Cula Naga Pendekar Sakti Jilid 14  

Diposting oleh jagatcerita

Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE


Jilid ke 14
Keringat dingin mengucur dari keningnya, dadanya dirasakan sakit bukan main, lehernya bau amis, seperti mau memuntahkan darah !
Kini Yap Bauw baru sadar, biarpun jurus yang dipergunakan Tang Sin Siansu jurus biasa saja, namun dipergunakan orang yang sudah memiliki latihan begitu tinggi seperti Hongthio Siauw Lim Sie, tentu saja berobah jadi pukulan yang sangat dahsyat! Yap Bauw menyesal atas kecerobohannya, untung saja tadi dia masih sempat mengimbangi tenaga pukulan Tang Sin Siansu dengan ginkangnya untuk melompat mundur, coba kalau dia menyambuti dengan kekerasan, pasti sekarang sudah ada tulang iganya yang patah !
Cepat-cepat Yap Bauw mengempos semangat, ia waspada dan memasang mata tidak berani meremehkan Tang Sin Siansu lagi !
"Omitohud ! Tadi pukulan pertama. Sekarang bersiaplah Kiesu menerima pukulan yang kedua." Kata Tang Sin Siansu sambil menghampiri. Sekali lagi dia mempergunakan salah satu jurus "Cap Pen Lo Han Kun" yang bernama "Lo Han Kui Teng"" (Arhad Terbang Di atas Tanah).
Sekali ini Yap Bauw tidak berani berayal, ia mempergunakan "Touw Sui Touw So"", tubuhnya seperti bayangan, berkelebat ke belakang Tang Sin Siansu. Dia yakin, tanpa menyambuti pukulan Hongthio Siauw Lim Sie, dengan berkelit saja, jika sampai pada pukulan ketiga, jelas dia terhitung sebagai pemenangnya.

Namun hitungan Yap Bauw sekali inipun meleset. Walau tubuhnya berkelebat ke belakang Tang Sin Siansu, mendadak kakinya seperti terlibat tenaga tak terlihat, sampai tak bisa bergerak lagi, karena Tang Sin Siansu sudah mengibas dengan tangan kirinya, tangan kanannya tetap menyambar!
Hati Yap Bauw mencelos "Celaka !" mengeluh memedi tunggal ini. Tapi dia lihai, dia mana mau menerima begitu saja terhajar lagi oleh Tang Sin Siansu. Mati-matian dia berusaha menghindar. Tubuhnya seperti bisa mengkerut jadi pendek, lalu berkelebat meloloskan diri dari libatan tenaga Tang Sin Siansu dengan jurus It Wie Touw Kiang" (Selembar Rumput Menyeberangi Sungai). disusul lagi kemudian dengan "Lek Pek Sam San" (Memukul Tiga Gunung) tangan kanannya menghantum punggung Tang Sin Siansu dengan seluruh tenaganya !
"Omitohud!" memuji Tang Sin Siansu, sabar suaranya. Tangannya tetap meluncur tanpa ada tanda-tanda akan ditarik pulang.
Hanya kini tangan kirinya membantu mendorong. Tidak ampun lagi tubuh Yap Bauw seperti dilanggar oleh sebungkah batu besar, sampai dia menjerit tertahan, tubuhnya seperti kapas terbang di udara ! Hanya saja ginkangnya memang hebat, di tengan udara dia bica berpoksay (bersalto), turun dilantai dengan dua kaki lebih dulu ! Hanya mukanya pucat pias, karena dadanya bergemuruh keras, panas dan sakit tiada taranya ! Dia segera sadar, dirinya sudah luka di dalam akibat pukulan Tang Sin Sin Siansu !
Yap Bauw menggidik Benar-benar pendeta Siauw Lim Sle ini tidak boleh dibuat main. Dia menggeretak giginya, hanya tinggal satu jurus lagi, mustahil dia tidak bisa bertahan ? Bukankah kalau dia sanggup bertahan menerima satu pukulan lagi, dirinya akan dilepaskan oleh Tang Sin Siansu.
"Siancai!" Kiesu sudah berhasil menerima dua pukulan Loceng Tinggal satu pukulan lagi. Boleh Loceng mulai ?" tanya Tang Sin Siansu, suaranya tetap sabar, biarpun sikapnya angker cekali.
Muka Yap Bauw pucat, dia mengangguk tanpa bilang apa-apa. Tang Sin Siansu melangkah tiga tindak mendekati, kemudian dua tangannya diangkat pada sisi dada sambil menekuk kedua kakinya. Kaget Yap Bauw melihat sikap Tang Sin Siansu sekali ini.
Segera dia ingat pada jurus ilmu pukulan "Sin Wan Kun" yang lihai dari Siauw Lim Sie. Pecah keberaniannya, goncang perasaannya, Tidak menanti Tang Sin Siansu mulai dengan pukulan ketiganya, tiba-tiba Yap Bauw melesat ke belalang, dia bergerak secepat mungkin mengandalkan ginkangnya, maksudnya hendak menyingkir dari Tang Sin Siansu, karena percuma saja jika ia menyambuti pukulan ketiga itu, jiwanya bisa terancam, sebab pukulan ketiga ini Hongthio Siauw Lim Sie akan menyerang dengan hebat. Jalan satu-satunya ia meloloskan diri sebelum si pendeta mulai dengan pukulannya !
"Mau kemana Kiesu ?" menggidik Yap Bauw karena tahu-tahu didengar di belakangnya suara Tang Sin Siansu, juga ada hawa dingin menyambar ke punggungnya. Mencelos hati Yap Bauw, dia mengeluh karena tak mungkin bisa meloloskan diri dari tangan Tang Sin Siansu. Mati-matian dia mengerahkan ginkangnja yang istimewa, yaitu "Touw Sui Tauw So", dia masih berusaha meloloskan diri.
Tapi yang membuat Yap Bauw merasa arwahnya seakan meninggalkan raganya ialah ketika tahu-tahu di depannya menghadang Tang Sin Siansu dengan kedua tangan sudah mendorong padanya.
"Celaka !" menjerit Yap Bauw, dia membuang diri ke kiri, maksudnya hendak menghincar, Namun, baru dia buang tubuhnya sedikit ke arah kiri, dadanya kena terdorong telapak tangan Tang Sin Siansu, sampai berbunyi " Bukkkkkk !" tubuh Yap Bauw seperti daun kering, terpental beberapa tombak jauhnya, mukanya pucat pias melebihi sebelumnya yang memang muka mayat, kedua kakinya menggigil. Dia terluka hebat dalam tubuh.
" Omitohud ! Atas kebesaran Sang Buddha, maka Loceng mau bermurah hati tidak mengambil jiwamu! Pergilah, hukuman untuk menebus dosamu Loceng kira cukup, selanjutnya kau harus hidup baik-baik, Kiesu. Sekali saja kau melatih ilmu sesat, luka pada jalan darah Biat-hiatmu akan tambah parah, bahkan bica membawa kelumpuhan dan kematian padamu. Tapi kalau kau tidak melakukan sesuatu dengan khikangmu, sedikitnya Kiesu bisa bertahan tigapuluh tahun ! Omitohud! Sekarang silahkan Kiesu pergi...." tawar suara Tang Sin Siansu terakhir.
Gemetar tubuh Yap Bauw, Dia menahan sakit juga rasa kaget tak terhingga. la mengerti makna perkataan Tang Sin Siansu mengenai Biat-hiat yang telah tergempur itu, yaitu tenaga Khikangnya berkurang banyak, biarpun tidak sampai musnah.
Sekali saja dia mengerahkan Khikang berlebihan untuk menghadapi lawan, celakalah dia. Luka pada Biat-hiatnya akan bertambah parah, kalau sampai jalan darah Biat-hiat yang letaknya dua dim di sebelah kiri dari jantung, sampai putus, selanjutnya dia jadi orang bercacat, lumpuh ! Dengan memegangi dadanya, Yap Bauw berkelebat meninggalkan Siauw Lim Sie,
"Omitohud! Omitohud !" muka Tang Sin Siansu sangat muram. "Tampaknya kerusuhan yang akan menimpah Siauw Lim Sie tidak bisa dielakkan ! "
Tang Lu berdua Tang Lang Siansu lompat ke dekat suheng mereka. "Suheng, mengapa kau bebaskan manusia iblis itu?"
"Omitohud ! Dengan menerima pukulan "Lo Hon Jip Pek Ko" (Arhad Menyambut Dalam Ratusan Buah) itupun hukuman yang cukup setimpal untuknya, dengan rusaknya Biat-hiat manusia berdosa itu. sedikitnya ia harus beristirahat duapuluh tahun untuk memulihkan khikangnya ! Rasanya, dalam dua puluh tahun dia bisa merenung-renungkan diri, agar tidak melakukan dosa dan kekejaman lagi. Omitohud "
Tang Lang berdua Tang Lu Siansu pun memuji kebesaran Sang Budha.
"Tampaknya tak lama lagi kita harus menerima cobaan yang cukup berat, karena Tang San Toasuheng menghendaki kedudukan Hongthio pintu perguruan kita ! Kita harus berusaha menghadapinya sebijaksana mungkin !" Kata Tang Sin Siansu dengan muka guram. Pada muka Tang Lang dan Tang Lu Siansu pun kelihatan sinar duka yang dalam...
Langit bersih kebiru-biruan pada pagi yang cerah, angin juga berhembus sejuk, udara tidak dingin juga tak panas, Di lamping sebelah kanan gunung Siauw-sit-san terdapat sebuah tegalan yang penuh oleh rumput tebal tumbuh subur. Sesosok tubuh berkelebat-kelebat di ujung atas rumput itu, seakan bobot berat badannya tidak terasa oleh ujung rumput-rumput itu cuma merunduk sedikit sekali tubuh itu berkelebat-kelebat seperti terbang saja!
Tubuh orang itu tidak tinggi, juga tidak besar. Dia seorang anak lelaki dengan muka yang cakap. Tangan dan kakinya bergerak-gerak mengeluarkan suara "wututt!", "Siututt!" tak hentinya Tak kenal lelah anak, lelaki itu melakukan terus menerus gerakan tangan kakinya, ia sedang latihan.
Siapakah-dia? Ternyata anak lelaki dengan muka cakap itu tidak lain dari Giok Han, yang tengah melatih ilmu silat luar biasa "Sin Beng Kun" yang diwariskan Tang Sin Siansu. Selama beberapa bulan ini memang Giok Han melatih "Sin Beng Kun" giat sekali, siang malam setiap ada kesempatan ia melatih ilmu tersebut.
Hanya didepan Wie Sin Siansu atau saudara-saudara seperguruan lainnya ia melatih ilmu ilmu lain, seperti Sin Wan Kun atau juga ilmu yang diajarkan Wie Sin Siansu, Begitu ia berada seorang diri, Giok Han segera melatih Sin Beng Kun ! Kemajuan yang dicapainya memang cukup mengherankan, ia berhasil memperoleh kemajuan pesat dalam setengah tahun, di samping ketekunan yang dimilikinya, Giok Han juga benar-benar berbakat.
Memang melatih Sin Beng Kun dalam setengah tahun belumlah berarti apa-apa uniuk Giok Han, belum bisa dipergunakan menghadapi musuh. Apa lagi menghadapi lawan yang tangguh. Namun, dalam setengah tahun Giok Han bisa menguasai dasar ilmu Sin Beng Kun sudah merupakan hal yang jarang terjadi.
Semula Tang Sin Siansu menduga dalam dua tahun Giak Han baru bisa menguasai dasar ilmu tersebut. Girang hati Hong-thio Siauw Lim Sie mengetahui kemajuan yang diperoleh Giok Han.
Dengan bersamangat pagi itu Giok Han berlatih "Sin Beng Kun", tangannya berkelebat-kelebat tanpa mengeluarkan suara, cepat sekali, kemudian lambat, sangat perlahan, sehingga seakan-akan bergeraknya itu maju satu, dim demi satu dim. Memang Sin Beng Kun" mengutamakan kecepatan dan kelambatan, panas dan dingin, gelap dan terang, jadi jelasnya menitik beratkan Im dan Yang.
Pada unsur positif dan negatif. Giok Han selalu ingat wejangan-wejangan yang diberikan Tang Sin Siancu setiapkali memberikan petunjuk jurus-jurus ilmu "Sin Beng Kun" adanya: "Yang terpenting kau ingat ialah ilmu "Sin Beng Kun" bukanlah semacam ilmu biasa. Benar kau berbakat, tapi jangan harap dalam beberapa tahun sudah bisa menguasai ilmu mujijat tersebut ! Siaw Lim Sie memiliki ratusan macam ilmu silat.
Untuk bisa menguasai satu macam saja sampai pada puncaknya, sulitnya bukan main, Harus dilatih selama puluhan tahun! karenanya jarang sekali terjadi murid Siauw Lim Sie yang bisa sekaligus menguasai beberapa macam ilmu silat pintu perguruan kita dengan sama baik dan sama sempurnanya. la harus menentukan ilmu apa yang akan dilatihnya dengan sepenuhnya sampai sempurna.
Sampai kini Loceng sendiri dalam usia hampir tujuhpuluh dua tahun, hanya bisa menguasai tiga macam ilmu silat Siauw Lim Sie I Sin Beng Kun lebih sulit lagi dipelajari, karena Sin Beng Kun justeru mengutamakan hawa Im dan Yang dalam tubuh, sekali saja kita gagal mengendalikan hawa " Im" dan " Yang", berarti selamanya kita tidak mungkin bisa mempelajari Sm Beng Kun!
Giok Han, tahukah kau mengapa Loceng memilih kau mempelajari Sin Beng Kun, bukannya murid-murid Siau Lim Sie dari tingkat dua atau tiga, yang sudah memiliki kepandaian tinggi, untuk mempelajari Sin Beng Kun ? justeru di sinilah kunci rahasianya ! Jika Loceng perintahkan salah seorang murid tingkat dua atau tiga mempelajari Sin Beng Kun, mereka biar berlatih tekun dan penuh perhatian, namun seumur hidup sulit melatih sempurna Sin Beng Kun",
Mereka sudah mempelajari mendarah daging ilmu lainnya, tenaga Im dan Yang mereka sudah sulit dipisah-pisahkan untuk dipergunakan secara sendiri-sendiri. Tapi kau masih berusia muda, kau masih murni, juga belum mempelajari ilmu silat secara seutuhnya, Loceng yakin kau bisa melatih "Sin Beng Kun dengan sebaik-baiknya.
"Sin Beng Kun" memiliki sifat yang seperti karet, bisa melar. bisa mengkerut menjadi kecil! Begiui juga tenaga setiap jurus-jurus "Sin Beng Kun bisa mengimbangi kekuatan lawan. Semakin kuat tenaga khikang lawan, semakin rapat daya pertahanan seorag ahli "Sin Beng Kun". Semakin lemah khikang lawan, semakin kuat tenaga mendesak "Sin Beng Kun". Jika sifat-sifat Sin Beng Kun sudah berhasil kau dasari, tentu dengan mudah bisa menguasainya !"
Petuah-petuah dari Tang Sin Hong-thio itulah yang selalu diingat oleh Giok Han. Setiap kali berlatih, dia berusaha memecahkan rahasia "Sin Beng Kun", yang katanya mengandung dua kekuatan, Im dan Yang, panas dan dingin, gelap dan terang, yang selalu dapat dipergunakan terpisah sendiri-sendiri.
Tanpa kenal lelah Giok Han selalu coba mempergunakan kedua tangannya secara berbareng namun berbeda-beda jurusnya. Selalu gagal.
Yang membuat Giok Han tekun seperti itu melatih "Sin Beng Kun", Tang Sin Siansu juga selalu bilang, bagi seorang murid Siauw Lim Sie yang takut menderita, jangan harap bisa memiliki kepandaian berarti. Semakin menderita dan semakin hebat kesengsaraannya, semakin lebar kesempatan untuknya memiliki ilmu silat Siauw Lim Sie secara baik. Inilah yang menyebabkan Giok Han tidak kenal lelah berlatih diri, dengan cara-cara yang berat dan melelahkan.
Pagi itu Giok Han berlatih sejak matahari belum lagi muncul. Sudah hampir empat jam dia tanpa kenal lelah berlatih terus. Melihat tubuhnya sudah bisa melayang-layang ringan di ujung rumput-rumput tanpa rumput-rumput itu terinjak rubuh ke tanah, menunjukkan Giok Han sudah mencapai kemajuan yang pesat untuk ginkangnya.
Mendadak Giok Han merasakan kepalanya sakit sekali, ada sesuatu yang menghantam kepalanya. Ketika dia menoleh ke bawah dengan meringis, ternyata yang tadi menghantam kepalanya adalah sebutir batu kerikil kecil.
Sakitnya bukan main. Mendongkol Giok Han, entah siapa yang main-main dengannya menyerang membokong begitu. Tetapi ada pendeta yang ingin menggodanya. Sedang Giok Han bengong mengawasi sekelilingnya, mendadak dilihatnya menyambar sebutir batu lagi. Dia hendak berkelit, tapi tidak berhasil.
Batu itu meluncur terlalu cepat, menghantam pucuk hidung Giok Han, sakitnya tidak terkira. Sampai ia berseru kesakitan memegangi hidungnya.
"Siapa... siapa yang menggodaku ?" Tanya Giok Han sambil menahan sakit.
Bukannya jawaban, justeru menyambar lagi batu kecil ke arah jidatnya. Sekali ini tentu saja Giok Han tidak mau kalau jidatnya menjadi sasaran batu kerikil itu. Dia berkelit dengan jurus "Gin Liong Hie Sui" (Naga Perak Bermain Di Air"), tubuhnya menjongkok sedikit buat mengelakkan itu, tangan kanannya diulurkan untuk menanggapi batu kerikil tersebut.
Cukup gesit gerakan Giok Han tapi batu itu seperti memiliki mata. Mendadak berhenti menyambar, menukik turun, tahu-tahu Giok Kau merasa jidatnya sakit, karena batu itu menghantam jidatnya yang jadi benjol seketika !
Kaget campur penasaran Giok Han dipermainkan seperti itu, dia berlari kearah datangnya timpukan batu-batu itu. Tapi baru berlari beberapa langkah, terdengar orang tertawa. "Nih, kuhadiahkan lagi untukmu kuwe yang enak !" Dan benar-benar sepotong batu menyambar kearah bibir Giok Han, sampai bibir bocah ini pecah berdarah, sakitnya bukan main.
Giok Han segera yakin, pasti yang menggodanya bukan penghuni Siauw Lim Sie. Tidak mungkin pendeta-pendeta Siauw Lim Sie berani menggodanya seperti itu. Pasti ada orang asing yang datang kesitu. Giok Han mengawasi kearah datangnya batu, sambil menahan rasa sakit-sakit dimulut maupun dijidatnya.
Dari balik semak belukar terdengar tawa terkikik, lalu muncul orangnya. Orang itu pendek kecil, seperti seorang anak berusia dua belas tahun, cara munculnya luar biasa ! dia tidak berjalan dengan kedua kakinya seperti manusia normal umumnya, justru ke-dua kakinya naik keatas dengan kepala di-bawah.
Dia berjalan dengan tangan kiri di tanah, sedangkan tangan kanannya bebas bergerak-bergerak, Tangan kirinya itu seperti memiliki roda, kelima jari tangannya berfungsi sebagai penggerak untuk maju kedepan.
Giok Han sampai bengong melihat cara berjalan orang ini, itulah tenaga lwekang yang kuat sekali, berjalan dengan sebelah tangan belaka, malah tampaknya dilakukan dengan mudah ! Yang membuat Giok Han tambah heran, biarpun orang itu seperti anak laki-laki berusia dua belas tahun, namun mukanya berpotongan empat persegi, matanya besar, alisnya tebal hitam, bibir, nya kecil agak monyong, matanya bersinar tajam sekali, itulah raut muka seorang tua yang sudah berusia lima puluh puluh tahun!
Jadi orang ini bukan seorang anak-anak-melainkan seorang tua dengan tubuh yang cebol pendek.
"Hi-hi-hi-hi I" tertawa sicebol masih tetap "berdiri" dengan tangan kirinya. "Enak tidak kuwe yang kuhadiahkan tadi ?"
Giok Han tersadar. Dia cemberut. "Kau siapa dan mengapa berkeliaran disini ?"
"Berkeliaran disini ? Apakah ini tempatmu dan orang lain tidak boleh berada ditempat ini ?" balik tanya orang bertubuh cebol tersebut. "Apakah kau seorang yang boleh bermain-main disini ?"
"Tentu saja tidak. Tapi ini masih termasuk dalam wilayah- Siauw Lim Sie, orang luar tidak boleh sembarangan masuk kemari !" menjelaskan Giok Han.
"Oh begitu ! Jadi kau murid Siauw Lim Sie ? Tapi..." orang itu mengawasi curiga, "kau tidak cukur rambut, kau bukan hweshio..." biji matanya yang bersinar tajam mencilak-cilak mengawasi Giok Han.
"Aku memang bukan hweshio, aku hanya belajar ilmu silat disini!" jawab Giok Han.
"Ha-ha-ha-ha! Kau belajar ilmu silat di Siauw Lim Sie ! Bodoh! Dungu! Pendeta-pendeta Siauw Lim Sie gentong nasi semuanya, pembual dan sombong ! Mereka tidak ada yang pandai, ilmu silat mereka tidak ada yang berarti... kau belajar di Siauw Lim Sie sama saja dikibuli mereka, karena sampai kelak setelah dewasa kau tidak mungkin memiliki ilmu yang berarti!"
Mendongkol juga hati Giok Han mendengar orang aneh ini menjelek-jelekkan Siauw Lim Sie. "Ilmu silat pendeta-pendeta Siauw Lim Sie jelek atau bagus apa urusanmu ? Aku yang ingin belajar, apa peduli dengan kau?"
"Oooo, benar-benar kau bocah dungu !" kata orang aneh itu. "Kalau saja kau tahu, diiuar Siauw Lim Sie banyak orang pandai, tentu kau akan menyesal belajar di Siauw Lim Sie ! Percayalah padaku, tidak pernah aku berdusta !"
"Hemmm, kau sendiri tampaknya bukan manusia baik-baik ! Lihat! Apa akibat tangan usilmu yang telah menyerang cara menggelap padaku!"
Kembali orang itu tertawa terpingkal, tiba-tiba dia mendorong telapak tangan kirinya tubuhnya melompat berdiri dengan ke dua kakinya. Tinggi tubuhnya tidak lebih dari tinggi tubuh Giok Han. Dia bertolak pinggang mengawasi tajam pada Giok Han, namun mukanya kembali menyeringai tertawa.
"Kalau aku menyerangmu, sekarang kau sudah tak bernapas lagi, bocah dungu! Katanya. "Tadi aku hanya sedang, gembira ingin mengajak kau main-main !"
Giok Han tambah mendongkol. "Kau sedang gembira dan ingin main-main, junru aku yang kesakitan ditimpuki batu oleh kau !" kata Giok Han, tetap tidak senang. "Biar bagaimana kau harus menerima pembalasanmu, timpukan batu-batu juga, tanpa boleh mengelak !"
"Heh ? Boleh ! Kalau kau mau main-main menimpukku, boleh saja ! Silahkan ! Kalau kau berhasil satu kali saja menimpuk diriku, akan kuberi hadiah kau !"
"Hemmm, apa susahnya menimpukmu? Kau kira aku tamak akan hadiahmu ? Aku hanya ingin membalas timpukanmu tadi !" jawab Giok Han ketus. Da membungkuk, mengambil beberapa butir batu. Dia menimpuk. Batu meluncur kearah orang itu.
Benar-benar luar biasa orang tersebut, Dia tidak mengelak, diam saja. Waktu batu sudah dekat dengan mukanya, dia miringkan sedikit kepalanya, batu itu sudah lewat tanpa mengenai sasaran, Giok Han penasaran, menimpuk beruntun tiga kali, tetap gagal.
Baru saja Giok Han hendak menimpuk lagi, orang itu sudah berteriak-teriak: "Hei, tadi aku cuma menimpuk kau sebanyak tiga kali ! Kau sudah menimpuk empat kali! Sekarang kau masih mau menimpuk, mana adil?"
Giok Han tersadar, dia anggap perkataan orang itu benar. Biarpun dia mendongkol serta penasaran karena timpukan-timpukannya tadi tidak mengenai sasaran, tapi dia buang batu yang masih ada ditangannya.
"Baiklah" aku tidak akan menimpuk lagi. Tapi kau juga jangan ganggu aku lagi !"
"Aku tidak pernah mengganggumu, aku Cuma ingin mengajak kau bermain!" jawab orang cebol itu. "Mari kita bermain ..."
"Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk bermain !" jawab Giok Han. "Pergilah kalau guruku melihat kau, tentu akan di-hukumnya kau, sebab sudah berani datang ketempat terlarang ini!"
Orang bertubuh cebol itu tertawa. "Guru mu? Ooo, aku tidak takut! Jangankan gurumu, sekalipun malaikat datang kemari, aku tidak takut !"
Giok Han mengerutkan alis, dia mengawasi manusia cebol ini, yang semakin di pandang semakin tidak enak dilihat mukanya.
"Siapa kau dan mengapa datang kemari ?" Tanya Giok Han akhirnya.
"Aku Uh Ma ...!"
"jawab orang itu. "Aku sedang tunggu kawan. Mereka mungkin akan sampai di sini dua tiga jam lagi, dan kita punya kesempatan untuk main-main selama mereka belum tiba di sini".
"Apa yang ingin kalian lakukan datang kemari?" Tanya Giok Han mengawasi curiga.
"Aku tidak mau diganggu oleh pertanyaan tetek-bengek dari kau, aku ingin bersenang-senang bermain ! Ayo kita mulai ! Oya, main apa yang enak?"
Giok Han merasa geli melihat kelakuan orang tua cebol itu, Uh Ma, yang lagaknya seperti anak-anak kecil, biarpun mukanya sudah tua menunjukkan usianya lebih dari lima puluh tahun.
Bahkan Giok Han tiba-tiba merasa kasihan pada Uh Ma, sebab dia menduga apakah Uh Ma seorang tua yang perkembangan tubuhnya tidak normal dan memiliki perangai masih seperti anak-anak ? Karenanya, dia segera bertanya lagi: "Apakah kau datang sendiri kemari ?"
"Ya... tapi tidak lama lagi teman-temanku akan datang kemari I"
"Siapa mereka ?"
"Nanti kau akan tahu... jangan rewel, ayo kita mulai bermain". Begini saja kita atur, kau boleh menimpuki aku dengan batu sebanyak sepuluh kali, kalau ada satu yang mengenaiku, maka aku akan meluluskan satu permintaanmu, pemintaan apa saja boleh kau sebut, aku tidak akan menolak ! Tapi jika sepuluh timpukanmu gagal, kau harus mematuhi perintahku! Akur ?"
Giok Han tersenyum. Sepuluh kali menimpuk mustahil satu kali tidak ada yang kena. Giok Han memang masih kanak-kanak maka bangkit kegembiraan. "Baik" dia mengangguk. "Mari kita mulai !" Segera ia mengambil sepuluh butir batu kerikil.
"Kau boleh menimpuk dengan cara apa saja, ayo mulai !" kata Uh Ma. Dia segera jungkir balik, "berdiri" di tangan kirinya ! Biarpun dengan satu tangan saja, tubuhnya bisa bergerak sangat gesit!
Giok Han sedikitpun tidak menyangka babwa manusia cebol yang tampaknya masih kekanak-kanakan biarpun umurnya sudah tua, adalah See-mo, salah satu dedengkot iblis yang paling disegani oleh orang-orang Kangouw. Kegembiraan Giok Han bangkit, dia mulai menimpuk dengan batu pertama.
Tubuh Uh Ma berputar di atas tangan kirinya, seperti gangsing, timpukan batu itu tidak berhasil tiba di sasaran. Giok Han menimpuk lagi dengan batu kedua, ketiga dan keempat saling susul. Tetap gagal. Uh Ma mudah sekali menghindarkan. "Ayo timpuk terus, cara apa saja boleh kau pergunakan!"
Giok Han penasaran bukan main. Dia mencekal dua butir batu di tangan kanannya mengawasi Uh Ma untuk cari kesempatan. Mendadak Giok Han menjejak kakinya, tubuhnya melambung ke tengah udara, dia mempergunakan jurus "Toa Mo Ho Yan" (Asap Mengepul Di Gurun), cepat sekali tangannya menimpuk, sekaligus dua butir batu mengarah pada dada dan pinggang Uh Ma.
Tapi sebat Uh Ma menghindar, tubuhnya, cuma doyong ke kiri dan ke kanan di atas tangan kirinya, kedua batu itu sudah lewat tak bisa mengenai dirinya. "Sudan enam kali tinggal empat lali !" bilang Uh Ma, kemudian dia tertawa.
Giok Han tambah penasaran, tanpa bilang apa-apa dia beruntun menimpuk tiga kali. Tapi tetap Uh Ma bisa menghindar. Ke-tiga timpukan itu meleset lagi.
Uh Ma tertawa terkikik. "Sudah sembilan kali," katanya. "Kalau satu kali lagi kau gagal, berarti sudah sepuluh kali gagal menimpukkan dan kau harus menepati janji mematuhi perintahku !"
Giok Han penasaran, dia sejak tadi mengawasi cara Uh Ma mengelakkan sstiap timpukannya. Orang ini "berdiri" di tangan kiri, mengandalkan kelima jari tangannya yang bekerja sebagai roda atau garuh yang membuat tubuhnya bisa bergerak maju, dibantu oleh ilmu meringankan tubuh.
Tapi, yang paling utama Uh Ma selalu mengelakkan timpukan batu Giok Han dengan menggerakkan tubuhnya doyong ke kiri kanan atau ke depan belakang. Tubuhnya tergantung di tengah udara, maka dia bisa mendoyongkan seenaknya, yang mengherankan adalah kekuatan tangan kirinya itu.
Melihat Giok Han cuma memperhatikannya Uh Ma jadi tak sabar. "Ayo timpuk lagi, bukankah baru sembilan kali?!"
Giok Han mengincer kemudian menimpuk lagi. Batu meluncur cepat, tapi lebih cepat lagi tubuh Uh Ma menghindarkan timpukan tersebut, karena tubuhnya doyong ke sebelah kanan, batu itu melesat lewat di sisi pinggangnya. Uh Ma tartawa bergelak-gelak. "Kau kalah !" teriaknya sambil lompat berdiri dengan kedua kakinya lagi.
Giok Han penasaran sekali, tapi dia seorang yang menghargai perkataan maupun janjinya. "Baik, aku menyerah kalah ! Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.
"Kau harus menggendongku!" kata Uh Ma. "Aku harus dibawa berlari-lari sejauh satu lie !"
Giok Han mengangguk tanpa menjawab.
Uh Ma tidak buang waktu melesat ke tengah udara dan tahu-tahu sudah duduk di pundak Giok Han. "Ayo lari, kudaku !".perintahnya.
Mendongkol Giok Han, tapi dia berlari menuruti perintah Uh Ma. Biarpun tubuh Uh Ma cebol, tapi tubuhnya cukup berat. Berlari satu lie napas Giok Han memburu.
"Mari kita main-main lagi !" tantang Giok Han. "Kalau aku gagal menimpukmu dalam sepuluh kali timpukan, akan kugendong lagi kau sejauh dua lie! Tapi kalau kau kalah, harus mengajarkan aku cara berjalan dengan satu tangan!"
Uh, Ma ragu-ragu, tapi akhirnya mengangguk. Dia pikir mana mungkin Giok Han bisa menimpuknya? "Baik, kuterima tantanganmu !" katanya.
Giok Han girang, dia mengambil lagi sepuluh butir batu. Sekali ini otaknya bekerja keras, ia berusaha menemukan caranya untuk bisa menimpuk tepat pada si cebol ini. Sedangkan Uh Ma sudah jungkir balik berdiri di tangan kirinya.Bahkan sekarang tubuhnya berputar-putar di atas tangan kirinya bagaikan gangsing. "Ayo !" menganjurkan si cebol.
Giok Han mementang matanya. "Dia mengandalkan ginkangnya mengelakkan setiap timpukanku! Hemmmm. aku harus meng-akalinya ! Kalau kutimpuk dengan cara biasa, sampai kapan tetap saja tidak mungkin dia tertimpuk, tubuhnya selalu bisa doyong seenaknya ke kiri kanan...!"
Karena berpikir begitu. Giok Han segera berseru: "Tunggu dulu, aku ingin bicara !"
"Eh mau bicara? Bicara apa?" Tanya Uh Ma, berhenti berputar.
Kesempatan itu dipergunakan Giok Han buat menimpuk. Sekaligus dua butir batu. Timpukan itu demikian mendadak, dia juga menimpuk dengan tenaga cukup kuat, dengan salah satu jurus "Cap Peh Lo Han Kun" yang bernama "Lo Han Hui Te, "tubuhnya melesat mengimbangi kecepatan kedua batu yang tengah menyambar kepada Uh Ma, tangannya bergerak menimpuk lagi dua butir batu dari arah lain !
"Ooooo, kau menipuku, bocah !" teriak Uh Ma, dia tidak marah, malah tertawa terkikik, tubuhnya mendadak melompat ke tengah udara, kedua batu pertama gagal mengenai sasaran, dan tubuhnya kembali jatuh dengan tangan kiri yang menunjang, kemudian lincah sekali tubuhnya menghindari dua batu lainnya.
Kecele Giok Han, karena dia gagal lagi. Uh Ma tertawa, menganjurkan : "Ayo timpuk lagi, aku tidak sesali kau, bukankah tadi sudah kubilang boleh kau pergunakan cara apa saja untuk menimpukku !"
Giok Han tambah penasaran. Semakin sulit persoalan yang dihadapinya, semakin keras Giok Han berusaha bisa mengatasi kesulitan itu. Sudah empat batu dipergunakan, tinggal enam batu lagi yang berhak ditimpukkan pada Uh Ma.
Dia memasang mata, mengawasi dengan cermat, memperhatikan setiap gerakan Uh Ma. Sejauh itu dia tetap tidak menimpuk. Akhirnya Giok Han berlari mengelilingi Uh Ma, dia mempergunakan cara berlari Sin Beng Kun. Maksudnya begitu ada kesempatan, segera akan menimpuk lagi.
Uh Ma tertawa. "Ayo timpuk, jangan berputar-putar terus begitu!" teriaknya. Dia diam di tempatnya "berdiri" di tangan kirinya tanpa ikut berputar, karena dia memang memiliki pendengaran tajam, tanpa ikut berputar dan tanpa melihat, asal Giok Han, menimpuk pasti dia bisa mendengar sambaran angin dari timpukan batu tersebut dan bisa segera menghindarinya.
Giok Han tetap berputar-putar sambil berlari, dia sebetulnya ingin membuat Uh Ma jadi pusing. Tapi maksudnya tak kesampaian. Otaknya berputar keras terus, sampai akhirnya ia ingat kata-kata Tang Sin Siansu waktu memberikan latihan padanya: "Dengan "Sin Beng Kun" kau bisa mempergunakan kekerasan di samping kelunakan. Yang terang terpisah dari yang gelap, yang panas terpisah dari yang dingin... jika kau mempergunakan salah satu secara terpisah dengan sebaik-sebaiknya niscaya apapun bisa kau lakukan terhadap lawanmu..!"
Muka Giok Han mendadak berseri-seri. Dia cerdas sekali, dan di saat itu dia sudah berhasil menemukan kunci rahasia "Sin Beng Kun" yang selama setengah tahun gelap baginya, di mana dia selalu gagal untuk memecahkan persoalan itu ! Tidak disangka-sangkanya, waktu bermain main dengan Uh Ma inilah dia baru mengerti sepenuhnya maksud perkataan Tang Sin Hongthio.
Saking gembira Giok Han sampai melompat berjingkrak disertai seruan girang. Uh Ma tertegun heran menyaksikan lagak Giok Han, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba si bocah jadi begitu girang ? Tapi Uh Ma tetap tersenyum mengawasi tenang-tenang pada si bocah, dia yakin cara apapun yang dipergunakan Giok Han, tak nantinya si bocah bisa menimpukkan batu kena dirinya.
"Ayo timpuk, mengapa berlari-lari terus seperti itu?" menantang Uh Ma, setelah melihat Giok Han masih belum menimpuk lagi.
"Ya, aku akan segera menimpuk !" Segera Giok Han mengempos semangat, dia tiba-tiba mengayunkan tangan kanannya, menimpukkan sebutir batu. Batu itu meluncur cepat sekali. Waktu itu otak Giok Han tengah berpikir: "Yang panas dan dingin, yang gelap dan terang, yang keras dan lunak... yang kosong tapi berisi...!"
Dan belum lagi batu yang pertama itu menyambar sampai pada Uh Ma, tangan Giok Han menimpuk batu kedua. Menyusuli yang ketiga. Tapi tenaga timpukan ketiga batu itu berbeda-beda. Yang pertama memang disertai tenaga menimpuk yang kuat, yang kedua kosong tak disertai tenaga dan yang ketiga melesat lebih cepat dari yang pertama! Justeru Giok Han mempergunakan siasat "yang kosong tapi berisi dan yang berisi namun kosong".
Uh Ma seperti sebelumnya, menghindarkan batu yang pertama, tapi ketika dia menghindarkan batu kedua, dia kaget. Batu itu datangnya lebih lambat dari yang diduga, karena tidak disertai oleh tenaga timpukan.
Tubuhnya sudah doyong, batu itu baru akan sampai, dan waktu tubuhnya kembali pada posisi semula, batu itu tiba ! Kaget Uh Ma tapi dia lihai, cepat bukan main tubuhnya berputar, batu itu seperti didorong oleh suatu kekuatan tak tampak, berobah arah menyambarnya, menceng ke samping kanan ! Batu ketiga tiba dan dielakkan lagi oleh Uh Ma. Dia tertawa bergelak-gelak. "Licik kau, bocah !" gumamnya.
Giok Han kecele lagi. Usahanya gagal. Tapi sekarang dia mulai menemukan cara untuk mengatasi kelincahan Uh Ma. Di tangannya masih ada tiga batu. dan sekarang Giok Han tidak buang waktu. Sebutir batu ditimpukkan lagi, tapi cara menimpuknya sekali ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena dia menimpuk tanpa melontarkan batu.
Batu itu tetap berada di tangannya, hanya angin pukulan yang meluncur, dia mempergunakan salah satu jurus "Sin Beng Kun" Benar dia baru bisa menguasai dasar ilmu "Sin Beng Kun", tapi sambaran angin dari tangannya cukup santer. Uh Ma mengira angin itu adalab sambaran batu, dia mendoyongkan tubuhnya untuk mengelak, kesempatan ini dipergunakan Giok Han, batu di tangannya dilepaskan tanpa bertenaga kearah punggung Uh Ma. Batu itu mengenai tengkuk Uh Ma. Saking girang Giok Han jadi berjingkrak dan membuang sisa dua batu di tangannya.
"Kau kalah !" Berseru Giok Han. "Kau harus mengajarkan aku cara jalan dengan tangan tunggal seperii itu !"
Uh Ma mendongkol, dia merasa tertipu Giok Han. Segera dia melompat berdiri di atas kedua kakinya, membanting-banting kaki kanannya.
"Tidak bisa ! Kau curang !" teriak Uh Ma. "Kau menimpuk dengan cara menipu seperti itu ! Tadi kau tidak menimpuk, baru kemudian menyusuli dengan timpukan tak bertenaga. Mana boleh itu disebut sebagai satu timpukan ?!"
Giok Han tertawa. "Kau ingin ingkar janjimu?" Tanyanya. "Bukankah tadi kau menantang aku boleh mempergunakan cara apa saja untuk menimpukmu ?"
Uh Ma mengawasi penasaran pada Giok Han, tapi akhirnya dia menggerutu dengan suara tidak jelas. Tangannya menepuk keningnya. "Aku yang dogol dipermainkan bocah seperti kau ! Tapi sudahlah ! Ayo. kemari kau ! Akan kuajarkan kau jalan dengan tangan tunggal !"
Girang Giok Han, segera dia mendengarkan Uh Ma memberikan petunjuk bagaimana cara berjalan dengan tangan tunggal. Bahkan Giok.Han mencoba berkali-kali cara berjalan seperti itu dan Uh Ma memberikan petunjuknya. Sedikitpun Giok Han tidak menyangka bahwa cara berjalan dengan tangan tunggal, yang dianggapnya sebagai cara bermain-main yang menggembirakan, adalah semacam ilmu meringankan tubuh yang dahsyat bernama "TokPie Ginkang" andalan See-mo, dedengkot iblis rimba persilatan ! "Tok Pie Ginkang" pun merupakan cara membangkit tenaga khikang yang dahsyat, waktu jungkir balik begitu, Giok Han diajari cara bernapas, mengerahkan tenaga Tan-tian (pusar)nya.
Setelah selesai memberikan petunjuknya, Uh Ma memaksa Giok Han untuk main timpuk-timpukan lagi. Tiga kali Giok Han kalah, karena Uh Ma tidak bisa diakali dengan cara "yang kosong tapi berisi", dan tiga kali Giok Han harus menggendong Uh Ma.
Sedang Giok Han menggendong Uh Ma untuk ketiga kalinya, mendadak terdengar suara tepukan tangan dari kejauhan. Uh Ma mendadak lompat turun dari pundak Giok Han. "Kawan-kawanku sudah datang, aku harus pergi !" Katanya. "Besok pagi kiia bertemu lagi di sini !" Setelah berkata begitu, tubuhnya yang cebol seperti bayangan saja berkelebat lenyap dari depan Giok Han.
Diam-diam Giok Han kagum. Uh Ma tampaknya bukan orang sembarangan dan dia girang sudah diajarkan cara bermain jalan dengan tangan tunggal.
Setelah Uh Ma pergi, Giok Han mencoba berkali-kali jalan dengan tangan kirinya, sekali-sekali diselingi dengan tubuh berputar dengan tangan kiri menyanggahnya, berputar seperti gangsing, disertai pengerahan tenaga Tan-tian ! Tanpa disadari G'ok Han tengah melatih "Tok Pie Ginkang", juga melatih sekaligus khikangnya !
Mengapa See-mo Uh Ma bisa berada di Siauw Sit San ? Apa yang ingin dilakukannya ? Ternyata See-mo tidak berdusta pada Giok Han, ia sedang menunggu kedatangan tiga orang temannya, yaitu Lam-mo, Pak-mo dan Tong-mo. tiga dedengkot iblis lainnya.
Sebetulnya antara See-mo dengan tiga dedengkot iblis itu saling cakar-cakaran dan tidak pernah mau mengalah satu dengan yang lain. Baru akhir-akhir ini ada seorang yang bisa menundukkan keempat dedengkot iblis tersebut, memaksa mereka selalu bekerja sama dalam melakukan perintah-perintah orang yang telah menundukkan keempat dedengkot iblis itu.
Dari keempat dedengkot iblis tersebut, dedengkot iblis Barat inilah yang memiliki sifat seperti kanak-kanak. Tubuhnya yang cebol disebabkan waktu kecil dia diserang semacam penyakit panas, membuat perkembangan badannya terhambat, dia jadi pendek biar pun usianya telah tua.
Juga sifatnya jadi kekanak-kanakan. senang sekali mengajak anak-anak bermain dengannya. Tapi jika ada sesuatu yang tidak disenanginya, maka ia berobah menjadi iblis yang paling mengerikan, bertindak sadis luar biasa.
Waktu menerima perintah dari orang yang berhasil menundukkannya. See-mo berangkat lebih dulu ke Siauw Sit San, bertemu dengan Giok Han. Dia menyaksikan Giok Han sedang berlatih dliri, timbul kegembiraannya untuk main-main dengan si bocah, sampai akhirnya dia terpaksa mengajarkan Giok Han ilmu andalannya, yaitu "Tok Pie Ginkang."
Selama puluhan tahun See-mo malang melintang menjagoi daerah Barat, "Tok Pie Ginkang"nya sulit sekali dilawan oleh siapapun, Dia sudah melatihnya dengan baik, banyak jago-jago ternama roboh di tangannya karena "Tok Pie Ginkang"nya.
Cepat sekali See-mo sudah sampai di depan bukit kecil, di mana Pak-mo, Lam-mo dang Tong-mo sudah berkumpul. Sebelum tiba di sini, mereka memang sudah berjanji akan saling memberi isyarat dengan tepukan tangan, itulah sebabnya See-mo mengetahui kedatangan ketiga orang kawannya.
"Cebol sialan," memaki Lam-mo jengkel. "Mengapa kau datang terlambat ? Tentu sudah kumat sintingmu, untuk putar-putar tidak karuan di gunung ini... kalau kau terlihat oleh pendeta Siauw Lim Sie dan urusan jadi gagal, tentu kau akan disesali oleh Cukong (majikan) !"
"Kau tidak perlu rewel seperti itu, tua kerempeng berpenyakitan !" menyahuti See-mo mengejek. "Aku justeru menyesal kalian tiba begitu cepat, kalau tidak tentu aku masih bisa bersenang-senang dengan si bocah dogol!"
"Si bocah dogol? Siapa dia ?" tanya Pak-mo, tangannya mengambil cupu arak berwarna merah dan meneguknya.
"Akh, kau pengemis butut mau tahu saja urusan orang lain!" menyahuti See-mo. "Dia bocah yang menyenangkan diajak bermain !"
Tong-mo tertawa. "Kau masih seperti bocah-bocah gentong nasi yang senang bermain-main dengan bocah tidak keruan !" katanya.
"Kau sendiri apa, pendeta bejat ? Sudah jangan rewel, apakah kita mulai bekerja sekarang saja? !" kata See-mo.
"Tidak ! Kita harus menunggu Cukong dulu !" kata Lam-mo.
"Kapan Cukong tiba di sini ?" tanya See-mo.
"Tidak lama lagi !" menyahuti Lam-mo. "Apakah selama kau sampai di sini tidak pernah bertemu dengan pendeta-pendeta Siauw Lim Sie ?
See-mo cuma menggeleng. Dla memutar tubuhnya dan menggerendeng. "Hu. benar-benar kita berempat manusia-manusia dungu! Sebetulnya aku kecewa harus tunduk pada DIA ! Seharusnya, biar mati aku tak boleh tunduk padanya..."
"Huh ! Kalau Cukong dengar perkataanmu, apakah jiwamu masih bisa jadi milikmu?"
"bentak Lam-mo.
See-mo cuma tertawa dingin.
"Apa yang dia bisa lakukan ? Aku cuma jeri pada gurunya... kalau tidak ada gurunya, biar ada sepuluh DIA, aku tidak akan memberi kesempatan meaghinaku seperti sekarang, aku diperlakukan seperti anjing-anjing pengawalnya !"
Lam-mo tertawa mengejek. "Kalau memang kau sudah bosan hidup, mengapa kau harus menggerutu disini ? Nanti kalau Cukong sudah datang, katakan saja terus terang padanya isi hatimu !"
See-mo menggerutu dengan suara tak jelas, pak-mo sudah menggantung buli - buli araknya dipinggang, dia tertawa. "Aku sependapat dengan See-mo! Dia bicara dari hal yang tepat, kukira tidak seharusnya kita mau diperbudak oleh DIA. Kalau kita berempat mau menghadapi gurunya, niscaya kebebasan kita selanjutnya tidak terkekang lagi !"
Lam-mo menggeleng sambil menghela napas, mukanya murung. "Apakah kau kira aku girang diperbudak seperti anjing oleh DIA ? Tapi, percuma saja kita coba menentang gurunya, mustahil kita bisa menghadapinya, walaupun maju berempat ! "
Tong-mo tertawa terkekeh, tapi tidak bilang apa-apa. Keempat dedengkot iblis itu jadi berdiam diri, masing-masing bungkam. Dalam sejarah persilatan baru sekali ini terjadi empat dedengkot iblis yang ditakuti oleh orang-orang rimba persilatan, bisa berkumpul tanpa bertengkar dan tanpa saling cakar-cakaran !
Bahkan mereka saling mengeluhi keadaan diri masing-masing ! Biasanya, mereka merupakan dedengkot-dengkot iblis yang paling angkuh, yang tidak pernah gentar walaupun harus menghadapi seribu kali kematian!
Lama juga mereka berdiam dibukit kecil itu, matahari sudah menggeser ke barat, sudah mendekati senja. Akhirnya orang yang mereka tunggu telah datang, Dia tidak lain Cu Lie Seng, putra Cu Thaykam. Mukanya dingin tak memperlihatkan perasaan apapun juga.
"Apakah kerbau-kerbau gundul Siauw Lim Sie mengetahui kehadiran kalian ?" tegur Cu Lie Seng, cukong berusia muda tersebut.
Keempat dedengkot iblis itu menggeleng. "Tidak, sejak tadi kami berdiam disini dan tidak pernah bertemu dengan seorang pendeta. Apakah kita akan bekerja sore ini cukong?"
Cu Lie Seng menggeleng, dia mengawasi sekitar tempat itu, barulah jawabnya: "Tidak. Guruku akan sampai disini menjelang kentongan kedua. Kita tunggu saja disini ! Urusan ini harus selesai malam ini, kalau memang kerbau-kerbau gundul Siauw Lim Sie tidak mau memenuhi tuntutan guruku, maka kalian harus buka telaga darah digunung ini!"
Yang dimaksudkan Cu Lie Seng dengan telaga darah adalah membunuh secara besar-besaran.
Lam-mo berempat mengangguk, tanpa buka suara lagi. Matahari semakin tenggelam diufuk barat...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tang Sin Siansu bertiga dengan Tang Lang dan Tang Lu Siansu tengah berada di kamar semedhi. Mereka bertiga tengah berusaha melakukan pengurutan pada Tang Bun Siansu dengan memusatkan tenaga lwekang masing-masing. Walaupun bagaimana Tang Bun Siansu harus dipulihkan kesadarannya. Sejauh itu Tang Bun Siansu tetap seperti linglung tak ingat diri, hanya menyebut-nyebut
Sejak peristiwa kedatangan Poan Pian Thian, mereka selalu diliputi kegelisahan. Tang Sin Siansu bertiga yakin, suatu saat Tang Sin Siansu pasti muncul di Siauw Lim Sie buat mengacau, Hal inilah yang membuat ketiga hweshio pimpinan Siauw Lim Sie itu jadi tak tenang, biarpun mereka masing-masing memiliki ilmu yang tinggi.
Sebelumnya Tang Sin Siansu ragu-ragu untuk melakukan pengurutan dengan kedua Sutenya pada Tang Bun Siansu, karena pengurutan itu menelan tenaga lwekang mereka dalam ukuran yang tidak sedikit, dan bisa membahayakan mereka kalau saat itu muncul Tang San Siansu.
Namun lewat beberapa hari Tang Sin Siansu memutuskan bahwa bagaimanapun Tang Bun Siansu harus diobati, agar sembuh. Biarpun tidak sembuh keseluruhan jika bisa dipulihkan kesadarannya, sehingga ia bisa menceritakan apa yang telah dialaminya, pasti itupun sangat penting bagi mereka dalam menentukan langkah-langkah apa yang akan diambil waktu menghadapi Tang San Siansu, kalau bekas Toasuheng mereka muncul juga pada akhirnya, Dengan selalu ngelindur menyebut-nyebut perihal Liong-kak, pasti Tang Bun Siansu menyimpan suatu rahasia yang sangat penting, itulah Tang Sin Siansu mengajak kedua sutenya untuk melakukan pengobatan pada Tang Bun Siansu dengan cara memusatkan lwekang mereka bertiga secara bersama-sama coba mengembalikan kesadaran Tang Bun Siansu.
Usaha untuk memulihkan kesadaran Tang Bun Siansu, yang waktu itu sudah berobah seperti pendeta tolol dan hanya mengoceh perihal Liong-kak, tidaklah semudah apa yang diduga oleh Tang Sin Siansu bertiga.
Sudah sebulan lebih mereka melakukan pengurutan bersama, sejauh itu tetap saja tidak ada tanda-tanda kesadaran Tang Bun Siansu membaik.
Sore ini Tang Sin Siansu bertiga melakukan lagi pengurutan pada Tang Bun Siansu-. Dari telapak tangan Tang Sin Siansu bertiga keluar hawa panas menerobos berbagai bagian di tubuh Tang Bun Siansu.
Tapi setiap-kali hawa murni ketiga hweshio pimpinan Siauw Lim Sie itu hendak menerobos masuk ke dalam tubuh Tang Bun Siansu, acapkali pula gagal. Seperti ada perintang kuat, yang menolak masuknya tenaga dari luar.

Butir-butir keringat sudah membasahi muka dan tubuh Tang Sin Siansu bertiga Berbagai cara lain telah pula dicoba, misalnya dengan menotok beberapa jalan darah terpenting di tubuh Tang Bun Siansu Seperti ditotoknya jalan darah Kiat-hiat, Yuan-hiat, Tai-yin-hiat dan lain-lainnya, tetap saja Tang Bun Siansu dalam keadaan seperti ngelindur, hanva menyebut-nyebut perihal Liong-kak.
Akhirnya Tang Sin Siansu menghentikan usaha untuk memulihkan kesadaran Tang Bun Siansu dengan hati sangat kecewa dan berduka. Tampaknya tak ada harapan Tang Bun Siansu bisa dipulihkan kesadarannya. Akibat pukulan maut yang dilakukan seseorang menyebabkan kerusakan parah pada jaringan syaraf Tang Bun Siansu.
"Omitohud ! Tampaknya Tang Bun Sute memerlukan pengobatan yang lama guna memulihkan kesadarannya," kata Tang Sin Sian-su sambil menghambus keringat di mukanya. Tang Lang dan Tang Lu Siansu duduk berdiam diri saja muka merekapun murung penuh kegelisahan.
"Suheng, apakah kita perlu mohon bantuan Tai Hong Susiok dan Tai Kim Susiok ?" tanya Tang Lang Siansu ragu-ragu.
Muka Tang Sin Siansu dan Tang Lu Siansu berobah, bahkan Tang Sin Siansu sudah mengulap-ulapkan tangannya sambil menghela napas dalam-dalam
"Siancai ! Tai Kim dan Tai Hong Susiok tidak boleh diganggu, bagaimana pentingnya sekalipun persoalan kita ! Mereka berdua tengah mencapai tingkat yang terpenting dalam latihan mereka ! Tahun ini merupakan tahun terakhir mereka menyelesaikan latihan tersebut, dan sedikitpun perhatian mereka tidak boleh terpecah, bisa membahayakan keselamatan jiwa mereka !"
Tai Hong Hweshio dan Tai Kim Hweshio adalah dua orang sute Tai Giok Siansu. Tahun ini usia kedua hweshio itu sudah lanjut sekali, sembilan puluh dua tahun usia Tai Hong dan delapanpuluh delapan tahun pada Tai Kim Hweshio.
Sejak muda kedua hweshio ini memang keranjingan ilmu silat, setiap hari waktu mereka-habis dipergunakan untuk melatih ilmu silat Siauw Lim Sie yang jumlahnya 108 macam Dari ilmu silat yang paling rendah sampai ilmu silat ciptaan Tat-mo Couwsu ( Pendiri Siauw Lim Sie ) yang terhebat, mereka ingin pelajari semua, itulah sebabnya mereka tidak mempunyai perhatian pada kedudukan Hongthio.
Waktu Tai Giok Siansu meninggalkan Siauw Lim Sie, kedua sutenya tidak mengetahui, karena tidak diberitahukan hal itu. Mereka tengah mengurung diri di ruang bahwa htana yang khusus dibuat untuk mereka. Sudah lebih tigapuluh tahun kedua hweshio tersebut tidak meninggalkan tempatnya, mereka tekun meyakini berbagai ilmu silat warisan Tat-mo Couwsu.
Menurut peraturan Rimba Persilatan, dalam setiap partai, di atas Ciangbun masih terdapat Tianglo (pemimpin, penasehat) partai itu. Dalam urusan-urusan penting, Ciangbun harus mendengar pendapat Tianglo. Kedudukan Tianglo hampir sama dengan Thay-siang Ciangbun (ketua kehormatan ), hanya ia tidak mencampuri segala urusan kecil.
Pada jaman itu, Tai Hong Hweshio dan Tai Kim Hweshio berdua adalah para Tianglo dari partai Siauw Lim Sie. Setelah Tai Giok Siansu meninggalkan Siauw Lim Sie, tawar hati Tai Hong Hweshio dan Tai Kim Hweshio untuk mencampuri segala urusan pintu perguruan, mereka mengurung diri dan meyakinkan ilmu selat lebih mendalam.
Memang pada mulanya merekan sudah keranjingan ilmu silat dan tidak ada perhatian pada urusan lain dari ilmu silat, setelah Tai Giok Siansu pergi dari Siauw Lim Sie dan diduga sudah mati karena usia tua, maka mereka semakin tenggelam dalam latihan ilmu silat. Ciangbun bisa diganti-ganti, tapi seorang Tianglo menduduki kursi kehormatan itu sehingga ia meninggal dunia.
Seorang Tianglo bisa diangkat oleh rapat anggota partai atau ditujuk oleh Tianglo yang ingin mengundurkan diri. Tapi, karena kedudukan Tianglo hanya boleh ditempati oleh seorang yang berkepandaian sangat tinggi dan dihormati oleh seluruh Rimba Persilatan, maka sering kejadian bahwa sesudah Tianglo lama meninggal dunia, tidak diangkat lagi Tianglo yang baru. Dalam suatu partai yang tidak mempunyai Tanglo, maka orang yang paling tinggi kedudukannya adalah Ciangbun.
Tapi menurut peraturan Rimba Persilatan, Thay-siang Ciangbun yang baru belum boleh diangkat secara resmi sebelum yang lama meninggal dunia, itulah sebabnya, walaupun sekali ini Siauw Lim Sie tampaknya akan menghadapi peristiwa hebat. Tang Sin Siansu masih ragu-ragu untuk melaporkan semua itu pada kedua Tianglo Siauw Lim Sie, memohon bantuan Tai Kim Hweshio dan Tai Hong Hweshio,
Alasannya. pertama belum bisa dipastikan apakah Tai Kim dan Tai Hong Hweshio bersedia keluar dari tempat mereka mengurung diri untuk melibatkan diri dengan persoalan tersebut, alasan kedua justeru kedua Tianglo Siauw Lim Sie itu tengah mencapai puncak latihan dari ilmu mereka, jelas tidak boleh diganggu ketenangan dan pencurahan perhatian mereka pada latihan tersebut.
Tapi, ancaman Tang San Siansu, Toasu-heng dari Hongthio Siauw Lim Sie, bukanlah urusan yang main-main. Apalagi Tang Sin Siansu dan yang lainnya menyadari Toasuheng mereka itu memiliki ilmu yang melebihi mereka, mengingat memang Tang San Siansu pernah menerima warisan ilmu "Liong Beng Kun" (Pukulan Naga Menembus) dari guru mereka.
Sedang Tang Sin Siansu bertiga berunding, mendadak masuk seorang Totong (pendeta kecil) yang memberi laporan di luar datang tamu dalam jumlah cukup banyak. "Pemimpinnya seorang pemuda bermuka putih cakap, hanya bilang ingin bertemu dengan Hong-thio." menambahkan Totong itu.
Alis Tang Sin Siansu mengkerut, demikian pula dengan Tang Lang dan TangLu Siansu, mereka menduga-duga entah siapa para tamu yang menurut Totong itu jumlahnya belasan orang. Segera Tang Sin Siansu mengibaskan lengan jubahnya, ia perintahkan Totong ini mengundang tamu ke Lian-bu-thia kuil Siauw Lim Sie yang luas.

Waktu Tang Sin Siansu bertiga dengan kedua sutenya keluar buat menyambut tamu, dilihatnya tamu-tamunya itu agak luar biasa, karena di antara mereka See-mo, Tong-mo, Pak-mo dan Lam-mo, empat dedengkot manusia iblis dari empat daerah.
"Omitohud !" menggumam perlahan Tang Sin Siansu dengan hati yang terguncang, cepat dia bisa menguasai diri dan sikapnya wajar seperti biasa lagi, Dia sadar, ancaman bahaya sudah di depan mata, Dengan langkah tenang ia maju mendekati para tamunya, merangkapkan kedua tangannya sambil menyebut kebesaran Sang Buddha.
"Omitohud ! Tampaknya kiesu sekalian mempunyai urusan penting yang ingin disampaikan pada Loceng ?" tanya Tang Sin Siansu.
Dari rombongan tamu maju seorang pemuda, dialah Cu Lie Seng. Tadi melihat Hongthio Siauw Lim Sie keluar, langkah kakinya yang tenang mantap, mukanya yang angker berwibawa dan sinar mata setajam pisau, membuat hati Cu Lie Seng tergetar.
Tapi pemuda itu cepat tenang kembali. Dia merangkapkan kedua tangannya memberi hormat. "Siauwte Cu Lie Seng memberi hormat pada Hongthio, kedatangan Siauwte membawa pesan guruku yang mulia, untuk disampaikan pada Hongthio..."
Tang Sin Siansu mengawasi pemuda itu sabar sekali. "Katakanlah kiesu, pesan apakah untuk Loceng ?"
"Seperti Hongthio sudah ketahui, guru Siauwte adalah Tang San Siansu, masih Toa-suheng Hongthio," kata Cu Lie Seng lagi. "Dan guruku berpesan, agar Hongthio mau memandang tali percaudaraan dengannya untuk bicara baik-baik dengannya..."
"Omhohud !" Tang Sin Siansu merangkapkan kedua tangannya. "Tentu Loceng senang bicara baik-baik dengannya, dia adalah Toasuheng Loceng yang layak dihormati ! Di manakah sekarang guru Siauw kiesu berada ?"
"Tidak lama lagi dia akan datang," jawab Cu Lie Seng. "Tapi sebelumnya guruku juga berpesan, agar Hongtnio mau memberi muka kepadanya, supaya menyerahkan kedudukan Hongthio Siauw Lim Sie ke tangan guruku, sebab menurut guruku, kedudukan itu menjadi haknya dan..." Cu Lie Seng tidak bisa meneruskan perkataannya, Tang Lu Siansu tidak bisa menahan diri sudah melompat ke depan mengibaskan lengan jubahnya.
Tubuh Cu Lie Seng terhuyung mundur dua langkah hampir terjengkang karena biarpun kibasan lengan jubah itu perlahan tampaknya, namun angin yang menyambar sangat dahsyat. Untung See-mo cepat melompat maju dan meletakkan telapak tangannya pada punggung Cu Lie Seng, sehingga pemuda itu tidak sampai terguling.
Biarpun demikian hati Cu Lie Seng tergetar kaget dan kagum atas kehebatan tenaga dalam Tang Lu Siansu.
"Jangan bicara ngawur disini !" bentak Tang Lu Siansu gusar. "Memang benar Tang San Hweshio pernah menjadi Toasuheng kami, tapi ia murid murtad dan sudah di.."
"Sute, biarkan dia bicara dulu !" sabar suara Tang Sin Siansu. "Mundurlah, sute . .!"
Tang Lu Siansu masih mendongkol, tapi dia tak berani menentang perintah suhengnya. Dia mundur kembali, biarpun matanya masih melotot mengawasi Cu Lie Seng, yang dianggap menghina keterlaluan terhadap Hongthionya.
"Silahkan Siauw kiesu meneruskan bicaramu !" kata Tang Sin Siansu tetap sabar.
Muka Cu Lie Seng masih pucat, tapi dia sengaja tertawa mengejek. "Tidak Siauwte sangka pendeta-pendeta Siauw Lim Sie pandai menekan si muda..."
Tang Lu Siansu dan Tang Lang Siansu gusar tapi Tang Sin Siansu dengan berwibawa sudah bilang: "Siau-kiesu, bukankah kiesu ingin menyampaikan pesan-pesan gurumu ?"
"Benar !" menyahuti Cu Lie Seng angkuh, tapi dia tidak berani terlalu dekat dengan Tang Sin Sian-su "Guruku bilang, kalau memang Hongthio mau memberi muka padanya, menyerahkan kedudukan Ciangbun padanya, tentu guruku tidak akan mengecewakan kalian, tetap saja yang akan memimpin Siauw Lim Sie adalah kalian bertiga, karena guruku sendiri memiliki kesibukan lain dan tidak mungkin berdiam di kuil ini..."
Tang Sin Siansu mengawasi orang-orang yang jadi tamu tak diundang itu. Tong-mo, See-mo, Lam-mo dan Pak-mo berempat sudah merupakan lawan yang tidak ringan, belum lagi yang lainnya tentu masing-masing memiliki kepandaian tidak rendah. Lalu kalau nanti muncul Tang San Siansu, berarti pihak lawan semakin kuat. Dalam waktu singkat seperti itulah akhirnya Tang Sin Siansu mengambil keputusan: "Sekarang Siauw-kiesu kembali, beritahukan kepada gurumu bahwa Loceng ingin bertemu dengannya, persoalan yang tadi Siauw-kiesu sampaikan akan kami bicarakan langsung dengannya."
Cu Lie Seng tertawa. "Memang guruku tak lama lagi akan datang..." Baru saja-dia berkata begitu, mendadak terdengar suara berisik diluar pintu kuil. Waktu dua orang Totong keluar, mereka jadi berdiri kesima, mata mereka melotot, ternyata patung singa-singaan dikiri kanan dekat undakan di depan pintu gerbang kuil sudah hancur bagian kepala, menjadi Bubuk yang bertumpuk ditanah !
Tampak seorang pendeta kurus tengah melangkah lebar masuk kedalam. Sedang kedua Totong itu bengong, justeru si pendeta kurus sudah tiba didekat mereka. "Kau yang menyambutku ?" tanya si pendeta kurus, tangannya diulur dan kedua Totong itu sudah dicengkeram dan ditenteng masuk. Semua mata memandang kepada hweshio kurus tersebut, Cu Lie Seng berseru girang : "Suhu!"
Pendeta kurus itu mendorong kedua Totong itu kearah Tang Sin Siansu. "Tang Sin," katanya, dalam suaranya. "Apakah kau anggap cukup menghormat menyambut Toasu-hengmu dengan dua Totong seperti ini ?" kedua pendeta muda itu terhuyung kearah Tang Sin Siansu.
Hongthio Siauw Lim Sie menyambuti, tapi mata kedua Totong itu mendelik dengan napas yang berhenti, dada mereka sudah remuk. Muka Tang Sin Siansu berobah
"Toasuheng, apakah dengan cara demikian Toasuheng ingin duduk sebagai Ciangbun-jin Siauw Lim Sie ?" tanyanya tawar.
"Tepat!" menyahuti pendeta kurus itu dingin, "Kau tentu bersedia mundur bukan dan menyerahkan kedudukan Ciangbun kepadaku ?"
Tang Sin Siansu merangkapkan kedua tangannya setelah menyerahkan mayat kedua totong itu pada hweshio lainnya.
"Omitohud. Sebetulnya, dulu kami yang sudah memohonkan pengampunan pada suhu, apakah sekarang Toa suheng memang melupakan budi kebaikan Suhu dan ingin menimbulkan kerusuhan di Siauw Lim Sie ini ?"
Bersambung ke jilid 15

This entry was posted on Kamis, Juli 29, 2010 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar