Panji Tengkorak Darah Jilid 8  

Diposting oleh jagatcerita

PANJI TENGKORAK DARAH
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net


Jilid 8. Mustika Naga

Bok Sam-pi tegak di hadapan Siau-bun. Perutnya yang gendut terkial-kial karena menahan kemarahan. Biji matanya yang sebesar kelereng menyala tajam.
“Kau hendak menantang berkelahi denganku?” serunya.
“Benar,” Siau-bun tertawa, “aku ingin bermain-main beberapa jurus dengan kau.”

Bok Sam-pi menggerung seperti harimau mencium mangsa. “Berpuluh-puluh tahun belum pernah ada manusia yang berani berkata begitu di hadapanku. Toa-gi-pat-kui masih terlalu ringan. Akan kutambahi hukumanmu dengan Sam-sing-ka-sim dan Ngo-tok-ya-thi!”

“Bagus, sayang kau tak mampu…..” Siau-bun mengedipkan mata sejenak, “eh, bagaimana? Apakah kau mau adu kepandaian denganku?”

Bok Sam-pi memekik, “Budak perempuan, kalau mau adu kepandaian lekaslah! Kalau ayal-ayalan mungkin kau tak sempat lagi!”

Menunjuk pada perutnya yang buncit, ia berseru pula, “Boleh kau gunakan senjata tajam atau senjata rahasia, pukulan, kaki, jari ataupun apa saja. Kalau mampu merontokkan selembar buluku saja, aku menyerah kalah dan terserah hendak kau apakan…..”

Siau-bun tertawa nyaring, “Cara itu tidak adil. Jika kau menghendaki cara berkelahi mati-matian macam benggolan penjahat….., maaf, aku tak sudi melayani!”

“Bagaimana kalau adu lwekang?” seru Bok Sam-pi.

“Kasar!”

Biji mata Bok Sam-pi yang besar berkilat-kilat. “Katakanlah, teresrah kau hendak memakai cara apa, aku menurut saja!”

Siau-bun mondar-mandir sejenak, tersenyum, “Begini saja ! Aku mempunyai sebutir mutiara Ban-lian-liong-cu ( mutiara naga ribuan tahun ). Jika kau mampu memijatnya hancur dengan dua buah jari tanganmu, aku mengaku kalah....”

Bok Sam-pi hendak menyahut, tetapi Kongsun Bu-wi sudah mendahului, “Suhu, budak perempuan ini banyak akal, jangan kena dia kali!”

Bok Sam-pi merengut kurang senang, “Apakah aku anak kemarin sore? Kau pandang aku ini orang apa?”

“Harap suhu jangan marah. Murid hendak mengatakan tentang mustika Ban-lian-liong-cu……”

“Persetan dengan Ban-lian-liong-cu! Apakah kau kira aku tak dapat memijatnya hancur?”

Kongsun Bu-wi gelengkan kepala, “Bukan maksud murid mengatakan suhu tak dapat meremasnya. Melainkan hanya mengatakan bahwa Ban-lian-liong-cu itu adalah mustika yang jarang terdapat di dunia. Kemungkina tentu dia tak punya. Dan andaikan punya pun, bagaimana hendak suruh suhu menghancurkannya?”

“Ya, benar!” Bok Sam-pi gelagapan. “Ban-lian-liong-cu adalah sebuah pusaka ajaib, mengapa kau suruh aku menghancurkan!”

“Benda yang paling keras di dunia, apakah dapat menandingi kekerasan Ban-lian-liong-cu?” Siau-bun tertawa dingin.

“Mungkin tidak ada!” Kongsun Bu-wi menanggapi.

“JIka gurumu dapat memijat hancur Ban-lian-liong-cu, kalau kuberikan yang palsu, bukankah akan lebih cepat lagi? Dengan begitu bukankah aku kalah dan akan menerima hukuman Toa-gi-pat-kui atau apa itu Sam-sing-ka-sim atau Ngo-tok-ya-thi? Apakah aku dapat mengingkari perjanjian lagi?”

Sahutan nona itu membuat ketua Hek Gak gelagapan dan hanya dapat menjawab sekenanya, “Siapa yang tahu permainan setan itu?”

Siau-bun tertawa dingin, “Dalam hal main setan-setanan, mungkin kau lebih ahli. Dengan menipu orang untuk diberi tahu tentang asal-usulnya, kau menjebaknya kemari. Perlunya tak lain hanya hendak merampas peta pusakanya….!” Sambil menunjuk pada Bok Sam-pi, ia berseru pula, “dan dia seorang cianpwe persilatan yang sakti, telah kau cekoki dengan obat yang membuatnya berobah linglung tak sehat pikirannya! Bukankah perbuatanmu itu sangat keji…..!”

“Keparat!” teriak ketua Hek Gak kalap, “kalau kau berani mengoceh tak keruan tentu akan kucincang tubuhmu!”

Siau-bun acuh tak acuh menyahut, “Sayang saat ini kau tak dapat bertindak semaumu……” ia berhenti sejenak. “Kepintaran yang digunakan untuk menipu orang, akhirnya keblinger sendiri. Mungkin kau akan menyesal atas perbuatanmu itu!”

“Budak perempuan, dengan mengandal akal muslihatmu itu jangan harap kau mampu lolos dari sini kecuali kau dapat membujuk Bubeng tayhiap supaya menyerahkan peta padaku!”

Siau-bun tetap tertawa dingin.

“Kalau benar punya Ban-lian-liong-cu, ayo, lekas keluarkan! Coba lihat saja aku dapat memijatnya hancur atau tidak?” teriak Bok Sam-pi yang rupanya tidak sabar lagi.

Sahut Siau-bun tenang-tenang, “Jangan terburu nafsu dulu. Akan kujelaskan dulu palsu tidaknya mustika Ban-lian-liong-cu itu. Toh akhirnya nanti kau tentu akan memijatnya!”

Ia berpaling ke arah ketua Hek Gak, “Apakah kau tahu khasiat Ban-lian-liong-cu dan dapat membedakan palsu tidaknya ?”

Kongsun Bu-wi tertawa nyaring, “Ban-lian-liong-cu kira-kira sebesar biji lengkeng, warnanya merah tua. Begitu dimasukkan dalam air dingin maka hilanglah dingin air. Dimasukkan dalam api, maka hilanglah panas api. Khasiatnya untuk menolak air dan api, merupakan mustika yang tiada nilainya di dunia!”

Siau-bun tertawa tawar, “Kalau begitu harap sediakan air dan api, kita buktikan saja!”

Ia mengeluarkan sebuah kotak emas lalu mengambil sebuah bungkusan sutera merah. Dengan hati-hati Siau-bun membuka bungkusan itu dan tampaklah sebutir mutiara sebesar lengkeng. Thian-leng dan orang-orang yang berada dalam ruangan itu berteriak kaget.

Tepat seperti yang dikatakan ketua Hek Gak tadi, memang mustika itu berwarna merah tua berkilau-kilauan memancarkan sinar terang-benderang yang menyilaukan mata. Seketika berhamburan semacam hawa dingin. Begitu dingin sehingga membuat keempat pengawal Hek Gak yang berdiri pada jarak beberapa tombak sampai gemetar badannya.

Juga Bok Sam-pi ternganga, serunya dengan terbata-bata, “Mustika yang hebat, mustika yang hebat, benar-benar mustika yang tiada tandingannya….!”

Siau-bun hanya mengulum senyum. Dengan angkuh ia berkata kepada ketua Hek Gak, “Apakah seumur hidupmu kau pernah melihat mustika semacam ini?”

Mulut ketua Hek Gak tersekat, “Kalau menilik ujudnya saja, memang belum dapat dibuktikan palsu tidaknya………” ia berpaling kepada pengawalnya menyuruh siapkan air dan api. Empat pengawal Hek Gak segera mengiyakan.

Thian-leng segera menggunakan ilmu menyusup suara menegur Siau-bun, “Apakah itu Ban-lian-liong-cu yang tulen?”

“Sudah tentu!” sahut Siau-bun.

”Ha !? Kalau sampai dipijat hancur oleh setan tua itu, bukankah……”

“Kita ini perlu mempertahankan jiwa atau memberatkan mustika……. ”

Jawaban si nona itu membuat Thian-leng kemalu-maluan. Diam-diam ia menyesal karena menyebabkan Siau-bun sampai mengorbankan mustikanya.

“Tetapi dengan mengorbankan mustika itu apakah kita pasti dapat lolos ?” ia masih penasaran.

“Ya, sekalipun Ban-lian-liong-cu itu mustika yang keras sekali, tetapi bukannya mustahil dihancurkan. Kepandaian setan tua itu memang tinggi

Thian-leng cemas, “ Kalau begitu bukankah …. ?”

“Segala apa kita harus menyesuaikan dengan gelagat, tak usah kau cemas!” tukas Siau-bun.

Pada saat itu dua orang pengawal Hek Gak muncul dengan membawa baskom air dan tempat api. Siau-bun dengan tertawa-tawa segera menyerahkan Ban-lian-liong-cu kepada Kongsun Bu-wi, ujarnya, “Silakan mencobanya di hadapan hadirin!”

Kongsun Bu-wi menyambuti. Matanya tak berkedip memandang mustika itu. Wajahnya menampilkan nafsu memiliki.

“Rupanya ada rasa dalam hatimu untuk memiliki mustika itu, eh?” Siau-bun tertawa mengolok.

Kongsun BU-wi merah mukanya, “Jangan mengukur baju orang menurut ukuranmu sendiri!” serunya.

Siau-bun tertawa gelak-gelak, “Jika kau tak mendustai batinmu, saat ini kau merasa gelisah kalau mustika itu sampai teremas hancur oleh gurumu. Karena dengan begitu kau tentu tak dapat memilikinya!”

Karena malu, marahlah Kongsun Bu-wi, “Ngaco! Orang macam apakah diriku? Masakah sebutir mustika macam begitu saja dapat menggerakkan keinginanku!?”

Alis Siau-bun menjungkit, “Sudahlah , jangan coba sangkal isi hatimu, toh tiada yang tahu!”

Wajah ketua Hek Gak berobah makin gelap. Segera ia lemparkan Ban-lian-liong-cu ke dalam baskom air. Serentak terdengarlah pekik kaget dari sekalian orang. Begitu tercebur air, mustika itu seperti membelah air. Di Sekeliling mustika air sama menyiah beberapa dim jauhnya.

Wajah Kongsun Bu-wi makin gelap. Ia ambil mustika keluar. Jelas ketika memasukkan tangan ke dalam basko, ujung bajunya itu terendam air. Tetapi anehnya setetes airpun ujung bajunya tak basah dan mustika Ban-lian-liong-cu kering kerontang.

“Bagaimana……..” ujar Siau-bun seraya maju menghampiri.

Kongsun Bu-wi terpukau tak dapat menjawab. Serentak ia lemparkan mustika ke dalam anglo api. Kembali mata ketua Hek Gak terbelalak. Anglo yang penuh dengan api membara, tersiak oleh Ban-lian-liong-cu. Ujung baju Kongsun Bu-wi yang masuk ke dalam api tidak terbakar sama sekali. Bahkan tangannya yang memegang anglo itu sedikitpun tak terasa panas.

Akhirnya ketua Hek Gak menarik pulang tangannya. Sejenak ia memuaskan pandangannya ke arah mustika itu, baru diberikan lagi kepada Siau-bun, ujarnya,” Mustika ini memang benar Ban-lian-liong-cu yang asli, sekarang boleh kau serahkan kepada suhu!”

Dengan tersenyum Siau-bun menyambutnya.

“Serahkan padaku, lekas. Aku tak sabar lagi menunggu!” tiba-tiba Bok Sam-pi berteriak.

Siau-bun memutar dirinya menghadapi, ujarnya, “Baik, kita bicarakan dahulu secara jelas. Barang siapa kalah tak boleh ingkar janji!”

“Kurang ajar, kau anggap aku ini orang apa? Masakah aku sudi ingkar janji padamu ! » Bok Sam-pi marah-marah.

Namun si nonan masih tetap tersenyum simpul, ujarnya. “Pertanyaan lo-cianpwe itu sudah cukup menjadi jaminan!” Ia segera angsurkan mustika Ban-lian-liong-cu kepada Bok Sam-pit.

Begitu menyambuti mustika, sejenak Bok Sam-pi memepermainkannya. kemudian tiba-tiba ia menjepit mustika itu dengan jari tengah dan jari telunjuk, lalu tertawa gelak-gelak, “Sebenarnya aku tak sampai hati menghancurkan mustika ini….!”

Thian-leng seperti disadarkan. Ia merasa dapat menduga rencana yang dijalankan Siau-bun. Jika Bok Sam-pi sampai tak rela meremas hancur mustika itu, berarti ia kalah dan dapatlah Siau-bun lolos dari neraka Hek Gak. Demikianlah dugaannya. Tetapi ternyata dugaan itu meleset………

“Tetapi jika tak kuremas hancur, berarti aku menyerah kalah padamu,budak perempuan! dengan begitu bukankah aku…..bukankah ….” tiba-tiba Bok Sam-pi bersungut-sungut. Ia tak melanjutkan kata-katanya lebih jauh, tetapi mulai kencangkan kedua jari yang menjepit Ban-lian-liong-cu…….

Wajah thian-leng berobah seketika. Sejenak ia berpaling memandang Siau-bun tetapi nona itu tampak tenang-tenang saja. Sedikitpun tak menunjukkan rasa cemas.

Saat itu tampak wajah Bok Sam-pi agak mengeras tegang. Sepasang matanya terpentang lebar. Kedua tulang pelipisnya mulai menonjol, begitu pula dahinya. Jelas menunkukkan bahwa ia menghadapi kesukaran!

Melihat itu Kongsun Bu-wi dan sekalian anak buahnya tampak tegang. Mata mereka mengikuti lekat-lekat pada mustika yang terjepit di tengah kedua jari tangan Bok Sam-pi.

Wajah Bok Sam-pi makin tegang. Warnanya berobah merah seperti darah, giginya mengerut kencang. Inilah yang pertama kali ia menghadapi kesulitan besar dan kekalahan. Siau-bun tersenyum datar. Ia acuh tak acuh.

Dalam pada itu, sang waktupun merayap terus dengan cepat. Tak terasa sudah sejam lamanya Bok Sam-pi melakukan taruhannya. Tangan kanannya tampak gemetar, dahinya mengucurkan butir-butir keringat sebesar biji kedele. Warna wajahnya yang merah padam berobah biru gelap. Nyata dia sedang mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk meremas Ban-lian-liong-cu.

Akhirnya… ia menghela napas, “Aku tak dapat memijat hancur mustika ini. Ya, aku menyerah kalah!” ujarnya disertai helaan napas rawan.

Kongsun Bu-wi seperti mendengar halilintar berbunyi di tengah hari. Buru-buru ia maju melangkah, “Tidak, suhu belum kalah!”

Bok Sam-pi menghela napas, “Bagaimana tidak kalah?”

“Karena mustika itu memang luar biasa kerasnya....” ia lepaskan lirikan tajam kepada Siau-bun, katanya pula, “Jika dia mampu meremasnya hancur, barulah benar-benar dia menang. Tetapi jika dia tak dapat, berarti seri. Pertandingan ini tiada yang kalah atau menang dan boleh diganti dengan cara lain.”

“Benar, benar.” Bok Sam-pi seperti disadarkan. Segera ia berikan Ban-lian-liong-cu kepada Siau-bun. “Sekarang kau yang meremasnya!”

Siau-bun tak ragu-ragu menyambuti mustika itu. Ia tertawa mengejek Kongsun Bu-wi. “Memang telah kuduga kau akan mengajukan usul ini!”

Sejenak Siau-bun mengepal-ngepal mustika di dalam telapak tangan, setelah itu dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Serunya kepada Bom Sam-pi, “Silakan Cianpwe melihat dengan betul!”

“Tentu, ayo pijitlah!” Bok Sam-pi mengangguk, mengira nona itu tentu tidak dapat. Kongsun Bu-wi tertawa yakin. Tetapi pada lain kejap, suara tertawanya sirap ditelan kekagetan........ Ketua Hek Gak itu terlongong-longong melongo... lutnya ternganga!

Jelas terngiang di telinganya suatu suara letupan kecil. Mustika Ban-lian-liong-cu yang terjepit di jari Siau-bun itu pecah berhamburan......

Sekalian orang menjerit kaget! Benar-benar sukar dipercaya. Ketua Hek Gak berdenyut-denyut kepalanya, bumi yang dipijaknya serasa berputar. Ceng-ceng yang tengah belutut di depan ranjang, bangkit serentak! Wajahnya penuh diliputi seri kegirangan. Dipandangnya Siau-bun dengan lekat.

Tiba-tiba Bok Sam-pi menjerit, “Sudahlah, sudahlah, aku kalah…..”

“Tidak suhu, kau tetap belum kalah!” Kongsun Bu-wi berseru.

“Mengapa tidak?” sahut Bok Sam-pi.

Ketua Hek Gak tertaw sinis.” Dengan susah payah suhu memijat, tetapi gagal. Mengapa dia hanya sekali pijat saja sudah dapat menghancurkan? Bukankah kau lebih sakti dari dia? Bukankah dia tentu menggunakan tipu muslihat!”

Perut Bok Sam-pi yang gendut tampak terkial-kial karena menahan gejolak perasaan. tetapi tak tahu bagaimana hendak menumpahkan. Marahkah atau sedihkah?

Siau-bun tertawa dingin, ujarnya kepada Bok Sam-pi, “Ketika kupijit Ban-lian-liong-cu bukankah cianpwe mengawasi dengan jelas?”

“Benar…..” Bok Sam-pi menyahut terpaksa.

“Apakah aku menggunakan ilmu sihir?”

“Rasanya eh…. tidak…”

“Dengan begitu lo-cianpwe rela mengaku kalah?” kata Siau-bun dengan nada serius.

“Ya, aku menyrah kalah!”

“Tidak , suhu tak boleh menyerah kalah, jika.....” cepat-cepat ketua Hek Gak menukas. Tetapi secepat itu pula Siau-bun segera berseru keras kepada Bok Sam-pi, “Jika lo-cianpwe tak suka mengaku kalah, sayapun tak dapat berbuat apa-apa. Tetapi bagi martabat lo-cianpwe dalam dunia persilatan, tidaklah layak untuk menelan ludah lagi!”

“Siapa bilang aku menelan ludah?” Bok Sam-pi murka.

“O, kalau benar cianpwe tak ingkar janji, marilah sekarang kita laksanakan perjanjian kita!” desak Siau-bun.

“Perjanjian apa ?” Bok Sam-pi mengerutkan dahi,

“Ah, apakah lo-cianpwe benar-benar pelupa sekali?”

Bok Sam-pi mendengus, “Karena kau yang menang, maka segala macam hukuman
yang hendak kujatuhkan padamu itu batal semua. Kalian boleh keluar dari istana Hek Gak sini. Apakah ini tidak cukup? Apakah masih hendak suruh aku menganar kalian?”

Cepat Siau-bun menanggapi, “Itulah! Memang ada dua buah urusan kecil yang memerlukan persetujuan lo-cianpwe!”

Bok Sam-pi mendengus lagi, “Tidak bisa, aku ini orang macam apa, masakah kau suruh mengantarkan!”

Siau-bun tertawa dingin, “Jika cianpwe menganggap dirimu sebagai ksatria sejati, haruslah berjiwa ksatria!”

Marah Bok Sam-pi tak tertahan lagi. Segera ia mengangkat tangannya hendak menghantam. Tetapi Siau-bun acuh tak acuh. Melihat itu Bok Sam-pi menghentikan tinjunya dan perlahan-lahan menurunkan lagi. Keriput kemarahannya perlahan-lahan kendor, berganti kerawanan. Akhirnya menghela napaslah ia, “Baik, akan kuantar kalian keluar dan sebutkanlah kedua tuntutanmu itu.”

“Kesatu, serahkan cucumu Bok Ceng-ceng itu kubawa pergi. Kedua , minumlah sebutir pil dariku.”

“Kau hendak suruh aku minum pil? Perlu apa?” Bok Sam-pi melongo.

“Supaya jiwamu lekas melayang,” sahut Siau-bun tenang.

“Hm, apakah tiada jalan lain lagi?” dengus Bok Sam-pi.

“Perangaiku sama dengan perangaimu. Apa yang kukehendaki, tentu harus kulaksanakan. Atau lebih baik kau ingkar janji dan bertempur dengan aku lagikah?” Siau-bun mengejek.

Bok Sam-pi menggelengkan, “Baik, kuterima kedua syaratmu itu. Akan kuantarkan kalian keluar dari sini dan kuminum pil mautmu itu…….!”

“Tunggu !” sekonyong-konyong Kongsun Bu-wi menjerit.

Siau-bun melirik tajam kepada ketua Hek Gak itu serunya, “Telah kukatakan padamu tadi bahwa ada suatu saat kau pasti menyesali perbuatanmu selama ini, nah, bagaimana sekarang?”

“Tak mudah kaulaksanakan kemauanmu itu!” ketua Hek Gak menggeram.

“Ah, belum tentu. Segala apa yang akan terjadi semua di luar dugaanmu......”

Menjeritlah ketua Hek Gak itu dengan kalap, “Jika kau sampai mampu keluar dari istana ini akan kurayakan dengan bunuh diri!”

Tiba-tiba ketua Hek Gak itu berpaling ke arah Bok Sam-pi dan membentak, “Bok conghouhwat!”

Mendengar itu kejut Bok Sam-pi bukan kepalang. Segera ia hendak berlutut memberi hormat. Tetapi secepat itu juga Siau-bun sudah membentaknya, “Nanti dulu!”

“Jangan menjual muslihat!” bentak ketua Hek Gak murka.

Siau-bun menyambutnya dengan tertawa dingin, “Justru kebalikannya! Aku hanya hendak melucuti kedokmu selama ini, hanya sayang….” ia tertawa mengikik, ujarnya pula, “Segala tipu muslihatmu itu gagal semua!”

“Apa maksudmu!” bentak ketua Hek Gak.

“Kau hendak menggunakan pengaruhmu sebagai ketua untuk memaksa Bok Lo-cianpwe tunduk kepadamu bukan?”

“Istana Hek Gak mempunyai tata tertib yang keras. Walaupun beliau menjadi guruku, tetapi karena beliau menjabat sebagai Conghouhwat, maka wajib menurut perintahku!” sahut ketua Hek Gak dengan congkak.

“Tanpa kau sadari, dalam babak ini kau sudah mengaku kalah!” Siau-bun tertawa.

“Bagaiman kalahnya?”

“Tadi Bok-locianpwe sudah menyatakan bahwa malam ini tiada lagi garis pemisah antara ketua dan anak buah, melainkan beliau berbicara dalam kedudukan sebagai guru dengan murid. Bukankah hal itu sudah merupakan kekalahan bagimu?”

“Benar, benar! Malam ini kaulah yang seharusnya mendengar perintahku!” Bok Sam-pi seperti disadarkan.

Serentak berobahlah cahaya muka Kongsun Bu-wi. Giginya terdengar bercatrukan menahan kemarahan. Tetapi ia tak dapat membantah sepatah pun juga.

Thian-leng kagum sekali atas kecerdikan si nona. Tiba-tiba Siau-bun gunakan ilmu menyusup suara berseru kepadanya, “Siap-siaplah, kita segera akan angkat kaki dari sini!”

Thian-leng terkesiap. Cepat ia bersiap dengan pedang dan mengerahkan tenaga Lui-hwe-ciang. Apabila anak buah Hek Gak berani merintangi, ia hendak adu jiwa dengan mereka.

Siau-bun perlahan-lahan menghampiri kehadapan Bok Sam-pi, ujarnya, “Lo cianpwe marilah kita pergi!”

“Baik, “ Bok Sam-pi tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengiyakan.

Tiba-tiba Siau-bun gunakan ilmu menyusup suara kepada si jago tua itu,” Muridmu itu sukar diraba hatinya. Jika lo-cianpwe tak siap sedia, dia tentu diam-diam akan memerintahkan supaya menutup jalan dan menggerakkan perkakas rahasia. Mati bagi kami anak-anak yang tak bernama ini tak mengapa. Tetapi betapa besar akibatnya bagi kebesaran nama lo-cianpwe!”

“Beralasan juga ,” dengus Bok Sam-pi.

“Apa kata mereka kepada suhu?” ketua Hek Gak berseru kaget.

Bok Sam-pi deliki mata, teriaknya, “Kemarilah!”

“Suhu hendak memberi pesan apa?” Kongsun Bu-wi makin kaget.

“Aku kuatir kau nanti diam-diam menyuruh orang menjalankan perkakas rahasia, hal itu pasti akan menjatuhkan namaku!”

“Apakah suhu percaya?” ketua Hek Gak kaget bercampur marah.

Bok Sam-pi tertegun. Tetapi pada lain saat ia menjawab tanpa ragu-ragu. “Percaya saja. Kutahu apa yang dapat kaulakukan….” ia berhenti sejenak lau melanjutkan pula. “Karena itu hendak kupelintir dulu urat pergelangan tanganmu agar hatiku tenteram!”


Seketika berobahlah wajah ketua Hek Gak. Kakinya terhuyung mundur beberapa langkah. Maksudnya ia akan loncat keluar ruangan. Tetapi Siau-bun cepat menyentaknya, “Eh, jangan coba kabur, ya! Bok lo-cianpwe sepuluh kali lipat dari kepandaianmu. Dalam jarak seratus tombak, beliau masih dapat menangkapmu!”

Bok Sam-pi tokoh yang sudah limbung otaknya seperti disadarkan. Bentaknya murka, “Apa? Kau hendak lari?” Berbareng itu ia ulurkan tangan mencengkeram.

Rencana Kongsun Bu-wi untuk melarikan diri dan mempersiapkan perkakas rahasia dalam istana itu menjadi berantakan. Selagi ia termangu, Bok Sam-pi sudah menamparnya. Sebagai murid ia tahu sampai di mana kesaktian gurunya itu. Tak berani ia menangkis melainkan mandah mengikuti gerak cengkeraman gurunya, mencelat ke hadapan Bok Sam-pi.

Gemuk sekalipun potongan tubuhnya, tetapi tangan Bok Sam-pi tangkas bukan kepalang. Secepat kilat ia sudah mendcengkeram pergelangan tangan Kongsun Bu-wi.

Ketua Hek Gak itu menumpahkan kemarahannya kepada Siau-bun, “Cu Siau-bun, ingatlah, lambat atau cepat ada suatu hari tulang belulangmu tentu akan kuremukkan!”

Cu Siau-bun hanya ganda tertawa, “Nanti saja kita bicara lagi apabila hari itu sudah tiba...”

Setelah itu ia berpaling kepada Ceng-ceng yang masih tercengang-cengang, “Nona Bok, marilah kita pergi!”

Ceng-ceng seperti orang dibangunkan dari mimpi, serta merta ia mengikuti di belakang Cu Siau-bun yang berjalan keluar. Sementara itu Bok Sam-pi tampak seperti orang yang limbung. Dengan masih mencekal lengan Kongsun Bu-wi, ia tak berkata sepatahpun juga. Ia juga tak sejenakpun melihat pada cucunya. Ia berjalan seperti orang kehilangan semangat.

Demikianlah kelima orang itu segera beriringan melintasi jalanan istana yang penuh liku-liku. Tok-ko Sing dan berpuluh-puluh pengawal baju hitam hanya mengawasi saja. Mereka tak berani bertindak apa-apa, karena tahu ketuanya sudah dalam penguasaan.

Tak lama kemudian tibalah mereka di luar pintu gerbang Hek Gak. Siau-bun berseru kepada Bok Sam-pi, “Bok Lo-cianpwe, kini sudah berada di luar istana. Boleh suruh mereka pulang!”

“Hm, ya benar, kata-kata itu beralasan...” sahut Bok Sam-pi seperti membeo saja. Segera ia melepaskan cekalan dan menyuruh Kongsun Bu-wi pergi.

Tanpa disadari, Bok Sam-pi sudah dikuasai oleh Siau-bum. Ia menurut saja apa yang dikatakan nona itu.

Kongsun Bu-wi menghamburkan napas untuk melonggarkan dadanya yang sesak dengan kemarahan. Setelah melirik buas ke arah Thian-leng , Siaubun dan Ceng-ceng, tanpa berkata apa-apa ia segera ayunkan tubuhnya melesat pergi.

Setelah ketua Hek Gak itu lenyap, Siau-bun menghela napas lega. Ia segera keluarkan sebuah botol kecil. Ia mengambil sebutir pil berwarna putih seperti salju.

“Lo-cianpwe, silakan minum!” serunya.

Bok Sam-pi tersentak kaget, “Pil beracun?”

Dengan wajah bersungguh-sungguh, berkatalah Siau-bun, “Karena lo-cianpwe tak beruntung kalah dengan aku, janganlah menghiraukan lagi pil ini obat beracun atau bukan, tetapi makanlah saja!”

Bok Sam-pi mengangguk-angguk, “Benar, benar, kata-kata itu memang beralasan!” Menyambut pil, terus ditelannya.

Melihat itu Ceng-ceng mengucurkan air mata, ratapnya, “Apakah kau benar-benar hendak meracuni kakekku! Sebenarnya kakek itu seorang baik. Adalah sejak menjadi Cong-houhwat dari Hek Gak, barulah ia berobah seperti orang limbung begitu!”

Siau-bun menjawab dengan ilmu menyusup suara. “Kesemuanya itu telah kuketahui. Pil itu bukan pil beracun, tetapi pil penenang urat syaraf. Mudah-mudahan ia akan mendapatkan kesadaran pikirannya lagi!”

“Silakan lo-cianpwe pulang kalau mau pulang, ” kata Siau-bun sesaat kemudian.

“Pulang?” Bok Sam-pi gelagapan. Tiba-tiba ia duduk di tanah, ujarnya. “Aku hendak menunggu kematian di sini!”

Siau-bun tak dapat menahan gelinya, “Terserah kalau kau tahan menunggu di sini!”

Bok Sam-pi terbelalak, teriaknya, “Apakah bekerjanya racunmu itu perlahan-lahan?”

“Mungkin sekitar 10 hari baru terasa!”

“Sepuluh hari…… ?” Bok Sam-pi mengerutkan dahi.

“Jika kepandaianmu memang tinggi sekali, mungkin dua puluh sampai tiga puluh hari baru bisa bekerja. Atau mungkin juga seumur hidup takkan bekerja!”

Bok Sam-pi menghela napas, “Budak perempuan, kau sangat menyiksa diriku….”

Siau-bun ganda tertawa, “Menurut pendapatku, lebih baik cianpwe pulang ke dalam istana lagi tentu lebih leluasa.”

Bok Sam-pi benar-benar seperti seekor ayam jago yang jinak! Dengan langkah berat dan menundukkan kepala ia melangkah kembali ke istana Hek Gak.

“Eh, mengapa adik Bun melepaskannya?” Thian-leng terheran-heran.

“Penyakit apa yang sebenarnya diderita itu dalam waktu yang singkat tak mungkin kuketahui. Yang kuberikan padanya tadi hanyalah pil biasa. Dapat tidaknya pil itu menyembuhkannya, aku atk berani memastikan. Sesudah minum pil itu memang seharusnya ia beristirahat beberapa hari barulah terasa khasiatnya. Maka kurasa lebih baik kulepaskan pulang saja!”

Selanjutnya Siau-bun menerangkan bahwa apabila pikiran jago tua itu sudah pulih kembali, tanpa harus diberi petunjuk, tentu akan menyadari apa yang telah terjadi atas dirinya selama ini. “Dia tentu akan membuat perhitungan dengan Kongsun Bu-wi!” kata Siau-bun.

Thian-leng kagum sekali atas kecerdikan nona itu. “Tetapi bagaimana dengan mutiara Ban-lian-liong-cu itu...?”

Siau-bun merogoh ke dalam baju mengeluarkan kotak berisi mutiara itu. “Apakah kau ingin melihat mutiara ini lagi!” katanya.

“Memang aku tak percaya kalau adik rela menyerahkan mutiara itu kepadanya. Kupercaya mutiara itu tentu masih berada dalam tempatnya, bukan?”

“Tentu, tetapi....” Siau-bun tertawa, “sungguh berbahaya sekali pertunjukan tadi. Sekali mereka mengetahui permainanku itu, kita tentu akan menjalani hkuman ngeri!”

“Tetapi memang benar-benar aku tak tahu permainan apa yang adik pertunjukkan tadi?”

Siau-bun tertawa geli, “Sebenarnya jika kuterangkan tentu tak ada hal yang patut diherankan! Selain mustika Ban-lian-liong-cu itu, aku masih mempunyai sebutir mutiara yang serupa besar dan warnanya dengan Ban-lian-liong-cu itu. Pun kudapatnya juga berbarengan waktunya, hanya saja mutiara itu tak berharga sama sekali. Hanya bedanya yang asli itu licin dan yang palsu suram. Mustika yang licin kuberi minyak dan kupasang pada rambutku. Sekalipun Bok lo-cianpwe itu sakti tetapi dia sudah dibikin limbung pikirannya oleh ketua Hek Gak, sehingga tak dapat memperhatikan palsu tidaknya mustika itu.
Pada saat kuterima Ban-lian-liong-cu dari tangan Bok lo-cianpwe, segera kutukar dengan mustika yang palsu. Maka sekali pijat saja hancurlah mutiara itu.....!”

Kini mengertilah Thian-leng mengapa Siau-bun dapat memijat hancur mutiara yang dikira Ban-lian-liong-cu. Makin dalam rasa kagum dan hormat Thian-leng terhadap si nona yang dalam saat-saat menghadapi bencana maut dapat bersikap tenang sekali.

Siau-bun lalu berkata kepada Bok Ceng-ceng, “Adik Ceng, tahukah kau mengapa kubawa kau keluar dari istana Hek Gak.?”

Ceng-ceng mengangguk, “Kini aku tahu apa sebab kakek tak menghiraukan diriku bahkan ada kala begitu membenci dan ingin membunuhku. Setelah terjadi peristiwa ini, ketua Hek Gak tentu akan benci padaku, kemungkinan besar tentu akan membereskan diriku...” habis bekata dara itu segera berlutut di depan Siau-bun dan Thian-leng, ujarnya, “Terimalah hormat dan terima kasihku atas pertolongan tuan berdua!”

Siau-bun buru-buru menilakan bangun, “Jangan terlalu banyak peradatan, aku tak berani menerima kehormatan yang demikian besar.”

Sejenak dara itu melirik pada Thian-leng lalu menanyakan apakah hubungan antara Siau-bun dengan Thian-leng.

Tiba-tiba Siau-bun mencopot kain kepalanya dan tersenyum, “Adik Ceng, lihatlah, aku juga seorang anak perempuan seperti engkau!”

Ceng-ceng memekik kaget dan terlongong-longong.

“Kita berjumpa dalam keadaan menderita kesusahan, berarti kita ini mempunyai jodoh, “ Siau-bun tertawa ramah, ”sekiranya adik tak menolak, aku ingin mengangkat saudara denganmu, entah…..”

“Kalau taci tak menolak diriku, sungguh besar sekali rejekiku!” Bok Ceng-ceng berteriak menukas.

Begitulah maka kedua nona itu segera melakukan upacara sederhana mengangkat saudara. Siau-bun lebih tua setahun dari Ceng-ceng. Selanjutnya kedua nona itu berbahasa taci dan adik. Thian-leng memberi selamat kepada mereka.

Perkenalan singkat yang berakhir dengan angkat saudara itu ternyata memuaskan kedua nona itu. Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Tak putus-putusnya mereka saling menuturkan tentang riwayat hidupnya selama ini. Begitu uplek mereka bercakap-cakap sehingga Thian-leng seolah-olah tak diacuhkan…

“Adik Ceng, apakah kau suka melakukan sebuah hal untukku?” tanya Siau-bun.

Ceng-ceng terbeliak, “Mengapa taci begitu sungkan terhadapku? Silakan taci mengatakan, tentu akan kulakukan sekalipun harus menerjang lautan api!”

Siau-bun tertawa, “Ah, urusan itu tak begitu menyeramkan! Aku hanya minta tolong supaya kau mengantarkan suratku kepada seorang keluarga yang sudah berpisah selama dua tahun!”

“Di mana tempat tinggalnya?” tanya Ceng-ceng.

Siau-bun mendekat dan membisiki telinga adik angkatnya, Ceng-ceng mengangguk.

“Sampai berjumpa,” ia mengambil selamat berpisah dan tanpa mengacuhkan Thian-leng, terus saja ia melangkah pergi.

Thian-leng tercengang, tetapi ia tak mau bertanya.
Siau-bun melirik tertawa, “Aku mempunyai rencana supaya ia pergi. Kau takkan menyalahkan aku bukan?”

“Ah, mengapa adik Bun mengatkan begitu. Aku selalu mengagumi apa yang kau lakukan, apalagi aku tak mempunyai hubungan apa-apa dengan nona itu!”

“Fui, jangan berlagak. Masakah kau dapat melupakannya?” olok Siau-bun.

Diam-diam Thian-leng menghela napas. Ah, wanita, wanita. Masakah baru saja berkenalan sudah dicemburui. Kalau seorang nona yang berpandangan luas seperti Siau-bun masih dihinggapi perasaan begitu, apalagi nona-nona lainnya.

“Ah, aku hanya berolok-olok saja, mengapa kau begitu sungguh-sungguh?” Siau-bun tertawa.

Nona itu segera mengangsurkan sebuah benda. Ketika Thian-leng menyambuti, ia mengerang tertahan.
Kiranya Giok-ti-tho atau peta Telaga Zamrud! Sebelum masuk ke dalam istana Hek Gak, peta itu diserahkan kepada Siau-bun. Maksudnya agar si nona jangan turut masuk ke dlam istana. Apabila dirinya sampai tertimpa musibah. peta itu tetap berada di tangan Siau-bun. Tetapi ternyata si nona nekat ikut.

Kini badai telah berlalu. Mereka selamat dan peta pun kembali......

ooo0000oooo

Lenyap tanpa bekas

“Terserah kau, “ kata Siau-bun ketika menjawab pertanyaan Thian-leng tentang tempat tujuan yang hendak mereka tempuh. Tetapi sekalipun mulut mengatakan begitu, nona itu sudah mendahului ayunkan langkah.

Agak bingung rupanya Siau-bun mengenai tempat yang hendak dituju. Ada tempat yang ia merasa tak leluasa kalau mengajak pemuda itu. Ada pula tempat yang ia sendiri tak suka pergi. Dan yang paling menjadi pemikirannya ialah tentang Lu Bu-song. Bagaimanakah ia nanti menghadapi dara itu apabila bersua kembali.....

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara orang merintih.

“Tidakkah adik Bun mendengar suara rintihan...?”

“Eh, kau ini bagaimana. Dengan ilmu Melihat langit-mendengar bumi, bukan saja mendengar jelas, akupun bahkan dapat melihatnya. Itu kan hanya seorang yang kebetulan lewat di sini merasa tak enak badan maka beristirahat di bawah pohon. Mengapa kita ribut-ribut?” sahut Siau-bun.

Thian-leng tersentak diam. Tetapi baru beberapa tombak jauhnya, ia melihat seorang tua bersandar pada sebatang pohon. Orang itu mendekap perutnya sambil merintih-rintih. Tanpa menghiraukan bagaimana reaksi Siau-bun lagi, terus saja Thian-leng menghampiri tempat orang itu.

“Apakah lo-cianpwe sakit? Perlukah kubantu?” tanyanya.

Orang tua itu terus merintih-rintih. Tubuhnya terhuyung-huyung seperti tak kuat lagi menyandar pada pohon. Buru-buru Thian-leng memapahnya, “Lo-cianpwe, maukah kuajak ke kota terdekat mencari tabib?”

Tiba-tiba orang tua itu meronta dari pegangan si anak muda, “Tak usah., penyakitku ini memang sering kumat, sebentar tentu sembuh!”

Thian-leng mengerutkan dahi. Ia merasa kasihan melihat seorang tua berpenyakitan berjalan seorang diri di malam buta. Tetapi ia terpaksa tak dapat memikirkan diri orang tua itu lebih lanjut, karena Siau-bun tak mengacuhkan sama sekali dan tetap berjalan terus. Sebentar saja nona itu sudah belasan tombak jauhnya.

“Terima kasih.... atas……perhatian ..tuan….. kepadaku… si orang tua ini!” kata si orang tua dengan suara lemah.

Thian-leng hanya dapat menghela napas dan segera meninggalkan orang tua itu. Ternyata Siau-bun lambat sekali jalannya, seperti sengaja hendak menunggunya. Begitu si anak muda tiba, segera ia cebikan bibir dan menertawakannya, “Uh, ternyata kau seorang manusia yang berhati mulia!”

Tak tahu Thian-leng bagaimana harus menanggapi ucapan si nona. Artinya seperti orang memuji tetapi nadanya sinis sekali.

Saat itu hari sudah menjelang terang tanah. Angin terasa dingin. Sesaat kemudian Thian-leng menanyakan apakah si nona tidak dingin.

“Badan memang dingin, tetapi hatiku terasa hangat,” Siau-bun memberi sebuah lirikan kepada pemuda itu. Gelora darah muda telah mendorong si nona menghampiri Thian-leng dan terus menjatuhkan diri di dada. Thian-leng terpaksa menyanggapi. Mereka berjalan sambil berpelukan.

Fajar hampir tiba. Tiba-tiba Thian-leng menjerit kaget, “Celaka!”

“Mengapa?” Siau-bun tersentak kaget.

Wajah Thian-leng tampak pucat, suaranya terbata-bata, “Pe….ta…… i….itu...” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena sibuk menggerayangi seluruh pakaiannya.

“Tenang,” Siau-bun kerutkan dahi,” katakanlah perlahan-lahan.”

Masih Thian-leng banting-banting kaki, “Peta Telaga zamrut....”

“Apa? bagaimana dengan peta itu? Bukankah telah kau simpan dalam bajumu?” Siau-bun gugup.

Thian-leng menghela napas, “Benar, tetapi sekarang tak ada lagi!”

“Apa? Peta itu hilang?” Siau-bun melonjak kaget.

“Tentu jatuh, mari kita balik mencarinya,” seru Thian-leng. Demikianlah keduanya segera balik menyusur sepanjang jalan yang dilaluinya tadi. Kalau thian-leng mati-matian mengamat-amati setiap benda yang tampak menggeletak di jalan, tidak demikian dengan Siau-bun. Nona itu diam-diam sudah membatin. Ia tahu bahwa pencariannya itu tentu akan sia-sia. Tak mungkin sebuah peta pusaka yang sudah disimpan sedemikian hati-hati, dapat jatuh di jalan. Dan andaikata benar-benar jatuh, tentulah juga sudah ditiup angin.

Kurang lebih dua jam lamanya mereka mencari, tetapi tetap tidak berhasil menemukan apa-apa. Saking jengkelnya Thian-leng hendak nekad mati. Siau-bun juga tak kurang gelisahnya. Kalau peta pusaka itu sampai jatuh di tangan orang Hek Gak atau Sin-bu Te-kun, hebatlah akibatnya.

Tiba-tiba Siau-bun mebanting-banting kaki, “Celaka, peta itu tidak jatuh tetapi terang dicuri orang!”

“HA? Dicuri orang?” Thian-leng tercengang. “Sejak keluar dari istana Hek Gak, kita toh belum berjumpa dengan siapa-siapa. Apalagi peta itu kusimpan hati-hati di dalam bajuku, bagaimana bisa dicuri orang...” ia berhenti seketika, seolah-olah seperti orang tersadar, “Adik Bun maksudkan si orang tua berpenyakitan itu tadi?”

“Siapa lagi kecuali dia!” kata Siau-bun dengan nada berat.

Thian-leng pucat. Kalau benar dicuri orang tua itu tentulah sukar mencarinya. Ia tak ingat lagi bagaimana potongan mukanya, kecuali hanya jenggot orang tua itu sudah putih, umurnya sekitar tujuh puluhan tahun, berpakaian seperti orang pertapaan. Tetapi siapa nama dan tempat tinggalnya, sama sekali tak diketahuinya. Jaraknya sudah berselang tiga jam, kemanakah harus mencarinya?

Makin terang pikiran Thian-leng menyoroti diri orang tua itu lebih jauh. Jelas orang itu seorang kaum persilatan yang sengaja berpura-pura sakit. Ia kena dipancing mentah-mentah.

Celaka! Jika orang itu kaki tangan Sin-bu Te-kun atau golongan jahat, bukankah ia berdosa terhadap It-bi siang-jin pencipta peta itu? Makin merenung makin kalaplah Thian-leng...

Siau-bun menghela napas, “Sekarang bukan saatnya mengeluh. Yang penting kita harus berdaya!”

“Bagaimana caranya?” Thian-leng menukas.

“Kalau begitu apakah kau hendak mati saja?” Siau-bun menyentil tajam, “putus asa berarti membunuh semua daya upaya!”

Kata-kata itu membuat Thian-leng tergerak. Ia membenarkan si nona. Sekalipun bunuh diri, urusan itu tetap tak tertolong. Akhirnya ia menanyakan pendapat si nona.

Kata Siau-bun, “Bahwa It-bi siangjin telah meninggal di gunung Thay-heng-san dengan menyembunyikan kitab pusakanya, telah diketahui lama oleh orang persilatan!”

Thian-leng mengiyakan, “Benar, tetapi Thay-heng-san demikian luasnya, apakah kita harus menggali tiap jengkal tanahnya! Kalau tidak sesukar itu, tentulah kitab itu tak berharga!”

“Apakah tujuan orang yang mencuri peta itu?” tiba-tiba Siau-bun menyeletuk.

“Sudah tentu hendak meyakinkan isinya!”

“Kalau begitu, dia tentu akan menuju ke gunung Thay-heng-san…..”

“Oh…. “ Thian-leng mengerang.

“Masih ingatkah kau akan wajahnya?”

“Hanya samar-samar, tetapi kalau berjumpa muka tentu dapat mengenalnya!”

Siau-bun menghela napas, “Sekalipun tipis harapannya, tetapi tiada jalan lain!”

“Jadi adik Bun Juga.....”

“Sudah tentu aku pergi, ayo berangkat sekarang juga!”

oo000oo

Liu-ke-cip merupakan sebuah kota kecil di kaki gunung Thay-heng-san. Perdagangan kota itu cukup ramai karena merupakan pusat lalu lintas keluar masuk gunung Thay-heng-san.

Sepasang muda-mudi tampak berjalan perlahan-lahan memasuki Liu-ke-cip. Kecakapan si pemuda dan kecantikan si pemudi memikat orang-orang yang berada di jalan. Tetapi mereka tak menghiraukan perhatian orang-orang. Si pemuda tampak murung wajahnya, si pemudi bersikap diam. Mata si pemuda tak henti-hentinya berkeliaran memandang orang-orang yang ditemuinya. Tetapi selalu kecewa.

Tiba-tiba seorang pengemis tua lewat di samping pemuda itu dan berhenti. Ketika pengemis itu melihat thong-pay (lencana tembaga) yang terpampang pada dada si pemuda, ia terbeliak kaget. Setelah memandang ke sekeliling, barulah pengemis itu mendekati si pemuda, bisiknya, “Bolehkan aku bicara sebentar pada tuan?”

Gerak-gerik pengemis itu memang telah diperhatikan si pemuda. Si pemudipun serentak gunakan ilmu menyusup sura bertanya kepada kawannya, “Apakah orang ini?”

“Bukan,” pemuda itu gelengkan kepala. Kemudian ia minta si pengemis menjelaskan semuanya.

Pengemis tua tampak gelisah, ujarnya, “Tetapi di sini kurang leluasa bicara, sebaiknya......”

Sejenak pemuda itu melirik ke arah si pemudi, lalu anggukkan kepala, “Baiklah silakan menunjukkan tempatnya.”

Pengemis itu bersikap menghormat sekali. Ia segera berjalan lebih dahulu. Tak berapa lama kemudian mereka tiba di luar kota dan masuk ke dalam sebuah biara tua. Karena terlantar, biara itu menjadi pusat tempat tinggal kaum pengemis.

Arca-arca dalam biara itu jungkir balik berserakan tak teratur. Sarang galagasi tampak di mana-mana, tetapi pada meja sembahyang terdapat sebuah lampu yang masih memancarkan cahaya redup.

“Katakanlah apa maksud bapak ini,” kata si pemuda.

“Terlebih dahulu hamba mohon tanya nama tuan?” jawab si pengemis dengan nada menghormat.

“Aku Bu-beng-jin, “ sahut si pemuda yang bukan lain ialah Thian-leng.

Pengemis itu terbeliak, “Lencana Kiu-pang tong pay yang Bu-beng siauhiap bawa itu, entah berasal dari mana?”

“Jadi bapak membawa kami kemari ini, untuk urusan itu?” tegur Thian-leng.

Lencana yang tergantung pada lehernya itu adalah pemberian Thiat-ik-sin-kay ( pengemis sakti berbulu besi ) Auyang Beng. dia tak menaruh perhatian kepada benda itu, maka tanpa disadari digantungnya lencana itu pada lehernya. Sama sekali tak disangkanya bahwa benda itu telah menimbulkan perhatian pengemis tua itu.

Seketika wajah pengemis tua itu berobah gelap, serunya, “Ya, harap siauhiap....”

“Lencana ini pemberian seorang cianpwe. Jika bapak suka pada benda ini, ambillah...”

“Tidak.. .tidak!” pengemis tua itu tersipu-sipu menolak. “ Hamba tak berani mengambilnya….. tetapi sukalah siauhiap memberitahukan nama cianpwe itu?”

“Orang she Auyang bernama Beng, Orang persilatan memberi gelar nama Thiat-ik-sin-kay. Kenalkah bapak padanya?”
Tiba-tiba pengemis itu bercucuran air mata dan serentak jatuhkan diri berlutut seraya berseru nyaring, “Murid Kay-bun yang menjabat ketua Letong, yakni Lau Gik-siu menghaturkan hormat kepada ketua!”

“Apa?.... jangan berolok-olok!” Thian-leng berseru kaget.

Pengemis tua itu tak menghiraukan jeritan si anak muda dan berseru dengan nada bengis, “Ketua telah datang, mengapa kalian tak lekas-lekas memberi hormat!”

Terdengarlah suara pekik bergemuruh dan berpuluh-puluh pengmis tampak muncul dari balik ruang, mereka serempak berlutut di hadapan Thian-leng dan berseru, “Kami sekalian menghaturkan hormat kepada ketua!”

Thian-leng bingung tak keruan. Tak tahu ia bagaimana harus menghadapi puluhan pengemis itu. Ia banting-banting kaki.

“Ah, wajiblah kuberi selamat padamu, ih, ternyata kau juga seorang ketua!”Siau-bun tertawa ringan.

“Hai, mengapa kau juga memperolok diriku………….” Thian-leng makin kelabakan. Tiba-tiba ia ingat akan kecerdikan si nona. Ditatapnya nona itu dengan pandangan minta bantuan, “Bagaimana nih, “ ia tertawa masam.

“Kan baik?” Siau-bun tertawa

Melihat si nona tetap berolok, segera Thian-leng menarik Lau Gik-siu bangun, bentaknya, ”Apa-apaan ini? Lekas terangkan yang jelas, atau aku segera tinggalkan tempat ini!”

Lau Gik-siu kembali menjura dengan hormat sekali, ujarnya.”Apakah ketua tahu di mana berjumpa dengan Thiat-ik-sin-kay?”

“Tolol, aku bukan ketua kalian. Aku tak peduli siapa itu Thiat-ik sin-kay!”

“Tetapi sekarang kau adalah ketua kami!” Lau Gik-siu berkata dengan yakin.

“Mengapa?”

“Karena kau sudah menerima lencana Kiu-pang thong-pay dari kakek guru kami!”

“Kiu-pang-thong-pay Thiat-ik Sin-kay, aku tak peduli! Jika karena gara-gara lencana ini, sekarang aku kembalikan saja kepadamu!” Thian-leng terus menarik lencana dari lehernya, diberikan kepada Lau Gik-siu.

Tiba-tiba Siau-bun menepuk bahu Thian-leng,”Tak dapatkah kau menimbang lagi?”

Thian-leng menarik pulang tangannya. Dilihatnya nona itu memberinya sebuah lirikan yang memperbesar semangat. Rupanya nona itu tak menentang atas dijadikannya Thian-leng sebagai ketua partai pengemis.

Akhirnya ia geleng-geleng kepala dan menghela napas. Gerutunya seorang diri, “Mengapa nasibku penuh dnegan peristiwa-peristiwa aneh....”

“Eh, apa kau hendak membairkan mereka berlutut terus?” tegur Siau-bun.

Memang saat itu berpuluh-puluh pengemis masih berlutut di hadapannya. Terpaksa ia menyuruh mereka bangkit. Merekapun menurut dan berdiri di samping.

“Murid telah menerima berita rahasia yang dibawa burung. Kakek guru Thiat-ik-sin-kay menyuruh kami beramai-ramai menunggu di sini untuk menyambut kedatangan ketua baru. Ternyata hal itu benar.” kata Lau Gik-siu.

“Apakah kedudukan Thiat-ik-sin-kay dalam partai kay-pang?” buru-buru Thian-leng minta keterangan.

“Ahli waris dari angkatan yang dulu, tetapi kini menjadi kakek guru kaum kami!”

“Lalu kemana ketuamu itu?”

“Beberapa hari yang lalu telah menigngal dunia di bawah lambaian Panji Tengkorak Darah!”

“Panji Tengkorak Darah?”

“Ya, atau berarti mati di tangan Hun-tiong Sin-mo!”

“Kaum jembel tersebar di seluruh negeri. Pengaruhnya tentu besar, masakah tak dapat memeriksa berita yang palsu dan benar?”

Lau Gik-siu tertegun, ”Maksud nona...?”

“Panji Tengkorak darah itu palsu!” Siau-bun berseru pula dengan tegas.

“Palsu?”

“Ya. Hanya bikinan dari orang Sin-bu-kiong belaka. Untuk mengelabui mata dunia persilatan. Dia memfitnah Hun-tiong Sin-mo agar dibenci oleh dunia. Kemudian dapatlah ia mengeduk keuntungan dari kekeruhan itu. Memang dia telah mainkan sebuah tipu muslihat yang luar biasa pintarnya!”

Seluruh mata pengemis ditumpahkan ke arah Thian-leng. Seolah-olah mereka hendak meminta tanggapan Thian-leng.

“Ya, memang benar!” tanpa ragu-ragu Thian-leng serentak memberi pernyataan.

Terdengar gemuruh sorak para pengemis, “Mohon ketua suka memberi keputusan untuk membalaskan sakit hati mendiang pangcu!”

“Tentu…. “ tiba-tiba ia tertegun sejenak, “atas kepercayaan Thiat-ik-sin-kay dan dukungan saudara-saudara sekalian, aku akan mencurahkan segenap tenaga untuk membalaskan sakit hati almarhum ketua kalian!”

Terdengar tempik sorak gegap gempita. Dari pernyataan itu jelaslah bahwa Thian-leng sudah menerima pengangkatannya sebagai ketua Kaypang. Ternyata pengemis-pengemis
yang berkumpul di situ adalah ketua-ketua daerah dari berbagai tempat. Atas petunjuk Thiat-ik-sin-kay, mereka berbondong-bondong menuju ke gunung Thay-heng-san menunggu kedatangan ketua baru.

Tetapi perhitungan Thiat-ik-sin-kay itu meleset sedikit. Dia memperhitungkan di kala
Thian-leng tiba di gunung Thay-heng-san itu tentu sudah memperoleh kitab pusaka dan harta karun. Siapa tahu ternyata peta itu telah hilang dan kedatangan Thian-leng hanyalah hendak menyelidiki jejak si orang tua yang telah mencuri peta.

Tiba-tiba Siau-bun gunakan ilmu menyusup suara membisiki Thian-leng, “Anggota Kay-pang tersebar luas di seluruh negeri. Pengaruhnya tentu luas sekali. Oleh karena kini kau telah menjadi ketua mereka, mengapa tak memberitahukan kehilangan peta itu kepada mereka dan memerintahkan mereka mencarinya?”

Thian-leng anggap pernyataan nona itu tepat. Segera ia menarik Lau Gik-siu ke samping dan membisikinya perlahan-lahan. Wajah Lau Gik-siu berobah membesi. Pengemis tua itu mengangguk-angguk, “Murid segera akan menyebar pengumuman ke seluruh daerah. Begitu ada berita tentu akan segera memberi laporan pada pangcu.... Tetapi saat ini pangcu hendak pergi ke.....?”

“Aku hendak menjelajahi gunung ini. Urusan partai yang penting-penting untuk sementara ini kaulah yang mengurusi.” sahut Thian-leng.

Serta-meta Lau Gik-siu mengiyakan. Ia berlutut di hadapan Thian-leng diikuti oleh berpuluh-puluh pimpinan cabang kay-pang di daerah-daerah. “Memujikan pangcu selalu diberkahi keselamatan dalam perjalanan!”

Thian-leng tak tahu harus bertindak bagaimana menyambut penghormatan itu. Akhirnya ia mnyuruh mereka bangun, kemudian mengajak Siau-bun meninggalkan biara itu. Mereka hendak buru-buru mencapai puncak gunung untuk menikmati pemandangan matahari terbit.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melesat ke dalam hutan. Gerakannya gesit sekali, pasti seorang tokoh persilatan.

“Adik Bun, tolong gunakan ilmu Melihat-langit-mendengar-bumi.”

“ Hanya karena seorang ya-heng-jin ( orang persilatan yang berjalan tengah malam) lantas menggunakan ilmu tersebut, sungguh keterlaluan.”
Tetapi kata-katanya itu terputus oleh terdengarnya jeritan ngeri menyayat hati yang berasal dari arah hutan. Itulah jerit pembunuhan!

Cepat sekali Thian-leng segera ajak Siau-bun. Bahkan ia sudah mendahului loncat menuju ke dalam hutan. Begitu tiba, hidungnya mencium bau darah…..

“Jangan kesusu! Hati-hati terhadap perangkap orang!” Siau-bun memberi peringatan dengan ilmu menyusup suara.

Thian-leng mencabut pedang dan berjalan dengan hati-hati. Apa yang dilihatnya membuat bulu romanya berdiri….

Di tengah hutan situ tampak belasan mayat berserakan mengerikan. Hampir Thian-leng muntah karena tak tahan baunya. Mayat-mayat itu tak utuh, tangan, kaki, lengan, paha, badan dan kepala mereka hancur lebur, ada yang terpisah badan. Usus dan otak berhamburan keluar. Ya, pendeknya mayat-mayat itu seperti dicincang-cincang sehingga tak dapat dikenali lagi.

Tiba-tiba Thian-leng melihat ada seorang yang sekalipun tubuhnya sudah tak keruan tapi dadanya masih berkembang kempis tanda masih bernapas. Buru-buru dihampirinya orang itu. Seorang muda yang cakap. Keadaannya payah sekali, tetapi ia masih dapat paksakan dirinya brseru, “Di muka puncak Co-gan-hong…..!” Habis mengucapkan, orang itu pingsan tak ingat diri lagi.

Thian-leng menempelkan tangannya ke perut orang itu. Ia menyalurkan tenaga dalamnya untuk menolong. Tak berapa lama orang itupun dapat menghela napas lagi.

“Apa maksudmu tadi?” tegur Thian-leng.

Dengan susah payah, orang itu berkata, “Pertempuran besar segera terjadi. Ketua kami di…… kurung oleh beberapa orang tak dikenal………lekas….lekas bantu!”

Thian-leng tercengang. Ia berpaling kepada Siau-bun. Nona itupun tampak mengerutkan dahi. Thian-leng menyalurkan tenaga dalamnya lagi kepada orang itu. Setelah orang itu sadar lagi, buru-buru ditanyanya, “Siapakah mayat-mayat ini. Siapa yang membunuhnya?”

“Orang-orang partaiku....”

“Apa partai perguruanmu itu?” tanya Thian-leng.

Orang itu sudah tak kuat lagi, namun hatinya keras sekali. Dengan seluruh sisa tenaganya, ia membuka mata dan memandang Thian-leng.

Thian-leng tak tahu apakah orang itu dapat melihatnya jelas, tetapi yang jelas ia mendengar mulut orang itu mengucapkan beberapa patah kata lemah, “ Tiam...jong.....”

“Tiam-jong?” tiba-tiba Siau-bun melonjak kaget. Demikian pula Thian-lengpun tak kurang kagetnya. Teringat ia akan si Jenggot Perak ketua Thiat-hiat-bun yang mengundang sekalian orang gagah datang ke gunung Tiam-jong-san. Teringat juga betapa ketua Sin-bu-kiong telah menyatakan bahwa dalam tiga hari nanti ia akan ngeluruk ke Tiam-jong-san.

Dan saat ini anak buah Tiam-jong-pay telah dibunuh musuh yang tak dikenal dan ketua merekapun telah dikurung oleh orang! Thian-leng meminta penjelasan lagi, tapi ternyata orang itu sudah putus nyawanya......

Wajah Siau-bun berobah pucat sekali. Jelas bahwa ia sangat dipengaruhi oleh kejadian saat itu. Buru-buru ia mengajak Thian-leng, “Ayo, cepat ke Co-gan-hong!”

“Di manakah letak puncak itu?” tanya Thian-leng.

“Masakah kau lupa akan ilmuku Melihat-langit-mendengar-bumi…..” dan tanpa menunggu jawaban si anak muda lagi, Siau-bun terus lari mendahului.

Tampaknya Siau-bun paham sekali akan jalan di gunung itu. Kira-kira berlari satu li, tampak sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi ke langit.

“Tentu puncak Co-gan-hong, “ kata Siau-bun.

Thian-leng melihat puncak itu penuh dengan lereng dan tebing yang curam, tetapi tak tampak barang seorangpun di sana. Siau-bun membaringkan diri memasang telinga.

“Bagaimana?” tanya Thian-leng.

Siau-bun mengerutkan dahi, “Aneh, seluas limapuluhan tombak tak terdengar suara orang!”

Tetapi ucapannya itu terputus oleh suara tertawa nyaring bernada sinis. Siau-bun dan Thian-leng tersentak kaget. Orang itu muncul tanpa suara sama sekali. Dan serentak dengan tertawa itu, orangnya pun terdengar berseru mengejek, “Oho, jangan-jangan ilmumu Melihat langit mendengar bumi tak mempan lagi!”

Kedua muda mudi itu cepat memutar ke arah datangnya suara. Ah, seorang lelaki bertubuh kurus pendek dalam pakaian merah yang berlapis mantel biru. Dia memelihara jenggot kambing.

Sin-bu Te-kun!

Thian-leng segera meraba pedangnya. Ia siap sedia menghadapi momok itu. Namun Sin-bu Te-kun hanya ganda tertawa, “Buyung, apakah hal yang paling dihormati kaum persilatan?”

Thian-leng malu dan marah sekali. Tahulah ia di mana jatuhnya perkataan orang. Seketika merah padamlah air mukanya.....
oooo00000oooo

Empat Serangkai

Siau-bun tertawa hina, “Baiklah aku mewakilinya berbicara. Yang paling dihormati kaum persilatan ialah kepercayaan dan kebajikan. Benar tidak?”

Sin-bu Te-kun tertegun. Matanya berkilat-kilat menyapu si nona. Pada lain kilas ia tertawa membatu, “Nona seorang yang tangkas bicara, tak kecewa menjadi ratu kembang, pendekar wanita.”

“Ah, jangan kelewat memuji… ”

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun alihkan pandangan ke arah Thian-leng, “Buyung, eh, Bu-beng-tay-hiap, setujukah kau dengan kata-kata nona tadi?”

Wajah Thian-leng membesi. Rasa malu bercampur marah membuatnya tak dapat bicara.

“Bu-beng-tay-hiap tak suka menerima budi orang, anggaplah aku yang mewakilinya bicara!” Siau-bun tertawa tawar.

“Akan kudengarkan dengan khidmat!” ejek Sin-bu Te-kun.

Sejenak Siau-bun melirik Thian-leng lalu berkata dengan tenang, “Bukan saja menjunjung kepercayaan dan kebajikan, Bu-beng-tay-hiap pun paling konsekwen melaksanakan kedua hal itu!”

Sin-bu Te-kun mendelikkan mata kepada Thian-leng. Tiba-tiba ia tertawa nyaring. Seketika berhamburan dering ringkik bagai petir menyambar anak telinga. Kumandangnya menggelegar ke seluruh lembah…..

“Setan tua, pertandingan seratus jurus itu hanya tipu muslihatmu belaka….!” tiba-tiba Thian-leng membentaknya.

“Taruh kata benar suatu tipu muslihat, mengapa kau sampai kena tertipu? Apakah kau seorang anak kecil atau kau menyesal sekarang?” Sin-bu Te-kun tertawa hina.

“Apakah aku menyatakan menyesal? Seorang lelaki sekali berkata tentu tak mau menjilatnya lagi. Apalagi aku sudah bersumpah kepada langit….”

“Kalau begitu, sepuluh jurus yang terakhir…….?”

“Kau sudah sedia melanjutkan ?” Thian-leng menjamah pedangnya.

Sin-bu Te-kun tertawa sinis. Ia lingkarkan jari telunjuknya ke arah tanah dan terbentuklah sebuah lingkaran di tanah. Tubuhnya yang kecil kurus berada di tengah lingkaran.

“Aku sudah siap!”

Diam-diam Thian-leng telah mengambil keputusan. Jika dalam sembilan jurus ia tak berhasil merebut kemenangan, maka satu jurus terakhir akan digunakan untuk membunuh diri. Betapapun halnya, ia tak sudi jatuh ke tangan Sin-bu Te-kun.

Tiba-tiba terdengar suara Sin-bu Te-kun dalam ilmu menyusup suara, melengking di telinga Thian-leng, “Buyung, hendak kugunakan sepuluh jurus ilmu silat yang paling sakti untuk menghindari seranganmu. Harap kau perhatikan dengan seksama. Mungkin di kemudian hari akan banyak berguna padamu!”

Thian-leng tergerak hatinya. Teringat ia ketika melakukan pertempuran sembilan puluh jurus dengan Sin-bu Te-kun tempo hari. Banyak sekali ilmu pelajaran silat yang aneh dan sakti telah didapatnya dari raja Sin-bu-kiong itu. Dan ketika berada dalam penjara Cui-lo, Nyo Sam-kui berpesan dengan wanti-wanti agar ia suka melatih ilmu pelajaran dari Sin-bu Te-kun itu.
Dan kini kembali Sin-bu Te-kun menyuruh ia memperhatikan jurus-jurusnya. Jelas bahwa momok itu sengaja hendak menurunkan pelajaran padanya. Ah, sungguh aneh!

Tiba-tiba ia teringat bagaimana Lu Bu-song memutuskan perundingannya dengan Sin-bu Te-kun untuk menetapkan perjanjian seratus jurus pertempuran itu. Apakah Sin-bu Te-kun benar-benar bermaksud hendak mengambilnya sebagai ahli waris?

Ah, tidak, tidak……

“Ayo, mulailah buyung!” tiba-tiba Sin-bu Te-kun membentaknya.

Thian-leng tersentak kaget dari lamunan. Ternyata walapun tangan sudah menjamah pedang, tetapi tak segera dicabut. Cepat ia mencabut pedang dan segera hendak menyerang. Tetapi secepat itu juga Siau-bun membentaknya perlahan.

“Hai, perlu apa kau turut campur?” bentak Sin-bu Te-kun dengan murka.

Siau-bun tersenyum, “ Memang tak ada hubungan apa-apa. Aku tak mau merintangi kalian melanjutkan pertempuran, tetapi aku perlu memperingatkan dulu pada Bu-beng-tay-hiap!”

Thian-leng tertegun, serunya kemudian, “Seorang lelaki tak serakah hidup, tak gentar mati. Karena aku sudah terlanjur berjanji, maka tak ada jalan lain kecuali harus menempurnya. Jika gagal kematianlah yang menjadi bagianku. Tak nanti aku sudi jatuh ke tangan setan tua itu!”

Siau-bun gelengkan kepala, “Justru hal itu yang hendak kuingatkan kepadamu. Sekalipun kau sudah bertekad begitu, tetap kau tak kenal siapa lawanmu itu. Sekali sudah menghendaki mengambil kau sebagai murid, maukah ia membiarkan kau bunuh diri?”

Nona itu berpaling kepada Sin-bu Te-kun, “Maaf karena menelanjangi rencanamu. Kau tentu tahu ia tak sudi menjadi muridmu dan akan bunuh diri. Tetapi dengan kepandaianmu kau pasti dapat mencegahnya. Dengan selesainya pertandingan seratus jurus itu, tentu kau yakin dia akan menurut perintahmu.”

Thian-leng tersentuh hatinya. Diam-diam ia mengakui ucapan si nona itu memang benar. Memang mudah sekali bagi Sin-bu te-kun hendak mencegah ia bunuh diri.

Dalam pada itu tampak Sin-bu Te-kun marah sekali, serunya mengekeh, “Anggaplah ucapanmu itu benar, lalu bagaimana……” ia melirik tajam kepada Thian-leng, serunya, “Apakah kau hendak membatalkan pertandinagn ini?”

Thian-leng terpaku tak dapat bicara.

Siau-bun tertawa mengejek, “Kau mau menghabiskan urusan ini atau tidak, Bu-beng-tay-hiap kelak tetap akan mencarimu untuk membikin perhitungan ….”

Tergerak sekali semangat Thian-leng mendengar ucapan itu. Dia telah menyanggupi Oh-se Gong-mo untuk menuntut balas pada Song-bun-kui-mo atau Sin-bu Te-kun sekarang…. Tetapi ia kalah sakti dengan musuh itu dan kini masuk ke dalam perangkapnya. Tidak hidup juga tidak mati….

“He, he…” Sin-bu te-kun mengekeh tertawa, “Ucapan nona memang tepat sekali, lalu….”

“Sisa pertandingan ini diundur lagi sampai lain waktu!” Siau-bun cepat menanggapi.

Thian-leng terkesiap. Tempo hari Lu Bu-song pun mencegah diteruskannya sisa sepuluh jurus itu. Sekarang Siau-bun pun demikian.

Sin-bu te-kun marah sekali, “Seharusnya pertandingan seratus jurus itu diselesaikan pada saat itu juga. Toh sudah diundur sekali, rasanya sukar untuk menundanya lagi.....” cepat ia berpaling kepada Thian-leng dan berseru menantang, “Hai, Bu-beng-tay-hiap, mengapa tak segera menyerang?”

Merah padam muka Thian-leng tetapi segera ia menyahut lantang, “Saat ini aku tak mempunyai selera bertempur, maka harus....”

“Toh baru diundur satu kali masakah tak boleh sekali lagi....” Siau-bun tertawa.

“Salahmu mengapa kau lalai pada waktu permulaannnya!” kata Sin-bu Te-kun kepada
Siau-bun.

“Dalam sumpah, tak diterangkan bahwa pertandingan harus diselesaikan dalam satu saat. Tak disebutkan pula kalau hanya boleh diundur satu kali!” sahut Siau-bun.

Marah Sin-bu Te-kun bukan kepalang. Ia tertawa meringkik, “Kalau begitu, jangan salahkan aku seorang yang ganas…”

“Mau apa kau?” tegur Siau-bun.

Sin-bu Te-kun mendesah. “Akan kucincang tubuhmu lebih dahulu, baru nanti kulanjutkan pertempuran dengan budak itu!”

Siau-bun tertawa nyaring. “Oh, jadi kau hendak bertempur melawan aku!”

“Terhadap seorang budak perempuan seperti kau, tak perlu menggunakan kata-kata bertempur. Jika mau membunuhmu adalah semudah membalikkan telapak tanganku ini!” seru Sin-bu Te-kun dan tanpa tampak bergerak, tiba-tiba ia sudah melesat ke hadapan Siau-bun. Kelima jari tangannya segera dicakarkan….

Bukan main terkejutnya Thian-leng. Sekalipun ia tahu kepandaiannya kalah jauh dengan Sin-bu Te-kun, namun untuk menolong Siau-bun ia tak segan mengadu jiwa. Dengan sepenuh tenaga ia siapkan Lui-hwe-sin-ciang dengan tangan kiri, sedang tangan kanan siap mencabut pedang.

Tetapi anehnya Siau-bun tampak tenang-tenang saja. Bahkan sama sekali tak mengacuhkan Sin-bu Te-kun.
Nona itu tertawa hambar, “Sayang saat ini aku tak gembira bertempur dengan engkau. Apalagi kuperhitungkan kau tentu tak berani membunuhku!”

Kata-kata gagah itu membuat Sin-bu Te-kun tertegun, serunya geram,”Kau sudah yakin? Bagaimana kau tahu aku akan memberi ampun kepadamu?”

“Siapa sudi menerima pengampunanmu?” Aku hanya mengatakan bahwa pada saat ini kau tentu tak berani membunuhku!” kata Siau-bun.

Ucapan nona itu ditutup dengan menaburkan tangannya ke udara. Seutas sinar merah segera menghambur. Cepat sekali Sin-bu Te-kun sudah menyambut benda yang dilontarkan si nona itu. Hanya yang jelas benda itu bukanlah sejenis senjata rahasia. Tetapi untuk keheranannya begitu memeriksa benda itu terbeliak mata Sin-bu Te-kun..

“Kau ternyata......” mulutnya terbuka.

Thian-leng tak dapat mendengar apa yang dikatakan Sin-bu Te-kun lebih jauh, karena pada saat itu juga Siau-bun segera mengajaknya pergi,” Jangan lupa tujuan kita, ayo kita berangkat!”

Sekalipun menurut ajakan si nona, namun Thian-leng tak mau tinggalkan kewaspadaan. Ia terus memandang lekat-lekat kepada Sin-bu Te-kun sembari melangkah mundur. Aneh sekali Sin-bu Te-kun sama sekali tak merintanginya.

Tiba-tiba raja Sin-bu-kiong itu berseru sinis, “Kasih tahu pada ibumu, keputusanku untuk menguasai dunia persilatan sudah lenyap! Jika dia mau bekerja sama, tentu kubagi rata kedudukan itu, tetapi kalau tidak.....”

Thian-leng hanya samar-samar menangkap arti kata-kata itu, tapi ia tak sempat merenungkan lebih jauh karena ia sudah diseret sampai tujuh delapan tombak jauhnya oleh Siau-bun.

“Apakah yang kau lemparkan tadi sehingga membuat ia......” ia hendak minta keterangan.

“Saat ini kita berada dalam kepungan orang Sin-bu-kiong,” Siau-bun memutus, “iblis tua itu setiap saat dapat berobah haluan. Lebih baik kita lekas pergi dari sini!”

Thian-leng terpaksa menurut. Dalam beberapa kejap saja, mereka sudah tiba di dalam sebuah hutan di kaki gunung. Suasana malam sunyi sekali.

Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara,”Tempat ini tampaknya sunyi senyap, tetapi sebenarnya penuh dengan naga dan harimau!”

Diajaknya Thian-leng bersembunyi di sebuah gerumbulan pohon. Diam-diam Thian-leng heran mengapa ia tak melihat barang seorangpun manusia. “Apakah tempat ini benar Co-gan-hong?” tanyanya.

Siau-bun mengiyakan.

“Katanya ketua Tiam-jong-pay dikepung di sini, tetapi mengapa sepi-sepi saja, apakah….”

“Memang seperti orang Sin-bu-kiong yang mengepung, tetapi kurasa pertempuran ini tidak terbatas hanya antara Tiam-jong-pay dengan Sin-bu-kiong saja…..”

“Oo, masih ada lain partay…”

“Tunggu saja sebentar lagi…!”

Thian-leng tak habis herannya. Banyak nian keanehan yang dijumpainya. Tiba-tiba dari dalam hutan muncul lima sosok bayangan hitam. Gerakan mereka gesit sekali, tentulah jago-jago silat yang sakti.

Karena mencurahkan pandangannya kepada Sin-bu Te-kun, maka Thian-leng tak dapat melihat jelas kelima bayangan itu. Ia menanyakannya kepada Siau-bun.

“Akupun tak tahu golongan mana mereka itu,” jawab Siau-bun, “tetapi yang jelas di hutan ini penuh tokoh-tokoh persilatan dari segala penjuru dunia....”

“Mengapa aku tak dengar apa-apa? Apakah karena kau menggunakan ilmu Melihat-langit-mendengar bumi….. ”

“Tetapi sampai saat inipun aku tak mendengar apa-apa,” sahut Siau-bun, “ini membuktikan mereka itu memiliki kepandaian sakti. Dan lagi karena terhalang lamping gunung, sehingga tak mudah tertangkap suaranya…. ”

“Bagaimana, apa sudah kedengaran apa-apa?” tanya Thian-leng sesaat kemudian.

“Sekeliling penjuru ini penuh dengan orang. Entah apakah yang mereka tunggu,” kata Siau-bun, “Celaka, kedatangan kita mungkin sudah diketahui, lebih baik…..”

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba kelima sosok bayangan tadi melesat keluar dari hutan. rupanya mereka bertemu rintangan.

“Sahabat manakah yang di depan itu?” salah seorang berseru dengan nada berat.

Terdengar suara sahutan disertai tawa dingin, “Mengapa bukan kau yang melapor dirimu terlebih dahulu?”

Kelima orang itu terbeliak. Orang yang berseru tadi kembali berseru pula, “Kami adalah orang Sin-bu-kiong, mohon tanya siapa saudara?”

“Thiat-hiat-bun!” sahut suara itu.

Kelima orang itu mengeluh kaget dan menyurut langkah, “Thiat-hiat-bun sudah datang?”

Sebagai jawaban, sebuah pukulan dilayangkan. Kelima orang itu sama sekali tak menyangka. Mereka menangkis kalang kabut, namun tetap harus terhuyung-huyung beberapa langkah. Pukulan orang Thiat-hiat-bun itu keras sekali.

“Ha,ha, ha,, murid-murid Sin-bu-kiong hanya gentong kosong semua. Masakah dengan kepandaian begitu berani unjuk muka di sini?” orang Thiat-hiat-bun itu tertawa mengejek.

Thian-leng dan Siau-bun terkejut girang. Buru-buru mereka mencuri lihat. Di sebelah sana tampak kelima orang Sin-bu-kiong itu tengah berhadapan dengan seorang lawan yang menyebut dirinya Thiat-hiat-bun. Dia seorang tua dalam jubah pertapaan. Sikapnya berwibawa.

Tiba-tiba dari dalam hutan melesat keluar lagi tiga orang yang menggabung di sebelah orang tua itu. Salah seorang segera menegur rombongan orang Sin-bu-kiong.” Di mana Poh-ih-siu Li ciangbun sekarang?”

Setelah menenangkan diri, kelima orang Sin-bu-kiong itu segera menyahut. “Sayang kalian datang terlambat. Dia sudah menyerah!”

Marah sekali keempat orang Thiat-hiat-bun itu. Serempak mereka membentak seraya menghantam, “Kalau begitu kamu harus mengganti jiwa!”

Seorang Thiat-hiat-bun saja sudah cukup ngeri, apalagi empat orang. Kelima orang Sin-bu-kiong mundur seraya memberi isyarat tangan, “Tahan dulu!”

Keempat orang Thiat-hiat-bun itu hentikan pukulannya, “Lekas bilang!”

“Mohon tanya nama saudara-saudara?”

Orang Thiat-hiat-bun tertawa, “Pernahkah kamu dengar tentang Thiat-hiat Su-kiat?”

“Thiat-hiat Su-kiat?” kelima orang Sin-bu-kiong menjerit kaget dan buru-buru hendak melarikan diri. Thiat-hiat Su-kiat artinya Empat pahlawan partai Thiat-hiat-bun.

Tetapi Thiat-hiat Su-kiat bergerak secepat kilat. Terdengar deru angin bagai gunung roboh menyambar kelima orang itu. Orang Sin-bu-kiong pun terpaksa mengadakan perlawan. Mereka sebenarnya juga jago kelas satu dalam istana Sin-bu-kiong. Tetapi terhadap keempat Su-kiat, jauhlah kepandaiannya. Dalam waktu singkat, kelima orang Sin-bu-kiong itupun tercancam maut.

Tiba-tiba sesosok bayangan merah melesat. Seorang tua bertubuh kecil kurus melayang dari udara dan menangkis serangan keempat Su-kiat. Bum….terdengarlah letusan dahsyat dan debu berhamburan….

Keempat Su-kiat itu tersentak kaget. Mereka dapatkan selain luar biasa kuatnya, tenaga pukulan orang tua pendek itupun mengandung tenaga Imhan ( dingin ), yang menusuk sampai ke tulang, sehingga menyurutkan tenaga keempat Su-kiat sampai beberapa bagian. Penyurutan tenaga itu membuat kuda-kuda kaki mereka tergempur mundur beberapa langkah.

Pendatang baru itu bukan lain Sin-bu Te-kun sendiri. Tetapi dia juga tak terlepas dari rasa kaget. Sejak mempelajari ilmu kesaktian dari kitab Im-hu-po-tian, ia anggap dirinya tiada yang menandingi lagi. Tetapi diam-diam ia masih kuatir terhadap partai Thiat-hiat-bun.

Peristiwa si jenggot Perak Lu Liang-ong mengacau istana Sin-bu-kiong belum cukup meyakinkan Sin-bu Te-kun tentang kepandaian orang Thiat-hiat-bun. Dia belum bertempur resmi dengan ketua Thiat-hiat-bun. Bahwa ternyata keempat Thiat-hiat Su-kiat yang tentunya lebih rendah kepandaiannya dari ketua Thiat-hiat-bun, mampu menahan pukulannya dan bahkan adu pukulan itu membuat darahnya bergolak-golak, benar-benar membuat Sin-bu Te-kun terkejut bukan kepalang.

Seketika berkobarlah nafsu membunuh dalam hatinya. Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam dan berdiri tegak. Begitu keempat Su-kiat maju menyerang, hendak ia sambut dengan pukulan Hiam-im-ciang yang ganas sekali.

Thiat-hiat Su-kiat pun termangu heran. Mereka diperintahkan oleh ketua Thiat-hiat-bun untuk menolong Lu Bu-song yang ditawan dalam penjara istana Sin-bu-kiong. Memang telah diketahui bahwa istana Sin-bu-kiong itu penuh dengan naga dan harimau, juga ketua Sin-bu-kiong itu memiliki kepandaian yang tiada taranya. Tetapi mereka tak sampai membayangkan kalau raja Sin-bu-kiong itu ternyata sedemikian saktinya. Tenaga pukulan mereka berempat dapat ditolak mundur olehnya.

Namun keempat Su-kiat itu juga tokoh-tokoh kenamaan. Setelah saling memberi isyarat, mereka serempak maju memukul.

“Tahan!” sekonyong-konyong terdengar suara bentakan dari udara.

oo000oo

Bahasa Singa dan Naga

Bentakan itu bagaikan petir menyambar pecah anak telinga. Sin-bu Te-kun terkejut juga. Sedang keempat Su-kiat mundur beberapa langkah.

Seorang tua bertubuh kokoh kekar dengan jenggot berkelap-kelip seperti perak melayang turun dari udara. Dia tegak di tengah-tengah kedua pihak yang hendak bertempur.

Girang Thian-leng bukan kepalang. Itulah si Jenggot Perak Lu Liang-ong , ketua Thiat-hiat-bun.

“Adu tenaga yang tadi sudah cukup!” jago Thiat-hiat-bun itu tertawa meloroh. Ia mengurut-urut jenggot dan menatap Sin-bu Te-kun. “Cukuplah kiranya kau menikmati rasanya orang Thiat-hiat-bun!”

Wajah Sin-bu Te-kun berobah gelap, serunya dengan geram. “Lu tua, jangan terlalu menghina orang!”

Ia menengadah sambil bersuit panjang. Nadanya aneh dan seram. Begitu berhenti bersuit, tiba-tiba muncullah serombongan orang Sin-bu-kiong, antara lain Co sucia dan Yu sucia. Kepala Cong houhwat yang baru dan berpuluh-puluh pengawal baju ungu. Mereka berdiri di belakang Sin-bu Te-kun.

“Aha, apakah semua kochiu Sin-bu-kiong sudah lengkap?” Jenggot perak tertawa.

Sahut Sin-bu Te-kun sinis, “Lengkap atau tidak, tetapi rasanya cukup sudah untuk menghadapi Thiat-hiat-bun!”

Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa meloroh, “Kukuatir kau salah hitung……” tiba-tiba ia bertepuk tangan.
Seketika dari dalam hutan samping berbondong-bondong muncul puluhan orang Thiat-hiat-bun. Di antaranya terdapat juga ke tiga puluh enam Thian-kong dan ke tujuh puluh dua Te-sat dari Thiat-hiat-bun.

Thian-kong dan Te-sat merupakan kedudukan yang tinggi dalam partai Thiat-hiat-bun. Ke tiga puluh enam Thian-kong itu mengenakan pakaian ringkas warna biru dan ke tujuh puluh dua tokoh Te-sat berpakaian kuning. Masing-masing bersabuk kong-pian atau ruyung emas seperti cemeti.

Sin-bu Te-kun terbelalak, serunya, ”Lu tua, kiranya kau merencanakan hendak menancapkan kaki di Tiong-goan !”

Jenggot perak tertawa datar. “Daerah di Lam-hong sudah cukup luas, perlu apa aku menginginkan daerah Tiong-goan lagi…”

“Kalau tidak bermaksud begitu, mengapa jauh-jauh datang kemari dengan membawa seluruh anak buahmu? Bukankah hendak memusuhi pihak Sin-bu-kiong?” tukas Sin-bu Te-kun.

Jenggot perak tertawa nyaring, ”Telah kukatakan bahwa aku ingin pesiar menikmati pemandangan alam di sini. Kalau kau katakan memusuhi pihak Sin-bu-kiong, mungkin itu hanya kebetulan saja….”

“Bagaimana kau katakan kebetulan saja?”

“Kebetulan karena mengetahui perbuatan-perbuatan Sin-bu-kiong yang melampaui batas hendak menguasai dunia persilatan. Aku si orang tua merasa gatal. Inilah yang kumaksud dengan secara kebetulan itu!”

Rambut Sin-bu Te-kun menjinggrak. Mulutnya memekik makian, “Lu tua yang licik! Terang kau hendak menancapkan kaki di Tiong-goan, sebaliknya malah menuduh pihakku yang salah!” Ia berhenti sejenak, serunya pula, “Bukankah kau hendak ke Tiam-jong-san? Mengapa datang ke Thay-heng-san sini?”

Jenggot perak tertawa keras, “Pertanyaan itu seharusnya kuajukan kepadamu. Bukankah kau hendak membalas sakit hati ke Tiam-jong-san? Mengapa kau datang kemari?”

“Aku mengejar jejak ketua Tiam-jong-pay Li Cu-liong. Kini dia sudah kutawan dan hendak kutuntut dosanya mengapa berani membunuh orang Sin-bu-kiong!”

Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa tenang. “Akupun kemari karena hendak membebaskan ketua Tiam-jong-pay itu. Jika tak kau bebaskan, jangan harap ada seorangpun Sin-bu-kiong yang dapat meninggalkan tempat ini!”

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun tertawa sekeras-kerasnya. “Lu tua, terlebih dahulu aku hendak minta penjelasan padamu!”

“Silakan!”

“Ketua Tiam-jong-pay Li Cu-liong itu pernah apa dengan engkau? Mengapa kau begitu ngotot hendak melindunginya?”

Jenggot perak tertegun. Sampai beberapa saat barulah ia menjawab. “Telah kukatakan tadi bahwa aku bertindak semata-mata demi keadilan. Apalagi aku hendak meminjam markas Tiam-jong-san untuk menjamu sekalian orang gagah di Tiong-goan. Sudah tentu tak dapat kubiarkan tuan rumah dicelakai orang lain!”

“Huh, belangmu telah kuketahui sejak semula. Perlukah kukatakan sejelas-jelasnya?” ejek Sin-bu Te-kun tajam.

Lu Liang-ong tertegun. Ditatapnya Sin-bu Te-kun tajam-tajam.

Sin-bu Te-kun melanjutkan ucapannya dengan riang, “Siapakah ketua Tiam-jong-pay itu? Oh, tak lain tak bukan anak asuh Thiat-hiat-bun, putera angkat Lu Liang-ong ketua Thiat-hiat-bun! Tiga tahun yang lalu ia diselundupkan ke Tiong-goan, masuk ke dalam partai Tiam-jong-pay. Setahun lalu berhasillah dia diangkat sebagai ketua Tiam-jong-pay. Benar tidak?”

Jenggot perak mengangguk, “Apa yang benar takkan kusangkal. Kau memiliki sumber berita yang hebat!”

Sin-bu Te-kun tertawa gembira,”Pengakuanmu merupakan bukti yang tak dapat dibantah lagi. Lebih dahulu kau suruh muridmu merebut kedudukan salah sebuah partai besar Tiong-goan, kemudian menjadikan Tiam-jong-san sebagai markas untuk menguasai dunia persilatan Tiong-goan. Jelas bukan?”

Di luar dugaan Jenggot Perak tertawa dan menghela napas longgar. Diam-diam ia girang karena yang diketahui Sin-bu Te-kun hanyalah sampai di situ saja.

“Apakah tuduhanmu itu benar atau tidak, aku takkan mewajibkan diriku untuk membantahnya….” ia berhenti sejenak lalu berkata pula. “Sekarang kita selesaikan dulu persoalan ini. Jika kau mau percaya padaku, hapuslah permusuhan dengan persahabatan. Kelak dalam perjamuan para orang gagah di Tiam-jong-pay, akan kubantu engkau untuk mencapai kedudukan ketua dunia persilatan Tionggoan!”

“Ooo, Lu tua, betapapun lincah lidahmu, tak nanti aku jatuh ke dalam perrangkapmu lagi!” dengus Sin-bu Te-kun.

“Jadi kau menghendaki kekerasan?”

“Sebenarnya tidak!” sahut Sin-bu Te-kun, “asal kau segera ajak anak buahmu pulang ke Lam-hong, akupun takkan memusuhi Thiat-hiat-bun lagi!”

“Jika aku keberatan?”

“Terpaksa kita selesaikan dengan pedang!”

Jenggot perak tertegun. Tiba-tiba ia tertawa, “Oho, makanya kau begitu bernyali besar. Kiranya sahabatmu datang juga!”

Berbareng dengan ucapan itu muncullah serombongan orang. Pemimpinnya seorang bungkuk, kakinya pincang dan lengan buntung, tetapi gerakannya lincah sekali. Ia tertawa mengekeh tak jauh dari tempat Sin-bu Te-kun.

Pemilik Hek Gak, Kongsun Bu-wi! Dia datang bersama puluhan su-cia Hek Gak. tetapi yang paling mengejutkan orang ialah ikut sertanya Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi!

Di tempat persembunyiannya, Thian-leng tegang sekali. Ia tahu sampai di mana kesaktian Bok Sam-pi. Ngeri ia membayangkan bagaimana akibatnya kalau Jenggot Perak Lu Liang-ong sampai kena diadu dengan Bok Sam-pi…

Ketua Hek Gak tertawa tajam, “Maaf, maaf, aku datang terlambat!”

“Kalau mataku si orang tua ini tak salah lihat, kaulah yang datang paling pagi di sini. Hanya saja kau tak mau unjuk diri, melainkan bersembunyi dulu.” Jenggot perak tertawa.

Merah padam wajah ketua Hek Gak, serunya, ”Jangan jual ketuaanmu di sini! Setiap berkata tentu tak lupa menyebut ‘aku si orang tua’! Kau hendak menakut-nakuti atau menjual lagak?”

Jenggot perak tetap tertawa, ”Dalam hal umur sebenarnya kau lebih tua dari aku. Tetapi dalam sejarah hidupku, aku tak pernah jatuh di tangan orang. Tak seperti kau seorang tua yang sudah hidup tujuh puluhan tahun masih tak berani unjuk muka!”

Marah ketua Hek Gak bukan kepalang. Sampai rambutnya jigrak, mata mendelik. “Seoarng lelaki tak mau bergerak sembarangan. Akan menunggu sampai saatnya baru bertindak. Asal dapat mencuci bersih hinaan yang lampau, tetap berharga sebagai insan persilatan sejati….!”

“Sayang dalam kehidupanmu sekarang kau tak sempat mencuci hinaan itu!” dengus jenggot Perak.

“Cong houhwat!” teriak ketua Hek Gak serentak.

“Ya, aku di sini!” Bok Sam-pi tampil menyahut.

Jenggot perak terkejut melihat perawakan orang yang gendut perutnya tapi tangkas sekali.

“Hajar orang tua yang tak tahu adat itu!” teriak ketua Hek Gak.

“Hamba menuruuut…….,” Bok Sam-pi mengucapkan kata’menurut’ itu dengan panjang karena matanya memandang wajah Jenggot Perak tajam-tajam. Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba sudah berganti nada.

“Murid!” serunya.

Ketua Hek Gak tercengang, tegurnya, “Hai, mengapa kau memanggilku begitu?”

Bok Sam-pi mendengus, “Mengapa tak boleh?”

“Panggilan murid dan guru hanya apabila kita berdua saja. Atau di kala sedang mengajar kepandaian. Saat ini aku sebagai ketua hek Gak yang sedang ngeluruk keluar. Yang ada hanyalah antara pemimpin dan anak buah. Kaupun harus berbahasa begitu!” sahut ketua Hek Gak.

Bok Sam-pi kurang senang, “Persetan, di dalam dan di luar Hek Gak apa bedanya?”

Ketua Hek Gak Kongsun Bu-wi menghela napas. “Kejayaan Hek Gak memang tergantung tenaga suhu, tetapi…..”

“Murid!” Bok Sam-pi berteriak menukas.

“Eh, suhu hendak memberi pesan apa?” terpaksa ketua Hek Gak mengalah.

Bok Sam-pi menuding pada Jenggot Perak, serunya, “Orang tua itu berwajah terang. Kita harus bersahabat dengannya, mengapa kau hendak memusuhi?”

Kongsun Bu-wi mengerutkan dahi, “Tetapi hati orang siapa tahu, suhu....”

“Masakah suhu bisa salah lihat? Kau berani membantah perintahku?” Bok Sam-pi memekik.

“Ya, ya, murid menurut.” ketua Hek gak tak berdaya lagi. Ia memberi isyarat kepada Tokko Sing yang berdiri di belakang, serunya, ”Sudah saatnya suhu minum arak. Apakah minumannya dibawa?”

Tokko Sing segera mengatakan bahwa hidangan untuk guru besar Bok Sam-pi sudah disiapkan.

“Bagus, aku hendak minum tiga cawan dulu, baru istirahat sebentar. Urusan di sini kuserahkan padamu!” mendengar arak, selera Bok Sam-pi pun berontak.

Dengan khidmat ketua Hek Gak mengiyakan. Tokko Sing pun segera mengiring Bok Sam-pi untuk minum arak. Begitu jago tua itu angkat kaki, ketua Hek Gak segera mengambil sebutir pil hitam dan menyerahkan pada salah seorang pengawal. Ia membisiki beberapa patah kata. Pengawal itu mengangguk dan segera pergi.

Selama itu Jenggot perak hanya diam saja mengawasi gerak-gerik kedua suhu dan murid itu.
Setelah Bok Sam-pi pergi, barulah ia tertawa gelak-gelak, “Apakah artinya pertunjukan ini?”

Wajah ketua Hek Gak memerah, “Jangan banyak bicara, sebentar kau tentu merasakan sendiri!”

“Bagaimana andaikata pil hitammu itu tak manjur?” Jenggot perak tertawa mengolok.

Berobahlah seketika wajah ketua Hek Gak , “Pil itu adalah penguat tubuh. Setiap minum arak tentu dicampurkan. Jangan mengoceh tak keruan!” bentaknya murka.

“Aneh, aneh,” Jenggot perak tertawa sinis, “aku toh tidak mengatakan pil itu obat bius atau obat kuat. Mengapa kau kalang kabut memberikan penjelasan…. “ ia tertawa meloroh, “siapa berbuat tentu merasa. Kira-kira tentu begitulah keadaanmu!”

Menyala mata ketua Hek Gak. rupanya ia hendak menyerang. Namun si Jenggot Perak tetap acuh tak acuh. Sebaliknya para anggota rombongannya, keempat Thiat-hiat Su-kiat dan ke tiga puluh enam Thian-kong serta ke tujuh puluh dua Te-sat sudah mengepal-ngepal tinju siap hendak menyerang.

Suasana menjadi tegang!

Tiba-tiba ketua Hek Gak mendapat pikiran. Ia berpaling ke arah Sin-bu Te-kun dan memberi anggukan kepala. “Ah, sahabatku, sudah lama kita tak berjumpa!”

Sin-bu Te-kun yang sejak tadi hanya mengawasi ramai-rami itu balas tertawa, “Berpuluh tahun tak bertemu, tentulah kepandaian saudara makin sakti.”

“Ah, mana dapat menyamai Te-kun….” ketua Hek Gak merendah.

“Aha, tak usah main sandiwara, ”Jenggot perak menyeletuk tertawa, “rasanya memang sudah ada sekongkolan di antara kalian berdua.”

“Lu tua, jangan memfitnah orang!” bentak Sin-bu Te-kun.

Lu Liang-ong mengurut-urut jenggotnya yang putih mengkilap. Ia tertawa riang, “Sin-bu-kiong dan Hek Gak masing-masing mempunyai cita-cita hendak mencaplok dunia persilatan. Kalau dua ekor srigala saling berebut tulang, akhirnya tentu cakar-cakaran sendiri!”

“Tua bangka Lu, jangan mengadu domba!” bentak ketua Hek Gak, “Jangan bermimpi kau dapat menipu kami…. ” ia berpaling ke arah Sin-bu Te-kun. “Thiat-hiat-bun berani masuk ke wilayah Tiong-goan, ini suatu penghinaan bagi kita. Tidakkah kita bersatu mengusirnya?”

Sin-bu Te-kun mengangguk, “Baik, silakan Kongsun-heng menghajarnya, aku bersumpah membantu sepenuh tenaga. Malam ini jangan sampai ada seorang Thiat-hiat-bun yang lolos… !”

“Bagus, bagus!” Jenggot perak tertawa gelak-gelak, “ maju keroyokan atau satu lawan satu, Thiat-hiat-bun siap melayani. Tetapi sayang tidak semudah itu kawan… !
Bersambung ke jilid 9

This entry was posted on Selasa, Juli 20, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar