PANJI TENGKORAK DARAH
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net
Jilid 7. Pengemis Bulu besi.
“Dia?” Thian-leng berseru kaget, “bukankah dia mendapat kecelakaan di gunung Thay-heng-san.....”
“Tidak, dia masih hidup....” sahut Cu Siao-bun dengan nada rawan.
( Catatan: Cu Siao-bun adalah gadis baju merah yang bercakap-cakap dengan Thian-leng saat itu. Sedang Cu Siau-bun adalah pemuda berwajah pucat yang dijumpai Thian-leng ketika keluar dari gunung Hun-tiong-san. Agar tidak membingungkan, maka digunakan ejaan Siao untuk si gadis dan Siau untuk si pemuda – Pen).
Tiba-tiba terlintaslah sesuatu dalam benak Thian-leng, Cu Siao-bun dan Cu Siau-bun. Namanya hampir sama dan wajahnya serupa. Mengapa gadis Siao-bun membawakan surat pemuda Siau-bun? Aneh....
“Mungkin kau merasa heran, bukan ? “ tegur Cu Siao-bun.
“Ya,...... apakah nona.......”
Siao-bun tertawa, “Sebenarnya tiada hal yang perlu diherankan. Cu Siau-bun adalah engkoh. jadi wajar kalau sama wajahnya…. “
“O, kiranya nona adik dari saudara Cu, maaf!” Thian-leng seperti tersadar.
Selanjutnya Thian-leng segera menanyakan berita pemuda Cu Siau-bun.
“Dia masih hidup di dunia, tetapi.....” Siao-bun tak melanjutkan kata-katanya. Dengan pandangan rawan ia menatap Thian-leng.
“Dia... dia bagaimana?” Thian-leng gelisah.
“Segera akan mati!”
“Hai....!” thian-leng menjerit, “ Di mana sekarang ia?”
“Apakah kau ingin menemuinya?” tanya Siao-bun.
“Ya, engkoh nona itu telah banyak melepas budi padaku. Sudah tentu aku harus menjenguknya!”
“Rupanya engkohku juga selalu teringat padamu. Kini ia berada dalam rumah penginapan Ih-hian di kota Ceng-liong-tin. Kira-kira dua ratus li dari sini....”
“Jangankan hanya dua ratus li, sekalipun ribuan li aku tetap akan menjumpainya,” sahut Thian-leng.
Tampak wajah Siao-bun tertawa girang, ujarnya dengan tertawa, “Jika kau memang bermaksud begitu, silakan lekas ke sana. Kalau tidak dikuatirkan kau tak dapat bertemu dengan engkohku lagi selama-lamanya!”
“Maaf, aku segera hendak ke sana!” Thian-leng terus memutar tubuh melesat pergi.
Siao-bun memandang bayangan pemuda itu dengan terlongong-longong. Tiba-tiba wajahnya mengerut keras, ujarnya seorang diri, “Lu Bu-song, sekalipun kau ini adik misanku, tetapi dalam hal ini aku tak dapat mengalah padamu!”
ooooo00000ooooo
Thian-leng menggunakan ilmu lari cepat. Ia ingin segera dapat menyusul si dara Bu-song, kemudian baru menuju ke kota Ceng-liong-tin menjenguk Cu Siau-bun yang sakit keras. Kepada pemuda wajah pucat itu, Thian-leng juga berhutang budi. Adalah pemuda itu yang membebaskan dirinya dari kepungan delapan anak buah Sin-bu-kiong ketika Thian-leng baru keluar dari markas Hun-tiong Sin-mo. Adalah pemuda itu juga yang menunjukkan tentang tipu muslihat Ma Hong-ing yang mengaku jadi ibunya itu…..
Masih banyaklah kebaikan-kebaikan yang diunjukkan pemuda Cu Siau-bun itu kepadanya. Kini pemuda itu menderita sakit berat, entah besok entah sore akan meninggal dunia. Ia ingin sekali menemui pemuda itu. Tetapi …ah, ia mendongkol benar kepada Bu-song. Ia segera perkencang larinya seraya berteriak-teriak, “Adik Song….. Lu…. Bu…..song…..!”
Namun bayangan dara itu tak tampak sama sekali. Seluas puluhan li telah dijelajahi, tetapi ia tak berhasil mencari dara itu.
“Celaka, dia tentu marah dan pulang melapor pada kakeknya!” diam-diam ia mengeluh.
Ketika ia sedang gelisah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara helaan napas panjang. Dan matanya segera melihat sesosok tubuh manusia tengah berlutut di bawah sebuah pohon besar. Ketika dihampiri, ternyata hanya seorang pengemis tua yang sudah putih rambutnya. Wajahnya kumal penuh debu. Pengemis itu duduk bersandar pada batang pohon, sebatang tongkat bambu terletak di sampingnya.
Sekalipun lelah, namun terpaksa ditegurnya juga pengemis itu. “Mengapa lo-cianpwe seorang diri berada di hutan sunyi ini, apakah....”
Thian-leng bersedia memberi pertolongan apabila pengemis tua itu memerlukan bantuan. Tetapi kata-katanya itu terputus oleh rasa kaget. Pengemis tua itu tiba-tiba membuka matanya. Dua larik sinar berkilat-kilat tajam memancar. Itulah pancaran sinar mata dari seorang ahli tenaga dalam yang hebat.
“Maaf, kalau aku mengganggu lo-cianpwe!” buru-buru Thian-leng berseru seraya memberi hormat lalu pergi.
“Tunggu!” sekonyong-konyong pengemis itu berseru. Thian-leng terpaksa hentikan langkahnya.
“Berjam-jam kudengar kau menjerit-jerit seperti anak ayam mencari induknya. Sekarang baru kau minta maaf, apakah tidak terlambat?” dengus pengemis tua itu.
Thian-leng mengerutkan kening. Pikirnya, pengemis ini benar-beanr liar sekali. Ia bermaksud baik, mengapa malah disemprot?
“Aku tak tahu kalau lo-cianpwe sedang beristirahat di sini, maaf! “ terpaksa Thian-leng meminta maaf lagi, lalu melangkah pergi.
Tetapi baru beberapa langkah, kembali pengemis tua itu membentaknya, “Kembali!”
Kali ini Thian-leng tak mau. Ia hanya menyahut tawar, “Aku toh sudah minta maaf padamu!”
Pengemis tua itu tertawa gelak-gelak, “Dalam satu perahu sama-sama mendayung, adalah sudah menjadi suatu keharusan. Kita bertemu di sini, boleh dikata mempunyai jodoh. Paling tidak harus saling memberitahukan nama, baru kau pergi……” pengemis tua itu berhenti sejenak dari ocehannya. Sebelum Thian-leng menyahut, ia sudah lanjutkan kata-katanya lagi, “Aku si pengemis tua ini orang she Auyong, bernama tunggal Beng. Atas kecintaan dari sahabat-sahabat persilatan, aku diberi gelar Thiat-ik Sin-kay ( Pengemis sakti berbulu besi ). Dan kau?”
Thian-leng tertegun, serunya, “Aku yang rendah sampai sekarang belum mempunyai nama. Untuk sementara aku memakai nama Bu-beng-jin!”
Bu-beng-jin artinya ‘Orang yang tak punya nama’.
Auyong Beng tertawa gelak-gelak, “Bu-beng-jin, ah, bagus juga nama itu……”
Thian-leng hanya tertawa masam. Sambil berputar ia terus hendak berlalu lagi….
“Sebenarnya aku hendak tidur, tetapi terganggu dengan jerat-jeritmu tadi. Karena sudah terlanjur terjaga, mari kita omong-omong!”
Thian-leng menolak, “Tidak-tidak! Karena masih mempunyai urusan penting, maaf, aku tak dapat menemanimu!”
Pengemis sakti tertawa meloroh, “Meskipun kau tetap hendak pergi, tetapi juga tak perlu terburu-buru begitu. Kalau kita omong-omong barang dua tiga patah kata lagi, toh takkan membuatmu rugi bukan?”
Thian-leng kerutkan dahi, serunya, “Lo-cianpwe hendak memberi pesan apa, silakan lekas mengatakan saja!”
“Tadi kau jerat-jerit tak keruan itu hendak mencari siapa saja?”
“Ini …. seorang adik perempuan …… adik angkatku!”
“Adik angkat...? Berpuluh-puluh tahun si pengemis tua ini berkelana di dunia persilatan, tak pernah aku bicara bohong, tak pernah aku menyombongkan diri. Dengan begitu barulah aku dapat memenangkan ....”
Merah padam seketika wajah Thian-leng, “Itu urusanku pribadi, harap lo-canpwe jangan mendesak!”
Kembali pengemis tua itu tertawa keras, “Baik, aku takkan menanyakan urusan pribadi. Bu-beng-jin, rupanya jodoh kita hanya sampai di sini saja. Karena kau mempunyai urusan lain, silakan pergi!”
Thian-leng tak mau banyak cakap. Setelah memberi hormat, segera ia memutar diri dan melangkah pergi. Tetapi baru beberapa langkah, kembali ia harus berhenti lagi. Kiranya ia mendengar pengemis tua itu berkata seorang diri, “Ah, Sip Uh-jong, Sip Uh-jong, kematianmu sungguh mengenaskan sekali.”
Buru-buru Thian-leng balik dan bertanya, “Apakah lo-cianpwe kenal pada Sip lo-cianpwe? Apakah dia....”
“Mengapa kau tanyakan dia?” wajah Pengemis sakti mengerut gelap.
“Terus terang beliau telah banyak melepas budi padaku!”
“O, kiranya kau masih ingat budi? Sayang sahabatku itu sudah mati!”
“Benarkah? ” Thian-leng menegas.
“Aku pengemis tua tak pernah bohong!” sahut si pengemis. Namun Thian-leng masih tetap meminta keterangan yang jelas.
“Sahabatku itu dan Tui-hun Hui-mo telah ditutuk jalan darahnya oleh isteri Sin-bu Te-kun. Setelah mereka tak berdaya lalu dibakar!”
Thian-leng pening kepalanya mendengar cerita itu. Samar-samar ia masih ingat akan peristiwa yang telah lalu. Ia anggap keterangan si pengemis itu tentu benar.
“Agaknya lo-cianpwe tahu banyak perihal beliau, apakah lo-cianpwe…………”
“Aku tak punya keistimewaan apa-apa. Tetapi segala peristiwa di dunia persilatan, baik kecil maupun besar, tak nanti luput dari pendengaranku. Maukah kau mendengar peristiwa-peritiwa itu semua?”
“Tak usah, aku percaya penuh pada lo-cianpwe. Aku hanya mengutuk diriku sendiri yang tak punya kepandaian tinggi hingga tak mampu membalaskan sakit hati Sip lo-cianpwe....”
Pengemis sakti menghela napas, “Benar, meskipun kau sudah meyakinkan ilmu pukulan Lui-hwe-sin-ciang dengan hebat, tetapi hawa dalammu masih kalah jauh dari Sin-bu Te-kun, si Jenggot perak Lu Liang-ong, Hun-tiong Sin-mo dan lain-lain, kecuali.....”
“Kecuali bagaimana? Mengapa Lo-cianpwe tak melanjutkan kata-kata?”
Pengemis sakti perdengarkan tawa yang dalam, ujarnya, “Sip U-jong paham ilmu meramal. Tak nanti ia biarkan peta telaga Zamrut itu terbakar bersamanya. Jika sudah memberimu pil Kong-yang-sin-tan, masakah tidak peta itu sekalian?”
“Apa kata lo-cianpwe?” ulang Thian-leng.
“Aku tahu segala apa, tetapi soal peta itu benar-benar aku masih gelap. Sip U-jong memiliki selembar peta Telaga Zamrut. Sebelum ia menutup mata apakah tak diserahkan padamu?”
Thian-leng pun kerutkan dahi. “Sesaat setelah meminum pil Kong-yang-sin-tan, karena tak kuat menahan rasa panas, akupun pingsan sampai lama. Bagaimana dengan nasib Sip lo-cianpwe saat itu aku tak tahu. Begitu pula dengan peta itu!”
“Aneh, masakah peta itu turut terbakar……?” gumam pengemis sakti. Beberapa saat kemudian baru ia berkata pula, “Beberapa tahun yang lalu di dunia persilatan telah muncul seorang tokoh baru yang mengejutkan. Kepandaiannya luar biasa. Tokoh-tokoh kelas satu yang berhadapan dengan orang itu hanya seperti anai-anai yang menerjang api. Belum pernah ada seorangpun jago persilatan yang mampu melayani lebih dari tiga jurus….”
“Siapakah tokoh itu?” seru Thian-leng serentak.
“It Bi siangjin!” sahut si pengemis.
“It Bi siangjin….. ?” Thian-leng mengulang heran. Ia tak tahu siapa tokoh itu.
“It Bi siangjin adalah seorang pertapa aneh. Tak suka bergaul dengan orang. Sudah berpuluh tahun ia berkelana untuk mencari seorang yang dipandang dapat menjadi murid penggantinya. Tetapi tak ada yang dicocoki, sehingga karena putus asa, ia menguburkan kitab dan pedang pusaka Liong-coan-po-kiam …….”
“O, jadi Telaga Zamrut itu tempat kuburan pusaka!” seru Thian-leng.
“Benar, asal mendapat petanya, tentu dapat mencari pusaka-pusaka terpendam itu.” Pengemis sakti mengatakan, “ kitab pusaka itu ditulis sendiri oleh It Bi siangjin, berisi seluruh ilmu kepandaiannya. Kalau berhasil meyakinkan , Sin-bu te-kun, Hun-tiong Sin-mo, Lu Liang-ong, ya… pendek kata siapapun tentu tak menang……, sayang sekali kalau sampai turut terbakar !”
“Bagaimana lo-cianpwe tahu peta itu berada pada Sip lo-cianpwe ? Dan mengapa Sip lo-cianpwe tak berusaha mencari pusaka itu?”
“Berita itu sudah lama tersiar di dunia persilatan, jadi tak mungkin bohong. Sip U-jong sudah dipunahkan kepandaiannya oleh musuh, maka percuma ia mendapat kitab itu, toh tak dapat meyakinkan lagi. Ia hendak menyerahkan kitab itu kepada orang yang dianggapnya berbakat bagus, agar dapat membalaskan sakit hatinya. Sip U-jong seorang yang pandai meramal, licin dan pandai tentang obat-obatan beracun. Sekalipun ilmu silatnya sudah punah, tetapi bertahun-tahun ia dapat mempertahankan peta itu dari sergapan orang. Ditilik dari akal muslihatnya, tak mungkin peta itu sampai jatuh di tangan Te-it Ong-hui. Maka kusangka kaulah yang diberi peta itu !”
“Tetapi aku tak tahu menahu tentang peta itu dan Sip lo-cianpwe pun tak pernah mengatakannya !” sahut Thian-leng.
Pengemis sakti tercengang. Menilik kesungguhan wajah si anak muda, ia percaya Thian-leng tentu tak bohong. Sampai beberapa lama ia berdiam diri.
“Hai, apakah kau pernah memeriksa tubuhmu ?” tiba-tiba ia tersadar.
“Memeriksa tubuh ? Perlu apa ?” Thian-leng melongo.
“Setelah minum pil, bukankah kau lantas pingsan? Pun pada saat Te-it Ong-hui tiba, ia tak sempat menggeledah badanmu. Siapa tahu Sip U-jong diam-diam menyelinapkan peta itu dalam tubuhmu!”
Walaupun kurang percaya, tetapi Thian-leng anggap tiada jeleknya ia memeriksa tubuhnya. Dan memang sejak meninggalkan lembah Hong-lim-koh, tak pernah ia memeriksa pakaiannya. Pun ketika Ki Seng-wan melakukan pengobatan Hiam-im-kiu-coan, meskipun pakaian Thian-leng itu dibuka tetapi nona itupun tak sempat memeriksa.
“Hai,………!” tiba-tiba Thian-leng berseru tertahan.
Ketika tangannya merogoh kantong, ia menyentuh sebuah bungkusan kertas. Buru-buru ditariknya keluar…….
“Oho, tepat sekali dugaanku!” Pengemis sakti berteriak kaget.
Thian-leng tegang sekali. Ia tak tahu bahwa kantongnya berisi sebuah bungkusan kain yang sudah kumal. Dengan berdebar-debar ia membuka lipatan kain itu. Ah……. hampir ia menjerit kegirangan. Sebuah peta yang penuh dengan jalur-jalur goresan. Di sebelahnya tertulis tiga buah huruf Giok-ti-tho ( peta telaga zamrut)!
Tetapi yang membuat Thian-leng terkejut ialah sebaris tulisan di balik peta itu. Tulisan itu ditulis dengan darah, berbunyi :
“Hun-tiong dan Song-bun kedua durjana, adalah musuh bebuyutanku. Aku mati dibunuh Ma Hong-ing, supaya membalaskan sakit hatiku. Jangan lupa……”
Thian-leng menggigit gigi kencang-kencang.
“Bu-beng-jin, kuhaturkan selamat padamu!” tiba-tiba pengemis sakti berseru “……asal kau memperoleh pusaka itu, kelak kau tentu menjadi tokoh utama di dunia persilatan. Untuk menuntut balas sakit hati Sip U-jong adalah semudah orang membalikkan telapak tangan!”
Thian-leng tak berkata-kata. Hatinya penuh dengan rasa haru dan dendam. Sip U-jong bukan saja memberinya minum pil Kong-yang-sin-tan, tetapi juga menyerahkan peta. Ia harus menunaikan pesan tokoh yang bernasib malang itu, menuntut balas pada Hun-tiong Sin-mo, Song-bun Kui-mo dan Ma Hong-ing. Dan memang Song-bun Kui-mo yang kini menjelma menjadi Sin-bu Te-kun itu adalah manusia yang harus dilenyapkan demi keselamatan dunia persilatan! Tetapi yang dua orang itu….. ya, Hun-tiong Sin-mo telah menyembuhkan lukanya, Ma Hong-ing kemungkinan adalah ibunya sendiri! Hendak dibunuhkah kedua orang itu?
Tidak…..! Ia tak dapat membunuh orang yang telah melepas budi padanya. Dan sebelum asal-usul dirinya diketahui, ia tak dapat membunuh Ma Hong-ing dulu. Karena kalau-kalau wanita itu benar ibu kandungnya….
Benak Thian-leng penuh dengan berbagai persoalan yang rumit, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia hanya tegak terlongong-longong saja.
“Lekas simpan peta itu! Kalau aku seorang temaha, mungkin peta itu tentu sudah pindah ke tanganku!”tiba-tiba Pengemis sakti memperingatkan.
Tetapi di luar dugaan Thian-leng malah mengangsurkan peta itu kepada si pengemis, “Aku tak tertarik dengan peta ini. Kalau lo-cianpwe menghendaki, ambillah!”
Kalau tak mengambil peta itu berarti bebas dari kewajiban melaksanakan pesan Sip U-jong. Dmeikianlah jalan pikiran Thian-leng.
“Kau gila…..?” teriak si pengemis.
“Jika memperoleh pusaka kau bakal menjadi tokoh silat nomor satu! Tak seorang persilatan pun yang tak mengiler dengan peta itu, tetapi mengapa kau.....”
Thian-leng hanya menghela napas, “Aku masih muda dan kurang pengalaman, mungkin tak layak mendapat kitab pusaka itu. Lo-cianpwe lebih ternama dan lebih berpengalaman, bukankah.....”
“Tidak! Tidak!” Pengemis sakti menolak tegas. “Aku si pengemis tua tak mau melanggar kemauan alam! Apalagi pilihan Sip U-jong tentu tak salah. Dia tentu sudah memperhitungkan bahwa bukan saja kau dapat melaksanakan pesannya, juga dapat pula memikul beban kewajiban menjaga keselamatan dunia persilatan. Aku si pengmis tua ini tak punya rejeki sedemikian besar !”
Thian-leng terpaksa menyimpan lagi peta itu, kemudian ia minta diri.
“Apakah kau hendak mencari adik angkatmu itu lagi?” tanya si pengemis.
Thian-leng mengiyakan.
“Aku si pengemis tua bersedia mewakili pekerjaanmu itu tetapi .... kau .....harus segera menjenguk sahabatmu yang sakit keras itu. Sudah, jangan membuang waktu lagi....”
Thian-leng tersirap kaget. Mengapa pengemis itu tahu urusan itu pula?
“Apakah lo-cianpwe yakin berhasil mencari nona Lu itu?”
“Jangankan dia, sekalipun kau suruh cari seekor semut di ujung langit, aku tentu sanggup mengerjakannya!”
“Aku seorang yang tahu membalas budi dan dendam. Atas budi lo-cianpwe kelak aku tentu membalasnya. Sekalipun lo-cianpwe suruh aku menyebur ke dalam lautan api, tentu aku tak menolak !”
“Bagus, bagus. “ si pengemis tua tertawa, “aku memang tak mau bekerja percuma. Setiap bantuan yang kuberikan, tentu kuminta balas. Sekarangpun aku hendak minta balas padamu!”
“Lo-cianpwe hendak suruh apa?” Thian-leng tercengang.
“Tidak menyuruh melainkan hanya meminta kau meluluskan dua buah hal!”
“Silakan mengatakan.”
Seketika wajah Pengemis sakti berobah serius, ujarnya dengan nada sungguh-sungguh, “Pertama, mulai saat ini jangan kau berbahasa ‘lo-cianpwe’ lagi kepadaku. Aku akan memanggilmu ‘laote’ (adik) dan kau panggil aku ‘laoko’(kakak)!”
“Aku terpaksa menurut, laoko, ”segera Thian-leng mengganti panggilannya, “dan apakah permintaan laoko yang kedua itu ?”
Pengemis sakti tertawa aneh, “Yang kedua, kuminta kau menyimpan sebuah barangku. Harus kau pakai selama-lamanya dan jangan sampai hilang !”
Diam-diam Thian-leng geli-geli heran. Mengapa memberi barang saja harus pakai perjanjian? Dan mengapa harus suruh memakai seumur hidup?
“Baiklah , laoko!” sahut Thian-leng.
Pengemis sakti tersenyum. Segera ia mengeluarkan sebuah benda. Dengan hati-hati benda itu dikalungkan pada leher Thian-leng.
“Lencana ini, meskipun tak berharga, tetapi merupakan barang pusakaku. Harap jangan dibuang!” pesannya.
Benda itu ternyata sebuah lencana berukirkan beberapa batang bambu yang malang-melintang. Lencana itu diikat dengan sebuah kalung kecil.
Thian-leng tak tahu apa guna dan arti lencana bergambar bambu itu. Namun karena sudah berjanji ia biarkan saja lencana itu dipasangkan si pengemis pada lehernya.
Sebelum pamit pergi, Thian-leng sekali lagi menyampaikan permintaan supaya si Pengemis Sakti bulu-besi suka mengusahakan mencari Lu Bu-song.
Si Pengemis sakti menyanggupi.
ooo000ooo
Ah, kau.......!
Dengan menggunakan ilmu lari cepat, dalam setengah hari saja dapatlah Thian-leng mencapai seratus li. Pikirannya masih penuh dengan bermacam perasaan.
Ia tak mengira Sip U-jong dan Tui-hun Hui-mo mati begitu mengenaskan. Lebih-lebih tak menyangka kalau Sip U-jong diam-diam menyerahkan peta pusaka kepadanya. Jika berhasil mendapatkan kitab pusaka dan meyakinkannya, kelak ia bakal menjadi tokoh nomor satu di dunia persilatan. Dengan begitu dapatlah ia melakukan segala rencananya.
Hari kedua tibalah ia di kota Ceng-liong-tin, sebuah kota yang terletak di tepi sungai Hong-ho. Kota itu merupakan lalu lintas perdagangan yang ramai. Pertama-tama Thian-leng mencari keterangan tentang rumah penginapan Ih-hian. Ternyata rumah penginapan itu terletak di sebuah jalan kecil yang sepi. Rumah itu sepi tetamu. Diam-diam ia heran mengapa Cu Siau-bun memilih rumah penginapan yang sedemikian jorok dan kecil Apakah sahabatnya itu kehabisan uang?
Ketika ia masuk, ruangan suram penerangannya. Setelah bertanya pada pelayan, ia segera menghampiri sebuah kamar. Di dalam kamar itu hanya terdapat meja dengan sebuah kursi dan sebuah ranjang bambu. Di antara lampu yang redup tampak sesosok tubuh pemuda membujur di atas ranjang. Wajah pemuda itu pucat. Begitu melihat kedatangan Thian-leng, pemuda itu berusaha menggeliat bangun. Tetapi ia mengerutkan dahi dan rebah lagi, rupanya ia tak kuat bangun.
Melihat itu Thian-leng terharu sampai menitikkan dua tetes air mata, serunya teriba-iba, “ Cu-heng, Cu-heng ………kau masih ingat padaku!”
Pemuda itu yang bukan lain memang Cu Siau-bun, memaksakan diri memandang Thian-leng, “Kau…. Kang-heng….. aku menunggumu setengah mati!”
Thian-leng menghela napas, “Aku bukan she Kang, Cu-heng tentunya tahu. Sampai saat inipun aku belum tahu asal-usulku, …… tetapi bagaimana dengan penyakit Cu-heng?”
“Ah, mungkin tiada pengharapan lagi…..!” Cu Siau-bun tersenyum hambar, “dalam saat-saat terakhir dapat melihat kau…. dapatlah aku mati dengan puas!”
“Tidak, akan kuusahakan sekuat tenaga untuk menyembuhkan Cu-heng…..” Thian mendekap kedua bahu sahabatnya. Tiba-tiba ia teringat, “Apakah Cu-heng tahu tentang tabib Thay-gak Sian-ong di gunung Thay-san? Kabarnya ia seorang tabib yang pandai. Mari kuantar Cu-heng ke sana!”
Tetapi Cu Siau-bun menolak, “Percuma, penyakitku ini sudah bertahun-tahun. Obat dari tabib itu takkan menolong jiwaku!”
“Lu lo-hiapsu ketua Thiat-hiat-bun juga pandai ilmu pengobatan. Aku kenal baik padanya, kalau dia mau tentu dapat menyembuhkan Cu-heng!”
Sekalipun mulut mengatakan begitu, tapi dalam hati Thian-leng gelisah. Ia belum yakin si Pengemis sakti dapat mencari Lu Bu-song. Kalau dara itu belum diketemukan, ketua Thiat-hiat-bun tentu marah.
Selain itu iapun memikirkan tentang pernyataan Sin-bu Te-kun yang hendak menggempur Tiam-jong-san. Belum tentu dugaan Lu Bu-song bahwa Sin-bu Te-kun tentu tak berani menyerang Tiam-jong-san itu yang benar. Kalau Sin-bu Te-kun benar-benar membuktikan ancamannya, bukankah berabe membawa orang sakit kepada ketua Thiat-hiat-bun yang sedang bertempur dengan Sin-bu-kiong itu ?
“Itupun sia-sia saja,” tiba-tiba kedengaran Cu Siau-bun menolak. “Telah kukatakan bahwa penyakit ini telah kuidap lama sekali. Tiada seorangpun yang dapat mengobati, kecuali....”
“Kecuali bagaimana harap Cu-heng katakan. Asalkan dapat menyembuhkan penyakit Cuheng, apapun aku sanggup melakukan!”
Wajah Cu Siau-bun menebar warna merah, serunya, “Apakah….. kau…. sungguh….”
“Seorang lelaki rela berkorban untuk sahabatnya!” seru Thian-leng dengan tegas. “Asal Cu-heng bisa sembuh aku rela mengorbankan apa saja….!Eh, apakah Cu-heng masih ingat perjanjian kita di lembah Sing-sim-kiap dahulu?”
“Tiada sedetikpun aku melupakan perjanjian itu. Hanya … mungkin bisa terlaksana besok pada penitisan kita lagi!”
Kembali Thian-leng menghiburnya dan memberi pernyataan lagi. Kemudian dengan suara berbisik-bisik ia menerangkan bahwa ia telah mendapat peta Telaga zamrut. Apabila ia berhasil menemukan kitab pusaka itu, tentulah cita-cita mereka berdua bakal tercapai!
“Benarkah ucapanmu itu?” Cu Siau-bun menegaskan girang-girang kaget.
Segera Thian-leng mengeluarkan peta, serunya, “Lihatlah peta ini, Cu-heng…..!” serunya. Cu Siau-bun memperingatkan supaya sahabatnya itu jangan bicara keras-keras, karena dinding itu bertelinga. Kemudian ia menyuruh Thian-leng menyimpannya lagi.
“Tadi Cu-heng mengatakan ada cara yang dapat menyembuhkan penyakitmu, entah apakah…..”
Wajah Cu Siau-bun berobah merah, ujarnya tersipu-sipu, “Sekalipun ada, tetapi tentu membuat kau menderita…..”
Thian-leng menyatakan bahwa ia bersedia melakukan apa saja asal penyakit sahabatnya itu sembuh.
Akhirnya Cu Siau-bun terpaksa berkata dengan nada jengah, “Sejak kecil tubuhku telah terkena semacam racun. Racun itu kecuali dengan cara pengobatan Goan-yang-sam-hwe ialah menggunakan sari perjakamu untukmu mengenyahkan racun, tiada lain jalan lagi!”
Thian-leng pun merah mukanya. Ia tahu bahwa Goan-yang-sam-hwe itu memang suatu cara pengobatan yang mujarab. Ibarat dapat merebut jiwa manusia dari cengkeraman iblis maut. Tetapi cara itu berarti suatu pengorbanan kehilangan perjakanya. Namun dalam menghadapi saat-saat seperti itu, pikirannya hanya ditujukan untuk menolong sang sahabat saja, maka iapun terpaksa meluluskan juga.
Demikian kedua pemuda itu hendak melakukan pengobatan istimewa. Pada detik-detik
di mana keduanya sudah siap melaksanakan, terdengar Cu Siau-bun menghela napas, “Apakah kau bersungguh hati hendak menolong jiwaku?”
“Eh, mengapa Cu-heng masih berkata begitu?”
“Apakah kau takkan menyesal?”
“Menyesal? Mengapa harus menyesal?”
“Jika kau mengetahui bahwa aku….” Cu Siau-bun berhenti sejenak, “andaikata kau mendapatkan ada sesuatu yang mengejutkan pada diriku, apakah kau tetap……”
“Ah, mengapa Cu-heng masih tak percaya!” Thian-leng heran.
“Bukan tak percaya, tetapi kuatir kau…..” tiba-tiba suara dan tubuh Cu Siau-bun gemetar, ujarnya, “Aku…..aku….sebenarnya……”
“Kau seorang ….. gadis!” Thian-leng menjerit kaget, “kau ini Cu Siao-bun, kau ternyata tak sakit!”
“Ya, benar, aku……..,” Cu Siau-bun menangis sedih. Sementara Thian-leng tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia kehilangan kata-kata. Seharusnya ia pagi-pagi tahu bahwa Cu Siau-bun itu ialah Cu Siao-bun juga. Mengapa ia begitu naif sampai kena dikelabui?
Tetapi haruskah ia mendamprat gadis itu?
Tidak! Walaupun bagaimana yang telah terjadi, ia tak dapat menyalahkan nona itu. Adalah karena dirundung oleh badai asmara, maka nona itu sampai nekat melakukan hal-hal yang sebenarnya kurang senonoh. Ya, tak sangsi lagi. Adalah karena pengaruh asmara terpendam yang meledak di sanubari nona itu. Jelas sudah bahwa nona itu memang sangat mencintainya......
Baik rupa maupun kepandaian, memang Cu Siau-bun merupakan gadis idaman yang sukar dicari keduanya. Ia tentu bahagia mempunyai seorang isteri yang begitu menyayang. tetapi dapatkah ia memperisterikannya? Tidak! Ia telah meluluskan pada si Jenggot Perak Lu Liang-ong untuk mengambil Lu Bu-song sebagai isteri. Ia tak dapat melanggar sumpahnya. Tetapi, tetapi.... ah, ia telah melanggar kesucian Cu Siau-bun.... dapatkah hal itu dipertanggung-jawabkan???
“Kau ...... benci padaku?” karena melihat Thian-leng membisu, Cu Siau-bun memberanikan diri menegur.
Thian-leng gelagapan menyahut, “Tidak! Aku …merasa mengecewakan kau…. “ ia menghela napas panjang, “Karena aku tak dapat memperisteri kau!”
Cu Siau-bun tertawa rawan, “Kutahu, tak dapat kusesalimu!”
Tetapi dalam hati nona itu telah memutuskan. Ia hendak berjuang mengalahkan Lu Bu-song untuk merebut Thian-leng. Dan kini dalam babak pertama, ia sudah menang…..
Sekonyong-konyong sebuah benda berkelap-kelip macam seekor kunang-kunang menghampiri tempat lilin dan tiba-tiba membentur sumbu lilin. Seketika lilinpun menyala dan serentak dengan itu terdengar suara berbisik, “Menghadapi seorang nona cantik, mengapa kasak-kusuk dalam kegelapan!”
Thian-leng dan Siau-bun tersentak kaget!
Utusan Neraka
Siau-bun menjulurkan sebuah jarinya dan lilin itupun padam. Keduanya segera mengemasi pakaiannya.
“Awas, jaga baik-baik petamu, mungkin orang ini hendak mengarah petamu itu!” bisiknya kepada Thian-leng.
Thian-leng mendorong jendela dan loncat keluar. Dengan sebuah loncatan yang indah ia hinggap di atas penglari rumah. Rumah penginapan seolah-olah terbungkus oleh kegelapan, sunyi dan senyap.
“Apakah kau melihat sesuatu?” tanya Siau-bun ketika menyusul loncat ke atas rumah. Thian-leng hanya menggeleng. Mungkin waktu berpakaian tadi orang sudah menyingkir pergi. Apa tujuan orang itu? Mengapa ia terus melarikan diri?
Siau-bun pun heran. Ia masih mengenakan pakaian laki-laki, wajahnya yang pucat kini tampak kemerah-merahan. Thian-leng melirik padanya dan tertawa.
“Kau menrtawakan aku?” dengus Siau-bun.
“Jangan salah paham, engkoh Cu...eh.....nona Cu.....”
Siau-bun menggumam, “Bagaimanapun pandanganmu terhadap diriku, tetapi kita telah...... tidur bersama. Dengan masih memanggil nona, apakah tidak terlalu.....,” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terisak-isak.
Terpaksa Thian-leng menghiburnya, “Adik Bun, ya..., akulah .... yang salah.....”
“Ah, sudahlah. Yang sudah biarlah lampau....” sahut Siau-bun rawan.
Sekonyong-konyong terdengar sebuah tertawa mengejek. Thian-leng segera mengenali suara itu seperti suara orang yang mengganggu tadi. Berbareng dengan itu tampak sesosok tubuh melesat keluar dari sudut rumah penginapan dan terus melarikan diri.
“Hai, siapa itu berani mengganggu tak berani berhadapan muka?” Thian-leng berseru seraya loncat mengejar.
“Biarkan saja, jangan kena tertipu….” Siau-bun mencegah. Tetapi Thian-leng yang sudah dirangsang kemarahan sudah terlanjur melambung ke atas wuwungan. Terpaksa Siau-bun pun mengikuti.
Orang itu hebat sekali. Betapapaun Thian-leng lari sekencang-kencangnya, tetapi tetap ketinggalan berpuluh tombak jauhnya. Bisa melihat orangnya tapi tak bisa mendekati.
Mereka sudah berada di luar kota. Orang itu berlari menyusur sepanjang pantai sungai Hongho. Air bengawan yang mengkilap gelap di malam pekat, makin menambah keseraman suasana.
“Pernahkah kau melihat orang itu?” tanya Siau-bun. Thian-leng menggeleng.
Tiba-tiba Siau-bun loncat menghadang di muka, “Sudahlah , tak usah mengejar lagi.!”
“Mengapa?” Thian-leng terkejut.
“Kita masih mempunyai urusan. Kalau kau tak tahu siapa orang itu, perlu apa mati-matian mengejarnya? Kemungkinan besar ia hendak gunakan tipu untuk memancing kita!”
Thian-leng menghentikan langkahnya. Ia pikir alasan Siau-bun itu benar. Ya, perlu apa ia harus mengejar orang yang tak dikenal itu?
“Baiklah, mari kita balik ke pondok lagi.” katanya. Tetapi pada saat keduanya memutar tubuh, tiba-tiba terdengar orang itu menggunakan ilmu menyusup suara berseru kepada Thian-leng.
“Bu-beng-jin, bukankah kau hendak mencari tahu asal-usulmu?”
Sudah tentu Thian-leng tersentak kaget dan cepat-cepat memutar tubuh lagi. Orang itu melanjutkan kata-katanya dengan ilmu menyusup suara, “Ketahuilah bahwa aku bermaksud baik. Aku tak punya dendam apa-apa kepadamu, jangan kau menguatirkan diriku. Jika ingin tahu asal-usul dirimu, bebaskanlah dirimu dari libatan kawanmu itu dan ikutlah aku ke dalam sarangku. Jika tak mau, maaf aku tak dapat menunggumu lebih lama lagi....”
Hati Thian-leng berdebar keras. Hal yang paling menjadi pemikirannya ialah tentang asal-usul dirinya. Apalagi orang itu memang tak bermusuhahn padanya. Ditilik dari caranya menyalakan lilin dari kejauhan dan ilmu lari cepatnya, jelask kalau seorang sakti. Mungkin orang itu memang sungguh-sungguh bermaksud baik hendak memberi petunjuk padanya!
Seketika tergeraklah hati Thian-leng. Ia hendak menurut seruan orang itu. tetapi pada lain saat, timbullah suatu prasangka. Nada suara orang itu memang tak pernah didenagrnya, tetapi mengapa dia tahu tentang riwayat dirinya? Mengapa orang itu begitu menaruh perhatian padanya? Kaki Thian-leng yang sedianya di ayun, kembali terhenti pula.
“Lekas, mengapa kau ini?” melihat Thian-leng berhenti, Siau-bun menegur heran.
Thian-leng termangu-mangu tak dapat mengambil keputusan. Tiba-tiba orang tak dikenal itu kembali menggunakan ilmu menyusup suara, “Kau mau ikut atau tidak terserah! Tetapi sekarang aku tak dapat menunggu lagi!”
Belum Thian-leng sempat menimbang, tiba-tiba Siau-bun sudah menepuk bahunya, “Hai, mengapa kau ini?”
Thian-leng gelagapan. Dalam gugupnya ia segera mengambil keputusan. Segera ia mengambil keluar peta Telaga zamrud dan diberikan kepada si nona, “Harap adik Bun pulang dulu ke pondok, aku hendak menemui seorang sahabat dulu!”
“Kau kenal dengan orang itu?” tanya Siau-bun.
“Tidak, aku tak kenal!”
“Mengapa kau hendak menemuinya? Apakah kau tak kuatir terjebak tipunya?”
Thian-leng menggeleng,”Tidak, aku harus pergi, harap adik Bun jangan kuatir!” tanpa menunggu sahutan si nona lagi, Thian-leng pun segera loncat mengejar orang aneh tadi.
Siau-bun heran atas tindakan pemuda itu. Setelah menyimpan peta ke dalam baju, iapun segera menyusul.
Bayangan hitam itu tetap berada pada jarak dua puluhan tombak. Melihat Thian-leng menyusul, ia tertawa gelak-gelak dan melanjutkan larinya lagi. Betapapun Thian-leng hendak menyusulnya tetap tak mampu.
Tiba di puncak bukit yang sunyi, tiba-tiba orang aneh itu berhenti. Sekeliling bukit itu penuh ditumbuhi huatan pohon Yang dan Siong yang rindang.
Secepat Thian-leng dan Siau-bun tiba, kejut mereka bukan kepalang ketika melihat wajah orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar, mata sebesar kelereng, dahinya menonjol, wajahnya mengerikan.
Punggungnya menyelip sebatang kipas besi. Begitu melihat Thian-leng, berserulah orang itu dengan bengis, “Hai, telah ukatkan supaya jangan membawa kawanmu, mengapa……..”
“Sebutkan namamu dulu! Asal kau menerangkan maksudmu mengi=undang dia kemari, tentu aku segera mengundurkan diri sendiri, kalau tidak….” Siau-bun cepat-cepat menyambuti. Sejenak ia melirik ke arah Thian-leng, ia berkata pula, “Kami berdua datang bersama pergi berdua! Betapapun hendak gunakan tipu muslihat memikatnya, tak akan kubiarkan dia termakan tipumu….”
“Ya, aku belum meminta keterangan nama cianpwe?” sambung Thian-leng.
Orang aneh itu tertawa seram, “Aku mempunyai she ganda Tok-ko dan nama Sing. Atas perintah tuanku, aku disuruh mengundang Be-beng tayhiap untuk diberitahukan sebuah rahasia penting!”
Thian-leng tertegun, “O, kiranya cianpwe mempunyai majikan?”
Ia anggap orang itu mempunyai kepandaian sakti dan umurnyapun sudah enam puluhan tahun, masakah masih berhamba pada orang. Kalau orang itu saja sudah dapat digolongkan sebagai tokoh kelas satu, bagaimana dengan majikannya!
“Boleh aku bertanya siapa tuanmu itu?” seru Siau-bun.
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak,” Tuanku juga mempunyai she ganda Kong-sun dan nama gnda Bu-wi.”
Siau-bun mendengus, “Ah, apakah kepala dari Hek-gak (Neraka hitam)?”
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Hek-gak sudah melenyapkan diri dari dunia persilatan selama enam tujuh tahun. Sungguh tak nyana nona bisa mengetahuinya dengan jelas!”
Siau-bun memandang Thian-leng, “Jangan kena jebakannya, ayo kita pergi saja!”
Kembali Thian-leng ragu. Ia tak tahu siapa yang disebut Hek-gak itu, tetapi dari ucapan Siau-bun yang begitu serius, tentu Hek-gak itu sebuah tempat yang misterius. Tetapi ia tertarik dengan undangan Tok-ko Sing tadi…..
“Eh, apakah kau masih berkeras tak mau mendengar kata-kataku?” Siau-bun banting-banting kaki.
Baru Thian-leng hendak menyahut, Tok-ko Sing sudah mendahului tertawa sinis, “Apakah nona marah karena aku mengganggu kesenangan kalian tadi sehingga nona melarang dia memenuhi undanganku?”
“Ngaco!” bentak Siau-bun. Wajahnya tersipu-sipu merah. Tak mau ia menghalanagi Thian-leng lagi.
“Karena sudah datang, maka harap cianpwe suka membawa aku ke sana!” akhirnya Thian-leng pun mengambil keputusan.
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Aha, ternyata kau tak mengecewakan sebagai seorang pendekar muda. Pandangan tuanku itu maha tajam dalam menilai pribadi seorang ksatria….”
Habis berkata orang aneh itupun segera ayun langkah menuju ke dalam hutan.
Thian-leng pun tak ragu-ragu lagi segera mengikutinya. Siau-bun mendengus, tetapi iapun terpaksa mengikuti juga.......
ooooo000000000oooo
Neraka Hitam
Tak lama mereka sudah menyusup berpuluh-puluh tombak ke dalam hutan. Saat itu hari
makin malam. Hutan Siong dan jati makin pekat. Sedemikian gelap sehingga tak dapat melihat jari sendiri. Namun karena lwekang Thian-leng dan Siau-bun cukup tinggi, maka dapatlah mereka menembus kegelapan itu. Sejauh beberapa tombak mereka masih dapat melihat jelas. Sekalipun demikian tak urung kedua muda-mudi itu tercekat juga hatinya.
Sambil menarik tangan Thian-leng, berkatalah Siau-bun dengan ilmu menyusup suara, ”Mungkin kita masuk dalam jebakan. Masih keburu jika kita balik keluar!”
“Putusanku telah bulat. Biarpun masuk ke dalam sarang harimau telaga naga, aku tetap tak gentar,” sahut Thian-leng, “sekiranya adik Bun kuatir, baiklah pulang lebih dahulu!”
“Apakah kau anggap aku tega membiarkan kau seorang diri menempuh bahaya?” gumam Siau-bun.
Sederhana kedengarannya ucapan itu, tetapi penuh dengan kasih sayang yang mesra. Mau tak mau tergeraklah nurani Thian-leng.
“Apa katanya kepadamu sehingga kau begitu terpikat?” Siau-bun setengah menyesali.
“Aku tak dapat melepaskan kesempatan untuk mencari tahu asal-usul diriku…….!”
“O, jadi dia hendak memberitahukan tentang asal-usulmu?” tanya SIau-bun pula. Thian-leng mengiyakan.
Siau-bun geleng-geleng kepala, ”Kau termakan tipunya. Tahukah kau tempat apa Neraka Hitam ini?”
Thian-leng mengangkat bahu.
“Pemilik dari Neraka Hitam ini ialah Kongsun Bu-wi, seorang durjana besar pada enam tujuh puluh tahun yang lalu. Dia membunuh jiwa manusia seperti membunuh lalat. Tak ada kejahatan yang tak dilakukan…..”
“Tetapi mengapa ia menyembuhkan diri?” tanya Thian-leng.
“Karena waktu itu ia dikalahkan Hun-tiong Sin-mo dan sejak itu kekuasaan dunia persilatan pindah ke tangan Hun-tiong Sin-mo. Kongsun Bu-wi beruntung masih dapat melarikan diri!”
Thian-leng terkejut. Ia tak pernah mendengar tentang peristiwa itu. Sejenak kemudian ia bertanya mengapa Siau-bun tahu tentang hal itu.
Pertanyaan itu membuat Siau-bun tertegun tetapi cepat-cepat ia menyahut, “ Sudah tentu aku hanya mendengar cerita ibuku saja!”
“Kalau begitu ibumu itu tentulah seorang pendekar wanita yang ternama?” tiba-tiba Thian-leng mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Siau-bun tertegun.
“Apakah kau benar-benar tak mau merobah keputusan?” cepat-cepat nona itu mengalihkan pembicaraan.
Thian-leng menghela napas, “Hal yang paling menyiksa batin orang ialah kalau tak tahu asal-usul dirinya. Itulah sebabnya maka aku menggunakan nama Bu-beng-jin. Setiap kesempatan mencari tahu hal itu sudah tentu takkan kulepaskan!”
Siau-bun menghela napas, “Soalnya, bukan saja kau tak berhasil mencapai tujuanmu pun bahkan malah terjebak dalam bahaya. Kau tak pernah mendengar betapa keganasan momok Kongsun Bu-wi! Dia lebih ganas daripada Sin-bu Te-kun!”
Thian-leng batuk-batuk, “Selama Hun-tiong Sin-mo masih menguasai dunia persilatan, mengapa Kongsun Bu-wi berani berkutik lagi?”
Siau-bun tertawa getir, “Ilmu kepandaian itu sukar diukur dalamnya. Tiada ujung tiada pangkal kecuali It Bi siangjin seorang, mungkin tiada seorang tokoh lain yang berani membanggakan diri sebagai tokoh lain yang berani membanggakan diri sebagai tokoh tanpa tandingan…….” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pula, “Rupanya dalam persembunyiannya selama enam puluh tahun itu, Kongsun Bu-wi telah meyakinkan suatu ilmu kesaktian untuk menebus kekalahannya yang dahulu. Dikuatirkan tak lama lagi dunia persialtan tentu akan timbul suatu huru-hara hebat!”
Thian-leng anggap ulasan nona itu mendekati kebenaran. Ia tak memberi komentar suatu apa. Dalam pada itu, mereka sudah melintasi berpuluh tombak lagi, namun hutan itu tampaknya tiada berujung.
“Apakah Bu-beng tayhiap tetap hendak bersama dengan sahabatmu itu?” tiba-tiba Tok-ko Sing berhenti dan memutar tubuh.
Sebelum Thian-leng sempat menyahut, Siau-bun sudah mendahului lagi, “Apakah majikanmu tak mau menerima kedatanganku?”
Tok-mo Sing batuk-batuk, “Ini…sekalipun aku tak berani memastikan, tetapi biasanya perintah beliau teramat keras. Karena beliau hanya perintahkan aku mengundang Bu-beng tayhiap, maka tak beranilah aku membawa nona!”
Siau-bun tertawa datar, “Begini sajalah. Aku tak kan menyusahkan kau. Nanti apabila berhadapan dengan majikanmu, akan kukatakan bahwa aku datang sendiri bukan karena ikut kau!”
Tok-ko Sing memandang Siau-bun dengan tajam. Tiba-tiba ia tertawa sinis, “Baiklah, harap nona jangan sesalkan aku!”
“Terserah bagaimana kau hendak mengaturnya,” Siau-bun balas tertawa tak acuh. Kata-katanya juga mengandung berbagai tafsiran.
Segera Tok-ko Sing ayunkan tangannya ke atas. Terdengarlah letupan keras disertai hamburan sinar berkilat di udara. Rupanya utusan Neraka Hitam itu melepaskan api pertandaan.
Beberapa jenak kemudian, terdengarlah tiga kali genderang bertalu. Semula perlahan tetapi lama kelamaan gemanya berkumandang keras.......
Tok-ko Sing tertawa, “Pintu gerbang tengah dalam Neraka Hitam sudah dibuka, menunggu kedatangan tetamu!”
Thian-leng dan Siau-bun segera mengikuti orang itu melintasi gerombol pohon yang lebar. Tiba-tiba mata kedua muda-mudi itu tertumbuk pada selarik sinar penerangan yang melingkar-lingkar dalam warna hijau kebiru-biruan. Ketika mengawasi dengan seksama, terkejutlah kedua anak muda itu. Kiranya lingkaran sinar hijau itu tergantung di atas puncak sebuah gedung dan berbentuk dua buah huruf “ Hek Gak”.
Pada kedua samping tembok pintu, tergantung berpuluh mayat manusia yang perutnya pecah, usus berhamburan keluar dan darah bercucuran!
Thian-leng memekik tertahan dan berhenti.
“Ha, ha, masakah Bu-beng tayhiap takut?” Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak.
Thian-leng mendengus geram, “Sejak lahir, aku tak kenal dengan kata-kata takut!”
“Tetapi mengapa Bu-beng tayhiap berhenti?” Tok-ko Sing tertawa mengejek.
“Kuanggap majikanmu kelewat ganas…..” sahut Thian-leng. Menunjuk pada deretan mayat pada tembok, ia berkata,” Orang-orang itu sudah dibunuh begitu kejam, mengapa masih dipaku pada tembok! Kepada manusia yang sedemikian kejamnya, aku akan pikir-pikir dulu untuk menjumpainya atau tidak!”
Kembali Tok-ko Sing tertawa keras. Sedemikian keras, hingga daun-daun di sekeliling bergoyang-goyang. Dan sampai lama sekali baru ia berhenti tertawa.
“Bu-beng tayhiap, kau salah tafsir!” serunya.
“Salah tafsir?” Thian-leng terbeliak, “Apakah mereka bukan dibunuh oleh orang Neraka Hitam? Apakah pembunuhan itu tiada sangkut pautnya dengan majikanmu?”
Tok-ko Sing tertawa,”Sayang indera penglihatanmu itu kurang tajam. Cobalah periksa yang jelas mayat-mayat itu lagi!”
Selama Thian-leng mengadakan percakapan dengan Tok-ko Sing, Siau-bun hanya diam saja. Ia hanya memperhatikan suasana sekeliling tempat itu.
Thian-leng segera menghampiri ke tembok. Ketika dekat, ia menjerit kaget! Ah… kiranya mayat-mayat itu bukan manusia melainkan hanya orang-orangan yang terbuat dari lilin. Adalah karena pembuatannya sedemikian pandai sehingga menyerupai benar dengan manusia.
Diam-diam Thian-leng malu sendiri. Namun masih ia tak mengerti mengapa Kongsun Bu-wi membuat orang-orangan lilin seperti itu. Apakah untuk menambah keseraman nerakanya atau ada lain maksud lagi?
Rupanya Tok-ko Sing mengetahui isi hatinya, ia tertawa, “Bu-beng tayhiap tentu heran melihat orang-orangan itu bukan?”
Thian-leng mengangguk, “Ya, memang aneh!”
Tok-ko Sing tertawa, “Orang-orangan lilin itu ialah sasaran yang hendak dituju majikanku pada saat ia keluar ke dunia persilatan lagi……” Sambil menunjuk pada mayat lilin yang tergantung di tengah-tengah, ia berkata pula. “Itulah lambang Hun-tiong Sin-mo dan itu Song-bun Kui-mo. Sebenarnya masih ada dua orang-orangan lilin lagi, tetapi karena orangnya sudah mati, maka tak dipasang lagi….”
Memang Thian-leng melihat bahwa ada dua tempat yang kosong. Diam-diam ia menduga bahwa yang diambil itu tentulah orang-orangan lilin lambang Oh-se Gong-mo dan Tui-hun Hui-mo. Karena kedua tokoh itu sudah meninggal.
Kembali Tok-ko Sing menunjuk ke arah kanan, “Tahukah Bu-beng tayhiap siapa orang-orangan itu?”
Thian-leng memperhatikan bahwa yang ditunjuk oleh Tok-ko Sing itu berjumlah sembilan buah orang-orangan lilin terdiri dari lambang paderi, imam, rahib dan ada orang biasa.
“Apakah mereka bukan melambangkan tokoh sembilan partai?” Thian-leng balas menanya.
“Benar!” sahut Tok-ko Sing. Kemudian ia menunjuk ke arah kiri pada empat lima puluh mayat orang-orangan lilin. “Dan yang sana itu lebih banyak lagi jumlahnya, tahukah Bu-beng tayhiap siapa mereka itu?”
“Aku masih hijau, tak mengerti banyak!” Thian-leng agak mengkal menyahut.
“Mereka itu juga tokoh-tokoh yang terkenal, antara lain ketua Thiat-hiat-bun Jenggot Perak Lu Liang-ong, ketua Bu-siong-hwe yang bernama Hun-bin Bu-siong, ketua perkumpulan agama Pek-tok-kau yang bernama Ha-Lui, ketua perkumpulan pengemis Kay-pang….”
Siau-bun hanya ganda tersenyum saja. Sepatahpun ia tak berkata. Tetapi lama-kelamaan
ia tak tahan lagi. Tukasnya dengan tawar, “Sudahlah, tak usah cerita terus. Memang cita-cita majikanmu besar sekali, tetapi sayang ia melalaikan sebuah hal!”
“Melalaikan hal apa?” tertariklah perhatian Tok-ko Sing.
“Dia tak kenal dirinya sendiri!” Siau-bun tertawa dingin.
Tok-ko Sing tertegun, ujarnya, “Hal ini tak dapat kukatakan. Coba saja buktikan nanti!”
Diam-diam Thian-leng merenung dalam-dalam. Dari pameran mayat-mayat lilin itu dapatlah diketahui sampai di mana ambisi Kongsun Bu-wi. Jelas orang itu hendak menimbulkan pemberontakan dalam dunia persilatan.
“Sekarang terserah pada Bu-beng tayhiap apakah tetap hendak masuk ke dalam Neraka Hitam ataukah mundur…..” kata Tok-ko Sing.
Sambil melirik kepada Siau-bun, berkatalah Thian-leng dengan gagahnya, “Dengan pameran serupa itu masakah dapat menggertak aku. Silakan membawa kami terus!”
Tok-ko Sing tertawa sinis. Segera ia memberi isyarat tangan mempersilakan kedua muda-mudi itu.
Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Serentak dengan gerakan Tok-ko Sing itu maka terdengarlah suara berdrak-derak dari pintu gerbang besi yang terpentang. Thian-leng sejenak termangu tetapi pada lain saat ia segera melangkah masuk diikuti oleh Siau-bun.
Dua deret rombongan penjaga yang mengenakan pakaian ringkas dan senjata lengkap tampak menjaga di sepanjang jalan masuk. Deretan terakhir terdiri dari dua orang bujang perempuan dalam pakaian sederhana. Kedua bujang itu menghadang di tengah dan menyambut kedatanagn sang tetamu, “Selamat datang Bu-beng tayhiap!”
Tetapi kedua bujang itu segera tersirap kaget demi melihat Siau-bun. Heran mereka mengapa Thian-leng membawa kawan.
Tok-ko Sing segera memberi keterangan, “Walaupun berpakaian lelaki, tetapi tamu kita ini seorang nona. Sambutlah mereka berdua ke dalam ruang tamu......!” Kemudian ia menyatakan hendak menemui Kongsun Bu-wi.
Ruangan dalam gedung itu tinggi-tinggi, tetapi semuanya dicat hitam sehingga seram tampaknya. Kedua bujang itu membawa Thian-leng dan Siau-bun masuk.
Selama melalui jalan kecil dan tikungan-tikungan gang, diam-diam Thian-leng mencatat dalam hati. Kira-kira empat puluh tombak jauhnya setelah melintasi dua buah halaman, tibalah mereka di ruang tamu. Sebuah ruangan yang luas, penuh dengan kamar-kamar tetapi sepi-sepi semua. Juga kamar-kamar itu dicat warna hitam, tanpa lampu sama sekali. Tetapi ketika Thian-leng dan Siau-bun dipersilakan masuk ke dalam kamar sebelah utara, kedua bujang itupun menyulut juga sebuah pelita.
Setelah menghidangkan dua cawan the wangi, kedua bujang itupun meninggalkan ruangan. Begitu mereka pergi, Thian-leng cepat-cepat mengunci pintu. Ia periksa seluruh ruangan itu dengan teliti. Di situ terdapat tiga buah kamar. Ruangan dihias indah, tetapi serba sederhana. Sekilas pandang seperti tak ada sesuatu alat rahasia.
“Adik Bun, jangan minum teh itu!” habis memeriksa ruangan, Thian-leng terkejut melihat Siau-bun tengah mengangkat cawan arak.
“Mengapa?” Siau-bun tertawa datar.
“Kita berada dalam tempat berbahaya. Segala tindak tanduk kita harus hati-hati. Kalau teh itu diberi obat, bukankah....”
“Teh ini tiada racunnya dan ternyata teh dari Liong-keng yang termasyhur. Ayo, kita nikmati saja!” Siau-bun tertawa.
“Bagaimana kau memastikan mereka tak menyampuri obat?”
“Sebabnya sederhana saja. Pertama, gedung ini berdinding sangat tinggi, berpintu besi dan penuh alat rahasia. Sekali kau sudah masuk tak nanti kau mampu keluar lagi. Kedua, pemilik Neraka Hitam ini sudah enam-tujuh puluh tahun menyembunyikan diri. Begitu hendak muncul lagi sudah tentu harus menjaga gengsi. Tak nanti mau merendahkan diri membunuh kita dengan racun. Masih banyak lagi alasan-alasannya, tetapi pada pokoknya untuk sementara ini tentu takkan bertindak curang....”
Thian-leng anggap analisa nona itu tepat, namun ia tetap merasa cemas. Ia masih sangsi akan keterangan Tok-ko Sing bahwa pemilik Neraka Hitam itu akan memberi keterangan tentang asal-usul dirinya. Mengapa Kongsun Bu-wi begitu menaruh perhatian besar kepadanya? Apakah maksudnya.......
“Tolol, apa yang kau pikirkan....?” tiba-tiba Siau-bun menegurnya, “ bagaimana hasil penyelidikanmu tadi?”
Thian-leng mengatakan bahwa tampaknya ruang itu tiada diberi barang suatu perkakas rahasia.
“Gila kau!” Siau-bun tertawa hambar, “ruangan ini justru penuh dengan perkakas rahasia.!”
“Kalau begitu kita ini berada dalam jebakan mereka?” Thian-leng terkejut.
“Boleh dikata begitulah.....” Siau-bun tersenyum, ujarnya pula, “Tetapi telah kukatakan tadi, dalam waktu singkat ini mereka takkan mencelakai kita. Maka untuk sementara ini kita aman, tak usah kuatir apa-apa!”
“Bagaimana dengan kata-kata Tok-ko Sing tadi?” tanya Thian-leng.
“Bukankah aku pernah menganjurkan kau supaya jangan ikut padanya?” sahut Siau-bun hambar.
“Jadi kau sudah mengetahui kalau dia hendak mengelabui?” Thian-leng terbeliak kaget.
Si nona hanya mengangguk lesu.
Thian-leng tersipu-sipu menundukkan kepala dengan penuh sesal. Tiba-tiba Siau-bun tertawa hambar, ia menjentik dengan sebuah jari memadamkan pelita. Seketika ruangan itupun gelap gulita.
“Ha, apakah adik Bun mendengar sesuatu?” Thian-leng bertanya kaget.
“Tidak!”
“Habis mengapa memadamkan pelita?”
Segera Siau-bun menggunakan ilmu mnyusup suara, “Kita toh dapat melihat dlam kegelapan, jadi tak perlu dengan penerangan macam kunang-kunang begitu. Siapa tahu diam-diam ada orang tengah mengawasi gerak-gerik kita. Dalam kegelapan tentu sukarlah dia melakukan pengintaiannya!”
Beberapa kali nona itu telah mengemukakan analisa yang dapat diterima akal. Diam-diam Thian-leng kagum. Mereka segera duduk bersamadi.
Tak berapa lama tiba-tiba Siau-bun berseru dengan ilmu menyusup suara. “Ada orang datang, lekas...!” nona itu menutup kata-katanya dengan sebuah gerakan loncat ke atas tiang penglari. Tanpa banyak bicara Thian-leng pun segera mengikuti.
Benar juga, sesaat kemudian terdengar langkah kaki seorang berjalan dengan perlahan-lahan.
“Aneh, apakah di luar dugaanku?” Siau-bun menggumam heran.
“Apa yang kau duga?”
“Kuduga pemilik gedung ini tentu akan datang sendiri. Dengan menawarkan keterangan tentang asal-usulmu, dia akan minta peta Telaga zamrud. Jika kau menolak, dia akan menggunakan keerasan. Peta direbut dan kau akan dibunuh untuk menghilangkan jejak..”
“Apakah dia sudah tahu peta itu ada padaku?” Thian-leng tersirap kaget.
“Kalau tidak masakah dia begitu baik mengundangmu kemari?”
“Kalau begitu soal asal-usul diriku itu….?”
“Hal itu memang berliku-liku, sayang kau mudah tertipu!” tukas Siau-bun.
Thian-leng menghela napas penyesalan. Langkah kaki itu makin dekat tapi makin perlahan.
“Apa yang kau maksud dengan di luar dugaan tadi?” Thian-leng bertanya pula.
“Langkah kaki seperlahan itu menunjukkan bahwa orang berjalan dengan penuh hati-hati. Mungkin takut diketahui orang. Apakah di dalam Neraka hitam ini telah kemasukan orang lagi?”
Mendengar itu Thian-leng makin bingung. Saat itu langkah kaki sudah berada di luar pintu, menyusul terdengar suara ketukan pintu perlahan-lahan dan orang berseru lirih, “Bu-beng tayhiap…..!”
Thian-leng memandang Siau-bun, bagaimana adik Bun, kita bukakan pintu tidak?”
Siau-bun merenung sejenak, lalu mengatakan, “Bukalah pintu.”
Dengan sebuah gerakan seperti kucing, Thian-leng loncat turun dan membukan palang pintu. Siau-bun menyiapkan senjata rahasia tui-hong-kiong. Juga Thian-leng telah siap dengan pukulan Lui-hwe-ciang.
Tetapi apa yang muncul hampir membuat si anak muda menjerit kaget. ternyata hanya seoarang dara baju hijau. Wajahnya memancarkan seri kecemasan.
“Nona ini…..?”
“Apakah kau Bu-beng tayhiap?” tukas dara itu dengan berbisik.
Baru Thian-leng mengiyakan. Siau-bun sudah berseru supaya menyuruh dara itu masuk dan segera menutup pintu lagi. ternyata Siau-bun pun sudah loncat turun di belakang Thian-leng.
“Mungkin kau ini nona Cu yang bersama dengan Bu-beng tayhiap?” tanya si dara itu setelah masuk.
“Kau ini sebagai apa di dalam Neraka Hitam? Mengapa tengah malam datang kemari? Mengapa kau tahu kami berdua berada di sini?”
“Di Neraka Hitam ini kedudukanku cukup tinggi. Namanya saja aku ini majikan dari Hong-kiong (istana burung Hong), tetapi sebenarnya tak lebih dari seorang tawanan….kecuali pada saat berada di samping ayahku!”
Ucapan itu membuat Thian-leng dan Siau-bun bingung karena tak mengerti apa maksudnya.
“Katkan apa maksud kedatangnmu ini?” seru Siau-bun.
“Hendak mophon bantuan tuan berdua agar menolong kakekku!” sahut si dara.
“Asal kami dapat tentu dengan senang hati membantu nona, “ sahut Thian-leng serempak.
Dara baju hijau itu tertegun, “Kakekku itu tidak dipenjarakan karena dia….. dia bukan saja Cong-hou-hwat (kepala penjaga) Neraka Hitam, juga merupakan guru dari Kongsun Bu-wi…..!”
“Astaga!” Thian-leng mengeluh kaget. Ia memperhatikan lagi wajah nona itu, tetapi nyata kalau nona itu bukan seorang gila. tetapi mengapa ucapannya begitu aneh?
Kakek nona itu menjabat kedudukan yang sedemikian tinggi, perlu apa ia minta pertolongan pada orang asing? Juga nona itu sendiri menjabat sebagai kepala Hong-kiong. Mengapa dia begitu ketakutan dan minta tolong pada lain orang? Secerdas-cerdasnya otak Siau-bun, kali ini benar-beanr ia tak mengerti.
“Maukah nona menceritakan yang jelas? “ segera Siau-bun meminta.
Nona itu menyadari bahwa keterangannya tadi memang membingungkan, maka iapun segera memberi penjelasan.
“Ya, ya, memang harus kuceritakan dari awal. Lima tahun yang lalu kakekku itu datang kemari atas undangan kepala Neraka Hitam. Sebelum itu kakek tinggal di gunung Kiu-kong….”
“Kakekmu itu bernama……?” tukas Siau-bun.
“Kami keluarga she Bok. Kakekku itu bernama Bok Sam-pi, bergelar Ang-tim Cong-khek….”
“Bok Sam-pi….!” Siau-bun berseru kaget sekali.
Bok Sam-pi walaupun tak begitu terkenal, tetapi juga seorang tokoh sakti. Ilmu kepandaiannya sukar diukur. Memang jarang orang persilatan yang tahu dia, tetapi orang yang kenal padanya tentu mengindahkan. Malah ada yang menganggap bahwa Bok Sam-pi itu tokoh kedua setelah It Bi siangjin!
Tetapi Bok Sam-pi itu juga lebih senang mengasingkan diri. Itulah sebabnya maka angkatan muda jarang yang tahu namanya. Tetapi rupanya Siau-bun yang masih muda itu tahu banyak sekali tentang seluk-beluk dunia persilatan.
“Nama nona…….” tiba-tiba Thian-leng menyeletuk.
“Bok Ceng-ceng……” sahut si dara perlahan. Kemudian ia mengulangi lagi permintaannya tadi, “Apakah tuan berdua suka menolong kakekku?”
Siau-bun tertawa getir, “Kepandaian kakek nona ini sukar dicari tandingannya. Bukankah dia menjadi guru dari Kongsun Bu-wi? Bagaimana kami dapat menolongnya….?” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Apalagi kami sendiripun terjebak kemari, bagaimana dapat memberi pertolongan pada kakek nona?”
“Jadi tuan berdua tak mau membantu kesusahanku?” kata nona itu dengan nada terisak.
“Harap nona bercerita yang jelas. Asal kami dapat melakukan, tentu akan berusaha sekuat tenaga! Apa yang telah terjadi dengan kakek nona…”
Baru Thian-leng bertanya begitu, tiba-tiba Siau-bun menukasnya, “Celaka, kali ini kepala Neraka yang datang, lekas……!” ia suruh Bok Ceng-ceng bersembunyi. Ceng-ceng gugup sekali. Cepat ia menyusup ke bawah kolong ranjang.
Sesaat kemudian terdengar derap kaki riuh. Paling tidak tentu ada lima orang yang datang. Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara supaya Thian-leng bertindak menurut isyarat matanya. Jangan bertindak sekehendak sendiri.
“Masih begini sore mengapa kalian sudah sama tidur?” segera terdengar suara orang berkata-kata bercampur tawa. Nadanya berat, mengiang keras di telinga.
Thian-leng pun tertawa seraya membuka palang pintu. Serombongan lima orang melangkah masuk. Pelopornya seorang lelaki bongkok, kaki pincang, tangan kutung sebelah. Jenggotnya putih mengkilap, wajahnya penuh keriput. Umurnya ditaksir tentu sudah seratusan tahun.
Rombongan pengiringanya, kecuali Tok-ko Sing masih ada empat orang yang mengenakan pakaian seragam. Tok-ko Sing segera melangkah maju, memperkenalkan orang cacat itu kepada Thian-leng, “Inilah pemimpin kami.......!”
Thian-leng tersipu-sipu memberi hormat, “Kongsun cianpwe……”
Ketua Hek-gak itu tertawa, “Bu-beng tayhiap benar-benar tak bernama kosong. Seorang berbakat yang hebat dan berwibawa….”
Tetapi wajah ketua Hek-gak itu cepat berobah kurang senang ketika melihat Siau-bun. Sebaliknya Siau-bun acuh tak acuh.
“Sekiranya penyambutan kami kurang memuaskan, jangan Bu beng tayhiap ambil di hati,” kata ketua Hek Gak pula.
Thian-leng menyatakan terima kasih atas kebaikan tuan rumah hendak memberitahukan asal-usul dirinya.
“Ah, adalah karena kebetulan bertemu dengan seorang kawan lama yang tahu jelas tentang riwayat tayhiap, maka….” ketua Hek Gak tiba-tiba tak melanjutkan ucapannya.
“Mohon Gak-cu (kepala neraka) sudi memberitahukan. Untuk itu takkan kulupakan budi Gak-cu seumur hidup,” Thian-leng mendesaknya.
Kongsun Bu-wi mengangguk, “Sudah tentu, hanya saja.....” ia berhenti sejenak lalu menyambung pula, “Sebelum menceritakan riwayat tayhiap, bolehkah aku bertanya dulu tentang suatu hal?”
Thian-leng mempersilakan. Tiba-tiba Siau-bun membisikinya dengan ilmu menyusup suara. “Tuh, dia sudah mulai....... ingat! Betapapun ia mendesakmu, janganlah sekali-kali kau mengaku!”
“Kudengar tayhiap memiliki sebuah peta Telaga zamrut, benarkah itu?” sesuai dengan dugaan Siau-bun, ketua Hek gak itu menyatakan maksudnya.
Hampir meledak dada Thian-leng. Namun ia tetap bersabar dan pura-pura tak mengerti. “Peta Telaga zamrut? Aku tak pernah mendengarnya apalagi memiliki!”
Ketua Hek Gak tetap tertawa, “Peta itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai harganya. Tetapi pun bisa dianggap tak berharga sepeser juga!”
“Entah bagaimanakah wujud peta itu, harap cianpwe suka menjelaskan. Kelak apabila berkelana, aku tentu berusaha untuk mencarikan !” Thian-leng tetap membodoh.
“Eh, kabarnya kau ini seorang kstria yang suka berterus terang, tak pernah bohong! Tetapi mengapa kau tak mau berlaku jujur?”
Wajah Thian-leng tampak agak berubah, ujarnya, ”Taruh kata aku memiliki peta itu, tetapi cara cianpwe hendak merebut dengan siasat serendah ini, tentu tak kuserahkan! Apalagi sesungguhnya peta itu tak berada padaku!”
Wajah Kongsun Bu-wi pun berobah juga, serunya, “Jadi kau tak mau mengaku?”
Tok-ko Sing tertawa sinis dan segera menyeletuk, “Walaupun tayhiap telah mendapatkan peta itu secara rahasia sekali, tetapi beritanya sudah tersiar luas di dunia persilatan. Kalau kau tak mau menyerahkan peta itu kepada ketua kami, dikuatirkan kau tak dapat mempertahankannya lebih lama dari tiga hari, apalagi...... tempat persembunyian pusaka itu telah diketahui di gunung Thay-heng-san! Seluruh wilayah gunung itu kini berada dalam pengawasan kami. Jangan harap kau bisa menggali tempat itu. Maka daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia, lebih baik kau tukarkan saja dengan keterangan tentang asal-usul dirimu!”
Saking marahnya, menggigillah tubuh Thian-leng.
“Kalian tuan dan budak adalah manusia hina semua, tak malu sama sekali…..”
Tetapi secepat itu Siau-bun segera berseru, “Jangan keburu nafsu dulu…… memang apa yang dikatakan mereka itu benar. Jika kau memang memiliki peta, tak beda seperti secarik kertas tak berharga saja!”
Thian-leng melongo. Tak tahu ia mengapa mendadak Siau-bun mengatakan begitu.
Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Ha, benar! Kiranya nona Cu lebih mengerti persoalan….!” tiba-tiba ia memutar tubuh dan berbisik-bisik kepada Kongsun Bu-wi. Ketua Hek Gak itu mengangguk, “Baik, kita beri waktu dua jam lagi untuk mereka pikir-pikir. Nanti tengah malam aku akan kembali kesini lagi minta jawaban.....”
Sebelum pergi ketua Hek Gak itu melontarkan pandangan tajam pada Thian-leng, serunya tandas, “Ingin mati atau hidup, terserah padamu!”
Baru ketua itu memutar tubuh hendak berlalu, tiba-tiba ia memutar diri lagi. Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Merekapun bersiap-siap. Tetapi ternyata ketua Hek Gak itu tak mengacuhkan kedua anak muda itu. Dengan suatu gerakan yang tak terduga, tiba-tiba ia mencengkeramkan tangannya ke arah kamar.
Cengkeraman itu dilakukan dari jauh dan tampaknya lemah-lemah saja, tetapi hasilnya sungguh tak terduga, Bok Ceng-ceng yang bersembunyi di kolong ranjang telah tertarik keluar!
Kejut Thian-leng tak kepalang. Cepat ia meraih pedangnya, tetapi Siau-bun menepuk bahunya perlahan-lahan, bisiknya dengan ilmu menyusup suara, “Sebelum terpaksa jangan bertindak gegabah!”
Thian-leng menurut. Ceng-ceng yang terseret keluar itu, bagaikan seekor ikan dalam jaring. Serta merta ia memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi.
Ketua Hek Gak tertawa meloroh, “O, kukira ada penjahat masuk ke sini, ternyata kepala dari Hong-kiong….” tiba-tiba ia berganti nada bengis.” Mengapa kau tidur di kamar tamu? Bukankah kau tak mempunyai kebiasaan jalan-jalan di waktu tidur?”
“Hamba…. hamba…..” tak dapat Ceng-ceng memberi jawaban yang tepat.
“Mana Si-hwat?” teriak Kongsun Bu-wi. Si-hwat adalah algojo.
Segera Tok-ko Sing tampil.
“Kepala Hong-kiong telah melanggar peraturan, bagaiman hukumannya?” seru Kongsun Bu-wi.
“Mati!” sahut Tok-ko Sing.
Kongsun Bu-wi kerutkan dahi, ujarnya, “Tetapi dia adalah cucu tunggal dari guruku, boleh diperingan hukumannya….” melirik pada Ceng-ceng ketua Hek Gak itu berseru pula. “Potong kedua paha saja, jiwanya tetap diampuni!”
Tok-ko Sing mengiyakan terus hendak turun tangan. Ceng-ceng gemetar tubuhnya, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa, kecuali meramkan matanya yang basah dengan air mata.
Sambil mencabut sebatang badik, Tok-ko Sing membentak, “Kau diberi ampun tak dihukum mati, mengapa tak lekas menghaturkan terima kasih kepada Gak-cu!”
Segera Ceng-ceng memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi seraya menghaturkan terima kasih . Setelah itu ia rebah di tanah. Tok-ko Sing menyeringai senyum iblis, terus mengayunkan badiknya. Petunjukan ngeri tak dapat dibiarkan saja oleh Thian-leng. Ia tak tahan melihat kebuasan orang Neraka Hitam. Sekonyong-konyong ia menggembor keras dan melepaskan pukulan Lui-hwe-sin-ciang ke arah Tokko Sing. Seketika terhambur angin keras yang panas sekali.
Tok-ko Sing tak menyangka sama sekali. Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam untuk menyambut. Das.. badik mencelat lepas ke udara, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah……. Namun Thian-leng sendiri juga tak kurang terkejutnya. Ternyata tenaga dalam Tok-ko Sing hebat sekali, sehingga ia rasakan separoh tangannya yang digunakan memukul tadi kesemutan. Darah bergolak-golak.
Setelah dapat berdiri tegak, wajah Tok-ko Sing merah padam. Ditatapnya anak muda itu, “Bu-beng tayhiap mempunyai hubungan apa dengan kepala Hong-kiong itu?” serunya bengis.
“Tidak kenal mengenal, tidak ada sangkut pautnya!” Thian-leng menjawab lantang.
Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Kalau tiada sangkut pautnya mengapa tayhiap hendak menolongnya? Mengapa tayhiap menghalangi hukuman tadi?”
Sahut Thian-leng, “Aku tak tahan melihat cara-cara yang sekeji itu. Hanya karena sedikit kesalahan saja lantas mau memotong kaki seorang gadis….”
“O, kiranya tayhiap jatuh cinta padanya…..”
“Ngaco!” bentak Thian-leng, “aku bukan pemuda beriman begitu rendah…”
“Apakah Gak-cu percaya omongannya itu?” tanpa mengacuhkan Thian-leng, Tok-ko Sing tiba-tiba menghadap ke arah Kongsun Bu-wi.
Wajah Kongsun Bu-wi mengerut gelap, serunya, “Bok Ceng-ceng telah mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar, ini jelas. Bagaimana hukumannya?”
“Mati digigit lima binatang berbisa,” sahut Tok-ko Sing.
“Ini bukan urusan kecil, harus memberi tahu pada guru!” seru Kongsun Bu-wi. Lalu ia menyuruh keempat pengawalnya pergi ke istana Yang-sim-kiong. “ Coba jenguklah apakah Cong-hou-hwat sudah tidur atau belum. Kasih tahu aku hendak bertemu padanya!”
Salah seorang pengawal segera melakukan perintah itu. Setelah itu Kongsun Bu-wi berkata pula kepada Ceng-ceng, “Aku tak berani gegabah menghukummu nanti. Hal itu akan kurundingkan dengan guru dulu, kau tentu tak keberatan….”
Thian-leng mendengus lega, karena ia tahu guru Kongsun Bu-wi itu ialah kakek dari Ceng-ceng. Tidak demikian dengan Ceng-ceng. Wajah dara itu pucat pasi. Tiba-tiba ia merangkak ke hadapan Kongsun Bu-wi dan meratap, “Mohon Gak-cu memberi hukuman potong kaki saja….”
Thian-leng kaget sekali mendengar permintaan nona itu.
“Mengingat kau ini cucu tunggal dari guru, maka hendak kuserahkan hukumanmu itu kepadanya,” Kong sun Bu-wi tetap menolak. Ceng-ceng pun tetap meminta dengan ratap tangis.
“Neraka Hitam ternyata sesuai dengan kenyataannya....” Thian-leng tertawa dingin.
“Hek Gak mempunyai peraturan keras. Sekalipun aku sendiri yang bersalah juga harus dihukum. Adalah karena Ceng-cengmu itu cucu guruku, maka kuadakan pengecualian. Apakah itu ganjil?”
“Mungkin persoalannya bukan begitu sederhana saja!” seru Thian-leng.
Ceng-ceng telah ditutuk kedua bahunya. tetapi ia masih dapat bicara. Segera ia berseru kepada Thian-leng dan Siau-bun, “Mohon kalian berdua menyelamatkan jiwaku dan kakekku….”
Bukan main marahnya Kongsun Bu-wi. Cepat-cepat ia tutuk rubuh dara itu. Belum Thian-leng hilang herannya, tiba-tiba pengawal yang disuruh tadi muncul lagi dan memberitahukan bahwa cong-hou-hwat menunggu di istana Yang-sim-kiong.
“Bawa dia!” Kongsun Bu-wi memberi perintah, dan Ceng-ceng segera diseret oleh dua pengawal.
“Bu-beng tayhiap silakan menimbang lagi. Nanti lewat tengah malam aku akan datang minta jawaban, saat itu..........” kepala Hek Gak menutup kata-katanya dengan tertawa dan melangkah keluar.
Thian-leng mencabut pedang dan hendak mengejarnya, tetapi dicegah Siau-bun, “Kita harus menahan diri. Paling tidak sampai nanti lewat tengah malam kita aman. Baiklah kita gunakan tempo ini untuk beunding!”
“Selain menghadapi dengan kekerasan, rasanya tiada jalan lain lagi,” Thian-leng menggeram.
“Ah, barangkali akan terjadi perobahan, “Siau-bun mengerutkan kening, “tetapi gerak-gerik Bok Ceng-ceng itu sungguh mencurigakan….”
“Ya, mungkin Kongsun Bu-wi tak membawa gadis itu ke tempat kakeknya melainkan ke lain tempat untuk dihukum mati……”
“Bukan itu yang kucurigai, ” sahut Siu-bun, “ mungkin kau tak tahu riwayat kakek nona itu. Ang Tim Gong-khek selain sakti pun cerdik sekali. Masakah tokoh seperti dia sudi berhamba pada Kongsun Bu-wi? Dan mengapa ia biarkan cucunya disiksa orang? Kemudian yang lebih aneh lagi, mengapa Ceng-ceng begitu sungguh-sungguh minta kita menolong kakeknya. Tokoh semacam Ang Tim masakah perlu ditolong orang lain….?”
Thian-leng hanya termenung tak dapat memberi pandangan.
“Hanya ada satu cara untuk menyelidiki kesemuanya itu,” Siau-bun tersenyum.
“Bagaimana?”
“Kita harus mengikuti mereka!”
Thian-leng tertegun, serunya, “Ah, mungkin tak mudah!”
“Mengapa tak mudah?”
“Di dalam Hek Gak ini tentu penuh dnegan perkakas rahasia. Setiap sudut, setiap lantai merupakan bahaya. Jika kita sampai terperosok dalam jebakan, bukankah akan celaka?”
“Mungkin benar begitu, tetapi sekurang-kurangnya mereka tentu takkan bergerak mencelakai kita sampai nanti lewat tengah malam!” bantah Siau-bun.
“Tetapi mereka sudah jauh. Jalanan di sini berkelok-kelok rumit sekali. Mungkin sukar untuk mengejar mereka....”
“Jangan kuatir,” Siau-bun menghibur, “aku pernah mempelajari ilmu ‘melihat langit mendengarkan bumi’. Meskipun belum sempurna, tetapi dalam jarak seratus tombak aku masih dapat menangkap derap kaki orang. Dengan menurutkan derap kaki itu, tentulah tak sukar mengikuti mereka!”
Thian-leng tersirap kaget. Ketika dalam penjara air di istana Sin-bu-kiong, Nyo Sam-koan pernah menceritakan tentang ilmu itu. Dan kemudian ia pernah menyaksikan ketua Thia-hiat-bun menggunakan ilmu itu. Mengapa Siau-bun mengerti juga ilmu sakti itu? Sejak kenal memang ia tak banyak mengetahui tentang diri nona itu. Dan memang ia tak pernah menanyakan hal itu kepada Siau-bun. Kini tiba-tiba timbullah kecurigaannya. Apakah nona itu mempunyai hubungan juga dengan partai Thia-hiat-bun?
“Eh, kau melamun apa?” Siau-bun tertawa melihat Thian-leng terlongong-longong.
Thian-leng gelagapan. ”Eh, dari manakah adik Bun mempelajari ilmu itu?”
Siau-bun tersentak kaget, tetapi cepat-cepat ia alihkan pembicaraan, “Panjang sekali untuk menceritakannya. Sekarang baik kita putuskan dulu. Hendak mengejar jejak mereka atau tidak?”
Thian-leng tak mau mendesak. Ia menyatakan supaya mengejar saja. Demikianlah kedua anak muda itu segera meninggalkan kamar. Di luar gelap sekali. Siau-bun sebentar-sebentar berhenti untuk pasang telinga. Setelah melintasi beberapa tikungan, tak berapa lama mereka harus melalui beberapa halaman luas. Thian-leng siap sedia. Tetapi selama itu mereka tidak menjumpai barang seorangpun. Gedung itu seolah-olah tanpa penghuni.
Tiba-tiba Siau-bun berhenti, serunya, “Setelah melintasi tembok tinggi ini kita akan tiba di istana Yan-sin-kiong!”
Kedua anak muda itu loncat ke atas tembok. Mereka agak terkesima. Di sebelah luar tembok itu terdapat sebuah halaman luas penuh ditumbuhi pohon bunga. Tiga buah paseban besar terang-benderang dengan penerangan. Di ruang paseban itu penuh sesak orang. Tampak Kongsun Bu-wi diiringai oleh para pengawalnya tengah menyeret Bok Ceng-ceng. Rupanya mereka baru tiba.
“Kita sembunyi di luar jendela dalam kebun belakang agar dapat melihat dengan jelas,” Siau-bun mengajak. Anehnya tempat yang dituju kedua anak muda itu tiada penjaganya sama sekali. Daun jendela besar sekali tertutup dengan kertas lilin yang sudah penuh lubang. Untung karena di sebelah luar gelap, maka jejak kedua anak muda itu tak sampai ketahuan oleh orang di dalam ruangan. Dari lubang kertas jendela, mereka mengintai apa yang sedang terjadi di dalam.
Di tengah ruang terdapat sebuah ranjang kayu yang besar sekali dan dicat merah. Di situ rebah seorang tua yang aneh. Kepalanya gundul kelimis. Wajahnya putih bersih, tetapi yang aneh ialah hidungnya. Hidungnya besar dan merah, penuh dengan tonjolan bintil. Dia hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis, shingga perutnya yang buncit tampak menonjol jelas. Di belakang ranjang terdapat empat bujang perempuan yang masih muda.
“Dia tentu Ang Tim Gong-khek?” tanya Thian-leng dengan ilmu menyusup suara.
“Benar, apakah kau tak melihat hidungnya?” sahut Siau-bun.
Thian-leng hampir tertawa, Bok Sam-pi ( Bok si hidung tiga ) memang sesuai dengan namanya. Bukan saja besar sekali, tetapi hidungnya itu seperti terbelah jadi tiga.
Begitu tiba di hadapan ranjang, Kongsun Bu-wi segera berlutut memberi hormat. Bok Sam-pi mempersilakan dia bangun. Tetapi tiba-tiba Ang Tim Gong-khek itu loncat bangun dan berlutut di hadapan Kongsun Bu-wi juga, “Hamba menghaturkan hormat kepada Gak-cu!”
Pertama, Kongsun Bu-wi memberi hormat kepada Ang Tim Gong-khek dalam kedudukan sebagai gurunya. Tetapi Ang Tim Gong-khek pun balas memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi dalam kedudukan sebagai kepala Hek Gak. Habis memberi hormat Bok Sam-pi pun rebah lagi di atas ranjang.
Thian-leng heran mengapa Bok Sam-pi acuh tak acuh melihat cucunya dalam keadaan ditutuk jalan darahnya.
“Tengah malam menemui aku, ada urusan apa?” tegur Bok Sam-pi.
“Jika tidak penting, masakah murid berani mengganggu guru. Adalah karena…”
“Nanti dulu!” Bok Sam-pi cepat menukas, “aku tak mau menjalankan peradatan sebagai cong-hou-hwat lagi. Jangan membicarakan urusan dalam Hek Gak…”
Kembali ketua Hek Gak menjura, “Murid tak berani kurang adat, silakan suhu rebahan saja.”
Bok Sam-pi tertawa dan suruh Kongsun Bu-wi mengutarakan keperluannya.
“Ada seorang murid yang mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar,” kata ketua Hek Gak.
Bok Sam-pi terkejut marah, “Siapa?”
“Kepala istana Hong-kiong, cucu suhu sendiri Bok Ceng-ceng!”
“Dia?” Bok Sam-pi menuding ke arah Ceng-ceng dan Kongsun Bu-wi mengiyakan.
“Kemari kau!” serunya. tetapi karena tertutuk jalan darahnya, sudah tentu Ceng-ceng tak dapat berjalan. Kongsun Bu-wi memberi isyarat mata kepada kedua pengawal. Kedua pengawal itu segera membuka jalan darah si dara.
“Kek!” Ceng-ceng loncat menghampiri kakeknya seraya menangis.
“Saat ini kakek sebagai cong-hou-hwat, lekas haturkan hormat!” bentak Bok Sam-pi.
Ceng-ceng terpaksa berlutut. Ia tak menangis lagi. Mulutnya terkancing, sikapnya seperti sebuah patung.
“Benarkah kau mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar?” seru Bok Sam-pi.
Ceng-ceng diam saja.
“Tahukah apa hukuman yang harus dijatuhkan?” dengus Bok Sam-pi pula.
Ketua Hek Gak segera melangkah maju. “Menurut undang-undang Hek Gak, harus menerima hukuman digigit lima binatang beracun, tetapi….”
“Tetapi bagaimana?” Bok Sam-pi berseru gusar.
“Tetapi Ceng-ceng adalah …….”
“Tak peduli apaku, sebagai cong-hou-hwat, aku harus bertindak menurut hukum. Kalau hukum tak dipegang, rusaklah peraturan!” teriak Bok Sam-pi, “Lekas jalankan hukuman!”
Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera memanggil Tok-ko Sing yang menjabat sebagai pelaksana hukum atau algojo. Tok-ko Sing pun segera bertindak. Ia hendak mencengkeram bahu kanan dara itu dan Ceng-ceng tak mengadakan perlawanan apa-apa.
“Tunggu!” tiba-tiba Bok Sam-pi mengebutkan tangannya. Tok-ko Sing menarik pulang cengkeramannya, tetapi kebutan tangan Bok Sam-pi itu membuatnya terhuyung-huyung beberapa langkah.
“Mengapa suhu……..?” Kongsun Bu-wi berseru kaget.
“Apakah ada buktinya Bok Ceng-ceng melakukan hubungan itu?” tegur Bok Sam-pi.
“Orang itu masih berada di ruang tamu. Apakah suhu perlu suruh mereka menghadap?”
Tiba-tiba Bok Sam-pi tertawa keras-keras. “Tak usah, lebih baik kau lihat saja kutangkap mereka!”
Kongsun Bu-wi terkejut, “Maksud suhu….”
Tiba-tiba Bok Sam-pi menampar ke jendela belakang, bingkai jendela yang hampir satu tombak besarnya itu serentak hancur berantakan. Thian-leng dan Siau-bun pun tak sempat lagi menjaga diri. Serentak mereka seperti digulung oleh tenaga tarik yang tak dapat dilawan. Bersama dengan keping jendela, kedua anak muda itupun tersedot ke dalam ruang dan jatuh tepat di muka ranjang Bok Sam-pi. Untung tak sampai terluka.
Thian-leng dan Siau-bun menginsyafi betapa hebat kesaktian orang she Bok itu. Maka merekapun tak mau bertindak sembarangan.
“Apakah kedua orang ini?” tanya Bok Sam-pi.
“Benar ,” buru-buru ketua Hek Gak menjawab, “dengan baik-baik murid melayani mereka di ruang tamu, tetapi ternyata mereka telah bersekongkol dengan Bok Ceng-ceng. Dan ternyata juga diam-diam mengikuti murid kemari hendak mencelakai suhu.”
“Bagaimana hukumannya?” seru Bok Sam-pi.
“Mereka bukan murid kita, sudah tentu boleh dihukum apa saja…..” mata ketua Hek Gak itu berkedip-kedip, “sudah lama suhu kesepian. Baiklah kedua orang ini dijadikan hiburan saja, entah bagaimana kehendak suhu….”
Tiba-tiba Bok Sam-pi bangkit duduk serunya, “Ya, ya, aku ingin menyaksikan hukuman Toa-gi-pat-kui, lakukanlah sekarang!”
Thian-leng mengeluh putus asa. Ia melirik kepada Siau-bun yang berada di sampingnya. “Adik Bun, akulah yang bersalah mencelakaimu......aku tak menyesal mati, tapi kalau sampai membuatmu ikut menderita, aku tak dapat mati dengan meram.”
Di luar dugaan Siau-bun tenang sekali. Bahkan bibirnya menyungging senyuman. Segera ia menjawab dengan ilmu menyusup suara, “Takutkah kau?”
Thian-leng tertegun, “Tidak, aku tak takut mati. Hanya yang kusesalkan ialah tindakanku yang sembrono hingga merembet dirimu…..”
“Mati atau hidup masih belum ketahuan. Perlu apa kau sudah putus asa?”
Sentilan si nona membuat Thian-leng malu hati. Segera ia menjamah pedangnya dan dengan ilmu menyusup suara ia berkata tegas, “Akan kuserang tua bangka itu, adik Bun…..”
“Jangan gegabah. Melawan si tua itu berarti seperti ana-anai melanda api, telur membentur tanduk. Kalau kita bertindak begitu, tentu mereka segera menjalankan hukuman Toa-gi-pat-kui itu!” cegah Siau-bun.
Pada saat kedua anak muda itu bercakap-cakap, Kongsun Bu-wi sudah perintahkan pengawalnya mengambil sebuah tiang kayu yang besar, tali dan beberapa batang golok tajam. Alat-alat itu dibawa ke tengah, sedang Bok Sam-pi tetap menunggu di ranjang kayu. Dengan tenang ia menunggu dilaksanakannya hukuman Toa-gi-pat-kui.
Sebenarnya Siau-bun pun berdebar-debar hatinya. Namun dara itu sudah biasa menghadapi ancaman bahaya. Maka sikapnyapun tenang-tenang saja. Tidak demikian halnya dengan Thian-leng yang sudah gelisah tak keruan. Sedang terhadap cucunya sendiri saja Bok Sam-pi begitu kejam, apalagi terhadap orang luar!
“Jalankan dulu hukuman Toa-gi-pat-kui pada kedua mata-mata itu, baru kemudian menghukum budak ini,” seru Bok Sam-pi. Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera menyuruh orang mengikat Thian-leng dan Siau-bun pada tiang.
Empat pengawal maju menghampiri Thian-leng. Thian-leng menyiapkan pedangnya hendak menempur. Tiba-tiba Siau-bun tertawa dingin, “Tunggu!”
“Eh, apakah kau hendak meninggalkan pesan?” tanya Kongsun Bu-wi.
“Tidak……. aku tak butuh memesan apa-apa,” nona itu tertawa.
“Aneh, mengapa kau masih berani tertawa?” tegur Bong Sam-pi.
Siau-bun makin perkeras tawanya, “Karena aku tak dapat mati. Tiada seorangpun di ruang ini yang mampu membunuhku!”
Wajah Bok Sam-pi berobah seketika dan bangkitlah ia serentak.
“Di antara kalian siapakah yang paling sakti?” tegur Siau-bun dengan senyum tak acuh.
“Aku!” Bok Sam-pi menggerung.
Siau-bun mendengus hina, “Apakah kau berani bertanding melawan aku?”
Bok Sam-pi tertawa gusar. Tiba-tiba ia melesat maju ke arah si nona……
Bersambung ke jilid 8
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net
Jilid 7. Pengemis Bulu besi.
“Dia?” Thian-leng berseru kaget, “bukankah dia mendapat kecelakaan di gunung Thay-heng-san.....”
“Tidak, dia masih hidup....” sahut Cu Siao-bun dengan nada rawan.
( Catatan: Cu Siao-bun adalah gadis baju merah yang bercakap-cakap dengan Thian-leng saat itu. Sedang Cu Siau-bun adalah pemuda berwajah pucat yang dijumpai Thian-leng ketika keluar dari gunung Hun-tiong-san. Agar tidak membingungkan, maka digunakan ejaan Siao untuk si gadis dan Siau untuk si pemuda – Pen).
Tiba-tiba terlintaslah sesuatu dalam benak Thian-leng, Cu Siao-bun dan Cu Siau-bun. Namanya hampir sama dan wajahnya serupa. Mengapa gadis Siao-bun membawakan surat pemuda Siau-bun? Aneh....
“Mungkin kau merasa heran, bukan ? “ tegur Cu Siao-bun.
“Ya,...... apakah nona.......”
Siao-bun tertawa, “Sebenarnya tiada hal yang perlu diherankan. Cu Siau-bun adalah engkoh. jadi wajar kalau sama wajahnya…. “
“O, kiranya nona adik dari saudara Cu, maaf!” Thian-leng seperti tersadar.
Selanjutnya Thian-leng segera menanyakan berita pemuda Cu Siau-bun.
“Dia masih hidup di dunia, tetapi.....” Siao-bun tak melanjutkan kata-katanya. Dengan pandangan rawan ia menatap Thian-leng.
“Dia... dia bagaimana?” Thian-leng gelisah.
“Segera akan mati!”
“Hai....!” thian-leng menjerit, “ Di mana sekarang ia?”
“Apakah kau ingin menemuinya?” tanya Siao-bun.
“Ya, engkoh nona itu telah banyak melepas budi padaku. Sudah tentu aku harus menjenguknya!”
“Rupanya engkohku juga selalu teringat padamu. Kini ia berada dalam rumah penginapan Ih-hian di kota Ceng-liong-tin. Kira-kira dua ratus li dari sini....”
“Jangankan hanya dua ratus li, sekalipun ribuan li aku tetap akan menjumpainya,” sahut Thian-leng.
Tampak wajah Siao-bun tertawa girang, ujarnya dengan tertawa, “Jika kau memang bermaksud begitu, silakan lekas ke sana. Kalau tidak dikuatirkan kau tak dapat bertemu dengan engkohku lagi selama-lamanya!”
“Maaf, aku segera hendak ke sana!” Thian-leng terus memutar tubuh melesat pergi.
Siao-bun memandang bayangan pemuda itu dengan terlongong-longong. Tiba-tiba wajahnya mengerut keras, ujarnya seorang diri, “Lu Bu-song, sekalipun kau ini adik misanku, tetapi dalam hal ini aku tak dapat mengalah padamu!”
ooooo00000ooooo
Thian-leng menggunakan ilmu lari cepat. Ia ingin segera dapat menyusul si dara Bu-song, kemudian baru menuju ke kota Ceng-liong-tin menjenguk Cu Siau-bun yang sakit keras. Kepada pemuda wajah pucat itu, Thian-leng juga berhutang budi. Adalah pemuda itu yang membebaskan dirinya dari kepungan delapan anak buah Sin-bu-kiong ketika Thian-leng baru keluar dari markas Hun-tiong Sin-mo. Adalah pemuda itu juga yang menunjukkan tentang tipu muslihat Ma Hong-ing yang mengaku jadi ibunya itu…..
Masih banyaklah kebaikan-kebaikan yang diunjukkan pemuda Cu Siau-bun itu kepadanya. Kini pemuda itu menderita sakit berat, entah besok entah sore akan meninggal dunia. Ia ingin sekali menemui pemuda itu. Tetapi …ah, ia mendongkol benar kepada Bu-song. Ia segera perkencang larinya seraya berteriak-teriak, “Adik Song….. Lu…. Bu…..song…..!”
Namun bayangan dara itu tak tampak sama sekali. Seluas puluhan li telah dijelajahi, tetapi ia tak berhasil mencari dara itu.
“Celaka, dia tentu marah dan pulang melapor pada kakeknya!” diam-diam ia mengeluh.
Ketika ia sedang gelisah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara helaan napas panjang. Dan matanya segera melihat sesosok tubuh manusia tengah berlutut di bawah sebuah pohon besar. Ketika dihampiri, ternyata hanya seorang pengemis tua yang sudah putih rambutnya. Wajahnya kumal penuh debu. Pengemis itu duduk bersandar pada batang pohon, sebatang tongkat bambu terletak di sampingnya.
Sekalipun lelah, namun terpaksa ditegurnya juga pengemis itu. “Mengapa lo-cianpwe seorang diri berada di hutan sunyi ini, apakah....”
Thian-leng bersedia memberi pertolongan apabila pengemis tua itu memerlukan bantuan. Tetapi kata-katanya itu terputus oleh rasa kaget. Pengemis tua itu tiba-tiba membuka matanya. Dua larik sinar berkilat-kilat tajam memancar. Itulah pancaran sinar mata dari seorang ahli tenaga dalam yang hebat.
“Maaf, kalau aku mengganggu lo-cianpwe!” buru-buru Thian-leng berseru seraya memberi hormat lalu pergi.
“Tunggu!” sekonyong-konyong pengemis itu berseru. Thian-leng terpaksa hentikan langkahnya.
“Berjam-jam kudengar kau menjerit-jerit seperti anak ayam mencari induknya. Sekarang baru kau minta maaf, apakah tidak terlambat?” dengus pengemis tua itu.
Thian-leng mengerutkan kening. Pikirnya, pengemis ini benar-beanr liar sekali. Ia bermaksud baik, mengapa malah disemprot?
“Aku tak tahu kalau lo-cianpwe sedang beristirahat di sini, maaf! “ terpaksa Thian-leng meminta maaf lagi, lalu melangkah pergi.
Tetapi baru beberapa langkah, kembali pengemis tua itu membentaknya, “Kembali!”
Kali ini Thian-leng tak mau. Ia hanya menyahut tawar, “Aku toh sudah minta maaf padamu!”
Pengemis tua itu tertawa gelak-gelak, “Dalam satu perahu sama-sama mendayung, adalah sudah menjadi suatu keharusan. Kita bertemu di sini, boleh dikata mempunyai jodoh. Paling tidak harus saling memberitahukan nama, baru kau pergi……” pengemis tua itu berhenti sejenak dari ocehannya. Sebelum Thian-leng menyahut, ia sudah lanjutkan kata-katanya lagi, “Aku si pengemis tua ini orang she Auyong, bernama tunggal Beng. Atas kecintaan dari sahabat-sahabat persilatan, aku diberi gelar Thiat-ik Sin-kay ( Pengemis sakti berbulu besi ). Dan kau?”
Thian-leng tertegun, serunya, “Aku yang rendah sampai sekarang belum mempunyai nama. Untuk sementara aku memakai nama Bu-beng-jin!”
Bu-beng-jin artinya ‘Orang yang tak punya nama’.
Auyong Beng tertawa gelak-gelak, “Bu-beng-jin, ah, bagus juga nama itu……”
Thian-leng hanya tertawa masam. Sambil berputar ia terus hendak berlalu lagi….
“Sebenarnya aku hendak tidur, tetapi terganggu dengan jerat-jeritmu tadi. Karena sudah terlanjur terjaga, mari kita omong-omong!”
Thian-leng menolak, “Tidak-tidak! Karena masih mempunyai urusan penting, maaf, aku tak dapat menemanimu!”
Pengemis sakti tertawa meloroh, “Meskipun kau tetap hendak pergi, tetapi juga tak perlu terburu-buru begitu. Kalau kita omong-omong barang dua tiga patah kata lagi, toh takkan membuatmu rugi bukan?”
Thian-leng kerutkan dahi, serunya, “Lo-cianpwe hendak memberi pesan apa, silakan lekas mengatakan saja!”
“Tadi kau jerat-jerit tak keruan itu hendak mencari siapa saja?”
“Ini …. seorang adik perempuan …… adik angkatku!”
“Adik angkat...? Berpuluh-puluh tahun si pengemis tua ini berkelana di dunia persilatan, tak pernah aku bicara bohong, tak pernah aku menyombongkan diri. Dengan begitu barulah aku dapat memenangkan ....”
Merah padam seketika wajah Thian-leng, “Itu urusanku pribadi, harap lo-canpwe jangan mendesak!”
Kembali pengemis tua itu tertawa keras, “Baik, aku takkan menanyakan urusan pribadi. Bu-beng-jin, rupanya jodoh kita hanya sampai di sini saja. Karena kau mempunyai urusan lain, silakan pergi!”
Thian-leng tak mau banyak cakap. Setelah memberi hormat, segera ia memutar diri dan melangkah pergi. Tetapi baru beberapa langkah, kembali ia harus berhenti lagi. Kiranya ia mendengar pengemis tua itu berkata seorang diri, “Ah, Sip Uh-jong, Sip Uh-jong, kematianmu sungguh mengenaskan sekali.”
Buru-buru Thian-leng balik dan bertanya, “Apakah lo-cianpwe kenal pada Sip lo-cianpwe? Apakah dia....”
“Mengapa kau tanyakan dia?” wajah Pengemis sakti mengerut gelap.
“Terus terang beliau telah banyak melepas budi padaku!”
“O, kiranya kau masih ingat budi? Sayang sahabatku itu sudah mati!”
“Benarkah? ” Thian-leng menegas.
“Aku pengemis tua tak pernah bohong!” sahut si pengemis. Namun Thian-leng masih tetap meminta keterangan yang jelas.
“Sahabatku itu dan Tui-hun Hui-mo telah ditutuk jalan darahnya oleh isteri Sin-bu Te-kun. Setelah mereka tak berdaya lalu dibakar!”
Thian-leng pening kepalanya mendengar cerita itu. Samar-samar ia masih ingat akan peristiwa yang telah lalu. Ia anggap keterangan si pengemis itu tentu benar.
“Agaknya lo-cianpwe tahu banyak perihal beliau, apakah lo-cianpwe…………”
“Aku tak punya keistimewaan apa-apa. Tetapi segala peristiwa di dunia persilatan, baik kecil maupun besar, tak nanti luput dari pendengaranku. Maukah kau mendengar peristiwa-peritiwa itu semua?”
“Tak usah, aku percaya penuh pada lo-cianpwe. Aku hanya mengutuk diriku sendiri yang tak punya kepandaian tinggi hingga tak mampu membalaskan sakit hati Sip lo-cianpwe....”
Pengemis sakti menghela napas, “Benar, meskipun kau sudah meyakinkan ilmu pukulan Lui-hwe-sin-ciang dengan hebat, tetapi hawa dalammu masih kalah jauh dari Sin-bu Te-kun, si Jenggot perak Lu Liang-ong, Hun-tiong Sin-mo dan lain-lain, kecuali.....”
“Kecuali bagaimana? Mengapa Lo-cianpwe tak melanjutkan kata-kata?”
Pengemis sakti perdengarkan tawa yang dalam, ujarnya, “Sip U-jong paham ilmu meramal. Tak nanti ia biarkan peta telaga Zamrut itu terbakar bersamanya. Jika sudah memberimu pil Kong-yang-sin-tan, masakah tidak peta itu sekalian?”
“Apa kata lo-cianpwe?” ulang Thian-leng.
“Aku tahu segala apa, tetapi soal peta itu benar-benar aku masih gelap. Sip U-jong memiliki selembar peta Telaga Zamrut. Sebelum ia menutup mata apakah tak diserahkan padamu?”
Thian-leng pun kerutkan dahi. “Sesaat setelah meminum pil Kong-yang-sin-tan, karena tak kuat menahan rasa panas, akupun pingsan sampai lama. Bagaimana dengan nasib Sip lo-cianpwe saat itu aku tak tahu. Begitu pula dengan peta itu!”
“Aneh, masakah peta itu turut terbakar……?” gumam pengemis sakti. Beberapa saat kemudian baru ia berkata pula, “Beberapa tahun yang lalu di dunia persilatan telah muncul seorang tokoh baru yang mengejutkan. Kepandaiannya luar biasa. Tokoh-tokoh kelas satu yang berhadapan dengan orang itu hanya seperti anai-anai yang menerjang api. Belum pernah ada seorangpun jago persilatan yang mampu melayani lebih dari tiga jurus….”
“Siapakah tokoh itu?” seru Thian-leng serentak.
“It Bi siangjin!” sahut si pengemis.
“It Bi siangjin….. ?” Thian-leng mengulang heran. Ia tak tahu siapa tokoh itu.
“It Bi siangjin adalah seorang pertapa aneh. Tak suka bergaul dengan orang. Sudah berpuluh tahun ia berkelana untuk mencari seorang yang dipandang dapat menjadi murid penggantinya. Tetapi tak ada yang dicocoki, sehingga karena putus asa, ia menguburkan kitab dan pedang pusaka Liong-coan-po-kiam …….”
“O, jadi Telaga Zamrut itu tempat kuburan pusaka!” seru Thian-leng.
“Benar, asal mendapat petanya, tentu dapat mencari pusaka-pusaka terpendam itu.” Pengemis sakti mengatakan, “ kitab pusaka itu ditulis sendiri oleh It Bi siangjin, berisi seluruh ilmu kepandaiannya. Kalau berhasil meyakinkan , Sin-bu te-kun, Hun-tiong Sin-mo, Lu Liang-ong, ya… pendek kata siapapun tentu tak menang……, sayang sekali kalau sampai turut terbakar !”
“Bagaimana lo-cianpwe tahu peta itu berada pada Sip lo-cianpwe ? Dan mengapa Sip lo-cianpwe tak berusaha mencari pusaka itu?”
“Berita itu sudah lama tersiar di dunia persilatan, jadi tak mungkin bohong. Sip U-jong sudah dipunahkan kepandaiannya oleh musuh, maka percuma ia mendapat kitab itu, toh tak dapat meyakinkan lagi. Ia hendak menyerahkan kitab itu kepada orang yang dianggapnya berbakat bagus, agar dapat membalaskan sakit hatinya. Sip U-jong seorang yang pandai meramal, licin dan pandai tentang obat-obatan beracun. Sekalipun ilmu silatnya sudah punah, tetapi bertahun-tahun ia dapat mempertahankan peta itu dari sergapan orang. Ditilik dari akal muslihatnya, tak mungkin peta itu sampai jatuh di tangan Te-it Ong-hui. Maka kusangka kaulah yang diberi peta itu !”
“Tetapi aku tak tahu menahu tentang peta itu dan Sip lo-cianpwe pun tak pernah mengatakannya !” sahut Thian-leng.
Pengemis sakti tercengang. Menilik kesungguhan wajah si anak muda, ia percaya Thian-leng tentu tak bohong. Sampai beberapa lama ia berdiam diri.
“Hai, apakah kau pernah memeriksa tubuhmu ?” tiba-tiba ia tersadar.
“Memeriksa tubuh ? Perlu apa ?” Thian-leng melongo.
“Setelah minum pil, bukankah kau lantas pingsan? Pun pada saat Te-it Ong-hui tiba, ia tak sempat menggeledah badanmu. Siapa tahu Sip U-jong diam-diam menyelinapkan peta itu dalam tubuhmu!”
Walaupun kurang percaya, tetapi Thian-leng anggap tiada jeleknya ia memeriksa tubuhnya. Dan memang sejak meninggalkan lembah Hong-lim-koh, tak pernah ia memeriksa pakaiannya. Pun ketika Ki Seng-wan melakukan pengobatan Hiam-im-kiu-coan, meskipun pakaian Thian-leng itu dibuka tetapi nona itupun tak sempat memeriksa.
“Hai,………!” tiba-tiba Thian-leng berseru tertahan.
Ketika tangannya merogoh kantong, ia menyentuh sebuah bungkusan kertas. Buru-buru ditariknya keluar…….
“Oho, tepat sekali dugaanku!” Pengemis sakti berteriak kaget.
Thian-leng tegang sekali. Ia tak tahu bahwa kantongnya berisi sebuah bungkusan kain yang sudah kumal. Dengan berdebar-debar ia membuka lipatan kain itu. Ah……. hampir ia menjerit kegirangan. Sebuah peta yang penuh dengan jalur-jalur goresan. Di sebelahnya tertulis tiga buah huruf Giok-ti-tho ( peta telaga zamrut)!
Tetapi yang membuat Thian-leng terkejut ialah sebaris tulisan di balik peta itu. Tulisan itu ditulis dengan darah, berbunyi :
“Hun-tiong dan Song-bun kedua durjana, adalah musuh bebuyutanku. Aku mati dibunuh Ma Hong-ing, supaya membalaskan sakit hatiku. Jangan lupa……”
Thian-leng menggigit gigi kencang-kencang.
“Bu-beng-jin, kuhaturkan selamat padamu!” tiba-tiba pengemis sakti berseru “……asal kau memperoleh pusaka itu, kelak kau tentu menjadi tokoh utama di dunia persilatan. Untuk menuntut balas sakit hati Sip U-jong adalah semudah orang membalikkan telapak tangan!”
Thian-leng tak berkata-kata. Hatinya penuh dengan rasa haru dan dendam. Sip U-jong bukan saja memberinya minum pil Kong-yang-sin-tan, tetapi juga menyerahkan peta. Ia harus menunaikan pesan tokoh yang bernasib malang itu, menuntut balas pada Hun-tiong Sin-mo, Song-bun Kui-mo dan Ma Hong-ing. Dan memang Song-bun Kui-mo yang kini menjelma menjadi Sin-bu Te-kun itu adalah manusia yang harus dilenyapkan demi keselamatan dunia persilatan! Tetapi yang dua orang itu….. ya, Hun-tiong Sin-mo telah menyembuhkan lukanya, Ma Hong-ing kemungkinan adalah ibunya sendiri! Hendak dibunuhkah kedua orang itu?
Tidak…..! Ia tak dapat membunuh orang yang telah melepas budi padanya. Dan sebelum asal-usul dirinya diketahui, ia tak dapat membunuh Ma Hong-ing dulu. Karena kalau-kalau wanita itu benar ibu kandungnya….
Benak Thian-leng penuh dengan berbagai persoalan yang rumit, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia hanya tegak terlongong-longong saja.
“Lekas simpan peta itu! Kalau aku seorang temaha, mungkin peta itu tentu sudah pindah ke tanganku!”tiba-tiba Pengemis sakti memperingatkan.
Tetapi di luar dugaan Thian-leng malah mengangsurkan peta itu kepada si pengemis, “Aku tak tertarik dengan peta ini. Kalau lo-cianpwe menghendaki, ambillah!”
Kalau tak mengambil peta itu berarti bebas dari kewajiban melaksanakan pesan Sip U-jong. Dmeikianlah jalan pikiran Thian-leng.
“Kau gila…..?” teriak si pengemis.
“Jika memperoleh pusaka kau bakal menjadi tokoh silat nomor satu! Tak seorang persilatan pun yang tak mengiler dengan peta itu, tetapi mengapa kau.....”
Thian-leng hanya menghela napas, “Aku masih muda dan kurang pengalaman, mungkin tak layak mendapat kitab pusaka itu. Lo-cianpwe lebih ternama dan lebih berpengalaman, bukankah.....”
“Tidak! Tidak!” Pengemis sakti menolak tegas. “Aku si pengemis tua tak mau melanggar kemauan alam! Apalagi pilihan Sip U-jong tentu tak salah. Dia tentu sudah memperhitungkan bahwa bukan saja kau dapat melaksanakan pesannya, juga dapat pula memikul beban kewajiban menjaga keselamatan dunia persilatan. Aku si pengmis tua ini tak punya rejeki sedemikian besar !”
Thian-leng terpaksa menyimpan lagi peta itu, kemudian ia minta diri.
“Apakah kau hendak mencari adik angkatmu itu lagi?” tanya si pengemis.
Thian-leng mengiyakan.
“Aku si pengemis tua bersedia mewakili pekerjaanmu itu tetapi .... kau .....harus segera menjenguk sahabatmu yang sakit keras itu. Sudah, jangan membuang waktu lagi....”
Thian-leng tersirap kaget. Mengapa pengemis itu tahu urusan itu pula?
“Apakah lo-cianpwe yakin berhasil mencari nona Lu itu?”
“Jangankan dia, sekalipun kau suruh cari seekor semut di ujung langit, aku tentu sanggup mengerjakannya!”
“Aku seorang yang tahu membalas budi dan dendam. Atas budi lo-cianpwe kelak aku tentu membalasnya. Sekalipun lo-cianpwe suruh aku menyebur ke dalam lautan api, tentu aku tak menolak !”
“Bagus, bagus. “ si pengemis tua tertawa, “aku memang tak mau bekerja percuma. Setiap bantuan yang kuberikan, tentu kuminta balas. Sekarangpun aku hendak minta balas padamu!”
“Lo-cianpwe hendak suruh apa?” Thian-leng tercengang.
“Tidak menyuruh melainkan hanya meminta kau meluluskan dua buah hal!”
“Silakan mengatakan.”
Seketika wajah Pengemis sakti berobah serius, ujarnya dengan nada sungguh-sungguh, “Pertama, mulai saat ini jangan kau berbahasa ‘lo-cianpwe’ lagi kepadaku. Aku akan memanggilmu ‘laote’ (adik) dan kau panggil aku ‘laoko’(kakak)!”
“Aku terpaksa menurut, laoko, ”segera Thian-leng mengganti panggilannya, “dan apakah permintaan laoko yang kedua itu ?”
Pengemis sakti tertawa aneh, “Yang kedua, kuminta kau menyimpan sebuah barangku. Harus kau pakai selama-lamanya dan jangan sampai hilang !”
Diam-diam Thian-leng geli-geli heran. Mengapa memberi barang saja harus pakai perjanjian? Dan mengapa harus suruh memakai seumur hidup?
“Baiklah , laoko!” sahut Thian-leng.
Pengemis sakti tersenyum. Segera ia mengeluarkan sebuah benda. Dengan hati-hati benda itu dikalungkan pada leher Thian-leng.
“Lencana ini, meskipun tak berharga, tetapi merupakan barang pusakaku. Harap jangan dibuang!” pesannya.
Benda itu ternyata sebuah lencana berukirkan beberapa batang bambu yang malang-melintang. Lencana itu diikat dengan sebuah kalung kecil.
Thian-leng tak tahu apa guna dan arti lencana bergambar bambu itu. Namun karena sudah berjanji ia biarkan saja lencana itu dipasangkan si pengemis pada lehernya.
Sebelum pamit pergi, Thian-leng sekali lagi menyampaikan permintaan supaya si Pengemis Sakti bulu-besi suka mengusahakan mencari Lu Bu-song.
Si Pengemis sakti menyanggupi.
ooo000ooo
Ah, kau.......!
Dengan menggunakan ilmu lari cepat, dalam setengah hari saja dapatlah Thian-leng mencapai seratus li. Pikirannya masih penuh dengan bermacam perasaan.
Ia tak mengira Sip U-jong dan Tui-hun Hui-mo mati begitu mengenaskan. Lebih-lebih tak menyangka kalau Sip U-jong diam-diam menyerahkan peta pusaka kepadanya. Jika berhasil mendapatkan kitab pusaka dan meyakinkannya, kelak ia bakal menjadi tokoh nomor satu di dunia persilatan. Dengan begitu dapatlah ia melakukan segala rencananya.
Hari kedua tibalah ia di kota Ceng-liong-tin, sebuah kota yang terletak di tepi sungai Hong-ho. Kota itu merupakan lalu lintas perdagangan yang ramai. Pertama-tama Thian-leng mencari keterangan tentang rumah penginapan Ih-hian. Ternyata rumah penginapan itu terletak di sebuah jalan kecil yang sepi. Rumah itu sepi tetamu. Diam-diam ia heran mengapa Cu Siau-bun memilih rumah penginapan yang sedemikian jorok dan kecil Apakah sahabatnya itu kehabisan uang?
Ketika ia masuk, ruangan suram penerangannya. Setelah bertanya pada pelayan, ia segera menghampiri sebuah kamar. Di dalam kamar itu hanya terdapat meja dengan sebuah kursi dan sebuah ranjang bambu. Di antara lampu yang redup tampak sesosok tubuh pemuda membujur di atas ranjang. Wajah pemuda itu pucat. Begitu melihat kedatangan Thian-leng, pemuda itu berusaha menggeliat bangun. Tetapi ia mengerutkan dahi dan rebah lagi, rupanya ia tak kuat bangun.
Melihat itu Thian-leng terharu sampai menitikkan dua tetes air mata, serunya teriba-iba, “ Cu-heng, Cu-heng ………kau masih ingat padaku!”
Pemuda itu yang bukan lain memang Cu Siau-bun, memaksakan diri memandang Thian-leng, “Kau…. Kang-heng….. aku menunggumu setengah mati!”
Thian-leng menghela napas, “Aku bukan she Kang, Cu-heng tentunya tahu. Sampai saat inipun aku belum tahu asal-usulku, …… tetapi bagaimana dengan penyakit Cu-heng?”
“Ah, mungkin tiada pengharapan lagi…..!” Cu Siau-bun tersenyum hambar, “dalam saat-saat terakhir dapat melihat kau…. dapatlah aku mati dengan puas!”
“Tidak, akan kuusahakan sekuat tenaga untuk menyembuhkan Cu-heng…..” Thian mendekap kedua bahu sahabatnya. Tiba-tiba ia teringat, “Apakah Cu-heng tahu tentang tabib Thay-gak Sian-ong di gunung Thay-san? Kabarnya ia seorang tabib yang pandai. Mari kuantar Cu-heng ke sana!”
Tetapi Cu Siau-bun menolak, “Percuma, penyakitku ini sudah bertahun-tahun. Obat dari tabib itu takkan menolong jiwaku!”
“Lu lo-hiapsu ketua Thiat-hiat-bun juga pandai ilmu pengobatan. Aku kenal baik padanya, kalau dia mau tentu dapat menyembuhkan Cu-heng!”
Sekalipun mulut mengatakan begitu, tapi dalam hati Thian-leng gelisah. Ia belum yakin si Pengemis sakti dapat mencari Lu Bu-song. Kalau dara itu belum diketemukan, ketua Thiat-hiat-bun tentu marah.
Selain itu iapun memikirkan tentang pernyataan Sin-bu Te-kun yang hendak menggempur Tiam-jong-san. Belum tentu dugaan Lu Bu-song bahwa Sin-bu Te-kun tentu tak berani menyerang Tiam-jong-san itu yang benar. Kalau Sin-bu Te-kun benar-benar membuktikan ancamannya, bukankah berabe membawa orang sakit kepada ketua Thiat-hiat-bun yang sedang bertempur dengan Sin-bu-kiong itu ?
“Itupun sia-sia saja,” tiba-tiba kedengaran Cu Siau-bun menolak. “Telah kukatakan bahwa penyakit ini telah kuidap lama sekali. Tiada seorangpun yang dapat mengobati, kecuali....”
“Kecuali bagaimana harap Cu-heng katakan. Asalkan dapat menyembuhkan penyakit Cuheng, apapun aku sanggup melakukan!”
Wajah Cu Siau-bun menebar warna merah, serunya, “Apakah….. kau…. sungguh….”
“Seorang lelaki rela berkorban untuk sahabatnya!” seru Thian-leng dengan tegas. “Asal Cu-heng bisa sembuh aku rela mengorbankan apa saja….!Eh, apakah Cu-heng masih ingat perjanjian kita di lembah Sing-sim-kiap dahulu?”
“Tiada sedetikpun aku melupakan perjanjian itu. Hanya … mungkin bisa terlaksana besok pada penitisan kita lagi!”
Kembali Thian-leng menghiburnya dan memberi pernyataan lagi. Kemudian dengan suara berbisik-bisik ia menerangkan bahwa ia telah mendapat peta Telaga zamrut. Apabila ia berhasil menemukan kitab pusaka itu, tentulah cita-cita mereka berdua bakal tercapai!
“Benarkah ucapanmu itu?” Cu Siau-bun menegaskan girang-girang kaget.
Segera Thian-leng mengeluarkan peta, serunya, “Lihatlah peta ini, Cu-heng…..!” serunya. Cu Siau-bun memperingatkan supaya sahabatnya itu jangan bicara keras-keras, karena dinding itu bertelinga. Kemudian ia menyuruh Thian-leng menyimpannya lagi.
“Tadi Cu-heng mengatakan ada cara yang dapat menyembuhkan penyakitmu, entah apakah…..”
Wajah Cu Siau-bun berobah merah, ujarnya tersipu-sipu, “Sekalipun ada, tetapi tentu membuat kau menderita…..”
Thian-leng menyatakan bahwa ia bersedia melakukan apa saja asal penyakit sahabatnya itu sembuh.
Akhirnya Cu Siau-bun terpaksa berkata dengan nada jengah, “Sejak kecil tubuhku telah terkena semacam racun. Racun itu kecuali dengan cara pengobatan Goan-yang-sam-hwe ialah menggunakan sari perjakamu untukmu mengenyahkan racun, tiada lain jalan lagi!”
Thian-leng pun merah mukanya. Ia tahu bahwa Goan-yang-sam-hwe itu memang suatu cara pengobatan yang mujarab. Ibarat dapat merebut jiwa manusia dari cengkeraman iblis maut. Tetapi cara itu berarti suatu pengorbanan kehilangan perjakanya. Namun dalam menghadapi saat-saat seperti itu, pikirannya hanya ditujukan untuk menolong sang sahabat saja, maka iapun terpaksa meluluskan juga.
Demikian kedua pemuda itu hendak melakukan pengobatan istimewa. Pada detik-detik
di mana keduanya sudah siap melaksanakan, terdengar Cu Siau-bun menghela napas, “Apakah kau bersungguh hati hendak menolong jiwaku?”
“Eh, mengapa Cu-heng masih berkata begitu?”
“Apakah kau takkan menyesal?”
“Menyesal? Mengapa harus menyesal?”
“Jika kau mengetahui bahwa aku….” Cu Siau-bun berhenti sejenak, “andaikata kau mendapatkan ada sesuatu yang mengejutkan pada diriku, apakah kau tetap……”
“Ah, mengapa Cu-heng masih tak percaya!” Thian-leng heran.
“Bukan tak percaya, tetapi kuatir kau…..” tiba-tiba suara dan tubuh Cu Siau-bun gemetar, ujarnya, “Aku…..aku….sebenarnya……”
“Kau seorang ….. gadis!” Thian-leng menjerit kaget, “kau ini Cu Siao-bun, kau ternyata tak sakit!”
“Ya, benar, aku……..,” Cu Siau-bun menangis sedih. Sementara Thian-leng tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia kehilangan kata-kata. Seharusnya ia pagi-pagi tahu bahwa Cu Siau-bun itu ialah Cu Siao-bun juga. Mengapa ia begitu naif sampai kena dikelabui?
Tetapi haruskah ia mendamprat gadis itu?
Tidak! Walaupun bagaimana yang telah terjadi, ia tak dapat menyalahkan nona itu. Adalah karena dirundung oleh badai asmara, maka nona itu sampai nekat melakukan hal-hal yang sebenarnya kurang senonoh. Ya, tak sangsi lagi. Adalah karena pengaruh asmara terpendam yang meledak di sanubari nona itu. Jelas sudah bahwa nona itu memang sangat mencintainya......
Baik rupa maupun kepandaian, memang Cu Siau-bun merupakan gadis idaman yang sukar dicari keduanya. Ia tentu bahagia mempunyai seorang isteri yang begitu menyayang. tetapi dapatkah ia memperisterikannya? Tidak! Ia telah meluluskan pada si Jenggot Perak Lu Liang-ong untuk mengambil Lu Bu-song sebagai isteri. Ia tak dapat melanggar sumpahnya. Tetapi, tetapi.... ah, ia telah melanggar kesucian Cu Siau-bun.... dapatkah hal itu dipertanggung-jawabkan???
“Kau ...... benci padaku?” karena melihat Thian-leng membisu, Cu Siau-bun memberanikan diri menegur.
Thian-leng gelagapan menyahut, “Tidak! Aku …merasa mengecewakan kau…. “ ia menghela napas panjang, “Karena aku tak dapat memperisteri kau!”
Cu Siau-bun tertawa rawan, “Kutahu, tak dapat kusesalimu!”
Tetapi dalam hati nona itu telah memutuskan. Ia hendak berjuang mengalahkan Lu Bu-song untuk merebut Thian-leng. Dan kini dalam babak pertama, ia sudah menang…..
Sekonyong-konyong sebuah benda berkelap-kelip macam seekor kunang-kunang menghampiri tempat lilin dan tiba-tiba membentur sumbu lilin. Seketika lilinpun menyala dan serentak dengan itu terdengar suara berbisik, “Menghadapi seorang nona cantik, mengapa kasak-kusuk dalam kegelapan!”
Thian-leng dan Siau-bun tersentak kaget!
Utusan Neraka
Siau-bun menjulurkan sebuah jarinya dan lilin itupun padam. Keduanya segera mengemasi pakaiannya.
“Awas, jaga baik-baik petamu, mungkin orang ini hendak mengarah petamu itu!” bisiknya kepada Thian-leng.
Thian-leng mendorong jendela dan loncat keluar. Dengan sebuah loncatan yang indah ia hinggap di atas penglari rumah. Rumah penginapan seolah-olah terbungkus oleh kegelapan, sunyi dan senyap.
“Apakah kau melihat sesuatu?” tanya Siau-bun ketika menyusul loncat ke atas rumah. Thian-leng hanya menggeleng. Mungkin waktu berpakaian tadi orang sudah menyingkir pergi. Apa tujuan orang itu? Mengapa ia terus melarikan diri?
Siau-bun pun heran. Ia masih mengenakan pakaian laki-laki, wajahnya yang pucat kini tampak kemerah-merahan. Thian-leng melirik padanya dan tertawa.
“Kau menrtawakan aku?” dengus Siau-bun.
“Jangan salah paham, engkoh Cu...eh.....nona Cu.....”
Siau-bun menggumam, “Bagaimanapun pandanganmu terhadap diriku, tetapi kita telah...... tidur bersama. Dengan masih memanggil nona, apakah tidak terlalu.....,” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terisak-isak.
Terpaksa Thian-leng menghiburnya, “Adik Bun, ya..., akulah .... yang salah.....”
“Ah, sudahlah. Yang sudah biarlah lampau....” sahut Siau-bun rawan.
Sekonyong-konyong terdengar sebuah tertawa mengejek. Thian-leng segera mengenali suara itu seperti suara orang yang mengganggu tadi. Berbareng dengan itu tampak sesosok tubuh melesat keluar dari sudut rumah penginapan dan terus melarikan diri.
“Hai, siapa itu berani mengganggu tak berani berhadapan muka?” Thian-leng berseru seraya loncat mengejar.
“Biarkan saja, jangan kena tertipu….” Siau-bun mencegah. Tetapi Thian-leng yang sudah dirangsang kemarahan sudah terlanjur melambung ke atas wuwungan. Terpaksa Siau-bun pun mengikuti.
Orang itu hebat sekali. Betapapaun Thian-leng lari sekencang-kencangnya, tetapi tetap ketinggalan berpuluh tombak jauhnya. Bisa melihat orangnya tapi tak bisa mendekati.
Mereka sudah berada di luar kota. Orang itu berlari menyusur sepanjang pantai sungai Hongho. Air bengawan yang mengkilap gelap di malam pekat, makin menambah keseraman suasana.
“Pernahkah kau melihat orang itu?” tanya Siau-bun. Thian-leng menggeleng.
Tiba-tiba Siau-bun loncat menghadang di muka, “Sudahlah , tak usah mengejar lagi.!”
“Mengapa?” Thian-leng terkejut.
“Kita masih mempunyai urusan. Kalau kau tak tahu siapa orang itu, perlu apa mati-matian mengejarnya? Kemungkinan besar ia hendak gunakan tipu untuk memancing kita!”
Thian-leng menghentikan langkahnya. Ia pikir alasan Siau-bun itu benar. Ya, perlu apa ia harus mengejar orang yang tak dikenal itu?
“Baiklah, mari kita balik ke pondok lagi.” katanya. Tetapi pada saat keduanya memutar tubuh, tiba-tiba terdengar orang itu menggunakan ilmu menyusup suara berseru kepada Thian-leng.
“Bu-beng-jin, bukankah kau hendak mencari tahu asal-usulmu?”
Sudah tentu Thian-leng tersentak kaget dan cepat-cepat memutar tubuh lagi. Orang itu melanjutkan kata-katanya dengan ilmu menyusup suara, “Ketahuilah bahwa aku bermaksud baik. Aku tak punya dendam apa-apa kepadamu, jangan kau menguatirkan diriku. Jika ingin tahu asal-usul dirimu, bebaskanlah dirimu dari libatan kawanmu itu dan ikutlah aku ke dalam sarangku. Jika tak mau, maaf aku tak dapat menunggumu lebih lama lagi....”
Hati Thian-leng berdebar keras. Hal yang paling menjadi pemikirannya ialah tentang asal-usul dirinya. Apalagi orang itu memang tak bermusuhahn padanya. Ditilik dari caranya menyalakan lilin dari kejauhan dan ilmu lari cepatnya, jelask kalau seorang sakti. Mungkin orang itu memang sungguh-sungguh bermaksud baik hendak memberi petunjuk padanya!
Seketika tergeraklah hati Thian-leng. Ia hendak menurut seruan orang itu. tetapi pada lain saat, timbullah suatu prasangka. Nada suara orang itu memang tak pernah didenagrnya, tetapi mengapa dia tahu tentang riwayat dirinya? Mengapa orang itu begitu menaruh perhatian padanya? Kaki Thian-leng yang sedianya di ayun, kembali terhenti pula.
“Lekas, mengapa kau ini?” melihat Thian-leng berhenti, Siau-bun menegur heran.
Thian-leng termangu-mangu tak dapat mengambil keputusan. Tiba-tiba orang tak dikenal itu kembali menggunakan ilmu menyusup suara, “Kau mau ikut atau tidak terserah! Tetapi sekarang aku tak dapat menunggu lagi!”
Belum Thian-leng sempat menimbang, tiba-tiba Siau-bun sudah menepuk bahunya, “Hai, mengapa kau ini?”
Thian-leng gelagapan. Dalam gugupnya ia segera mengambil keputusan. Segera ia mengambil keluar peta Telaga zamrud dan diberikan kepada si nona, “Harap adik Bun pulang dulu ke pondok, aku hendak menemui seorang sahabat dulu!”
“Kau kenal dengan orang itu?” tanya Siau-bun.
“Tidak, aku tak kenal!”
“Mengapa kau hendak menemuinya? Apakah kau tak kuatir terjebak tipunya?”
Thian-leng menggeleng,”Tidak, aku harus pergi, harap adik Bun jangan kuatir!” tanpa menunggu sahutan si nona lagi, Thian-leng pun segera loncat mengejar orang aneh tadi.
Siau-bun heran atas tindakan pemuda itu. Setelah menyimpan peta ke dalam baju, iapun segera menyusul.
Bayangan hitam itu tetap berada pada jarak dua puluhan tombak. Melihat Thian-leng menyusul, ia tertawa gelak-gelak dan melanjutkan larinya lagi. Betapapun Thian-leng hendak menyusulnya tetap tak mampu.
Tiba di puncak bukit yang sunyi, tiba-tiba orang aneh itu berhenti. Sekeliling bukit itu penuh ditumbuhi huatan pohon Yang dan Siong yang rindang.
Secepat Thian-leng dan Siau-bun tiba, kejut mereka bukan kepalang ketika melihat wajah orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar, mata sebesar kelereng, dahinya menonjol, wajahnya mengerikan.
Punggungnya menyelip sebatang kipas besi. Begitu melihat Thian-leng, berserulah orang itu dengan bengis, “Hai, telah ukatkan supaya jangan membawa kawanmu, mengapa……..”
“Sebutkan namamu dulu! Asal kau menerangkan maksudmu mengi=undang dia kemari, tentu aku segera mengundurkan diri sendiri, kalau tidak….” Siau-bun cepat-cepat menyambuti. Sejenak ia melirik ke arah Thian-leng, ia berkata pula, “Kami berdua datang bersama pergi berdua! Betapapun hendak gunakan tipu muslihat memikatnya, tak akan kubiarkan dia termakan tipumu….”
“Ya, aku belum meminta keterangan nama cianpwe?” sambung Thian-leng.
Orang aneh itu tertawa seram, “Aku mempunyai she ganda Tok-ko dan nama Sing. Atas perintah tuanku, aku disuruh mengundang Be-beng tayhiap untuk diberitahukan sebuah rahasia penting!”
Thian-leng tertegun, “O, kiranya cianpwe mempunyai majikan?”
Ia anggap orang itu mempunyai kepandaian sakti dan umurnyapun sudah enam puluhan tahun, masakah masih berhamba pada orang. Kalau orang itu saja sudah dapat digolongkan sebagai tokoh kelas satu, bagaimana dengan majikannya!
“Boleh aku bertanya siapa tuanmu itu?” seru Siau-bun.
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak,” Tuanku juga mempunyai she ganda Kong-sun dan nama gnda Bu-wi.”
Siau-bun mendengus, “Ah, apakah kepala dari Hek-gak (Neraka hitam)?”
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Hek-gak sudah melenyapkan diri dari dunia persilatan selama enam tujuh tahun. Sungguh tak nyana nona bisa mengetahuinya dengan jelas!”
Siau-bun memandang Thian-leng, “Jangan kena jebakannya, ayo kita pergi saja!”
Kembali Thian-leng ragu. Ia tak tahu siapa yang disebut Hek-gak itu, tetapi dari ucapan Siau-bun yang begitu serius, tentu Hek-gak itu sebuah tempat yang misterius. Tetapi ia tertarik dengan undangan Tok-ko Sing tadi…..
“Eh, apakah kau masih berkeras tak mau mendengar kata-kataku?” Siau-bun banting-banting kaki.
Baru Thian-leng hendak menyahut, Tok-ko Sing sudah mendahului tertawa sinis, “Apakah nona marah karena aku mengganggu kesenangan kalian tadi sehingga nona melarang dia memenuhi undanganku?”
“Ngaco!” bentak Siau-bun. Wajahnya tersipu-sipu merah. Tak mau ia menghalanagi Thian-leng lagi.
“Karena sudah datang, maka harap cianpwe suka membawa aku ke sana!” akhirnya Thian-leng pun mengambil keputusan.
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Aha, ternyata kau tak mengecewakan sebagai seorang pendekar muda. Pandangan tuanku itu maha tajam dalam menilai pribadi seorang ksatria….”
Habis berkata orang aneh itupun segera ayun langkah menuju ke dalam hutan.
Thian-leng pun tak ragu-ragu lagi segera mengikutinya. Siau-bun mendengus, tetapi iapun terpaksa mengikuti juga.......
ooooo000000000oooo
Neraka Hitam
Tak lama mereka sudah menyusup berpuluh-puluh tombak ke dalam hutan. Saat itu hari
makin malam. Hutan Siong dan jati makin pekat. Sedemikian gelap sehingga tak dapat melihat jari sendiri. Namun karena lwekang Thian-leng dan Siau-bun cukup tinggi, maka dapatlah mereka menembus kegelapan itu. Sejauh beberapa tombak mereka masih dapat melihat jelas. Sekalipun demikian tak urung kedua muda-mudi itu tercekat juga hatinya.
Sambil menarik tangan Thian-leng, berkatalah Siau-bun dengan ilmu menyusup suara, ”Mungkin kita masuk dalam jebakan. Masih keburu jika kita balik keluar!”
“Putusanku telah bulat. Biarpun masuk ke dalam sarang harimau telaga naga, aku tetap tak gentar,” sahut Thian-leng, “sekiranya adik Bun kuatir, baiklah pulang lebih dahulu!”
“Apakah kau anggap aku tega membiarkan kau seorang diri menempuh bahaya?” gumam Siau-bun.
Sederhana kedengarannya ucapan itu, tetapi penuh dengan kasih sayang yang mesra. Mau tak mau tergeraklah nurani Thian-leng.
“Apa katanya kepadamu sehingga kau begitu terpikat?” Siau-bun setengah menyesali.
“Aku tak dapat melepaskan kesempatan untuk mencari tahu asal-usul diriku…….!”
“O, jadi dia hendak memberitahukan tentang asal-usulmu?” tanya SIau-bun pula. Thian-leng mengiyakan.
Siau-bun geleng-geleng kepala, ”Kau termakan tipunya. Tahukah kau tempat apa Neraka Hitam ini?”
Thian-leng mengangkat bahu.
“Pemilik dari Neraka Hitam ini ialah Kongsun Bu-wi, seorang durjana besar pada enam tujuh puluh tahun yang lalu. Dia membunuh jiwa manusia seperti membunuh lalat. Tak ada kejahatan yang tak dilakukan…..”
“Tetapi mengapa ia menyembuhkan diri?” tanya Thian-leng.
“Karena waktu itu ia dikalahkan Hun-tiong Sin-mo dan sejak itu kekuasaan dunia persilatan pindah ke tangan Hun-tiong Sin-mo. Kongsun Bu-wi beruntung masih dapat melarikan diri!”
Thian-leng terkejut. Ia tak pernah mendengar tentang peristiwa itu. Sejenak kemudian ia bertanya mengapa Siau-bun tahu tentang hal itu.
Pertanyaan itu membuat Siau-bun tertegun tetapi cepat-cepat ia menyahut, “ Sudah tentu aku hanya mendengar cerita ibuku saja!”
“Kalau begitu ibumu itu tentulah seorang pendekar wanita yang ternama?” tiba-tiba Thian-leng mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Siau-bun tertegun.
“Apakah kau benar-benar tak mau merobah keputusan?” cepat-cepat nona itu mengalihkan pembicaraan.
Thian-leng menghela napas, “Hal yang paling menyiksa batin orang ialah kalau tak tahu asal-usul dirinya. Itulah sebabnya maka aku menggunakan nama Bu-beng-jin. Setiap kesempatan mencari tahu hal itu sudah tentu takkan kulepaskan!”
Siau-bun menghela napas, “Soalnya, bukan saja kau tak berhasil mencapai tujuanmu pun bahkan malah terjebak dalam bahaya. Kau tak pernah mendengar betapa keganasan momok Kongsun Bu-wi! Dia lebih ganas daripada Sin-bu Te-kun!”
Thian-leng batuk-batuk, “Selama Hun-tiong Sin-mo masih menguasai dunia persilatan, mengapa Kongsun Bu-wi berani berkutik lagi?”
Siau-bun tertawa getir, “Ilmu kepandaian itu sukar diukur dalamnya. Tiada ujung tiada pangkal kecuali It Bi siangjin seorang, mungkin tiada seorang tokoh lain yang berani membanggakan diri sebagai tokoh lain yang berani membanggakan diri sebagai tokoh tanpa tandingan…….” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pula, “Rupanya dalam persembunyiannya selama enam puluh tahun itu, Kongsun Bu-wi telah meyakinkan suatu ilmu kesaktian untuk menebus kekalahannya yang dahulu. Dikuatirkan tak lama lagi dunia persialtan tentu akan timbul suatu huru-hara hebat!”
Thian-leng anggap ulasan nona itu mendekati kebenaran. Ia tak memberi komentar suatu apa. Dalam pada itu, mereka sudah melintasi berpuluh tombak lagi, namun hutan itu tampaknya tiada berujung.
“Apakah Bu-beng tayhiap tetap hendak bersama dengan sahabatmu itu?” tiba-tiba Tok-ko Sing berhenti dan memutar tubuh.
Sebelum Thian-leng sempat menyahut, Siau-bun sudah mendahului lagi, “Apakah majikanmu tak mau menerima kedatanganku?”
Tok-mo Sing batuk-batuk, “Ini…sekalipun aku tak berani memastikan, tetapi biasanya perintah beliau teramat keras. Karena beliau hanya perintahkan aku mengundang Bu-beng tayhiap, maka tak beranilah aku membawa nona!”
Siau-bun tertawa datar, “Begini sajalah. Aku tak kan menyusahkan kau. Nanti apabila berhadapan dengan majikanmu, akan kukatakan bahwa aku datang sendiri bukan karena ikut kau!”
Tok-ko Sing memandang Siau-bun dengan tajam. Tiba-tiba ia tertawa sinis, “Baiklah, harap nona jangan sesalkan aku!”
“Terserah bagaimana kau hendak mengaturnya,” Siau-bun balas tertawa tak acuh. Kata-katanya juga mengandung berbagai tafsiran.
Segera Tok-ko Sing ayunkan tangannya ke atas. Terdengarlah letupan keras disertai hamburan sinar berkilat di udara. Rupanya utusan Neraka Hitam itu melepaskan api pertandaan.
Beberapa jenak kemudian, terdengarlah tiga kali genderang bertalu. Semula perlahan tetapi lama kelamaan gemanya berkumandang keras.......
Tok-ko Sing tertawa, “Pintu gerbang tengah dalam Neraka Hitam sudah dibuka, menunggu kedatangan tetamu!”
Thian-leng dan Siau-bun segera mengikuti orang itu melintasi gerombol pohon yang lebar. Tiba-tiba mata kedua muda-mudi itu tertumbuk pada selarik sinar penerangan yang melingkar-lingkar dalam warna hijau kebiru-biruan. Ketika mengawasi dengan seksama, terkejutlah kedua anak muda itu. Kiranya lingkaran sinar hijau itu tergantung di atas puncak sebuah gedung dan berbentuk dua buah huruf “ Hek Gak”.
Pada kedua samping tembok pintu, tergantung berpuluh mayat manusia yang perutnya pecah, usus berhamburan keluar dan darah bercucuran!
Thian-leng memekik tertahan dan berhenti.
“Ha, ha, masakah Bu-beng tayhiap takut?” Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak.
Thian-leng mendengus geram, “Sejak lahir, aku tak kenal dengan kata-kata takut!”
“Tetapi mengapa Bu-beng tayhiap berhenti?” Tok-ko Sing tertawa mengejek.
“Kuanggap majikanmu kelewat ganas…..” sahut Thian-leng. Menunjuk pada deretan mayat pada tembok, ia berkata,” Orang-orang itu sudah dibunuh begitu kejam, mengapa masih dipaku pada tembok! Kepada manusia yang sedemikian kejamnya, aku akan pikir-pikir dulu untuk menjumpainya atau tidak!”
Kembali Tok-ko Sing tertawa keras. Sedemikian keras, hingga daun-daun di sekeliling bergoyang-goyang. Dan sampai lama sekali baru ia berhenti tertawa.
“Bu-beng tayhiap, kau salah tafsir!” serunya.
“Salah tafsir?” Thian-leng terbeliak, “Apakah mereka bukan dibunuh oleh orang Neraka Hitam? Apakah pembunuhan itu tiada sangkut pautnya dengan majikanmu?”
Tok-ko Sing tertawa,”Sayang indera penglihatanmu itu kurang tajam. Cobalah periksa yang jelas mayat-mayat itu lagi!”
Selama Thian-leng mengadakan percakapan dengan Tok-ko Sing, Siau-bun hanya diam saja. Ia hanya memperhatikan suasana sekeliling tempat itu.
Thian-leng segera menghampiri ke tembok. Ketika dekat, ia menjerit kaget! Ah… kiranya mayat-mayat itu bukan manusia melainkan hanya orang-orangan yang terbuat dari lilin. Adalah karena pembuatannya sedemikian pandai sehingga menyerupai benar dengan manusia.
Diam-diam Thian-leng malu sendiri. Namun masih ia tak mengerti mengapa Kongsun Bu-wi membuat orang-orangan lilin seperti itu. Apakah untuk menambah keseraman nerakanya atau ada lain maksud lagi?
Rupanya Tok-ko Sing mengetahui isi hatinya, ia tertawa, “Bu-beng tayhiap tentu heran melihat orang-orangan itu bukan?”
Thian-leng mengangguk, “Ya, memang aneh!”
Tok-ko Sing tertawa, “Orang-orangan lilin itu ialah sasaran yang hendak dituju majikanku pada saat ia keluar ke dunia persilatan lagi……” Sambil menunjuk pada mayat lilin yang tergantung di tengah-tengah, ia berkata pula. “Itulah lambang Hun-tiong Sin-mo dan itu Song-bun Kui-mo. Sebenarnya masih ada dua orang-orangan lilin lagi, tetapi karena orangnya sudah mati, maka tak dipasang lagi….”
Memang Thian-leng melihat bahwa ada dua tempat yang kosong. Diam-diam ia menduga bahwa yang diambil itu tentulah orang-orangan lilin lambang Oh-se Gong-mo dan Tui-hun Hui-mo. Karena kedua tokoh itu sudah meninggal.
Kembali Tok-ko Sing menunjuk ke arah kanan, “Tahukah Bu-beng tayhiap siapa orang-orangan itu?”
Thian-leng memperhatikan bahwa yang ditunjuk oleh Tok-ko Sing itu berjumlah sembilan buah orang-orangan lilin terdiri dari lambang paderi, imam, rahib dan ada orang biasa.
“Apakah mereka bukan melambangkan tokoh sembilan partai?” Thian-leng balas menanya.
“Benar!” sahut Tok-ko Sing. Kemudian ia menunjuk ke arah kiri pada empat lima puluh mayat orang-orangan lilin. “Dan yang sana itu lebih banyak lagi jumlahnya, tahukah Bu-beng tayhiap siapa mereka itu?”
“Aku masih hijau, tak mengerti banyak!” Thian-leng agak mengkal menyahut.
“Mereka itu juga tokoh-tokoh yang terkenal, antara lain ketua Thiat-hiat-bun Jenggot Perak Lu Liang-ong, ketua Bu-siong-hwe yang bernama Hun-bin Bu-siong, ketua perkumpulan agama Pek-tok-kau yang bernama Ha-Lui, ketua perkumpulan pengemis Kay-pang….”
Siau-bun hanya ganda tersenyum saja. Sepatahpun ia tak berkata. Tetapi lama-kelamaan
ia tak tahan lagi. Tukasnya dengan tawar, “Sudahlah, tak usah cerita terus. Memang cita-cita majikanmu besar sekali, tetapi sayang ia melalaikan sebuah hal!”
“Melalaikan hal apa?” tertariklah perhatian Tok-ko Sing.
“Dia tak kenal dirinya sendiri!” Siau-bun tertawa dingin.
Tok-ko Sing tertegun, ujarnya, “Hal ini tak dapat kukatakan. Coba saja buktikan nanti!”
Diam-diam Thian-leng merenung dalam-dalam. Dari pameran mayat-mayat lilin itu dapatlah diketahui sampai di mana ambisi Kongsun Bu-wi. Jelas orang itu hendak menimbulkan pemberontakan dalam dunia persilatan.
“Sekarang terserah pada Bu-beng tayhiap apakah tetap hendak masuk ke dalam Neraka Hitam ataukah mundur…..” kata Tok-ko Sing.
Sambil melirik kepada Siau-bun, berkatalah Thian-leng dengan gagahnya, “Dengan pameran serupa itu masakah dapat menggertak aku. Silakan membawa kami terus!”
Tok-ko Sing tertawa sinis. Segera ia memberi isyarat tangan mempersilakan kedua muda-mudi itu.
Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Serentak dengan gerakan Tok-ko Sing itu maka terdengarlah suara berdrak-derak dari pintu gerbang besi yang terpentang. Thian-leng sejenak termangu tetapi pada lain saat ia segera melangkah masuk diikuti oleh Siau-bun.
Dua deret rombongan penjaga yang mengenakan pakaian ringkas dan senjata lengkap tampak menjaga di sepanjang jalan masuk. Deretan terakhir terdiri dari dua orang bujang perempuan dalam pakaian sederhana. Kedua bujang itu menghadang di tengah dan menyambut kedatanagn sang tetamu, “Selamat datang Bu-beng tayhiap!”
Tetapi kedua bujang itu segera tersirap kaget demi melihat Siau-bun. Heran mereka mengapa Thian-leng membawa kawan.
Tok-ko Sing segera memberi keterangan, “Walaupun berpakaian lelaki, tetapi tamu kita ini seorang nona. Sambutlah mereka berdua ke dalam ruang tamu......!” Kemudian ia menyatakan hendak menemui Kongsun Bu-wi.
Ruangan dalam gedung itu tinggi-tinggi, tetapi semuanya dicat hitam sehingga seram tampaknya. Kedua bujang itu membawa Thian-leng dan Siau-bun masuk.
Selama melalui jalan kecil dan tikungan-tikungan gang, diam-diam Thian-leng mencatat dalam hati. Kira-kira empat puluh tombak jauhnya setelah melintasi dua buah halaman, tibalah mereka di ruang tamu. Sebuah ruangan yang luas, penuh dengan kamar-kamar tetapi sepi-sepi semua. Juga kamar-kamar itu dicat warna hitam, tanpa lampu sama sekali. Tetapi ketika Thian-leng dan Siau-bun dipersilakan masuk ke dalam kamar sebelah utara, kedua bujang itupun menyulut juga sebuah pelita.
Setelah menghidangkan dua cawan the wangi, kedua bujang itupun meninggalkan ruangan. Begitu mereka pergi, Thian-leng cepat-cepat mengunci pintu. Ia periksa seluruh ruangan itu dengan teliti. Di situ terdapat tiga buah kamar. Ruangan dihias indah, tetapi serba sederhana. Sekilas pandang seperti tak ada sesuatu alat rahasia.
“Adik Bun, jangan minum teh itu!” habis memeriksa ruangan, Thian-leng terkejut melihat Siau-bun tengah mengangkat cawan arak.
“Mengapa?” Siau-bun tertawa datar.
“Kita berada dalam tempat berbahaya. Segala tindak tanduk kita harus hati-hati. Kalau teh itu diberi obat, bukankah....”
“Teh ini tiada racunnya dan ternyata teh dari Liong-keng yang termasyhur. Ayo, kita nikmati saja!” Siau-bun tertawa.
“Bagaimana kau memastikan mereka tak menyampuri obat?”
“Sebabnya sederhana saja. Pertama, gedung ini berdinding sangat tinggi, berpintu besi dan penuh alat rahasia. Sekali kau sudah masuk tak nanti kau mampu keluar lagi. Kedua, pemilik Neraka Hitam ini sudah enam-tujuh puluh tahun menyembunyikan diri. Begitu hendak muncul lagi sudah tentu harus menjaga gengsi. Tak nanti mau merendahkan diri membunuh kita dengan racun. Masih banyak lagi alasan-alasannya, tetapi pada pokoknya untuk sementara ini tentu takkan bertindak curang....”
Thian-leng anggap analisa nona itu tepat, namun ia tetap merasa cemas. Ia masih sangsi akan keterangan Tok-ko Sing bahwa pemilik Neraka Hitam itu akan memberi keterangan tentang asal-usul dirinya. Mengapa Kongsun Bu-wi begitu menaruh perhatian besar kepadanya? Apakah maksudnya.......
“Tolol, apa yang kau pikirkan....?” tiba-tiba Siau-bun menegurnya, “ bagaimana hasil penyelidikanmu tadi?”
Thian-leng mengatakan bahwa tampaknya ruang itu tiada diberi barang suatu perkakas rahasia.
“Gila kau!” Siau-bun tertawa hambar, “ruangan ini justru penuh dengan perkakas rahasia.!”
“Kalau begitu kita ini berada dalam jebakan mereka?” Thian-leng terkejut.
“Boleh dikata begitulah.....” Siau-bun tersenyum, ujarnya pula, “Tetapi telah kukatakan tadi, dalam waktu singkat ini mereka takkan mencelakai kita. Maka untuk sementara ini kita aman, tak usah kuatir apa-apa!”
“Bagaimana dengan kata-kata Tok-ko Sing tadi?” tanya Thian-leng.
“Bukankah aku pernah menganjurkan kau supaya jangan ikut padanya?” sahut Siau-bun hambar.
“Jadi kau sudah mengetahui kalau dia hendak mengelabui?” Thian-leng terbeliak kaget.
Si nona hanya mengangguk lesu.
Thian-leng tersipu-sipu menundukkan kepala dengan penuh sesal. Tiba-tiba Siau-bun tertawa hambar, ia menjentik dengan sebuah jari memadamkan pelita. Seketika ruangan itupun gelap gulita.
“Ha, apakah adik Bun mendengar sesuatu?” Thian-leng bertanya kaget.
“Tidak!”
“Habis mengapa memadamkan pelita?”
Segera Siau-bun menggunakan ilmu mnyusup suara, “Kita toh dapat melihat dlam kegelapan, jadi tak perlu dengan penerangan macam kunang-kunang begitu. Siapa tahu diam-diam ada orang tengah mengawasi gerak-gerik kita. Dalam kegelapan tentu sukarlah dia melakukan pengintaiannya!”
Beberapa kali nona itu telah mengemukakan analisa yang dapat diterima akal. Diam-diam Thian-leng kagum. Mereka segera duduk bersamadi.
Tak berapa lama tiba-tiba Siau-bun berseru dengan ilmu menyusup suara. “Ada orang datang, lekas...!” nona itu menutup kata-katanya dengan sebuah gerakan loncat ke atas tiang penglari. Tanpa banyak bicara Thian-leng pun segera mengikuti.
Benar juga, sesaat kemudian terdengar langkah kaki seorang berjalan dengan perlahan-lahan.
“Aneh, apakah di luar dugaanku?” Siau-bun menggumam heran.
“Apa yang kau duga?”
“Kuduga pemilik gedung ini tentu akan datang sendiri. Dengan menawarkan keterangan tentang asal-usulmu, dia akan minta peta Telaga zamrud. Jika kau menolak, dia akan menggunakan keerasan. Peta direbut dan kau akan dibunuh untuk menghilangkan jejak..”
“Apakah dia sudah tahu peta itu ada padaku?” Thian-leng tersirap kaget.
“Kalau tidak masakah dia begitu baik mengundangmu kemari?”
“Kalau begitu soal asal-usul diriku itu….?”
“Hal itu memang berliku-liku, sayang kau mudah tertipu!” tukas Siau-bun.
Thian-leng menghela napas penyesalan. Langkah kaki itu makin dekat tapi makin perlahan.
“Apa yang kau maksud dengan di luar dugaan tadi?” Thian-leng bertanya pula.
“Langkah kaki seperlahan itu menunjukkan bahwa orang berjalan dengan penuh hati-hati. Mungkin takut diketahui orang. Apakah di dalam Neraka hitam ini telah kemasukan orang lagi?”
Mendengar itu Thian-leng makin bingung. Saat itu langkah kaki sudah berada di luar pintu, menyusul terdengar suara ketukan pintu perlahan-lahan dan orang berseru lirih, “Bu-beng tayhiap…..!”
Thian-leng memandang Siau-bun, bagaimana adik Bun, kita bukakan pintu tidak?”
Siau-bun merenung sejenak, lalu mengatakan, “Bukalah pintu.”
Dengan sebuah gerakan seperti kucing, Thian-leng loncat turun dan membukan palang pintu. Siau-bun menyiapkan senjata rahasia tui-hong-kiong. Juga Thian-leng telah siap dengan pukulan Lui-hwe-ciang.
Tetapi apa yang muncul hampir membuat si anak muda menjerit kaget. ternyata hanya seoarang dara baju hijau. Wajahnya memancarkan seri kecemasan.
“Nona ini…..?”
“Apakah kau Bu-beng tayhiap?” tukas dara itu dengan berbisik.
Baru Thian-leng mengiyakan. Siau-bun sudah berseru supaya menyuruh dara itu masuk dan segera menutup pintu lagi. ternyata Siau-bun pun sudah loncat turun di belakang Thian-leng.
“Mungkin kau ini nona Cu yang bersama dengan Bu-beng tayhiap?” tanya si dara itu setelah masuk.
“Kau ini sebagai apa di dalam Neraka Hitam? Mengapa tengah malam datang kemari? Mengapa kau tahu kami berdua berada di sini?”
“Di Neraka Hitam ini kedudukanku cukup tinggi. Namanya saja aku ini majikan dari Hong-kiong (istana burung Hong), tetapi sebenarnya tak lebih dari seorang tawanan….kecuali pada saat berada di samping ayahku!”
Ucapan itu membuat Thian-leng dan Siau-bun bingung karena tak mengerti apa maksudnya.
“Katkan apa maksud kedatangnmu ini?” seru Siau-bun.
“Hendak mophon bantuan tuan berdua agar menolong kakekku!” sahut si dara.
“Asal kami dapat tentu dengan senang hati membantu nona, “ sahut Thian-leng serempak.
Dara baju hijau itu tertegun, “Kakekku itu tidak dipenjarakan karena dia….. dia bukan saja Cong-hou-hwat (kepala penjaga) Neraka Hitam, juga merupakan guru dari Kongsun Bu-wi…..!”
“Astaga!” Thian-leng mengeluh kaget. Ia memperhatikan lagi wajah nona itu, tetapi nyata kalau nona itu bukan seorang gila. tetapi mengapa ucapannya begitu aneh?
Kakek nona itu menjabat kedudukan yang sedemikian tinggi, perlu apa ia minta pertolongan pada orang asing? Juga nona itu sendiri menjabat sebagai kepala Hong-kiong. Mengapa dia begitu ketakutan dan minta tolong pada lain orang? Secerdas-cerdasnya otak Siau-bun, kali ini benar-beanr ia tak mengerti.
“Maukah nona menceritakan yang jelas? “ segera Siau-bun meminta.
Nona itu menyadari bahwa keterangannya tadi memang membingungkan, maka iapun segera memberi penjelasan.
“Ya, ya, memang harus kuceritakan dari awal. Lima tahun yang lalu kakekku itu datang kemari atas undangan kepala Neraka Hitam. Sebelum itu kakek tinggal di gunung Kiu-kong….”
“Kakekmu itu bernama……?” tukas Siau-bun.
“Kami keluarga she Bok. Kakekku itu bernama Bok Sam-pi, bergelar Ang-tim Cong-khek….”
“Bok Sam-pi….!” Siau-bun berseru kaget sekali.
Bok Sam-pi walaupun tak begitu terkenal, tetapi juga seorang tokoh sakti. Ilmu kepandaiannya sukar diukur. Memang jarang orang persilatan yang tahu dia, tetapi orang yang kenal padanya tentu mengindahkan. Malah ada yang menganggap bahwa Bok Sam-pi itu tokoh kedua setelah It Bi siangjin!
Tetapi Bok Sam-pi itu juga lebih senang mengasingkan diri. Itulah sebabnya maka angkatan muda jarang yang tahu namanya. Tetapi rupanya Siau-bun yang masih muda itu tahu banyak sekali tentang seluk-beluk dunia persilatan.
“Nama nona…….” tiba-tiba Thian-leng menyeletuk.
“Bok Ceng-ceng……” sahut si dara perlahan. Kemudian ia mengulangi lagi permintaannya tadi, “Apakah tuan berdua suka menolong kakekku?”
Siau-bun tertawa getir, “Kepandaian kakek nona ini sukar dicari tandingannya. Bukankah dia menjadi guru dari Kongsun Bu-wi? Bagaimana kami dapat menolongnya….?” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Apalagi kami sendiripun terjebak kemari, bagaimana dapat memberi pertolongan pada kakek nona?”
“Jadi tuan berdua tak mau membantu kesusahanku?” kata nona itu dengan nada terisak.
“Harap nona bercerita yang jelas. Asal kami dapat melakukan, tentu akan berusaha sekuat tenaga! Apa yang telah terjadi dengan kakek nona…”
Baru Thian-leng bertanya begitu, tiba-tiba Siau-bun menukasnya, “Celaka, kali ini kepala Neraka yang datang, lekas……!” ia suruh Bok Ceng-ceng bersembunyi. Ceng-ceng gugup sekali. Cepat ia menyusup ke bawah kolong ranjang.
Sesaat kemudian terdengar derap kaki riuh. Paling tidak tentu ada lima orang yang datang. Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara supaya Thian-leng bertindak menurut isyarat matanya. Jangan bertindak sekehendak sendiri.
“Masih begini sore mengapa kalian sudah sama tidur?” segera terdengar suara orang berkata-kata bercampur tawa. Nadanya berat, mengiang keras di telinga.
Thian-leng pun tertawa seraya membuka palang pintu. Serombongan lima orang melangkah masuk. Pelopornya seorang lelaki bongkok, kaki pincang, tangan kutung sebelah. Jenggotnya putih mengkilap, wajahnya penuh keriput. Umurnya ditaksir tentu sudah seratusan tahun.
Rombongan pengiringanya, kecuali Tok-ko Sing masih ada empat orang yang mengenakan pakaian seragam. Tok-ko Sing segera melangkah maju, memperkenalkan orang cacat itu kepada Thian-leng, “Inilah pemimpin kami.......!”
Thian-leng tersipu-sipu memberi hormat, “Kongsun cianpwe……”
Ketua Hek-gak itu tertawa, “Bu-beng tayhiap benar-benar tak bernama kosong. Seorang berbakat yang hebat dan berwibawa….”
Tetapi wajah ketua Hek-gak itu cepat berobah kurang senang ketika melihat Siau-bun. Sebaliknya Siau-bun acuh tak acuh.
“Sekiranya penyambutan kami kurang memuaskan, jangan Bu beng tayhiap ambil di hati,” kata ketua Hek Gak pula.
Thian-leng menyatakan terima kasih atas kebaikan tuan rumah hendak memberitahukan asal-usul dirinya.
“Ah, adalah karena kebetulan bertemu dengan seorang kawan lama yang tahu jelas tentang riwayat tayhiap, maka….” ketua Hek Gak tiba-tiba tak melanjutkan ucapannya.
“Mohon Gak-cu (kepala neraka) sudi memberitahukan. Untuk itu takkan kulupakan budi Gak-cu seumur hidup,” Thian-leng mendesaknya.
Kongsun Bu-wi mengangguk, “Sudah tentu, hanya saja.....” ia berhenti sejenak lalu menyambung pula, “Sebelum menceritakan riwayat tayhiap, bolehkah aku bertanya dulu tentang suatu hal?”
Thian-leng mempersilakan. Tiba-tiba Siau-bun membisikinya dengan ilmu menyusup suara. “Tuh, dia sudah mulai....... ingat! Betapapun ia mendesakmu, janganlah sekali-kali kau mengaku!”
“Kudengar tayhiap memiliki sebuah peta Telaga zamrut, benarkah itu?” sesuai dengan dugaan Siau-bun, ketua Hek gak itu menyatakan maksudnya.
Hampir meledak dada Thian-leng. Namun ia tetap bersabar dan pura-pura tak mengerti. “Peta Telaga zamrut? Aku tak pernah mendengarnya apalagi memiliki!”
Ketua Hek Gak tetap tertawa, “Peta itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai harganya. Tetapi pun bisa dianggap tak berharga sepeser juga!”
“Entah bagaimanakah wujud peta itu, harap cianpwe suka menjelaskan. Kelak apabila berkelana, aku tentu berusaha untuk mencarikan !” Thian-leng tetap membodoh.
“Eh, kabarnya kau ini seorang kstria yang suka berterus terang, tak pernah bohong! Tetapi mengapa kau tak mau berlaku jujur?”
Wajah Thian-leng tampak agak berubah, ujarnya, ”Taruh kata aku memiliki peta itu, tetapi cara cianpwe hendak merebut dengan siasat serendah ini, tentu tak kuserahkan! Apalagi sesungguhnya peta itu tak berada padaku!”
Wajah Kongsun Bu-wi pun berobah juga, serunya, “Jadi kau tak mau mengaku?”
Tok-ko Sing tertawa sinis dan segera menyeletuk, “Walaupun tayhiap telah mendapatkan peta itu secara rahasia sekali, tetapi beritanya sudah tersiar luas di dunia persilatan. Kalau kau tak mau menyerahkan peta itu kepada ketua kami, dikuatirkan kau tak dapat mempertahankannya lebih lama dari tiga hari, apalagi...... tempat persembunyian pusaka itu telah diketahui di gunung Thay-heng-san! Seluruh wilayah gunung itu kini berada dalam pengawasan kami. Jangan harap kau bisa menggali tempat itu. Maka daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia, lebih baik kau tukarkan saja dengan keterangan tentang asal-usul dirimu!”
Saking marahnya, menggigillah tubuh Thian-leng.
“Kalian tuan dan budak adalah manusia hina semua, tak malu sama sekali…..”
Tetapi secepat itu Siau-bun segera berseru, “Jangan keburu nafsu dulu…… memang apa yang dikatakan mereka itu benar. Jika kau memang memiliki peta, tak beda seperti secarik kertas tak berharga saja!”
Thian-leng melongo. Tak tahu ia mengapa mendadak Siau-bun mengatakan begitu.
Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Ha, benar! Kiranya nona Cu lebih mengerti persoalan….!” tiba-tiba ia memutar tubuh dan berbisik-bisik kepada Kongsun Bu-wi. Ketua Hek Gak itu mengangguk, “Baik, kita beri waktu dua jam lagi untuk mereka pikir-pikir. Nanti tengah malam aku akan kembali kesini lagi minta jawaban.....”
Sebelum pergi ketua Hek Gak itu melontarkan pandangan tajam pada Thian-leng, serunya tandas, “Ingin mati atau hidup, terserah padamu!”
Baru ketua itu memutar tubuh hendak berlalu, tiba-tiba ia memutar diri lagi. Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Merekapun bersiap-siap. Tetapi ternyata ketua Hek Gak itu tak mengacuhkan kedua anak muda itu. Dengan suatu gerakan yang tak terduga, tiba-tiba ia mencengkeramkan tangannya ke arah kamar.
Cengkeraman itu dilakukan dari jauh dan tampaknya lemah-lemah saja, tetapi hasilnya sungguh tak terduga, Bok Ceng-ceng yang bersembunyi di kolong ranjang telah tertarik keluar!
Kejut Thian-leng tak kepalang. Cepat ia meraih pedangnya, tetapi Siau-bun menepuk bahunya perlahan-lahan, bisiknya dengan ilmu menyusup suara, “Sebelum terpaksa jangan bertindak gegabah!”
Thian-leng menurut. Ceng-ceng yang terseret keluar itu, bagaikan seekor ikan dalam jaring. Serta merta ia memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi.
Ketua Hek Gak tertawa meloroh, “O, kukira ada penjahat masuk ke sini, ternyata kepala dari Hong-kiong….” tiba-tiba ia berganti nada bengis.” Mengapa kau tidur di kamar tamu? Bukankah kau tak mempunyai kebiasaan jalan-jalan di waktu tidur?”
“Hamba…. hamba…..” tak dapat Ceng-ceng memberi jawaban yang tepat.
“Mana Si-hwat?” teriak Kongsun Bu-wi. Si-hwat adalah algojo.
Segera Tok-ko Sing tampil.
“Kepala Hong-kiong telah melanggar peraturan, bagaiman hukumannya?” seru Kongsun Bu-wi.
“Mati!” sahut Tok-ko Sing.
Kongsun Bu-wi kerutkan dahi, ujarnya, “Tetapi dia adalah cucu tunggal dari guruku, boleh diperingan hukumannya….” melirik pada Ceng-ceng ketua Hek Gak itu berseru pula. “Potong kedua paha saja, jiwanya tetap diampuni!”
Tok-ko Sing mengiyakan terus hendak turun tangan. Ceng-ceng gemetar tubuhnya, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa, kecuali meramkan matanya yang basah dengan air mata.
Sambil mencabut sebatang badik, Tok-ko Sing membentak, “Kau diberi ampun tak dihukum mati, mengapa tak lekas menghaturkan terima kasih kepada Gak-cu!”
Segera Ceng-ceng memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi seraya menghaturkan terima kasih . Setelah itu ia rebah di tanah. Tok-ko Sing menyeringai senyum iblis, terus mengayunkan badiknya. Petunjukan ngeri tak dapat dibiarkan saja oleh Thian-leng. Ia tak tahan melihat kebuasan orang Neraka Hitam. Sekonyong-konyong ia menggembor keras dan melepaskan pukulan Lui-hwe-sin-ciang ke arah Tokko Sing. Seketika terhambur angin keras yang panas sekali.
Tok-ko Sing tak menyangka sama sekali. Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam untuk menyambut. Das.. badik mencelat lepas ke udara, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah……. Namun Thian-leng sendiri juga tak kurang terkejutnya. Ternyata tenaga dalam Tok-ko Sing hebat sekali, sehingga ia rasakan separoh tangannya yang digunakan memukul tadi kesemutan. Darah bergolak-golak.
Setelah dapat berdiri tegak, wajah Tok-ko Sing merah padam. Ditatapnya anak muda itu, “Bu-beng tayhiap mempunyai hubungan apa dengan kepala Hong-kiong itu?” serunya bengis.
“Tidak kenal mengenal, tidak ada sangkut pautnya!” Thian-leng menjawab lantang.
Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Kalau tiada sangkut pautnya mengapa tayhiap hendak menolongnya? Mengapa tayhiap menghalangi hukuman tadi?”
Sahut Thian-leng, “Aku tak tahan melihat cara-cara yang sekeji itu. Hanya karena sedikit kesalahan saja lantas mau memotong kaki seorang gadis….”
“O, kiranya tayhiap jatuh cinta padanya…..”
“Ngaco!” bentak Thian-leng, “aku bukan pemuda beriman begitu rendah…”
“Apakah Gak-cu percaya omongannya itu?” tanpa mengacuhkan Thian-leng, Tok-ko Sing tiba-tiba menghadap ke arah Kongsun Bu-wi.
Wajah Kongsun Bu-wi mengerut gelap, serunya, “Bok Ceng-ceng telah mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar, ini jelas. Bagaimana hukumannya?”
“Mati digigit lima binatang berbisa,” sahut Tok-ko Sing.
“Ini bukan urusan kecil, harus memberi tahu pada guru!” seru Kongsun Bu-wi. Lalu ia menyuruh keempat pengawalnya pergi ke istana Yang-sim-kiong. “ Coba jenguklah apakah Cong-hou-hwat sudah tidur atau belum. Kasih tahu aku hendak bertemu padanya!”
Salah seorang pengawal segera melakukan perintah itu. Setelah itu Kongsun Bu-wi berkata pula kepada Ceng-ceng, “Aku tak berani gegabah menghukummu nanti. Hal itu akan kurundingkan dengan guru dulu, kau tentu tak keberatan….”
Thian-leng mendengus lega, karena ia tahu guru Kongsun Bu-wi itu ialah kakek dari Ceng-ceng. Tidak demikian dengan Ceng-ceng. Wajah dara itu pucat pasi. Tiba-tiba ia merangkak ke hadapan Kongsun Bu-wi dan meratap, “Mohon Gak-cu memberi hukuman potong kaki saja….”
Thian-leng kaget sekali mendengar permintaan nona itu.
“Mengingat kau ini cucu tunggal dari guru, maka hendak kuserahkan hukumanmu itu kepadanya,” Kong sun Bu-wi tetap menolak. Ceng-ceng pun tetap meminta dengan ratap tangis.
“Neraka Hitam ternyata sesuai dengan kenyataannya....” Thian-leng tertawa dingin.
“Hek Gak mempunyai peraturan keras. Sekalipun aku sendiri yang bersalah juga harus dihukum. Adalah karena Ceng-cengmu itu cucu guruku, maka kuadakan pengecualian. Apakah itu ganjil?”
“Mungkin persoalannya bukan begitu sederhana saja!” seru Thian-leng.
Ceng-ceng telah ditutuk kedua bahunya. tetapi ia masih dapat bicara. Segera ia berseru kepada Thian-leng dan Siau-bun, “Mohon kalian berdua menyelamatkan jiwaku dan kakekku….”
Bukan main marahnya Kongsun Bu-wi. Cepat-cepat ia tutuk rubuh dara itu. Belum Thian-leng hilang herannya, tiba-tiba pengawal yang disuruh tadi muncul lagi dan memberitahukan bahwa cong-hou-hwat menunggu di istana Yang-sim-kiong.
“Bawa dia!” Kongsun Bu-wi memberi perintah, dan Ceng-ceng segera diseret oleh dua pengawal.
“Bu-beng tayhiap silakan menimbang lagi. Nanti lewat tengah malam aku akan datang minta jawaban, saat itu..........” kepala Hek Gak menutup kata-katanya dengan tertawa dan melangkah keluar.
Thian-leng mencabut pedang dan hendak mengejarnya, tetapi dicegah Siau-bun, “Kita harus menahan diri. Paling tidak sampai nanti lewat tengah malam kita aman. Baiklah kita gunakan tempo ini untuk beunding!”
“Selain menghadapi dengan kekerasan, rasanya tiada jalan lain lagi,” Thian-leng menggeram.
“Ah, barangkali akan terjadi perobahan, “Siau-bun mengerutkan kening, “tetapi gerak-gerik Bok Ceng-ceng itu sungguh mencurigakan….”
“Ya, mungkin Kongsun Bu-wi tak membawa gadis itu ke tempat kakeknya melainkan ke lain tempat untuk dihukum mati……”
“Bukan itu yang kucurigai, ” sahut Siu-bun, “ mungkin kau tak tahu riwayat kakek nona itu. Ang Tim Gong-khek selain sakti pun cerdik sekali. Masakah tokoh seperti dia sudi berhamba pada Kongsun Bu-wi? Dan mengapa ia biarkan cucunya disiksa orang? Kemudian yang lebih aneh lagi, mengapa Ceng-ceng begitu sungguh-sungguh minta kita menolong kakeknya. Tokoh semacam Ang Tim masakah perlu ditolong orang lain….?”
Thian-leng hanya termenung tak dapat memberi pandangan.
“Hanya ada satu cara untuk menyelidiki kesemuanya itu,” Siau-bun tersenyum.
“Bagaimana?”
“Kita harus mengikuti mereka!”
Thian-leng tertegun, serunya, “Ah, mungkin tak mudah!”
“Mengapa tak mudah?”
“Di dalam Hek Gak ini tentu penuh dnegan perkakas rahasia. Setiap sudut, setiap lantai merupakan bahaya. Jika kita sampai terperosok dalam jebakan, bukankah akan celaka?”
“Mungkin benar begitu, tetapi sekurang-kurangnya mereka tentu takkan bergerak mencelakai kita sampai nanti lewat tengah malam!” bantah Siau-bun.
“Tetapi mereka sudah jauh. Jalanan di sini berkelok-kelok rumit sekali. Mungkin sukar untuk mengejar mereka....”
“Jangan kuatir,” Siau-bun menghibur, “aku pernah mempelajari ilmu ‘melihat langit mendengarkan bumi’. Meskipun belum sempurna, tetapi dalam jarak seratus tombak aku masih dapat menangkap derap kaki orang. Dengan menurutkan derap kaki itu, tentulah tak sukar mengikuti mereka!”
Thian-leng tersirap kaget. Ketika dalam penjara air di istana Sin-bu-kiong, Nyo Sam-koan pernah menceritakan tentang ilmu itu. Dan kemudian ia pernah menyaksikan ketua Thia-hiat-bun menggunakan ilmu itu. Mengapa Siau-bun mengerti juga ilmu sakti itu? Sejak kenal memang ia tak banyak mengetahui tentang diri nona itu. Dan memang ia tak pernah menanyakan hal itu kepada Siau-bun. Kini tiba-tiba timbullah kecurigaannya. Apakah nona itu mempunyai hubungan juga dengan partai Thia-hiat-bun?
“Eh, kau melamun apa?” Siau-bun tertawa melihat Thian-leng terlongong-longong.
Thian-leng gelagapan. ”Eh, dari manakah adik Bun mempelajari ilmu itu?”
Siau-bun tersentak kaget, tetapi cepat-cepat ia alihkan pembicaraan, “Panjang sekali untuk menceritakannya. Sekarang baik kita putuskan dulu. Hendak mengejar jejak mereka atau tidak?”
Thian-leng tak mau mendesak. Ia menyatakan supaya mengejar saja. Demikianlah kedua anak muda itu segera meninggalkan kamar. Di luar gelap sekali. Siau-bun sebentar-sebentar berhenti untuk pasang telinga. Setelah melintasi beberapa tikungan, tak berapa lama mereka harus melalui beberapa halaman luas. Thian-leng siap sedia. Tetapi selama itu mereka tidak menjumpai barang seorangpun. Gedung itu seolah-olah tanpa penghuni.
Tiba-tiba Siau-bun berhenti, serunya, “Setelah melintasi tembok tinggi ini kita akan tiba di istana Yan-sin-kiong!”
Kedua anak muda itu loncat ke atas tembok. Mereka agak terkesima. Di sebelah luar tembok itu terdapat sebuah halaman luas penuh ditumbuhi pohon bunga. Tiga buah paseban besar terang-benderang dengan penerangan. Di ruang paseban itu penuh sesak orang. Tampak Kongsun Bu-wi diiringai oleh para pengawalnya tengah menyeret Bok Ceng-ceng. Rupanya mereka baru tiba.
“Kita sembunyi di luar jendela dalam kebun belakang agar dapat melihat dengan jelas,” Siau-bun mengajak. Anehnya tempat yang dituju kedua anak muda itu tiada penjaganya sama sekali. Daun jendela besar sekali tertutup dengan kertas lilin yang sudah penuh lubang. Untung karena di sebelah luar gelap, maka jejak kedua anak muda itu tak sampai ketahuan oleh orang di dalam ruangan. Dari lubang kertas jendela, mereka mengintai apa yang sedang terjadi di dalam.
Di tengah ruang terdapat sebuah ranjang kayu yang besar sekali dan dicat merah. Di situ rebah seorang tua yang aneh. Kepalanya gundul kelimis. Wajahnya putih bersih, tetapi yang aneh ialah hidungnya. Hidungnya besar dan merah, penuh dengan tonjolan bintil. Dia hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis, shingga perutnya yang buncit tampak menonjol jelas. Di belakang ranjang terdapat empat bujang perempuan yang masih muda.
“Dia tentu Ang Tim Gong-khek?” tanya Thian-leng dengan ilmu menyusup suara.
“Benar, apakah kau tak melihat hidungnya?” sahut Siau-bun.
Thian-leng hampir tertawa, Bok Sam-pi ( Bok si hidung tiga ) memang sesuai dengan namanya. Bukan saja besar sekali, tetapi hidungnya itu seperti terbelah jadi tiga.
Begitu tiba di hadapan ranjang, Kongsun Bu-wi segera berlutut memberi hormat. Bok Sam-pi mempersilakan dia bangun. Tetapi tiba-tiba Ang Tim Gong-khek itu loncat bangun dan berlutut di hadapan Kongsun Bu-wi juga, “Hamba menghaturkan hormat kepada Gak-cu!”
Pertama, Kongsun Bu-wi memberi hormat kepada Ang Tim Gong-khek dalam kedudukan sebagai gurunya. Tetapi Ang Tim Gong-khek pun balas memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi dalam kedudukan sebagai kepala Hek Gak. Habis memberi hormat Bok Sam-pi pun rebah lagi di atas ranjang.
Thian-leng heran mengapa Bok Sam-pi acuh tak acuh melihat cucunya dalam keadaan ditutuk jalan darahnya.
“Tengah malam menemui aku, ada urusan apa?” tegur Bok Sam-pi.
“Jika tidak penting, masakah murid berani mengganggu guru. Adalah karena…”
“Nanti dulu!” Bok Sam-pi cepat menukas, “aku tak mau menjalankan peradatan sebagai cong-hou-hwat lagi. Jangan membicarakan urusan dalam Hek Gak…”
Kembali ketua Hek Gak menjura, “Murid tak berani kurang adat, silakan suhu rebahan saja.”
Bok Sam-pi tertawa dan suruh Kongsun Bu-wi mengutarakan keperluannya.
“Ada seorang murid yang mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar,” kata ketua Hek Gak.
Bok Sam-pi terkejut marah, “Siapa?”
“Kepala istana Hong-kiong, cucu suhu sendiri Bok Ceng-ceng!”
“Dia?” Bok Sam-pi menuding ke arah Ceng-ceng dan Kongsun Bu-wi mengiyakan.
“Kemari kau!” serunya. tetapi karena tertutuk jalan darahnya, sudah tentu Ceng-ceng tak dapat berjalan. Kongsun Bu-wi memberi isyarat mata kepada kedua pengawal. Kedua pengawal itu segera membuka jalan darah si dara.
“Kek!” Ceng-ceng loncat menghampiri kakeknya seraya menangis.
“Saat ini kakek sebagai cong-hou-hwat, lekas haturkan hormat!” bentak Bok Sam-pi.
Ceng-ceng terpaksa berlutut. Ia tak menangis lagi. Mulutnya terkancing, sikapnya seperti sebuah patung.
“Benarkah kau mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar?” seru Bok Sam-pi.
Ceng-ceng diam saja.
“Tahukah apa hukuman yang harus dijatuhkan?” dengus Bok Sam-pi pula.
Ketua Hek Gak segera melangkah maju. “Menurut undang-undang Hek Gak, harus menerima hukuman digigit lima binatang beracun, tetapi….”
“Tetapi bagaimana?” Bok Sam-pi berseru gusar.
“Tetapi Ceng-ceng adalah …….”
“Tak peduli apaku, sebagai cong-hou-hwat, aku harus bertindak menurut hukum. Kalau hukum tak dipegang, rusaklah peraturan!” teriak Bok Sam-pi, “Lekas jalankan hukuman!”
Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera memanggil Tok-ko Sing yang menjabat sebagai pelaksana hukum atau algojo. Tok-ko Sing pun segera bertindak. Ia hendak mencengkeram bahu kanan dara itu dan Ceng-ceng tak mengadakan perlawanan apa-apa.
“Tunggu!” tiba-tiba Bok Sam-pi mengebutkan tangannya. Tok-ko Sing menarik pulang cengkeramannya, tetapi kebutan tangan Bok Sam-pi itu membuatnya terhuyung-huyung beberapa langkah.
“Mengapa suhu……..?” Kongsun Bu-wi berseru kaget.
“Apakah ada buktinya Bok Ceng-ceng melakukan hubungan itu?” tegur Bok Sam-pi.
“Orang itu masih berada di ruang tamu. Apakah suhu perlu suruh mereka menghadap?”
Tiba-tiba Bok Sam-pi tertawa keras-keras. “Tak usah, lebih baik kau lihat saja kutangkap mereka!”
Kongsun Bu-wi terkejut, “Maksud suhu….”
Tiba-tiba Bok Sam-pi menampar ke jendela belakang, bingkai jendela yang hampir satu tombak besarnya itu serentak hancur berantakan. Thian-leng dan Siau-bun pun tak sempat lagi menjaga diri. Serentak mereka seperti digulung oleh tenaga tarik yang tak dapat dilawan. Bersama dengan keping jendela, kedua anak muda itupun tersedot ke dalam ruang dan jatuh tepat di muka ranjang Bok Sam-pi. Untung tak sampai terluka.
Thian-leng dan Siau-bun menginsyafi betapa hebat kesaktian orang she Bok itu. Maka merekapun tak mau bertindak sembarangan.
“Apakah kedua orang ini?” tanya Bok Sam-pi.
“Benar ,” buru-buru ketua Hek Gak menjawab, “dengan baik-baik murid melayani mereka di ruang tamu, tetapi ternyata mereka telah bersekongkol dengan Bok Ceng-ceng. Dan ternyata juga diam-diam mengikuti murid kemari hendak mencelakai suhu.”
“Bagaimana hukumannya?” seru Bok Sam-pi.
“Mereka bukan murid kita, sudah tentu boleh dihukum apa saja…..” mata ketua Hek Gak itu berkedip-kedip, “sudah lama suhu kesepian. Baiklah kedua orang ini dijadikan hiburan saja, entah bagaimana kehendak suhu….”
Tiba-tiba Bok Sam-pi bangkit duduk serunya, “Ya, ya, aku ingin menyaksikan hukuman Toa-gi-pat-kui, lakukanlah sekarang!”
Thian-leng mengeluh putus asa. Ia melirik kepada Siau-bun yang berada di sampingnya. “Adik Bun, akulah yang bersalah mencelakaimu......aku tak menyesal mati, tapi kalau sampai membuatmu ikut menderita, aku tak dapat mati dengan meram.”
Di luar dugaan Siau-bun tenang sekali. Bahkan bibirnya menyungging senyuman. Segera ia menjawab dengan ilmu menyusup suara, “Takutkah kau?”
Thian-leng tertegun, “Tidak, aku tak takut mati. Hanya yang kusesalkan ialah tindakanku yang sembrono hingga merembet dirimu…..”
“Mati atau hidup masih belum ketahuan. Perlu apa kau sudah putus asa?”
Sentilan si nona membuat Thian-leng malu hati. Segera ia menjamah pedangnya dan dengan ilmu menyusup suara ia berkata tegas, “Akan kuserang tua bangka itu, adik Bun…..”
“Jangan gegabah. Melawan si tua itu berarti seperti ana-anai melanda api, telur membentur tanduk. Kalau kita bertindak begitu, tentu mereka segera menjalankan hukuman Toa-gi-pat-kui itu!” cegah Siau-bun.
Pada saat kedua anak muda itu bercakap-cakap, Kongsun Bu-wi sudah perintahkan pengawalnya mengambil sebuah tiang kayu yang besar, tali dan beberapa batang golok tajam. Alat-alat itu dibawa ke tengah, sedang Bok Sam-pi tetap menunggu di ranjang kayu. Dengan tenang ia menunggu dilaksanakannya hukuman Toa-gi-pat-kui.
Sebenarnya Siau-bun pun berdebar-debar hatinya. Namun dara itu sudah biasa menghadapi ancaman bahaya. Maka sikapnyapun tenang-tenang saja. Tidak demikian halnya dengan Thian-leng yang sudah gelisah tak keruan. Sedang terhadap cucunya sendiri saja Bok Sam-pi begitu kejam, apalagi terhadap orang luar!
“Jalankan dulu hukuman Toa-gi-pat-kui pada kedua mata-mata itu, baru kemudian menghukum budak ini,” seru Bok Sam-pi. Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera menyuruh orang mengikat Thian-leng dan Siau-bun pada tiang.
Empat pengawal maju menghampiri Thian-leng. Thian-leng menyiapkan pedangnya hendak menempur. Tiba-tiba Siau-bun tertawa dingin, “Tunggu!”
“Eh, apakah kau hendak meninggalkan pesan?” tanya Kongsun Bu-wi.
“Tidak……. aku tak butuh memesan apa-apa,” nona itu tertawa.
“Aneh, mengapa kau masih berani tertawa?” tegur Bong Sam-pi.
Siau-bun makin perkeras tawanya, “Karena aku tak dapat mati. Tiada seorangpun di ruang ini yang mampu membunuhku!”
Wajah Bok Sam-pi berobah seketika dan bangkitlah ia serentak.
“Di antara kalian siapakah yang paling sakti?” tegur Siau-bun dengan senyum tak acuh.
“Aku!” Bok Sam-pi menggerung.
Siau-bun mendengus hina, “Apakah kau berani bertanding melawan aku?”
Bok Sam-pi tertawa gusar. Tiba-tiba ia melesat maju ke arah si nona……
Bersambung ke jilid 8
This entry was posted
on Selasa, Juli 20, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Panji Tengkorak Darah
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar