Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 12  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid Ke 12
Semuanya berlangsung begitu cepat sehingga bagi mereka yang kepandaiannya masih tanggung-tanggung tentu tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi. Dalam sedetik itu saja terdengar suara benturan keras.
"Wuutt...! Desss ! Blanggg !" disusul kemudian tubuh Wie Tay Siansu meluncur di tengah udara dengan arah berlawanan dari tadi. Kalau semula dia menerjang maju, kini tubuhnya berpoksay ke belakang dan tahu-tahu sudah berdiri di samping Wie Sin Siansu tanpa kurang suatu apapun juga !
Lam-mo dan See-mo kaget waktu tadi tangan mereka terpukul telapak tangan Wie Tay Siansu dan sedetik itu mata mereka kabur oleh gerakan tubuh Wie Tay Siansu, tahu-tahu pukulan mereka telah saling bentur begitu kuat, sampai masing-masing merasa pergelangan tangan kesemutan.
Begitu mereka tersadar dan melihat Wie Tay Siansu sudah berdiri di samping Wie Sin Siansu, mereka tidak urung jadi kagum untuk liehaynya pendeta itu.
Kalau tadi yang menerima serangan Lam-mo dan See-mo berdua bukan Wie Tay Siansu seorang yang berkepandaian sudah tinggi, tentu akan cilaka di tangan maut kedua dedengkot iblis itu. Tapi, dalam keadaan terjepit seperti itulah Wie Tay Siansu mempergunakan "Bi-ciong-kun" di mana sepasang tangannya bergerak cepat sekali mengaburkan pandangan mata kedua dedengkot iblis itu.

Mempergunakan kesempatan yang hanya satu detik itu Wie Tay Siansu sudah menghantam tangan Lam-mo dan See mo, mempergunakan tenaga membalik tubuhnya bisa terdorong mental bersalto ke belakang. Sedangkan See-mo dan Lam-mo dalam keadaan kaget dan heran sebab pandangan mata mereka kabur, pengerahan tenaga dalam kurang penuh, perhatian mereka sedetik itu terpecahkan, membuat tangan mereka yang terpukul tangan Wie Tay Siansu jadi kesemutan dan nyeri !
Cu Lie Seng berdiri tenang, mukanya tetap beku dingin tidak perlihatkan apakah dia gembira atau marah. Matanya yang bentuknya sangat bagus mencorong bersinar tajam sekali, pandangan yang dingin dan bisa membuat orang lain jadi menggigil melihatnya.
Wie Sin Siansu yang sabar luar biasa, kinipun mulai naik darah, mengetahui pemuda di depannya adalah orang yang mencelakakan Tang Bun Siansu. la maju dua langkah, katanya tajam. "Apa sebabnya kau menganiaya Tang Bun Susiok kami ?"
"Sebabnya ?" Cu Lie Seng membuang pandang ke arah lain, sikapnya tetap dingin dan masih dengan sikap angkuh tidak memandang setelah mata kepada ketujuh perdeta Siauw Lim.
"Kalian benar-benar tujuh pendeta tolol ! Sudan berkali-kali kuberitahukan sebabnya adalah Tang Bun terlalu berkepala batu!"
"Dengan cara bagaimana kau menganiaya Susiok kami?" Tanya Wie Sin Siansu tidak perdulikan ejekan Cu Lie Seng.
"Tidak sulit. Untuk menghukum seorang tolol seperti Tang Bun tidak terlalu sulit ! Aku telah merusak urat syaraf pusat di tengkuknya."
Muka tujuh pendeta alim Sauw Lim Sie berobah hebat, tubuh Wie Un Siansu dan Wie Khie Siansu sampai menggigil menahan marah. Wie Tay Siansu seperti kalap menjerit hendak menyerang lagi.
Wie Sin Siansu merangkapkan tangannya "Omitohud !" pujinya pada kebesaran sang Buddha. "Baiklah ! Kau sudah mengakui semua perbuatanmu, Kini jelas yang menganiaya Susiok kami adalah kau, maka Kongcu kau harus ikut dengan kami ke Siauw Lim Sie, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu, nanti Hongthio kami yang akan mengadili kau dan memutuskan hukuman apa yang layak diberikan kepadamu! Usiamu masih demikian muda, tapi tanganmu sangat beracun sekali Siancai ! Siancai !"
Cu Lie Seng memandang dingin kepada Wie Sin Siansu, dia bilang: "Ikut kalian ke Siauw Lim Sie ? Apakah kau kira begitu mudah untuk mengajakku ke sana ? Diundang oleh Hongthio kalian, yang turun gunung dan berlutut didepan kakiku, belum tentu aku terima undangannya !"
Naik darah Wie Sin Siansu. Bagaimana sabarnya pendeta ini, mendengar hinaan yang keterlaluan seperti itu, lenyap kesabarannya.
"Baiklah, Loceng ingin meminta pelajaran dari kau, Kongcu !" Tawar suara si pendeta, dia sudah memutuskan walaupun bagaimana haras membekuk Cu Lie Seng, untuk dibawa ke Siauw Lim Sie, buat diserahkan kepada Hongthio Siauw Lim Sie.
Cu Lie Seng memutar tubuhnya tidak memperdulikan Wie Sin Siansu dan enam orang Suenya, dia menarik tangan Siauw Hoa. "Adik Siauw Hoa, mari kita pulang... menjemukan melayani pendeta-pendeta tolol seperti mereka !"
Wie Sin Siansu mengibaskan lengan jubahnya mengisyaratkan keenam Sutenya, yang melompat mengepung Cu Lie Seng bersama Siauw Hoa, Lam-mo, Pak-mo, See-mo dan Tong-mo di tengah-tengah.
"Karena kau mengakui kau seorang diri yang menganiaya Tang Bun Susiok kami, kami tidak akan mengganggu yang lainnya. Nah, silakan yang tidak berkepentingan untuk pergi, kami tidak akan mengganggu kalian !" Nyaring suara Wie Sin Siansu, yang sudah naik darah.
Tenang sekali Cu Lie Seng, dia melangkah terus tidak acuh pada ketujuh pendeta Siauw Lim. Sedikitpun tidak tampak rasa kuatir dia akan diserang. Lam-mo berempat berjalan di belakangnya.
Wie Sin Siansu menggerakkan tangan kanannya, isyarat unuk mulai menyerang. Lam-mo tiba-tiba tertawa bergelak-gelak. Keras sekali suara tertawanya, bergelomnang berayun-ayun, seakan menggoncangkan sekitar tempat itu, yang seperti dilanda gempa. Lam-mo memang ahli Coan-im-jip-bit (Menyusup-kan Suara Ke Dalam Kepadatan / Mengirim Suara Dari Jarak Jauh) yang tentu saja memiliki sinkang yang sudah tinggi.
Sekarang dia tertawa dengan mempergunakan ilmunya, tidak mengherankan kalau tempat itu bergoncang bagaikan dilanda gempa.
Wie Sin Siansu bertujuh mengawasi waspada, siap menyerang. Sedangkan suara tertawa Lam-mo mendadak lenyap. Muka dedengkot iblis dari Selatan ini tampak bengis.
"Kalian hendak membawa pergi Kongcu kami? Ini berarti kalian harus membawa kami juga! Hei Wie Sin, tahukah kau siapa Kongcu kami ini? Kukira, jika kau kuberitahukan siapa Kongcu kami ini, kau dengan Sutemu itu pasti menggigil ketakutan !"
Wie Sin Siansu sudah habis kesabarannya, bentaknya: "Ya, kami memang ingin mengetahui nama orang yang sudah mencelakakan Susiok kami...!"
"Kongcu kami adalah putra terkasih Cu Kongkong Cu Bian Liat! Nah, kalau memang kalian ingin mempersulit Kongcu kami, silahkan.... kami akan melayani keinginan kalian !" Setelah berkata begitu, beberapa kali Lam-mo Ci Hoan Liong tertawa mengejek.
Kaget Wie Sin Siansu bertujuh. Mereka mengetahui siapa itu yang disebut Cu Kong-kong Cu Bian Liat ! itulah Thaykam yang paling berpengaruh, dan didaratan Tionggoan setelah Kaisar Yong Ceng, Cu Bian Liat lah orang kedua yang memiliki kekuasaan sangat besar!
Alis Wie Sin Siansu memain. "janganlah menjual nama Cu Bian Liat untuk menggertak kami, walaupun bagaimana pemuda itu harus kami bawa ke Siauw Lim Sie !"
Lam-mo mengangguk "Buat apa kami menjual nama Cu Kongkong. Tanyakan kepada Cu Kouwnio, apakah dia bukan putri Cu Kongkong ?"
Siauw Hoa tersenyum nakal. "Benar, paman-paman pendeta". Aku dan Seng-ko anak-anak Cu Kongkong. justru kami sedang bersiap-siap untuk pulang ! Sudahlah paman-paman pendeta, lebih baik kalau kalian kembali saja ke Siauw Lim Sie, bukankah Tang Bun hweshio kelakpun bisa disembuhkan ? Dia cuma dirusak..."
"Siauw Hoa!" bentak Cu Lie Seng keras.
Siauw Hoa tertawa. "Tidak apa-apa memberitahukan bagaimana cara menyembuhkan Susiok mereka, agar tidak timbul urusan lain nya lagi ! Thia-thia sedang menunggu kita, kalau kita terlambat tentu Tnia thia berkuatir sekali !"
Setelah berkata begitu, Siauw Hoa menoleh kepada Wie Sin Siansu, sedangkan Cu Lie Seng tampak jadi tidak senang namun dia tidak berusaha mencegah pula ketika adiknya menjelaskan lebih jauh kepada Wie Sin Siansu: "Tang Bun hwesio cuma di rusak urat "Giok-cie-hiat" di tengkuknya, juga ia telah menelan semacam obat kami, jika kelak lewat satu tahun reaksi obat itu lenyap, pikiran Tang Bun hwesio akan pulih seperti sedia kala. Untuk menyembuhkan jalan darah "Giok-cic-hiat" nya, kalian harus membantu melatih lwekangnya selama 1 tahun, mengingat sinkang Tang Bun hwesio tentu bisa sembuh seperti sediakala, paling tidak hanya lwekangnya yang berkurang dua bagian !"
Bukan kepalang marahnya Wie Sin Siansu bertujuh mendengar keterangan si gadis bahwa yang dirusak adalah urat syaraf "Giok-cie-hiat" sehingga membuat Tang Bun tidak ingat sesuatu lagi, bicara selalu seperti tengah mengigau, juga telah diberikan sejenis racun, yang menurut si gadis baru akan punah sendirinya setelah satu tahun
Tapi yang hebat, sekarang Wie Sin Siansu bertujuh mengetahui pemuda dan si gadis adalah anak-anak Cu Kongkong, Kalau kedua muda-mudi ini mengalami cidera, berarti Siauw Lim Sie sudah menanamkan permusuhan dengan orang kedua terbuat di daratan Tionggoan. Bermusuhan dengan pemerintah tentu ada risikonya yang berat.
Wie Sin Siansu, walaupun berpengalaman, tidak berani memutuskan sendiri bagaimana dan langkah apa yang harus mereka tempuh. Jika mereka memaksa bersikeras hendak membawa Cu Lie Seng pulang ke Siauw Lim Sie, Cu Kongkong kemudian mengirim pasukannya untuk menghancurkan Siauw Lim Sie, bukankah akan muncul peristiwa besar ?
Melihat Wie Sin Siansu tertegun di tempatnya dan pendeta itu ragu-ragu, Lam-mo tertawa dingin, "Karenanya. kalau memang Siauw Lim kalian ingin tetap utuh-menyingkirlah ! Seujung rambut saja Cu Kongcu terganggu, tidak ada seorang pendeta Siauw Lim Sie yang bisa hidup lebih lama la.gi ! Siauw Lim Sie pasti akan dihancurkan oleh Cu Kongkong."
Wie Sin Siansu tidak perdulikan ejekan Lam-mo, dia melirik pada We Tay berenam kemudian mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar keenam pendeta itu menyingkir buka jalan buat Cu Lie Seng dan kawan-kawannya.
Enam pendeta lainnya sebetulnya sudah murka bukan main dan hampir tidak bisa menahan diri, mereka ingin cepat-cepat membuka serangan untuk membekuk Cu Lie Seng namun merekapun tdak berani membantah perintah Toasuheng mereka, segera dengan terpaksa keenam pendeta itu kembali ke belakang Wie Sin Siansu. Hanya mata mereka yang mengawasi dengan sinar tajam penuh kebencian dan sakit hati pada Cu Lie Seng.
"Paman-paman pendeta, kalian ternyata pendeta-pendeta yang bisa berpikir dengan baik ! Terima kasih, kami tidak bisa lama-lama menemui kalian, kami ingin pulang..!" Dia bersama Cu Lie Seng meninggalkan tempat itu dikawal oleh Lam-mo berempat Pak-mo, Tong-mo dan See-mo.
Yang paling gegetun adalah Wie Tay Siansu, dia murka, tapi tidak bisa melampiaskan mendongkol dan marahnya, karena dia tidak berani melanggar perintah Toasuheng-nya. Akhirnya untuk melampiaskan penasarannya, dia membanting-bantingkan kakinya.
Wie Sin Sianau menghela napas mengawasi kepergian Cu Lie Seng dan yang lainnya. "Sudahlah, kita kembali ke Siauw Lim Sie, melaporkan kepada Hongthio, minta petunjuk Hongthio apa yang bisa kita lakukan! Urusan berkembang demikian, kalau sampai kita memaksa si pemuda dan membekuknya kalau benar-benar dia anak-anak Cu Thaykam niscaya bisa mengancam keselamatan Siauw Lim Sie secara keseluruhannya ! Yang terpenting kita mulai berhasil mencari jejak orang yang mencelakakan Tang Bun Susiok Yang belum kita ketahui barang apa yang disebut Liong-kak."
Memang keiujuh pendeta itu penasaran, namun akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Siauw Lim Sie.
Hampir duapuluh orang pengemis duduk di lapangan rumput cukup luas di luar pintu kampung Lauw-cun. Mereka duduk berjajar membentuk lingkaran, tengah merundingkan sesuatu, Malam telah larut, sinar rembulan bersinar terang, sekitar tempat itu sepi dan senyap, tidak terlihat seorang manusia lainnya selain belasan pengemis itu.
Mereka merundingkan sesuatu dengan suara perlahan, seperti saling berbisik. Tapi, pada suatu kali, salah seorang di artara belasan pengemis itu berseru nyaring: "Walaupun kiia harus mempertaruhkan jiwa, tidak sepantasnya kita melepaskan iblis laknat itu ! Sudah cukup banyak saudara-saudara kita yang dicelakakannya ! Kita harus bertindak ! Kalau perlu mengumpulkan orang-orang Bu-lim untuk ikut menghadapi keempat pengawalnya.
Memang Lam-mo, See-mo. Pak-mo dan Tong-mo liehay, namun dengan cara seperti sekarang, di mana kita seperti takut kebentur dengan iblis laknat itu, sedangkan musuh yang kita cari sudah ada di depan mata, hendak kita taruh di mana muka terang Kay pang?" Suara pengemis yang seorang ini nyaring dan lantang, mengandung nada marah. Dia pengemis berusia empat puluh tahun lebih, mukanya empat persegi, waktu marah seperti itu mukanya merah-padam.
"Sabar, Sute. "pengemis yang duduk di sebelah kanan, yang tampaknya sebagai pemimpin pertemuan para pengemis tersebut. Sabar suaranya. Tangannya memegang tongkat bambu hijau, dia tidak lain Thian Sin Cu, si Malaikat Langit.
"Kita harus melihat keadaan ! Memang bisa saja kita berlaku nekad, bertempur mengadu jiwa dengan iblis laknat dan keempat pengawalnya. Tapi buat apa ? Kita harus mengakui. Lam-mo dedeng-kot iblis yang berkepandaian tinggi. Belum lagi Pak-mo, See-mo dan Tong-mo !
Kalau memang hanya ada seorang dari Keempat dedengkot iblis tersebut, tentu kita masih memiliki kesempatan memperoleh kemenangan. Tapi dengan adanya Lam-mo. Pak-mo. Tong-mo dan See-mo berempat, apa yang bisa kita lakukan ? Belum lagi iblis laknat itu, walaupun usianya masih muda tapi kepandaiannya ini dan cukup tinggi."
"Thian Suheng, kalau kita tidak berusaha sekarang untuk membekuk si iblis laknat tentu di lain waktu tidak ada kesempatan lagi ! Sekali saja dia kembali ke kotaraja, kembali ke istana ayahnya, habislah harapan kita bisa membekuknya ! Di sana bukan hanya Lam-mo, See-mo, Pak-mo dan Tong-mo berempat, tapi banyak sekali pahlawan-pahlawan kerajaan yang memiliki kepandaian tinggi."
"Soal itu nanti akan dibicarakan dsngan pimpinan kita ! Kalau perlu kita melapor kepada pangcu ! Ini bukan soal kecil, Sute.... kita harus mempertimbangkan sebaik-baiknya. Kalau kenyataannya kita berlaku nekad dan akhirnya semuanya kita ini binasa di tangan si iblis laknat dan orang-orangnya, bukankah itu mengecewakan sekali ! Kita bukan melarikan diri dari kenyataan, namun kita mundur penuh perhitungan untuk kelak memperoleh kemenangan! Nah, kukira persoalan sudah jelas, kita harus kembali ke Souwciu Nanti serahkan apa keputusan dari pimpinan kita ! Sayang kepandaian kita masih terbatas, kalau saja saat ini kumpul beberapa orang Susiok kita, niscaya persoalan bisa diselesaikan dengan segera !" Bicara sampai di situ Thian Sin Cu menghela napas, mukanya murung.
Pengemis-pengemis lainnya pun tampak murung. Mereka berdiam diri saja penuh rasa marah dan penasaran. Keadaan di sekitar tempat itu sepi sekali.
Mendadak Thian Sin Cu melompat berdiri, mukanya tegang. Pengemis-pengemis lain pun berdiri bersiap-siap untuk menyambut sesuatu.
"Kudengar ada orang yang sedang mendatangi...!" memberitahukan Thian Sin Cu. "Apakah... iblis laknat itu yang mencari kita ?"
Pengemis-pengemis lain segera menghunus senjata masing-masing, Thian Sin Cu menggenggam tongkat bambu hijaunya erat-erat. Matanya yang bersinar tajam mengawasi sekitar tempat itu. Dalam kegelapan malam, terpisah mungkin ratusan lombak, tampak sesosok tubuh tengah mendatangi.
Langkah kakinya tampak berat, dia berjalan susah dan di punggungnya menggemblok sesuatu. Melangkah beberapa tindak lagi, sosok tubuh itu terguling, terdengar suara rintihan.
"Hati-hati, kita jangan masuk perangkap. Mungkin iblis laknat itu hendak memperdaya kita !" memperingatkan Thian sin Cu, dia sendiri mendahului melompat menghampiri ke arah sosok tubuh yang terguling itu.
Beberapa pengemis lainnya mengikuti Thian Sin Cu, sedangkan sisanya menanti di tempat mereka, untuk bersiap-siap memberikan pertolongan kalau benar yang datang pihak musuh, mereka jadi tidak masuk perangkap semuanya.
Thian Sin Cu mendengar suara riniihan itu semakin jelas, dia sudah sampai di dekat sosok tubuh yang rebah di tanah berumput.
"Saudara, siapa kau ?" Tegur Thian Sin Cu dengan alis berkerut, tongkatnya dilintangkan di depan dadanya waspada siap menyambut serangan membokong dari arah manapun.
"Oooh, tolong... tolong turunkan isteriku !" suara orang itu lemah, tergetar, tampaknya dia sudah lelah benar.
Thian Sin Cu sudah semakin dekat, dia baru bisa melihat jelas pakaian orang itu penuh noda darah, penuh luka ditubuhnya. Yang dipanggulnya tidak lain sesosok tubuh manusia juga, sama keadaannya, pakaiannya koyak-koyak berlumuran darah. Thian Sin Cu cepat-cspat menghampiri lebih dekat. Dia menolongi orang itu menurunkan orang yang dipanggulnya.
Ketika merebahkan orang yang tadi di panggul orang terluka itu, ternyata orang tersebut wanita berusia lanjut, yang mukanya kebiru-biruan, matanya tertutup rapat dan napasnya sudah tidak ada. Wanita itu, yang diakui sebagai istri orang yang terluka, telah mati !
Kaget Thiin Sin Cu dan beberapa orang pengemis yang ada didekatnya, betipa hebat luka ditubuh orang itu dan istrinya yang sudah tidak bernyawa lagi. Cepat-cepat Thian bin Cu mengeluarkan kantong airnya, meminumkan beberapa teguk kepada orang yang terluka.
Waktu menolong orang itu minum dengan menyanggah tengkuknya, Thian Sin Cu melihat jelas orang tersebut adalah seorang laki-laki berusia lanjut, pakaiannya yang koyak-koyak itu mirip pakaian pengemis, penuh tambalan, keadaannya lemah sekali, sama dengan keadaan istrinya yang sudah tidak bernapas lagi, muka laki-laki tua inipun kebiru-biruan, seperti keracunan.
Setelah meminum beberapa teguk, laki-laki ini agak segar. Tapi dia terlalu lemah. terlalu banyak darah yang sudah keluar dari tubuhnya. "Dimana kami... sekarang ini...? Tempat apa... tempat apa ini?"
"Tenanglah, kau perlu istirahat Siapa yang melukaimu?" Tanya Thian Sin Cu.
"Kami... kami telah berusaha mempertahankan hidup, tapi gagal. Bagaimana istriku? tentu sudah mendahuluiku, bukan?" Bertanya laki laki tua itu dengan air mata yang membasahi matanya. Thian Sin Cu tidak menjawab, dia hanya mengangguk. "Kami terkena racun... sayang racun itu begitu asing buat kami... satu-satunya racun yang tidak kami ketahui sebelumnya... entah apa nama racun itu... kami tidak berhasil untuk mengobati diri kami sendiri... aku tidak lama lagi akan menyusul istriku..."
Bicara sampai disitu suaranya makin lemah, kepalanya teklok, dia pingsan.
Hati-hati Thian Sin Cu meletakkan tubuh sikakek tua keatas rumput, memeriksa keadaannya. Mungkin lebih dari seratus luka tikaman pedang ditubuh laki-Iaki tua tersebut! itulah luka yang berat sekali, tapi anehnya orang tua itu masih tetap hidup dengan luka yang begitu parah !
Thian Sin Cu dengan kawan-kawannya segera menduga, pasti orang tua ini seorang berkepandaian tinggi, tokoh persilatan ternama, karena kepandaiannya pun tidak rendah tentunya, mengingat luka-luka yang dideritanya seperti itu.
Thian Sin Cu berpaling ke-arah seorang pengemis di dekatnya. "Entah siapa mereka ? Sepasang suami istri tua ini tampaknya bukan orang sembarangan... tapi sayang, mereka mengalami keadaan yang mengenaskan ini... menurut pengakuannya mereka dilukai oleh racun yang asing baginya, sehingga gagal untuk memunahkannrya ..."
"Mereka tampaknya kuat sekali... istri nya tentu meninggal belum lama, karena dia masih dipanggul-panggul suaminya ! Mungkin baru meninggal satu dua jam yang lalu!" menyahuti pengemis itu. "Entah siapa mereka berdua ?"
Berkata sampai di situ si pengemis memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang lain, yang sedang menunggu di tempat mereka semula. Pengemis-pengemis lainnya segera menghampiri. Merekapun heran dan kaget melihat kakek tua dan isterinya yang sudah mati.
"Keadaannya parah sekali, dia pingsan ! Tampaknya sulit untuk menolongnya, paling tidak dia cuma bisa bertahan satu dua jam saja... akan segera menyusul isterinya !"
"Siapa namanya ?" Tanya pengemis lain.
Thian Sin Cu menghela napas mengangkat bahu. "Tadi belum sempat kutanyakan pada mereka, tapi melihat luka-luka yang dideritanya pasti mereka tokoh-tokoh rimba persilatan berkepandaian tinggi yang bertemu dengan lawan Iiehay! Lihatlah, ratusan tikaman pedang di tubuh mereka, tapi kakek ini masih sanggup bertahan tidak segera mati ! Tadi malah masih sanggup menggendong istrinya ! Dia rubuh bukan disebabkan tikaman-tikaman pedang, melainkan racun yang mengendap dan kerja di dalam tubuhnya !"
Pengemis-pengemis itu mengawasi dengan penuh tanda tanya kepada kakek tua yang masih rebah pingsan. Mereka coba-coba ingat siapa didalam Kangouw yang mirip-mirip dengan sepasang suami istri ini. Tapi mereka tidak berhasil menduga.
Pelupuk mata kakek tua itu terbuka perlahan-lahan dan lemah, dia merintih perlahan. Thian Sin Cu berjongkok di sampingnya. "Lojinke, siapa namamu ?" Tanya Thian Sin Cu.
"Aku... Tung Yang... dan istriku Tung Im . . . !" menyahuti kakek itu dengan suara yang lemah parau, seperti di tenggorokannya sudah penuh riak kental, membuatnya sulit bicara, di samping lidahnya yang mulai kaku. "Kalian... kalian tentu mau menolongku..."
"Katakanlah... beritahukanlah Lojinke apa yang harus kami lakukan untuk menolongmu ?" tanya Thian Sin Cu cepat.
"Pergilah ke... Siauw Lim Sie... beritahukan... beritahukan pada... Hongthio Siauw Lim... Sie... bahwa... bahwa kini... telah muncul... Liong-kak... yang akan... akan... membuka... mem..." Suaranya terhenti, kepalanya tidak bertenaga lagi, rebah miring, napasnyapun telah berhenti, dia telah pergi menyusul isterinya.
Thian Sin Cu memandang bengong kepada mayat Tung Yang, kemudian melirik pada Tung Im. la heran bukan main. Sebelumnya memang pernah didengarnya perihal sepasang suami isteri lihay ini, yang memiliki kepandaian luar biasa, merupakan tokoh tua yang disegani oleh orang Kangouw dari jalan hitam maupun putih, sepasang pendekar yang memiliki perangai aneh, yang digelari sebagai Sepasang Tabib Hutan.
Tapi, mengapa kini kedua orang kakek nenek ini bisa ditemukannya dalam keadaan demikian mengenaskan ? Siapa orang yang membunuh mereka? Bukankah Tung Im dan Tung Yang memiliki kepandaian tinggi dan tidak sembarang orang bisa menandingi kepandaian mereka ? Sekarang, bisa dipastikan musuh mereka sudah turunkan tangan maut itu jelas orang yang memiliki kepandaian tidak rendah !
Kepandaian Tung Yang dan Tung Im dalam pengobatan sangat terkenal, tapi sekarang mereka mati karena keracunan di samping luka-luka tikaman yang ratusan jumlahnya di tubuh kedua Sepasang Tabib Hutan. Tentu racun yang dipergunakan lawan mereka merupakan sejenis racun yang sangat dahsyat daya kerjanya, sampai Sepasang Tabib Hutan tidak sanggup memunahkan racun yang berada dalam tubuh mereka, menyeret mereka pada kematian !
Lalu, apa maksud Tung Yang yang minta tolong agar Thian Sin Cu pergi ke Siauw Lim Sie, menemui Hongthio Siauw Lim Sie ?
Juga benda apa itu Liong-kak ? Apa yang akan dibuka oleh Liong-kak ? Semuanya begitu membingungkan, penuh teka-teki yang tidak bisa dijawab dan dipecahkan oleh Thian Sin Cu bersama kawan-kawannya.
Mendadak seorang pengemis yang berdiri di samping Thun Sin Cu, yang berada di sebelah Unannya. menjerit keras dengan tubuh terjungkel ke depan, bergulingan sampai beberapa kali, Thia Sin Cu dengan pengemis-pengemis lainnya kaget, dan si pengemis yang bergulingan sudah merangkak bangun dengan muka pucat meringis seakan menahan sakit !
"Kenapa kau, sute?" tegur Thian Sin Cu sambil lompat mendekatinya.
"Aku... punggungku tiba-tiba...." Belum lagi pengemis itu menjelaskan, mendadak terdengar lagi suara jeritan dari seorang pengemis lainnya di belakang Thian Sin Cu. tubuh pengemis itu jumpalitan di tengah udara seperti dihantam oleh suatu kekuatan yang sangat besar. Tidak buang waktu Thian Sin Cu melompat sambil menyambar lengan pengemis tersebut, sehingga dia tidak sampai terbanting di tanah. Tapi, tidak urung pengemis tersebut meringis menahan rasa sakit yang tak terkira.
"Ada... ada yang membokong!" memberitahukan, pengemis itu. "Tadi... punggungku dihantam seseorang...."
Muka Thian Sin Cu merah padam karena mendongkol campur penasaran, tapi baru saja dia ingin menoleh ke belakang untuk melihat sekitar tempat itu, terdengar suara tertawa nyaring seperti raungan, keras dan menggetarkan tempat itu.
Dan suara tertawa inilah yang disebut raungan singa pekik naga, sampai Thian Sin Cu kaget tak terkira. Matanya pun segera melihat seseorang sudah berdiri terpisah tak jauh dari tempat mereka berada.
Orang itu berpakaian jubah hijau, kurus jangkung, dengan kopiah warna hijau juga. Mukanya pucat seperti mayat. Usianya mungkin sudah limapuluh tahun. Suara tertawanya begitu panjang, tapi anehnya mulutnya seperti tidak bergerak, muka yang kaku dan bengis. seperti muka mayat.
Thian Sin Cu segera bisa menduga yang menyerang menggelap kepada dua orang sutenya di lakukan orang bermuka dingin kaku seperti mayat tersebut. Belum lagi Thian Sin Cu sempat menegur, orang itu sudah melangkah kedepan menghampiri ke arah Thian Sin Cu. Langkahnya lebar sekali.
Waktu lewat di dekat dua orang pengemis, orang bermuka dingin itu mengibaskan kedua tangannya masing-masing tangannya akan menyampok dada kedua pengemis itu.
Gusar campur kaget kedua pengemis tersebut, mereka merasakan sambaran angin yang kuat sekali menuju ke dada. Mereka hendak menangkis, yang di sebelah kiri orang bermuka dingin mempergunakan jurus "Yauw Cu Hoan Sin" (Elang Membalik Badannya), cepat bukan main dia berkelit, tangan kanannya menghantam buat balas menyerang dengan "Tiang Hong Koan Jit" (Bianglala Menembus Matahari).
Tapi dia jadi kaget tidak terkira, karena mendadak saja, dengan sikap seenaknya, orang bermuka dingin itu memutar tangannya, dan "Cesssss," perlahan dada si pengemis kena disentil. Tapi akibatnya benar-benar hebat, tubuh si pengemis terpental sampai lebih tiga tombak terbanting di tanah dan berguling beberapa kali.
Waktu dia melompat berdiri, mukanya pucat pias, karena dia terluka di dalam yang tidak ringan !
Lain lagi yang dialami oleh pengemis yang di sebelah kanan Ketika tangan kanan orang bermuka dingin seperti muka mayat itu menyambar ke dadanya, dia merasakan sambaran segumpal angin yang menerjang kuat kuat sekali, tidak buang waktu segera berkelit dengan "Ku Co Hoan Sin" (Anak Ayam Memutar Badan), sebat bukan main kaki kirinya menyapu ke arah lambung lawan.
Namun, sama seperti yang dialami oleh pengemis yang seorang tadi, dengan tangan yang bergerak lamban dan sikap tenang sekali, tahu-tahu tangan lanannya menurun ke bawah, lalu masuk menerobos ke dada si pengemis. Sentilan perlahan mengenai dada si pengemis terjengkang berkelejatan, matanya mendelik, lidahnya terjulur dengan mulut berbusa, lalu pingsan tidak sadarkan diri !
Semua itu berlangsung hanya dalam beberapa detik saja, dan akibatnya sudah demikian hebat bagi pihak Thian Sin Cu. Tentu saja selain kaget. Thian Sin Ci dengan saudara-saudara seperguruannya jadi marah bukan main.
Orang bermuka kaku dingin seperti tidak acuh kepada semua pengemis yang berada disitu, dengan mata yang tajam seperti mata pisau dia menatap Thian Sin Cu. Suaranya tidak kalah dinginnya dari mukanya waktu menegur: "Apakah kedua manusia tak punya guna itu sudah mampus?"
Thian Sin Cu tidak bisa menahan kemarahannya. Sudah dua orang saudara seperguruannya dijatuhi dengan cara seperti tadi sekarang orang bermuka dingin seperti mayat bertanya seperti kepada kacungnya saja.
"Maaf. bolehkah kami mengetahui nama mu? Diantara kita tidak ada hubungan apa-apa, mengapa kau menurunkan tangan seperti itu kepada saudara-saudara seperguruanku ?" tegur Thian Sin Cu gusar, namun dia masih berusaha menahan diri.
Mata orang itu mencilak, mukanya bertambah dingin, dari sikapnya jelas ia tidak memandang sebelah mata kepada Thian Sin Cu.
"Kalian dari Kaypang, bukan ?" tegurnya.
"Benar."
"Hemm, kukira pangcu kalianpun tidak berani bersikap kurang ajar padaku !" dingin sekali suara orang bermuka seperti mayat tersebut "Cepat jawab pertanyaanku tadi !"
Naik darah Thian Sin Cu. Orang ini memang tampaknya bukan sembarangan kepandaiannyapun tampaknya tidak rendah. Tapi kalau dia bilang pangcu Kapjang tidak berani berkutik didepannya pasti adalah orang itu terlalu besar bicaranya.
Dan Thian Sin Cu bersama saudara-saudara seperguruannya bertambah gusar, karena merasa perkataan orang bermuka seperti mayat adalah penghinaan untuk mereka.
"Baiklah, aku Thian Sin Cu ingin meminta pengajaran dari kau !" kata Thian Sin Cu yang sudah tak bisa menahan diri lagi, tangan kanannya cepat luar biasa ingin mencengkram pundak orang itu dengan "Hui Po Liu Coan" (Air Tumpah Solokan Mengalir), dia bergerak sebat, tenaga dalamnyapun terlatih baik, sekali ini menyerang disaat tengah gusar, maka siapa yang kena dicengkram akan bahaya keselamatan jiwanya" sedikitnya tulang Pie-peenya bisa hancur kena dicengkram oleh tangan Thian Sin Cu.
Namun orang dengan muka seperti mayat benar-benar luar biasa. Menghadapi ancaman bahaya yang tidak ringan tersebut ia tetap tenang. Sedikitpun tubuhnya tidak bergerak berusaha untuk berkelit, kedua kakinya tetap ditempat tidak bergeser, hanya tangan kirinya mendadak terangkat, tahu-tahu dengan gerakan yang sulit diikuti oleh Thian Sin Cu maupun siapa saja, tangan kanannya melancarkan pukulan, sedangkan tangan kirinya seperti menahan tangan Thian Sin Cu.
Sebetulnya Thian Sin Cu dengan beberapa orang sutenya ini bukan orang-orang lemah. Di Kaypang mereka merupakan anggota yang bisa diandalkan, selalu bekerja dengan cemerlang. Jarang mereka rubuh ditangan lawan. Baru-baru ini saja mereka rubuh justru terbentur dengan Cu Lie Seng, pamor mereka seperti runtuh.
Mereka penasaran sekali. Dan disaat penasaran mereka belum berkurang, sekarang bertemu dengan orang yang mukanya dingin seperti mayat, yang tidak mau memberi tahukan nama maupun gelarannya. Hal ini benar-benar membuat Thian Sin Cu jadi bertambah penasaran.
Karenanya, waktu tangan orang yang mukanya seperti mayat itu menempel tangannya, dia mengempos semangatnya, tapi tenaga mendorongnya terbendung kuat, tidak bergerak maju lagi, bagaikan tangannya dibendung oleh selapis baja.
Kaget Thian Sin Cu, apalagi waktu itu tangan kanan lawannya menyambar datang kuat sekali. Dia berusaha menarik pulang tangannya, kembali hatinya mencelos kaget. Tangannya seperti menempel lekat tidak bisa ditarik terlepas dari tempelan tangan kiri lawannya, sedangkan tangan kanan lawan sudah menyambar dekat sekali.
Pada detik-detik yang berbahaya seperti itu, tidak pikir dua kali lagi Thian Sin Cu berseru nyaring dan mempergunakan "Lian Hoan- Tui" (Tendangan Berantai). kedua kakinya bergerak gerak cepat bukan main menendang secara berantai kedada dan lambung lawannya !
"Wutttttt! Dessssssss ! Bukkkkk !" Tubuh Thian Sin Cu tahu-tahu terpental, terguling ditanah dua kali, walaupun cepat sekali dia melompat bangun namun mukanya pucat pias dan kepalanya pusing.
Dia merasakan tenggorokannya anyir amis, segera sipengemis tahu dia akan muntahkan darah, dia menahannya, agar lawannya tak tahu dia sudah terluka didalam.
Akibat tendangan "Lian Hoan Tui" yang dilakukan Thian Sin Cu, yang celaka adalah Thian Sin Cu sendiri, sedangkan lawannya masih tetap berdiri tenang ditempatnya. Waktu kedua kaki Thian Sin Cu tadi menendang berantai, tangan kanan orang yang mukanya seperti mayat telah bergerak seperti titiran, dia lihay bukan main bisa menahan dan menarik pulang tenaga serangannya, memutar tangannya, segera terbentur dengan kedua kaki Thian Sin Cu berulangkali.
Benturan itulah yang membuat Thian Sin Cu terpental. Justru dari tangan kiri lawan Thian Sin Cu keluar hawa yang panas sekali, yang mendorong tangan Thian Sin Cu yang tadi ditempelnya, tenaga dalam lawan yang disalurkan menggelap lewat tangan kirinya itulah yang membuat Thian Sin Cu terluka didalam tidak ringan !
"Suheng...!" Berseru beberapa pengemis melompat ke dekat Thian Sin Cu. "Kau tidak apa- apa ?"
Thian Sin Cu menggeleng tidak berani menjawab, karena kalau dia bersuara, niscaya dia akan muntahkan darah segar. Beberapa pengemis lainnya melompat mengurung orang bermuka seperti mayat.
Orang yang mukanya dingin beku seperti mayat itu sudah melangkah tenang seperti tidak melihat pengemis-pengemis yang tengah mengepungnya, sekalipun dia tidak menoleh-kepada Thian Sin Cu, sikapnya benar-benar tidak memandang sebelah mata pada Thian Sin Cu.
Dia menghampiri Tung Yang dan Tung Im yang rebah tidak bergerak. Kaki kanannya menendang membalikkan tubuh Tung Yang, kemudian memperhatikan Tung Im. Bibirnya bergerak, ia tersenyum. inilah senyumnya yang pertama kali sejak kedatangannya disitu.
Tidak urung senyumnya itu merupakan senyuman yang bisa menggigilkan orang yang melihatnya, karena senyum itu seperti mengandung maut!
Setelah yakin Tung Yang dan Tung Im tidak bernapas lagi, dia memutar tubuh. Tajam sekali matanya mencilak: "KaIian tidak usah usil pergi ke Siauw Lim Sie, mengurus diri sendiri saja kalian belum tentu bisa, jangan mengurusi orang lain!" Dingin suara orang bermuka mayat.
"Tadi kau tanya siapa namaku, kalau memang nanti suatu saat kalian penasaran ingin mencariku untuk mengukur tenaga, carilah aku dikaki gunung Heng-san sebelah barat. Aku Poan Pian Thian (Si Setengahnya Langit) selalu akan memenuhi keinginan kalian !"
Setelah berkata begitu tubuhnya berkelebat, seringan sehelai daun kering, tidak bersuara dan terlalu cepat sekali, telah jauh dan akhirnya lenyap dari pandangan mata. Ternyata Poan Pian Thian mempergunakan "It Wie Touw Kiang" (Selembar Rumput Menyeberangi Sungai), ilmu meringankan tubuh kalangan atas yang sangat terkenal dikalangan Kangouw sebagai satu-satunya ilmu meringankan tubuh yang hanya bisa dikuasai jika seseorang sudah memiliki ginkang pada puncaknya!
Thian Sin Cu menggidik waktu mengetahui orang bermuka mayat itu tidak lain Poan Pian Thian, iblis yang paling sadis didalam Kangouw. Kalau sejak mula dia tahu yang dihadapinya adalah Poan Pian Thian, tentu dia tidak berani untuk mengadu kekuatan tenaga dalam, yang pasti ia berada disebelah bawah siiblis!
Cuma dia bersyukur dirinya tidak menerima tangan maut Poan Pian Thian, karena biasanya jika Poan Pian Thian turun tangan, tidak ada korbannya yang dibiarkan hidup !
"Uwahhh !" Thian Sin Cu memuntahkan darah segar yang sejak tadi ditahannya. Mukanya pucat pias. Kaget pengemis-pengemis yang lainnya. "Jangan panik," kata Thian Sin Cu dengan suara lemah. "Pergilah kalian pulang, beritahukan kepada Pangcu apa yang terjadi. Juga beritahukan perihal Poan Pian Thian yang kini nampaknya mulai muncul pula mengacau Kangouw. Aku akan berangkat berkunjung ke Siauw Lim Sie untuk melihat perkembangan apa yang sesungguhnya tengah terjadi di Kangouw! Tampaknya munculnya lagi Poan Pian Thian memiliki hubungan dengan pihak Siauw Lim Sie."
"Tapi suheng..." kata salah seorang diantara pengemis-pengemis itu. "Kau sedang terluka..."
Muka Thian Sin Cu berobah guram, "Ya, aku memang terluka cukup berat, hajaran Poan Pian Thian benar-benar berbahaya! Tetapi, kukira aku masih bisa bertahan... Nah, berangkatlah kalian, aku akan ke Siauw Lim Sie seorang diri saja !"
Pengemis-pengemis itu tidak tidak bisa membantah perintah sang suheng, mereka mengangguk. "Baiklah suheng," kata mereka hampir berbareng.
"Tapi suheng harus baik-baik menjaga diri... janganlah terlalu memaksakan diri jika memang kesehatan Suheng tidak mengijinkan untuk mendaki gunung ke Siau sit san."
Thian Sin Cu mengangguk. "Ya, akupun ingin berpesan kepada kalian, jika sudah sampai beritahukan pada Pangcu perihal pemuda she Cu itu, karena tampaknya Cu Lie Seng bisa menimbulkan badai dan gelombang dahsyat dalam kangouw! Apa yang telah kita ketahui dalam penyelidikan baru-baru ini, beritahukan dan laporkan kepada Pangcu, agar Pangcu bisa memberikan petunjuk apa yang harus kita lakukan lebih jauh di waktu mendatang...!"
Pengemis-pengemis itu mengangguk. Mereka berpisah. Sebelumnya beberapa orang pengemis menggali tanah mengubur mayat Tung Yang dan Tung Im. Sedangkan Thian Sin Cu berangkat seorang diri menuju ke Siong-san. Siauw Lim Sie, ia ingin mengetahui jelas apa yang tengah terjadi di dalam kalangan Kangouw.
Dihati kecilnya ia memiliki dugaan bahwa munculnya Poan Pian Thian, empat dedengkot iblis See-mo, Tong-mo. Pak-mo dan Lam-mo memiliki hubungan satu dengan yang lain, juga perihal si pemuda Cu Lie Seng.
Karenanya, walaupun, dia sedang terluka didalam tidak ringan, dia ingin memaksakan diri berangkat ke Siauw Lim Sie untuk menyelidiki segalanya di samping memenuhi pesan terakhir Tung Yang agar ia menemui Hongthio Siauw Lim Sie.
Tang Bun Siansu duduk dengan muka tidak memperlihatkan perasaan apapun, matanya menatap ke depan lurus-lurus kosong tidak bersinar, bibirnya perlahan bergerak-gerak, samar sekali terdengar ia mengucapkan beberapa patah perkataan. "Liong-kak.... telah muncul lagi... Liong-kak..."
"Omitohud !" Memuji Tang Sin Siansu, kemudian menghela napas dalam-dalam dengan hati yang berduka. la menoleh kepada Tang Lang Siansu dan Tang Lu Siansu yang berada di sampingnya, kedua adik seperguruannya itupun menunduk dengan wajah sedih. Mereka bertiiza merupakan pendeta-pendeta suci yang dihormati oleh seluruh pendekar Kangouw, yang sudah memiliki pengalaman dan latihan tinggi sekali, mereka selalu bisa mengendalikan perasaan agar tidak tampak pada muka masing-masing.
Namun sekali ini muka mereka memperlihatkan kemurungan yang sangat. Tang Bun Siansu, saudara seperguruan mereka telah dicelakai oleh seseorang secara aneh sekali, ia tidak cidera tubuhnya hanya seperti hilang ingatan dan selalu mengoceh tentang Liong-kak.
Tang Sin Siansu mengawasi Tang Bun Siansu sejenak, lalu menghela napas lagi. "Tang Sute, bagaimana pendapatmu ?" tanyanya. "Dan kau Tang Lu Sute, keadaan Tang Bun tampaknya mengkuatirkan! Dia terkena pukulan sejenis "Liong Beng Kun" (Pukulan Menembus), yang bisa menghancurkan syaraf ingatannya secara perlahan-lahan jika tidak segera menerima pengobatan yang tepat! Semakin keras dugaan Loheng bahwa DIA telah berhasil merampungkan ilmunya dan kini melanggar sumpahnya !"
Tang Lu dan Tang Lang Siansu mengangguk. "Tampaknya memang dugaan Suheng tidak salah. Kami pun menduga yang melakukan huru-hara selama ini tidak lain DIA! Diusahakan agar Siauw Lim Sie dengan Bu Tong Pay bentrok, coba menguasai Kangouw, dan menimbulkan kerusuhan di berbaga tempat, dengan memperluas jaringan kejahatannya dengan mengumpulkan pengikut-pengikutnya sebanyak mungkin! Tidak salah lagi, pasti DIA yang melakukan semua ini !"
Tang Sin Siansu menghela napas dengan muka murung, tampaknya pendeta alim ini sangat berduka.
"Siancai ! Tidak Loceng sangka akan tiba juga hari yang Loceng kuatirkan ! Kalau benar DIA berhasil merampungkan ilmunya, berat buat kita menghadapinya. Walaupun kita bergabung bertiga, belum tentu dapat mengatasinya! Seluruh ilmu kita diketahui oleh DIA. dan karenanya selama ini ada kekeliruan di mana kita tidak berusaha menciptakan atau menggubnh semacam ilmu untuk mengatasi "Liong Beng Kun"
"Suheng!" kata Tang Lu Siansu segera. "Jangan Suheng terlalu putus asa seperti itu" Mustahil kita bertiga tidak bisa menghadapi DIA? Walaupun ilmu "Liong Beng Kun"-nya sudah rampung, tidak mungkin dia bisa merubuhkan kita! Mungkin benar kita sulit mengatasinya, tapi diapun tidak akan mudah merubuhkan kita ! Kita tunggu saja sampai dia muncul memperlihatkan diri, sementara ini kita berusaha menyembuhkan luka Tang Bun Suheng !"
Tan Sin Siansu merangkapkan kedua tangarnya dengan sikap agak bingung, dia memuji kebesaran Sang Buddha. "Omitohud ! Tang Lu Sute, Kau rupanya lupa bahwa "Liong Ben Kun" merupakan ilmu ilmu pukulan yang bisa menghancurkan syaraf dalam 365 hari. jelasnya dalam satu tahun si korban bisa hancur mental dan akhirnya digerogoti oleh lukanya itu sampai pada ajalnya secara perlahan sekali !
Untuk menyembuhkan luka tersebut, kita harus mengorbankan latihan lwekang kita selama 10 tahun atau mungkin juga lebih. Kalau di saat kita tengah berusaha menyembuhkan luka Tang Bun Sute, lalu DIA muncul, bagaimana kita bisa menghadapinya di saat lwekang kita telah dikorbankan sebagian umuk penyembuhan Tang Bun Sute! Omitohud ! Omintohud!"
Belum pernah Tang Sin Siansu bingung seperti saat ini, di mana dia sulit mengambil keputusan. Sebetulnya sebagai Hongthio Siauw Lim Sie, memang agak aneh jika ia bingung menghadapi peristiwa yang menimpali Tang Bun Siansu.
Kepandaian Tang Sin Siansu sudah mencapai tingkat yang tinggi, demikian pula Tang Lu Siansu dan Tang Lang Siansu.
Jika mereka bertiga turun tangan, siapa yang bisa menghadapi mereka lagi? Namun sekarang tampaknya ada seseorang yang mereka segani, yang rupanya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, sehingga Hongthio Siauw Lim Sie tersebut ragu-ragu, apakah mereka bertiga bisa merubuhkan si DIA itu !
Melihat Hongthio ini berduka, Tang Lu Siansu dan Tang Lang Siansu tak berani banyak bicara, mereka hanya menunduk dengan muka murung karena kedua pendeta alim Siauw Lim Sie inipun bingung dan berduka.
"Semua ini adalah kekeliruan kira berempat, Tang Lu Sute," kata Tang Sin Siunsu, "Selama Suhu belum mangkat, telah berulangkali berpesan agar kita bersiap-siap suatu saat menghadapi dan mengatasi DIA. Selama ini kita terlalu percaya pada sumpahnya, maka kita tidak pernah berusaha menggubah semacam ilmu yang bisa mengatasi ilmunya."
"Sekarang nasi sudah jadi bubur, kita harus berusaha untuk mengatasinya! Hanya yang membuat hati Loceng jadi berduka ia mengacau di dalam Kangouw, berarti banyak korban yang berjatuhan dari berbagai kalangan !"
"Sudahlah Suheng, kita tunggu sampai dia datang kemari, kita tegur padanya, jika dia tidak menerina teguran kita, barulah kita menempuh jalan lain..." Kata Tang Lang Siansu dengan suara perlahan.
"Siancai ! Siancai !" Tang Sin Siansu menghela napas sambil menggeleng beberapa-kali. "Itu cara yang tidak mungkin bisa diharapkan. Jika ia sudah muncul di sini, yang ada di hatinya hanyalah keinginan untuk menghancurkan Siauw Lim Sie! Dendamnya pada Suhu dan Siauw Lim Sie sangat besar, Suhu pernah mengusirnya dan memaksanya bersumpah untuk seumur hidupnya dia tidak akan menginjak Kangouw dan hidup mengasingkan diri di tepi pantai Huangho.
Jika memang kelakuannya tidak seburuk itu. tentu dia yang akan menjabat kedudukan Hongthio Siauw Lim Sie, karenanya dendamnya kepada Locengpun tentu sangat besar sekali. dianggap sudah merampas kedudukannya !"
Tang Lu dan Tang Lang Siansu menghela napas. Mereka benar-benar bingung, tidak tahu harus menghibur Suheng mereka.
Siapakah DIA yang dibicarakan Tang Sin Siansu bersama dengan kedua Sutenya ? Ternyata DIA yang dimaksud ketiga pendeta alim itu tidak lain adalah Tang San Siansu. Toasuheng atau kakak seperguruan tertua Tang Sin Siansu, Tang Bun, Tang Lang, dan Tan Lu Siansu.
Sebetulnya guru Tang Sin Siansu, yaitu Tai Giok Siansu. mempunyai lima orang murid, yaitu Tang San Siansu sebagai murid kepala, menyusul kemudian Tang Sin, Tang Bun, Tang Lang dan Tang Lu Siansu. Kelima murid Tai Giok Siansu, yang waktu itu menjabat sebagai Hongthio Siauw Lim Sie, merupakan pendeta-pendeta muda yang cepat sekali terkenal karena memiliki kepandaian yang tinggi.
Terutama sekali Tang San Siansu yang memiliki kecerdasan luar biasa. Tetapi sayangnya, Tang San Siansu mempunyai tabiat yang kurang bersih walaupun dia sudah mencukur rambut dan menjadi pendeta.
Semula Tai Giok Siansu tidak menyadari tentang perangai buruk murid kepalanya, ia memang sudah mempersiapkan Tang San Siansu sebagai calon penggantinya menjadi Hongthio, ini memang peraturan Siauw Lim-Sie, di mana murid kepala yang harus menggantikan kedudukan gurunya sebagai Hongthio.
Tetapi akhirnya Tai Giok Siansu mendengar tentang tabiat buruk murid kepala ini, di mana Tang San Siansu secara diam-diam ternyata seringkali turun gunung melakukan perbuatan tak senonoh, memperkosa membunuh dan Iain-lain perbuatan tidak terpuji.
Bukan kepalang gusarnya Tai Giok Siansu, ia merasa malu dan kecewa, pendeta alim ini merasa muka leluhur Siauw Lim Sie dicorengkan oleh perbuatan Tang San Siansu.
Beruntung Tang San Siansu belum diresmikan sebagai Hongthio Siauw Lim Sie kalau hal itu terjadi niscaya keadaan bisa menjadi tambah merepotkan. Segera juga Tang Sin Siansu dipilih Tai Giok Siansu sebagai calon penggantinya, bahkan seminggu kemudian diumumkan perihal pengangkatan Tang Sin Siansu sebagai Hongthio Siauw Lim Sie yang baru.
Sejak mengetahui sepak-terjang murid pertamanya yang tidak senonoh itu, Tai Giok Siansu walaupun gusar, tidak menegurnya. la ingin menangkap basah. Karenanya Tang San Siansu tidak mengetahui bahwa gurunya sudah mengendus perbuatan busuknya. Ketika mengetahui jabatan Hongthio Siauw Lim Sie diserahi pada Tang Sin Siansu, adik seperguruannya yang nomor dua, meledak kemarahan dan kecewa Tang San Siansu.
la penasaran bukan main, sebab sebelumnya sudah yakin dirinya yang berhak menggantikan kedudukan gurunya sebagai Hongthio Siauw Lim Sie.
Tentu saja marah kepada gurunya tidak mungkin. Juga tidak mungkin menumpahkan kekecewaannya pada adik seperguruannya. Maka akhirnya Tang San Siansu dalam keadaan penasaran serta kecewa turun gunung, la mengumbar kekecewaan hatinya dengan memperkosa dua orang wanita dan membunuh belasan orang ! Entah mengapa, mendadak saja ia berubah seperti iblis yang paling sadis di dunia ini, dengan topeng sebagai pendeta yang alim !
Waktu Tai Giok Siansu mempersiapkan Tang San Siansu sebagai Calon Hongthio Siauw Lim Sie pada lima tahun yang lalu, ia sudah mewarisi ilmu mujijat ciptaannya "Liong Beng Kun" (Pukulan Naga Menembus) yang sebetulnya merupakan salah satu ilmu paling dahsyat.
Sebagai calon Hongthio, tentu saja Tang San Siansu harus dipersiapkan sebaik-baiknya, dengan mewarisi ilmu silat terhebat Siauw Lim Sie. Selama lima tahun itu Tang San Siansu berlatih giat sekali, ia sudah menyelesaikan delapan bagian dari ilmu pukulan "Liong Beng Kun". Dua bagian lagi merupakan yang tersulit untuk dipelajari, mungkin hams memakan waktu 10 tahun melatih sampai menguasai benar-benar ilmu pukulan itu.
Hasil yang diperoleh Tang San Siansu, walaupun baru delapan bagian menguasai "Liong Beng Kun", sudah memuaskan Tai Giok Siansu, kini justru ia mengetahui sepak terjang Tang San Siansu yang tercela. Sang guru kecewa serta menyesal ia sudah mewarisi ilmu mujijat yang sangat dahsyat "Liong Beng Kun" kepada murid tertuanya.
Dalam keadaan kecewa. Tai Giok Siansu menyerahkan kedudukan Hongthio kepada Tang Sin Siansu, ia tidak menurunkan lagi ilmu pukulan "Liong Beng Kun" kepada Tang Sin Siansu, hanya berpesan agar dalam berbagai kesempatan Tang Sin Siansu harus berlatih diri sebaik mungkin dan berusaha menciptakan semacam ilmu untuk mengatasi "Liong Beng Kun" Tang San Siansu.
Menurut Tai Giok Siansu, selama ia masih hidup tentu Tang San Siansu tidak berani berbuat sesuatu, memang gurunya masih bisa mengatasinya. Tapi jika ia sudah mangkat, jelas Tang Sin Siansu bukan jadi tandingan Tang San Siansu, walaupun ia di warisi ilmu pukulan "Liong Beng Kun."
Tang San Siansu sudah lima tahun lebih dulu mempelajari ilmu itu, maka akan sia-sia saja kalau Tang Sin Siansu mulai mempelajari ilmu yang sama, ia tetap akan tertinggal oleh sang suheng. Tai Giok Siansu cuma memberitahukan kunci-kunci terpenting "Liong Beng Kun" kemudian memerintahkan muridnya berusaha menciptakan semacam ilmu silat baru untuk mengatasi "Liong Beng Kun "
Malam itu ketika Tang San Siansu menumpahkan amarah dan kecewanya pada penduduk di kaki gunung, dua wanita diperkosa dan belasan orang laki-laki menjadi korban tangan mautnya, sesungguhnya Tai Giok Siansu tengah bersemedhi. Seorang pendeta muda Siauw Lim Sie ysng selama ini diperintah Tai Giok Siansu untuk mengawasi gerak-gerik Tang San Siansu, datang melapor bahwa Tang San Siansu tengah menyebar maut di kaki gunung.
Tidak berayal lagi Tai Giok Siansu berangkat turun gunung dengan hati berduka. iapun bisa menangkap basah murid kepalanya ketika Tang San Siansu sedang menyiksa seorang korbannya yang nantinya akan dibunuhnya juga. Bukan kepalang kagetnya Tang San Siansu, dia berusaha untuk melarikan diri.
Tapi Tai Giok Siansu sudah mencapai puncak tertinggi ilmu Siauw Lim Sie, muridnya mana bisa lepas dari tangannya. la berhasil menangkap Tang San Siansu setelah sebelumnya melukai sang murid dengan salah satu jurus ilmu pukulan "Liong Beng Kun"
Dalam keadaan terluka parah Tang San Siansu dibawa pulang ke kuil, Tai Giok Siansu mengumpulkan murid-murid Siauw Lim Sie dari berbagai tingkat, memberitahukan dosa-dosa yang dilakukan Tang San Siansu, kemudian tangan kanan pendeta alim itu terangkat akan menenuk kepala Tang San Siansu, ia ingin menghukum mati murid murtad tersebut didepan murid-murid Siauw Lim Sie lainnya.
Tang Sin Siansu, Tang Bun. Tang Lang, dan Tang Lu berempat cepat-cepat maju berlutut didepan guru mereka memohonkan pengampunan buat Tang San Siansu, walaupun bagaimana mereka masih memiliki ikatan persaudaraan dalam perguruan, yang selama belasan tahun terpupuk, karenanya mereka tidak tega kalau Tang San Siansu harus menerima kematian secara demikian.
Tangan Tai Giok Siansu yang tengah meluncur jadi berhenti di tengah jalan, mukanya murung dan hatinya sangat berduka. "Kalau Tang San mau bersumpah tidak akan melakukan perbuatan tercela seumur hidupnya, ia kuampuni !"
Tang San Siansu semula yakin jiwanya sulit dilindungi, tidak disangka dalam detik-detik menentukan itu gurunya merobah keputusan. Dia segera menangis dan bersumpah selanjutnya tidak akan melakukan perbuatan tercela.
"Baik," kata Tai Giok Siansu. "Selanjutnya kau akan kutempatkan ditepi pantai Barat-daya sungai Huangho, seumur hidupmu tidak boleh meninggalkan lembah kecil yang terdapat disitu!"
Tangan Tai Giok Siansu meluncur turun menepuk pundak Tang San Siansu, murid itu meringis menahan kesakitan yang hebat, karena tepukan gurunya sudah memunahkan sebagian ilmu silat dan tenaga dalamnya.
Memang maksud Tai Giok hendak memusnahkan seluruh ilmu silat Tang San Siansu, agar selanjutnya ia menjadi manusia bercacad tak berguna. Namun disaat tangannya hampir menepuk pundak sang murid, dikepala Tai Giok Siansu berkelebat ingatan akan hubungan guru dan murid yang selama ini ia sangat memanjakan murdnya tersebut. Maka hatinya tergoncang.
Tenaga tepukannya ditarik pulang sebagian, dia memukul tidak sepenuh kekuatan, maka hanya dua bagian ilmu silat Tang San Siansu yang musnah. Tai Giok Siansu didetik menentukan itu merasa sayang kalau harus memusnahkan seluruh ilmu silat murid murtad ini, yang selama ini bersusah payah telah dilatihnya.
Lagi pula, sebagai pendeta alim yang welas asih, dia masih berharap muridnya yang seorang ini bisa menepati sumpahnya dan merobah kelakuannya menjadi baik.
Waktu pundak Tang San Siansu terpukul telapak tangan, gurunya, ia menjerit tertahan dengan muka menahan kesakitan hebat dan pingsan tidak sadarkan diri.
"Dia akan pingsan selama tiga hari, setelah siuman, sementara waktu dia tidak bisa melakukan sesuatu yang berarti. Tang Bun, Tang Lu, kalian berdua bawa dia kelembah kecil ditepi sungai Huangho, dihutan kecil bernama "Hie Lim" Rimba Bermain). disana terdapat sebuah rumah, dimana dulu aku pernah mengasingkan diri selama setahun. Tempatkan Tang San disana, buatkan rantai besi, kedua tangan dan kakinya dirantai ! Jika selama sepuluh tahun ia benar-benar berkelakuan baik, barulah rantai besi itu dilepaskan dan jika dua puluh tahun dia sudah insyaf diperbolehkan kembali ke Siauw Lim Sie!"
Tai Giok Siansu selesai berpesan begitu, melangkah pergi. Waktu tiba digerbang Siauw Lim Sie, mendadak tangan kanannya bergerak keatas, dan ""ceppp" dua jari tangannya jari telunjuk dan jari tengahnya telah "menancap" dalam sekali ke matanya. mengorek kedua biji matanya, sendiri sehingga darah mengucur deras dari matanya.
"Suhu...!" memekik Tang Sin Siansu dan yang lainnya, mereka berlutut dan menangis. Guru mereka berlaku nekad membutakan matanya sendiri itu disebabkan terlalu berduka dan kecewa, disamping merasa malu karena gagal mendidik murid kepalanya, yang sepak terjangnya berbeda dan bertentangan dari yang diharapkannya.
Kegagalannya ini menimbulkan kedukaan yang tak terobati, karena Tai Giok Siansu merasa malu pada leluhur Siauw Lim Sie. Tanpa menoleh dan tidak perduli pada murid-murid Siauw Lim Sie yang menangis sambil berlutut.
Tai Giok Siansu melangkah pergi dan akhirnya lenyap di balik tebing. Sejak saat itu tidak seorangpun murid Siauw Lim Sie yang mengetahui di mana dan kemana perginya Tai Giok Siansu... Sedangkan Tang San Siansu dua hari kemudian dibawa ke "Hie Lim" yang ada di tepi pantai Huangho, sebuah rimba yang terkenal sekali keindahan maupun keanehan letak kedudukannya.
Dua orang pendeta Siauw Lim Sie ditempatkan di sana untuk melayani Tang San Siansu. Tetapi cuma dua tahun Tang San Siansu terkekang kebebasannya seperti itu, karena pada suatu hari ia berhasil memutuskan rantai besi yang mengekang kebebasan tangan maupun kedua kakinya, bahkan dua orang murid Siauw Lim Sie dibunuhnya, kemudian menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Ketika Tang Sin Siansu perintahkan seorang murid Siauw Lim Sie tingkat ketiga pergi menengoki Toasusiokcouw, murid itu jadi kaget tak terkira menemukan dua saudara seperguruannya menggeletak tak bernapas lagi dengan kepala yang hancur.Sedangkan Tang San Siansu sudah menghilang. Cepat-cepat dia pulang kekuil dan memberikan laporan kepada Hongthionya.
Bersambung ke jilid 13

This entry was posted on Kamis, Juli 29, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar