Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 13
Peristiwa Tai Giok siansu sudah menghukum murid kepalanya dan kemudian membutakan kedua matanya merupakan kejadian hebat yang pernah terjadi di Siau Lim Sie, dimana Tai Giok Siansu pergi meninggalkan kuil entah kemana tidak diketahui lagi.
Peristiwa tersebut dirahasiakan ketat sekali, hanya murid-murid Siauw Lim Sie yang mengetahui, dan itupun tidak pernah dibicarakan mereka. Menghilangnya Tang San Siansu dari tempat ia menjalani hukumanku di "Hie Lim" membuat Tang Sin Siansu dan yang lainnya jadi sibuk berusaha mencari si Toasuheng.
Tapi selama itu tidak juga berhasil menemukan jejak Tang San Siansu, yang menghilang dan tidak ada kabar beritanya. Entah dimana Tang San Siansu bersembunyi.
Sekarang melihat luka yang diderita Tang Bun Siansu, maka Tang Sin Siansu tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa luka itu akibat pukulan "Liong Beng Kun" dan yang paham "Liong Beng Kun" hanya Tang San Siansu, disamping guru mereka Tai Giok Siansu !
Tenaga pukulannya pun sangat mengejutkan, memperlihatkan latihan yang sudah tinggi sekali, mungkin Tang San Siansu sudah merampungkan latihan "Liong Beng Kun" nya.
Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam. "Ya, sute, kita memang hanya menantikan kedatangannya, dimana suatu saat kelak ia pasti muncul di hadapan kita !"
Tang Lang dan Tang Lu siansu menghela napas, mengundurkan diri. Tang Sin Siansu berdiri dengan muka berduka, mengawasi Tang Bun Siansu yang rebah di bantalan tikar di depannya, mulut Tang Bun Siansu masih terus menggumam dengan ocehan tidak karuan: "Liong-kak... Ya, Liong-kak telah muncul ..."
Tang Sin Siansu menunduk berduka, ia bersusah hati. Mendadak di kepalanya berkelebat serupa ingatan, mukanya sejenak menjadi terang, namun kemudian guram lagi dergan sepasang alis mengkerut. Dihampiri pintu, memanggil seorang hwesio muda "panggil Giok Han menghadap Loceng !" perintah Tang Sin Siansu.
Hwesio muda itu segera melaksanakan perintah. Giok Han tidak berani berayal menghadap Susiokcouwnya. Ketika sampai di kamar Susiokcouwnya, ia berdiri dengan sikap hormat. Tang Sin Siansu tengah mengawasi Tang Bun Siansu yang masih terus mengoceh tidak karuan.
"Susiokcouw... apakah ada perintah untukku?" tanya Giok Han dengan perasaan heran.
Tang Sin Siansu memutar tubuhnya, menghela napas wajahnya memancarkan kedukaan mendalam, sehingga tampaknya pendeta alim Hongthio Siauw Lim Sie ini bertambah tua melebihi dari usia sebenarnya. Belum pernah Giok Han melihat muka Susiokcouwnya seperti itu, karena biasanya berseri sehat dan memerah segar.
"Duduklah, Giok Han !" Tang Sin Siansu menunjuk ke tikar yang ada di depannya, dia sendiri duduk di tikar bersulam bunga teratai. "Ada yang ingin kubicarakan dengan kau."
Hati Giok Han diliputi tanda-tanya, tapi dia tidak berani rewel, cepat-cepat duduk di tikar yang satunya, menunggu apa yang akan diperintahkan Susiokcouwnya.
Tang Sin Siansu mengawasi Giok Han. Anak ini masih kanak-kanak, masih kecil sekali. Apa mungkin harapannya bisa diletakkan pada pundak anak ini? Tapi, mengingat Giok Han sangat cerdas, masih ada harapan yang bisa dijadikan pegangan dalam kesulitannya ini.
Diawasi oleh Susiokcuwnya seperti itu, Giok Han jadi kikuk dan hatinya semakin tidak tenang. Belum pernah Susiokcouwnya mengawasinya seperti sekali ini. Sinar mata Hongthio itupun sangat tajam, sehingga Giok Han menunduk dengan hati agak menggigil-Sinar mata itu seperti hendak menyusup ke dalam hati Giok Han.
"Sudah setahun kau menjadi murid pintu perguruan ini," tiba-tiba Tang Sin Siansu memecahkan kesunyian. "Selama itu tampak jelas kau tekun berlatih diri."
"Ya, Susiokcouw... berkat petunjuk Susiokcouw dan Suhu..." menyahuti Giok Han ragu-ragu, katena dia belum mengetahui apa maksud Susiokcouwnya memanggilnya menghadap.
"Apakah selama setahun ini ksu sudah mempelajari cukup ilmu silat Siauw Lim ?" tanya Tang Sin Siansu.
Tidak berayal lagi Giok Han berlutut.
"Tecu mohon petunjuk Susiokcouw mungkin selama ini Tecu melakukan suatu kesalahan!"
Tang Sin Siansu menghela napas.
"Duduklah, Giok Han !" sabar suaranya, mukanya tidak kaku seperti tadi. Setelah Giok Han duduk kembali, Tang Sin Siansu melanjutkan perkataannya: "Sebagai murid Siauw Lim Sie, tentu cita-citamu ingin mempelajari ilmu silat Siauw Lim Sie yang tertinggi, bukan ?"
"Benar, Susiokcouw."
"Tetapi tahukah kau bahwa Siauw Lim Sie memiliki 108 macam ilmu silat, yang setiap muridnya tidak mungkin bisa mempelajari sekaligus ilmu-ilmu itu yang beraneka ragam. Paling banyak hanya satu dua macam ilmu silat Siauw Lim Sie yang dipilih untuk diyakini dan dilatih sampai sempurna, itupun sudah lebih dari cukup sehingga dalam kalangan Kangouw sulit orang menandinginya. Jika kau bercita-cita mempelajari ilmu silat Siauw Lim Sie yang tertinggi, berarti kau harus memilih satu dari 108 macam ilmu silat Siauw Lim Sie. kemudian melatihnya sebaik mungkin, pasti kelak kau bisa memperoleh kemahiran dan kesempurnaan untuk ilmu silatmu. Tapi jika kau mempelajari bermacam-macam ilmu silat Siauw Lim, tidak satupun pada akhirnya yang bisa kau yakini dengan mahir. Kau mengerti, Giok Hm ?"
"Mengerti, Susiokcouw."
"Sudah berapa jauh gurumu mengnjrrkan ilmu silat Siauw Lim kepadamu?" tanya Tang Sin Siansu. "Coba kau jalankan untuk Lo-ceng lihat. sampai dimana kemajuan yang sudah kau peroleh !"
Giok Han tidak berani berayal, dia memberi hormat kepada Susiolcouwnya, kemudian menjalankan ilmu pukulan dasar Siauw Lim Sie yang bernama Cap Peh Lo Han Kun, setelah selesai menjalani seluruh Jurus Cap Peh Lo Han Kun yang berjumlah 108 jurus ini, Giok Han menyusuli dengan jurus-jurus Sin Wan Kun, kemudian disusul dengan Tat Mo Kun hoat.
Tang Sin Siansu mengawasi dengan cermat, mukanya tampak terang sejenak, karena dilihatnya walaupun masih kecil, Giok Han sudah bisa menjalankan jurus-jurus Cap Peh Lo Han Kun, Sin Wan Kun maupun Tat Mo Kunhoat dengan baik. Hanya yang kurang adalah tenaganya, karena itu pukulan-pukulan yang dilakukan Giok Han seperti kembang-ilmu silat Cap Peh Lo Han Kun, Sin Wan Kun maupun Tat Mo Kun-hoat. merupakan ilmu pukulan yang hebat, tapi masih kosong di dalam karena tiaak disertai oleh kekuatan berarti !
Setelah membawakan jurus-jurus ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari Wie Sin Siansu. Giok Han berlutut di depan Tang Sin Siansu sambil menganggukkan kepalanya. "Harap Susiokcauw mau memberikan petunjuk pada tecu...!"
"Ya, akan kupenuhi keinginanmu !" kata Tang Sin Siansu sambil mengulurkan tangan kanannya. "Kau sambuti tangan Loceng !"
Giok Han terkesiap kaget tak terhingga, karena ia merasakan dari tangan Hongthio Siauw Lim Sie mengalir hawa yang panas luar biasa kepundaknya.
Dia tengah berlutut, sekarang pundaknya hendak ditepuk oleh Susiokcouw, dia kaget namun tidak berani mengelak. Dia diam saja, cuma merasa heran apa sebetulnya yang diinginkan Susiokcouw ini.
Melihat Giok Han tetap berlutut tidak memberikan reaksi atas serangannya, Tang Sin Siansu menahan tangannya. "Sambuti tangan Loceng !"
Giok Han ragu ragu, namun Tang Sin Siansu sudah membentak, sekali ini suaranja keras: "Ayo pergunakan ilmu silat yang telah kau pelajari !"
Kaget Giok Han dibentak begitu, terlebih lagi Tang Sin Siansu sudah meneruskan tangannya meluncur menyambar ke pundak Giok Han. Dia sampai merasakan kulit punggungnya seperti terbakar api karena hawa pukulan itu terlalu panas.
Tidak buang waktu lagi Giok Han menghindarkan pukulan tangan Tang Sin Siansu dengan memiringkan tubuh bagian atas keki-ri dan kanan terayun. Dia dalam keadaan berlutut, maka lututnya tetap dilantai, hanya bagian tubuh sebelah atas, mulai dari pinggang keatas, bergerak-gerak berayun kekiri kanan dengan jurus "Cun Ma Pun Coan" atau "Kuda Bagus Mengejar Mata Air", dia berusaha untuk mengelakkan. Tapi, tahu tahu punggungnya panas bukan main, sampai dia menjerit karena sakitnya luar biasa, disusul oleh tubuhnya terpental.
Sebelum tubuhnya terbanting, Giok Han merasakan pinggulnya seperti disanggah oleh suatu kekuatan, kemudian turun perlahan-lahan, sehingga tidak sampai menderita kesakitan lagi.
Tang Sin Siansu menghela napas dengan muka muram, menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tampaknya keinginanku akan terbentur berbagai kesulitan..."
Giok Han bangkit sambil meringis, kemudian maju berlutut didepan Susiokouwnya tersebut. ..Mohon Couwsu memberikan petunjuk !" kepalanya dimanggutkan beberapa kali.
"Dasar ilmu silatmu masih terlalu lemah. Mungkin berlatih tiga tahun lagi barulah bisa mempelajari ilmu yang berarti. Tiga tahun terlalu lama untuk mengatasi kesulitan yang tengah kami hadapi !" Tang Sin Siansu menghela napas dengan muka yang muram.
Giok Han tetap berlutut mendengarkan terus tanpa berani bertanya.
"Giok Han," kata Tang Sin Siansu lagi kemudian, suaranya terdengar jauh lebih sabar dari sebelumnya, "Dengarkanlah baik-baik ! Kita tengah menghadapi kesulitan. Kau belum mengetahui, bukan ? Pintu perguruan kita tengah menerima ancaman dari seseorang, yang memiliki semacam ilmu silat yang sukar dihadapi. Selama belasan tahun ini memang Loceng tengah mempersiapkan semacam ilmu silat, untuk mengatasi ilmu silat orang yang hendak meruntuhkan Siauw Lim Sie, cuma Loceng belum sempat merampungkannya. Sengaja Loceng menciptakan ilmu silat itu, untuk dipelajari oleh orang lain, bukan oleh Loceng. Orang yang akan mengacau dan memusuhi Siauw Lim Sie masih memiliki hubungan dekat dengan loceng, karenanya tidak mungkin Loceng yang mempelajari ilmu itu, sebab sekali saja perasaan dan hati tergoncang disaat pertempuran berlangsung, bisa membahayakan.
Disebabkan itu yang melatih ilmu itu harus orang lain, tugasnya kelak menghadapi orang yang memusuhi Siauw Lim Sie itu. Dia memiliki semacam ilmu silat yang diberi nama "Liong Beng Kun", semacam ilmu yang terlalu dahsyat, jika disalah gunakan dengan cara-cara menyeleweng, bisa tersesat dan berobah menjadi semacam ilmu yang paling sadis didalam dunia ini.
Loceng sengaja telah menciptakan semacam ilmu, yang Loceng beri nama "Sin Beng Kun" (Ilmu Pu-kulan Malaikat). vang bisa dipelajari selama lima tahun. Dalam keadaan mendesak seperti sekarang, sedapat mungkin hurus diyakini dalam tiga tahun!"
Bercerita sampai disitu Tang Sin Siansu berhenti sejenak, muram sekali mukanya. Tampaknya hati pendeta alim yang sudah lanjut usia ini tertekan perasaannya oleh suatu masalah yang sangat sulit. Giok Han tidak berani bertanya, cuma memasang kuping buat mendengarkan terus cerita Hongthionya.
Dia makin bingung dan heran, entah apa maksud Hongihionya dengan ceritanya tersebut? Juga ada hubungan apa dirinya dengan peristiwa yang tengah terjadi dimana menurut Tang Sin Siansu bahwa Siauw Lim Sie akan kedatangan seorang musuh ?
Mengapa Hongthio Siauw Lim Sie ini menceritakan padanya perihal ia menciptakan semacam ilmu pukulan yang diberi nama "Sin Beng Kun". sedangian G.ok Han masih terlalu kecil, juga baru setahun menjadi murid Siauw Lim Sie ?
"Giok Han, sekarang Loceng ingin bertanya kepadamu, kau harus menjawab yang jujur !" kata Tang sin Siansu sambil mengawasi Giok Han.
"Ya, Susiokcouw," menyahuti Giok Han. "Tanyalah Susiokcouw."
"Kalau Siauw Lim Sie terancam bahaya besar dan kami ingin minta kau menghadapi musuh, apakah kau bersedia melaksanakan perintah itu ?"
Kaget Giok Han. Pertanyaan seperti ini tidak pernah terpikir olehnya, Cepat-cepat dia berlutut. "Susiokcouw, walaupun harus terjun kedalam minyak panas atau rimba golok, tecu pasti melaksanakan perintah. Tapi, tecu... tecu merasa belum memiliki kepandaian berani untuk melakukan sesuatu, apalagi harus menghadapi musuh... masih banyak suheng-suheng lainnya yang lihay"
Tang Sin Siansu tersenyum, tapi senyumnya itu kecut dan mengandung kedukaan, "Ya memang kalau diminta sekarang kau menghadapi seorang musuh, tidak usah selihai musuh yang pasti akan datang mengacau kemari, cukup musuh yang memiliki kepandaian biasa saja, tentu kau tidak bisa menghadapinya ! Tetapi sekarang ini justeru kau akan Loceng persiapkan selama tiga atau empat tahun, melatih ilmu pukulan yang baru Loceng ciptakan, yaitu Sin Beng Kun, sehingga kelak jika sudah menguasai ilmu itu kau bisa menghadapi musuh yang akan datang mengacau kemari...!"
Giok Han tetap berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya. "Perintah Susiok-couw tidak berani tecu bantah... silahkan Susiokcovw peiintahkan saja !"
"Bagus ! Tahukah kau mengapa Loceng memilih kau?" tanya Tang Sin Siansu.
Giok Han menggeleng sambil mengawasi Susiokcouwnya.
Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam. "Persoalan yang sebenarnya nanti akan Loceng beritahukan jika kau sudah selesai mempelajari Sin Beng Kun. Loceng memilih kau karena mengingat kau memiliki kecerdasan yang cukup. Yang terpenting, kau baru setahun menjadi murid kami, sehingga kau masih murni, baru memiliki dasar ilmu silat kami, Jika kau sudah memilih salah satu macam ilmu silat Siauw Lim Sie dan sudah meyakininya lima atau sepuluh tahun, sudah sulit untuk mendidikmu melatih Sin Beng Kun! Memang terdapat kekurangan padamu, usiamu masih terlalu muda, belum memiliki dasar Lwekang yang cukup! Namun Loceng akan berusaha menambal kekurangan-kekurangan tersebut ! Nah, sekarang kau duduklah, dengarkan baik pesan Loceng !"
Giok Han dudak di tempatnya dan mendengar baik-baik pesan Susiokcouwnya.
"Mulai malam ini, setiap kentongan kedua kau harus datang ke mari untuk menerima pelajaran langsung dan Loceng. Tapi semua ini harus kau rahasiakan, gurumu pun jangan diberitahu ! Rahasia ini harus kau pegang biar teguh. jika ada yang mengetahui hal ini. berarti jodoh kita habis sampai di situ dan Loceng tidak akan mengajarkan Sin Beng Kun lebih jauh! Kau bisa melaksanakan perintah Loceng, agar memegang teguh rahasia ini, Giok Han?"
"Bisa. Susiokcouw, Kalau tecu membocorkan rahasia ini. biarlah tecu mati ditikam seribu mata pedang !" menyahuti Giok Han, yang girang bukan main mengetahui Susiokcouwnya akan mewarisi ilmu silat ciptaannya, inilah bermimpipun dia tidak berani mengharapkannya.
Tang Sin Siansu tersenyum. "Tidak usah bersumpah, cukup kalau kau berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini, itupun sudah lebih dari cukup." kata pendeta alim tersebut "Loceng perlu menegaskan di sini bahwa mempelajari Sin Beng Kun harus disertai ketekunan, tidak boleh main-main, harus bersungguh-sungguh. Memang berat mempelajari Sin Beng Kun, apa lagi Locengpun akan menggembleng Lwekangmu, karenanya mulai sekarang kau harus mencurahkan seluruh perhatian pada pelajaranmu ..."
Giok Han berjanji. Dan menang mulai malam itu ia banyak menerima petunjuk dari Tang Sin Siansu. Besok malamnya, dia mulai menerima pelajaran Sin Beng Kun dari Tang Sin Siansu. Bahkan bukan hanya Sin Beng Kun saja yang diajarkan Tang Sin Siansu, pendeta tua itu menurunkan pelajaran lwekang Siauw Lim Sinkang yang tertinggi, ilmu tenaga dalam tingkat atas.
Memang pada mulanya Tang Sin Siansu memupuk dasar Giok Han agar kuat, baru lewat dua bulan dia mulai serius dengan setiap jurus yang diturunkannya.
Setiap malam Giok Han datang secara diam-diam ke kamar Tang Sin Siansu. Tidak seorangpun mengetahui hai tersebut, sampai suheng-suhengnya pun tidak mengetahui.
Selama kepergian Wie Sin Siansu dengan beberapa orang saudaranya seperguruannya, maka yang mengamati dan mendidik Giok Han suheng-suhengnya. di samping sekali-sekali Tang Ling, Tang Lu dan Tang Sin Siansu bertiga suka juga memberikan petunjuk.
Kini memang secara langsung Tang Sin Siansu menangani menggembleng anak itu, kemajuan yang dicapai oleh Giok Han pesat sekali. Selama itu ia tetap merahasiakan terhadap siapapun juga, bahwa ia tengah mempelajari Sin Beng Kun dari Tang Sin Siansu.
Tang Sin Siansu sengaja memilih Giok Han karena di samping anak itu sangat cerdas, juga ia belum menerima pelajaran berani di pintu perguruan Siauw Lim Sie, masih kosong. Dengan demikian lebih mudah untuk "diisi" oleh pelajaran Sin Beng Kun, berarti anak ini bisa menghayati sepenuhnya pelajaran Sin Beng Kun tersebut.
Dugaan Tang Sin Siansu tidak meleset. Giok Han bisa menerima semua yang diajarkannya dengin baik, Bahkan jauh lebih cepat dari dugaan semula. Dalam waktu tiga bulan lebih. Giok Han sudah berhasil menghafal Kauw-koat (teori) Sin Beng Kun. Mungkin diperlukan waktu lima tahun untuk Giok Han benar benar menguasai setiap jurus Sin Beng Kun.
Memang cukup lama, tapi bagi Tang Sin Siansu tampaknya tidak terlalu kesusu mendicik anak ini. Tang San Simsu belum lagi kepastian kapan muncul di Siauw Lim Sie untuk mengacau, selama Tang San Siansu belum muncul, selama itu pula Giok Han memiliki kesempatan untuk menerima gemblengan Tang Sin Siansu memperdalam Sin Beng Kun.
Pagi itu Giok Han berlatih diri di luar kuil. Tubuhnya melompat gesit kesana kemari. Lincah bukan main. Dia berlatih seorang diri, dan akhirnya melatih Sin Beng Kun. Telah dipelajari beberapa jurus Sin Beng Kun, dengan tekun setiap ada kesempatan Giok Han selalu melatihnya.
Mendadak Giok Han merasakan sambaran tangan yang kuat sekali pada lengannya. Dia tidak sempat mengelak dari tangan orang itu, tahu-tahu tubuhnya dilemparkan ke tengah udara.
Hati Giok Han tercekat kaget, pasti dia celaka kalau orang yang melemparkannya ke tengah udara itu musuh yang mencelakakan nya. Tapi waktu Giok Han hendak ber-poksay (salto), terdengar suara gelak tertawa yang Giok Han kenal benar suara tertawa itu.
"Suhu.. . !" Teriak Giok Han ketika tubuhnya sedang meluncur turun.
Orang yang melemparkan Giok Han ke tengah udara masih tertawa, tapi tangannya menyambuti tubuh Giok Han, menurunkannya. Cepat-cepat Giok Han dengan girang berlutut memberi hormat kepada gurunya, karena orang itu memang tidak lain dari Wie Sin Siansu, yang sudah kembali ke Siauw Lim Sie setelah kepergiannya sekian lama.
Di samping Wie Sin Sansu tampak Wie Khie Siansu, Wie Un Siansu dan yang lainnya, semuanya mengawasi Giok Han sambil tersenyum. Giok Han tidak berayal memberi hormat kepada paman-paman gurunya.
"Bagus ! Tampaknya kau sudah memperoleh kemajuan pesat, Giok Han !" kata Wie Sin Siansu sambil mengusap-usap kepala anak itu. "Coba kau perlihatkan lagi padaku, berapa jauh kemajuan yang Sudan kau peroleh !"
Giok Han rnengiyakan dan menjalankan ilmu silat yang telah dipelajari selama ini. Waktu menyaksikan muridnya bersilat, muka Wie Sin Siansu berseri-seri terang namun ketika Giok Han memperlihatkan jurus-jurus Sin Wan Kun, alia Wie Sin Siansu jadi mengkerut.
"Hentikan !" perintahnya. Giok Han kaget dan heran, dia berhenti bersilat. Wie Sin Siansu menghampiri. Muka pendeta ini tampak keheranan.
"Tadi kau membawakan jurus "Sin Wan Tho Ko" (Kera Sakti Mencuri Buah) dari "Sin Wan Kun", Tapi mengapa cara bergeraknya berobah dari yang kuajarkan ?"
Jika yang benar harus dari kiri berputar setengah lingkaran sambil menggeser kaki kanan, tangan kiri menyerang ke depan, ke dada lawan. Tapi kau melakukannya sebalik nya, mengapa begitu"?"
Giok Han menunduk, belum pernah dia melihat gurunya marah seperti itu. "Tecu memang telah merobah gerakan jurus tersebut Suhu..."
"Kau yang merobahnya ?" tanya Wie Sin Siansu, alisnya tambah berkerut Jelas pendeta tua ini merasa tidak senang.
Giok Han mengangguk. "Benar Suhu, Susiokcouw yang memberikan petunjuk agar tecu merobah arah gerakan jurus-jurus Sin Wan Kun, karena terdapat kelemahan pada setiap gerak Sin Wan Kun yang perlu memperoleh perbaikan. Susiokcouw pun bilang bahwa sebetulnya Sin Wan Kun bukan hanya 13 jurus, melainkan 20 jurus. 7 jurus sisanya nanti akan diajarkan langsung olch Susiokcouw."
Wie Sin Siansu tampak semakin keheranan. Dia mengawasi Wie Kie Siansu dan yang lainnya. Merekapun tampaknya keheranan. "Apakah kau tidak berdusta ?" tanya Wie Sin S;ansu pada Giok Han.
Giok Han cepat-cepat berlutut di depan Wie Sin Siansu: "Mana berani tecu berbohong pada Suhu... apa yang tecu jelaskan tadi memang yang sebenarnya, nanti Suhu bisa menanyakannya pada Susiokcouw..!"
Wie Sin Siansu mengangguk, wajahnya berobah sabar kembali. "Baiklah. mungkin Susiokcouwmu mempunyai pertimbangan lain mengenai ilmu silat itu. Baiklah, mari kita pergi menemui Hongthio." Mereka segera masuk kedalam kuil. Pendeta muda telah melaporkan kepada Tang Sin Siansu perihal kembalinya Wie Sin Siansu dengan para sute nya, segera Hongthio Siauw Lim Sie menyambut keluar, diruang utama kuil Siauw Lim Sie.
Wie Sin Siansu bersama adik-adik seperguruannya memberi hormat kepada hongthionya, kemudian mereka melaporkan perihal bentrokan yang terjadi dengan Cu Lie Seng dan juga perihal munculnya See-mo Tong-mo, Pak-mo dan Lam-mo. empat dedengkot iblis, yang tampaknya mereka bisa bekerja saling bahu membahu dibawah pimpinan seseorang.
Muka Tang Sin Siansu jadi berobah guram. Cu Lie Seng putera Cu Kongkong Thaykam ?"
"Benar, Hongthio." Mengangguk Wie Sin Siansu. "kepandaiannya tidak terlalu tinggi tetapi See-mo, Tong-mo, Pak-mo dan Lam mo berempat bertindak sebagai pelindungnya, Kami dirintangi oleh mereka. Malah menurut hasil penyelidikan kami, disamping See-mo berempat, ada seseorang yang kepandaiannya luar biasa, yang bisa menguasai dan menaklukan keempat dedengkos iblis itu, yang dipersatukan, untuk menjadt pengikutnya. Tapi kami belum mengetahui jelas, entah siapa orang yang berhasil mengendalikan keempat dedengkot iblis tersebut, hanya dapat dipastikan bukan Cu Lie Seng."
"Omitohud ! Omitohud !" memuji Tang Sin S'ansu dengan muka muram, Tang Lu dan Tang Lang Siansu yang baru datang. mendengarkan kembali laporan Wie Sin Siansu. Merekapun terkejut, malah Tang Lu Siansu bertanya: "Jadi empat dedengkot itu sudah bekerja sama untuk seseorang ?"
Wie Sin Siansu mengangguk. "Benar. Biasanya empat dedengkot iblis itu saling berlomba, bersaing satu dengan yang Iain tanpa pernah mau saling mengalah ! Namun sekarang mereka sekaligus empat dedengkot iblis dari empat wilayah kekuasaan masing-masing, telah dapat dikumpulkan dan dikendalikan oleh seseorang, sehingga mereka berempat tidak saling berlomba lagi, malah bisa bekerja sama untuk menentang siapa saja yang menjadi musuh mereka."
Tang Lu Siansu menghela napas, menoleh kepada Tang Sin Siansu. "Suheng, apakah tidak mungkin orang yang menguasai dan mengendalikan keempat dedengkot iblis itu adalah DIA ."
Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam, "Mungkin juga DIA, mungkin juga bukan. Tetapi, kini tampaknya kita mulai akan menghadapi kesulitan, Siauvv Lim Sie akan menerima ujian...! Berurusan dengan Cu Thaykam bukanlah persoalan kecil, karena berurusan dengan Thaykam itu sama saja berurusan dengan pemerintah dan berurusan dengan pemerintah akan mendatangkan, kesulitan yang tidak kecil ! Selama ini Siauw Lim Sie berusaha membatasi diri tidak pernah mencampuri segala persoalan di luar Siauw Lim Sie, hal itu untuk mencegah terjadi bentrokan dengan pihak pemerintah.. Tapi siapa sangka, tampaknya kini hal itu sulit untuk dihindarkan. Dengan adanya niat mengadu dombakan Siauw Lim Sie dengan Bu Tong Pay, memang ada orang-orang yang bermaksud buruk pada Siauw Lim Sie, yang pasti tidak akan berhenti sampai disini saja, masih akan ada ekornya ..."
Setelah berkata begitu Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam dia menoleh kepada Wie Sin Siansu, menceritakan apa yang terjadi pada Tang Bun Siansu, juga memberitahukan perihal dugaannya pada pelakunya tidak lain Tang San Siansu. Wie Sin Siansu beramai terkejut, tapi mereka ber-diam diri tidak berani berkomentar apa-apa.
"MuIai sekarang," kata Tang Sin Siansu- "Kita harus lebih hati-hati. Hindarkanlah bentrokan dengan pihak manapun. Wie Sin kau beritahukan murid-murid lain, untuk membatasi diri jangan melakukan kegiatan apapun diluar kuil! !"
"Baik, Hongthio ! menyahuti Wie Sin Siansu. "Perintah akan kujalankan segera." Segera Wie Sin Siansu dengan sute-sutenya mengundurkan diri. Tang Lu dan Tang Lang pun meninggalkan ruangan itu setelah berunding beberapa saat dengan Tang Sin Siansu.
Melihat yang lainnya sudah mengundurkan diri, Giok Han pun bermaksud mengundurkan diri. Tang Sin Siansu tiba-tiba menoleh kepadanya, melambaikan tangannya. "Kemari kau Giok Han !"
Giok Han menghampiri dengan sikap hormat.
"Giok Han," kata Tang Sin Siansu, suaranya jadi sabar. "Peristiwa telah berkembang sedemikian rupa, maka Loceng harap kau lebih tekun dan giat melatih Sin Beng Kun ! Harapan Loceng hanya padamu, kelak setelah dewasa bisa menjaga nama baik Siauw Lim Sie. Besok akan Loceng beritahukan kepada gurumu, Wei Sin, agar sementara dia menghentikan pengajaran padamu, memberikan kesempatan sepenuhnya kepadamu melatih Sin Beng Kun. Tetapi, Loceng harap kau tidak mengecewakan harapan kami!"
Giok Han cepat-cepat berlutut. "Tecu akan memperhatikan setiap petunjuk dan berusaha tidak mengecewakan harapan Susiok-couw !"
"Bagus ! Berdirilah I" perintah Tang Sin Siansu. "Perhatikanlah, Loceng akan menurunkan sejurus lagi dari ilmu pukulan Sin Beng Kun!" Kemudian Tang Sin Siansu mulai bergerak sangat lincah, memberikan petunjuk I epada Giok Han. Dengan penuh perhatian Giok Han memperhatikan cermat sekali. Kemudian Tang Sin Siansu perintahkan Giok Han mengikuti setiap gerakan yang dilakukannya, anak itu bisa mengikutinya dengan baik.
Tang Sin Siansu tampak puas. "Pergilah kau berlatih lagi !"
Giok Han membungkuk memberi hormat dia ingin mengundurkan diti. Namun sebelum Giok Han meninggalkan ruangan tersebut, masuk seorang pendeta muda, melaporkan diluar kuil ada seorang pengemis yang mengaku sebagai murid Kaypang, ingin bertemu dengan Tang Sin Siansu.
Alis Tang Sin Siansu mengkerut, dia heran apa maksud kunjungan murid Kaypang, itu. Malah pendeta tua itu sudah menduga pasti ada persoalan baru yang dibawa pengemis Kaypang itu.
"Perintahkan dia masuk !" kata Tang Sin Siansu akhirnya.
Ternyata pengemis Kaypang itu tidak lain dari Thian Sin Cu Mukanya pucat pias, sekali lihat Tang Sin Siansu tahu bahwa pengemis ini tengah menderita luka di dalam yang parah.
"Kiesu (pendekar) apa yang terjadi padamu ?" tanya Tang Sin Siansu bimbang.
Mengetahui di depannva adalah Tang Sin Siansu. Hongthio Siauw Lim Sie. Thian Sin Cu memberi hormat, Lalu dia menceritakan apa yang dialaminya, pertemuannya dengan Tung Yang dan Tung Irn, pesan yang diminta Tung Yang agar disampaikan kepada pimpinan Siauw Lim Sie tersebut.
"Liong-kak! Ooooh. persoalan itu tampaknya menjadi persoalan yang cukup penting !" mengguman Tang Sin Siansu tambah guram mukanya. "Siancai. Terima kasih atas berita yang dibawa Kiesu. Luka Kiesu tampaknya tidak ringan, lebih baik beristirahat dulu !" Tang Sin Siansu kemudian perintahkan pendeta muda yang tadi memberi tahukan kedatangan Thian Sin Cu agar membawa sang tamu ke sebuah kamar tamu, agar Thian Sin Cu bisa bisa beristirahat. la pun memberikan obat kepada Thian Sin Cu.
Seminggu lamanya Thian Sin Cu beristirahat di kuil Siauw Lim Sie. Kesehatannya berangsur membaik karena obat yang diberikan Tang Sin Siansu mujarab sekali. Dalam kesempatan hal banyak yang diceritakan Thian Sin Cu pada Hongthio Siauw Lim Sie, apa yang telah dialaminya, "Sebetulnya Taysu, cukup membingungkan juga Tung Yang Taihiap bersama isterinya yahg berkepandaian tinggi bisa dianiaya seperti itu, sampai menemui ajal mereka !" kata Thian Sin Cu dalam suatu kesempatan bercakap-cakap dengan ketua Siaaw Lim Sie tersebut. "Benda apakah Liong Kak itu, Taysu ?"
"Omitohud ! Loceng sendiri belum mengetahui sebetulnya benda apakah Liong Kak (Cula Naga) itu ! Tadi Kiesu bicara perihal Poan Pian Thian, apa saja yang dikatakan padamu?"
"Dia tampaknya hanya memiliki satu tujuan, yaitu memperoleh kepastian bahwa Tung Yang berdua Tung Im sudah binasa. Kemudian dia pergi !"
"Tahukah Kiesu Poan Pian Thian bekerja untuk siapa?" tanya Tang Sin Siansu lagi.
Si pengemis menggeleng "Sampai sekarang perihal dedengkot iblis See mo, Pak-mo Lam mo dan Tong-mo pun belum lagi diketahui oleh kami bekerja untuk siapa, selain dugaan kami mereda berada di bawah pengaruhnya Cu Lie Seng pemuda iblis sangat kejam itu, putera Cu Thaykam ! Poan Pian Thian apakah bekerja untuk pemuda iblis Cu Lie Seng seperti keempat dedengkot iblis itu, belum kami ketahui !"
Tang Sin Siansu menghela napas dengan perasaan jengkel. Peristiwa berlangsung demikian beruntun, tampaknya ketenangan Siauw Lim Sie di waktu mendatang bisa dilanda oleh badai, dan gelombang.
Dua hari lagi Thian Sin Cu berdiam di kuil Siauw Lim Sie, kemudian dia pamitan. Tung Sin Siansu kirim salam buat Pangcu Kaypang.
Seperginya pengemis itu, Tang Sin Siansu mengumpulkan Tang Lu Siansu dan Tang Lang Siansu, untuk berunding. Mereka membicarakan Iangkah-langkah apa yang harus mereka tempuh, jika suatu saat badai menyerang Siauw Lim Sie. Wie Sin Siansu di-ajak ikut serta dalam perundingan itu.
Dengan sikap yang tenang dan langkah kaki satu-satu, tampak seorang lelaki tua berkumis dan jenggot panjang sudah berwarna putih tengah mendaki gunurg Siong-san. Mukanya dingin seperti mayat, tidak bersinar dan pucat kuning menakutkan. Mukanya yang kaku itu seperti tertawa tapi bukan tertawa, seperti menangis tapi pun bukan menangis. Dia melangkah terus dengan sikap seenaknya. Ketika bertemu dengan dua orang hweshio Siauw Lim Sie yang tengah turun gunung untuk pergi membeli keperluan dapur, orang yang seperti muka mayat itu tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. seakan tidak melihat kedua hweshio tersebut.
Kedua hweshio itu adalah pengurus dapur Siauw Lim Sie. Yang seorang Cie An Hweshio dan yang satunya lagi Gu Bie Hweshio. Mereka curiga melihat sikap orang asing yang mencirigakan ini. Cie An Hweshio melirik kepada temannya, memberi isyarat, kemudian melompat ke depan orang yang mukanya seperti mayat tersebut, Kedua tangannya dirangkapkan.
"Maaf, apakah Siecu ingin berkunjung ke Siauw Lim Sie untuk bersembahyang ?" tegurnya.
Orang bermuka seperti mayat mengawasi Cie An Hweshio dengan sorot mata dingin, dia tidak menyahuti, hanya meneruskan langkahnya, Sikapnya seperti tidak melihat si hweshio yang ada di depannya.
Cie An Hweshio mengerutkan keningnya. "Apakah orang ini tuli dan gagu?" pikirnya. Tapi dia masih berseru: "Sementara ini kuil kami tidak menerima tamu bersembahyang, karena kami sedang sibuk mengurus perbaikan ruang pemujaan !"
Tiba-tiba orang itu menghentikan langkah kakinya. "Apakah Tang Sin Siansu ada ?"
Pertanyaan itu tidak enak didengar oleh Cie An Hweshio maupun Gu Bie Hweshio. Selain pertanyaan itu cukup kasar, juga Hongthio mereka seperti diremehkan benar oleh orang tua bermuka seperti mayat ini.
Gu Bie Hweshio memang seorang berdarah panas. Dia memiliki tubuh yang kekar dan tegap. "Kalau Siecu tidak ada urusan penting, silahkan turun gunung. Sudah sebulan Hongthio kami tidak menerima tamu !"
"Tang Sin Siansu ada ?" masih orang itu bertanya dengan nada yang dingin tidak perdulikan Gu Cie Hweshio
"Oooo, benar-benar manusia tuli!" menggumam Gu Bie Hweshio mendongkol "Sudah pinceng beritahukan Hongthio kami sudah sebulan lebih tidak menerima tamu."
Muka orang itu tetap dingin. Dia merogoh sakunya. "Tapi sekali ini Tang Sin Siansu pasti mau menemuiku ! Bawalah surat namaku ini !" Dia memberikan selembar kartu nama lebar di mana tertulis di situ: "Poan Pian Thian hap tiauw ingin bertemu, harap Hongthio Siansu mau menerimaku."
Gu Bie Hweshio dan Cie An Hweshio saling pandang, kemudian Cie An Hweshio mengangguk. "Baiklah, tampaknya kau tidak percaya pada kami, masih ingin memaksa buat bertemu dengan Hongthio kami. Kalau nanti ditolak, kau jangan kecewa!" Setelah berkata begitu Cie An Hweshio berpesan pada Gu Bie Hweshio untuk menantinya di situ, dia sendiri pergi kembali ke kuil, untuk mengantarkan surat nama tamu yang aneh ini.
Tapi ketika Cie An Hweshio memutar tubuh, orang bermuka seperti mayat itu, yang di surat namanya tertulis sebagai Poan Pian Thian Yap Bauw ikut melangkah, Gu Sie Hweshio segera menghalanginya. "Kita tunggu di sini saja..."
Baru saja Gu Bie Hweshio berkata seperti itu, tahu-tahu dadanya kena dicengkeram Poan Pian Thian. Begitu cepat tangan orang she Yap tersebut, sampai Gu Bie Hweshio tidak bisa menghindarkan. Dadanya kena dicengkeram, kemudian digentak ke samping, tubuhnya disenderkan ke batang pohon "Kreekkkk." terdengar tulang iganya ada yang patah, dia menjerit kesakitan.
Cie An Hweshio kaget mendengar jeritan kawannya, menoleh. Dia tambah kaget. "He mengapa kau lukai Suhengku??" teriaknya sambil memutar tubuh untuk kembali. Tapi orang itu sangat gesit, tahu-tahu dia sudah menendang Gu Bie Hweshio dan berada di dekat Cie An Hweshio.
Tangan kirinya pun bergerak sama cepatnya seperti tadi, mencengkeram dada Cie An Hwesgio, menghentak kuat sekali kebatang pohon, terdengar suara "krekkkkk"", disusul jerit kesakitan Cie An Hweshio Sebetulnya Cie An Hweshio tadi hendak menghindar dari cengkeraman tangan Yap Bauw, tapi dia tidak berhasil, karena tangan itu bergerak terlalu cepat, tahu-tahu sudah mencengkeram dadanya dan tubuhnya kena ditarik keras, kemudian terdorong menyender dibatang pohon, tulang iganyapun ada yang patah, seperti yang dialami Gu Bie Hweshio.
"Ayo jalan " bentak Yap Bauw bengis, sambil melontarkan tubuh kedua Hweshio itu disusul dengan terlepasnya cengkeraman tangannya. Gu Bie Hweshio dan Cie An Hweshio terpelanting, mereka merasa dada masing-masing sakit bukan main, lalu bangkit berdiri.
"Kau... kau berani melukai orang disiang hari ?" Bentak Gu Bie Hweshio dengan suara tidak lancar.
"Jalan! Atau kalian hendak dihajar lebih dulu baru kedua kaki kalian mau melangkah?" bentak Poan Thian Yap Bauw bengis, mukanya yang dingin menakutkan seperti mayat hidup itu sangat mengerikan. Gu Bie Hweshio dan Cie An Hweshio penasaran dan gusar, tapi merekapun tak berdaya.
Tampaknya orang seperti mayat ini memang memiliki kepandaian tinggi, mereka pasti tidak mungkin bisa melawan. Keringat dingin mengucur deras membasahi baju mereka.
"Jalan !" bentak Poan Plan Thian Yap Bauw sama bengisnya seperti tadi.
Terpaksa Gu Bie dan Cie An Hweshio melangkah menuju ke kuil Siauw Lim Sie.
Poan Pian Thian Yap Biauw mengikuti di belakang, tidak sepatah perkataanmu yang diucapkannya, Mukanya tetap dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun.
Akhirnya mareka tiba di depan pintu kuil Siauw Lim Sie. gerbang pertama. Ada tiga orang hweshio yang tengah membersihkan pintu gerbang kuil. Mereka heran melihat dua orang saudara seperguruan mereka pulang dengan muka pucat pias dan mandi keringat dingin, di belakangnya mengikuti seorang bermuka menakutkan seperti mayat.
"Gu Bie kenapa kau?" tegur salah seorang diantara ketiga hweshio itu.
"Orang ini... orang ini menganiaya kami..." memberitahukan Gu Bie Hweshio sambil ingin berlari. Tapi tahu-tahu tengkuknya dirasakan sakit, karena telah dicengkeram jari-jari tangan kuat seperti baja, kemudian tubuhnya mengejang kaku kesakitan, cengkeraman itu seperti hendak menghancurkan tengkuknya, dia hanya megap-megap tidak bisa berkata apapun, untuk menjerit saja tidak bisa.
Cie An Hweshio pun ingin berlari, tapi sebelum kakinya bergerak, kaki kanan orang she Yap sudah menendang, segera tubuh Cie An terjungkel bergulingan di tanah sambil menjerit kesakitan.
Hebat cara datangnya Poan Pian Thian Yap Bauw ke Siauw Lim Sie, tidak banyak rewel main bunuh. Sedangkan orang lain untuk banyak tingkah di kuil Siauw Lim Sie akan berpikir sepuluh kali! Siauw Lim Sie merupakan pusat perguruan silat tertua di daratan Tionggoan, yang sangat dihormati oleh segala lapisan orang Kangouw.
Murid-murid Siauw Lim Sie pun umumnya merupakan pendeta-pendeta sakti berkepandaian tinggi yang tidak pernah menyombongkan kepandaian mereka, tapi juga tidak akan mudah diperhina. Tokoh-tokoh Kangouw umumnya menaruh hormat-hormat pada pendeta-pendeta Siauw Lim Sie.
Tapi sekarang Poan Pian Thian Yap Bauw sekaligus telah membunuh tiga hweshio di depan kuil Siauw Lim Sie, dalam sejarah persilatan memang inilah pertamakali terjadi ! Tangannya telengas, hatinya kejam dan akan membunuh kalau ada orang yang merintanginya, selalu membuktikan ancamannya tanpa banyak rewel.
Gu Bie Hweshio berdua Cie An Hwesfrro jadi gentar juga, karena tamu tak diundang ini tampaknya tak main-main dengan ancamannya. Segera mereka setengah berlari ke ruang dalam untuk mengantarkan surat-nama tamu yang ganas ini.
Yap Bauw tidak masuk lebih jauh, dia berdiri dipelataran kuil tersebut. Matanya bersinar dingin memandang sekeliling. Tidak lama ia menunggu, dari dalam tampak muncul beberapa orang hweshio, yang menghampiri padanya. "Omitohud ! Onitohud ! Ada keperluan apakah kiesu berkunjung kemari?"
Sabar suara seorang hweshio yang berjalan di depan hweshio-hweshio lainnya. Dia Wie Sin Siasu, sabar sekali suaranya, hanya matanya tajam luar biasa menatap tamu yang menurut laporan Gu Bie dan Cie An Hweshio merupakan orang yang ganas bukan main.
"Aku ingin bicara dengan Tang Sin Hongthio," menyahuti Yap Bauw dingin, mukanya tetap tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. "Suruh dia yang keluar menyambutku ! "
Wie Sin Siansu merangkapkan kedua tangannya. "Siancai. Hongthio kami kebetulan berhalangan untuk menyambut tamu, karena tengah menyepi diri. Sungguh tidak kebetulan kedatangan Kiesu. Bolehkah Loceng mengetahui nama harum Kiesu, agar nanti setelah Hongthio selesai menyepi, dapat Loceng beritahukan perihal kunjungan Kiesu?"
Alis Yap Bauw mengkerut, mukanya yang memang bengis semakin tidak sedap dilihat.
"Kalian hweshio-hwesio Siauw Lim Sie memang terlalu bertingkah dan banyak tetek-bengek dengan segala peraturan menjemukan! Sudah kuberitahukan tadi aku ingin bicara dengan Tang Sin Hongthio, tidak mungkin aku bicara dengan kau."
Gu Bie Hweshio menghampiri Wie Sin Siansu menyodorkan surat-nama Yap Bauw. Wie Sin Siansu membaca surat-nama, mukanya berobah, tapi segera pulih kembali ketenangannya. "Ah. tidak tahunya Poan Pian Thian Yap Bauw, Yap Kiesu." kata Wie Sin Siansu kemudian.
"Maukah Kiesu memberitahukan urusan apa yang hendak Kiesu bicarakan, sekarang ini Loceng yang mewakili Hongthio menerima tamu !"
Mata Yap Bauw mencilak. "Kau terlalu rewel!" dengusnya, dia melangkah ke depan, tangan kanannya mendorong ke dada Wie Sin Siansu. "Minggir, biar aku pergi menemui Hongthio kalian ! "
Omitohud !" memuji Wie Sin Siansu terhadap kebesaran Sang Budha. Dia merasakan dorongan tangan Yap Bauw kuat sekali, juga mengandung hawa yang panas, dia tidak menyambuti, hanya menyedot hawa udara sampai dadanya naik dan perutnya kempis, hanya terpisah satu dim, telapak tangan Yap Bauw tak berhasil mengenai dada si pendeta.
Tapi Yap Bauw tidak berhenti di situ, tangannya tahu-tahu seperti bisa panjang, dia mendorong dengan membungkukkan sedikit tubuhnya, melanjutkan dorongan yang pertama, tenaganya malah semakin kuat !
Kaget Wie Sin Siansu, tak sempat berpikir lagi terpaksa pendeta tua Siauw Lim Sie ini harus menangkis tangan Yap Bauw. Tidak terdengar suara bentrokan, hanya tampak tangan Bauw dengan Wie Sin Siansu saling bentrok, perlahan kelihatannya, tapi dahsyat tenaga mereka yang beradu, karena keduanya mempergunakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi. Wic Sin Siansu menggigil, mukanya berobah pucat dan dia mundur satu langkah. Yap Bauw tertawa dingin, juga mundur selangkah.
Bagi yang kepandaiannya sedang-sedang saja, tentu menyangka kepandaian Yap Bauw berimbang dengan khikang Wie Sin Siansu. Namun bagi yang bermata tajam, segera bisa melihat bahwa Wie Sin Siansu masih berada satu tingkat di bawah khikang Poan Pian Thian Yap Bauw.
Mengapa bisa begitu ? Karena Wie Sin Siansu mundur melangkah akibat serangan Yap Biauw, kuda-kuda kaki si pendeta kena digempur. Tapi Yap Bauw mundur hanya untuk mencari posisi yang baik, ia kuatir si hweshio balas menyerangnya, Tadi Yap Bauw cuma merasakan tangannya tergetar dan cadanya panas, tapi dia tidak sampai tergempur kuda-kuda kedua kakinya
Bagi orang-orang yang sudah memiliki ilmu tinggi, dalam sekali gebrak saja sudah bisa mengetahui dan menakar kepandaian lawan.
Kaget Wie Sin Siansu. Memang dia sering mendengar perihal Poan Pian Thian Yap Bauw, si Se enrali Langit, yang kabarnya menrupakan memedi tunggal berkepandaian tinggi dan sepak terjangnya aneh tak bisa diduga, sejauh ini ia belum pernah bertemu muka dengan memedi tunggal itu, baru sekarang mereka beradu tangan.
Ternyata khikang memedi tunggal itu memang sangat tinggi, Wie Sin Siansu sadar, jika ia memaksakan diri menghadapi Yap Biauw, mungkin ia tidak sampai rubuh di tangan Yap Biauw, tapi kemungkinan mereka berdua bisa rusak sendirinya, terluka bersama.
Walaupun Yap Bauw sudah mengetahui tenaga dalam Wie Sin Siansu masih kalah seangka dengan khikangnya, dia tidak berani ceroboh. Di luar dia tampak dingin tak berperasaan, sebetulnya hati Yap Bauw kaget.
Dia sudah memiliki lwekang demikian tinggi belum lagi Tang Sin, Tang Lu dan Tang Lang bertiga keluar mengepungku dibantu oleh pendeta-pendeta tingkat kedua dan ketiga.
"Biar aku iumbuh sayap, rasanya sulit menghadapi mereka!" Pikir Yap Biauw. Karena berpikir begitu, dia mengambil sikap lain, tidak menyusuli dengan serangan lagi.
"Aku membawa berita buat Tang Sin Hongthio dari Tang San Siansu," bilang Yap Bauw kemudian.
Kaget Wie Siansu, sejenak dia tertegun. Kemudian dia menyuruh. "Silahkan Yap Kiesu beritahukan kepada Loceng, nanti Loceng menyampaikannya kepada Hongthio !"
"Pesan itu hanya bisa disampaikan kepada Tang Sin Hongthio, tidak boleh dititipkan kepada orang lain !" dingin sekali suaru Yap Bauw.
Wie Sin Siansu jadi sulit kedudukannya. "Dia tahu, kalau saudara-saudara seperguruannya mengepung tamu tak kenal aturan dan ganas ini mungkin ia dengan kawan-kawannya bisa merebut kemenangan, Namun itulah perbuatan yang terpuji. Sedangkan tadi Tan Sin Siansu sudah perintahkan kepadanya agar ia bersama saudara seperguruannya yang menyambut tamu.
Urusan demikian penting, padahal pesan Tang San Siansu, Toa-susiok-nya. Dengan membuat Wie Sin Siansu dalam sejenak bimbang tak bisa mengambil keputusan.
"Kalau memang Tang Sin Hongthio tidak mau menemuiku menerima pesan yang dititipkan Tang San Siansu padaku, biarlah-Jika kelak di kemudian hari terjadi sesuatu, jangan mengatakan kami tak kenal aturan tanpa memberitahukan terlebih dulu ! inipun dilakukan Tang San Siansu mengingat bahwa antara dia dengan kalian dari Siauw Lim Sie masih ada ikatan perguruan !" Mendesak Poan Pian Thian Yap Bauw, dingin suaranya.
Tergerak We Sin Siansu, dia menoleh pada We Khie Siansu, mengisyaratkan untuk melapor ke dalam. Lalu dia sendiri menghadapi Yap Bauw. "Siancai. tunggulah sebentar, apakah Hongthio bersedia menyambut tamu atau menolak, itu terserah atas keputusan Hongthio."
Yap Biauw mendengus. Sikapnya benar-benar tidak memandang sebelah mata pada pendeta-pendeta Siauw Lim Sie, seakan di dunia ini hanya dia satu-satunya yang memiliki kepandaian tertinggi. Sikapnya membuat pendeta-pendeta Siauw Lim Sie yang ada di situ mendongkol.
Wie Khie Siansu tak lama kemudian keluar, diikuti oleh tiga orang hweshio, yaitu Tang Sin, Tang lu, dan Tang Lang Siansu. Muka Tang Sin Siansu bertiga guram sekali. "Siancai, ada pesan apakah yang dititipkan Tang San Toa-suheng kepada Kiesu ?" Tanya Tang Sin Siansu dengan muka guram, setelah berada dipelataran kuil.
Hati Yap Bauw bergetar juga melihat mata pendeta alim yang sudah berkumis jenggot putih, yang tajam luar biasa. Sikapnya tenang berwibawa. Sinar matanya itu menunjukkan latihan khikang Tang Sin Siansu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali.
"Tang San Siansu berpesan, mengingat akan persaudaraan yang pernah terhalang antara dia dengan kalian pendeta-pendeta Siauw Lim Sie, maka diharap kalian memberi muka kepadanya, mengundangnya pulang ke Siauw Lim Sie, menyerahkan hak dan kedudukan yang seharusnya menjadi miliknya !" Bilang Poan pian Thian dengan suara tawar.
Muka Tang Sin Siansu bertiga Tang Lu dan Tang Lang Siansu berobah, cepat Tang Sin Siansu bisa mengendalikan perasaannya. "Omi-tohud ! Omitohud ! Jika Tang San Toasuheng mau kembali ke Siauw Lim Sie, itulah berita yang sangat menggembirakan ! Kami akan bahagia menerima pulangnya Tang San Toasuheng. Beritahukanlah begitu padanya, Tapi bicara tentang hak-hak dan kedudukan, itu bisa nanti dibicarakan oleh kami bersama-sama, itu urusan dalam pintu perguruan kami yang tidak memungkinkan Loceng bicara dengan Kiesu."
Baru saja kata-kata Tang Sin Siansu selesai, lengan jubah kanannya mengibas. Yap Bauw kaget, serangkum angin menerjang padanya. Jarak mereka terpisah cukup jauh, tapi angin kibasan lengan jubah Tang Sin Siansu menyambar sangat dahsyat. Cepat-cepat Yap Bauw mengerahkan khikangnya dan balas mendorong. Kakinya menggigil keras, bahkan telapak kakinya melesak ke-dalam lantai pelajaran satu dim, batu lantai retak pecah!
"Silahkan Kiesu memberitahukan pada Tang San Toasuheng apa yang telah jadi jawaban kami!" kata Tang Sin Siansu lagi, sikapnya seperti tidak terjadi sesuatu, tenang sekali.
Yap Bauw mengeluarkan keringat dingin. Luar biasa tenaga dalam pendeta tua ini, sekali mengibas dari jarak terpisah cukup jauh bisa mengeluarkan khikang begitu dahsyat. Jelas, ia tidak boleh main-main. Benar dia tidak sampai tergempur kuda-kudanya kedua kakinya, dirinya juga tidak sampai celaka, tokh tadi dia sudah memusatkan sebagian terbesar tenaga khikangnya baru bisa mempertahankan kedudukan kedua kakinya!
Sejenak Yap Bauw terdiam, keringat dingin dihapus, baru kemudian dia bilang dengan suara tidak sedingin dan sesombong tadi: "Tang San Siansu berperan untuk minta jawaban yang tegas. Taysu cukup memberikan jawaban "Ya" atau "Tidak". Kalau menolak bilang menolak, kalau menerima beritahukan memang menerima, jangan bertele-tele."
"Omitohud ! Omitohud! Tang San Taysu-heng adalah saudara seperguruan kami, kami menghormatinya. Segala sesuatu nanti bisa bicarakan bersama. Nah, apakah Kiesu sudah tak ada pesan lain dari Toasuheng kami?" Mata Tang Sin Hweshio tajam sekali memandang Yap Bauw.
Biji mata pendeta itu, yang sikapnya tenang, tapi sinarnya melebihi mata pisau, membuat hati Yap Bauw tergetar juga akan keangkeran sikap Hongthio Siauw Lim Sie tersebut. Dia menggeleng.
"Baiklah, nanti pesan Taysu akan kusampaikan padanya," kata Yap Bauw, dia memancang hwesio-hweshio lain yang tengah mengawasi padanya dengan sikap murka. Hatinya mendadak tergetar lagi, Jadi ciut. Kalau sampai Hongthio Siauw Lim Sie turun tangan, dibantu oleh Tang Lu maupun Tang Lang Siansu dan hweshio-hweshio Siauw Lim Sie lainnya, biar pun ia memiliki lima kepala dan sepuluh tangan, tidak nanti dia bisa meninggalkan kuil Siauw Lim Sie. Hal itu disadarinya dengan mendadak, menurun kesombongannya. Dia memutar badannya hendak berlalu.
"Tunggu dulu !" mendadak dibelakang Yao Bauw berkesiur angin dingin menyertai bentakan itu. Yap Bauw mendadak untuk menghindarkan pukulan itu, dia menangkis dengan tangan kanannya, tapi dia kecele, menangkis tempat kosong.
Tahu-tahu pinggangnya sakit, dia sampai meringis, dan menyusul kuda-kudanya tergempur, tubuhnya terhuyung sampai beberapa langkah, namun tidak sampai ter-jungkel.
Kaget bukan main Yap Bauw, itulah perbuatan Tang Sin Siansu yang menyerangnya dari jarak jauh dengan ilmu pukulan " Coan Kang Cok Tek" (Dengan gelombang Khikang Merobohkan Musuh). semacam ilmu Siauw Lim Sie yang terkenal !
Dengan "Coan Kang Cok Tek" musuh dapat diserang dari jarak cukup jauh, hanya menyalurkan khikang belaka. Akibat pukulan itu bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan pukulan langsung. Cuma, orang yang bisa mempergunakan jurus-jurus "Coan Kang Cok Tek" harus memiliki khikang tinggi, jika tidak jangan harap bisa mempelajari ilmu hebat Siauw Lim Sie yang satu itu.
Tang Sin Siansu merupakan Hongthio Siauw Lim Sie, Khikangnya sulit diukur lagi, dia sudah melatih baik sekali " Coan Kang Cok Tek". Melihat Yap Bauw hendak meninggalkan Siauw Lim Sie begitu saja, sepontan ia mengibas dengan tangan kanannya, dari lengan bajunya menyambar khikang yang tersalur karena mempergunakan "Coan Kang Cok Tek" memang kesudahannya membuat Yap Bauw kaget sekali. Ketika dia menoleh, dilihatnya Tang Sin Siansu berdiri angker mengawasinya, sikapnya luar biasa.
"Yap Kiesu, kau sudah menyampaikaa pesan yang dititipkan oleh Toasuheng kami, Tapi yang belum dipertanggungjawabkan oleh Kiesu ialah kelakuan Kiesu yang mengacau di kuil kami. Apakah setelah membunuh tiga orang murid kami, Kiesu mau berangkat begitu saja ? Omitohud! Omitohud !" Sabar suara Tang Sin Siansu, tapi sikapnya angker berwibawa, menunjukkan ia serius sekali dalam persoalan ini.
Yap Bauw mengerutkan alis, mukanya yang dingin jadi semakin dingin, walaupun hatinya berdebar juga menyaksikan keangkeran Hongthio Siauw Lim Sie. la bisa memahami makna perkataan Hongthio tersebut yang ingin menahannya.
" Apa yang Hongthio kehendaki dariku ? Apakah Hongihio hendak mempergunakan tenaga banyak buat menahanku? Silahkan! Aku akan menerima dengan senang hati" Sengaja Yap Bauw mengejek menantang seperti itu.
"Omitohud! Omitohud! Kami mana boleh bertindak seperti itu? Kami selalu diharuskan bertindak dengan penuh welas-asih, harus memberikan contoh-contoh yang baik, Siancai! Tak mungkin kami bertindak serendah itu! Loceng hanya ingin minta pertanggungan jawab Kiesu terhada ketiga murid Siauw Lim Sie yang telah dicelakai Kiesu !" Mata Tang Sin Siansu tak berkedip, mengawasi tajam Yap Bauw.
Bergidik juga Yap Biauw ditatap begitu oleh Tang Sin Siansu, Tadi ia sudah merasakan tenaga khikang hweshio ini luar biasa. Memang ia tidak jeri, hanya ia kuatir kalau nanti dirinya masuk dalam lingkaran pengepungan pendeta-pendeta Siauw Lim Sie yang bisa saja mempersulit dirinya.
Benar tidak mungkin ia merubuhkan Tang Sin Siansu, mengingat lwekang hwesio itu lebih menang darinya, hanya dia memiliki ilmu istimewa andalannya, yaitu ginkang yang bernama "Touw Sui Tauw Su" (Menenun Menginjak Rumput) semacam ginkang kelas tinggi yang jarang sekali tertandingi dalam kalangan Kangouw.
Yap Biauw justeru angkat nama besarnya dengan mengandalkan ginkang "Touw Sui Tauw Su"-nya tersebut, di mana dia bisa berlari dan bergerak melebihi kecepatan kilat!
Betul "Coan Kang Cok Tek" Tang Sin Siansu lihai melebihi dari ilmu umum "Pek Kong Ciang" (Pukulan Udara Kosong), rasanya untuk bisa meloloskan diri Yap Bauw masih bisa, dia mungkin saja melayani si pendeta alim itu dengan ginkangnya yang sangat tinggi, dan mencari kesempatan buat meloloskan diri.
Tapi kalau sampai dia tergulung dalam kepungan pendeta-pendeta Siauw Lim Sie. biarpun dia tumbuh sayap tentu tidak mungkin bisa meninggalkan Siauw Lim Sie!
Setelah menenangkan goncangan hatinya. Yap Bauw tertawa dingin mukanya yang mengerikan tarabah menyeramkan "Jadi apa yang Hongthio kehendaki ? Jiwaku ? Hutang jiwa ganti jiwa, begitu?"
"Omitohud ! Omitohud ! Sedapat mungkin kami menjauhi permusuhan ataupun dari mengalirnya darah Tapi tadi Kiesu sudak turunkan tangan berdosa kepada tiga murid kami, Kiesu harus mempertanggungjawab-kannya ! Loceng mengingat kebesaran Sang Buddha akan memberikan kesempatan pada Kiesu menyambuti tiga pukulan, kalau K'esu sanggup menerimanya, itulah nasib Kiesu masih dilindungi Sang Buddha, tapi kalau bercelaka itupun tanda dosa Kiesu sudah tak ber-ampun melewati takaran."
Diam-diam Yap Bauw girang. Bagaimana lihainya Tang Sin Siansu, tapi kalau hanya menerima tiga pukulannya apa sulitnya. Dia yakin bisa menyambutinya. Tidak perlu keras dilawan keras. Dia bisa mengandalkan ginkangnya yang luar biasa untuk mengelak dan memunahkan tiga serangan Hongthio Siauw Lim Sie itu, Tanpa pikir panjang Yap Bauw mengangguk. "Baiklah!", katanya "Silahkan Taysu memberi petunjuk ! "
Tidak ada senyum di muka Tang Sin-Siansu, dia melangkah mendekati Yap Bauw, yang waktu itu sudah bersiap-siap menerima serangan Hongthio Siauw Lim Sie tersebut. Pendeta-Pendeta Siauw Lim Sie pun mengawasi dengan tajam. Mereka ingin melihat bagaimana caranya Hongthio mereka memberikan pengajaran kepada tamu yang ganas ini.
"Sudan bersiap, Kiesu ? Loceng akan mulai dengan pukulan pertama !" Memberitahu Tang Sin Siansu,
Yap Bauw tertawa dalam hati. "Hemmm", kepala botak, kau terlalu sombong! Dengan cara menyerang memberitahukan lebih dulu begitu, apa yang kau bisa lakukan terhadapku !"
Tapi dia manggut2" Silahkan I" katanya.
Tang Sin Siansu mengibaskan lengan kirinya, lengan jubahnya yang kebesaran itu berkelebat ke arah Yap Bauw, tangan kanannya tampak bergerak lambat sekali akan mendorong dada Yap Bauw.
Yap Bauw jadi heran melihat cara menyerang Tang Sin Siansu. jurus biasa dari "Cap Pen Lo Han Kun" yang bernama "Lo Han Pe In" (Arhad Menyapu Awan) yang dikenal oleh setiap orang Bu-lim ( Rimba Persilatan ).
Heranlah Yap Bauw, Hongthio Siauw Lim Sie tidak membuka serangan dengan jurus simpanan Siauw Lim Sie, mengingat ia hanya memiliki tiga kali kesempatan menyerang padanya. Tenaga serangan itupun dirasakan lemah, hampir tidak terasa, selain gerak tangan Tang Sin Siansu lambat sekali.
Dengan tertawa mengejek Yap Bauw berkelit kekanan dengan jurus "Yauw Cu Hoan Sin"" (Elang Membalikkan Tubuhnya), dia mencelat ingin berada di sisi kanan pendeta alim itu. Menurut perhitungannya, gerakannya jauh lebih sebat dari Tang Sin Hongthio, tentu pendeta tua itu akan kecele menyerang tempat kosong, Namun kesudahannya Yap Bauw kaget sendirinya, sampai dia menjerit saking kagetnya.
Tangan Tang Sin Siansu yang bergerak lambat ini tahu-tahu berbelok dengan kelima jari tangan menunduk ke bawah, dan telah mendorong, Tenaganya memang tidak keras atau kuat, tapi begitu Yap Bauw mengibaskan menyampok tangan Hongthio Siauw Lim Sie, tangan mendatangnya seperti karet, disanggah kuat, semakin kuat tenaga mendorongnya, semangat Yap Bauw serasa terbang dan mukanya pucat.
"Dukkkk !" perlahan telapak tangan Tang Sin Siansu mengenai dada Yap Bauw, tapi dia terdorong sampai belasan langkah baru bisa berdiri tetap.
Bersambung ke jilid 14
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 13
Peristiwa Tai Giok siansu sudah menghukum murid kepalanya dan kemudian membutakan kedua matanya merupakan kejadian hebat yang pernah terjadi di Siau Lim Sie, dimana Tai Giok Siansu pergi meninggalkan kuil entah kemana tidak diketahui lagi.
Peristiwa tersebut dirahasiakan ketat sekali, hanya murid-murid Siauw Lim Sie yang mengetahui, dan itupun tidak pernah dibicarakan mereka. Menghilangnya Tang San Siansu dari tempat ia menjalani hukumanku di "Hie Lim" membuat Tang Sin Siansu dan yang lainnya jadi sibuk berusaha mencari si Toasuheng.
Tapi selama itu tidak juga berhasil menemukan jejak Tang San Siansu, yang menghilang dan tidak ada kabar beritanya. Entah dimana Tang San Siansu bersembunyi.
Sekarang melihat luka yang diderita Tang Bun Siansu, maka Tang Sin Siansu tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa luka itu akibat pukulan "Liong Beng Kun" dan yang paham "Liong Beng Kun" hanya Tang San Siansu, disamping guru mereka Tai Giok Siansu !
Tenaga pukulannya pun sangat mengejutkan, memperlihatkan latihan yang sudah tinggi sekali, mungkin Tang San Siansu sudah merampungkan latihan "Liong Beng Kun" nya.
Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam. "Ya, sute, kita memang hanya menantikan kedatangannya, dimana suatu saat kelak ia pasti muncul di hadapan kita !"
Tang Lang dan Tang Lu siansu menghela napas, mengundurkan diri. Tang Sin Siansu berdiri dengan muka berduka, mengawasi Tang Bun Siansu yang rebah di bantalan tikar di depannya, mulut Tang Bun Siansu masih terus menggumam dengan ocehan tidak karuan: "Liong-kak... Ya, Liong-kak telah muncul ..."
Tang Sin Siansu menunduk berduka, ia bersusah hati. Mendadak di kepalanya berkelebat serupa ingatan, mukanya sejenak menjadi terang, namun kemudian guram lagi dergan sepasang alis mengkerut. Dihampiri pintu, memanggil seorang hwesio muda "panggil Giok Han menghadap Loceng !" perintah Tang Sin Siansu.
Hwesio muda itu segera melaksanakan perintah. Giok Han tidak berani berayal menghadap Susiokcouwnya. Ketika sampai di kamar Susiokcouwnya, ia berdiri dengan sikap hormat. Tang Sin Siansu tengah mengawasi Tang Bun Siansu yang masih terus mengoceh tidak karuan.
"Susiokcouw... apakah ada perintah untukku?" tanya Giok Han dengan perasaan heran.
Tang Sin Siansu memutar tubuhnya, menghela napas wajahnya memancarkan kedukaan mendalam, sehingga tampaknya pendeta alim Hongthio Siauw Lim Sie ini bertambah tua melebihi dari usia sebenarnya. Belum pernah Giok Han melihat muka Susiokcouwnya seperti itu, karena biasanya berseri sehat dan memerah segar.
"Duduklah, Giok Han !" Tang Sin Siansu menunjuk ke tikar yang ada di depannya, dia sendiri duduk di tikar bersulam bunga teratai. "Ada yang ingin kubicarakan dengan kau."
Hati Giok Han diliputi tanda-tanya, tapi dia tidak berani rewel, cepat-cepat duduk di tikar yang satunya, menunggu apa yang akan diperintahkan Susiokcouwnya.
Tang Sin Siansu mengawasi Giok Han. Anak ini masih kanak-kanak, masih kecil sekali. Apa mungkin harapannya bisa diletakkan pada pundak anak ini? Tapi, mengingat Giok Han sangat cerdas, masih ada harapan yang bisa dijadikan pegangan dalam kesulitannya ini.
Diawasi oleh Susiokcuwnya seperti itu, Giok Han jadi kikuk dan hatinya semakin tidak tenang. Belum pernah Susiokcouwnya mengawasinya seperti sekali ini. Sinar mata Hongthio itupun sangat tajam, sehingga Giok Han menunduk dengan hati agak menggigil-Sinar mata itu seperti hendak menyusup ke dalam hati Giok Han.
"Sudah setahun kau menjadi murid pintu perguruan ini," tiba-tiba Tang Sin Siansu memecahkan kesunyian. "Selama itu tampak jelas kau tekun berlatih diri."
"Ya, Susiokcouw... berkat petunjuk Susiokcouw dan Suhu..." menyahuti Giok Han ragu-ragu, katena dia belum mengetahui apa maksud Susiokcouwnya memanggilnya menghadap.
"Apakah selama setahun ini ksu sudah mempelajari cukup ilmu silat Siauw Lim ?" tanya Tang Sin Siansu.
Tidak berayal lagi Giok Han berlutut.
"Tecu mohon petunjuk Susiokcouw mungkin selama ini Tecu melakukan suatu kesalahan!"
Tang Sin Siansu menghela napas.
"Duduklah, Giok Han !" sabar suaranya, mukanya tidak kaku seperti tadi. Setelah Giok Han duduk kembali, Tang Sin Siansu melanjutkan perkataannya: "Sebagai murid Siauw Lim Sie, tentu cita-citamu ingin mempelajari ilmu silat Siauw Lim Sie yang tertinggi, bukan ?"
"Benar, Susiokcouw."
"Tetapi tahukah kau bahwa Siauw Lim Sie memiliki 108 macam ilmu silat, yang setiap muridnya tidak mungkin bisa mempelajari sekaligus ilmu-ilmu itu yang beraneka ragam. Paling banyak hanya satu dua macam ilmu silat Siauw Lim Sie yang dipilih untuk diyakini dan dilatih sampai sempurna, itupun sudah lebih dari cukup sehingga dalam kalangan Kangouw sulit orang menandinginya. Jika kau bercita-cita mempelajari ilmu silat Siauw Lim Sie yang tertinggi, berarti kau harus memilih satu dari 108 macam ilmu silat Siauw Lim Sie. kemudian melatihnya sebaik mungkin, pasti kelak kau bisa memperoleh kemahiran dan kesempurnaan untuk ilmu silatmu. Tapi jika kau mempelajari bermacam-macam ilmu silat Siauw Lim, tidak satupun pada akhirnya yang bisa kau yakini dengan mahir. Kau mengerti, Giok Hm ?"
"Mengerti, Susiokcouw."
"Sudah berapa jauh gurumu mengnjrrkan ilmu silat Siauw Lim kepadamu?" tanya Tang Sin Siansu. "Coba kau jalankan untuk Lo-ceng lihat. sampai dimana kemajuan yang sudah kau peroleh !"
Giok Han tidak berani berayal, dia memberi hormat kepada Susiolcouwnya, kemudian menjalankan ilmu pukulan dasar Siauw Lim Sie yang bernama Cap Peh Lo Han Kun, setelah selesai menjalani seluruh Jurus Cap Peh Lo Han Kun yang berjumlah 108 jurus ini, Giok Han menyusuli dengan jurus-jurus Sin Wan Kun, kemudian disusul dengan Tat Mo Kun hoat.
Tang Sin Siansu mengawasi dengan cermat, mukanya tampak terang sejenak, karena dilihatnya walaupun masih kecil, Giok Han sudah bisa menjalankan jurus-jurus Cap Peh Lo Han Kun, Sin Wan Kun maupun Tat Mo Kunhoat dengan baik. Hanya yang kurang adalah tenaganya, karena itu pukulan-pukulan yang dilakukan Giok Han seperti kembang-ilmu silat Cap Peh Lo Han Kun, Sin Wan Kun maupun Tat Mo Kun-hoat. merupakan ilmu pukulan yang hebat, tapi masih kosong di dalam karena tiaak disertai oleh kekuatan berarti !
Setelah membawakan jurus-jurus ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari Wie Sin Siansu. Giok Han berlutut di depan Tang Sin Siansu sambil menganggukkan kepalanya. "Harap Susiokcauw mau memberikan petunjuk pada tecu...!"
"Ya, akan kupenuhi keinginanmu !" kata Tang Sin Siansu sambil mengulurkan tangan kanannya. "Kau sambuti tangan Loceng !"
Giok Han terkesiap kaget tak terhingga, karena ia merasakan dari tangan Hongthio Siauw Lim Sie mengalir hawa yang panas luar biasa kepundaknya.
Dia tengah berlutut, sekarang pundaknya hendak ditepuk oleh Susiokcouw, dia kaget namun tidak berani mengelak. Dia diam saja, cuma merasa heran apa sebetulnya yang diinginkan Susiokcouw ini.
Melihat Giok Han tetap berlutut tidak memberikan reaksi atas serangannya, Tang Sin Siansu menahan tangannya. "Sambuti tangan Loceng !"
Giok Han ragu ragu, namun Tang Sin Siansu sudah membentak, sekali ini suaranja keras: "Ayo pergunakan ilmu silat yang telah kau pelajari !"
Kaget Giok Han dibentak begitu, terlebih lagi Tang Sin Siansu sudah meneruskan tangannya meluncur menyambar ke pundak Giok Han. Dia sampai merasakan kulit punggungnya seperti terbakar api karena hawa pukulan itu terlalu panas.
Tidak buang waktu lagi Giok Han menghindarkan pukulan tangan Tang Sin Siansu dengan memiringkan tubuh bagian atas keki-ri dan kanan terayun. Dia dalam keadaan berlutut, maka lututnya tetap dilantai, hanya bagian tubuh sebelah atas, mulai dari pinggang keatas, bergerak-gerak berayun kekiri kanan dengan jurus "Cun Ma Pun Coan" atau "Kuda Bagus Mengejar Mata Air", dia berusaha untuk mengelakkan. Tapi, tahu tahu punggungnya panas bukan main, sampai dia menjerit karena sakitnya luar biasa, disusul oleh tubuhnya terpental.
Sebelum tubuhnya terbanting, Giok Han merasakan pinggulnya seperti disanggah oleh suatu kekuatan, kemudian turun perlahan-lahan, sehingga tidak sampai menderita kesakitan lagi.
Tang Sin Siansu menghela napas dengan muka muram, menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tampaknya keinginanku akan terbentur berbagai kesulitan..."
Giok Han bangkit sambil meringis, kemudian maju berlutut didepan Susiokouwnya tersebut. ..Mohon Couwsu memberikan petunjuk !" kepalanya dimanggutkan beberapa kali.
"Dasar ilmu silatmu masih terlalu lemah. Mungkin berlatih tiga tahun lagi barulah bisa mempelajari ilmu yang berarti. Tiga tahun terlalu lama untuk mengatasi kesulitan yang tengah kami hadapi !" Tang Sin Siansu menghela napas dengan muka yang muram.
Giok Han tetap berlutut mendengarkan terus tanpa berani bertanya.
"Giok Han," kata Tang Sin Siansu lagi kemudian, suaranya terdengar jauh lebih sabar dari sebelumnya, "Dengarkanlah baik-baik ! Kita tengah menghadapi kesulitan. Kau belum mengetahui, bukan ? Pintu perguruan kita tengah menerima ancaman dari seseorang, yang memiliki semacam ilmu silat yang sukar dihadapi. Selama belasan tahun ini memang Loceng tengah mempersiapkan semacam ilmu silat, untuk mengatasi ilmu silat orang yang hendak meruntuhkan Siauw Lim Sie, cuma Loceng belum sempat merampungkannya. Sengaja Loceng menciptakan ilmu silat itu, untuk dipelajari oleh orang lain, bukan oleh Loceng. Orang yang akan mengacau dan memusuhi Siauw Lim Sie masih memiliki hubungan dekat dengan loceng, karenanya tidak mungkin Loceng yang mempelajari ilmu itu, sebab sekali saja perasaan dan hati tergoncang disaat pertempuran berlangsung, bisa membahayakan.
Disebabkan itu yang melatih ilmu itu harus orang lain, tugasnya kelak menghadapi orang yang memusuhi Siauw Lim Sie itu. Dia memiliki semacam ilmu silat yang diberi nama "Liong Beng Kun", semacam ilmu yang terlalu dahsyat, jika disalah gunakan dengan cara-cara menyeleweng, bisa tersesat dan berobah menjadi semacam ilmu yang paling sadis didalam dunia ini.
Loceng sengaja telah menciptakan semacam ilmu, yang Loceng beri nama "Sin Beng Kun" (Ilmu Pu-kulan Malaikat). vang bisa dipelajari selama lima tahun. Dalam keadaan mendesak seperti sekarang, sedapat mungkin hurus diyakini dalam tiga tahun!"
Bercerita sampai disitu Tang Sin Siansu berhenti sejenak, muram sekali mukanya. Tampaknya hati pendeta alim yang sudah lanjut usia ini tertekan perasaannya oleh suatu masalah yang sangat sulit. Giok Han tidak berani bertanya, cuma memasang kuping buat mendengarkan terus cerita Hongthionya.
Dia makin bingung dan heran, entah apa maksud Hongihionya dengan ceritanya tersebut? Juga ada hubungan apa dirinya dengan peristiwa yang tengah terjadi dimana menurut Tang Sin Siansu bahwa Siauw Lim Sie akan kedatangan seorang musuh ?
Mengapa Hongthio Siauw Lim Sie ini menceritakan padanya perihal ia menciptakan semacam ilmu pukulan yang diberi nama "Sin Beng Kun". sedangian G.ok Han masih terlalu kecil, juga baru setahun menjadi murid Siauw Lim Sie ?
"Giok Han, sekarang Loceng ingin bertanya kepadamu, kau harus menjawab yang jujur !" kata Tang sin Siansu sambil mengawasi Giok Han.
"Ya, Susiokcouw," menyahuti Giok Han. "Tanyalah Susiokcouw."
"Kalau Siauw Lim Sie terancam bahaya besar dan kami ingin minta kau menghadapi musuh, apakah kau bersedia melaksanakan perintah itu ?"
Kaget Giok Han. Pertanyaan seperti ini tidak pernah terpikir olehnya, Cepat-cepat dia berlutut. "Susiokcouw, walaupun harus terjun kedalam minyak panas atau rimba golok, tecu pasti melaksanakan perintah. Tapi, tecu... tecu merasa belum memiliki kepandaian berani untuk melakukan sesuatu, apalagi harus menghadapi musuh... masih banyak suheng-suheng lainnya yang lihay"
Tang Sin Siansu tersenyum, tapi senyumnya itu kecut dan mengandung kedukaan, "Ya memang kalau diminta sekarang kau menghadapi seorang musuh, tidak usah selihai musuh yang pasti akan datang mengacau kemari, cukup musuh yang memiliki kepandaian biasa saja, tentu kau tidak bisa menghadapinya ! Tetapi sekarang ini justeru kau akan Loceng persiapkan selama tiga atau empat tahun, melatih ilmu pukulan yang baru Loceng ciptakan, yaitu Sin Beng Kun, sehingga kelak jika sudah menguasai ilmu itu kau bisa menghadapi musuh yang akan datang mengacau kemari...!"
Giok Han tetap berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya. "Perintah Susiok-couw tidak berani tecu bantah... silahkan Susiokcovw peiintahkan saja !"
"Bagus ! Tahukah kau mengapa Loceng memilih kau?" tanya Tang Sin Siansu.
Giok Han menggeleng sambil mengawasi Susiokcouwnya.
Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam. "Persoalan yang sebenarnya nanti akan Loceng beritahukan jika kau sudah selesai mempelajari Sin Beng Kun. Loceng memilih kau karena mengingat kau memiliki kecerdasan yang cukup. Yang terpenting, kau baru setahun menjadi murid kami, sehingga kau masih murni, baru memiliki dasar ilmu silat kami, Jika kau sudah memilih salah satu macam ilmu silat Siauw Lim Sie dan sudah meyakininya lima atau sepuluh tahun, sudah sulit untuk mendidikmu melatih Sin Beng Kun! Memang terdapat kekurangan padamu, usiamu masih terlalu muda, belum memiliki dasar Lwekang yang cukup! Namun Loceng akan berusaha menambal kekurangan-kekurangan tersebut ! Nah, sekarang kau duduklah, dengarkan baik pesan Loceng !"
Giok Han dudak di tempatnya dan mendengar baik-baik pesan Susiokcouwnya.
"Mulai malam ini, setiap kentongan kedua kau harus datang ke mari untuk menerima pelajaran langsung dan Loceng. Tapi semua ini harus kau rahasiakan, gurumu pun jangan diberitahu ! Rahasia ini harus kau pegang biar teguh. jika ada yang mengetahui hal ini. berarti jodoh kita habis sampai di situ dan Loceng tidak akan mengajarkan Sin Beng Kun lebih jauh! Kau bisa melaksanakan perintah Loceng, agar memegang teguh rahasia ini, Giok Han?"
"Bisa. Susiokcouw, Kalau tecu membocorkan rahasia ini. biarlah tecu mati ditikam seribu mata pedang !" menyahuti Giok Han, yang girang bukan main mengetahui Susiokcouwnya akan mewarisi ilmu silat ciptaannya, inilah bermimpipun dia tidak berani mengharapkannya.
Tang Sin Siansu tersenyum. "Tidak usah bersumpah, cukup kalau kau berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini, itupun sudah lebih dari cukup." kata pendeta alim tersebut "Loceng perlu menegaskan di sini bahwa mempelajari Sin Beng Kun harus disertai ketekunan, tidak boleh main-main, harus bersungguh-sungguh. Memang berat mempelajari Sin Beng Kun, apa lagi Locengpun akan menggembleng Lwekangmu, karenanya mulai sekarang kau harus mencurahkan seluruh perhatian pada pelajaranmu ..."
Giok Han berjanji. Dan menang mulai malam itu ia banyak menerima petunjuk dari Tang Sin Siansu. Besok malamnya, dia mulai menerima pelajaran Sin Beng Kun dari Tang Sin Siansu. Bahkan bukan hanya Sin Beng Kun saja yang diajarkan Tang Sin Siansu, pendeta tua itu menurunkan pelajaran lwekang Siauw Lim Sinkang yang tertinggi, ilmu tenaga dalam tingkat atas.
Memang pada mulanya Tang Sin Siansu memupuk dasar Giok Han agar kuat, baru lewat dua bulan dia mulai serius dengan setiap jurus yang diturunkannya.
Setiap malam Giok Han datang secara diam-diam ke kamar Tang Sin Siansu. Tidak seorangpun mengetahui hai tersebut, sampai suheng-suhengnya pun tidak mengetahui.
Selama kepergian Wie Sin Siansu dengan beberapa orang saudaranya seperguruannya, maka yang mengamati dan mendidik Giok Han suheng-suhengnya. di samping sekali-sekali Tang Ling, Tang Lu dan Tang Sin Siansu bertiga suka juga memberikan petunjuk.
Kini memang secara langsung Tang Sin Siansu menangani menggembleng anak itu, kemajuan yang dicapai oleh Giok Han pesat sekali. Selama itu ia tetap merahasiakan terhadap siapapun juga, bahwa ia tengah mempelajari Sin Beng Kun dari Tang Sin Siansu.
Tang Sin Siansu sengaja memilih Giok Han karena di samping anak itu sangat cerdas, juga ia belum menerima pelajaran berani di pintu perguruan Siauw Lim Sie, masih kosong. Dengan demikian lebih mudah untuk "diisi" oleh pelajaran Sin Beng Kun, berarti anak ini bisa menghayati sepenuhnya pelajaran Sin Beng Kun tersebut.
Dugaan Tang Sin Siansu tidak meleset. Giok Han bisa menerima semua yang diajarkannya dengin baik, Bahkan jauh lebih cepat dari dugaan semula. Dalam waktu tiga bulan lebih. Giok Han sudah berhasil menghafal Kauw-koat (teori) Sin Beng Kun. Mungkin diperlukan waktu lima tahun untuk Giok Han benar benar menguasai setiap jurus Sin Beng Kun.
Memang cukup lama, tapi bagi Tang Sin Siansu tampaknya tidak terlalu kesusu mendicik anak ini. Tang San Simsu belum lagi kepastian kapan muncul di Siauw Lim Sie untuk mengacau, selama Tang San Siansu belum muncul, selama itu pula Giok Han memiliki kesempatan untuk menerima gemblengan Tang Sin Siansu memperdalam Sin Beng Kun.
Pagi itu Giok Han berlatih diri di luar kuil. Tubuhnya melompat gesit kesana kemari. Lincah bukan main. Dia berlatih seorang diri, dan akhirnya melatih Sin Beng Kun. Telah dipelajari beberapa jurus Sin Beng Kun, dengan tekun setiap ada kesempatan Giok Han selalu melatihnya.
Mendadak Giok Han merasakan sambaran tangan yang kuat sekali pada lengannya. Dia tidak sempat mengelak dari tangan orang itu, tahu-tahu tubuhnya dilemparkan ke tengah udara.
Hati Giok Han tercekat kaget, pasti dia celaka kalau orang yang melemparkannya ke tengah udara itu musuh yang mencelakakan nya. Tapi waktu Giok Han hendak ber-poksay (salto), terdengar suara gelak tertawa yang Giok Han kenal benar suara tertawa itu.
"Suhu.. . !" Teriak Giok Han ketika tubuhnya sedang meluncur turun.
Orang yang melemparkan Giok Han ke tengah udara masih tertawa, tapi tangannya menyambuti tubuh Giok Han, menurunkannya. Cepat-cepat Giok Han dengan girang berlutut memberi hormat kepada gurunya, karena orang itu memang tidak lain dari Wie Sin Siansu, yang sudah kembali ke Siauw Lim Sie setelah kepergiannya sekian lama.
Di samping Wie Sin Sansu tampak Wie Khie Siansu, Wie Un Siansu dan yang lainnya, semuanya mengawasi Giok Han sambil tersenyum. Giok Han tidak berayal memberi hormat kepada paman-paman gurunya.
"Bagus ! Tampaknya kau sudah memperoleh kemajuan pesat, Giok Han !" kata Wie Sin Siansu sambil mengusap-usap kepala anak itu. "Coba kau perlihatkan lagi padaku, berapa jauh kemajuan yang Sudan kau peroleh !"
Giok Han rnengiyakan dan menjalankan ilmu silat yang telah dipelajari selama ini. Waktu menyaksikan muridnya bersilat, muka Wie Sin Siansu berseri-seri terang namun ketika Giok Han memperlihatkan jurus-jurus Sin Wan Kun, alia Wie Sin Siansu jadi mengkerut.
"Hentikan !" perintahnya. Giok Han kaget dan heran, dia berhenti bersilat. Wie Sin Siansu menghampiri. Muka pendeta ini tampak keheranan.
"Tadi kau membawakan jurus "Sin Wan Tho Ko" (Kera Sakti Mencuri Buah) dari "Sin Wan Kun", Tapi mengapa cara bergeraknya berobah dari yang kuajarkan ?"
Jika yang benar harus dari kiri berputar setengah lingkaran sambil menggeser kaki kanan, tangan kiri menyerang ke depan, ke dada lawan. Tapi kau melakukannya sebalik nya, mengapa begitu"?"
Giok Han menunduk, belum pernah dia melihat gurunya marah seperti itu. "Tecu memang telah merobah gerakan jurus tersebut Suhu..."
"Kau yang merobahnya ?" tanya Wie Sin Siansu, alisnya tambah berkerut Jelas pendeta tua ini merasa tidak senang.
Giok Han mengangguk. "Benar Suhu, Susiokcouw yang memberikan petunjuk agar tecu merobah arah gerakan jurus-jurus Sin Wan Kun, karena terdapat kelemahan pada setiap gerak Sin Wan Kun yang perlu memperoleh perbaikan. Susiokcouw pun bilang bahwa sebetulnya Sin Wan Kun bukan hanya 13 jurus, melainkan 20 jurus. 7 jurus sisanya nanti akan diajarkan langsung olch Susiokcouw."
Wie Sin Siansu tampak semakin keheranan. Dia mengawasi Wie Kie Siansu dan yang lainnya. Merekapun tampaknya keheranan. "Apakah kau tidak berdusta ?" tanya Wie Sin S;ansu pada Giok Han.
Giok Han cepat-cepat berlutut di depan Wie Sin Siansu: "Mana berani tecu berbohong pada Suhu... apa yang tecu jelaskan tadi memang yang sebenarnya, nanti Suhu bisa menanyakannya pada Susiokcouw..!"
Wie Sin Siansu mengangguk, wajahnya berobah sabar kembali. "Baiklah. mungkin Susiokcouwmu mempunyai pertimbangan lain mengenai ilmu silat itu. Baiklah, mari kita pergi menemui Hongthio." Mereka segera masuk kedalam kuil. Pendeta muda telah melaporkan kepada Tang Sin Siansu perihal kembalinya Wie Sin Siansu dengan para sute nya, segera Hongthio Siauw Lim Sie menyambut keluar, diruang utama kuil Siauw Lim Sie.
Wie Sin Siansu bersama adik-adik seperguruannya memberi hormat kepada hongthionya, kemudian mereka melaporkan perihal bentrokan yang terjadi dengan Cu Lie Seng dan juga perihal munculnya See-mo Tong-mo, Pak-mo dan Lam-mo. empat dedengkot iblis, yang tampaknya mereka bisa bekerja saling bahu membahu dibawah pimpinan seseorang.
Muka Tang Sin Siansu jadi berobah guram. Cu Lie Seng putera Cu Kongkong Thaykam ?"
"Benar, Hongthio." Mengangguk Wie Sin Siansu. "kepandaiannya tidak terlalu tinggi tetapi See-mo, Tong-mo, Pak-mo dan Lam mo berempat bertindak sebagai pelindungnya, Kami dirintangi oleh mereka. Malah menurut hasil penyelidikan kami, disamping See-mo berempat, ada seseorang yang kepandaiannya luar biasa, yang bisa menguasai dan menaklukan keempat dedengkos iblis itu, yang dipersatukan, untuk menjadt pengikutnya. Tapi kami belum mengetahui jelas, entah siapa orang yang berhasil mengendalikan keempat dedengkot iblis tersebut, hanya dapat dipastikan bukan Cu Lie Seng."
"Omitohud ! Omitohud !" memuji Tang Sin S'ansu dengan muka muram, Tang Lu dan Tang Lang Siansu yang baru datang. mendengarkan kembali laporan Wie Sin Siansu. Merekapun terkejut, malah Tang Lu Siansu bertanya: "Jadi empat dedengkot itu sudah bekerja sama untuk seseorang ?"
Wie Sin Siansu mengangguk. "Benar. Biasanya empat dedengkot iblis itu saling berlomba, bersaing satu dengan yang Iain tanpa pernah mau saling mengalah ! Namun sekarang mereka sekaligus empat dedengkot iblis dari empat wilayah kekuasaan masing-masing, telah dapat dikumpulkan dan dikendalikan oleh seseorang, sehingga mereka berempat tidak saling berlomba lagi, malah bisa bekerja sama untuk menentang siapa saja yang menjadi musuh mereka."
Tang Lu Siansu menghela napas, menoleh kepada Tang Sin Siansu. "Suheng, apakah tidak mungkin orang yang menguasai dan mengendalikan keempat dedengkot iblis itu adalah DIA ."
Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam, "Mungkin juga DIA, mungkin juga bukan. Tetapi, kini tampaknya kita mulai akan menghadapi kesulitan, Siauvv Lim Sie akan menerima ujian...! Berurusan dengan Cu Thaykam bukanlah persoalan kecil, karena berurusan dengan Thaykam itu sama saja berurusan dengan pemerintah dan berurusan dengan pemerintah akan mendatangkan, kesulitan yang tidak kecil ! Selama ini Siauw Lim Sie berusaha membatasi diri tidak pernah mencampuri segala persoalan di luar Siauw Lim Sie, hal itu untuk mencegah terjadi bentrokan dengan pihak pemerintah.. Tapi siapa sangka, tampaknya kini hal itu sulit untuk dihindarkan. Dengan adanya niat mengadu dombakan Siauw Lim Sie dengan Bu Tong Pay, memang ada orang-orang yang bermaksud buruk pada Siauw Lim Sie, yang pasti tidak akan berhenti sampai disini saja, masih akan ada ekornya ..."
Setelah berkata begitu Tang Sin Siansu menghela napas dalam-dalam dia menoleh kepada Wie Sin Siansu, menceritakan apa yang terjadi pada Tang Bun Siansu, juga memberitahukan perihal dugaannya pada pelakunya tidak lain Tang San Siansu. Wie Sin Siansu beramai terkejut, tapi mereka ber-diam diri tidak berani berkomentar apa-apa.
"MuIai sekarang," kata Tang Sin Siansu- "Kita harus lebih hati-hati. Hindarkanlah bentrokan dengan pihak manapun. Wie Sin kau beritahukan murid-murid lain, untuk membatasi diri jangan melakukan kegiatan apapun diluar kuil! !"
"Baik, Hongthio ! menyahuti Wie Sin Siansu. "Perintah akan kujalankan segera." Segera Wie Sin Siansu dengan sute-sutenya mengundurkan diri. Tang Lu dan Tang Lang pun meninggalkan ruangan itu setelah berunding beberapa saat dengan Tang Sin Siansu.
Melihat yang lainnya sudah mengundurkan diri, Giok Han pun bermaksud mengundurkan diri. Tang Sin Siansu tiba-tiba menoleh kepadanya, melambaikan tangannya. "Kemari kau Giok Han !"
Giok Han menghampiri dengan sikap hormat.
"Giok Han," kata Tang Sin Siansu, suaranya jadi sabar. "Peristiwa telah berkembang sedemikian rupa, maka Loceng harap kau lebih tekun dan giat melatih Sin Beng Kun ! Harapan Loceng hanya padamu, kelak setelah dewasa bisa menjaga nama baik Siauw Lim Sie. Besok akan Loceng beritahukan kepada gurumu, Wei Sin, agar sementara dia menghentikan pengajaran padamu, memberikan kesempatan sepenuhnya kepadamu melatih Sin Beng Kun. Tetapi, Loceng harap kau tidak mengecewakan harapan kami!"
Giok Han cepat-cepat berlutut. "Tecu akan memperhatikan setiap petunjuk dan berusaha tidak mengecewakan harapan Susiok-couw !"
"Bagus ! Berdirilah I" perintah Tang Sin Siansu. "Perhatikanlah, Loceng akan menurunkan sejurus lagi dari ilmu pukulan Sin Beng Kun!" Kemudian Tang Sin Siansu mulai bergerak sangat lincah, memberikan petunjuk I epada Giok Han. Dengan penuh perhatian Giok Han memperhatikan cermat sekali. Kemudian Tang Sin Siansu perintahkan Giok Han mengikuti setiap gerakan yang dilakukannya, anak itu bisa mengikutinya dengan baik.
Tang Sin Siansu tampak puas. "Pergilah kau berlatih lagi !"
Giok Han membungkuk memberi hormat dia ingin mengundurkan diti. Namun sebelum Giok Han meninggalkan ruangan tersebut, masuk seorang pendeta muda, melaporkan diluar kuil ada seorang pengemis yang mengaku sebagai murid Kaypang, ingin bertemu dengan Tang Sin Siansu.
Alis Tang Sin Siansu mengkerut, dia heran apa maksud kunjungan murid Kaypang, itu. Malah pendeta tua itu sudah menduga pasti ada persoalan baru yang dibawa pengemis Kaypang itu.
"Perintahkan dia masuk !" kata Tang Sin Siansu akhirnya.
Ternyata pengemis Kaypang itu tidak lain dari Thian Sin Cu Mukanya pucat pias, sekali lihat Tang Sin Siansu tahu bahwa pengemis ini tengah menderita luka di dalam yang parah.
"Kiesu (pendekar) apa yang terjadi padamu ?" tanya Tang Sin Siansu bimbang.
Mengetahui di depannva adalah Tang Sin Siansu. Hongthio Siauw Lim Sie. Thian Sin Cu memberi hormat, Lalu dia menceritakan apa yang dialaminya, pertemuannya dengan Tung Yang dan Tung Irn, pesan yang diminta Tung Yang agar disampaikan kepada pimpinan Siauw Lim Sie tersebut.
"Liong-kak! Ooooh. persoalan itu tampaknya menjadi persoalan yang cukup penting !" mengguman Tang Sin Siansu tambah guram mukanya. "Siancai. Terima kasih atas berita yang dibawa Kiesu. Luka Kiesu tampaknya tidak ringan, lebih baik beristirahat dulu !" Tang Sin Siansu kemudian perintahkan pendeta muda yang tadi memberi tahukan kedatangan Thian Sin Cu agar membawa sang tamu ke sebuah kamar tamu, agar Thian Sin Cu bisa bisa beristirahat. la pun memberikan obat kepada Thian Sin Cu.
Seminggu lamanya Thian Sin Cu beristirahat di kuil Siauw Lim Sie. Kesehatannya berangsur membaik karena obat yang diberikan Tang Sin Siansu mujarab sekali. Dalam kesempatan hal banyak yang diceritakan Thian Sin Cu pada Hongthio Siauw Lim Sie, apa yang telah dialaminya, "Sebetulnya Taysu, cukup membingungkan juga Tung Yang Taihiap bersama isterinya yahg berkepandaian tinggi bisa dianiaya seperti itu, sampai menemui ajal mereka !" kata Thian Sin Cu dalam suatu kesempatan bercakap-cakap dengan ketua Siaaw Lim Sie tersebut. "Benda apakah Liong Kak itu, Taysu ?"
"Omitohud ! Loceng sendiri belum mengetahui sebetulnya benda apakah Liong Kak (Cula Naga) itu ! Tadi Kiesu bicara perihal Poan Pian Thian, apa saja yang dikatakan padamu?"
"Dia tampaknya hanya memiliki satu tujuan, yaitu memperoleh kepastian bahwa Tung Yang berdua Tung Im sudah binasa. Kemudian dia pergi !"
"Tahukah Kiesu Poan Pian Thian bekerja untuk siapa?" tanya Tang Sin Siansu lagi.
Si pengemis menggeleng "Sampai sekarang perihal dedengkot iblis See mo, Pak-mo Lam mo dan Tong-mo pun belum lagi diketahui oleh kami bekerja untuk siapa, selain dugaan kami mereda berada di bawah pengaruhnya Cu Lie Seng pemuda iblis sangat kejam itu, putera Cu Thaykam ! Poan Pian Thian apakah bekerja untuk pemuda iblis Cu Lie Seng seperti keempat dedengkot iblis itu, belum kami ketahui !"
Tang Sin Siansu menghela napas dengan perasaan jengkel. Peristiwa berlangsung demikian beruntun, tampaknya ketenangan Siauw Lim Sie di waktu mendatang bisa dilanda oleh badai, dan gelombang.
Dua hari lagi Thian Sin Cu berdiam di kuil Siauw Lim Sie, kemudian dia pamitan. Tung Sin Siansu kirim salam buat Pangcu Kaypang.
Seperginya pengemis itu, Tang Sin Siansu mengumpulkan Tang Lu Siansu dan Tang Lang Siansu, untuk berunding. Mereka membicarakan Iangkah-langkah apa yang harus mereka tempuh, jika suatu saat badai menyerang Siauw Lim Sie. Wie Sin Siansu di-ajak ikut serta dalam perundingan itu.
Dengan sikap yang tenang dan langkah kaki satu-satu, tampak seorang lelaki tua berkumis dan jenggot panjang sudah berwarna putih tengah mendaki gunurg Siong-san. Mukanya dingin seperti mayat, tidak bersinar dan pucat kuning menakutkan. Mukanya yang kaku itu seperti tertawa tapi bukan tertawa, seperti menangis tapi pun bukan menangis. Dia melangkah terus dengan sikap seenaknya. Ketika bertemu dengan dua orang hweshio Siauw Lim Sie yang tengah turun gunung untuk pergi membeli keperluan dapur, orang yang seperti muka mayat itu tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. seakan tidak melihat kedua hweshio tersebut.
Kedua hweshio itu adalah pengurus dapur Siauw Lim Sie. Yang seorang Cie An Hweshio dan yang satunya lagi Gu Bie Hweshio. Mereka curiga melihat sikap orang asing yang mencirigakan ini. Cie An Hweshio melirik kepada temannya, memberi isyarat, kemudian melompat ke depan orang yang mukanya seperti mayat tersebut, Kedua tangannya dirangkapkan.
"Maaf, apakah Siecu ingin berkunjung ke Siauw Lim Sie untuk bersembahyang ?" tegurnya.
Orang bermuka seperti mayat mengawasi Cie An Hweshio dengan sorot mata dingin, dia tidak menyahuti, hanya meneruskan langkahnya, Sikapnya seperti tidak melihat si hweshio yang ada di depannya.
Cie An Hweshio mengerutkan keningnya. "Apakah orang ini tuli dan gagu?" pikirnya. Tapi dia masih berseru: "Sementara ini kuil kami tidak menerima tamu bersembahyang, karena kami sedang sibuk mengurus perbaikan ruang pemujaan !"
Tiba-tiba orang itu menghentikan langkah kakinya. "Apakah Tang Sin Siansu ada ?"
Pertanyaan itu tidak enak didengar oleh Cie An Hweshio maupun Gu Bie Hweshio. Selain pertanyaan itu cukup kasar, juga Hongthio mereka seperti diremehkan benar oleh orang tua bermuka seperti mayat ini.
Gu Bie Hweshio memang seorang berdarah panas. Dia memiliki tubuh yang kekar dan tegap. "Kalau Siecu tidak ada urusan penting, silahkan turun gunung. Sudah sebulan Hongthio kami tidak menerima tamu !"
"Tang Sin Siansu ada ?" masih orang itu bertanya dengan nada yang dingin tidak perdulikan Gu Cie Hweshio
"Oooo, benar-benar manusia tuli!" menggumam Gu Bie Hweshio mendongkol "Sudah pinceng beritahukan Hongthio kami sudah sebulan lebih tidak menerima tamu."
Muka orang itu tetap dingin. Dia merogoh sakunya. "Tapi sekali ini Tang Sin Siansu pasti mau menemuiku ! Bawalah surat namaku ini !" Dia memberikan selembar kartu nama lebar di mana tertulis di situ: "Poan Pian Thian hap tiauw ingin bertemu, harap Hongthio Siansu mau menerimaku."
Gu Bie Hweshio dan Cie An Hweshio saling pandang, kemudian Cie An Hweshio mengangguk. "Baiklah, tampaknya kau tidak percaya pada kami, masih ingin memaksa buat bertemu dengan Hongthio kami. Kalau nanti ditolak, kau jangan kecewa!" Setelah berkata begitu Cie An Hweshio berpesan pada Gu Bie Hweshio untuk menantinya di situ, dia sendiri pergi kembali ke kuil, untuk mengantarkan surat nama tamu yang aneh ini.
Tapi ketika Cie An Hweshio memutar tubuh, orang bermuka seperti mayat itu, yang di surat namanya tertulis sebagai Poan Pian Thian Yap Bauw ikut melangkah, Gu Sie Hweshio segera menghalanginya. "Kita tunggu di sini saja..."
Baru saja Gu Bie Hweshio berkata seperti itu, tahu-tahu dadanya kena dicengkeram Poan Pian Thian. Begitu cepat tangan orang she Yap tersebut, sampai Gu Bie Hweshio tidak bisa menghindarkan. Dadanya kena dicengkeram, kemudian digentak ke samping, tubuhnya disenderkan ke batang pohon "Kreekkkk." terdengar tulang iganya ada yang patah, dia menjerit kesakitan.
Cie An Hweshio kaget mendengar jeritan kawannya, menoleh. Dia tambah kaget. "He mengapa kau lukai Suhengku??" teriaknya sambil memutar tubuh untuk kembali. Tapi orang itu sangat gesit, tahu-tahu dia sudah menendang Gu Bie Hweshio dan berada di dekat Cie An Hweshio.
Tangan kirinya pun bergerak sama cepatnya seperti tadi, mencengkeram dada Cie An Hwesgio, menghentak kuat sekali kebatang pohon, terdengar suara "krekkkkk"", disusul jerit kesakitan Cie An Hweshio Sebetulnya Cie An Hweshio tadi hendak menghindar dari cengkeraman tangan Yap Bauw, tapi dia tidak berhasil, karena tangan itu bergerak terlalu cepat, tahu-tahu sudah mencengkeram dadanya dan tubuhnya kena ditarik keras, kemudian terdorong menyender dibatang pohon, tulang iganyapun ada yang patah, seperti yang dialami Gu Bie Hweshio.
"Ayo jalan " bentak Yap Bauw bengis, sambil melontarkan tubuh kedua Hweshio itu disusul dengan terlepasnya cengkeraman tangannya. Gu Bie Hweshio dan Cie An Hweshio terpelanting, mereka merasa dada masing-masing sakit bukan main, lalu bangkit berdiri.
"Kau... kau berani melukai orang disiang hari ?" Bentak Gu Bie Hweshio dengan suara tidak lancar.
"Jalan! Atau kalian hendak dihajar lebih dulu baru kedua kaki kalian mau melangkah?" bentak Poan Thian Yap Bauw bengis, mukanya yang dingin menakutkan seperti mayat hidup itu sangat mengerikan. Gu Bie Hweshio dan Cie An Hweshio penasaran dan gusar, tapi merekapun tak berdaya.
Tampaknya orang seperti mayat ini memang memiliki kepandaian tinggi, mereka pasti tidak mungkin bisa melawan. Keringat dingin mengucur deras membasahi baju mereka.
"Jalan !" bentak Poan Plan Thian Yap Bauw sama bengisnya seperti tadi.
Terpaksa Gu Bie dan Cie An Hweshio melangkah menuju ke kuil Siauw Lim Sie.
Poan Pian Thian Yap Biauw mengikuti di belakang, tidak sepatah perkataanmu yang diucapkannya, Mukanya tetap dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun.
Akhirnya mareka tiba di depan pintu kuil Siauw Lim Sie. gerbang pertama. Ada tiga orang hweshio yang tengah membersihkan pintu gerbang kuil. Mereka heran melihat dua orang saudara seperguruan mereka pulang dengan muka pucat pias dan mandi keringat dingin, di belakangnya mengikuti seorang bermuka menakutkan seperti mayat.
"Gu Bie kenapa kau?" tegur salah seorang diantara ketiga hweshio itu.
"Orang ini... orang ini menganiaya kami..." memberitahukan Gu Bie Hweshio sambil ingin berlari. Tapi tahu-tahu tengkuknya dirasakan sakit, karena telah dicengkeram jari-jari tangan kuat seperti baja, kemudian tubuhnya mengejang kaku kesakitan, cengkeraman itu seperti hendak menghancurkan tengkuknya, dia hanya megap-megap tidak bisa berkata apapun, untuk menjerit saja tidak bisa.
Cie An Hweshio pun ingin berlari, tapi sebelum kakinya bergerak, kaki kanan orang she Yap sudah menendang, segera tubuh Cie An terjungkel bergulingan di tanah sambil menjerit kesakitan.
Hebat cara datangnya Poan Pian Thian Yap Bauw ke Siauw Lim Sie, tidak banyak rewel main bunuh. Sedangkan orang lain untuk banyak tingkah di kuil Siauw Lim Sie akan berpikir sepuluh kali! Siauw Lim Sie merupakan pusat perguruan silat tertua di daratan Tionggoan, yang sangat dihormati oleh segala lapisan orang Kangouw.
Murid-murid Siauw Lim Sie pun umumnya merupakan pendeta-pendeta sakti berkepandaian tinggi yang tidak pernah menyombongkan kepandaian mereka, tapi juga tidak akan mudah diperhina. Tokoh-tokoh Kangouw umumnya menaruh hormat-hormat pada pendeta-pendeta Siauw Lim Sie.
Tapi sekarang Poan Pian Thian Yap Bauw sekaligus telah membunuh tiga hweshio di depan kuil Siauw Lim Sie, dalam sejarah persilatan memang inilah pertamakali terjadi ! Tangannya telengas, hatinya kejam dan akan membunuh kalau ada orang yang merintanginya, selalu membuktikan ancamannya tanpa banyak rewel.
Gu Bie Hweshio berdua Cie An Hwesfrro jadi gentar juga, karena tamu tak diundang ini tampaknya tak main-main dengan ancamannya. Segera mereka setengah berlari ke ruang dalam untuk mengantarkan surat-nama tamu yang ganas ini.
Yap Bauw tidak masuk lebih jauh, dia berdiri dipelataran kuil tersebut. Matanya bersinar dingin memandang sekeliling. Tidak lama ia menunggu, dari dalam tampak muncul beberapa orang hweshio, yang menghampiri padanya. "Omitohud ! Onitohud ! Ada keperluan apakah kiesu berkunjung kemari?"
Sabar suara seorang hweshio yang berjalan di depan hweshio-hweshio lainnya. Dia Wie Sin Siasu, sabar sekali suaranya, hanya matanya tajam luar biasa menatap tamu yang menurut laporan Gu Bie dan Cie An Hweshio merupakan orang yang ganas bukan main.
"Aku ingin bicara dengan Tang Sin Hongthio," menyahuti Yap Bauw dingin, mukanya tetap tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. "Suruh dia yang keluar menyambutku ! "
Wie Sin Siansu merangkapkan kedua tangannya. "Siancai. Hongthio kami kebetulan berhalangan untuk menyambut tamu, karena tengah menyepi diri. Sungguh tidak kebetulan kedatangan Kiesu. Bolehkah Loceng mengetahui nama harum Kiesu, agar nanti setelah Hongthio selesai menyepi, dapat Loceng beritahukan perihal kunjungan Kiesu?"
Alis Yap Bauw mengkerut, mukanya yang memang bengis semakin tidak sedap dilihat.
"Kalian hweshio-hwesio Siauw Lim Sie memang terlalu bertingkah dan banyak tetek-bengek dengan segala peraturan menjemukan! Sudah kuberitahukan tadi aku ingin bicara dengan Tang Sin Hongthio, tidak mungkin aku bicara dengan kau."
Gu Bie Hweshio menghampiri Wie Sin Siansu menyodorkan surat-nama Yap Bauw. Wie Sin Siansu membaca surat-nama, mukanya berobah, tapi segera pulih kembali ketenangannya. "Ah. tidak tahunya Poan Pian Thian Yap Bauw, Yap Kiesu." kata Wie Sin Siansu kemudian.
"Maukah Kiesu memberitahukan urusan apa yang hendak Kiesu bicarakan, sekarang ini Loceng yang mewakili Hongthio menerima tamu !"
Mata Yap Bauw mencilak. "Kau terlalu rewel!" dengusnya, dia melangkah ke depan, tangan kanannya mendorong ke dada Wie Sin Siansu. "Minggir, biar aku pergi menemui Hongthio kalian ! "
Omitohud !" memuji Wie Sin Siansu terhadap kebesaran Sang Budha. Dia merasakan dorongan tangan Yap Bauw kuat sekali, juga mengandung hawa yang panas, dia tidak menyambuti, hanya menyedot hawa udara sampai dadanya naik dan perutnya kempis, hanya terpisah satu dim, telapak tangan Yap Bauw tak berhasil mengenai dada si pendeta.
Tapi Yap Bauw tidak berhenti di situ, tangannya tahu-tahu seperti bisa panjang, dia mendorong dengan membungkukkan sedikit tubuhnya, melanjutkan dorongan yang pertama, tenaganya malah semakin kuat !
Kaget Wie Sin Siansu, tak sempat berpikir lagi terpaksa pendeta tua Siauw Lim Sie ini harus menangkis tangan Yap Bauw. Tidak terdengar suara bentrokan, hanya tampak tangan Bauw dengan Wie Sin Siansu saling bentrok, perlahan kelihatannya, tapi dahsyat tenaga mereka yang beradu, karena keduanya mempergunakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi. Wic Sin Siansu menggigil, mukanya berobah pucat dan dia mundur satu langkah. Yap Bauw tertawa dingin, juga mundur selangkah.
Bagi yang kepandaiannya sedang-sedang saja, tentu menyangka kepandaian Yap Bauw berimbang dengan khikang Wie Sin Siansu. Namun bagi yang bermata tajam, segera bisa melihat bahwa Wie Sin Siansu masih berada satu tingkat di bawah khikang Poan Pian Thian Yap Bauw.
Mengapa bisa begitu ? Karena Wie Sin Siansu mundur melangkah akibat serangan Yap Biauw, kuda-kuda kaki si pendeta kena digempur. Tapi Yap Bauw mundur hanya untuk mencari posisi yang baik, ia kuatir si hweshio balas menyerangnya, Tadi Yap Bauw cuma merasakan tangannya tergetar dan cadanya panas, tapi dia tidak sampai tergempur kuda-kuda kedua kakinya
Bagi orang-orang yang sudah memiliki ilmu tinggi, dalam sekali gebrak saja sudah bisa mengetahui dan menakar kepandaian lawan.
Kaget Wie Sin Siansu. Memang dia sering mendengar perihal Poan Pian Thian Yap Bauw, si Se enrali Langit, yang kabarnya menrupakan memedi tunggal berkepandaian tinggi dan sepak terjangnya aneh tak bisa diduga, sejauh ini ia belum pernah bertemu muka dengan memedi tunggal itu, baru sekarang mereka beradu tangan.
Ternyata khikang memedi tunggal itu memang sangat tinggi, Wie Sin Siansu sadar, jika ia memaksakan diri menghadapi Yap Biauw, mungkin ia tidak sampai rubuh di tangan Yap Biauw, tapi kemungkinan mereka berdua bisa rusak sendirinya, terluka bersama.
Walaupun Yap Bauw sudah mengetahui tenaga dalam Wie Sin Siansu masih kalah seangka dengan khikangnya, dia tidak berani ceroboh. Di luar dia tampak dingin tak berperasaan, sebetulnya hati Yap Bauw kaget.
Dia sudah memiliki lwekang demikian tinggi belum lagi Tang Sin, Tang Lu dan Tang Lang bertiga keluar mengepungku dibantu oleh pendeta-pendeta tingkat kedua dan ketiga.
"Biar aku iumbuh sayap, rasanya sulit menghadapi mereka!" Pikir Yap Biauw. Karena berpikir begitu, dia mengambil sikap lain, tidak menyusuli dengan serangan lagi.
"Aku membawa berita buat Tang Sin Hongthio dari Tang San Siansu," bilang Yap Bauw kemudian.
Kaget Wie Siansu, sejenak dia tertegun. Kemudian dia menyuruh. "Silahkan Yap Kiesu beritahukan kepada Loceng, nanti Loceng menyampaikannya kepada Hongthio !"
"Pesan itu hanya bisa disampaikan kepada Tang Sin Hongthio, tidak boleh dititipkan kepada orang lain !" dingin sekali suaru Yap Bauw.
Wie Sin Siansu jadi sulit kedudukannya. "Dia tahu, kalau saudara-saudara seperguruannya mengepung tamu tak kenal aturan dan ganas ini mungkin ia dengan kawan-kawannya bisa merebut kemenangan, Namun itulah perbuatan yang terpuji. Sedangkan tadi Tan Sin Siansu sudah perintahkan kepadanya agar ia bersama saudara seperguruannya yang menyambut tamu.
Urusan demikian penting, padahal pesan Tang San Siansu, Toa-susiok-nya. Dengan membuat Wie Sin Siansu dalam sejenak bimbang tak bisa mengambil keputusan.
"Kalau memang Tang Sin Hongthio tidak mau menemuiku menerima pesan yang dititipkan Tang San Siansu padaku, biarlah-Jika kelak di kemudian hari terjadi sesuatu, jangan mengatakan kami tak kenal aturan tanpa memberitahukan terlebih dulu ! inipun dilakukan Tang San Siansu mengingat bahwa antara dia dengan kalian dari Siauw Lim Sie masih ada ikatan perguruan !" Mendesak Poan Pian Thian Yap Bauw, dingin suaranya.
Tergerak We Sin Siansu, dia menoleh pada We Khie Siansu, mengisyaratkan untuk melapor ke dalam. Lalu dia sendiri menghadapi Yap Bauw. "Siancai. tunggulah sebentar, apakah Hongthio bersedia menyambut tamu atau menolak, itu terserah atas keputusan Hongthio."
Yap Biauw mendengus. Sikapnya benar-benar tidak memandang sebelah mata pada pendeta-pendeta Siauw Lim Sie, seakan di dunia ini hanya dia satu-satunya yang memiliki kepandaian tertinggi. Sikapnya membuat pendeta-pendeta Siauw Lim Sie yang ada di situ mendongkol.
Wie Khie Siansu tak lama kemudian keluar, diikuti oleh tiga orang hweshio, yaitu Tang Sin, Tang lu, dan Tang Lang Siansu. Muka Tang Sin Siansu bertiga guram sekali. "Siancai, ada pesan apakah yang dititipkan Tang San Toa-suheng kepada Kiesu ?" Tanya Tang Sin Siansu dengan muka guram, setelah berada dipelataran kuil.
Hati Yap Bauw bergetar juga melihat mata pendeta alim yang sudah berkumis jenggot putih, yang tajam luar biasa. Sikapnya tenang berwibawa. Sinar matanya itu menunjukkan latihan khikang Tang Sin Siansu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali.
"Tang San Siansu berpesan, mengingat akan persaudaraan yang pernah terhalang antara dia dengan kalian pendeta-pendeta Siauw Lim Sie, maka diharap kalian memberi muka kepadanya, mengundangnya pulang ke Siauw Lim Sie, menyerahkan hak dan kedudukan yang seharusnya menjadi miliknya !" Bilang Poan pian Thian dengan suara tawar.
Muka Tang Sin Siansu bertiga Tang Lu dan Tang Lang Siansu berobah, cepat Tang Sin Siansu bisa mengendalikan perasaannya. "Omi-tohud ! Omitohud ! Jika Tang San Toasuheng mau kembali ke Siauw Lim Sie, itulah berita yang sangat menggembirakan ! Kami akan bahagia menerima pulangnya Tang San Toasuheng. Beritahukanlah begitu padanya, Tapi bicara tentang hak-hak dan kedudukan, itu bisa nanti dibicarakan oleh kami bersama-sama, itu urusan dalam pintu perguruan kami yang tidak memungkinkan Loceng bicara dengan Kiesu."
Baru saja kata-kata Tang Sin Siansu selesai, lengan jubah kanannya mengibas. Yap Bauw kaget, serangkum angin menerjang padanya. Jarak mereka terpisah cukup jauh, tapi angin kibasan lengan jubah Tang Sin Siansu menyambar sangat dahsyat. Cepat-cepat Yap Bauw mengerahkan khikangnya dan balas mendorong. Kakinya menggigil keras, bahkan telapak kakinya melesak ke-dalam lantai pelajaran satu dim, batu lantai retak pecah!
"Silahkan Kiesu memberitahukan pada Tang San Toasuheng apa yang telah jadi jawaban kami!" kata Tang Sin Siansu lagi, sikapnya seperti tidak terjadi sesuatu, tenang sekali.
Yap Bauw mengeluarkan keringat dingin. Luar biasa tenaga dalam pendeta tua ini, sekali mengibas dari jarak terpisah cukup jauh bisa mengeluarkan khikang begitu dahsyat. Jelas, ia tidak boleh main-main. Benar dia tidak sampai tergempur kuda-kudanya kedua kakinya, dirinya juga tidak sampai celaka, tokh tadi dia sudah memusatkan sebagian terbesar tenaga khikangnya baru bisa mempertahankan kedudukan kedua kakinya!
Sejenak Yap Bauw terdiam, keringat dingin dihapus, baru kemudian dia bilang dengan suara tidak sedingin dan sesombong tadi: "Tang San Siansu berperan untuk minta jawaban yang tegas. Taysu cukup memberikan jawaban "Ya" atau "Tidak". Kalau menolak bilang menolak, kalau menerima beritahukan memang menerima, jangan bertele-tele."
"Omitohud ! Omitohud! Tang San Taysu-heng adalah saudara seperguruan kami, kami menghormatinya. Segala sesuatu nanti bisa bicarakan bersama. Nah, apakah Kiesu sudah tak ada pesan lain dari Toasuheng kami?" Mata Tang Sin Hweshio tajam sekali memandang Yap Bauw.
Biji mata pendeta itu, yang sikapnya tenang, tapi sinarnya melebihi mata pisau, membuat hati Yap Bauw tergetar juga akan keangkeran sikap Hongthio Siauw Lim Sie tersebut. Dia menggeleng.
"Baiklah, nanti pesan Taysu akan kusampaikan padanya," kata Yap Bauw, dia memancang hwesio-hweshio lain yang tengah mengawasi padanya dengan sikap murka. Hatinya mendadak tergetar lagi, Jadi ciut. Kalau sampai Hongthio Siauw Lim Sie turun tangan, dibantu oleh Tang Lu maupun Tang Lang Siansu dan hweshio-hweshio Siauw Lim Sie lainnya, biar pun ia memiliki lima kepala dan sepuluh tangan, tidak nanti dia bisa meninggalkan kuil Siauw Lim Sie. Hal itu disadarinya dengan mendadak, menurun kesombongannya. Dia memutar badannya hendak berlalu.
"Tunggu dulu !" mendadak dibelakang Yao Bauw berkesiur angin dingin menyertai bentakan itu. Yap Bauw mendadak untuk menghindarkan pukulan itu, dia menangkis dengan tangan kanannya, tapi dia kecele, menangkis tempat kosong.
Tahu-tahu pinggangnya sakit, dia sampai meringis, dan menyusul kuda-kudanya tergempur, tubuhnya terhuyung sampai beberapa langkah, namun tidak sampai ter-jungkel.
Kaget bukan main Yap Bauw, itulah perbuatan Tang Sin Siansu yang menyerangnya dari jarak jauh dengan ilmu pukulan " Coan Kang Cok Tek" (Dengan gelombang Khikang Merobohkan Musuh). semacam ilmu Siauw Lim Sie yang terkenal !
Dengan "Coan Kang Cok Tek" musuh dapat diserang dari jarak cukup jauh, hanya menyalurkan khikang belaka. Akibat pukulan itu bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan pukulan langsung. Cuma, orang yang bisa mempergunakan jurus-jurus "Coan Kang Cok Tek" harus memiliki khikang tinggi, jika tidak jangan harap bisa mempelajari ilmu hebat Siauw Lim Sie yang satu itu.
Tang Sin Siansu merupakan Hongthio Siauw Lim Sie, Khikangnya sulit diukur lagi, dia sudah melatih baik sekali " Coan Kang Cok Tek". Melihat Yap Bauw hendak meninggalkan Siauw Lim Sie begitu saja, sepontan ia mengibas dengan tangan kanannya, dari lengan bajunya menyambar khikang yang tersalur karena mempergunakan "Coan Kang Cok Tek" memang kesudahannya membuat Yap Bauw kaget sekali. Ketika dia menoleh, dilihatnya Tang Sin Siansu berdiri angker mengawasinya, sikapnya luar biasa.
"Yap Kiesu, kau sudah menyampaikaa pesan yang dititipkan oleh Toasuheng kami, Tapi yang belum dipertanggungjawabkan oleh Kiesu ialah kelakuan Kiesu yang mengacau di kuil kami. Apakah setelah membunuh tiga orang murid kami, Kiesu mau berangkat begitu saja ? Omitohud! Omitohud !" Sabar suara Tang Sin Siansu, tapi sikapnya angker berwibawa, menunjukkan ia serius sekali dalam persoalan ini.
Yap Bauw mengerutkan alis, mukanya yang dingin jadi semakin dingin, walaupun hatinya berdebar juga menyaksikan keangkeran Hongthio Siauw Lim Sie. la bisa memahami makna perkataan Hongthio tersebut yang ingin menahannya.
" Apa yang Hongthio kehendaki dariku ? Apakah Hongihio hendak mempergunakan tenaga banyak buat menahanku? Silahkan! Aku akan menerima dengan senang hati" Sengaja Yap Bauw mengejek menantang seperti itu.
"Omitohud! Omitohud! Kami mana boleh bertindak seperti itu? Kami selalu diharuskan bertindak dengan penuh welas-asih, harus memberikan contoh-contoh yang baik, Siancai! Tak mungkin kami bertindak serendah itu! Loceng hanya ingin minta pertanggungan jawab Kiesu terhada ketiga murid Siauw Lim Sie yang telah dicelakai Kiesu !" Mata Tang Sin Siansu tak berkedip, mengawasi tajam Yap Bauw.
Bergidik juga Yap Biauw ditatap begitu oleh Tang Sin Siansu, Tadi ia sudah merasakan tenaga khikang hweshio ini luar biasa. Memang ia tidak jeri, hanya ia kuatir kalau nanti dirinya masuk dalam lingkaran pengepungan pendeta-pendeta Siauw Lim Sie yang bisa saja mempersulit dirinya.
Benar tidak mungkin ia merubuhkan Tang Sin Siansu, mengingat lwekang hwesio itu lebih menang darinya, hanya dia memiliki ilmu istimewa andalannya, yaitu ginkang yang bernama "Touw Sui Tauw Su" (Menenun Menginjak Rumput) semacam ginkang kelas tinggi yang jarang sekali tertandingi dalam kalangan Kangouw.
Yap Biauw justeru angkat nama besarnya dengan mengandalkan ginkang "Touw Sui Tauw Su"-nya tersebut, di mana dia bisa berlari dan bergerak melebihi kecepatan kilat!
Betul "Coan Kang Cok Tek" Tang Sin Siansu lihai melebihi dari ilmu umum "Pek Kong Ciang" (Pukulan Udara Kosong), rasanya untuk bisa meloloskan diri Yap Bauw masih bisa, dia mungkin saja melayani si pendeta alim itu dengan ginkangnya yang sangat tinggi, dan mencari kesempatan buat meloloskan diri.
Tapi kalau sampai dia tergulung dalam kepungan pendeta-pendeta Siauw Lim Sie. biarpun dia tumbuh sayap tentu tidak mungkin bisa meninggalkan Siauw Lim Sie!
Setelah menenangkan goncangan hatinya. Yap Bauw tertawa dingin mukanya yang mengerikan tarabah menyeramkan "Jadi apa yang Hongthio kehendaki ? Jiwaku ? Hutang jiwa ganti jiwa, begitu?"
"Omitohud ! Omitohud ! Sedapat mungkin kami menjauhi permusuhan ataupun dari mengalirnya darah Tapi tadi Kiesu sudak turunkan tangan berdosa kepada tiga murid kami, Kiesu harus mempertanggungjawab-kannya ! Loceng mengingat kebesaran Sang Buddha akan memberikan kesempatan pada Kiesu menyambuti tiga pukulan, kalau K'esu sanggup menerimanya, itulah nasib Kiesu masih dilindungi Sang Buddha, tapi kalau bercelaka itupun tanda dosa Kiesu sudah tak ber-ampun melewati takaran."
Diam-diam Yap Bauw girang. Bagaimana lihainya Tang Sin Siansu, tapi kalau hanya menerima tiga pukulannya apa sulitnya. Dia yakin bisa menyambutinya. Tidak perlu keras dilawan keras. Dia bisa mengandalkan ginkangnya yang luar biasa untuk mengelak dan memunahkan tiga serangan Hongthio Siauw Lim Sie itu, Tanpa pikir panjang Yap Bauw mengangguk. "Baiklah!", katanya "Silahkan Taysu memberi petunjuk ! "
Tidak ada senyum di muka Tang Sin-Siansu, dia melangkah mendekati Yap Bauw, yang waktu itu sudah bersiap-siap menerima serangan Hongthio Siauw Lim Sie tersebut. Pendeta-Pendeta Siauw Lim Sie pun mengawasi dengan tajam. Mereka ingin melihat bagaimana caranya Hongthio mereka memberikan pengajaran kepada tamu yang ganas ini.
"Sudan bersiap, Kiesu ? Loceng akan mulai dengan pukulan pertama !" Memberitahu Tang Sin Siansu,
Yap Bauw tertawa dalam hati. "Hemmm", kepala botak, kau terlalu sombong! Dengan cara menyerang memberitahukan lebih dulu begitu, apa yang kau bisa lakukan terhadapku !"
Tapi dia manggut2" Silahkan I" katanya.
Tang Sin Siansu mengibaskan lengan kirinya, lengan jubahnya yang kebesaran itu berkelebat ke arah Yap Bauw, tangan kanannya tampak bergerak lambat sekali akan mendorong dada Yap Bauw.
Yap Bauw jadi heran melihat cara menyerang Tang Sin Siansu. jurus biasa dari "Cap Pen Lo Han Kun" yang bernama "Lo Han Pe In" (Arhad Menyapu Awan) yang dikenal oleh setiap orang Bu-lim ( Rimba Persilatan ).
Heranlah Yap Bauw, Hongthio Siauw Lim Sie tidak membuka serangan dengan jurus simpanan Siauw Lim Sie, mengingat ia hanya memiliki tiga kali kesempatan menyerang padanya. Tenaga serangan itupun dirasakan lemah, hampir tidak terasa, selain gerak tangan Tang Sin Siansu lambat sekali.
Dengan tertawa mengejek Yap Bauw berkelit kekanan dengan jurus "Yauw Cu Hoan Sin"" (Elang Membalikkan Tubuhnya), dia mencelat ingin berada di sisi kanan pendeta alim itu. Menurut perhitungannya, gerakannya jauh lebih sebat dari Tang Sin Hongthio, tentu pendeta tua itu akan kecele menyerang tempat kosong, Namun kesudahannya Yap Bauw kaget sendirinya, sampai dia menjerit saking kagetnya.
Tangan Tang Sin Siansu yang bergerak lambat ini tahu-tahu berbelok dengan kelima jari tangan menunduk ke bawah, dan telah mendorong, Tenaganya memang tidak keras atau kuat, tapi begitu Yap Bauw mengibaskan menyampok tangan Hongthio Siauw Lim Sie, tangan mendatangnya seperti karet, disanggah kuat, semakin kuat tenaga mendorongnya, semangat Yap Bauw serasa terbang dan mukanya pucat.
"Dukkkk !" perlahan telapak tangan Tang Sin Siansu mengenai dada Yap Bauw, tapi dia terdorong sampai belasan langkah baru bisa berdiri tetap.
Bersambung ke jilid 14
This entry was posted
on Kamis, Juli 29, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar