Panji Tengkorak Darah Jilid 11  

Diposting oleh jagatcerita

PANJI TENGKORAK DARAH
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net

Jilid 11. Pedang Bebas

Thian-leng yang pingsan karena terluka dalam itu setelah berselang beberapa lama, barulah dapat sadar. Samar-samar ia masih ingat akan peristiwa yang dialaminya tadi. Pada saat tenaga dalamnya hampir habis, tiba-tiba terdengar genderang dipukul dan tank ingatlah ia lagi apa yang terjadi selanjutnya .......

Tubuhnya terasa panas ketika sinar matahari menumpah kemukannya. Ia paksakan membuka mata tetapi pandangannya masih sayup. Tenaganya seperti lenyap. Sekonyong-konyong ia loncat hendak bangun, ah ...... kepalanya terasa berat sekali dan iapun terpaksa harus telentang di pembaringan lagi. Tulang-tulangnya sakit sekali, laju nadinya lumpuh. Tak tahu ia saat itu berada dimana.

Ia paksakan diri merentangkan mata lebar-lebar. Walaupun keadaan sekelilingnya masih gelap, tetapi lama-kelamaan dapat juga ia melihat agak terangng.

Didapati dirinya berada di sebuah gubug yang serba sederhana alat perabotnya tetapi cukup bersih. Ia sedang terlentang diatas sebuah ranjang kayu. Sinar matahari pagi tumpah ruah menyinari matanya, ah, itulah sebabnya ia merasa panas seperti terbakar.

Gubuk ini tertutup rapat. Tiada seorangpun berada disitu, „heran, siapakah yang menolongku ?“ demikian pertanyaan yang meliputi pikirannya.

Tiba-tiba ia terkejut sekali. Matanya tertumbuk pada sebuah genderang kecil yang tergantung disudut dinding. Pikirannya segera melayang-layang.

„apakah pemilik gubug ini, benar-benar dia .......,“

Saat ia berpikir samapai disitu, tiba-tiba pintu dibuka orang. Samar-samar Thian-leng melihat sorang dara berbaju merah menerobos masuk. Usianya barubelasan tahun, rambut dikuncir, kulit mukanya berwarna merah segar. Dalam pakaian warna merah dara itu tampak menyala sekali.

„Kau sudah bangun?“ dara itu terkejut begitu melihat Thian-leng tersadar.

„Adik kecil, dimakah aku ini, aku ......“
„Jangan banyak bicara dulu, minumlah obat kata si dara itu seraya menghampiri. Ternyata ia membawa sebutir pil putih dan disusupkan kemulut Thian-leng.

Dara itu lincah dan ramah. Thian-leng menerima saja pil terus ditelannya.

„Eh, kau minum oil tanpa air?“ dari iru tertawa bertepuk tangan.

„Jam berapa kah ini?“ tanya Thian-leng.
„Hampir tengah hari!“
:Sudah berapa lama aku tidur disini ....?“ tanya Thian-leng sambil menggeliat bangun.

„Berapa lama....kau sudah hampir sebulan lebih disini. Dan baru sekarang kau dapat membuka mata.
„Sebulan leih?“ teriak Thian-leng.....jangan bergurau!“ ia merasa pertempurannya lawan Bo Sam-pi baru kemarin malam.

„Sungguh, „kata dara itu dengan nada bersungguh-sungguh. „Sekarang sudah akhir bulan 11, sebulan lagi bakal tahun baru.....“ Tiba-tiba wajah dara itu berseri girang, srunya „Tahun baru yang lalu, hanya aku dan ayah yang merayakan. Tetapi sekarang kita bisa merayakan dengan ramai. Selain kau, pun kedua CI Ki juga ......“

„Maaf, aku tak dapat lewatkan tahun baru disini, Aku masih punya banyak urusan dan harus lekas pergi, „ tukas Thian-leng.

„mana bisa“ dara itu tertawa, „lukamu masih belum sembuh. Lewat tahun baru baru kau sembuh sama sekali.

Kembali Thian-leng terbeliak kaget. Ia menghela napas, „Apakah ayahmu yang menolong aku?“

„Aku sendiri!“
„Kau?“ Thian-leng menatap dara itu tajam-tajam lalu melirik pada alat genderang, „Genderang itu kepunyaanmu?“

Ya, peninggalan dari nenekku.....eh, tahukah kau siapa nenekku?“

Thian-leng menggeleng kepala.
„Dulu semasa hidupnya, nenek mempunyai nama yang termasyur sekali, digelari sebagai Sin-Ko-Sian poh ......“ dara itu memandang sejenak wajah Thian-leng. Rupanya ia yakin Thian-leng tentu akan mengunjuk kekaguman tetapi diluar dugaan Thian-leng gelengkan kepala. Ia tak kenal Sin-ko-Sian-poh (Dewi Genderang Sakti) itu.

Ibuku juga sudah meninggal,“ kata dara itu dengan rawan, „Aku hanya hidup bersama kakek, kakek membawaku ke Tiong-goan.!“

„O, kau bukan Han?“
„Bukan, tetapi kakek bangsa Han..... aku berasal dari daerah jauh, dipadang sahara yang tak dihuni orang. Dari sana kemari memerlukan perjalanan 3 hari 3 malam.

Mendengar cerita itu, diam-diam timbullah rasa kasian Thian-leng pada si dara. Neneknya mati kemudian ibunya. Dia kini hidup sebatang kara ikut pada kakeknya, Ah, nyata didunia ini banyak sekali manusia-manusia yang menderita.

„Ayahmu?“ Tanyanya
„Dia sedang keluar mengurus suatu hal, mungkin juga segera pulang,“ dara itu menyahut. „Eh siapakah namamu? Bagaimana seharusnya kau kupanggil.

Thian-leng kerutkan alis, „Aku tak punya nama panggil saja Bu-beng-jin....“
„Lh, mengapa orang tak punya nama, bohong!“ dara itu melengking.

Thian-leng menghela napas, tidak aku tak bohong. Memang dulu aku punya nama, tetapi nama itu palsu.....“ah, jika kututurkan hal itu kaupun tentu tak mengerti juga ....“

„lh, mengapa nama ada yang palsu? Siapkah namamu palsu itu? Si dara makin heran.

„namaku yang palsu itu Kang Thian-leng“
„Kang Thian-leng? Ah, merdu juga kedengarannya......“ tiba-tiba dara itu berseru gembira, „begini saja, kuanggap kau sebagai kakak angkatku. Kau pakai saja she keluargaku, mau?“

„Tentu saja aku suka mendapat seorang adik seperti kau, baiklah. Tapi siapakah namamu?“
„Kau setuju?“ dara itu melonjak-lonjak girang seperti anak kecil mendapat permen,“ keluargaku orang she Pok. Namuku Pok Lian-Ci, tetapi ayah selalu memanggilku Ang-ko (Si merah). Kau pun boleh panggil Ang-ko saja!“

Baru Thian-leng hendak membuka mulut tiba-tiba seorang sasterawan melangkah masuk.

„Kau sudah pulang, yah!“ teriak ang-ko serya menubruk dada sasterawan setengah umur itu, „Dia sudah sadar dan kuangkat sebagai engkoh. Kau tentu suka, bukan?“

Satrawan setengah umur itu tertawa. Dibelainya rambut dara itu dengan penuh kasih. „Sudahlah jangan ribut-ribut.....“

Mata sastrawan itu tertuju kepada Thian-leng yang gagal bangun. Terpaksa ia rebah lagi.
„Pok Cianpwe, maaf aku tak dapat bangun menghaturkan hormat .....“ serunya
Sastrawan itu melangkah kemuka pembaringan dan memberi isyarat tangan „Tak apa, tidurlah saja!“ kini barulah Thian-leng dapat memandang jelas wajah sastrawan itu. Seorang lelaki cakap dan berwibawa. Hidung mancung, mulut lebar, mata bundar diselubungi sepasang alis tebal. Hanya sayang pada gumpalan alisnya terdapat lekik warna gelap dan kerut-kerut tanda ketuaan. Seri wajahnya sunyi dan rawan.
Thian-leng menghaturkan terima kasih atas pertolongan si dara.

„Aku paling tak suka dengan peradatan-peradatan kesungkanan ....“ sahut sastrawan itu. Ditatapnya wajah Thian-leng, tegurnya „Siapakah namamu?“
„Dia bernama Kang Thian-leng, tetapi katanya namanya palsu dan tak dipakai lagi. Karena sudah jadi engkoh angkat, diapun pakai she Pok keluarga kita“ sidara menyelutuk.

„Jangan ribut saja, nak ...“ayahnya mendamprat halus. Ia minta maaf kepada Thian-leng atas keliaran Ang-ko.
„Tetapi wanpwe sendiri menerima dengan senang
„Ah, kau tentu terpaksa karena sungkan,“ tukas sastrawan itu.
„Tidak, memang wanpwe sendiri senang dengan stulusnya. Kalau Pok Cianpwe mengatakan begitu berarti cianpwe tak mau menerima diri wanpwe!“

Sastrawan itu terpaksa mengalah. Kemudian menanyakan diri anak muda itu. Thian-leng menuturkan riwayat dirinya dengan terus terang.

„Dulu aku sedih karena tak punya she, tetapi kini aku girang sekali memakai she Pok, Pok Thian-leng!“ kata Thian-leng.
Sastrawan setengah tua itu menghela napas dalam-dalam „Nak, tahukah kau siapa aku .......?“

„Aku pendekar pedang bebas Pek Thiat-bing“! tanpa menunggu jawaban Thian-leng, sastrawan itu memberi keterangan sendiri. „O ........., „Thian-leng mendesah, „seharusnya aku dapat menduga .......“ ia tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sanubarinya sesak dengan rasa kaget dan girang.

Ia teringat akan pesan Toan-Jong-jin Cu-Giok-bun untuk mencari pendekar pedang itu. Kini bukan saja telah bertemu, pun bahkan dipungut sebagai anak angkat. Dengan begitu Toan-Jong-Jinpun menjadi ibu angkatnya. Tak tahu bagaimna perasaan hatinya kala itu.

Menurut keterangan Nyo Sam Koan, sepasang suami isteri Pok Thiat-bing dan Toan-Jong-Jin itu retak hubungannya akibat salah paham. Dan hal itu akibat rencana busuk yang dilakukan M Hong-Ing.

Kini jelaslah sudah bahwa setelah meninggalkan Toan-jong-jin, Pok Thiat-bing mengembara keluar perbatasan (daerah Tibet), bertemu Sin-ko-Sian-lo (Dewi Tambur, nenek si dara Ang-ko), menikah dengan anak perempuannya dan mendapat seorang puteri yakni si Ang-ko, setelah Sin-Ko Sian-lo dan ibu si Ang-ko meninggal dunia maka Pok Thiat-bing pun lalu membawa anaknya kembali ke Tiong-goan pula.

Timbul pertanyaan dalam hati Thian-leng. Apakah Pok Thiat-bing mengetahui tentang drama salah paham antara ia dengan Toan-Jong-jin? Dan kembalinya jago pedang itu ke Tiong-goan apakah karena teringat akan Toan-jong-jin atau hendak menundukan dunia persilatan Tiong-goan lagi?.

Sejenak Thian-leng memandang Ang-ko. Wajah dara yang sedemikian kekanak-kanakan itu tak mungkin mengetahui sekian banyak rahasia dalam diri ayahnya. Pesan dari Toan-jong-jin yang sedianya hendak dikatakan kepada Pok Thiat bing, entah bagaimana, Thian-leng ragu-ragu mengatakan.

„Gihu (ayah angkat), aku hendak bertanya sedikit hal!“ akhirnya Thian-leng membuka mulut.
„Silakan!“
„pernahkah gihu mengunjungi puncak Giok-lo-hong di gunung Heng-san?“
Mendengar itu Ang-ko tercengang. Tak tahu ia apa maksud pertanyaan engkoh angkatnya itu.
Pun Pok Thiat-bing terkesiap lalu menyahut dengan tersekat-sekat : „Giok .... lo ..... hong ...........“
„Aneh sekali pertanyaanmu nak!“ serunya pula. Dengan wajah dan nada bersungguh-sungguh Thian-leng menyusuli pertanyaan pula : „Apakah dahulu gihu pernah berjanji dengan seorang shabat untuk pesiar ke puncak Gio-lo-hong?“ habis berkata Thian-leng diam-diam melirik kepada Ang-ko.

Seketika berubah wajah Pok Thiat-bing. Segera ia mengerti maksud Thian-leng. Merenung sejenak dan berpaling kepada Ang-ko yang terbengong-bengong : „coba tengoklah kedua kedua taji beradik, apakah nasi sudah masak?“

„Ja, ya, kalian hendak bicara rahasia yang tak boleh kudengarkan ......“ Ang-ko cibirkan bibir. Dara yang masih kekanak-kanakan itu tiba-tiba bertepuk tangan dan tertawa : „Ai, benar. Aku memang hendak memberitahukan kedua cici itu!“

Setelah puterinya pergi, Pok Thiat-bing segera minta Thian-leng bicara.
„sudah berapa kali aku bertemu dengan Gibo (Ibu angkat) ....“
„Maksudmu Giok-bun, apakah dia tak kurang suatu apa?“ belum Thian-leng menyelesaikan kata-katanya, Pok Thiat-leng sudah menukasnya.
„Beliau baik-baik saja,“ buru-buru Thian-leng menyahut, hanya saja beliau setiap saat selalu mengenangkan gihu. Karena kejadian yang lalu itu ternyata hanya suatu kesalah-pahaman....“
„Bagaimana kau tahu?“ Pok Thiat-bing kerutkan dahi.

„Aku pernah bertemu dengan Nyo Sam-koan didalam penjara Sin-bu-kiong. Dialah yang menceritakan hal ini, „jawab Thian-leng.

Pok Thiat-bing diam. Hatinya bergolak-golak.
„Gi-bo suruh aku, mencari berita dimana gihu berada.“ Kata Thian-leng pula : „apabila bertemu supaya menemuinya dipuncak Giok-lo-hong.....“Thian-leng berhenti sejenak, katanya pula „Gibo tak mau mengatakan dirinya terus terang dan menyamar sebagai seorang nenek berambut putih yang bernama Toan-jong-jin. Tetapi dari pesan itu dapatlah kuketahui bahwa beliau memang sungguh-sungguh terkenang pada gihu!“

Pok thiat-bing tundukkan kepala karena ia malu diketahui bahwa dua butir air mata telah mengucur dari pelupuknya.

„Apakah ia benar melupakan peristiwa yang lampau?“ katanya dengan suara sekat.
„Apakah gihu masih menyangsikan hati gi-bo?“
Pok Thiat-bing menghela napas. Tidak, aku tak menyangsikannya. Pada waktu itu aku ..... telah berbuat kesalahan. Pada wktu itu seharusnya aku menyelidiki dulu dan selama 17 tahun itu seharusnya aku mencarinya ...... dan, dan .... akupun telah menikah lagi ....“

Setelah berhenti sampai sekian lama barulah jago pedang itu berkata pula : „karena itu maka aku tak berani bertemu muka dengannya!“
„Aku berani memastikan bahwa tak sedikitpun gi-bo pernah melupakan Gi-hu. Sudah tentu beliau tak marah pada gihu. Tahukah gihu bahwa beliau tinggal .....“Tiba-tiba Thian-leng tak melanjutkan kata-katanya. Karena ia merasa salah omong. Dia sendiri tak tahu dimana tempat tinggal Toan-jong-jin dan Cu Siau-bun. Teringat nona itu, hatinya terasa tersayat. Dan pikirannya segera melayang ke peristiwa yang dialami baru-baru ini. Ketika ia pingsan dalam adu tenaga dalam dengan Bok Sam=pi, ia ingat si jenggot perak masih tantang-tangan dengan ketua Hek Gak. Siau-bun dan kedua suami istri Im Yang Song-sat bersembunyi disekitar tempat itu. Tetapi ia sadar, orang-orang itu sudah lenyap.

„Setelah kuajak Ang-ko kembali ke Tiong-goan, aku menetap di gunung Thay-heng-san. „Meskipun mendengar juga sedikit tentang diri gibomu tetapi belum mendapat bukti-bukti yang jelas. Karena itulah aku tak menemuinya!“

„Apakah disini masih termasuk lingkungan Thay heng-san?“

Pok Thiat-bing mengangguk :“Gunung Thay heng-san luasnya sampai beratus-ratus li. Tempat ini termasuk daerah pinggirannya!“

„Apakah gihu tak pernah berjumpa dengan ketua Thiat-hiat-bun si jenggot perak itu?“ tanya Thian-leng.

„Aku tak tahu bagaimana pandangannya terhadap diriku. Tetapi karena aku menikah dengan gi-ho mu hanya setahun lalu berpisah, mungkin dia tak dapat memaafkan aku .....“

„Asal dapat bertemu dengan orang tua itu, tentu dapat menanyakan tempat tinggalnya gi-bo. Dan jika gi-hu dapat bersatu lagi dengan gibo, jenggot perak tentu girang dan takan membencimu!“ kata Thian-leng.

Pok Thiat-bing mondar-mondir dalam ruangan sambil menggendong tangan.

„Ah, temponya terlalu lama delapan bulan siapa tahu ......,“ tiba-tiba Thian-leng membuka mulut lagi tetapi secepat itu pula ia berhenti. Rupanya ia merasa kelepasan omong.

„Selain itu, masih ada satu daya .....“Tiba-tiba Pok Thiat-beng berkata sambil tertawa rawan.

„Bagaimana?“ tanya Thian-leng.

Pok Thiat beng menghela napas, „Turut apa yang kuketahui, gibo mu telah pergi ke gunung Tiam jong san .....“
Diam-diam Thian-leng mengakui ketepatan kata-kata ayah angkatnya.
„Jika aku ke Tiam-jong-san, mungkin tentu dapat menjumpai gi-bomu. Akan kujelaskan salah paham yang dahulu dan melepaskan rinduku kepada puteri Siau-bun. Tetapi .....“

Mendengar itu hati Thian-leng gelisah sekali. Ternyata Pok Thiat beng sudah mengetahui tentang kejadian diluar. Dan menyebut-nyebut juga diri Cu Siau-bun. Apakah jago pedang itu mengetahu juga tentang hubungannya dengan Siau-bun?’

„Kalau begitu silakan gihu segera menuju Tiam-jong-san saja,“ Thian-leng tak menghiraukan dirinya. Pokoknya asal kedua suami isteri itu dapat bersatu padu lagi.

Pok Thiat beng menghela napas, tetapi aku masih meresahkan tentang Ang-ko.... selama ini dia tak kuberitahukan hal itu bahkan memandang mamanyapun tidak tahu. Mungkin perasaan anak itu tersinggung ......“
Ang-ko cerdas dan lapang hati. Biarlah aku memberitahukan hal itu, rasanya dia tentu ......,“ belum Thian-leng selesai berkata Pok Hiat-beng sudah menukas : „baik, aku akan ke Tiam-jong-san, tetapi ..... ah, nanti saja bila lukamu sudah sembuh. Sesudah tahun baru aku berangkat!“

„Tak usah Gi-hu tunggu aku, silakan berangkat sendiri ,........“
„Keputusan sudah tetap, jangan banyak bicara!“ sahut Pok Thiat beng, „Kau menderita luka dalam yang hebat, masih memerlukan perawatan yang teratur..... mereka datang!“ tiba-tiba Pok Thiat beng berseru.

Ayah, nasi sudah masak .... hari ini engkoh boleh makan nasi!“ masih diluar kamar si dara Ang-ko sudah berteriak. Dan sesaat kemudian muncullah ia bersama 2 orang nona yang membawa hidangan.

Kejut Thian-leng bukan kepalang. Kedua nona itu bukan lain ialah Ki Gwat-wan dan Ki lang-wan. Dan kedua Nona itupun girang karena Thian-Sing sudah sadar. Mereka mencuri lirik sejenak lalu menunduk tersipu-sipu.

Thian-leng yang menegur dulu, menanyakan keadaan mereka selama ini dan luka Ki Siang-wan.

Ki-Siang-wan tak mau menjawab ia mengunjuk sikap dingin. Ki Gwat-wan yang menuturkan bahwa mereka ditolong dan disembuhkan jenggot perak tetapi ditinggalkan begitu saja sehingga diketemukan dan dibawa pulang Pok Thiat-beng.

„untunglah Pok tayhiap memungut kami sebagai anak angkat sehingga kini kami mempunyai tempat berteduh yang tetap. Oleh karena usia kami lebih tua baiklah kau panggil taci kepada kami!“ kata Ki Gwat-wan lebih lanjut.

„Baiklah,“Thian-leng tertawa meringis, nanti setelah lukaku sembuh tentu akan kuberi hormat kepada taci berdua!“ Dia percaya keterangan nona itu tentu tak bohong.

“Dulu aku seorang diri, sekarang aku mempunyai seorang engkoh dan dua orang taci….” Ang-ko berseru dengan melonjak-lonjak kegirangan. Ia mendekap dada ayahnya, “Yah, kaupun harus bergembira!”

Sekalipun berseri girang, namun lekuk alis jago pedang itu mengerut kedukaan yang dalam.

“Setelah berpisah, apakah kau masih ingat kepada kami berdua?” tiba-tiba Ki Gwat-wan bertanya.

“Aku....uh, siaote (adik).....” Thian-leng berkata tersekat-sekat.

“Hai, mengapa kau tersendat-sendat? Lekas bilang, kau pernah teringat kedua taci ini atau tidak?” tiba-tiba Ang-ko membentak.

Thian-leng sebenarnya sukar untuk mengutarakan hal itu. Terus terang sejak berpisah, ia tak ingat lagi kepada kedua nona Ki itu.

“Sejak berpisah, aku selalu menghadapi bahaya maut, sehingga tak pernah mengingat mereka lagi…..” akhirnya Thian-leng terpaksa menerangkan.

Ki Gwat-wan tertawa dingin, “Sekalipun tidak menghadapi bahaya maut, masakah kau mau mengingat kita berdua……. karena kami berdua ialah anak angkat dari Song-bun-Kui-mo Ki Pek-lam!”

“Ah, janganlah terlalu menyiksa diriku……..”

Gwat-wan tak menghiraukan anak muda itu. Tiba-tiba ia berlutut di hadapan Pok Thiat-beng. Sudah tentu Pok Thiat-beng tersipu-sipu mengangkatnya bangun, “Kalau ada persoalan, katakanlah…..”

Dengan masih berlutut Ki Gwat-wan menyurut mundur selangkah, serunya, “Ada sebuah hal tak penting yang anak hendak mohon gi-hu memberi keputusan!”

“Katakanlah!”

Ki Seng-wan yang sedang mengemasi piring mangkok, kaget tak terkira, “Cici……….”

“Mengapa? Apakah tak boleh kukatakan?” balas Ki Gwat-wan.

Ki Seng-wan tersipu-sipu malu, ujarnya rawan, “Perlu apa mengungkit hal yang sudah lampau?”

“Apa? Hal yang sudah lampau? Tetapi hal itu menyangkut nasibmu. Sekalipun kau sanggup menderita, tetapi aku sebagai taci tak dapat melihat kau tersiksa!”

Ki Seng-wan jengah dan menundukkan kepala.

“Eh, apa saja? Bilanglah, nanti dapat kuputuskan!” desak Pok Thiat-beng.

“Tentang diri adik Seng-wan itu. Pada suatu hari ketika lewat di lembah Hong-lim-koh, kami melihat sesosok....... ” ia berhenti sejenak, melirik ke arah Thian-leng, katanya pula, “ dikata mayat, tapi sebenarnya masih hidup. Hanya orang itu sudah sehari semalam menggeletak di muka lembah. Kaki tangannya kaku, napasnya hampir habis. Paling banyak dia hanya dapat hidup sejam dua jam lagi.....”

Thian-leng terbeliak. Teringat ia akan peristiwa dahulu itu.

“Orang itu ternyata menderita pukulan dahsyat dari Cong-hou-hwat Sin-bu-kiong yang brnama Ni Jin-hiong. Organ dalamnya goncang, darah bergolak, napas hampir putus. Benar keadaannya menyedihkan sekali!” kata Ki Gwat-wan pula. Tiba-tiba ia menuding pada Thian-leng, “Orang itu adalah dia!”

“Jadi …… kalian berdua yang menolong aku?” Thian-leng tersekat-sekat. Memang pada saat itu ketika tersadar ia mendapatkan dirinya berada dalam biara rusak. Karena tubuhnya tertutuk, ia tak tahu kalau dihantam Ni Jin-hiong.

“Aku sih tak punya hati sebaik itu. Jika menurut kehendakku mungkin saat ini kau sudah menjadi tumpukan tulang..... ” Gwat-wan tertawa dingin.

“Lalu siapakah yang menolongku?” Thian-leng heran.

“Adikku..... ” sahut Gwat-wan dengan nada berat, “dengan ilmu Hian-im-kiu-coan adikku telah mengorbankan kesuciannya hingga dapat menolong jiwamu!”

Thian-leng mendengus. Wajahnya pucat, serentak ia hampir pingsan.

“Hian-im-kiu-coan……?” Pok Thiat-beng mengerutkan kening.

“Apakah gi-hu tahu cara pertolongan dengan ilmu Hian-im-kiu-coan itu?” tanya Ki Gwat-wan.

Pok Thiat-beng mengangguk, “Sudah tentu…..aku tahu!”

“Adik Seng-wan telah menolong jiwanya, untuk itu ia tak berkeberatan menyerahkan kehormatannya. Bagaimanakah baiknya, harap gi-hu suka memberikan pertimbangan,” kata Gwat-wan pula.

Ki Seng-wan meringkuk di ujung dinding. Wajahnya merah sekali. Sedang Ang-ko melongo, sebentar memandang ke sana, sebentar melihat ke sini. Ia tak tahu apa itu Hian-im-kiu-coan.

Thian-leng seperti dipalu kepalanya. Matanya berkunang-kunang, dadanya serasa sesak, napas sukar dihembus. Benar-benar ia tak percaya apa yang diceritakan nona itu. Lu Bu-song dan Cu Siau-bun, sudah membuatnya pusing. Sekarang tampil lagi seorang Ki Seng-wan, amboi……

Ki Seng-wan masih tetap berlutut dan Pok Thiat-beng terdiam. Ruangan hening lelap.

“Gwat-wan …. bangunlah!” beberapa saat kemudian Pok Thiat-beng berseru.

“Sebelum gi-hu memberi keputusan, aku takkan bangkit,” sahut Gwan-wan.

Pok Thiat-beng mengerang, “Ah..kau…menyiksa aku……..” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena pikirannya benar-benar limbung.
“Cici, hidangan sudah dingin, engkoh akan kuberi makan!” tiba-tiba Ang-ko melengking.
“Tak usah, mungkin dia tak bernapsu makan malam ini. Mari kita ke ruang belakang!” sahut Ki Gwat-wan. Ia terus ajak dara itu menuju keluar.
Tak berapa lama, ruangan itu menjadi sunyi.

*********

Waktu berjalan laksana anak panah terlepas dari busur. Cepat sekali tahun barupun sudah tiba.

Sejak partai Thiat-hiat-bun, Sin-bu-kiong dan Hek gak berhadapan di gunung Thay-heng-san tanpa hasil apa-apa, dunia persilatan aman tenang.
Pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh misterius yang selalu meninggalkan tanda panji tengkorak darah pun sudah dua bulan lebih tak mengganas lagi.

Tetapi benarkah begitu? Tidak, tidak! Ketenangan itu hanyalah suatu persiapan dari banjir darah yang akan melanda dunia persilatan!

Sebenarnya kaum persilatan sedang membayang-bayangkan suatu malapetaka besar. Cemas mereka membayangkan, sekali peristiwa itu meletus, maka dunia persilatan akan dilanda oleh gempa hebat yang mungkin akan merobah wajah dunia persilatan seluruhnya.

Ah, benarlah. Bayang-bayang itu akhirnya menjadi kenyataan……

Rencana dari ke sembilan partai persilatan, untuk menantang Hun-tiong Sin-mo bertempur di puncak gunung Bu-san telah dibatalkan. Tetapi sebagai gantinya, mereka telah menerima undangan dari ketua partai Thiat-hiat-bun untuk menghadiri rapat-besar kaum gagah di gunung Tiam-jong-san. Undangan itu tersebar luas. Bukan hanya terbatas pada ke sembilan partai persialtan saja, bahkan kelompok perguruan yang ternama dan berpengaruh di setiap daerah sama mendapat undangan.

Rapat pertemuan orang gagah itu akan diselenggarakan di markas partai Tiam-jong-pay pada bulan satu tanggal lima belas. Disebut perjamuan, tetapi tak ada acara hidangannya. Baru pertama kali itu dalam sejarah dunia persilatan menerima undangan yang seaneh itu. Dan perhatian kaum persilatan segera tertumpah pada markas Hun-tiong-hu!

Apakah tokoh Hun-tiong Sin-mo yang menjagoi dunia persilatan selama enam puluh tahun itu juga menerima undangan? Dan kalau menerima apakah dia akan menghadiri?

Pecah berita yang menambah keseraman suasana. Yakni ada orang yang menyaksikan sendiri pihak Hun-tiong-hu telah menyebar anak buahnya berbondong-bondong menuju ke gunung Tiam-jong-san. Rombongan anak buah Hun-tiong-hu itu mengenakan pakaian aneh dari berbagai corak.

Inilah yang menimbulkan berbagai tafsiran. Kalau Hun-tiong Sin-mo benar-benar mau menghadiri pertemuan di Tiam-jong-san itu, mengapa tak datang saja dengan terang-terangan, tetapi mengirim anak buahnya secara rahasia….

Berita yang lebih mengejutkan lagi telah tersiar, bahwa rombongan Hun-tiong-hu itu telah disambut dengan penuh penghormatan oleh pihak Tiam-jong-pay.

Memang telah diduga semula bahwa antara Hun-tiong-hu, Thiat-hiat-bun dan Tiam-jong-pay mempunyai hubungan yang erat.

Dunia persilatan hiruk-pikuk dalam topan desas-desus. Tetapi anehnya ke sembilan partai persilatan tampaknya tenang-tenang saja dan tak mengadakan reaksi apapun.

Setelah Hun-tiong-hu, sasaran kedua yang diperhatikan kaum persilatan ialah Sin-bu-kiong.
Peristiwa Sin-bu Te-kun dihajar oleh Bu-beng-jin di gunung Thay-heng-san telah menjadi buah pembicaraan luas di kalangan persilatan. Bahwa Bu-beng-jin telah menerima ilmu pelajaran dalam kitab peninggalan It Bi siangjin pun telah diketahui oleh kaum persilatan.

Dengan adanya peristiwa itu, kaum persilatan menganggap bahwa undangan Thiat-hiat-bun untuk mengadakan pertemuan orang gagah di gunung Tiam-jong-san itu, bagi Sin-bu-kiong benar-benar suatu tamparan yang hebat!

Apakah Sin-bu-kiong akan menghadiri rapat itu? Ah, kali ini Sin-bu-kiong benar-benar dihadapkan pada persoalan yang pahit. Kalau tak hadir, tentu dianggap menyerah kalah. Namun kalau hadir, tentu akan menghadapi bahaya kekalahan yang fatal.
Pihak pengundang ialah Thiat-hiat-bun, sebuah partai persilatan yang kuat dan berpengaruh. Apa lagi dibantu oleh Hun-tiong Sin-mo, ah, benar-benar ngeri.

Seluruh perhatian dunia persilatan tercurah pada pertemuan besar di Tiam-jong-san.
Walaupun lambat, tetapi akhirnya haripun merayap terus. Akhirnya………….

Bulan satu tanggal lima belas telah tiba.

Hari itu adalah malam widadari ( malam sehari sebelumnya ) dari rapat besar orang gagah di gunung Tiam-jong-san….

Heboh!

Tanggal satu bulan satu.
Gunung Tiam-jong-san ramai sekali. Orang datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru. Kesibukan tampak nyata. Mulai dari markas besar Tiam-jong-pay yang terletak di muka puncak Lok-he-hong sampai turun ke kaki gunung, telah dihias dengan lampu warna-warni yang gilang-gemilang.

Di muka markas Tiam-jong-pay, juga didirikan bangsal penginapan untuk para tetamu. Tiam-jong-san saat itu benar-benar tenggelam dalam lautan kesibukan yang luar biasa.

Perjamuan atau pertemuan orang gagah yang diselenggarakan saat itu, bukan saja merupakan lembaran baru dari sejarah partai Tiam-jong-pay, tapi juga merupakan peristiwa besar yang terjadi di dunia persilatan!

Para tokoh-tokoh gagah dari empat penjuru gunung dan delapan pelosok daerah di seluruh negeri, sama datang hadir.

Anak buah Tiam-jong-pay bekerja keras dan teratur, sehingga banjir tamu itu dapat diatur rapi.

Yang datang termasuk ke sembilan partai persilatan, kelompok-kelompok perguruan dari tiap-tiap daerah, pemimpin-pemimpin piau-kiok (pengantar barang), jago-jago ternama sampai pada pendekar-pendekar yang tak begitu terkenal. Mereka terdiri dari segala lapisan. Kaum paderi, biarawati (nikoh), imam, pengemis, lelaki, perempuan, tua dan muda.

Telah dituturkan bahwa sekalipun tempat pertemuan diadakan di gunung Tiam-jong-san, tetapi yang menjadi tuan rumah ialah partai Thiat-hiat-bun yang dipimpin oleh Jenggot perak Lu Liang-ong. Ketua Tiam-jong-pay, yakni Poh-ih siu-su Li Cu-liong hanya merupakan salah seorang anak buah dari Jenggot perak.

Banyak tafsiran dan dugaan telah dilontarkan. Tetapi sedikit orang yang tahu bagaimana sesungguhnya hubungan antara ketua Thiat-hiat-bun dengan ketua Tiam-jong-pay itu. Mengapa Li Cu-liong begitu menghormat sekali terhadap Jenggot perak Lu Liang-ong….
Yang tahu akan rahasia mereka hanyalah sedikit sekali, bahwa Li Cu-liong itu sebenarnya adalah anak angkat dari Lu Liang-ong.

Partai Thiat-hiat-bun ternyata mengerahkan seluruh anak buahnya. Selain ke empat Su-kiat, ke tiga puluh enam Thian-kong dan ke tujuh puluh dua Te-sat, masih ada juga ratusan jago-jagonya yang berada di Tiam-jong-san. Mereka ikut dalam mendirikan perkemahan, menjaga keamanan dan menyambut tamu.

Sekilas pandang, pertemuan itu merupakan suatu perjamuan besar. Suatu pesta ria antara kaum persilatan. Tetapi sebenarnya pertemuan itu membawa arti yang besar. Merupakan suatu pertemuan yang memastikan. Barangsiapa yang berhasil merajai pertemuan itu, dialah yang akan dinobatkan sebagai yang dipertuan dalam dunia persilatan!

Untuk menjaga keamanan , selain petugas-petugas yang mengadakan perondaan, dibentuk pula sebuah regu rahasia. Regu ini mengenakan pakaian serba putih, rambut terurai dan serba menyeramkan.
Gerak-gerik merekapun serba misterius. Sebentar tampak, sebentar lenyap. Mereka tak ditempatkan di suatu tempat tertentu dan tak diketahui jumlahnya. Tetapi setiap orang merasa bahwa setiap sudut dari daerah Tiam-jong-san, selalu terdapat bayangan mereka.

Siapakah regu rahasia itu?

Bagi setiap orang persilatan yang hadir dalam pertemuan itu segera mencium bau. Regu rahasia itu bukan lain adalah jago-jago dari Hun-tiong-hu yang berilmu tinggi.
Apakah Hun-tiong Sin-mo juga hadir?
Adanya regu rahasia dari Hun-tiong-hu itu menyebabkan setiap tamu tak berani sembarangan bergerak kemana-mana. Mereka takut menghadapi hal-hal yang tak diinginkan.

Perhatian para tamu beraalih pada lain sasarn.
Mengapa sampai detik itu pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak tak tampak muncul?
Soal Sin-bu Te-kun dan Hek Gak telah menjadi bahan pembicaraan para tamu.

Hjek Gak muncul kembali setelah memendam diri selama enam puluh - tujuh puluh tahun.
Kembalinya Hek Gak di dunia persilatan itu tentu dengan tujuan besar, dan tujuan besar itu jelas ditunjukkan pada hiasan pagar tembok markasnya.
Di sekeliling pagar tembok markas Hek Gak, penuh digantung patung-patung tokoh persilatan yang ternama. Tokoh-tokoh itulah yang hendak dilenyapkan. Dan sekali muncul, ketua Hek Gak tentu sudah mempersenjatai diri dengan ilmu kepandaian yang sakti.
Antara lain misalnya, cukup dengan mengandalkan tenaga dari Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi yang menjabat sebagai Cong-hou-hwat Hek Gak saja, cukuplah sudah menundukkan jago-jago persilatan yang manapun juga. Munculnya Hek Gak benar-benar merupakan ancaman besar di dunia persilatan.!

Sementara mengenai diri Sin-bu Te-kun, dia sebenarnya adalah Song-bun Kui-mo, salah seorang dari kui-mo yang pernah menggetarkan dunia persilatan. Di samping Hek Gak, Sin-bu-kiong pun merupakan momok yang menyita perhatian besar.

Membicarakan Hek Gak dan Sin-bu Te-kun, orang tak dapat lepas dari membicarkan Hun-tiong Sin-mo. Selama lebih dari enam puluh tahun lamanya, setiap bulan sembilan tanggal lima belas, markas Hun-tiong-hu selalu menerima kedatangan jago-jago yang hendak menantang bertempur. Selama enam puluh tahun, entah sudah berapa banyak
jago-jago yang harus menderita kekalahan pahit. Mereka yang berani datang, tentu tak pernah pulang lagi!

Selama enam puluh tahun, hun-tiong Sin-mo telah menjagoi dunia persilatan. Beberpa bulan yang lalu, di dunia persilatan telah timbul kehebohan. Di sana-sini timbul pembunuhan dan pembunuhnya meninggalkan Panji tengkorak darah.
Rakyat dan dunia persilatan gentar. Mereka membendi Hun-tiong Sin-mo yang diduga tentu melakukan keganasan itu.

Adalah karena pernah dikalahkan Hun-tiong Sin-mo, maka Hek Gak segera bertapa selama enam puluh tahun. Dia hendak menuntut balas atas kekalahannya dari Hun-tiong Sin-mo yang telah membuat cacat tubuhnya.

Pihak Sin-bu-kiong selalu menjaga perdamaian dengan kaum persilatan. Beberapa bulan yang lalu, mereka telah menerima undangan dari pihak Siu-lim-pay untuk bersama-sama mengeroyok Hun-tiong Sin-mo.
Sekalipun akhirnya rencana itu batal karena adanya undangan rapat orang gagah oleh Thiat-hiat-bun ini, namun takkan berobah sifatnya. Dalam pertemuan maut kali ini, tentu akan terjadi pertempuran maut yang menentukan.

Ditinjau dari prkembangan selama ini, posisi Hun-tiong Sin-mo tidak menguntungkan. Ke sembilan partai besar, Sin-bu-kiong dan Hek Gak memusuhinya.

Tetapi diluar dugaan kini uncul Thiat-hiat-bun. Partai dari luar Tiong-goan ini muncul di wialayah Tiong-goan dan rupanya bersekutu dengan Hun-tiong sin-mo. Semua orang menduga, bahwa pihak Hun-tiong-hu tentu sudah berada lebih dulu di Tiam-Jong-san. Tidak mengunjukkan muka kepada para tamu, mungkin telah direncanakan oleh Hin tiong sin-mo dan Thiat-hiat-bun. Sekaligus mereka mau menjebak seluruh tokoh-tokoh silat untuk dilenyapkan.

Samapai pada kesimpulan itu mau tidak mau bergidiklah bulu roma para tamu. Dan yang lebih mencemaskan hati mereka, mengapa sampai detik ini Sin-bu dan Ketua Hek Gak tak muncul! Takutkah kedua tokoh itu?

Menurut perhitungan, tanpa hadirnya ketua Sin-bu kiong dan Hek-Gak, pasti merupakan kehilangan besar. Sekalipun seluruh tokoh persilatan hadir di Tiam-jong-san itu bersatu padu menghadapi tantangan tuan rumah di Hun-tiong sin-mo, namun mereka tetap seperti telur beradu dengan tanduk. Pasti mereka akan hancur lebur oleh gembong un-tiong Sin-mo. Bayang-bayang dunia persilatan bakal dikuasai oleh gembong Hun-tiong Sin-mo makin jelas.

Suatu hal yang lebih merontokkan nyali para tamu, ialah tentang pemuda Bu-beng-jin yang konon telah mendapat ajaran kitab pusaka It bing sianjin. Pemuda itu memang sakti sekali. Pernah bertempur belum selesai dengan Sin-bu te-kun dan bertempur tiada yang kalah dan menang mereka sama-sama terluka melawan Bok Sam-pi. Kemanakah beradanya pemuda itu sekarang: apakah sudah mati atau masih hidup.

Demikianlah yang menjadi pembicaraan penting bagi para tetamu. Kebanyakan tamu itu tak tahu jelas bagaimana berlangsungnya pertarungan di Gunung Thay-heng-san yang lalu. Karena mereka membenci Hung Tiong-Sin-mo. Simpati merekapun tertuju pada Hek Gak dan Sin-bu-kiong. Karena bu-beng-jin (Thian-leng) dianggap bermusuhan dengan Sin-bu Te-kun dan Hek-gak, maka para tamu berharap agar pemuda itu sudah mati dan tidak muncul lagi di dunia persilatan.

Pemuda itu pernah membunuh orang-orang dari ke-9 partai persilatan, dan ke-9 partai persilatan menganggap pemuda itu sebagai anak buah Hun-tiong Sin-mo, sehingga dipukul dan dilempar kedalam sungai. Jelas pemuda itu tentu mendendam. Jika ia muncul lagi di Tiam-Jong-san, hebatlah akibatnya bagi ke-9 partai persilatan.

Ramai dan sibuk sekalai para tamu memperbincangkan kemungkinan-kemungkinan bakal mereka hadapi besok pagi. Tetapi dilihat semuanya tampak tidak tenang dan gelisah darpada yang berbesar hati.

Sampai jauh malam masih terdengar orang bercakap-cakap membicarakan masalah itu .....

Pembukaan

Dibawah naungan kabut rahasia yang penuh teka-teji, tibalah hari pembukaan rapat orang gagah di gunung Tiam-Jong-san. Rapat yang sangat dinanti-nantikan dengan penuh perhatian oleh seluruh kaum persilatan.

Jelas sudah bahwa maksud ketua Thiat-hiat-bun menyelenggarakan rapat itu bukan untuk menjamu dalam rangka perkenalannya dengan kaum persilatan daerah Tiong-goan. Apakah maksud ketua Thiat-hiat-bun dibalik undangannya itu, belum diketahui jelas!

Dimuka halaman markas Tiam-Jong-pay telah dibuat lapangan yang sangat luas. Tanahnya dibuat rata sekali dan licin sehingga tepat dijadikan gelanggang adu kepandaian.

Gunung Tiam-jong-san seolah-olah bermandikan cahaya lampu warna-warni. Beberapa pos penjagaan didirikan, petugas-petugas yang melakukan ronda keamananpun dilipat gandakan jumlahnya.

Dibalik dari kesibukan dan ketegangan suasana yang meliputi medan perjamuan, di dalam sebuah kamar rahasia markas Tiam-jong-pay, sedang berlangsung perundingan rahasia juga.

Lima puluh jago Huntiong-hu golongan Pek-ih-tiang-hwat (orang tua jenggot putih berbaju putih) jangan hrap orang dapat mendekati kamar rahasia itu.

Siapakah yang sedang mengadakan perundingan rahasia disitu? Didlam kamar rahasia terdapat beberapa kursi. Yang duduk dikursi kehormatan si jenggot perak Lu Liong-ong, kemudian Li-cu-liong ketua Tiam-jong-pay. Duduk disebelah jenggot perak, seorang wanita setengah umur yakni puteri semata wayang dari jenggot perak atau isteri yang ditelantarkan oleh pedang bebas Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun.....

Gembong Hun-tiong Sin-mo yang menggetarkan dunia persilatan itu tak lain tak bukan ialah Cu Giok bun sendiri. Mengapa Giok-bun memakai she Cu dan mengapa ia menjadi Hun tiong Sin-mo, memang diketahui jelas.

Duduk disamping Cu Giok-bun adalah puterinya yakni Cu Siau-bun. Selain keempat orang itu tampak juga seorang pengemis tua mendapat kehormatan diajak berunding oleh tokoh-tokoh semacam Hun tiong Sin-mo dan jenggot perak, tentulah bukan pengemis sembarangan. Dan memang pengemis itu adalah Thiat-ik Sin-kay atau pengemis sankti sayap besi. Cousou (guru besar) angktan tua dari partai pengemis.

Kiranya sewaktu Thian-leng memerintahkan Lau Gik-siu supaya menjaga diluar lembah Pak liong kiap dahulu, Thiat-ik Sin-kay tiba-tiba muncul. Dengan kedudukannya sebagai sorang guru besar, ia suruh Lau sin-siu ajak rombongan pulang kemarkas kay-pang sementara ia sendiri menuju ke Tiam-Jong-san.

Perundingan dalam kamar rahasia itu berlangsung dalam suasana yang hening, rupanya mereka tengah menghadapi masalah berat. Beberapa saat kemudian Li-cu-liong membuka mulut : „Dari regu pengintai yang pulang melaporkan pihak si-bu-kiong dan Hek gak tak memperlihatkan gerakan apa-apa. Kemungkinan besar mereka tak menghadiri rapat ini!“
Jenggot perak menghela napas perlahan „pintar sekali tindakan mereka itu, tetapi ........“ ia tertawa datar, „mungkin perhitunganmu meleset?“

Merah padam wajah L Cu-Liong.
„menurut pendapatku, bukan saja mereka akan datang, juga mereka mempunyai niat jahat. Mungkin .......“ tiba-tiba Cu Siau-bun menyelutuk, tetapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ibunya (Cu Giok-bun atau Hun-tiong Sin-mo) sudah menukasnya „Eh, apakah kau berhak bicara disini?“

Siau-bun bungkam.
„Giok-bun, mengapa kau begitu keras terhadap anakmu!’ jenggot perak tertawa. Kemudian dengan pandangan ramah ia menatap siau-bun, ujarnya „ „Sebenarnya dugaanmu tadi benar. Mereka pasti datang dengan rencana jahat. Tetapi eh, mengapa kau dapat menduga begitu?“

Siau-bun hendak menyahut tetapi didahului Lu-bu-song „Itu mudah saja! Kalau tidak masakan kakek tegang sekali sehingga memerintahkan supaya Tiam-jong-san dijaga seketat ini?“

Kembali jenggot perak tertawa keras „Benar-benar jugalah. Kalian berdua memang anak perempuan keranjingan ..........“ketika memandang Cu Siau-bun, tiba-tiba jenggot perak berhenti bicara. Teringatlah ia akan kata-kata Siau-bun ketika berada digunung Thay-hen-san tempo hari. Jenggot perak telah meluluskan untuk menjodohkan Bu-song dengan bu-beng-jin. Siapa tahu ternyata sebelumnya bu-beng-jin telah mengadakan hubungan luar biasa dengan Siau-bun. Jenggot perak pedih hatinya atas tindakan bu-beng-jin yang beriman tipis itu. Bagaimana nanti dengan Lu bu-song apabila dara itu mengetahuinya. Karena dipuji sang kakek, Bu-song girang sekali. Dengan busungkan dada ia memandang Siau-bun sejenak, Siau-bun pun balas memandang adik misannya itu.

Karena tak tahu apa yang sedang dipikirkan jenggot perak sat itu, begitu tampak wajah orang tua itu bermuram durja, diam-diam Li Cu-liong terkejut. Sejak kecil semula ia dipungut anak oleh jenggot perak maka tahulah ia bagaimna perangai ayah angkatnya itu.

Menghadapi persoalan yang bagaimanapun beratnya, selalu jenggot perak itu acuh tak acuh. Tetapi kalau saat itu nampak begitu gelisah, terang masalahnya genting sekali.

„Si-bu-kiong dan Hek Gak sudah menderita kekalahan di gunung Thay-heng-san. Kegarangan mereka tentu sudah merosot. Maksud gihu menyelenggarakan rapat orang gagah ini, selain untuk berkenalan dengan kaum persilatan Tiong-goan juga hendak membantu mereka melenyapkan kedua momok jahat itu. Dalam hal ini mungkin pihak Si-bu-kiong dan Hek Gak sudah mencium maksudnya, maka kemungkinan besar mereka tentu tidak datang ........“

„Mereka datang atau tidak, aku tak peduli. Begitu perjamuan ini selesai aku ajak Bu-song datang ke Lin Lam lagi......“ ia menghela napas, dunia persilatan Tiong-goan apa yang terjadi ia tak sudi mengurus lagi!“ kata-kata terakhir diucapkan dengan nada rawan.

Li Cu-liong melongo. Ia tak tahu apa yang dimaksud ucapan ayah angkatnya itu. Suasana kamar rahasia itu liputi oleh kerawanan.

„Kek ..... apa katamu?“ teriak bu-song.

Beberapa bulan yang lalu karena marah-marah, ia berpisah dengan Thian-leng. Tetapi hatinya selalu senang pada anak muda itu. Diam-diam ia menyesal atas tingkah lakunya sendiri. Karena tak tahu kemana perginya Thian-leng, terpaksa dia bersama dengan kakeknya lagi. Jenggot perak menghibur cucunya dan memberi jaminan bahwa Thian-leng pasti berkumpul lagi dengan dara itu. Karena mendapat jaminan, barulah dara itu mau ikut ke Tiam-jong san. Tetapi dalam perjalanan jenggot perak telah mengetahui hubungan Thian-leng dengan Cu Siau-bun. Sikap jenggot perak pun serentak berubah 180 derajat. Hanya saja ia mendapat kesulitan menceritakan hal itu kepada Bu-song.

„Apakah kata-kataku tadi belum jelas?“ jenggot perak menyeringai kepada Bu-song. Bu-song terkejut. Selama ini belum pernah kakeknya bersikap begitu kepadanya.

„Kek, kuminta kau mengatakan lagi!“ serunya
„Besok lusa, kita pulang ke Ling-lam dan takkan datang ke Tiong-goan selama-lamanya!“ kata ajenggot perak dengan suara sarat.

„Mengapa ......?“ wajah bu-song berubah seketika
„Tidak apa-apa“ kata jenggot perak dengan tetap sarat, „kudapatkan dunia ini kotor dan palsu, hati manusia banyak yang culas. Aku tak mau keluar kedunia ramai lagi selama-lamanya!“

„Eh, kek, mengapa hari ini?“ serempak Bu-song bangkit kaget, „apakah yang terjadi? Apakah ......?“ cepat sekali dara itu menduga jangan-jangan Bu-beng-jin mendapat bahaya. Bukankah tempo hari kakeknya itu pernah mengatakan bahwa pemuda itu lenyap di gunung Thay-heng-san?“

Jenggot perak menghela napas pula, ujarnya
„Nak, jangan mendesak pertanyaan. Aku aku mau pulang ke Ling-lam adalah demi kebaikanmu!“

Bu-song makin bingung. Segera ia menubruk kepada kakeknya dan merajuk „Kek, kau harus mengatakan yang sebenarnya. Apakah dia ....... bagaimana?“
Siau-bun mengulum ludah dan tertawa dingin, ...Eh, Bu-song, siapakah yang kaumaksudkan, dia itu?“
Tetapi Bu-song tak menghiraukan, ia tetap menggendoni bahu kakeknya, Bilanglah kek, bagaimana ini?“

Sejenak jenggot perak melirik kepada Siau-bun, mau berkata tetapi tidak jadi.
„Kek, aku bukan anak kecil yang tak than menerima siksaan batin. Bilanglah, apakah dia mati?“ kembali bu-song mendesak dengan garang.

Dengan gerakan yang perlahan, jenggot perak mengganggukan kepala, benar, dia .... dia .... dia..... mati!“
Mendengar kabar itu hati Siau-bun pilu. Ia tundukkan kepala. Kedukan kakek dan cucunya itu benar menyayat sanubari.

Tiba-tiba Bu-song mengusap airmatanya dan berkata dengan suara gagah „lebih baik mati, dia ..... memang seharusnya dulu-dulu sudah mati!“

Kata-kata dara itu mengejutkan sekalian orang. Jenggot perak mengelus-elus bahu Bu-song dan berkata dengan lemah „nak, kau .......“
„Aku benci padanya. Sebenarnya akan kubunuh, syukur dia sudah mati!“ Bu-song tertawa.
„Benarkah itu?“ jenggot perak terbelalak.
„Mengapa tidak? Setelah rapat besok pagi selesai, kita segera pulang saja!“
„Bagus, besok lusa kita segera pulang!“
„Tetapi ..... siapakah yang membunuhnya?“ tiba-tiba Bu-song bertanya.
„Kau toh sudah benci, perlu apa menanyakannya?“ sahut jenggot perak yang sebenarnyatak tahu bagaimana keadaan Bu-beng-jin.
„Ah, aku hanya ingin tahu saja. Siapa tahu aku akan berterima kasih padanya.“

Terpaksa jenggot perak memberitahukan : „Bok-sam-pi, tetapi dia sendiripun terluka parah!“
„Apakah besok pagi dia datang?“ Bu-song tertawa.
Jenggot perak terkejut melihat sikap cucunya tak wajar. Ia tertawa getir, Bok Sam-pi menjabat Cong-houhwat dari Hek Gak. Jika hek Gak berani datang, diapun tentu ikut serta!“

Bu-song menggangguk, „baik akupun ingin tau saja. Sekarang silakan membicarakan hal-hal lain yang penting.“ Ia kembali duduk ditempatnya semula. Wajahnya menyunggingkan senyum yang aneh.

Sebenarnya Cu Siau-bun hendak membuka mulut tetapi tak jadi. Sedang Thian-ik-sinkay pun terbengong-bengong mengawasi jenggot perak saja.

Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk pelahan tiga kali .......
Masuk!“ seru jenggot perak.
Li Cu-liong segera bangkit dan membukkan pintu. Seorang anggota rombongan Pek-ih-tiang-hwat rombongan jago-jago Hun-tiong-hu yang berjanggut dan berbaju putih memberi hormat diambang pintu.
Bersambung ke jilid 12

This entry was posted on Rabu, Juli 21, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar