Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 3  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 3
Dimaki oleh Giok Han sebetulnya dia ingin membunuh Giok Han dengan jarum-jarum beracunnya tetapi justeru akhirnya dia membatalkan sendiri maksudnya. Sikap bocah itu mengingatkan dia pada kekasihnya. Tetapi semua itu hanya berlangsung beberapa detik saja, kemudian mukanya sudah membeku tidak memiliki perasaan apapun juga.
Hatinya malah jadi dengki melihat bocah di depannya, walaupun masih kecil, namun sangat cakap. Kulitnya bersih, mukanya mungil dan rambutnya hitam. Sepasang alis tebal dan hitam menambah cakapnya muka bocah itu. Dan diam-diam dia jadi menyukai Giok Han.
Itulah, beberapa detik tadi dikuasai oleh perasaan menyayang kepada Giok Han. Namun hatinya membatu kembali. Dengan dingin dia bilang: "Siapa namamu ?

"Buat apa memberitahukan nama kepada manusia tidak sopan dan tidak baik jiwanya seperti kau?" Menyahut Giok Han. "Seorang wanita terhormat adalah yang hidup sebagai nona baik-baik didalam rumah, yang pria pergi untuk berjuang, memiliki pangkat dan membuat negara menjadi makmur. Kepada orang-orang seperti itulah aku menghormati ..."
"Kepadaku apakah kau tidak hormat ?!" Tanya wanita pembunuh nomor satu di dunia dingin sekali suaranya.
Giok Han menggeleng.
"Tidak! Aku malah benci!"
Lam Sie tambah ketakutan, dia kuatir satu kali saja tangan wanita itu bergerak, habislah jiwa majikan kecilnya, karenanya dia tidak mau berkisar dari tempatnya, dengan air mata bercucuran karena takut, dia melukai majikan kecilnya tersebut.
"Berapa besar kebencianmu terhadapku ?" Tanya wanita pembunuh itu.
"Aku sangat benci ! Selama kau tidak merobah kelakuanmu yang jahat dan kejam, yang senang menyiksa orang lain, maka selama itu juga aku benci padamu ! Tidakkah kau pernah membaca ujar-ujar Locu, yang berbunyi : Manusia yang dikuasai perasaan jahat, marah, dengki dan iri hati adalah patung-patung yang akan terbakar, manusia yang sama seperti sampah saja. Kukira, kau pun sama seperti sampah...!"
Walaupun hati wanita itu sudah membeku sejak putus hubungan dengan kekasihnya dan selalu menjadi dingin tanpa perasaan tetapi sekali ini mendengar perkataan Giok Han, si bocah yang berusia masih sangat kecil tapi nekad, dia jadi tergoncang hatinya.
Dia ingat, setiap kali bertengkar dengan kekasihnya yang sangat dicintainya, maka kekasihnya akan berkata: "Kau wanita yang seperti sampah saja, dikuasai oleh nafsu ingin menguasai dan mengendalikan orang lain ! Kau tidak layak untuk dihormati !" Dan kata-kata Giok Han menusuk benar hati wanita itu. Tetapi, setelah dia memejamkan matanya sekejap, dia bisa menguasai diri lagi.
"Baiklah, aku akan mengampuni kau dan juga paman Khang-mu itu, kalau kau dapat menjawab dua pertanyaanku!" kata wanita pembunuh nomor satu di dunia, dingin suaranya.
Girang Giok Han mendengar janji wanita itu.
"Apa kedua pertanyaanmu itu ?" tanyanya.
"KaIau aku membebaskan paman Khang mu dari kematian, apakah kau masih membenciku ?" tanya wanita itu.
Giok Han adalah seorang bocah yang berperasaan halus, walaupun tabiatnya sangat keras. Dia semakin keras jika ditentang keinginannya, dan Lam Sie sudah mengenal benar tabiat majikan kecilnya ini. Semakin ditekan, semakin kuat perlawanan Giok Han dia bisa menjadi nekad. Tetapi jika dilayani dengan lemah lembut, maka hati si bocah akan runtuh, apapun yang diminta orang akan diberikan, kalau bisa kepalanyapun akan di berikan buat orang Iain.
Sekarang mendengar suara wanita itu, yang nadanya memelas, maka Giok Han tidak tega untuk memaki terus wanita itu, terlebih lagi mendengar janji wanita tersebut yang akan mengampuni paman Khangnya. Segera dia menggeleng. "Jika kau tidak menganiaya paman Khang, maka kau seorang Ciecie yang cantik. Aku tidak membenci kau lagi."
"Benar ?"
"Ya, tetapi kau harus janji tidak boleh berlaku galak pada siapapun, tadi aku jadi ketakutan karena melihat kau terlalu galak !" menyahuti Giok Han.
Bibir wanita itu merekah tersenyum. Baru sekali ini Giok Han dan Lam Sie melihat wanita itu tersenyum, sebab sejak tadi mukanya selalu dingin.
"Baiklah, sekarang kau jawab pertanyaan ku yang kedua. Kalau kau mau jawab dengan jujur, maka aku akan menepati janjiku !" kata wanita itu.
"Katakanlah, kalau aku tahu tentu akan kujawab pertanyaanmu, Ciecie !" kata Giok Han.
Sejenak hati wanita itu tergoncang mendengar dia dia dipanggil Ciecie dengan nada suara yang lembut, penuh persahabatan. Dia adalah wanita yang mengalami patah hati yang parah, selalu dikejar-kejar oleh perasaan dendam belaka. Setiap pria dia menbencinya setengah mati.
Tetapi sekarang bocah kecil ini memanggilnya dengan sebutan Ciecie nada suaranya seperti manja dan juga halus hatinya jadi tergoncang. Tapi cepat dia bisa mengendalikan hatinya, mukanya dingin sekali waktu dia berkata: "Dimana sekarang ini berdiamnya sepasang Tabib Hutan ??"

"Apa ?!" Tanya Giok Han heran. "Sepasang Tabib Hutan ?!"
"Ya, dimana mereka berada?"
"Akh, Ciecie hanya bergurau saja!", kata Giok Han. "Mana ada Sepasang Tabib Hutan ?"
Muka wanita itu berobah.
"Jangan main-main, katakan yang jujur! Atau memang aku akan meneruskan maksudku untuk membinasakan paman Khangmu itu! Juga kau dengan tua bangka itu akan kubinasakan !"
"Aku tidak pernah mendengar atau mengetahui tentang Sepasang Tabib Hutan. Kau percaya syukur, tidak mau percayapun tidak apa-apa !"
"Benar-benar kau tidak mengetahui tentang Sepasang Tabib Hutan?!", menegasi wanita itu.
Giok Han mengangguk.
"Sejak kecil Papa selalu mendidikku agar tidak berbohong pada siapapun, karena kata Papa kalau berbohong maka mulutnya akan jadi monyong dan bengkak. Bukankah seorang anak dengan mulut yang bengkak dan monyong akibat berbohong akan tampak jelek sekali ?!" menyahuti Giok Han.
Agak geli hati wanita pembunuh nomor satu diduga itu mendengar jawaban Giok Han yang agak jenaka. Tetapi hatinya mendadak jadi sedih. Dia menengadah, memandang kelangit, Mukanya berduka, kemudian dingin kembali, Matanya juga dingin tidak bersinar seperti tadi, Lesu sekali dia menggumam : "Berapa lamakah manusia hidup di dunia ? Berapa lamakah manusia mereguk manisnya madu cinta ?" Dan, dia melangkah perlahan lahan meninggalkan tempat itu.
"Hei, Ciecie, kau mau kemana ?!" Teriak Giok Han melihat wanita itu melangkah pergi.
Tetapi wanita itu tidak menjawab pertanyaan Giok Han, dia melangkah terus perlahan-lahan, dengan tindakan kaki yang ringan. Baju sutera putih yang dipakainya berkibar-kibar ringan tertiup oleh hembusan angin, dari jauh tampaknya sangat menarik.
Dia seperti seorang dewi yang tengah dirundung kesedihan Samar samar masih terdengar gumamnya: "Berapa lamakah manusia bisa hidup didunia ? Berana lamakah manusia bisa mereguk manisnya madu cinta ?" Semakin lama semakin jauh dan kemudian lenyap dari pandangan mata Giok Han dan Lam Sie.
Lam Sie menangis terisak-isak memeluki majilan kecilnya, berulang kali dia bilang: "Oooh, terima kasih pada Thian yang telah melindungi Siauwya ! Terima kasih Thian!: Terima kasih !"
Giok Han menoleh kepada Lam Sie "Paman Lam, siapa sebenarnya Ciecie yang adatnya aneh itu ?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin paman Khang bisa memberitahukannya kepada kita siapa wanita itu...!". menyahuti Lam Sie dan mereka jadi teringat pada Khang Thiam Lu, yang waktu itu sudah rebah lemas tidak berdaya, tapi tidak mati walaupun napasnya satu-satu.
Cepat-ccpat Lam Sie mendekati Khang Thiam Lu, waktu dia mau menggendongnya, Thiam Lu menggerakkan tangannya perlahan sekali, mengisyaratkan agar Lam Sie tidak menyentuh tubuhnya.
Lam Sie baru teringat bahwa Thiam Lu terkena jarum-jarum beracun, jika tubuh disentuh maka Lam Sie pun akan keracunan. Tetapi melihat keadaan Khang Thiam Lu seperti itu Lam Sie semakin bingung. Kalau Thiam Lu tidak segera ditolong, tentu ia akan semakin gawat keadaannya.
Tetapi untuk membawanya kekampung yang sepi itu, kepada siapa meminta pertolongan? Kampung tadi adalah perkampungan yang kosong, mana ada tabib ?
"Paman Khang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Giok Han berjongkok didekat Thiam Lu.
Bibir Thiam Lu bergoyang-goyang, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Mukanya sudah hitam seperti baja bakar karena keracunan. Tubuhnya lemah tidak bertenaga, matanya seperti mau terbalik.
Menyaksikan keadaan paman Khangnya itu, Giok Han pun menangis sambil memanggil-manggil: "Paman Khang, apa yang harus kami lakukan untuk menolongmu?"
Tetapi menangis tidak lama, Giok Han seperti teringat sesuatu. "Dia pasti belum pergi jauh !" Gumamnya.
"Apa ?" Tanya Lam Sie tidak mengerti.
Tetapi Giok Han tidak menyahuti pertanyaan Lam Sie, dia segera melompat berdiri dan berlari menuju kearah perginya wanita pembunuh nomor satu didunia. Dia berlari sekuat tenaganya untuk mengejar wanita itu.
Lam Sie kaget tidak terkira, dia mengejar Giok Han sambil berteriak-teriak: "Siauw-ya, kembali! Kembali ! Siauwya . . . ooooo, janganlah pergi mencari bahaya ! Siauwya, kembali ! Ayo kembali !"
Tetapi Giok Han berlari terus tanpa perdulikan Lam Sie, Pengasuh tua itu jadi kebingungan. Dia ragu sejenak, karena kalau mengejar Giok Han berarti dia meninggalkan Thiam Lu yang keadaannya sangat gawat dan tengah dalam sekarat itu. Tetapi walaupun bagaimana diapun tidak bisa membiarkan majikan kecilnya pergi jauh-jauh darinya, demi keselamatan majikan kecilnya-maka akhirnya dia mengambil keputusan-dia mengejar Giok Han.
Berlari cukup jauh dan napas Giok Han memburu keras akhirnya dia melihat di depannya wanita pembunuh nomor satu tengah berjalan perlahan sekali, dengan sikap seperti orang hilang ingatan.
"Ciecie ! Tunggu dulu, Ciecie !" Giok Han memanggil sekuat suaranya.
Wanita itu mendengar panggilan Giok Han, menahan langkah kakinya, menoleh dengan wajah yang dingin
Giok Han sudah menghampiri lebih dekat.
"Kau mau apa lagi ?!" Dingin suara wanita itu, mukanya pun tidak berperasaan.
Lam Sie yang mengejar dibelakang jadi mengeluarkan keringat dingin ketika menyaksikan Giok Han sudah berhasil mengejar wanita itu dan tengah berdiri berhadapan. Dia kuatir kalau-kalau wanita pembunuh nomor satu itu berobah pikiran dan turunkan tangan jahat kepada Giok Han.

Giok Han nyengir, katanya: "Ciecie yang baik, tadi kau sudah berjanji tidak akan membunuh paman Khang, bukan ?"
Dengan mata yang tidak berperasaan wanita itu mengangguk.
"Bukankah sudah kutepati janji itu ?" dingin suaranya. "Paman Khangmu, kau dan tua bangka yang bersamamu tidak kubunuh! Kau harus tahu bocah, baru sekali inilah aku melanggar kebiasaanku, karena sebelumnya tidak terkecuali seorang manusia, seekor anjing, seekor ayam ataupun seekor bebek yang boleh lepas di kematiannya ditangan-ku !"
Waktu berkata begitu, suara wanita itu walaupun tetap merdu, tapi didalamnya mengandung nada yang dingin menyeramkan" Giok Han sampai menggidik ngeri. Tapi bocah ini benar-benar tabah, dengan nekad dia bilang: "Sekarang paman Khang sudah tidak berdaya sudah dilukai oleh kau, Cie-cie yang baik. Kalau kau tidak mengobatinya ataupun membagi obat untuknya, bukan kah sama saja dengan kau membunuhnya. tampaknya paman Khang hanya bisa bertahan beberapa saat lagi, lalu mati ! Bagaimana Ciecie bisa bilang kau sudah menepati janjimu?"
Wanita itu tetap tidak memperlihatkan perasaan apapun dimukanya, girang, marah atau bersedih. Tawar, tanpa perasaan apapun. Suaranya juga tawar waktu dia bilang: "Paman Khangmu tidak akan mati. Dia di bantu oleh Sepasang Tabib Hutan. Setelah berkata begitu, tanpa perdulikan Giok Han, dia melesat pergi.
Tubuhnya seperti kapas, melesat cepat luar biasa, dalam waktu beberapa detik dia sudah terpisah jauh, hanya masih terdengar suaranya dari jarak terpisah jauh "Tidak terkecuali manusia, anjing, ayam, bebek ataupun tumbuh-tumbuhan yang terkena jarum Bwee-sim-tok (Racun Hati Bunga Bwee) yang bisa mempertahankan hidupnya lebih dari 5 detik. Tetapi paman Khang-mu sudah terkena lebih dari enam batang jarum Bwee-sim-tok, dia masih tidak mati. Di dalam tubuhnya sudah ada penawar racun yang pasti diperolehnya dari Sepasang Tabib Hutan..." Suaranya semakin lama semakin samar dan tidak jelas, dan wanita itupun suaah tidak terlihat bayangannya lagi.
Giok Han berdiri tertegun di tempatnya. Wanita itu sudah pergi meninggalkannya begitu cepat, mana mungkin dia bisa mengejarnya ?
Lam Sie menubruk majikan kecilnya, memeluknya erat-erat sambil menangis.
"Siauwya, oooh, Siauwya . . . mari kita kembali melihat keadaan Khang Tayjin . . , mari Siauwya"." Bujuknya.
Giok Han berdua Lam Sie kembali ke tempat di mana Thiam Lu menggeletak. Ketika mereka tiba di sana, suatu kemujijatan terjadi. Thiam Lu tampak tengah duduk ber-semedhi, walaupun mukanya masih hitam kelabu, namun dia sudah bisa duduk dan ini berarti ia sudah memperoleh kemajuan. la tengah bersemedhi mengatur pernapasannya.
"Oooo, kalau begitu Ciecie aneh itu tidak membohongi aku!" Menggumam Giok Han waktu melihat keadaan Thiam Lu. Lam Sie pun ikut girang dan bersyukur, saking terharunya dia sampai menitikkan butir-butir air mata.
Sebetulnya, dulu Lam Sie tidak pernah menangis, hanya sekarang disebabkan keluarga Jenderal Giok Hu, majikannya, telah mengalami malapetaka yang begitu mengenaskan, menyebabkan air mata Lam Sie cetek sekali dan dia mudah menangis. Apa lagi kalau dia memikirkan nasib Giok Han, majikan kecilnya, yang sangat malang itu.
Sebagai anak yatim, tanpa orang tua, tanpa sanak famili, hidup terlunta-lunta dalam pelarian. Seorang putera dari Jenderal besar seperti Giok Hu, yang akhirnya harus jadi pelarian, yang selalu dibayangi maut setiap saat. Harus hidup terlunta-lunta. Betapa menyedihkan.
"Siauwya, kita jangan mengganggu Khang Tayjin, ia sedang mengobati lukanya dengan tenaga dalamnya," Lam Sie memberitahukan majikan kecilnya.
Giok Han mengangguk, dengan sabar dia bersama Lam Sie duduk agak jauh dari Thiam Lu. Akhirnya Thiam Lu membuka matanya, walaupun mukanya masih gelap kelabu, tapi dia sudah bisa menggerakkan tangannya.
Giok Han berdua Lam Sie segera menghampiri.
"Apakah keadaan paman Khang kini lebih baik ?!" Tanya Giok Han penuh perhatian campur girang.
Murung sekali muka Thiam Lu, dia mengangguk.
"Ya. Ini suatu kemujijatan yang aneh luar biasa ! Biasanya, siapa yang terkena jarum Bwee-sim-tok wanita itu, jangan harap bisa hidup ! Hanya lima detik atau sepuluh detik jiwa korban jarum beracun itu akan melayang ! Dia adalah wanita beracun yang sangat ganas, tidak pernah menaruh belas kasihan kapada siapapun juga. Sampai bebek, anjing dan ayampun selalu menjadi sasaran jarumnya, dibinasakan semua ! Dari anak-anak, orang tua, wanita laki-laki, semuanya dibunuhnya, Tidak pernah ada yang lolos, baru sekali ini ada pengecualian, dia tidak membunuh kita bertiga ..."
Thiam Lu menghela napas dalam-dalam. "Siapakah sebenarnya Ciecie itu, paman Khang ?!" canya Giok Han.
"Namanya Bie Lan. Dia berasal dari keluarga Liok. Tetapi sekarang dia dikenal dengan sebutan Bwee Sim Mo Lie (iblis Wanita Hati Bunga Bwee), dialah pembunuh nomor satu dalam kalangan Kangouw (sungai telaga) di jaman ini. Benar-benar luar biasa, baik kepandaiannya maupun racunnya, sulit ditandingi. Selama ini, jarang ada yang bisa menghadapi keganasan iblis Wanita Hati Bunga Bwee itu !" menjelaskan Thiam Lu.
"Mengapa dia berbuat sejahat itu paman Khang ?! "Tanya Giok Han, ingin mengetahui benar.
"Dulu sebetulnya dia seorang gadis yang lemah lembut, namun memiliki tabiat yang keras. Apa yang diinginkannya harus diperolehnya. Siapa tahu, dia sempat jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah beristeri dan mempunyai anak. Sebelumnya mereka hanya bersahabat saja, siapa tahu akhirnya tumbuh cinta kasih diantara mereka berdua, Liok Bie Lan memaksa pria itu agar membunuh isteri dan anak-anaknya, kalau memang isterinya tidak mau diceraikan. Tentu saja keinginan Bie Lan ditentang oleh kekasihnya.
Akhirnya terjadi bentrokan di antara mereka, mereka sering bertempur, karena kekasih Bie Lan pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi, pertengkaran demi pertengkaran menambah renggangnya hubungan mereka, dan akhirnya mereka berpisah. Bie Lan sakit hati, entah bagaimana caranya dia mencari guru, mempelajari ilmu racun.
Dia berhasil, dia muncul lagi setelah menghilang hampir tiga tahun, dengan kepandaian yang semakin tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu penggunaan racun, Dia jadi iblis Wanita yang sangat ganas, hampir tidak ada manusia anjing, bebek dan ayam yang lolos dari kematian di tangannya, tanpa pengecualian.
Tidak perduli apakah korbannya itu dari kalangan hitam atau golongan putih, juga tidak perduli apakah penduduk yang tidak bersalah apa-apa, kalau bertemu dengan Bie Lan akan habislah jiwa mereka, itulah akhirnya Bie Lan digelari sebagai Bwee Sim Mo Lie."
"Siapakah kekasih Ciecie Bie Lan itu, paman Khang ?" Tanya Giok Han lebih jauh.
"Aku sendiri tidak mengetahui dengan jelas, tetapi menurut cerita-cerita orang Kangouw, justru kekasih Liok Bie Lan adalah salah seorang murid Bu Tong Pay, yang liehay ilmu silatnya. Karenanya setiap kali mereka bertengkar dan bertanding, selalu juga Bie Lan tidak bisa merobohkan kekasihnya.
Mungkin jika berhasil merobohkan kekasihnya, ia akan membunuh kekasihnya itu. Dan sebab itu pula mengapa Bie Lan pergi mencari guru lagi, mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi serta mempelajari ilmu penggunaan racun yang dahsyat. Entah dengan siapa dia belajar semua itu, tetapi yang jelas kepandaiannya puluhan kali lipat lebih hebat dari sebelumnya...!"
Tentang nama kekasih dari Liok Bie Lan aku sendiri tidak tahu. Hanya ilmu keluarga Liok walaupun liehay, tetap bukan tandingan dari kepandaian kekasih Liok Bie Lan, karena memang kekasih Bie Lan liehay dan sudah menguasai ilmu Bu Tong Pay cukup sempurna.
Menurut cerita orang, kekasih Bie Lan adalah murid Bu Tong Pay tingkat ke tiga.
Thiam Lu menghela napas dalam-dalam dia bilang: "Aku beruntung terhindar dari kematian karena pernah bertemu dengan Sepasang Tabib Hutan yang sangat liehay tadi malam, yang telah memberikan dendeng obat padaku. Sekarang aku baru menyadari mengapa jalan darahku selalu bergolak jika ku kerahkan pernapasan dan hawa murni di tubuh, akibat pukulan Sepasang Tabib Hutan, yang memutar balik peredaran darahku, sehingga diserang oleh jarum-jarum beracun Liok Bie Lan tadi, tidak sampai membuatku mati.
Mata Bie Lan pun sangat tajam, melihat aku tidak segera mati terluka oleh beberapa batang jarum beracunnya, dia dapat menduga bahwa aku tertolong oleh obatnya Sepasang Tabib Hutan, maka dia menanyakan Sepasang Tabib Hutan itu."
"Ada hubungan apa antara Liok Bie Lan Ciecie dengan Sepasang Tabib Hutan itu, paman Khang ?!" Tanya Giok Han semakin ingin mengetahui.
"Aku sendiri tidak tahu, mungkin di antara mereka ada ganjalan sakit hati...!", menjelaskan Thiam Lu. "Baiklah, sekarang kita boleh bersyukur karena bahaya telah lewat. Mari kita lanjutkan perjalanan."
"Paman Khang belum sehat benar, lebih baik kita beristirahat dulu sampai paman Khang sembuh dan sehat benar," kata Giok Han.
Thiam Lu menggeleng sambil bangun berdiri.
"Sekarang aku sudah pulih sebagian, sudah bisa melanjutkan perjalanan. Jika membuang-buang waktu, aku kuatir racun yang masih bersarang di dalam tubuhku akan mengamuk lagi, tentu aku akan gagal mengajak kalian menemui guruku ..."
"Menemui guru paman Khang ? Untuk apa ?!" Tanya Giok Han heran. "Bukankah keberangkatan kita ini untuk pergi menemui Papa ?"
Thiam Lu menghela napas dalam-dalam wajahnya murung dan air matanya menitik turun. Dengan terbata-bata dia menceritakan apa yang telah dialami oleh keluarga Jenderal Besar Giok Hu, ayah Giok Han. Hal ini terpaksa diceritakan oleh Thiam Lu, karena selama dalam perjalanan selalu muncul urusan-urusan yang membuat Thiam Lu bertiga terancam.
la kuatir kalau sewaktu-waktu dia mati, maka Lam Sie memperoleh kesulitan untuk menceritakan peristiwa itu, sebab tidak mengetahui siapa-siapa yang telah membunuh ayah, ibu, kakak perempuan Giok Han dan sanak familinya seluruh keluarga.
Dia memberitahukan pada Giok Han, yang harus di ingat adalah dua nama, yaitu Ban It Say serta Thio Yu Liang. Thiam Lu juga menceritakan bahwa semua bencana itu disebabkan oleh Kaisar Yong Ceng. Waktu menceritakan semuanya, air mata Thiam Lu tidak berhentinya mengucur. Lam Sie juga menangis terisak-isak.
Bagaikan mendengar petir bagi Giok Han waktu mendengarkan cerita Thiam Lu. Wa-laupun dia masih kecil, namun dia seorang anak yang cerdas dan cepat sekali mengerti urusan. Dia menangis sesenggukan dan akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.

Thiam Lu berdua Lam Sie jadi kebingungan. Thiam Lu tidak berani menyentuh tubuh Giok Han, sebab dia tahu di tubuhnya sendiri masih mengendap racun yang dahsyat dia kuatir kalau menyentuh tubuh Giok Han nanti bisa membahayakan bocah itu. Lam Sie yang telah berusaha menyadarkan majikan kecilnya.
Waktu siuman, Giok Han menangis terisak-isak sedih sekali, Lam Sie berdua Thiam Lu coba menghiburnya.
"Paman Khang sengaja menceritakan semua ini kepadamu, agar kau ingat Siauwya, betapapun juga setelah dewasa nanti, kau harus membalaskan sakit hati keluargamu ! Karenanya, sekarang kau harus berusaha menghindar dari kejaran orang-orang Yong Ceng, agar kau memiliki kesempatan menuntut ilmu dan nanti membalas sakit hati ayah ibu, saudara dan sanak familimu !" kata Khang Thiam Lu di antara isak tangisnya.
Giok Han memeluk Lam Sie erat-erat sambil menangis, kemudian dia melepaskan pelukannya, menjatuhkan diri di hadapan Khang Thiam Lu, katanya dengan air mata bercucuran: "Terima kasih atas pertolongan Paman Khang dan Paman Lam berdua atas diriku, budi kebaikan itu tidak akan Hanjie lupakan sampai kapanpun juga. Tetapi Hanjie pun tidak akan melupakan nama-nama seperti Ban It Say, Thio Yu Liang maupun raja jahat Yong Ceng ! Ketiga nama itu akan terukir terus sampai kelak Hanjie bisa membalas sakit hati Papa, Mama, Ciecie dan saudara-saudara Hanjie... para paman dan bibi yang lainnya ! Hanjie bersumpah, jika Hanjie tidak bisa membersihkan nama Papa dari fitnah dan membalas sakit hati Papa, Hanjie tidak mau hidup...!"
Lam Sie memeluk Giok Han, sedangkan Thiam Lu dengan air mata bercucuran tapi bibir tersenyum terharu, berkata : "Bagus. itulah semangat lelaki sejati, Siauwya ! Kami akan berusaha melindungi Siauwya sampai titik darah terakhir, untuk membalas budi kebaikan Papa Siauwya, Giok Goanswee ! Mari kita lanjutkan perjalanan, tempat tujuan masih cukup jauh... mudah-mudahan tidak ada rintangan lainnya !"
Giok Han mengangguk. Lam Sie menggendongnya. Tetapi Giok Han menolak.
"Jangan bersusah payah dan bercapai lelah lagi untukku, paman Lam. Aku berhutang budi yang sedalam lautan dan setinggi gunung, karena tanpa kau berdua paman Khang, aku tentu sudah terbunuh juga oleh orang-orang Kaisar jahat itu ! Bahkan, aku akan menganggap kalian berdua, paman Khang dan paman Lam, sebagai pengganti kedua orang tuaku !" kata Giok Han sambil menangis terisak-isak.
Lam Sie berdua Khang Thiam Lu pun terharu atas nasib majikan kecil mereka, ke duanya bertekad untuk mempertaruhkan jiwa buat melindugi Giok Han.
Perjalanan dilanjutkan, walaupun Thiam Lu belum sehat seperti sebelumnya, ia sudah bisa melakukan perjalanan. Hanya sekali-sekali dirasakan kepalanya pening dan pandangan matanya kabur gelap berkunang-kunang.
Jika terjadi seperti itu, maka Thiam Lu duduk bersemedi 10 menit, mengatur pernapasannya, dan jika darahnya terasa bergolak, peredaran darahnya seperti terbalik, dia menghentikan semedhinya. Tidak berani Thiam Lu memaksa untuk mengatur pernapasan dan hawa murni tubuhnya lebih lama lagi, kuatir kalau-kalau bisa menyebabkan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan pada anggota dalam tubuhnya. Maka semedhinya selalu disudahi dan rasa pening lenyap, matanya menjadi terang lagi dan semangatnya pulih.
Sejak dari saat itu, Giok Han tidak mau digendong oleh Lam Sie, dia berjalan kaki sendiri. Walaupun Lam Sie berulangkali membujuknya agar dia mau digendong, tetapi selalu Giok Han menolaknya.
Dan hati Thiam Li berdua Lam Sie tambah terharu melihat sikap bocah ini, sebab melakukan perjalanan sepanjang hari seperti itu, menyebabkan Giok Han sangat menderita, kakinya jadi luka-luka oleh lecet yang cukup pedih, tetapi bocah itu keras hati, tetap tidak mau digendong.
Sejak mengetahui peristiwa yang menimpa keluarganya, ia jadi sangat menghormati Lam Sie dan Thiam Lu, karenanya dia tidak mau menyusahkan Lam Sie lagi dengan menggendongnya. Walaupun telapak kakinya selalu terasa sakit buat berjalan, dia tetap menahannya.
Hanya sekali-sekali jika istirahat Giok Han menangis meratapi Papa, Mama dan Ciecie-ciecienya. Anak ini jadi murung sekali sepanjang hari tidak pernah riang seperti hari-hari sebelumnya.
Melakukan perjalanan empat hari Giok Han jatuh sakit. Tubuhnya panas. Thiam Lu mengajak Lam Sie dan Giok Han menumpang di rumah seorang penduduk.
Entah sudah beberapa kali Giok Han tidak sadarkan diri akibat demam yang tinggi, tubuhnya panas seperti menguap. Tidak jarang juga bocah itu mengigau memanggil-manggil Papa, Mama atau Ciecienya. Hati Thiam Lu berdua Lam Sie seperti disayat-sayat pisau, sedih bukan main.
Melihat majikan kecil mereka tampaknya sangat menderita sekali. Tetapi apa daya mereka untuk meringankan penderitaan Giok Han ? Anak ini tergempur bathinnya, hancur perasaannya terlalu dalam dukanya, juga menderita berat dalam melakukan perjalanan, sehingga akhir nya dia jatuh sakit seperti itu.
Dua hari dua malam Thiam Lu berdua Lam Sie menunggui Giok Han, berbagai usaha dilakukan mereka untuk merendahkan panas tubuh Giok Han. Pada hari ketiga. Giok Han mulai sadar dan panas tubuhnya mulai turun.
Sengaja Thiam Lu menunda perjalanan mereka, menunggu kesembuhan Giok Han. Beruntung pemilik rumah yang mereka tumpangi sangat baik, membantu mereka mencarikan daun-daun obat untuk Giok Han.
Setelah mengasoh hampir sepuluh hari, kesehatan Giok Han mulai berangsur pulih. Tetapi, bocah itu tidak lincah lagi, ia jadi pemurung. Tubuhnya pun jauh lebih kurus dari sebelumnya. Dia sering termenung, karena anak itu rupanya masih selalu, teringat cerita Khang Thiam Lu tentang bencana berdarah yang menimpa keluarganya.
Setelah lewat dua hari lagi, Thiam Lu mengajak Lam Sie dan Giok Han untuk melanjutkan perjalanan, karena mereka tidak bisa terlalu lama menunda-nunda perjalanan tersebut. Kuatir bahaya dari orang-orang Kaisar Yong Ceng datang mengacau kalau mereka terlalu lama berada disitu.
Untuk mencapai kota Siauw An masih memerlukan waktu perjalanan delapan hari lagi, dan mereka melakukan perjalanan tidak terlalu cepat seperti sebelumnya, karena Thiam Lu maupun Lam Sie menyadari bahwa Giok Han harus banyak istirahat, dia baru sembuh dari sakitnya.
Selama dalam perjalanan Giok Han pun jarang bcara, dia jadi pendiam dan murung, Lam Sie berusaha untuk menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa memulihkan kegembiraan anak tersebut.
Ada satu yang membuat Thiam Lu kian hari kian berkuatir, peredaran darah ditu-buhnyapun semakin acak-acakan sulit untuk dikendalikan. Karenanya dia berharap bisa cepat-cepat tiba ditempat gurunya, disamping untuk minta gurunya melindungi Giok Han, pun ingin meminta pertolongan gurunya mengobati luka yang dideritanya.
Selama dalam perjalanan Giok Han tidak pernah mengeluh, walaupun kakinya mulai luka-luka lecet yang lebih lebar, dia tidak pemah merintih kesakitan. Setiap kali Lam Sie membujuknya untuk menggendongnya, Giok Han tersenyum sedih, katanya: "justeru kalau Giok Han sudah lebih besar dari sekarang yang harus menggendong paman Lam, karena paman Lam sudah berusia lanjut...!"
Dan jawaban seperti itu membuat Lam Sie berdua Thiam Lu semakin terharu. Mereka tidak bisa memaksa Giok Han untuk digendong saja dalam perjalanan tersebut, karena walaupun masih kecil tampaknya Giok Han memiliki hati yang tabah dan keras seperti Papanya. Memang, biarpun masih kecil, anak itu rupanya mewarisi Sifat-sifa t gagah dari Papanya, Jenderal Besar Giok Hu.
Perjalanan dilakukan perlahan-lahan, sering-sering beristirahat. Thiam Lu menduga dengan perjalanan yang lambat seperti itu mungkin dua belas hari lagi baru bisa tiba di Siauw An. Beruntung selama dalam perjalanan tidak bertemu halangan lainnya. Untuk menghibur hati Giok Han, Thiam Lu sering menceritakan serak terjang orang-orang gagah dalam rimba persilatan dari berbagai golongan.
Tampaknya Giok Han tertarik mendengarkan cerita-cerita kegagahan para pendekar dalam rimba persilatan dia pun sering bilang dengan bersemangat, jika sudah dewasa kelak ingin jadi pendekar yang gagah dan mementingkan perbuatan mulia.
Menjadi pendekar sakti, untuk membalaskan sakit hati orang tua dan saudara-saudaranya.
"Nanti guruku tentu mau mengajarkan kau ilmu-ilmu yang sangat tinggi," kata Thiam Lu. "Aku yakin Siauwya kelak bisa menjadi Pendekar gagah perkasa!" Menghibur Thiam Lu.
Semakin seringnya mendengar kisah-kisah kegagahan orang-orang rimba persilatan, Giok Han semakin memperlihatkan sikap gagah dan tabah, tidak kenal lelah dalam perjalanan. Hanya saja Thiam Lu dan Lam Sie yang menguatirkan kesehatan Giok Han bisa terganggu kalau melakukan perjalanan terlalu berat, maka mereka banyak mempergunakan kesempatan untuk beristirahat. Seharinya paling tidak mereka cuma menempuh tiga puluh lie lebih.
Kota Siauw An merupakan kota yang cukup besar, juga penduduknya sangat padat. Di jalan Yang-cen, tampak barisan rumah-rumah penduduk yang tidak begitu padat, karena jalan ini merupakan jalan utama di kota tersebut, para orang kaya dan berpangkat mendiami rumah-rumah yang berada di jaIan tersebut.
Dengan sendirinya, jalan itu merupakan jalan yang tidak terlalu bising dan ramai.
Di depan sebuah rumah yang pada kedua sisi pilarnya terdapat patung singa-singaan besar berwarna hitam, dengan pintu warna hitam, gelang tembaga yang mengkilap ke kuning-kuningan, tampak seseorang tengah membersihkan daun-daun kering yang runtuh dari pohon yang tumbuh di depan rumah itu.
Dengan sapu dan pengki orang itu membersihkan sekitar depan rumah itu. Usia orang tersebut mungkin sudah lima puluh tahun, tapi tubuhnya masih gagah dan tegap.
Tengah membersihkan patung singa-singaan sebelah kanan, mendadak menghampiri seorang pemuda berpakaian pelajar.
Usia pemuda itu baru 20 tahun, pakaiannya sangat rapi. Selintas lihat segera bisa diterka bahwa dia pasti putera hartawan atau putera pembesar negeri. Waktu berjalan menaiki undakan tangga menghampiri pelayan yang tengah membersihkan patung singa-singaan ltu, lagaknya angkuh, mulutnya tersenyum sinis sekali. Kopiah yang dipakainya kopiah pelajar yang bersulam benang emas.
"Hei Tang Kui, mana majikanmu?!" Tegur pemuda itu dengan sikap yang lancang tidak ada hormat sedikitpun.
Pelayan rumah itu menoleh, tampaknya dia terkejut. Kemudian membungkukkan tubuhnya dengan sikap takut-takut, tersenyum-senyum terpaksa.
"Oooo, Cie Kongcu datang ? Apa kabar Cie Kongcu?!", tanya pelayan itu.
Sepasang alis pemuda itu mengkerut dalam-dalam, tampaknya galak sekali.
"Tang Kui, apakah telingamu sudah tuli ?", bentaknya bengis. "Aku tanya, dimana majikanmu?"
"Oooo, Cie Kongci menanyakan Loya ? Maafkan Kongcu, maklumlah umurku sudah tua, sehingga pendengaranku tidak baik lagi Loya ada di dalam. Apakah perlu aku memanggil Loya?"
"Hmmm," angkuh sekali pemuda itu bersikap, mengawasi sinis ke dalam rumah lewat sela pintu yang agak terbuka. Kemudian mendekati Tang Kui, pelayan itu. "Sekarang" katanya, "kau dengarkanlah baik-baik pertanyaanku !"
"Ya, ya Kongcu. Apa pertanyaan Kong cu?"
"Apakah Yang Siocia ada ? Pergi kau beritahukan padanya bahwa aku rindu benar padanya dan ingin bertemu dengannya."
Ceriwis sekali cara bicara pemuda itu. Tang Kui tampak kaget. "Cie Kongcu, maafkan... aku... aku tidak berani untuk memberitahukan Siocia akan kedatangan Kongcu, Di dalam ada Lo ya... nanti Loya akan memarahiku," kata pelayan itu takut-takut.
Pemuda itu jadi cemberut, tahu-tahu tangan kanannya menjitak kepala Tang Kui cukup keras, sampai berbunyi nyaring dan Tang Kui berseru kesakitan, tapi tubuhnya tetap membungkuk tidak berani melawan.
"Pelayan goblok kau!" kata Cie Kongcu sengit. "Tentu saja kau beritahukan Siociamu tanpa diketahui Ioyamu. Pergi sana, awas kalau kau tidak memberitahukan kepada Siociamu . . . akan kujitak lagi kepalamu!"
Pelayan itu sangsi, tapi dia juga takut pada pemuda yang galak ini. Maka akhirnya ia terpaksa masuk ke dalam.
Pemuda itu menunggu dengan sikap tidak sabar. Sampai akhirnya pelayan itu ke luar lagi.
"Sudah ?" Tanya Cie Kongcu sambil tertawa lebar dan merogo sakunya, mengeluarkan lima tail perak, disodorkan kepada Tang Kui. "Hadiah untukmu !"
Pelayan itu tidak mau menerima hadiah si pemuda, dia menggoyang-goyangkan tangannya.
"Terima kasih Kongcu, tidak usah beri hadiah," katanya agak gugup. "Tentang Siocia..."
"Ya, kenapa dengan Siociamu ?" Tanya si pemuda tidak sabar.
"Siocia sedang bercakap-cakap dengan Loya, tidak ada kesempatan untuk memberitahukan pada Siocia tentang kedatangan Kongcu!"
Muka Cie Kongcu jadi guram, dia melemparkan uang yang lima tail perak ke muka Tang Kui.
"Ambil buatmu! Tetapi jika Siociamu selesai bercakap-cakap dengan Loyamu, kau harus segera memberitahukan kepadanya bahwa aku sudah kemari, dan aku menunggu dia di taman Lo-sik-wan. Mengerti?!"
"Mengerti Kongcu. Tetapi, apakah harus disampaikan pada Siocia bahwa Kongcu menunggunya di taman Lok-sik-wan ?", tanya Tang Kui.
"Tentu saja. Aku akan menunggunya di sana. Semakin cepat dia datang menemui aku, semakin baik lagi. Nanti kau akan ku persen lebih banyak lagi !"
"Tapi... tapi Kongcu..." Tang Kui tampak bingung dan ragu-ragu.
"Apa lagi ?" bentak Cie Kongcu, galak sikapnya.
"Bagaimana kalau Siocia tidak mau pergi menemui Kongcu, malah nanti memarahiku ?", tanya Tang Kui.
Muka Cie Kongcu berobah muram, dia tahu-tahu menghunus pedang pendek dari balik jubah dan pedang pendek itu ditandai-kan ke leher Tang Kui.
"Kalau Siociamu tidak mau datang ke Lo-sik-wan, berarti lehermu akan putus. Mengerti ?", mengancam Cie Kongcu dengan suara bengis.
Kaget Tang Kui, semangatnya serasa terbang meninggalkan raganya. Tubuhnya sampai terhuyung kebelakang dengan muka pucat hampir dia jatuh keserimpet. "Mengerti... mengerti Kongcu."
Cie Kongcu memasukkan pedang pendeknya ke sarungnya, mengibaskan jubahnya dan melangkah pergi dengan sikap yang angkuh sekali.
Tang Kui berdiri bengong mengawasi kepergian pemuda itu, setelah melihat si pemuda lenyap ditikungan jalan, barulah dia berani menggerutu: "Hu, hu, kalau Loya mengetahui kelakuanmu seperti itu, tentu Loya tidak akan mau mengerti. Pasti akan menghajarmu habis-habisan, pemuda berandal !"
Tang Kui tiba-tiba berdiri tertegun, mulutnya setengah terbuka, matanya pun terpentang lebar-lebar, seperti menyaksikan sesuatu yang mengejutkannya. Namun, akhirnya ia berseru gembira dan berlari menghampiri ketiga orang yang tengah mendatangi ke arahnya.
"Khang Tayjin, mengapa kau tidak kirim kabar akan pulang?!", berseru Tang Kui.
Ketika orang itu tidak lain dari Khang Thiam Lu, Lam Sie dan Giok Han. Thiam Lu tersenyum, ia pun senang bertemu dengan Tang Kui, pelayan setia yang sudah puluhan tahun bekerja pada gurunya. "Apakah kau baik-baik saja, Tang Lopeh ?", tanya Thiam Lu. "Suhu ada di rumah ?"
"Ada. Ada, Tayjin. Oooo, betapa rindunya aku si tua pada Tayjin. Sudah berapa tahun Tayjin tidak berkunjung?" Berkata sampai di sini barulah Tang Kui melihat pakaian Thiam Lu bertiga Iusuh dan tidak keruan, juga mukanya agak pucat, dia bertanya heran campur kaget: "Tayjin, apa yang terjadi ?"
Thiam Lu tersenyum dan mengajak Lam Sie berdua Giok Han masuk ke rumah gurunya, diikuti oleh Tang Kui Pelayan itu masih menanyakan beberapa pertanyaan, tetapi Thiam Lu mengulapkan tangannya. Mereka menanti di ruang tamu, Tang Kui berlari ke dalam untuk memberitahukan kedatangan Thiam Lu bertiga kepada majikannya.
Tidak lama kemudian ke luar seorang.
lelaki bertubuh jangkung kurus, dengan kumis jenggot yang sudah memutih, sikapnya tenang dan masih gagah, tetapi terpancar kegembiraan. Belum lagi dia melihat Thiam Lu bertiga, sudah bertanya : "Thiam Lu, sudah lama kau tidak berkunjung..."
Tetapi di waktu itu dia melihat Giok Han dan Lam Sie, juga keadaan Thiam Lu bertiga yang pakaiannya tidak keruan, ia jadi tertegun, tanyanya ragu-ragu : "Apa yang sudah jadi, Thiam Lu ?"
Thiam Lu cepat-cepat menghampiri gurunya dan berlutut di depan lelaki tua itu, yang memang Yang Bu In, pendekar tua yang pernah sangat terkenal dengan Wan-kun (Ilmu Pukulan Kera) sehingga disegani oleh orang-orang KangOuw di Kangouw dan sekitarnya.
Sambil memberi hormat pada gurunya, air mata Thiam Lu sudah mengalir. la menceritakan apa yang telah dialami oleh atasannya, yaitu Jenderal Giok Hu sekeluarga yang dimusnahkan oleh orang-orangnya Kaisar Yong Ceng.
Muka Yang Bu In berobah muram, ia menghela napas dalam-dalam sambil gumamnya: "Menteri dan Jenderal setia dibunuh penjilat dan pengkhianat dibiarkan berkeliaran, tampaknya negeri jadi semakin tidak aman dan akan runtuh...!" ia lalu menoleh kepada Giok Han, katanya lagi : "Kasihan anak ini..."
Thiam Lu perintahkan Giok Han memberi hormat kepada gurunya, Lam Sie juga datang memberi hormat kepada guru Thiam Lu. Giok Han walaupun masih kecil, tetapi ia mengerti aturan. la segera menjatuhkan diri. Bahkan ia cerdas sekali, dengan sesenggukan anak itu bilang : "Lopeh, tolonglah Hanjie."
Hati Yang Bu In semakin terharu, dia mengusap usap kepala anak itu. "Anak pintar" katanya dengan mata berkaca-kaca. "Bukan" hanya aku yang akan melindungimu, tetapi semua orang gagahpun akan melindungimu. Janganlah kau bersedih terus atas malapetaka yang menimpah keluargamu, kau harus tabah dan mulai sekarang harus rajin-rajin belajar ilmu silat, karena di pundakmu ada beban yang berat, yaitu kau harus melenyapkan penasaran orang tua dan saudara-saudaramu kalau kelak sudah besar."
Dengan mata masih mengucur. Giok Han tetap berlutut dan menganggukkan kepalanya berulang kali. "Terima kasih, Lopeh," kata anak itu. "Hanjie akan memperhatikan nase-hat-nasehet Lopeh."
Yang Bu In menoleh pada Tang Kui, perintahnya : "Siapkan kamar untuk mereka perjalanan yang jauh tentu membuat mereka sangat lelah"
Tang Kui mengiyakan dan berlalu, sedangkan Bu In menoleh pada Thiam Lu, katanya; "Sekarang kalian tentu lelah sekali, pergilah beristirahat dulu, nanti baru kita bercakap-cakap lagi."
Thiam Lu mengiyakan. Suasana di rumah Bu In sungguh tenteram. Terlebih lagi memang sudah bersengsara selama dalam perjalanan, Thiam Lu bertiga Lam Sie dan Giok Han beristirahat dengan sebaik-baiknya.
Sore itu Tang Kui sibuk mempersiapkan meja untuk perjamuan. Mukanya murung, karena tadi dia baru saja disemprot oleh Yang Lan, Yang Siocia. Waktu Tang Kui memberitahukan perihal kedatangan Cie Kongcu yana ceriwis itu pada nona majikannya, Yang Lan gusar. la memaki mengapa Tang Kui tidak memberitahukan tadi-tadi padanya, agar dia bisa menghajar pemuda kurang ajar itu.
Yang Lan mamang puteri tunggal keluarga Yang, masih muda usianya paling tidak baru 18 tahun, walaupun ia memiliki paras yang cantik dan tubuh yang menarik, sifatnya sangat keras. Sejak kecil ia sudah dididik langsung oleh ayahnya, sehingga menjadi seorang nona yang memiliki kepandaian tidak rendah. la pun tidak kenal takut.
Namun disebabkan sejak kecil sudah melatih ilmu silat, tidak jarang sikapnya seperti lelaki, tidak memperdulikan lagi aturan-aturan hubungan pria dan wanita, ia bergaul cukup bebas dengan pemuda manapun juga. Cie Kongcu adalah salah seorang dari sekian banyak pemuda yang menginginkan si gadis hanya saja bedanya Cie Kongcu putera Tiehu di kota itu, sebagai putera pembesar yang paling berkuasa di kota tersebut, tentu saja dia besar kepala dan angkuh.
Dia ingin mempergunakan kekuasaan ayahnya untuk menundukkan Yang Lan. Hanya sayang, slfat-sifatnya inilah yang membuat Yang Lan malah jadi muak dan membencinya. Selalu si gadis tidak pernah melayani pemuda tersebut.
Sebetulnya, sudah beberapa kali Yang Lan ingin menghajar pemuda angkuh dan ceriwis tersebut, cuma masih dipikirkan oleh Yang Lan akibatnya kalau ia bertindak terlalu keras pada pemuda itu, yang pasti bisa membahayakan ketenteraman keluarganya.
Ayah Cie Kongcu pasti tidak mau mengerti jika anaknya itu dihajar babak belur oleh Yang Lan. Hanya saja, semakin lama lagak Cie Sun Hoat. Cie Kongcu itu, semakin semena-mena, selalu sewenang-wenang terhadap orang-orang yang tidak berdaya, rasa tidak puas di hati Yang Lan semakin besar saja.
Sekarang Tang Kui melaporkan bahwa pemuda itu mengharuskan dia sore ini pergi ke taman Lo-sik-wan, meluaplah kemarahan Yang Lan. Dirasakannya ini merupakan penghinaan untuk dirinya. Walaupun Yang Lan menyadari Cie Sun Hoat memiliki ilmu silat juga, tapi kepandaiannya dirasakan jauh berada di atas pemuda itu.
Dan ia bertekad sore ini akan memberikan hajaran kepada pemuda ceriwis tersebut, supaya nanti tidak terlalu kurang ajar. la ingin'melakukan rencananya itu sendiri, tidak memberitahukan pada ayahnya, karena kuatir dilarang oleh ayahnya.
Waktu Tang Kui mulai merapikan meja untuk persiapan perjamuan, Yang Lan bermaksud pergi ke taman Lo-sik-wan untuk menemui Cie Sun Hoat. la memperhitungkan paling tidak memerlukan waktu semakanan nasi dan ia sudah bisa kembali ke rumah untuk ikut hadir dalam perjamuan, guna menghormati Suhengnya yang baru pulang.
Yang Lan bersiap-siap untuk berangkat ia merapikan pakaiannya, agar singsat dan menyandang pedang di pinggangnya. Lalu memeriksa kantong senjata rahasia. Baru saja ia mau berangkat, waktu itu ayahnya tampak mendatangi dengan wajah yang tidak wajar seperti biasanya, muram sekali. Si gadis terkejut.
Yang Bu In menghampiri puterinya dengan lesu, sepasang alisnya mengkerut waktu melihat cara berpakaian nnaknya. "Kau mau kemana, Lanjie ?" tanyanya.
Si gadis tidik biasa berdusta, ia menceritakan maksud kepergiannya dan rencana untuk menghajar Cie Sun Hoat. Yang Bu In menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan sikap tegang ia bilang: "Persoalan anak itu biarkan saja, bukan urusan yang penting. Sekarang kau ikut ayah."
Dan Bu In memutar tubuhnya. Yang Lan mengikuti dengan perasaan heran, pertama, sikap ayahnya yang tidak biasanya. Jika sebelum-belumnya selalu tenang menghadapi berbagai masalah yang bagaimana berat sekalipun, sekarang justeru tampak agak gelisah dan mukanyapun muram agak pucat. Kedua, apa yang ingin diperlihatkan ayahnya dengan mengajaknya ? Apa yang ingin dilakukan ayahnya apakah yang telah terjadi ?
"Thia, ada apa?" Tanya si gadis yang tidak bisa membendung perasaan ingin tahunya, waktu ia mengikuti ayahnya di sampingnya.
"Nanti kau akan melihat sendiri,"" me-nyahuti ayahnya "Ayo cepat, ada sesuatu yang tidak beres."
"Tentang apa, Thia ?"
"Akan ada ancaman bahaya yang sangat besar..." menyahuti ayahnya.
Kembali Yang Lan heran melihat kelakuan ayahnya. Sebagai seorang pendekar gagah berkepandaian tinggi, Yang Bu In tidak pernah gentar pada siapapun juga. Sejak dulu. jarang ada yang dapat menandingi kepandaiannya. Tetapi sekarang tampaknya ada sesuatu yang bisa membuat Bu In demikian gelisah, pasti urusannya pun sangat hebat.
Diam-diam Yang Lan jadi ikut gelisah, hatinya berdebar-debar. Tetapi melihat sikap ayahnya bersungguh-sungguh seperti itu, si gadis tidak berani banyak bertanya. Hanya hatinya diliputi seribu satu macam pertanyaan, yang tidak terjawab.
Ayahnya ternyata mengajak ke ruang semadhi. Bu In membuka pintu kamar semadhi kemudian menunjuk ke arah tembok bagian atas dari dinding sebelah kanan kamar itu. "Lihatlah," katanya dengan suara agak tergetar. "Dia sudah meninggalkan tanda pengenalnya."
Yang Lan menengadah dan melihat sesuatu yang membuat hatinya tergetar. Di dinding itu terdapat dua belas bangkai ayam, yang terpantek di situ dalam posisi seperti bunga bwee. Di samping kanan dari bangkai-bangkai ayam itu, terpisah beberapa cie. tampak sebuah lukisan bendera, bentuknya segi tiga, dengan gambar bulatan kecil di tengahnya. Gambar apapun tidak terdapat di lukisan bendera tersebut, selain lingkaran kecil itu. Muka Yang Lan berobah.
"Apa maksudnya semua ini, Thia?" tanya Yang Lan sambil menoleh mengawasi ayahnya. "Apa yang sudah terjadi, Thia ?"
Muka Bu In muram dan gelap sekali, tampak ia tengah berpikir keras. Setelah menghela napas dalam-dalam, barulah ia menjawab pertanyaan anaknya: "Inilah bahaya yang kukatakan tadi tengah mengancam kita."
"Siapa yang melakukan ini, Thia? Siapa DIA yang Thia sebutkan tadi ?" tanya Yang Lan lagi.
Muka Bu In berobah agak pucat, tubuhnya pun menggigil. Tampaknya ada sesuatu yang hebat tengah dipikirkannya.
"Thia, kita harus mencari orang yang berbuat kurang ajar ini, yang mengotori kamar samadhi Thia-thia !" Berseru Yang Lan yang kemarahannya sudah tidak bisa ditahan lagi.
Tetapi ayahnya mengulap-ulapkan tangannya, Dengan lesu ia menghampiri anaknya. Dipegangnya pundak Yang Lan.
"Anak, tampaknya memang bencana itu akhirnya datang juga." katanya. "Kau harus tenang, kita harus bisa menguasai diri, agar bencana itu tidak memusnahkan seluruh keluarga Yang !"
"Memusnahkan seluruh keluarga Yang ? Apa maksud Thia-thia ? Manusia kurang ajar mana yang tidak kenal mati ingin mengganggu keluarga Yang ?!" Berseru Yang Lan.
Bu In menghela napas dalam-dalam, ia tampaknya bersusah hati, katanya: "Tampak nya inilah yang disebut takdir. Memang, akhirnya takdir itu sulit dihindarkan juga..." Menggumam Bu In dengan suara tergetar.
"Thia." panggil Yang Lan. "Mengapa Thia-thia bersikap seperti itu ? Bukankah kita bisa mencari orang yang berbuat kurang ajar itu dan beri pelajaran keras kepadanya ?"
Bu In menggelengkan kepalanya.
"Percuma, tidak mungkin kita bisa menghadapinya." menyahuti Bu In lesu.
Bukan kepalang heran hati Yang Lan. Dari dulu belum pernah ia menyaksikan sikap ayahnya seperti sekarang. seperti ketakutan, gelisah dan putus asa. Benar-benar Yang Lan jadi tidak mengerti oleh sikap ayahnya sekarang ini.
"Apakah orang itu sangat liehay. Thia ?" Tanya Yang Lan tidak sabar. "Kita hisa maju bersama untuk menghadapinya, Thia... walaupun bagaimana liehaynya orang itu. kita berdua pasti bisa menghadapi dan mengatasinya."
Bu In menghela napas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Dia menuding kearah bangkai-bangkai ayam yang terpantek di tembok dengan posisi yang aneh itu. "Coba kau perhatikan,"
"katanya lesu. "Apakah ada sesuatu yang aneh ?"
Yang Lan memperhatikan bangkai-bangkai ayam itu, lalu menggelengkan kepalanya ia tidak melihat keluar-biasaan dari bangkai-bangkai ayam itu, hanya keluar-biasaannya bangkai-bangkai ayam itu terpantek di tembok dalam kamar semadhi ayahnya.
"Tidak ada sesuatu yang luar biasa Thia. Hanya perbuatan kurang ajar seperti ini berarti menghina keluarga Yang secara keterlaluan ! Orang itu harus dihajar sekeras-keras-nya, kalau perlu dibunuh !" Kata Yang Lan kemudian.
Bu In menghela napas dalam-dalam.
"Anak," katanya lesu. "Perhatikanlah, ayam-ayam itu dibunuh dengan cara memutuskan lehernya, bukan ? Bangkai-bangkai ayam itu masing-masing tidak berkepala lagi."

Menggidik juga hati Yang Lan, dia memperhatikan sekali lagi. Benar saja, semua bangkai-bangkai ayam itu tanpa kepala. Darah yang menetes dari leher bangkai-bangkai ayam tak berkepala itu mengotori tembok berceceran, memang tampaknya kepala ayam itu masing-masing ditarik dengan kuat sampai putus, kemudian bangkai ayam itu dipantek.
"Dan, kau perhatikan lagi, ayam-ayam itu terpantek ditembok bukannya oleh paku!" Menjelaskan Bu In pula, lesu dan perlahan suaranya.
Yang Lan kembali terkejut, dia memperhatikan. Dan apa yang diberitahukan ayahnya memang tidak salah, bangkai-bang-kai ayam itu terpantek ditembok bukan oleh paku, tetapi oleh masing-masing sebatang jarum yang cukup panjang!
Tercekat hati Yang Lan. inilah luar biasa, siapakah yang telah memantek bangkai-bangkai ayam itu dengan hanya mempergunakan jarum ? Kalau bangkai-bangkai itu terpantek oleh paku, itu bukan hal yang mengherankan. Tetapi justeru sekarang bangkai-bangkai ayam itu ternyata dipantek oleh jarum-jarum yang tipis halus itu, tetapi dapat menembus dinding yang keras. Ini menunjukkan tenaga dalam orang itu sangat tinggi. Siapakah orang itu?
Dengan muka yang berobah jadi tegang, Yang Lan bertanya kepada ayahnya: "Thia, sesungguhnya siapakah orang yang kurang ajar itu yang telah melakukan semua ini ?"
Untuk sejenak Bu In tidak menjawab, dia cuma menggumam: "Ya, mungkin sudah tiba saatnya aku berhitungan dengannya !" Lalu dia menoleh kepada Yang Lan: "Orang itu memiliki dendam yang kalau ingin dibilang sedalam lautan dan setinggi gunung, itu masih belum apa-apa. Dendamnya sudah melebihi dalamnya lautan dan tingginya gunung, mungkin juga dendamnya itu setinggi langit !"
Dengan mata guram Bu In menoleh kepada bangkai-bangkai ayam yang terpantek ditembok, lalu katanya lagi: "Sekarang kau hitung bangkai-bangkai ayam itu."
Yang Lan menuruti perintah ayahnya. Dia menghitungnya. "Dua belas ekor semuanya, Thia."
"Ya, perhatikan posisi terpanteknya bangkai-bangkai ayam itu. pertama-tama, di atas sana terpantek dua ekor, bukan?" Kata Bu In tidak bersemangat.
"Benar. Thia."
"ltu berarti untuk aku dan ibumu!"
"Apa Thia ?"
"Dua ekor bangkai ayam yang paling atas, diartikan adalah aku dan ibumu, Dan kau lihat, dibawahnya hanya terpantek seekor bangkai ayam, bukan ?"
"Benar Thia."
"ltu berarti dirimu,"
"Thia ?"
"Dan dibawahnya ada berapa bangkai ayam lagi ?" Tanya Bu In pula.
"Tiga bangkai ayam, dan dibawahnya tiga bangkai lagi Thia."
"Ya. ltulah diartikan enam orang pelayan kita. Tiga ekor bangkai ayam disebelah atas diartikan pelayan laki-laki kita dan tiga ekor dibawahnya adalah tiga orang pelayan wanita keluarga Yang, yang harus mati juga !"
Menggidik Yang Lan mendengar suara ayahnya yang dalam dan tegang, benar-benar luar biasa peristiwa yang terjadi hari ini. Alis sigadis mengkerut dalam-dalam. dengan ragu-ragu kemudian dia bertanya: "Lalu, yang tiga ekor lagi itu untuk siapa. Dua bangkai ayam, kemudian terakhir satu bangkai. Bukankah kita semuanya hanya berjumlah sembilan orang?"
Bu In menghela napas dalam-dalam, tampak jelas dia tengah bersusah hati. "Ya, di rumah mi memang kemarin berjumlah sembilan orang. Dia bermaksud membunuh kita sekeluarga, tanpa perduli semua pelayan pun harus mati. Tetapi, hari ini justeru jumlah dirumah kita ini sudah bertambah menjadi duabelas orang ! Bukankah Thiam Lu, Lam Sie dan Giok Han bertiga melengkapi jumlah bangkai-bangkai ayam itu menjadi dua belas ekor? Dua ekor bangkai yang dibawah dari barisan tiga adalah dimaksudkan Thiam Lu dan Lam sie Dan yang terakhir, bangkai ayam yang seekor itu adalah Giok Han ! Genaplah jumlah seluruh penghuni rumah ini, duabelas jiwa ! Dan semuanya harus mati !"
Habislah kesabaran Yang Lan.
"Thia, walaupun orang itu memiliki tiga pasang tangan dan tiga pasang kaki mustahil kita tidak bisa menghadapinya ? Terlebih pula sekarang ada Khang Suheng, tentu kita bisa menghadapinya dengan sebaik-baiknya ! Thia-thia jangan kuatir."
Bu In tersenyum, tapi senyumnya itu lebih mirip seperti meringis..
"Kalau ingin dinilai kepandaiannya, mungkin aku masih bisa menghadapinya, walaupun mungkin sekarang aku tidak bisa seperti dulu lagi, yaitu merobohkannya, tapi rasanya iapun sulit buat mencelakai aku. Tetapi, yang berbahaya sekali pada orang itu, justeru dia kini sudah mahir sekali mempelajari ilmu racun yang sangat ampuh... selama belasan tahun ia mati-matian mempelajari ilmu racannya, dan sekarang ia sudah berobah menjadi pembunuh nomor satu di dunia yang paling kejam dan bengis yang bisa membunuh tanpa mata berkedip. Setiap orang yang bertemu dengannya, kabarnya harus mati Tidak ada satu jiwapun yang lolos, besar kecil, tua muda, pria dan wanita semuanya harus mati ditangannya, oleh racunnya yang dahsyat...!"
Yang Lan jadi bingung dan gelisah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Thia ?", tanyanya gugup.
"Kau harus berusaha tetap menghadapinya dengan tenang. Bagaimanapun sulit buat mengelak lagi dari dia. Tetapi yang kukuatirkan adalah keselamatan Giok Han, anak itu yang belum mengerti apa-apa, dan iapun satu-satunya keturunan Jenderal Giok Hu, ternyata harus masuk dalam daftar kematian yang diberikan DIA. Juga aku ingin minta sesuatu kepadamu, Yang Lan. Kau harus melakukan perintahku ini baik-baik. janganlah buang-buang waktu, ajaklah ibumu untuk menyingkir dari rumah ini. Kukira aku sanggup untuk menghadapi DIA dan merintanginya setengah harian, sampai kalian bisa menyingkir lebih jauh. Semakin jauh kalian menyingkir dari sini semakin baik lagi."
Benar-benar membingungkan Yang Lan. Ayahnya bisa berputus asa seperti itu. Padahal dulu, ayahnya tidak pernah gentar menghadapi bahaya yang bagaimana besar sekalipun. Tetapi sekarang mengapa tampaknya semangat sang ayah itu runtuh dan dia berputus asa ?
"Thia, sebetulnya siapakah DIA itu ?!" tanya Yang Lan akhirnya.
"Belasan tahun yang lalu ia sudah merupakan iblis wanita yang paling kejam, aku sudah kerkali-kali bertanding dengannya, tetapi sejauh itu ia tidak berhasil merubuhkanku. Akhirnya dia menghilang. Selama dua belas tahun tidak terdengar lagi sepak terjangnya. Hanya pernah dikatakannya kepadaku, bahwa ia akan pergi mempelajari ilmu racun, dan kelak suatu saat ia akan mencariku, untuk buat perhitungan.
Bersambung ke jilid 4

This entry was posted on Selasa, Juli 27, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar