Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 4  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 4
"Justeru sejak tiga tahun yang lalu dari sahabat-sahabatku ada kabar bahwa dia sudah turun gunung dan mengacau rimba persilatan dengan kekejamannya, kecil besar dan wanita pria! Bahkan binatang-binatang yang bertemu dengannya, seperti bebek, ayam ataupun anjing, memiliki nasib yang buruk juga, karena akan dibunuh pula!
Hanya yang mengherankan, menurut sahabat-sahabatku, dia masih tetap muda jelita, sangat cantik sekali dengan pakaian sutera putihnya, usianya mungkin baru duapuluh tahun lebih. Padahal, dulu saja sudah dua puluh tahun lebih, dan kini tentunya dia sudah berusia empat puluh tahunan... Apakah memang dia pun mempelajari ilmu yang khusus untuk bisa awet muda?!"

Setelah bercerita begitu, Bu In menghela napas dalam-dalam, dia bilang lagi: "DIA she Thio dan bernama Eng Goat, Ingatlah olehmu, jika memang aku sampai terbinasa di tangannya dan kalian ibu anak bisa lolos, suatu saat kelak kau harus membalaskan penasaranku. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuk menceritakan sebab-sebab permusuhan kami, nanti kalau ternyata aku bisa lolos dari maut, waktu itu akan kuceritakan sejelas-jelasnya. Ayo cepat, sekarang juga kau ajak ibumu untuk menyingkir dari rumah ini!" Waktu berkata begitu, sikap Bu In gelisah agak panik, tegang.
Yang Lan jadi menitikkan air mata.
"Thia, apakah tidak mungkin lagi buat kita bersama-sama dengan Khang Suheng untuk coba mengadakan perlawanan guna menghadapinya. Siapa tahu ada perobahan dan bisa lolos dari bahaya...?"
Tiba-tiba muka Bu In jadi bersungguh-sungguh, dengan kumis jenggotnya yang sudah memutih itu bergerak-gerak, tampaknya dia marah. "Yang Lan, apakah sekarang kau sudah tidak mau mematuhi lagi perintahku?"
Kaget Yang Lan. Sejak kecil sampai dewasa belum pernah menyaksikan ayahnya marah, diapun belum pernah dibentak seperti itu.
"Thia... kau...?", sigadis jadi menangis keras.
Sejenak kemudian kemarahan Bu In menurun, dia memeluk puterinya.
"Lanjie, pergilah ajak ibumu menyingkir," katanya dengan suara yang berobah jadi lembut lagi. "KaIau memang kau sayang padaku, kau harus menuruti kata-kata ayah. Pergilah ! Percuma saja kalau kita harus mati semua ditangan DIA ! Biarlah aku sendiri yang akan menghadapinya. Sebentar lagi akupun akan perintahkan Thiam Lu buat mengajak Lam Sie din Giok Han menyingkir dari rumah ini... sebelum DIA muncul ? Maka, sekarang cepatlah berkemas, bawalah yang perlu saja, lalu ajaklah ibumu menyingkir, semakin jauh semakin baik."
Yang Lan tidak berani membantah, dia menghapus air matanya, katanya: "Baiklah Thia... tetapi, tetapi..."
Alis Bu In mengkerut.
"Ayo pergi ! Cepat !" Bentaknya.
Yang Lan tidak berani membantah lagi, Walaupun hatinya merasa berat harus mengajak ibunya menyingkir dan meninggalkan ayahnya menghadapi musuh yang tampaknya disegani dan memilik kepandaian yang tidak disebelah bawah kepandaian ayahnya. Dia menangis sesenggukan berlari kekamarnya untuk mengemasi barang-barang seperlunya.
Setelah Yang Lan meninggalkannya, Bu In berdiri bengong dikamar semedhinya, mengawasi bangkai-bangkai ayam yang terpantek ditembok. Dia menghela napas berkali-kali dengan muka pucat. Perlihan sekali bibirnya terdengar menggumam: "Pembalasan... pembalasan...". setelah mengawasi bangkai-bangkai ayam yang terpantek sekian lama, iapun keluar dari kamar semedhinya. Memanggil Tang Kui, yang diperintahkan memanggil Khang Thiam Lu. Cepat Thiam Lu datang menemuinya.
Thiam Lu heran melihat gurunya berdiri didepan pintu kamar semedhi dengan wajah yang luar biasa, pucat dan muram, tidak biasanya sikap gurunya. Tadi waktu Tang Kui menyampaikan ia dipanggil sang guru, Thiam Lu sudah bertanya tanya didalam hati, apakah gurunya ingin mendengar cerita peristiwa menyedihkan dari bencana yang menimpali keluarga Jenderal Giok Hu ? Tapi, setelah melihat keadaan gurunya seperti itu, Thiam Lu cepat menduga, pasti terjadi sesuatu yang hebat.
"Suhu," Thiam Lu menghampiri dan memberi hormat. "Ada apakah, Suhu ? Tampaknya ada sesuatu yang tidak beres...?"
Bu In tidak menyahut pertanyaan muridnya, dia mengajak Thiam Lu masuk kedalam kamar semedhinya, Melihat bangkai-bangkai ayam yang terpantek ditembok dan bendera segi tiga yaag dilukis oleh darah, hati Thiam Lu tercekat.
"Bwee Sim Mo Lie ?!" Berseru Thiam Lu dengan tubuh agak menggigil.
"Ya, tiga tahun belakangan ini memang kudengar dari sahabat-sahabat Kangouw. DIA digelari sebagai Bwee Sim Mo Lie," kata Bu In dengan sikap lesu, "Kau pernah mendengar tentangnya ?"
"Bukan hanya mendengarnya saja, Suhu. Waktu dalam perjalanan kemari, kami bertiga telah bertemu dengannya dan hampir saja Tecu mati ditangannya, diserang oleh jarum-jarum beracunnya !"
Sambil berkata begitu Thiam Lu membuka baju dibagian dada dan memperlihatkan bekas luka luka jarum timpukan Bwee Sim Mo Lie Liok Sie Lan.
Muka Bu In berobah hebat, dia menghampiri dua langkah lebih dekat pada Thiam Lu, tanyanya dengan suara tergetar: "Kau.... pernah bertemu dengannya ?"
Thiam Lu mengangguk dan menceritakan pengalamannya, waktu terjadi serangan orang orang Kaisar Yang Ceng, di mana dia berhasil meloloskan diri, demi melindungi dan menyelamatkan anak satu-satunya dari Jenderal Giok Hu, agar tidak terbinasa oleh orang-orang Kaisar. Juga diceritakan pertemuannya dengan Sepasang Tabib hutan, yang cara memberikan pengobatan atau pertolongannya aneh sekali, juga pertemuannya dengan Bwee Sim Mo Lie Liok Bie Lan, wanita pembunuh nomor satu di dunia itu.
"Oooo. kalau saja Sepasang Tabib Hutan berada di sini, mungkin kita masih bisa menghadapi bencana yang akan menimpa keluarga Yang !" Mengeluh Bu In setelah selesai mendengar cerita muridnya,
"Apakah Bwee Sim Mo Lie punya ganjalan dengan Suhu ?" Tanya Thiam Lu, jadi ikut tegang.
Bu In mengangguk dengan wajah murung.
"Ya, itulah urusan belasan tahun yang lalu. Tetapi, coba kau ceritakan ciri-ciri Bwee Sim Mo Lie padaku,"
"kata Bu In dengan sepasang alis mengkerut.
Thiam Lu menceritakan ciri-ciri Bwee Sim Mo Lie, cara berpakaiannya, wajahnya dan juga cara-cara iblis wanita itu bicara.
"Aneh ! Sungguh. aneh !" menggumam Bu In setelah mendengar tentang ciri-ciri Bwee Sim Mo Lie, keningnya berkerut dalam-dalam. "Mengapa dia bisa awet muda seperti itu ? Ilmu apa yang dipelajarinya ?" kemudian dia menoleh kepada muridnya, tanyanya: "Apakah kau melihat jelas wajahnya?"
"Ya Suhu," mengangguk Thiam Lu, dia heran melihat kelakuan gurunya. "Apakah ada sesuatu yang mencurigakan. Suhu ?"
"Usianya !" kata Bu In. "UMUR iblis wanita itu yang sangat mengherankan."
"Teecu memperhatikan dengan jelas, wajahnya memang cantik dan masih muda sekali Suhu, mungkin baru duapuluh tahun. Dia memiliki wajah yang dingin, tidak memperlihatkan perasaan apapun juga..."
"Aneh ! Lalu apa lagi yang kau ketahui mengenai DIA ?" tanya Bu In.
"Apa yang Teecu dengar dari teman-teman dalam Kangouw, iblis wamta itu puteri dari keluarga Liok, namanya Bie Lan..."
"Apa ? She Liok ?" Tampak Bu In kaget.
"Ya, orang-orang Kangouw mengetahuinya dia bernama Liok Bie Lan, Suhu!"
"Oooo, urusan jadi semakin rumit. Aneh sekali ! Jadi dia bukan Thio Eng Goat ?"
"Thio Eng Goat ? Siapa dia Suhu ?"
"Iblis wanita yang bergelar Bwee Sim Mo Lie itu !"
Thiam Lu menggeleng.
"Maafkan Suhu, Teecu kurang begitu jelas tentang dia. Apakah dia Liok Bie Lan atau Thio Eng Goat, Tecu tidak berani memastikannya."
"Akh, urusan mengapa jadi demikiap ruwet ?" Menggumam Bu In. "Apakah iblis wanita yang menyatroniku ini bukan DIA ? Tapi tidak mungkin, bendera segi tiga dengan di dalam bendera itu tertera lukisan bulat kecil, adalah tanda pengenal DIA ! Apakah munculnya dia kembali dalam Kangouw setelah menghilang belasan tahun, lalu disertai dengan penggunaan nama baru?"
Thiam Lu cuma mengawasi bingung pada gurunya. Bu In menghela napas dalam-dalam waktu mengetahui muridnya tengah mengawasi terheran-heran dan bingung padanya.
"Thiam Lu, kini aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa iblis wanita itu mengancam akan membunuh seluruh keluarga Yang, bahkan kau bersama Lam Sie serta Giok Han sudah dimasukkan dalam daftar, Lihatlah, jumlah bangkai ayam itu duabelas ekor. Sedangkan di rumah ini hanya berpenghuni 9 jiwa. Aku, subo (isteri guru) dan sumoay (adik seperguruanmu), ditambah enam orang pelayan, tiga laki-laki dan tiga wanita. Ditambah dengan kau. Lam Sie serta Giok Han, jumlahnya jadi duabelas ekor. Karenanya, kau harus mengajak Lam Sie serta Giok Han cepat-cepat menyingkir dari rumah ini !
Biarkanlah aku menghadapi sendiri iblis wanita itu. Walaupun dia tangguh, tetapi rasanya aku masih bisa menghadapinya untuk seharian. Nah, pergilah kau menjajak Giok Han dan Lam Sie. Anak itu harus di selamatkan, dia putra satu-satunya Jenderal Giok Hu yang masih hidup. Pergilah !"
Pucat muka Thiam Lu, dia kaget mendengar perintah gurunya. Cepat-cepat dia menekuk lututnya, berlutut di depan gurunya; "Suhu, janganlah menyuruhku untuk meninggalkan Suhu. Walaupun bagaimana bahayanya iblis wanita itu, Teecu akan mendampingi Suhu buat menghadapinya !"
"Thiam Lu, apakah sekarang kau mulai membangkang terhadap perintahku?" Bentak Bu In, yang tiba-tiba tampak jadi gusar serta suaranya keras meninggi.
Thiam Lu tetap berlutut mengangguk-anggukan kepalanya sambil menangis.
"Janganlah Suhu menempuh bahaya seorang diri. Teecu belum pernah melakukan sesuatu buat Suhu. Ijinkanlah sekali ini Teecu mendampingi Suhu buat menghadapi iblis wanita itu. Kalau memang harus buang jiwa di tangan iblis itu, hati Teecu puas..." kata Thiam Lu dengan air mata bercucuran deras.

Hati Bu In jadi tergoncang, dia terharu melihat kesetiaan muridnya. Dia tertegun bengong di tempatnya dengan mata yang merah, air mata mengembang di matanya, sehingga tampak berkaca-kaca.
"Thiam Lu, bangunlah!" Perintahnya sambil mengangkat pundak muridnya. Kemudian katanya lagi : "Aku mengetahui baktimu sebagai muridku, Thiam Lu. Tetapi yang harus kau ingat adalah keselamatan Giok Han. Dia jauh lebih berarti dari segala-galanya. Tanggung jawabmu besar sekali terhadap keselamatan jiwa anak itu. Nah, pergilah ! Turutilah kata-kataku . . . !"
Thiam Lu menggeleng sambil menghapus air matanya. "Percuma saja Suhu. Bwee Sim Mo Lie tangguh sekali, terlebih-lebih racunnya. Rasanya, kalau sekarang Teecu mengajak Giok Han menyingkir, itupun sudah terlambat. Pasti iblis wanita itu sudah berada di sekitar tempat ini... Karenanya, ijinkanlah Teecu mendampingi Suhu untuk bersama-sama menghadapi iblis itu."
Terharu Bu In melihat kesetiaan muridnya. Alasan yang dikemukakan Thiam Lu pun bisa diterima dalam akal sehat. Bukanlah Bwee Sim Mo Lie sudah berkeliaran di sekitar tempat ini ? Bahkan, dia sudah berhasil menyelusup masuk ke kamar semedhi Bu In, memantek belasan bangkai ayam, tanpa ada seorangpun yang mengetahui. Karenanya, kilau Thiam Lu mengajak Giok Han menyingkir, itu sama bahayanya dengan berdiam di tempat ini. Kalau di tengah jaian iblis wanita itu menghadang dan membunuh Thiam Lu bertiga Giok Han dan Lam Sie, bukankah itu lebih berbahaya ? Bukankah seorang diri saja Thiam Lu tidak mungkin bisa menghadapi iblis wanita yang tangguh itu ?
Akhirnya, setelah menghela napas dalam-dalam, Bu In mengangguk.
"Baiklah Thiam Lu, tetapi kau harus melihat gelagat. Kalau sekiranya bencana sudah tidak bisa dielakkan, maka kau harus berusaha membawa Giok Han menyingkir dan membiarkan aku seorang diri coba menghadapi iblis itu..."
Thiam Lu mengangguk dengan berduka. Dia sudah melihat Bwee Sim Mo Lie, karenanya dia tahu iblis wanita itu selain tangguh ilmu silatnya, juga liehay racunnya. Kalau hanya ilmu silatnya belaka, belum tentu gurunya gentar menghadapi iblis wanita tersebut. Walaupun belum tentu gurunya bisa merubuhkan iblis wanita itu, namun Bwee Sim Mo Lie pun rasanya sulit buat merubuhkan gurunya.
Sekarang justeru kenyataan yang ada Bwee Sim Mo Lie liehay dengan racunnya, karenanya dia jadi sangat berbahaya sekali. Walaupun Bu In tangguh, tak-diragukan dia bisa menghadapi racun iblis wanita itu.
Tiba-tiba Bu In teringat sesuatu. Cepat-cepat dia keluar dari kamar semedhinya untuk pergi mencari Yang Lan, membatalkan perintahnya agar Yang Lan mengajak ibunya menyingkir dari rumah ini. Rupanya Bu In sudah menyadari, kalau Yang Lan berdua isterinya menyingkir dari rumah ini, belum tentu bisa dijamin keselamatannya, bahkan jauh lebih berbahaya.
Kalau iblis wanita itu menghadang mereka, siapa yang bisa menghadapi ? Yang Lan seorang diri tentu sulit bisa meloloskan diri dari ancaman maut di tangan iblis wanita itu Jika di rumah ini, berarti Bu In, Khang Thiam Lu dan Yang Lan bertiga masih bisa bergabung untuk menghadapi Bwee Sim Mo Lie.
Segera Khang Thiam Lu diajak berunding oleh Bu In dan Yang Lan, dengan cara bagaimana mereka bisa menghadapi iblis wanita im. Bu In minta Thiam Lu menceritakan lagi pengalamannya waktu dilukai oleh Bwee Sim Mo Lie, untuk mencari kelemahan iblis wanita itu.
Semua pelayan keluarga Yang, termasuk Tang Kui diperintahkan sembunyi di ruang tengah. Demikian pula Lam Sie dan Giok Ban, ditempatkan di ruang tengah bersama-sama para pelayan-pelayan itu, yang semuanya diliputi perasaan tegang. Perjamuan yang semula ingin diselenggarakan sore ini, jadi dibatalkan.
Waktu lewat serasa merambat sedetik demi sedetik sangat menggelisahkan, suasana tegang meliputi mereka. Walaupun Yang Bu In berusaha bersikap tenang, tetapi ia selalu gagal, karena dari sikapnya jelas ia sangat gelisah dan bingung.
Mukanya pun agak pucat. Bu In beisiap-siap di ruang belakang sedangkan Thiam Lu di ruang depan. Yang Lan sendiri berada di dekat ruang tengah, bersama ibu, Giok Han, Lam Sie dan kee-nam orang pelayan keluarga Yang. Suara berkeresek sedikit saja bisa mengejutkan mereka.
Tetapi Bwee Sim Mo Lie yang dttunggu-tunggu itu belum juga datang, karena sejauh itu belum lagi diketahui kapan iblis wanita tersebut akan menyatroni keluarga Yang tersebut. Hari sudah merambat mendekati magrib. Yang Lan perintahkan seorang pelayan, nya untuk menyalakan api penerangan.
Ketegangan dan kegelisahan yang menguasai orang-orang yang ada di rumah keluarga Yang tersebut semakin lama semakin hebat, mereka selalu dicekam oleh perasaan kuatir, kalau-kalau iblis wanita itu menyerang secara membokong, murcul dengan tiba-tiba. Kewaspadaan tetap tinggi, setiap ada suara yang bagaimana perlahanpun, mereka pasti akan menoleh untuk melihat dan memperhatikan penuh kewaspadaan. Hati mereka berdebar-debar diliputi kegelisahan dan kuatir.
Dalam keheningan yang ada itu, mendadak terdengar suara gelang pintu yang terbuat dari kuningan dibentur-benturkan keras kepada pintu luar rumah keluarga Yang. Suaranya menggema nyaring sekali.
Thiam Lu sampai melompat berdiri dengan tangan mencekal pedang erat-erat, hatinya berdebar keras. Apakah si iblis sudah datang ?
Bu In pun yang berjaga-jaga di ruang belakang, ikut tercekat hatinya. Sepasang alisnya mengkerut. Siapakah yang telah menggedor-gedor pintu luar itu ? Si iblis wanita lah yang datang ? Tetapi dia tidak berani meninggalkan tempatnya, dia hanya memasang pendengarannya. Kalau memang si iblis yang datang, dia akan segera keluar untuk membantui Thiam Lu.

Dengan muka agak pucat dan hati tegang Thiam Lu menghampiri pintu rumah. Kembali gelang kuningan pada pintu dibentur-benturkan keras sekali, disusul dengan suara seseorang menggerutu: "Oooh, manusia-manusia tuli semua! Sungguh menyebalkan !"
Itulah suara laki-laki ! Thiam Lu berkurang kuatirnya, tapi tetap berwaspada waktu membuka daun pintu. Seorang pemuda berpakaian pelajar berdiri dengan sikap yang angkuh. Ketika melihat Thiam Lu, dia melirik dengan sorot mata yang sinis. "Hmm, satu jam lebih tuan mudamu menunggu di sini, apakah kalian tuli semua ?!" Tegurnya tawar.
Khang Thiam Lu tidak kenal pemuda ini dia mengawasi sejenak, lalu tanyanya : "Siapa kah Hengtai dan siapakah yang Hengtai cari ?"
Alis pemuda itu berkerut, dengan sikapnya yang angkuh, pemuda itu yang tidak lain dari Cie Sun Hoat, bilang: "Aku tadi sudah meninggalkan pesan kepada salah seorang pelayan keluarga Yang, agar Yang Siocia datang ke taman Lo-sik-wan. Tapi mengapa Yang Siocia tidak datang ? Apakah memang keluarga Yang mulai berkepala besar dan ingin cari gara-gara denganku ?!"
Tidak senang Thiam Lu melihat sikap pemuda itu, tetapi waktu itu justeru keluarga Yang tengah terancam bencana yang besar dia berusaha menahan diri dan memaksakan tersenyum: "Maafkan, Yang Siocia justeru sedang sibuk sehingga tidak bisa menemui Hengtai Nah, rasanya lebih tepat kalau lain waktu Hengtai datang berkunjung lagi kemari mungkin Yang Siocia bisa menemuimu."
Dengan sikap yang angkuh dan tangan di pinggang, Cie Sun Hoat membentak : "Apa! Lain waktu kembali kemari? Cepat panggil Yang Siocia buat menemuiku !" Dan waktu membentak begitu, mata Cie Sun Hoat terpentang lebar-lebar, mendelik.
Thiam Lu semakin tidak menyukai pemuda itu di depannya. Kalau saja terjadi di waktu-waktu biasa, tentu dia akan menghajar babak belur pemuda kurang ajar tersebut. Belum lagi dia bilang apa-apa lagi dari dalam sudah terdengar teriakan Yang Lan : "Khang Suheng, dia pemuda ceriwis putera Tiehu di kota ini, dia ingin berbuat kurang ajar pada keluarga Yang, beri tanda mata agar di waktu mendatang dia tidak terlalu tekabur!"
Walau tidak mengetahui duduk persoalannya, tetapi mendengar anjuran Yang Lan, Thiam Lu seketika bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda ini pasti bukan orang baik-baik, katanya: "Nah, kau sudah mendengar sendiri bukan ? Yang Siocia tidak mau menemuimu. Pergilah, sebelum terjadi sesuatu yang kurang baik untukmu !" Dingin sekali suara Thiam Lu.
Cie Sun Hoat masih bertolak pinggang dan sikapnya semakin menjadi-jadi. "Ooooh, benar-benar keluarga Yang cari penyakit ! Biar, aku akan masuk melihat, berapa hebatnya keluarga Yang sehingga tekebur seperti itu?!" Dia pun segera mementang kedua kakinya melangkah mau masuk melewati Thiam Lu.
Mendelu hati Thiam Lu menyaksikan kelakuan si pemuda yang kurang ajar ini. Waktu itulah tangan kirinya diulur buat menjambak pundak pemuda tersebut. Maksudnya mencegah pemuda itu masuk melewati pintu gerbang.
Cie Sun Hoat merasakan sambaran angin di belakangnya, ia memutar sedikit pundaknya dan menggeser kaki kanannya, tangan kirinya tiba-tiba mencolok ke arah mata Khang Thiam Lu. itulah serangan telengas dan keji. Benar-benar diluar dugaan Khang Thiam Lu.
Untung saja serangan itu dilakukan Cie Sun Hoat yang tenaga dalamnya belum terlatih baik, kalau dilakukan oleh seorang ahli niscaya celakalah Thiam Lu, apalagi memang dirinya belum lagi sembuh dari luka di dalam.
Mengetahui Cie Sun Hoat memang bukan orang baik-baik, melihat cara menyerangnya yang begitu kejam, cepat Thiam Lu merobah kedudukan tangannya. Jika semula ia hendak mencengkeram, sekarang jari-jari tangannya terkepal dan tahu-tahu menghantam tepat dada Cie Sun Hoat, karena tangannya itu diturunkan dan meluncur melebihi kecepatan sambaran tangan Cie Sun Hoat sendiri.
Tercekat hati Cie Sun Hoat, tapi ia tidak bisa berbuat lain, hanya menjerit keras ketika dirasakan dadanya sakit luar biasa, tubuhnya juga melayang terpental ke dalam rumah, jatuh terbanting cukup keras. Mukanya pucat pias, meringis menahan sakit pada dadanya ketika ia berusaha untuk bangkit.
Khang Thiam Lu tidak bertindak sampai di situ saja, ia cepat menjambak bahu si pemuda, kemudian melemparkannya ke luar gerbang.
"Sekali lagi kau berani datang kemari untuk mengacau jiwamu tidak akan kuampuni lagi !" Mengancam Thiam Lu mendongkol.
Cie Sun Hoat yang terbanting untuk ke dua kalinya merangkak bangun. Setelah berhasil berdiri, dengan muka masih meringis ia menuding Thiam Lu, katanya : "Monyet liar ! Kau akan merasakan akibatnya berani menghina Siauwya (tuan muda)-mu !"
"Tetapi sambil mengancam begitu, pemuda itu dengan muka masih meringis telah beringsut-ingsut mundur, kemudian berlari pergi.
Mendongkol sekali Thiam Lu. Kalau saja ia bukan sedang dalam keadaan seperti saat itu, dimana keluarga Yang tengah meng hadapi ancaman bahaya yang besar, niscaya dia akan mengejar pemuda itu dan membereskannya. Seumur hidupnya baru sekali ini dirinya dimaki orang lain dengan sebutan monyet liar". Ditutupnya pintu gerbang dan kembali ke dalam, ke ruang thia. untuk berjaga-jaga pula di situ.

Peristiwa mcngacaunya Cie Sun Hoat tidak jadi pembicaraan di antara orang-orang di dalam gedung Yang Bu In, sebab mereka kembali dicekam oleh ketegangan atas ancaman bahaya maut yang belum lagi tiba. Semuanya tetap waspada dan suara yang sekecil apapun akan menyebabkan mereka terkejut dan bersiaga.
Waktu beredar terus, malam telah tiba. Sunyi sekali keadaan di gedung Yang Bu In mungkin, kalau saat itu ada seseorang menyaksikan keadaan gedung keluarga Yang akan menduga bahwa gedung itu kosong dan tidak berpenghuni.
Tidak terdengar suara apapun, hanya suara napas dari orang-orang yang berada di dalam gedung, mengandung ketegangan dan juga rasa kuatir !
Hari semakin larut malam, Tang Kui ingin buang air kecil ke belakang. Dengan hati berdebar-debar dia pergi ke belakang. Pergi ke belakang tidak lama tiba-tiba terdengar suara teriakan Tang Kui yang keras disusul dengan munculnya Tang Kui yang berlari-lari dengan muka pucat dan tubuh menggigil keras.
Yang Bu In, Khang Thiam Lu dan yang lainnya kaget tidak terkira oleh jeritan Tang Kui, mereka melompat ke belakang. Ketika melihat si pelayan masuk dengan keadaannya seperti itu, cepat Thiam Lu melompat ke sampingnya, mencekal lengannya.
"Tang Lopeh, ada apa ?" Tanyanya sambil menggoyang-goyangkan lengan pelayan tua tersebut.
Tang Kui tidak bisa menyahuti, tubuhnya menggigil keras, malah kakinya yang gemetar itu lemas tidak bertanaga lagi, dia jatuh terduduk. Mulutnya terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada suara yaug keluar dari mulutnya, Bibirnya gemetar keras, mukanya pucat seputih kapur tembok.
"Tenanglah Lopeh, ada apa ?!" Desak Thiam Lu tambah kuatir. Semua orang juga mengawasi dengan hati berdebar.
Tam Kui menunjuk ke arah jurusan belakang dengan tangan menggigil keras matanya terbuka lebar-lebar. Tidak ada sepatah perkataan yang keluar dari mulutnya. Mungkin disebabkan rasa takut yang kelewatan, menyebabkan ia tidak sanggup untuk bicara. Tidak buang waktu lagi Thiam Lu meloncat ke belakang, Yang Bu In mengikuti di belakangnya dengan sikap bersiap siaga, Sebelum menyusul Thiam Lu, Bu In masih sempat pesan pada Yang Lan: "Kau tetap jaga di sini, jangan kemana-mana !"
Ketika Bu In sampai di belakang, dilihatnya Thiam Lu tengah berdiri menjublek mengawasi sesuatu. Segera Bu In mengawasi kearah tempat yang tengah dipandangi Thiam Lu, hati Bu In jadi tergoncang keras sepasang alisnya mengkerut dalam-dalam. Bu In menyaksikan pemandangan yang benar-benar menggetarkan hati, terlebih lagi waktu itu keluarganya memang tengah menghadapi ancamam bahaya, tidak mengherankan hatinya tergoncang keras. Tetapi ia tertegun sebentar, kemudian melompat mendekati Thiam Lu.
"Pemuda yang sore tadi..." menggumam Thiam Lu waktu melihat Bu In. Bu In menghela napas dalam-dalam. "Pasti pekerjaan Bwee Sim Mo Lie," menggumam Bu In. "Entah apa maksudnya membinasakan pemuda itu ?"
Sambil berkata begitu Bu In mendekati pohon Touw dimana pada salah satu cabangnya terikat bergantung sesosok mayat. Dan mayat itu tergantung dengan kedua kaki terikat di atas, kepala terjungkir di bawah, kedua tangan mayat itu terjuntai ke bawah. Mayat itu tidak lain dari mayat Cie Sun hoat, pemuda yang sore tadi mengacau di depan rumah keluarga Yang.
Lama Bu In berdiri tertegun di situ mengawasi mayat Cie Sun Hoat, lni kesulitan baru untuk keluarga Yang, karena Cie Sun Hoat putera tunggal yang sangat dimanja oleh ayahnya yang juga terkenal lalim, justeru mati serta mayatnya berada di dalam rumah keluarga Yang.
Mendadak Bu In berseru. "Celaka !" dan keringat dingin mengucur deras. Tubuhnya agak menggigil. Thiam Lu yang mendengar seruan Bu In, cepat-cepat melompat ke dekatnya. Belum lagi dia bertanya, Bu In sudah bilang: "Celaka ! iblis itu pasti sudah berada di sini ! Kita telah meninggalkan mereka... Ayo cepat kembali! Oooo, mudan-mudahan tidak terlambat !"
Thiam Lu kaget bukan main mendengar perkataan Bu In. ia pun baru teringat kepada Yang Ian, Giok Han dan yang lainnya yang mereka tinggalkan. Dengan diantara mayat Cie Sun Hoat dan digantung di pohon Touw yang tumbuh di dalam rumah keluarga Yang, niscaya Bwee Sim Mo Lie memang sudah berkeliaran di dalam rumah ini! Tidak buang waktu sedetikpun, kedua orang itu segera berlari ke ruang dalam.
Mereka baru bisa bernapas lega setelah melihat disitu tidak terjadi sesuatu apapun. Hanya orang-orang orang berkumpul di situ memandang Thiam Lu berdua Bu In dengan muka pucat pias, mata mereka memancarkan kekuatiran yang amat sangat. Mereka tadi sudah mendengar cerita Tang Kui tentang mayat yang tergantung di pohon Touw yang tumbuh di belakang rumah mereka.
Tang Kui yang ketenangannya mulai pulih tadi sudah bisa menceritakan apa yang dilihatnya, yang membuat dia kaget dan takut setengah mati, sampai tidak bisa bicara saking ketakutan. Setelah diberi minum secawan air teh, barulah dia bisa menenangkan diri dan menceritakan kepada semua orang yang berkumpul di situ. Cerita Tang Kui membuat semua orang tambah kuatir.
Terlebih lagi Yang Lan, yang menguatirkan keselamatan Thiam Lu dan ayahnya, kalau memang dia tidak ingat bahwa orang-orang yang berada diruang itu harus dilindungi olehnya, niscaya dia sudah menyusul ke belakang. Dia kuatir kalau-kalau ayahnya dan Thiam Lu bertemu dengan si iblis dan mendalami cidera.

Tapi kalau Yang Lan menyusul juga kebelakang lalu siapa yang akan melindungi Giok Han dan yang lainnya? Karenanya, dengan gelisah, dia tetap bersiap siaga disitu, hanya matanya terpentang lebar dengan hati berkuatir untuk keselamatan ayah maupun Thiam Lu. Setelah melihat kedua orang itu kembali tanpa kurang suatu apa, barulah hati Yang Lan lebih tenang.
Bu In menceritakan bahwa mayat yang tergantung di pohon Touw di belakang rumah meraka adalah mayat Cie Sun Hoat. Dan Bu In minta mereka berwaspada, karena si iblis pasti sudah berkeliaran dirumah ini.
Disaat Bu In tengah bercerita begitu justeru dari kejauhan di antara keheningan malam yang larut, terdengar suara petikan musik Khim. Suara Khim ttu perlahan dan samar, tapi lembut dan merdu.
Hati semua orang yang berkumpul di ruang itu jadi tegang, terlebih para pelayan yang semuanya sudah diliputi ketakutan bukan main. Bu In memesan agar tidak seorangpun pergi memisahkan diri ke ruang lain, dengan berkumpul menjadi satu di ruang ini, berarti Bu In bertiga Yang Lan dan Thiam Lu lebih mudah untuk melindungi mereka.
Malam semakin larut. Suara Khim tetap terdengar, hanya sekarang terdengar semakin dekat juga. Disusul kemudian oleh suara tertawa yang merdu. Sesosok tubuh berkelebat, dalam bentuk bayangan putih, karena sesosok tubuh itu mengenakan baju panjang yang terbuat dari sutera putih yang halus.
Rambutnya panjang terurai, wajahnya cantik. Dan dia memang tidak lain dari Liok Bie Lan atau si wanita iblis Bwee Sim Mo Lie ! Saat itu Bwee Sim Mo Lie sudah berdiri di pekarangan depan rumah keluarga Yang, tembok pekarangan yang begitu tinggi tadi mudah sekali dilompati, tubuhnya sangat ringan, bagaikan gumpalan kapas saja waktu hinggap di tanah. Di tangannya tercekal sebuah alat musik Khim yang berbentuk kecil. Dulu ia sudah menghancurkan alat musiknya dan ini mungkin yang baru diambil dari orang lain atau dibelinya. Tetapi, wanita iblis selihay Bwee Sim Mo Lie rasanya akan mudah sekali mengambil sesuatu yang di inginkannya dari orang lain.
Muka semua orang berobah pucat, tidak terkecuali Yang Bu In Dilihatnya, Bwee Sim Mo Lie yang berdiri di hadapannya bagaikan segumpal es yang dingin, seorang wanita tanpa perasaan di wajahnya. Dan ia pun melihat wajah Bwee Sim Mo Lie bukanlah seraut wajah yang dikenalnya. Thiam Lu berdua Yang Lan sudah bersiap-siap dengan pedang mereka, sewaktu-waktu Bu In mengalami ancaman di tangan Bwee Sim Mo Lie, mereka akan menerjang untuk menghadapi waniia iblis tersebut.
"Yang Bu In, apakah kau sudah siap untuk menerima hukuman ? Waktu tidak banyak lagi, sebentar lagi akan menyingsing sang fajar," merdu sekali suara Bwee Sim Mo Lie di antara keheningan malam.
Tubuh Bu In menggigil sedikit, tapi cepat ia bisa menguasai dirinya. la melangkah maju dua tindak, kemudian merangkapkan tangannya, tanyanya : "Maaf, siapakah nona? Mengapa aku si tua Yang Bu In harus menerima hukuman dari nona ?"
Bu In berusaha suaranya tetap tenang, walaupun agak parau dari biasanya.
Wajah Bwee Sim Mo Lie tidak memperlihatkan perasaan apapun juga. Tidak terlihat sikap mengejek, marah, senang ataupun nafsu membunuh. Seraut wajah yang benar-benar lembut dan cantik, tapi dingin tanpa perasaan terpancar dari mukanya itu.
Suaranya yang halus pun tidak menunjukkan tanda-tanda apapun: "Aku diutus oleh guruku yang mulia Thio Eng Goat untuk menghukum kau sekeluarga. Sekarang jawablah pertanyaanku, apakah kau sudah siap menerima hukuman ?""
Mendengar disebut Thio Eng Goat, tubuh Bu In menggigil sedikit, kemudian memaksakan diri tertawa. "Jadi," katanya. "nona murid Thio Kouwnio ?"
"Ya, dan guruku yang mulia perintahkan aku untuk menghukummu."
"Apakah Thio Kouwnio kini dalam keadaan sehat-sehat dan baik?" Tanya Bu In tanpa perdulikan perkataan Bwee Sim Mo Lie.
Wanita iblis yang cantik jelita itu tidak memperlihatkan perasaan apapun juga pada wajahnya, hanya jari tangannya mendenting memetik salah satu tali Khimnya. Suara itu nyaring sekali dan sangat panjang menggema di malam yang sepi itu.
"Yang Bu In, manusia tidak tahu diuntung, dulu kau puas karena pernah menghancurkan hati dan perasaan guruku yang mulia," katanya dengan suara tanpa perasaan.
"Sebetulnya kalau guruku yang mulia inginkan jiwamu di saat itu pun bisa dilakukannya, tetapi tentu kau akan mati dengan mata meram. la menunggu sampai kau menikah dan mempunyai anak, agar kan mengerti bagaimana perasaan harus berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Dulu hatimu sekeras batu, dan kau tidak berterima kasih atas kasih sayang guruku yang mulia, karenanya kau meremehkan perasaan seorang wanita ! Hanya saja, guruku terlambat untuk menghukummu setelah didengarnya kau sudah menikah dan mempunyai anak, kau licin sekali bisa menyembunyikan jejakmu.
Kini, aku drutus oleh guruku yang mulia mewakilinya menghukum kau sekeluarga, dan kau tidak mungkin bisa melenyapkan jejakmu ! Tiga bulan yang lalu guruku baru mengetahui dari seorang kawannya bahwa sesungguhnya kau sekeluarga berada di sini!"
Yang Bu In tersenyum pahit, katanya : "Dengan dulu Siocia... Dulu sebetulnya hanya salah paham belaka antara aku si tua dengan gurumu."
"Aku tidak membutuhkan alasan-alasanmu. Aku hanya melaksanakan tugas yang di berikan oleh guruku yang mulia. Kedatanganku hanya untuk menghukum kau sekeluarga tanpa perlu mendengar berbagai alasanmu !" Tetap suara Bwee Sim Mo Lie merdu, tanpa perasaan apapun juga. Dingin, bagaikan dinginnya es.
"Salah paham yang timbul antara aku dengan gurumu Siocia tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan keluarga atau orang lain ! Aku akan ikut nona pergi menemui gurumu, janganlah kau mengganggu orang lain, aku yang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah kulakukan, walaupun tubuhku harus tercingcang hancur luluh ribuan keping, aku rela!"
"Sudan kuberitahukan tadi, bahwa kedatanganku kemari untuk melaksanakan perintah guruku yang mulia dan tidak ada tawar menawar. Perintah guruku yang mulia itu berbunyi: "Hai muridku, hukumlah manusia tidak kenal budi Yang Bu In sekeluarga. Tidak sepotong jiwapun yang boleh lolos. Orang-orang yang memiliki hubungan dengan Yang Bu in, harus dihukum pula!" ltulah bunyi perintah guruku yang mulia" Dingin luar biasa suara Bwee Sim Mo Lie, sehingga semua orang yang mendengar perkataannya jadi tergetar hatinya.
Menyaksikan ayahnya diperlakukan Bwee Sim Mo Lie seperti itu, tanpa memperoleh muka terang sedikitpun, Yang Lan jadi nekad. Tangannya yang mencekal pedangnya kuat-kuat tergetar, menahan amarah. Dia bermaksud akan melompat ke dekat ayahnya tapi Khang Thiam Lu sudah mencekal lengannya, mencegah keinginan si gadis.
"Jangan sumoay. Kita lihat saja dulu perkembangannya," bisik Thiam Lu. Dia mencegah kenekadan si gadis, karena Thiam Lu tahu benar keliehayan wanita iblis tersebut. Bahkan Thiam Lu sendiri tengah ragu-ragu dan kuatir sekali, bahwa gurunya walaupun dibantu oleh Yang Lan dan dia, belum tentu bisa menghadapi wanita iblis itu. Terlebih lagi racun Bwee Sim Mo Lie yang sangat luar biasa.
Yang Lan menggigit bibirnya, dia menuruti permintaan kakak seperguruannya. Hanya matanya merah mengawasi gusar kepada Bwee Sim Mo Lie.
Yang Bu In waktu itu tersenyum kecut, katanya: "Baiklah nona, Lohu (aku si orang tua) bersedia menerima hukuman dari gurumu. Tapi, walaupun bagaimana tidak bisa kubenarkan kalau gurumu itupun menghendaki isteri dan anakku atau orang-orang yang dekat denganku harus menerima hukuman darinya !"
Kembali jari Bwee Sim Mo Lie memetik satu tali khimnya, mendenting keras dan nyaring.--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kau menolak atau menerima hukuman yang dijatuhkan pada kau sekeluarga, itu urusanmu sendiri. Kedatanganku kemari untuk menghukum kau sekeluarga dan ini perintah guruku yang mulia dan tidak bisa tidak kulakukan!" Setelah berkata begitu, Bwee Sim Mo Lie memetik tali Khimnya memainkan sebuah lagu, irama musik itu sangat halus dan merdu sekali, diiringi oleh nyanyian apa, yang tidak kalah merdunya: "Sejuta butir air mata, tidak lebih berharga dari sebutir cinta yang abadi. Sejuta kali tangis tidak bisa menyembuhkan luka dihati.."
Bernyanyi sampai disitu, mendadak tangannya berkelebat. Yang Bu In menyangka dirinya diserang, ia bersiap-siap untuk menerima serangan siwanita iblis itu. Tapi ia menanti sia-sia. Tidak ada serangan. Bahkan dia mendengar pekik yang menyayat hati, ternyata Tang Kui sudah melompat-lompat berkelejetan, kemudian rubuh bergulingan di lantai, tubuhnya mengejang-ngejang, lalu kaku diam.
Dia mati. Matanya mendelik, mukanya sudah berobah hitam kelabu, dari mulutnya keluar busa ! itulah kematian yang sangat mengenaskan, Peristiwa itu terjadi hanya dalam beberapa detik saja, cepat luar-biasa. Rupanya Bwee Sim Mo Lie sudah membinasakan Tang Kui dengan jarum beracunnya.
Bu In dan yang lainnya kaget tidak terkira, Yang Bu In tertegun sejenak, kemudian meledak teriakan mengandung kemarahan. Habis kesabaranrya. Dihunus pedangrya, melintangkan didepan dada, tubuhnya sudah melompat maju ke dekat Bwee Sim Mo Lie, disusul oleh seruannya: "Semua menyingkir ke tempat lain, biar aku hadapi iblis terkutuk ini !"
Waktu Bu In melompat ke dekat Bwee Sim Mo Lie, tangan wanita iblis yang cantik ini bergerak lagi. Beberapa titik sinar terang menyambar kearah muka Bu In. Tapi Bu In sudah bersiap-siap dengan pedangnya.
Melihat dirinya diserang oleh jarum-jarum yang pasti beracun itu. segera memutar pedangnya untuk menghalau jarum-jarum tersebut. Sebetulnya, yang ditakuti Yang Bu In adalah racun Bwee Sim Mo Lie ini, tentang ilmu silat siwanita iblis dia tidak gentar.
Usia Bwee Sim Mo Lie yang masih demikian muda, betapapun lihaynya dia, tetap Yang Bu In tidak gentar. Pasti kurang latihan dan juga kurang tenaga dalamnya. Berbeda kalau memang harus menghadapi Thio Eng Goat, guru wanita iblis ini.
Yang perlu dijaga-jaga oleh Yang Bu In hanyalah penggunaan racun dari Bwee Sim Mo Lie, karena memang Thio Eng Goat dulu sangat lihay menggunakan racun, bahkan merupakan iblis yang sangat beracun dan paling disegani oleh semua orang dalam kalangan Kangouw.
Pelayan-pelayan lainnya bersama Giok Han dan Lam Sie sudah disuruh oleh Thiam Lu agar menyingkir ke ruang belakang, lalu Thiam Lu diikuti oleh Yang Lan melompat kedekat siwanita iblis untuk membantui Bu In. Pedang mereka menikam serentak kepada si iblis yang telengas dan kejam tidak berperasaan itu.
Bu In yang sudah berhasil memunahkan sambaran jarum-jarum beracun Bwee Sim Mo Lie, juga balas menikam dengan pedang, ilmu redang Bu In sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, sebagai jago pedang yang sekian puluh tahun mengangkat nama besar-nya dengan hanya mengandalkan pedangnya tersebut.
Kini dalam keadaan terdesak seperti itu oleh ancaman si iblis yang tidak bisa diajak kompromi, ia menyerang dengan jurus yang hebat. Mata pedangnya seperti tergetar dan menjadi banyak, seakan bisa menyerang bebeiapa tempat ditubuh si iblis.
Melihat dirinya dikepung dari tiga jurusan, Bwee Sim Mo Lie tidak gentar. la pun tetap dengan sikapnya yang dingin tanpa perasaan apapun diwajahnya. Cuma tubuhnya seperti gumpalan kapas, ringan sekali berkelebat, dengan tangan kanan menotok pergelangan tangan Yang Lan, mempergunakan tekukan jari telunjuk karena memegang Khim nya, sedangkan letak Khim itu ditekuk masuk kedalam ketiaknya, perut Khim itu menerima tikaman pedang Thiam Lu. Tangan kiri iblis itu menghadapi tikaman pedang Bu In. Tampaknya ia memiliki jurus yang dapat mengimbangi penyerangan Bu In yang mata pedangnya tergetar itu, ia melilit dengan ujung lengan jubahnya yang lebar, pedang Bu In seperti menerobos masuk ke dalam jubah Bwee Sim Mo Lie dan kesempatan itu dimanfaatkan si wanita iblis untuk mencengkeram pundak Bu In, tepatnya pada letak jalan darah Hu-yang-hiat.
Tercekat hati Bu In, kaget tidak terkira. Keringat dinginpun mengucur deras. la kaget karena melihat kenyataan Bwee Sim Mo Lie seperti sudah mempersiapkan jurus-jurus untuk menghadapi dan memunahkan jurus jurus ilmu pedangnya.
Rupanya guru Bwee Sim Mo Lie, yaitu Thio Eng Goat memang khusus sudah menciptakan semacam ilmu silat untuk menghadapi ilmu pedang Bu In. Untung saja tenaga dalam Bwee Sim Mo Lie belum terlalu tinggi, coba kalau Thio Eng Goat yang melakukannya, niscaya Bu In sudah kena dicelakai, sebab pedangnya yang menerobos masuk kedalam lengan jubah seperti terjepit dan jari tangan lentik dari Bwee Sim Mo Lie yang berkuku panjang mencengkeram pundaknya.
Bu In sudah menurunkan pundaknya, masih diusahakan untuk menghindarkan cengkeraman tangan Bwee Sin Mo Lie. Tetapi tidak urung bajunya robek dan kulit pundaknya baret oleh goresan kuku-kuku tajam dari jari tangan lentik si wanita iblis. Mati-matian Bu In melompat mundur dengan langkah terhuyung, ia berhasil menarik pulang pedangnya terlepas dari jepitan jubah lengan Bwee Sim Mo Lie.
Bu In merasakan luka baret dipundaknya gatal luar biasa, seketika hatinya jadi kuatir. Ternyata kuku-kuku jari tangan wanita iblis itu memang mengandung racun yang ganas. Jago tua itu mengkertak giginya. la jadi nekad dan murka. Segera menerjang lagi dengan tikaman demi tikaman. Masih untung bahwa tenaga dalam Bwee Sim Mo Lie belum sempurna dan masih satu atau dua tingkat dibawah Bu In. kalau tidak niscaya sulit buat Bu In menghadapi wanita iblis yang lihay ilmu silat dan ilmu racunnya.
Juga saat itu Thiam Lu berdua Yang Lan membantu menyerang Bwee Sim Mo Lie. Walaupun kepandaian Thiam Lu berdua masih tidak cukup untuk mengimbangi kelihayan wanita iblis tersebut, sedikitnya memecahkan perhatian Bwee Sim Mo Lie, sehingga Bu In masih sanggup menghadapi wanita iblis itu cukup baik.
Bwee Sim Mo Lie tetap tenang dan wajahnya tidak tampak perasaan apamu juga, la melayani ketiga orang lawannya dengan ilmu silat dan sekali-sekali mempergunakan racunnya.
Bu In merasakan pundaknya semakin lama semakin gatal dan lenyap rasa. Dia tambah kuatir, Walaupun si iblis tidak bisa berhasil merubuhkannya dalam waktu singkat, tokh racun yang sudah mengendap di dalam tubuhnya akan bekerja semakin ganas. Jika rasa gatal dan ba'al itu sudah sampai kedada celakalah Bu In. Karena itu, mati-matian Bu In mengeluarkan jurus-jurus simpanannya menyerang dahsyat kepada Bwee Sim Mo Lie.
Waktu pertempuran tengah berlangsung, di ruang belakang para pelayan sedang ketakutan. Ada diantara mereka yang menangis karena kematian Tang Kui, yang mayatnya masih menggeletak di ruang thia, tidak bisa mereka bawa. Tadi Thiam Lu sudah berpesan, agar tidak seorangpun yang menyentuh mayat Tang Kui, yang mati keracunan, yang bisa mencelakai orang lain yang menyentuh mayat beracun tersebut.
Lam Sie memeluki Giok Han, takutnya bukan main. Dia kuatir wanita iblis yang memang diketahuinya sangat kejam itu, tidak bisa dihadapi oleh Bu In bertiga, lalu membinasakan mereka semua. Dia pernah menyaksikannya betapa Thiam Lu sangat mudah di-rubuhkan oleh Bwee Sim Mo Lie dan tertolong disebabkan kenekatan Giok Han pada beberapa hari yang lalu.
Giok Han juga tampak gelisah. Suatu saat, ia meronta melepaskan diri dari pelukan Lam Sie.
"Paman Lam, mengapa Ciecie itu masih saja jahat dan kejam?!", tanya si bocah tidak mengerti. "Bukankah dia bilang tidak akan melakukan kejahatan lagi dan juga sudah pergi tidak mengikuti kita. Namun sekarang mengapa ia datang kemari lagi?"
Lam Sie menekan rasa kuatir dan takutnya, menghela napas dalam-dalam guna melapangkan dadanya, Barulah kemudian menjawab pertanyaan majikan kecilnya; "Wanita itu seorang penjahat yang sangat kejam, ia senang membunuh tanpa mengenal kasihan! Mudah-mudahan saja Yang Toaya dan Khang Lopehmu bisa menghadapinya."
"Kalau memang dia sangat jahat, biarlah aku pergi menemuinya dan memakinya!" Kata Giok Han bersemangat.
"Apa ?" Tubuh Lam Sie menggigil. "Oooh, Siauwya, jangan bergurau! wanita itu sejahat iblis dan jangan main-main dengannya. Lebih baik kita diam di sini saja, biar paman Khang dan Yang Toaya yang membereskannya."
"Aku tidak takut, paman Lam, Bukankah dulupun dia tidak marah kepadaku, waktu kumaki-maki ? Mungkin dia mau pergi kalau kutemui dan meminta kepadanya agar tidak menggangu kita dan keluarga Yang Kongkong (kakek Yang) !"
Lam Sie menggelengkan kepalanya berulang kali dengan gugup, dia memeluki lagi majikan kecilnya.
"Jangan Siauwya, dengarlah kata-kata paman janganlah membantah ! Demi keselamatan Siauwya."
Mendadak Giok Han mendorong dada Lam Sie, dengan sepasang alis yang bentuknya sangat bagus itu mengerut dalam-dalam, dan sikap yang gagah serta dada membusung, bocah itu bilang: "Paman Lam, sekali lagi kudengar paman lam terlalu mementingkan diri sendiri seperti itu, aku tidak mau dekat-dekat dengan kau lagi ! Lihatlah, Yang Kongkong, Yang Ciecie dan paman Khang sedang menghadapi bahaya, mereka mempertaruhkan jiwa dengan gagah berani. Semua itu dilakukan mereka demi siapa ? Untuk kita ! Sekarang mengapa di saat mereka terancam bahaya kita malah bersembunyi dan berpeluk tangan saja ? Bukankah sikap seperti itu merupakan sikap pengecut yang tidak tahu malu ?"
Lam Sie jadi bingung, sampai dia mau menangis tidak bisa mau tertawa pun tidak bisa. Sulit buat dia menjelaskan kepada Giok Han, bahwa bahaya yang tengah berada di-depan mata adalah bahaya yang sangat mengerikan dan merupakan ancaman maut yang menakutkan.
Dia coba memegang tangan Giok Han, tapi Giok Han menepis tangan Lam Sie, dengan gagah si bocah bilang: "Aku akan pergi menemui wanita jahat itu, paman Lam jangan coba-coba menahanku !", kata Giok Han dengan suara yang nyaring.
Pelayan-pelayan lain jadi kebingungan juga dan coba membujuknya. Lam Sie bingung luar biasa, sampai dia tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Giok Han, manggut-manggntkan kepalanya menangis keras.
"Siauwya, oooo, Siauwya, biarlah aku si tua Lam Sie yang mati ditangan iblis itu. Biarpun harus mati seratus kali, aku masih rela. Tetapi, aku mohon agar Siauwya tidak keluar untuk menempuh bahaya...!" serak suara Lam Sie di antara isak tangisnya.
Giok Han tertegun, tapi cepat dia bilang: "Dengan sikap seperti sekarang ini paman Lam, bukankah sama saja kita terlalu mementingkan diri sendiri ? Untuk apa kita hidup terus, kalau besok-besok kita harus menerima ejekan sebagai manusia tidak berbudi yang tidak tahu berterima kasih, terlalu mementingkan diri sendiri Sampai menyaksikan penolong yang pernah menyelamatkan jiwa kita tengah terancam bahaya tetap saja kita berpeluk tangan !" Waktu berkata begitu, nyaring suara Giok Han. Masih kecil bocah itu, tapi sikapnya gagah luar biasa. Dan Lam Sie dengan air mata bercucuran membasahi pipinya tertegun mengawasi bingung pada bocah tersebut.
Di dalam hati ia berpikir betapa sama sifat dan tabiat Giok Han dengan ayahnya, Jenderal Giok Hu. yang memiliki adat serta sikap keras menghadapi kecurangan maupun perbuatan tercela. Tampaknya Giok Han walaupun masih kecil, memang memiliki warisan sifat dan adat ayahnya. Berani dan keras kepala untuk membela kebenaran. Teiapi, tahukah Giok Han betapa seluruh jiwa didalam rumah keluarga Yang sebetulnya tengah terancam, kematian di tangan Bwee Sim Mo Lie ?
Tahukah Giok Han betapa berbahayanya Bwee Sim Mo Lie ? Dan apa yang bisa dilakukan Giok Han, untuk menghadapi wanita iblis yang kejam dan telengas itu, walaupun memang ia memiliki jiwa yang luhur dan mulia ingin membela Khang Thiam Lu bertiga Yang Bu In dan Yang Lan? Bukankah sekali saja Bwee Sim Mo Lie mengayunkan tangannya. Giok Han akan terbinasa ?
Karena bingung dan panik, akhirnya Lam Sie cuma bisa menangis sesenggukan sambil memeluki kaki Giok Han. Yang Hujin isteri Yang Bu In, juga membujuk agar Giok Han tidak keluar, karena sangat berbahaya.
Giok Han menghela napas. Dia memegang pundak Lan Sie, pengasuh setia itu. "Paman Lam," katanya, "maafkan Hanjie karena sudah melontarkan kata-kata yang mungkin menyinggung atau melukai hati paman Lam."
Mendengar perkataan Giok Han, bukannya berhenti dari tangisnya, malah Lam Sie semakin keras dalam isak tangisnya. Memeluk majikan kecilnya itu. "Tidak Siauwya tidak ada kata-kata Siauwya yang membuat paman kecewa. Paman cuma teringat kepada Goanswee...."
Mendengar disebut tentang ayahnya, Giok Han juga jadi mengucurkan air matanya menangis. Tapi cuma sebentar, karena dia seperti kaget teringat sesuatu dan menyusut air matanya. Dengan muka masih basah oleh air mata sibocah bilang: "Tidak ! Kita tidak boleh menangis seperti anak kecil !"
Semua orang yang berada di ruang itu, termasuk Yang Hujin, jadi merasa lucu melihat lagak dan mendengar kata-kata Giok Han. Dia bilang tidak boleh menangis seperti anak kecil, padahal Giok Han sendiri adalah seorang bocah! Dan itu adalah didikan dari ayahnya, Jenderal Giok Hu, yang selalu memberitahukan Giok Han, bahwa seorang Kuncu (manusia sejati dan mulia) tidak boleh menangis. Hal itu selalu diungkapkan jika Giok Han dulu-dulu menangis disebabkan oleh sesuatu, atau menginginkan sesuatu yang tidak diperolehnya, ataupun terjatuh.
Dan kata-kata itu demikian meresapnya ke dalam hatinya, sehingga tadi tanpa disadarinya iapun bilang seperti itu, padahal dia sendiri memang masih seorang bocah ! Tetapi walaupun sikap Giok Han lucu, tidak seorang pun bisa tertawa, mereka tetap dicekam ketegangan Giok Han pun sudah bilang lagi . "Paman Lam, ijinkanlah Hanjie keluar. Sebentar saja Percayalah. Hanjie tidak akan mengalami apa-apa, Hanjie cuma ingin berusaha menolong paman Khang, Yang Kong-kong dan Yang Ciecie ! Kalau memang sekarang Hanjie tidak keluar untuk membantui mereka dan mereka mengalami bahaya ditangan wanita itu, sampai kapanpun juga Han jie pasti menyesal terus menerus tanpa ada gunanya !"
Lam Sie yang sangat kebingungan tidak bisa menjawab, hanya mengawasi Yang Hujin dan yang lainnya seakan minta bantuan mereka untuk membujuk Giok Han, Air mata mengucur terus dan membasahi pipi orang tua itu.
Yang lainnya membujuk Giok Han agar mau menuruti permintaan Lam Sie, agar tidak keluar. Namun Giok Han menggeleng tetap ingin keluar, walaupun Yang Hujin telah membujuknya. "Walaupun bagaimana Hanjie harus membantui mereka !"
Sebetulnya para pelayan keluarga Yang itu ada yang ingin bertanya kepada Giok Han, saking kewalahannya melihat sikap si bocah, kalau Giok Han keluar, apa yang bisa dilakukannya dengan usia masih kecil dan tidak memiliki kepandaian apa-apa ? Bukankah itu hanya mencari mati saja? Tapi mereka tidak berani berkata seperti itu, kuatir sibocah jadi ngambek.
Akhirnya Lam Sie kewalahan dan tidak memiliki jalan lain untuk membujuk Giok Han. Dia menghapus air matanya. "Baiklah," katanya, "marilah kita berdua keluar untuk menemui wanita jahat itu, Siauwya!"
Alis Giok Han mengkerut.
"Paman Lam tidak usah ikut, kalau memang wanita jahat itu ingin turunkan tangan jahat, biarlah aku saja. Paman Lam jangan sampai ikut terseret menjadi susah. Paman Lam diam saja di sini ?" kata si bocah.
Lam Sie menggeleng, menghapus lagi air mata yang masih mengucur.
"Siauwya, jika memang ada yang harus mati, biarlah paman Lam yang mati," kata pengasuh yang setia itu. "Walaupun harus menerima kematian ratusan kali, paman rela asal Kongcu bisa terlindung selamat, Peng-an bahagia nantinya. Paman hanya inginkan Siauwya selalu sehat dan bahagia, itu pun sudah membuat paman akan bahagia. Mari, Siauwya keluar bersama paman."
Terharu hati si bocah melihat kesetiaan pengasuh tua ini. Dia memeluk paman Lam nya dan menangis terisak-isak.
"Paman, entah berapa banyak penderitaan yang paman Lam karena membela dan menyelamatkan Hanjie." kata Giok Han terisak dengan tangisnya. "Entah bagaimana Hanjie harus membalas budi kebaikan paman ?"
Yang lainnya juga terharu melihat peristiwa tersebut, di mana Lam Sie sambil merangkul majikan kecilnya juga menangis terisak-isak, mereka jadi ikut menitikkan air mata. Yang Hujin ikut terharu. la melihat, betapa mulia dan luhurnya jiwa dan hati Giok Han, yang tetap memaksa ingin keluar untuk membantui Yang Bu In, Yang Lan dan Khang Thiam Lu, walaupun bocah itu masih terlalu kecil dan tidak bisa apa-apa. Tidak percuma tampaknya Giok Han sebagai putera Jenderal besar Giok Hu !
Mendadak Giok Han berseru: "Oooh, Hanjie lupa lagi. Kita mana boleh menangis seperti ini, seperti anak kecil saja !". Dia menyusut air matanya.
"Justeru kita harus cepat-cepat keluar untuk membantui Yang Kongkong bertiga !"
Giok Han keluar didampingi Lam Sie. Mereka melihat Yang Bu In bertiga tengah kewalahan menghadapi Bwee Sim Mo Lie yang sambil berkelebat kesana kemari menghadapi setiap desakan ketiga orang lawannya, sepasang tangannya bergerak tidak hentinya seperti orang sedang menabur sesuatu. Ratusan batang jarum beracunnya menyambar kesana kemari membuat ketiga orang lawannya kewalahan.
Memang kalau bicara soal kepandaian ilmu silat, Yang Bu In tidak gentar menghadapi Bwee Sim Mo Lie, namun, sekarang ia menghadapi wanita iblis yang pandai sekali mempergunakan racun. Apalagi dia tadi sudah terkena cengkreman kuku-kuku jari tangan Bwee Sim Mo Lie yang beracun, dimana pundaknya dirasakan semakin lama semakin ba al, mengurangi leluasa bergeraknya. Setiap serangannya jadi agak lambat, tidak selincah sebelumnya.
Khang Thiam Lu dan Yang Lan melihat keadaan orang tua itu, semakin kuatir. Bahkan saat itu karena nekad, Thiam Lu tahu-tahu menubruk Bwee Sim Mo Lie dengan pedangnya, la ingin melindungi gurunya yang tengah kewalahan menghalau hujan jarum-jarum beracun. Tetapi tidak disangka-sangka lengan baju wanita iblis itu mengibas ke-arah muka Thiam Lu, tersebar bubuk putih sangat halus, dan Thiam Lu mencium harum semerbak yang dalam sekejap mata membuat pandangan matanya berkunang-kunang, tubuhnya lemas, tenaganya lenyap, lututnya lunglai seakan tidak memiliki tenaga lagi. rubuh ambruk di tanah !
Yang Lan menjerit kaget dan cepat-cepat menerjang dengan beberapakali tikaman pedangnya kepada Bwee Sim Mo Lie, begitu juga Yang Bu In yang kaget tidak terkira waktu melihat keadaan muridnya, ia sebetulnya sedang sibuk menghalau hujan jarum-jarum beracun dengan putaran pedangnya, karena kaget maka gerakannya tertunda jadi perlahan selama satu detik, tetapi itu menyebabkan dia menerima bahaya ! Dua batang jarum menerobos masuk dan menancap di lengan kiri serta dada kiri.
Tubuh Yang Bu In terhuyung mundur, mukanya pucat. Mati-matian jago tua itu mengempos lwekangnya, dengan tenaga dalamnya berusaha untuk mendorong dan mencegah racun bekerja di tubuhnya. Dia berhasil, racun tidak menjalar luas dari lukanya, tetapi ganasnya racun itu membuat tenaga Yang Bu In berkurang banyak, belum lagi untuk mengerahkan tenaga dalamnya.
Bwee Sim Mo Lie tanpa memperlihatkan perasaan apapun di wajahnya, menjepit pedang Yang Lan, dia coba merampasnya. Tapi Yang Lan yang nekad tidak perdulikan bahaya, dia meneruskan tikamannya. Dan Bwee Sim Mo Lie terkesiap waktu mata pedang tetap meluncur akan menikam dadanya. "Ihhh," dia berseru dan batal menjepit pedang si gadis, melompat ke samping buat menghindarkan diri.
Yang Lan yang sudah nekad hendak menyerang lagi, tapi waktu itu terdengar suara teriakan: "Perempuan busuk, berhenti!" Di susul oleh Giok Han yang menghampiri ke dekat Bwee Sim Mo Lie dan nekad sekali bocah itu memeluk tubuhnya. Lam Sie kaget tidak terkira, dia ingin mencegah, tapi tidak keburu.
Dan semangat pengasuh setia itu serasa terbang meninggalkan raganya melihat majikan kecilnya begitu nekad telah memeluk Bwee Sim Mo Lie.
Bwee Sim Mo Lie waktu menyingkir dari tikaman pedang Yang Lan, sebetulnya sudah mempersiapkan jarum-jarum beracunnya hendak balas menyerang kepada Yang Lan. Tetapi dia jadi kaget tidak terkira tubuhnya tahu-tahu dipeluk oleh Giok Han.
Dan, untuk beberapa detik dia seperti linglung hilang ingatan, pikirannya jadi melayang-layang. Namun akhirnya Bwee Sim Mo Lie bisa menguasai diri, bentaknya : "Kau lagi bocah ! Ayo lepaskan !"
Bersambung ke jilid 5

This entry was posted on Selasa, Juli 27, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar