PANJI TENGKORAK DARAH
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net
Jilid 13. Antara Suami dan Isteri
„DENGAN beberapa patah kata, aku dapat menguasainya!“ seru Sin-bu Te-kun.
„Apakah Saudara Ki bergurau ketua Hek Gak menengas girang.
Wajah Sin-bu Te-kun mengerut serius. „Masakan saat seperti sekarang aku bergurau?“
„Kalau benar, aku taat dan ikhlas untuk menjadi orang bawahan Sin-bu-kiong!“
Sin-bu-Te-kun tertawa sinis. Tiba-tiba ia gunakan ilmu menyusup suara kepada Bok Sam-pi „Tahukah Bok Lo-cianpwe saat ini berada di tempat apa?“
Bok Sam-pi sebenarnya hendak melontarkan pukulan lagi, tiba-tiba tertegun mendengar kata-kata Sin-bu Te-kun. Sesaat kemudian ia menyahut dengan ilmu menyusup suara juga „Apa hubungannya dengan diriku?“
„Banyak sekali lo-cianpwe, „kata Sin-bu-te-kun perlukah kukatan!“
„katakanlah!“
„Pertama, dihadapan sekian banyak jago-jago dari seluruh penjuru, kemarahan Cianpwe untuk bertempur dengan anak muda, dapat menurunkan derajat lo-cianpwe. Kedua, pertempuran di gunung Thay-heng-san antara Locianpwe dengan budak liar itu belum banyak yang tahu. Kalau sekarang cianpwe hendak mengulangi lagi, apakah tidak berarti memberitahukan orang ? ketiga 10 hari lagi budak itu tentu datang ke Sin-bu-kiong, akan kuatur supaya cianpwe dapat menghajarnya dan kusiapkan segala sesuatu agar budak itu jangan sampai dapat lolos dan keempat .....“
Bok sam-pi yang semula terlongong-longong itu tertawa mengekeh serunya „Benar! Benar! Kuterima usulmu .......“ kemudian ia berpaling kepada Thian-leng „Budak, kuberimu hidup 10 hari lagi!“
Dan tanpa menghiraukan ucapan orang lagi, jago tua itu embalikakn tubuhnya terus melangkah pergi dengan kepala menengadah.
Thian-leng meringis. Sekalipun ia tak tahu apa yang dibicarakan antara Sin-bu-Te-kun dengan Bok Sam-pi tadi, tetapi ia menduga bahwa Bok Sam-pi tentu kena ditipu. Diam-diam ia kasihan dengan Cianpwe tua yang hilang ingatannya itu. Sayang ia belum dapat mempelajari ilmu pengobatan dari kitab It-bi Siangjin, sehingga tak dapat menolong jago tua itu.
Bo Sam-pi tak menghiraukan semua orang. Dia terus melangkah keluar. Ketua Hek Gak segera memberi isyarat kepada anak buahnya. Seluruh rombongan Hek Gak pun segera mengikuti Bok Sam-pi. Sin-bu Te-kun, Lam-yau, Pak-koay, Bu-ciu suseng dan rombongan Sin-bu-kiong pun segera angkat kaki.
Karena pemimpin mereka tak memberi komando, anak buah Tiam-jong-pay dan Thiat-hiat-bun pun tak berani mencegah mereka.
Saat itu fajar mulai menyisingsing. Hanya kurang lebih setengah jam lamanya, Sin-bu-Te-kun dan ketua Hek Gak datang dengan semangat bernyala tetapi pergi dengan nyali ciut. Sekalipun hadirin menyaksikan kejadian itu tetapi mereka tak berani bicara hanya dalam hati saja. Ada sebagian besar yang masih menganggap bahwa pihak Sin-bu-kiong adalah bintang penolong yang akan menyelamatkan dunia persilatan Tiong-goan dari kekejaman Hun-tiong Sin-mo dan Thiat-hiat-bun.
Kepergian jago-jago yang mereka harapkan kemenagannya itu, meninggalkan kegelisahan dikalangan hadirin. Lebih-lebih ketiga Cuncia dari Siau-lim-si dan rombongan ke-9 partai. Mereka kenal Thian-leng. Mereka merasa berbuat salah pada pemuda itu karena telah melemparnya ke sungai. Rasa ketakutan segera mencengkram mereka. Biasanya anak muda tentu berdarah pana, pasti akan mendendam. Apabila pemuda itu akan menuntut balas, ah .... ngeri mereka membayangkan!
Tetapi apa yang terjadi benar-benar diluar dugaan mereka. Thian-leng sama sekali tak menghiraukan rombongan ke -9 partai. Tampaknya pemuda itu sudah lupa apa yang telah terjadi di selat Sing-sim-kiap dahulu,. Dia hanya sibuk berbicara dengan ketua Thiat-hiat-bun saja.
Yang lucu adalah kedua tokoh Im-yang songsat. Mulanya kedua orang itu ikut Cu Siau-bun tetapi ketika Thian-leng muncul, mereka segera melarikan diri terbirit-birit.
Sejenak menyapu pandangan keseluruh tempat perjamuan, jenggot perak tertawa serunya nyaring. „Berhubung ada sedikit keributan, maka sampai mengganggu tempat perjamuan ini, kuharap saudara-saudara suka memaafkan!“
Pernyataan ketua Thiat-hiat-bun itu benar-benar melonggarkan perasaan sesak di dada para tamu yang datang. Mereka tersipu-sipu membalas hormat kepada tuan rumah, suasanapun menjadi agak reda.
„Li Cian-bun!“ Tiba-tiba jenggot perak berseru kepada Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay.
L Cu-liong buru-buru maju „Apakah pesan gihu?“ kata ketua Thiat-hiat-bun dengan nada keren „Tempat pesta telah berubah menjadi ajang pertarungan. Kegembiraan tamu kita jadi terganggu ... entah makan waktu berapa lama untuk membersihkan tempat dan kursi yang berantakan kesana kemari?“
„Setengah jam cukup!“ sahut Li Cu-liong.
„kalau begitu harap Li Cian-bun menyuruh orangmu mengatur lagi!“
Li Cu-liong mengiyaka.
Jenggot perak menatap Thian-leng dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Tiba-tiba ia membalikan badan berjalan menuju markas Tiam-jong-pay. Walaupun kebakaran cukup besar tetapi di dalam markas masih terdapat banyak ruangan yang masih ut.
Jenggot perak tak menuju ke ruangan besar tetapi kebelakang markas. Disitu terdapat sebuah hutan kecil, walaupun tak lebat namun cukup sepi. Ketika berada di tengah hutan. Ia berhenti, tanpa memalingkan tubuh ia sudah tahu bahwa Pok Thian-bing, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, Siau-bun, Bu-song serta si pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay mengikutinya.
„Thiat-beng ....!“ serunya tanpa berpaling kepala.
„Gakhu (ayah mertua), apakah selama ini kau baik-baik saja?“ Thiat-beng tertegun menghela napas.
„Ngaco, apakah aku tak sehat?“ lengking si jenggot perak.
Thiat-beng kemerah-merahan wajahnya.
Jenggot perak tertawa, „Anak tolol, mengapa seorang yang sudah berumur 40-an tahun masih seperti kanak-kanak. Apakah tak mau mengakui kesalahan dulu?“
Thait-beng segera mendekati rombongan yang berada disitu, sesaat mukanya memerah. Tetapi tanpa ragu-ragu segera ia menghampiri Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun.
„Giok-bun, dahulu .... akulah yang bersalah!“ serunya dengan pelan-pelan
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun merasa bergetar dan malu-malu, namun karena dihadapan ada anaknya dan orang-orang yang telah bersamanya tadi, ia akhirnya menguatkan hati.
„Tujuh belas tahun lamanya!“ tiba-tiba mulutnya meluncurkan kata-kata
„Ya, ya, tujuh belas tahun ....“Thiat-beng menyahut, keduanya tenggelam dalam kenangan masa itu. Salah faham pada saat itu, menimbulkan berbagai duka nestapa. Banyak sekali hal-hal yang telah terjadi selama itu. Setelah berpisah, kini mereka bertemu. Lama mereka terdiam larut dalam kenangan mereka di masa lalu.
Thiat-beng, menyeka dua butir air matanya yang mengalir disela matanya „Giok-bun, aku ..... berdosa padamu, aku ....“
„Ah, kau tak salah, semua itu, akulah yang paling bersalah ....“
„Tidak!“ Thiat-beng memotong „kumaksudkan ... sejak kutinggalkan kau ....“
„Teringat akan ibu dan anaknya?“
„Oh, kau sudah tahu?“
„Aku tak menyesalinya, „kata Giok-bun „Aku tahu waktu itu kau kesepian?“
„Bukan maksudku untuk menghianatimu, selama tujuh belasa tahun itu telah banyak mengalami perubahan namun hatiku tidak setitikpun berubah. Walaupun kepergianku membawa semua kemarahan, kegalauan dan bermaksud untuk mengasingkan diri karena kekecewan hati ditambah aku beristeri lagi. Tak pernah aku melupakan dirimu. Sebenarnya kau berniat pulang, namun aku merasa takut kalau kau membenciku, maka .....
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tundukkan kepala penuh haru dan katanya „Akupun begitu juga, tetapi tak sekeras hatimu. Andaikata kutahu tempat tinggalmu tentu akan segera kususl!“
Thiat-beng menatap isterinya dengan penuh kasi „Giok-bun, maafkanlah aku, marilah kita susun kembali tali kasih kita dan mambangun kembali mahligai rumah tangga kita yang telah berantakan. Marilah kita ...“ Tiba-tiba terdengah isak tangis tersedu-sedan. Ah, kiranya Pok Lian-ci yang menggelandot di sebatang pohon.
Thiat-beng pun menghampiri „Ang-ko“ tetapi dara itu tak menghiraukan dan terus menangis. Pada saat itu Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun turut menghampirisambil tersenyum iapun berkata dangan ramah „Nak, apakah kau tak suka mempunyai ibu seprti aku?“
Tiba-tiba Pok Lian-ci mengangkat kepala dan tangan berserabutan menolak „Tidak, aku tak bermaksud begitu“
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun melangkah selangkah lagi kemudian memeluk Ang-ko „Nak, mengapa kau menangis?“
„seharusnya dahulu ayah tak membohongi aku! Kuteringat akan mendiang ibuku!“
Hati Pok Thiat-beng seperti disayat. Dua butir air mata mengalir dipelupuknya. Sampai lama mereka tak dapat berkata-kata apapun.
Tiba-tiba Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun memcah kesunyian „Siau-bun, mari kita pergi!“
„Pergi? Me...ngapa?“ Siau-bun tergagap.
Thait-beng terbelalak ketika ia mendengar bahwa puteri yang cantik dihadapannya adalah puterinya sendiri.
„Kau Siau-bun?“ serunya gugup
Tiba-tiba Siau-bun melengking serta merta menagis „Ayah, kau kejam ... dan menyiksa mama...“
Thiat-beng gelagapan, dan berpaling kepada Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun „Adakah karena Lian-ci, kau lantas mau pergi?“
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun gelengkan kepala „Sebagian memang begitu dan masih ada lagi yang mengganjal memaksaku harus pergi!“
„Beritahukanalah?“
„Tahukah kau bahwa kau adalah ahli waris dari Hun-tiong Sin-mo?“
„Ku .... tahu!“
„Tahukah kau mengapa aku memakai she CU?“
„Ini .... „Thiant-beng terkesiap sesaat, „aku tak tahu!“
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menghela napas, ujarnya „Kalau diceritakan panjang sekali. Saat ini hanya dapat kututurkan secara singkat. Jika dahulu tak berjumpa dengan seorang penolong ber she CU, mungkin kami ibu dan anak tentu sudah mati!
„Eh, mengapa kau tak memberitahukan hal itu kepadaku? Apakah kau mendapat ayah angkat?“ tiba-tiba jenggot perak menyelutuk.
„Hubungannya tidak samapai disitu saja!“ sahut Cu Giok-bun dengan tegas.
„lalu ....“
„Yah, kau hatus memafkan orang tua she Cu itu. Ia telah melepas budi sebesar lautan kepadaku. Dia tak ubah seperti ayah kandungku sendiri. Kalau tak ada dia, mungkin aku sudah mati dan tak akan mendapat suhu serta ahli waris dari Hun-tiong-hu.“
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula „karena itu maka aku telah mengucapkan sumpah dihadapannya, untuk merawatnya sampai mati dan megganti she dengan she Cu, menganggapnya sebagai ayah kandung sendiri.“
„Hai, bukankah dia tabib Sakti Cu Thian-hoan?“ celutuk jenggot perak.
Cu Giok-bun kerutkan alis „Benar, memang dia.
„Dia .. adalah sahabatku juga! Sekarang .. apakah dia sehat-sehat saja?“
Cu Giok-bun tertawa rawan, seorang yang banyak menolong jiwa manusia dan selalu berbuat kebajikan, pada hari tuanya malah menderita sakait“
„Eh, apakah sakitnya>’
„Entahlah, aku tidak tahu. Hanya kaki tangannya terasa lentuk tak bertenaga sama sekali. Bangun dan bergerak harus dibantu orang!“
„Dimana dia sekarang?“
„Di Hun-tiong-hu!“
Jenggot perak mengurut-urut jenggotnya, tertawa „Nak, meskipun kau berganti she CU, aku tak menyalahkanmu. Membalas budi adalah perbuatan yang mulia. Apalagi Cu Thian-hoan itu juga sahabatku sendiri.“
„setelah urusan ini selesai, mungkin aku hendak menjenguk ke Hun-tiong-san menyambangi si tua itu“ lanjutnyalagi.
„Kalau begitu, maaf aku hendak pulang dulu!“ kata Cu Giok-bun.
„Pulang ke Hung-tiong-san?“
„Ya, aku harus lekas-lekas menjenguk ayahku, „sahut Cu Giok-bun, kemudian ia memandang Thiat-beng, ujarnya „Tetapi nanti 10 hari lagi, aku hendak ke Sin-bu-kiong mencari budak hina Ma Hong-ing agar apa yang terjadi dahulu menjadi jelas semua!“
Thiat-beng hendak membuka mulut tetapi sukar untuk bicara.
„Siau-bun, apakah kau tak ikut mama?’ lalu dipandangnya Thian-leng dengan tatapan tajam. Thian-leng tersipu-sipu tundukan kepala. Banyak nian yang berkecamuk dalam hatinya sehingga sesaat tak dapat berkata-kata apa-apa.
Walaupun mulutnya mengiakan tetapi berat sekali kaki Siau-bun bergerak. Juga wajah jenggot perak tegang. Cu Giok-bun telah menceritakan kepadanya tentang hubungan Siau-bun dengan Thian-leng dan janji hidup mereka. Bahkan hubungan lebih lanjut, siau-bun sudah tak mau pergi.
Hanya Bu-song yang merasa agak tenang, ia yakin dan tak kuatir Thian-leng akan meninggalkannya karena Thian-leng dengan dirinya telah mengikat pertunagan dengannya. Biar Siau-bun berusaha setengah mati untuk merebut, tentu tak mungkin dapat merubah iakatan itu. Sayang, ia tak tahu apa yang terjadi antara Siau-bun dan tunanganya itu. Begitu pula hubungan Thian-leng dengan kedua taci beradik Ki, Bu-song sama sekali tidak tahu.
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tak sabar lagi. Memang sebenarnya ia tak bermaksud sungguh-sungguh mengajak putrinya pergi. Tetapi itu hanya siasat saja agar Thian-leng bereaksi. Tak disangka, diluar dugaan Thian-leng tak bereaksi apapun dan Siau-bun pun enggan pergi. Sesuatu yang membuat Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun risih.
„Siau-bun, karena kau tak suka ikut, terpaksa aku akan pergi sendiri!“ serunya sesaat kemudian.
Siau-bun tergopoh-gopoh menyusul, serunya dengan rawan „Ma, silakan berjalan dulu“ aku tentu akan menyusul!“
„Sesukamulah „kata Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun seraya melesat pergi.
Thiat-beng hendak mencegah, tetapi mulutnya serasa berat. Suasana hening seketika. Hanya angin pagi yang berhembus terasa menusuk dikulit.
Lian-ci sudah berhenti menagis. Kedua kelopak matanya bengkak. Kesunyian itu dikejutkan kedatangan sesosok bayangan, ternyata bayangan itu Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay yang melapor kepada jenggot perak bahwa perjamuan telah selesai dibereskan lagi.
„Apakah hidangan sudah disajikan“ tanya jenggot perak.
„Suadah!“
„Bagaimana sikap para tamu kita?“
„Ini ...“
„bagaimana“ tegur Jenggot perak
„tampaknya mereka diliputi kecemasan
Apapun yang Gihu rencanakan rupanya mereka hanya menurut saja, „jawab Li Cu-liong.
Jenggot perak melirik Bu-song. Thiat-beng dan lainnya. Ia paksakan tertawa „sebagai tuan rumah sudah tentu aku tak mau mengecewakan mereka“.
Thiat-beng mempersilakan ayah mertuanya. Walaupun memikirkan puterinya dan anak menatunya, namun jenggot perak terpaksa juga menjamu para tamunya.
Sepeninggal jenggot perak membuat tempat itu menjadi sepi. Siau-bun perlahan-lahan menghampiri Thian-leng, serunya lirih „Ling-koko!“
Baru pertama kali ia memanggil Thian-leng seperti itu. Suaranya bergetar. Wajah Thian-leng agak berubah. Ia menyurut mundur dua langkah. Mulutnya bergerak-gerak tetapi tak dapat mengucapkan kata-kata.
Pok thiat-beng pun kerutkan dahi, serunya „Siau-bun!“
Tahu Pok Thiat-beng itu ayahnya, tetapi karena sejak kecil tak pernah berkumpul jadi perasaan, Siau-bun biasa saja seperti ayahnya adalah orang asing.
„Ayah hendak berkata apa?“ serunya hambar
Thiat-beng sedikit banyak dapat mengetahui hubungan kedua anak muda itu, serunya dengan tegang „Thian-leng sekarang menjadi putera angkatku. Kalian harus memanggil kakak-adik!“
„memanggil kakak dan adik?
**********
Dendam dan Kasih
„berbahasa engkoh dan adik?“ tiba-tiba Siau-bun tertawa ricuh.
„Sudah selayaknya!“ sahut Thiat-beng.
Siau-bun tertawa manja „Yah, tahukah kau siapa diantara kami berdua lebih tua, bagaimana aku harus memanggilnya?“
Thiat-beng tertegun, ia ternyata puterinya orang yang lincah dan pandai bicara.
„Sudah tentu ayahmu tahu, panggillah ia engkoh!“
Tetapi siau-bun seorang gadis yang berhati keras, untuk menumpahkan kemengkalan, ia berseru dengan nada sinis „O, engkoj leng, kuhaturkan selamat padamu“.
„Adik ... Adik ....“Thian leng tergagap-gagap.
„Apa yang hendak kau katakan? Sia-bun tertawa dingin.
Merah seketika telingga Thian-leng „Mana aku berani memberi perintah padamu, hanya .... ada sesuatu yang akan kuberitahukan padamu!“
„Katakan saja!“
Baru Thian-leng hendak berkata, Bu-song sudah mendahului „Piauci, bolehkah aku bicara beberapa patah padamu?“
Siau-bun meliriknya „Tentu, apa halangan bicara sepatah-dua patah kata saja?“
Bu-song muramkan wajah „Apakah kau tahu dia berhubungan dengan aku?“
Siau-bun tertawa dingin „Mengapa tidak? Kakek telah menidodohkannya dengan kau, bukan?“
Wajah Bu-song merah „Kalau sudah tahu ya sudah. Tetapi mengapa kau terus mengodanya?
Seketika merahlah wajah Sia-bun, lengkingnya „Ngaco! Jika tak memandang muka kakek, tentu sudah kutampar mulutmu!“
Dan bertengkarlah kedua dara itu mereka sama-sama ngotot, tiada orangpun yang tahu apa persoalannya.
„Berhenti!“ tiba-tiba Thiat-beng membentak Bu-song yang hendak bicara. Nadanya menggeledek penuh wibawa. Kedua dara itupun bungkam. Mereka saling berpandangan dengan mata melotot.
Thiat-beng kerutkan dahi. Ditatapnya Siau-bun dengan tajam, „Apa katamu tadi ?“
Siau-bun tertegun. Sahutnya terbata-bata „Mengapa ayah tak langsung menanyainya?“ katanya seraya melirik pada Bu-song.
Bu-song merah pipinya dan menunduk.
Setelah memandang pada Thian-leng, Pok Thiat-beng pun menghamapiri Bu-song, serunya dengan tertawa „Bilanglah, putera-puteri persilatan pantang bersikap malu!“
Bu-song tenangkan hatinya lalu mengangkat muk. „Tak lama ini atas kehendak kakek, aku telah dijodohkan padanya!“
„Benarkah itu?“ Thiat-beng terkejut
„Silakan paman bertanya pada kaek!“
Thiat-beng menyurut mundur, keningnya agak mengerut dan mulutnya berkemak-kemik „Celaka! Celaka! Ini ....“ ia berpaling kepada Thian-leng serunya „Benarkah itu?“
„Thiat-beng banting-banting kaki „Mengapa tak kau katakan dari dulu?“
„Semula memang anak hendak menceritakan kepada gihu. Tetapi karena gihu melarang aku banyak bicara, jadi sampai sekarang belum ...“
Memang Thian-leng teringat hal itu dan bahkan pernah memaksa pemuda itu menikah dengan Ki Seng-wan.
„Ah, aku salah, akulah yang mencelakai kalian .... „Akhirnya ia menghela napas.
„Paman, apa kesalahanmu? Ini, apa artinya? Seru Bu-song dengan heran.
„Tahukah kau bahwa Thian-leng sudah menjadi suami orang?“ seru Thiat-beng.
Bu-song mendesak kaget „Apa?“
„Thian-leng sudah mempunyai Isteri!“
„Benarkah ...?“ Bu-song melengking kaget, seperti mendengar halilintar disiang bolong. Tubuhnya gemetar hampir tak kuat berdiri lagi. Ia tekan keras supaya darahnya jangan meluap-luap keluar dari mulut.
Juga Siau-bun gemetar. Wajahnya pucat seperti kertas. Hatinya terguncang tak kalah dengan Bu-song.
Sudah tentu sungguh!“ jawab Thiat-beng.
Bu-song segera alihkan matanya menatap Thian-leng, serunya kalap „Kau .... terlalu....“ dia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena tersekat oleh tangis.
„Tak dapat menyalahkannya, akulah yang bersalah!“ Thiat-beng menghela napas.
Bu-song mengusap air mtanya, ujarnya „Kalau begitu perkawinannya itu atas kehendak paman?“
„ben..... nar ....“
„Siapa isterinya?“
„Ki Seng-wan!
„Ki Seng-wan? .... eh, puteri kedua dari Sin-bu-kiong?“
„Ya, tetapi mereka berdua itu baik-baik, dan pula ....“
„Paman, aku benci pada paman“ tiba-tiba Bu-song menjerit.
Thiat-beng kerutkan dahi tak bicara. Dia tak tahu peristiwa Thian-leng dengan Bu-song. Jika tahu tentu takan dipaksanya Thian-leng menikah dengan Ki Seng-wan. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, Bu-song jadi membenciny, Thiat-beng tak dapat berbuat apa-apa.
Sebenarnya Bu-song hendak menghambur kemarahannya tetapi ketika melihat Thiat-beng terbengong-bengong diam, kemarahannya pun mereda. Tiba-tiba ia membalikkan diri dan melesat pergi..“
„Bu-song, kembalilah!“ Thiat-beng berseru kaget.
Tetapi dara itu tak mau memperdulikan, bahkan berteriak „Aku takkan kembali selama-lamanya bahkan takkan menemui kalian lagi!“
Sembari berlari dara itu sudah menyelinap jauh. Thiat-beng termangu-mangu tak dapat berbuat apa-apa. Mau mengejar tak enak, tidak mengejarpun tak enak. Bagaimana ia harus bertanggung jawab kepada Jenggot perak apabila dara itu mengalami musibah.“
„Adik Song, tunggulah!!“ tiba-tiba Siau-bun berteriak. Bu-song yang sudah jauh terpaksa berhenti. Dan Berpaling ia tertawa sinis, „perlu apa kau menyusulku ku? Apakah kau hendak menuduh aku melarikannya?“
Sebentar saja Siau-bun telah tiba dihadapan Bu-song „Adik Song, sekarang kita harus bersatu padau!“
„Apa gunanya?“ toh dia sudah menikah dengan orang lain!“
Siau-bun tertawa getir „Lalu bagaimana kalau menurut pendapatmu?“
„Kita aduk sampai kacau balau baru kemudian mencukur rambuk masuk jadi rahib!“
„Apakah cara itu tepat?“ Siau-bun tertawa tawar
„Lalu bagaimana pendapatmu?“
„Kalau tak dapat memperolehnya, jangan sampai orang lain bida mendapatkannya!“ sahut Siau-bun
„Tetapi orang sudah mendapatkannya, nasi sudah menjadi bubur, apa daya kita?“
„Hancurkan mereka!“ Siau-bun menjerit sengit
„Hancurkan .....“ Bu-song kerutkan dahi, lalu berseru „Bags, pikiranmu tepat!“
Siau-bun berseru gembira „Suami iateri yang berantakan jauh lebih menderita dari kekasih yang patah hati!“
Tiba-tiba Bu-song kerutkan kening „Rencana sih bagus bagaimana pelaksanaannya?“
„Eh, kau biasanya cerdik mengapa sekarang tak dapat memikirkan hal itu?“ Siau-bun tertawa.
Bu-song tersipu malu „Kalau kau hanya mengolok-olokku, lebih baik jangan menghabiskan waktuku!“
Siau-bun tersenyum lalu membisiki Bu-song, wajah Bu-song segera girang „Benar, siasatmu itu memang tepat. Kita memang bukan orang baik-baik. Jika tak suruh mereka merasakan pil pahit tentulah hati kita tak akan tentram. Demikianlah apabila hati sudah tercemar oleh nafsu dan dendampun membara bagai api dalam sekam. Kedua dara itu segera beranjak dari situ dan beberapa kali loncatan keduanya telah lenyap.
„Thian-leng, lekas kejar!“ serunya gelaagapan.
„Gihu ...“ baru Thian-leng hendak berkata. Thiat-beng sudah membentak „Lekas kejar!“
Thian-leng segera suruh kedua suami isteri Im yang songsat agar menunggu disitu dan iapun terus loncat menyusul.
**********
Menjerat Kerbau
Bu-song dan Siau-bun tahu Thian-leng bakal mengejar mereka berdua, namun mereka ternyata hanya pura-pura tak menghiraukan dan lari sekencang-kencangnya.
„Hei, kalian berhenti dulu „Teriak Thian-leng.
„Piauci, rencana berhasil manusia Lupa budi itu mengejar!“ Bu-song berseru kepada Siau-bun dengan ilmu menyusup suara.
Siau-bun punya menyahut dengan ilmu yang sama“ Asal rencana pertama berhasil, kemungkinan besar kita tentu berhasil!“
Kedua gadis itu mempercepat larinya. Sebenarnya Thian-leng dapat menyusul tetapi ia tahu watak kedua gadis yang keras kepala itu. Maka sengaja ia memperlambat larinya, agar kedua gadis itu tidak merasa direndahkan. Dalam skejap saja mereka telah berlarian sejauh 3 – 4 li jauhnya. Kedua gadis itu lari sekuat-kuatnya tanpa menghiraukan teriakan Thian-leng lagi.
„Akhirnya Thian-leng tak tahan lagi. Sekali empos semngat, ia melesat mendahului kedua gadis itu dan menghadang mereka „Harap kalian suka memandang mukaku“
„Orang She Pok, hendak apa kau!“ tukas Siau-bun.
„Kau hendank merintangai kami?“ lengking Bu-song.
Thian-leng tertawa hambar „Aku mempunyai kesukaran yang sulit untuk diceritakan, harap nona berdua suka memafkan ... sejak saat ini aku berjanji hendak meperlakaukan kalian berdua sebagai adik kandung. Untung .... „jangan Banyak bicara, lekas menyingkir!“ bentak Bu-song.
Siau-bun ikut menyelutuk „Menempuh beribu kesullitan sayang hanya bersua dengn orang yang tak bertanggung jawab. Adik song, mari kita ambil jalan lain saja!“
„Ya, ya mari kita belok jalan ini !“ sahut Bu-song seraya melesat kejurusan lain. Thian-leng cepat ayunkan diri menghadang mereka lagi „harap nona berdua berpikir masak-masak jangan hanya menuruti hawa nafsu“
Tetapi kedua nona itu tidak menghiraukannya dan tetap berjalan maju. Thian-leng terpaksa melintangkan kedua tangananya „Andaikata aku bersalah, harap nona suka ...“ „Eh, apakah kau hendak berkelahi?“ Teriak Siau-bun.
„Tidak!“ buru-buru Thian-leng menyahut.
„Kalau tidak mengapa kau gerakkan kaki dan tanganmu?“ teriak Bu-song.
Thian-leng tertawa meringis „Eh, mengapa kalian begitu pemarah?“
Kedua gadis itu tertawa dingin dan tetap melesat dari samping Thian-leng. Karena gugup, Thian-leng lintangkan lagi tangannya.
„Pui, laki dan perempuan tak boleh bersentuhan. Mengapa kau begitu tak tahu aturan?“ bentak Siau-bun. Tiba-tiba ia yaunkan tangannya.
Plak .... karena tak menduga, pipi Thian-leng kena tampar. Tampak ada gambar lima jari di pipinya. Dan diujung mulutnya mengalir darah.
Bu-song tertegun. Ia tak mengira kalau Siau-bun bertidandak sedemikian rupa. Tetapi melihat keadan Thian-leng yang meringis-ringsi, ia tertawa geli.
Thian-leng malu dan menyesal tetapi ia tak berani berkata apa-apa. Dilepasnya kedua gadis itu dengan penuh kebingungan. Beberapa saat kemudian, barulah ia melangkah mengikuti dari belakang.
Ia tahu bahwa kedua nona itu tentu mendendam sekali padanya. Mereka rela berkorban segalanya. Maka dapat dimengerti bagaimana kecewanya hati mereka ketika mendengar ia sudah menikah dengan orang lain. Melihat watak mereka, bukan mustahil mereka akan bertindak sesuatu yang tak diharapkan. Dan andaikata terjadi sesuatu pada mereka, bukan saja ia harus mempertanggungjawabkan dihadapan Jenggot perak dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, ia sendiri akan tersiksa seumur hidup.
Kalau yang mengikuti dicengkeram kecemasan. Lain halnya yang dikuti malah riang gembira berjalan perlahan-lahan sambil bercakap-cakap. Bagaikan tingkah pemburu, mereka mengambil jalan di lereng gunung curam.
Thian-leng benar-benar tersiksa perasannya tetapi tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengikuti saja kurang lebih 20-an tombak dibelakang mereka. Ketika matahari tenggelam barulah kedua nona itu berhenti disebuah kuil kecil.
„Taci, hari sudah malam, kita bermalam di kuil ini saja !“ kat Bu-song.
Siau-bun mengangguk „Baik, seharian suntuk perut kita tak diisi. Mari kita buat sate kelinci yang kutangkap di hutan tadi, „ Sahut Siau-bun.
Sambil bercakap-cakap diseling tertawa-tawa, kedua nona itu membuat api dan membakar kelinci. Tampaknya mereka riang gembira. Thian-leng yang bersembunyi di luar kuil, hanya mengigit jari saja. Bau sate kelinci yang dibawa oleh angin malam, benar-benar menglitik perutnya. Air liurnya beberapakali terpaksa ditelannya.
Tetapi karena sikap kedua nona yang begitu dingin, ia tak berani menghampiri kuil. Terpaksa ia mengawasi mereka dari luar.
Menjelang tengah malam, tak terdengar lagi percakapan kedua nona. Rupanya mereka tidur nyenyak di dekat api unggun. Sebaliknya Thian-leng tak berani memejamkan mata karena kuatir kedua nona itu lenyap.
Tiba-tiba dari dalam kuil terdengar suara ahelaan naps Bu-song. Benar-benar ia tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia memberanikan diri menghampiri kedalam kuil. Melangkah kedalam ruangan kuil, barulah hatinya lega. Kedua nona itu tidur disamping api unggun.
„Adik Bun .... Song, „Thian-leng membangunkan dengan perlahan-lahan.
Siau-bun menggeliat bangun „Eh, Orang she Pok, mengapa kau kemari lagi?“
„Apakah adik Song Sakit?“ sahut Thian-leng.
Tiba-tiba dara itu mencelat bangun „Aku sakit tau tidak, apa pedulimu“ ia tengkurap lagi.
Thian-leng terkesiap, serunya „Adik berdua ... mengapa kalian ini?’
Siau-bun tertawa tawar „Apakah kau benar-benar menaruh perhatian kepada kami?“
„Biarlah langit dan bumi menjadi saksi isi hatiku. Mengapa kaak dapat memaafkan aku?“
„Lalu mengapa kau....?“
Thian-leng menghela napas „Mengapa bisa terjadi hal itu, ah ....
Thian-leng masih menanyakan keadaan Bu-son.
„Jangan kuatir, dia hanya masuk angin karena mendongkol, „Jawab Siau-bun. Ia memberi minum dara itu sebutir pil.
Tak berapa lama dara itupun sudah dapat bangun. Tetapi ketika melihat Thian-leng ia segera melengos.
Sampai sekian lama Thian-leng terlongong-longong, baru ia dapat berkata „Apakah kalian masih marah kepadaku?“
„Seumur hidup membencimu, takkan kulupakan selam-lamanya!“ teriak Bu-song marah.
„Sekarang jangan ikut campur urusan kami lagi!“ celutuk Siau-bun.
Thian-leng menghela napas „Jika kalian tak mau pulang, akupun takut menemui Lu dan Cu Cianpwe dan ikut kalian terus!“
Siau-bun tertawa mengikik, „Percuma kau ikut, toh takan kupedulikan...“
„Apakah kalian benar-benar membenci aku sedemikian rupa?“ Thian-leng tertawa getir.
„Coba katakan apa maksudmu mengintai aku?“ Siau-bun tertawa dingin.
„Untu minta kalian pulang!“
„Boleh tetapi paling tidak harus memenuhi sebuah syarat!“ kata Siau-bun.
„Jangankan hanya sebuah 7-8 bahkan 10 syarat pun aku sanggup memenuhi!“ sahut Thian-leng serempak.
Siau-bun tertawa „Ah, sebenarnya bukan syarat yang sulit. Hanya asal kau mengatakan dengan sejujurnya!“
„Ah, aku tak pernah bohong. Silakan adik bun bertanya?“
Siau-bun melirik kepada Bu-song, ujarnya „Apakah pernikahanmu dengan Ki Seng-wan itu keluar dari hati yang tulus?’
„Bukan, karena didesak oleh ayahmu!“ sahut Thian-leng tegas.
„kau cinta padanya?“
„Ini .... dia pernah menolong jiwaku dengan ilmu Hian-im-kiu-coan dan karena itu ia telah kehilangan kehormatannya, maka ...“
„Dimana ia sekarang?“
„Di rumah ayahmu di Gunung Thay-heng-san!“
„Siau-bun tertawa datar dan berpaling kepada Bu-song „Adik, pertanyaanku sudah selesai.“
Bu-song mendengus serunya „Eh, sampai berapa jauh kau pelajari ilmu dari Kitab It-bi Siangjin itu?“
„Ah, belum seberapa,“ sahut Thian-leng
„Apakah ada ilmu mengobati binatang beracun jenis Tok-jong!“
„Ada, tetapi aku belum sempat mempelajarinya“
„Hm, pertanyaanku selesai .... tu ada sisa sate kelinci, silakan dimakan!“
„Aku tak lapar!“
„Kau takut sate itu beracun?“ Bu-song delikan mata.
„Ah, adik Song keliwat menghina?“ Kata Thian-leng terus menyambar paha kelinci dan dimakannya.
Tetapi begitu daging kelinci masuk dalam perut, perutnya seperti diudek. Serangkum hawa muak menghambur keatas. Kepalanya serasa pusing dan bluk ..... jatuhlah ia dan tak sadarkan diri.
„Hola, Taci, rencana kedua, berhasil!“ Bu-songpun tertawa mengikik.
„Jangan lagi kedua, sampai habispun tentu berhasil!“ sahut Siau-bun, Mana ayam alasnya?“
Bu-song mengambil seeokor ayam hutan dari meja. Kaki ayam itu diikat kencang. Siau-bun menyambut dengan gembira. Dirobeknya baju Thian-leng sedikit dibagian dada.
„Rencana ketiga mungkin berhasil!“ tiba-tiba
„Apa sebabbnya?“ Siau-bun heran.
„Jika aku, tentu tak mau kemari!“
Siau-bun tertawa „sayang wanita itu tak secerdas kau. Jika ia datang. Aku berani memberikan batang kepalaku kepadamu!“
„Apa yang hendak kau tulis?“
„Sederhana saja, lihatlah!“ Siau-bun segera menusuk ayam hutan dan memote kepalanya. Kemudian ia gunakan darah ayam itu untuk menulis dibaju Thian-leng :
Kepada Isteriku Seng-wan
Aku kena racun, jiwaku tak dapat tertolong.
Entah siang entah malam tentu mati.
Harap lekas datang ke puncak Ceng-liong-ma
Gunung Tiam-jong-san di kuil gunung.
Thian-leng
Dibelakanh baju itu ditulis pula kata-kata „penting“
„Wanita hina itu jika menerima surat ini tentu segera datang dan tentu menangis sedih, „ kata Siau-bun.
„Ya,ya, kita lihat pertunjukkan itu disini. Kemudian kita cari akal lagi untuk menyiksanya lebih lanjut. Ah, Taci cerdik.... eh, tetapi bagaimana mengirimkan surat ini?“
„Dia sekarang adalah ketua Kay-pang. Anak buah Partai Kay-pang banyak sekali. Asal kita mencari seorang anakbuahnya, surat berdarah ini tentu segera disampaikan pada penerimanya....“
„Thy-heng-san jauh sekali. Taruh kata wanita itu segera berangkat paling tidak juga memakan waktu seminggu. Dalam jangka waktu sekian lama apakah takkan terjadi sesuatu?“ Bu-song merasa kuatir.
„setelah menerima surat ini, dia tentu segera berangkat dan menempuh perjalanan siang dan malam. Mungkin dalam waktu 3-4 hari tentu tiba di gunung Thay-heng-san. Terjadinya perubahan, memang sukar diduga. Tetapi paling tidak pemuda ini tetap berada dalam tangan kita!“
„benar, benar, Bu-song tertawa tetapi sampai berapa lama kekuatan obat tidur itu?“
„Jika orang biasa tentu tertidur selama 10 jam. Tetapi karena dia yang makan, mungkin hanya atahan dua jam saja“
Bu-song tertawa. Tiba-tiba ia mainkan jarinya menotok seluruh tubuh Thian-leng, Nah, begini dia tentu tak berdaya lagi. Biarlah dia bangun tak jadi soal!“
„Mengapa?“
„Seluruh jalan darah di tubuhnya telah ku totok, hanya kutinggalkan jalan darah pembisu. Nanti kalau bangun, dia hanya dapat mendengar dan bicara tetapi tak dapat bergerak ...
„Mungkin tak semudah itu....“Diluar dugaan Siau-bun membantah.
„Eh, mengapa?“ Bu-song terkejut, „apakah ada orang yang hendak melindunginya?“
„Bukan begitu maksudku, Siaubun tertawa“ Kukuatir ilmu totokanmu tak mempan kepadanya!“
Bu-song terkejut : „Ya, Ya, benar. Dia sudah mendapatkan pelajaran sakti dari It-bi Siangjin. Mungkin tentu dapat mengatasi totokanku dengan mudah.“
Kedua nona itu bingung.
„Jika tak dapat melumpuhkan kepandaiannya atau memotong kedua kakinya, rasanya sukar untuk menguasai pemuda ini, „ akhirnya Bu-song berkata.
„Ah, tidak perlu begitu, „Siau-bun menghibur, meskipun kepandaiannya telah sempurna sehingga ia kebal di tootok jalan darahnya, tetapi dia tentu tak berdaya pabila diikat dengan semacam tali istimewa. Misalnya tali dari urat ular atau ulat sutera dan sebagainya.
„Tetapi benda itu sukar di dapat. Dan saat ini kita berada di tengah gunung yang terpencil. Kemana hendak kita cari?“ bantah Bu-song.
„Kalau kau dapat menyulap?“
„Menyulap?“ Bu-song terkejut heran... „Apakah kau sudah membawanya?“
Dari bajunya Siau-bun mengeluarkan dua kerat otot ular besar, serunya „Telah lama kusimpang benda ini. Bukan karena khusus untuk menangkap pemuda ini tetapi memang menjadi alat-alat yang kubekal. Ah, tk kira hari ini ada gunanya!“
„Memang banyak hal-hal yang tadk terduka. Ayo, kita ikat saja dia!“ seru Bu-song.
Dara itu segera menyambar tali dari Siau-bun terus diikatnya tubuh Thian-leng sekencang-kencangnya.
„Sekarang kita harus cari anggota Kay-pang untuk mengirimkan surat ini kepada perempuan hina itu ...“Kata Siau-bun.
„Aku yang menunggu disini, silakan taci yang mencari!“ kata Bu-song.
Setelah menyimpan robekan baju yang bertuliskan darah. Siau-bun segera pergi. Ia tak faham jalan digunung situ apalagi di tengah malam. Hampir sejam lamanya baru ia dapat mencapai kaki gunung dan berhasil menemukan seorang anak buah Kay-pang.
Demi mendengar ketuanya sakit, pengemis itu pucat. Segera ia menyerahkan surat darah itu kepada kepalanya. Siau-bunpun tergesa-gesa bergegas kembali ke gunung. Tiba di kuil, hari sudah hampir terang tanah. Thian-leng pun sudah terjaga tetapi matanya tetap meram dan terdiam. Kedua belah pipinya terdapat jalur-jalur bekas merah biru, mulutnyapun berdarah. Bekas itu adalah hasil tamparan dari Bu-song.
Siau-bun kerutkan dahi, „Perempuan hina itu tentu beberapa ari baru dapat tiba disini. Tak perlu buru-buru menyiksanya. Jika dia sampai mati, urusan malah menjadi ....“
„Dia pernah berjanji mengikat jodoh dengan aku. Sedang aku tak merasa kasihan sedikitpun kepadanya mengapa kau berbalik hendak membelanya?“ Bu-song melengking.
Siau-bun tertawa dingin, „Banyak sekala hal-hal di dunia diluar dugaan manusia. Memang hati manusia sukar diduga. Dia sudah berjanji menikah dengan kau mengapa bisa jatuh dipelukan oran lain. Sejak ini mungkin ......
Dada Bu-song berdegup kencang, „Tunggu kalau perempuan hina itu sudah datang, dihadapannya nanti tentu kubunuh lalu kucincang perempuan hina itu, barulah hatiku puas!.
Begitulah hati manusia pabila diselimuti rasa dendam, kecewa sehingga tidak lagi berpikir panjang, dengan pikiran sempit itu dia gunakan untuk melampiaskan nafsunya. Nafsu yang berlebihan akan menimbulkan sengsara dan selanjutnya dihadapan orang dia buka lagi manusia, tetapi manusia yang dikuasai nafsu.
Apa katamu?“ sekonyong-konyong Thian-leng membuka mata dan berteriak.
Bu-song terkesiap. Katanya pada saat ini aku tak mau bicara padamu, mengapa kau bertanya?“
„Jika kalian benci padaku, bunuhlah segera tetapi jangan memaki aku sebagai orang yang yak kenal budi, sahut Thian-leng. Kemudian lantas ia berkata lagi ketahuilai .... ia berhenti sejenak, „Walaupun jagad raya tak terbatas luasnya tetapi kekuasan Allah tiada barasnya. Jangan nona berdua lekas berputus asa!“
„Apakah kau hendak menasehati kami?“ bentak Bu-song dengan marah. Plak .... ia memberi sebuah tamparan lagi.
Pipi Thian-leng makin begap. Pemuda itu tak dapat menahan kemarahannya lagi, „Akulah yang buta sehingga tak dapat mengetahui bahwa kalian ternyata beini buas!“
„Hm, kau toh sudah mendapat ilmu sakti dari It-bi Siangjin, mengapa tak mampu melepaskan diri dari tali itu saja?“ ayo, mari kita bertempur!“
Thian-leng benar-benar marah sekali. Ia mulai meronta-ronta, mengerahkan tenaganya.
„Hi, Hi, hiiiiiiiihi ..hi „Siau-bun tertawa, „tali itu walaupun tampaknya kecil tetapi tak mudah putus. Asal kau mampu memutuskannya, tak perlu bertempur lagi aku dan adik song segera akan bunuh diri!“
Thian-leng hentikan usahanya. Memang tak perlu dinasehati, ia sudah mencoba kekuatan tali itu. Jika bukan tali dari urat ular tentulah dari ulat Thian-jan yang jarang terdapat di dunia. Betapun saktinya tentu tak mungkin dapat memutuskan tali itu.
Ia menghela napas, serunya perlahan , „katakan, apa maksud kalin ini?“
‚Pada saatnya tentu kau tahu sendiri. Sekarang kau harus menderita beberapa hari dulu!“ seru Bu-song.
„Adik Song, kasih tahu dong!“ Siau-bun tertawa
„Mengapa?“
„Adik Song, kau toh seorang cerdik, mengapa harus kuterangkan lagi, Dia toh sat ini menjadi tawanan kita. Takut apa kita beritahu padanya?“
Bu-song bertepuk tangan serunya „Ya, ya, benar, Tih perempuan hina itu baru 4 -5 hari lagi datang. Kita beritahukan dia agar dia bisa merenungkan!“
Hati Thian-leng seperti disayat, serunya „Katakanlah, sebenarnya ......“
Bu-song tertawa, „Biarlah kukatakan sekarang. Ki-seng-wan dalam 4 -5 hari tentu datang kemari.“
Thian-leng terkejut, „bagaimana kau tahu?“
„Kami yang memanggilnya!“ sahut Bu-song
„tidak akan dia datang bila itu perintahmu, jawab Thian-leng.
„Jika ia tk datang, kau akan kubebaskan dan aku akan bunuh diri!“ seru Bu-song.
Apa yang kalain rencanakan?“
„O, kau sungguh tak mengerti?“ Bu-song tertawa.
Dipandangnya baju Thian-leng yang robek dan bangkai ayam hutan lalu tertawa mengikik, „kami telah membuat surat palsu yang ditulis dengan darah ayam. Dan telah menyerahkan surat itu kepada anak buah Kay-pang supaya diantarkan ke Tahay-heng-san. Dalam surat itu kukatakan bahwa kau tengah meregang nyawa karena keracunan dan minta perempuan hina itu segera datang.“
„Keji sekali!“ damprat Thian-leng.
„Terhadap manusia rendah budi semacam kau terpaksa harus dihadapi dengan siasat begitu. Tunggu saja pertunjukan yang lebih bagus bila perempuan hina itu datang nanti.!“
Thian leng tak dapat berbuat apa-apa kecuali menghela napas dalam-dalam. Ia tahu bahwa keganasan kedu nona itu disebabkan kekecewaan hatinya. Patah hatinya karena merasa dihiati cintanya.
Haripun makin terang. Akhirnya Siau-bun menghela napas, „Dik,song aku lelah. Harap kau yang jaga dulu.“
Memang Siau-bun letih. Letih tenaga dan hati. Sekalipun saat itu ia mendapat kemenangan, tetapi hatinya rawan sekali. Tak beberapa lama iapun tertidur pulas.
Setelah memberi tamparan beberapa kali, hati Bu-songpun longgar sekali. Karena mengingat kuil disitu sunyi senyap dan tak mungkin terjadi apa-apa maka iapun mulai mengantuk dan sayup-sayup mulai meremkan mata.
Tiba-tiba pada saat itu, serangkum angin dingin menghambur dari belakang. Ia terkejut dan cepat loncat bangun tetapi terlambat. Angin itu merupakan angin tenaga totokan jari yang tak bersuara. Pada saat ia hendak menggeliat bangun, jalan darah bagian Ciang-tay-hiat sudah terkena. Bum,/.... iapun jatuh terkulai.
Suara benda jatuh itu membangunkan Siau-bun. Jelas dilihatnya bahwa seorang manusia aneh yang bermuka hitam sekali dan berambut putih, berpakaian warna merah tengah menotok roboh Bu-song. Dan kini orang itu tengah menyerangnya.
Kejut Siau-bun bukan kepalang. Walaupun tengah tidur, tetapi suara yang ditimbulkan dari beberapa puluh tombak ia dapat mengetahuinya. Anehnya orang itu muncul tanpa suara sama sekali, dan cara-cara serangannyapun luar biasa sekali. Kalau Bu-song tak roboh tentu dia tak tahu sama sekali.
Cepat-cepat Siau-bun berjumpalitan sampai 5 meter jauhnya sehingga ia dapat terhindar dari serangan orang aneh itu.
„Lekas bukakan ikatan ku. Kau bukan tandingan orang itu!“ terdengar Thian-leng berseru kepada Siau-bun. Tetapi siau-bun tak menghirauka. Ia tahu bahwa manusia aneh itu tentulah seorang tokoh sakti. Cepat ia sambitkan passer Tui-hong-kiong. Kaki, perut dan tenggorokan orang itu diserangnya sekaligus.
Tring, tring tring ..... terdengar orang aneh itu mengekeh dan menangkis jatuh tui-hong-kiam. Menyusul ia gerakkan tangan kiri. Dari lima jarinya terdengar angin mendesis-desis menyambar ke arah Siau-bun.
Siau-bun terkejut dan tergopoh-gopoh loncat menghindar. Hanya sedikit memakai tenaga kaki, orang aneh itu sudah melesat ketengah-tengah Siau-bun dan Thian-leng.
Karena tak berkutik Thian-leng hanya dapat mengawasi kejadian itu dengan mata melotot.
Siau-bun mencabut pedang. Tiga jurus dilancarkan kearah orang aneh itu. Suaranya menderu-deru, sinarnya berkiblatan laksan kilat menyambar. Jurus itu dinamakan Toh beng sam-kiam atau Pedang pencabut nyawa. Sejak kecil Siau-bun sudah meyakinkan sehingga sudah mendarah daging.
Orang aneh itu tetap tak memakai senjata. Dengan sepuluh jari yang runcing seperti cakar besi ia menyambar pedang Siau-bun.
„Siluman, kau hendak cari mapus!“ teriak Siau-bun. Ia percepat gerak permainannya. Segulung sinar perak berhamburan menyilaukan mata.
Orang aneh itu tetap tak berkisar. Matanya berapi-api membentaknya „Serahkan!“
*******
bagaimanakah nasib Thian-leng, siau-bun dan Bu-song setelah dikuil itu... kedatangan Hok Mo Tongcu ????
Hok Mo Tong-cu
Tring, Tring .... tahu-tahu pedang Siau-bun sudah berpindah ke tangan si orang aneh.
Kepandaian orang aneh itu benar-benar mengagumkan. Bukan hanya Siau-bun, Thian-leng yang masih terikat kaki dan tangannya itupun tercengang-cengang.
„Budak perempuan, ayo keluarkan kepandaianmu lagi!“ seru orang aneh itu seraya tertawa mengikik.
Siau-bun kaget dan marah sekali. Dengan berteriak kalap macam orng gila, sambitkan tui-hong-kiam lagi.
„Eh, mainan anak kecil itu hendak kau pertunjukan dihadapanku?“ orang aneh itu tertawa gelak. Seraya menyapu dengan tangannya. Tring, tring, Tui-hong-kiam berhamburan jatuh.
„Siapkah kau?“ Siau-bun bengong keget.
„Aku adlah naganya manusia, mengapa kau katakan siluman?“ orang aneh berbaju merah itu tertawa.
„Siapa kau?“ siau-bun membentak lagi
„Aku adalah Hok Mo tongcu .... pernahkah kau mendengarnya?“
„Apa itu? Siap akenal dengan bangsa manusia tak bernama!“ teriak Siau-bun
Hok-mo-tong-cu atau kepala dari goa Ho-mo tong tertawa dingin „Benar“ memang aku bukan manusia ternama. Tetapi banyak sudah tokoh-tokoh terkenal yang menyembah kakiku ...“ ia pendaangannya diarahkan ke nona lalu berkata pula „Jadi kau tak memandang mata kepalaku?’
Siau-bun belalkan matanya. Thian-leng masih terikat sedang Bu-song sudah tertotok jalan darahnya. Menghadapi manusia setengah siluman yang berkepandaian sakti it, ia benar-benar bingung.
„O, jadi kau menganggap dirimu sebagai tokoh nomor satu di dunia?“ serunya sesaat kemudian.
„Lalu apa maksudmu datang kemari?“
Orang aneh itu kembali tertegun. Tiba-tiba ia membentak keras „Budak perempuan, kau terlalu lancang!
Siau-bun tak menghiraukan melanjutkan kata-katanya „Kalau kau menganggap dirimu tokoh nomor satu di dunia beranikah kau bertanding dengan jagoku?“ cukup 3 jurus saja, asal kau mempu menerima pukulannya, aku sedia menyerah padamu!“
„Siapa?“ dengus Hok-mo-tong-cu
„Dia!“ siaubun menunjuk pada Thian-leng.
Wajah si orang aneh yang hitam seperti pantat kuali, tampak berubah“ pada lain saat ia tertawa nyaring.
„Dia seorang pemuda yang lemah, bagaimana aku sudi bertanding dengannya?’“Jangan pakai alasan ini- itu pokoknya, kau berani atau tidak?“ Teriak Siau-bun.
Mata Hok-mo-tong-cu berkeliaran, serunya mengejek „Jika dia sakti, mengapa diringkus orang sampai tak berkutik?’
Siau-bun hendak membikin panas hati orang aneh itu sehingga memberi kesempatan padanya untuk membuka ikatan Thian-leng. Tetapi ternyata walaupun tampaknya ketolol-tololan, orang aneh itu cerdik juga. Dia tak kenaa diakali.
Thian-leng tak kurang gelisahnya. Tetapi karena masih terikat. Ia tak dpat berbuat apa-apa.
Pada saat itu Bu-songpun sudah berusaha keras untuk menyalurkantenaga dalamnya. Tetapi sampai detik ituia belum berhasil membuka jalan darah yang tertotok.
„Heh, heh, budak perempuan, kau tunduk atau tidak kepadaku?“ tiba-tiba manusia aneh itu tertawa mengekeh.
„Huh, siapa sudi mendengar ocehanmu....“ dengus Siau-bun. Ia terus mengulur waktu sambil mencari akal.
Orang aneh itu menatap Siau-bun tajam-tajam. Tiba-tiba ia tertwa mengikik „Budak perempuan, aku hendak bertnaya padamu. Asal kau jawab sejujurnya tentu takkan kubikin susah. Tetapi kalau berani bohong, kalian tentu akan kusiksa satu demi satu!“
„katakanlah!“ jawab Siau-bun.
Hok –motong-cu melirik Thian-leng, serunya „Apakah dia benar Bu-beng-jin yang telah mendapat ilmu pelajaran dari It-bi siangjin itu?“
„Hm, kini kau mulai membuka kartu, „kata Siau-bun
„kalau benar bagaimana, kalau bukan bagaimana?“
Ho-mo-tong-cu membentak, „kuhanya minta kau menjawab sejujurnya. Jika kau banyak mulut jangan menyesal bila aku bertindak telengas. Tntu kuberimu sedikit hajaran.... lekas bilang, apakah dia benar Bu-bung-jin?“
„Benar!“ Siau-bun terkejut.
Hok mo Tong-cu tertawa puas. „Benda apapun di dunia ingin kudapat kecuali satu ialah kitab pusaka peninggalan It-bi Siangjin. „Ia berhenti sejenak lalu menyambung kata pula. „Apakah kitab itu berada padanya?“
„Tanya saja sendiri padanya?“ balas Siau-bun.
Hok-mo-tong-cu tersenyum, „Kukira wanita mudah bicara terus terang“
„Mungkin kau buta!“ Siau-bun tertawa mengikik. Jangan-jangan aku memang tidak tahu, jangan kau harap dapat mencari keterangan dariku.
Hok mo-tong-cu marah, „Rupanya tulangmu keras sekali, budak! Jika tak kuberi hajaran tentu tak mau berkata terus terang!“ tiba-tiba ia mencengkeram bahu Siau-bun.
Karena pedang dan senjata rahasianya tak mampu melawan Siau-bun putus asa. Dengan berteriak seperti orang gila ia menerjang manusia aneh itu. Tetapi ia terkejut sekali karena tahu-tahu tenaganya hilang. Yang dirasakan hanya angin dingin yang menghambur dari kelima jari Hok mo-tong-cu, tahu-tahu tenaganya terbawa hanyut. Dan yang lebih mengejutkan, jari-jari berhawa dingin dari Ho-mo-tong-cu itu langsung menusuknya.
Siau-bun sudah kehilangan daya perlawanan. Ia kerahkan tenaganya untuk berguling ke tanah. Keadaannya benar-benar pontang-panting.
Sebenarnya Hok-mo-tong-cu tak bersungguh-sungguh melakukannya. Tetapi ia sengaja menggembor dan melesat mendekati. Tangannya diangkat hendak dihantamkan.
„Berhenti!’ teriak Thian-leng.
Ho-mo-ton-cu tertawa sinis. Ia hentikan tinjunya, „Heh, heh, kau hendak mengaku“
Thian-leng berteriak „kau seornag tong-cu, mengapa kau hendak menganiaya anak perempuanapakah kau tak malu?
„selamanya aku mementingkan tujuanku!“ Hok-mo tong-cu tertawa.
„Manusia rendah!“ damptar Thian-leng.
Kesempatan itu digunakan oleh Siau-bun ketika mereka sedang beradu mulut, diam-diam dia beringsut kedekat Thian-leng. Secepat kilat ia hendak membuka tali pengikat pemuda itu.
Tetapi niatnya itu tidak terlepas dari mata Ho Mo-tong-cu. Dengan tertawa mengekeh, ia balikkan tangannya. Serangkum asap putih mentyambar kearah Siau-bun. Krek, ..... jalan darah Ciang-thay-hiat terkenan totok. Robohlah Siau-bun seketika.
„Iblis tua, jangan melukainya!“ teriak Thian-leng.
„Heh, heh, erat sekali hubungan kalian. Mereka berdua telah mengikatmu dan menyiksamu masih begitu sayang kepada merka, hm, jarang sekali ada orang semacama kau.....“ Hok mo-ton-cu tertawa mengejek.
Sejenak dia pandanagi ketiga anak muda itu, tokoh itu kembali berseru : „Karena kau begitu sayang kepada mereka, baiklah hendak kusiksa mereka supaya kau dapat menikmati!
Ia menutup kata-katanya dengan mencengkeram bahu Siau-bun. Karena jalan darahnya tertotok, Siau-bun tak dapat berbuat apa-apa. Ia meramkan mata menerima nasib.
„Jangan menyiksanya, baik, akan kuberitahukan!“ teriak Thian-leng.
„Kau bawa?“ Hok mo-tong-cu hentikan tangannya.
„Tidak, tetapi aku dapat mengantar kau!“
Hok-mo-tong-cu sangsi „Tetapi, ingat jangan kau berani menipuku atau kalian bertiga akan kusiksa sampai mati!“
„Bagaimana agar kau percya?“
„Bersumpahlah!“
Tanpa ragu-ragu Thian-leng segera mengucapkan sumpah berat.
„Dimana tempatnya?“ Hok-mo-tong-cu tertawa pusa. „Sudah tentu berada di gunung Thay-heng-san!“
Hok-mo-tong-cu merenu ng sejenak, ujarnya. „Kalau siang malam menempuh perjalanan, lima hari baru sampai, hm, tak palah, karena kau sudah bersumpah, akaibatnya kau tentu dapat membayangkan sendiri.
Thian-leng tertawa „Sekali meluluskan sudah tentu takan bohong. Lekas lepaskan aku dan marilah kita berangkat!“
Ho-mo-tong-cu tertawa mengekeh, „Budak enak sekali kau bicara. Selai kulepas, habislah segala jerih payahku“
Ia mengeluarkan sebuah karuung dari kain hitam, serunya „Biarlah dalam beberapa hari aku memeras tenaga dan kaupun perlu menderita sedikit.
Habis berkata, ia terus menjinjing Thian-leng dan dimasukkan kedalam karung. Lalu dipanggulnya. Dalam keadaan begitu, tiada seorangpun yang mengira iblis itu membawa karung berisi manusia.
Siau-bun dan Bu-song walaupun tak berkutik, tetapi pikiran mereka masih sadar. Mereka menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada diri Thian-leng. Diam-diam timbullah rasa sesalnya.
Tiba-tiba Hok-mo-Tong-cu hentikan langkah dan berbalik. Ia mengambil 2 butir pil merah, serunya „JIKA gagal mendapatkan kitab pusaka It-bi Siangjin, aku akan kembali menyembelih kalian. Tetapi pulang pergi kesana paling tidak memakan waktu 10 harian. Agar kalian jangan sampai mati kelaparan, kuberi masing-masing sebutir pil tahan lapar.“
Ia susupkan pil itu kemulut Siau-bun dan Bu-song „Kuil yang kalin pilih ini memang tepat. Tak akan ada orang yang datang kemari, takkan ada orang yang mengetahui kalian!“
Hok-mo-tong-cu pun lenyap. Tak berapa lama haripun terang. Sinar matahari mulai merembes di celah-celah retakan dinding kuil, seolah berusaha menerobos masuk untuk membantu mengeringkan air mata yang membasahi pipi kedua dara itu.
Siau-bun dan Bu-song membasuh muka mereka dengan kucuran air mata. Beberapa saat mereka bungkam dibenam penyesalan.
„Taci, kita salah perhitungan!“ Kata Bu-song.
„Siau-bun mendengus „Bukan rencana kita yang salah tetapi karena diganggu oleh kejadian yang tak diduga-duga!“
Bu-song menhela naps „Bagaimana juga, kita mencelakai orang akhirnya diri kita sendiri...
„Kau menyesal?“
Bu-song tertegun, serunya „Aku tak menyesal. Yang penting sekarang kita harus cari akal bagaimana supaya jangan tersiksa begini!“
„jangan takut!“ Kata siau-bun, „Dia hanya menotok jalan darah kita. Beberapa sat lagi kita tentu dapat terlepas!“
Bu-song tersenyum tawar „Ah, percuma. Ilmu totok iblis itu berbeda dengan yang lain. Kalau tak percaya boleh kau coba!“
Siau-bun diam-diam kerahkan tenaganya. Tetapi sampai sepeminuman teh lamanya belum juga ia berhasil membuka jalan darahnya.
„Bagaimana?“ Bu-song tertawa rawan. „Rupanya kita harus menunggu ajal dengan perlahan!“
Siau-bun pun tertawa sinis „ „Ah, belum tentu kita toh masih mempunyai waktu lima hari. Perempuan hina Ki-seng-wan itu tentu datang kemari.
Siau-bun menghela napas. „Apa boleh buat kalau memang harus begitu!“
„Manusia berdaya, tuhan yang kuasa. Taci, bun. Kutetap menganggap rencana kita ini gagal.
Siau-bun tak menyahut. Dan memang ia tak mempunyai bahan yang dapat dikatakan lagi. Adalah karena munculnya iblis Hok mo-tong cu itu maka rencananya gagal total bahkan dirinya sendiripun celaka.
Kembali mereka terdiam.
Daerah gunung Ceng-liong-nia memang daerah terpencil jarang didatangi masuisa. Meskipun siang hari. Tak tampak manusia atau binatang yang berkeliaran. Dan haripun berganti malam, berarti mereka telah tersiksa sehari.
Hari keduapun tak ada perubahan. Demikian ketika dan keempat hari yang kelimapun tiba.
Menjelang magrib, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki orang berlari-lari mendatangi.
„Dia datang....“Bisik Siau-bun.
„Tetapi agaknya bukan seorang, apakah tidak .....“baru Bu-song berkata sampai disitu. Sesosok bayangan warna ungu dan hijau menerobos dalam kuil. Ah, pendatang itu bukan lain kakak beradik Ki Gwat-wan dan Ki-Seng-wan.
Wajah mereka kumal penuh debu dan tampaknya letih sekali. Serunya „adik apa yang kukatakan benar, kok siangkong mempunyai kepandaian yang sakti, mungkin sat ini ia terhitung jago nomor satu. Tetapi mengapa bisa keracunan. Dan taruh kata keracunan mengapa tidak diangkut pulang oleh anak buah Kay-pang? Melainkan hanya mengirim surat memanggil kau kemari. Dan lagi, bukanlah dia bersama gihu menuju gunung Tiam-jong-san? Sekarang mengapa gihu tak tampak.?
Ki-Seng-wan menghela napas, „Kita harus percaya apa yang terjadi. Memang aku tak pernah pikir begitu jauh. Ia melirik kerah Bu-song dan Siau-bun lalu tertawa dingin. „Bangunlah! Karena kalian sudah berhasil menipu kami berdua kemari, ayo bangun dan bereskan perhitungan. Mengapa kalian pura-pura menggeletak disitu?’
Tetapi Siau-bun dan BU-song tak menyahut dan tak bergerak. Suatu hal yang menimbulkan keheranan kedua kakak beradik KI itu.
Apa kalian bisu?“ tegur Ki Seng-wan.
Siau-bun dan Bu-song tetap membisu.
Walaupun marah tetapi diam-diam hati ki Seng-wan kasihan juga. Ia tahu bahwa dirinya telah dijebak kedua dara itu. Tetapi karena Thian-leng tak berada disitu, berarti tentu selamat. Bahwa pemuda itu terkena racun, tentu isapan jempol saja.
„takkan kubenci kalian asal kalian mau mengatakan dia sekarang? Katanya Siaubun dan Bu-song. Tetapi Gwat-wan cepat menarik adiknya „Tak perlu tanya mereka, masakan kita tak mampu mencari sendiri?“
Tetapi dunia begini luas, kemana kita harus mencarinya? Seng-wan meragu.
Gwat-wan tertawa dingin, „Dia toh hadir dalam rapat Eng-hiong tay-hwe digunung Tiam-jong-san. Kita kesana tentu dapat menemuinya. Paling tidak kita dapat bertanya pada orang!“
„Bebar, benar, ayo, kita kesana!“ seru Sen g-wan seraya terus hendak melangkah pergi.
„Tunggu!“ tiba-tiba Siaubun berseru „Eh, mengapa? Apa dia sudah pergi?“ ditatapnya kedua dara itu tajam-tajam
Hai, mengapa kalian terus menerus berbaring dilantai saja?“
Bu-song mendengus „Jika kami dapat bangun tentu tak mau membuang waktu bicara dengan kau!“ Lh, coba kau tolong bukakan jalan darah Ciang-thay-hiat ini!
Kini baru kedua kakak beradik itu tahu keadaan mereka berdua. Ki Seng-wan hendak memberi penjelasan.
„Tunggu dulu,“ tiba-tiba Gwat-wan mencegah, „Mereka membencimu setengah mati. Mereka telah menipu supaya kau datang kemari. Jika kau tolong mereka, bukankah seperti melepas naga kedalam lautan? Apakah kita berdua dapat hidup?
Setelah merenung beberapa saat, berkatalah Ki Seng-wan „Kita harus dapat memaafkan orang, jangan orang yang memaafkan kita. Bermusuhan atau bersahabat tergantung dari anggapan mereka sendiri!“
Tanpa menghiraukan peringatan Tacinya, Seng-wan segera menghampiri kedua dara itu. Gwat-wan menghela napas seraya gelengkan kepala. Ia tahu wattak adiknya yang sukar dicegah.
Dua buah tamparan berhasil membuka jalan darah Bu-song dan Siau-bun.
„Apakah adik berdua tahu dimana dia sekarang?“
„Jika ingin menemuinya, harap ikut kami!“ sahut Bu-song dingin. Terus ia hendak bangkit.
Ah....walaupun jalan darahnya suda terbuka tetapi masih tak dapat berkutik, seolah-olah seperti terikat tali. Juga Yang dialami Siau-bun sama keadaannya.
*******
Air Susu dibalas Ait Tuba
„Percuma, „kata Ki Gwat-wan, „Ilmu totokannya istimewa sekali. Kepandaian kita tak mampu membukanya. Lebih baik kita tinggalkan saja!
Seng-wan menghela napas „Bukan karena aku tak mau menolong kalian, tetapi benar-benar“ habis berkata ia mengikuti Gwat-wan pergi.
„Jangan terburu-buru, „Tiba-tiba Siau-bun berseru, „Tahukh kau kemana perginya? Dan Tahukah kau bagaimana keadaannya sekarang?“
Seng-wan berhenti.
„Mungkin kau pun tak tahu !“ ujarnya
„Hm, kita tahu sejelas-jelasnya tetapi tak semudah begini memberitahuakan padamu!“
„Apa syaratnya?“ tanya Seng-wan
„Paling tidak kau harus berusaha membuka jalan darahku“ sahut Siau-bun.
Seng-wan kerutkan dahi,“ kalau dapat membukanya tentu saat ini kalian sudah sembuh. Bukan karena tak mau membantu kalian, tetapi sesungguhnya aku tak mampu.....
„Aku ada akal!“ seru Siau-bun.
„Lekas katakan ! Asal aku mampu tentu tak menolak!“ Kata Seng-wan.
Sejenak Siau-bun berdiam diri, ujarnya : „sebelum kukatakan dimana Thian-leng berada, kau bukakan dulu totokan ini dan satu lagi sebelumnya aku bertanya dulu, „apa kau kenal dengan Hok-mo-tong-cu?“
Seng-wan tertegun „ „Tidak! Jangankan kenal, mendengarpun baru kali ini!
Kata Siaubu „Dia mempunyai pukulan dan totokan jari yang berhawa dingin. Dibanding dengan Sin-bu-te-kun, Hok-mo-tong-cu lebih tinggi kepandaiannya.“
„Apakah kau berkata dengan sesungguhnya?“ seng-wan makin heran.
„Masakan aku berbohong !“
Seng-wan melirik Gwat-wan, serunya : Sin-bu Te-kun mendapat kesaktian dari kitab Im-hu-po-coan yang berinti tenaga Im-ham (dingin). Kuingat dulu Sin-bu-te-kun pernah mengatakan bahwa dia hanya mendapat kitab Im hu-po-tong-cu.“
„Hai, benar !“ teriak Siau-bun, „dengan begitu ilmu kepandaian kalian sesumber dengan iblis itu.... tentlah sedikit banyaknya Sin-bu-te-kun telah memberi kalian pelajaran-pelajaran dasar?“
„Tetapi, hanya kulitnya saja !: Sahut seng-wan.
„Tidak apa, kata Siau-bun, kuberitahulah. Tiap hari tolong mengurut-urut jalan darahku yang tetotok itu sampai 3 jam. Paling lama dalam 3 hari, betapapun hebatnya ilmu totokan itu akan terbuka juga. Maukah kalian meluluskan permintaan ini?“
Seng-wan kerutkan dahi, ujarnya „Jika permintaan itu keluar dari hati yang tulus, aku mau tetapi kalau hanya siasat, aku ................?“
„Adik, maukah kau dengar nasihatku? Tiba-tiba Gwat-wan menyelutuk.
„Silakan, masakan aku tak mau mendengar?“
Gwat-wan geleng-gelengkan kepala : „Kedua budak perempuan ini, hatinya sekejam ular menolong mereka mungkin akan mendatangkan bahaya. Menurutku, lebih baik kita ....“
Siau-bun berteriak : „Walaupun kalian sebagai kakak beradik, tetapi dengan kami kalian adalah ipar. Jangan kau mengadu domba untuk meretakkan rumah tangga kami.... Ensoh,“ teriak Siau-bun kepada Seng-wan. Pok Thian-leng mengaku ayah kepada Pok Thiat-beng ayahku, sebagai gihu dan ikut memakai she Pok. Dengan demikian kau adalah ensohku...!“
Akupun saudara misan, jadi kau ensoh misanku. Apakah kau tega hendak meninggalkan tempat ini?“ Bu-songpun ikut berseru
Seng-wan memandang kakaknya „Karena ada jalan untuk menolong, aku harus berusaha melakukannya. Kalau tidak, bagaimna aku harus mempertanggungjawabkan apabila bertemu dengan Thian-leng?“
Gwat-wan menghela napas dan tak berkata apa-apa lagi. Tak berani lagi ia berbicara. Ia lebih tua dari Seng-wan, tetapi karena Seng-wan sudah menikah dengan Thian-leng, iapun tak berani campur tangan menguasai adiknya. Ia tak dapat mencegah Seng-wan menolong Siau-bun dan Bu-song yang merupakan adik Thian-leng.
Seng-wan segera menghampiri Siau-bun, ujarnya „Sekarang aku mau mulai menggunakan ilmu Hian-im-chiu-hwat untuk mengurut jalan darahmu yang tertotok itu. Tetapi kau sendiripun harus kerahkan iwekangmu untuk membantu dari dalam!“
Siau-bun tersenyum kemenagan. Sambil melirik kepada Gwat-wan, ia segera mengucapkan terima kasih kepada Seng-wan. Dan mulailah Seng-wan melakukan pengurutan. Siau-bunpun kerahkan Iwekang untuk membantu menerobos jalan darahnya yang tertotok itu.
Dengan bermuram durja, Gwat-wanpun terpaksa mengurut Bu-song. Setelah hampir tiga jam lamanya barulah pengurutan dihentikan. Kedua kakak beradik itu mandi keringat, napasnya terengah-engah. Tiga jam mengurut, cukup menghabiskan tenaga.
„Bagaimana sekarang?“ tanya Seng-wan.
Siau-bun tersenyum manis „Boleh juga!“
„Bagus!“ seru Seng-wan „Tak perlu tunggu besok pagi, nanti saja akan kuurut lagi. Hanya harapanku jangan kau mendendam!“
„Ah, ensoh jangan mencurigai aku!“ kata Siau-bun.
Ki Seng-wan tak menyahut. Ia pejamkan mata mengatur pernapasan. Lewat lohor. Ia mendusin. „Taci, mari kita mengurut lagi!“ katanya.
Gwat-wan tersenyum tawar : „Budak perempuan, kau benar-benar meletihkan aku!“
Namun sekalipun mulutnya bersungut, iapun segera mengurut Bu-ong lagi. Kali ini pengurutan berjalan lebih payah. Selang sejam kemudian, kedua Ki bersaudara itu sudah mandi keringat. Dua jam lagi, haripun sudah malam. Duluar angin malam menderu-deru menambah keseraman suasana.
Wajah kedua saudara itupun pucat, kedua bahunya gemetar. Jelas bahwa mereka telah menguras seluruh tenaga dalamnya. Hampir mendekati tiga jam, rupanya Seng-wan tak kuat. Mulutnya gemetar dan tubuhnya terjerembab roboh.
„Adik! Adik .... kau .... !“ Gwat-wan hentikan urutananya lalu merangkak menghampiri adiknya. Tetapi belum sampai tiba di tempat Seng-wan, ia pun juga terjungkal roboh.
Suasana dalam kuil menjadi sunyi senyap. Entah berselang beberapa lama, tampak Siau-bun menggeliat duduk. Setelah pejamkan mata sambil mengambil napas, ia tersenyum girang, memandang kedua saudara Ki lalu bangkit. Ia sudah dapat berdiri karena jalan darahnya telah terbuka.
Semula Bu-song masih menggeletak di tanah. Tetapi ketika melihat Siau-bun berdiri, ia pun ikut bergerak. Ah, ternyata ia juga sudah sembuh.
„Ci bun, kita sudah sembuh!“ serunya girang
Siau-bun tertawa :“ Rencan a kita semula menipu mereka supaya datang kemari lalu kita siksa, baru kemudian dibunuh. Ah, siapa kira mereka malah berbalik menjadi penolong kita!“
Bu-song kerutkan alis : „Lalu bagaimana tindakan kita sekarang?“
Sejenak Siau-bun merenung, ujarnya „: „karena mereka melepas budi, kita terpaksa memberi ampun jiwanya!“
Bu-song mendengus „Uh, sayang aku tak pemurah hati seperti engkau ! dia telah merebut tunanganku. Kuanggap dia musuh bebuyutan. Dia tau aku yang berhak hidup di dunia!“
Walaupun kehabisan tenaga tetapi panca indera kedua saudara Ki masih baik. Mereka terkejut mendengar ucapan kedua gadis itu. Seng-wan paksanakan diri berseru „ „Taciku memang benar. Kalian memang bangsa ular bibisa. Jika tak kami berdua yang menolong masakan kamu bisa hidup. Kalau tidak dimakan binatang buas tentu mati kelaparan!“
Sia-bun tertawa : „Ah, tidak begitu mengerikan! Sebelum pergi Iblis Hok Mo Tong-cu telah memakankan sebutir pil kepada kami. Pil itu dapat menahan lapar sampai 10 hari!“
„kalau begitu kalian mau apa terhadap kami?“ Seng-wan tertawa getir.
„Kau adalah ensohku. Aku tak akan mengapa-apankan kamu. Tetapi .....“ ia melirikanan mata, berkata pula „Sebelum menikah dengan kau, Pok Thian-leng sudah bertunangan dengan adik misanku ini. Sakit hati direbut direbut calon suaminya, termasuk dendam yang hebat. Hal ini biarlah adiku yang mengambil keputusan !
Bu-song tertawa : „Akupun bukan orang yang haus darah. Apalagi kalian sudah melepas budi kepadaku. Sedikit banyak tentu akan kubalas ......“ ia berhenti sejenak, ujarnya lagi : „ sebenarnya kau harus kuhukum mati. Tetapi hukuman itu kutiadakan. Hanya akan kusuruh kalain menderita hukuman hidup !“
Seng-wan terkejut, serunya : Jika hal itu dianggap salah, akulah yang menanggung sendiri. Taciku ini tidak ada sangkut paut dengannya. Hendak kaubunuh atau siksa, aku rela menerima asal jangan kau ganggu taciku ini!“
Bu-song terdiam sejenak. Sia-bun tersenyum : „Eh, jika ditinjau sedalam-dalamnya, tacimulah yang berdosa !“
„Ngaco!“ teriak Seng-wan. „Taciku menolong nona Lu dan belum pernah melakukan kesalahan kepada kalian. Jangan mengada-ada apalagi segala kesalahan juga ditimpakan kepadanya!“
Siau-bun tertawa : „Segala rencana adalah dia yang mengeluarkan. Masakan dia tak bersalah ..... ia melirik Bu-song, katanya pula „Sungguh, biang keladinya tacimu. Dalam hal hukuman, dia juga harus menerima ......“
„Gadis busuk!“ damprat Seng-wan marah sekalai, „jangan memfitnah orang sesuka hatimu!“ Coba saja kelak kau akan Mepertanggungjawabkan perbuatanmu kepada kakekmu dan Pok Thian-beng?“
Siau-bun tertawa mengikik : „tak usaha kau memikirkan diriku. Akupun hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Mengenai hukuman padamu, tetap kuserahkan pada adikku!“
„baik, anggap saja aku buta. Tetapi ingat, jika tak membunuhku suatu saat aku akan membalas dendam .....“ Seng-wan berteriak nyaring.
Gwat-wan tertawa rawan : „Adik, sudahlah jangan banyak bicara. Jatuh ditangan gaids sebuas itu, masakan kita dapat bicara tentang budi welas asih ?“
Kemarah Seg-wan seperti mau meledak sekuat-kuatnya, ingin ia tumpahkan tetapi walaupun sekuat tenaga bergerak namun ah ..... tangan dan kedua kakinya terasa lemas tidak bertenaga lagi. Akhirnya ia pejamkan mata saja penuh kepasrahan.
„Adik Song, aku sudah memberi siksaan batin kepada mereka. Sekarang silakan kau memberi hukuman badan !“ Kata Siau-bun.
Bagaimana pendapatmu, apakah iblis Hok Mo tong-cu itu akan kembali lagi kemari ata tidak?“ yanya Bu-song.
Siau-bun gelengkan kepala dan menyahut dengan yakin : „Tidak bisa!“
„bagaimana kau bisa berkata begitu?“
„Bukankah Thian-leng mengatakankitab pusaka itu berada di gunung Thay-heng-san ? kuduga Hok Motong-cu takkan balik kesini lagi!“
„Mengapa?“ tanya Bu-song
„Mungkin kau masih belum jelas. Apa yang disebut kitab pusaka peninggalan It-bi Siangjin itu terukir pada dinding goa rahasia di dalam telaga zamrud......“
„jadi dia akan mengajak iblis itu kedalam goa?“
„Ya!“
„Bu-song terkejut sekali, serunya : „Tetapi tangan dan kaki Thian-leng terikata dengan tali urat naga jika Hok Mo- tong-cu berhasil masuk kedalam goa telaga Zamrud dan dapat meyakinkan lukisan di dinding goa, bukankah ......“
Siau-bun tertawa : „kau tau, tapi tak tau semuanya. Di dalam tekaga zamrut masih di jaga seorang tokoh aneh. Dia juga telah mempelajari ilmu p[eninggalan It-bi siangjin. Dia sudah mengikat saudara dengan Thian-leng. Begitu masuk goa, Hok-mo Tong-cu bakal dibekuk murit It-bi siangjn itu. Maka kita tak perlu kuatir lagi.
Bu-song tertawa riang : „kalau begitu iblis Hok Mo Tong-cu itu pasti mampus dan takkan kesini lagi. Disini jarang di datangi orang. Bagaimana kalau kita tiru saja tinddakan Hok-mo-tong-cu untuk menghukum mereka?“
Siau-bun tertwa : „Sayang kita tak mampu menotok seperti Hok-mo Tong-cu!“
Bu-song mendengus :“Sekalipun bisa, tetapi kita takkan suruh mereka enak-enakan tidur dilantai. Aku sudah mempersiapkan suatu rencana bagus .... kita lakukan totokan Tiam-bong-kian-jin-yok (menotok angin menyusupkan kedaging orang) !“ Siau-bun tertegun, „Apakah itu? Apakah yang hendak kau rencanakan ?“
Bu-song tak menyahut, melainkan mengeluarkan dua utas tali sebesar ibu jari. Direntangnya tali itu di hadapan Siau-bun.
“Tali ini terbuat dari sutera asli. Walaupun tak sesakti tali urat ularmu, tetapi dapat menahan tenaga meeka. Tiang penglari di atas itu rasanya tempat yang cocok untuk mereka beristirahat!”
Tak lama Bu-song telah melaksanakan rencananya. Kedua taci beradik Ki dikerek ke atas dan digantung pada tiang penglari dengan tubuh terikat. Tubuh mereka bergelantungan kian kemari mirip daging yang digantung di warung.
Ki Gwat-wan dan Ki Seng-wan memejamkan matanya. Tak sepatahpun mereka keluarkan erangan. Setelah puas menertawakan pemandangan yang dianggap lucu, Siau-bun dan Bu-song segera menutup pintu dan melangkah keluar. Kala itu sudah lewat tengah malam.
*******
Tantangan
„Taci Bun, kemakah sekarang kita hendak pergi?“ tanya Bu-song setengah menguap.
„Eng-hiong-tayhwe sudah lewat beberapa hari, saat ini kakek dan ayah tentu sudah meninggalkan Tiam-jong-san“
„Sin-bu Te-kun sudah menantang, 10 hari lagi akan menunggu mereka di Sin-bu-kiong. Mungkin mereka saja, Thian-leng pun akan kesana juga.
.....Eh, kalau berjumpa dengannya, kita harus merangkai cerita bohong untuk mengelabuinya!“
“Tetapi ia sudah tahu sendiri, bagaimana kita dapat membohonginya?” tanya Bu-song.
Siau-bun tertawa lagi. Tiba-tiba ia mendekati telinga Bu-song dan membisikinya. Bu-song serentak bertepuk tangan dan tertawa riang, “Bagus, kau sungguh pintar benar….. ayo kita cepat ke sana. Kini waktunya hanya tinggal satu hari saja!”
Menjelang tengah hari baru mereka tiba di kaki gunung Ceng-hun-san. Gunung itu tak berbahaya, tetapi puncak-puncaknya saling berdekatan.
Sambil memandang ke atas puncak, berkatalah Bu-song, “Pintar juga Sin-bu Te-kun memilih tempat. Jika dia tak temaha hendak merajai dunia persilatan, tentulah sudah hidup enak di tempat setenang ini!”
Siau-bun tertawa, “Eh, mengapa kau tiba-tiba punya lamunan begitu?”
Bu-song hanya tertawa dan terus berlari. Karena paham jalannya dan dengan menggunakan ilmu berlari cepat, mereka segera tiba di Sin-bu-kiong.
“Celaka……” tiba-tiba Siau-bun berhenti.
“Mengapa?”
“Thian-leng bukan pemuda yang berhati sempit. Walaupun kita bertindak terlalu kejam padanya, tetapi kita pernah menolong jiwanya. Dia tentu tetap memperhatikan keselamatan kita!”
“Bukankah itu lebih baik?” seru Bu-song.
Siau-bun menghela napas, “Kalau sudah lolos dari Thay-heng-san, dia tentu segera ke Tiam-jong-san untuk menolong kita…..”
“Ai, benar!” Bu-song membanting-banting kaki, “begitu tiba di puncak Ceng-liong-nia, dia tentu akan mendapatkan perempuan hina itu. Dan perbuatan kita tentu akan diketahuinya….kita balik ke sana saja!”
Siau-bun menghela napas, “Ke sana paling tidak tentu memakan waktu empat hari. Dan lagi dia dengan kedua dara Ki itu, belum tentu masih ada di sana!”
Bu-song bingung, “Kalau begitu, bagaimana tindakan kita sekarang? Ai, harap kau cari rencana lagilah!”
“Tetapi sudah begini, tak ada jalan lain lagi…..” Siau-bun tertawa tertawa getir.
“Eh, kakekku....... Sekalipun kuminta bintang di langit, kakek tentu akan menuruti!” kata Bu-song dengan aleman.
Siau-bun bertepuk tangan, “Kalau begitu jadilah....” segera ia membisiki telinga Bu-song. Wajah si dara tampak berseri.
“Ayo, kita lekas cari kakek!” serunya.
Kedua gadis itu segera meneruskan larinya. Tetapi mereka tidak menuju ke pintu gerbang Sin-bu-kiong, melainkan menyelinap ke dalam gerombol di samping gedung itu.
Baru saja hari mulai gelap, istana Sin-bu-kiong sudah terang benderang dengan penerangan yang gemilang. Memang malam itu adalah hari ke sepuluh dari tantangan Sin-bu Te-kun kepada Thian-leng dan rombongannya.
Tetapi suasana dalam istana itu tampak sunyi saja. Berpuluh-puluh penjaga dengan menyelipkan senjata di pinggang tampak mondar-mandir berseliweran kian kemari. Seolah-olah sedang menghadapi kesibukan. Tetapi mereka diam, tidak menimbulkan suara berisik....
Di ruang tengah, penerangannya paling terang. Hanya sunyinya luar biasa. Sehingga apabila ada sebatang jarum jatuh ke lantai, pasti terdengar juga.
Di luar ruangan, berjajar dua deret pengawal tua berseragam baju ungu. Mereka membentuk diri dalam formasi burung garuda. Dengan senjata terhunus di pinggang masing-masing, tampaknya mereka gagah sekali.
Di dalam ruangan besar, tak tampak barang seorangpun juga. Tetapi di dalam bilik, sedang berkumpul belasan orang. Wajah mereka tampak tegang sekali. Rupanya mereka tengah berunding dengan suara seperlahan mungkin.
Di antara orang-orang yang tengah rapat itu, terdapat Sin-bu Te-kun, ketua Hek Gak, Bu Cui suseng, kedua Lam-yau dan Pak-koay, Ko Liu siangjin, Bok Sam-pi dan lain-lain.
Di antara sekian hadirin, hanya Bok Sam-pi yang tetap tenang wajahnya. Dia duduk dengan kepala menengadah. Tangannya memegang sebuah cawan arak yang tak hentinya diteguk.
Yang istimewa, jago tua itu tidak lagi telanjang badan, tetapi sudah mengenakan baju kapas yang kedombrongan, sehingga menutupi kedua lengannya.
Walaupun tenang, tetapi sebenarnya sikap dan tingkah laku Bok Sam-pi saat itu jauh lebih linglung dari beberapa hari yang lalu.
Selain orang itu, masih terdapat juga tiga orang aneh yang wajahnya mirip satu sama lain. Sama mengenakan pakaian putih, berambut merah. Tiga bagian seperti manusia, tujuh bagian menyerupai setan.
Ketua Hek Gak duduk di sudut dengan lunglai.
Tiba-tiba ia bangkit dan mondar-mondir, kemudian berkata perlahan-lahan kepada Sin-bu Te-kun, “Rencana kita hari ini harus berhasil, jangan sampai gagal. Apakah saudara Ki menganggap persiapan-persiapan sekarang ini sudah sempurna? Karena kalau sampai gagal, entah bagaimana kedudukan kita di hari-hari yang akan datang!”
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh, “Seorang lelaki, hanya mempunyai dua pilihan. Gagal atau berhasil. Berhasil kita mulia, gagal kita binasa. Kalau yakin takkan berhasil, lebih baik kita lekas-lekas sediakan peti mati saja. Mengapa kau begitu kuatir..........”
Sin-bu Te-kun berhenti sejenak, kemudian tertawa iblis, “Sebenarnya saudara Kongsun tak usah kuatir lagi. Sekalipun si tua Lu itu mengundang seluruh jago-jago persilatan, jangan harap mereka mampu keluar dari istanaku ini.........!”
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net
Jilid 13. Antara Suami dan Isteri
„DENGAN beberapa patah kata, aku dapat menguasainya!“ seru Sin-bu Te-kun.
„Apakah Saudara Ki bergurau ketua Hek Gak menengas girang.
Wajah Sin-bu Te-kun mengerut serius. „Masakan saat seperti sekarang aku bergurau?“
„Kalau benar, aku taat dan ikhlas untuk menjadi orang bawahan Sin-bu-kiong!“
Sin-bu-Te-kun tertawa sinis. Tiba-tiba ia gunakan ilmu menyusup suara kepada Bok Sam-pi „Tahukah Bok Lo-cianpwe saat ini berada di tempat apa?“
Bok Sam-pi sebenarnya hendak melontarkan pukulan lagi, tiba-tiba tertegun mendengar kata-kata Sin-bu Te-kun. Sesaat kemudian ia menyahut dengan ilmu menyusup suara juga „Apa hubungannya dengan diriku?“
„Banyak sekali lo-cianpwe, „kata Sin-bu-te-kun perlukah kukatan!“
„katakanlah!“
„Pertama, dihadapan sekian banyak jago-jago dari seluruh penjuru, kemarahan Cianpwe untuk bertempur dengan anak muda, dapat menurunkan derajat lo-cianpwe. Kedua, pertempuran di gunung Thay-heng-san antara Locianpwe dengan budak liar itu belum banyak yang tahu. Kalau sekarang cianpwe hendak mengulangi lagi, apakah tidak berarti memberitahukan orang ? ketiga 10 hari lagi budak itu tentu datang ke Sin-bu-kiong, akan kuatur supaya cianpwe dapat menghajarnya dan kusiapkan segala sesuatu agar budak itu jangan sampai dapat lolos dan keempat .....“
Bok sam-pi yang semula terlongong-longong itu tertawa mengekeh serunya „Benar! Benar! Kuterima usulmu .......“ kemudian ia berpaling kepada Thian-leng „Budak, kuberimu hidup 10 hari lagi!“
Dan tanpa menghiraukan ucapan orang lagi, jago tua itu embalikakn tubuhnya terus melangkah pergi dengan kepala menengadah.
Thian-leng meringis. Sekalipun ia tak tahu apa yang dibicarakan antara Sin-bu-Te-kun dengan Bok Sam-pi tadi, tetapi ia menduga bahwa Bok Sam-pi tentu kena ditipu. Diam-diam ia kasihan dengan Cianpwe tua yang hilang ingatannya itu. Sayang ia belum dapat mempelajari ilmu pengobatan dari kitab It-bi Siangjin, sehingga tak dapat menolong jago tua itu.
Bo Sam-pi tak menghiraukan semua orang. Dia terus melangkah keluar. Ketua Hek Gak segera memberi isyarat kepada anak buahnya. Seluruh rombongan Hek Gak pun segera mengikuti Bok Sam-pi. Sin-bu Te-kun, Lam-yau, Pak-koay, Bu-ciu suseng dan rombongan Sin-bu-kiong pun segera angkat kaki.
Karena pemimpin mereka tak memberi komando, anak buah Tiam-jong-pay dan Thiat-hiat-bun pun tak berani mencegah mereka.
Saat itu fajar mulai menyisingsing. Hanya kurang lebih setengah jam lamanya, Sin-bu-Te-kun dan ketua Hek Gak datang dengan semangat bernyala tetapi pergi dengan nyali ciut. Sekalipun hadirin menyaksikan kejadian itu tetapi mereka tak berani bicara hanya dalam hati saja. Ada sebagian besar yang masih menganggap bahwa pihak Sin-bu-kiong adalah bintang penolong yang akan menyelamatkan dunia persilatan Tiong-goan dari kekejaman Hun-tiong Sin-mo dan Thiat-hiat-bun.
Kepergian jago-jago yang mereka harapkan kemenagannya itu, meninggalkan kegelisahan dikalangan hadirin. Lebih-lebih ketiga Cuncia dari Siau-lim-si dan rombongan ke-9 partai. Mereka kenal Thian-leng. Mereka merasa berbuat salah pada pemuda itu karena telah melemparnya ke sungai. Rasa ketakutan segera mencengkram mereka. Biasanya anak muda tentu berdarah pana, pasti akan mendendam. Apabila pemuda itu akan menuntut balas, ah .... ngeri mereka membayangkan!
Tetapi apa yang terjadi benar-benar diluar dugaan mereka. Thian-leng sama sekali tak menghiraukan rombongan ke -9 partai. Tampaknya pemuda itu sudah lupa apa yang telah terjadi di selat Sing-sim-kiap dahulu,. Dia hanya sibuk berbicara dengan ketua Thiat-hiat-bun saja.
Yang lucu adalah kedua tokoh Im-yang songsat. Mulanya kedua orang itu ikut Cu Siau-bun tetapi ketika Thian-leng muncul, mereka segera melarikan diri terbirit-birit.
Sejenak menyapu pandangan keseluruh tempat perjamuan, jenggot perak tertawa serunya nyaring. „Berhubung ada sedikit keributan, maka sampai mengganggu tempat perjamuan ini, kuharap saudara-saudara suka memaafkan!“
Pernyataan ketua Thiat-hiat-bun itu benar-benar melonggarkan perasaan sesak di dada para tamu yang datang. Mereka tersipu-sipu membalas hormat kepada tuan rumah, suasanapun menjadi agak reda.
„Li Cian-bun!“ Tiba-tiba jenggot perak berseru kepada Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay.
L Cu-liong buru-buru maju „Apakah pesan gihu?“ kata ketua Thiat-hiat-bun dengan nada keren „Tempat pesta telah berubah menjadi ajang pertarungan. Kegembiraan tamu kita jadi terganggu ... entah makan waktu berapa lama untuk membersihkan tempat dan kursi yang berantakan kesana kemari?“
„Setengah jam cukup!“ sahut Li Cu-liong.
„kalau begitu harap Li Cian-bun menyuruh orangmu mengatur lagi!“
Li Cu-liong mengiyaka.
Jenggot perak menatap Thian-leng dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Tiba-tiba ia membalikan badan berjalan menuju markas Tiam-jong-pay. Walaupun kebakaran cukup besar tetapi di dalam markas masih terdapat banyak ruangan yang masih ut.
Jenggot perak tak menuju ke ruangan besar tetapi kebelakang markas. Disitu terdapat sebuah hutan kecil, walaupun tak lebat namun cukup sepi. Ketika berada di tengah hutan. Ia berhenti, tanpa memalingkan tubuh ia sudah tahu bahwa Pok Thian-bing, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, Siau-bun, Bu-song serta si pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay mengikutinya.
„Thiat-beng ....!“ serunya tanpa berpaling kepala.
„Gakhu (ayah mertua), apakah selama ini kau baik-baik saja?“ Thiat-beng tertegun menghela napas.
„Ngaco, apakah aku tak sehat?“ lengking si jenggot perak.
Thiat-beng kemerah-merahan wajahnya.
Jenggot perak tertawa, „Anak tolol, mengapa seorang yang sudah berumur 40-an tahun masih seperti kanak-kanak. Apakah tak mau mengakui kesalahan dulu?“
Thait-beng segera mendekati rombongan yang berada disitu, sesaat mukanya memerah. Tetapi tanpa ragu-ragu segera ia menghampiri Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun.
„Giok-bun, dahulu .... akulah yang bersalah!“ serunya dengan pelan-pelan
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun merasa bergetar dan malu-malu, namun karena dihadapan ada anaknya dan orang-orang yang telah bersamanya tadi, ia akhirnya menguatkan hati.
„Tujuh belas tahun lamanya!“ tiba-tiba mulutnya meluncurkan kata-kata
„Ya, ya, tujuh belas tahun ....“Thiat-beng menyahut, keduanya tenggelam dalam kenangan masa itu. Salah faham pada saat itu, menimbulkan berbagai duka nestapa. Banyak sekali hal-hal yang telah terjadi selama itu. Setelah berpisah, kini mereka bertemu. Lama mereka terdiam larut dalam kenangan mereka di masa lalu.
Thiat-beng, menyeka dua butir air matanya yang mengalir disela matanya „Giok-bun, aku ..... berdosa padamu, aku ....“
„Ah, kau tak salah, semua itu, akulah yang paling bersalah ....“
„Tidak!“ Thiat-beng memotong „kumaksudkan ... sejak kutinggalkan kau ....“
„Teringat akan ibu dan anaknya?“
„Oh, kau sudah tahu?“
„Aku tak menyesalinya, „kata Giok-bun „Aku tahu waktu itu kau kesepian?“
„Bukan maksudku untuk menghianatimu, selama tujuh belasa tahun itu telah banyak mengalami perubahan namun hatiku tidak setitikpun berubah. Walaupun kepergianku membawa semua kemarahan, kegalauan dan bermaksud untuk mengasingkan diri karena kekecewan hati ditambah aku beristeri lagi. Tak pernah aku melupakan dirimu. Sebenarnya kau berniat pulang, namun aku merasa takut kalau kau membenciku, maka .....
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tundukkan kepala penuh haru dan katanya „Akupun begitu juga, tetapi tak sekeras hatimu. Andaikata kutahu tempat tinggalmu tentu akan segera kususl!“
Thiat-beng menatap isterinya dengan penuh kasi „Giok-bun, maafkanlah aku, marilah kita susun kembali tali kasih kita dan mambangun kembali mahligai rumah tangga kita yang telah berantakan. Marilah kita ...“ Tiba-tiba terdengah isak tangis tersedu-sedan. Ah, kiranya Pok Lian-ci yang menggelandot di sebatang pohon.
Thiat-beng pun menghampiri „Ang-ko“ tetapi dara itu tak menghiraukan dan terus menangis. Pada saat itu Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun turut menghampirisambil tersenyum iapun berkata dangan ramah „Nak, apakah kau tak suka mempunyai ibu seprti aku?“
Tiba-tiba Pok Lian-ci mengangkat kepala dan tangan berserabutan menolak „Tidak, aku tak bermaksud begitu“
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun melangkah selangkah lagi kemudian memeluk Ang-ko „Nak, mengapa kau menangis?“
„seharusnya dahulu ayah tak membohongi aku! Kuteringat akan mendiang ibuku!“
Hati Pok Thiat-beng seperti disayat. Dua butir air mata mengalir dipelupuknya. Sampai lama mereka tak dapat berkata-kata apapun.
Tiba-tiba Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun memcah kesunyian „Siau-bun, mari kita pergi!“
„Pergi? Me...ngapa?“ Siau-bun tergagap.
Thait-beng terbelalak ketika ia mendengar bahwa puteri yang cantik dihadapannya adalah puterinya sendiri.
„Kau Siau-bun?“ serunya gugup
Tiba-tiba Siau-bun melengking serta merta menagis „Ayah, kau kejam ... dan menyiksa mama...“
Thiat-beng gelagapan, dan berpaling kepada Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun „Adakah karena Lian-ci, kau lantas mau pergi?“
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun gelengkan kepala „Sebagian memang begitu dan masih ada lagi yang mengganjal memaksaku harus pergi!“
„Beritahukanalah?“
„Tahukah kau bahwa kau adalah ahli waris dari Hun-tiong Sin-mo?“
„Ku .... tahu!“
„Tahukah kau mengapa aku memakai she CU?“
„Ini .... „Thiant-beng terkesiap sesaat, „aku tak tahu!“
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menghela napas, ujarnya „Kalau diceritakan panjang sekali. Saat ini hanya dapat kututurkan secara singkat. Jika dahulu tak berjumpa dengan seorang penolong ber she CU, mungkin kami ibu dan anak tentu sudah mati!
„Eh, mengapa kau tak memberitahukan hal itu kepadaku? Apakah kau mendapat ayah angkat?“ tiba-tiba jenggot perak menyelutuk.
„Hubungannya tidak samapai disitu saja!“ sahut Cu Giok-bun dengan tegas.
„lalu ....“
„Yah, kau hatus memafkan orang tua she Cu itu. Ia telah melepas budi sebesar lautan kepadaku. Dia tak ubah seperti ayah kandungku sendiri. Kalau tak ada dia, mungkin aku sudah mati dan tak akan mendapat suhu serta ahli waris dari Hun-tiong-hu.“
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula „karena itu maka aku telah mengucapkan sumpah dihadapannya, untuk merawatnya sampai mati dan megganti she dengan she Cu, menganggapnya sebagai ayah kandung sendiri.“
„Hai, bukankah dia tabib Sakti Cu Thian-hoan?“ celutuk jenggot perak.
Cu Giok-bun kerutkan alis „Benar, memang dia.
„Dia .. adalah sahabatku juga! Sekarang .. apakah dia sehat-sehat saja?“
Cu Giok-bun tertawa rawan, seorang yang banyak menolong jiwa manusia dan selalu berbuat kebajikan, pada hari tuanya malah menderita sakait“
„Eh, apakah sakitnya>’
„Entahlah, aku tidak tahu. Hanya kaki tangannya terasa lentuk tak bertenaga sama sekali. Bangun dan bergerak harus dibantu orang!“
„Dimana dia sekarang?“
„Di Hun-tiong-hu!“
Jenggot perak mengurut-urut jenggotnya, tertawa „Nak, meskipun kau berganti she CU, aku tak menyalahkanmu. Membalas budi adalah perbuatan yang mulia. Apalagi Cu Thian-hoan itu juga sahabatku sendiri.“
„setelah urusan ini selesai, mungkin aku hendak menjenguk ke Hun-tiong-san menyambangi si tua itu“ lanjutnyalagi.
„Kalau begitu, maaf aku hendak pulang dulu!“ kata Cu Giok-bun.
„Pulang ke Hung-tiong-san?“
„Ya, aku harus lekas-lekas menjenguk ayahku, „sahut Cu Giok-bun, kemudian ia memandang Thiat-beng, ujarnya „Tetapi nanti 10 hari lagi, aku hendak ke Sin-bu-kiong mencari budak hina Ma Hong-ing agar apa yang terjadi dahulu menjadi jelas semua!“
Thiat-beng hendak membuka mulut tetapi sukar untuk bicara.
„Siau-bun, apakah kau tak ikut mama?’ lalu dipandangnya Thian-leng dengan tatapan tajam. Thian-leng tersipu-sipu tundukan kepala. Banyak nian yang berkecamuk dalam hatinya sehingga sesaat tak dapat berkata-kata apa-apa.
Walaupun mulutnya mengiakan tetapi berat sekali kaki Siau-bun bergerak. Juga wajah jenggot perak tegang. Cu Giok-bun telah menceritakan kepadanya tentang hubungan Siau-bun dengan Thian-leng dan janji hidup mereka. Bahkan hubungan lebih lanjut, siau-bun sudah tak mau pergi.
Hanya Bu-song yang merasa agak tenang, ia yakin dan tak kuatir Thian-leng akan meninggalkannya karena Thian-leng dengan dirinya telah mengikat pertunagan dengannya. Biar Siau-bun berusaha setengah mati untuk merebut, tentu tak mungkin dapat merubah iakatan itu. Sayang, ia tak tahu apa yang terjadi antara Siau-bun dan tunanganya itu. Begitu pula hubungan Thian-leng dengan kedua taci beradik Ki, Bu-song sama sekali tidak tahu.
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tak sabar lagi. Memang sebenarnya ia tak bermaksud sungguh-sungguh mengajak putrinya pergi. Tetapi itu hanya siasat saja agar Thian-leng bereaksi. Tak disangka, diluar dugaan Thian-leng tak bereaksi apapun dan Siau-bun pun enggan pergi. Sesuatu yang membuat Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun risih.
„Siau-bun, karena kau tak suka ikut, terpaksa aku akan pergi sendiri!“ serunya sesaat kemudian.
Siau-bun tergopoh-gopoh menyusul, serunya dengan rawan „Ma, silakan berjalan dulu“ aku tentu akan menyusul!“
„Sesukamulah „kata Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun seraya melesat pergi.
Thiat-beng hendak mencegah, tetapi mulutnya serasa berat. Suasana hening seketika. Hanya angin pagi yang berhembus terasa menusuk dikulit.
Lian-ci sudah berhenti menagis. Kedua kelopak matanya bengkak. Kesunyian itu dikejutkan kedatangan sesosok bayangan, ternyata bayangan itu Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay yang melapor kepada jenggot perak bahwa perjamuan telah selesai dibereskan lagi.
„Apakah hidangan sudah disajikan“ tanya jenggot perak.
„Suadah!“
„Bagaimana sikap para tamu kita?“
„Ini ...“
„bagaimana“ tegur Jenggot perak
„tampaknya mereka diliputi kecemasan
Apapun yang Gihu rencanakan rupanya mereka hanya menurut saja, „jawab Li Cu-liong.
Jenggot perak melirik Bu-song. Thiat-beng dan lainnya. Ia paksakan tertawa „sebagai tuan rumah sudah tentu aku tak mau mengecewakan mereka“.
Thiat-beng mempersilakan ayah mertuanya. Walaupun memikirkan puterinya dan anak menatunya, namun jenggot perak terpaksa juga menjamu para tamunya.
Sepeninggal jenggot perak membuat tempat itu menjadi sepi. Siau-bun perlahan-lahan menghampiri Thian-leng, serunya lirih „Ling-koko!“
Baru pertama kali ia memanggil Thian-leng seperti itu. Suaranya bergetar. Wajah Thian-leng agak berubah. Ia menyurut mundur dua langkah. Mulutnya bergerak-gerak tetapi tak dapat mengucapkan kata-kata.
Pok thiat-beng pun kerutkan dahi, serunya „Siau-bun!“
Tahu Pok Thiat-beng itu ayahnya, tetapi karena sejak kecil tak pernah berkumpul jadi perasaan, Siau-bun biasa saja seperti ayahnya adalah orang asing.
„Ayah hendak berkata apa?“ serunya hambar
Thiat-beng sedikit banyak dapat mengetahui hubungan kedua anak muda itu, serunya dengan tegang „Thian-leng sekarang menjadi putera angkatku. Kalian harus memanggil kakak-adik!“
„memanggil kakak dan adik?
**********
Dendam dan Kasih
„berbahasa engkoh dan adik?“ tiba-tiba Siau-bun tertawa ricuh.
„Sudah selayaknya!“ sahut Thiat-beng.
Siau-bun tertawa manja „Yah, tahukah kau siapa diantara kami berdua lebih tua, bagaimana aku harus memanggilnya?“
Thiat-beng tertegun, ia ternyata puterinya orang yang lincah dan pandai bicara.
„Sudah tentu ayahmu tahu, panggillah ia engkoh!“
Tetapi siau-bun seorang gadis yang berhati keras, untuk menumpahkan kemengkalan, ia berseru dengan nada sinis „O, engkoj leng, kuhaturkan selamat padamu“.
„Adik ... Adik ....“Thian leng tergagap-gagap.
„Apa yang hendak kau katakan? Sia-bun tertawa dingin.
Merah seketika telingga Thian-leng „Mana aku berani memberi perintah padamu, hanya .... ada sesuatu yang akan kuberitahukan padamu!“
„Katakan saja!“
Baru Thian-leng hendak berkata, Bu-song sudah mendahului „Piauci, bolehkah aku bicara beberapa patah padamu?“
Siau-bun meliriknya „Tentu, apa halangan bicara sepatah-dua patah kata saja?“
Bu-song muramkan wajah „Apakah kau tahu dia berhubungan dengan aku?“
Siau-bun tertawa dingin „Mengapa tidak? Kakek telah menidodohkannya dengan kau, bukan?“
Wajah Bu-song merah „Kalau sudah tahu ya sudah. Tetapi mengapa kau terus mengodanya?
Seketika merahlah wajah Sia-bun, lengkingnya „Ngaco! Jika tak memandang muka kakek, tentu sudah kutampar mulutmu!“
Dan bertengkarlah kedua dara itu mereka sama-sama ngotot, tiada orangpun yang tahu apa persoalannya.
„Berhenti!“ tiba-tiba Thiat-beng membentak Bu-song yang hendak bicara. Nadanya menggeledek penuh wibawa. Kedua dara itupun bungkam. Mereka saling berpandangan dengan mata melotot.
Thiat-beng kerutkan dahi. Ditatapnya Siau-bun dengan tajam, „Apa katamu tadi ?“
Siau-bun tertegun. Sahutnya terbata-bata „Mengapa ayah tak langsung menanyainya?“ katanya seraya melirik pada Bu-song.
Bu-song merah pipinya dan menunduk.
Setelah memandang pada Thian-leng, Pok Thiat-beng pun menghamapiri Bu-song, serunya dengan tertawa „Bilanglah, putera-puteri persilatan pantang bersikap malu!“
Bu-song tenangkan hatinya lalu mengangkat muk. „Tak lama ini atas kehendak kakek, aku telah dijodohkan padanya!“
„Benarkah itu?“ Thiat-beng terkejut
„Silakan paman bertanya pada kaek!“
Thiat-beng menyurut mundur, keningnya agak mengerut dan mulutnya berkemak-kemik „Celaka! Celaka! Ini ....“ ia berpaling kepada Thian-leng serunya „Benarkah itu?“
„Thiat-beng banting-banting kaki „Mengapa tak kau katakan dari dulu?“
„Semula memang anak hendak menceritakan kepada gihu. Tetapi karena gihu melarang aku banyak bicara, jadi sampai sekarang belum ...“
Memang Thian-leng teringat hal itu dan bahkan pernah memaksa pemuda itu menikah dengan Ki Seng-wan.
„Ah, aku salah, akulah yang mencelakai kalian .... „Akhirnya ia menghela napas.
„Paman, apa kesalahanmu? Ini, apa artinya? Seru Bu-song dengan heran.
„Tahukah kau bahwa Thian-leng sudah menjadi suami orang?“ seru Thiat-beng.
Bu-song mendesak kaget „Apa?“
„Thian-leng sudah mempunyai Isteri!“
„Benarkah ...?“ Bu-song melengking kaget, seperti mendengar halilintar disiang bolong. Tubuhnya gemetar hampir tak kuat berdiri lagi. Ia tekan keras supaya darahnya jangan meluap-luap keluar dari mulut.
Juga Siau-bun gemetar. Wajahnya pucat seperti kertas. Hatinya terguncang tak kalah dengan Bu-song.
Sudah tentu sungguh!“ jawab Thiat-beng.
Bu-song segera alihkan matanya menatap Thian-leng, serunya kalap „Kau .... terlalu....“ dia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena tersekat oleh tangis.
„Tak dapat menyalahkannya, akulah yang bersalah!“ Thiat-beng menghela napas.
Bu-song mengusap air mtanya, ujarnya „Kalau begitu perkawinannya itu atas kehendak paman?“
„ben..... nar ....“
„Siapa isterinya?“
„Ki Seng-wan!
„Ki Seng-wan? .... eh, puteri kedua dari Sin-bu-kiong?“
„Ya, tetapi mereka berdua itu baik-baik, dan pula ....“
„Paman, aku benci pada paman“ tiba-tiba Bu-song menjerit.
Thiat-beng kerutkan dahi tak bicara. Dia tak tahu peristiwa Thian-leng dengan Bu-song. Jika tahu tentu takan dipaksanya Thian-leng menikah dengan Ki Seng-wan. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, Bu-song jadi membenciny, Thiat-beng tak dapat berbuat apa-apa.
Sebenarnya Bu-song hendak menghambur kemarahannya tetapi ketika melihat Thiat-beng terbengong-bengong diam, kemarahannya pun mereda. Tiba-tiba ia membalikkan diri dan melesat pergi..“
„Bu-song, kembalilah!“ Thiat-beng berseru kaget.
Tetapi dara itu tak mau memperdulikan, bahkan berteriak „Aku takkan kembali selama-lamanya bahkan takkan menemui kalian lagi!“
Sembari berlari dara itu sudah menyelinap jauh. Thiat-beng termangu-mangu tak dapat berbuat apa-apa. Mau mengejar tak enak, tidak mengejarpun tak enak. Bagaimana ia harus bertanggung jawab kepada Jenggot perak apabila dara itu mengalami musibah.“
„Adik Song, tunggulah!!“ tiba-tiba Siau-bun berteriak. Bu-song yang sudah jauh terpaksa berhenti. Dan Berpaling ia tertawa sinis, „perlu apa kau menyusulku ku? Apakah kau hendak menuduh aku melarikannya?“
Sebentar saja Siau-bun telah tiba dihadapan Bu-song „Adik Song, sekarang kita harus bersatu padau!“
„Apa gunanya?“ toh dia sudah menikah dengan orang lain!“
Siau-bun tertawa getir „Lalu bagaimana kalau menurut pendapatmu?“
„Kita aduk sampai kacau balau baru kemudian mencukur rambuk masuk jadi rahib!“
„Apakah cara itu tepat?“ Siau-bun tertawa tawar
„Lalu bagaimana pendapatmu?“
„Kalau tak dapat memperolehnya, jangan sampai orang lain bida mendapatkannya!“ sahut Siau-bun
„Tetapi orang sudah mendapatkannya, nasi sudah menjadi bubur, apa daya kita?“
„Hancurkan mereka!“ Siau-bun menjerit sengit
„Hancurkan .....“ Bu-song kerutkan dahi, lalu berseru „Bags, pikiranmu tepat!“
Siau-bun berseru gembira „Suami iateri yang berantakan jauh lebih menderita dari kekasih yang patah hati!“
Tiba-tiba Bu-song kerutkan kening „Rencana sih bagus bagaimana pelaksanaannya?“
„Eh, kau biasanya cerdik mengapa sekarang tak dapat memikirkan hal itu?“ Siau-bun tertawa.
Bu-song tersipu malu „Kalau kau hanya mengolok-olokku, lebih baik jangan menghabiskan waktuku!“
Siau-bun tersenyum lalu membisiki Bu-song, wajah Bu-song segera girang „Benar, siasatmu itu memang tepat. Kita memang bukan orang baik-baik. Jika tak suruh mereka merasakan pil pahit tentulah hati kita tak akan tentram. Demikianlah apabila hati sudah tercemar oleh nafsu dan dendampun membara bagai api dalam sekam. Kedua dara itu segera beranjak dari situ dan beberapa kali loncatan keduanya telah lenyap.
„Thian-leng, lekas kejar!“ serunya gelaagapan.
„Gihu ...“ baru Thian-leng hendak berkata. Thiat-beng sudah membentak „Lekas kejar!“
Thian-leng segera suruh kedua suami isteri Im yang songsat agar menunggu disitu dan iapun terus loncat menyusul.
**********
Menjerat Kerbau
Bu-song dan Siau-bun tahu Thian-leng bakal mengejar mereka berdua, namun mereka ternyata hanya pura-pura tak menghiraukan dan lari sekencang-kencangnya.
„Hei, kalian berhenti dulu „Teriak Thian-leng.
„Piauci, rencana berhasil manusia Lupa budi itu mengejar!“ Bu-song berseru kepada Siau-bun dengan ilmu menyusup suara.
Siau-bun punya menyahut dengan ilmu yang sama“ Asal rencana pertama berhasil, kemungkinan besar kita tentu berhasil!“
Kedua gadis itu mempercepat larinya. Sebenarnya Thian-leng dapat menyusul tetapi ia tahu watak kedua gadis yang keras kepala itu. Maka sengaja ia memperlambat larinya, agar kedua gadis itu tidak merasa direndahkan. Dalam skejap saja mereka telah berlarian sejauh 3 – 4 li jauhnya. Kedua gadis itu lari sekuat-kuatnya tanpa menghiraukan teriakan Thian-leng lagi.
„Akhirnya Thian-leng tak tahan lagi. Sekali empos semngat, ia melesat mendahului kedua gadis itu dan menghadang mereka „Harap kalian suka memandang mukaku“
„Orang She Pok, hendak apa kau!“ tukas Siau-bun.
„Kau hendank merintangai kami?“ lengking Bu-song.
Thian-leng tertawa hambar „Aku mempunyai kesukaran yang sulit untuk diceritakan, harap nona berdua suka memafkan ... sejak saat ini aku berjanji hendak meperlakaukan kalian berdua sebagai adik kandung. Untung .... „jangan Banyak bicara, lekas menyingkir!“ bentak Bu-song.
Siau-bun ikut menyelutuk „Menempuh beribu kesullitan sayang hanya bersua dengn orang yang tak bertanggung jawab. Adik song, mari kita ambil jalan lain saja!“
„Ya, ya mari kita belok jalan ini !“ sahut Bu-song seraya melesat kejurusan lain. Thian-leng cepat ayunkan diri menghadang mereka lagi „harap nona berdua berpikir masak-masak jangan hanya menuruti hawa nafsu“
Tetapi kedua nona itu tidak menghiraukannya dan tetap berjalan maju. Thian-leng terpaksa melintangkan kedua tangananya „Andaikata aku bersalah, harap nona suka ...“ „Eh, apakah kau hendak berkelahi?“ Teriak Siau-bun.
„Tidak!“ buru-buru Thian-leng menyahut.
„Kalau tidak mengapa kau gerakkan kaki dan tanganmu?“ teriak Bu-song.
Thian-leng tertawa meringis „Eh, mengapa kalian begitu pemarah?“
Kedua gadis itu tertawa dingin dan tetap melesat dari samping Thian-leng. Karena gugup, Thian-leng lintangkan lagi tangannya.
„Pui, laki dan perempuan tak boleh bersentuhan. Mengapa kau begitu tak tahu aturan?“ bentak Siau-bun. Tiba-tiba ia yaunkan tangannya.
Plak .... karena tak menduga, pipi Thian-leng kena tampar. Tampak ada gambar lima jari di pipinya. Dan diujung mulutnya mengalir darah.
Bu-song tertegun. Ia tak mengira kalau Siau-bun bertidandak sedemikian rupa. Tetapi melihat keadan Thian-leng yang meringis-ringsi, ia tertawa geli.
Thian-leng malu dan menyesal tetapi ia tak berani berkata apa-apa. Dilepasnya kedua gadis itu dengan penuh kebingungan. Beberapa saat kemudian, barulah ia melangkah mengikuti dari belakang.
Ia tahu bahwa kedua nona itu tentu mendendam sekali padanya. Mereka rela berkorban segalanya. Maka dapat dimengerti bagaimana kecewanya hati mereka ketika mendengar ia sudah menikah dengan orang lain. Melihat watak mereka, bukan mustahil mereka akan bertindak sesuatu yang tak diharapkan. Dan andaikata terjadi sesuatu pada mereka, bukan saja ia harus mempertanggungjawabkan dihadapan Jenggot perak dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, ia sendiri akan tersiksa seumur hidup.
Kalau yang mengikuti dicengkeram kecemasan. Lain halnya yang dikuti malah riang gembira berjalan perlahan-lahan sambil bercakap-cakap. Bagaikan tingkah pemburu, mereka mengambil jalan di lereng gunung curam.
Thian-leng benar-benar tersiksa perasannya tetapi tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengikuti saja kurang lebih 20-an tombak dibelakang mereka. Ketika matahari tenggelam barulah kedua nona itu berhenti disebuah kuil kecil.
„Taci, hari sudah malam, kita bermalam di kuil ini saja !“ kat Bu-song.
Siau-bun mengangguk „Baik, seharian suntuk perut kita tak diisi. Mari kita buat sate kelinci yang kutangkap di hutan tadi, „ Sahut Siau-bun.
Sambil bercakap-cakap diseling tertawa-tawa, kedua nona itu membuat api dan membakar kelinci. Tampaknya mereka riang gembira. Thian-leng yang bersembunyi di luar kuil, hanya mengigit jari saja. Bau sate kelinci yang dibawa oleh angin malam, benar-benar menglitik perutnya. Air liurnya beberapakali terpaksa ditelannya.
Tetapi karena sikap kedua nona yang begitu dingin, ia tak berani menghampiri kuil. Terpaksa ia mengawasi mereka dari luar.
Menjelang tengah malam, tak terdengar lagi percakapan kedua nona. Rupanya mereka tidur nyenyak di dekat api unggun. Sebaliknya Thian-leng tak berani memejamkan mata karena kuatir kedua nona itu lenyap.
Tiba-tiba dari dalam kuil terdengar suara ahelaan naps Bu-song. Benar-benar ia tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia memberanikan diri menghampiri kedalam kuil. Melangkah kedalam ruangan kuil, barulah hatinya lega. Kedua nona itu tidur disamping api unggun.
„Adik Bun .... Song, „Thian-leng membangunkan dengan perlahan-lahan.
Siau-bun menggeliat bangun „Eh, Orang she Pok, mengapa kau kemari lagi?“
„Apakah adik Song Sakit?“ sahut Thian-leng.
Tiba-tiba dara itu mencelat bangun „Aku sakit tau tidak, apa pedulimu“ ia tengkurap lagi.
Thian-leng terkesiap, serunya „Adik berdua ... mengapa kalian ini?’
Siau-bun tertawa tawar „Apakah kau benar-benar menaruh perhatian kepada kami?“
„Biarlah langit dan bumi menjadi saksi isi hatiku. Mengapa kaak dapat memaafkan aku?“
„Lalu mengapa kau....?“
Thian-leng menghela napas „Mengapa bisa terjadi hal itu, ah ....
Thian-leng masih menanyakan keadaan Bu-son.
„Jangan kuatir, dia hanya masuk angin karena mendongkol, „Jawab Siau-bun. Ia memberi minum dara itu sebutir pil.
Tak berapa lama dara itupun sudah dapat bangun. Tetapi ketika melihat Thian-leng ia segera melengos.
Sampai sekian lama Thian-leng terlongong-longong, baru ia dapat berkata „Apakah kalian masih marah kepadaku?“
„Seumur hidup membencimu, takkan kulupakan selam-lamanya!“ teriak Bu-song marah.
„Sekarang jangan ikut campur urusan kami lagi!“ celutuk Siau-bun.
Thian-leng menghela napas „Jika kalian tak mau pulang, akupun takut menemui Lu dan Cu Cianpwe dan ikut kalian terus!“
Siau-bun tertawa mengikik, „Percuma kau ikut, toh takan kupedulikan...“
„Apakah kalian benar-benar membenci aku sedemikian rupa?“ Thian-leng tertawa getir.
„Coba katakan apa maksudmu mengintai aku?“ Siau-bun tertawa dingin.
„Untu minta kalian pulang!“
„Boleh tetapi paling tidak harus memenuhi sebuah syarat!“ kata Siau-bun.
„Jangankan hanya sebuah 7-8 bahkan 10 syarat pun aku sanggup memenuhi!“ sahut Thian-leng serempak.
Siau-bun tertawa „Ah, sebenarnya bukan syarat yang sulit. Hanya asal kau mengatakan dengan sejujurnya!“
„Ah, aku tak pernah bohong. Silakan adik bun bertanya?“
Siau-bun melirik kepada Bu-song, ujarnya „Apakah pernikahanmu dengan Ki Seng-wan itu keluar dari hati yang tulus?’
„Bukan, karena didesak oleh ayahmu!“ sahut Thian-leng tegas.
„kau cinta padanya?“
„Ini .... dia pernah menolong jiwaku dengan ilmu Hian-im-kiu-coan dan karena itu ia telah kehilangan kehormatannya, maka ...“
„Dimana ia sekarang?“
„Di rumah ayahmu di Gunung Thay-heng-san!“
„Siau-bun tertawa datar dan berpaling kepada Bu-song „Adik, pertanyaanku sudah selesai.“
Bu-song mendengus serunya „Eh, sampai berapa jauh kau pelajari ilmu dari Kitab It-bi Siangjin itu?“
„Ah, belum seberapa,“ sahut Thian-leng
„Apakah ada ilmu mengobati binatang beracun jenis Tok-jong!“
„Ada, tetapi aku belum sempat mempelajarinya“
„Hm, pertanyaanku selesai .... tu ada sisa sate kelinci, silakan dimakan!“
„Aku tak lapar!“
„Kau takut sate itu beracun?“ Bu-song delikan mata.
„Ah, adik Song keliwat menghina?“ Kata Thian-leng terus menyambar paha kelinci dan dimakannya.
Tetapi begitu daging kelinci masuk dalam perut, perutnya seperti diudek. Serangkum hawa muak menghambur keatas. Kepalanya serasa pusing dan bluk ..... jatuhlah ia dan tak sadarkan diri.
„Hola, Taci, rencana kedua, berhasil!“ Bu-songpun tertawa mengikik.
„Jangan lagi kedua, sampai habispun tentu berhasil!“ sahut Siau-bun, Mana ayam alasnya?“
Bu-song mengambil seeokor ayam hutan dari meja. Kaki ayam itu diikat kencang. Siau-bun menyambut dengan gembira. Dirobeknya baju Thian-leng sedikit dibagian dada.
„Rencana ketiga mungkin berhasil!“ tiba-tiba
„Apa sebabbnya?“ Siau-bun heran.
„Jika aku, tentu tak mau kemari!“
Siau-bun tertawa „sayang wanita itu tak secerdas kau. Jika ia datang. Aku berani memberikan batang kepalaku kepadamu!“
„Apa yang hendak kau tulis?“
„Sederhana saja, lihatlah!“ Siau-bun segera menusuk ayam hutan dan memote kepalanya. Kemudian ia gunakan darah ayam itu untuk menulis dibaju Thian-leng :
Kepada Isteriku Seng-wan
Aku kena racun, jiwaku tak dapat tertolong.
Entah siang entah malam tentu mati.
Harap lekas datang ke puncak Ceng-liong-ma
Gunung Tiam-jong-san di kuil gunung.
Thian-leng
Dibelakanh baju itu ditulis pula kata-kata „penting“
„Wanita hina itu jika menerima surat ini tentu segera datang dan tentu menangis sedih, „ kata Siau-bun.
„Ya,ya, kita lihat pertunjukkan itu disini. Kemudian kita cari akal lagi untuk menyiksanya lebih lanjut. Ah, Taci cerdik.... eh, tetapi bagaimana mengirimkan surat ini?“
„Dia sekarang adalah ketua Kay-pang. Anak buah Partai Kay-pang banyak sekali. Asal kita mencari seorang anakbuahnya, surat berdarah ini tentu segera disampaikan pada penerimanya....“
„Thy-heng-san jauh sekali. Taruh kata wanita itu segera berangkat paling tidak juga memakan waktu seminggu. Dalam jangka waktu sekian lama apakah takkan terjadi sesuatu?“ Bu-song merasa kuatir.
„setelah menerima surat ini, dia tentu segera berangkat dan menempuh perjalanan siang dan malam. Mungkin dalam waktu 3-4 hari tentu tiba di gunung Thay-heng-san. Terjadinya perubahan, memang sukar diduga. Tetapi paling tidak pemuda ini tetap berada dalam tangan kita!“
„benar, benar, Bu-song tertawa tetapi sampai berapa lama kekuatan obat tidur itu?“
„Jika orang biasa tentu tertidur selama 10 jam. Tetapi karena dia yang makan, mungkin hanya atahan dua jam saja“
Bu-song tertawa. Tiba-tiba ia mainkan jarinya menotok seluruh tubuh Thian-leng, Nah, begini dia tentu tak berdaya lagi. Biarlah dia bangun tak jadi soal!“
„Mengapa?“
„Seluruh jalan darah di tubuhnya telah ku totok, hanya kutinggalkan jalan darah pembisu. Nanti kalau bangun, dia hanya dapat mendengar dan bicara tetapi tak dapat bergerak ...
„Mungkin tak semudah itu....“Diluar dugaan Siau-bun membantah.
„Eh, mengapa?“ Bu-song terkejut, „apakah ada orang yang hendak melindunginya?“
„Bukan begitu maksudku, Siaubun tertawa“ Kukuatir ilmu totokanmu tak mempan kepadanya!“
Bu-song terkejut : „Ya, Ya, benar. Dia sudah mendapatkan pelajaran sakti dari It-bi Siangjin. Mungkin tentu dapat mengatasi totokanku dengan mudah.“
Kedua nona itu bingung.
„Jika tak dapat melumpuhkan kepandaiannya atau memotong kedua kakinya, rasanya sukar untuk menguasai pemuda ini, „ akhirnya Bu-song berkata.
„Ah, tidak perlu begitu, „Siau-bun menghibur, meskipun kepandaiannya telah sempurna sehingga ia kebal di tootok jalan darahnya, tetapi dia tentu tak berdaya pabila diikat dengan semacam tali istimewa. Misalnya tali dari urat ular atau ulat sutera dan sebagainya.
„Tetapi benda itu sukar di dapat. Dan saat ini kita berada di tengah gunung yang terpencil. Kemana hendak kita cari?“ bantah Bu-song.
„Kalau kau dapat menyulap?“
„Menyulap?“ Bu-song terkejut heran... „Apakah kau sudah membawanya?“
Dari bajunya Siau-bun mengeluarkan dua kerat otot ular besar, serunya „Telah lama kusimpang benda ini. Bukan karena khusus untuk menangkap pemuda ini tetapi memang menjadi alat-alat yang kubekal. Ah, tk kira hari ini ada gunanya!“
„Memang banyak hal-hal yang tadk terduka. Ayo, kita ikat saja dia!“ seru Bu-song.
Dara itu segera menyambar tali dari Siau-bun terus diikatnya tubuh Thian-leng sekencang-kencangnya.
„Sekarang kita harus cari anggota Kay-pang untuk mengirimkan surat ini kepada perempuan hina itu ...“Kata Siau-bun.
„Aku yang menunggu disini, silakan taci yang mencari!“ kata Bu-song.
Setelah menyimpan robekan baju yang bertuliskan darah. Siau-bun segera pergi. Ia tak faham jalan digunung situ apalagi di tengah malam. Hampir sejam lamanya baru ia dapat mencapai kaki gunung dan berhasil menemukan seorang anak buah Kay-pang.
Demi mendengar ketuanya sakit, pengemis itu pucat. Segera ia menyerahkan surat darah itu kepada kepalanya. Siau-bunpun tergesa-gesa bergegas kembali ke gunung. Tiba di kuil, hari sudah hampir terang tanah. Thian-leng pun sudah terjaga tetapi matanya tetap meram dan terdiam. Kedua belah pipinya terdapat jalur-jalur bekas merah biru, mulutnyapun berdarah. Bekas itu adalah hasil tamparan dari Bu-song.
Siau-bun kerutkan dahi, „Perempuan hina itu tentu beberapa ari baru dapat tiba disini. Tak perlu buru-buru menyiksanya. Jika dia sampai mati, urusan malah menjadi ....“
„Dia pernah berjanji mengikat jodoh dengan aku. Sedang aku tak merasa kasihan sedikitpun kepadanya mengapa kau berbalik hendak membelanya?“ Bu-song melengking.
Siau-bun tertawa dingin, „Banyak sekala hal-hal di dunia diluar dugaan manusia. Memang hati manusia sukar diduga. Dia sudah berjanji menikah dengan kau mengapa bisa jatuh dipelukan oran lain. Sejak ini mungkin ......
Dada Bu-song berdegup kencang, „Tunggu kalau perempuan hina itu sudah datang, dihadapannya nanti tentu kubunuh lalu kucincang perempuan hina itu, barulah hatiku puas!.
Begitulah hati manusia pabila diselimuti rasa dendam, kecewa sehingga tidak lagi berpikir panjang, dengan pikiran sempit itu dia gunakan untuk melampiaskan nafsunya. Nafsu yang berlebihan akan menimbulkan sengsara dan selanjutnya dihadapan orang dia buka lagi manusia, tetapi manusia yang dikuasai nafsu.
Apa katamu?“ sekonyong-konyong Thian-leng membuka mata dan berteriak.
Bu-song terkesiap. Katanya pada saat ini aku tak mau bicara padamu, mengapa kau bertanya?“
„Jika kalian benci padaku, bunuhlah segera tetapi jangan memaki aku sebagai orang yang yak kenal budi, sahut Thian-leng. Kemudian lantas ia berkata lagi ketahuilai .... ia berhenti sejenak, „Walaupun jagad raya tak terbatas luasnya tetapi kekuasan Allah tiada barasnya. Jangan nona berdua lekas berputus asa!“
„Apakah kau hendak menasehati kami?“ bentak Bu-song dengan marah. Plak .... ia memberi sebuah tamparan lagi.
Pipi Thian-leng makin begap. Pemuda itu tak dapat menahan kemarahannya lagi, „Akulah yang buta sehingga tak dapat mengetahui bahwa kalian ternyata beini buas!“
„Hm, kau toh sudah mendapat ilmu sakti dari It-bi Siangjin, mengapa tak mampu melepaskan diri dari tali itu saja?“ ayo, mari kita bertempur!“
Thian-leng benar-benar marah sekali. Ia mulai meronta-ronta, mengerahkan tenaganya.
„Hi, Hi, hiiiiiiiihi ..hi „Siau-bun tertawa, „tali itu walaupun tampaknya kecil tetapi tak mudah putus. Asal kau mampu memutuskannya, tak perlu bertempur lagi aku dan adik song segera akan bunuh diri!“
Thian-leng hentikan usahanya. Memang tak perlu dinasehati, ia sudah mencoba kekuatan tali itu. Jika bukan tali dari urat ular tentulah dari ulat Thian-jan yang jarang terdapat di dunia. Betapun saktinya tentu tak mungkin dapat memutuskan tali itu.
Ia menghela napas, serunya perlahan , „katakan, apa maksud kalin ini?“
‚Pada saatnya tentu kau tahu sendiri. Sekarang kau harus menderita beberapa hari dulu!“ seru Bu-song.
„Adik Song, kasih tahu dong!“ Siau-bun tertawa
„Mengapa?“
„Adik Song, kau toh seorang cerdik, mengapa harus kuterangkan lagi, Dia toh sat ini menjadi tawanan kita. Takut apa kita beritahu padanya?“
Bu-song bertepuk tangan serunya „Ya, ya, benar, Tih perempuan hina itu baru 4 -5 hari lagi datang. Kita beritahukan dia agar dia bisa merenungkan!“
Hati Thian-leng seperti disayat, serunya „Katakanlah, sebenarnya ......“
Bu-song tertawa, „Biarlah kukatakan sekarang. Ki-seng-wan dalam 4 -5 hari tentu datang kemari.“
Thian-leng terkejut, „bagaimana kau tahu?“
„Kami yang memanggilnya!“ sahut Bu-song
„tidak akan dia datang bila itu perintahmu, jawab Thian-leng.
„Jika ia tk datang, kau akan kubebaskan dan aku akan bunuh diri!“ seru Bu-song.
Apa yang kalain rencanakan?“
„O, kau sungguh tak mengerti?“ Bu-song tertawa.
Dipandangnya baju Thian-leng yang robek dan bangkai ayam hutan lalu tertawa mengikik, „kami telah membuat surat palsu yang ditulis dengan darah ayam. Dan telah menyerahkan surat itu kepada anak buah Kay-pang supaya diantarkan ke Tahay-heng-san. Dalam surat itu kukatakan bahwa kau tengah meregang nyawa karena keracunan dan minta perempuan hina itu segera datang.“
„Keji sekali!“ damprat Thian-leng.
„Terhadap manusia rendah budi semacam kau terpaksa harus dihadapi dengan siasat begitu. Tunggu saja pertunjukan yang lebih bagus bila perempuan hina itu datang nanti.!“
Thian leng tak dapat berbuat apa-apa kecuali menghela napas dalam-dalam. Ia tahu bahwa keganasan kedu nona itu disebabkan kekecewaan hatinya. Patah hatinya karena merasa dihiati cintanya.
Haripun makin terang. Akhirnya Siau-bun menghela napas, „Dik,song aku lelah. Harap kau yang jaga dulu.“
Memang Siau-bun letih. Letih tenaga dan hati. Sekalipun saat itu ia mendapat kemenangan, tetapi hatinya rawan sekali. Tak beberapa lama iapun tertidur pulas.
Setelah memberi tamparan beberapa kali, hati Bu-songpun longgar sekali. Karena mengingat kuil disitu sunyi senyap dan tak mungkin terjadi apa-apa maka iapun mulai mengantuk dan sayup-sayup mulai meremkan mata.
Tiba-tiba pada saat itu, serangkum angin dingin menghambur dari belakang. Ia terkejut dan cepat loncat bangun tetapi terlambat. Angin itu merupakan angin tenaga totokan jari yang tak bersuara. Pada saat ia hendak menggeliat bangun, jalan darah bagian Ciang-tay-hiat sudah terkena. Bum,/.... iapun jatuh terkulai.
Suara benda jatuh itu membangunkan Siau-bun. Jelas dilihatnya bahwa seorang manusia aneh yang bermuka hitam sekali dan berambut putih, berpakaian warna merah tengah menotok roboh Bu-song. Dan kini orang itu tengah menyerangnya.
Kejut Siau-bun bukan kepalang. Walaupun tengah tidur, tetapi suara yang ditimbulkan dari beberapa puluh tombak ia dapat mengetahuinya. Anehnya orang itu muncul tanpa suara sama sekali, dan cara-cara serangannyapun luar biasa sekali. Kalau Bu-song tak roboh tentu dia tak tahu sama sekali.
Cepat-cepat Siau-bun berjumpalitan sampai 5 meter jauhnya sehingga ia dapat terhindar dari serangan orang aneh itu.
„Lekas bukakan ikatan ku. Kau bukan tandingan orang itu!“ terdengar Thian-leng berseru kepada Siau-bun. Tetapi siau-bun tak menghirauka. Ia tahu bahwa manusia aneh itu tentulah seorang tokoh sakti. Cepat ia sambitkan passer Tui-hong-kiong. Kaki, perut dan tenggorokan orang itu diserangnya sekaligus.
Tring, tring tring ..... terdengar orang aneh itu mengekeh dan menangkis jatuh tui-hong-kiam. Menyusul ia gerakkan tangan kiri. Dari lima jarinya terdengar angin mendesis-desis menyambar ke arah Siau-bun.
Siau-bun terkejut dan tergopoh-gopoh loncat menghindar. Hanya sedikit memakai tenaga kaki, orang aneh itu sudah melesat ketengah-tengah Siau-bun dan Thian-leng.
Karena tak berkutik Thian-leng hanya dapat mengawasi kejadian itu dengan mata melotot.
Siau-bun mencabut pedang. Tiga jurus dilancarkan kearah orang aneh itu. Suaranya menderu-deru, sinarnya berkiblatan laksan kilat menyambar. Jurus itu dinamakan Toh beng sam-kiam atau Pedang pencabut nyawa. Sejak kecil Siau-bun sudah meyakinkan sehingga sudah mendarah daging.
Orang aneh itu tetap tak memakai senjata. Dengan sepuluh jari yang runcing seperti cakar besi ia menyambar pedang Siau-bun.
„Siluman, kau hendak cari mapus!“ teriak Siau-bun. Ia percepat gerak permainannya. Segulung sinar perak berhamburan menyilaukan mata.
Orang aneh itu tetap tak berkisar. Matanya berapi-api membentaknya „Serahkan!“
*******
bagaimanakah nasib Thian-leng, siau-bun dan Bu-song setelah dikuil itu... kedatangan Hok Mo Tongcu ????
Hok Mo Tong-cu
Tring, Tring .... tahu-tahu pedang Siau-bun sudah berpindah ke tangan si orang aneh.
Kepandaian orang aneh itu benar-benar mengagumkan. Bukan hanya Siau-bun, Thian-leng yang masih terikat kaki dan tangannya itupun tercengang-cengang.
„Budak perempuan, ayo keluarkan kepandaianmu lagi!“ seru orang aneh itu seraya tertawa mengikik.
Siau-bun kaget dan marah sekali. Dengan berteriak kalap macam orng gila, sambitkan tui-hong-kiam lagi.
„Eh, mainan anak kecil itu hendak kau pertunjukan dihadapanku?“ orang aneh itu tertawa gelak. Seraya menyapu dengan tangannya. Tring, tring, Tui-hong-kiam berhamburan jatuh.
„Siapkah kau?“ Siau-bun bengong keget.
„Aku adlah naganya manusia, mengapa kau katakan siluman?“ orang aneh berbaju merah itu tertawa.
„Siapa kau?“ siau-bun membentak lagi
„Aku adalah Hok Mo tongcu .... pernahkah kau mendengarnya?“
„Apa itu? Siap akenal dengan bangsa manusia tak bernama!“ teriak Siau-bun
Hok-mo-tong-cu atau kepala dari goa Ho-mo tong tertawa dingin „Benar“ memang aku bukan manusia ternama. Tetapi banyak sudah tokoh-tokoh terkenal yang menyembah kakiku ...“ ia pendaangannya diarahkan ke nona lalu berkata pula „Jadi kau tak memandang mata kepalaku?’
Siau-bun belalkan matanya. Thian-leng masih terikat sedang Bu-song sudah tertotok jalan darahnya. Menghadapi manusia setengah siluman yang berkepandaian sakti it, ia benar-benar bingung.
„O, jadi kau menganggap dirimu sebagai tokoh nomor satu di dunia?“ serunya sesaat kemudian.
„Lalu apa maksudmu datang kemari?“
Orang aneh itu kembali tertegun. Tiba-tiba ia membentak keras „Budak perempuan, kau terlalu lancang!
Siau-bun tak menghiraukan melanjutkan kata-katanya „Kalau kau menganggap dirimu tokoh nomor satu di dunia beranikah kau bertanding dengan jagoku?“ cukup 3 jurus saja, asal kau mempu menerima pukulannya, aku sedia menyerah padamu!“
„Siapa?“ dengus Hok-mo-tong-cu
„Dia!“ siaubun menunjuk pada Thian-leng.
Wajah si orang aneh yang hitam seperti pantat kuali, tampak berubah“ pada lain saat ia tertawa nyaring.
„Dia seorang pemuda yang lemah, bagaimana aku sudi bertanding dengannya?’“Jangan pakai alasan ini- itu pokoknya, kau berani atau tidak?“ Teriak Siau-bun.
Mata Hok-mo-tong-cu berkeliaran, serunya mengejek „Jika dia sakti, mengapa diringkus orang sampai tak berkutik?’
Siau-bun hendak membikin panas hati orang aneh itu sehingga memberi kesempatan padanya untuk membuka ikatan Thian-leng. Tetapi ternyata walaupun tampaknya ketolol-tololan, orang aneh itu cerdik juga. Dia tak kenaa diakali.
Thian-leng tak kurang gelisahnya. Tetapi karena masih terikat. Ia tak dpat berbuat apa-apa.
Pada saat itu Bu-songpun sudah berusaha keras untuk menyalurkantenaga dalamnya. Tetapi sampai detik ituia belum berhasil membuka jalan darah yang tertotok.
„Heh, heh, budak perempuan, kau tunduk atau tidak kepadaku?“ tiba-tiba manusia aneh itu tertawa mengekeh.
„Huh, siapa sudi mendengar ocehanmu....“ dengus Siau-bun. Ia terus mengulur waktu sambil mencari akal.
Orang aneh itu menatap Siau-bun tajam-tajam. Tiba-tiba ia tertwa mengikik „Budak perempuan, aku hendak bertnaya padamu. Asal kau jawab sejujurnya tentu takkan kubikin susah. Tetapi kalau berani bohong, kalian tentu akan kusiksa satu demi satu!“
„katakanlah!“ jawab Siau-bun.
Hok –motong-cu melirik Thian-leng, serunya „Apakah dia benar Bu-beng-jin yang telah mendapat ilmu pelajaran dari It-bi siangjin itu?“
„Hm, kini kau mulai membuka kartu, „kata Siau-bun
„kalau benar bagaimana, kalau bukan bagaimana?“
Ho-mo-tong-cu membentak, „kuhanya minta kau menjawab sejujurnya. Jika kau banyak mulut jangan menyesal bila aku bertindak telengas. Tntu kuberimu sedikit hajaran.... lekas bilang, apakah dia benar Bu-bung-jin?“
„Benar!“ Siau-bun terkejut.
Hok mo Tong-cu tertawa puas. „Benda apapun di dunia ingin kudapat kecuali satu ialah kitab pusaka peninggalan It-bi Siangjin. „Ia berhenti sejenak lalu menyambung kata pula. „Apakah kitab itu berada padanya?“
„Tanya saja sendiri padanya?“ balas Siau-bun.
Hok-mo-tong-cu tersenyum, „Kukira wanita mudah bicara terus terang“
„Mungkin kau buta!“ Siau-bun tertawa mengikik. Jangan-jangan aku memang tidak tahu, jangan kau harap dapat mencari keterangan dariku.
Hok mo-tong-cu marah, „Rupanya tulangmu keras sekali, budak! Jika tak kuberi hajaran tentu tak mau berkata terus terang!“ tiba-tiba ia mencengkeram bahu Siau-bun.
Karena pedang dan senjata rahasianya tak mampu melawan Siau-bun putus asa. Dengan berteriak seperti orang gila ia menerjang manusia aneh itu. Tetapi ia terkejut sekali karena tahu-tahu tenaganya hilang. Yang dirasakan hanya angin dingin yang menghambur dari kelima jari Hok mo-tong-cu, tahu-tahu tenaganya terbawa hanyut. Dan yang lebih mengejutkan, jari-jari berhawa dingin dari Ho-mo-tong-cu itu langsung menusuknya.
Siau-bun sudah kehilangan daya perlawanan. Ia kerahkan tenaganya untuk berguling ke tanah. Keadaannya benar-benar pontang-panting.
Sebenarnya Hok-mo-tong-cu tak bersungguh-sungguh melakukannya. Tetapi ia sengaja menggembor dan melesat mendekati. Tangannya diangkat hendak dihantamkan.
„Berhenti!’ teriak Thian-leng.
Ho-mo-ton-cu tertawa sinis. Ia hentikan tinjunya, „Heh, heh, kau hendak mengaku“
Thian-leng berteriak „kau seornag tong-cu, mengapa kau hendak menganiaya anak perempuanapakah kau tak malu?
„selamanya aku mementingkan tujuanku!“ Hok-mo tong-cu tertawa.
„Manusia rendah!“ damptar Thian-leng.
Kesempatan itu digunakan oleh Siau-bun ketika mereka sedang beradu mulut, diam-diam dia beringsut kedekat Thian-leng. Secepat kilat ia hendak membuka tali pengikat pemuda itu.
Tetapi niatnya itu tidak terlepas dari mata Ho Mo-tong-cu. Dengan tertawa mengekeh, ia balikkan tangannya. Serangkum asap putih mentyambar kearah Siau-bun. Krek, ..... jalan darah Ciang-thay-hiat terkenan totok. Robohlah Siau-bun seketika.
„Iblis tua, jangan melukainya!“ teriak Thian-leng.
„Heh, heh, erat sekali hubungan kalian. Mereka berdua telah mengikatmu dan menyiksamu masih begitu sayang kepada merka, hm, jarang sekali ada orang semacama kau.....“ Hok mo-ton-cu tertawa mengejek.
Sejenak dia pandanagi ketiga anak muda itu, tokoh itu kembali berseru : „Karena kau begitu sayang kepada mereka, baiklah hendak kusiksa mereka supaya kau dapat menikmati!
Ia menutup kata-katanya dengan mencengkeram bahu Siau-bun. Karena jalan darahnya tertotok, Siau-bun tak dapat berbuat apa-apa. Ia meramkan mata menerima nasib.
„Jangan menyiksanya, baik, akan kuberitahukan!“ teriak Thian-leng.
„Kau bawa?“ Hok mo-tong-cu hentikan tangannya.
„Tidak, tetapi aku dapat mengantar kau!“
Hok-mo-tong-cu sangsi „Tetapi, ingat jangan kau berani menipuku atau kalian bertiga akan kusiksa sampai mati!“
„Bagaimana agar kau percya?“
„Bersumpahlah!“
Tanpa ragu-ragu Thian-leng segera mengucapkan sumpah berat.
„Dimana tempatnya?“ Hok-mo-tong-cu tertawa pusa. „Sudah tentu berada di gunung Thay-heng-san!“
Hok-mo-tong-cu merenu ng sejenak, ujarnya. „Kalau siang malam menempuh perjalanan, lima hari baru sampai, hm, tak palah, karena kau sudah bersumpah, akaibatnya kau tentu dapat membayangkan sendiri.
Thian-leng tertawa „Sekali meluluskan sudah tentu takan bohong. Lekas lepaskan aku dan marilah kita berangkat!“
Ho-mo-tong-cu tertawa mengekeh, „Budak enak sekali kau bicara. Selai kulepas, habislah segala jerih payahku“
Ia mengeluarkan sebuah karuung dari kain hitam, serunya „Biarlah dalam beberapa hari aku memeras tenaga dan kaupun perlu menderita sedikit.
Habis berkata, ia terus menjinjing Thian-leng dan dimasukkan kedalam karung. Lalu dipanggulnya. Dalam keadaan begitu, tiada seorangpun yang mengira iblis itu membawa karung berisi manusia.
Siau-bun dan Bu-song walaupun tak berkutik, tetapi pikiran mereka masih sadar. Mereka menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada diri Thian-leng. Diam-diam timbullah rasa sesalnya.
Tiba-tiba Hok-mo-Tong-cu hentikan langkah dan berbalik. Ia mengambil 2 butir pil merah, serunya „JIKA gagal mendapatkan kitab pusaka It-bi Siangjin, aku akan kembali menyembelih kalian. Tetapi pulang pergi kesana paling tidak memakan waktu 10 harian. Agar kalian jangan sampai mati kelaparan, kuberi masing-masing sebutir pil tahan lapar.“
Ia susupkan pil itu kemulut Siau-bun dan Bu-song „Kuil yang kalin pilih ini memang tepat. Tak akan ada orang yang datang kemari, takkan ada orang yang mengetahui kalian!“
Hok-mo-tong-cu pun lenyap. Tak berapa lama haripun terang. Sinar matahari mulai merembes di celah-celah retakan dinding kuil, seolah berusaha menerobos masuk untuk membantu mengeringkan air mata yang membasahi pipi kedua dara itu.
Siau-bun dan Bu-song membasuh muka mereka dengan kucuran air mata. Beberapa saat mereka bungkam dibenam penyesalan.
„Taci, kita salah perhitungan!“ Kata Bu-song.
„Siau-bun mendengus „Bukan rencana kita yang salah tetapi karena diganggu oleh kejadian yang tak diduga-duga!“
Bu-song menhela naps „Bagaimana juga, kita mencelakai orang akhirnya diri kita sendiri...
„Kau menyesal?“
Bu-song tertegun, serunya „Aku tak menyesal. Yang penting sekarang kita harus cari akal bagaimana supaya jangan tersiksa begini!“
„jangan takut!“ Kata siau-bun, „Dia hanya menotok jalan darah kita. Beberapa sat lagi kita tentu dapat terlepas!“
Bu-song tersenyum tawar „Ah, percuma. Ilmu totok iblis itu berbeda dengan yang lain. Kalau tak percaya boleh kau coba!“
Siau-bun diam-diam kerahkan tenaganya. Tetapi sampai sepeminuman teh lamanya belum juga ia berhasil membuka jalan darahnya.
„Bagaimana?“ Bu-song tertawa rawan. „Rupanya kita harus menunggu ajal dengan perlahan!“
Siau-bun pun tertawa sinis „ „Ah, belum tentu kita toh masih mempunyai waktu lima hari. Perempuan hina Ki-seng-wan itu tentu datang kemari.
Siau-bun menghela napas. „Apa boleh buat kalau memang harus begitu!“
„Manusia berdaya, tuhan yang kuasa. Taci, bun. Kutetap menganggap rencana kita ini gagal.
Siau-bun tak menyahut. Dan memang ia tak mempunyai bahan yang dapat dikatakan lagi. Adalah karena munculnya iblis Hok mo-tong cu itu maka rencananya gagal total bahkan dirinya sendiripun celaka.
Kembali mereka terdiam.
Daerah gunung Ceng-liong-nia memang daerah terpencil jarang didatangi masuisa. Meskipun siang hari. Tak tampak manusia atau binatang yang berkeliaran. Dan haripun berganti malam, berarti mereka telah tersiksa sehari.
Hari keduapun tak ada perubahan. Demikian ketika dan keempat hari yang kelimapun tiba.
Menjelang magrib, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki orang berlari-lari mendatangi.
„Dia datang....“Bisik Siau-bun.
„Tetapi agaknya bukan seorang, apakah tidak .....“baru Bu-song berkata sampai disitu. Sesosok bayangan warna ungu dan hijau menerobos dalam kuil. Ah, pendatang itu bukan lain kakak beradik Ki Gwat-wan dan Ki-Seng-wan.
Wajah mereka kumal penuh debu dan tampaknya letih sekali. Serunya „adik apa yang kukatakan benar, kok siangkong mempunyai kepandaian yang sakti, mungkin sat ini ia terhitung jago nomor satu. Tetapi mengapa bisa keracunan. Dan taruh kata keracunan mengapa tidak diangkut pulang oleh anak buah Kay-pang? Melainkan hanya mengirim surat memanggil kau kemari. Dan lagi, bukanlah dia bersama gihu menuju gunung Tiam-jong-san? Sekarang mengapa gihu tak tampak.?
Ki-Seng-wan menghela napas, „Kita harus percaya apa yang terjadi. Memang aku tak pernah pikir begitu jauh. Ia melirik kerah Bu-song dan Siau-bun lalu tertawa dingin. „Bangunlah! Karena kalian sudah berhasil menipu kami berdua kemari, ayo bangun dan bereskan perhitungan. Mengapa kalian pura-pura menggeletak disitu?’
Tetapi Siau-bun dan BU-song tak menyahut dan tak bergerak. Suatu hal yang menimbulkan keheranan kedua kakak beradik KI itu.
Apa kalian bisu?“ tegur Ki Seng-wan.
Siau-bun dan Bu-song tetap membisu.
Walaupun marah tetapi diam-diam hati ki Seng-wan kasihan juga. Ia tahu bahwa dirinya telah dijebak kedua dara itu. Tetapi karena Thian-leng tak berada disitu, berarti tentu selamat. Bahwa pemuda itu terkena racun, tentu isapan jempol saja.
„takkan kubenci kalian asal kalian mau mengatakan dia sekarang? Katanya Siaubun dan Bu-song. Tetapi Gwat-wan cepat menarik adiknya „Tak perlu tanya mereka, masakan kita tak mampu mencari sendiri?“
Tetapi dunia begini luas, kemana kita harus mencarinya? Seng-wan meragu.
Gwat-wan tertawa dingin, „Dia toh hadir dalam rapat Eng-hiong tay-hwe digunung Tiam-jong-san. Kita kesana tentu dapat menemuinya. Paling tidak kita dapat bertanya pada orang!“
„Bebar, benar, ayo, kita kesana!“ seru Sen g-wan seraya terus hendak melangkah pergi.
„Tunggu!“ tiba-tiba Siaubun berseru „Eh, mengapa? Apa dia sudah pergi?“ ditatapnya kedua dara itu tajam-tajam
Hai, mengapa kalian terus menerus berbaring dilantai saja?“
Bu-song mendengus „Jika kami dapat bangun tentu tak mau membuang waktu bicara dengan kau!“ Lh, coba kau tolong bukakan jalan darah Ciang-thay-hiat ini!
Kini baru kedua kakak beradik itu tahu keadaan mereka berdua. Ki Seng-wan hendak memberi penjelasan.
„Tunggu dulu,“ tiba-tiba Gwat-wan mencegah, „Mereka membencimu setengah mati. Mereka telah menipu supaya kau datang kemari. Jika kau tolong mereka, bukankah seperti melepas naga kedalam lautan? Apakah kita berdua dapat hidup?
Setelah merenung beberapa saat, berkatalah Ki Seng-wan „Kita harus dapat memaafkan orang, jangan orang yang memaafkan kita. Bermusuhan atau bersahabat tergantung dari anggapan mereka sendiri!“
Tanpa menghiraukan peringatan Tacinya, Seng-wan segera menghampiri kedua dara itu. Gwat-wan menghela napas seraya gelengkan kepala. Ia tahu wattak adiknya yang sukar dicegah.
Dua buah tamparan berhasil membuka jalan darah Bu-song dan Siau-bun.
„Apakah adik berdua tahu dimana dia sekarang?“
„Jika ingin menemuinya, harap ikut kami!“ sahut Bu-song dingin. Terus ia hendak bangkit.
Ah....walaupun jalan darahnya suda terbuka tetapi masih tak dapat berkutik, seolah-olah seperti terikat tali. Juga Yang dialami Siau-bun sama keadaannya.
*******
Air Susu dibalas Ait Tuba
„Percuma, „kata Ki Gwat-wan, „Ilmu totokannya istimewa sekali. Kepandaian kita tak mampu membukanya. Lebih baik kita tinggalkan saja!
Seng-wan menghela napas „Bukan karena aku tak mau menolong kalian, tetapi benar-benar“ habis berkata ia mengikuti Gwat-wan pergi.
„Jangan terburu-buru, „Tiba-tiba Siau-bun berseru, „Tahukh kau kemana perginya? Dan Tahukah kau bagaimana keadaannya sekarang?“
Seng-wan berhenti.
„Mungkin kau pun tak tahu !“ ujarnya
„Hm, kita tahu sejelas-jelasnya tetapi tak semudah begini memberitahuakan padamu!“
„Apa syaratnya?“ tanya Seng-wan
„Paling tidak kau harus berusaha membuka jalan darahku“ sahut Siau-bun.
Seng-wan kerutkan dahi,“ kalau dapat membukanya tentu saat ini kalian sudah sembuh. Bukan karena tak mau membantu kalian, tetapi sesungguhnya aku tak mampu.....
„Aku ada akal!“ seru Siau-bun.
„Lekas katakan ! Asal aku mampu tentu tak menolak!“ Kata Seng-wan.
Sejenak Siau-bun berdiam diri, ujarnya : „sebelum kukatakan dimana Thian-leng berada, kau bukakan dulu totokan ini dan satu lagi sebelumnya aku bertanya dulu, „apa kau kenal dengan Hok-mo-tong-cu?“
Seng-wan tertegun „ „Tidak! Jangankan kenal, mendengarpun baru kali ini!
Kata Siaubu „Dia mempunyai pukulan dan totokan jari yang berhawa dingin. Dibanding dengan Sin-bu-te-kun, Hok-mo-tong-cu lebih tinggi kepandaiannya.“
„Apakah kau berkata dengan sesungguhnya?“ seng-wan makin heran.
„Masakan aku berbohong !“
Seng-wan melirik Gwat-wan, serunya : Sin-bu Te-kun mendapat kesaktian dari kitab Im-hu-po-coan yang berinti tenaga Im-ham (dingin). Kuingat dulu Sin-bu-te-kun pernah mengatakan bahwa dia hanya mendapat kitab Im hu-po-tong-cu.“
„Hai, benar !“ teriak Siau-bun, „dengan begitu ilmu kepandaian kalian sesumber dengan iblis itu.... tentlah sedikit banyaknya Sin-bu-te-kun telah memberi kalian pelajaran-pelajaran dasar?“
„Tetapi, hanya kulitnya saja !: Sahut seng-wan.
„Tidak apa, kata Siau-bun, kuberitahulah. Tiap hari tolong mengurut-urut jalan darahku yang tetotok itu sampai 3 jam. Paling lama dalam 3 hari, betapapun hebatnya ilmu totokan itu akan terbuka juga. Maukah kalian meluluskan permintaan ini?“
Seng-wan kerutkan dahi, ujarnya „Jika permintaan itu keluar dari hati yang tulus, aku mau tetapi kalau hanya siasat, aku ................?“
„Adik, maukah kau dengar nasihatku? Tiba-tiba Gwat-wan menyelutuk.
„Silakan, masakan aku tak mau mendengar?“
Gwat-wan geleng-gelengkan kepala : „Kedua budak perempuan ini, hatinya sekejam ular menolong mereka mungkin akan mendatangkan bahaya. Menurutku, lebih baik kita ....“
Siau-bun berteriak : „Walaupun kalian sebagai kakak beradik, tetapi dengan kami kalian adalah ipar. Jangan kau mengadu domba untuk meretakkan rumah tangga kami.... Ensoh,“ teriak Siau-bun kepada Seng-wan. Pok Thian-leng mengaku ayah kepada Pok Thiat-beng ayahku, sebagai gihu dan ikut memakai she Pok. Dengan demikian kau adalah ensohku...!“
Akupun saudara misan, jadi kau ensoh misanku. Apakah kau tega hendak meninggalkan tempat ini?“ Bu-songpun ikut berseru
Seng-wan memandang kakaknya „Karena ada jalan untuk menolong, aku harus berusaha melakukannya. Kalau tidak, bagaimna aku harus mempertanggungjawabkan apabila bertemu dengan Thian-leng?“
Gwat-wan menghela napas dan tak berkata apa-apa lagi. Tak berani lagi ia berbicara. Ia lebih tua dari Seng-wan, tetapi karena Seng-wan sudah menikah dengan Thian-leng, iapun tak berani campur tangan menguasai adiknya. Ia tak dapat mencegah Seng-wan menolong Siau-bun dan Bu-song yang merupakan adik Thian-leng.
Seng-wan segera menghampiri Siau-bun, ujarnya „Sekarang aku mau mulai menggunakan ilmu Hian-im-chiu-hwat untuk mengurut jalan darahmu yang tertotok itu. Tetapi kau sendiripun harus kerahkan iwekangmu untuk membantu dari dalam!“
Siau-bun tersenyum kemenagan. Sambil melirik kepada Gwat-wan, ia segera mengucapkan terima kasih kepada Seng-wan. Dan mulailah Seng-wan melakukan pengurutan. Siau-bunpun kerahkan Iwekang untuk membantu menerobos jalan darahnya yang tertotok itu.
Dengan bermuram durja, Gwat-wanpun terpaksa mengurut Bu-song. Setelah hampir tiga jam lamanya barulah pengurutan dihentikan. Kedua kakak beradik itu mandi keringat, napasnya terengah-engah. Tiga jam mengurut, cukup menghabiskan tenaga.
„Bagaimana sekarang?“ tanya Seng-wan.
Siau-bun tersenyum manis „Boleh juga!“
„Bagus!“ seru Seng-wan „Tak perlu tunggu besok pagi, nanti saja akan kuurut lagi. Hanya harapanku jangan kau mendendam!“
„Ah, ensoh jangan mencurigai aku!“ kata Siau-bun.
Ki Seng-wan tak menyahut. Ia pejamkan mata mengatur pernapasan. Lewat lohor. Ia mendusin. „Taci, mari kita mengurut lagi!“ katanya.
Gwat-wan tersenyum tawar : „Budak perempuan, kau benar-benar meletihkan aku!“
Namun sekalipun mulutnya bersungut, iapun segera mengurut Bu-ong lagi. Kali ini pengurutan berjalan lebih payah. Selang sejam kemudian, kedua Ki bersaudara itu sudah mandi keringat. Dua jam lagi, haripun sudah malam. Duluar angin malam menderu-deru menambah keseraman suasana.
Wajah kedua saudara itupun pucat, kedua bahunya gemetar. Jelas bahwa mereka telah menguras seluruh tenaga dalamnya. Hampir mendekati tiga jam, rupanya Seng-wan tak kuat. Mulutnya gemetar dan tubuhnya terjerembab roboh.
„Adik! Adik .... kau .... !“ Gwat-wan hentikan urutananya lalu merangkak menghampiri adiknya. Tetapi belum sampai tiba di tempat Seng-wan, ia pun juga terjungkal roboh.
Suasana dalam kuil menjadi sunyi senyap. Entah berselang beberapa lama, tampak Siau-bun menggeliat duduk. Setelah pejamkan mata sambil mengambil napas, ia tersenyum girang, memandang kedua saudara Ki lalu bangkit. Ia sudah dapat berdiri karena jalan darahnya telah terbuka.
Semula Bu-song masih menggeletak di tanah. Tetapi ketika melihat Siau-bun berdiri, ia pun ikut bergerak. Ah, ternyata ia juga sudah sembuh.
„Ci bun, kita sudah sembuh!“ serunya girang
Siau-bun tertawa :“ Rencan a kita semula menipu mereka supaya datang kemari lalu kita siksa, baru kemudian dibunuh. Ah, siapa kira mereka malah berbalik menjadi penolong kita!“
Bu-song kerutkan alis : „Lalu bagaimana tindakan kita sekarang?“
Sejenak Siau-bun merenung, ujarnya „: „karena mereka melepas budi, kita terpaksa memberi ampun jiwanya!“
Bu-song mendengus „Uh, sayang aku tak pemurah hati seperti engkau ! dia telah merebut tunanganku. Kuanggap dia musuh bebuyutan. Dia tau aku yang berhak hidup di dunia!“
Walaupun kehabisan tenaga tetapi panca indera kedua saudara Ki masih baik. Mereka terkejut mendengar ucapan kedua gadis itu. Seng-wan paksanakan diri berseru „ „Taciku memang benar. Kalian memang bangsa ular bibisa. Jika tak kami berdua yang menolong masakan kamu bisa hidup. Kalau tidak dimakan binatang buas tentu mati kelaparan!“
Sia-bun tertawa : „Ah, tidak begitu mengerikan! Sebelum pergi Iblis Hok Mo Tong-cu telah memakankan sebutir pil kepada kami. Pil itu dapat menahan lapar sampai 10 hari!“
„kalau begitu kalian mau apa terhadap kami?“ Seng-wan tertawa getir.
„Kau adalah ensohku. Aku tak akan mengapa-apankan kamu. Tetapi .....“ ia melirikanan mata, berkata pula „Sebelum menikah dengan kau, Pok Thian-leng sudah bertunangan dengan adik misanku ini. Sakit hati direbut direbut calon suaminya, termasuk dendam yang hebat. Hal ini biarlah adiku yang mengambil keputusan !
Bu-song tertawa : „Akupun bukan orang yang haus darah. Apalagi kalian sudah melepas budi kepadaku. Sedikit banyak tentu akan kubalas ......“ ia berhenti sejenak, ujarnya lagi : „ sebenarnya kau harus kuhukum mati. Tetapi hukuman itu kutiadakan. Hanya akan kusuruh kalain menderita hukuman hidup !“
Seng-wan terkejut, serunya : Jika hal itu dianggap salah, akulah yang menanggung sendiri. Taciku ini tidak ada sangkut paut dengannya. Hendak kaubunuh atau siksa, aku rela menerima asal jangan kau ganggu taciku ini!“
Bu-song terdiam sejenak. Sia-bun tersenyum : „Eh, jika ditinjau sedalam-dalamnya, tacimulah yang berdosa !“
„Ngaco!“ teriak Seng-wan. „Taciku menolong nona Lu dan belum pernah melakukan kesalahan kepada kalian. Jangan mengada-ada apalagi segala kesalahan juga ditimpakan kepadanya!“
Siau-bun tertawa : „Segala rencana adalah dia yang mengeluarkan. Masakan dia tak bersalah ..... ia melirik Bu-song, katanya pula „Sungguh, biang keladinya tacimu. Dalam hal hukuman, dia juga harus menerima ......“
„Gadis busuk!“ damprat Seng-wan marah sekalai, „jangan memfitnah orang sesuka hatimu!“ Coba saja kelak kau akan Mepertanggungjawabkan perbuatanmu kepada kakekmu dan Pok Thian-beng?“
Siau-bun tertawa mengikik : „tak usaha kau memikirkan diriku. Akupun hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Mengenai hukuman padamu, tetap kuserahkan pada adikku!“
„baik, anggap saja aku buta. Tetapi ingat, jika tak membunuhku suatu saat aku akan membalas dendam .....“ Seng-wan berteriak nyaring.
Gwat-wan tertawa rawan : „Adik, sudahlah jangan banyak bicara. Jatuh ditangan gaids sebuas itu, masakan kita dapat bicara tentang budi welas asih ?“
Kemarah Seg-wan seperti mau meledak sekuat-kuatnya, ingin ia tumpahkan tetapi walaupun sekuat tenaga bergerak namun ah ..... tangan dan kedua kakinya terasa lemas tidak bertenaga lagi. Akhirnya ia pejamkan mata saja penuh kepasrahan.
„Adik Song, aku sudah memberi siksaan batin kepada mereka. Sekarang silakan kau memberi hukuman badan !“ Kata Siau-bun.
Bagaimana pendapatmu, apakah iblis Hok Mo tong-cu itu akan kembali lagi kemari ata tidak?“ yanya Bu-song.
Siau-bun gelengkan kepala dan menyahut dengan yakin : „Tidak bisa!“
„bagaimana kau bisa berkata begitu?“
„Bukankah Thian-leng mengatakankitab pusaka itu berada di gunung Thay-heng-san ? kuduga Hok Motong-cu takkan balik kesini lagi!“
„Mengapa?“ tanya Bu-song
„Mungkin kau masih belum jelas. Apa yang disebut kitab pusaka peninggalan It-bi Siangjin itu terukir pada dinding goa rahasia di dalam telaga zamrud......“
„jadi dia akan mengajak iblis itu kedalam goa?“
„Ya!“
„Bu-song terkejut sekali, serunya : „Tetapi tangan dan kaki Thian-leng terikata dengan tali urat naga jika Hok Mo- tong-cu berhasil masuk kedalam goa telaga Zamrud dan dapat meyakinkan lukisan di dinding goa, bukankah ......“
Siau-bun tertawa : „kau tau, tapi tak tau semuanya. Di dalam tekaga zamrut masih di jaga seorang tokoh aneh. Dia juga telah mempelajari ilmu p[eninggalan It-bi siangjin. Dia sudah mengikat saudara dengan Thian-leng. Begitu masuk goa, Hok-mo Tong-cu bakal dibekuk murit It-bi siangjn itu. Maka kita tak perlu kuatir lagi.
Bu-song tertawa riang : „kalau begitu iblis Hok Mo Tong-cu itu pasti mampus dan takkan kesini lagi. Disini jarang di datangi orang. Bagaimana kalau kita tiru saja tinddakan Hok-mo-tong-cu untuk menghukum mereka?“
Siau-bun tertwa : „Sayang kita tak mampu menotok seperti Hok-mo Tong-cu!“
Bu-song mendengus :“Sekalipun bisa, tetapi kita takkan suruh mereka enak-enakan tidur dilantai. Aku sudah mempersiapkan suatu rencana bagus .... kita lakukan totokan Tiam-bong-kian-jin-yok (menotok angin menyusupkan kedaging orang) !“ Siau-bun tertegun, „Apakah itu? Apakah yang hendak kau rencanakan ?“
Bu-song tak menyahut, melainkan mengeluarkan dua utas tali sebesar ibu jari. Direntangnya tali itu di hadapan Siau-bun.
“Tali ini terbuat dari sutera asli. Walaupun tak sesakti tali urat ularmu, tetapi dapat menahan tenaga meeka. Tiang penglari di atas itu rasanya tempat yang cocok untuk mereka beristirahat!”
Tak lama Bu-song telah melaksanakan rencananya. Kedua taci beradik Ki dikerek ke atas dan digantung pada tiang penglari dengan tubuh terikat. Tubuh mereka bergelantungan kian kemari mirip daging yang digantung di warung.
Ki Gwat-wan dan Ki Seng-wan memejamkan matanya. Tak sepatahpun mereka keluarkan erangan. Setelah puas menertawakan pemandangan yang dianggap lucu, Siau-bun dan Bu-song segera menutup pintu dan melangkah keluar. Kala itu sudah lewat tengah malam.
*******
Tantangan
„Taci Bun, kemakah sekarang kita hendak pergi?“ tanya Bu-song setengah menguap.
„Eng-hiong-tayhwe sudah lewat beberapa hari, saat ini kakek dan ayah tentu sudah meninggalkan Tiam-jong-san“
„Sin-bu Te-kun sudah menantang, 10 hari lagi akan menunggu mereka di Sin-bu-kiong. Mungkin mereka saja, Thian-leng pun akan kesana juga.
.....Eh, kalau berjumpa dengannya, kita harus merangkai cerita bohong untuk mengelabuinya!“
“Tetapi ia sudah tahu sendiri, bagaimana kita dapat membohonginya?” tanya Bu-song.
Siau-bun tertawa lagi. Tiba-tiba ia mendekati telinga Bu-song dan membisikinya. Bu-song serentak bertepuk tangan dan tertawa riang, “Bagus, kau sungguh pintar benar….. ayo kita cepat ke sana. Kini waktunya hanya tinggal satu hari saja!”
Menjelang tengah hari baru mereka tiba di kaki gunung Ceng-hun-san. Gunung itu tak berbahaya, tetapi puncak-puncaknya saling berdekatan.
Sambil memandang ke atas puncak, berkatalah Bu-song, “Pintar juga Sin-bu Te-kun memilih tempat. Jika dia tak temaha hendak merajai dunia persilatan, tentulah sudah hidup enak di tempat setenang ini!”
Siau-bun tertawa, “Eh, mengapa kau tiba-tiba punya lamunan begitu?”
Bu-song hanya tertawa dan terus berlari. Karena paham jalannya dan dengan menggunakan ilmu berlari cepat, mereka segera tiba di Sin-bu-kiong.
“Celaka……” tiba-tiba Siau-bun berhenti.
“Mengapa?”
“Thian-leng bukan pemuda yang berhati sempit. Walaupun kita bertindak terlalu kejam padanya, tetapi kita pernah menolong jiwanya. Dia tentu tetap memperhatikan keselamatan kita!”
“Bukankah itu lebih baik?” seru Bu-song.
Siau-bun menghela napas, “Kalau sudah lolos dari Thay-heng-san, dia tentu segera ke Tiam-jong-san untuk menolong kita…..”
“Ai, benar!” Bu-song membanting-banting kaki, “begitu tiba di puncak Ceng-liong-nia, dia tentu akan mendapatkan perempuan hina itu. Dan perbuatan kita tentu akan diketahuinya….kita balik ke sana saja!”
Siau-bun menghela napas, “Ke sana paling tidak tentu memakan waktu empat hari. Dan lagi dia dengan kedua dara Ki itu, belum tentu masih ada di sana!”
Bu-song bingung, “Kalau begitu, bagaimana tindakan kita sekarang? Ai, harap kau cari rencana lagilah!”
“Tetapi sudah begini, tak ada jalan lain lagi…..” Siau-bun tertawa tertawa getir.
“Eh, kakekku....... Sekalipun kuminta bintang di langit, kakek tentu akan menuruti!” kata Bu-song dengan aleman.
Siau-bun bertepuk tangan, “Kalau begitu jadilah....” segera ia membisiki telinga Bu-song. Wajah si dara tampak berseri.
“Ayo, kita lekas cari kakek!” serunya.
Kedua gadis itu segera meneruskan larinya. Tetapi mereka tidak menuju ke pintu gerbang Sin-bu-kiong, melainkan menyelinap ke dalam gerombol di samping gedung itu.
Baru saja hari mulai gelap, istana Sin-bu-kiong sudah terang benderang dengan penerangan yang gemilang. Memang malam itu adalah hari ke sepuluh dari tantangan Sin-bu Te-kun kepada Thian-leng dan rombongannya.
Tetapi suasana dalam istana itu tampak sunyi saja. Berpuluh-puluh penjaga dengan menyelipkan senjata di pinggang tampak mondar-mandir berseliweran kian kemari. Seolah-olah sedang menghadapi kesibukan. Tetapi mereka diam, tidak menimbulkan suara berisik....
Di ruang tengah, penerangannya paling terang. Hanya sunyinya luar biasa. Sehingga apabila ada sebatang jarum jatuh ke lantai, pasti terdengar juga.
Di luar ruangan, berjajar dua deret pengawal tua berseragam baju ungu. Mereka membentuk diri dalam formasi burung garuda. Dengan senjata terhunus di pinggang masing-masing, tampaknya mereka gagah sekali.
Di dalam ruangan besar, tak tampak barang seorangpun juga. Tetapi di dalam bilik, sedang berkumpul belasan orang. Wajah mereka tampak tegang sekali. Rupanya mereka tengah berunding dengan suara seperlahan mungkin.
Di antara orang-orang yang tengah rapat itu, terdapat Sin-bu Te-kun, ketua Hek Gak, Bu Cui suseng, kedua Lam-yau dan Pak-koay, Ko Liu siangjin, Bok Sam-pi dan lain-lain.
Di antara sekian hadirin, hanya Bok Sam-pi yang tetap tenang wajahnya. Dia duduk dengan kepala menengadah. Tangannya memegang sebuah cawan arak yang tak hentinya diteguk.
Yang istimewa, jago tua itu tidak lagi telanjang badan, tetapi sudah mengenakan baju kapas yang kedombrongan, sehingga menutupi kedua lengannya.
Walaupun tenang, tetapi sebenarnya sikap dan tingkah laku Bok Sam-pi saat itu jauh lebih linglung dari beberapa hari yang lalu.
Selain orang itu, masih terdapat juga tiga orang aneh yang wajahnya mirip satu sama lain. Sama mengenakan pakaian putih, berambut merah. Tiga bagian seperti manusia, tujuh bagian menyerupai setan.
Ketua Hek Gak duduk di sudut dengan lunglai.
Tiba-tiba ia bangkit dan mondar-mondir, kemudian berkata perlahan-lahan kepada Sin-bu Te-kun, “Rencana kita hari ini harus berhasil, jangan sampai gagal. Apakah saudara Ki menganggap persiapan-persiapan sekarang ini sudah sempurna? Karena kalau sampai gagal, entah bagaimana kedudukan kita di hari-hari yang akan datang!”
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh, “Seorang lelaki, hanya mempunyai dua pilihan. Gagal atau berhasil. Berhasil kita mulia, gagal kita binasa. Kalau yakin takkan berhasil, lebih baik kita lekas-lekas sediakan peti mati saja. Mengapa kau begitu kuatir..........”
Sin-bu Te-kun berhenti sejenak, kemudian tertawa iblis, “Sebenarnya saudara Kongsun tak usah kuatir lagi. Sekalipun si tua Lu itu mengundang seluruh jago-jago persilatan, jangan harap mereka mampu keluar dari istanaku ini.........!”
This entry was posted
on Kamis, Juli 22, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Panji Tengkorak Darah
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar