Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 5  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 5
Tetapi Giok Han menggeleng, bocah itu menjawab: "Tidak. Kau perempuan busuk ! Kemarin dulu kau berjanji tidak akan menganiaya paman Khang, tetapi sekarang kau mencelakainya !" Berkata sampai disitu Giok Han tidak bisa menahan isak tangisinya, karena dia sangat kuatirkan keselamatan Khang Thiam Lu, Tahu-tahu dia menggigit pinggang Bwee Sim Mo Lie.
Kaget wanita iblis itu merasah pinggangnya sakit, mukanya merah padam karena murka. Tahu-tahu tangan kanannya diulurkan, menjambak punggung Giok Han, ia ingin melemparkan tubuh sibocah.
Tapi Giok Han menggigit keras sekali, tangannya tetap memeluk kuat-kuat. Nekad sekali bccah ini. Dia merasakan punggungnya sakit sekali dijambak Bwee Sim Mo Lie, membuat dia menggigit semakin keras.

Kaget Bwee Sim Mo Lie, mukanya merah padam. Dia membentak lagi : "Lepaskan gigitanmu !"
Giok Han tidak mau melepaskan gigitannya. Bwee Sim Mo Lie menarik lagi untuk melepaskan tubuh sibocah, tapi dia merasakan setiap kali menarik tubuh sibocah, gigitan itu membuat pinggangnya tambah sakit, membuatnya mengendorkan lagi tarikannya.
"Baiklah!", mendengus Bwee Sim Mo Lie. "Kau mau mampus rupanya !"
Tangan kanannya ingin menghajar batok kepala Giok Han, tapi waktu itulah dia menunduk dan melihat wajah sibocah, mata Giok Han tengah menatap kepadanya. Bagus sekali mata itu, dan saat itu sepasang mata yang indah itu memancarkan sinar kemarahan dan benci, tidak terpancar sedikitpun perasaan takut pada mata bocah tersebut. Mulut sibocahpun masih tetap menggigit kuat-kuat pada pinggang Bwee Sim Mo Lie.
Tubuh Bwee Sim Mo Lie menggigil sedikit, hatinya tergetar. Tangannya yang sudah terangkat jadi lemas tidak bertenaga dan turun terjuntai.
Dia jadi ingat sepasang mata yang sama seperti itu, yang memandang benci dan penuh kemarahan padanya. tanpa terdapat sinar ketakutan. Mata yang mengingatkan padanya peristiwa-peristiwa masa lalunya yang menyedihkan.
Bwee Sim Mo Lie menggigit bibirnya, kemudian dia berhasil menguasai dirinya. "Bocah yang baik, lepaskanlah gigitanmu !" Cie-cie tidak akan mengganggu kau."
Tapi Giok Han tetap menggigit dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Karuan saja Bwee Sim Mo Lie yang harus meringis menahan sakit, waktu kepala Giok Han menggeleng ke kiri kanan, gigitan pada pinggang wanita iblis ilu bergerak-gerak menambah rasa sakit sampai keulu hati, pinggangnya seperti kejang oleh gigitan Giok Han.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya, bocah ?", tanya Bwee Sim Mo Lie lagi.
"Mata Giok Han melirik kepada Khang Thiam Lu yang menggeletak ditanah.
"Ooooh, kau ingin minta aku membebaskan orang itu dari kematian?!" tanya Bwee Sim Mo Lie lagi.
Giok Han mengangguk-angguk beberapa kali.
Bwee Sim Mo Lie terjengki menahan sakit. Gigitan Giok Han semakin sakit saja akibat dia mengangguk.
"Baik, baik, memang sudah kujanjikan padamu, dia kubebaskan dari kematian, tapi dia manusia tidak mengenal selatan, kebaikan yang kuberikan malah disalah artikan, dia duga aku tidak berani membunuhnya, dia ingin membantu keluarga Yang! Tapi, biarlah sekali ini jiwanya kuampuni!"
Giok Han melepaskan tangan kanannya yang tadi meranakul tubuh Bwee Sim Mo Lie dan menunjuk kepada Yang Bu In dan Yang Lan.
"Mereka juga harus diampuni ?!" tanya Bwee Sim Mo Lie.
Giok Han mengangguk.
"Baik, baik," si wanita iblis menghela napas, "Aku memenuhi permintaanmu! Sekarang lepaskanlah gigitanmu !"
Giok Han melepaskan gigitannya. Tapi sedang si bocah kegirangan, belum lagi bicara apa-apa, tahu-tahu tubuhnya dirasakan melayang diudara dan matanya berkunang-kunang, seperti ada ribuan binatang yang memain di matanya itu.
Rupanya waktu Giok Han melepaskan gigitannya, kesempatan itu dipergunakan Bwee Sim Mo Lie mendorong tubuh si bocah membuat Giok Han terpental cukup keras dan terbanting di tanah.
Perlahan-lahan Giok Han coba bangun berdiri dia memaki kalang kabut: "Perempuan hina yang tidak tahu malu ! Kau selalu berdusta... mulutmu tidak bisa dipercaya, sama seperti anjing...!"
Waktu itu Bwee Sim Mo Lie tengah mengusap-usap pinggangnya yang tadi digigit Giok Han rupanya ia masih kesakitan. Begitu kuatnya gigitan Giok Han tadi seperti juga kulit pinggang wanita iblis itu akan terkelupas. Meninggalkan tanda gigi-gigi si bocah pada pinggangnya yang cukup dalam.
"Bocah setan, kau mencari mampus!" Teriak Bwee Sim Mo Lie yang meledak murkanya. Tadi dia sengaja menahan diri, karena dia tengah kesakitan oleh gigitan Giok Han. Sekarang justeru dia telah terbebas dari gigitan itu, sehingga kembali meledak murkanya, apa lagi sempat dia melihat kulit di pinggangnya yang tergigit oleh Giok Han menimbulkan tanda yang jelek.
Pinggangnya yang bagus mulus jadi memiliki tanda, yang mungkin tidak akan lenyap sampai kapanpun juga, sebab luka gigitan itupun mengeluarkan darah, bajunya yang putih di bagian pinggang sampai merah oleh darah.

Tubuhnya ringan sekali melompat ke dekat Giok Han, dia mendengus bengis: "Kau juga harus mampus, bocah setan !" Tangan kanannya diangkat untuk menghantam kepala Giok Han
Lam Sie menjerit kaget, berlari hendak menghampiri majikan kecilnya yang terancam bahaya. Yang Lan tidak tinggal diam, dia melompat menikam punggung wanita iblis itu. Tapi wanita iblis itu tidak membatalkan pukulan pada batuk kepala Giok Han, hanya tangan kirinya dipergunakan buat melibat pedang Yang Lan.
Gok Han tidak tahu bahwa jiwanya tengah terancam bahaya maut, dia masih memaki: "Perempuan tidak tahu malu, aku akan adu jiwa kalau kau masih menganiaya Khang Lopeh dan yang lainnya...!"
Telapak tangan Bwee Sim Mo Lie hanya terpisah beberapa dim lagi dari batok kepala Giok Han, sekali saja telapak tangan itu me ngenai batok kepala si bocah, niscaya kepala Giok Han akan pecah hancur berantakan dan menemui kematian.
Di waktu itulah hati Bwee Sim Mo Lie tergetar lagi. Mata itu. Ya, sepasang mata Giok Han yang tengah menatap berani sekali kepadanya, memancarkan sinar kemarahan tanpa rasa takut, menyebabkan Bwee San Mo Lie teringat kepada sepasang mata bekas kekasihnya, yang sama seperti mata Giok Han.
Tangan yang hampir mengenai kepala si bocah tidak bisa ditarik. Dia hanya bisa mengurangi tenaga pukulan tersebut dan dimiringkan, sehingga bukan kepala si bocah yang dihantam, melainkan pundaknya. Tubuh Giok Han terbanting keras ditanah, tanpa bergerak, pingsan!
Itupun masih untung buat Giok Han. karena dalam beberapa detik itu Bwee Sim Mo Lie masih terpengaruh oleh sorot matanya yang tajam dan indah itu, yang mengingatkan st wanita iblis kepada bekas kekasihnya sehingga dia tidak jadi memukul kepala Giok Han.
Dalam beberapa detik itu jiwa Giok Han seperti lolos dari lobang jarum. Benar dia terpukul hebat pada pundaknya, yang membuat bocah itu terpental dan terbanting keras, lalu pingsan, tapi itu tidak sampai membahayakan jiwanya.
Lam Sie merasakan semangatnya seperti meninggalkan raganya, kagetnya tidak terkira. Dia menjerit: "Oooh, kau telah membunuh Siauwyaku. iblis laknat !" Dia berlari menubruk tubuh Giok Han, menangis sedih sekali.
"Siauwya, ooo, Siauwya... meneapa nasib keluarga Giok demikian buruk? Tentu Goanswe di akherat pun tidak meram.. Ooh, Siauwya . . . jelek benar nasibmu!" Dan setelah sesambatan seperti itu Lam Sie pun rubuh ringsan tidak sadarkan diri dengan muka basah oleh air mata. Dia terlalu berduka, sehingga dia tidak bisa menguasai diri lagi, membuatnya pingsan tidak sadarkan diri.
Pedang Yang Lan yang terlibat oleh ujung lengan kiri si wanita iblis, tidak bisa ditarik pulang. Walaupun Yang Lan berusaha menarik pedangnya, namun gagal. Hati si gadis jadi berdebar, tapi teringat ancaman bahaya maut pada ayahnya dan Thiam Lu, ia berteriak nekad dan melompat sambil menghantam dengan telapak, tangan kiri Sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Bwee Sim Mo Lie memutar sedikit tubuhnya untuk menghadapi Yang Lan, karena tadi dia memang membelakangi Yang Lan. Tangan kanannya diayunkan, belasan batang jarum menyambar dada Yang Lan.
Terkesiap Yang Lan melihat jarum beracun dalam jumlah banyak menyambar dari jarak begitu dekat, dan dia jadi putus asa. "Thia, sayang puterimu tidak bisa membantu mu !" Mengeluh si gadis putus asa dan memejamkan matanya. Walaupun usaha apapun yang akan dipergunakan si gadis, tidak mungkin dia bisa menghindar dari belasan batang jarum beracun si iblis, karena jarak mereka terpisah sangat dekat benar. Yang Lan cuma bisa menunggu maut tiba.
Tetapi tiba-tiba Yang Lan mendengar seruan Bwee Sim Mo Lie: "Ihh !" sehingga si gadis membuka matanya, saat itu tubuhnya tengah meluncur turun dan kakinya bisa menginjak tanah. Tidak sebatang jarumpun yang menancap di dadanya. Dia segera mengawasi kepada Bwee Sim Mo Lie.
Waktu itu Bwee Sim Mo Lie sudah terpisah kurang lebih empat tombak, di depan si iblis berdiri seorang lelaki tua dan wanita tua, dengan pakaian lusuh.
Segera Yang Lan tersadar, pasti kedua orang itu yang telah menyelamatkannya. Mereka yang telah menghalau jarum-jarum beracun si iblis. Dan memang kedua orang itulah yang tadi waktu Yang Lan dalam detik-detik kematian, telah menolongnya, dengan mempergunakan topi tikar dan jarum-jarum itu menancap di topi tikar butut itu membuat si gadis terhindar.
Orang tua yang berpakaian lusu itu tengah menghampiri topi tikarnya yang menggeletak ditanah. dia kemudian berdiri dan mengawasi belasan jarum yang menancap di situ.
"Hmm, sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya! Menggumam lelaki tua itu dengan suara yang mengejek. "Tidak kusangka Thio Eng Goat masih terus mengolah racunnya dan coba merajai Kangouw dengan keganasannya ! Sungguh sayang! Sungguh sayang, muridnya tidak kalah ganasnya dari wanita iblis Thio Eng Goat..."
Sikap Bwee Sim Mo Lie tidak tenang. Biasanya pada muka si iblis tidak terlihat perasaan apapun, sangat dingin. Namun sekarang mukanya sebentar merah, sebentar pucat.
"Sepasang Tabib Hutan" kata Bwee Sim Mo Lie akhirnya dengan suara yang dingin. "Ada pesan dari guruku yang mulia untuk kalian! Di bulan duabelas pada tanggal lima belas, kalian datanglah di lembah Kui-hun (Arwah Setan), guruku yang mulia menunggu kau di sana!" Kemudian tanpa menanti jawaban Sepasang Tabib Hutan, Bwee Sim Mo Lie berkelebat menenteng Khimnya meninggalkan tempat itu.
Lelaki dan wanita berpakaian seperti pengemis itu, yang memang tidak lain dari Sapasang Tabib Hutan, tertawa.
"Aneh, inilah undangan luar biasa. Mengundang tanpa kartu dan juga mengundang untuk datang kelembah Arwah Setan ! Hu, aku takut untuk datang kesana, nanti bisa kesurupan !" Melucu lelaki itu itu. Yang wanita pun tertawa.
"Tua bangka, lebih baik kau tolong dulu mereka yang sedang kesurupan itu!" Kata yang wanita.
Orang tua yang berpakaian mesum dan seperti pengemis itu menepuk kepalanya beberapa kali sambil tertawa. "Ya, ya, memang semakin tua aku semakin pikun saja! Mengapa aku tidak mengobati mereka yang sedang kesurupan itu ?!"
Setelah berkata begitu, lelaki tua yang berpakaian mesum tersebut menghampiri Khang Thiam Lu, memeriksa keadaannya, kemudian mengangguk-angguk: "Dia sedang tidur nyenyak dan ber mimpi, jiwanya tidak akan dibawa oleh setan penasaran !"
Lalu dia memeriksa keadaan Yang Bu In. Keadaan Yang Bu In sudah payah benar, karena saat itu tenaga pertahanannya sudah mulai habis. Walaupun tadi dia sudah mengerahkan lwekangnya untuk membendung menjalarnya racun, namun semakin lama semakin lemah pertahanannya, ia sudah menggeletak lemas, tubuhnya ba'al hampir sekujur tubuhnya menguap panas dan merah. Racun mulai menerobos dari pertahanan Yang Bu In, mulai menjalar.
Setelah memeriksa beberapa saat, lelaki tua berpakaian mesum seperti pengemis tertawa. Ooo, ini kesurupan yang cukup berat. Ayo setan laknat, keluarlah meninggalkan korbanmu...!"
Sambil berkata begitu, tangan kanan lelaki tua tersebut menghantami dada Yang Bu In beberapa kali.
Yang Bu In kaget tidak terkira, hatinya tercekat kaget, tapi seketika dia merasakan dari telapak tangan lelaki tua mengeluarkan hawa hangat, semakin lama semakin hangat, satiap kali lelaki tua itu memukul dadanya, hawa hangat itu seperti menerobos masuk.
Belum lagi Yang Bu In mengetahui apa yang tengah dilakukan lelaki tua tersebut, mulutnya telah dijejali oleh sepotong dendeng. "Kunyah !" Perintah orang tua itu. Dan dia menurut saja perintah orang tua itu, mengunyah Harum dan menyegarkan.
Lelaki tua itu sudah menghampiri wanita tua yang tadi datang bersamanya. "Kie-moay mereka sudah tidak kesurupan lagi. Ayo kita pergi!!"
"Pergi ? Ooo, tua bangka ! Benar-benar pikun kau! Bukankah kau bilang ingin membawa anak itu?!" Sambil berkata begitu, wanita tua tersebut menunjuk kepada Giok Han dan Lam Sie yang masih pingsan.
Kembali lelaki tua itu memukul-mukul kepalanya. "Benar-benar aku sudah pikun, semakin pikun ! Sampai aku lupa apa maksud yang sebenarnya kedatanganku kemari!"
Ringan sekali tubuhnya melompat ke dekat Giok Han dan Lam Sie. la memeriksa keadaan kedua orang itu. Waktu memeriksa keadaan Giok Han, sepasang alis orang tua itu mengkerut.
"Kie-moay, kemari kau ! Celaka ! Benar-benar celaka !" Berseru lelaki tua itu.
Muka wanita tua itu jadi berobah.
"Apanya yang celaka ?"
Murid si iblis sudah turunkan tangan jahat padanya !"
"Ooo, apakah dia bisa disembuhkan ?"
"Tentu... tetapi memakan waktu yang cukup lama! Tulang selangkanya dihantam melesak patah dan yang parah justeru hawa kotor beracun telah meresap masuk ke dalam tulangnya! Pukulan yang ganas dan kejam sekali terhadap bocah seumur ini!"
Wanita tua itu tampak jadi bingung. Dia memeriksa keadaan Giok Han. Lalu menoleh kepada Yang Lan: "Nona yang baik, bisa kami pinjam kamar untuk mengobati anak ini ?"
Yang Lan tengah mengawasi bingung kelakuan kedua orang itu, yang telah menolonginya dan juga menyelamatkan keluarganya dari wanita iblis Bwee Sim Mo Lie. Mendengar pertanyaan wanita tua itu, cepat-cepat Yang Lan mengangguk, katanya: "Tentu... tentu Locianpwe..."
Tanpa banyak bicara lagi wanita tua itu menggendong Giok Han, Sedangkan Lam Sie ditotok oleh lelaki tua itu, segera sadar.
Yang Lan juga sudah meminta kepada para pelayan untuk membantu Yang Bu In dan Khang Thiam Lu dibawa ke dalam.
Begitu tersadar dari pingsannya. Lam Sie menangis terisak-isak sedih sekali, mengikuti wanita tua yang membawa Giok Han.
"Hu, hu aku paling sebal mendengar orang menangis!" Mengerutu lelali tua itu, membuat Lam Sie berusaha menahan isak tangisnya, hanya air mata yang masih mengucur terus dengan deras. Menangis tanpa bersuara.
Setelah meletakkan Giok Han di pembaringan, wanita dan lelaki tua itu melakukan pemeriksaan padanya. Malah lelaki tua itu segera menguruti beberapa bagian anggota tubuh Giok Han.
Sam jam lebih lelaki dan wanita tua itu mengobati Giok Han dengan sikap serius. Lenyap sikap ugal-ugalan mereka.
Siapakah mereka ? Ternyata yang lelaki tua tidak lain dari Tung Yang, dan wanita tua itu adalah isterinya, Tung Im. Nama sebenarnya ialah Tung Siang Bun dan isterinya Lauw Kie Ing.
Karena si suami biasa dipanggil dengan sebutan Tung Yang, si isteri juga selalu dipanggil dengan sebutan Tung Im. Tung Yang biasa memanggil isterinya dengan sebutan Kie-moay, sedangkan isterinya memanggil Tung Yang dengan sebutan tua bangka.
Di dalam kalangan Kangouw mereka terkenal sekali sebagai sepasang pendekar aneh yang sangat pandai ilmu pengobatannya, itulah sebabnya mereka diberi gelaran Sepasang Tabib Hutan, akibat dari sikap dan tingkah laku mereka yang ugal-ugalan, seperti orang hutan yang tidak kenal aturan.
Sepak terjang sepasang suami isteri ini memang sangat aneh, ugal-ugalan dan tidak mematuhi peraturan. Apa yang mereka senang lakukan tentu akan dilakukan oleh mereka.
Kesehatan Yang Bu In sudah mulai membaik. Berkat pukulan-pukulan pengiriman hawa murni dari Tung Yang pada dadanya lewat sentuhan kulit tubuh dengan kulit telapak tangan, juga dibantu oleh obat penawar racun yang ada pada dendeng yang diberikan padanya, sekarang sudah bisa berdiri.
Hanya mukanya yang masih agak pucat. Bersama puterinya Yang Lan, Yang Bu In datang kekamar di mana Giok Han tengah dirawat oleh Sepasang Tabib Hutan itu.
Waktu itu Sepasang Tabib Hutan baru selesai memberikan pertolongan kepada Giok Han, mereka sedang duduk bengong. Melihat Yang Bu In dan puterinya, keduanya tetap bengong mengawasi Giok Han, tanpa perduli pada ayah dan anak itu.
Lam Sie duduk dilantai menangis tanpa bersuara, cuma air matanya yang mengucur Dia tidak berani ber suara, karena tadi Tung Yang bilang ia paling sebal mendengar orang menangis.
Yang Bu In menghampiri kedua Tabib Hutan yang berperangai aneh itu, merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat. "Terima kasih atas pertolongan jiewie," katanya "Lohu Yang Bu In sekeluarga telah diselamatkan oleh jiewie !"
Tung Yang melirik, katanya dingin: "Jangan berterima kasih kepada kami" dia menunjuk Giok Han yang masih belum sadarkan diri. "Berterima kasihlah kepada anak ini. Karena dia, kami mau turun tangan menolongi kalian! Kami menginginkan anak ini ! "
Yang Bu In mengangguk tanpa berani banyak berkata lagi, kuatir mengganggu kedua Tabib Hutan yang sedang mengobati Giok Han. Di tariknya tangan Yang Lan, untuk berdiri di pinggir.
Waktu itu Giok Han merintih perlahan, tapi belum sadar. Tung Yang mendadak lompat berjingkrak sambil menepuk tangannya beberapa kali, mengejutkan semua orang yang ada disitu. "Selamat! Selamat!" Bersera Tung Yang girang. " Bisa diselamatkan ! Selamat! Dia tidak akan kesurupan lebih lama lagi !" *
Tung Im mengangguk dengan muka yang berseri. "Ya, selamat!" katanya. "Bocah ini bisa kita selamatkan !"
"Hmm, tentu saja pasti bisa diselamatkan oleh kita! Apa yang bisa dilakukan oleh Thio Eng Goat jika berhadapan dengan kita ? Kita pasti akan sanggup menyembuhkan bocah itu!"
"Tua bangka, jangan ribut-ribut, lihat... bocah ini masih perlu dirawat dengan cara Tiam-hoat (totokan) !"
"Ya ! Ya!" Dan Tung Yang berdua isterinya, Tung Im, sibuk menotoki sekujur tubuh Giok Han. Kagum Yang Bu In melihat kemahiran ilmu totokan Sepasang Tabib Hutan, karena jari tangan mereka selalu menotok dengan tepat, dengan tenaga yang seimbang. Benar-benar tidak kecewa Tabib Hutan begitu terkenal.
Keringat telah membanjir keluar dari sekujur tubuh Tung Yang dan Tung Im. "Panas! Panas sekali ! Hu, kamar ini seperti neraka saja !"
Kemudian Tung Yang menoleh kepada orang-orang yang ada di situ, katanya: "Ayo kalian keluar! Keluar ! Hanya membikin panas kamar ini ! "
Yang Bu In dan yang lainnya mengetahui bahwa kedua tabib ini mungkin juga ingin melakukan suatu pengobatan rahasia terhadap Giok Han, cepat-cepat mengiyakan dan keluar tanpa tersinggung. Tetapi Lam Sie merasa berat harus meninggalkan majikan kecilnya, namun dideliki oleh Tung Yang, terpaksa keluar meninggalkan kamar.
Ketika berada di luar kamar, cepat-cepat Lam Sie menghampiri Yang Bu In. Dengan muka berkuatir dia bertanya : "Loya, bagaimana keadaan Siauwyaku."
Yang Bu In menghela napas.
"Tenanglah saudara Lam, Giok Han pasti bisa disembuhkan," hiburnya. "Kedua, orang itu Scpasang Tabib Hutan yang terkenal sangat pandai untuk ilmu pengobatan, tadi mereka sudah mengatakan Giok Han berhasil mereka selamatkan, Tenang-tenang sajalah, kita percayakan saja keselamatan Giok Han ditangan mereka. Berdo'alah kepada Thian!"
Lam Sie menyusut airmatanya, menangis terisak-isak. Dia merasakan betapa buruknya nasib Giok Han. Ayah bocah itu dan keluarganya sudah mengalami bencana oleh Kaisar dan sekarang keadaan Giok Han pun demikian buruk, dalam keadaan luka parah seperti itu.
Lama juga pintu kamar tertutup, sampai akhirnya Tung Yang keluar.
"Arak ! Mana arak?!" Berseru tabib yang aneh perangainya itu. "Haus! Oooo. tuan rumah yang buruk, mana arak untuk tamu ? Apakah tamu akan dibiarkan haus seperti aku ini ? Benar-benar tuan rumah yang kikir !"
Yang Bu In tersenyum, dia tidak tersinggung atau kurang senang oleh sikap Tung Yang. Yang Lan sudah berlari pergi mengambilkan arak. .Ketika menerima poci arak. Tung Yang segera meneguk isinya.
"Arak yang harum! Arak yang harum!" Dia menyusut bibirnya. "Eh nona yang manis, apakah kau sudah menikah?"
Pipi Yang Lan jadi berobah merah dan menggeleng malu-malu.
"Sayang! Sayang !" Mengeluh Tung Yang kemudian.
Yang Lan jadi ingin tahu. "Mengapa harus disayangkan. Locianpwe ?" Tanyanya.
Tung Yang tidak segera menjawab dia meneguk arak dipoci, kemudian barulah dia menyahuti: "Aku merasa sayang bahwa kau nona cantik bertemu dengan aku, situa bangka yang tidak punya anak Kalau aku punya anak lelaki, tentu akan kuanjurkan agar anakku itu mengambil kau menjadi isterinya !"
Pipi Yang Lan berobah memerah, dia malu bukan main digoda seperti itu. "Locianpwe jangan menggodaku..." Katanya perlahan suaranya.
"Eh, aku bukan sedang menggodamu ! Aku bicara sungguh-sungguh! Siapa yang mengodamu? Justeru melihat kau, aku jadi menyesal bukan main, mengapa dari dulu-dulu aku tidak bikin anak lelaki?"
Pipi Yang Lan semakin berobah merah. Kasar memang perkataan Tung Yang, tetapi dialah penolong keluarganya, karenanya sigadis tidak marah. Dia cuma merasa malu.
Tung Yang membawa poci arak itu kedalam kamar. Pintu kamar ditutupnya lagi.
Semua orang menunggu sesaat lamanya dengan perasaan gelisah dan kuatir. Khang Thiam Lu yang sudah sadar dan datang ke situ, mendengar cerita Yang Lan dan apa yang telah terjadi selama dia pingsan dan tak sadarkan diri.
Oooo, jadi sepasang Locianpwe itu yang sudah menyelamatkan kita? Dulu aku pernah bertemu dengannya dan dia menolongi jiwaku!" Kata Thiam Lu girang.
Dua jam lebih sudah lewat, tetapi pintu kamar tidak juga dibuka dari dalam. Fajar sudah menyingsing, matahari sudah memancarkan siramya. Semua orang semakin gelisah, karena sudah selama itu pintu kamar tetap tidak terbuka. Setelah hari mendekati siang, Lam Sie tidak bisa menahan kegelisahannya.
Dia mengetuk pintu kamar. Walaupun Thiam Lu dan yang lainnya melarang, tetapi Lam Sie tidak bisa dicegah. Dia mengetak daun pintu berkali-kali. Tidak terdengar jawaban. Dia memdorong pintu itu, ternyata tidak dikunci, sehingga daun pintu terbuka lebar. Tetapi didalam kamar tidak terlihat seorang manusiapun juga hanya daun jendela yang kelihatan terbuka lebar !
Lam Sie menjerit kaget, yang lainnya segera ikut masuk kedalam kamar. Mereka jadi bingung. Tetapi Thiam Lu segera melihat di tembok ada guratan-guratan dalam bentuk huruf, ternyata itulah tulisan yang dilakukan oleh mata pedang, yang diguratkan pada tembok, bunyinya: "Anak ini berjodoh dengan kami, karenanya kalian tidak usah berkuatir tentangnya, kami akan merawatnya baik-baik. Dari Tung Yang dan Tung Im.
Lemas tubuh Lam Sie, yang lainnyapun tercengang setelah membaca surat itu. Namun akhirnya Thiam Lu menghibur Lam Sie.
"Kau seharusnya gembira Lopeh, karena ditangan mereka Siauwya kita terjamin keselamatannya. Mereka sepasang suami isteri yang memiliki ilmu sangat tinggi. Memang adat mereka aneh, tetapi mereka bukanlah penjahat2. Karena itu biarlah Siauwya dirawat mereka."
Lam Sie cuma menangis sambil mengangguk-angguk saja.
Yang Bu In sendiri menyesal atas kepergian sepasang Tabib Hutan secara begitu, Dia belum lagi bisa bercakap-cakap dan menjamu Sepasang Tabib Hutan itu, sedangkan mereka sudah menyelamatkan diri dan keluarganya.
Lam Sie selanjutnya tinggal dirumah keluarga Yang. Karena tidak tahu harus pergi kemana. Dia hanya berharap suatu saat kelak bisa bertemu lagi dengan Siauwyanya.
Khang Thiam Lu tinggal selama setengah tahun dirumah gurunya, untuk berjaga-jaga, kalau saja suatu saat Bwee Sim Mo Lie muncul menyatroni keluarga Yang. Tetapi selama itu tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Bwee Sim Mo Lie pun sudah tidak muncul lagi.
Kematian Cie Sun Hoat sudah diatasi, karena pada hari itu Thiam Lu sudah membuang mayat pemuda itu ketempat pelesiran, dibelakang gedung berkumpulnya bunga raya (pelacur). Tempat pelesiran itu jadi heboh dan keesokan harinya ditutup.
Entah berapa banyak orang yang ditangkap-tangkapi oleh ayah Cie Sun Hoat, namun keluarga Yang terhindar dari bentrokan dengan ayah Cie Sun Hoat.
Selama tinggal dirumah keluarga Yang, hubungan Khang Thiam Lu dengan Yang Lan semakin akrab, setahun kemudian merekapun meresmikan perkawinan, terangkap menjadi sepasang suami isteri.
Pesta perkawinan itu diselenggarakan secara meriah oleh keluarga Yang, selama sebulan penuh. Sebagai mantu keluarga Yang, sebetulnya Khang Thiam Lu sering juga menyesali mengapa dirinya harus terikat oleh perkawinan? Bukankah seharusnya dia pergi berjuang untuk membantu para pendekar pencinta negeri bersama-sama menentang Kaisar lalim ?
Bukankah seharusnya ia pergi membalas sakit hati Giok-Goanswee, yang sekeluarga telah ditimpa malapetaka begitu hebat? Sampai akhirnya Khang Thiam Lu tidak bisa menahan perasaannya lagi, ia menceritakan segalanya kepada isteri disuatu malam. Akhirnya sepasang suami isterinya itu memutuskan untuk merantau, guna melaksanakan cita cita Khang Thiam Lu, yaitu membantu para pecinta negeri untuk menentang Kaisar lalim.
Yang Bu In dan isterinya tidak bisa menahan keinginan anak dan mantu mereka, dengan perasan berat mereka mengijinkan. Lam Sie mengantarkan kepergian sepasang suami isteri muda itu dengan linangan air mata. "Kalau Tayjin bertemu dengan Siauya, tolong beri kabar kepadaku," minta Lam Sie waktu mereka ingin berpisahan.
Khang Thiam Lu mengiyakan dan berjanji akan menyelidiki bagaimana keadaan Giok Han dan Sepasang Tabib Hutan itu.
Kemana perginya Giok Han dan Sepasang Tabib Hutan? Ternyata Sepasang Tabib Hutan sudah memutuskan bahwa Giok Han akan mereka bawa serta, jika diberitahukan kepada Yang Bu In atau Thiam Lu, mereka kuatir timbul kerewelan.
Karena itu, Tung Yang memutuskan membawa Giok Han secara diam-diam. Tung Im menyetujui. Mereka melalui jendela kamar itu meninggalkan keluarga Yang. Tung Yang yang menggendong Giok Han yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri
Dengan mengandalkan Ginkang (ilmu meringankan) tubuh mereka yang tinggi, Sepasang Tabib Hutan itu tidak mengalami kesulitan buat meninggalkan rumah keluarga Yang. Mereka bahkan meninggalkan kota tersebut.
Setelah berada diluar kota Siauw An, mereka baru beristihat, Giok Han diletakkan dibawah sebatang pohon, matahari fajar segera menyingsing. "Anak ini memerlukan pengobatan yang disertai penyaluran tenaga lwekang, jika tidak tulang pundaknya itu bisa membuatnya tidak bisa mengerahkan seluruh tenaganya kalau bocah ini sudah besar," kata Tung Yang sambil duduk disamping Giok Han.
"Kiemoay, kita harus mencari tempat yang tepat untuk pengobatan ini."
Tung Im mengangguk "Ya, memang benar," katanya. "Tetapi kalau kita harus membawanya pulang, berarti urusan kita bisa berantakan. Kita turun gurung, lagi karena untuk menyelesaikan persoalan besar itu. Jika memang disebabkan bocah ini kita harus gagal melaksanakan urusan besar itu, apakah kau situa bangka tidak akan menyesal nantinya?"
Tung Yang duduk termenung. Dia menggigit-gigit bibirnya. Sikapnya tidak ugal-ugalan seperti sebelumnya, kini tampak ia tengah berpikir sungguh, Sampai akhirnya dia bilang: "Begini saja, kita tak usah membawa pulang bocah ini, cukup mencari tempat yang sepi untuk mengobatinya. Atau kalau perlu kita menumpang dirumah penduduk, Kita obati dia, setelah itu kita ajak dia bersama kita, sambil membereskan urusan yang sangat penting itu."
"Baiklah," kata Tung Im. "Aku hanya menurut saja apa yang kau putuskan, tua bangka !"
"Lebih baik kita mencari rumah penduduk yang bisa kita tumpangi, kukira dalam tiga atau empat hari bocah ini sudah bisa kita sembuhkan. Kita tidak boleh menunda-nunda pengobatan untuk bocah ini, sebab jika terlambat dan tulang Pie-peenya tidak bisa dikembalikan seperti semula, kelak biar dia berhasil mempelajari ilmu yang paling tinggi sekalipun, akan percuma saja, la tidak bisa mempergunakan ilmunya dengan sebaik-baiknya."
"Apakah ada rumah penduduk yang bisa kita tumpangi ? Keadaan kita seperti pengemis. Apakah ada penduduk yang mau membiarkan kita menumpang dirumah mereka ?" Tanya Tung Im ragu-ragu.
"Yang terpenting uang. Kita berikan uang, mereka akan tutup mata terhadap cara berpakaian kita!" Menyahuti Tung Yang.
Sambil berkata begitu Tung Yang menggendong Giok Han, Tung Im mengikuti suaminya mencari rumah penduduk disekitar tempat itu yang sekiranya cocok untuk mereka tumpangi, guna mengobati Giok Han.
Setelah melakukan perjalanan cukup jauh sampai matahari fajar sudah menyingsing, mereka melihat sebuah rumah penduduk yang letaknya terpencil, sekelilingnya hanya hutan dan pohon-pohon liar yang lebat.
Segera Tung Yang memutuskan rumah itu cocok untuk tempat mereka menumpang sementara. Segera mereka menghampiri rumah itu.
Rumah penduduk yang terpencil ini tidak begitu besar, letaknya terpencil dari rumah penduduk lainnya. Keadaan disitu sunyi sekali, tidak terlihat seorang manusiapun juga. Pintu rumah juga tertutup rapat-rapat Tung Yang mengetuk pintu rumah itu, tidak lama kemudian seorang Hwesio berusia tiga puluh tahun membukakan pintu.
Tung Yang berdua Tung Im jadi tercengang, karena mereka tidak menyangka bahwa penghuni rumah tersebut seorang hwesio, pendeta dengan kepala yang botak licin.
Si Hwesio mengawasi Tung Yang dait Tung Im, kemudian tersenyum.
"Omitohud," katanya sambil merangkapkan kedua tangannya. "Ada keperluan apakah jiewie datang kemari ?"
Tung Yang merasa sudah terlanjur datang dirumah ini, segera memberitahukan bahwa dia bermaksud untuk menumpang beberapa hari dirumah tersebut. "Kalau memang Taysu tidak keberatan kami ingin menumpang beberapa hari disini. Anak kami ini sedang sakit demam, karenanya kami ingin ia beristirahat dulu dengan baik, Kalau demamnya sudah berkurang barulah kami melanjutkan perjalanan."
Mata si pendeta bersinar sejenak mengawasi Giok Han, kemudian mengangguk. "Sian-cai, siancai, silahkan masuk. Tentu saja Pin-ceng tidak bisa menolak kunjungan kalian." Dan Hwesio itu membuka daun pintu lebih lebar.
Tung Yang berdua Tung Im sebetulnya curiga dirumah tersebut bisa terdapat pendeta tersebut. Tetapi mereka mengucapkan terima kasib dan masuk. Mereka tidak gentar kalau memang sipendeta penjahat tentu mereka bisa sekalian menghajarnya. Mereka tidak kuatir sedikitpun juga, sebab yakin si pendeta tidak mungkin bisa main gila terhadapnya.
Tetapi waktu memasuki rumah itu, kembali mereka tercengang. Didalam ruang itu terdapat tiga orang Hwesio lainnya, yang sebaya dengan Hwesio yang tadi membukakan pintu. Kecurigaan Tung Yang dan Tung Im semakin besar.
Apa yang sedang dilakukan keempat orang Hwesiio tersebut dirumah ini? Tung Yang dan Tung Im berani memastikan bahwa keempat orang Hweshio itu bukanlah pemilik rumah ini.
Ketiga orang Hweshio diruang dalam melirik kepada Tung Yang dan Tung Im, tanpa seorangpun berdiri atau melontarkan sepatah kata. Mereka berdiam diri saja. Hweshio yang yang tadi membukakan pintu, sudah mengantarkan Tung Yang Tung Im kesebuah kamar-Giok Han diletakkan diatas pembaringan.
Si Hweshio menutup daun pintu, sebelum merapatkan daun pintu dia masih bilang: "Kalian boleh tinggal disini selama kalian masih memerlukan tempat peristirahatan, tetapi jiwie tidak boleh mencampuri urusan apapun yang terjadi didalam rumah ini ! Pinceng harap, kalianpun tidak usah keluar-keluar dari kamar itu... demi kebaikan kalian juga."
Tung Yang sebetulnya ingin bertanya pada si Hweshio, tetapi Tung Im sudah menarik lengan bajunya, dan Tung Im yang menyahuti: "Terima kasih Taysu. Kami akan memperhatikan kata-katamu."
Daun pintu sudah ditutup. Tung Yang tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya, dia segera memutar tubuhnya mendekati pintu tapi lengannya sudah ditarik oleh isterinya "Tua bangka, jangan usil! Tidak usah kita campuri urusan mereka, mengapa kau harus harus ngintip ngintip?"
Muka Tung Yang berobah merah, dia nyengir. "Bukan ngintip perawan, aku hanya ingin mengetahui apa yang mereka lakukan ditempat ini?"
"Biarkan saja apa yang ingin mereka lakukan! Kita tidak usah mencampuri. Bocah ini sedang memerlukan perhatian kita, untuk menyembuhkan lukanya. Menurutku, keempat pendeta itu bukan dari jalan hitam, mereka bukan pendeta jahat!"
"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?" Tanya Tung Yang yang tidak senang, "hati manusia siapa yang bisa baca. Diluar kelihatan baik, tidak tahunya hati dan perasaannya sama jahatnya seperti iblis !"
Tung Im tertawa tawar. "Kalau mereka pendeta-pendeta jahat, apa yang mereka bisa lakukan terhadap kita? Biarkan saja, jika memang mereka mencari mampus berarti mereka membentur kita ! Tetapi menurutku, mereka bukanlah pendeta-pendeta jahat!"
Tung Yang tidak memaksa untuk mengintip kedekat pintu, dia kembali duduk di tepi pembaringan. Memperhatikan wajah Giok Han.
"Kita mulai sekarang saja," kata Tung Im.
Tung Yang mengiyakan.
Segera sepasang suami isteri itu mulai menguruti sekujur tubuh Giok Han, terutama sekali dibagian dekat pundak si bocah, yang telah terpukul hebat oleh Bwee Sim Mo Lie.
Memang benar Bwee Sim Mo Lie dalam beberapa detik sebelum menghantam Giok Han, sudah berusaha menarik pulang tenaganya dan menggeser tangannya tidak sampai memukul kepala Giok Han, akan tetapi tenaga pukulannya tetap merupakan pukulan yang sangat kuat dan beracun.
Biarpun Giok Han terhindar dari kematian, namun dia sudah terluka hebat! Terlebih pula memang Giok Han tidak memiliki ilmu silat sedikitpun, sehingga luka yang dideritanya itu bertambah parah saja, menyebabkan bocah itu menahan rasa sakit yang luar biasa sampai pingsan tidak sadarkan diri.
Sibuk sekali tampaknya Tung Yang berdua Tung Im berusaha untuk mengurut dan menyalurkan tenapa dalam mereka lewat telapak tangan masing-masing, untuk disalurkan ketubuh Giok Han.
Di luar kamar, pendeta yang tadi mengantarkan Tung Yang dan Tung Im sudah kembali kepada ketiga orang pendeta lainnya. Salah seorang pendeta yang duduk di sebelah kanan, menegur dengan suara perlahan: "Sam-te, mengapa kau mengijinkan orang-orang itu menumpang di sini ? Bagaimana kalau mereka mengganggu pekerjaan kita ?"
Pendeta yang dipanggil Sam-te menggeleng: "Mereka orang-orang tua dan seorang anak kecil, apa yang bisa mereka lakukan? kita tidak perlu kuatir dan terlalu memperhatikan mereka. Anak mereka sedang sakit demam yang keras dan kulihat anak itu dalam keadaan pingsan. Mana pantas aku menolak permintaan mereka buat menumpang agar anak mereka yang sakit itu bisa beristirahat dengan baik ?"
"Tetapi Sam-te, kau terlalu ceroboh sekali, kalau sampai urusan ini terganggu dan rencana kita gagal, tentu Suhu akan menegur dan menyesali kita," kata pendeta yang seorangnya lagi.
"Jie-suheng tidak perlu kuatir. Aku jamin kedua orang tua itu bukan orang-orang yang pantas kita perhatikan. Biarkan saja mereka beristirahat dan kita kita mengurus pekerjaan kita."
Pendeta yang dipanggil sebagai Jie-suheng (kakak seperguruan nomor dua) cuma menghela napas saja. Si pendeta yang jadi Sam-te (adik seperguruan ketiga) sudah duduk di samping Jie-suhengnya, katanya "Apa kah pagi ini kita mulai mengurus pekerjaan itu ?"
"Ya rasanya memang kita harus mulai melaksanakan rencana kita pagi ini. Semalaman suntuk kita menanti di sini, tapi yang kita tunggu-tunggu tidak juga datang," menyahuti Jie-suheng.
"Suhu sudah berpesan agar kita bekerja serapi mungkin, jangan sampai menimbulkan bentrokan yang lebih luas," kata Samte, "karenanya, kalau memang masih bisa ditempuh dengan jalan damai, kita harus melakukannya dengan cara yang lebih sabar dan agak mengalah."
Pendeta yang seorangnya menggeleng.
"Aku tidak setuju," katanya. "Kalau kita mengalah, niscaya persoalan itu tidrik bisa diselesaikan. Malah akan menyebabkan mereka besar kepala dan bertambah sombong."
"Apakah Toa-suheng (kakak seperguruan nomor satu atau yang tertua) mempunyai jalan lain ?" Tanya si Sam-te.
"Kita harus menghadapinya dengan kekerasan, memaksa agar mereka mau menyerahkan kembali barang-barang kita ! Jangan mereka menyangka murid-murid Siaw Lim Sie mudah dihina. Kita harus menjaga muka terang pintu perguruan, walaupun harus mati kita harus tetap bersikap gagah! Mengapa kita harus mengalah pada mereka ?" Waktu berkata begitu, Toa-suheng ini rupanya sulit menahan diri, suaranya keras sekali karena diliputi amarah.
Hwesio yang tiga lainnya berdiam diri. Akhirnya yang seorang yang sejak tadi berdiam diri saja, ikut bicara : "Apa yang Toa-suheng bilang memang ada benarnya. Kita harus memperlihatkan bahwa murid-murid Siau Lin Sie bukanlah sebangsa manusia yang mudah dihina sekehendak hati oleh siapa saja! Kita harus memberikan pelajaran yang keras kepada mereka !"
"Sie-te (adik seperguruan keempat) apakah kau pun punya usuI?" tanya Jie-suheng.
"Aku setuju dengan Toa-suheng," menyahuti Sie-te tegas. "Kita harus memberikan ganjaran yang tepat dengan perbuatan mereka, yang sudah meremehkan kita."
"Baiklah, kalau begitu terserah Toa-Suheng saja, apa yang harus kita lakukan !" kata Sam te dengan suara perlahan.
"Pagi ini juga kita harus pergi menyatroni mereka, jika memang mereka tetap tidak mampu memberi muka terang kepada kita buat apa kita sungkan lagi pada mereka? Kita hadapi mereka dengan kekerasan !" kata To-suheng.
Begitulah, Toa-suheng ini kemudian berbisik-bisik dengan ketiga orang adik seperguruannya untuk mengatur rencana mereka, Tidak lama kemudian keempat pendeta itupun sudah meninggalkan rumah tersebut. Waktu itu matahari pagi tengah memancarkan sinarnya yang hangat.
Walaupun tengah sibuk mengobati luka Giok Han, tapi Tung Yang dan Tung Im mendengar sebagian dari pembicaraan keempat orang pendeta tadi.
Setelah diluar kamar sepi tidak terdengar suara orang, perasaan ingin tahu Tung Yang semakin besar. Setelah selesai menguruti sekujur tubuh Giok Han dan memberikan semacam Yo-wan (obat pulung) kepadanya, yang dimasukan dengan cara memijat dagu dekat rahang si bocah, sebab Giok Han sedang pingsan, Tung Yang keluar dari kamar.
Dia tidak melihat seorang pendetapun di ruang tengah rumah itu. Dia memperoleh kenyataan keempat pendeta itu sudah pergi. Tung Yang kembali kedalam kamar.
"Aneh, entah apa yang ingin mereka lakukan ? Dan siapa yang ingin mereka satroni untuk memberi ganjaran seperti yang mereka katakan tadi ?!" Menggumam Tung Yang dengan suara perlahan.
Tung Im tertawa. "Tua bangka mengapa kau semakin tua jadi semakin usil terhadap urusan orang lain? Biarkan saja mereka mengurus urusannya, kita mengurus bocah ini!"
"Aku bukan usil ingin mencampuri urusan mereka, cuma aku heran keempat pendeta itu entah bentrok dengan pihak mana!"
"Kalau kau sudah tahu, apa yang ingin kau lakukan ?"
"Tidak melakukan apa-apa."
"Hmm, kau berdusta, tua bangka! Kau tentu ingin membantui mereka, bukan ?"
Tung Yang nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang sudah penuh oleh uban, sehingga rambutnya berwarna kelabu. "Susah dibilang," katanya menggumam. "Seperti tujuan kita yang pertama turun gunung ialah untuk mengurus persoalan kita. Tapi akhirnya kita terlibat urusan bocah ini... bukan kah ini diluar dugaan !"
"Tentang bocah ini lain persoalannya," kata Tung Im. "Seperti telah kita ketahui, bocah ini adalah putera bungsu Giok Goan-swee, yang lolos dari kematian di tangan orang-orangnya Kaisar lalim. Kita terlambat tiba di sana untuk menolong Jenderal yang setia itu.
Karenanya, setelah ada darah daging Jenderal itu yang sempat lolos apakah kita tidak mau turun tangan untuk menyelamatkan keturunan Giok Goanswee satu-satunya ? Sayangnya kau selalu bertindak terlambat. Kita datang ke tempat Jenderal Giok Hu di saat seluruh keluarga Jenderal setia itu sudah dianiaya oleh orang-orang Kaisar lalim itu.
Kemudian kitapun terlambat mengetahui bahwa bocah ini adalah satu-satunya keturunan Jenderal setia itu, kita baru mengetahui waktu orang she Khang menceritakan seluruh riwayat anak ini kepada Yang Bu In. Barulah kita turun tangan menghalau Bwee Sim Mo Lie !
Dulu, di tengah perjalanan kita masih belum mengetahui bocah ini adalah keturunan satu-satunya Jenderal Giok Hu yang masih hidup, sehingga kita cuma menolong orang she Khang itu dan kemudian menghindar dari Bwee Sim Mo Lie ! Sungguh kau tua bangka yang selalu bekerja lambat !"
"Kie-moay, kau tidak bisa mempersalahkan aku," kata Tung Yang, "kau juga bersalah !"
"Aku bersalah ?! Tung Im berdiri dengan bertolak pinggang. "Oooh, tua-bangka! Kau pandai sekali bersilat lidah! Mengapa kau begitu hina tidak berani mengakui kesalahanmu?"
"Aku bukan membantah bahwa aku ini tidak bersalah" menyahuti Tung Yang sambil gasuk-garuk kepala. "Waktu itu kau cemburu, kalau kita bertemu dengan Bwee Sim Mo Lie mungkin aku akan teringat pada Thio Eng Goat, iblis yang cantik jelita itu.."
"Hu, memang kau seorang tua bangka yang ceriwis, maka mana bisa aku percaya penuh padamu ? Selalu kau sulit menahan diri kalau melihat wanita cantik. Murid si iblis Thio juga sangat cantik, kalau kubiarkan kau bertemu dengannya berarti kau akan mengalami sulit tidur selama sepuluh hari. Tidak enak makan dan selalu bengong memikirkan murid si iblis Thio itu !"
"Tetapi akhirnya kita berdua keluar memperlihatkan diri dan bertemu dengan murid si iblis Thio itu, bukan ?"
"Ya, demi menyelamatkan jiwa bocah ini !"
"Nah, Kie-moay, kau lihatlah! Apakah setelah bertemu dengan murid si iblis she Thio itu aku sulit tidur dan tidak enak makan? Tokh tidak ?"
"Hmmmm !" Mendengus Tung Im sambil duduk kembali ditepi pembaringan.
"Dengarlah Kie-moay, walaupun bagaimana dimataku tidak ada wanita cantik lainnya didunia ini selain kau! Kau merupakan isteriku yang cantik, yang baik hati dan sangat kucintai !"
Merah pipi Tung Im. Walaupun sudah sama-sama tua, tapi mendengar pujian seperti itu, berkembang girang hati Tung im. Dia girang bercampur malu.
"Hu, rayuan gombal yang tidak ada harganya ! Kita sudah sama-sama tua dan sebentar lagi akan masuk liang kubur. Jangan coba-coba merayuku dengan rayuan murah seperti itu !"
Tung Yang tersenyum. Dia menghampiri isterinya.
"Oooo, isteriku yang cantik, ternyata kau masih saja memiliki rasa cemburu yang besar dan berlebihan? Sampai mati, aku akan tetap mencintai kau. Percayalan, aku tidak mungkin bisa hidup didunia ini tanpa kau ! Aku boleh kehilangan seluruh ilmu silatku, kehilangan jiwaku, tetapi janganlah kehilangan kau!" Sambil berkata begitu, disertai tertawa, Tung Yang merangkul istrinya.
Tung Im meronta sambil memukuli dada Tung Yang. "Cisss, tua bangka tidak tahu malu" Makinya, tapi hatinya senang bukan kepalang. Malah, akhirnya dia tidak memukuli dada Tung Yang dan merebahkan kepalanya didada Tung Yang. Memang, walaupun mereka sudah sama-sama tua, tapi selalu mesra. Sikap mereka terbuka dan sering bergurau.
Tung Im dan Tung Yang sebetulnya sejak sepuluh tahun yang lalu sudah tidak pernah turun gunung. Mereka hidup mengasingkan diri tidak pernah mau tahu tentang peristiwa dalam kalangan Kangouw. Memilih hidup tenang tanteram ditempat pengasingan mereka, yaitu dipuncak gunung Bie San.
Walaupun sebelumnya mereka merupakan sepasang pendekar aneh yang berkepandaian sangat tinggi dan jarang menemui tandingan tapi mereka tidak pernah berpikir lagi untuk melibatkan diri dalam berbagai urusan Kangouw.
Bahkan Tung Yang sudah bersumpah bahwa ia akan melewati hari-hari tuanya bersama isterinya tanpa mempergunakan pedang maupun ilmu silatnya. Seperti juga jago tua ini sudah menyimpan pedang dan ingin melewati usia tuanya dengan tenang sebagai manusia biasa.
Sengaja mereka memilih tempat yang sepi dan tersembunyi di puncak Bie San, karena kuatir ketenangan mereka diganggu oleh kedatangan teman atau pun lawan. Maka sejak Tung Yang berdua Tung Im mengasingkan diri, tidak ada seorangpun, baik lawan maupun kawan, yang mengetahui dimana tempat pengasingan mereka. Bahkan, tidak ada seorangpun yang mengetahui apakah Tung Yarg dan Tung Im masih hidup.
Tetapi, tampaknya memang Tung Yang dan Tung Im sulit untuk hidup tenang tenteram dan tidak melibatkan diri dalam urusan Kangouw, sebab disuatu sore disaat Tung Yang turun gunung, untuk membeli beberapa kebutuhan mereka dikampung yang ada dikaki gunung Bie San sebelah Barat, justeru Tung Yang bertemu dengan beberapa puluh orang Kangouw yang berkumpul di kampung itu.
Tentu saja Tung Yang heran menyaksikan munculnya demikian banyak orang Kangouw dikampung jang biasanya sangat sepi. Dia segera mengikuti gerak-gsrik puluhan orang Kangouw itu, memasang telinga mendengarkan percakapan mereka. Ternyata puluhan orang Kangouw itu adalah para pendekar yang setia pada negeri dan mereka tengah melakukan perjalanan kedaerah sebelah timur dari propinsi Ciatkang, untuk menolongi Jenderat Giok Hu.
Berita tentang akan dihukumnya Jenderal Giok Hu sekeluarga oleh Kaisar Yong Ceng sudah tersiar dikalangan pendekar gagah pecinta negeri. Karena Kaisar Yong Ceng menduga Jenderal Giok Hu mempunyai hubungan baik dengan pujangga Giam Cu serta ingin bekerja sama dengan pujangga ternama, yang tengah giat menghimpun para pendekar untuk coba membangun negeri dan meruntuhkan Yong Ceng.
Kaget bukan main Tung Yang mendengar semua itu. la tidak menyangka bahwa Jenderal Giok Hu yang sangat terkenal setia itu tengah terancam bahaya maut. Segera ia kembali kepuncak Bie San dan menceritakan kepada isterinya, mengajak untuk turun gunung, guna membantu dan melindungi Jenderal Giok Hu.
Tung Im tidak bisa menolak keinginan suaminya, begitulah mereka turun gunung, untuk pergi membantui Jenderal Giok Hu. menyelamatkan Jenderal itu bersama keluarganya. Tetapi kedatangan mereka terlambat. Dua hari setelah terjadi pembantaian di rumah keluarga Jenderal Giok Hu. Mereka hanya menyaksikan para pendekar yang datang terlambat juga ketempat itu, menangisi mayat-mayat malang melintang digedung istana Jenderal Giok Hu.
Beberapa orang pendekar gagah membawa mayat Jenderal Giok Hu, untuk mempersatukan kembali kepala dengan tubuh dan kemudian dikubur disuatu tempat yang dirahasiakan.
Kedatangan para pendekar gagah dan Sepasang Tabib Hutan terlambat, karena orang orang Kaisar Yong Ceng pun sudah mendengar tentang bergeraknya banyak para pendekar gagah yang ingin membantui Jenderal Giok Hu.
Kalau Hal itu terjadi, tentu orang-orang Kaisar menghadapi kesulitan tidak kecil. Mereka mempecepat perjalanan dan empat hari lebih cepat mendahului dari rencana sebelumnya. Karenanya waktu itu keluarga Jenderal Giok Hu dibantai tanpa kesulitan apa-apa. Disamping Jenderal Giok Hu tinggal di Istananya tanpa memiliki banyak pengawal Sebab seluruh pasukan ditempatkan di Markas Besar dan diperbatasan. Hukuman yang dijatuhi Kaisar Yong Ceng pun sangat cepat pelaksanaannya, sehingga orang yang setia kepada Jenderal Giok Hi belum lagi sempat datang untuk menyelamatkan Jenderal yang setia tersebut.
Celakanya, Jenderal Giok Hu pun tidak bermaksud untuk mengadakan perlawanan, ia tidak mau disebut sebagai Jenderal pemberontak, la menerima hukuman yang dijatuh Kaisar Yong Ceng dengan cara bunuh diri memotong lehernya sendiri sampai putus. Kematian yang sangat mengenaskan.
Bukan main kecewanya Sepasang Tabib Hutan atas keterlambatan mereka tiba di Istana Jendral Giok Hu. Mereka yakin, jika waktu itu mereka berada digedung Jenderal Giok Hu, niscaya bisa menyelamatkan Jenderal setia itu maupun keluarganya.
Dalam keadaaan bersedih dan uring-uringan seperti itu, justeru Sepasang Tabib Hutan bertemu dengan Khang Thiam Lu yang dalam keadaan terluka di dalam yang parah. Tung Yang menolong Thiam Lu dengan memberikan obat serta menghantam punggungnya, guna membuka beberapa jalan darah di tubuhnya tidak berbahaya lagi. Mereka kemudian pergi. Sedikitpun mereka tidak menyangka bahwa bocah yang bersama Thiam Lu adalah keturunan satu-satunva Jenderal Giok Hu yang masih hidup.
Kalau mereka mengetahui tentu disaat itu juga mereka rawat. Sampai akhirnya mereka mendengar tentang sepak terjang Bwee Sim Mo Lie, tetap tidak memperlihatkan diri pada iblis ganas itu. Hanya mengikuti rombongan Thiam Lu secara diam-diam dan memberikan perlindungan.
Sebetulnya. sudah beberapa kali Bwee Sim Mo Lie ingin mencelakai Khang Thiam Lu bertiga Lam Sie dan Giok Han. sebab selama belum membunuh ketiga orang itu, seialu juga Bwee Sim Mo Lie masih penasaran. Dia ingin membunuh secara diam-diam, untuk membuktikan walaupun bagaimana dia merupakan pembunuh nomor satu di dunia.
Biarpun di mulut sudah berjanji pada Giok Han, untuk melepaskan ketiga orang itu dari kematian, tapi hatinya tetap tidak puas. Dia berusaha untuk membunuh Thiam Lu bertiga secara diam-diam dengan jarum beracunnya.
Cuma saja. Sepasang Tabib Hutan selalu bisa menggagalkan usaha Bwee Sim Mo Lie, dengan cara memberikan pertolongan secara diam-diam. Akhirnya sampailah Thiam Lu bertiga di rumah keluarga Yang, barulah Sepasang Tabib Hutan mengetahui bahwa bocah yang bersama Thiam Lu adalah Giok Han.
Waktu itu mereka sebetulnya ingin segera memperlihatkan diri, tapi akhirnya menunda keinginan tersebut, sebab mereka mengetahui Bwee Sim Mo Lie tengah berkeliaran di sekitar rumah keluarga Yang, ingin menceIakai keluarga Yang, juga Thiam Lu Lam Sie dan Giok Han.
Sebab itulah Sepasang Tabib Hutan itu tetap tidak memperlihatkan diri. Sampai akhirnya di saat Yang Lan mengalami ancaman bahaya, mereka muncul memperlihatkan diri. Tidak ada jalan lain, karena mereka melihat Giok Han pun sudah terluka oleh tangan ganas Bwee Sim Mo Lie.
Maunya Tung Im. jika tidak perlu mereka tidak usah memperlihatkan diri. Mereka boleh memberikan perto'ongan secara diam-diam: Siapa tahu, Giok Han pun dicelakai oleh Bwee Sim Mo Lie dan mereka tidak ke buru untuk muncul menolonginya, sebab bersembunyi agak jauh. Dan itulah sebabnya sepasang suami isteri ini akhirnya harus memperlihatkan diri juga.
Sekarang justeru mereka memperoleh kenyataan Giok Han terluka cukup parah, jika tidak memperoleh pengobatan yang tepat niscaya bisa merugikan masa depan Giok Han. Sebagai Sepasang Tabib yang sangat liehay dalam ilmu pengobatannya, tentu saja Sepasang Tabib Hutan tersebut mengetahui benar, bahwa luka Giok Han bisa saja disembuhkan dalam waktu singkat, hanya di bagian luar belaka.
Sedangkan bagian dalamnya rusak. Dan kelak jika sudah dewasa tentu bocah itu akan mengalami kesulitan untuk mempergunakan Lwekangnya. Karena Tung Yang maupun Tung Im mengetahui Giok Han harus disembuhkan dalam arti yang sebenar-benarnya sembuh, agar tidak menimbulkan kesulitan lagi buat anak itu kalau sudah dewasa.
Penyembuhan yang utama adalah melenyapkan hawa beracun yang sudah meresap ke dalam tulang pundak Giok Han yang patah. Kalau hanya untuk sekedar menyambung tulang pundak si bocah, itu bukan pekerjaan yang sulit. Sekarang justeru yang sulit, harus memulihkan kembali seluruh urat dan otot di pundak itu, agar tidak ada sedikitpun sisa hawa racun tangan maut Bwee Sim Mo Lie.
Hari itu di rumah tempat mereka menumpang sangat sepi, tidak terlihat seorang manusiapun juga. Keempat orang pendeta itupun tidak terlihat mata hidungnya. Beberapa kali Tung Yang keluar dari kamar, tetap saja ia belum melihat keempat pendeta itu kembali.
Mendekati sore, Tung Yang dan Tung lm yang tengah menguruti lagi sekujur tubuh Giok Han, agar hawa racun di tubuh bocah itu keluar semuanya, mendengar suara ribut-ribut di luar kamar. Kemudian sunyi lagi. Selesai melakukan pengurutan, Tung Yang keluar.
Dilihatnya keempat orang pendeta itu sudah kembali, tapi keadaan mereka sangat luar biasa, keempat orang Hwesio itu semuanya menderita luka-luka disekujur tubuh, keadaannya sangat mengenaskan sekali, jubah kependetaan merekapun koyak-koyak.
Darah yang menodai pakaian tampak dipunggung, lengan, muka dan bagian tubuh lainnya, keadaan keempat Hwesio itu sangat menyedihkan.
Tung Yang melihat keadaan keempat orang Hwesio itu, jadi berdiri tertegun sejenak, kemudian kembali ke dalam kamar. Sedangkan keempat pendeta itu hanya melirik sekilas pada Tung Yang dan mereka berdiam diri. Muka mereka murung. Rupanya mereka sudah dirubuhkan oleh lawan dengan cara menyedihkan sekali. Tidak ada seorang pun di antara keempat pendeta itu yang bersuara. Semuanya bungkam.
Tung Im kaget waktu diberitahukan Tung Yang tentang keadaan keempat orang Hwesio itu.
"Apa yang sudah terjadi pada mereka?" Menggumam Tung Im.
Tung Yang nyengir.
"Sudah jelas mereka kena dirubuhkan oleh lawan dengan menyedihkan." kata Tung Yang. "Entah siapa lawannya, tampaknya ilmu pedangrya tak boleh dipandang remeh Walaupun keempat orang Hwesio itu merupakan pendeta-pendeta yang belum tinggi Lwekangnya, dan hanya terbawa oleh emosi disebabkan usia muda, tapi mereka adalah murid-murid Siauw Lim Sie yang tidak boleh terlalu diremehkan ilmunya. Kalau memang mereka tidak ketemu lawan yang benar-benar liehay, tentu berempat keadaan mereka tidak rusak seperti itu."
Tung Im mengangguk. "Ya, seharusnya mereka sedikitnya masih bisa mempertahankan diri. Ilmu silat pedang Siauw Lim Sie memiliki pertahanan yang kuat dan ketat, tidak mungkin sembarangan orang bisa merubuhkan mereka berempat dengan keadaan menyedihkan seperti itu."
Waktu Tung Yang mau berkata-kata lagi tiba-tiba terdengar salah seorang dari keempat pendeta itu berkata: "Benar-benar memalukan hari ini kita dirubuhkan dengan cara yang menyedihkan seperti ini ! Entah apa kata suhu jika kita laporkan semua ini!"
"Sudahlah Toa-suheng, walaupun bagaimana kita harus melaporkan kepada Suhu. Tidak mungkin kita menghadapi mereka, kepandiannya memang jauh diatas kita. Bukankah merekapun mengatakan, jika tidak memandang kita dari tingkatan muda, mereka akan membinasakan kita? Kalau melihat ilmu pedang mereka, memang ancaman mereka bukan main-main dan bisa saja mereka membuktikan untuk membinasakan kita. Buktinya, setiap disebut bagian mana anggota tubuh kita akan dilukainya, meka bagian tersebutlah yang terluka, walaupun kita sudah berjaga-jaga dengan rapat."
"Tetapi bagaimana dengan barang kita?" tanya pendeta lainnya.
"Kita serahkan saja pada Suhu untuk meminta dari mereka !"
"Tetapi pamor kita sudah runtuh ditangan mereka, dua orang manusia aneh itu!"
Bersambung ke jilid 6

This entry was posted on Selasa, Juli 27, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar