu ini dia selalu mengurung diri untuk melatih bagian terakhir ilmunya yang dahsyat itu.
Mungkin memerlukan waktu tiga hari lagi untuk merampungkan latihannya tersebut, sehingga dia benar-benar sangat tangguh dengan ilmunya yang terlatih sampai pada titik yang tertinggi, Cuma saja mendengar ada pemuda yang bergelar "Liong-kak-sin-hiap", dia jadi penasaran dan ingin cepat cepat menangkap pemuda itu. buat mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu.
Hal ini disebabkan si pemuda memakai gelaran dari nama senjata yang paling ditakuti Tang San Siansu, senjata yang bisa memunahkah ilmu "Liong beng-kun" nya !
Tang San Siansu sekarang sudah mencapai tingkat latihan "Liong beng-kun" yang sangat tinggi. Dapat dikatakan jarang ada lawan yang bisa menandingi pendeta bekas murid Siauw Lim si ini. Memang ambisi Tang San Siansu ingin menguasai rimba persilatan terutama sekali untuk merampas kedudukan pimpinan atau Ciangbunjin Siauw Lim Si karena dia sakit hati pernah diusir dari Siauw Lim Si.
Yang membuatnya tak berani segera turun tangan, ia tahu Siauw Lim Si merupakan pintu perguruan yang memiliki murid-murid lihai. merupakan pintu perguruan besar yang disegani semua orang. Bekerja seorang din saja tak mungkin bisa menguasai Siauw Lim Si, akhirnya Tang San Siansu menghamba pada Cu-kongkong.
Ia bukan tak mempunyai maksud. Dengan menghamba pada kebiri yang paling berkuasa pada saat itu, niscaya ia bisa memanfaatkan kekuasaan Cu-kongkong untuk membantunya, memperalat pembesar kerajaan itu. meminjam tangan Cu-kongkong buat merampas Siauw Lim Si. Tapi tak disangkanya, justeru gurunya yang semula diduga sudah mati, ternyata masih hidup.
Karenanya setelah meninggalkan Siauw Lim Si, Tang San Siansu mati-matian melatih Liong beng kunnya lebih giat, ia mengurung diri dan hanya mendidik Cu Lie Seng. Luka di dalam tubuh yang disebabkan pukulan gurunya, memaksa dia harus menyembuhkannya dengan mengorbankan lwekangnya sebagian, setelah setahun barulah lwekangnya pulih.
Dendamnya pada Siauw Lim Si semakin hebat, dia bertekad walaupun bagaimana harus merampas kedudukan pimpinan Siauw Lim Si, jika perlu membumi hangus kan Siauw Lim Si.
Tentu saja jika jalan ini ditempuh, dia akan memanfaatkan kekuasaan Cu kongkong, meminjam tangannya untuk mengerahkan pasukan tentara untuk menghancurkan Siauw Lim Si, dengan tuduhan bahwa Siauw Lim Si ingin memberontak pada kerajaan, dan Kaisar menghukum pintu perguruan itu !
Siapa sangka sekarang justeru didengar-nya ada seorang pemuda berkepandaian tinggi yang memakai gelaran Liong-kak-sin-hiap membuat Tang San Siansu tak sabar ingin cepat-cepat menangkap nemuda itu, untuk dikorek keterangannya.
Entah murid siapa pemuda itu, tapi yang pasti ada tantangan dengannya, karena pemuda itu memakai gelaran Liong-kak-sin hiap, yang berhubungan dengan Liong-kak-tung, senjata yang paling ditakuti oleh Tang San Siansu, sebab Liong-kak-tung bisa menghancurkan sinkangnya dan latihan Liong beng-kunnya bisa buyar kalau terserang oleh totokan Liong-kak-tung pada beberapa jalan darah tertentu di tubuhnya.
Mati atau hidup pemuda itu harus ditangkap, juga pengemis yang diduga murid Toat-beng-sin ciang, harus ditangkap juga, buat mengetahui dimana bersembunyinya Toat-beng-sin-ciang yang menurut muridnya justeru merupakan pemilik terakhir Liong-kak-tung, senjata yang diinginkan benar oleh Tan San Siansu.
Kalau usaha mendapatkan Liong-kak-tung sudah berhasil, selanjutnya Tang San Siansu tak takut pada apapun juga, terhadap siapapun dia tak gentar lagi, karena Liong beng-kunnya sudah dilatih demikian hebat dan tinggi jarang ada orang yang bisa mengalahkan Tang San Siansu sekarang ini, apa lagi kalau Liong-kak-tung sudah berada di tangannya.
Tang San Siansu tak perlu kuatir lagi nanti seseorang mempergunakan senjata yang menakutkan baginya itu untuk menyerang dirinya. Mati-matian Tang San Siansu menyuruh muridnya mencari dan menyelidiki di mana adanya Liong-kak-tung.
Siapa tahu, sekarang muridnya sudah memperoleh kabar yang menggembirakan, yaitu Liong kak-tung berada di tengah Toat-beng-sin-ciang.
Tang San Siansu memang pernah mendengar perihal Toat-beng-sin-ciang, seorang jago tua yang berperangai aneh, tapi Tang San Siansu yakin ia bisa menghadapi Toat-beng-sin ciang dengan Liong-beng-kunnya. Berita yang dibawa muridnya menyenangkan, juga menggelisahkan Tang San Siansu.
Rasanya dia tak sabar lagi,ingin cepat-cepat mengetahui dimana adanya Toat-beng-sin ciang buat merampas Liong kak-tung. Semakin cepat semakin baik baginya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Giok Han mencari-cari si pengemis, tapi tetap tak berhasil menemukan jejaknya, biarpun dia sudah berlari ke sana kemari cukup jauh. Karena sudah mengetahui bahwa pengemis itu seorang gadis, Giok Han bisa menduga-duga mungkin si pengemis marah melihat dia bersama-sama dengan Siauw Hoa di rumah makan dan pengemis itu jadi iak mau meladeni nya lagi, tak acuh.
Entah mengapa Giok Han merasa pengemis itu merupakan sahabatnya, biarpun mereka berkenaIan belum terlalu lama. Sikap dan kelakuan si pengemis yang selalu bicara blak-blakan dengannya, juga memang si pengemis pernah menjanjikan padanya untuk bantu menghadapi Siangkoan Giok Lin, rupanya pengemis itu menyimpan sesuatu rahasia.
Banyak yang ingin diketahui Giok Han, terutama sekali Toat-beng-sin ciang apakah mempunyai hubungan dengan si pengemis ?" Mengapa gadis ini berpakaian sebagai pengemis ? Padahal waktu kopiahnya terbuka sehingga rambutnya terurai, sekilas Giok Han bisa melihat pengemis ini yang cukup cantik, walaupun mukanya begitu kotor tak karuan.
Di samping itu Giok Han mengetahui bahwa pengemis itu terancam keselamatannya oleh Cu Lie Seng dan orang-orangnya, biar bagaimanapun sikap si pengemis terhadapnya, tetap dia bermaksud membantu pengemis itu.
Tapi setelah mencari-cari sekian lama tetap tak berhasil bertemu dengan pengemis itu, Giok Han jadi putus asa. Waktu itu dia berada didepan pintu kota sebelah selatan, terpisah kurang lebih lima lie. Di sana sepi, hanya banyak pohon-pohon yang rindang tumbuh dikedua tepi jalan tersebut.
Kemana harus dicarinya pengemis itu ? Kemana perginya pengemis yang memiliki kelakuan aneh dan juga penuh dengan rahasia itu ? Sedangkan Giok Han berdiri di situ mengawasi sekitarnya dengan putus asa karena tak berhasil mencari si pengemis mendadak dilihatnya ada sesosok tubuh dari balik sebatang pohon yang berputar-putar menghampiri padanya.
Giok Han mengawasi lebih tegas, ternyata orang itu berjalan bukan dengan kedua kakinya, melainkan jungkir balik, jalan dengan tangannya yang kiri tubuhnya berputar-putar seperti gangsing dan ringan menghampiri Giok Han.
Orang itu tak lain See-mo Uh Ma, iblis dari Barat yang bertubuh cebol seperti tinggi tubuh seorang anak berusia 12 tahun. See-mo tak kenal Giok Han lagi, karena dulu waktu dia pernah bertemu dengan Giok Han dan mengajarkan "Tok Pie Ginkang", pemuda ini masih kecil.
Sekarang See-mo cuma tahu bahwa Giok Han "Liong-kak-sin-hiap" yang pernah dikepung dia dan kawan-kawan-nya, tapi tak berhasil menundukkannya.
See-mo tengah menyelidiki keadaan di sekitar itu, mencari Giok Han dan si pengemis atas perintah Cu Lie Seng Demikian juga Pak-mo, Lam-mo dan Tong-mo, semuanya mencari Giok Han dan si pengemis ditempat berpencaran.
Tak disangkanya ia melihat Giok-Han tengah berlari lari mendatangi, dia mendekam diatas cabang pohon mengawasi gerak-gerik Giok Han. Melihat si pemuda berhenti berlari dan berdiri diam mengawasi sekitar tempat itu, See-mo yang tak bisa menahan diri lagi ingin cepat cepat menangkapnya segera lompat turun buat menangkap Li-ong-kak-sin-hiap ini.
Tentu Cu-cukongnya girang sekali. Dengan mempergunakan "Tok-Pie Ginkang", tubuhnya jumpalitan, kedua kakinya menjulang ke atas, kepala dibawah dan dia maju berputar seperti gangsing, di mana kelima jari tangannya yang bertenaga itu berputar seperti roda saja.
"Bocah, sekarang kau tak bisa pergi lagi!" Teriak See-mo waktu dia sudah dekat dengan Giok Han. "Kau harus baik-baik turut denganku menemui Siauw-cukongku!"
Dalam jengkelnya, Giok Han jadi ingin mempermainkan si cebol ini, timbul kegembiraannya. Dia tadi begitu kesal karena tak berhasil mencari si pengemis, tapi sekarang timbul keinginannya untuk coba-coba kepandaian See-mo, karena dulu ia pernah diajarkan ilmu "Tok Pie Gin kang". Tapi Giok Han tak tahu apa namanya ilmu tersebut, dia hanya tahu ilmu ini bisa di pergunakan untuk jalan dengan kepala dibawah dan hanya mempergunakan tangan kiri saja berputar seperti gangsing.
Mendadak tubuh Giok Han melompat ke-atas loncatannya tinggi, waktu tubuhnya meluncur turun, kepalanya lebih dulu, kemudian tangan kirinya menyangga tubuhnya, berputar-putar seperti yang dilakukan See mo.
"Ihhhhh! "Si cebol berseru kaget, dia mengenali Giok Han mempergunakan ilmu andalannya sendiri, dari mana pemuda ini memperoleh dan mempelajari ilmu andalannya tersebut ? Dia jadi mengawasi bengong sebentar, sedangkan tubuhnya sejenak berhenti berputar.
Dia tak mengerti mengapa Giok-Han bisa melakukan seperti yang dilakukannya, yaitu tubuh berjungkir balik seperti itu. "Ayo, mari kita main-main !" ajak Giok Han. "Bukankah kau senang main-main?"
"Hahaha... haha...!" tertawa See-mo setelah berkurang rasa kagetnya. "Kau mencuri dari mana ilmuku "Tok Pie Ginkang itu ?"
Tubuh Giok Han berputar-putar, sengaja tertawa. ingin mempermaiankan See-mo.
"Aku diajarkan olehmu, aku anak angkatmu, bukan ?" menjawab si pemuda.
"Apa ?" kembali See-mo kaget. "Kau... kau anak angkatku ? Aku mengajarkan kau Tok Pie Ginkang ?"
"Ya", menyahuti Giok Han. "Nah, ayolah kita main-main, mengapa bengong saja di situ ?"
See-mo seperti berpikir keras, lenyap kegembiraannya untuk men;alankan Tok Pie-Ginkang, yang sedang dipikirkannya siapakah pemuda di depannya ini, yang mengaku sebagai anak angkatnya dan juga mengaku pernah menerima pengajaran ilmu "Tok Pie Gin-kang" langsung dari dia.
"Siapa namamu ?" Tanya See-mo mengawasi tajam pada Giok Han, karena tetap saja dia tak ingat siapa pemuda ini, tak mengenalinya dan memang dia merasa baru satu kali bertemu dengan Giok Han yaitu ketika ia bersama Pak mo, Lam-mo danTong-mo serta yang lain-lannya mengeroyok Giok Han.
Tapi See-mo cuma tahu bahwa pemuda ini bergelar "Liong-kak-sin-hiap" dan mempunyai kepandaian yang tinggi tak bisa diremehkan. Tapi sekarang justru Giok Han membawakan jurus-jurus "Tok Pie Ginkang" jurus ilmu andalannya karuan saja dia jadi tercengang dan bingung.
This entry was posted
on Senin, Agustus 02, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar