Panji Tengkorak Darah Jilid 10  

Diposting oleh jagatcerita

PANJI TENGKORAK DARAH
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net

Jilid 10. Kamar Rahasia.

It Bi tertawa gelak-gelak, “Bagus,….. kalau begitu. Tetapi kau belum memberitahukan namamu lho!” serunya kepada Thian-leng.

Thian-leng tertegun, jawabnya, “ Maaf, aku masih bernama Bu-beng-jin....... ”

“Hai, aneh,” It Bi terbelalak, “Apakah kau seorang anak yatim piatu?”

Thian-leng menghela napas. Iapun lalu menuturkan rahasia yang menyangkut dirinya. It Bi mengerutkan dahi. Ia hanya geleng-geleng kepala saja. Kemudian menghela napas. “Kelak apabiila kau sudah berhasil meyakinkan ilmu kesaktian itu, tentu kau dapat mengusut riwayat dirimu!”

Ia bangkit dan mengajak mereka mengikutinya. Pertapa aneh itu menuju ke ruang sebelah kiri. Thian-leng dan Siau-bun pun segera ikut.

Kamar itu gelap gulita, tetapi berkat lwekangnya yang tinggi, dapatlah kedua anak muda itu melihat jelas. Di tengah ruangan seperti terdapat sebuah lubang terowongan selebar dua meter.

“ Itulah pintu masuk dari apa yang dihebohkan orang dalam peta Telaga zamrud. Dulu setelah kubuka, aku terus tinggal di sini , tak pernah pergi kemanapun juga,“ kata It Bi seraya masuk ke dalam terowongan itu.

Thian-leng dan Siau-bun tetap mengikuti. Terowongan itu dalamnya seperti sumur, mempunyai titian batu yang menurun. Diam-diam Thian-leng menghitung titian itu. Jumlahnya tak kurang dari 200 buah undakan. Dasar terowongan itu merupakan sebuah dataran yang terang. Luasnya puluhan tombak. Baik atap maupun lantainya terbuat dari batu seluruhnya. Benar-benar merupakan sebuah bangunan yang besar dan megah.

Diam-diam Thian-leng mengagumi kehebatan mendiang yang telah menciptakan bangunan sedemikian hebatnya.

“Menurut catatan dalam kitabnya. Ruangan ini dibuat sendiri oleh mendiang It Bi siangjin dalam waktu tiga hari!” tiba-tiba It Bi berkata.

“Hai.... tak mungkin!” Thian-leng berseru kaget.

“Seorang yang berilmu sakti, apapun dapat dilakukan. Mungkin batu-batu raksasa ini hanya sebagai benda tak berarti bagi almarhum, ” tukans Siau-bun.

“Benar,” It Bi tertawa, “baginya ruang ini masih belum menyulitkan…… eh, tahukah kalian apa guna ruangan ini?”

Thian-leng menggelengkan kepala. Tetapi Siau-bun segera menanggapi, “Ruang rahasia ini tentu mempunyai alat dan pintu rahasia. Tanpa melihat pada peta, tak mungkin orang bisa keluar. Rupanya It Bi siangjin seorang ahli bangunan yang cerdik!”

“Benarlah,” seru It Bi, “ruang ini mempunyai delapan buah pintu rahasia. Hanya ada sebuah pintu hidup yang boleh dimasuki….” ia menutukkan jari pada ujung dinding batu yang sebelah kanan. Terdengarlah bunyi berdrak-derak dan terbukalah sebuah lubang pintu, It Bi melangkah masuk, Thian-leng dan Siau-bun mengikuti terus.

Melintasi pintu itu, mereka berada di sebuah ruang batu yang terang benderang. Sekeliling dindingnya penuh brtaburan mutiara. Mutiara-mutiara itulah yang memancarkan cahaya cemerlang.

Thian-leng dan Siau-bun terkejut ketika matanya tertumbuk pada sebuah peti mati yang terletak di tengah ruangan. Peti mati itu terbuat dari batu mustika. Di depannya tercantum sebuah tong-pay ( nisan dari logam). Tong-pay itu bertuliskan beberapa huruf yang ditulis dengan guratan jari.’Tempat arwah It Bi siangjin’.

It Bi segera berlutut dan menyuruh kedua anak muda itu berlutut juga. Mereka bersujud dengan khidmat. It Bi bangkit, tetapi ketika Thian-leng hendak bangkit, It Bi melarangnya.

“Mendiang It Bi siangjin telah meninggalkan pesan, bahwa barang siapa mendapat harta peninggalannya, harus menjaga seumur hidup dan melaksanakan cita-citanya.” kata It Bi dengan nada bersungguh-sungguh. “Surat pesanan itu ditanam di bawah. Karena kurang hati-hati ketika menggalinya, surat itu hancur. Tetapi yang penting, ada dua hal dalam surat itu.....”

It Bi berhenti sejenak, katanya pula, “Lebih dulu kau harus mengangkat sumpah untuk menjaga dan melaksanakan pesan almarhum, barulah kau dapat menjadi pewaris It Bi siangjin yang nomor dua dan menjadi muridnya…..”

“Tetapi totianglah yang menemukan suratnya. Seharusnya totianglah yang menjadi pewarisnya yang kedua. Aku rela menjadi pewaris nomor tiga….”

“Tidak!” tukas it Bi. “Sekalipun aku beruntung menemukan peninggalannya, tetapi aku bukanlah pewaris seperti yang dikehendakinya. Apalagi yang kupelajari hanya sepersepuluh kepandaiannya, mana berani mengaku sebagai pewarisnya. Memang akupun sudah mengangkat sumpah di hadapan jenasahnya. Tetapi bersumpah untuk menjaga tempat ini sampai nanti mendapatkan orang yang tepat. Setelah kuserahkan semua peninggalannya, barulah aku pergi. Aku beruntung Sip U-jong akhirnya menemukan kau…..”

Thian-leng mendengarkan dengan tegang.

“Dua buah pesan penting itu, pertama harus orang yang jujur, berjiwa ksatria dan mempunyai cita-cita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Kedua, dia harus memilih pewaris dengan hati-hati, agar ilmu pelajaran It Bi siangjin akan terus berkembang selama-lamanya!”

Serta merta Thian-leng mengucapkan sumpah, “ Tecu (murid) bersumpah di hadapan arwah siangjin, akan taat melaksanakan pesan sampai mati. Kalau sampai berkhianat dan ingkar, biarlah mendapat kutukan yang berat dari Tuhan!”

“Cukup! Bebanku kini sudah impas separoh.... mari ikut!” kata It Bi terus menuju ke belakang peti mati. Di situ terdapat sebuah meja dan ranjang, serta beberapa kursi. Tempatnya bersih. Pada dinding tengah terdapat dua buah gelang batu mustika. It Bi menarik gelang sebelah kanan dan terbukalah sebuah pintu rahasia. Ternyata di situ terdapat pula sebuah kamar rahasia.

“Kamar ini adalah tempat penyimpanan pusaka It Bi siangjin, masuklah!,”seru It Bi yang tegak berdiri di ambang pintu rahasia.

Tanpa bersanggsi lagi Thian-leng segera melangkah masuk. Tetapi baru kakinya melalui pintu, sekonyong-konyong pintu itu menutup. It Bi telah menggerakkkan alat penutup pintu.

Kejut Thian-leng bukan buatan, “Totiang! Totiang……!” ia berteriak sekuat-kuatnya, tetapi tiada sahutan sama sekali. Dicobanya untuk mendorong pintu itu, tetapi..ah… pintu itu tak bergeming sama sekali. Walaupun mendorong sekuat tenagapun tetap tak berhasil.

Pada lain saat ia sadar. Mungkin It Bi memang sengaja menutup pintu agar Siau-bun tak ikut masuk. Karena yang diperbolehkan mempelajari ilmu kitab pusaka itu hanya dia seorang. Tetapi ia memikirkan nona itu. Siau-bun telah menemaninya menempuh bahaya, sekarang setelah mendapat rejeki, ditinggal begitu saja di luar. Ah…. namun ia tak berdaya.!

Ruang itu tak seberapa luasnya, kira-kira hanya seluas dua tombak. Empat dinding ruang dilekati belasan mutiara yang cukup memancarkan terang.
Tetapi yang membuat Thian-leng heran ialah, ruang itu tak terdapat apa-apa. Sebuah ruang yang kosong melompong tanpa isi.

Setelah merenung beberapa saat, barulah Thian-leng tersadar. Kiranya pada empat dinding ruang itu terdapat guratan lukisan dan huruf. Ah, kini barulah ia menyadari. Kitab pusaka It bi-bu-cui itu bukanlah semacam kitab yang dapat dibawa kemana-mana, melainkan tulisan-tulisan yang diguratkan pada tembok!

Thian-leng segera memulai meneliti tulisan di tembok itu. Makin lama ia makin seperti tenggelam dalam lautan yang tiada dasarnya. Dipelajarinya gerak kaki dan tangan sesuai dengan petunjuk-petunjuk tulisan di tembok. Entah berapa lama ia terbenam dalam keasyikan belajar itu, ketika tiba-tiba terdengar bunyi berderak-derak dan pintu batu terbuka.......

“Sudah dua hari, berapa bagiankah yang sudah kau pelajari?” It Bi tegak di ambang pintu dengan tersenyum.

“Ah, mungkin baru seperempat bagian!”

Memang Thian-leng baru dapat mempelajari sebuah dinding saja. Masih ada tiga buah dinding yang belum dipelajari.

“Cukup dengan sebuah dinding saja, mungkin kau sudah tak ada tandingannya!” seru Siau-bun yang berdiri di belakang It Bi.

“Memang, kepandaianmu sekarang sudah lebih unggul setingkat daripadaku.” kata It Bi.

“Ah, mana mungkin. Aku hanya mempelajari dua hari, masakah sudah sedemikian rupa hebatnya,” Thian-leng tak percaya.

“Sebentar kau tentu mengetahui sendiri. Sekarang aku hendak bicara padamu, mari kita keluar!”

Thian-leng keluar dan It Bi pun menutup pintu rahasia itu lagi. Kemudian Thian-leng menanyakan apa yang hendak ditanyakan It Bi.

It Bi berkata, “Sejak kau mengangkat sumpah di hadapan arwah It Bi siangjin, kau sudah menjadi murid pewaris kedua. Saat ini aku kalah tingkatan dan tunduk pada perintahmu. Maka tak usah kau berlaku menghormat lagi padaku....... ”

“Ah, tanpa bantuan totiang mana aku dapat menemui rejeki yang sedemikian besarnya ini,” buru-buru Thian-leng merendahkan diri.

Siau-bun juga turut memperkuat pernyataan Thian-leng dan menganggap pertapa itu adalah penolong yang berbudi.

“Aku bukan menolong, tetapi melaksanakan tugas dalam pesan It Bi siangjin,” kata It Bi kemudian dengan nada bersungguh-sungguh. “Jadi sesungguhnya akulah yang harus berterima kasih padamu.”

“Tetapi bagaimanapun aku tetap menghormat totiang sebagai guru,” Thian-leng membantah.

Keduanya sama tak mau mengalah. Siau-bun tertawa geli, “Ah, kalau terus menerus berdebat tentu takkan putus-putusnya. Aku mempunyai usul.”

“Ya, ya silakan nona bilang.”

“Kusulkan baiklah kalian berbahasa sebagai kakak dan adik saja,” kata Siau-bun.

Masih It Bi kurang puas dan mengatakan hal itu masih melanggar tata tertib. Tetapi Thian-leng segera menjura memberi hormat dan menyebutnya ‘totiang toako’ atau engkoh imam. Akhirnya It Bi terpaksa menerima. Sejak saat itu keduanya sling memanggil kakak adik.

“Tadi aku sedang mempelajari ilmu pelajaran It Bi siangjin, mengapa toako memanggilku keluar?” tanya Thian-leng.

“Sudah dua hari kau berada di situ, apakah kau tak lapar?” It Bi tersenyum. Peringatan itu serentak membuat perut Thian-leng berkeruyuk.

“Sudahlah, makan dulu baru nanti sambung bicara lagi!” seru Siau-bun.

“Nanti dulu, ijinkanlah aku merenungkan sekali lagi pelajaran dalam ruang itu agar tak lupa….”

“Tunggu,” buru-buru It Bi mencegah, “walaupun hanya seperempat bagian, tetapi isinya sudah mencakup ilmu yang sakti. Yang tiga bagian itu kebanyakan hanya ilmu meramal dan ilmu perbintangan saja. Baiklah kau berhenti dulu. Setelah meyakinkan sempurna, barulah kau mulai mempelajari lanjutannya.!”

Setelah berunding banyak tentang rencana yang akan datang, akhirnya diputuskan, Thian-leng boleh pergi. Setahun kemudian harus kembali lagi ke goa itu. Mereka segera keluar ke dalam pondok lagi. Sam-chiu Sin-kun masih menggeletak di lantai tak berkutik.

Ketika keluar dari Telaga zamrud, haripun sudah tengah malam. Kiranya sudah dua hari dua malam Thian-leng masuk ke dalam goa Telaga zamrud. Ia masih belum yakin bahwa kepandaian yang dipelajarinya selama dua hari itu akan dapat mengalahkan Sin-bu Te-kun dan kepala Hek Gak….

“Menurut ukuran kepandaianmu sekarang, kau lebih sakti beberapa kali dari dua hari yang lalu. Apakah saat ini kau tak mendengar atau melihat sesuatu?” tiba-tiba Siau-bun menegur.

Thian-leng seperti disadarkan. Ia kaget-kaget girang ketika merasakan lembah yang diselimuti kepekatan kabut malam itu, tidaklah segelap dalam pandangannya. Seluas satu li, ia dapat melihat dan mendengarkan suara yang betapa kecilpun.
Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya dan berkata dengan ilmu menyusup suara. “Apakah kau dapat mendengar pada jarak duapuluhan tombak….”

“Lupakah kau akan ilmuku Melihat langit mendengarkan bumi?” Siau-bun tersenyum.

“Orang yang diam-diam menguntit kita ini tentulah...”

“Sudah tentu Im Yang songsat dan lainnya. Mungkin selama dua hari ini mereka tetap berkeliaran di sekeliling lembah, tetapi mereka takut kepada It Bi..... ” kata Siau-bun.

Thian-leng berkobar nyalinya. Inilah saatnya ia hendak menguji ilmunya. Segera mereka meneruskan perjalanan. Tak berapa lama tibalah mereka di mulut lembah Pak-bong-kiap. Thian-leng segera mempercepat langkahnya. Ia ingin segera bertemu dengan rombongan Kay-pang.

Baru melintasi mulut lembah, tiba-tiba muncullah lima orang yang mengepung mereka dari lima jurusan.
Mereka ialah Im Yang song-sat suami isteri, Thian-san Siu-sin, paderi Ko Bok dan imam Tiang Pek cinjin. Thian-leng pun lantas bersiap diri.

“Eh, belum pergi?” acuh tak acuh Siau-bun menegur mereka.

“Berikan!” bentak paderi Ko Bok.

“Berikan apa?” sahut Siau-bun.

“Kitab pusaka It Bi siangjin!”

“Si pertapa busuk itu telah membawa kalian ke dalam sarangnya sampai dua hari. Tentulah memberikan kitab itu kepadamu!” teriak Thian-san Siu-sin.

“Dia hanya menjamu kita dengan hidangan yang lezat. Maksudnya begitu kalian sudah pergi, barulah melepaskan kita lagi.” jawab Siau-bun.

“Ngaco!” bentak Tiang Pek cinjin, “Sam-chiu Sin-kun ditutuk jalan darahnya. Terowongan goa dalam sekali, tentulah Telaga zamrud berada di situ! Kau masih menyangkal!”

“Oh, kiranya kalian telah menjenguk pondok itu?” Siau-bun tertawa.

“Benar di situ tentulah tempat penyimpanan pusaka It Bi siangjin!” seru Tiang Pek cinjin.

“Kalau sudah menduga begitu, mengapa kalian tak mengambilnya? Mengapa menunggu di situ saja?”

Merahlah wajah pertapa Tiang Pek, ia berpaling kepada paderi Ko Bok , “Budak perempuan ini bermulut tajam, tak perlu berdebat dengannya. Kita mulai menggeledahnya saja!”

“Benar, mari mulai sekarang juga!” paderi Ko Bok menggerung.

“Jangan terburu-buru....” teriak Siau-bun sehingga kelima jari Ko Bok yang sudah direntang hendak mencengkeram si nona itu terpaksa dihentikan.

“Asal kalian mau menyerahkan dengan baik, tentu kami lepaskan kalian pergi....”

“Apakah kalian tentu harus mendapatkan benda itu?” Siau-bun tertawa terpaksa.

“Sudah tentu!”

Tiba-tiba Siau-bun menuding ke arah Thian-leng, serunya. “Kitab pusaka berada padanya. Minta saja!”

Thian-leng terkesiap, serunya.”Mengapa adik Bun……”

Siau-bun tertawa mengikik, “Kau mengaku atau tidak, mereka tetap menghendaki….”

“Benar, kita harus mendapatkan sekarang juga!” bentak paderi Ko Bok seraya berputar merangsek Thian-leng. Melihat itu kedua suami isteri Im Yang song-sat, Tiang Pek cinjin dan Thian-san Siu-sin pun menyerbu Thian-leng.

“Adik Bun, kau tahu jelas aku tak membawa apa-apa, mengapa kau katakan kitab itu berada padaku?” Thian-leng menyesali Siau-bun.

Namun nona itu hanya tertawa, “Kita berada selama dua hari dalam goa telaga zamrud, apakah mereka mau percaya kita tak membawa apa-apa?”

“Sudah tentu tidak percaya!” teriak paderi Ko Bok.

Pun Thian-san Siu-sin mengancam, “Budak, rupanya kau memang ingin menjadi penghuni peti mati. Kalau tak diberi sedikit rasa tentu belum kapok…..” kemudian ia berseru kepada lainnya. “Harap saudara-saudara menyingkir dulu, biar aku yang membekuk budak ini!”

Tiang Pek cinjin tertawa sinis dan loncat merintangi, “Tak usah saudara mencapekan diri, aku sendiri cukup membereskannya!”

Ternyata tokoh-tokoh itu sama mengerti. Mereka tahu jelas sampai di mana kepandaian Thian-leng dan Siau-bun ini. Salah seorang dari mereka itu sudah cukup untuk meringkus anak muda itu. Hal itu menimbulkan perebutan. Mereka saling berebut hendak menangkap Thian-leng yang dikira tentu menyimpan kitab pusaka.

Thian-leng masih meragu. Ia hendak segera meloloskan diri dan yang kedua ia masih belum yakin akan kepandaian yang dipelajarinya selama dua hari itu.

“Eh, mengapa kau masih ragu-ragu? Inilah saat yang tepat untuk menguji kepandaianmu!” teriak Siau-bun.

Thian-leng tertawa meringis. Kalau kepandaiannya ternyata gagal menghadapi kelima durjana itu, paling banyak itu hanya mati. Baginya kematian tak terlalu dipersoalkan. Tetapi bagaimana dengan tugas yang diletakkan di bahunya oleh para cianpwe yang melepas budi kepadanya itu? Bagaimana dengan warisan dari It Bi saingjin dan sebagainya!

Tetapi ia tak diberi kesempatan untuk bersangsi lagi. Sekonyong-konyong paderi Ko Bok menyelonong maju mencengkeram dadanya. Seketika marahlah Thian-leng. Pedang dilintangkan ke dada untuk menjaga diri, dengan tangan kiri ia balas menghantam Ko Bok.

Mempelajari ilmu silat It Bi siangjin yang luar biasa dalamnya itu, tak mungkin selesai dalam waktu dua hari saja. Untunglah berkat otaknya yang terang, Thian-leng dapat mengingat semua pelajaran itu. Kini dicobanya menggunakan salah satu jurus dari It bi bu-cui.

Paderi Ko Bok termasuk tokoh yang jarang tandingannya. Dia yakin cengkeramannya itu tentu berhasil meremukkan dada si anak muda. Tetapi apa yang diperolehnya benar-benar di luar dugaannya!

Memang diketahuinya juga Thian-leng balas memukul. Tetapi gerakannya itu adalah sebuah gerakan ilmu silat yang sederhana saja. Diam-diam ia geli dan melipatgandakan tenaga cengkeramannya.

Tamparan Thian-leng tepat sekali mengenai siku lengan lawan. Cepat dan aneh sekali gerak tamparan itu sehingga musuh tak sempat menghindar lagi. Menjeritlah paderi Ko Bok seperti babi yang disembelih. Lengannya serasa putus dan tubuhnyapun terlempar…

Sekalian orang terbeliak kaget. Bahkan Thian-leng sendiripun terkesima. Sebenarnya ia hendak menggunakan ilmu pukulan Lui hwe ciang. Adalah karena paderi Ko Bok menyerang secara cepat, ia tak sempat mengembangkan Lui hwe caing dan terpaksa mainkan gerakan menampar itu. Sedikitpun ia tak menyangka bahwa ia dapat menggulingkan lawannya secara begitu gemilang.

“Ayo, siapa lagi yang berani maju?” Siau-bun melengking.

Sepasang suami isteri Im Yang songsat menyambut dengan gemboran keras dan bergerak menerjang. Keduanya tahu apa yang diderita paderi Ko Bok, tetapi mereka masih tetap yakin, apabila menyerang secara cepat tentu dapat membuat si anak muda tak berkutik. Dan telah menjadi tekad mereka, lebih baik mati daripada tak mendapatkan kitab pusaka.

Thian-leng menyapu dengan pedangnya. Ia menggunakan jurus Hong-ki-hun-yong atau Angin meniup awan berkembang. Sebuah jurus dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam ajaran wanita sakti Toan-jong-jin. Tetapi di luar kemauannya, ia telah mainkan salah sebuah jurus dari ilmu ajaran It Bi siangjin.

Tampak segumpal sinar pedang berhamburan memenuhi udara. Sesaat kemudian terdengar jeritan dan Im Yang songsat pun tehuyung-huyung mandi darah. Si lelaki yang bernama Go Goan-pa, lengan kirinya tergores ujung pedang dan si perempuan yang bernama Po Giok-kang pun menderita luka di perutnya.

Dalam beberapa detik saja Thian-leng telah berhasil mengalahkan tiga orang tokoh persilatan yang ternama. Thian-leng makin heran. Ia mengkombinasikan jurus ilmu pedang Toh beng-sam-kiam dengan sedikit jurus It bi-bu-cui. Ia merasa selama dua hari ini tak ada perobahan yang menyolok. Tetapi apa yang dihasilkan, benar-benar membuatnya seperti bermimpi.

Thian-san Siu-sin diam-diam menyadari apa yang terjadi pada anak muda itu. Ia mencuri lirik pada Tiang Pek cinjin. Pertapa itupun mengetahui apa yang dipikirkan Thian-san Siu-sin. Jelas si anak muda telah mendapat ilmu pelajaran dari It Bi. Mundur malu, maju gentar. Tetapi, ah… anak muda itu baru mempelajari dua hari saja. Bagaimanapun tentu belum sempurna latihannya. Kalau tak segera ditumpas, kelak tentu semakin sukar. Tiang Pek cinjin membalas isyarat Thian-san Siu-sin dengan tatapan mata.

Segera Thian-san Siu-sin tertawa sinis dan melangkah maju ke hadapan Thian-leng.

“Sebenarnya aku tak mau bermusuhan dengan orang. Baiklah saudara jangan mendesak, benar-benar aku tak membawa kitab pusaka itu!” Thian-leng memberi peringatan.

“Ah, Bu Beng tayhiap salah paham….” Thian-san Siu-sin kedipkan mata, “setiap pusaka tentu mencari pemilik yang tepat. Aku tahu diriku tak berjodoh, takkan melanggar garis alam.”

Mulutnya berbicara begitu, tetapi dia tetap melangkah maju. Siau-bun yang berdiri di samping, tahu maksud orang, namun ia hanya ganda tertawa saja.

“Kalau cunkia tak bermaksud begitu, baiklah segera tinggalkan tempat ini….”

Thian-san Siu-sin cepat-cepat menukas, “Aku hanya akan bertanya padamu……” ia sudah berada dua meter di hadapan Thian-leng. Juga Tiang Pek cinjin yang berada di belakang Thian-leng, berkisar merapat di belakang Thian-leng.

“Aku tak bermusuhan kepada kalian berdua. Sedapat mungkin jangan kita bertempur lagi. Silakan bertanya, akupun segera angkat kaki dari sini!” sahut Thian-leng.

Tiba-tiba Tiang Pek cinjin memberi isyarat mata kepada Thian-san Siu-sin.

“Aku ingin bertanya apakah Bu Beng tayhiap sudah mendapatkan kitab pusaka itu atau belum?” tanya Thian-san Siu-sin pula.

“Walaupun aku sudah mendapat ilmu ajaran It Bi siansu, tetapi..... ” Thian-leng mengerutkan alis.

Suami isteri Im Yang songsat dan paderi Ko Bok yang masih duduk di tanah, mengerang
kaget mendengar kata-kata si anak muda. Serentak Thian-san Siu-sin menyeletuk, “Siansu , apakah....?”

“Aku sudah bersumpah di hadapan layon It Bi siangjin untuk menjadi murid pewaris angkatan kedua, maka................. ”

“Oh, jadi tadi Bu Beng tayhiap telah menggunakan ajaran It bi-bu-cui?” Thian-san Siu-sin berseru kaget.

Thian-leng seorang pemuda yang jujur. Karena melihat keramahan Thian-san Siu-sin, iapun menjawab dengan terus terang. Tetapi di luar dugaan, sekonyong-konyong Thian-san Siu-sin memukulkan kedua tangannya. Seluruh tenaganya ditumpahkan dalam pukulan dahsyat yang di arahkan ke dada si anak muda!
Berbareng dengan itu Tiang Pek cinjin segera bergerak secepat kilat menyerang punggung Thian-leng. Dua tokoh kenamaan, pada jarak yang dekat dan waktu yang bersamaan telah menyerang dengan seluruh tenaganya. Bagaimana akibatnya benar-benar tak dapat dibayangkan!

Thian-leng kaget sekali. Di luar kesadarannya, rasa kaget itu telah membangkitkan tenaga dalam. Dua hari belajar dalam goa rahasia telaga zamrud benar-benar membuat Thian-leng seorang manusia baru. Kini ia telah memiliki semacam tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi, sehingga setiap saat daapt dikembangkan. Serangkum hawa hangat serentak menghambur dari tubuhnya.

“Uh….” terdengar jeritan tertahan dari kedua orang itu ketika pukulan mereka terpental oleh tenaga dorongan yang tak tampak. Dan serentak dengan itu, Thian-leng pun membalas. Ia memukul Thian-san Siu-sin dengan pukulan Lui-hwe-ciang dan menebas Tiang Pek cinjin dengan ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam. Terdengar jeritan ngeri dari tiga sosok tubuh yang terlempar sampai setombak jauhnya. Tiang Pek cinjin pecah perutnya, ususnya berhamburan keluar. Thian-san Siu-sin terkapar di tanah tanpa berkutik lagi. Dan yang ketiga ialah paderi Ko Bok yang remuk lengannya.

Waktu melihat Thian-san Siu-sin dan Tiang Pek cinjin menyerang Thian-leng, ia yakin anak muda itu tentu akan terbekuk dan kitab pusaka pasti jatuh ke tangan kedua tokoh itu. Dalam keadaan lengannya masih kesemutan, ia tetap bernafsu untuk ikut merebut kitab.
Segera ia menghantam Thian-leng dengan tinju kirinya. Tetapi akibatnya mengerikan sekali. Thian-leng berputar dan menyongsong dengan pukulan. Tubuh paderi Ko Bok laksana layang-layang putus talinya, ia terlempar sampai setombak lebih. Separoh badan gosong, tulang remuk dan jiwanyapun melayang….

Sepasang suami isteri Im Yang songsat menjerit ngeri dan mundur beberapa langkah. Thian-leng memandang terlongong-longong ke arah ketiga mayat yang menjadi korbannya itu. Ia benar-benar seperti bermimpi………….

“Adik Bun, apakah ….. ini benar-benar terjadi?” beberapa saat kemudian ia bertanya.

Siau-bun tertawa sedap.”Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang, kau sudah tergolong jago nomor satu atau dua dalam dunia persilatan! Kau tentu sudah mengetahui apa manfaat pelajaran yang kau yakinkan dalam dua hari itu!”

Di luar dugaan Thian-leng malah menghela napas dan segera mengajak Siau-bun berjalan. Ia tak tahu apakah ia harus bergembira atau bersedih. Apa yang dicita-citakan selama ini telah tercapai. Seharusnya ia bergembira, tetapi entah bagaimana terharu sekali. Hampir tak dapat ia menahan air matanya.

“Ah, masih ada dua orang pengganggu lagi!” tiba-tiba Siau-bun berseru seraya melirik kepada sepasang suami isteri Im Yang songsat yang berlumuran darah.

Thian-leng tak setuju atas tindakan Siau-bun yang sering main bunuh orang. Ia tak mau mengganggu jiwa suami isteri itu. Tiga jiwa tadi sudah cukup mengerikan.

“Eh, apa mereka mau melepaskan engkau?” Siau-bun tertawa ketika Thian-leng hendak melanjutkan langkah.

“Sudah tiga jiwa melayang, apakah……” belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, kedua suami isteri Im Yang menghampirinya. Bluk…, serta merta kedua suami isteri ganas itu berlutut di hadapan Thian-leng.

“Silakan pergi, aku bukan orang yang suka mengganas!” Thian-leng berseru heran.

Kedua suami isteri itu saling berpandangan. Si wanita berseru, “Kami berdua sekali-kali bukan takut mati. Tetapi kami mohon Bu Beng tayhiap suka menerima kami.”

“Menerima apa? Sebagai murid?” Thian-leng heran. Ia duga kedua suami isteri itu masih tak mau mundur untuk mencari kitab pusaka.

Yang-sat Go Goan-pa cepat berseru, “Seumur hidup kami suami isteri belum pernah tunduk pada orang lain, tetapi terhadap Bu Beng tayhiap kami benar-benar kagum sekali. Mohon Bu Beng tayhiap suka menerima kami sebagai budak. Kami rela melayani tayhiap
seumur hidup!”

“Ah jangan!” buru-buru Thian-leng berseru, “aku masih muda dan masih mempunyai tugas berat. Aku tiada tempat tinggal menentu dan tak mau kuseret kalian turut menderita. Dan yang ketiga......”

“Jika tayhiap menolak, lebih baik kami bunuh diri saja...” tiba-tiba kedua suami isteri itu menukas dan berbareng bersikap hendak menghantam ubun-ubun kepala mereka.

“Tunggu!” Thian-leng cepat mencegah, “kita bicara dulu!” Ia berpaling kepada Siau-bun dan menegur, “Adik Bun, mengapa tak mau mencegah mereka?”

Nona itu tertawa menyengir,”Segala urusan aku bersedia memberi pendapat, kecuali dalam hal ini,” ia deliki mata kepada anak muda itu, serunya lebih lanjut,”Mereka menyatakan bersungguh hati hendak menghamba, menerima atau tidak terserah padamu. Jika kukatakan supaya ditolak saja, mereka tentu akan mendendam padaku, hal ini.....”

“Nona mengerti jelas, “buru-buru suami isteri itu menghadap ke arah Siau-bun, “bahwa kami bersungguh hati hendak menjadi hamba tayhiap. Kami harap bantuan nona untuk menganjurkan tayhiap supaya sudi menerima permintaan kami. Dahulu kami telah bersumpah, kalau tak dapat menjadi jago nomor satu di dunia, kami rela menjadi budaknya saja atau lebih baik mati!”

“Telah kukatakan,” Siau-bun tertawa sinis, “aku tak mau campur urusan ini. Lebih baik kalian langsung menanyakan padanya, mungkin....... Bu Beng tayhiap bukan orang yang suka mengecewakan harapan orang, mungkin saja......” ia tertawa.

Dengan girang kedua suami isteri itu segera mendesak Thian-leng pula.

“Aku mempunyai kesulitan yang sukar kukatakan,” akhirnya Thian-leng menyahut.

Yang-sat Go Goan-po menghela napas panjang. “Ah, kalau begitu, hambapun tak berani memaksa. Ah,…” ia berpaling kepada isterinya, “kita terpaksa harus melaksanakan sumpah kita dahulu!”

Sahut si isteri Im-sat dengan menghela napas, “Apa boleh buat, kita tak dapat berbuat apa-apa!”

“Yang jelek adalah nasib kita,” kata Yang-sat Go Goan-po dengan nada rawan, ia mengangkat tinjunya lagi ke atas. “Selamat tinggal isteriku, kutunggu kau di pintu akhirat!” Ia segera ayunkan tinjunya.

Benar-benar Thianleng kaget tak terkira. Ia tak mau melihat korban yang keempat. Tanpa disadari, ia ulurkan tangannya menyambar lengan Yang-sat Go Goan-po.
Go Goan-po meronta-ronta, “Lepaskan tayhiap, karena tayhiap tak mau menerima permintaan kami lebih baik kami mati saja. Apa artinya kami hidup di dunia lagi, lebih baik…..” ia meronta-ronta seperti orang kalap hendak bunuh diri.

“Mengapa kau begitu keras kepala. Ketahuilah kalau kalian ikut padaku, lebih banyak menderita daripada bahagia.... ”

“Tetapi itu sudah menjadi sumpah kami. Untung celaka kami sudah bersedia!” si wanita Im-sat menyeletuk.

Kembali Thian-leng memandang ke arah Siau-bun, tapi nona itu hanya tertawa mengikik tak mengacuhkan. Akhirnya Thian-leng mengalah, “Baiklah, kuterima permintaan kalian, tetapi.......... ” tiba-tiba ia berobah nada bengis, “Lebih dahulu kalian harus berjanji tak boleh melakukan kejahatan lagi. Segala hal harus berunding padaku......... ”

“Sudah tentu hamba tak berani bertindak sendiri. Dalam segala hal, biar kecil maupun besar tentu akan menjalankan perintah tuan!” buru-buru kedua suami isteri itu menyatakan.

Thian-leng menghela napas. Terpaksa ia menerima kedua suami isteri itu menjadi budaknya, walaupun sebenarnya ia tak suka.

“Aku harus memberi selamat padamu......” Siau-bun tertawa, “pertama atas pengangkatanmu sebagai ketua partai pengemis dan kini mendapat pengabdian dari dua orang tokoh berilmu……..”

“ Kau harus memaklumi keadaanku………..” Thian-leng tertawa meringis dan terus melanjutkan langkah. Siau-bun dan kedua suami isteri Im Yang song-sat mengikuti.

Di luar lembah rombongan pengemis yang dipimpin Lau Gik-siu tentu akan menyambut kedatangannya dengan gembira. Demikian pikir Thian-leng. Tetapi ternyata ia tak melihat barang seorangpun pengemis.

“Lau tongcu....Lau ......tong....cu,” demikian Thian-leng meneriaki Lau Gik-siu. Tetapi suaranya tak menyahut, orangpun tak tampak.

Thian-leng gelisah.

“Eh, mengapa kau ini?” tegur Siau-bun.

“Sebagai ketua kaypang, aku belum pernah mendirikan jasa apa-apa terhadap partai. Kini kelihatannya malah membuat mereka tertimpa bahaya. Bukankah perbuatanku ini merugikan Kay-pang?” Thian-leng membanting-banting kaki.

“Bagaimana kau tahu mereka terancam bahaya?” Siau-bun balas bertanya.

“Kalau tidak terserang bahaya, mengapa mereka tak berada di sini?”

Siau-bun tertawa, “Sudah dua hari kita meninggalkan tempat ini. Apakah kau kira mereka mau menunggu di sini? Siapa tahu mereka sudah pulang ke sarangnya!”

“Ah, kau tak mengetahui tata tertib Kay-pang!” Thian-leng penasaran, “ketua memerintahkan mereka menunggu di sini, biarpun menghadapi bahaya apa saja, mereka tentu tetap menunggu di sini. Itulah sebabnya....”

“Sekalipun benar mereka tertimpa bahaya, apakah penyesalanmu ini dapat menolong ? Apalagi di sekitar sini tiada terdapat sesosok mayatpun. Juga tidak ada tanda-tanda bekas pertempuran.” sejenak Siau-bun memandang Thian-leng dengan tajam, serunya pula, “Mungkin mereka ditipu anak buah Sin-bu-kiong supaya pergi ke lain tempat atau mungkin anak buah Kay-pang itu memang sudah tertangkap musuh. Tak perlu bingung-bingung, yang penting kita harus mencari jejak mereka!”

Thian-leng tergerak hatinya. Tiba-tiba ia menarik tangan si nona terus diajak berlari menuju ke tempat barisan partai Thiat-hiat-bun.........

Penyelesaian.

Kini Thian-leng bukanlahThian-leng pada dua hari yang lalu. Betapapun Siau-bun dan kedua suami isteri Im Yang song-sat hendak menyusul, tetapi tetap ketinggalan beberapa tombak di belakang anak muda itu.

Pada saat itu barisan partai Thiat-hiat-bun terlihat. Teganglah hati Thian-leng. Sekalipun masih terpisah pada jarak puluhan tombak, tetapi Thian-leng dapat melihat jelas. Sesaat kemudian Siau-bun dan Im Yang song-satpun tiba. Merekapun mengetahui apa yang telah terjadi di dalam barisan Thiat-hiat-bun saat itu.
Tokoh-tokoh sakti dari partai Thiat-hiat-bun, Sin-bu-kiong dan Hek Gak, semua lengkap berkumpul di tengah lapangan.

Dari wajah mereka terlihat rupanya mereka sedang menghadapi suatu masalah berat. Tiba-tiba Thian-leng dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang mengherankan. Si gendut Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi berada di samping Tokko Sing ( algojo Hek Gak).

“Adik Bun, bukankah Bok cianpwe telah kau beri minum pil? Mengapa dia.......” baru Thian-leng bertanya dengan ilmu menyusup suara, Siau-bun sudah menukas. “Mestinya pil itu dapat menyembuhkan ingatannya yang linglung. Hanya ada dua kemungkinan. Dia telah diberi racun ganas, atau entah diapakan oleh ketua Hek Gak!”

Thian-leng menghela napas. Kalau ketua Hek Gak benar-benar telah merusak urat syaraf jago tua itu, sukarlah untuk menyembuhkannya lagi.

Ketiga partai yang hadir di lapangan itu tak kurang dari dua tiga ratus orang banyaknya. Sekalipun belum ada tanda-tanda petempuran tetapi suasananya tegang sekali.

“Telah membuat saudara menunggu sampai dua hari dua malam. Sekarang ...... apakah hendak bubaran?” tiba-tiba Jenggot perak Lu Liang-ong berseru.

Sin-bu Te-kun segera menggembor, “Lu loji, tak kuhiraukan segala apa lagi kecuali hendak bertempur denganmu. Di dunia persilatan hanya terdapat satu, ada Thiat-hiat-bun tak ada Sin-bu-kiong, ada Sin-bu-kiong tak ada Thiat-hiat-bun!”

Lu Liang-ong tertawa acuh tak acuh, “Oh, jadi kedatanganmu ke gunung Thay-heng-san sini untuk hal itu?”

Sin-bu Te-kun terbeliak diam. Matanya berkeliaran menyapu ke sekeliling. Dilihatnya rombongan Hek Gak hadir lengkap. Agak legalah hati Sin-bu Te-kun.

“Apakah maksud kedatanganku kemari, tak perlu kauresahkan. Yang jelas, sekarang kita selesaikan dulu persoalan kita!” serunya dengan dingin.

“Bagaimana dengan kitab pusaka It Bi siangjin? Tidak kuatir didahului orang lain?” Jenggot perak tertawa mengejek.

“Dengarlah!” seru Sin-bu Te-kun dengan suara mantap, “sekalipun orang yang mempunyai peta telaga zamrud itu sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka, tetapi jangan harap dia bisa lolos dari gunung ini!”

Ucapan itu mengandung maksud bahwa Sin-bu Te-kun telah memerintahkan anak buahnya untuk menghadang semua jalan di Thay-heng-san. Karena ketua Hek Gak juga mempunyai kepentingan dalam memburu kitab itu, ia hanya mendengus saja. Rupanya ia mempunyai rencana juga.

Jenggot perak Lu Liang-ong tetap ganda ketawa, “Berulang kali kukatakan, aku tak bermaksud bermusuhan padamu. Juga telah kujanjikan akan membantumu dalam rapat tokoh persilatan nanti supaya kau berhasil melaksanakan cita-citamu. Tetapi eh, mengapa kau selalu bersikap memusuhi aku saja?”

“Hm, aku sudah kenyang makan tipu muslihatmu! Jangan harap kau dapat meninabobokan aku lagi!” Sin-bu Te-kun menggerung.

“Jadi kau tetap hendak bermusuhan dengan Thiat-hiat-bun?”

“Sedikitpun tak salah!”

“Jika tak dapat menahan diri dalam urusan kecil, tentu akan menderita kerugian dalam urusan besar. Apakah kau tak akan menyesal?”

Sin-bu Te-kun benci setengah mati kepada ketua Thiat-hiat-bun itu. Seolah-olah kalap hendak menempur Thiat-hiat-bun. Tetapi di kala mendengar penegasan Lu Liang-ong itu hatinya berdebar keras.

Di sampingnya ialah Kongsun Bu-wi, ketua Hek Gak yang berambisi besar. Bukan saja dia hendak memburu kitab pusaka, tetapi juga hendak merebut kedudukan kepala dunia persilatan. Jika ia bertempur dengan ketua Thiat-hiat-bun, tentulah keduanya menderita kehancuran. Dan...ah..... siapa lagi yang akan memperoleh keuntungan kalau tidak ketua Hek Gak yang licin dan ganas itu....

“Aku bertekad hendak menempur Thiat-hiat-bun, bagaimana dengan saudara Kongsun......”, baru ia hendak mencari penegasan pada Kongsun Bu-wi, ketua Hek Gak itu sudah menegas,”Aku bersedia berdiri di belakangmu saudara Ki!”

Diam-diam ketua Hek Gak itu girang dan mengharapkan agar Sin-bu-kiong lekas bertempur dengan Thiat-hiat-bun. Kebalikannya hati Sin-bu Te-kun seperti disiram air. Kemarahannya pun mereda. Kalau toh hendak bertempur, paling tidak ia harus menarik supaya pihak Hek Gak ikut serta dengan serempak.

Rupanya jenggot perak dapat membaca isi hati kedua tokoh itu. Tiba-tiba ia berseru dengan nada bengis, “Aku si orang tua tak suka ribut-ribut, kalau kalian memang belum mengambil keputusan, silakan merundingkan kembali!” Habis berkata ia memberi isyarat dengan kebutan lengan baju. Jago-jago Thiat-hiat-bun yang terdiri dari empat su-kiat, tigapuluh enam Thian-kong dan tujuhpuluhdua Te-sat segera pecahkan diri dalam dua formasi deretan. Mereka berjajar mengawal ketuanya.

Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak terkejut. Merekapun segera memberi isyarat kepada anak buahnya supaya bersiap. Rombongan jago Sin-bu-kiong dan Hek Gak segera berbondong-bondong merintangi rombongan Thiat-hiat-bun.

Jenggot perak tertawa meloroh. Ia mengebutkan lengan bajunya lagi dan rombongan anakbuahnya segera berhenti. Gerakan mereka rapih sekali. Jelas mereka telah terlatih baik. Seratus orang lebih dapat bergerak dengan serempak.

“Lu loji, aku tak sudi menelan tipumu lagi. Barisanmu itu mungkin tak sempat main-main lagi di hadapanku!” seru Sin-bu Te-kun.

“Andaikan barisan itu hancur, tetap kau ini kuanggap sepi....” seru Lu Liang-ong sambil menatap tajam kepada Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak. “Kita akan bertempur satu lawan satu atau secara keroyokan? Silakan kau memilih, kalau tidak.......ah, aku tak punya waktu lagi menemani kalian! ”

“Kau mau pergi?” seru Sin-bu Te-kun.

“Tidak semudah itu kawan!” ketua Hek Gak pun menambahi.

Namun Jenggot perak tetap sabar, serunya,“Kalau begitu harap kalian segera mengatakan caranya bertempur. Aku si orang tua tentu takkan mengecewakan harapan kalian!”

“Aku mempunyai rencana, entah saudara Kongsun.... ” kata Sin-bu Te-kun kepada ketua Hek Gak.

“Thiat-hiat-bun berani masuk ke wilayah Tionggoan, tentu tak bermaksud baik..... ”

“Salah!” Jenggot perak menukas. “Penyelenggaraan rapat orang gagah itu adalah sebagai suatu penghormatan kepada ksatria-ksatria Tionggoan...... ” ia tertawa. “Tetapi sayang, di antaranya masih terdapat tokoh yang tak kupandang sebelah mata. Yang satu dari Sin-bu-kiong dan yang satu dari Hek Gak!”

Bukan kepalang marahnya Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak. Seru Sin-bu Te-kun kepada ketua Hek Gak, “Kita berdua masing-masing menempur si Lo tua itu satu jurus, kemudian .... silakan cong-houhwat Ang-tim gong-khek ( Bok Sam pi) menempurnya sejurus. Jadi tua bangka itu harus bertempur tiga jurus. Kalau dia kalah dua jurus...... ”

Sengaja kata-kata itu diucapkan dengan keras agar Jenggot perak mendengar. Sebelum selesai, Jenggot perak sudah menukas, “Jika aku si tua ini sampai kalah dua kali, aku segera meninggalkan Tionggoan dan Thiat-hiat-bun takkan muncul lagi di masyarakat.....
Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Aku setuju dengan cara itu, tetapi….bagaimana kalau aku yang menang?”

Sin-bu Te-kun gelagapan. Buru-buru ia berpaling kepada ketua Hek Gak, “Bagaimana pendapat saudara Kongsun?”

Sebenarnya ketua Hek Gak tak menyetujui usul Sin-bu Te-kun. Tetapi ia tiba-tiba mendapat pikiran. Ia merasa kepandaiannya masih kalah dengan Sin-bu Te-kun. Ia harus mengadu Sin-bu Te-kun dengan Jenggot perak. Andaikata Sin-bu Te-kun yang menang, ia akan mengajukan gurunya. Tetapi kalau Jenggot perak yang menang, ia nanti akan mencari alasan untuk membatalkan perjanjian.

Tertawalah ia dengan sinis, “Lo tua berjanji akan pergi dari Tionggoan kalau sampai kalah. Kitapun juga demikian. Kalau sampai kalah, kita harus mengasingkan diri takkan muncul lagi di dunia persilatan. Adil bukan?”

Jenggot perak mengangguk-angguk tertawa puas, “Aku tak berani meminta lebih dari itu. Perjanjian itu kita resmikan……..” ia mengisar maju selangkah, serunya, “Aku si orang tua harus menghadapi tiga lawan. Siapakah yang lebih dulu hendak menjadi lawanku?”

Cepat ketua Hek Gak menyahut, “Nama Sin-bu-kiong sudah termasyhur di dunia persilatan, sudah tentu aku tak berani melancangi!”

Diam-diam Sin-bu Te-kun mendamprat kelicikan ketua Hek Gak. Namun iapun sgera melangkah ke hadapan jago Thiat-hiat-bun, serunya, “Baiklah, aku akan mohon sejurus pelajaran darimu!”

Dalam kitab pusaka Im-hu-po-kip, ilmu jari Hiat-im-ci termasuk yang paling hebat sendiri. Dan ilmu itu telah dilatihnya dengan sempurna. Apabila kelima jarinya digerakkan, hebatnya bukan kepalang. Betapapun lihaynya Jenggot perak, pun tentu akan kalah.

Sin-bu Te-kun menutup kata-katanya dengan sebuah jurus jurus Ngo-hian-ki-hwat atau lima jari serentak menyambar. Jenggot perak tertawa. Ia menamparkan tangannya ke kanan. Tar..........

Keduanya adalah tokoh kelas satu. Gerakan mereka cepat dan dahsyat. Dalam lingkungan satu tombak, bumi terasa bergetar! Tetapi ketika kedua jago itu belum beradu pukulan, sekonyong-konyong terdengar lengking bentakan orang, “Tahan!”

Sesosok tubuh menyela di tengah kedua tokoh itu. Jenggot perak dan Sin-bu Te-kun serentak menyurut mundur beberapa langkah. Seorang pemuda berbaju biru tegak berdiri dengan gagahnya. Jenggot perak girang, Sin-bu Te-kun terkejut dan sekalian orang berteriak kaget. Itulah Thian-leng!
Mereka melihat gerakan pemuda itu jauh bedanya dengan dua hari yang lalu.

“Hai budak, apakah kau hendak melanjutkan pertempuran kita lagi?” teriak Sin-bu Te-kun.

“Benar, memang aku hendak melanjutkan pertempuran kita yang belum selesai itu,” seru Thian-leng.

Sin-bu Te-kun membelalakkan matanya, “Eh”, rupanya dalam dua hari ini kegagahanmu bertambah……”

“Tahu sendiri sajalah, ” Thian-leng tertawa dingin, lalu memberi hormat kepada Jenggot perak, “Wanpwe telah berjumpa .....”

Maksudnya hendak menjelaskan tentang si dara Lu Bu-song, tetapi Jenggot perak segera menukas dengan ilmu menyusup suara, “Mengapa kau mengganggu pertempuranku dengan iblis tua ini?”

Thian-leng menyahut juga dengan ilmu menyusup suara, “Wanpwe hendak mewakili....”

“Mana kau sanggup menandinginya?”

“Terus terang, wanpwe telah mendapatkan ilmu ajaran It Bi siangjin!”

Jenggot perak tersentak kaget, “Apakah kitab itu ada padamu?”

“Tidak, pelajaran itu dilukis di tembok!”

“Tetapi kau hanya belajar dua hari, mana dapat mempelajari dengan mahir?” Jenggot perak menegas, walaupun tadi telah diketahui jelas betapa jauh bedanya gerakan pemuda itu sekarang.

“Harap locianpwe jangan kuatir, wanpwe sanggup menandinginya,” sahut Thian-leng dengan yakin.

“Baik, cobalah,” Jenggot perak tertawa riang.

Di antara sekalian orang yang berada di situ, adalah Ang-tim gong-khek Bok Sam-pi yang paling tegang. Ia masih ingat ketika di dalam Hek Gak dijatuhkan oleh anak perempuan kawan pemuda itu.
Segera ia hendak melangkah maju, tetapi ketua Hek Gak cepat-cepat membisikinya. Bok Sam-pi terpaksa menahan kemarahannya.

Di manakah Siau-bu dan kedua suami isteri Im Yang song-sat? Ternyata mereka bersembunyi untuk menunggu perkembangan.

Sebagai seorang tokoh yang berpengalaman. Sin-bu Te-kun sudah menaruh kecurigaan atas sikap Thian-leng yang begitu garang. tentu pemuda itu telah mendapat apa-apa yang luar biasa. Namun ia tak percaya bahwa hanya dalam dua hari saja, pemuda itu dapat berganti tulang. Bagaimanapun ia tentu dapat menguasainya.

“Lu tua, hendak menerencanakan apa kau dengan budak hina itu? Bagaimana dengan acara kita?” tegurnya ketika melihat Jenggot perak bertukar cakap dengan Thian-leng.

Jenggot perak tertawa, “Aku hendak menarik diri!”

“Menarik diri?” Sin-bu Te-kun terkejut, “hai, apakah kau menyesal karena takut mati di tangan orang Sin-bu-kiong?”

“Kuwakilkan pada anak muda ini, aku cukup menonton di samping saja.” sahut Jenggot perak.

“Budak itu?” Sin-bu Te-kun tertawa mengejek.

“Iblis tua, jangan temberang!” bentak Thian-leng seraya melangkah maju.

“Baiklah, takkan kutolak maksudmu, tetapi....” Sin-bu Te-kun tertawa. Ia berkata kepada ketua Hek Gak, “dengan anak itu aku mempunyai taruhan seratus jurus. Masih sepuluh jurus belum selesai. Maksudku hendak menyelesaikan perjanjian itu, baru kemudian memberesi Lu tua.......”

“Terserah saja pada saudara Ki, aku menurut,” tukas ketua Hek Gak. Justru itulah yang dikehendakinya. Serentak ia mundur ke samping.

Sin-bu Te-kun membuat garis lingkaran lagi di tanah, kemudian ia berdiri di tengah-tengahnya. “Budak, ayo seranglah!”

“Aku tak sudi bertanding dengan cara begitu lagi!” Thian-leng tertawa hina.

“Apa ? Kau hendak menunda lagi?” teriak Sin-bu Te-kun gusar.

“Sama sekali tidak! Aku menghendaki pertempuran secara adil!”

“Adil?”

“Benar, kita adu pukulan atau senjata secara berimbang!”

“Kau gila!” teriak Sin-bu Te-kun.

Thian-leng berseru nyaring, “Di hadapan sekalian orang gagah pada malam ini, jika dalam sepuluh jurus aku kalah, aku akan tetap melaksanakan perjanjian tempo hari. Tetapi jika kau yang kalah, janganlah menyesal!“

Sin-bu Te-kun mengerutkan alis. Tak habis herannya melihat sikap pemuda itu, tetapi cepat ia merobah dugaan. Kemunculan Thian-leng dalam gerakan yang sebat sekali tadi dan kasak-kusuknya dengan Jenggot perak, tentu mengandung sesuatu yang luar biasa.
Tetapi betapapun juga, hanya dalam dua hari saja masakah pemuda itu dapat berobah menjadi sakti sekali. Andaikata Thian-leng benar-benar telah mendapatkan warisan kitab pusaka It Bi siangjin, pun dalam waktu dua hari saja apa yang dapat dicapainya.

“Baik, baik, aku menurut saja kehendakmu budak!” ia segera tertawa mengejek.

Segera ia melangkah keluar dari garis lingkaran , serunya, “Seranglah!”

Thian-leng mendengus hina, “Hm, iblis tua, jangan sombong kau, hati-hatilah!”

Peringatan itu ditutup dengan sebuah gerakan menampar. Tamparan itu menggunakan jurus Lui-hwe-ciang. Jurus yang sudah diketahui jelas oleh Sin-bu Te-kun. Karena waktu pertandingan sembilan pulu jurus yang lalu, tanpa balas menyerang, Sin-bu Te-kun dapat menghindari seluruh serangan Lui-hwe-ciang dari Thian-leng.

“Oho, permainan lama kau keluarkan lagi. Apakah kau sudah bosan hidup.... ”ejeknya. Ia yakin sekali gerak tentu dapat memunahkan serangan anak muda itu.

Ia hendak membunuh pemuda itu. Maka sekali gerak ia menggunakan ilmu Kin-na-chiu.

Pil Pahit!

Kin-na-chiu adalah ilmu tangan kosong untuk merampas senjata atau meringkus lawan. Sin-bu Te-kun sekali gerak hendak mencengkeram lengan kanan Thian-leng. Tetapi baru tangannya bergerak setengah jalan, ia terkejut. Ia merasakan jarinya seperti tercengkam api dan lengannya seperti dirayapi aliran tenaga panas yang menyerang dadanya…

Sebagai seorang tokoh sakti, ia cukup paham apa artinya itu. Nyata kepandaian anak muda itu sepuluh kali lipat dari yang dulu! Ya, memang demikianlah. Ilmu Lui-hwe-ciang memang dapat membakar hangus organ dalam tubuh orang dan dapat memusnahkan tenaga lawan.

Gerakan Kin-na-chiu Sin-bu Te-kun tadi telah menimbulkan reaksi hebat. Dia seperti membentur tenaga membalik yang hebat, sehingga di luar kehendaknya, tubuhnya terhuyung. Untunglah ia cepat-cepat loncat ke samping. Karena gerakannya itu secepat angin, maka pukulan Thian-leng menghantam tempat kosong dan……… Bum. Sebuah batu besar yang berada beberapa langkah di sebelah depan berguguran hancur. Dan serentak dengan itu berhembuslah angin panas keseluruh penjuru. Sekalian orang sama terkejut!

Pukulan Thian-leng itu memancarkan hawa panas. Sedemikian panasnya hingga batupun berguguran lumer.

“Budak, dalam dua hari ini apa yang kau ketemukan?” teriak Sin-bu Te-kun dengan wajah pucat.

Thian-leng sendiri juga terkejut atas hasil pukulannya itu. Hampir ia sendiri tak percaya. Memang yang dilancarkan itu ialah pukulan Lui-hwe-ciang ( api geledek). Tetapi perbawanya jauh sekali bedanya dengan yang dulu.

“Tak perlu kau tanyakan..........”

“Jurus kesatu....................!” Jenggot perak tertawa menghitung.

“Ya, masih ada sembilan jurus lagi. Dan kali ini silakan kau yang menyerang dulu!” seru Thian-leng.

Sin-bu Te-kun masih tercekam dalam keheranannya. Ia sudah terlanjur mengumbar kata-kata besar. Terpaksa ia harus bertindak. Setelah menenangkan semangat, ia mengembor dan mendorongkan kedua tangannya.
Itulah baru pertama kali ia menggunakan pukulan dalam kitab pusaka Im-hu-po-kip dengan sepasang tangan. Biasanya dengan satu tangan saja, cukuplah ia mengalahkan lawan. Kali ini ia gemas sekali.

Tetapi Thian-leng sudah mendapat kepercayaan atas kemampuannya. Iapun juga segera menyongsong dengan kedua tangannya. Dess…….. ketika dua pasang tinju saling beradu, bukan ledakan keras yang terdengar, melainkan suara mendesis macam api tersiram air. Tinju mereka saling melekat. Sampai lama barulah mereka sama menarik diri, menyurut tiga langkah ke belakang.

“Dua!” kembali jenggot perak menghitung.

Wajah Sin-bu Te-kun pucat seperti kertas. Darahnya serasa bergolak. Matanya berkunang-kunang gelap. Bumi yang dipijaknya serasa berputar, bluk, akhirnya ia jatuh ke tanah.

Juga Thian-leng tak kurang penderitaannya. Wajahnya menguning pucat, darahnya bergolak dan hampir saja ia rubuh. Untunglah ia dapat mempertahankan diri. Setelah menyalurkan napas beberapa saat, ia sudah pulih kembali.

Maju lagi ke muka Sin-bu Te-kun, ia menantang , “Ayo, serang lagi!”

Adu tenaga tadi menghasilkan keduanya sama-sama menderita luka dalam. Seharusnya mereka perlu beristirahat beberapa saat untuk memulihkan diri. Bahwa Thian-leng dalam beberapa kejap saja sudah berani menantang lagi, benar-benar mengejutkan orang.
Bahkan Sin-bu Te-kun sendiri juga seperti melihat hantu di siang hari. Ia mundur beberapa langkah.....

“Iblis tua, masih delapan jurus lagi, ayo silakan menyerang lagi!” seru Thian-leng.

Sin-bu Te-kun paksakan tertawa, “Aku hendak mengajukan sebuah usul...”

“Katakan!” Thian-leng heran.

“Sisa delapan jurus supaya ditangguhkan dulu, karena........ kaupun pernah meminta begitu!” kata Sin-bu Te-kun dengan kemalu-maluan.

Thian-leng kaget. Jelas bahwa sekarang Sin-bu Te-kun jeri padanya. Sebenarnya ia ingin
menghancurkan si iblis saat itu juga. Tetapi dulu ia pernah mengajukan usul begitu. Di hadapan sekalian orang gagah, terpaksa ia meluluskan usul Sin-bu Te-kun.

“Baiklah, aku setuju. Pergilah........!” akhirnya ia memberi jawaban.

Sin-bu Te-kun seperti jago keok, tetapi dari kerut wajahnya, ia tetap menyungging senyum mesterius. Ia tak mau segera angkat kaki, tetapi masih bertanya pula : „Aku masih hendak bertanya lagi!“

„Silakan!“
„Dalam dua hari ini, kau memperoleh apa sudah?“
„Ini ........“
„Suatu rahasia yang tak dapat kau katakan?“ sin-bu te kun menengas.

Thian-leng tertawa menghamburkan kemarahannya.
„Aku tak takut mengatakan padamu. Dengarlah! Aku sudah memperoleh ajaran It Bi sian-su!“
Kejut Sin-bu Te-kun seperti disambar petir sehingga ia terhuyung? Dua langkah kebelakang. Juga sekalian orang yang hadir disitu kecuali jengot perak Lu Liang Ong, memekik kaget.

„Kau sudah menyebut dirimu sebagai muridnya“ seru Sin-bu Te-kun.

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun tertawa gelak, baiklah hari ini aku mengaku kalah, sisa yang delapan jurus itu kutunggu kedatanganmu di istana Sin-bu-kong. Tetapi apabila kau tak datang, tetap akan kucari kemana saja!“

„Hm, sekalipun tanpa bertanding seratus jurus itu, akupun akan tetap menuntut balas untuk Au se-gong-mo cianpwe. Sin-bu-kiong akan kuratakan dengan tanah!“

Sin-bu Te-kun tak mau banyak bicara lagi. Ia berputar tubuh terus melesat pergi tanpa mengucapkan apa-apa kepada Hek Gak. Rombongan orang Sin-bu-kiong segera mengikuti.

Kepergian mereka diantar oleh gelak tertawa jenggot perak yang dalam keheningan malam seperti menjemabar-nmyambar diangkasa, puas ia menegur ketua Hek Gak!“Eh, Kong-sun lojin, kaupun harusnya angkat kaki juga!“

„Tidak!“ diluar dugaan ketua Hek Gak tertawa sinis.
Jawaban itu membuat jengot Perak terbelalak : jadi kaua aaatetap hendak bertanding?““
Ketua Hek Gak menyahut dengan congkak : „kiranya belum perlu kuturun tangan sendiri!“
Kini sadarlah jenggot perak „Hm, kau pintar sekali mainkan swipomu, tetapi .......?“
„Cong-houhwat!“ ketua Hek Gak tersentak berteriak memanggil Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi. „Ya!“ Bok sam-pi cepat tampil kemuka. Saat itu ia sedang dirangsang oleh obat pembius ingatan. Matanya berapi-api tetapi terhadap ketua Hek Gak ia bersikap patuh.

Thian-leng pun sadar, ketua Hek Gak tak berani menghadapinya tetapi hendak menyuruh Bok sam-pi yang maju.
„Hajar budak kurang ajar itu!“ tiba-tiba ketua Hek Gak memberi perintah,“ tetapi ingat hanya boleh bertempur satu jurus. Tanpa perintah, jangan lanjutkan jurus kedua!“

„Hamba mengerti!“ sahut Bok Sam-pi.

Dengan perutnya yang buncit, jago tua itu loncat kemuka Thian-leng, bentaknya : „Mana budak perempuan itu?“
Thian-leng tertegun, serunya : „perlu apa kau tangkap ia?“
Thian-leng tertawa dingin „Kalahkan dulu aku baru kau dapat menemuinya. Jika tidak, silakan kau tunggu dipintu akhirat saja!“

Marah Bok Sam-pi bukan kepalang sehingga wajahnya gelap seperti besi. Ia ulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya yang bundar seperti kipas mulai diangkat keatas.

Seketika daun-daun pada pohon tergerak dua tombak jauhnya dan bergoyangan keras. Diam-diam Thian-leng terkejut, pikirnya : „Ah, kepandaian orang tua ini lebih hebat dari Sin-bu Te-kun. Segera ia memasang kuda-kuda. Tanganpun mempersiapkan pedang. Ia tak berani memandang ringan lawannya.

Melihat sikap dan perwakannya, Bok sam-pi seperti gendut yang tak pandai silat. Tiba-tiba ia hentikan tinjunya diatas.
„Jika kau menyerahkan budak perempuan itu, kau kubebaskan dari pertempuran ini!“ serunya.

„Kalah menang belum pasti, bagaimana kalau aku kalah padamu?“ seru Thian-leng dengan garang. „Di kolong langit siapakah yang dapat menandingmu? Apakah kau berani ?“ teriak Bok Sam-pi.

Thian-leng tertawa getir. Memang kata-kata Bok Sam-pi itu benar. Di zaman ini, jangankan dapat mengalahkan sedang orang yang yang dapat melayani Bo sam-pi samapai 2 atau 3 jurus saja, sudah jarang ada yang mampu. Sayang jago yang sedemikian sakti itu kini hilang ingatannya sehingga kepandaiannya digunakan orang untuk melakukan kejahatan.

Diam-diam Thian-leng telah membulatkan tekad. Pertempuran saat itu merupakan mati hidup baginya. Daripada mati konyol, lebih baik menyerang dulu. Siapa tahu, ia dapat menguasai keadan.

„Karena lo-cianpwe tetap hendak menempurku, maaf, aku hendak menyerang dulu!“ teriak Thian-leng seraya menutup dengan serangan. Memukul dengan tangan kiri dan menebas dengan pedang ditangan kanan. Pukulan kiri untuk menahan gerakan Bok sam-pi dan pedang untuk menusuknya.

Tetapi, hasil serangannya itu, tak seperti yang diharapkan. Begitu pukulan salaing beradu, tangan Thian-leng lekat dengan tinju Bok sam-pi. Berhamburan gelombang tenaga dalam yang hebat. Masing-masing berusaha untuk menindas lawan. Dan ini menggagalkan rencana Thian-leng untuk menggunakan pedang. Ia harus mencurahkan seluruh tenaganya untuk menghadapi tekanan Bok Sam-pi. Walaupun mencekal pedang, tetapi tak berguna. Dan karena ia menggunakan tangan kiri menghadapi tangan kanan Bok Sam-pi, ia menderita.

Melihat itu jenggot perak kerutkan dahi. Ia merasa gelisah sekali. Adu tenaga dalam merupakan pertandingan yang ngeri. Lebih hebat dari pertempuran biasa. Sekali tenaga dalam beradu, sukar dihentikan sebelum ada salah satu yang remuk. Dari posisinya, jelas bahwa Thian –leng dibawah angin. Tetapi apa daya, ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong .......

Juga kejut ketua Hek Gak tak kurang besarnya. Adany tadi membatasi Bok Sam-pi supaya bertempur satu jurus saja, adalah karena takut terjadi pertandingan adu tenaga dalam. Dan ternyata kekuatirannya itu terjadi. Kalau Bok sam-pi menang, bahkan dapat saja menindas partai Thiat-hiat-bun sekaligus dapat merebut kitab pusaka It bi siangjin. Hek Gak menjagoi dunia persilatan!

Tetapi apabila kalah, akibatnya tak dapat dibayangkan. Hek Gak dilenyapkan dan Thiat-hiat-bun akan menguasai dunia persilatan Tiong-goan. Sakit hati Hek Gak kepada Hun-tiong sin-mo, takan terbalskan selam-lamanya.

Rombongan Sin-bu kiong sudah mengundurkan diri. Kini tinggal Hek Gak berhadapan dengan Thiat-hiat-bun. Dan kitab pusaka It Bi siangjin jelas jatuh ditangan pemuda itu. Diam-diam ketua Hek Gak membuat kesimpulan : pertempuran sat itu akan membawa akibat luar biasa. Mati hidup tergantung dari hasil pertempuran saat itu.

.....Dahi ketua Hek Gak bercucuran keringat. Matanya tak berkedip mengawasi Bo Sam-pi. Juga Sian-bun dan Im Yang sangat, yang bersembunyi dibalik gerombolan pohon, gelisah sekali. Seketika disegenap penjuru menjadi hening.

Wajah Bok Sam-pi dan Thian-leng berubah menjadi gelap. Tubuh mereka mengepulkan asap tipis, tanda begitu dasyat adu tenaga dalam itu berlangsung. Masing-masing telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Selang sepeminuman teh lamanya, wajah merekaa berubah biru gelap. Kemudian hijau lalu pucat lesi. Tubuh mereka mandi keringat, mata berkunang-kunang dan bahu bergetaran. Demikian detik demi detik berlangsung. Keadan mereka makin seram. Rupanya mereka bertekad untuk hancur bersama-sama. ......

Sekonyong-konyong diudara terdengar bunyi genderang datangnya tiba-tiba, nadanya tak begitu keras. Tapi talu genderang itu mengandung kekuatan gaib yang dapat menyedot pikiran, dan semangat orang. Termasuk jenggot perak, ketua Hek Gak dan Siau-bun serta Im Yang songsat tak kuasa membebaskan diri dari pengaruh suara genderang itu. Buru-buru jenggot perak menyalurkan tenaga dalam untuk menenangkan pikirannya.

Tung .... terdengar pula genderang itu meletup. Kali ini lebih hebat dari tadi.

„Celaka, malam ini habislah riwayat kita“ diam-diam jenggot perak menghela nafas. Betapun ia berusaha untuk menolak, namun talu genderang itu tetap melengking tajam menembus dinding pertahanannya. Dadanya terasa sesak, darah bergolak keras hingga kakinyapun terhuyung. Orang yang tak tinggi kepandaian, pasti akan binasa seketika itu juga.

Thian-leng dan Bok Sam-pi masih terbenam dalam adu tenaga dalam. Rupanya mereka tak menghiraukan perubahan yang terjadi disekelilingnya. Tiba-tiba genderang itu makin gencar : Tung, tung, tung, tung .........ngg deras bagaikan hujan mencurah. Bluk, bluk, bluk satu demi satu anak buah Thiat hiat-bun dan Hek Gak susul menyusul roboh ke tanah. Dan paling akhir adalah ketua Hek Gak sendiri serta jenggot perak yang masih betahan. Keduanya jatuh duduk ditanah. Bagaimana keadaan Bok sam-pi dan Thian-leng, tak dapatlah mengetahui lebih jauh.

Ternyata Bok Sam-pi dan Thian-leng pun mengalami nasib yang hebat. Pada saat genderang bertalu gencar, keduanya terlempar sampai dua tombak jatuhnya dan tak sadarkan diri.

Sebenarnya mereka sudah tak kuat lagi. Tetapi mereka memaksakan diri untuk bertempur terus. Sampai akhirnya, habislah pertahanan mereka. Kekuatan tenaga dalam mereka menimbulkan tenaga membanting membuat mereka berdua terpental .......

Pada saat lapangan penuh dengan tubuh orang-orang yang pinsan, sososk tubuh kecil melesat keluar dari dalam hutan. Orang itu mengenakan pakaian warna merah. Dandananya seperti seorang wanita. Dibelakang punggungnya mengemblok sebuah genderang kecil. Sepintas pandanga ia mirip dengan rombongan main silat yang suka mempertunjukan permainan di jalan-kalan.

Usianya paling banyak sebelas atau dua belas tahun, seorang dara belia yang berwajah cantik. Dalam pakaian warna merah makin menonjollah kecantikannya.

Begitu lari ketengah lapangan, ia celingukkan kian kemari. Orang-orang yang mengeletak itu tak dihiraukan. Begitu mata tertumbuk pada Thian-leng segera ia menyambar tubuh pemuda itu terus dibawa lari. Hanya dalam dua lompatan saja, dara tak dikenal itu sudah lenyap dalam kegelapan malam ......

Selagi orang tak mengetahui apa yang terjadipada saat itu. Satu-satunya yang masih melihat ialah jenggot perak Lu Liang-ong. Namun karena tenaganya punah dan kaki tangannya lemas, ia tak dapat berbuat apa-apa.

Berselang beberapa saat, jenggot perak loncat bangun. Dialah orang pertama yang dapat bangun. Kemudian ketua Hek Gak lalu keempat Su-kiat dari partai Thiat-hiat-bun. Satu jam kemudian barulah anak buah Thiat-hiat-bun dan Hek Gak.

Jenggot perak tegak berdiam diri. Tampaknya seperti menyalurkan tenaga dalam untuk memulihkan tenaganya. Tetapi sebenarnya ia tengah merenung keras, pikirannya bekerja keras untuk mencari tahu siapakah dara baju merah itu. Jelas bahwa bunyi genderang itu mengandung tenaga dalam yang tinggi sekali. Dan yang paling istimewa, dara itu pandai sekali menyusupkan bunyi genderangannga dikala pikiran orang sedang kosong. Andaikata dalam keadaan pikiran tidak mencurahkan perhatian pada Bok sam-pi dan Thian-leng yang adu tenaga dalam, mungkin ia dan jaho-jago Thiat hait-bun tak semudah itu dijatuhkan oleh genderang si dara.

Namun tetap ia mengagumi si dara. Dara itu hanya berumur dua belas tahunan tetapi sudah sedemikian hebat, apalagi orang tuanya tentulah sakti luar biasa. Betapapun jenggot perak menggali ingatannya, namun tak dapat juga mengetahui siapa gerangan dara itu.

Saat itu sekalian orangpun sudah lama sadar. Tetapi mereka terkesima. Tiba-tiba ketua Hek Gak lari menubruk tubuh Bok Sam-pi. Bok cong houhwat suhu... in-su ....“ melihat keadan gurunya ia tak tahan lagi berteriak-teriak seperti orang kalap.

Kaki tangan jago tua itu kaku. Daya menolak dari tenaga dalam tubuhnya Thian-leng telah membuat dalam tubuhnya terluka parah. Keadaannya skeliling yang tertiup angin .......

Ketua Hek Gak berbalik diri menatap jenggot perak. Serunya : „mana orangmu?“

„Lenyap!“ sahut jenggot perak lesu
„Leyap?“ ketua Hek Gak sersentak kaget. Gurunya terluka parah dan pemuda itu lenyap. Apalagi pemuda itu benar-benar lebih sakti dari Bok Sam-pi?

Dan .... dan bunyi genderang tadi? Mengapa begitu hebatperbawanya sehingga dapat merubuhkan sekalian orang. Gaib sekali! Siapakah yang membunyikannya?

Ketua Hek Gak tak lepas dari mencari tahu tetapi tidak dapat menduga-duga siapakah gerangan yang memukul genderang ajaib itu. Hanya satu yang melegakan hatinya ialah orang itu terang tak bermusuhan dengan pihak Thiat hiat-bun maupun Hek Gak.

Kelegaan itu hanya sesaat pada lain saat timbullah kecemasannya pula. Tiang andalannya ialah Bok Sam-pi. Kini gurunya itu terluka parah, apabila jenggot perak memerintahkan anak buahnya menyerang, bukankah .......
„Apa yang terjadi malam itu benar-benar diluar dugaan!“ ia tutup kecemasan hatinya dengan tertawa paksa.

„Benar-benar, tak diduga-dua,“ sahut jenggot perak dengan tertawa jua. Tiba-tiba ia menyadari maksud ketua Hek Gak. Buru-buru ia menyusuli kata-kata : aku menyerang mau menyerang secara hina, silakan kalian pergi!“

Legalah ketua Hek Gak, serunya : „bagaimanapun juga Hek Gak dan Thiat-hiat-bun tak dapat hidup bersama. Kelak kita selesaikan perhitungan lagi!“

Jenggot perak tertawa hambar „Berani masuk daerah Tiong-goan berarti berani menanggung resikonya. Dimana dan kapan saja aku selalu melayani kehendakmu!“

„Ingat, kelak Hek Gak tentu akan mencuci bersih hinaan dua hari dua malam ini!“ Ketua Hek Gak Tertawa dingin. Habis itu ia segera mengajak anak buahnya pulang. Bok Sam-pi disuruhnya mengotong.

„Tunggu!“ tiba-tiba jenggot perak membentak.
„EH, apakah kau menyesal?“ ketua Hek Gak mendesah geram.

Jenggot perak tertawa : Kau ukur baju orang dengan bajumu sendiri!“ sekali kukatakan boleh pergi, tentu takkan kurintangi lagi. Tetapi ............,“Ia tertegun sejenak, katanya pula : „Tahun muka bulan satu tanggal 15, aku hendak menyelenggarakan rapat besar yang gagah di gunung Tiam-cong san. Hendak kuundang sahabat-sahabat dunia persilatan Tiong-goan. Kuharap kau juga hadir!“

Ketua Hek Gak tertegun, ujarnya : „Asal kau masih dapat hidup sampai saat itu, aku pasti datang!“
jenggot perak tertawa : „Akan kuberi kesempatan besar, tentulah kau datang!“

„Kesempatan apa yang kauberikan padaku itu,“ ketua Hek Gak Heran.
„Kabarnya kau mempunyai rencana hendak melenyapkan 9 partai dan semua tokoh-tokoh dunia persilatan. Apabila kuundang mereka semua, bukankah kau mempunyai kesempatan untuk melaksanakan cita-citamu itu?“

„Kau kira aku tak mampu melaksanakan?“merah muka ketua Hek Gak.

Jenggot perak tertawa : „Mampu atau tidak, saat itu baru dapat dibuktikan. Silakan pergi, jangan tunggu lama-lama disini. Siapa tahu hatiku nanti berubah!“

Dengan menahan kemarahan, ketua Hek Gak pun segera lanjutkan perjalanan. Kini yang masih tertinggal di lapangan hanyalah rombongan Thian-thiat-bun. Setelah merenung beberapa saat jenggot perak pun hendak mengajak rombongannya pergi. Tiba-tiba muncul tiga sosok bayangan. Walapupun terpisah berpuluh-puluh tombak jauhnya, namun dengan ilmu melihat langit mendengar bumi dapatlah ia menangkap gerak-gerik mereka seharusnya ia tahu bahwa ketiga orang itu sian-bun dan kedua suami isteri Im Yang Songsat. Tetapi karena seluruh perhatiannya menumpahkan pada kejadian dilapangan, maka ia tak mengetahui tempat persembunyian mereka.

Siu-bun melangkah perlahan-lahan kehadapan ketua Thiat-hiat-bun. Jenggot perak risih dibuatnya, ia tahu Siu-bun itu cucunya tetapi tak pernah sang cucu menatapnya begitu rupa. Belum sempat ia memikirkan bagaimana menghadapi cucu itu, tiba-tiba Siausun sudah berlutut dihadapaannya : „Kek ......“

Jenggot perak tertawa meloroh dan segera mengangkat bangun nona itu, Ah, kau .... sudah tahu bukan?“

„Aku bukan seorang tolol. Tetapi ....., selama kakek tak mau mengakui diriku akupun tak mau minta kasihan!“

„Tetapi mengapa sekarang kau menmui aku?“ jenggot perak tertawa.

„Ah, karena kakek tak suka melihatku, akupun hendak pergi saja!“ Siau-bun terus hendak membalikan badan.

Jenggot perak terkejut dan buru-buru kibaskan tangannya. Segulung tenaga lunak seperti menahan langkah Siau-bun. Siau-bun tak dapat bergerak dan memang sebenarnya ia tak bersungguh-sungguh pergi.

„Kakek tak mau mengakui aku, perlu apa menahan?“ lengkingnya dengan sikap mengancam.
„Siapa bilang kakek tidak mau mengakui kau?“ jenggot perak tertawa. Tiba-tiba ia menarik nona dalam pelukannya. Dibelai-belainyaa rambut dara itu dengan penuh kemesraan. Dan tanpa dapat ditahan dua butir air mata mengucur keluar dari kelopak mata jago tua itu .....

Pada saat itu anak buah Thiat-hiat-bun dan kedua suami isteri Im Yang Son-sat hanya mengawasi adegan itu tanpa berani berkata apa-apa.

Sampai beberapa lama kemudian barulah Siau-bun lepaskan diri dari pelukan kakekny.
„Kek .....,“ serunya lembut.
„Hm ......,“
„Aku mau bertanya padamu?“
„Bilanglah!“
„Kemanakah Bu beng-jin?“
„Bu beng-jin?“ jenggot perak terbeliak, „mengapa kau menaruh perhatian kepadanya?“
Merahlah seketika wajah Siau-bun, „Aku ...... aku sudah berjanji untuk sehidup semati dengannya ........“
Jenggot perak seperti disengat kalajengking. Wajahnya berubah seketika.
„Aha? Katakan sekalai lagi!“ teriaknya.

******

Dara Baju Merah

„Dia .... dia telah setuju memperistriku. Sudah selayaknya aku menanyakannya ........!“ Siau bun menjawab terbata-bata,“ dengan kepandaian kakek yang sakti, tentulah tahu kemana perginya tadi?“
Wajah jenggot perak pucat pasi, serunya agak gugup. „Dia ..... dibawa lari oleh seorang dara baju merah!“
Siau-bunpun terbeliak kaget : „Apa? Dibawa lari orang?“
„Benar, dia telah dilarikan ..... tetapi rupanya orang itu tak bermaksud jahat dan memang bermaksud menolong .............“
„Dengan ilmu mendengar bumi bukankah kakek dapat mengetahui kemana larinya? Siapakah dara itu?

„Kakekpun telah menyelidiki ...... tetapi genderang dara itu menghanyutkan pikiran kakek sehingga dia sempat melaksanakan rencananya. Ketika aku sadar dara itu sudah jauh sekalai ........“

„Lantas kau hiraukan lagi nasibnya?“
„Kutanggung pemuda itu tentu takan mati ......, jangan banyak bertanaya ini itu dulu. Aku hendak bertanya padamu ...... tetapi jangan bohong!“
„Silakan!“
„Bilakah pemuda itu mengadakan perjanjian hidup dengan kau?“
„Beberapa hari yang lalu....“Siau-bun menutup mata menggelandot didada jenggot perak sambil mengenang peristiwa malam sumpah hidup bersama dengan Thian-leng, nona itu berkata dengan bisik-bisik. „Pada malam itu kami menginap di hotel Bu Khek-Can. Karena kamar tinggal satu, terpaksa kami pakai ......“

„Hai, kalian sudah tidur sekamar?“ jenggot perak berteriak kaget.
Siau-bun hanya mendengus, „bukan sekamar melainkan seranjang ......“
Rambut jenggot perak jigrak seketika. Ia menggeram keras : „Celaka!“
„Mengapa celaka? Apakah kakek tak suka?“ Siau-bun heran.

„Jangan memutus omonganku!“ bentak jenggot perak, „Kau yang memikat pemuda itu atau ia yang memikatmu, bilanglah dengan jujur!“
Wajah Siau-bun merah, „kau anggap aku anak perempuan yang bagaimana? Bagaimana kau tak sungkan menanyakan begitu? Aku ..... tak mau hidup lagi, kek!“ tiba-tiba ia menangis dan ayunkan tinju hendak menampar batok kepalanya sendiri.

Sudah tentu jenggot perak gelagapan dan cepat mencegahnyaa. Siau-bun menangis tersedu-sedu.

.....“Aku lah yang bersalah. Kukuatir kelak akan timbul kesulitan lagi!“ jenggot perak menghela napas.
„Sambil meronta dari pelukan kakeknya Siau-bun berseru : „Kakek bersalah? Akan timbul kesulitan?
Kembali jenggot perak menghela napas. Mulutnya berkemak-kemik berkata seorang diri : „Kenal orangnya tak kenal hatinya. Tak kira anak itu ternyata seorang pemuda hidung belang!“

Siau-bun pura-pura tidak mendengar. Tiba-tiba bertanya. „Apakah kakek tahu dimana ibu berada?“
Jenggot perak gelagapan : „Kemarin malam ia mengantarkan Ketua Tiam-Jong-Pay Li-Cu-Liong pulang ke Tiam-cong-san!“
„Apakah kakek tahu jelas?’
„Pada saat Thiat-hiat-bun mengepung Sin-bu kiong dan Hek Gak, ibumu masih sempat menggunakan ilmu menyusup suara untuk bercakap-cakap dengan aku. „kalau begitu aku hendak mencarinya!“ kata Siau-bun.

Sejenak jenggot perak melirik Im Yang Song-sat lalu gunakan ilmu menyusup suara kepada Siau-bun : „Saai ini jago-jago HunLiong-mo-hu sudah berbondong-bondong menuju ke Tiam-Cong-san. Kakek bermaksud untuk menyelesaikan pergolakan dunia persilatan Tiong-goan dalam rapat besar yang akan kuadakan tahun depan bulan satu tanggal 15. baiklah kau kalau hendak menyusul ibumu kesana. Beritahukan kepadanya tentang urusanmu itu, terserah bagaimana ia memberi keputusan. Kakek tak dapat mengurusi kesulitan-kesulitan, begitu .......“jenggot perak berhenti sejenak, katanya pula : ... tentulah kau belum memberitahukan hal itu kepada ibumu?“

„Siau-bun tertawa mengikik : „beliau sudah tahu!“
„Sudah tahu?“ kembali jenggot perak berteriak kaget, „dia setuju?“
„Masakan kakek tak kenal perangai ibu?“ jika dia tak setuju masakan aku berani ......?“
„Ya, ya, mungkin ini sudah takdir takut kukuatir kalian akan menghadapi kehebohan!“ jenggot perak tertawa tawar.

„Apa? Aku tak mengerti maksud kakek ......?“

„Sudahlah, jangan banyak tanya lagi, berangkatlah sekarang juga!“ buru-buru jenggot perak membentak untuk menutupi kekagetannya.

Diam-diam Siau-bun girng, dalam gelanggang asmara, ia telah berhasil memakan jurus kedua. Betapun jenggot perak sudah mengikut Thian-leng supaya bersumpah memperisterikan Lu Bu Song tetapi sampai babak itu, mau tak mau jenggot perak tentu terpaksa harus menyerahkan Thian-leng padanya.

Tetapi saat itu Siau-bun gelisah. Siapakah dara baju merah yang melarikan Thian-leng itu. Apakah maaksudnya? Namun ada sedikit hal yang melonggarkan perasaan Siau-bun ialah Thian-leng tentu tak mati. Dengan dengan terpilihnya pemuda itu sebagai pewaris It bi Siangjin, tentulah sudah diramalkan jelas bahwaa pemuda itu tak berumur pendek .......

„selamat tinggal kek, harap kakek baik-baik menjaga diri. Siau-bun terus melangkah pergi. Im yang song-sat pun segera mengikuti.

„Tunggu! Tiba-tiba jenggot perak berseru. Siau-bun terpaksa berhenti. Jenggot perak melesat kedepannya.

„Kakek hendak memberi pesan apa lagi?“

Wajah jenggot perak mengerut tegang :“Adik Misanmu Lu Bu-song sat ini juga berada di gunung Tiam-Jong-sam!“
„Sejak kecil kita tak pernah berjumpa. Kali ini kita tentu dapat bermain-main dengan gembira!“

„Sejak kecil dia sudah kehilangan ayah bunda dan ikut aku sampai besar. Dia ..... sungguh kasian sekali!“ kata jenggot perak berkata dengan nada berat.

Siau-bun tertegun. Tak tahu ia apa yang tersembunyi dalam kata-kata itu. Namun ia segera menjawab dengan hati lapang, harap kakek jangan kuatir, aku tentu memperlakukannya dengan baik sebagai adikku sendiri!“

Jenggot perak mengangguk-angguk „Selain itu, kau ......., „ ia bersangsi sejenak, katanya pula, „Urusan dengan budak kali ini jangan kaukatakan kepadanya!“

„mengapa?“ Siau-bun kaget.
Jenggot perak menghela napas : „Jangan mendesak aku, pokoknya kau harus ingat permintaanku ini!“

Siau-bun tak mau mendesak. Ia pura-pura mengerti, Baik, kek. Apakah masih ada pesan lagi?“

„Masih,“ kata jenggot perak,“ karena sejak kecil adik misanmu itu kumanjakan, perangainyapun kurang baik. Kau lebih besar sebagai taci harap kau mengalah sedikit ......“

„Tentu kek, „sahut Siau-bun.

Jenggot perak menghela napas lagi „sudahlah, kau boleh pergi!“
Dengan diikuti kedua suami isteri Im yang Song-sat, Siau-bun segera pamit. Dalam beberapa loncatan saja mereka sudah lenyap.

Jenggot perak menghela napas. Iapun segera memberi isyarat kepada ank buahnya. Tetapi langkah kakinya terasa berat. Selangkah demi selangkah ia berjalan seperti orang yang kehilangan semangat. Keempat sukiat, ke 36 Thian-kong, ke 72 Ta-san dan anak buah Thiat-hiat-bun tahu juga akan kesulitan yang dihadapi ketuannya. Tetapi mereka tak berani mengucapkan kata-kata.

Rombongan Thiat-hiat-bun berbondong-bondong menuju gunung Thay-heng-san. Saat itu haripun sudah fajar.
Bersambung ke jilid 11

This entry was posted on Rabu, Juli 21, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar