PANJI TENGKORAK DARAH
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net
Jilid 12. Tambur Mukjijat
“Seorang murid Kay-pang mohon menghadap!” serunya. Jenggot perakpun menyuruhnya membawa masuk.
Seorang pengemis melangkah masuk dan setelah memberi hormat kepadanya serta Jenggot perak, lalu berlutut di hadapan Thiat-ik Sin-kay. “Murid Nyo Bu-hiong kepala cabang Liang-ci, mohon menghadap cousu!”
“Lekas katakan berita yang kau bawa kepada Lu lo-cianpwe!” perintah Thia-ik Sin-kay.
Nyo Bu-hiong mengiyakan, lalu menghadapi Jenggot perak, ujarnya, “Kami mendapat berita dari anggota kami yang sedang bertugas… ”
“Katakanlah terus!” seru Jenggot perak
“Pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak telah mulai mengunjukkan tanda-tanda bergerak. Tetapi yang keluar hanya beberapa orang saja…..”
“Ah, dugaanku tak meleset!” Jenggot perak menepuk perlahan-lahan, “mereka akan bergerak secara bergelombang. Apakah mereka itu terdiri dari orang-orang Sin-bu-kiong atau Hek gak semua?”
“Benar, Sin-bu-kiong dan Hek Gak mengeluarkan beberapa jago-jago desa yang sudah lama tak muncul,” sahut Nyo Bu-hiong.
“Apakah mengetahui siapa mereka itu?”
Nyo Bu-hiong menyahut agak gugup, “ Ini….maaf, tecu kurang cermat, sehingga tak menyelidiki asal-usul mereka. Hanya salah satu dikenal sebagai Cian-bin cuncia….”
“Cukup!” tiba-tiba Jenggot perak bangkit lalu mondar-mandir di dalam kamar rahasia. Rupanya persoalan memang genting sekali.
Kecuali Thiat-ik Sin-kay, sekalian orang yang berada dalam kamar rahasia itu sama tercengang. Cian-bin cun-cia atau paderi seribu wajah, memang asing bagi mereka. Namun dari reaksi Jenggot perak, jelas bahwa Cian-bin cuncia itu tentu bukan tokoh sembarangan.
Sampai beberapa lama kemudian barulah jenggot perak menyuruh Nyo Bu-hiong keluar.
“Anak tak kenal siapa Cian-bin cuncia itu Gihu… ” baru Li Cu-liong bertanya begitu Jenggot perak sudah menukas. “Gelar Cian-bin cuncia itu diperoleh karena orang itu benar-benar dapat berobah dalam seribu macam wajah. Sebentar menyaru jadi pengemis, sebentar imam tua. Jadi pendek kata menyaru jadi orang apa saja dia bisa. Ilmu kepandaian itu benar-benar menyesatkan orang..... ”
“Ah, kalau begitu pertempuran besok pagi sudah tentu akan membuat Lu lohiap sibuk sekali,” seru Thiat-ik Sin-kay.
“Tetapi telah kukatakan tadi, begitu rapat besok pagi itu selesai, aku segera kembali ke Ling-lam. Tetapi menilik gelagatnya, Sin-bu-kiong telah berhasil menarik manusia belut itu dalam pihaknya. Siapa tahu rencanaku pulang akan mengalami kegagalan, karen atulang-tulangku yang bangkotan ini bakal terkubur di sini!”
Thiat-ik Sin-kay tertawa, “Ah, ucapan Lu lohiap itu terlalu meremehkan diri sendiri. Jangankan Cian-bin cuncia belum tentu berani menghadapi engkau secara terang-terangan, sekalipun berani tetap takkan menang. Kekuatiran Lu lohiap tak beralasan....,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Sekalipun aku si pengemis tak berguna ini, juga belum tentu begitu mudah menyerah!”
“Tetapi yang aku kuatirkan bukan Cian-bin cuncia itu melainkan mengenai hidup matinya seseorang. Ketahuilah, kalau Sin-bu-kiong berhasil menarik Cian-bin cuncia, mungkin Lam-yau (siluman selatan), Pak-koay (orang aneh utara) Bu Te suseng dan lainnya telah dapat dikuasai Sin-bu-kiong. Jika kawanan pentolan itu bersatu, tentu sukar ditundukkan. Dalam pertempuran besok pagi, tentu akan timbul pertumpahan darah yang hebat....”
Thiat-ik Sin-kay pun tegang wajahnya. Apa yang menjadi kekuatiran Jengot perak , memang bukan mustahil. Kawanan Cian-bin cuncia itu merupakan momok-momok termashyur di dunia persilatan. Munculnya mereka tentu akan mempergenting suasana rapat besok pagi.!
Siau-bun diam saja. Wajahnya mengerut, hatinya bergolak. Demikian juga Bu-song. Kedua gadis ini sama gelisah memikirkan Bu-beng-jin.
Tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh suara jenggot perak yang bertanya kepada Li Cu-liong, “Apakah tamu-tamu yang hadir itu telah diketahui asal-usulnya?”
Li Cu-liong tersentak kaget. Serentak ia bangkit, “Setiap tamu tentu membawa undangan. Kebanyakan pemimpin-pemimpin partai persilatan yang terkenal. Sampai sebegitu jauh belum terdapat orang yang mencurigakan....”
“Apakah kau sudah memeriksa sendiri?”
“Ah, ini.....”
“Bagaimana?” desak Jenggot perak.
“Karena banyak pekerjaan, anak sampai tak melakukan hal itu,” wajah Li Cu-liong berobah pucat.
Jenggot perak menghela napas. “Kelalaian sedetik dapat menyebabkan mala petaka seumur hidup.... tetapi tak dapat kusalahkan engkau. Akulah yang lalai..”
“Anak segera akan melakukan pemeriksaan, entah.....”
“Kini para tamu sudah hadir, masakah engkau hendak memeriksanya satu persatu?” tukas Jenggot perak.
“Tidak!” Thiat-ik Sin-kay menyeletuk, “hal ini dapat dianggap menghina kaum persilatan....”
Li Cu-liong bungkam. Memang memreiksa tamu satu persatu, tidak dapat dibenarkan.
Akhirnya Cu Giok-bun menghela napas. Katanya kepada Jengot perak, “Kalau begitu biarlah li-ji (anak perempuan) saja yang melakukan tugas itu!”
Jenggot perak tertawa mengangguk. “Kalau kau yang bertindak itulah bagus. Tetapi ayahmu mempunyai rencana yang lebih bagus!”
“Apakah itu, kek?”Cu Siau-bun menyeletuk.
“Sebaiknya kita pergi beramai-ramai agar mudah menghadapi sesuatu!” sahut Jenggot perak.
Cu Giok-bun mngerutkan kening, “Apakah memang berat sekali?”
Jenggot perak mengelengkan kepala, “Mungkin kecurigaanku berlebihan. tetapi tiada jeleknya kita berhati-hati!” Ia bangkit dan menyuruh Li Cu-liong segera membukakan pintu.
Demi melihat pemimpin mereka keluar, rombongan Thiat-ik Sin-kay serentak mengundurkan diri bersembunyi dalam kegelapan malam.
Li Cu-liong menjadi penunjuk jalan. Mereka menuju ke lapangan di luar markas. Walaupun malam gelap tiada bintang, tetapi karena empat penjuru dihias lentera warna-warni, lapangan terang-benderang seperti siang hari.
Dengan ilmu Memandang langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh anak buahnya. Anak buah Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan jago-jago Hun-tiong-hu mengadakan penjagaan dengan ketat. Bangsal penginapan untuk para tamu telah dijaga rapat. Diam-diam jago tua itu mengangguk puas. Dia mengikuti Li Cu-liong menuju ke bangsal penginapan para tamu.
Bangsal penginapan para tamu didirikan tepat di muka markas tiam-jong-pay. Meskipun terbuat dari bambu, tetapi dibuat indah sekali. Dari pintu bangsal, terbentang sebuah jalan panjang yang masuk ke dalam. Di dalam penuh dengan ruangan-ruang untuk para tamu. Meskipun belum larut malam, tetapi pintu-pintu kamar sudah tertutup semua. Keadaan sunyi senyap.
Kiranya para tamu mempunyai perhitungan sama. Dalam tempat dan suasana yang sedemikian gawat, lebih baik mereka jangan gegabah keluar kemana-mana. Kalau tidak tidur, mereka lebih suka menyekap diri bersemedhi memelihara tenaga.
Kurang lebih setengah jam, rombongan Jenggot perak sudah menjelajahi seluruh kamar-kamar para tamu. Li Cu-liong berhenti di ujung bangsal dan dengan suara berbisik-bisik menanyakan pada Jenggot perak apakah melihat sesuatu yang mencurigakan.
“Selain bangsal ini, apakah tak ada tempat untuk menampung para tamu lagi?” Jenggot perak mengerutkan kening.
“Anak hanya menurut semua petunjuk gi-hu. Selain di sini, memang tak ada lain tempat penampungan lagi.”
Jenggot perak tersenyum, lalu berpaling kepada Cu Giok-bun, “Mungkin ayahmu sekarang sudah tua, sehingga tadi tak mendengar dan melihat sesuatu yang menimbulkan kecurigaan. Tetapi entah bagaimana kesanmu?”
Sahut hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, “Li-ji pun tak mendapatkan sesuatu hal yang mencurigakan, hanya......” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “li-ji telah menemukan sesuatu hal yang agak aneh!”
“Coba katakanlah!”
“Sekarang baru kurang lebih jam sepuluh malam, mengapa tak seorangpun yang keluar? Apakah mereka sudah tidur semua?”
“Mungkin mereka tak mau terlibat hal-hal yang tak diinginkan, maka lebih baik mengeram diri dalam kamar saja.....”
“Akupun semula mempunyai kesimpulan begitu. Memang kalau lain-lain partai berbuat begitu, dapatlah dimaklumi. Tetapi lain halnya dengan Siau-lim-pay....” tukas Cu Giok-bun. Tetapi belum ia menyelesaikan pendapatnya, Jenggot perak sudah balas menukas, “Benar! Siau-lim-pay adalah pemimpin dari ke sembilan parta persilatan. Ketiga cuncia Siau-lim-pay pernah mengajak sembilan partai dan mengundang Sin-bu-kiong untuk menempurmu di puncak Giok-li-hong. Seharusnya sekarang ia tak bertindak begini aneh....”
Jenggot perak merenung sejenak, serunya kemudian, “Apakah kecurigaanmu tertumpah pada kamar Siau-lim-pay?”
Belum Cu Giok-bun menyahut, tiba-tiba Cu Siau-bun menyeletuk, “Mungkin tidak!”
Cu Giok-bun memberi isyarat mata kepada puterinya itu, tetapi tak mengatakan apa-apa.
“Cobalah terangkan mengapa tidak?” seru Jenggot perak.
Sambil tersenyum kecil, Cu Siau-bun berkata, “Aku tak mengatakan kamar Siau-lim-pay tak boleh dicurigai, melainkan mengatakan bahwa kecurigaan itu dapat ditujukan pada semua kamar tamu!” ia berhenti sejenak, lalu mengedipkan mata. “Kakek seorang cerdik, tentu mengetahui apa sebabnya!”
Senang juga hati Jenggot perak mendapat pujian itu. Dan berbareng itu diapun menyadari. Sambil mengelus-elus jenggotnya, ia tertawa, “Benar, memang Siau-lim-pay patut dicurigai, tetapi lain-lain partai yang tak keluar dari kamar itupun juga harus mendapat perhatian kita. Karena kalau tidak, masakah mereka tak mau keluar semua!”
Meliha tSiu-bun mendapat angin, Bu-song resah hatinya. Segera iapun berseru, “Kek, bolehkah aku buka suara?”
Bu-song mencibirkan bibir, serunya, “Dari segala jenis racun yang beredar di dunia persilatan, kabarnya racun Peh-tok-jong ( kutu beracun) yang paling ganas sendiri. Benarkah itu?”
Jenggot perak terkesiap, tanyanya, “Bukan saja Peh-tok-jong itu merupakan rajanya racun, juga merupakan raja kutu beracun. Tetapi mengapa kau menanyakan hal itu?”
“Bagaiana keganasan kutu itu?”
“Korbannya segera meleleh menjadi cairan darah. Tak ada obatnya lagi!”
“Siapa yang pertama mendapatkan kutu itu?”
“Raja kutu beracun Coh Sing!”
Bu-song menghela napas, “Agaknya kita telah mendapat ancaman hebat!”
Bukan hanya Jenggot perak, juga Cu Siau-bun terheran-heran memandang Bu-song.
“Nak, mengapa kau main goda dengan kakek? Katakanlah lekas!” Akhirnya Jenggot perak berseru.
“Masakah kakek belum tahu?” tanya Bu-song.
Dara itu segera melirikkan matanya ke ujung kamar yang terakhir.
Sekalian orangpun ikut memandang ke sana. Di belakang kamar tamu itu, tampak berserakan selongsong kulit ular, kaki laba-laba, betis tonggeret dan lain-lain. Sayup-sayup seperti terbaur hawa anyir.
“Kamar tamu itu ditempati oleh partai Ji-tok-kau,” Jenggot perak tertawa hambar, “karena kuatir lain tamu tak puas dengan adat kebiasaan Ji-tok-kau, maka kuperintahkan supaya rombongan Ji-tok-kau ditempatkan di kamar yang paling belakang sendiri... apakah hubungannya dengan Peh-tok-jong?”
Bu-song tertawa, “Coh Sing si raja kutu beracun itu mungkin berada di sini!”
“Mustahil!” teriak Jenggot perak, “apakah kau tahu sendiri?”
“Sekalipun Peh-tok-jong itu memerlukan ramuan macam-macam binatang beracun, tetapi yang paling penting adalah sejenis Lok-bi-ciat ( kalajengking hijau) dan ular Ang-sian-nio ( ular merah). Bukankah kakek pernah menceritakan hal itu?” kata Bu-song.
“Ya, kakek memang pernah bercerita begitu.... ” Jenggot perak mengerang perlahan.
Sekalian orangpun segera menyadari tentang hal yang mencurigakan itu. Kosongan kulit kutu yang berhamburan di tanah itu memang layak dicurigai. Yang paling menarik perhatian ialah selongsongan kulit ular berwarna merah dan seekor kalajengking warna hijau.
Kedua binatang beracun itu merupakan unsur utama dari racun Peh-tok-jong. Partai Ji-tok-kau termashyur dalam ilmu racun, sudah tentu takkan membawanya kemana-mana!
Jenggot perak merenung, ujarnya, “Nak, kau memang teliti sekali. Kalau tidak, perjamuan besok pagi tentu gagal berantakan!”
“Bersihkan kotoran ini!” Jenggot perak memberi perintah kepada Li Cu-liong. Ketua Tiam-jong-pay itu mengiyakan dan segera hendak keluar.
“Nanti dulu, kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun berseru.
“Eh, kau mau apa lagi?”
Siau-bun cebikan bibir tertawa, “Aku hendak unjuk ketololan di hadapanmu, tidak secerdik adik Song. Tetapi cobalah kakek pikirkan. Di dalam perumahan para tamu ini penuh dengan jago-jago ulung yang membawa rombongan anak buahnya. Bagaimana juga gerak-gerik Coh Seng tentu akan ketahuan. Tetapi ada dua hal yang patut menjadi perhatian.... ”
“Apakah itu?”tanya Jenggot perak dengan segan.
Siau-bun tertawa, “Pertama, agar kawanan penjaga dapat mempertinggi kewaspadaan. Siapa tahu bakal menghadapi hal-hal yang genting. Kedua, menjaga jangan samapai menimbulkan kesalah-pahaman partai-partai persilatan...”
“Lalu bagaimnana menurut pendapatmu?” Jenggot perak bertanya.
Siau-bun tertawa pula, “Hanya beberapa anak buah partai Ji-tok-kau dan ditambah seorang Raja kutu beracun Coh Seng, dapat berbuat apa? Asal kita dapat menjaga jangan sampai mereka sempat menggunakan racun, tentulah pertemuan besok dapat diselamatkan. Masakah kakek tak mampu menindak mereka?”
“Baik, biarlah aku sendiri yang turun tangan!” kata Jenggot perak seraya loncat ke udara, melayang ke dalam ruang tamu.
Thiat-ik Sin-kay, Li Cu-liong , Cu Giok-bun, Cu Siau-bun dan Bu-song segera mengikuti. Mereka melesat ke tengah ruang tamu.
Tempat mereka omong-omong tadi tak berapa jauh dari ruang tamu. Bagi tamu yang tinggi ilmu lwekangnya, tentulah dapat menangkap pembicaraan Jenggot perak tadi. Tetapi ternyata keadaan sepi-sepi saja.
Bahkan setibanya di dalam ruanga tamu, Jenggot perak sudah disambut oleh bau anyir darah. Dan segera jago tua itu menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Di ruang tamu kamar tengah, tampak empat sosok tubuh manusia tergeletak di lantai.
Ketika dihampiri, kiranya mereka adalah anak buahTiam-jong-pay yang bertugas melayani keperluan para tamu. Wajah mereka menjadi hitam, jelas terkena racun.
“Biadab sekali.......” Li Cu-liong menggertak gigi, lalu menggunakan ilmu menyusup suara kepada Jenggot perak. “Anak hendak menuntut balas atas kematian merek!”
Sebelum Jenggot perak membuka mulut, Li Cu-liong sudah menggeliat melesat ke ruangan tengah.
Jenggot perak terkejut sekali. Buru-buru ia memanggil. “Tahan dulu!”
Tetapi seruannya agak terlambat. Li Cu-liong menghantam daun pintu kamar dan menerobos masuk.
Karena kamar-kamar itu terbuat dari bambu, maka sekali hantam dapatlah Li Cu-liong menjebolnya.
Karena dia sendiri yang mengawasi pembuatan bangsal penginapan para tamu, maka pahamlah ia akan keadaan di situ. Setiap ruang terdiri dari empat buah kamar yang di jajar empat jurusan. Di tengah-tengahnya sebuah ruang tamu dan dua buah kamar tidur.
Di luar dugaan, kamar-kamar di situ sunyi senyap saja. Dan ketika ia mendorong pintu sebuah kamar, serangkum asap hitam membaur ke luar. Buru-buru ia menutup pernapasan dan melepaskan sebuah pukulan. Brak.... terdengar suara benda berhamburan jatuh, tetapi anehnya tak seorangpun manusia yang muncul. Pukulan itu menghembus asap hitam ke samping.
Li Cu-liong terkejut. Secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya mencelat kembali ke tengah ruangan. Ia tahu bahwa asap itu tentulah asap beracun. Asal menghentikan pernapasan, tentulah takkan kemasukan racun. Tetapi perhitungannya meleset. Asap beracun itu luar biasa cara kerjanya. Begitu menyentuh tubuh manusia, terus merembes masuk melalui lubang pori-pori.
Terjangannya melalui taburan asap, cukup membuatnya celaka. Begitu berada di luar, seketika ia merasakan sendi-sendi tulangnya sakit sekali, dada sesak dan kepala serasa berputar. Bluk.... jatuhlah ia terkapar di lantai.....
Kagt dan marah sekali Jenggot perak, serunya, “Memang racun Peh-tok-jong! Kau.... ”
“Pil Tay-hoan-tan masih tinggal dua butir, untung kubawa!” seru Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Segera Li Cu-liong diberinya minum sebutir. Ketua Tiam-jong-pay itu muntah-muntah dan tersadar.
Suasana di bangsal penginapan para tamu itu sunyi saja. Seolah-olah tak ada orang yang mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan.
Jenggot perak tertawa datar, “Kalau samapai jatuh di tangan tikus kecil itu, kami ayah dan anak tentu mendapat malu besar. Bagaimana dengan pertemuan besok pagi?”
“Mengapa ayah masih bersikap seperti dulu, begitu mengindahkan kepada mereka?” kata Cu Giok-bun.
Jenggot perak mengepal-ngepal tinju seraya menggeram, “Kalau sudah ganas biarlah ganas habis-habisan. Coba saja lihat nanti apakah mereka mampu menerima tinjuku ini!”
Begitu marahnya Jenggot perak saat itu sehingga dari tubuhnya menghambur semacam hawa panas yang mendesis-desis.
“Nanti dulu kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun mencegah kakeknya yang bersiap hendak menghantam.
Jenggot perak mengakui kecerdikan kedua anak perempuan itu. Mendengar Siau-bun mencegahnya, iapun berhenti. “Apa lagi?”
Sahut Siau-bun dengan perlahan. “Gerombolan Ji-tok-kau mahir sekali dalam ilmu racun. Tadi Li ciang-bun telah terkena racun Peh-tok-jong. Ini menandakan bahwa si raja racun Coh Seng tentu berada di sini. Pukulan kakek luar biasa hebatnya. Seluruh isi ruang gerombolan Ji-tok-kau tentu hancur binasa. Tetapi tidakkah dengan begitu racun mereka akan berhamburan kemana-mana. Mereka dapat dibinasakan, tetapi kitapun tentu celaka......”
“Ah, benar! Tetapi...apakah membiarkan saja mereka berbuat sesuka hatinya? Apakah kita rela mengundurkan diri?” Jenggot perak membantah.
“Tidak, perbuatan merekapun harus mendapat hukuman yang setimpal!” Siau-bun tertawa, “segala jenis racun tak ada yang dapat melawan api. Pukulan Cek-ih-ciang dari mamahku, mungkin ada gunanya!”
Cu giok-bun mendengus, “Hm, budak, kau berani mempamerkan ibumu!” walaupun mulutnya mengatakan begitu tetapi ia segera bertindak.
Tangannya diangkat, seketika menghamburlah serangan sinar merah. Tenaga tamparan segera menghambur ke dalam jendela. Seketika sekeliling tiga tombak terasa panas. Menyusul terdengar bunyi berkeretekan bambu yang termakan api. Susul menyusul jeritan ngeri dari beberapa orang di dalam kamarpun berhamburan mengaduh.
Ruang yang terbuat dari bambu itu terbakar oleh pukulan Cu Giok-bun. Asap mengepul membawa bau daging gosong. Selain bau bangkai manusia, juga tercampur dengan bau anyir dari binatang-binatang beracun yang mati terbakar.
Jenggot perak mengerutkan alis, “Meskipun cara ini baik, tetapi bagaimana pertanggungan jawab kita terhadap sekalian tamu? Bukankah tindakan kita ini akan menjadi buah ejekan dari para tamu besok pagi? Tidakkah mereka akan mengatakan kita sebagai tuan rumah telah menindas tamu?”
Cu Siau-bun mengerutkan kening, “Kakek terlalu baik. Tetapi bukankah setiap kejahatan harus diberantas habis? Jika bangsa manusia ganas semacam ini dibiarkan hidup, dunia akan terancam bahaya! Cara kita tadi, rasanya tepat!”
“Kek, aku mempunyai cara untuk menundukkan sekalian tamu besok pagi!” tiba-tiba Bu-song menyeletuk. Ia melirik Siau-bun.
“Mengapa tak lekas bilang?” dengus Jenggot perak.
Bu-song tertawa mengikik, “Keempat orang Tiam-jong-pay yang menjadi korban itu cukup menjadi bukti. Apabila besok pagi keempat mayat mereka ditunjukkan dalam pertemuan, tentulah mereka akan mengerti dan memaklumi tindakan kita!”
Jenggot perak bertepuk tangan, “Benar, tepat sekali....ayo, lekas pindahkan mayat anggota Tiam-jong-pay itu!”
Li Cu-liong yang sudah sembuh segera memerintahkan anggotanya mengangkut keempat mayat itu keluar.
Bangsal penginapan para tamu tetap sunyi-sunyi saja.
Hanya sebuah kamar, yakni tempoat menginap gerombolan partai Ji-tok-kau yang terbakar. Dan sekalian tamu tetap berdiam diri dalam kamar tak berani menjenguk keluar.
Memang dari dalam kamar Ji-tok-kau telah menghambur keluar bau manusia terbakar, tetapi apakah si Raja racun Coh Seng juga turut terbakar, masih belum diketahui.
Api makin menjalar besar. Jika tak dipadamkan tentu akan memakan seluruh abngsal.
“Api ini seharusnya .....” baru Siau-bun berseru begitu, Jenggot perak sudah menukasnya, “Api yang menyulut ibumu, bagaimana kau hendak suruh kakek yang memadamkan?” Sekalipun mulutnya mengatakan begitu, tetapi jago tua itu segera menampar beberapa kali. Serangkum hawa dingin segera menghambur keluar. Api makin lama makin menyurut kecil.
Di dalam kejadian itu, sukar diketahui berapa jumlah korban yang terbakar. Tetapi dengan ilmu Melihat langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui bahwa tak seorangpun yang ada dalam kamar Ji-tok-kau dapat meloloskan diri.
“Bagaimana sekarang?” tanya Li cu-liong kepada Jenggot perak.
“ Terpaksa kita harus minta ibu melepas pukulan lagi, biar seluruh orang ji-tok-kau mati semua!” Cu Siau-bun menyeletuk.
“Ah, tetapi tindakan itu agak terlalu ganas,” Jenggot perak mengerutkan dahi.
Bu-song menyeletuk, “Ganas atau tidak ganas, tak usah dibicarakan dulu. Tetapi dalam hal ini memang masih ada hal-hal yang mencurigakan....” ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Tiga buah kamar yang dihuni rombongan Ji-tok-kau tentulah bukan terdiri dari orang-orang tuli semua. Apakah mereka begitu saja mau menerima kematian tanpa memberi perlawanan apa-apa? Apakah tak ada seorangpun yang mempunyai pikiran untuk lolos?”
“Benar-benar, akupun mempunyai pikiran begitu.... ” sambung Jenggot perak, “ruangan penuh orang, tetapi sedikitpun tak tampak suatu gerakan apa-apa!”
“Kek, bolehkah aku masuk memeriksa salah sebuah kamar mereka?”akhirnya Siau-bun berseru.
Jenggot perak tergopoh-gopoh menolak.
Siau-bun tertawa gelak-gelak, “Kek, kecurigaanmu berlebihan. Meskipun aku nanti terkena racun Peh-tok-jong, tetapi ibu masih mempunyai pil Tay-hoan-tan yang mukjijat!” Tanpa menunggu ijin kakeknya, gadis itu sudah mencelat masuk ke dalam sebuah kamar.
“Gadis liar!” bentak Cu Giok-bun yang menyusul puterinya. Jenggot perak sedianya hendak menyusul, tetapi setelah melihat Cu Giok-bun sudah bertindak, ia membatalkan maksudnya.
“Kek, kemarilah lekas!” tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru dari dalam kamar. Ketua Thiat-hiat-bun itu terkejut bukan kepalang. Sekali loncat ia menerjang ke dalam. Thiat-ik Sin-kay, Bu-song dan Li Cu-liong pun mengikuti.
Apa yang mereka lihat di dalam kamar benar-benar membuat mereka tercengang. Di dalam kamar itu tampak tujuh-delapan orang Ji-tok-kau. Sekilas pandang mereka seperti orang yang duduk bersemedhi dengan mata merem melek. tetapi setelah diperhatikan lagi kiranya mereka sudah tak bernyawa lagi.
Seperti telah dikatakan di atas, ketiga ruangan itu khusus ditinggali oleh rombongan Ji-tok-kau. Di luar bangsal dijaga keras oleh para penjaga, baik yang terang maupun yang meronda secara gelap. Ketatnya penjagaan begitu rupa, sehingga umpama lalat terbang masukpun tentu diketahui.
Jenggot perak mengerutkan alis. Selama hidup baru sekali itu menyaksikan perbuatan yang sedemikian kejamnya.
“Kek, mereka mati keracunan semua!” kata Bu-song sehabis memeriksa orang-orang itu.
“Kali ini mungkin kau salah raba!” Jenggot perak menggelengkan kepala.
Ternyata korban-korban itu wajahnya seperti biasa, seperti orang yang hanya ditutuk jalan darahnya saja. Baik alis maupun bibir mereka sedikitpun tak tampak tanda-tanda keracunan.
Thiat-ik Sin-kay dan lain-lain yang banyak pengalamanpun, tak dapat memberi komentar apa-apa. Segala sesuatu yang mereka hadapi memang sukar diduga....
“Budak, mengapa kau diam saja?” tegur Jenggot perak kepada Siau-bun.
Nona itu menggelengkan kepala, “Adik Song sudah mengatakan tepat. Mereka memang mati keracunan, apa yang masih harus kukatakan lagi?”
Jenggot perak tercengang, “Mengapa kau juga berpendapat begitu? Kalau memang mati keracunan, mengapa tak ada tanda-tandanya?”
Siau-bun tertawa, “Kek, apakah kau memang berpura-pura hendak menguji kami! Pertama, mereka telah terlatih dan kebal terhadap racun. Begitu kena racun, sudah tentu tubuhnya biasa saja. Kedua, jika tidak mati keracunan, mengapa mereka duduk begitu rapi? Dan ketiga, karena raja racun Coh Seng berada di sini, siapa lagi yang berbuat begitu kalau bukan dia........ kakek kaya pengalaman, dalam hal-hal sekecil ini, bagaimana aku dapat mengelabuimu? Benar atau salahkah kata-kataku ini?”
“Kalau dapat menganalisa sedemikian rinci, mungkin ibumu belum tentu menang....” Jenggot perak memuji. Siapa tahu Bu-song mendengus karena Siau-bun mendapat pujian.
“Ayo, kaupun juga ikut menyatakan pendapat!” seru Jenggot perak kepada Cu Giok-bun, “Si Raja racun Coh Seng diundang partai Ji-tok-kau untuk membantu meracuni jago-jago yang kita undang. Tetapi mengapa mendadak sontak ia malah meracuni orang-orang Ji-tok-kau sendiri?”
Bu-song tertawa dingin, “Tak usah kakek memuji aku, aku tak secerdas cici Bun...” dara itu agak merajuk, tetapi pada lain kejap ia menyusuli pula, “Itupun sebenarnya sederhana saja. Tentulah kakek mengetahui bahwa sekalipun kutu dengan racun itu berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai kegunaan yang sama. Raja racun Coh Seng memang hebat dalam menggunakan kutu, tetapi ia tak mampu melawan kepandaian orang Ji-tok-kau dalam menggunakan racun. Kalau tidak, tentulah dulu-dulu kedua orang itu sudah bersatu. Mengapa Ji-tok-kau tak mau berdaya menyelidiki penggunaan kutu itu.
Akibatnya undangan Ji-tok-kau kepada Coh Seng itu suatu kesalahan besar. Coh Seng mendapat kesempatan untuk menghancurkan saingannya.
Rombongan partai Ji-tok-kau yang datang kesini antara lain termasuk ketuanya, yakni Ti Bo dan jago-jago pilihan mereka. Apabila dapat melenyapkan mereka, mudahlah bagi Coh Seng untuk menguasai Ji-tok-kau dan mengambil alih partai itu!
„Nah, cukup dengan hal-hal yang kusebutkan ini, jelas menunjukkan bahwa kebinasaan orang-orang Ji-tok-kau itu adalah dilakukan oleh Coh Seng.”
Si Wajah Seribu
Jenggot perak tercengang. Apa yang dikatakan Bu-Song memang mungkin. Meskipun ada Thiat-hiat-bun, Hun Tiong Sin-mo, Tiam-jong-pay dan jago-jago sakti, tetapi tiada pimpinan yang cakap. Jika menderita serangan dari luar tentu markas akan kacau balau. Jika sampai terjadi hal itu, bagaimana nanti pertanggungjawaban mereka dalam pertemuan besok pagi? Bukankah mereka akan kehilangan muka?
Karena gugup, tanpa menunggu perintah jenggot perak lagi, sekalian orang segera lari berserabutan menuju ke markas. Jenggot perak hendak menyusul tetapi tiba-tiba terdengar suara mengiang lagi ditelinganya :, ah, sudah terlambat Lu Tua! Namun kali ini tentu akan hancur lebur!“
Menyusul kata-kata itu terdengar ledakan keras di barengi dengan muncratnya nyala api ke udara.
„Celaka, kekalahan kali ini benar-benar hebat ....................“ jenggot perak menghela napas. Ia segera mencelat keluar sambil meninjukan kedua tangannya. Serangkum hawa dingin berhamburan dan api pun mulai reda.
Tetapi ledakan itu rupanya berasal dari bahan peledak. Sekalipun api dapat dipadamkan tetapi sebagian besar dari markas telah hancur berantakan.
Jenggot perak menghela napas dalam dan banting-banting kaki, „Ah, tak kira aku bakal mengalami kekalahan di Tiong-goan. Kemana hendak kutaruh mukaku besok dihadapan sekalian orang gagah?“
„Kek, siapakah dia? Manusia atau setan“ Bu-song berseru kaget.
Jenggot perak sendiripun tertegun. Cepat-cepat ia berpandangan sejenak dengan Thiat-it-sin-kay ia membalas tertawa nyaring. Serunya : „Ah, saudara Lin-jong benar. Belum sempat keluar menyambut, saudara sudah tiba!“
Perempuan tua tertawa mengekeh „O, kau kenal juga diruu?“
Jenggot perak tertawa : „Sekalipun kenalanku tidak banyak tetapi terhadap tokoh ternama seperti daudara, mungkin aku tentu kenal ......, kalau tak salah saudara itu tentu Cian-bin-cun-cia Auyang Teng .......“
Perempuan tua bertubuh gemuk pendek itu memang Cian-bin-cun-cia atau rahib wajah seribu Auyang Teng.
„Ah, matamu ternyata masih awas Lu Tua!“ rahib wajah seribu tertawa.
Bu-song, Siau-bun terkejut mendengar nama rahaib tua itu. Jua Li Cu-liong dan Cu Giok Hun-tiong tak terkecuali. Baru saja tadi mereka mendapat berita dari dara pos atau dalam sekejap saja rahib seribu wajah sudah muncul. Dan ilmu berjalan ditengah api yang dipertunjukkan tadi benar-benar menakjubkan.
„Maaf karena sesuatu dan lain hal aku tak dapat menyambutnya dengan penuh kehormatan, „jenggot perak tertawa.
„Disambut atau tidak akau tak ambil pusing. Tetapi apakah sesuatu dan lain hal tu yang kau maksukan?“ Katakanlah!“ seru wajah seribu.
„Pertama, sesorang lelaki jantan mengapa memakai pakaian wanita, orang begitu aku paling muak. Kedua, kalau toh datang, datanglah dengan terang-terangan tak perlu main sembunyi macam bangsa perampok yang membakari rumah rakyat! Terhadap orang semacam itu, aku paling benci sekali. Ketiga, kabarnya kau sudah bergabung dengan Sin-bu-kiong, rela menjadi anak buah Song-bun Kui-mo. Ah, dalam hal ini aku tak berani campur tangan .......“
„Cukup! Terhadap orang aku mengapa kau berani berkata begitu keterlaluan!“ marah wajah seribu seketika.
Jenggot perak tertawa mengejek, „Sebenarnya gerak-gerikmu banyak sekali memalukan, tetapi enggan kukatakan. Cukup dengan beberapa pasal yang kukatakan tadi, cukuplah sudah untuk meremehkanmu. Maka selain tak memberi penyambutan yang pantas pun malam ini aku hendak adu kekuatan denganmu, siap yang nanti lebih kuat!:
Wajah seribu tertawa mengekeh „“Baiklah, memang aku selalu bertindak menurut kemauanku sendiri tak perduli orang senang atau tidak. Jika kau menghendaki begitu, aku pun tak keberatan!“
Habis berkata ia mencelat sampai 7-8 tombak dan dalam sekejap lenyap dari pandangan mata. „Kek, iblis itu memuakan sekali, mengapa kau biarkan ia pergi?“ teriak Bu-song. Jenggot perak tertawa : „Mungkin tak semudah itu kita tundukkan ia!“
Baru berkata begitu tiba-tiba terdengar suara orang mengucap doa keagamaan. Berasal dari arah sebelah kiri. Dan pada saat itu muncullah imam tua bertubuh kurus kering.
Kembali Bu-song dan Siau-bun menjerit kaget.
„Hai, Imam hidung kerbau darimana kau?“ serentak Bu-song berseru
„Eh, budak perempuan, apa kau lupa?“ imam tua itu tertawa meloroh.
Jenggot perak tertawa dingin : „cian-bin-cun-cia, betapapun kau hendak unjuk kepandaianmu menyaru, jangan harap dapat mengelabui mataku!“
„Hai, apakah dia si wajah seribu?“ Bu-song menjerit kaget.
„Benar,“kata jenggot perak, dia memang mahir dalam hal itu. Sebentar menjadi lelaki sebentar jadi perempuan atau sesaat seorang paderi pada lain waktu menjadi rahib. Tubuhnya pun gemuk-pendek, kurus-kering, tinggi besar menurut kemauannya! Tetapi kakekmu tak dapat dikelabui!“
Memang imam tua itu adalah si wajah seribu. Ia tertawa terkial-kial :“Lu tua, kau memang hebat dapat mengenali diriku!“
Bu-song, Siau-bun dan Li Cu-liong terkesiap. Jika bukan jangget perak yang mengatakan, tentu mereka takan percaya. Apa yang dilihat memang berbeda sama sekali. Yang tadi seorang perempuan pendek, kini seorang imam tua bertubuh tinggi kurus. Kalau tadi seorang rahib, kini seorang imam ..............
Kebakaran dari bahan peledak itu telah menimbulkan kerusakan besar. Beberapa bagian dari gerbang markas Tiam-jong-pay telah ambruk. Kamar rahasia untuk berunding oleh jenggot perak tadipun hancur. Beberapa penjaga regu Pik-ih-tiong-hiat (orang tua berjenggot dan berpakaian putih) dari Hun-tiong-bu, menjadi korban. Semuanya atas perbuatan si wajah seribu.
Dengan gusar berserulah jenggot perak, „Ayo suruh kawan-kawanmu keluar. Kita putuskan dulu siap diantara kita yang lebih unggul ......
Wajah seribu tertawa keras „Kawan? Hm, masakan kau tak mendengar bahwa aku selalu bergerak seorang diri?“
„Baik, katakan apa tujuanmu kemari!“
„Aku senang melihat keramaian yang bakal diadakan disini. Sekalipun kau lupa mengundang, aku tetap akan datang sendiri ..... kebakaran markasmu itu adalah sebagai hukuman kecil untuk kelalaianmu mengundang aku!“
Ketua Tiam-jong-pay tak dapat menahan amarahnya lagi. Loncat kemuka ia mendamprat „Iblis tua, jangan ngaco belo disini, serahkan jiwamu!“ kata-katanya ditutup dengan sebuah pukulan.
Bukannya menghindar atau menangkis atau balas memukul sebaliknya wajah seribu itu hanya tertawa gelak. Tetapi pada saat tinju Li Cu-liong tiba, entah bagaimana tiba-tiba wajah seribu hilang lenyap. Kejut ketua Tiam-jong-pay itu bukan kepalang dan terbengong-bengong seperti melihat hantu. Dan alangkah kagetnya ketika sesaat kemudian ia melihat dua orang wajah seribu berdiri di kanan dan kirinya!
Li—Cu-liong kucek-kucek matanya. Dikiranya salah pandang. Tetapi sekalai memandang lagi ah ...... benar-benar tak salah lihat. Dua orang wajah seribu memang benar-benar berdiri disebelah kanan kirinya ......
Ketua Tiam-jong-pany tak mau dibuat main. Dia ayunkan kedua tinjunya memukul kekanan dan kekiri. Terdengar kedua wajah seribu tertawa gelak dan sekonyong-konyong lenyap!
Li-Cu-liong tertegun. Hai ...... tib-tiba ia terbeliak kaget sekali. Kini bukan melainkan dia. Tetapi empat orang wajah seribu yang berdiri mengepungnya dari empat penjuru ......!
Li-Cu-Liong menyadari bahwa diantara keempat wajah seribu hanya satu yang asli. Yang tiga hanya bayangan kosong. Tetapi pengertian itupun tak banyak membantunya karena ia tak tahu yan mana yang asli dan yang palsu.
Selagi ia bingung, tiba-tiba keempat wajah seribu sudah menyerangnya. Li cu-liong kaget. Serentak iapun menghantam mereka. Ia gunakan seluruh tenaganya untuk menyambut serangan mereka. Pikirnya, asal dihantam serempak saja, tentu beres. Yang asli kena atau yang palsu lenyap.
Ketua Tiam-jong-pay itu tak sempat memikirkan apa-apa lagi. Kemarahannya makin meluap-luap dengan berlipat ganda. Ah ..... segera ia menyadari kalau termakan tipu muslihat wajah seribu. Ketika musuh yang dihantamnya itu hanya bayangan belaka. Dengan demikian tenaga hantamannya hanya mengenai tempat kosong belaka dan sia-sia belaka. Karena memukul sasaran yang kosong mau tak mau keseimbangan tubuhnyapun goyah. Ia menjorok kemuka. Dan sebelum ia sempat memperbaiki posisinya, ssesosok tubuh sudah melesat sambil menghantamnya.
Itulah wajah seribu asli!
Pada saat L Cu-liong teranjam maut, dalam sekejap bertindaklah Cu Giok-bun Hun-tiong Sin-mo, sambil totokan jarinya kemuka, ia membentak „siluman, jangan kelewat meliar!“
Mengira orang sudah tak berdaya, wajah seribu segera hendak memberi hantaman maut. Kepada Li Cu-liong. Pukulannya dilancarkan cepat dan ganas. Tetapi totokan jari maut Hun-tiong Sin-mo sakti sekali. Wlaupun dari jauh, tetapi angin tenaganya bagaikan kilat cepatnya. Wajah seribu kaget. Untuk menyelamatkan jiwanya terpaksa ia loncat menghindar.
Li cu-liong mengeluh. Dengan keringat bercucuran ia loncat mundur. Wajahnya tersipu-sipu merah. Sampai beberapa saat ia terlongong-longong. Seumur hidup belum pernah mengalami peristiwa aneh sedemikian rupa.
Sementara Hun-tiong Sin-mo pun agak terkesiap. Meskipun totokan jari maut itu bukan merupakan ilmu simpanannya, tetapi wajah seribu dapat menghindar dengan mudah, mau tak mau membuat Hun tiong Sin-mo tercengang juga. Sejak belasan tahun belum pernah ada orang yang dapat lolos dari totokan jarinya. Dan belum pernah ada yang selamat. Kalau tidajk mati tentu menderita luka parah ......
Tetapi kekagetan wajah seribupun tak kalah besarnya. Didalam dunia persilatan, tak ada orang yang sekali gebrak dapat memundurkannya. Sebelumnya ia tak percaya tetapi apa yang di alaminya saat itu, benar-benar membuatnya seperti orang yang bermimpi!
Hun-tiong Sin-mo bersikap seperti tak niat bertempur, sehabis berhasil menolong Li Cu-liong iapun segera loncat mundur pula.
Tetapi sikap itu bahkan membangkitkan kemarahan wajah seribu. Dengan murka ia membentak „perempuan hina, jika malam ini tak kuhancurkan tubuhmu aku tak mau meninggalkan Tiam-jong-san sini!“
„Oh, mungkin tak mudah untukmu meninggalkan gunung ini!“ Hun-tiong Sin-mo membalas.
Wajah seribu segera merangsang. Tubuhnya pecah menjadi 7-8 sosok bayangan. Hun-tiong Sin-mo tak gentar. Ia hendak menyambut tetapi disanggah jenggot perak, Giok-bun. Belum saatnya kau turun tangan ayah masih dapat melayaninya!’
Ia menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan. Terdengar suara ledakan keras, pasir dan batu berhamburan. Ke 7-8 sosok bayangan itupun lenyap. Yang nampak kini hanya seorang wajah seribu terhuyung melangkah kebelakang.
Kiranya jenggot perak berhasil menghantam dadanya. Tetapi dia sendiripun menderita juga. Tenaga tolakan yang dilancarkan wajah seribu membuat jenggot perak juga terhuyung-huyung sampai tiga langkah. Jago Thiat-hiat-bun itu tertegun. Ia merasa benar-benar mendapat lawan tanding yang seimbang.
Dengan penasaran jenggot perak maju pula mengirim sebuah pukulan kepunggung lawan!
Wajah seribu mengeluh kaget. Cepat ia liukan tubuh, seketika pecahlah tubuhnya menjadi beberapa sosok bayangan yang bagaikan pinang dibelah dua. Mereka bergerak-gerak mengepung jenggot perak.
Jenggot perak mendengus. Ia tarik pukulannya untuk melindungi tubuh. Ia tegak berdiri tak mau bergerak lagi tetapi diam-diam kerahkan seluruh tenaga dalam untuk melapis diri.
Dalam sekekap, belasan sosok bayangan wajah seribu itu lenyap. Kini tampaklah ia tegak berdiri beberapa langkah dihadapan jenggot perak. Dengan mata berkilat-kilat wajah seribu manatap orang : „Lu tua, mengpa kau diam saja? Takutkah kau padaku?“
Jenggot perak tertawa keras „Pernahkah kau mendengar cerita orang, kepada siapa aku pernah merasa gentar?“
Wajah seribu berubah gelap „kalau begutu, mengapa kau tak bergerak? Lebih bai kau menyerah saja!“
„memang aku sengaja mengalah supaya kau menyerang dulu!’ sahut jenggot perak. Binatang tua jangan sombong, kau berani menghina aku!“ wajah seribu teriak seraya gerakkan kedua tangannya. Gayanya mirip hendak menampar tatapi juga seperti hendak meotok. Tampaknya hendak mencengkeram tetapi juga menyerupai orang hendak meremas. Secepat jilat tangannya sudah menjulur kemuka jenggot perak. Berbarengan itu sekonyong-konyong pecah menjadi 3-4 sosok bayangan.
Seketika itu jenggot perak seperti diseran g oleh wajah seribu. Sukar dibedakan mana yang palsu dan yang sungguhan.
Jago Thiat-hiat-bun itu tegak tenang laksana sebuah gunung. Pada saat serangan tiba barulah ia bergerak dengan tak terduga-duga. Sekonyong-konyong ia menamparkan tangan kesenlah kanaan dan kiri. Tar, tar terdengar letupan keras dan bayangan yang menyerupai wajah seribu itupun lenyap seketika berganti dengan wajah serbu yang asli terhuyung-huyung sampai 4-5 langkah.
Jenggot perakpun terhuyung sampai tiga langkah kebelakang. Ia merasa darah dalam tubuhnya agak bergolak. Sepintas pandang memang tampaknya jenggot perak lebih unggul. Wajah seribu kerutkan dahi dan termanggu sejenak, serunya kemudian „Setan tua, bagaimana kau dapat membedakan diriku dengan bayanganku?“
„Hm, masakan permainan anak kecil semacam itu dapat mengelabui aku ......“jenggot perak tertawa terbahak-bahak, tetapi ilmu gingkanmu, patut dipuji!“
„Ilmuku Pek-pian-mo-ing (Bayangan setan seratus macam), tiada keduanya didunia persilatan. Mana hanya mengandalkan ilmu ginkang saja?“
Jenggot perak tertawa pula, serunya mungkin aku belum tahu bahwa si tua ini memiliki ilmu mendengar bumi melihat langit? Betapun kau hendak merubah dirimu menjadi apa saja, memang pada detik permulaan mungkin dapat mengelabui mataku sekejap telah kuketahui juga ....“
„Melihat langit mendengar bumi?“ wajah seribu kaget.
„Ho, kau belum pernah mendengar ilmu itu?“
„Tetapi ilmu itu hanya tertuju pada jarak luas dan jauh, bagaimana kau dapat meneropong ilmu sakti Pek-pian-mo-ing.
„Sebenarnya ilmu Pek-pian-mo-ing itu hanya ilmu ginkang yang tinggi. Bayangan-bayanganmu itu hanya kosong. Dengan ilmu melihat langit mendengar bumi sudah tentu kuteropong mana dirimu yang asli mana yang palsu, mengapa kau heran .......“
Wajah seribu meringkik tawa hatinya.
„Silakan kau kerahkan seluruh kepandaianmu. Tetapi malam ini adalah malam kejatuhanmu. Besok pagi jangan harap kau dapat membuka rapat para orang gagah ...............!
„Oh, Mungkin kau tak mempunyai kemampuan begitu!“ sahut jenggot perak.
Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Tju Giok-bun, tak ikut bicara. Mereka berdiri di samping mendengarkan percakapan. Jenggot perak dan si wajah seribu dengan penuh perhatian.
Kebakaran di markas besar Tiam-jong-pay pun sudah reda. Tetapi asap masih bergulung-gulung memekatkan udara. Banyak anak buah Thiat-hiat-bun, Hun-tiong-san dan Tiam-jong-pay yang menjadi korban. Tetapi sebagian yang dapat lolos keluar, segera tenang kembali.
Saat itu sudah terang tanah. Pertemuan besar para orang gagah, segera akan tiba waktunya. Menilik barak pesanggrahan tempat menginap tetamu-tetamu itu tak jauh dimuka markas Tiam-jong-pay, maka kebakaran dimuka markas itu tentu diketahui oleh parta tetamu. Tetapi anehnya, pesanggrahan para tetamu itu tampak sunyi-sunyi saja.
Ketua Tiam jong-pay Li Cu-liong gelisah. Ia mencuri kesempatan untuk bertanya pada jenggot perak dengan ilmu menyusup suara .....“hari sudah terang tanah, pertemuan akan segera dimulai. Rupanya durjana ini (wajah seribu) hendak mengulur waktu supaya pertemuan tak dapat berlangsung tepat pada waktunya ........“ ___ia berkeliaran memandang ketempat penjuru, lalu berkata, pula „Turut pendapat anak, lebih baik kita lekas bertindak menyingkirkan durjana ini. Tak perlu kita menghiraukan tata kehormatan (etika) kaum persilatan lagi!“
„Pertemuan tetap akan dibuka tepat pada waktunya! Serahkan momok ini padaku, kau lekas atur persiapan pertemuan-pertemuan itu, apakah meja kursi sudah diatur menurut rencan!“ sahut jenggot perak dengan ilmu menyusup suara juga.
Li Cu-liong kerutkan alis, ujarnya : „Tetapi durjana ini licin sekali, apakah ayah ...........“. Jangan banyak tanya lagi, aku dapat mengatasinya!“ tukas jenggot perak dengan ilmu menyusup suara. Kemudian ia berganti nada dengan bentakan biasa : „Lekas kerjakan persiapan yang diperlukan!“ Li Cu-liong mengiayakan lalu pergi. Wajah seribu berpaling memandang markas Tiam jong-pay yang menderita kerusakan ia tertawa mengejek.
Sejenak melirik pengemis Thiat-ik-sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, tiba-tiba jenggot perak membentak lawan : „hai, iblis tua, kalau membawa kawan, suruh mereka unjuk diri!“
Wajah seribu terbeliak teriaknya : „Aku selalu bekerja seorang diri, tak pernah kubersekongkol dengan orang. Jangan banyak curiga!“
„Kek, bolehkah aku bicara?“ mendadak Bu-Song maju selangkah. Jenggot perak berpaling, „Eh, kau lihat hantu apa lagi?“
Dara itu tertawa melengking „Durjana ini seolah-olah membanggakan keagungan diri tetapi sebenarnya dia seorang hina! Percuma kau tanya ini itu padanya, bunuh sajalah!“
Bukan kepalang marahnya wajah seribu, teriaknya kau berani menghina aku, budak? Kaupun takkan menjadi mayat utuh ....... tiba-tiba ia menampar. „Iblis hina kau tak malu mengganas seorang anak perempuan! Ia pun songsongkan pukulan.
Karena ilmu Pek-pian-mo-ing (seratus bayangan iblis) tak mempan, wajah seribu gunakan pukulan biasa. Plak ..... terdengar letupan keras dari dua pukulan yang beradu, debu dan tanah berhamburan. Kedua tokoh itu mundur beberapa langkah. Sekalipun tampaknya jenggok perak menang angin tetapi kekuatan mereka berimbang.
Sesaat berdiri tegak wajah seribu tertawa nyaring, „setan tua, kecuali kalian maju berbarengan, jangan harap dapat memenangkan aku!“
„Aku paling benci main keroyok. Mari kita bertanding satu lawan satu!“ jenggot perak marah sekali..
Wajah seribu tertawa „Aku tak suka menggunkan kekerasan. Membunuhmu pun tak ada gunanya. Cukup asal nyawamu tentram, aku sudah puas!“
„Kau benar, iblis!“ tiba-tiba Bu-song menyelutuk. „Hanya sayang tipu muslihatmu tak berguna. Pertemuan orang gagah takkan terpengaruh oleh pengacau sepertimu!“
Wajah seribu tertawa sinis „Orangnya kecil tetapi mulutmu besar! Coba katakan, siasatku apa yang gagal?“
Bu-song tertawa dingin „Menghadapi manusia rendah semacam kau, perlu apa memakai akal!“ Tiba-tiba ia menantang „Apakah kau berani bertempur sejurus saja dengan aku?“
„Kau berani menantang aku?“ wajah seribu tertawa menghina
„kau sudah mendapat kehormatan!“ Bu-song mengejek
Wajah seribu melangkah selangkah, bentaknya mengepul asap tipis. Ia bersikap menerima serangan.
Bu-songpun dengan tenang segera mencabut pedang dari belakang bahunya. Budak, kakekmu disini, jangan lancang!“ serentak jenggot perak membentak si dara.
„Iblis tua ini kelewat sombong. Aku hendak mewakili kakek meghajar adat padanya!“
„Jangan ngaco, lekas enyah!“ bentak jenggot perak. Kemudian ia menyusuli dengan ilmu menyusup suara „Dia seorang tak perlu dikuatirkan tetapi Lam-yau (Siluman dari selatan), Pek-koay (manusia naeh dari utara) dan Bu-kiu-sut seng (Pelajar tak berdosa) tentu juga berada disekitar tempat ini .............“
„Benar, „sahut jenggot perak, „Orang itu dapat meluputkan diri dari ilmu melihat langit mendengar-bumi, tentulah sakti sekali. Jauh beberapa kali saktinya dari puluhan tahun yang lalu. Kakek harus hati-hati menghadapi mereka. Mengapa kau hendak bentindak sembrono, ajo lekas menyingkir!“
„Bagaimana kakek hendak menghadapi mereka!“ tanya Bu-song
Jenggot perak tertegun. Memang pertanyaan sang cucu itu tepat sekalai. Baru ilmu Pek-pian mo-ing atau iblis seratus kali hilang dari wajah seribu saja sudah cukup memusingkan, apalagi ditambah dengan beberapa tokoh pentolan lagi. Tetapi bagaimanapun ia harus bertindak.
Pertarungan tadi menunjukkan bahwa kekuatannya berimbang dengan wajah seribu. Untuk menundukkan tokoh itu, ia harus menggunakan waktu sedikitnya sejam Ah, trlalu lama.
„Jangan kuatir, kakek mempunyai rencana „Akhirnya ia menghibur si dara.
Bu-song mencibirkan bibirnya „Tindakan ku ini justeru hendak membantu kakek. Hendak kupancing mereka keluar baru kita hancurkan!“
Ia tahu jelas situasi saat itu. Pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, CU Siau-bun dan tokoh lainnya, terpancang oleh kenggot perak. Tanpa perintah jago tua itu, mereka tak berani bertindak.
Tetapi tampaknya jenggot perak tak punya rencana apa-apa. Kalu terus menerus hanya tantang-tantangan begitu saja, tentulah pertemuan para orang gagah tak dapat berlangsung!
„Bagaimana akalmu hendak memancing mereka?“ tanya jenggot perak.
Bu-song tertawa : „Ini ...... sekarang tak dapat kuberitahukan dulu! Tetapi, paling tidak hendak kuberi pelajaran dulu pada momok ini, syukur kalau dapat membunuhnya! Dengan begitu gerombolan mereka tentu keluar semua!“
Jenggot perak mengurut-urut jenggotnya. Beberapa saat ia tak dapat bicara. Ia percaya akan kecerdasan bocah perempuan itu. Sekalipun tindakannya kali ini sangat berbahaya, tetapi ia berada dekat situ. Setiap saat dapat memberikan pertolongan apabila diperlukan.
Melihat jenggot perak dan Bu-song bicara dengan ilmu menyusup suara, wajah seribu hanya tersenyum saja. Setelah beberapa saat, baru ia melengking : „Eh, sudah berunding berdua atau belum?“
Jenggot perak menyahut dingin :“Karena cucuku ingin sekali mendapat pelajaran darimu, maka kali ini aku memberi kelonggaran padanya!“
Wajah seribu tertawa gelak-gelak :“aku seorang ganas. Sekali turun tangan kalau sampai cucumu mati, harap jangan salahkan aku!“
„Iblis tua, mungkin kau tak mempunyai kemampuan berbuat begitu!“ Bu-song melengking marah.
„Silakan kau mulai!“ wajah seribu tertawa mengejek.
Bu-song tertawa gemerincing. Ia putar pedangnya, tetapi berpaling melirik Siau-bun.
Siau-bun tegak berdiri ditempat. Hanya mulutnya menyunggingkan senyum. Diam-diam ia gunakan ilmu menyusupkan suara kepada si dara :“Hendaklah jangan kuatir! Aku tahu maksud mu!“
„Kau pintar juga!“ sahut Bu-song dengan ilmu menyusup suara. Dan mulailah ia melancarkan serangan ...........
Wajah seribu tertawa mengekeh. Sekali kedua bahunya bergoyang, terpecahlah dirinya menjadi 3-4 sosok bayangan yang menyerangnya dari empat jurusan.
Bu-song seorang dara yang cerdik. Serangannya hanya serangan kosong. Ia tahu bahwa menghadapi si Wajah seribu tak boleh gunakan kekerasan melulu, tetapi harus pakai tipu. Maka ia gunakan ilmu suara-ditimur-serangan dari barat. Begitu perhatian lawan tercurah pada serangan pedang, secepat kilat tangan kiri Bu-song menabur dengan senjata rahasia Hon-Tahu-kiong (Paser kepala burung Hong).
Sekalipun Bu-song tak dapat membedakan mana bayangan lawan yang asli mana yang palsu, tetapi 4 batang paser yang ditaburkan itu kiranya cukup untuk menghancurkan keempat sosok bayangan untuk memperoleh hasil yang maksimal, ia gunakan ilmu menimpuk yang paling ganas. Tiap-tiap paser itu sengaja diarahkan kemata kiri si bayangan.
Seketika terdengar raung kemarahan yang hebat dan lenyaplah ke 4 sosok bayangan itu.
Sama sekali wajah seribu tak menduga bahwa Bu-song akan gunakan senjata rahasia, karena itu ia agak lengah. Dan kedua kalinya ia tahu bahwa ilmu timpuk Hong-thau-kiong dari partai Thiat-biat bun hebat sekali. Seratus kali timpuk tentu seratus tentu seratus kali kena. Dan masih ada kelemahan bagi Wajah seribu ialah telinga, mata. Hidung dan lubang-lubang tubuh manusia itu paling sukar untuk disaluri tenaga dalam. Betapa lihay si wajah seribu, namun ia tak dapat menggrekkan tenaga dalamnya kebagian-bagian itu. Untung dia banyaka pengalaman, pada detik-detik maut hendak merenggut ia masih dapat miringkan kepalanya sedikit Kesamping
Sehingga matanya terhindar dari kehancuran. Namun tak urung, sudut matanya tetap paser sidara,....................
Wajah seribu mengerung laksana harimau terluka. Sebelum ia sempat mencabut passer yang menancap diujung matanya, sekonyong-konyong angin berkesiuran dan serangkum benda mengkilap menyambar mukanya!
Ketua Tiam jong-pay Li Cu-liong gelisah. Ia mencuri kesempatan untuk bertanya pada jenggot perak dengan ilmu menyusup suara .....“hari sudah terang tanah, pertemuan akan segera dimulai. Rupanya durjana ini (wajah seribu) hendak mengulur waktu supaya pertemuan tak dapat berlangsung tepat pada waktunya ........“ ___ia berkeliaran memandang ketempat penjuru, lalu berkata, pula „Turut pendapat anak, lebih baik kita lekas bertindak menyingkirkan durjana ini. Tak perlu kita menghiraukan tata kehormatan (etika) kaum persilatan lagi!“
„Pertemuan tetap akan dibuka tepat pada waktunya! Serahkan momok ini padaku, kau lekas atur persiapan pertemuan-pertemuan itu, apakah meja kursi sudah diatur menurut rencan!“ sahut jenggot perak dengan ilmu menyusup suara juga.
Li Cu-liong kerutkan alis, ujarnya : „Tetapi durjana ini licin sekali, apakah ayah ...........“. Jangan banyak tanya lagi, aku dapat mengatasinya!“ tukas jenggot perak dengan ilmu menyusup suara. Kemudian ia berganti nada dengan bentakan biasa : „Lekas kerjakan persiapan yang diperlukan!“ Li Cu-liong mengiayakan lalu pergi. Wajah seribu berpaling memandang markas Tiam jong-pay yang menderita kerusakan ia tertawa mengejek.
Sejenak melirik pengemis Thiat-ik-sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, tiba-tiba jenggot perak membentak lawan : „hai, iblis tua, kalau membawa kawan, suruh mereka unjuk diri!“
Wajah seribu terbeliak teriaknya : „Aku selalu bekerja seorang diri, tak pernah kubersekongkol dengan orang. Jangan banyak curiga!“
„Kek, bolehkah aku bicara?“ mendadak Bu-Song maju selangkah. Jenggot perak berpaling, „Eh, kau lihat hantu apa lagi?“
Dara itu tertawa melengking „Durjana ini seolah-olah membanggakan keagungan diri tetapi sebenarnya dia seorang hina! Percuma kau tanya ini itu padanya, bunuh sajalah!“
Bukan kepalang marahnya wajah seribu, teriaknya kau berani menghina aku, budak? Kaupun takkan menjadi mayat utuh ....... tiba-tiba ia menampar. „Iblis hina kau tak malu mengganas seorang anak perempuan! Ia pun songsongkan pukulan.
Karena ilmu Pek-pian-mo-ing (seratus bayangan iblis) tak mempan, wajah seribu gunakan pukulan biasa. Plak ..... terdengar letupan keras dari dua pukulan yang beradu, debu dan tanah berhamburan. Kedua tokoh itu mundur beberapa langkah. Sekalipun tampaknya jenggok perak menang angin tetapi kekuatan mereka berimbang.
Sesaat berdiri tegak wajah seribu tertawa nyaring, „setan tua, kecuali kalian maju berbarengan, jangan harap dapat memenangkan aku!“
„Aku paling benci main keroyok. Mari kita bertanding satu lawan satu!“ jenggot perak marah sekali..
Wajah seribu tertawa „Aku tak suka menggunkan kekerasan. Membunuhmu pun tak ada gunanya. Cukup asal nyawamu tentram, aku sudah puas!“
„Kau benar, iblis!“ tiba-tiba Bu-song menyelutuk. „Hanya sayang tipu muslihatmu tak berguna. Pertemuan orang gagah takkan terpengaruh oleh pengacau sepertimu!“
Wajah seribu tertawa sinis „Orangnya kecil tetapi mulutmu besar! Coba katakan, siasatku apa yang gagal?“
Bu-song tertawa dingin „Menghadapi manusia rendah semacam kau, perlu apa memakai akal!“ Tiba-tiba ia menantang „Apakah kau berani bertempur sejurus saja dengan aku?“
„Kau berani menantang aku?“ wajah seribu tertawa menghina
„kau sudah mendapat kehormatan!“ Bu-song mengejek
Wajah seribu melangkah selangkah, bentaknya mengepul asap tipis. Ia bersikap menerima serangan.
Bu-songpun dengan tenang segera mencabut pedang dari belakang bahunya. Budak, kakekmu disini, jangan lancang!“ serentak jenggot perak membentak si dara.
„Iblis tua ini kelewat sombong. Aku hendak mewakili kakek meghajar adat padanya!“
„Jangan ngaco, lekas enyah!“ bentak jenggot perak. Kemudian ia menyusuli dengan ilmu menyusup suara „Dia seorang tak perlu dikuatirkan tetapi Lam-yau (Siluman dari selatan), Pek-koay (manusia naeh dari utara) dan Bu-kiu-sut seng (Pelajar tak berdosa) tentu juga berada disekitar tempat ini .............“
„Benar, „sahut jenggot perak, „Orang itu dapat meluputkan diri dari ilmu melihat langit mendengar-bumi, tentulah sakti sekali. Jauh beberapa kali saktinya dari puluhan tahun yang lalu. Kakek harus hati-hati menghadapi mereka. Mengapa kau hendak bentindak sembrono, ajo lekas menyingkir!“
„Bagaimana kakek hendak menghadapi mereka!“ tanya Bu-song
Jenggot perak tertegun. Memang pertanyaan sang cucu itu tepat sekalai. Baru ilmu Pek-pian mo-ing atau iblis seratus kali hilang dari wajah seribu saja sudah cukup memusingkan, apalagi ditambah dengan beberapa tokoh pentolan lagi. Tetapi bagaimanapun ia harus bertindak.
Pertarungan tadi menunjukkan bahwa kekuatannya berimbang dengan wajah seribu. Untuk menundukkan tokoh itu, ia harus menggunakan waktu sedikitnya sejam Ah, trlalu lama.
„Jangan kuatir, kakek mempunyai rencana „Akhirnya ia menghibur si dara.
Bu-song mencibirkan bibirnya „Tindakan ku ini justeru hendak membantu kakek. Hendak kupancing mereka keluar baru kita hancurkan!“
Ia tahu jelas situasi saat itu. Pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, CU Siau-bun dan tokoh lainnya, terpancang oleh kenggot perak. Tanpa perintah jago tua itu, mereka tak berani bertindak.
Tetapi tampaknya jenggot perak tak punya rencana apa-apa. Kalu terus menerus hanya tantang-tantangan begitu saja, tentulah pertemuan para orang gagah tak dapat berlangsung!
„Bagaimana akalmu hendak memancing mereka?“ tanya jenggot perak.
Bu-song tertawa : „Ini ...... sekarang tak dapat kuberitahukan dulu! Tetapi, paling tidak hendak kuberi pelajaran dulu pada momok ini, syukur kalau dapat membunuhnya! Dengan begitu gerombolan mereka tentu keluar semua!“
Jenggot perak mengurut-urut jenggotnya. Beberapa saat ia tak dapat bicara. Ia percaya akan kecerdasan bocah perempuan itu. Sekalipun tindakannya kali ini sangat berbahaya, tetapi ia berada dekat situ. Setiap saat dapat memberikan pertolongan apabila diperlukan.
Melihat jenggot perak dan Bu-song bicara dengan ilmu menyusup suara, wajah seribu hanya tersenyum saja. Setelah beberapa saat, baru ia melengking : „Eh, sudah berunding berdua atau belum?“
Jenggot perak menyahut dingin :“Karena cucuku ingin sekali mendapat pelajaran darimu, maka kali ini aku memberi kelonggaran padanya!“
Wajah seribu tertawa gelak-gelak :“aku seorang ganas. Sekali turun tangan kalau sampai cucumu mati, harap jangan salahkan aku!“
„Iblis tua, mungkin kau tak mempunyai kemampuan berbuat begitu!“ Bu-song melengking marah.
„Silakan kau mulai!“ wajah seribu tertawa mengejek.
Bu-song tertawa gemerincing. Ia putar pedangnya, tetapi berpaling melirik Siau-bun.
Siau-bun tegak berdiri ditempat. Hanya mulutnya menyunggingkan senyum. Diam-diam ia gunakan ilmu menyusupkan suara kepada si dara :“Hendaklah jangan kuatir! Aku tahu maksud mu!“
„Kau pintar juga!“ sahut Bu-song dengan ilmu menyusup suara. Dan mulailah ia melancarkan serangan ...........
Wajah seribu tertawa mengekeh. Sekali kedua bahunya bergoyang, terpecahlah dirinya menjadi 3-4 sosok bayangan yang menyerangnya dari empat jurusan.
Bu-song seorang dara yang cerdik. Serangannya hanya serangan kosong. Ia tahu bahwa menghadapi si Wajah seribu tak boleh gunakan kekerasan melulu, tetapi harus pakai tipu. Maka ia gunakan ilmu suara-ditimur-serangan dari barat. Begitu perhatian lawan tercurah pada serangan pedang, secepat kilat tangan kiri Bu-song menabur dengan senjata rahasia Hon-Tahu-kiong (Paser kepala burung Hong).
Sekalipun Bu-song tak dapat membedakan mana bayangan lawan yang asli mana yang palsu, tetapi 4 batang paser yang ditaburkan itu kiranya cukup untuk menghancurkan keempat sosok bayangan untuk memperoleh hasil yang maksimal, ia gunakan ilmu menimpuk yang paling ganas. Tiap-tiap paser itu sengaja diarahkan kemata kiri si bayangan.
Seketika terdengar raung kemarahan yang hebat dan lenyaplah ke 4 sosok bayangan itu.
Sama sekali wajah seribu tak menduga bahwa Bu-song akan gunakan senjata rahasia, karena itu ia agak lengah. Dan kedua kalinya ia tahu bahwa ilmu timpuk Hong-thau-kiong dari partai Thiat-biat bun hebat sekali. Seratus kali timpuk tentu seratus tentu seratus kali kena. Dan masih ada kelemahan bagi Wajah seribu ialah telinga, mata. Hidung dan lubang-lubang tubuh manusia itu paling sukar untuk disaluri tenaga dalam. Betapa lihay si wajah seribu, namun ia tak dapat menggrekkan tenaga dalamnya kebagian-bagian itu. Untung dia banyaka pengalaman, pada detik-detik maut hendak merenggut ia masih dapat miringkan kepalanya sedikit Kesamping
Sehingga matanya terhindar dari kehancuran. Namun tak urung, sudut matanya tetap paser sidara,....................
Wajah seribu mengerung laksana harimau terluka. Sebelum ia sempat mencabut passer yang menancap diujung matanya, sekonyong-konyong angin berkesiuran dan serangkum benda mengkilap menyambar mukanya!
Tetapi yang menyambitkan senjata rahasia kali ini bukan Bu-song, melainkan Siau-bun. Nona itupun tak mau ketinggalan. Ia sambitkan 3 batang passer Tui-hong-kiong pemburu angin. Sebelum wajah seribu berdiri tegak, Siau-bun sudah membarengi. Dalam hal ilmu menyambitkan senjata rahasia tak kalah sebatnya dengan Bu-song. Betapun lihaynya wajah seribu, namun sukar untuknya menyingkir. Usaha terakhir, ia masih dapat menyelamatkan bagian berbahaya dari tubuhnya. Bahu sebelah kanan menjadi sasaran Tui hong-kiong. Sakitnya bukan kepalang sehingga hampir saja ia terjungkal roboh. Ia terhuyung-huyung sebanyak 5 langkah kebelakang. Bahu kanannya tak dapat digerakkan lagi......
Tui-hong-kiong merupakan senjata pusaka hun-tiong san. Sekalipun tak dilumuri racun, tetapi senjata rahasia itu dibut sehalus rambut. Begitu menyusup kedalam jalan darah sang korban pasti mati seketika!
Setitikpun wajah seribu tak pernah bermimpi bahwa hari itu bakal jatuh itangan dua orang anak perempuan. Saking marahnya tubuhnya menggil dan mulutnya meraung-raung. Tetapi sudut matanya yang kiri sakit, begitu pula bahunya yang kanan seperti putus rasanya.
„Sasaran tepat, sayang tak dapat menembus ulu hatinya!“ Bu-song berpaling dan berseru kepada Siau-bun.
„Apa perlu saya tambah lagi?“ sahut Siau-bun tertawa.
Buru-buru Bu-song menggunakan ilmu menyusup suara. „Tadi saja sudah menyalahi peraturan kakekku. Kalau tak percaya boleh coba lagi, lihat saja kakek menghajarmu atau tidak!“
Siau-bun terkejut. Tetapi secepatnya ia insyaf. Mungkin yang dikatakan si dara itu benar. Jenggot perak kakek mereka memang seorang tua yang aneh perangainya.
Siau-bun tertawa tawar, serunya dengan ilmu menyusup suara :“Tadi aku hanya bermaksud membantumu saja. Jika aku tak turun tangan, iblis tua itu tentu dingin saja menghadapi passer Hong-thau-kiongmu. Mungkin ......
„Tak usah kau bicara semerdu itu, aku tak menerima bantuanmu!“ sahut Bu-song dengan dingin.
„HM, kuterangkan sedikit „Sahut Siau-bun, „sebelum kau turun tangan tentulah kau sudah mengetahui bahwa aku tentu membantumu. Dengan begitu barulah kau berani berkata besar kepala didepan kakekmu!“
„Benar, „Bu-song tertawa, „hal ini didasarkan pada waktumu. Kutahu kau tentu takkan melepaskan kesempatan untuk memberikan pahala!“
„Salah!“ Siau-bun tertawa.
„Ha?“ Bu-song terkesiap.
„Kau lupakan Lam-yau, Pak-koay, Bu-kiu-sut-seng dan Raja-kutu Coh Seng?“ seru Siau-bun.
Bu-song tertegun. Diam-diam ia mengakui kelalainya. Kalau tokoh-tokoh itu memang datang dan bersembunyi, setelah tahu kawannya terluka tentulah segera akan muncul. Tetapi mengapa mereka tak menampakkan diri?“
Merosotlah ambisi Bu-song. Tadi ia berapi-api membuka mulut besar dihadapan Jenggot perak, tentu dapat memikat gerombolan wajah seribu keluar, tetapi buktinya, tak seorangpun dari gerombolan lawan yang muncul ......’
Tampak wajah seribu berkeliaran memandang keempat penjuru. Serta dilihatnya jenggot perak dan tokoh-tokoh lainnya tak bergerak, barulah ia agak tentram dan segera meramkan mata menyalurkan tenaga dalam. Ia hendak memulihkan bahunya yang mati rasa itu.
Bu-song memandang Lawan dengan tajam, Tiba-tiba ia melengking dan menerjangnya.
„Eh, bocah perempuan, partai Thiat-hiat-bun tak pernah menyerang orang yang sedang terluka. Tak boleh mencari kemenagan secara curang......!“ tiba-tiba jenggot perak berseru.
Kek, sekarang aku tak sempat memberi penjelasan padamu!“ teriak si dara yang terus lanjutkan serangan
*********
Dara Baju Merah
Jenggot perak berteriak mencegah tetapi tak berbuat apa-apa sementara wajah seribu masih menyalurkan tenaga dalam. Tampaknya ia tak akan melawan ...
Pada saat pedang akan menusuk tubuh wajah seribu sekonyong-konyong bayangan melayang dari udara. Seorang yang bertubuh pendek seperti semangka. Tetapi luar biasa cepatnya sekali ulurkan tangan, ia mencengkeram pedang si dara.
Bu-song seorang dara yang cekat dan cerdas. Msekipun tengah menusuk, tetapi diam-diam ia sudah memperhitungkan, bahwa pasti ada orang yang akan menolong wajah seribu. Secepat kilat ia geliatkan mata pedang membabat pergelangan tangan orang itu. Berbarengan tangan kiri menyambitkan 3 batang passer.
Orang itu tertawa seraya turun ketanah. Sepasang tangannya mengibas. Terdengar dering passer berhamburan jatuh!.
Kejut Bu-song bukan kepalang, ia mundur tiga langkah.
Terhindar dar maut, marah wajah seribu bukan kepalang. Pada saat Bu-song menyurut mundur, sekonyong-konyong wajah seribu ayun tubuhnya untuk mencengkeram si dara dengan sepuluh jarinya yang dipentang.
Kali ini ia tak gunakan ilmu Pek-pian-mo-ing, melainkan gunakan ilmu nyata. Sekali gerak ingin menghancurkan tulang belulang si dara.
Memang bukan main kepandaian wajah seribu. Jika orang lain, tentu sudah lumpuh akibat bahunya terkena passer. Ia sudah tahu bahwa dalam saat-saat genting, kawannya akan muncul. Dan dugaannya ternyata benar, begitu si pendek muncul dan mengundurkan Bu-song, terus disusuli lagi dengan taburan asap hitam.
Kini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Kalau tadi wajah seribu yang terancam, sekarang Bu-songlah yang terancam. Du tokoh sakti berbarengan menyerangnya.
Melihat itu, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tidak dapat tinggal diam. Segera ia lepaskan pukulan Cek-koay-ciang kepada si pendek. Demikianpun jenggot perak. Ia hantam wajah seribu.
Terdengar suara mendesis macam api merangus. Itulah suara dari pukulan Cek-koay-ciang. Asap yang dihamburkan orang pendek itu adalah asap beracun. Tetapi ketika terhantam pukulan panas Cek-koay-ciang seketika asap itu menjadi hangus dan membubung keudara. Tidak cukup membuyarkan asap saja, tenaga pukulan Cek-koay-ciang masih dapat membuat si pendek terpental sampai delapan langkah jauhnya.
Jenggot peraakpun berhasil. Sekalipun luka wajah seribu sudah sembuh, tetapi menghadapi pukulan maut dari ketua Thiat-hiat-bun, ia harus menelan pil pahit. Memang kepandaiannya kalah setingkat dengan jenggot perak, apalagi ia baru saja sembuh dari luka bahunya. Wajah seribu terhuyung sampai 5 langkah. Wajahnya pucat pasi, darah dalam tubuhnya bergolak-golak.
Jenggot perak hanya tersurut mundur selangkah sikapnya biasa seperti tak mengalami apa-apa.
Kini jelaslah kekuatan mereka.
Wajah seribu dan orang pendek itu salaing berpandangan.
Coh seng, sungguh beruntung dapat berjumpa!“ tiba-tiba jenggot perak tertawa.
Ah, kiranya orang pendek itu si Raja-kutu Coh Seng. Selain mahir dalam ilmu pengetahuan jenis kutu-kutu beracun, Coh Seng pun memeiliki ilmu yang dapat membuat tulang-belulangnya sekeras baja. Itulah sebabnya passer Hong-thau-kiong yang dilepaskan Bu-Song tak mempan.
Pada saat Coh seng hendak bicara, tiba-tiba terdengar suara seruling melengking diudara. Jenggot perak terkesiap. Buru-buru ia berpaling dan menyuruh rombongannya menyalurkan tenaga dalam melawan lengkingan seruling.
Kedengarannya, suara seruling itu seperti alunan seruling biasa. Tetapi lagu yang ditiupnya memikat hati. „Tentulah Bu-Ciu Su-seng yang meniup seruling. Awas, jangan sampai terpikat oleh seruling.....“ pengemis Thiat-ik Sin-kay pun memberi peringatan kepada rombongannya.
Semua orang menurut. Jenggot perak memang hebat. Selain dapat membentengi diri dari lengkingan seruling, ia masih dapat membagi perhatian untuk menjaga gerak-gerik Coh Seng dan wajah seribu.
Suara seruling tetap melengking-lengking. Tiba-tiba suaranya berubah seram, macam burung hantu berbunyi ditengah malam. Rupanya si peniup memainkan ilmu Cian li-yang-seng (dari ribuan li meniup seruling). Betapa lihay ilmu melihat langit mendengar bumi dari jenggot perak, namun tak tahu dimana beradanya peniup seruling.
Jenggot perak, Thiat-hiat Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun masih dapat bertahan. Tetapi Bu-song, Siau-bun harus menderita. Beberapa saat kemudian, kedua nona itu hampir tak tahan.
Kedua anak perempuan itu mulai berkunang-kenang matanya, semangatnya mulai limbung. Suara seruling itu serasa menembus kedalam ulu hati, meremas-remas jantung. Menangis tak dapat mengeluarkan air mata, tertawa tak dapat bersuara.
Jenggot perak tahu keadaan kedua anak perempuan itu ia tak berdaya menolong. Ia sendiri pu berjuang mempertahankan diri. Hari makin terang perjamuan makin mendesak waktunya. Tuan rumah terancam kemusnahan!
Sekonyong-konyong terdengar tambur bertalu nyaring. Jenggot perak mengerang. Ia kaget-kaget gembira. Suara genderang (tambur) tak asing baginya. Teringatlah ia ketika melihat Bu-beng-jin bertempur dengan Bok-sam-pi di gunung Thay-heng-san, tambur itupun terdengar. Hanya bedanya bunyi tambur itu keras sekali. Jauh lebih nyaring dari ketika di Thay-heng-san.
Aneh! Begitu tambur menderu, serulingpun sirna seketika.
Raja-kutu Coh Seng, wajah seribu pucat. Setelah saling berpandangan, mereka terhuyung-huyung mundur. Genderang itu mempunyai pengaruh besar terhadap mereka. Dengan terhuyung-huyung kedua durjana itu lari menyembunyikan diri dalam kegelapan.
Setelah seruling sirap sirna dan kedua durjana itu mundur, tamburpun lenyap. Suasana jadi hening. Jenggot perak kerutkan kening, serunyatergagap : Siapa ......?“
„Siapakah yang membunyikan tambur itu?“ tanya Bu-song. Jenggot perak hanya menggeleng. „Masakan kakek yang banyak pengalaman sedikit pun tak dapat meraba?“ desak Bu-song.
Setelah merenung sejenak, berkatalah jenggot perak : „Beberapa tahun yang lalu, kudengar di daerah Se-ik (Tibet) terdapat seorang tokoh wanita bergelar Sin-Ku-Siaulo (Dewi Tambur). Mungkin tambur itu mempunyai hubungan dengan wanita sakti itu. Tetapi kakek belum pernah mendengarnya!“
Diam-diam jenggot perak teringat akan Bu-beng-jin. Nasib pemuda itu berada ditangan si pemilik tambur. Karena jelas ketika digunung Thay-heng-san, tambur itu tak lain tak bukan hanyalah digunakan oleh dara berbaju merah yang berumur belasan tahun. Tetapi ah, mengapa dara itu tak muncul?
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dan pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay bingung juga. Suara tambur itu terdengar dan lenyap secara mesterius. Tetapi yang jelas, suaranya hebat sekali, menggetarkan urat-urat jantung orang.
„Kek, dimana orang itu?“ seru Bu-song pula.
„Mungkin ia tak mau menemui kita ..... atau mungkin ia mendapat perintah jangan menemui kita,“ kata jenggot perak.
„Kau kenal padanya?“ Bu-song terkesiap.
Jenggot perak tertegun : „Baru pertama ini kakek mendengar tambur, bagamana aku tahu?“
„Kalau kenal mengapa kakek bisa mengatakan dia mendapat perintah orang?“ tanya Bu-song
„Ah ...... kakek hanya menduga saja, „jenggot perak kewalahan
„Lalu dia dimana? Mengapa tak mencarinya?“
„Bagaimana kakek bisa tahu?“
„Toh kakek mempunyai ilmu melihat-langit-mendengar-bumi?“ desak si dara.
„Dia gunakan ilmu Cian-li-yang-seng, ilmuku melihat-langit-mendengar-bumi percuma saja!“
Bu-song tertawa dingin : „Ah, tak kira malam ini kita ketemu tokoh-tokoh sakti. Tetapi sayang mereka tak mau unjuk diri!“ dengan kata-kata itu ia hendak memancing supaya pemukul tambur unjuk diri. Ia yakin kata-katanya tentu terdengar sampai beberapa puluh tombak.
Tetapi tetap tiada reaksi apa-apa.
„Sudahlah, budak, jangan ribu-ribu saja!“ akhirnya jenggot perak membentak.
Sebaliknya Bu-song malah penasaran. Dengan sekeras-kerasnya ia berteriak : „Huh, apa-apan itu. Hanya ilmu memukul tambur saja masa hendak dibanggakan!“
Pemilik tambur sebenarnya masih bersembunyi disekitar tempat itu. Waktu mendengar hinaan Bu-song, ia tak dapat tahan lagi. Serentak ia loncat melayang keluar dan muncul dihadapan Bu-song.
Kejut Bu-song tak kepalang. Ternyata yang mencul dihadapannya itu hanya seorang dara belasan tahun memakai pakaian serba merah. Rambutnya dikepang dua, sepasang matanya yang bendar melotot marah kepada Bu-song.
Sambil menepuk-nempuk tambur kecil yang digandeng dibelakang punggung, dara itu melengking congkak : „Memang tamburku yang butut ini tak berguna, tetapi ........“ia kerutkan hidungnya menyengir, tiba-tiba membentak-bentak ..... kau mempunyai beberapa muka!“
Walaupun bernada marah tetapi sikap dara itu wajar kekanak-kanakan sekali. Memang usianya kira-kira 12-13 tahun.
„O, aku tak menyangka kalau yang memukul tambur kau, „seru Bu-song setelah hilang rasa terkejutnya.
„Kau sangka siapa?“ lengking si dara.
„Kukira seorang yang tua, seorang kakek yang berwajah bengis. Ah, tak kira ternyata seorang adik yang manis dan lincah!“
„Eh, benarkah aku ini manis?“ seru si dara.
Bu-song tertawa :, „Benar, aku tak pernah memuji orang. Kalau kau mau bolehlah aku mengakuimu sebagai adik!“
Dara itu memandang Bu-song dari ujung kaki sampai keatas kepala, kemudian tertawa : „bagus, sekarang aku mempunyai 3 orang Taci, seorang engkoh.....“ setelah memainkan matanya yang bundar, dara itu berseru pula : „Taci, aku bersama Pok lian-Ci. Siapakah namumu?“
Bu-song kerutkan kening : „hai, apakah ibumu,“
„Sudah meninggal .....!“ sahut Pok Lian-Ci dengan rawan.
„Meninggal? Bu-song terharu juga. Masakan seorang dara yang masih begitu kecil sudah tak beribu lagi. Dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri. Ayahbundanya sudah meninggal. Bu-Beng-jin juga sudah berjanji pada kakeknya untuk dijodohkan padanya, ternyata hilang di gunung Thay-heng-san. Bu-song berlinang-linang ......
„Eh, mengapa kau? Bagaimana aku harus memanggilmu?“ seru si dara pula.
Bu-song tertawa rawan, „Tak apa-apa! Aku bernama Lu Bu-song, kita senasib sejak kecil akupun sudah kehilangan ayah bunda dan ikut kakek .........“ ia menunjuk pada jenggot perak „kenalkan, ini kakekku!
Pok Lian-Ci maju kehadapan jenggot perak serunya : „Kek ..... eh, bagaimana kupanggil Ya?“
Jenggot perak tertawa meloroh „ya, ya..... dengan siapa kau datang ke Tiong-Goan?“
„Dengan ayah!“ sahut si dara.
„Apakah ayahmu orang Monggol?“
„Bukan dia seorang Han!“
„Ayahmu kah yang mengajarkan kau memukul tambur?“
„Tidak, nenekku!“
„Nenekmu ?“ jenggot perak terkesiap, „Kalau begitu, nenekmu tentulah Dewi Tambur!“
Pok Lian-Ci bertepuk tangan „Tepat sekali dugaanmu, kek! Selain tambur, nenek juga pandai meniup seruling, memainkan harpa dan lain-lain ..... eh, apakah kakek kenal padanya?“
Jenggot perak gelengkan kepala. Telah lama kudengar namanya tetapi tak pernah berjumpa. Apakah dia sehat-sehat saja?“
Jenggot perak menghela napas. Tiba-tiba ia berseru : „Ayahmu?“
„Dia..... dia datang bersama aku ...... „katanya tergagap. Dara itu tak dapat berbohong. Walaupun sebenarnya ia mau mengatakan hall itu namun tak dapat juga ia menyimpan rahasia.
„Diman Ayahmu?“ mengapa tak ajak ia menjumpai aku!“ jenggot perak berseru tegang.
„Tidak!“ seru Pok Lian-Ci,“ Ayah mengatakan jika tak perlu ia tak mau menemui kakek. Sebenarnya aku tak boleh mengatakan tentang dirinya karena kuatir kakek mendampratnya!“
„Kalau begitu ayahmu itu .....“
„Juga tak boleh mengatakan namanya!“ tuka Pok Lian-Ci.
Mendengar Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun segera menghampiri. Dengan lemah lembut dibelainya rambut Pok Lian-ci. Katanya dengan halus, „Nah, jika kau mengaku mempunyai taci, mempunyai kakak, akulah bibimu!“
„Bibi!“ seru Bu-song tertawa riang.
Hun Tiong Sin-mo Cu Giok-bun sejenak bertkar pandan dengan Jenggot perak, lalu berkata kepada Bu-song : „Nak, katakan siapa nama ayahmu. Kita sekarang orang sendiri!“
Pok Lian-ci memeramkan matanya beberapa kali. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ragu-ragu. Akhirnya ia gelengkan kepala : „Tidak, aku tak boleh melanggar pesan ayah!“
Cu Giok-bun kewalahan. Katanya pula : „Bukankah ayahmu itu tokoh yang gemar memakai pedang besi yang batangnya digantungi kantong kecil berbentuk hati ......“
„Benar!“ teriak Pok Lian-Ci serentak, „Apakah bibi kenal padanya?“
Seketika berubahlah wajah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun „Tidak, aku tak kenal ..... mungkin dulu pernah kenal tetapi sekarang tidak!“
Pok Lian-ci memandang bibi itu dengan heran. Namun ia tak berani mengatakan apa-apa.
Siau-bun telah melihat perubahan air muka ibunya. Begitupun pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay dan Lu-Bu-song. Tetapi mereka tak berani bertanya.
Jenggot perak yang memecah kebuntuan dengan terbatuk-batuk, ujarnya „Eh, kau mempunyai seorang engkoh dan dua orang taci?“
Lian-ci tertawa, „Sekarang tambah dengan seorang taci lagi ....... tetapi ibuku hanya melahirkan seorang anak saja. Yang lain adalah setelah aku datang ke Tiong-goan, aku mendapat engkoh dan taci angkat .......“
„Apakah engkoh angkatmu itu kau dapatkan di gunung Thay-heng-san?“ tanya jenggot perak.
Lian-ci mengangguk.
Jenggot perak menghela napas. Tiba-tiba ia berpaling kepada Cu Giok-bun „Urusan ini masih penuh tabir kegelapan, kau ........“
„Tujuh belas tahun lalu, masakan aku masih mendendam hal itu?“ Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tertawa.
Jenggot perak tertawa juga : „Itulah baik, apabila dia benar Thiat-bing, tentulah dia juga menderita. Jika bertemu muka, kau harus mengalah ........ „kata-kata itu ia ucapkan dengan ilmu menyusup suara sehingga orang lain tak mendengarnya.
Cu Giok-bun tertawa rawan : „Memang, kini aku tahu bahwa dia bukan orang yang ytak setia. Karena perbuatan Ma Hong-ing yang mengadu domba sehingga kami suami isteri menjadi retak...“
Ia tak dapat melanjutkan kata-katana karena tersekat rasa haru.
Pok Lian-ci bergantian memandang pada jenggot perak dan Cu Giok-bun, serunya terbata-bata : „Bibi ..... kau kenapa? Apakah kau juga mempunyai kesedihan?“
Cu Giok-bun menghela napas, „Nak, bibi hendak bertanya padamu, maukah kau menjawab dengan terus terang?“
Lian-ci mengangguk, „Asal jangan menanyakan nama ayahku, tentulah akan kuberi keterangan sejujurnya“
„Tak usah kaukatakan hal itu. Cukup asal kau jawab apakah yang kukatakan itu benar atau tidak!“ Cu Giok-bun sejenak lalu berkata pula, „Bukankah ayahmu bernama Pedang bebas Pok Thiat-bing?“
Gemetar tubuh si dara mendengar pertanyaan itu. Serunya terkejut : „Bibi, kau .....“ „Apa yang kukatakan itu benar atau tidak?“ Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun mendesak.
Lian-ci terengah-engah napasnya seperti orang menghadapi soal sulit. „Benar sih benar, tetapi ayah melarang aku mengatakan!“ sahutnya.
Cu Giok-bun menghela napas, „Kalau kata-kataku itu benar, janganlah kau memanggilku bibi lagi, nak .....“
„Eh, habis bagaimana aku harus menyebut?“ si dara gugup.
„Panggil aku mama!“ seru Cu Giok-bun dengan nada mantap.
Bukan saja Lian-ci tetapi Siau-bun, Bu-songpun terbeliak kaget.
Siau-bun menarik ujung baju ibunya dan bertanya dengan tegang, „Ma, apakah ayah .......“
„Mungkin tak salah ......,“Cu Giok-bun menghela napas. „Kalau datang mengapa tak lekas menemui aku!“
„Mengapa aku harus menyebutmu mama? Mama ... sudah meninggal!“ teriak Lian-Ci. Cu Giok-bun tertegun „Apakah ayahmu tak pernah menceritakan?“
„Tidak!“ Lian-ci gelengkan kepala. Ia merenung sejenak lalu berkata pula : „Memang ibuku dulu pernah bercerita bahwa ketika tiba di daerah Se-hon ayah sakit berat. Tubuhnya kurus kering seperti tulang terbungkus kulit. Sudah 3 hari menggeletak di tepi telaga. Jika tak ketemu ibu, ayah tentu sudah mati!“
Cu-Giok-bun menghela napas. Ia bayangkan keadaan Pok Thiat-bing kala itu. Karena salah faham, Thiat-bing merantau ke Se-hek (Tibet). Bukan mustahil keadaannya menderita, jatuh sakit tiada yang merawat. Tentulah ia merasa berhutang budi pada puteri Dewi tambur (ibu Lin-ci) yang menolongnya. Kemudian mereka tentu menikah. Hal itu mungkin juga karena Thiat-bing tentu masih mendendam kepadanya. Kemungkinan Thiat-bing tak mau mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah beristeri Cu Giok-bun.
************
Eng-Hiong-Tay-hwe
Bebarapa saat Cu Giok-bun, Lian-ci, jenggot perak dan lain-lain, berdiam diri. Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng dan tambur. Itulah tanda pembukaan rapat Eng-hiong-tayhwe (Rapat besar orang gagah) akan dimulai.
Jenggot perak gelagapan „Bun-ji, dalam beberapa hal Thiat-bing patut dikasihani. Dalam Eng-hiong-tayhwe nanti mungkin kau bisa berjumpa ....“ Ia berhenti sejenak, katanya pula ; „Dahulu ayah yang menjodohkan sekarang ayahpun tetap hendak berusaha supaya kalian berkumpul kembali sebagai suami isteri.“
Tiba-tiba seorang lelaki berlari=lari mendatangi dan memberi hormat dihadapan Jenggot perak : „Subuh sudah lewat, apakah rapat akan dibuka menurut jadwal yang telah ditetapkan?“
„Seorang Satria harus pegang janji. Apalagi mengenai urusan yang sedemikian pentingnya. Rapat tetap dibuka tepat pada waktu yang telah ditetapkan!“
Li Cu-liong tersipu-sipu mengiakan. Ia menerangkan bahwa saat itulah rapat sudah harus dimulai.
„Apakah para tetamu sudah hadir?“
„Sudah 7-8 bagian yang hadir, tapi .........“ ketua Tiam-jong-pay itu sejenak memicingkan matanya, katanya : „Rombongan Sin-bu-kiong dengan Hek Gak belum nampak!“
Jenggot perak tertawa meloroh : „Jika mereka sungguh tak datang. Setelah mendapat persetujuan rapat, aku hendak mengajak sekalian tetamu untuk ngeluruk ke Sin-bu-kiong dan Hek Gak .......“
Jenggot perak segera ajak rombongan ke lapangan : „Ayo, kita bertemu dengan para kasatria-kasatria delapan penjuru angin!“
Bangsal pertemuan penuh dengan orang. Meja berhias hidangan-hidangan minuman arak dan makanan yang lezat. Perjamuan itu benar-benar merupakan pertemuan yang jarang terjadi beberapa puluh tahun. Sekalian orang gagah dari seluruh penjuru berkumpul jadi satu, sama lain menikmati hidangan dan menguji kesaktian.
Tetapi suasana perjamuan bukan diliputi kegembiraan melainkan kecemasan. Sekalian beberapa ratus orang yang hadir, tetapi suasananya sunyi-sunyi saja.
Pok Lian-ci memang masih kekanak-kanakan. Kalau-kalau orang-orang gelisah, sebaliknya dia malah gembira sekali. Sambil melonjak-lonjak seperti anak kecil, ia bertanya kepada jenggot perak : „Kek, apakah hari ini kau mengadakan ulang tahun?“
Ia teringat, dulu ketika neneknya (dewi tambur) merayakan ulang tahun, juga menyelenggarakan pesta besar.
„Bukan ulang tahunku tetapi kakek sedang mengundang tamu!“ jenggot perak tertawa.
„Mengundang tetamu?“ Lian-Ci heran.
Jenggot perak menyahut dengan nada mantap „Karena mengundang tetamu ini maka kakek sampai perlu datang dari tempat yang jauh.....“
Walaupun kata-kata itu ditujukan pada Lin-Ci tetapi sebenarnya jenggot perak hendak menumpahkan keresahan hatinya. Yang paling menjadi pikirannya ialah diri Bu-Beng-jin. Jika pemuda itu muncul dalam perjamuan nanti, bagaimana ia akan menyelesaikan mereka?
Dari keterangan Lian-ci, jelas bahwa Bu-beng-jin telah ditolongnya. Kemungkinan pemuda itu akan datang bersama dengan Pok Thiat-bing.
Saat itu jenggot perak sudah memasuki ruang pertemuan dan diantar Li Cu-liong ketempat duduk yang disediakan untuknya. Tempat itu adalah kursi pimpinan rapat. Letaknya ditengah. Disebelah kanan dan kiri, terdapat dua buah kursi yang kosong. Itulah kursi yang diperuntukan bagi Sin-bu Te-kun dan Ketua Hek Gak. Tetapi saat itu kedua tokoh tersebut belum juga mucul.
Sambil mengambil tempat duduk, bertanyalah jago tua itu kepada Li CU-liong : „Karena gara-gara partai Ji-tok-kau, wajah seribu sampai muncul selain itu apakah masih terdapat orangorang yang patut dicurigai lagi?“
Li Cu-liong buru-buru menyahut : „Dalam rombongan Partai Go-bi-pay terdapat 2 orang paderi yang tak diketahui asal usulnya. Rombongan lain tak sempat diselidiki....“ Rapat akan segera dimulai!“ seru jenggot perak.
Serentak Li Cu-liong loncat keatas sebuah meja kosong dan mengumumkan bahwa rapat Eng-hiong-tayhwe dibuka. Atas nama tuan rumah ia menghaturkan selamat datang kepada sekalian orang gagah. Ketua Tiam-jong-pay itu memiliki tenaga dalam yang kuat. Suaranya terdengar nyaring dan jelas. Pidatonya mendapat sambutan hangat dari hadirin.
Tetapi tidak semua orang gagah yang hadir disitu, simpati kepada Tiam-jong-pay. Mereka mempunyai prasangka yang jelek terhadap Hun-tiong Sin-mo yang ganas. Hubungan yang intim antara Hun-tiong Sin-mo dengan Thiat-hiat-bun dan Tiam-jong-pay, menimbulkan kecuriagan dalam hati mereka.
Dibawah meja tempat Li Cu-Liong berdiri, tampak 4 sosok mayat membujur. Ketika Li Cu-liong menerangkan bahwa korban-korban itu adalah anak buah partai Tiam-jong-pay yang diracuni oleh partai Ji-tok-kau, hadirin terdiam semua. Ada yang percaya ada juga yang takut memberi pernyataan karena kuatir membikin marah salah satu pihak.
Setelah Li Cu-liong turun, jenggot perak bangkit dan mengangkat cawan arak mengajak hadirin yang hadir untuk bersulang : „ Inilah yang pertama kali aku mengunjungi Tiong-goan. Pertama kepingin menyaksikan keindahan tanah Tiong-goan yanag termasyur dan kedua kalinya hendak mengikat persahabatan dengan para kasatria Tiong-goan. Maka dengan meminjam tempat di markas Tiam-jong-pay sini, kuselenggarakan perjamuan besar guna menghorma sekalian sahabat, atas kesudian dan penghagaan saudara-saudara untuk memenuhi undaganku, kuhaturkan banyak-banyak terima kasih dan marilah kita minum untuk keselamatan kita bersama!“
Jenggot perak hendak meminum arak dicawannya tetapi sekonyong-konyong terdengar suara orang membentak „ Tunggu!“
Suara lantang dan nyaring bagaikan genta bertalu, sekalian hadirin tersentak kaget. Jenggot perakpun melirik. Seorang paderi gemuk bangkit ditengah-tengah para hadirin dan berjalan kemuka.
„Toa-suhu hendak memberi pelajaran apa?“ tegur, jenggot perak.
Paderi itu tertawa dingin, „Ada beberapa hal yang loni yang tak mengerti dan mohon saudara memberikan penjelasan.“
„Dalam hal apa, silakan Toa-suhu mengatakan, „kata jenggot perak.
„Saudara adalah partai dari luar daerah. Tetapi saudara berani mengundang kasatria Tiong-goan berkumpul disini. Ini sudah tak menghormat. dan pula pada malam sebelum pembukaan rapat, saudara telaha membunuhi 40 orang partai Ji-to-kau. Tindakan itu jelas hendak saudara tunjukkan sebagai unjuk kekuatan. Untuk mematahkan nyali sekalian kasatria. Cara-cara serendah itu, apakah alasan yang hendak saudara kemukankan?“
Jenggot perak tertawa nyaring „Akupun hendak bertanya sepatah kata padamu, apakah kau bukan si wajah seribu?’
Memang paderi gemuk itu bukan lain adalah wajah seribu yang telah menyamar. Setelah dipukul mundur oleh ilmu Tambur dara Pok Lian-ci, dia terus menyusup kedalam rombongan partai Go-bi-pay.
Wajah seribu tertawa congkak, „Benar, matamu memang tajam. Kalau sudah mengenal aku, mengapa kau masih berlagak....“ Ia berkeliaran memandang keempat penjuru lalu berseru keras „Ho, apakah kau hendak mengelak dari pertanyanku tadi?’
„kalau kau sudah mengakui sebagai wajah seribu, aku hendak bertanya lagi!“ sahut jenggot perak.
„Silakan!“
„Dimanakah Sin-bu Te-kun sekarang?“
„mana aku tahu!“ jawab wajah seribu.
„Ada orang menyaksikan sendiri bahwa kau bernama Lam-yau, Pak-koay dan Bu-kiu-su-seng telah menggabungkan diri pada Sin-bu-kiong!“
„Entah yang keji!“ siapakah yang berani menghina begitu?“ teriak wajah seribu.
„Aku....!“ tiba-tiba terdengar suara nyaring disusul dengan melesatnya ssesosok bayangan berkelebat ketengah gelanggang.
Semua hadirin terkejut. Itulah pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay. Sekalipun dalam dunia persilatan partai Kay-pang itu tidak tinggi kedudukannya tetapi terkenal sebagai partai yang jujur dan adil. Thiat-ik-sin-kay adalah ketua angkatan tua dari Kay-pang. Mereka yakinkesaksian ketua Kay-pang itu tentu tidak bohong. Tetapi anehnya, soal masuknya wajah seribu kedalam Sin-bu-kiong itu tak membuat terperanjat sekalian hadirin. Hal itu dikarenakan sebagian tokoh-tokoh yang hadir tak mempunyai dendam permusuhan dengan Sin-bu-kiong.
Wajah seribu tertawa, „Nah, sekarang kau harus menjawab pertanyanku tadi!“
Berseru jenggot perak dengan nyaring. „Sekalipun kebinasaan rombongan partai Ji-to-kau itu karena perbuatan raja-kutu Coh seng, tetapi kaulah yang menjadi biang keladinya. Coh-seng hanya menerima perintahmu saja. Adapun mengenai kedatangaanku ke Tiong-goan sini, memang mempunyai dua tujuan. Pertama, hendak mengikat persahabatan dengan kaum kasatria daerah Tiong-goan dan kedua hendak membantu kasatria Tiong-goan membasmi dua benggolan yang mengancam keselamatan dunia persilatan.
„Siapakah yang kau maksud dua benggolan itu?“
„Hek Gak dan Sin-bu-kiong .....“sahut jenggot perak, yang pertama adalah seorang durjana ganas. Sepak terjangnya pada 60 tahun berselang tak mudah dilupakan kaum persilatan. Kini dengan tipu daya dia berhasil mengikat Ang-tim khong khek Bok Sam-pi. Membangun markasnya di gunung Tang-san dan bermaksud menguasai dunia persilatan. Sedang Sin-bu-kiongpun lebih licik dan hina lagi. Dia memfitnah memalsukan tanda panji Tengkorak darah agar kaum persilatan membenci Hun-tiong Sin-mo. Dengan memperoleh dukungan sekalian kaum persilatan dia hendak membasmi Hun-tiong Sin-mo kemudian merajai dunia persilatan. Apabila kedua durjana berhasil melaksanakan rencana, kaum persilatan pasti akan melewati hari-hari yang menyedihkan!“
Mata wajah seribu berkeliaran keempat penjuru. Ia tertawa senyaring-nyaringnya „Apakah sekalian hadirin percaya pada ocehan si tua bangka ini?“
Para hadirin tak berani menjawab. Mereka takut menderita akibat yang tak diinginkan.
Seketika berubahlah muka wajah seribu „Soal ini baiklah kita tangguhkan dulu. Sekarang aku hendak bertanya padamu .....“Ia berhenti dan tertawa, kemudian melanjutkan pertanyaannya „Apakah kau mengundang Hun Tiong Sin-mo?“
Jenggot perak terkesiap kemudian menyahut samar-samar „Benar!“
„Apakah saat ini dia juga hadir?“
„Tentu saja!“ sahut jenggot perak.
Keterangan ketua Thiat-hiat-bun itu menimbulkan kegemparan dalam rapat. Sekalian orang saling berpandang-pandangan, tetapi tak tahu mereka yang manakah tokoh Hun-tiong Sin-mo itu.
Kecuali beberapa gelintir tokoh persilatan boleh dikata kaum persilatan pada umumnya menganggap Hun-tiong Sin-mo itu sebagai tokoh dalam mitos yang ajaib. Tak seorangpun yang pernah melihat wajahnya.
Juga wajah seribu tak henti-hentinya menyapukan mata keempat penjuru. Serunya pula „Kalau dia benar sudah hadir mengapa tak diperkenalkan dengan sekalian hadirin?“
„Apa gunanya diperkenalkan? Apakah kau bersedia bertempur dengan sampai mati?“ sahut jenggot perak.
Wajah seribu berubah air mukanya. Disaat lain ia tertawa congkak, serunya „Memang aku mempunyai maksud begitu!“
„karena kau sendiri yang minta, biarlah kukabulkan permintaanmu itu!“ tiba-tiba terdengar lengkin suara wanita. Dan pada saat itu Hun-tiong Sin-mo Cu-Giok-bun melayang dihadapan wajah seribu.
Terdengar seruan tertahan dari mulut wajah seribu dan teriakan gemuruh dari para hadirin. Hampir tak percaya bahwa momok yang begitu dimasyurkan karena keganasannya ternyata hanya seorang wanita yang bertubuh langsing kecil.
Sesaat terbanguna dari ketertegunan, wajah seribu menghambur tawa nyaring „Siap kau? Anak perempuan dari Hun-tiong-Sin-mo, atau cucunya atau .....?“
„Aku ini Hun-tiong Sin-Mo!“ bentak Cu Giok-bun.
Ketika wajah seribu masih tertawa gelak „Aneh, siapakah yang tak tahu bahwa Hun-tiong Sin-mo seorang lelaki tinggi besar? Mengapa kini berubah menjadi seorang wanita....“
Cu-Giok-bun tertawa dindin „Dihadapan sekalian kasatria seluruh penjuru, biarlah kusingkapkan rahasia ini. Hun-tiong Sin-mo Teng lh hui adalah mendiang guruku. Sebelum menutup mata beliau telah menurunkan seluruh kepandaianya kepadaku. Beliau meninggalkan pesan bahwa turun temurun kaum Hun-tiong-san hanya boleh mempunyai seorang murid tunggal dan pewaris itu harus tetap memakai nama Hun Tiong Sin-Mo serta tinggal di gunung Hun-Tiong-san. Maka .....“
Sekalian orang gagah tebengong-bengong mendengar keterangan itu. Mereka setengah tak percaya.
„Ngaco belo, keterangan itu sukar kupercaya!“ teriak wajah seribu
„Kalau tak Percaya, mengapa kau tk coba-coba?’ Cu Giok-bun tertawa dingin.
„Baik, memang aku ingin menguji kesaktian kaum Hun-tiong-san yang disohorkan itu!“ wajah seribu tertawa seraya beringsut maju. Ia tetap tak percaya bahwa dihadapannya adalah Hun-ting Sin-Mo, maka ipun bersikap acuh tak acuh.
„Tetapi Hun-tionghu mempunyai sebuah anggar-anggar jika bertempur dengan orang, tak pernah membiarkan orang itu hidup!“
„Asal kau mempunyai kemampuan begitu, mati akupun rela!“ teriak wajah seribu. Tiba-tiba ia tamparkan tangannya dan serentak dengan itu tubuhnya berhamburan menjadi beberapa sosok bayangan.
Sekalian hadirin tercengang kaget.
„Baik akan kupenuhi keinginanmu!“ teriak Hun-tiong Sin-mo seraya mengahntam yang dihantam hanya bayangan saja. Padahal beberapa bayangan berhamburan menerjangnya, sehingga sekalian hadirin mengucurkan keringat dingin.
Dess..... terdengar bunyi mendesi dan beberapa sosok bayangan itupun lenyap. Cu Giok-bun dan wajah seribu sama-sama tegak ditempat tampaknya pertemuan pukulan itu berimbang kekuatannya.
Wajah Cu Giok-bun dingin membeku, serunya „Enam puluh tahun lamanya belum pernah anggar-anggar Hun-tiong-hu dilanggar. Coba saja apakah kau mampu anggar-anggar itu!“
Kelima jari dipentang dan cengkeramkan kepada lawan .....
Wajah seribu baru saja beradu pukulan dan insyaflah ia kan tenaga lawan. Meskipun pukulan lawan tak membuatnya mundur tetapi ia cukup tergetar hatinya. Jelas tenagaa pukulan lawan itu mengandung daya dorong tarik yang luar biasa.
Sebelum ia sempat menilai lebih jauh, cengkeraman jari Cu Giok-bun sudah merangsangnya. Tampaknya gerakan wanita itu biasa dan perlahan, tetaapi sebenarnya u-Giok-bun tengah melanjutkan jurus yang sangat ganas. Wajah seribu tak berani berayal. Cepat ia hendak menangkis, tetapi dia terlambat. Ilmu yang paling diandalkan hanyalah Pek-pian-mo-Ing, merubah diri menjadi seratus bayangan. Tetapi ia lupa bahwa lawan mahir juga ilmu melihat langit-mender-bumi, Pek-pian mo-ing tak berdaya sama sekali.
Cu Giok-bun telah melancarkan serangan sangat telengas sekali. Jauh lebih hebat dari pukulanpukulan yang dilepaskan jenggot perak tadi. Seketika wajah seribu rasakan dadanya sakit sekali. Tak dapat ia bertahan lagi. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah dan sempoyongan mau jatuh.
Hun-tiong sin-mo Cu Giok-bun loncat maju dan menyusuli pula dengan sebuah tamparan. Segumpal sinar merah menghambur, disusul dengan segulungan asap. Sebelum wajah seribu sempat mengerang dia sudah roboh ditanh menjadi sesosok tubuh yang telah hangus....
Hun tiong sin-mo telah gunakan ilmu pukulan Cek-Koay-ciang yang dilambari tenaga penuh. Pukulan pusaka hun-tiong-bu yang tak pernah gagal dalam 60 tahun.
Sebenarnya Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun sudah gemas dengan tingkah laku wajah seribu yang membakar markas besar Tiam-jong-pay. Tetapi karena selama itu ayahnya (jenggot perak) yang menghadapinya, ia tak mau menyinggung perasaan ayahnya dan biarkan sang ayah yang menyelesaikannya.
Tetapi kini dihadapan ratusan kasatria dari seluruh penjuru, wajah seribu berani meremehkan dirinya, benar-benar Tak dapat diberi ampun lagi. Untuk menegakkan kewibawaan. Hun tiong-hu yang sudah 60 tahun merajai dunia persilatan Cu Giok-bun terpaksa harus membunuh lawan.
Pemandangan yang sengeri itu membuat sekalian hadirin serentak berdiri. Mereka terkejut menyaksikan kesaktian Hun-tiong Sin-mo yang sedemikian hebatnya. Kini mereka baru terbuka matanya bahwa Hun tiong Sin-mo yang disohorkan itu ternyata memeang tak bernama kosong.
Jerit teriakan-teriakan ngeri, berkumandang memenuhi gelanggang pertemuan!
Bahkan jenggot perak sendiripun tak urung terkesiap dalam hati. Ia sangka bahwa anak perempuan memiliki ilmu pukulan yang sedemikian saktinya.
„Ayah tak kira kalau Hun-tiong Sin-mo memiliki pukulan yang sedemikian saktinya ,,,,,,.....!“
**********
bersambung .... (Lam yau dan Pak-Koay)
Lam-yau dan Pak-Koay
KINI BARULAH sekalian hadirin percaya bahwa wanita yan tegak ditengah gelanggang itu memang Hun-tiong Sin-mo.
Sekonyong-konyong terdengar serangkum gelak tawa yang riuh. Sekalian hadirin gempar. Sesat kemudian tampak serombongan orang masuk. Yang mengantar adalah beberapa anak buah Thiat-hiat-bun dan Tiam-Jong-pay. Dan yang diantar ternyata rombongan Sin-bu-kiong dan Gak Hek.
Berpulu-puluh anak buah Sin-bu-kiong dan Hek Gak dengan dipimpin sendiri oleh ketuanya, telah tiab! Jelas bahwa kedua partai memang telah bersepakat untuk datang bersama-sama. Dan jelas pula, bahwa kedua partai itu telah bertekad hendak menghadapi Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan Hun-tiong-hu.
Sesaat masuk diruangan pertemuan, ketua Hek Gak dan Sin-bu Te-kun segera memberi salam kepada hadirin, „karena ada urusan, kami terlambat datang, harap hadirin sekalian memafkan!“
Ucapan itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin. Karena rata-rata mereka ngeri dan benci melihat keganasan Hun-ting Sin-mo tadi.
Jenggot perak tertawa gelak „Kami kira saudara berdua tak sudi datang. Apabila demikian, sebenarnya kami hendak mengunjungi istana saudara. Siapa tahu ternyata sudara sudi memenuhi undangan kami sehingga kami tak perlu bersusah payah mengadakan perjalanan lagi!“
Marah besar Sin-bu Te-kun mendapat sambutan begitu serunya „Menekan kaum persilatan, mengganas partai Ji-Tok-kau dan merangkul momok Hun tiong- Sin-mo yang bergelimpangan darah. Hm, kedatanganku kemari adalah hendak membasmi baksil berbahaya dalam dunia persilatan!“
Jenggot perak melantang „Memalsu panji Tengkorak darah, memfitnah orang, membujuk kaum persilatan untuk mencapai tujuan menguasai dunia persilatan, itulah akal busukmu, hai setan laknat!“
„Percuma banyak bicara! Pepatah mengatakan kalau kau menang menjadi raja kalau kalah menjadi pecundang. Lebih dulu lenyapkan mereka saja .....“ tukas Hek Gak.
„Kau benar, Saudara Kong Sun ......“Sin-bu Te-kun cepat balas memutus omongan, kemudian ia menuding pada Cu Giok-bun „Hun Tiong Sin-Mo Teng Lh-hui sudah mampus. Jika Saudara Kong-sun hendak membalas hinaan dulu, balaslah pada wanita itu!“
„Siapakah dia?“ ketua Hek Gak terkesiap.
Sin-bu Te-kun tertawa „Dia adalah murid pewaris Hun-tiong Sin-mo Teng Lh-hui, atau anak perempuan ketua Thiat-hiat-bun!“
Tiba-tiba ketua Hek Gak tertawa mengekeh „Heh, heh, kiranya si tua Teng lh-hui itu sudah mapus?“
Ketua Hek Gak mendengus „Tentu! Setelah membunuh aku aku tetap masih akan ke gunung Hun-tiong-san untuk merangket mayat Teng Lh-hui sampai 300 kali ....“Tiba-tiba ia menuding pada Cu Giok-bun dan berseru memberi perintah „Lekas ringkus perempuan itu dan cincang dagingnya!“
Dua lelaki yang berdiri dibelakang, yang satu Bok-Sam-pi dan yang satu seorang tuan bertubuh kurus, segera melesat maju. Cu Giok-bun tertawa datar. Menghadapi Bok Sam-pi dan si tua kurus ia berseru „Jika kalian tak ingin cari mati, harap tinggalkan tempat ini sekarang juga!“
„Mah, hati-hatilah terhadap si gemuk. Dia adalah Ang-tim gong-kek Bok Sam-pi .....“ Buru-buru Siau-bun memberi peringatan kepada ibunya, „Dia diberi obat bius oleh Hek Gak hingga lupa ingatan!“
„Aku sudah tahu, kau urus dirimu sendiri sajalah!“ sahut Cu Giok-bun dingin.
Bok Sam-pi tak mau bicara. Diam-diam ia kerahkan Iwekang dan tiba-tiba menghantam. Juga si tua kurus tak bicara. Sepuluh jarinya yang runcing macam cakar segera dicengkeramkan. Gerakan itu menimbulkan angin mendesi-desi. Menandakan ilmu orang kurus itu telah mencapai tingkat yang tinggi.
Cu Giok-bun hanya mendengus. Ia gunakan telunjuk jari kiri dan pukulan tangan kanan untuk menagkis. Sekaligus ia menyambut dua buah serangan dari tokoh sakti itu.
Tiga tokoh yang berilmu sakti, berbarengan adu tenaga. Sekalian hadirin mengira bakal menyaksikan kejadian yang hebat. Tetapi alangkah terkejut mereka. Ketika tenaga ketiga orang itu salaing berbenturan diluar dugaan sebgain besar buyar lenyap. Tampaknya gerakan ketiga tokoh itu tidak menggunakan tenaga.
Tetapi dari wajah mereka bertiga berubah gelap, bahwa sebenarnya mereka sedang melakukan pertempuran yang dasyat. Dibanding dengan adu pukulan yang mengeluarkan suara dasyat lebih hebat beberapa kali.
Sebagian besar dari hadirin adalah jao-jago silat yang memilki Iwekang. Serentak mereka berdiri dan memperhatikan dengan seksama pada ketigaa tokoh yang sedang adu kekuatan itu.
Sin-bu Te-kun mengekeh sinis „Lu tua, kitapun jangan jadi penonton saja. Aku telah mengundang dua orang sahabat untuk mengadu kepandaian dengan kau!“
Jenggot perak tertawa „karena ada tamu agung, aku tentu akan melayani!“
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh lalu memberi isyarat kepada rombongannya „Orang tua ini adalah Thiat-hiat-bun. Jika kedua saudara suka, boleh bermain-main dengannya!“
Dua lelaki berwajah buruk macam siluman, melangkah kedepan. Mereka memberi hormat kepada jenggot perak, „Sebenarnya hasrat kami berdua saudara hendak mengukur kepandaian dengan Hun-tiong Sin-mo, demi membalas kematian wajah seribu. Tetapi karena Hun-tiong Sin-mo sudah ada yang melayani maka kami ingin bermain-main dengan saudara saja!“
Kedua orang perawakannya sama. Hanya yang satu berpakaian warna putih dan yang satu berwarna hitam. Sepasang mata mereka menonjol keluar rambutnya terurai sampai kebahu, sepintas pandang mirip dengan setan.
Jenggot perak tertawa nyaring, serunya „Lam-yau, Pak-koay, sungguh beruntung dapat berjumpa dengan kalian !“
Memang kedua orang itu berwajah seram adalah Lam-yau (Siluman Selatan) dan Pak-koay(manusia naeh dari utara). Jenggot perak maju selangkah jarnya „Karena saudara berdua mendapat perintah dari Sin-bu Te-kun, silakan saja..... aku tentu dengan senang hati melayani!“
Merah wajah kedua orang itu. Serempak mereka melengking, Ngaco! Cukup mengenal nama kami berdua kakak beradik saja masakan dapat diperintah orang!“
Sin-bu Te-kun tertawa nyaring „Harap saudara jangan pedulikan ocehan yang memanaskan dari setan tua itu. Aku pasti membantu saudara!“
Lam-yau dan Pak-Koay saling berpandangan. Sekejap merekapun menyerang berbarengan.
Gaya serangan mereka aneh sekali. Yang satu seperti cakar baja. Yang satu hendak menyerang dengan jari atau tinju tetapi dengan siku lengan. Keduanya mirip seperti orang tolol.
Jenggot perak tak berani menggunakan ilmu silat yang istimewa. Iapun serempak gerakkan kedua tangannya menyambut kedua lawan.
Dar ..... terdengar getaran keras dan ketiga tokoh-tokoh itu masing-masing mundur 3-4 langkah. Jelas bahwa kekuatan mereka berimbang.
Lam-yau dan Pak-Koay mengembor keras lalu ayunkan tubuh menerjang lagi. Jenggot perak pun tak mau kalah, ia juga mengerung keras dan menyosongsong serangan mereka.
Saat itu di gelanggang rapat Eng-hiong tay-hwe telah terjadi dua kelompok pertempuran yang dasyat. Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dikeroyok Bok Sam-pi dan Situa kurus. Jenggot perak dikerubuti lam-yau dan Pak-koay. Pertempuran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh itu, lain dari yang lain. Begitu dasyat dan rapat hingga sukar dipisahkan dan dibedakan datu dari yang lain.
Kesempatan itu tak disia-siakn ketua Hek Gak, ia segera menghampiri Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay „karena tak ada musuh, maka kaulah yang akan kuganyang!“
Kata-kata itu ditutup dengan sebuah pukulan dasyat. Li cu-liong tak berani berayal. Ia menyonsong dengan dua tangannya. Bum .... terdengar letupan keras dan Li Cu-liong terhuyung-huyung kebelakang. Hal ini jelas menunjukkan bahwa tenaga kedua ketua Tiam-jong-pay masih kalah dengan ketua Hek-gak.
Ketua Hek Gak tertawa mengekeh „Ho, kantong nasi yang tak berguna lekas serahkan jiwamu!
Berbarengan dengan itu ia loncat sengan mengirim pukulan. Pada saat Li Cu-liong terancam maut, sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan meluncur 4 sosok tubuh yang serempak menangkis pukulan ketua Hek Gak. Keempat orang itu ternyata Thiat-hiat Su-kiat atau 4 pahlawan Thiat-hiat-bun.
Betapun sakti ketua Hek Gak, namun ia tak mampu menahan tenaga 4 jago sakti dari Thiat-hiat-bun. Seketika ketua Hek Gak terhuyung-huyung kebelakang hampir saja ia roboh.
Melihat itu empat orang sucia dari Hek Gak pun tak mau tinggal diam. Mereka cepat loncat menerjang 4 sukiat Thiat-hiat-bun. Seketika suasana menjadi gaduh dengan pertempuran yang berkecamuk.
Sin-bu Te-kun tertawa mengekeh pula. Sekali lambaikan tangan, terdengar tambur berbunyi menggeuruh. Ternyata di dalam rombongannya pun terdapat bebarapa tokoh yang memilki ilmu Im-Im Sin-kang (suara sakti) delapan orang duduk sambil memukul tambur. Nadanya makin tinggi dan hati setiap orang yang berda disitu seperti dipalu....
Dara Pok Lian-ci sejak tadi terlongong-longong mengawasi ribut-ribut itu, tampak gelagapan. Buru-buru ia mengeluarkan tambur kecil dibelakang bahunya terus ditabuhnya. Sekalipun hanya sebuah tambur kecil tapi nadanya hebat sekali. Udara seolah-olah penuh dengan kumandang bunyi tambur dan bumi serasa bergetar-getar.
Kedelapan orang penabuh tambur dari rombongan Hek Gak tadi, segera hentikan pukulannya. Meskipun mereka tak dapat menahan desakan bunyi tambur si dara.
Pertempuran secra massal segera berlangsung. Ke 36 Tian-kong, 72 Te-sat dari Thiat-hiat-bun segera terjun dalam gelanggang, disambut oleh jago-jago Hek gak dan Sin-bu-kiong.
Sekonyong-konyong Sin-bu Te-kun memekik keras. Tubuhnya mencelat keudara dan dengan gaya Jip-hau-kin-kau ((masuk kelaut menangkap naga), ia meluncur kearah Bu-song dan Siau-bun.
„Cici Bu, lekas Tui-hong-kiongmu!“ seru Bu-song kepada Siau-bun. Dan ia sendiri sudah sambitkan 3 batang Hong-tahu-kiong (passer berkepala burung hong).
Siau-bun cepat melakukan seruan si dara. Serangkum passer Tui-hong-kiong (Pemburu angin) segera disambitkan.’
Sin-bu-te-kun hanya mengekeh, Ho, budak perempuan, kalian hari ini tentu mati ditanganku!“
Tubuhnya bergetaran diudara disusul oleh dering gerincing dari passer Hong-thau-kiong dan Tui-hong-kiong yang berhamburan, jatuh ketanah.
Medan perjamuan kacau seketika. Hadirin serempak bubar. Meja berantakan, hidangan tumpah ruah. Mereka menyingkir karena tak mau ikut bertempur.
Saat itu Bu-song dan Siau-bun terkesiap kaget. Untung saat itu pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay segera bertindak menolong. Ia loncat menghantam Sin-bu Te-kun.
Tetapi Sin-bu-Te-kun bukan tokoh sembarangan. Pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay terpental satu tombak jauhnya. Bu-song dan Siau-bun mundur belasan langkah.
Sin-bu Te-kun makin merangsang. Ia lepaskan sebuah pukulan lagi kepada kedua nona itu.
Tiba-tiba diudara terdengar suara gemboran keras dan sesosok tubuh melayang. Ditengah udara orang itu lontarkan pukulan kepada Sin-bu Te-kun.
********
Reuni
Sin-bu Te-kun terkejut. Yang paling ditakutinya Thian-leng. Tetapi yang menyerangnya itu seorang yan tak dikenal iapun tak gentar. Menyerang dengan gemboran keras, ia memapakknya.
Iwekang yang dimiliki Sin-bu Te-kun sudah mencapai tingkat yang hebat. Jarang ada orang yang kuat menerima pukulannya. Apalagi pukulannya saat itu dilakukan dengan cepat dan keras. Kalau tak mati atau luka berat, tentulah orang akan mencelat belasan lagkah.
Tetapi orang itu hanya tertawa mengejek. Tidak mengkis melainkan melayang menghindar kesamping dan tetap melayang kesamping.
Kejut Sin-bu Te-kun bukan main. Ilmu pelajaran Im-hu Po-kip, mengutamakan kecepatan. Tak mungkin orang akan dapat menghindar. Tetapi lawannya dengan mudah dan leluasa menghindari, benar-benartak disangkanya.
Siau-bun dan Bu-song pun terkejut, mereka tak kenal siapa pendatang itu. Pengemis Thiat-ik-sin-kay sebenarnya handak mengur tetapi tak jadi.
„Siapa kau?“ bentak Sin-bu Te-kun
„Masakan kau tak dapat menduga!“ sahut orang itu dengan nyaring.
Sin-bu te-kun terbeliak. Ia hendak menjawab tetapi suasana pertempuran tiba-tiba berubah. Yang pertama loncat mundur ialah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Tetapi setelah loncat mundur ia hendak menyerang lagi. Tiba-tiba ia sangsi, berhenti dan berpaling.
Sebenarnya pertempuran Bok Sam-pi dan si tua kurus lawan Cu Giok-bun, masih berjalan seimbang. Sebenarnya kedua pengeroyk itu kewalahan. Melihat Cu Giok-bun tiba-tiba mundur, merekapun mendapat kesempatan untuk mengatur napas kembali.
Juga wajah jenggot perak berubah. Secepat kilat ia lontarkan 3 buah pukulan untuk mendesak mundur Lam-yau dan pak-koay, lalu jago Thiat-hiat-bun itu mengenjotkan tubuhnya keudara melayang disamping pendatang itu.
Lam-yau dan Pak-koay terkesiap. Merekapun memandang kepada pendatang dengan tercengang.
Pok Lian-ci juga hentikan tamburnya. Rombongan penabur dari sin-bu-kiong sudah tak kuat. Dara itupun tak mau mendesak.
Anak buah Thiat-hiat-bun, hung-tiong-san, Tiam-jong-pay Hek gak dan Sin-bu-kiong yang bertempur, karena melihat pemimpinya berhenti, ikut pula berhenti.
Kini seluruh mata ditumpahkan kearah pendatang tak dikenal itu.
„Thiat-bing .....!“ tiba-tiba jenggot perak berseru perlahan, nadanya rawan, mata berlinang-linang.
Memang orang itu ialah Pok Thiat-bing si pedang bebas. Juga Thiat-bing berkaca-kaca menyambut „Gak-hu......“
„Nak berapa tahun ini .........“
„panjang sekali ceritanya, tetapi siausay (anak-mantu) memang bersalah ........“Tukas Thait-bing.
Jenggot perak goyangkan tangan „sudahlah jangan kau ungkit masalah yang sudah berlalu. Asal kau tak kurang suatupun, sudahlah ....“ ia berpaling memandang Cu Giok-bun „Apakah kau tahu Giok-bun........“
„Ya, aku bersalah padanya, aku ....“ Yhiat-bing tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Sin-bu Te-kun tiba-tiba mendur selangkah dan menukas „O, kiranya kau pedang bebas Pok Thiat-bing....!“
„Kau baru tahu sekarang?“ thiat-bing menertawakan.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, „Tahu atau tidak penting. Aku hanya merasa kasihan padamu!“
„Ki Pek-lam!“ bentak Thiat-bing „Aku tak kenal padamu. Bagaimana si Ma Hong-ing bisa menjadi Gundikmu?“
Si-bu Te-kun tertawa mengekeh „Itulah yang kukatakan kasihan! Banyak sekali yang hal yang tak kau ketahui. Sekalipun kau merengek-rengek samapi mati, jangan harap kuberitahukan ...“ ia sejenak kecupkan mata dan menyambung pula „Kasihan puluhan tahun kau telah menderita .....“
„Tutup mulutmu!“ bentak Thiat-bing.
„O,o, apakah kata-kataku, menyinggung hatimu?’ Sin-bu te-kun mengejek.
Thiat-bing kerutkan kening „Asal kauserahkan Ma Hong-Ing, aku takkan memusuhimu!“
„Seumur hidup aku tak pernah menerima tekanan orang. Batapun pribadi Ma Hong-Ing, tetapi dia adalah permaisuri Sin-bu-kiong. Mana dapat kuserahkan padamu!“
„O, kalau begitu kau hendak bermusuhan padaku?“
„Bukan melainkan musuh, tetapi kita harus memutuskan siapa yang harus mati dan hidup .“ ia tampil selangkah, mendengus „Pok Tayhiap, ayolah mulai!“
Thiat-bing tertawa dingin „bukan karena kau tak sudi bertempur dengan kau, sebenarnya ...“
Sin-bu Te-kun tertegun, serunya „Bagaimana? Kecuali kau sudah menginsafi bahwa percuma untuk melawan,“
Thiat-bing tertawa „Aku kuatir sekali turun tangan nyawamu amblas. Pada hal jiwamu hendak kuserahkan pada orang lain ,.....“
„Pok Thiat-bing jangan kelewat sombong!“ bentak Sin-bu te-kun dengan murka, cepat ia mengahntam dengan pukulan Him-im Ciang.
Ilmu Pukulan Him-im-ciang sebenarnya tergolong Im-ki-han-sin-kang (ilmu sakti iwekang dingin). Sin-bu Te-kun telah mempelajari isi kitab im-hu-po-kip. Dan ia gunakan tenaga penuh dalam pukulannya itu. Sekaipun tampaknya tidak begitu dasyat, tetapi dayanya bukan main. Sekaligus dapat meremukkan 10 jago sakti.
Selingkaran dua tombak luasnya, saat itu terbaur oleh hawa dingin yang menusuk tulang sehingga semua orang yang berada disitu menggigil.
Thiat bing kerutkan dahi, ia tahu pukulan lawan sukar dihindari. Ia harus menangkisnya. Tetapi sebelum bertindak tiba-tiba terdengar getaran keras dan Sin-bu Te-kun terhuyung-huyung samapi 7-8 langkah jauhnya.
Kiranya serangkum tenaga kuat tiba-tiba meluncur dari udara dan membentur pukulan Sin-bu Te-kun. Itulah itulah tenaga pukulan Hian-im-ciang yang hebat. Datangnya pukulan itu benar-benar tak terduga-duga sama sekali. Sin-bu Te-kun tak mampu mendengarkan sama sekali. Untuk menghantam Thiat-bing ia sudah memperhitungkan bahwa takkan ada orang yang membantu lawan. Jenggot perak yang berada disamping thiat-bing pun tak nanti dapat mengimbangi kecepatan serangannya itu!
Tidak saja Sin-bu Te-kun, tetapi semua yang hadirpun kaget. Mereka menjerit terkejut.
Sesosok bayangan biru meluncur turun dari udara, tegak berdiri ditengah-tengah Sin-bu Te-kun dan Thiat-bing.
Kang Thian-leng .....
Bu-beng-jin, memang telah kuduga tentu kau!“ teriak Sin-bu Te-kun dengan murka.
Thian-leng telah melayang dari jarak 10 tombak jauhnya. Tetapi ia dapat menghantam Sin-bu Te-kun samapai beberapa langkah.
„Aku bukan Bu-beng-jin lagi“ sahut pemuda itu.
„Lh, apakah kau sekarang sudah mempunyai nama? Siapakah namamu?“ ejek Sin-bu Te-kun.
„Ha ha, h hahahaha „ Si-bu Te-kun tertawa gelak, Oh, kiranya begitu, kau ....“
„Memakai nama ayah angkatku, apa salah?“
„baik, taruh kata kau Pok Thian-leng, tetapi ayah bunda kandungmu.....“
„Setan tua, kau berani mengoceh tak karuan? Hari ini hendak kucincang tubuhmu sampai lebur!“ bentak Thian-leng dengan bengis walaupun diam-diam hatinya pedih. Karena apa yang dikatakan Sin-bu-tekun memang nyata. Sampai saat itu ia belum mengetahui asal usul dirnya.
Begitu pula Sin-bu Te-kun. Sebenarnya ia juga kebat-kebit mendengar ancaman Thian-leng. Ia ingat kepandaiannya sekarang kalah dengan pemuda itu. Dan pula melihat pertempuran tadi, tak memberi keuntungan baginya.
„Rupanya kau mengandalkan ilmu dari It-bi siangjin!“ serunya.
Begitulah!“ sahut Thian-leng.
„kalau begitu pukulanmu tadi ...“
„Ya, benar! Itulah yang disebut Coan-hun-kang (pukulan menmbus awan). Dalam jarak 10 tombak dapat menghantam mati orang. Ilmu lainnya kau tak pernah mendengar!“
Sin-bu te-kun terkesiap tetapi cepat ia tertawa „jangan membual!’ sekalipun ilmu pelajatan It-bi Siangjin tinggi, tetapi belum yentu sesakti itu „ paling-paling kamu hanya mempelajari beberapa jurus permainan saja!“
„Hm, sejak dulu kala siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan?“ Thian-leng tertawa mengejek.
„Ya, memang hanya It-bi siangjin seorang,“ Sin-bu Te-kun menghela napas.
Sejenak menyapu pandangan se sekeliling medan perjamuan, berkatalah Thian-leng „Aku tak mau banyak bicara dengan kau. Pertaruhan 100 juruskita dulu, masih kurang 8 jurus. Sekarang dihadapan para tokoh-tokoh persilatan, seharusnya kita selesaikan!“
Wajah Sin-bu Te-kun berubah, Dahulu kau pun pernah minta-minta supaya diundurkn, bukan?“
„Jika kau minta mundur, akupun tak keberatan!“ sahut Thian-leng. „Tetapi sebutlah waktu dan tempatnya!“
Sin-bu Te-kun tertawa „Baiklah, nanti 10 hari lagi kutunggu kedatanganmu di istana si-bu-kiong ?“
„dan menyelesaikan sisa 8 jurus itu?“
„Bukan melainkan 8 jurus itu saja, pun semua kepandaianmu boleh kau keluarkan !“ seru Sin-bu Te-kun dengan garang.
Thian-leng tertawa mengejek „Baik, kali ini kau ku ampuni jiwamu!“ ia melirik tajam kepada lawan, serunya „Tetapi apakah Cianpwe2 mau memberimu ampun atau tidak, terserah saja, aku tak berani mencampuri!“
Jenggot perak memandang sejenak kepada Pok Thiat-bing, Cu Giok-bun dan lain-lain, lalu tertawa terbahak-bahak „dalam hal ini aku tidak dapat memberikan keputusan. Kita setujui 10 hari lagi ke Sin-bu-kiong, bahkan aku bersedia jadi saksi!“
Semua orang terdiam.
Thiat-bing dan Cu Giok-bun diam-diam mengerti bahwa ayah mereka tentu sudah mempunyai rencana. Pertama supaya mereka segera berkumpul lagi sebagai suami isteri. Kedua, supaya lekas dapat mencari Ma Hong Ing. Karena hanya wanita yang beracun lidahnya itu dapat diketahui duduk perkara yang sesungguhnya. Dan ketiga, soal Thian-leng dengan Siau-bun dan Bu-song harus segera diselesaikan juga.
Diantara selkalian orang, Bu-songlah yang mempunyai pikiran tersendiri. Setelah mendapat keterangan dari jenggot perak bahwa Thian-leng mati di tangan Bo Sam-pi, bencinya terhadap Bok Sam-pi meluap-luap. Bu-song memutuskan, apabila Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dapat membunuh Bok Sam-pi, ia hendak mencincang tubuh si gemuk itu. Tetapi andaikata Cu Giok-bun kalah, Bu-song bertekad hendak mengadu jiwa dengan Bo Sam-pi.
Diluar dugaan Thian-leng telah muncul tak kurang suatupun, bahkan membawa kesaktian yan mengagumkan, Bu-song sampai termenung-menung tak dapat bicara.
Juga siau-bun tak kurang girangnya. Hampir saja ia tak dapat mengendalikan diri untuk menghampiri pemuda itu. Tetapi karena malu dengan sekian banyak orang, terpaksa ia hanya berdiam diri. Paling-paling ia mencuri kesempatan melirik pemuda itu.
„kalau begitu aku pulang dulu!“ dengan gaya garang Sin-bu Te-kun untuk menggunakan kesempatan menghindar.
Jenggot perak tertawa „dari jauh-jauh saudara datang kemari, mengapa buru-buru pulang?“
Sin-bu Te-kun terbeliak „Apkah kau hendak mengajukan acara lain lagi?“
Jenggot perak tertawa „jangan kuatir, sahabat! Sekali sudah kusetujui pengunduran 10 hari itu tak nanti aku berubah pikiran“ ia berhenti sejenak lalu berkata pula „Meskipun medan perjamuan ini sudah morat-marit tetapi dalam setengah jam saja dapat diatur rapi lagi. Mengapa saudara tak mau menghadiri perjamuan para kasatria ini?“
Kerut wjah Sin-bu Te-kun agak mengendor, ujarnya „Terima kasih, tetapi lebih baik aku pulang saja!“ tanpa menunggu sahutan dari orang lagi segera ia melangkah pergi, berhenti didepan ketua Hek Gak, ia gunakan ilmu menyusup suara „Situasi berubah begini, apakah saudara Kon-sun masih mempunyai rencana lagi?“
Tiang andalan ketua Hek Gak hanyalah Bok-sam-pi. Tetapi ternyata walaupun Bok Sam-pi maju bersama dengan si tua kurus, tetap tak dapat mengalahkan Hun Tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Diam-diam hati ketua Hek Gak sudah tergetar. Apalagi Pok Thiat-bing dan Thian-leng berturut-turut muncul. Nyali ketua Hek Gak makin kecut dan rontok.
„Saudara masih mempunyai penyakit dari 60 tahun berselang „Sin-bu Te-kun tertawa „Nafsu besar tetapi nyali kecil. Jika mempunyai rencana untuk menguasai dunia persiltan, tak boleh tanggung-tanggung dalam menghadapi kesulitan!“
Merah muka ketua Hek Gak, serunya „Bagaimanakah pendapat saudara Ki?“
„Terus terang, aku sudah mempunyai rencana untuk mati bersama-sama mereka!“
Mendengar itu ketua Hek Gak terbeliak, tetapi cepat-cepat ia mengas „Bagaimana caranya?“
„Telah dapat kumundurkan pertempuran kita sampai 10 hari lagi dan tempatnyapun kupilih di Sin-bu-kiong. Lihat saja apakah mereka nanti dapat keluar dari Sin-bu-kiong masih bernyawa!“ sahut Sin-bu Te-kun dengan bangga.
„Apakah saudara maksud...“
„Harap saudara Kongsun jangan mendesak pertanyaan lagi. Maksudku hanya hendak membantu saudara membuka jalan hidup!“
„terserah pada kebijaksanaan sudara!“ buru-buru ketu Hek Gak menbut dengan nada setengah merintih kasihan.
Sin-bu Te-kun tersenyum „Asal saudara Konsun mau meluluskan sebuah syaratku, kutanggung Hek Gak tentu takkan hancur bahkan dapat bangkit kembali menegakkan keharuman nama di dunia persilatan!
Jangan kan hanya itu sepuluh buah permintaan aku sedia menyanggupi!“ sahut ketua Hek Gak
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berganti nada serius „Asal suka mengajak anak buah saudara berkumpul di Sin-bu-kiong, kutanggung harapanmu tentu terlaksana....“ ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan „Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Asal kita bersatu, siapakah yang mampu menandingi? Harap saudara memberi keputusan!“
Ketua Hek Gak Kerutkan wajah dan menyahut terkait-kait „Ini ..... sebagai ketua Hek Gak aku ......“
Permintaan Sin-bu Te-kun itu berarti Ketua Hek Gak takluk pada Sin-bu Kiong. Suatu hal yang terlampau berat bagi Ketua Hek Gak.
„bagaimana? Apakah saudara keberatan?“ Sin-bu Te-kun mendesak.
„Ya,ya, setuju, setuju .....“ Akhirnya dengan wajah meringis ketua Hek Gak menyahut „memang seharusnya kubantu kesulitan saudara dalam pertempuran di Sin-bu-kiong nanti!“
Sekalipun kedudukannya terpojok, namun tentu Ketua Hek Gak masih berusaha untuk menjaga gengsi dengan ulasan kata-kata garang.
Tiba-tiba wajah Sin-bu-Te-kun mengerut gelap, ujarnya „Mungkin saudara belum menangkap kata-kataku. Maksudku agar saudara menggabung pada Sin-bu-kiong atau jelasnya supaya Hek Gak masuk menjadi anak buah Sin-bu-kiong. Segala apa harus menurut perintahku .....“ ia berhenti sejenak, katanya pula „Tetapi hendaknya saudara Kong-sun jangan cemas. Semuanya hanya rencana semnetara. Begitu sudah berhasil dunia persilatan akan menjadi kekuasaan Hek Gak dan Sin-bu-kiong! Aku pasti taka akan ....“
Walaupun dalam hati benci sekali namun ia tak berdaya dan terpaksa batuk-batuk, „Ya, ya, aku menurut saja!“
Percakapan yang dilakukan oleh kedua tokoh itu menggunakan ilmu menyusup suara. Sehingga orang lain tak mendengar sama sekali. Tetapi dikarenakan memakan waktu lama, Thian-leng pun tak sabar lagi, bentaknya „Kalau tetap tak lekas enyah, jangan menyesal kalau keputusanku berbalik tak menguntungkan dirimu!“
Ia menutup peringatannya dengan sebuah tamparan, terdengar seru angin menggelegar dan teriakan kaget adari hadirin....
Kiranya tamparan yang ditujukan pada Sin-bu- te-kun itu tidak langsung dikenakan orangnya melainkan pada sebelahnya.
Seketika tanah seluas 2 meter disi dari Sin-bu-te-kun meranggas hangus. Sampau beberapa lama api baru padam. Kejut sekalian orang bukan kepalang „pukulan yang dapat membakar tanah .... Di dunia persilatan tak mungkin ada orang lain yang mempunyai pukulan semacam itu.
Sin bu Te-kun mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat tenangkan hatinya. Dengn dengusan mengejek yang sengaja untuk menutupi ketakutannya, segera ia putar badan dan melangkah pergi.
Tiba-tiba terdengar raungan macam singa. Sesosok tubuh gendut loncat kemuka Thian-leng.
Thian-leng terkesiap, serunya „Lo-cianpwe“ apakah kau sudah sembuh?“
Kiranya yang tegak dihadapannya itu adalah Bok Sam-pi, tokoh yang bertubuh gemuk.
„Buyung, ayo kita bertanding sejurus lagi!“ Bok Sam-pi menggerung. Walaupun limbung tetapi ia masih ingat akan pertempuran di gunung Thay-heng-san tempo hari. Walaupun karena memperdalam ilmu ajaran It-bi siangjin sehingga Thian-leng lebih parah lukanya, tetapi Bok Sam-pi juga harus beristirahat lebih dari sebulan untuk memulihkan lukanya.
„Bok Cong-Houhwat!“ cepat-cepat ketua Hek Gak meneriaki.
„Ya, hamba disini!“ Bok Sam-pi tertegun.
„Sebelum mendapat perintahku, tak boleh bertindak sendiri, mengapa kau ......“ :Dalam kedudukan sebagai guru dan murid, siapakah yang harus mendengar perintah?“ diluar dugaan Bok Sam-pi marah.
Jago tua itu semalam hidup jarang menderita kekalahan. Benci terhadap Thian-leng benar-benar merasuk ketulang ia tak menghiraukan peringatan ketua Hek Gak Lagi.
Ketua Hek Gak makin gelisah. Ia tahu bahwa jika kalian Bok Sam-pi berani menmpur Thian-leng tentu akan kalah. Andalan satu-satunya hanyalah pada Bok Sm-pi. Jika Bok Sam-pi sampai kena apa-apa ia tentu kehilangan andalan.
„LO-cianpwe apakah kau tak ingat pada cucumu Bok Ceng-ceng?“ masih thian leng bersabar. Dia berusaha hendak menyadarkan ingatan jago tua itu. Mungkin dengan mengemukakan Ceng-ceng, Bok Sam-pi akan pulih kesadarannya.
Diluar dugaan usaha Thian-leng itu malah menimbulkan kebalikan. Bok sam-pi marah sekali dan membentak-bentak „Siapa suruh mengatakan anak perempuan itu!“ sekonyong-konyong ia menghantam.
Thian-leng tahu bahwa orang tua itu masih limbung ingatannya. Maka ia tak mau menandingi dan hanya menghindar kesamping saja.
Bo sam-pi terkesiap. Ia kaget menyaksikan kegesitan si anak muda itu menghindar. Tubuh Thian-leng berputar-putar seperti angin dan tahu-tahu sudah beberapa meter disebelah kirinya.
„Suhu!“ kembali Hetua Hek Gak berteriak dengan cemas.
Tetapi Bo sam-pi tetap tak menghiraukan dan membentak Thian-leng „Buyung, mengapa kau tak berani menyambut pukulanku!“
„Lo-cianpwe aku tak bermusuhan denganmu. Mengapa li-cianpwe berkeras hendak membunuhku?“
Sebenarnya Sin-bu Te-kun sudah melangkah pergi tetapi Bok Sam-pi menantang Thian-leng, ia hentikan langkahnya dan mengikuti perkelahian itu. Ketika melihat ketua Hek Gak gelisah, segera ia menghampirinya.
„Saudara Kong-sun, apakah obat pembius sudah punah dayanya?“ tegurnya dengan ilmu menyusup suara.
Ketua Hek Gak Menggeleng „Tak mungkin! Kekuatan obat dapat bertahan sampai petang hari!“
„kalau begitu ............“
****************
bersambung ke jilid 13
bagaimakah kisah selanjutnya, apakah Thiat-bing dan Cu- giok-bun akan bersatu lagi, bagaimana nantinya pertemuan antara Thian-leng, Bu-song dan Siau-bun dengan kisah cinta mereka dan rencana ketua Sin-bu-kiong dan Ketu Hek Gak akan terlaksana nantikan jilid selanjutnya
Saduran SD Liong
Sumber: Indozone.Net
Jilid 12. Tambur Mukjijat
“Seorang murid Kay-pang mohon menghadap!” serunya. Jenggot perakpun menyuruhnya membawa masuk.
Seorang pengemis melangkah masuk dan setelah memberi hormat kepadanya serta Jenggot perak, lalu berlutut di hadapan Thiat-ik Sin-kay. “Murid Nyo Bu-hiong kepala cabang Liang-ci, mohon menghadap cousu!”
“Lekas katakan berita yang kau bawa kepada Lu lo-cianpwe!” perintah Thia-ik Sin-kay.
Nyo Bu-hiong mengiyakan, lalu menghadapi Jenggot perak, ujarnya, “Kami mendapat berita dari anggota kami yang sedang bertugas… ”
“Katakanlah terus!” seru Jenggot perak
“Pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak telah mulai mengunjukkan tanda-tanda bergerak. Tetapi yang keluar hanya beberapa orang saja…..”
“Ah, dugaanku tak meleset!” Jenggot perak menepuk perlahan-lahan, “mereka akan bergerak secara bergelombang. Apakah mereka itu terdiri dari orang-orang Sin-bu-kiong atau Hek gak semua?”
“Benar, Sin-bu-kiong dan Hek Gak mengeluarkan beberapa jago-jago desa yang sudah lama tak muncul,” sahut Nyo Bu-hiong.
“Apakah mengetahui siapa mereka itu?”
Nyo Bu-hiong menyahut agak gugup, “ Ini….maaf, tecu kurang cermat, sehingga tak menyelidiki asal-usul mereka. Hanya salah satu dikenal sebagai Cian-bin cuncia….”
“Cukup!” tiba-tiba Jenggot perak bangkit lalu mondar-mandir di dalam kamar rahasia. Rupanya persoalan memang genting sekali.
Kecuali Thiat-ik Sin-kay, sekalian orang yang berada dalam kamar rahasia itu sama tercengang. Cian-bin cun-cia atau paderi seribu wajah, memang asing bagi mereka. Namun dari reaksi Jenggot perak, jelas bahwa Cian-bin cuncia itu tentu bukan tokoh sembarangan.
Sampai beberapa lama kemudian barulah jenggot perak menyuruh Nyo Bu-hiong keluar.
“Anak tak kenal siapa Cian-bin cuncia itu Gihu… ” baru Li Cu-liong bertanya begitu Jenggot perak sudah menukas. “Gelar Cian-bin cuncia itu diperoleh karena orang itu benar-benar dapat berobah dalam seribu macam wajah. Sebentar menyaru jadi pengemis, sebentar imam tua. Jadi pendek kata menyaru jadi orang apa saja dia bisa. Ilmu kepandaian itu benar-benar menyesatkan orang..... ”
“Ah, kalau begitu pertempuran besok pagi sudah tentu akan membuat Lu lohiap sibuk sekali,” seru Thiat-ik Sin-kay.
“Tetapi telah kukatakan tadi, begitu rapat besok pagi itu selesai, aku segera kembali ke Ling-lam. Tetapi menilik gelagatnya, Sin-bu-kiong telah berhasil menarik manusia belut itu dalam pihaknya. Siapa tahu rencanaku pulang akan mengalami kegagalan, karen atulang-tulangku yang bangkotan ini bakal terkubur di sini!”
Thiat-ik Sin-kay tertawa, “Ah, ucapan Lu lohiap itu terlalu meremehkan diri sendiri. Jangankan Cian-bin cuncia belum tentu berani menghadapi engkau secara terang-terangan, sekalipun berani tetap takkan menang. Kekuatiran Lu lohiap tak beralasan....,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Sekalipun aku si pengemis tak berguna ini, juga belum tentu begitu mudah menyerah!”
“Tetapi yang aku kuatirkan bukan Cian-bin cuncia itu melainkan mengenai hidup matinya seseorang. Ketahuilah, kalau Sin-bu-kiong berhasil menarik Cian-bin cuncia, mungkin Lam-yau (siluman selatan), Pak-koay (orang aneh utara) Bu Te suseng dan lainnya telah dapat dikuasai Sin-bu-kiong. Jika kawanan pentolan itu bersatu, tentu sukar ditundukkan. Dalam pertempuran besok pagi, tentu akan timbul pertumpahan darah yang hebat....”
Thiat-ik Sin-kay pun tegang wajahnya. Apa yang menjadi kekuatiran Jengot perak , memang bukan mustahil. Kawanan Cian-bin cuncia itu merupakan momok-momok termashyur di dunia persilatan. Munculnya mereka tentu akan mempergenting suasana rapat besok pagi.!
Siau-bun diam saja. Wajahnya mengerut, hatinya bergolak. Demikian juga Bu-song. Kedua gadis ini sama gelisah memikirkan Bu-beng-jin.
Tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh suara jenggot perak yang bertanya kepada Li Cu-liong, “Apakah tamu-tamu yang hadir itu telah diketahui asal-usulnya?”
Li Cu-liong tersentak kaget. Serentak ia bangkit, “Setiap tamu tentu membawa undangan. Kebanyakan pemimpin-pemimpin partai persilatan yang terkenal. Sampai sebegitu jauh belum terdapat orang yang mencurigakan....”
“Apakah kau sudah memeriksa sendiri?”
“Ah, ini.....”
“Bagaimana?” desak Jenggot perak.
“Karena banyak pekerjaan, anak sampai tak melakukan hal itu,” wajah Li Cu-liong berobah pucat.
Jenggot perak menghela napas. “Kelalaian sedetik dapat menyebabkan mala petaka seumur hidup.... tetapi tak dapat kusalahkan engkau. Akulah yang lalai..”
“Anak segera akan melakukan pemeriksaan, entah.....”
“Kini para tamu sudah hadir, masakah engkau hendak memeriksanya satu persatu?” tukas Jenggot perak.
“Tidak!” Thiat-ik Sin-kay menyeletuk, “hal ini dapat dianggap menghina kaum persilatan....”
Li Cu-liong bungkam. Memang memreiksa tamu satu persatu, tidak dapat dibenarkan.
Akhirnya Cu Giok-bun menghela napas. Katanya kepada Jengot perak, “Kalau begitu biarlah li-ji (anak perempuan) saja yang melakukan tugas itu!”
Jenggot perak tertawa mengangguk. “Kalau kau yang bertindak itulah bagus. Tetapi ayahmu mempunyai rencana yang lebih bagus!”
“Apakah itu, kek?”Cu Siau-bun menyeletuk.
“Sebaiknya kita pergi beramai-ramai agar mudah menghadapi sesuatu!” sahut Jenggot perak.
Cu Giok-bun mngerutkan kening, “Apakah memang berat sekali?”
Jenggot perak mengelengkan kepala, “Mungkin kecurigaanku berlebihan. tetapi tiada jeleknya kita berhati-hati!” Ia bangkit dan menyuruh Li Cu-liong segera membukakan pintu.
Demi melihat pemimpin mereka keluar, rombongan Thiat-ik Sin-kay serentak mengundurkan diri bersembunyi dalam kegelapan malam.
Li Cu-liong menjadi penunjuk jalan. Mereka menuju ke lapangan di luar markas. Walaupun malam gelap tiada bintang, tetapi karena empat penjuru dihias lentera warna-warni, lapangan terang-benderang seperti siang hari.
Dengan ilmu Memandang langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh anak buahnya. Anak buah Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan jago-jago Hun-tiong-hu mengadakan penjagaan dengan ketat. Bangsal penginapan untuk para tamu telah dijaga rapat. Diam-diam jago tua itu mengangguk puas. Dia mengikuti Li Cu-liong menuju ke bangsal penginapan para tamu.
Bangsal penginapan para tamu didirikan tepat di muka markas tiam-jong-pay. Meskipun terbuat dari bambu, tetapi dibuat indah sekali. Dari pintu bangsal, terbentang sebuah jalan panjang yang masuk ke dalam. Di dalam penuh dengan ruangan-ruang untuk para tamu. Meskipun belum larut malam, tetapi pintu-pintu kamar sudah tertutup semua. Keadaan sunyi senyap.
Kiranya para tamu mempunyai perhitungan sama. Dalam tempat dan suasana yang sedemikian gawat, lebih baik mereka jangan gegabah keluar kemana-mana. Kalau tidak tidur, mereka lebih suka menyekap diri bersemedhi memelihara tenaga.
Kurang lebih setengah jam, rombongan Jenggot perak sudah menjelajahi seluruh kamar-kamar para tamu. Li Cu-liong berhenti di ujung bangsal dan dengan suara berbisik-bisik menanyakan pada Jenggot perak apakah melihat sesuatu yang mencurigakan.
“Selain bangsal ini, apakah tak ada tempat untuk menampung para tamu lagi?” Jenggot perak mengerutkan kening.
“Anak hanya menurut semua petunjuk gi-hu. Selain di sini, memang tak ada lain tempat penampungan lagi.”
Jenggot perak tersenyum, lalu berpaling kepada Cu Giok-bun, “Mungkin ayahmu sekarang sudah tua, sehingga tadi tak mendengar dan melihat sesuatu yang menimbulkan kecurigaan. Tetapi entah bagaimana kesanmu?”
Sahut hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, “Li-ji pun tak mendapatkan sesuatu hal yang mencurigakan, hanya......” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “li-ji telah menemukan sesuatu hal yang agak aneh!”
“Coba katakanlah!”
“Sekarang baru kurang lebih jam sepuluh malam, mengapa tak seorangpun yang keluar? Apakah mereka sudah tidur semua?”
“Mungkin mereka tak mau terlibat hal-hal yang tak diinginkan, maka lebih baik mengeram diri dalam kamar saja.....”
“Akupun semula mempunyai kesimpulan begitu. Memang kalau lain-lain partai berbuat begitu, dapatlah dimaklumi. Tetapi lain halnya dengan Siau-lim-pay....” tukas Cu Giok-bun. Tetapi belum ia menyelesaikan pendapatnya, Jenggot perak sudah balas menukas, “Benar! Siau-lim-pay adalah pemimpin dari ke sembilan parta persilatan. Ketiga cuncia Siau-lim-pay pernah mengajak sembilan partai dan mengundang Sin-bu-kiong untuk menempurmu di puncak Giok-li-hong. Seharusnya sekarang ia tak bertindak begini aneh....”
Jenggot perak merenung sejenak, serunya kemudian, “Apakah kecurigaanmu tertumpah pada kamar Siau-lim-pay?”
Belum Cu Giok-bun menyahut, tiba-tiba Cu Siau-bun menyeletuk, “Mungkin tidak!”
Cu Giok-bun memberi isyarat mata kepada puterinya itu, tetapi tak mengatakan apa-apa.
“Cobalah terangkan mengapa tidak?” seru Jenggot perak.
Sambil tersenyum kecil, Cu Siau-bun berkata, “Aku tak mengatakan kamar Siau-lim-pay tak boleh dicurigai, melainkan mengatakan bahwa kecurigaan itu dapat ditujukan pada semua kamar tamu!” ia berhenti sejenak, lalu mengedipkan mata. “Kakek seorang cerdik, tentu mengetahui apa sebabnya!”
Senang juga hati Jenggot perak mendapat pujian itu. Dan berbareng itu diapun menyadari. Sambil mengelus-elus jenggotnya, ia tertawa, “Benar, memang Siau-lim-pay patut dicurigai, tetapi lain-lain partai yang tak keluar dari kamar itupun juga harus mendapat perhatian kita. Karena kalau tidak, masakah mereka tak mau keluar semua!”
Meliha tSiu-bun mendapat angin, Bu-song resah hatinya. Segera iapun berseru, “Kek, bolehkah aku buka suara?”
Bu-song mencibirkan bibir, serunya, “Dari segala jenis racun yang beredar di dunia persilatan, kabarnya racun Peh-tok-jong ( kutu beracun) yang paling ganas sendiri. Benarkah itu?”
Jenggot perak terkesiap, tanyanya, “Bukan saja Peh-tok-jong itu merupakan rajanya racun, juga merupakan raja kutu beracun. Tetapi mengapa kau menanyakan hal itu?”
“Bagaiana keganasan kutu itu?”
“Korbannya segera meleleh menjadi cairan darah. Tak ada obatnya lagi!”
“Siapa yang pertama mendapatkan kutu itu?”
“Raja kutu beracun Coh Sing!”
Bu-song menghela napas, “Agaknya kita telah mendapat ancaman hebat!”
Bukan hanya Jenggot perak, juga Cu Siau-bun terheran-heran memandang Bu-song.
“Nak, mengapa kau main goda dengan kakek? Katakanlah lekas!” Akhirnya Jenggot perak berseru.
“Masakah kakek belum tahu?” tanya Bu-song.
Dara itu segera melirikkan matanya ke ujung kamar yang terakhir.
Sekalian orangpun ikut memandang ke sana. Di belakang kamar tamu itu, tampak berserakan selongsong kulit ular, kaki laba-laba, betis tonggeret dan lain-lain. Sayup-sayup seperti terbaur hawa anyir.
“Kamar tamu itu ditempati oleh partai Ji-tok-kau,” Jenggot perak tertawa hambar, “karena kuatir lain tamu tak puas dengan adat kebiasaan Ji-tok-kau, maka kuperintahkan supaya rombongan Ji-tok-kau ditempatkan di kamar yang paling belakang sendiri... apakah hubungannya dengan Peh-tok-jong?”
Bu-song tertawa, “Coh Sing si raja kutu beracun itu mungkin berada di sini!”
“Mustahil!” teriak Jenggot perak, “apakah kau tahu sendiri?”
“Sekalipun Peh-tok-jong itu memerlukan ramuan macam-macam binatang beracun, tetapi yang paling penting adalah sejenis Lok-bi-ciat ( kalajengking hijau) dan ular Ang-sian-nio ( ular merah). Bukankah kakek pernah menceritakan hal itu?” kata Bu-song.
“Ya, kakek memang pernah bercerita begitu.... ” Jenggot perak mengerang perlahan.
Sekalian orangpun segera menyadari tentang hal yang mencurigakan itu. Kosongan kulit kutu yang berhamburan di tanah itu memang layak dicurigai. Yang paling menarik perhatian ialah selongsongan kulit ular berwarna merah dan seekor kalajengking warna hijau.
Kedua binatang beracun itu merupakan unsur utama dari racun Peh-tok-jong. Partai Ji-tok-kau termashyur dalam ilmu racun, sudah tentu takkan membawanya kemana-mana!
Jenggot perak merenung, ujarnya, “Nak, kau memang teliti sekali. Kalau tidak, perjamuan besok pagi tentu gagal berantakan!”
“Bersihkan kotoran ini!” Jenggot perak memberi perintah kepada Li Cu-liong. Ketua Tiam-jong-pay itu mengiyakan dan segera hendak keluar.
“Nanti dulu, kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun berseru.
“Eh, kau mau apa lagi?”
Siau-bun cebikan bibir tertawa, “Aku hendak unjuk ketololan di hadapanmu, tidak secerdik adik Song. Tetapi cobalah kakek pikirkan. Di dalam perumahan para tamu ini penuh dengan jago-jago ulung yang membawa rombongan anak buahnya. Bagaimana juga gerak-gerik Coh Seng tentu akan ketahuan. Tetapi ada dua hal yang patut menjadi perhatian.... ”
“Apakah itu?”tanya Jenggot perak dengan segan.
Siau-bun tertawa, “Pertama, agar kawanan penjaga dapat mempertinggi kewaspadaan. Siapa tahu bakal menghadapi hal-hal yang genting. Kedua, menjaga jangan samapai menimbulkan kesalah-pahaman partai-partai persilatan...”
“Lalu bagaimnana menurut pendapatmu?” Jenggot perak bertanya.
Siau-bun tertawa pula, “Hanya beberapa anak buah partai Ji-tok-kau dan ditambah seorang Raja kutu beracun Coh Seng, dapat berbuat apa? Asal kita dapat menjaga jangan sampai mereka sempat menggunakan racun, tentulah pertemuan besok dapat diselamatkan. Masakah kakek tak mampu menindak mereka?”
“Baik, biarlah aku sendiri yang turun tangan!” kata Jenggot perak seraya loncat ke udara, melayang ke dalam ruang tamu.
Thiat-ik Sin-kay, Li Cu-liong , Cu Giok-bun, Cu Siau-bun dan Bu-song segera mengikuti. Mereka melesat ke tengah ruang tamu.
Tempat mereka omong-omong tadi tak berapa jauh dari ruang tamu. Bagi tamu yang tinggi ilmu lwekangnya, tentulah dapat menangkap pembicaraan Jenggot perak tadi. Tetapi ternyata keadaan sepi-sepi saja.
Bahkan setibanya di dalam ruanga tamu, Jenggot perak sudah disambut oleh bau anyir darah. Dan segera jago tua itu menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Di ruang tamu kamar tengah, tampak empat sosok tubuh manusia tergeletak di lantai.
Ketika dihampiri, kiranya mereka adalah anak buahTiam-jong-pay yang bertugas melayani keperluan para tamu. Wajah mereka menjadi hitam, jelas terkena racun.
“Biadab sekali.......” Li Cu-liong menggertak gigi, lalu menggunakan ilmu menyusup suara kepada Jenggot perak. “Anak hendak menuntut balas atas kematian merek!”
Sebelum Jenggot perak membuka mulut, Li Cu-liong sudah menggeliat melesat ke ruangan tengah.
Jenggot perak terkejut sekali. Buru-buru ia memanggil. “Tahan dulu!”
Tetapi seruannya agak terlambat. Li Cu-liong menghantam daun pintu kamar dan menerobos masuk.
Karena kamar-kamar itu terbuat dari bambu, maka sekali hantam dapatlah Li Cu-liong menjebolnya.
Karena dia sendiri yang mengawasi pembuatan bangsal penginapan para tamu, maka pahamlah ia akan keadaan di situ. Setiap ruang terdiri dari empat buah kamar yang di jajar empat jurusan. Di tengah-tengahnya sebuah ruang tamu dan dua buah kamar tidur.
Di luar dugaan, kamar-kamar di situ sunyi senyap saja. Dan ketika ia mendorong pintu sebuah kamar, serangkum asap hitam membaur ke luar. Buru-buru ia menutup pernapasan dan melepaskan sebuah pukulan. Brak.... terdengar suara benda berhamburan jatuh, tetapi anehnya tak seorangpun manusia yang muncul. Pukulan itu menghembus asap hitam ke samping.
Li Cu-liong terkejut. Secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya mencelat kembali ke tengah ruangan. Ia tahu bahwa asap itu tentulah asap beracun. Asal menghentikan pernapasan, tentulah takkan kemasukan racun. Tetapi perhitungannya meleset. Asap beracun itu luar biasa cara kerjanya. Begitu menyentuh tubuh manusia, terus merembes masuk melalui lubang pori-pori.
Terjangannya melalui taburan asap, cukup membuatnya celaka. Begitu berada di luar, seketika ia merasakan sendi-sendi tulangnya sakit sekali, dada sesak dan kepala serasa berputar. Bluk.... jatuhlah ia terkapar di lantai.....
Kagt dan marah sekali Jenggot perak, serunya, “Memang racun Peh-tok-jong! Kau.... ”
“Pil Tay-hoan-tan masih tinggal dua butir, untung kubawa!” seru Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Segera Li Cu-liong diberinya minum sebutir. Ketua Tiam-jong-pay itu muntah-muntah dan tersadar.
Suasana di bangsal penginapan para tamu itu sunyi saja. Seolah-olah tak ada orang yang mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan.
Jenggot perak tertawa datar, “Kalau samapai jatuh di tangan tikus kecil itu, kami ayah dan anak tentu mendapat malu besar. Bagaimana dengan pertemuan besok pagi?”
“Mengapa ayah masih bersikap seperti dulu, begitu mengindahkan kepada mereka?” kata Cu Giok-bun.
Jenggot perak mengepal-ngepal tinju seraya menggeram, “Kalau sudah ganas biarlah ganas habis-habisan. Coba saja lihat nanti apakah mereka mampu menerima tinjuku ini!”
Begitu marahnya Jenggot perak saat itu sehingga dari tubuhnya menghambur semacam hawa panas yang mendesis-desis.
“Nanti dulu kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun mencegah kakeknya yang bersiap hendak menghantam.
Jenggot perak mengakui kecerdikan kedua anak perempuan itu. Mendengar Siau-bun mencegahnya, iapun berhenti. “Apa lagi?”
Sahut Siau-bun dengan perlahan. “Gerombolan Ji-tok-kau mahir sekali dalam ilmu racun. Tadi Li ciang-bun telah terkena racun Peh-tok-jong. Ini menandakan bahwa si raja racun Coh Seng tentu berada di sini. Pukulan kakek luar biasa hebatnya. Seluruh isi ruang gerombolan Ji-tok-kau tentu hancur binasa. Tetapi tidakkah dengan begitu racun mereka akan berhamburan kemana-mana. Mereka dapat dibinasakan, tetapi kitapun tentu celaka......”
“Ah, benar! Tetapi...apakah membiarkan saja mereka berbuat sesuka hatinya? Apakah kita rela mengundurkan diri?” Jenggot perak membantah.
“Tidak, perbuatan merekapun harus mendapat hukuman yang setimpal!” Siau-bun tertawa, “segala jenis racun tak ada yang dapat melawan api. Pukulan Cek-ih-ciang dari mamahku, mungkin ada gunanya!”
Cu giok-bun mendengus, “Hm, budak, kau berani mempamerkan ibumu!” walaupun mulutnya mengatakan begitu tetapi ia segera bertindak.
Tangannya diangkat, seketika menghamburlah serangan sinar merah. Tenaga tamparan segera menghambur ke dalam jendela. Seketika sekeliling tiga tombak terasa panas. Menyusul terdengar bunyi berkeretekan bambu yang termakan api. Susul menyusul jeritan ngeri dari beberapa orang di dalam kamarpun berhamburan mengaduh.
Ruang yang terbuat dari bambu itu terbakar oleh pukulan Cu Giok-bun. Asap mengepul membawa bau daging gosong. Selain bau bangkai manusia, juga tercampur dengan bau anyir dari binatang-binatang beracun yang mati terbakar.
Jenggot perak mengerutkan alis, “Meskipun cara ini baik, tetapi bagaimana pertanggungan jawab kita terhadap sekalian tamu? Bukankah tindakan kita ini akan menjadi buah ejekan dari para tamu besok pagi? Tidakkah mereka akan mengatakan kita sebagai tuan rumah telah menindas tamu?”
Cu Siau-bun mengerutkan kening, “Kakek terlalu baik. Tetapi bukankah setiap kejahatan harus diberantas habis? Jika bangsa manusia ganas semacam ini dibiarkan hidup, dunia akan terancam bahaya! Cara kita tadi, rasanya tepat!”
“Kek, aku mempunyai cara untuk menundukkan sekalian tamu besok pagi!” tiba-tiba Bu-song menyeletuk. Ia melirik Siau-bun.
“Mengapa tak lekas bilang?” dengus Jenggot perak.
Bu-song tertawa mengikik, “Keempat orang Tiam-jong-pay yang menjadi korban itu cukup menjadi bukti. Apabila besok pagi keempat mayat mereka ditunjukkan dalam pertemuan, tentulah mereka akan mengerti dan memaklumi tindakan kita!”
Jenggot perak bertepuk tangan, “Benar, tepat sekali....ayo, lekas pindahkan mayat anggota Tiam-jong-pay itu!”
Li Cu-liong yang sudah sembuh segera memerintahkan anggotanya mengangkut keempat mayat itu keluar.
Bangsal penginapan para tamu tetap sunyi-sunyi saja.
Hanya sebuah kamar, yakni tempoat menginap gerombolan partai Ji-tok-kau yang terbakar. Dan sekalian tamu tetap berdiam diri dalam kamar tak berani menjenguk keluar.
Memang dari dalam kamar Ji-tok-kau telah menghambur keluar bau manusia terbakar, tetapi apakah si Raja racun Coh Seng juga turut terbakar, masih belum diketahui.
Api makin menjalar besar. Jika tak dipadamkan tentu akan memakan seluruh abngsal.
“Api ini seharusnya .....” baru Siau-bun berseru begitu, Jenggot perak sudah menukasnya, “Api yang menyulut ibumu, bagaimana kau hendak suruh kakek yang memadamkan?” Sekalipun mulutnya mengatakan begitu, tetapi jago tua itu segera menampar beberapa kali. Serangkum hawa dingin segera menghambur keluar. Api makin lama makin menyurut kecil.
Di dalam kejadian itu, sukar diketahui berapa jumlah korban yang terbakar. Tetapi dengan ilmu Melihat langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui bahwa tak seorangpun yang ada dalam kamar Ji-tok-kau dapat meloloskan diri.
“Bagaimana sekarang?” tanya Li cu-liong kepada Jenggot perak.
“ Terpaksa kita harus minta ibu melepas pukulan lagi, biar seluruh orang ji-tok-kau mati semua!” Cu Siau-bun menyeletuk.
“Ah, tetapi tindakan itu agak terlalu ganas,” Jenggot perak mengerutkan dahi.
Bu-song menyeletuk, “Ganas atau tidak ganas, tak usah dibicarakan dulu. Tetapi dalam hal ini memang masih ada hal-hal yang mencurigakan....” ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Tiga buah kamar yang dihuni rombongan Ji-tok-kau tentulah bukan terdiri dari orang-orang tuli semua. Apakah mereka begitu saja mau menerima kematian tanpa memberi perlawanan apa-apa? Apakah tak ada seorangpun yang mempunyai pikiran untuk lolos?”
“Benar-benar, akupun mempunyai pikiran begitu.... ” sambung Jenggot perak, “ruangan penuh orang, tetapi sedikitpun tak tampak suatu gerakan apa-apa!”
“Kek, bolehkah aku masuk memeriksa salah sebuah kamar mereka?”akhirnya Siau-bun berseru.
Jenggot perak tergopoh-gopoh menolak.
Siau-bun tertawa gelak-gelak, “Kek, kecurigaanmu berlebihan. Meskipun aku nanti terkena racun Peh-tok-jong, tetapi ibu masih mempunyai pil Tay-hoan-tan yang mukjijat!” Tanpa menunggu ijin kakeknya, gadis itu sudah mencelat masuk ke dalam sebuah kamar.
“Gadis liar!” bentak Cu Giok-bun yang menyusul puterinya. Jenggot perak sedianya hendak menyusul, tetapi setelah melihat Cu Giok-bun sudah bertindak, ia membatalkan maksudnya.
“Kek, kemarilah lekas!” tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru dari dalam kamar. Ketua Thiat-hiat-bun itu terkejut bukan kepalang. Sekali loncat ia menerjang ke dalam. Thiat-ik Sin-kay, Bu-song dan Li Cu-liong pun mengikuti.
Apa yang mereka lihat di dalam kamar benar-benar membuat mereka tercengang. Di dalam kamar itu tampak tujuh-delapan orang Ji-tok-kau. Sekilas pandang mereka seperti orang yang duduk bersemedhi dengan mata merem melek. tetapi setelah diperhatikan lagi kiranya mereka sudah tak bernyawa lagi.
Seperti telah dikatakan di atas, ketiga ruangan itu khusus ditinggali oleh rombongan Ji-tok-kau. Di luar bangsal dijaga keras oleh para penjaga, baik yang terang maupun yang meronda secara gelap. Ketatnya penjagaan begitu rupa, sehingga umpama lalat terbang masukpun tentu diketahui.
Jenggot perak mengerutkan alis. Selama hidup baru sekali itu menyaksikan perbuatan yang sedemikian kejamnya.
“Kek, mereka mati keracunan semua!” kata Bu-song sehabis memeriksa orang-orang itu.
“Kali ini mungkin kau salah raba!” Jenggot perak menggelengkan kepala.
Ternyata korban-korban itu wajahnya seperti biasa, seperti orang yang hanya ditutuk jalan darahnya saja. Baik alis maupun bibir mereka sedikitpun tak tampak tanda-tanda keracunan.
Thiat-ik Sin-kay dan lain-lain yang banyak pengalamanpun, tak dapat memberi komentar apa-apa. Segala sesuatu yang mereka hadapi memang sukar diduga....
“Budak, mengapa kau diam saja?” tegur Jenggot perak kepada Siau-bun.
Nona itu menggelengkan kepala, “Adik Song sudah mengatakan tepat. Mereka memang mati keracunan, apa yang masih harus kukatakan lagi?”
Jenggot perak tercengang, “Mengapa kau juga berpendapat begitu? Kalau memang mati keracunan, mengapa tak ada tanda-tandanya?”
Siau-bun tertawa, “Kek, apakah kau memang berpura-pura hendak menguji kami! Pertama, mereka telah terlatih dan kebal terhadap racun. Begitu kena racun, sudah tentu tubuhnya biasa saja. Kedua, jika tidak mati keracunan, mengapa mereka duduk begitu rapi? Dan ketiga, karena raja racun Coh Seng berada di sini, siapa lagi yang berbuat begitu kalau bukan dia........ kakek kaya pengalaman, dalam hal-hal sekecil ini, bagaimana aku dapat mengelabuimu? Benar atau salahkah kata-kataku ini?”
“Kalau dapat menganalisa sedemikian rinci, mungkin ibumu belum tentu menang....” Jenggot perak memuji. Siapa tahu Bu-song mendengus karena Siau-bun mendapat pujian.
“Ayo, kaupun juga ikut menyatakan pendapat!” seru Jenggot perak kepada Cu Giok-bun, “Si Raja racun Coh Seng diundang partai Ji-tok-kau untuk membantu meracuni jago-jago yang kita undang. Tetapi mengapa mendadak sontak ia malah meracuni orang-orang Ji-tok-kau sendiri?”
Bu-song tertawa dingin, “Tak usah kakek memuji aku, aku tak secerdas cici Bun...” dara itu agak merajuk, tetapi pada lain kejap ia menyusuli pula, “Itupun sebenarnya sederhana saja. Tentulah kakek mengetahui bahwa sekalipun kutu dengan racun itu berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai kegunaan yang sama. Raja racun Coh Seng memang hebat dalam menggunakan kutu, tetapi ia tak mampu melawan kepandaian orang Ji-tok-kau dalam menggunakan racun. Kalau tidak, tentulah dulu-dulu kedua orang itu sudah bersatu. Mengapa Ji-tok-kau tak mau berdaya menyelidiki penggunaan kutu itu.
Akibatnya undangan Ji-tok-kau kepada Coh Seng itu suatu kesalahan besar. Coh Seng mendapat kesempatan untuk menghancurkan saingannya.
Rombongan partai Ji-tok-kau yang datang kesini antara lain termasuk ketuanya, yakni Ti Bo dan jago-jago pilihan mereka. Apabila dapat melenyapkan mereka, mudahlah bagi Coh Seng untuk menguasai Ji-tok-kau dan mengambil alih partai itu!
„Nah, cukup dengan hal-hal yang kusebutkan ini, jelas menunjukkan bahwa kebinasaan orang-orang Ji-tok-kau itu adalah dilakukan oleh Coh Seng.”
Si Wajah Seribu
Jenggot perak tercengang. Apa yang dikatakan Bu-Song memang mungkin. Meskipun ada Thiat-hiat-bun, Hun Tiong Sin-mo, Tiam-jong-pay dan jago-jago sakti, tetapi tiada pimpinan yang cakap. Jika menderita serangan dari luar tentu markas akan kacau balau. Jika sampai terjadi hal itu, bagaimana nanti pertanggungjawaban mereka dalam pertemuan besok pagi? Bukankah mereka akan kehilangan muka?
Karena gugup, tanpa menunggu perintah jenggot perak lagi, sekalian orang segera lari berserabutan menuju ke markas. Jenggot perak hendak menyusul tetapi tiba-tiba terdengar suara mengiang lagi ditelinganya :, ah, sudah terlambat Lu Tua! Namun kali ini tentu akan hancur lebur!“
Menyusul kata-kata itu terdengar ledakan keras di barengi dengan muncratnya nyala api ke udara.
„Celaka, kekalahan kali ini benar-benar hebat ....................“ jenggot perak menghela napas. Ia segera mencelat keluar sambil meninjukan kedua tangannya. Serangkum hawa dingin berhamburan dan api pun mulai reda.
Tetapi ledakan itu rupanya berasal dari bahan peledak. Sekalipun api dapat dipadamkan tetapi sebagian besar dari markas telah hancur berantakan.
Jenggot perak menghela napas dalam dan banting-banting kaki, „Ah, tak kira aku bakal mengalami kekalahan di Tiong-goan. Kemana hendak kutaruh mukaku besok dihadapan sekalian orang gagah?“
„Kek, siapakah dia? Manusia atau setan“ Bu-song berseru kaget.
Jenggot perak sendiripun tertegun. Cepat-cepat ia berpandangan sejenak dengan Thiat-it-sin-kay ia membalas tertawa nyaring. Serunya : „Ah, saudara Lin-jong benar. Belum sempat keluar menyambut, saudara sudah tiba!“
Perempuan tua tertawa mengekeh „O, kau kenal juga diruu?“
Jenggot perak tertawa : „Sekalipun kenalanku tidak banyak tetapi terhadap tokoh ternama seperti daudara, mungkin aku tentu kenal ......, kalau tak salah saudara itu tentu Cian-bin-cun-cia Auyang Teng .......“
Perempuan tua bertubuh gemuk pendek itu memang Cian-bin-cun-cia atau rahib wajah seribu Auyang Teng.
„Ah, matamu ternyata masih awas Lu Tua!“ rahib wajah seribu tertawa.
Bu-song, Siau-bun terkejut mendengar nama rahaib tua itu. Jua Li Cu-liong dan Cu Giok Hun-tiong tak terkecuali. Baru saja tadi mereka mendapat berita dari dara pos atau dalam sekejap saja rahib seribu wajah sudah muncul. Dan ilmu berjalan ditengah api yang dipertunjukkan tadi benar-benar menakjubkan.
„Maaf karena sesuatu dan lain hal aku tak dapat menyambutnya dengan penuh kehormatan, „jenggot perak tertawa.
„Disambut atau tidak akau tak ambil pusing. Tetapi apakah sesuatu dan lain hal tu yang kau maksukan?“ Katakanlah!“ seru wajah seribu.
„Pertama, sesorang lelaki jantan mengapa memakai pakaian wanita, orang begitu aku paling muak. Kedua, kalau toh datang, datanglah dengan terang-terangan tak perlu main sembunyi macam bangsa perampok yang membakari rumah rakyat! Terhadap orang semacam itu, aku paling benci sekali. Ketiga, kabarnya kau sudah bergabung dengan Sin-bu-kiong, rela menjadi anak buah Song-bun Kui-mo. Ah, dalam hal ini aku tak berani campur tangan .......“
„Cukup! Terhadap orang aku mengapa kau berani berkata begitu keterlaluan!“ marah wajah seribu seketika.
Jenggot perak tertawa mengejek, „Sebenarnya gerak-gerikmu banyak sekali memalukan, tetapi enggan kukatakan. Cukup dengan beberapa pasal yang kukatakan tadi, cukuplah sudah untuk meremehkanmu. Maka selain tak memberi penyambutan yang pantas pun malam ini aku hendak adu kekuatan denganmu, siap yang nanti lebih kuat!:
Wajah seribu tertawa mengekeh „“Baiklah, memang aku selalu bertindak menurut kemauanku sendiri tak perduli orang senang atau tidak. Jika kau menghendaki begitu, aku pun tak keberatan!“
Habis berkata ia mencelat sampai 7-8 tombak dan dalam sekejap lenyap dari pandangan mata. „Kek, iblis itu memuakan sekali, mengapa kau biarkan ia pergi?“ teriak Bu-song. Jenggot perak tertawa : „Mungkin tak semudah itu kita tundukkan ia!“
Baru berkata begitu tiba-tiba terdengar suara orang mengucap doa keagamaan. Berasal dari arah sebelah kiri. Dan pada saat itu muncullah imam tua bertubuh kurus kering.
Kembali Bu-song dan Siau-bun menjerit kaget.
„Hai, Imam hidung kerbau darimana kau?“ serentak Bu-song berseru
„Eh, budak perempuan, apa kau lupa?“ imam tua itu tertawa meloroh.
Jenggot perak tertawa dingin : „cian-bin-cun-cia, betapapun kau hendak unjuk kepandaianmu menyaru, jangan harap dapat mengelabui mataku!“
„Hai, apakah dia si wajah seribu?“ Bu-song menjerit kaget.
„Benar,“kata jenggot perak, dia memang mahir dalam hal itu. Sebentar menjadi lelaki sebentar jadi perempuan atau sesaat seorang paderi pada lain waktu menjadi rahib. Tubuhnya pun gemuk-pendek, kurus-kering, tinggi besar menurut kemauannya! Tetapi kakekmu tak dapat dikelabui!“
Memang imam tua itu adalah si wajah seribu. Ia tertawa terkial-kial :“Lu tua, kau memang hebat dapat mengenali diriku!“
Bu-song, Siau-bun dan Li Cu-liong terkesiap. Jika bukan jangget perak yang mengatakan, tentu mereka takan percaya. Apa yang dilihat memang berbeda sama sekali. Yang tadi seorang perempuan pendek, kini seorang imam tua bertubuh tinggi kurus. Kalau tadi seorang rahib, kini seorang imam ..............
Kebakaran dari bahan peledak itu telah menimbulkan kerusakan besar. Beberapa bagian dari gerbang markas Tiam-jong-pay telah ambruk. Kamar rahasia untuk berunding oleh jenggot perak tadipun hancur. Beberapa penjaga regu Pik-ih-tiong-hiat (orang tua berjenggot dan berpakaian putih) dari Hun-tiong-bu, menjadi korban. Semuanya atas perbuatan si wajah seribu.
Dengan gusar berserulah jenggot perak, „Ayo suruh kawan-kawanmu keluar. Kita putuskan dulu siap diantara kita yang lebih unggul ......
Wajah seribu tertawa keras „Kawan? Hm, masakan kau tak mendengar bahwa aku selalu bergerak seorang diri?“
„Baik, katakan apa tujuanmu kemari!“
„Aku senang melihat keramaian yang bakal diadakan disini. Sekalipun kau lupa mengundang, aku tetap akan datang sendiri ..... kebakaran markasmu itu adalah sebagai hukuman kecil untuk kelalaianmu mengundang aku!“
Ketua Tiam-jong-pay tak dapat menahan amarahnya lagi. Loncat kemuka ia mendamprat „Iblis tua, jangan ngaco belo disini, serahkan jiwamu!“ kata-katanya ditutup dengan sebuah pukulan.
Bukannya menghindar atau menangkis atau balas memukul sebaliknya wajah seribu itu hanya tertawa gelak. Tetapi pada saat tinju Li Cu-liong tiba, entah bagaimana tiba-tiba wajah seribu hilang lenyap. Kejut ketua Tiam-jong-pay itu bukan kepalang dan terbengong-bengong seperti melihat hantu. Dan alangkah kagetnya ketika sesaat kemudian ia melihat dua orang wajah seribu berdiri di kanan dan kirinya!
Li—Cu-liong kucek-kucek matanya. Dikiranya salah pandang. Tetapi sekalai memandang lagi ah ...... benar-benar tak salah lihat. Dua orang wajah seribu memang benar-benar berdiri disebelah kanan kirinya ......
Ketua Tiam-jong-pany tak mau dibuat main. Dia ayunkan kedua tinjunya memukul kekanan dan kekiri. Terdengar kedua wajah seribu tertawa gelak dan sekonyong-konyong lenyap!
Li-Cu-liong tertegun. Hai ...... tib-tiba ia terbeliak kaget sekali. Kini bukan melainkan dia. Tetapi empat orang wajah seribu yang berdiri mengepungnya dari empat penjuru ......!
Li-Cu-Liong menyadari bahwa diantara keempat wajah seribu hanya satu yang asli. Yang tiga hanya bayangan kosong. Tetapi pengertian itupun tak banyak membantunya karena ia tak tahu yan mana yang asli dan yang palsu.
Selagi ia bingung, tiba-tiba keempat wajah seribu sudah menyerangnya. Li cu-liong kaget. Serentak iapun menghantam mereka. Ia gunakan seluruh tenaganya untuk menyambut serangan mereka. Pikirnya, asal dihantam serempak saja, tentu beres. Yang asli kena atau yang palsu lenyap.
Ketua Tiam-jong-pay itu tak sempat memikirkan apa-apa lagi. Kemarahannya makin meluap-luap dengan berlipat ganda. Ah ..... segera ia menyadari kalau termakan tipu muslihat wajah seribu. Ketika musuh yang dihantamnya itu hanya bayangan belaka. Dengan demikian tenaga hantamannya hanya mengenai tempat kosong belaka dan sia-sia belaka. Karena memukul sasaran yang kosong mau tak mau keseimbangan tubuhnyapun goyah. Ia menjorok kemuka. Dan sebelum ia sempat memperbaiki posisinya, ssesosok tubuh sudah melesat sambil menghantamnya.
Itulah wajah seribu asli!
Pada saat L Cu-liong teranjam maut, dalam sekejap bertindaklah Cu Giok-bun Hun-tiong Sin-mo, sambil totokan jarinya kemuka, ia membentak „siluman, jangan kelewat meliar!“
Mengira orang sudah tak berdaya, wajah seribu segera hendak memberi hantaman maut. Kepada Li Cu-liong. Pukulannya dilancarkan cepat dan ganas. Tetapi totokan jari maut Hun-tiong Sin-mo sakti sekali. Wlaupun dari jauh, tetapi angin tenaganya bagaikan kilat cepatnya. Wajah seribu kaget. Untuk menyelamatkan jiwanya terpaksa ia loncat menghindar.
Li cu-liong mengeluh. Dengan keringat bercucuran ia loncat mundur. Wajahnya tersipu-sipu merah. Sampai beberapa saat ia terlongong-longong. Seumur hidup belum pernah mengalami peristiwa aneh sedemikian rupa.
Sementara Hun-tiong Sin-mo pun agak terkesiap. Meskipun totokan jari maut itu bukan merupakan ilmu simpanannya, tetapi wajah seribu dapat menghindar dengan mudah, mau tak mau membuat Hun tiong Sin-mo tercengang juga. Sejak belasan tahun belum pernah ada orang yang dapat lolos dari totokan jarinya. Dan belum pernah ada yang selamat. Kalau tidajk mati tentu menderita luka parah ......
Tetapi kekagetan wajah seribupun tak kalah besarnya. Didalam dunia persilatan, tak ada orang yang sekali gebrak dapat memundurkannya. Sebelumnya ia tak percaya tetapi apa yang di alaminya saat itu, benar-benar membuatnya seperti orang yang bermimpi!
Hun-tiong Sin-mo bersikap seperti tak niat bertempur, sehabis berhasil menolong Li Cu-liong iapun segera loncat mundur pula.
Tetapi sikap itu bahkan membangkitkan kemarahan wajah seribu. Dengan murka ia membentak „perempuan hina, jika malam ini tak kuhancurkan tubuhmu aku tak mau meninggalkan Tiam-jong-san sini!“
„Oh, mungkin tak mudah untukmu meninggalkan gunung ini!“ Hun-tiong Sin-mo membalas.
Wajah seribu segera merangsang. Tubuhnya pecah menjadi 7-8 sosok bayangan. Hun-tiong Sin-mo tak gentar. Ia hendak menyambut tetapi disanggah jenggot perak, Giok-bun. Belum saatnya kau turun tangan ayah masih dapat melayaninya!’
Ia menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan. Terdengar suara ledakan keras, pasir dan batu berhamburan. Ke 7-8 sosok bayangan itupun lenyap. Yang nampak kini hanya seorang wajah seribu terhuyung melangkah kebelakang.
Kiranya jenggot perak berhasil menghantam dadanya. Tetapi dia sendiripun menderita juga. Tenaga tolakan yang dilancarkan wajah seribu membuat jenggot perak juga terhuyung-huyung sampai tiga langkah. Jago Thiat-hiat-bun itu tertegun. Ia merasa benar-benar mendapat lawan tanding yang seimbang.
Dengan penasaran jenggot perak maju pula mengirim sebuah pukulan kepunggung lawan!
Wajah seribu mengeluh kaget. Cepat ia liukan tubuh, seketika pecahlah tubuhnya menjadi beberapa sosok bayangan yang bagaikan pinang dibelah dua. Mereka bergerak-gerak mengepung jenggot perak.
Jenggot perak mendengus. Ia tarik pukulannya untuk melindungi tubuh. Ia tegak berdiri tak mau bergerak lagi tetapi diam-diam kerahkan seluruh tenaga dalam untuk melapis diri.
Dalam sekekap, belasan sosok bayangan wajah seribu itu lenyap. Kini tampaklah ia tegak berdiri beberapa langkah dihadapan jenggot perak. Dengan mata berkilat-kilat wajah seribu manatap orang : „Lu tua, mengpa kau diam saja? Takutkah kau padaku?“
Jenggot perak tertawa keras „Pernahkah kau mendengar cerita orang, kepada siapa aku pernah merasa gentar?“
Wajah seribu berubah gelap „kalau begutu, mengapa kau tak bergerak? Lebih bai kau menyerah saja!“
„memang aku sengaja mengalah supaya kau menyerang dulu!’ sahut jenggot perak. Binatang tua jangan sombong, kau berani menghina aku!“ wajah seribu teriak seraya gerakkan kedua tangannya. Gayanya mirip hendak menampar tatapi juga seperti hendak meotok. Tampaknya hendak mencengkeram tetapi juga menyerupai orang hendak meremas. Secepat jilat tangannya sudah menjulur kemuka jenggot perak. Berbarengan itu sekonyong-konyong pecah menjadi 3-4 sosok bayangan.
Seketika itu jenggot perak seperti diseran g oleh wajah seribu. Sukar dibedakan mana yang palsu dan yang sungguhan.
Jago Thiat-hiat-bun itu tegak tenang laksana sebuah gunung. Pada saat serangan tiba barulah ia bergerak dengan tak terduga-duga. Sekonyong-konyong ia menamparkan tangan kesenlah kanaan dan kiri. Tar, tar terdengar letupan keras dan bayangan yang menyerupai wajah seribu itupun lenyap seketika berganti dengan wajah serbu yang asli terhuyung-huyung sampai 4-5 langkah.
Jenggot perakpun terhuyung sampai tiga langkah kebelakang. Ia merasa darah dalam tubuhnya agak bergolak. Sepintas pandang memang tampaknya jenggot perak lebih unggul. Wajah seribu kerutkan dahi dan termanggu sejenak, serunya kemudian „Setan tua, bagaimana kau dapat membedakan diriku dengan bayanganku?“
„Hm, masakan permainan anak kecil semacam itu dapat mengelabui aku ......“jenggot perak tertawa terbahak-bahak, tetapi ilmu gingkanmu, patut dipuji!“
„Ilmuku Pek-pian-mo-ing (Bayangan setan seratus macam), tiada keduanya didunia persilatan. Mana hanya mengandalkan ilmu ginkang saja?“
Jenggot perak tertawa pula, serunya mungkin aku belum tahu bahwa si tua ini memiliki ilmu mendengar bumi melihat langit? Betapun kau hendak merubah dirimu menjadi apa saja, memang pada detik permulaan mungkin dapat mengelabui mataku sekejap telah kuketahui juga ....“
„Melihat langit mendengar bumi?“ wajah seribu kaget.
„Ho, kau belum pernah mendengar ilmu itu?“
„Tetapi ilmu itu hanya tertuju pada jarak luas dan jauh, bagaimana kau dapat meneropong ilmu sakti Pek-pian-mo-ing.
„Sebenarnya ilmu Pek-pian-mo-ing itu hanya ilmu ginkang yang tinggi. Bayangan-bayanganmu itu hanya kosong. Dengan ilmu melihat langit mendengar bumi sudah tentu kuteropong mana dirimu yang asli mana yang palsu, mengapa kau heran .......“
Wajah seribu meringkik tawa hatinya.
„Silakan kau kerahkan seluruh kepandaianmu. Tetapi malam ini adalah malam kejatuhanmu. Besok pagi jangan harap kau dapat membuka rapat para orang gagah ...............!
„Oh, Mungkin kau tak mempunyai kemampuan begitu!“ sahut jenggot perak.
Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Tju Giok-bun, tak ikut bicara. Mereka berdiri di samping mendengarkan percakapan. Jenggot perak dan si wajah seribu dengan penuh perhatian.
Kebakaran di markas besar Tiam-jong-pay pun sudah reda. Tetapi asap masih bergulung-gulung memekatkan udara. Banyak anak buah Thiat-hiat-bun, Hun-tiong-san dan Tiam-jong-pay yang menjadi korban. Tetapi sebagian yang dapat lolos keluar, segera tenang kembali.
Saat itu sudah terang tanah. Pertemuan besar para orang gagah, segera akan tiba waktunya. Menilik barak pesanggrahan tempat menginap tetamu-tetamu itu tak jauh dimuka markas Tiam-jong-pay, maka kebakaran dimuka markas itu tentu diketahui oleh parta tetamu. Tetapi anehnya, pesanggrahan para tetamu itu tampak sunyi-sunyi saja.
Ketua Tiam jong-pay Li Cu-liong gelisah. Ia mencuri kesempatan untuk bertanya pada jenggot perak dengan ilmu menyusup suara .....“hari sudah terang tanah, pertemuan akan segera dimulai. Rupanya durjana ini (wajah seribu) hendak mengulur waktu supaya pertemuan tak dapat berlangsung tepat pada waktunya ........“ ___ia berkeliaran memandang ketempat penjuru, lalu berkata, pula „Turut pendapat anak, lebih baik kita lekas bertindak menyingkirkan durjana ini. Tak perlu kita menghiraukan tata kehormatan (etika) kaum persilatan lagi!“
„Pertemuan tetap akan dibuka tepat pada waktunya! Serahkan momok ini padaku, kau lekas atur persiapan pertemuan-pertemuan itu, apakah meja kursi sudah diatur menurut rencan!“ sahut jenggot perak dengan ilmu menyusup suara juga.
Li Cu-liong kerutkan alis, ujarnya : „Tetapi durjana ini licin sekali, apakah ayah ...........“. Jangan banyak tanya lagi, aku dapat mengatasinya!“ tukas jenggot perak dengan ilmu menyusup suara. Kemudian ia berganti nada dengan bentakan biasa : „Lekas kerjakan persiapan yang diperlukan!“ Li Cu-liong mengiayakan lalu pergi. Wajah seribu berpaling memandang markas Tiam jong-pay yang menderita kerusakan ia tertawa mengejek.
Sejenak melirik pengemis Thiat-ik-sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, tiba-tiba jenggot perak membentak lawan : „hai, iblis tua, kalau membawa kawan, suruh mereka unjuk diri!“
Wajah seribu terbeliak teriaknya : „Aku selalu bekerja seorang diri, tak pernah kubersekongkol dengan orang. Jangan banyak curiga!“
„Kek, bolehkah aku bicara?“ mendadak Bu-Song maju selangkah. Jenggot perak berpaling, „Eh, kau lihat hantu apa lagi?“
Dara itu tertawa melengking „Durjana ini seolah-olah membanggakan keagungan diri tetapi sebenarnya dia seorang hina! Percuma kau tanya ini itu padanya, bunuh sajalah!“
Bukan kepalang marahnya wajah seribu, teriaknya kau berani menghina aku, budak? Kaupun takkan menjadi mayat utuh ....... tiba-tiba ia menampar. „Iblis hina kau tak malu mengganas seorang anak perempuan! Ia pun songsongkan pukulan.
Karena ilmu Pek-pian-mo-ing (seratus bayangan iblis) tak mempan, wajah seribu gunakan pukulan biasa. Plak ..... terdengar letupan keras dari dua pukulan yang beradu, debu dan tanah berhamburan. Kedua tokoh itu mundur beberapa langkah. Sekalipun tampaknya jenggok perak menang angin tetapi kekuatan mereka berimbang.
Sesaat berdiri tegak wajah seribu tertawa nyaring, „setan tua, kecuali kalian maju berbarengan, jangan harap dapat memenangkan aku!“
„Aku paling benci main keroyok. Mari kita bertanding satu lawan satu!“ jenggot perak marah sekali..
Wajah seribu tertawa „Aku tak suka menggunkan kekerasan. Membunuhmu pun tak ada gunanya. Cukup asal nyawamu tentram, aku sudah puas!“
„Kau benar, iblis!“ tiba-tiba Bu-song menyelutuk. „Hanya sayang tipu muslihatmu tak berguna. Pertemuan orang gagah takkan terpengaruh oleh pengacau sepertimu!“
Wajah seribu tertawa sinis „Orangnya kecil tetapi mulutmu besar! Coba katakan, siasatku apa yang gagal?“
Bu-song tertawa dingin „Menghadapi manusia rendah semacam kau, perlu apa memakai akal!“ Tiba-tiba ia menantang „Apakah kau berani bertempur sejurus saja dengan aku?“
„Kau berani menantang aku?“ wajah seribu tertawa menghina
„kau sudah mendapat kehormatan!“ Bu-song mengejek
Wajah seribu melangkah selangkah, bentaknya mengepul asap tipis. Ia bersikap menerima serangan.
Bu-songpun dengan tenang segera mencabut pedang dari belakang bahunya. Budak, kakekmu disini, jangan lancang!“ serentak jenggot perak membentak si dara.
„Iblis tua ini kelewat sombong. Aku hendak mewakili kakek meghajar adat padanya!“
„Jangan ngaco, lekas enyah!“ bentak jenggot perak. Kemudian ia menyusuli dengan ilmu menyusup suara „Dia seorang tak perlu dikuatirkan tetapi Lam-yau (Siluman dari selatan), Pek-koay (manusia naeh dari utara) dan Bu-kiu-sut seng (Pelajar tak berdosa) tentu juga berada disekitar tempat ini .............“
„Benar, „sahut jenggot perak, „Orang itu dapat meluputkan diri dari ilmu melihat langit mendengar-bumi, tentulah sakti sekali. Jauh beberapa kali saktinya dari puluhan tahun yang lalu. Kakek harus hati-hati menghadapi mereka. Mengapa kau hendak bentindak sembrono, ajo lekas menyingkir!“
„Bagaimana kakek hendak menghadapi mereka!“ tanya Bu-song
Jenggot perak tertegun. Memang pertanyaan sang cucu itu tepat sekalai. Baru ilmu Pek-pian mo-ing atau iblis seratus kali hilang dari wajah seribu saja sudah cukup memusingkan, apalagi ditambah dengan beberapa tokoh pentolan lagi. Tetapi bagaimanapun ia harus bertindak.
Pertarungan tadi menunjukkan bahwa kekuatannya berimbang dengan wajah seribu. Untuk menundukkan tokoh itu, ia harus menggunakan waktu sedikitnya sejam Ah, trlalu lama.
„Jangan kuatir, kakek mempunyai rencana „Akhirnya ia menghibur si dara.
Bu-song mencibirkan bibirnya „Tindakan ku ini justeru hendak membantu kakek. Hendak kupancing mereka keluar baru kita hancurkan!“
Ia tahu jelas situasi saat itu. Pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, CU Siau-bun dan tokoh lainnya, terpancang oleh kenggot perak. Tanpa perintah jago tua itu, mereka tak berani bertindak.
Tetapi tampaknya jenggot perak tak punya rencana apa-apa. Kalu terus menerus hanya tantang-tantangan begitu saja, tentulah pertemuan para orang gagah tak dapat berlangsung!
„Bagaimana akalmu hendak memancing mereka?“ tanya jenggot perak.
Bu-song tertawa : „Ini ...... sekarang tak dapat kuberitahukan dulu! Tetapi, paling tidak hendak kuberi pelajaran dulu pada momok ini, syukur kalau dapat membunuhnya! Dengan begitu gerombolan mereka tentu keluar semua!“
Jenggot perak mengurut-urut jenggotnya. Beberapa saat ia tak dapat bicara. Ia percaya akan kecerdasan bocah perempuan itu. Sekalipun tindakannya kali ini sangat berbahaya, tetapi ia berada dekat situ. Setiap saat dapat memberikan pertolongan apabila diperlukan.
Melihat jenggot perak dan Bu-song bicara dengan ilmu menyusup suara, wajah seribu hanya tersenyum saja. Setelah beberapa saat, baru ia melengking : „Eh, sudah berunding berdua atau belum?“
Jenggot perak menyahut dingin :“Karena cucuku ingin sekali mendapat pelajaran darimu, maka kali ini aku memberi kelonggaran padanya!“
Wajah seribu tertawa gelak-gelak :“aku seorang ganas. Sekali turun tangan kalau sampai cucumu mati, harap jangan salahkan aku!“
„Iblis tua, mungkin kau tak mempunyai kemampuan berbuat begitu!“ Bu-song melengking marah.
„Silakan kau mulai!“ wajah seribu tertawa mengejek.
Bu-song tertawa gemerincing. Ia putar pedangnya, tetapi berpaling melirik Siau-bun.
Siau-bun tegak berdiri ditempat. Hanya mulutnya menyunggingkan senyum. Diam-diam ia gunakan ilmu menyusupkan suara kepada si dara :“Hendaklah jangan kuatir! Aku tahu maksud mu!“
„Kau pintar juga!“ sahut Bu-song dengan ilmu menyusup suara. Dan mulailah ia melancarkan serangan ...........
Wajah seribu tertawa mengekeh. Sekali kedua bahunya bergoyang, terpecahlah dirinya menjadi 3-4 sosok bayangan yang menyerangnya dari empat jurusan.
Bu-song seorang dara yang cerdik. Serangannya hanya serangan kosong. Ia tahu bahwa menghadapi si Wajah seribu tak boleh gunakan kekerasan melulu, tetapi harus pakai tipu. Maka ia gunakan ilmu suara-ditimur-serangan dari barat. Begitu perhatian lawan tercurah pada serangan pedang, secepat kilat tangan kiri Bu-song menabur dengan senjata rahasia Hon-Tahu-kiong (Paser kepala burung Hong).
Sekalipun Bu-song tak dapat membedakan mana bayangan lawan yang asli mana yang palsu, tetapi 4 batang paser yang ditaburkan itu kiranya cukup untuk menghancurkan keempat sosok bayangan untuk memperoleh hasil yang maksimal, ia gunakan ilmu menimpuk yang paling ganas. Tiap-tiap paser itu sengaja diarahkan kemata kiri si bayangan.
Seketika terdengar raung kemarahan yang hebat dan lenyaplah ke 4 sosok bayangan itu.
Sama sekali wajah seribu tak menduga bahwa Bu-song akan gunakan senjata rahasia, karena itu ia agak lengah. Dan kedua kalinya ia tahu bahwa ilmu timpuk Hong-thau-kiong dari partai Thiat-biat bun hebat sekali. Seratus kali timpuk tentu seratus tentu seratus kali kena. Dan masih ada kelemahan bagi Wajah seribu ialah telinga, mata. Hidung dan lubang-lubang tubuh manusia itu paling sukar untuk disaluri tenaga dalam. Betapa lihay si wajah seribu, namun ia tak dapat menggrekkan tenaga dalamnya kebagian-bagian itu. Untung dia banyaka pengalaman, pada detik-detik maut hendak merenggut ia masih dapat miringkan kepalanya sedikit Kesamping
Sehingga matanya terhindar dari kehancuran. Namun tak urung, sudut matanya tetap paser sidara,....................
Wajah seribu mengerung laksana harimau terluka. Sebelum ia sempat mencabut passer yang menancap diujung matanya, sekonyong-konyong angin berkesiuran dan serangkum benda mengkilap menyambar mukanya!
Ketua Tiam jong-pay Li Cu-liong gelisah. Ia mencuri kesempatan untuk bertanya pada jenggot perak dengan ilmu menyusup suara .....“hari sudah terang tanah, pertemuan akan segera dimulai. Rupanya durjana ini (wajah seribu) hendak mengulur waktu supaya pertemuan tak dapat berlangsung tepat pada waktunya ........“ ___ia berkeliaran memandang ketempat penjuru, lalu berkata, pula „Turut pendapat anak, lebih baik kita lekas bertindak menyingkirkan durjana ini. Tak perlu kita menghiraukan tata kehormatan (etika) kaum persilatan lagi!“
„Pertemuan tetap akan dibuka tepat pada waktunya! Serahkan momok ini padaku, kau lekas atur persiapan pertemuan-pertemuan itu, apakah meja kursi sudah diatur menurut rencan!“ sahut jenggot perak dengan ilmu menyusup suara juga.
Li Cu-liong kerutkan alis, ujarnya : „Tetapi durjana ini licin sekali, apakah ayah ...........“. Jangan banyak tanya lagi, aku dapat mengatasinya!“ tukas jenggot perak dengan ilmu menyusup suara. Kemudian ia berganti nada dengan bentakan biasa : „Lekas kerjakan persiapan yang diperlukan!“ Li Cu-liong mengiayakan lalu pergi. Wajah seribu berpaling memandang markas Tiam jong-pay yang menderita kerusakan ia tertawa mengejek.
Sejenak melirik pengemis Thiat-ik-sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, tiba-tiba jenggot perak membentak lawan : „hai, iblis tua, kalau membawa kawan, suruh mereka unjuk diri!“
Wajah seribu terbeliak teriaknya : „Aku selalu bekerja seorang diri, tak pernah kubersekongkol dengan orang. Jangan banyak curiga!“
„Kek, bolehkah aku bicara?“ mendadak Bu-Song maju selangkah. Jenggot perak berpaling, „Eh, kau lihat hantu apa lagi?“
Dara itu tertawa melengking „Durjana ini seolah-olah membanggakan keagungan diri tetapi sebenarnya dia seorang hina! Percuma kau tanya ini itu padanya, bunuh sajalah!“
Bukan kepalang marahnya wajah seribu, teriaknya kau berani menghina aku, budak? Kaupun takkan menjadi mayat utuh ....... tiba-tiba ia menampar. „Iblis hina kau tak malu mengganas seorang anak perempuan! Ia pun songsongkan pukulan.
Karena ilmu Pek-pian-mo-ing (seratus bayangan iblis) tak mempan, wajah seribu gunakan pukulan biasa. Plak ..... terdengar letupan keras dari dua pukulan yang beradu, debu dan tanah berhamburan. Kedua tokoh itu mundur beberapa langkah. Sekalipun tampaknya jenggok perak menang angin tetapi kekuatan mereka berimbang.
Sesaat berdiri tegak wajah seribu tertawa nyaring, „setan tua, kecuali kalian maju berbarengan, jangan harap dapat memenangkan aku!“
„Aku paling benci main keroyok. Mari kita bertanding satu lawan satu!“ jenggot perak marah sekali..
Wajah seribu tertawa „Aku tak suka menggunkan kekerasan. Membunuhmu pun tak ada gunanya. Cukup asal nyawamu tentram, aku sudah puas!“
„Kau benar, iblis!“ tiba-tiba Bu-song menyelutuk. „Hanya sayang tipu muslihatmu tak berguna. Pertemuan orang gagah takkan terpengaruh oleh pengacau sepertimu!“
Wajah seribu tertawa sinis „Orangnya kecil tetapi mulutmu besar! Coba katakan, siasatku apa yang gagal?“
Bu-song tertawa dingin „Menghadapi manusia rendah semacam kau, perlu apa memakai akal!“ Tiba-tiba ia menantang „Apakah kau berani bertempur sejurus saja dengan aku?“
„Kau berani menantang aku?“ wajah seribu tertawa menghina
„kau sudah mendapat kehormatan!“ Bu-song mengejek
Wajah seribu melangkah selangkah, bentaknya mengepul asap tipis. Ia bersikap menerima serangan.
Bu-songpun dengan tenang segera mencabut pedang dari belakang bahunya. Budak, kakekmu disini, jangan lancang!“ serentak jenggot perak membentak si dara.
„Iblis tua ini kelewat sombong. Aku hendak mewakili kakek meghajar adat padanya!“
„Jangan ngaco, lekas enyah!“ bentak jenggot perak. Kemudian ia menyusuli dengan ilmu menyusup suara „Dia seorang tak perlu dikuatirkan tetapi Lam-yau (Siluman dari selatan), Pek-koay (manusia naeh dari utara) dan Bu-kiu-sut seng (Pelajar tak berdosa) tentu juga berada disekitar tempat ini .............“
„Benar, „sahut jenggot perak, „Orang itu dapat meluputkan diri dari ilmu melihat langit mendengar-bumi, tentulah sakti sekali. Jauh beberapa kali saktinya dari puluhan tahun yang lalu. Kakek harus hati-hati menghadapi mereka. Mengapa kau hendak bentindak sembrono, ajo lekas menyingkir!“
„Bagaimana kakek hendak menghadapi mereka!“ tanya Bu-song
Jenggot perak tertegun. Memang pertanyaan sang cucu itu tepat sekalai. Baru ilmu Pek-pian mo-ing atau iblis seratus kali hilang dari wajah seribu saja sudah cukup memusingkan, apalagi ditambah dengan beberapa tokoh pentolan lagi. Tetapi bagaimanapun ia harus bertindak.
Pertarungan tadi menunjukkan bahwa kekuatannya berimbang dengan wajah seribu. Untuk menundukkan tokoh itu, ia harus menggunakan waktu sedikitnya sejam Ah, trlalu lama.
„Jangan kuatir, kakek mempunyai rencana „Akhirnya ia menghibur si dara.
Bu-song mencibirkan bibirnya „Tindakan ku ini justeru hendak membantu kakek. Hendak kupancing mereka keluar baru kita hancurkan!“
Ia tahu jelas situasi saat itu. Pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, CU Siau-bun dan tokoh lainnya, terpancang oleh kenggot perak. Tanpa perintah jago tua itu, mereka tak berani bertindak.
Tetapi tampaknya jenggot perak tak punya rencana apa-apa. Kalu terus menerus hanya tantang-tantangan begitu saja, tentulah pertemuan para orang gagah tak dapat berlangsung!
„Bagaimana akalmu hendak memancing mereka?“ tanya jenggot perak.
Bu-song tertawa : „Ini ...... sekarang tak dapat kuberitahukan dulu! Tetapi, paling tidak hendak kuberi pelajaran dulu pada momok ini, syukur kalau dapat membunuhnya! Dengan begitu gerombolan mereka tentu keluar semua!“
Jenggot perak mengurut-urut jenggotnya. Beberapa saat ia tak dapat bicara. Ia percaya akan kecerdasan bocah perempuan itu. Sekalipun tindakannya kali ini sangat berbahaya, tetapi ia berada dekat situ. Setiap saat dapat memberikan pertolongan apabila diperlukan.
Melihat jenggot perak dan Bu-song bicara dengan ilmu menyusup suara, wajah seribu hanya tersenyum saja. Setelah beberapa saat, baru ia melengking : „Eh, sudah berunding berdua atau belum?“
Jenggot perak menyahut dingin :“Karena cucuku ingin sekali mendapat pelajaran darimu, maka kali ini aku memberi kelonggaran padanya!“
Wajah seribu tertawa gelak-gelak :“aku seorang ganas. Sekali turun tangan kalau sampai cucumu mati, harap jangan salahkan aku!“
„Iblis tua, mungkin kau tak mempunyai kemampuan berbuat begitu!“ Bu-song melengking marah.
„Silakan kau mulai!“ wajah seribu tertawa mengejek.
Bu-song tertawa gemerincing. Ia putar pedangnya, tetapi berpaling melirik Siau-bun.
Siau-bun tegak berdiri ditempat. Hanya mulutnya menyunggingkan senyum. Diam-diam ia gunakan ilmu menyusupkan suara kepada si dara :“Hendaklah jangan kuatir! Aku tahu maksud mu!“
„Kau pintar juga!“ sahut Bu-song dengan ilmu menyusup suara. Dan mulailah ia melancarkan serangan ...........
Wajah seribu tertawa mengekeh. Sekali kedua bahunya bergoyang, terpecahlah dirinya menjadi 3-4 sosok bayangan yang menyerangnya dari empat jurusan.
Bu-song seorang dara yang cerdik. Serangannya hanya serangan kosong. Ia tahu bahwa menghadapi si Wajah seribu tak boleh gunakan kekerasan melulu, tetapi harus pakai tipu. Maka ia gunakan ilmu suara-ditimur-serangan dari barat. Begitu perhatian lawan tercurah pada serangan pedang, secepat kilat tangan kiri Bu-song menabur dengan senjata rahasia Hon-Tahu-kiong (Paser kepala burung Hong).
Sekalipun Bu-song tak dapat membedakan mana bayangan lawan yang asli mana yang palsu, tetapi 4 batang paser yang ditaburkan itu kiranya cukup untuk menghancurkan keempat sosok bayangan untuk memperoleh hasil yang maksimal, ia gunakan ilmu menimpuk yang paling ganas. Tiap-tiap paser itu sengaja diarahkan kemata kiri si bayangan.
Seketika terdengar raung kemarahan yang hebat dan lenyaplah ke 4 sosok bayangan itu.
Sama sekali wajah seribu tak menduga bahwa Bu-song akan gunakan senjata rahasia, karena itu ia agak lengah. Dan kedua kalinya ia tahu bahwa ilmu timpuk Hong-thau-kiong dari partai Thiat-biat bun hebat sekali. Seratus kali timpuk tentu seratus tentu seratus kali kena. Dan masih ada kelemahan bagi Wajah seribu ialah telinga, mata. Hidung dan lubang-lubang tubuh manusia itu paling sukar untuk disaluri tenaga dalam. Betapa lihay si wajah seribu, namun ia tak dapat menggrekkan tenaga dalamnya kebagian-bagian itu. Untung dia banyaka pengalaman, pada detik-detik maut hendak merenggut ia masih dapat miringkan kepalanya sedikit Kesamping
Sehingga matanya terhindar dari kehancuran. Namun tak urung, sudut matanya tetap paser sidara,....................
Wajah seribu mengerung laksana harimau terluka. Sebelum ia sempat mencabut passer yang menancap diujung matanya, sekonyong-konyong angin berkesiuran dan serangkum benda mengkilap menyambar mukanya!
Tetapi yang menyambitkan senjata rahasia kali ini bukan Bu-song, melainkan Siau-bun. Nona itupun tak mau ketinggalan. Ia sambitkan 3 batang passer Tui-hong-kiong pemburu angin. Sebelum wajah seribu berdiri tegak, Siau-bun sudah membarengi. Dalam hal ilmu menyambitkan senjata rahasia tak kalah sebatnya dengan Bu-song. Betapun lihaynya wajah seribu, namun sukar untuknya menyingkir. Usaha terakhir, ia masih dapat menyelamatkan bagian berbahaya dari tubuhnya. Bahu sebelah kanan menjadi sasaran Tui hong-kiong. Sakitnya bukan kepalang sehingga hampir saja ia terjungkal roboh. Ia terhuyung-huyung sebanyak 5 langkah kebelakang. Bahu kanannya tak dapat digerakkan lagi......
Tui-hong-kiong merupakan senjata pusaka hun-tiong san. Sekalipun tak dilumuri racun, tetapi senjata rahasia itu dibut sehalus rambut. Begitu menyusup kedalam jalan darah sang korban pasti mati seketika!
Setitikpun wajah seribu tak pernah bermimpi bahwa hari itu bakal jatuh itangan dua orang anak perempuan. Saking marahnya tubuhnya menggil dan mulutnya meraung-raung. Tetapi sudut matanya yang kiri sakit, begitu pula bahunya yang kanan seperti putus rasanya.
„Sasaran tepat, sayang tak dapat menembus ulu hatinya!“ Bu-song berpaling dan berseru kepada Siau-bun.
„Apa perlu saya tambah lagi?“ sahut Siau-bun tertawa.
Buru-buru Bu-song menggunakan ilmu menyusup suara. „Tadi saja sudah menyalahi peraturan kakekku. Kalau tak percaya boleh coba lagi, lihat saja kakek menghajarmu atau tidak!“
Siau-bun terkejut. Tetapi secepatnya ia insyaf. Mungkin yang dikatakan si dara itu benar. Jenggot perak kakek mereka memang seorang tua yang aneh perangainya.
Siau-bun tertawa tawar, serunya dengan ilmu menyusup suara :“Tadi aku hanya bermaksud membantumu saja. Jika aku tak turun tangan, iblis tua itu tentu dingin saja menghadapi passer Hong-thau-kiongmu. Mungkin ......
„Tak usah kau bicara semerdu itu, aku tak menerima bantuanmu!“ sahut Bu-song dengan dingin.
„HM, kuterangkan sedikit „Sahut Siau-bun, „sebelum kau turun tangan tentulah kau sudah mengetahui bahwa aku tentu membantumu. Dengan begitu barulah kau berani berkata besar kepala didepan kakekmu!“
„Benar, „Bu-song tertawa, „hal ini didasarkan pada waktumu. Kutahu kau tentu takkan melepaskan kesempatan untuk memberikan pahala!“
„Salah!“ Siau-bun tertawa.
„Ha?“ Bu-song terkesiap.
„Kau lupakan Lam-yau, Pak-koay, Bu-kiu-sut-seng dan Raja-kutu Coh Seng?“ seru Siau-bun.
Bu-song tertegun. Diam-diam ia mengakui kelalainya. Kalau tokoh-tokoh itu memang datang dan bersembunyi, setelah tahu kawannya terluka tentulah segera akan muncul. Tetapi mengapa mereka tak menampakkan diri?“
Merosotlah ambisi Bu-song. Tadi ia berapi-api membuka mulut besar dihadapan Jenggot perak, tentu dapat memikat gerombolan wajah seribu keluar, tetapi buktinya, tak seorangpun dari gerombolan lawan yang muncul ......’
Tampak wajah seribu berkeliaran memandang keempat penjuru. Serta dilihatnya jenggot perak dan tokoh-tokoh lainnya tak bergerak, barulah ia agak tentram dan segera meramkan mata menyalurkan tenaga dalam. Ia hendak memulihkan bahunya yang mati rasa itu.
Bu-song memandang Lawan dengan tajam, Tiba-tiba ia melengking dan menerjangnya.
„Eh, bocah perempuan, partai Thiat-hiat-bun tak pernah menyerang orang yang sedang terluka. Tak boleh mencari kemenagan secara curang......!“ tiba-tiba jenggot perak berseru.
Kek, sekarang aku tak sempat memberi penjelasan padamu!“ teriak si dara yang terus lanjutkan serangan
*********
Dara Baju Merah
Jenggot perak berteriak mencegah tetapi tak berbuat apa-apa sementara wajah seribu masih menyalurkan tenaga dalam. Tampaknya ia tak akan melawan ...
Pada saat pedang akan menusuk tubuh wajah seribu sekonyong-konyong bayangan melayang dari udara. Seorang yang bertubuh pendek seperti semangka. Tetapi luar biasa cepatnya sekali ulurkan tangan, ia mencengkeram pedang si dara.
Bu-song seorang dara yang cekat dan cerdas. Msekipun tengah menusuk, tetapi diam-diam ia sudah memperhitungkan, bahwa pasti ada orang yang akan menolong wajah seribu. Secepat kilat ia geliatkan mata pedang membabat pergelangan tangan orang itu. Berbarengan tangan kiri menyambitkan 3 batang passer.
Orang itu tertawa seraya turun ketanah. Sepasang tangannya mengibas. Terdengar dering passer berhamburan jatuh!.
Kejut Bu-song bukan kepalang, ia mundur tiga langkah.
Terhindar dar maut, marah wajah seribu bukan kepalang. Pada saat Bu-song menyurut mundur, sekonyong-konyong wajah seribu ayun tubuhnya untuk mencengkeram si dara dengan sepuluh jarinya yang dipentang.
Kali ini ia tak gunakan ilmu Pek-pian-mo-ing, melainkan gunakan ilmu nyata. Sekali gerak ingin menghancurkan tulang belulang si dara.
Memang bukan main kepandaian wajah seribu. Jika orang lain, tentu sudah lumpuh akibat bahunya terkena passer. Ia sudah tahu bahwa dalam saat-saat genting, kawannya akan muncul. Dan dugaannya ternyata benar, begitu si pendek muncul dan mengundurkan Bu-song, terus disusuli lagi dengan taburan asap hitam.
Kini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Kalau tadi wajah seribu yang terancam, sekarang Bu-songlah yang terancam. Du tokoh sakti berbarengan menyerangnya.
Melihat itu, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tidak dapat tinggal diam. Segera ia lepaskan pukulan Cek-koay-ciang kepada si pendek. Demikianpun jenggot perak. Ia hantam wajah seribu.
Terdengar suara mendesis macam api merangus. Itulah suara dari pukulan Cek-koay-ciang. Asap yang dihamburkan orang pendek itu adalah asap beracun. Tetapi ketika terhantam pukulan panas Cek-koay-ciang seketika asap itu menjadi hangus dan membubung keudara. Tidak cukup membuyarkan asap saja, tenaga pukulan Cek-koay-ciang masih dapat membuat si pendek terpental sampai delapan langkah jauhnya.
Jenggot peraakpun berhasil. Sekalipun luka wajah seribu sudah sembuh, tetapi menghadapi pukulan maut dari ketua Thiat-hiat-bun, ia harus menelan pil pahit. Memang kepandaiannya kalah setingkat dengan jenggot perak, apalagi ia baru saja sembuh dari luka bahunya. Wajah seribu terhuyung sampai 5 langkah. Wajahnya pucat pasi, darah dalam tubuhnya bergolak-golak.
Jenggot perak hanya tersurut mundur selangkah sikapnya biasa seperti tak mengalami apa-apa.
Kini jelaslah kekuatan mereka.
Wajah seribu dan orang pendek itu salaing berpandangan.
Coh seng, sungguh beruntung dapat berjumpa!“ tiba-tiba jenggot perak tertawa.
Ah, kiranya orang pendek itu si Raja-kutu Coh Seng. Selain mahir dalam ilmu pengetahuan jenis kutu-kutu beracun, Coh Seng pun memeiliki ilmu yang dapat membuat tulang-belulangnya sekeras baja. Itulah sebabnya passer Hong-thau-kiong yang dilepaskan Bu-Song tak mempan.
Pada saat Coh seng hendak bicara, tiba-tiba terdengar suara seruling melengking diudara. Jenggot perak terkesiap. Buru-buru ia berpaling dan menyuruh rombongannya menyalurkan tenaga dalam melawan lengkingan seruling.
Kedengarannya, suara seruling itu seperti alunan seruling biasa. Tetapi lagu yang ditiupnya memikat hati. „Tentulah Bu-Ciu Su-seng yang meniup seruling. Awas, jangan sampai terpikat oleh seruling.....“ pengemis Thiat-ik Sin-kay pun memberi peringatan kepada rombongannya.
Semua orang menurut. Jenggot perak memang hebat. Selain dapat membentengi diri dari lengkingan seruling, ia masih dapat membagi perhatian untuk menjaga gerak-gerik Coh Seng dan wajah seribu.
Suara seruling tetap melengking-lengking. Tiba-tiba suaranya berubah seram, macam burung hantu berbunyi ditengah malam. Rupanya si peniup memainkan ilmu Cian li-yang-seng (dari ribuan li meniup seruling). Betapa lihay ilmu melihat langit mendengar bumi dari jenggot perak, namun tak tahu dimana beradanya peniup seruling.
Jenggot perak, Thiat-hiat Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun masih dapat bertahan. Tetapi Bu-song, Siau-bun harus menderita. Beberapa saat kemudian, kedua nona itu hampir tak tahan.
Kedua anak perempuan itu mulai berkunang-kenang matanya, semangatnya mulai limbung. Suara seruling itu serasa menembus kedalam ulu hati, meremas-remas jantung. Menangis tak dapat mengeluarkan air mata, tertawa tak dapat bersuara.
Jenggot perak tahu keadaan kedua anak perempuan itu ia tak berdaya menolong. Ia sendiri pu berjuang mempertahankan diri. Hari makin terang perjamuan makin mendesak waktunya. Tuan rumah terancam kemusnahan!
Sekonyong-konyong terdengar tambur bertalu nyaring. Jenggot perak mengerang. Ia kaget-kaget gembira. Suara genderang (tambur) tak asing baginya. Teringatlah ia ketika melihat Bu-beng-jin bertempur dengan Bok-sam-pi di gunung Thay-heng-san, tambur itupun terdengar. Hanya bedanya bunyi tambur itu keras sekali. Jauh lebih nyaring dari ketika di Thay-heng-san.
Aneh! Begitu tambur menderu, serulingpun sirna seketika.
Raja-kutu Coh Seng, wajah seribu pucat. Setelah saling berpandangan, mereka terhuyung-huyung mundur. Genderang itu mempunyai pengaruh besar terhadap mereka. Dengan terhuyung-huyung kedua durjana itu lari menyembunyikan diri dalam kegelapan.
Setelah seruling sirap sirna dan kedua durjana itu mundur, tamburpun lenyap. Suasana jadi hening. Jenggot perak kerutkan kening, serunyatergagap : Siapa ......?“
„Siapakah yang membunyikan tambur itu?“ tanya Bu-song. Jenggot perak hanya menggeleng. „Masakan kakek yang banyak pengalaman sedikit pun tak dapat meraba?“ desak Bu-song.
Setelah merenung sejenak, berkatalah jenggot perak : „Beberapa tahun yang lalu, kudengar di daerah Se-ik (Tibet) terdapat seorang tokoh wanita bergelar Sin-Ku-Siaulo (Dewi Tambur). Mungkin tambur itu mempunyai hubungan dengan wanita sakti itu. Tetapi kakek belum pernah mendengarnya!“
Diam-diam jenggot perak teringat akan Bu-beng-jin. Nasib pemuda itu berada ditangan si pemilik tambur. Karena jelas ketika digunung Thay-heng-san, tambur itu tak lain tak bukan hanyalah digunakan oleh dara berbaju merah yang berumur belasan tahun. Tetapi ah, mengapa dara itu tak muncul?
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dan pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay bingung juga. Suara tambur itu terdengar dan lenyap secara mesterius. Tetapi yang jelas, suaranya hebat sekali, menggetarkan urat-urat jantung orang.
„Kek, dimana orang itu?“ seru Bu-song pula.
„Mungkin ia tak mau menemui kita ..... atau mungkin ia mendapat perintah jangan menemui kita,“ kata jenggot perak.
„Kau kenal padanya?“ Bu-song terkesiap.
Jenggot perak tertegun : „Baru pertama ini kakek mendengar tambur, bagamana aku tahu?“
„Kalau kenal mengapa kakek bisa mengatakan dia mendapat perintah orang?“ tanya Bu-song
„Ah ...... kakek hanya menduga saja, „jenggot perak kewalahan
„Lalu dia dimana? Mengapa tak mencarinya?“
„Bagaimana kakek bisa tahu?“
„Toh kakek mempunyai ilmu melihat-langit-mendengar-bumi?“ desak si dara.
„Dia gunakan ilmu Cian-li-yang-seng, ilmuku melihat-langit-mendengar-bumi percuma saja!“
Bu-song tertawa dingin : „Ah, tak kira malam ini kita ketemu tokoh-tokoh sakti. Tetapi sayang mereka tak mau unjuk diri!“ dengan kata-kata itu ia hendak memancing supaya pemukul tambur unjuk diri. Ia yakin kata-katanya tentu terdengar sampai beberapa puluh tombak.
Tetapi tetap tiada reaksi apa-apa.
„Sudahlah, budak, jangan ribu-ribu saja!“ akhirnya jenggot perak membentak.
Sebaliknya Bu-song malah penasaran. Dengan sekeras-kerasnya ia berteriak : „Huh, apa-apan itu. Hanya ilmu memukul tambur saja masa hendak dibanggakan!“
Pemilik tambur sebenarnya masih bersembunyi disekitar tempat itu. Waktu mendengar hinaan Bu-song, ia tak dapat tahan lagi. Serentak ia loncat melayang keluar dan muncul dihadapan Bu-song.
Kejut Bu-song tak kepalang. Ternyata yang mencul dihadapannya itu hanya seorang dara belasan tahun memakai pakaian serba merah. Rambutnya dikepang dua, sepasang matanya yang bendar melotot marah kepada Bu-song.
Sambil menepuk-nempuk tambur kecil yang digandeng dibelakang punggung, dara itu melengking congkak : „Memang tamburku yang butut ini tak berguna, tetapi ........“ia kerutkan hidungnya menyengir, tiba-tiba membentak-bentak ..... kau mempunyai beberapa muka!“
Walaupun bernada marah tetapi sikap dara itu wajar kekanak-kanakan sekali. Memang usianya kira-kira 12-13 tahun.
„O, aku tak menyangka kalau yang memukul tambur kau, „seru Bu-song setelah hilang rasa terkejutnya.
„Kau sangka siapa?“ lengking si dara.
„Kukira seorang yang tua, seorang kakek yang berwajah bengis. Ah, tak kira ternyata seorang adik yang manis dan lincah!“
„Eh, benarkah aku ini manis?“ seru si dara.
Bu-song tertawa :, „Benar, aku tak pernah memuji orang. Kalau kau mau bolehlah aku mengakuimu sebagai adik!“
Dara itu memandang Bu-song dari ujung kaki sampai keatas kepala, kemudian tertawa : „bagus, sekarang aku mempunyai 3 orang Taci, seorang engkoh.....“ setelah memainkan matanya yang bundar, dara itu berseru pula : „Taci, aku bersama Pok lian-Ci. Siapakah namumu?“
Bu-song kerutkan kening : „hai, apakah ibumu,“
„Sudah meninggal .....!“ sahut Pok Lian-Ci dengan rawan.
„Meninggal? Bu-song terharu juga. Masakan seorang dara yang masih begitu kecil sudah tak beribu lagi. Dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri. Ayahbundanya sudah meninggal. Bu-Beng-jin juga sudah berjanji pada kakeknya untuk dijodohkan padanya, ternyata hilang di gunung Thay-heng-san. Bu-song berlinang-linang ......
„Eh, mengapa kau? Bagaimana aku harus memanggilmu?“ seru si dara pula.
Bu-song tertawa rawan, „Tak apa-apa! Aku bernama Lu Bu-song, kita senasib sejak kecil akupun sudah kehilangan ayah bunda dan ikut kakek .........“ ia menunjuk pada jenggot perak „kenalkan, ini kakekku!
Pok Lian-Ci maju kehadapan jenggot perak serunya : „Kek ..... eh, bagaimana kupanggil Ya?“
Jenggot perak tertawa meloroh „ya, ya..... dengan siapa kau datang ke Tiong-Goan?“
„Dengan ayah!“ sahut si dara.
„Apakah ayahmu orang Monggol?“
„Bukan dia seorang Han!“
„Ayahmu kah yang mengajarkan kau memukul tambur?“
„Tidak, nenekku!“
„Nenekmu ?“ jenggot perak terkesiap, „Kalau begitu, nenekmu tentulah Dewi Tambur!“
Pok Lian-Ci bertepuk tangan „Tepat sekali dugaanmu, kek! Selain tambur, nenek juga pandai meniup seruling, memainkan harpa dan lain-lain ..... eh, apakah kakek kenal padanya?“
Jenggot perak gelengkan kepala. Telah lama kudengar namanya tetapi tak pernah berjumpa. Apakah dia sehat-sehat saja?“
Jenggot perak menghela napas. Tiba-tiba ia berseru : „Ayahmu?“
„Dia..... dia datang bersama aku ...... „katanya tergagap. Dara itu tak dapat berbohong. Walaupun sebenarnya ia mau mengatakan hall itu namun tak dapat juga ia menyimpan rahasia.
„Diman Ayahmu?“ mengapa tak ajak ia menjumpai aku!“ jenggot perak berseru tegang.
„Tidak!“ seru Pok Lian-Ci,“ Ayah mengatakan jika tak perlu ia tak mau menemui kakek. Sebenarnya aku tak boleh mengatakan tentang dirinya karena kuatir kakek mendampratnya!“
„Kalau begitu ayahmu itu .....“
„Juga tak boleh mengatakan namanya!“ tuka Pok Lian-Ci.
Mendengar Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun segera menghampiri. Dengan lemah lembut dibelainya rambut Pok Lian-ci. Katanya dengan halus, „Nah, jika kau mengaku mempunyai taci, mempunyai kakak, akulah bibimu!“
„Bibi!“ seru Bu-song tertawa riang.
Hun Tiong Sin-mo Cu Giok-bun sejenak bertkar pandan dengan Jenggot perak, lalu berkata kepada Bu-song : „Nak, katakan siapa nama ayahmu. Kita sekarang orang sendiri!“
Pok Lian-ci memeramkan matanya beberapa kali. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ragu-ragu. Akhirnya ia gelengkan kepala : „Tidak, aku tak boleh melanggar pesan ayah!“
Cu Giok-bun kewalahan. Katanya pula : „Bukankah ayahmu itu tokoh yang gemar memakai pedang besi yang batangnya digantungi kantong kecil berbentuk hati ......“
„Benar!“ teriak Pok Lian-Ci serentak, „Apakah bibi kenal padanya?“
Seketika berubahlah wajah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun „Tidak, aku tak kenal ..... mungkin dulu pernah kenal tetapi sekarang tidak!“
Pok Lian-ci memandang bibi itu dengan heran. Namun ia tak berani mengatakan apa-apa.
Siau-bun telah melihat perubahan air muka ibunya. Begitupun pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay dan Lu-Bu-song. Tetapi mereka tak berani bertanya.
Jenggot perak yang memecah kebuntuan dengan terbatuk-batuk, ujarnya „Eh, kau mempunyai seorang engkoh dan dua orang taci?“
Lian-ci tertawa, „Sekarang tambah dengan seorang taci lagi ....... tetapi ibuku hanya melahirkan seorang anak saja. Yang lain adalah setelah aku datang ke Tiong-goan, aku mendapat engkoh dan taci angkat .......“
„Apakah engkoh angkatmu itu kau dapatkan di gunung Thay-heng-san?“ tanya jenggot perak.
Lian-ci mengangguk.
Jenggot perak menghela napas. Tiba-tiba ia berpaling kepada Cu Giok-bun „Urusan ini masih penuh tabir kegelapan, kau ........“
„Tujuh belas tahun lalu, masakan aku masih mendendam hal itu?“ Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tertawa.
Jenggot perak tertawa juga : „Itulah baik, apabila dia benar Thiat-bing, tentulah dia juga menderita. Jika bertemu muka, kau harus mengalah ........ „kata-kata itu ia ucapkan dengan ilmu menyusup suara sehingga orang lain tak mendengarnya.
Cu Giok-bun tertawa rawan : „Memang, kini aku tahu bahwa dia bukan orang yang ytak setia. Karena perbuatan Ma Hong-ing yang mengadu domba sehingga kami suami isteri menjadi retak...“
Ia tak dapat melanjutkan kata-katana karena tersekat rasa haru.
Pok Lian-ci bergantian memandang pada jenggot perak dan Cu Giok-bun, serunya terbata-bata : „Bibi ..... kau kenapa? Apakah kau juga mempunyai kesedihan?“
Cu Giok-bun menghela napas, „Nak, bibi hendak bertanya padamu, maukah kau menjawab dengan terus terang?“
Lian-ci mengangguk, „Asal jangan menanyakan nama ayahku, tentulah akan kuberi keterangan sejujurnya“
„Tak usah kaukatakan hal itu. Cukup asal kau jawab apakah yang kukatakan itu benar atau tidak!“ Cu Giok-bun sejenak lalu berkata pula, „Bukankah ayahmu bernama Pedang bebas Pok Thiat-bing?“
Gemetar tubuh si dara mendengar pertanyaan itu. Serunya terkejut : „Bibi, kau .....“ „Apa yang kukatakan itu benar atau tidak?“ Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun mendesak.
Lian-ci terengah-engah napasnya seperti orang menghadapi soal sulit. „Benar sih benar, tetapi ayah melarang aku mengatakan!“ sahutnya.
Cu Giok-bun menghela napas, „Kalau kata-kataku itu benar, janganlah kau memanggilku bibi lagi, nak .....“
„Eh, habis bagaimana aku harus menyebut?“ si dara gugup.
„Panggil aku mama!“ seru Cu Giok-bun dengan nada mantap.
Bukan saja Lian-ci tetapi Siau-bun, Bu-songpun terbeliak kaget.
Siau-bun menarik ujung baju ibunya dan bertanya dengan tegang, „Ma, apakah ayah .......“
„Mungkin tak salah ......,“Cu Giok-bun menghela napas. „Kalau datang mengapa tak lekas menemui aku!“
„Mengapa aku harus menyebutmu mama? Mama ... sudah meninggal!“ teriak Lian-Ci. Cu Giok-bun tertegun „Apakah ayahmu tak pernah menceritakan?“
„Tidak!“ Lian-ci gelengkan kepala. Ia merenung sejenak lalu berkata pula : „Memang ibuku dulu pernah bercerita bahwa ketika tiba di daerah Se-hon ayah sakit berat. Tubuhnya kurus kering seperti tulang terbungkus kulit. Sudah 3 hari menggeletak di tepi telaga. Jika tak ketemu ibu, ayah tentu sudah mati!“
Cu-Giok-bun menghela napas. Ia bayangkan keadaan Pok Thiat-bing kala itu. Karena salah faham, Thiat-bing merantau ke Se-hek (Tibet). Bukan mustahil keadaannya menderita, jatuh sakit tiada yang merawat. Tentulah ia merasa berhutang budi pada puteri Dewi tambur (ibu Lin-ci) yang menolongnya. Kemudian mereka tentu menikah. Hal itu mungkin juga karena Thiat-bing tentu masih mendendam kepadanya. Kemungkinan Thiat-bing tak mau mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah beristeri Cu Giok-bun.
************
Eng-Hiong-Tay-hwe
Bebarapa saat Cu Giok-bun, Lian-ci, jenggot perak dan lain-lain, berdiam diri. Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng dan tambur. Itulah tanda pembukaan rapat Eng-hiong-tayhwe (Rapat besar orang gagah) akan dimulai.
Jenggot perak gelagapan „Bun-ji, dalam beberapa hal Thiat-bing patut dikasihani. Dalam Eng-hiong-tayhwe nanti mungkin kau bisa berjumpa ....“ Ia berhenti sejenak, katanya pula ; „Dahulu ayah yang menjodohkan sekarang ayahpun tetap hendak berusaha supaya kalian berkumpul kembali sebagai suami isteri.“
Tiba-tiba seorang lelaki berlari=lari mendatangi dan memberi hormat dihadapan Jenggot perak : „Subuh sudah lewat, apakah rapat akan dibuka menurut jadwal yang telah ditetapkan?“
„Seorang Satria harus pegang janji. Apalagi mengenai urusan yang sedemikian pentingnya. Rapat tetap dibuka tepat pada waktu yang telah ditetapkan!“
Li Cu-liong tersipu-sipu mengiakan. Ia menerangkan bahwa saat itulah rapat sudah harus dimulai.
„Apakah para tetamu sudah hadir?“
„Sudah 7-8 bagian yang hadir, tapi .........“ ketua Tiam-jong-pay itu sejenak memicingkan matanya, katanya : „Rombongan Sin-bu-kiong dengan Hek Gak belum nampak!“
Jenggot perak tertawa meloroh : „Jika mereka sungguh tak datang. Setelah mendapat persetujuan rapat, aku hendak mengajak sekalian tetamu untuk ngeluruk ke Sin-bu-kiong dan Hek Gak .......“
Jenggot perak segera ajak rombongan ke lapangan : „Ayo, kita bertemu dengan para kasatria-kasatria delapan penjuru angin!“
Bangsal pertemuan penuh dengan orang. Meja berhias hidangan-hidangan minuman arak dan makanan yang lezat. Perjamuan itu benar-benar merupakan pertemuan yang jarang terjadi beberapa puluh tahun. Sekalian orang gagah dari seluruh penjuru berkumpul jadi satu, sama lain menikmati hidangan dan menguji kesaktian.
Tetapi suasana perjamuan bukan diliputi kegembiraan melainkan kecemasan. Sekalian beberapa ratus orang yang hadir, tetapi suasananya sunyi-sunyi saja.
Pok Lian-ci memang masih kekanak-kanakan. Kalau-kalau orang-orang gelisah, sebaliknya dia malah gembira sekali. Sambil melonjak-lonjak seperti anak kecil, ia bertanya kepada jenggot perak : „Kek, apakah hari ini kau mengadakan ulang tahun?“
Ia teringat, dulu ketika neneknya (dewi tambur) merayakan ulang tahun, juga menyelenggarakan pesta besar.
„Bukan ulang tahunku tetapi kakek sedang mengundang tamu!“ jenggot perak tertawa.
„Mengundang tetamu?“ Lian-Ci heran.
Jenggot perak menyahut dengan nada mantap „Karena mengundang tetamu ini maka kakek sampai perlu datang dari tempat yang jauh.....“
Walaupun kata-kata itu ditujukan pada Lin-Ci tetapi sebenarnya jenggot perak hendak menumpahkan keresahan hatinya. Yang paling menjadi pikirannya ialah diri Bu-Beng-jin. Jika pemuda itu muncul dalam perjamuan nanti, bagaimana ia akan menyelesaikan mereka?
Dari keterangan Lian-ci, jelas bahwa Bu-beng-jin telah ditolongnya. Kemungkinan pemuda itu akan datang bersama dengan Pok Thiat-bing.
Saat itu jenggot perak sudah memasuki ruang pertemuan dan diantar Li Cu-liong ketempat duduk yang disediakan untuknya. Tempat itu adalah kursi pimpinan rapat. Letaknya ditengah. Disebelah kanan dan kiri, terdapat dua buah kursi yang kosong. Itulah kursi yang diperuntukan bagi Sin-bu Te-kun dan Ketua Hek Gak. Tetapi saat itu kedua tokoh tersebut belum juga mucul.
Sambil mengambil tempat duduk, bertanyalah jago tua itu kepada Li CU-liong : „Karena gara-gara partai Ji-tok-kau, wajah seribu sampai muncul selain itu apakah masih terdapat orangorang yang patut dicurigai lagi?“
Li Cu-liong buru-buru menyahut : „Dalam rombongan Partai Go-bi-pay terdapat 2 orang paderi yang tak diketahui asal usulnya. Rombongan lain tak sempat diselidiki....“ Rapat akan segera dimulai!“ seru jenggot perak.
Serentak Li Cu-liong loncat keatas sebuah meja kosong dan mengumumkan bahwa rapat Eng-hiong-tayhwe dibuka. Atas nama tuan rumah ia menghaturkan selamat datang kepada sekalian orang gagah. Ketua Tiam-jong-pay itu memiliki tenaga dalam yang kuat. Suaranya terdengar nyaring dan jelas. Pidatonya mendapat sambutan hangat dari hadirin.
Tetapi tidak semua orang gagah yang hadir disitu, simpati kepada Tiam-jong-pay. Mereka mempunyai prasangka yang jelek terhadap Hun-tiong Sin-mo yang ganas. Hubungan yang intim antara Hun-tiong Sin-mo dengan Thiat-hiat-bun dan Tiam-jong-pay, menimbulkan kecuriagan dalam hati mereka.
Dibawah meja tempat Li Cu-Liong berdiri, tampak 4 sosok mayat membujur. Ketika Li Cu-liong menerangkan bahwa korban-korban itu adalah anak buah partai Tiam-jong-pay yang diracuni oleh partai Ji-tok-kau, hadirin terdiam semua. Ada yang percaya ada juga yang takut memberi pernyataan karena kuatir membikin marah salah satu pihak.
Setelah Li Cu-liong turun, jenggot perak bangkit dan mengangkat cawan arak mengajak hadirin yang hadir untuk bersulang : „ Inilah yang pertama kali aku mengunjungi Tiong-goan. Pertama kepingin menyaksikan keindahan tanah Tiong-goan yanag termasyur dan kedua kalinya hendak mengikat persahabatan dengan para kasatria Tiong-goan. Maka dengan meminjam tempat di markas Tiam-jong-pay sini, kuselenggarakan perjamuan besar guna menghorma sekalian sahabat, atas kesudian dan penghagaan saudara-saudara untuk memenuhi undaganku, kuhaturkan banyak-banyak terima kasih dan marilah kita minum untuk keselamatan kita bersama!“
Jenggot perak hendak meminum arak dicawannya tetapi sekonyong-konyong terdengar suara orang membentak „ Tunggu!“
Suara lantang dan nyaring bagaikan genta bertalu, sekalian hadirin tersentak kaget. Jenggot perakpun melirik. Seorang paderi gemuk bangkit ditengah-tengah para hadirin dan berjalan kemuka.
„Toa-suhu hendak memberi pelajaran apa?“ tegur, jenggot perak.
Paderi itu tertawa dingin, „Ada beberapa hal yang loni yang tak mengerti dan mohon saudara memberikan penjelasan.“
„Dalam hal apa, silakan Toa-suhu mengatakan, „kata jenggot perak.
„Saudara adalah partai dari luar daerah. Tetapi saudara berani mengundang kasatria Tiong-goan berkumpul disini. Ini sudah tak menghormat. dan pula pada malam sebelum pembukaan rapat, saudara telaha membunuhi 40 orang partai Ji-to-kau. Tindakan itu jelas hendak saudara tunjukkan sebagai unjuk kekuatan. Untuk mematahkan nyali sekalian kasatria. Cara-cara serendah itu, apakah alasan yang hendak saudara kemukankan?“
Jenggot perak tertawa nyaring „Akupun hendak bertanya sepatah kata padamu, apakah kau bukan si wajah seribu?’
Memang paderi gemuk itu bukan lain adalah wajah seribu yang telah menyamar. Setelah dipukul mundur oleh ilmu Tambur dara Pok Lian-ci, dia terus menyusup kedalam rombongan partai Go-bi-pay.
Wajah seribu tertawa congkak, „Benar, matamu memang tajam. Kalau sudah mengenal aku, mengapa kau masih berlagak....“ Ia berkeliaran memandang keempat penjuru lalu berseru keras „Ho, apakah kau hendak mengelak dari pertanyanku tadi?’
„kalau kau sudah mengakui sebagai wajah seribu, aku hendak bertanya lagi!“ sahut jenggot perak.
„Silakan!“
„Dimanakah Sin-bu Te-kun sekarang?“
„mana aku tahu!“ jawab wajah seribu.
„Ada orang menyaksikan sendiri bahwa kau bernama Lam-yau, Pak-koay dan Bu-kiu-su-seng telah menggabungkan diri pada Sin-bu-kiong!“
„Entah yang keji!“ siapakah yang berani menghina begitu?“ teriak wajah seribu.
„Aku....!“ tiba-tiba terdengar suara nyaring disusul dengan melesatnya ssesosok bayangan berkelebat ketengah gelanggang.
Semua hadirin terkejut. Itulah pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay. Sekalipun dalam dunia persilatan partai Kay-pang itu tidak tinggi kedudukannya tetapi terkenal sebagai partai yang jujur dan adil. Thiat-ik-sin-kay adalah ketua angkatan tua dari Kay-pang. Mereka yakinkesaksian ketua Kay-pang itu tentu tidak bohong. Tetapi anehnya, soal masuknya wajah seribu kedalam Sin-bu-kiong itu tak membuat terperanjat sekalian hadirin. Hal itu dikarenakan sebagian tokoh-tokoh yang hadir tak mempunyai dendam permusuhan dengan Sin-bu-kiong.
Wajah seribu tertawa, „Nah, sekarang kau harus menjawab pertanyanku tadi!“
Berseru jenggot perak dengan nyaring. „Sekalipun kebinasaan rombongan partai Ji-to-kau itu karena perbuatan raja-kutu Coh seng, tetapi kaulah yang menjadi biang keladinya. Coh-seng hanya menerima perintahmu saja. Adapun mengenai kedatangaanku ke Tiong-goan sini, memang mempunyai dua tujuan. Pertama, hendak mengikat persahabatan dengan kaum kasatria daerah Tiong-goan dan kedua hendak membantu kasatria Tiong-goan membasmi dua benggolan yang mengancam keselamatan dunia persilatan.
„Siapakah yang kau maksud dua benggolan itu?“
„Hek Gak dan Sin-bu-kiong .....“sahut jenggot perak, yang pertama adalah seorang durjana ganas. Sepak terjangnya pada 60 tahun berselang tak mudah dilupakan kaum persilatan. Kini dengan tipu daya dia berhasil mengikat Ang-tim khong khek Bok Sam-pi. Membangun markasnya di gunung Tang-san dan bermaksud menguasai dunia persilatan. Sedang Sin-bu-kiongpun lebih licik dan hina lagi. Dia memfitnah memalsukan tanda panji Tengkorak darah agar kaum persilatan membenci Hun-tiong Sin-mo. Dengan memperoleh dukungan sekalian kaum persilatan dia hendak membasmi Hun-tiong Sin-mo kemudian merajai dunia persilatan. Apabila kedua durjana berhasil melaksanakan rencana, kaum persilatan pasti akan melewati hari-hari yang menyedihkan!“
Mata wajah seribu berkeliaran keempat penjuru. Ia tertawa senyaring-nyaringnya „Apakah sekalian hadirin percaya pada ocehan si tua bangka ini?“
Para hadirin tak berani menjawab. Mereka takut menderita akibat yang tak diinginkan.
Seketika berubahlah muka wajah seribu „Soal ini baiklah kita tangguhkan dulu. Sekarang aku hendak bertanya padamu .....“Ia berhenti dan tertawa, kemudian melanjutkan pertanyaannya „Apakah kau mengundang Hun Tiong Sin-mo?“
Jenggot perak terkesiap kemudian menyahut samar-samar „Benar!“
„Apakah saat ini dia juga hadir?“
„Tentu saja!“ sahut jenggot perak.
Keterangan ketua Thiat-hiat-bun itu menimbulkan kegemparan dalam rapat. Sekalian orang saling berpandang-pandangan, tetapi tak tahu mereka yang manakah tokoh Hun-tiong Sin-mo itu.
Kecuali beberapa gelintir tokoh persilatan boleh dikata kaum persilatan pada umumnya menganggap Hun-tiong Sin-mo itu sebagai tokoh dalam mitos yang ajaib. Tak seorangpun yang pernah melihat wajahnya.
Juga wajah seribu tak henti-hentinya menyapukan mata keempat penjuru. Serunya pula „Kalau dia benar sudah hadir mengapa tak diperkenalkan dengan sekalian hadirin?“
„Apa gunanya diperkenalkan? Apakah kau bersedia bertempur dengan sampai mati?“ sahut jenggot perak.
Wajah seribu berubah air mukanya. Disaat lain ia tertawa congkak, serunya „Memang aku mempunyai maksud begitu!“
„karena kau sendiri yang minta, biarlah kukabulkan permintaanmu itu!“ tiba-tiba terdengar lengkin suara wanita. Dan pada saat itu Hun-tiong Sin-mo Cu-Giok-bun melayang dihadapan wajah seribu.
Terdengar seruan tertahan dari mulut wajah seribu dan teriakan gemuruh dari para hadirin. Hampir tak percaya bahwa momok yang begitu dimasyurkan karena keganasannya ternyata hanya seorang wanita yang bertubuh langsing kecil.
Sesaat terbanguna dari ketertegunan, wajah seribu menghambur tawa nyaring „Siap kau? Anak perempuan dari Hun-tiong-Sin-mo, atau cucunya atau .....?“
„Aku ini Hun-tiong Sin-Mo!“ bentak Cu Giok-bun.
Ketika wajah seribu masih tertawa gelak „Aneh, siapakah yang tak tahu bahwa Hun-tiong Sin-mo seorang lelaki tinggi besar? Mengapa kini berubah menjadi seorang wanita....“
Cu-Giok-bun tertawa dindin „Dihadapan sekalian kasatria seluruh penjuru, biarlah kusingkapkan rahasia ini. Hun-tiong Sin-mo Teng lh hui adalah mendiang guruku. Sebelum menutup mata beliau telah menurunkan seluruh kepandaianya kepadaku. Beliau meninggalkan pesan bahwa turun temurun kaum Hun-tiong-san hanya boleh mempunyai seorang murid tunggal dan pewaris itu harus tetap memakai nama Hun Tiong Sin-Mo serta tinggal di gunung Hun-Tiong-san. Maka .....“
Sekalian orang gagah tebengong-bengong mendengar keterangan itu. Mereka setengah tak percaya.
„Ngaco belo, keterangan itu sukar kupercaya!“ teriak wajah seribu
„Kalau tak Percaya, mengapa kau tk coba-coba?’ Cu Giok-bun tertawa dingin.
„Baik, memang aku ingin menguji kesaktian kaum Hun-tiong-san yang disohorkan itu!“ wajah seribu tertawa seraya beringsut maju. Ia tetap tak percaya bahwa dihadapannya adalah Hun-ting Sin-Mo, maka ipun bersikap acuh tak acuh.
„Tetapi Hun-tionghu mempunyai sebuah anggar-anggar jika bertempur dengan orang, tak pernah membiarkan orang itu hidup!“
„Asal kau mempunyai kemampuan begitu, mati akupun rela!“ teriak wajah seribu. Tiba-tiba ia tamparkan tangannya dan serentak dengan itu tubuhnya berhamburan menjadi beberapa sosok bayangan.
Sekalian hadirin tercengang kaget.
„Baik akan kupenuhi keinginanmu!“ teriak Hun-tiong Sin-mo seraya mengahntam yang dihantam hanya bayangan saja. Padahal beberapa bayangan berhamburan menerjangnya, sehingga sekalian hadirin mengucurkan keringat dingin.
Dess..... terdengar bunyi mendesi dan beberapa sosok bayangan itupun lenyap. Cu Giok-bun dan wajah seribu sama-sama tegak ditempat tampaknya pertemuan pukulan itu berimbang kekuatannya.
Wajah Cu Giok-bun dingin membeku, serunya „Enam puluh tahun lamanya belum pernah anggar-anggar Hun-tiong-hu dilanggar. Coba saja apakah kau mampu anggar-anggar itu!“
Kelima jari dipentang dan cengkeramkan kepada lawan .....
Wajah seribu baru saja beradu pukulan dan insyaflah ia kan tenaga lawan. Meskipun pukulan lawan tak membuatnya mundur tetapi ia cukup tergetar hatinya. Jelas tenagaa pukulan lawan itu mengandung daya dorong tarik yang luar biasa.
Sebelum ia sempat menilai lebih jauh, cengkeraman jari Cu Giok-bun sudah merangsangnya. Tampaknya gerakan wanita itu biasa dan perlahan, tetaapi sebenarnya u-Giok-bun tengah melanjutkan jurus yang sangat ganas. Wajah seribu tak berani berayal. Cepat ia hendak menangkis, tetapi dia terlambat. Ilmu yang paling diandalkan hanyalah Pek-pian-mo-Ing, merubah diri menjadi seratus bayangan. Tetapi ia lupa bahwa lawan mahir juga ilmu melihat langit-mender-bumi, Pek-pian mo-ing tak berdaya sama sekali.
Cu Giok-bun telah melancarkan serangan sangat telengas sekali. Jauh lebih hebat dari pukulanpukulan yang dilepaskan jenggot perak tadi. Seketika wajah seribu rasakan dadanya sakit sekali. Tak dapat ia bertahan lagi. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah dan sempoyongan mau jatuh.
Hun-tiong sin-mo Cu Giok-bun loncat maju dan menyusuli pula dengan sebuah tamparan. Segumpal sinar merah menghambur, disusul dengan segulungan asap. Sebelum wajah seribu sempat mengerang dia sudah roboh ditanh menjadi sesosok tubuh yang telah hangus....
Hun tiong sin-mo telah gunakan ilmu pukulan Cek-Koay-ciang yang dilambari tenaga penuh. Pukulan pusaka hun-tiong-bu yang tak pernah gagal dalam 60 tahun.
Sebenarnya Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun sudah gemas dengan tingkah laku wajah seribu yang membakar markas besar Tiam-jong-pay. Tetapi karena selama itu ayahnya (jenggot perak) yang menghadapinya, ia tak mau menyinggung perasaan ayahnya dan biarkan sang ayah yang menyelesaikannya.
Tetapi kini dihadapan ratusan kasatria dari seluruh penjuru, wajah seribu berani meremehkan dirinya, benar-benar Tak dapat diberi ampun lagi. Untuk menegakkan kewibawaan. Hun tiong-hu yang sudah 60 tahun merajai dunia persilatan Cu Giok-bun terpaksa harus membunuh lawan.
Pemandangan yang sengeri itu membuat sekalian hadirin serentak berdiri. Mereka terkejut menyaksikan kesaktian Hun-tiong Sin-mo yang sedemikian hebatnya. Kini mereka baru terbuka matanya bahwa Hun tiong Sin-mo yang disohorkan itu ternyata memeang tak bernama kosong.
Jerit teriakan-teriakan ngeri, berkumandang memenuhi gelanggang pertemuan!
Bahkan jenggot perak sendiripun tak urung terkesiap dalam hati. Ia sangka bahwa anak perempuan memiliki ilmu pukulan yang sedemikian saktinya.
„Ayah tak kira kalau Hun-tiong Sin-mo memiliki pukulan yang sedemikian saktinya ,,,,,,.....!“
**********
bersambung .... (Lam yau dan Pak-Koay)
Lam-yau dan Pak-Koay
KINI BARULAH sekalian hadirin percaya bahwa wanita yan tegak ditengah gelanggang itu memang Hun-tiong Sin-mo.
Sekonyong-konyong terdengar serangkum gelak tawa yang riuh. Sekalian hadirin gempar. Sesat kemudian tampak serombongan orang masuk. Yang mengantar adalah beberapa anak buah Thiat-hiat-bun dan Tiam-Jong-pay. Dan yang diantar ternyata rombongan Sin-bu-kiong dan Gak Hek.
Berpulu-puluh anak buah Sin-bu-kiong dan Hek Gak dengan dipimpin sendiri oleh ketuanya, telah tiab! Jelas bahwa kedua partai memang telah bersepakat untuk datang bersama-sama. Dan jelas pula, bahwa kedua partai itu telah bertekad hendak menghadapi Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan Hun-tiong-hu.
Sesaat masuk diruangan pertemuan, ketua Hek Gak dan Sin-bu Te-kun segera memberi salam kepada hadirin, „karena ada urusan, kami terlambat datang, harap hadirin sekalian memafkan!“
Ucapan itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin. Karena rata-rata mereka ngeri dan benci melihat keganasan Hun-ting Sin-mo tadi.
Jenggot perak tertawa gelak „Kami kira saudara berdua tak sudi datang. Apabila demikian, sebenarnya kami hendak mengunjungi istana saudara. Siapa tahu ternyata sudara sudi memenuhi undangan kami sehingga kami tak perlu bersusah payah mengadakan perjalanan lagi!“
Marah besar Sin-bu Te-kun mendapat sambutan begitu serunya „Menekan kaum persilatan, mengganas partai Ji-Tok-kau dan merangkul momok Hun tiong- Sin-mo yang bergelimpangan darah. Hm, kedatanganku kemari adalah hendak membasmi baksil berbahaya dalam dunia persilatan!“
Jenggot perak melantang „Memalsu panji Tengkorak darah, memfitnah orang, membujuk kaum persilatan untuk mencapai tujuan menguasai dunia persilatan, itulah akal busukmu, hai setan laknat!“
„Percuma banyak bicara! Pepatah mengatakan kalau kau menang menjadi raja kalau kalah menjadi pecundang. Lebih dulu lenyapkan mereka saja .....“ tukas Hek Gak.
„Kau benar, Saudara Kong Sun ......“Sin-bu Te-kun cepat balas memutus omongan, kemudian ia menuding pada Cu Giok-bun „Hun Tiong Sin-Mo Teng Lh-hui sudah mampus. Jika Saudara Kong-sun hendak membalas hinaan dulu, balaslah pada wanita itu!“
„Siapakah dia?“ ketua Hek Gak terkesiap.
Sin-bu Te-kun tertawa „Dia adalah murid pewaris Hun-tiong Sin-mo Teng Lh-hui, atau anak perempuan ketua Thiat-hiat-bun!“
Tiba-tiba ketua Hek Gak tertawa mengekeh „Heh, heh, kiranya si tua Teng lh-hui itu sudah mapus?“
Ketua Hek Gak mendengus „Tentu! Setelah membunuh aku aku tetap masih akan ke gunung Hun-tiong-san untuk merangket mayat Teng Lh-hui sampai 300 kali ....“Tiba-tiba ia menuding pada Cu Giok-bun dan berseru memberi perintah „Lekas ringkus perempuan itu dan cincang dagingnya!“
Dua lelaki yang berdiri dibelakang, yang satu Bok-Sam-pi dan yang satu seorang tuan bertubuh kurus, segera melesat maju. Cu Giok-bun tertawa datar. Menghadapi Bok Sam-pi dan si tua kurus ia berseru „Jika kalian tak ingin cari mati, harap tinggalkan tempat ini sekarang juga!“
„Mah, hati-hatilah terhadap si gemuk. Dia adalah Ang-tim gong-kek Bok Sam-pi .....“ Buru-buru Siau-bun memberi peringatan kepada ibunya, „Dia diberi obat bius oleh Hek Gak hingga lupa ingatan!“
„Aku sudah tahu, kau urus dirimu sendiri sajalah!“ sahut Cu Giok-bun dingin.
Bok Sam-pi tak mau bicara. Diam-diam ia kerahkan Iwekang dan tiba-tiba menghantam. Juga si tua kurus tak bicara. Sepuluh jarinya yang runcing macam cakar segera dicengkeramkan. Gerakan itu menimbulkan angin mendesi-desi. Menandakan ilmu orang kurus itu telah mencapai tingkat yang tinggi.
Cu Giok-bun hanya mendengus. Ia gunakan telunjuk jari kiri dan pukulan tangan kanan untuk menagkis. Sekaligus ia menyambut dua buah serangan dari tokoh sakti itu.
Tiga tokoh yang berilmu sakti, berbarengan adu tenaga. Sekalian hadirin mengira bakal menyaksikan kejadian yang hebat. Tetapi alangkah terkejut mereka. Ketika tenaga ketiga orang itu salaing berbenturan diluar dugaan sebgain besar buyar lenyap. Tampaknya gerakan ketiga tokoh itu tidak menggunakan tenaga.
Tetapi dari wajah mereka bertiga berubah gelap, bahwa sebenarnya mereka sedang melakukan pertempuran yang dasyat. Dibanding dengan adu pukulan yang mengeluarkan suara dasyat lebih hebat beberapa kali.
Sebagian besar dari hadirin adalah jao-jago silat yang memilki Iwekang. Serentak mereka berdiri dan memperhatikan dengan seksama pada ketigaa tokoh yang sedang adu kekuatan itu.
Sin-bu Te-kun mengekeh sinis „Lu tua, kitapun jangan jadi penonton saja. Aku telah mengundang dua orang sahabat untuk mengadu kepandaian dengan kau!“
Jenggot perak tertawa „karena ada tamu agung, aku tentu akan melayani!“
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh lalu memberi isyarat kepada rombongannya „Orang tua ini adalah Thiat-hiat-bun. Jika kedua saudara suka, boleh bermain-main dengannya!“
Dua lelaki berwajah buruk macam siluman, melangkah kedepan. Mereka memberi hormat kepada jenggot perak, „Sebenarnya hasrat kami berdua saudara hendak mengukur kepandaian dengan Hun-tiong Sin-mo, demi membalas kematian wajah seribu. Tetapi karena Hun-tiong Sin-mo sudah ada yang melayani maka kami ingin bermain-main dengan saudara saja!“
Kedua orang perawakannya sama. Hanya yang satu berpakaian warna putih dan yang satu berwarna hitam. Sepasang mata mereka menonjol keluar rambutnya terurai sampai kebahu, sepintas pandang mirip dengan setan.
Jenggot perak tertawa nyaring, serunya „Lam-yau, Pak-koay, sungguh beruntung dapat berjumpa dengan kalian !“
Memang kedua orang itu berwajah seram adalah Lam-yau (Siluman Selatan) dan Pak-koay(manusia naeh dari utara). Jenggot perak maju selangkah jarnya „Karena saudara berdua mendapat perintah dari Sin-bu Te-kun, silakan saja..... aku tentu dengan senang hati melayani!“
Merah wajah kedua orang itu. Serempak mereka melengking, Ngaco! Cukup mengenal nama kami berdua kakak beradik saja masakan dapat diperintah orang!“
Sin-bu Te-kun tertawa nyaring „Harap saudara jangan pedulikan ocehan yang memanaskan dari setan tua itu. Aku pasti membantu saudara!“
Lam-yau dan Pak-Koay saling berpandangan. Sekejap merekapun menyerang berbarengan.
Gaya serangan mereka aneh sekali. Yang satu seperti cakar baja. Yang satu hendak menyerang dengan jari atau tinju tetapi dengan siku lengan. Keduanya mirip seperti orang tolol.
Jenggot perak tak berani menggunakan ilmu silat yang istimewa. Iapun serempak gerakkan kedua tangannya menyambut kedua lawan.
Dar ..... terdengar getaran keras dan ketiga tokoh-tokoh itu masing-masing mundur 3-4 langkah. Jelas bahwa kekuatan mereka berimbang.
Lam-yau dan Pak-Koay mengembor keras lalu ayunkan tubuh menerjang lagi. Jenggot perak pun tak mau kalah, ia juga mengerung keras dan menyosongsong serangan mereka.
Saat itu di gelanggang rapat Eng-hiong tay-hwe telah terjadi dua kelompok pertempuran yang dasyat. Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dikeroyok Bok Sam-pi dan Situa kurus. Jenggot perak dikerubuti lam-yau dan Pak-koay. Pertempuran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh itu, lain dari yang lain. Begitu dasyat dan rapat hingga sukar dipisahkan dan dibedakan datu dari yang lain.
Kesempatan itu tak disia-siakn ketua Hek Gak, ia segera menghampiri Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay „karena tak ada musuh, maka kaulah yang akan kuganyang!“
Kata-kata itu ditutup dengan sebuah pukulan dasyat. Li cu-liong tak berani berayal. Ia menyonsong dengan dua tangannya. Bum .... terdengar letupan keras dan Li Cu-liong terhuyung-huyung kebelakang. Hal ini jelas menunjukkan bahwa tenaga kedua ketua Tiam-jong-pay masih kalah dengan ketua Hek-gak.
Ketua Hek Gak tertawa mengekeh „Ho, kantong nasi yang tak berguna lekas serahkan jiwamu!
Berbarengan dengan itu ia loncat sengan mengirim pukulan. Pada saat Li Cu-liong terancam maut, sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan meluncur 4 sosok tubuh yang serempak menangkis pukulan ketua Hek Gak. Keempat orang itu ternyata Thiat-hiat Su-kiat atau 4 pahlawan Thiat-hiat-bun.
Betapun sakti ketua Hek Gak, namun ia tak mampu menahan tenaga 4 jago sakti dari Thiat-hiat-bun. Seketika ketua Hek Gak terhuyung-huyung kebelakang hampir saja ia roboh.
Melihat itu empat orang sucia dari Hek Gak pun tak mau tinggal diam. Mereka cepat loncat menerjang 4 sukiat Thiat-hiat-bun. Seketika suasana menjadi gaduh dengan pertempuran yang berkecamuk.
Sin-bu Te-kun tertawa mengekeh pula. Sekali lambaikan tangan, terdengar tambur berbunyi menggeuruh. Ternyata di dalam rombongannya pun terdapat bebarapa tokoh yang memilki ilmu Im-Im Sin-kang (suara sakti) delapan orang duduk sambil memukul tambur. Nadanya makin tinggi dan hati setiap orang yang berda disitu seperti dipalu....
Dara Pok Lian-ci sejak tadi terlongong-longong mengawasi ribut-ribut itu, tampak gelagapan. Buru-buru ia mengeluarkan tambur kecil dibelakang bahunya terus ditabuhnya. Sekalipun hanya sebuah tambur kecil tapi nadanya hebat sekali. Udara seolah-olah penuh dengan kumandang bunyi tambur dan bumi serasa bergetar-getar.
Kedelapan orang penabuh tambur dari rombongan Hek Gak tadi, segera hentikan pukulannya. Meskipun mereka tak dapat menahan desakan bunyi tambur si dara.
Pertempuran secra massal segera berlangsung. Ke 36 Tian-kong, 72 Te-sat dari Thiat-hiat-bun segera terjun dalam gelanggang, disambut oleh jago-jago Hek gak dan Sin-bu-kiong.
Sekonyong-konyong Sin-bu Te-kun memekik keras. Tubuhnya mencelat keudara dan dengan gaya Jip-hau-kin-kau ((masuk kelaut menangkap naga), ia meluncur kearah Bu-song dan Siau-bun.
„Cici Bu, lekas Tui-hong-kiongmu!“ seru Bu-song kepada Siau-bun. Dan ia sendiri sudah sambitkan 3 batang Hong-tahu-kiong (passer berkepala burung hong).
Siau-bun cepat melakukan seruan si dara. Serangkum passer Tui-hong-kiong (Pemburu angin) segera disambitkan.’
Sin-bu-te-kun hanya mengekeh, Ho, budak perempuan, kalian hari ini tentu mati ditanganku!“
Tubuhnya bergetaran diudara disusul oleh dering gerincing dari passer Hong-thau-kiong dan Tui-hong-kiong yang berhamburan, jatuh ketanah.
Medan perjamuan kacau seketika. Hadirin serempak bubar. Meja berantakan, hidangan tumpah ruah. Mereka menyingkir karena tak mau ikut bertempur.
Saat itu Bu-song dan Siau-bun terkesiap kaget. Untung saat itu pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay segera bertindak menolong. Ia loncat menghantam Sin-bu Te-kun.
Tetapi Sin-bu-Te-kun bukan tokoh sembarangan. Pengemis sakti Thiat-ik-sin-kay terpental satu tombak jauhnya. Bu-song dan Siau-bun mundur belasan langkah.
Sin-bu Te-kun makin merangsang. Ia lepaskan sebuah pukulan lagi kepada kedua nona itu.
Tiba-tiba diudara terdengar suara gemboran keras dan sesosok tubuh melayang. Ditengah udara orang itu lontarkan pukulan kepada Sin-bu Te-kun.
********
Reuni
Sin-bu Te-kun terkejut. Yang paling ditakutinya Thian-leng. Tetapi yang menyerangnya itu seorang yan tak dikenal iapun tak gentar. Menyerang dengan gemboran keras, ia memapakknya.
Iwekang yang dimiliki Sin-bu Te-kun sudah mencapai tingkat yang hebat. Jarang ada orang yang kuat menerima pukulannya. Apalagi pukulannya saat itu dilakukan dengan cepat dan keras. Kalau tak mati atau luka berat, tentulah orang akan mencelat belasan lagkah.
Tetapi orang itu hanya tertawa mengejek. Tidak mengkis melainkan melayang menghindar kesamping dan tetap melayang kesamping.
Kejut Sin-bu Te-kun bukan main. Ilmu pelajaran Im-hu Po-kip, mengutamakan kecepatan. Tak mungkin orang akan dapat menghindar. Tetapi lawannya dengan mudah dan leluasa menghindari, benar-benartak disangkanya.
Siau-bun dan Bu-song pun terkejut, mereka tak kenal siapa pendatang itu. Pengemis Thiat-ik-sin-kay sebenarnya handak mengur tetapi tak jadi.
„Siapa kau?“ bentak Sin-bu Te-kun
„Masakan kau tak dapat menduga!“ sahut orang itu dengan nyaring.
Sin-bu te-kun terbeliak. Ia hendak menjawab tetapi suasana pertempuran tiba-tiba berubah. Yang pertama loncat mundur ialah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Tetapi setelah loncat mundur ia hendak menyerang lagi. Tiba-tiba ia sangsi, berhenti dan berpaling.
Sebenarnya pertempuran Bok Sam-pi dan si tua kurus lawan Cu Giok-bun, masih berjalan seimbang. Sebenarnya kedua pengeroyk itu kewalahan. Melihat Cu Giok-bun tiba-tiba mundur, merekapun mendapat kesempatan untuk mengatur napas kembali.
Juga wajah jenggot perak berubah. Secepat kilat ia lontarkan 3 buah pukulan untuk mendesak mundur Lam-yau dan pak-koay, lalu jago Thiat-hiat-bun itu mengenjotkan tubuhnya keudara melayang disamping pendatang itu.
Lam-yau dan Pak-koay terkesiap. Merekapun memandang kepada pendatang dengan tercengang.
Pok Lian-ci juga hentikan tamburnya. Rombongan penabur dari sin-bu-kiong sudah tak kuat. Dara itupun tak mau mendesak.
Anak buah Thiat-hiat-bun, hung-tiong-san, Tiam-jong-pay Hek gak dan Sin-bu-kiong yang bertempur, karena melihat pemimpinya berhenti, ikut pula berhenti.
Kini seluruh mata ditumpahkan kearah pendatang tak dikenal itu.
„Thiat-bing .....!“ tiba-tiba jenggot perak berseru perlahan, nadanya rawan, mata berlinang-linang.
Memang orang itu ialah Pok Thiat-bing si pedang bebas. Juga Thiat-bing berkaca-kaca menyambut „Gak-hu......“
„Nak berapa tahun ini .........“
„panjang sekali ceritanya, tetapi siausay (anak-mantu) memang bersalah ........“Tukas Thait-bing.
Jenggot perak goyangkan tangan „sudahlah jangan kau ungkit masalah yang sudah berlalu. Asal kau tak kurang suatupun, sudahlah ....“ ia berpaling memandang Cu Giok-bun „Apakah kau tahu Giok-bun........“
„Ya, aku bersalah padanya, aku ....“ Yhiat-bing tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Sin-bu Te-kun tiba-tiba mendur selangkah dan menukas „O, kiranya kau pedang bebas Pok Thiat-bing....!“
„Kau baru tahu sekarang?“ thiat-bing menertawakan.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, „Tahu atau tidak penting. Aku hanya merasa kasihan padamu!“
„Ki Pek-lam!“ bentak Thiat-bing „Aku tak kenal padamu. Bagaimana si Ma Hong-ing bisa menjadi Gundikmu?“
Si-bu Te-kun tertawa mengekeh „Itulah yang kukatakan kasihan! Banyak sekali yang hal yang tak kau ketahui. Sekalipun kau merengek-rengek samapi mati, jangan harap kuberitahukan ...“ ia sejenak kecupkan mata dan menyambung pula „Kasihan puluhan tahun kau telah menderita .....“
„Tutup mulutmu!“ bentak Thiat-bing.
„O,o, apakah kata-kataku, menyinggung hatimu?’ Sin-bu te-kun mengejek.
Thiat-bing kerutkan kening „Asal kauserahkan Ma Hong-Ing, aku takkan memusuhimu!“
„Seumur hidup aku tak pernah menerima tekanan orang. Batapun pribadi Ma Hong-Ing, tetapi dia adalah permaisuri Sin-bu-kiong. Mana dapat kuserahkan padamu!“
„O, kalau begitu kau hendak bermusuhan padaku?“
„Bukan melainkan musuh, tetapi kita harus memutuskan siapa yang harus mati dan hidup .“ ia tampil selangkah, mendengus „Pok Tayhiap, ayolah mulai!“
Thiat-bing tertawa dingin „bukan karena kau tak sudi bertempur dengan kau, sebenarnya ...“
Sin-bu Te-kun tertegun, serunya „Bagaimana? Kecuali kau sudah menginsafi bahwa percuma untuk melawan,“
Thiat-bing tertawa „Aku kuatir sekali turun tangan nyawamu amblas. Pada hal jiwamu hendak kuserahkan pada orang lain ,.....“
„Pok Thiat-bing jangan kelewat sombong!“ bentak Sin-bu te-kun dengan murka, cepat ia mengahntam dengan pukulan Him-im Ciang.
Ilmu Pukulan Him-im-ciang sebenarnya tergolong Im-ki-han-sin-kang (ilmu sakti iwekang dingin). Sin-bu Te-kun telah mempelajari isi kitab im-hu-po-kip. Dan ia gunakan tenaga penuh dalam pukulannya itu. Sekaipun tampaknya tidak begitu dasyat, tetapi dayanya bukan main. Sekaligus dapat meremukkan 10 jago sakti.
Selingkaran dua tombak luasnya, saat itu terbaur oleh hawa dingin yang menusuk tulang sehingga semua orang yang berada disitu menggigil.
Thiat bing kerutkan dahi, ia tahu pukulan lawan sukar dihindari. Ia harus menangkisnya. Tetapi sebelum bertindak tiba-tiba terdengar getaran keras dan Sin-bu Te-kun terhuyung-huyung samapi 7-8 langkah jauhnya.
Kiranya serangkum tenaga kuat tiba-tiba meluncur dari udara dan membentur pukulan Sin-bu Te-kun. Itulah itulah tenaga pukulan Hian-im-ciang yang hebat. Datangnya pukulan itu benar-benar tak terduga-duga sama sekali. Sin-bu Te-kun tak mampu mendengarkan sama sekali. Untuk menghantam Thiat-bing ia sudah memperhitungkan bahwa takkan ada orang yang membantu lawan. Jenggot perak yang berada disamping thiat-bing pun tak nanti dapat mengimbangi kecepatan serangannya itu!
Tidak saja Sin-bu Te-kun, tetapi semua yang hadirpun kaget. Mereka menjerit terkejut.
Sesosok bayangan biru meluncur turun dari udara, tegak berdiri ditengah-tengah Sin-bu Te-kun dan Thiat-bing.
Kang Thian-leng .....
Bu-beng-jin, memang telah kuduga tentu kau!“ teriak Sin-bu Te-kun dengan murka.
Thian-leng telah melayang dari jarak 10 tombak jauhnya. Tetapi ia dapat menghantam Sin-bu Te-kun samapai beberapa langkah.
„Aku bukan Bu-beng-jin lagi“ sahut pemuda itu.
„Lh, apakah kau sekarang sudah mempunyai nama? Siapakah namamu?“ ejek Sin-bu Te-kun.
„Ha ha, h hahahaha „ Si-bu Te-kun tertawa gelak, Oh, kiranya begitu, kau ....“
„Memakai nama ayah angkatku, apa salah?“
„baik, taruh kata kau Pok Thian-leng, tetapi ayah bunda kandungmu.....“
„Setan tua, kau berani mengoceh tak karuan? Hari ini hendak kucincang tubuhmu sampai lebur!“ bentak Thian-leng dengan bengis walaupun diam-diam hatinya pedih. Karena apa yang dikatakan Sin-bu-tekun memang nyata. Sampai saat itu ia belum mengetahui asal usul dirnya.
Begitu pula Sin-bu Te-kun. Sebenarnya ia juga kebat-kebit mendengar ancaman Thian-leng. Ia ingat kepandaiannya sekarang kalah dengan pemuda itu. Dan pula melihat pertempuran tadi, tak memberi keuntungan baginya.
„Rupanya kau mengandalkan ilmu dari It-bi siangjin!“ serunya.
Begitulah!“ sahut Thian-leng.
„kalau begitu pukulanmu tadi ...“
„Ya, benar! Itulah yang disebut Coan-hun-kang (pukulan menmbus awan). Dalam jarak 10 tombak dapat menghantam mati orang. Ilmu lainnya kau tak pernah mendengar!“
Sin-bu te-kun terkesiap tetapi cepat ia tertawa „jangan membual!’ sekalipun ilmu pelajatan It-bi Siangjin tinggi, tetapi belum yentu sesakti itu „ paling-paling kamu hanya mempelajari beberapa jurus permainan saja!“
„Hm, sejak dulu kala siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan?“ Thian-leng tertawa mengejek.
„Ya, memang hanya It-bi siangjin seorang,“ Sin-bu Te-kun menghela napas.
Sejenak menyapu pandangan se sekeliling medan perjamuan, berkatalah Thian-leng „Aku tak mau banyak bicara dengan kau. Pertaruhan 100 juruskita dulu, masih kurang 8 jurus. Sekarang dihadapan para tokoh-tokoh persilatan, seharusnya kita selesaikan!“
Wajah Sin-bu Te-kun berubah, Dahulu kau pun pernah minta-minta supaya diundurkn, bukan?“
„Jika kau minta mundur, akupun tak keberatan!“ sahut Thian-leng. „Tetapi sebutlah waktu dan tempatnya!“
Sin-bu Te-kun tertawa „Baiklah, nanti 10 hari lagi kutunggu kedatanganmu di istana si-bu-kiong ?“
„dan menyelesaikan sisa 8 jurus itu?“
„Bukan melainkan 8 jurus itu saja, pun semua kepandaianmu boleh kau keluarkan !“ seru Sin-bu Te-kun dengan garang.
Thian-leng tertawa mengejek „Baik, kali ini kau ku ampuni jiwamu!“ ia melirik tajam kepada lawan, serunya „Tetapi apakah Cianpwe2 mau memberimu ampun atau tidak, terserah saja, aku tak berani mencampuri!“
Jenggot perak memandang sejenak kepada Pok Thiat-bing, Cu Giok-bun dan lain-lain, lalu tertawa terbahak-bahak „dalam hal ini aku tidak dapat memberikan keputusan. Kita setujui 10 hari lagi ke Sin-bu-kiong, bahkan aku bersedia jadi saksi!“
Semua orang terdiam.
Thiat-bing dan Cu Giok-bun diam-diam mengerti bahwa ayah mereka tentu sudah mempunyai rencana. Pertama supaya mereka segera berkumpul lagi sebagai suami isteri. Kedua, supaya lekas dapat mencari Ma Hong Ing. Karena hanya wanita yang beracun lidahnya itu dapat diketahui duduk perkara yang sesungguhnya. Dan ketiga, soal Thian-leng dengan Siau-bun dan Bu-song harus segera diselesaikan juga.
Diantara selkalian orang, Bu-songlah yang mempunyai pikiran tersendiri. Setelah mendapat keterangan dari jenggot perak bahwa Thian-leng mati di tangan Bo Sam-pi, bencinya terhadap Bok Sam-pi meluap-luap. Bu-song memutuskan, apabila Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dapat membunuh Bok Sam-pi, ia hendak mencincang tubuh si gemuk itu. Tetapi andaikata Cu Giok-bun kalah, Bu-song bertekad hendak mengadu jiwa dengan Bo Sam-pi.
Diluar dugaan Thian-leng telah muncul tak kurang suatupun, bahkan membawa kesaktian yan mengagumkan, Bu-song sampai termenung-menung tak dapat bicara.
Juga siau-bun tak kurang girangnya. Hampir saja ia tak dapat mengendalikan diri untuk menghampiri pemuda itu. Tetapi karena malu dengan sekian banyak orang, terpaksa ia hanya berdiam diri. Paling-paling ia mencuri kesempatan melirik pemuda itu.
„kalau begitu aku pulang dulu!“ dengan gaya garang Sin-bu Te-kun untuk menggunakan kesempatan menghindar.
Jenggot perak tertawa „dari jauh-jauh saudara datang kemari, mengapa buru-buru pulang?“
Sin-bu Te-kun terbeliak „Apkah kau hendak mengajukan acara lain lagi?“
Jenggot perak tertawa „jangan kuatir, sahabat! Sekali sudah kusetujui pengunduran 10 hari itu tak nanti aku berubah pikiran“ ia berhenti sejenak lalu berkata pula „Meskipun medan perjamuan ini sudah morat-marit tetapi dalam setengah jam saja dapat diatur rapi lagi. Mengapa saudara tak mau menghadiri perjamuan para kasatria ini?“
Kerut wjah Sin-bu Te-kun agak mengendor, ujarnya „Terima kasih, tetapi lebih baik aku pulang saja!“ tanpa menunggu sahutan dari orang lagi segera ia melangkah pergi, berhenti didepan ketua Hek Gak, ia gunakan ilmu menyusup suara „Situasi berubah begini, apakah saudara Kon-sun masih mempunyai rencana lagi?“
Tiang andalan ketua Hek Gak hanyalah Bok-sam-pi. Tetapi ternyata walaupun Bok Sam-pi maju bersama dengan si tua kurus, tetap tak dapat mengalahkan Hun Tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Diam-diam hati ketua Hek Gak sudah tergetar. Apalagi Pok Thiat-bing dan Thian-leng berturut-turut muncul. Nyali ketua Hek Gak makin kecut dan rontok.
„Saudara masih mempunyai penyakit dari 60 tahun berselang „Sin-bu Te-kun tertawa „Nafsu besar tetapi nyali kecil. Jika mempunyai rencana untuk menguasai dunia persiltan, tak boleh tanggung-tanggung dalam menghadapi kesulitan!“
Merah muka ketua Hek Gak, serunya „Bagaimanakah pendapat saudara Ki?“
„Terus terang, aku sudah mempunyai rencana untuk mati bersama-sama mereka!“
Mendengar itu ketua Hek Gak terbeliak, tetapi cepat-cepat ia mengas „Bagaimana caranya?“
„Telah dapat kumundurkan pertempuran kita sampai 10 hari lagi dan tempatnyapun kupilih di Sin-bu-kiong. Lihat saja apakah mereka nanti dapat keluar dari Sin-bu-kiong masih bernyawa!“ sahut Sin-bu Te-kun dengan bangga.
„Apakah saudara maksud...“
„Harap saudara Kongsun jangan mendesak pertanyaan lagi. Maksudku hanya hendak membantu saudara membuka jalan hidup!“
„terserah pada kebijaksanaan sudara!“ buru-buru ketu Hek Gak menbut dengan nada setengah merintih kasihan.
Sin-bu Te-kun tersenyum „Asal saudara Konsun mau meluluskan sebuah syaratku, kutanggung Hek Gak tentu takkan hancur bahkan dapat bangkit kembali menegakkan keharuman nama di dunia persilatan!
Jangan kan hanya itu sepuluh buah permintaan aku sedia menyanggupi!“ sahut ketua Hek Gak
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berganti nada serius „Asal suka mengajak anak buah saudara berkumpul di Sin-bu-kiong, kutanggung harapanmu tentu terlaksana....“ ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan „Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Asal kita bersatu, siapakah yang mampu menandingi? Harap saudara memberi keputusan!“
Ketua Hek Gak Kerutkan wajah dan menyahut terkait-kait „Ini ..... sebagai ketua Hek Gak aku ......“
Permintaan Sin-bu Te-kun itu berarti Ketua Hek Gak takluk pada Sin-bu Kiong. Suatu hal yang terlampau berat bagi Ketua Hek Gak.
„bagaimana? Apakah saudara keberatan?“ Sin-bu Te-kun mendesak.
„Ya,ya, setuju, setuju .....“ Akhirnya dengan wajah meringis ketua Hek Gak menyahut „memang seharusnya kubantu kesulitan saudara dalam pertempuran di Sin-bu-kiong nanti!“
Sekalipun kedudukannya terpojok, namun tentu Ketua Hek Gak masih berusaha untuk menjaga gengsi dengan ulasan kata-kata garang.
Tiba-tiba wajah Sin-bu-Te-kun mengerut gelap, ujarnya „Mungkin saudara belum menangkap kata-kataku. Maksudku agar saudara menggabung pada Sin-bu-kiong atau jelasnya supaya Hek Gak masuk menjadi anak buah Sin-bu-kiong. Segala apa harus menurut perintahku .....“ ia berhenti sejenak, katanya pula „Tetapi hendaknya saudara Kong-sun jangan cemas. Semuanya hanya rencana semnetara. Begitu sudah berhasil dunia persilatan akan menjadi kekuasaan Hek Gak dan Sin-bu-kiong! Aku pasti taka akan ....“
Walaupun dalam hati benci sekali namun ia tak berdaya dan terpaksa batuk-batuk, „Ya, ya, aku menurut saja!“
Percakapan yang dilakukan oleh kedua tokoh itu menggunakan ilmu menyusup suara. Sehingga orang lain tak mendengar sama sekali. Tetapi dikarenakan memakan waktu lama, Thian-leng pun tak sabar lagi, bentaknya „Kalau tetap tak lekas enyah, jangan menyesal kalau keputusanku berbalik tak menguntungkan dirimu!“
Ia menutup peringatannya dengan sebuah tamparan, terdengar seru angin menggelegar dan teriakan kaget adari hadirin....
Kiranya tamparan yang ditujukan pada Sin-bu- te-kun itu tidak langsung dikenakan orangnya melainkan pada sebelahnya.
Seketika tanah seluas 2 meter disi dari Sin-bu-te-kun meranggas hangus. Sampau beberapa lama api baru padam. Kejut sekalian orang bukan kepalang „pukulan yang dapat membakar tanah .... Di dunia persilatan tak mungkin ada orang lain yang mempunyai pukulan semacam itu.
Sin bu Te-kun mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat tenangkan hatinya. Dengn dengusan mengejek yang sengaja untuk menutupi ketakutannya, segera ia putar badan dan melangkah pergi.
Tiba-tiba terdengar raungan macam singa. Sesosok tubuh gendut loncat kemuka Thian-leng.
Thian-leng terkesiap, serunya „Lo-cianpwe“ apakah kau sudah sembuh?“
Kiranya yang tegak dihadapannya itu adalah Bok Sam-pi, tokoh yang bertubuh gemuk.
„Buyung, ayo kita bertanding sejurus lagi!“ Bok Sam-pi menggerung. Walaupun limbung tetapi ia masih ingat akan pertempuran di gunung Thay-heng-san tempo hari. Walaupun karena memperdalam ilmu ajaran It-bi siangjin sehingga Thian-leng lebih parah lukanya, tetapi Bok Sam-pi juga harus beristirahat lebih dari sebulan untuk memulihkan lukanya.
„Bok Cong-Houhwat!“ cepat-cepat ketua Hek Gak meneriaki.
„Ya, hamba disini!“ Bok Sam-pi tertegun.
„Sebelum mendapat perintahku, tak boleh bertindak sendiri, mengapa kau ......“ :Dalam kedudukan sebagai guru dan murid, siapakah yang harus mendengar perintah?“ diluar dugaan Bok Sam-pi marah.
Jago tua itu semalam hidup jarang menderita kekalahan. Benci terhadap Thian-leng benar-benar merasuk ketulang ia tak menghiraukan peringatan ketua Hek Gak Lagi.
Ketua Hek Gak makin gelisah. Ia tahu bahwa jika kalian Bok Sam-pi berani menmpur Thian-leng tentu akan kalah. Andalan satu-satunya hanyalah pada Bok Sm-pi. Jika Bok Sam-pi sampai kena apa-apa ia tentu kehilangan andalan.
„LO-cianpwe apakah kau tak ingat pada cucumu Bok Ceng-ceng?“ masih thian leng bersabar. Dia berusaha hendak menyadarkan ingatan jago tua itu. Mungkin dengan mengemukakan Ceng-ceng, Bok Sam-pi akan pulih kesadarannya.
Diluar dugaan usaha Thian-leng itu malah menimbulkan kebalikan. Bok sam-pi marah sekali dan membentak-bentak „Siapa suruh mengatakan anak perempuan itu!“ sekonyong-konyong ia menghantam.
Thian-leng tahu bahwa orang tua itu masih limbung ingatannya. Maka ia tak mau menandingi dan hanya menghindar kesamping saja.
Bo sam-pi terkesiap. Ia kaget menyaksikan kegesitan si anak muda itu menghindar. Tubuh Thian-leng berputar-putar seperti angin dan tahu-tahu sudah beberapa meter disebelah kirinya.
„Suhu!“ kembali Hetua Hek Gak berteriak dengan cemas.
Tetapi Bo sam-pi tetap tak menghiraukan dan membentak Thian-leng „Buyung, mengapa kau tak berani menyambut pukulanku!“
„Lo-cianpwe aku tak bermusuhan denganmu. Mengapa li-cianpwe berkeras hendak membunuhku?“
Sebenarnya Sin-bu Te-kun sudah melangkah pergi tetapi Bok Sam-pi menantang Thian-leng, ia hentikan langkahnya dan mengikuti perkelahian itu. Ketika melihat ketua Hek Gak gelisah, segera ia menghampirinya.
„Saudara Kong-sun, apakah obat pembius sudah punah dayanya?“ tegurnya dengan ilmu menyusup suara.
Ketua Hek Gak Menggeleng „Tak mungkin! Kekuatan obat dapat bertahan sampai petang hari!“
„kalau begitu ............“
****************
bersambung ke jilid 13
bagaimakah kisah selanjutnya, apakah Thiat-bing dan Cu- giok-bun akan bersatu lagi, bagaimana nantinya pertemuan antara Thian-leng, Bu-song dan Siau-bun dengan kisah cinta mereka dan rencana ketua Sin-bu-kiong dan Ketu Hek Gak akan terlaksana nantikan jilid selanjutnya
This entry was posted
on Rabu, Juli 21, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Panji Tengkorak Darah
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar