Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 16
Toa-congkoan ini tak bisa berbuat apa-apa-apa dia cuma menghela napas jengkel dan penasaran. Tiba-tiba ia merasakan pundaknya sakit, segera dia buka bajunya dan melihat dua tapak biji catur yang berwarna merah di kedua pundaknya. Masih untung senjata itu tak beracun. Kalau beracun tentu kedua tangannya sudah tak dapat digunakan lagi...
Dengan diliputi penasaran yang sangat gusar, Thio Yu Liang melarikan kudanya lagi, dia berusaha untuk mengejar terus. Dia yakin, sejauh-jauhnya pemuda baju putih itu menyingkir, toh akhirnya akan beristirahat juga.
Thio Yu Liang berharap masih bisa mengejar pemuda yang tampaknya masih belum hilang bau pupuknya tapi lihay ilmu silatnya itu...
Yap Cu Siang yang menggemblok di punggung kuda, merasakan seperti juga dibawa terbang di udara. Hatinya berdebar-d-bar, ia tak nyana seekor kuda dapat berlari sedemikian cepat. Selagi ia mau menengok ke belakang untuk menghaturkan terima kasih kepada penolongnya, kuda itu melompati suatu selokan dan hampir-hampir ia jatuh terpelanting. Buru-buru ia menjepit perut kuda terlebih keras dan tidak berani menengok ke belakang.
"Jangan bicara ! Hati-hati !" membentak si baju putih sembari memecut udara dan kuda itu lantas saja lari terlebih keras
Tak lama kemudian fajar sudah menyingsing dan sibaju putih menahan kudanya. "Sekarang sudah boleh berhenti," katanya sembari meloncat turun dari kudanya dengan paras muka tidak berobah dan napasnya juga tidak tersengal-sengal.
"Kuda ini benar-benar kuda yang bagus dan jarang terdapat dalam dunia." memuji Yap Cu Siang kagum memandang kuda itu-Kemudian: "Apa sekarang aku boleh mengetahui nama tuan yang mulia ?"
Pemuda baju putih tak menyahut. Mendadak tangannya dilonjorkan dan golok Bianto yang tergantung di pinggang Yap Cu Siang sudah pindah kedalam tangannya. Bagi seorang ahli silat, melindungi senjatanya adalah satu kebiasaan yang otomatis.
Begitu tangan si baju putih menyambar, tangan Yap Cu Siang pun bergerak, tapi ia kalah cepat dan dilain saat, pemuda itu sudah menyekal Bianto dan mengawasi senjata itu dengan paras muka bersangsi, mukanya berobah. Dia mengamat-amati dua tulisan pada samping gagang golok sebelah bawah: "Yang-kee" (Leluhur Yang).
Yap Cu Siang terkejut.
"Dari mana kau dapat golok mustika ini ?" menanya si baju putih.
"Ini adalah golok Yang Bu In," jawabnya.
Muka si baju putih berobah, matanya tampak berkilat tajam memandang Yap Cu Siang.
"Yang Bu In dari kota Siauw An (sekarang Leng-an) di jalan Yang-ceng ?" menegasi pemuda baju putih.
Yap Cu Siang heran, dia mengawasi si pemuda, kemudian mengangguk.
"Ya," jawabnya kemudian.
Kenapa Yang Bu In menyerahkan golok leluhurnya kepadamu ?" tanya si pemuda.
"Yang Bu In sekeluarga terfitnah, dianiaya orang-orang congtok dan semua itu atas perintah kaisar," menyahuti Yap Cu Siang. Sekeluarga Yang Pehpeh ditangkap dan sekarang ditahan oleh congtok di Leng-an, atas tuduhan Yang Pehpeh diam-diam memihak pada... pada..."
Yap Cu Siang ragu ragu, pemuda baju putih mengawasi tajam. "Pada siapa ?" tanyanya.
"Pada Giam Cu, yang kini tentaranya mulai bergerak dari utara..!" melanjutkan Yap Cu Siang.
"Apakah benar Yang Bu In membantu Giam Cu ?" tanya pemuda baju putih itu.
Yap Cu Siang kembali ragu-ragu. la tidak kenal pemuda baju putih ini. bagaimana ia bisa bicara terus terang ? Tapi, ingat pemuda baju putih ini telah menolongi jiwanya, segera dia bicara terus terang: "Benar ! Setengah tahun yang lalu Yang Pehpeh telah menyumbang selaksa tail untuk mengurangi beban Giam-Cu terhadap belanja tentara pencinta negeri. Bahkan, Yang Pehpeh sudah menjanjikan pada akhir tahun ini akan menyerahkan seluruh harta miliknya yang ada untuk bantu perjuangan Giam Cu, bahkan ia sendiri akan ikut dalam pasukan Giam Cu. Tapi siapa sangka... siapa sangka anjing-anjing Kaisar telah mencium semua itu, sekeluarga Yang Bu In ditangkap..!"
"Hemmm, kapan ditangkapnya?"
"Seminggu yang lalu... itupun atas perintah firman kaisar yang dibawa Kim-cee (utusan Kaisar), yang kini masih berdiam di Leng-an."
"Di mana Yang Bu In ditahan sekarang?" tanya pemuda baju putih itu lagi.
"Di markasnya tiekoan !" menyahuti Yap Cu Siang.
"Selain Yang Bu In, siapa-siapa saja keluarganya yang ditawan ?"
"Yang Pehpeh suami isteri, beberapa orang pelayan, mungkin berjumlah delapan orang."
"Kabarnya Yang Bu In mempunyai seorang puteri, bahkan sudah menikah. Bagaimana dengan puteri dan mantunya ?"
Yap Cu Siang memandang curiga pada pemuda baju putih itu, ia ragu-ragu. Bagaimana pemuda baju putih ini bisa mengetahui begitu jelas tentang keluarga Yang ? Golok leluhurnya, puterinya, mantu dari keluarga Yang..."
"Mereka... mereka sedang berkelana, sehingga lolos dari jaring orang-orang tiekoan dan para pahlawan istana kaisar... yang saat itu ikut mengepung gedung Yang Pehpeh," akhirnya Yap Cu Siang memberikan keterangannya juga. "Hanya sayang, usahaku untuk menolongi Yang Pehpeh dan isterirya gagal, sehingga aku dikejar dan dikuntit oleh anjingnya Kaisar yang tadi telah dihajar oleh In-jin (tuan penolong). Aku bermaksud cepat-cepat memberi laporan kepada Giam Taijin ..."
Pemuda baju putih itu menghela napas, menghunus Bianto yang lalu disabetkan ke udara beberapa kali. la mendongak dan tertawa berkakakan, tertawa yang nadanya menyayatkan hati. la memang pernah melihat golok ini, diperlihatkan oleh Yang Bu In. Benar Yang Bu In mempergunakan pedang sebagai senjatanya, karena ia meyakinkan ilmu pedang, tapi golok Bianto ini adalah golok warisan leluhur yang dihormati keluarga Yang.
Beberapa tahun yang lalu ia pernah bersama Yang Bu In dan keluarganya melihat golok leluhur keluarga Yang beberapakali, karenanya segera ia bisa mengenali golok Bianto ini waktu pertamakali melihatnya di tangan Yap Cu Siang.
"Bagus !" ia berseru. "Biar bagaimana, pun juga Yang Bu In tidaklah mengecewakan, la tidak mensia-siakan harapan rakyat dan juga Giam Cu Tayjin !"
Yap Cu Siang tergoncang hatinya dan mendengar perkataan sipemuda baju putih tampaknya ia mempunyai hubungan yaug rapat dengan keluarga Yang Bu In.
Pemuda itu lalu memasukkan Bian-to ke dalam sarungnya dan gantung senjata itu dipinggangnya sendiri.
"Mohon tuan sudi mengembalikan golok itu kepadaku," kata Yap Cu Siang.
"Kenapa ?" ia menanya.
"Aku dapat mengerti jika In-jin (tuan penolong) menyukai golok ini," kata Yap Cu Siang. "Semenjak dulu orang kata: Golok mustika harus diserahkan kepada orang gagah, pupur wangi harus dipersembahkan kepada wanita cantik. Menurut pantas memang aku harus mempersembahkan senjata itu kepada In-jin. hanya sayang, sungguh sayang, waktu terakhir kali aku bertemu Yang pehpeh sudah berpesan kepadaku supaya menyerahkan golok itu kepada orang lain dan disebelan itu. didalamnya tersembunyi satu urusan besar.
"Urusan apa ?" menanya si baju putih dengan suara tawar.
"Golok ini harus kuserahkan kepada puteri dan mantu Yang Pehpeh, yaitu Yang Lan lihiap dan Khang Thiam Lu, suaminya."
"UntuK apa diserahkan kepada Yang Lan lihiap dan suaminya ?" tanya pemuda baju putih itu.
"Sebagai bukti atas seluruh keterangan yang akan kusampaikan kepadanya, juga meneruskan pesan Yang Pehpeh, agar Yang Lan lihiap bersama suaminya bersama-sama pergi menemui Giam Cu Tayjin, untuk membantu perjuangan Giam Tayjin melawan Kaisar penjajah !"
Pemuda baju putih itu menghela napas, dia menggeleng perlahan. "Biarkan golok ini kuserahkan sendiri kapada Yang Lan lihiap. Sekarang terpenting adalah menolongi Yang Pehpeh !" katanya.
Yap Cu Siang ragu-ragu.
"Siapakah In-jin sebetulnya ?" Tanya Yap Cu Siang akhirnya.
Pemuda baju putih itu memberitahukan namanya sambil bersiap-siap untuk berangkat melompat keatas kudanya. Temyata pemuda baju putih itu tidak lain Giok Han.
"Naiklah," katanya sambil menepuk punggung kudanya menganjurkan Yap Cu Siang. Tanpa berayal lagi Yap Cu Siang melompat kebelakang punggung kuda itu, yang kemudian dilarikan Giok Han mutar kembali menuju ke Leng-an.
Dengan kudanya yang bisa lari sangat cepat, dalam dua hari Giok Han berdua Yap Cu Siang sudah sampai dipintu kota sebelah timur.
Sudah hampir empat bulan Giok Han turun gunung, karena Tai Giok Siansu anggap seluruh kepandaian sudah diwariskan kepadanya dan sudah waktunya pula muridnya ini turun gunung, selain mencari tambahan pengalaman, juga untuk menyelidiki perkembangan terakhir. Yang diutamakan dalam pesan Tai Giok Siansu sebelum keberangkatan Giok Han, muridnya harus menyelidiki keadaan negeri pada saat itu dan apa saja yang dilakukan oleh Tang San Siansu!
Tugas lainnya, kalau memang keadaan memaksa. Giok Han harus segera membantu perjuangan Giam Cu, Tugas yang dipikul oleh Giok Han bukanlah tugas yang ringan, karena selain ia harus menyelidiki tentang Tang San Siansu, juga membantu perjuangan Giam Cu.
Menyelidiki tentang Tang San Siansu memiliki hubungan erat dengan persoalan yang mengancam keselamatan Siauw Lim Sie, sedangkan tugas menghubungi Giam Cu memiliki kepentingan yang jauh lebih penting lagi yaitu untuk membantu perjuangan para pencinta negeri mengusir Kaisar penjajah itu !
Waktu pertama kali turun gunung, yang diingat olch Giok Han adalah Yang Bu In. la bermaksud mengunjungi dan berharap bisa bertemu dengan Lam Sie, pelayan yang setia itu. Juga Khang Thiam Lu diharapkan berada dirumah Yang Bu In, untuk dimintai keterangan sejelas-jelasnya tentang peristiwa pembunuhan keluarga Giok oleh orang-orang Kaisar !
Siapa tahu, dalam perjalanan menuju ke Leng-an, justeru ia melihat Yap Cu Siang tengah terancam oleh Thio Yu Liang, segera ia turun tangan menolongi Yap Cu Siang, yang akhirnya menyebabkan Giok Han mengetahui keluarga Yang telah tertimpa bencana oleh orang-orang Kaisar !
Pada pintu kota sebelah timur tampak banyak sekali serdadu-serdadu penjaga pintu.
Giok Han mengajak Yap Cu Siang ke pintu kota sebelah barat. Disitu tampak gelap dan agak sepi, hanya beberapa orang serdadu penjaga pintu kota.
"Kita pergi kepintu sebelah utara," kata Giok Han dengan suara perlahan. Dengan hati-hati mereka lalu jalan disepanjang tembok, supaya tidak terlihat oleh serdadu-serdadu penjaga. Kuda Giok Han sudah ditambat belasan li jauhnya sebelum mereka tiba dipintu kota Leng-an ini.
Tapi baru saja mau biluk di satu ujung tembok, dari sebelah utara kelihatan mendatangi lima serdadu peronda yang membawa lentera. Mereka kaget dan lalu mepet ke tembok.
Tapi rupanya mereka sudah terlihat oleh para peronda, yang lanta; berhenti dan seorang serdadu yang jalan paling dahulu, angkat lenteranya dan matanya mengawasi keempat penjuru.
"Barusan aku lihat beberapa bayangan hitam, tapi lantas menghilang,"
"katanya pada kawan-kawannya.
"Mana bisa ! Mungkin kau kebanyakan tenggak susu macan!" kata seorang kawannya.
"Jangan bicara main-main ! "kata serdadu itu dengan suara mendongkol. "Aku sama sekali tidak minum arak. Barusan jelas-jelas aku lihat beberapa bayangan. Coba kita cari di bawah tembok." Sehabis berkata begitu ia jalan ke jalan ke arah tembok sembari acungkan lenteranya, diikuti oleh empat kawan-kawannya.
Begitu ia datang dekat, tangan Giok Han menyambar dan tiang lentera jatuh serta padam. Di lain saat, Giok Han sudah menotok jalan darahnya yang membikin ia jadi bungkam tak bersuara. Baru saja tadi ia berteriak: "Penjahat !", empat serdadu lainnya sudah kena dibikin rubuh oleh Yap Cu Siang, yang sudah menotok jalan darah keempat peronda itu.
Penjaga loteng tembok kota rupanya sudah dengar suara ribut-ribut itu. "Penjahat apa ?" seorang berteriak dari atas. Dengan cerdik Yap Cu Siang baru-baru nyalakan lentera yang lantas diangkat tinggi dan menyahut: "Kami ronda malam. Barusan ada beberapa penjahat yang lari ke jurusan selatan!"
Di atas tembok kota lantas muncul beberapa lentera. "Kenapa tidak dikejar ?" berteriak salah seorang di atas.
"Kami juga mau mengejar. Hayo, kalian tolong bantu kami!" berseru lagi Yap Cu Siang. Tingginya tembok kota kurang lebih 3 tombak dan dalam yang gelap, orang-orang yang di atas tentu tidak dapat lihat jelas muka orang-orang yang berada di bawah
Yap Cu Siang lantas saja lari ke arah selatan dan di atas tembok kota segera terdengar suara tindakan yang ramai. Sesudah lari beberapa puluh tindak, Yap Cu Siang kembali berteriak: "Nih, dia ! Hayo lekas ! Cepat !"
Para serdadu yang sudah turun ke bawah lantas mempercepat tindakannya dan lari mengikuti suara Yap Cu Siang.
Selang tidak lama Yap Cu Siang sudah balik dan berkata: "Nah, ini dia penjahat-nya !" Dan dia kerahkan tenaganya, dalam sekejap ia berkelebatan ke sana-sini, maka rubuhlah para pengawal pintu kota itu. Gesit sekali Yap Cu Siang kemudian melompat ke atas tembok kota.
Giok Han pun sudah lompat lincah sekali ke tembok pintu kota. "Kau bersembunyi di sekitar tempat ini, aku akan pergi ke gedung tiekoan" pesan Giok Han.
Sesudah berlari-lari tidak lama di atas genteng-genteng rumah, tibalah Giok Han di gedung tiekoan la memiliki ginkang tinggi, maka mudah saja ia melakukan perjalanan di atas genteng-genteng rumah penduduk tanpa menimbulkan kecurigaan apa-apa. Gedung tiekoan dikurung dengan tembok tinggi.
Giok Han mendekam diatas genteng rumah seorang penduduk dan memandang keadaan di gedung tiekoan, Di bagian belakang pekarangan gedung terdapat tiga atau empat kamar, sedang di sebelah selatan-timur terdapat satu lorong panjang yang di kedua pinggirnya dipasang lankan yang terukir indah sekali.
Giok Han tahu, bahwa itulah ada kamar-kamar yang digunakan oleh keluarga tiekoan. Seperti seekor burung walet, ia hinggap ringan diatas tembok, dan kemudian loncat turun dalam pekarangan gedung tiekoan tanpa mengeluarkan suara. Waktu itu sudah jam dua lewat tengah malam, sedang keadaan di situ sunyi senyap. Hati-hati sekali Giok Han hampiri sebuah kamar yang mempunyai beberapa jendela, terukir dengan kaca yang indah.
la mendekati satu jendela kaca dan mengintip ke dalam kamar yang lampunya masih terang-benaerang. Kamar itu ternyata adalah kamar tulis. Seseorang yang berpakaian indah kelihatan sedang menulis surat, dan tanpa melihat mukanya Giok Han segera dapat pastikan bahwa orang itu adalah tiekoan Leng-an yang bernama Cu Sin Tek.
Sesudah menghunus pedang pendeknya, Giok Han buka pintu, singkap tirai dan loncat ke belakang tiekoan. Melihat api lilin bergoyang. Cu Sin Tek letakkan pitnya dan niat memanggil orang. Tapi pundaknya sudah dicekal dengan tangan yang kuat, sedang sebatang pedang berkelebat di depan matanya. Cu Sin Tek bergidik sebab ia rasakan dinginnya hawa pedang yang sudah menempel pada tenggorokannya.
"Mau mati apa mau hidup ?" tanya Giok Han dengan suara perlahan.
Dengan gemetar sekujur badan dan keringat dingin keluar diri dahinya, Ca Sin Tek manggut-manggutkan kepalanya.
"Beberapa hari berselang, bukankah ada datang satu kim-cee (utusan kaisar) ?" tanya lagi Giok Han.
Cu Sin Tek kembali manggutkan kepalanya.
"Di mana adanya kim-cee itu ?" Giok Han menanya pula. Tiekoan itu menganga dan buat sementara tidak dapat menjawab.
"Kalau kau gagu, tulis saja di atas sepotong kertas," kata Giok Han sembari tertawa.
Cu Sin Tek tahu, ia sekarang sedang berhadapan dengan orang yang berkepandaian tinggi. la tahu, jika membandel, jiwanya bisa melayang. Mengingat begitu, ia lantas angkat pitnya dan menulis di atas kertas.
Giok Han lalu baca bunyinya tulisan yang seperti berikut : "Kim-ce Kui sekarang berdiam di ranggon dalam gedungnya cong-tok Leng-an."
Tanda-tangani !" Giok Han memerintah.
Muka Cut Sin Tek jadi pucat. Melihat ia ayal-ayalan, Giok-Han tandelkan pedang pada lehernya dan membentak : "Lekas !"
Lantaran takut mati, ia terpaksa angkat lagi pitnya dan menulis perkataan : Tiekoan Leng-an Cu Sin Tek." di-bawahnya kertas itu.
Sembari mesem Giok Han lipat kertas itu yang lantas dimasukkan ke dalam kantongnya. "Tiekoan Taijin," kata Giok Han seraya kebaskan pedang di depan mukanya. "Sekarang aku mau minta pertolonganmu. Apa kau dapat menyanggupi ?"
"Bisa, bisa," kata sang tiekoan.
"Bagus ?" kata lagi Giok Han. "Sekarang aku mau tanya: "Apakah kau yang suruh tangkap Yang Bu ln dan keluarganya ?"
Cu Sin Tek manggutkan kepala.
"Mereka merebut kedosaan apa ?" tanya Giok Han lagi.
"Kaisar telah perintah Kim-cee Kui Hoa datang di sini buat membekuk pemberontak. Aku cuma melaksanakan perintah..." menerangkan Cu Sin Tek.
"Dusta !" Giok Han membentak. "Ada orang lihat mereka dirantai dan diseret oleh serdadu-serdadumu dan kau sendiri memperlakukan mereka galak sekali. Mereka adalah keluarga baik-baik, keluarga Yang tidak pernah melakukan kedosaan apapun juga terhadap negara, siapa yang telah fitnah mereka."
"Itu... itulah di luar pengetahuanku. Mohon mohon sudi mengampuni. . ." kata Cu Sin Tek dengan suara meratap.
Giok Han keluarkan suara di hidung dan berkata lagi: "Yah, sudahlah. Sekarang aku mau coret namanya Yang Bu In. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh ganggu lagi keluarga Yang. Juga kauharus perintahkan orang membebaskan mereka, Jika kau membandel, aku akan ambil kepala anjingmu. Kau mengerti ?"
Tiekoan itu jadi gemetar sekujur badan. "inilah firmannya Kaisar," kata ia dengan suara serak. "Dan semua ini atas perintah yang telah disampaikan Kim-cee Taijin. Kalau aku tidak . . . tidak melaksanakan perintah . . . aku sendiri bisa celaka."
Mata Giok Han mendelik. "Aku tak perduli !" ia membentak "Jika kau langgar Yang Bu In dan keluarganya, kau harus tahu Liong Kak Sin Hiap tidak boleh dibuat main-main ! "
Mendengar perkataan Giok Han, hati Cu Sin Tek kuncup.
"Baiklah." katanya. "Kalau memang kau memerintah aku begitu . . . aku akan . . . mematuhi."
Giok Han manggut-manggutkan kepalanya. "Sesudah kau berjanji begini, dan akan menuruti setiap perintahku, akan kuampuni jiwa anjingmu. Tapi kalau nanti kau main gila, aku akan binasakan Kim-cee dan kirim surat yang barusan kau tulis kepada pembesar negeri, dengan mengatakan bahwa pembunuhan itu diperintah olehmu !"
Tiekoan itu mencelos hatinya, kembali keluarkan keringat dingin. "Jangan begitu, hohan. Aku tentu tidak berani main gila," ia meratap dan merintih.
"Sekarang kau perintahkan orangmu untuk membebaskan Yang Bu In dan keluarganya !" bentak Giok Han.
Tiekoan itu ketakutan setengah mati, Giok Han menyeretnya ke dekat tirai, Giok Han berdiri di balik tirai, sedangkan tangan tiekoan dicekal masuk ke balik tirai, mata pedang menandal di punggungnya terhalang hanya tirai. Tiekoan itu menggigil ketakutan, mata pedang yang tajam menembusi jubahnya dan kulitnya lecet perih.
"Cepat kau panggil orangmu dan keluarkan perintahmu agar Yang Bu In dan keluarganya dibebaskan !"
Tiekoan tidak berani main gila, karena sekali pedang itu menghujam, habislah riwayatnya. Segera dia berteriak memanggil orang dengan suara serak, diperintahkan membebaskan Yang Bu In, isterinya dan para pelayannya.
"Perintahkan antar mereka sampai keluar pintu kota !" bisik Giok Han perlahan.
Tiekoan itu tidak berani membantah, dia juga perintahkan orangnya agar mengantarkan Yang Bu ln sekeluarga sampai keluar pintu kota. "Masing-masing diberi seekor kuda !" bisik Giok Han lagi dan tiekoan itupun mengeluarkan perintahnya seperti itu. Orangnya jadi memandang bingung atas sikap tiekoan, tapi tiekoan yang merasa pundaknya sakit karena mata pedang ditekan lebih keras oleh Giok Han, jadi membanting kaki dengan muka meringis: "Cepat laksanakan perintah !" teriaknya ketakutan.
Orang tiekoan tidak berani berayal, segera Yang Bu In sekeluarga dibebaskan, masing-masing diberi seekor kuda dan diantar sampai di luar pintu kota. Di sana Yang Bu In semua disambut oleh Yap Cu Siang, yang girang bukan main. Mereka menjauhi pintu kota, seperti yang telah dipesan Giok Han tadi sebelum ia berpisah dari Yap Cu Siang.
Setelah menunggu setengah jam sejak orang tiekoan melapor perintah telah dilaksanakan, dan setelah pengawal tiekoan mengundurkan diri, Giok Han menyeret tiekoan ke dekat meja tulisnya... Keluarga Yang telah kehilangan hartanya, mereka terpaksa tidak bisa berdiam lagi di Leng-an, berarti rumah dan harta mereka lenyap. Kau perintahkan orangmu untuk mengambil separoh dari hartamu, untuk kubawa dan nanti kuberikan kepada Yang Bu In, agar mereka tidak menjadi susah karena fitnahan ini!"
Kaget Cu Sin Tek. Mendengar Giok Han suruh ia bagi hartanya separuh yang akan dibawa buat Yang Bu In, tubuhnya menggigil keras dan mukanya pucat. Cu Sin Tek sangat kikir mendadak merasakan sesak napasnya dan ia rubuh dalam keadaan pingsan.
"Binatang ini pandang harta seperti juga jiwanya. Benar-benar menyebalkan !" menggerendeng Giok Han. Dengan perasaan mendongkol, ia potong kuping kiri pembesar rakus dan kemudian berlalu dasi kamar itu, buat menyusul Yap Cu Siang.
Yang Bu In dan lain-lainnya di luar pintu kota, yang di ajak untuk berlalu sejauh, mungkin, karena ia yakin dalam waktu dekat pasti ada pasukan tiekoan yang akan mengejar mereka.
Lantaran perasaan sakit, Cu Sin Tek sadar dari pingsannya. Begitu mengetahui hilangnya sebelah kuping, ia segera menjerit sekeras suara. Waktu itu, kepala pengawal tiekoan yang bernama Ciu Leng Kiauw kebetulan baru pulang habis meronda. Hatinya terkesiap mendengar jeritan dari kamar tulisnya tiekoan dan memburu ke situ.
Mendadak ia lihat sesosok bayangan hitam loncat ke atas tembok. "Celaka !" ia berseru dan mengetahui bahwa tiekoan telah disatroni pembunuh, la lantas loloskan gendewanya dari punggungnya dan melepaskan sebutir peluru, tapi bayangan hitam itu, yang gerak kannya luar biasa gesit, sudah loncat turun keluar tembok.
"Ada pembunuh !" Ciu Leng Kiauw berseru buat panggil orang-orangnya. sedang ia sendiri lalu loncat ke atas tembok. la memandang ke bawah, tapi orang itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi. Mendengar teriakan Ciu Leng Kiauw, belasan pengawal yang menjaga di luar kantor tiekoan memburu ke situ, tapi "penjahat" sudah tidak kelihatan mata-hidungnya lagi.
Pada hari-hari biasa, tiekoan Cu Sin Tek larang para pengawalnya, terhitung juga Ciu Leng Kiauw, masuk ke pekarangan belakang, yaitu ke gedung tempat tinggal keluarganya. Malam itu, sehabis pulang meronda, ia bermaksud untuk istirahat, siapa tahu mendengar jeritan tiekoan dan melihat sesosok bayangan tamu tak diundang. Lantaran begitu, ia lalu masuk ke dalam buat melihat keadaan tiekoan dan hatinya berdebar keras.
Sesudah perintah belasan orang pengawal periksa seluruh pekarangan, ia segera loncat turun dari atas tembok dan pergi ke dalam kamar tulis. Api lilin masih terus menyala terang, sedang semua barang tidak ada yang terganggu. Tapi di atas lantai menggeletak tubuhnya sang tiekoan dengan berlumuran -darah dan dalam keadaan pingsan.
Hati Ciu Leng Kiauw mencelos. la tubruk badan majikannya dan raba dadanya yang ternyata masih hangat dan napasnya masih berjalan seperti biasa. la angkat tubuh pembesar itu dan baru tahu bahwa kuping kiri tiekoan telah "dicuri" oleh tamu malam tak diundang itu.
Ciu Leng Kiauw segera dukung tubuh tiekoan yang dibawa keluar dari kamar tulis. Di luar ia bertemu dengan isteri pembesar itu dan pelayan-pelayan yang pada datang lantaran dengar suara ribut-ribut. Sesudah memesan supaya seorang pelayan sediakan somthung, ia bawa tiekoan ke kamar tidurnya, di mana ia lebih dahulu pakaikan obat luka pada kupingnya tiekoan dan kemudian beri makan Seng-hun-yo (obat buat bikin sadar orang pingsan).
Beberapa saat kemudian, Cu Sin Tek sadar dan lalu dikasih minum Som-thung, supaya pulih kekuatannya. Sesudah semangatnya pulih kembali, Cu Sin Tek segera perintah isteri dan pelayan-pelayannya berlalu dan minta Ciu Leng Kiauw seorang berdiam dalam kamarnya.
Sesudah semua orang tinggalkan kamarnya, Cu Sin Tek segera berkata dengan suara di hidung : "Ciu Leng Kiauw, hukuman apa kau harus dapat ?"
Kepala pengawal tiekoan itu jadi gemetar dan buru-buru berlutut seraya berkata : "Toaya, aku tahu, aku berdosa..."
"Kedudukanmu adalah sebagai kepala pengawal dan kau makan gajinya negara, sedang akupun perlakukan kau cukup baik," kata lagi sang tiekoan. "Tapi ternyata, kau tidak mempunyai kebecusan. Sekarang aku.." Mendadak ia ingat satu kupingnya yang di potong Giok Han. Mukanya jadi merah padam lantaran malu dan gusar, sehingga Ciu Leng Kiauw lah yang menjadi korban hawa amarahnya:
"Ciu Leng Kiauw !" ia membentak. "jiwaku hampir-hampir mampus dalam tanganmu! Sekarang aku mau tanya: "Kau mau bicara apa di hadapanku?"
Kepala pengawal yang lacur itu tak berani angkat mukanya. la cama manggut-manggutkan kepalanya-dan terus berlutut.
Melihat yang ditanya tidak menyahut, tiekoan membentak pula: "Binatang ! Aku beri batas waktu tiga hari. Dalam waktu tiga hari kau harus bekuk pembunuh itu !"
"Toaya, mohon Toaya jangan terlalu bergusar." berkata Ciu Leng Kiauw dengan suara gemetar "Aku mohon tanya, bagaimana romannya pembunuh itu ? Apa dia tinggalkan namanya atau tidak?"
"Biasanya kau suka bicara besar dan bilang banyak mengenal orang-orang Kang-ouw. Tapi sekarang. orang itu yang katanya bergelar Liong Kak Sin Hiap kau masih belum tahu !" kata si tiekoan dengan suara gusar.
Mendengar gelaran Liong Kak Sin Hiap, alis Ciu Leng Kiauw mengkerut. la belum pernah mendengar gelaran itu, sungguh mati dia tidak tahu entah siapa orang yang memakai gelaran Liong Kak Sin Hiap itu, yang berusaha coba membunuh cukongnya ini.
"Pergi! Dalam tiga hari kau mesti membereskan perkara ini !" Demikian Cu Sin Tek membentak dengan suara galak.
Ciu Leng Kiauw tak dapat berbuat Iain dari pada berlalu sambil manggut-manggutkan kepalanya.
Kembali ke kantornya, sambil membentak-bentak ia perintahkan para pengawal untuk melakukan pengejaran. Hatinya mendongkol bukan main. Tapi tak lama kemudian belasan pengawal yang diperintahkan pergi menangkap penjahat pulang dengan beruntun dan hasilnya nihil.
Sekarang giliran Ciu Leng Kiauw buat bersikap galak. Sembari mendelik dan menggebrak meja, ia membentak: "Mana penjahatnya ?"
"Kami sudah pergi ke segala pelosok kota Leng-an. tapi tidak dapatkan orang yang dicurigai," jawab salah seorang di antara pengawalnya itu.
Ciu Leng Kiau melampiaskan kemendongkolan hatinya pada para pengawal itu. la gebrak meja sekuat tenaga, sehingga piring mangkok pada terguling.
"Binatang!" ia membentak seperti caranya tiekoan membentak dia tadi. "Aku beri batas waktu tiga hari ! Dalam tiga hari kalian harus bekuk penjahat itu ! Kalau tidak, seorang akan ku persen tigapuluh rotan ! Hayo, pergi !"
Mendengar makian dan batas waktu itu, belasan pengawal tersebut tentu saja jadi sangat ketakutan. Tapi apa mereka bisa berbuat ? Mereka hanya pergi mencari lagi, dan yang menjadi sasaran adalah beberapa orang rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa jadi sasaran kemarahan para pengawal tiekoan ini, yang main bentak dan pukul ! Bahkan ada satu-dua orang yang digusur ke gedung tiekoan buat diperiksa, dengan alasan orang-orang itu harus dicurigai sebagai penjahat!
Sekarang mari kita tengok Giok Han, Dari gedung Tiekoan ia segera menyusul Yap Cu Siang. pertemuan dengan Yang Bu In dan Lam Sie, pelayan tua yang setia itu, mengharukan. Tapi Giok Han sadar mereka tidak boleh buang-buang waktu, segera mengajak mereka berlalu secepat mungkin, semakin jauh semakin baik buat mereka, karenanya rombongan ini tidak beristirahat melakukan perjalanan dua hari dua malam terus menerus.
Barulah akhirnya di sebuah perkampungan kecil mereka beristirahat. Mereka melepaskan rindu. Lam Sie malah sampai memeluk Giok Han sambil menangis, mendengarkan cerita majikan kecilnya, yang kini telah jadi dewasa. Setengah hari mereka melepaskan lelah, akhirnya Giok Han bilang pada Yap Cu Siang: "Yap-toako, kita tak bisa berlama-lama di sini, kalau sampai barisan tiekoan mengejar sampai di sini, kita akan repot. Kita harus segera melanjutkan perjalanan. Yang Pehpeh tentu bersedia ikut dengan Yap-toako pergi menemui Giam Cu Taijin, untuk bergabung dengan mereka ? Aku sendiri harus pergi ke suatu tempat menyelesaikan suatu urusan. Nanti aku akan menyusul kalian bergabung menjadi satu . . .!"
Setelah berunding, memang Yang Bu In dan Yap Cu Siang menyetujui untuk pergi bergabung dengan Giam Cu. Segera mereka berpisah. Lam Sie, berpisah kembali dengan Siauwya nya dengan linangan air mata, rasa rindunya masih belum lagi terpenuhi, sekarang mereka sudah harus berpisah lagi.
Tapi menyadari akan bahaya yang bisa menimpah mereka, maka akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan dengan cepat, dipimpin Yap Cu Siang untuk bergabung dengan Giam Cu. Golok leluhur keluarga Yang sudah dikembalikan Yap Cu Siang pada Yang Bu In.
Giok Han mengantarkan kepergian rombongan teman-temannya itu dengan mata merah karena menahan tangis. la pun sangat rindu pada Lam. Sie, pelayan keluarganya yang sangat setia dan kini sudah tua benar.
Tapi, Giok Han memiliki kepentingan mendesak yang mengharuskan mereka berpisah. Setelah rombongan Yang Bu In lenyap dari pandangan matanya, Giok Han menghela napas, memutar kudanya dan dilarikannya keras-keras . . . .
Giok Han melarikan kudanya cepat sekali ke arah utara, ia menuju ke propinsi Kang-souw. Sesudah melakukan perjalanan beberapa lama ia tiba di Hankouw.
Giok Han masuk ke dalam kota kira-kira tengah-hari dan ia merasa lapar sekali. Selagi mencari-cari tempat penangsel perut, ia melihat sebuah restoran besar dipinggir jalanan yang ramai dan memasang merek Kim-hong-louw (Rumah makan Burung Hong mas) dengan huruf-huruf emas yang besar-besar.
"Rumah-makan itu agak luar biasa," pikir Giok Han. la meraba sakunya, ternyata hanya mempunyai seratus lebih uang tembaga, tak cukup untuk makan dan minum arak.
"Biarlah aku makan saja semangkok mie," pikirnya sambil menambat kudanya pada tempat tambatan kuda.
Sesudah itu dengan membawa bungkusannya, periahan-lahan ia naik ke loteng. Melihat baju pemuda itu yang sederhana dan kotor oleh debu, seorang pelayan lantas saja menghadang di tengah jalan seraya berkata: "Tuan, makanan di atas loteng mahal-mahal harganya . . . tidak ada harganya yang murah ...."
Giok Han mengawasi tawar pada pelayan mendadak ia tertawa besar dan berkata dengan suara nyaring : "Asal makanan enak dan arak sedap, berapapun mahalnya harga makanan itu tak kuhiraukan!"
Si pelayan menyingkir dengan rasa sangsi, ia mengawasi Giok Han terus mendaki tangga loteng. Ruangan loteng itu besar, bersih dan diperlengkapi dengan perabotan yang halus nan indah. Para tamu yang sedang makan minum rata-rata berpakaian mentereng mewah, sebagai tanda bahwa mereka orang-orang beruang. Seperti kawannya yang menghalangi di bawah loteng, pelayan di atas lotengpun memandang rendah kepada Giok Han yang berpakaian sederhana dan kotor. Sesudah beberapa lama duduk di situ, masih saja tak seorang pelayan datang menghampirinya.
Giok Han jadi semakin mendongkol. Selagi ia mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, di tengah jalan tiba-tiba terdengar suara ribut, disusul dengan suara tertawa seorang wanita.
Giok Han duduk di pinggir jendela Iantas saja melongok ke bawah. la melihat seorang perempuan dengan rambut terurai dan muka serta pakaian berlepotan darah, sedang menari-nari di tengah jalan sambil mencekal sebatang golok, sebentar menangis dan sebentar tertawa. "Ah, orang gila," pikir Giok Han.
Lalu lintas terganggu, banyak yang menonton dari sebelah kejauhan, ada yang ketakutan, ada pula yang kelihatannya merasa kasihan, tapi tak seorangpun yang berani mendekati perempuan sinting itu. Mendadak perempuan edan itu menuding merek Kim-hong lauw dan bertepuk tangan sembari tertawa terpingkal-pingkal...
"Siangkoan loya !" ia berteriak. "Biarlah kau berusia sejuta tahun, kaya dan mulia lengkap semuanya. Aku si tua berlutut di sini, supaya Langit yang mempunyai mata, melindungi kau seumur hidup!"
la berlutut dan membenturkan kepalanya diatas tanah, sehingga jidatnya mengeluarkan darah. Tapi agaknya, sedikitpun perempuan edan itu tak merasa sakit.
la terus manggut-manggutkan kepala sembari berteriak-teriak: "Siangkoan Loya ! Di waktu siang, biarlah kau mendapat segantang emas, di waktu malam segantang mutiara ! Kaya besar, kaya-raya, ratusan anak, ribuan cucu."
Dari dalam rumah makan sekonyong-konyong keluar seorang lelaki yang tangannya memegang kipas. Dilihat dari gerak-geriknya lelaki itu seperti pengurus rumah makan.
"Peng Sieso !" ia membentak. "Kalau mau jual lagak gila pergilah ke tempatmu. Pergi ! Jangan mengacau di sini. Kau dengar ?"
Wanita itu tak menggubris bentakan orang, ia masih terus berlutut sembari sesambatan. Si pengurus rumah makan mengulapkan tangannya dan dari dalam rumah makan segera keluar dua orang lelaki bertubuh tinggi besar kekar.
Seorang merampas golok di tangan Peng Sieso, sedang yang seorang lagi mendorongnya dengan keras, sehingga wanita itu terguling-guling jumpalitan ke tepi jalan.
Peng Sieso berdiri terpaku dengan mulut ternganga, untuk sementara tak mengeluarkan sepatah kata. Mendadak ia memukuli dadanya sendiri dengan kedua tangannya dan berteriak-teriak sembari menangisi:
"Ohhh ! Sayangku ! Sungguh menyedihkan cara kebinasaanmu. Langit mempunyai mata, kau tidak mencuri dan gegares daging ayam orang!"
"Kubacok kau jika kau masih terus rewel !" bentak lelaki yang tadi merampas goloknya.
Peng Sieso tak menjadi jeri, ia menangis semakin keras. Si pengurus rumah makan melirik semua penonton dan ia mencapat kenyataan bahwa mereka semua mengunjukkan wajah tak puas. la mengibaskan kipasnya dan tersenyum tawar, ia mengulapkan tangannya dan masuk kembali ke dalam Kim-hong-lauw bersama dua orang anak buahnya yang bertubuh tinggi besar.
Melihat lelaki gagah menghina seorang wanita lemah, lagi pula wanita sinting, Giok Han sebenarnya sudah ingin menyelak. Akan tetapi mengingat wanita itu adalah seorang tidak beres pikirannya, sedapat mungkin ia menahan sabar.
Tiba-tiba ia mendengar pembicaraan dua tamu yang duduk pada meja sebelah belakang. "Dalam urusan ihi Siangkcan Loya keterlaluan." kata seorang di antaranya dengan perlahan. "Apakah dia merasa enak hati sesudah mengambil jiwa manusia yang mati karena tindasan pengaruhnya ?" Giok Han terkejut.
"Tak dapat kita terlalu menyalahkan Siangkoan Loya," kata seorang lain. "Jika seorang kehilangannya apa, tentu saja ia akan menanyakannya. Siapa suruh perempuan itu berotak miring, membelek perut anaknya sendiri ?"
Giok Han tak dapat menahan sabar lagi. Mendadak ia menengok ke belakang dan kedua orang itu kaget, segera berhenti bicara.
Mereka itu, yang satu gemuk dan yang lain kurus, mengenakan thungsha sutera yang mahal harganya dilihat dari dandanan mereka, kedua orang ini adalah orang orang kaya.
Giok Han tahu kaum pedagang paling sungkan banyak urusan dan jika ia menanya secara biasa mereka pasti tak mau memberi keterangan. Berpikir begitu, ia berkata sambil memberi hormat: "Sejak berpisah di Kwitang sudah berapa tahun kita tak bertemu muka, Apa jiewie (tuan berdua) memperoleh banyak keuntungan ?"
Teniu saja mereka heran karena memang tak mengenal Giok Han, Tapi sebagaimana biasa, seorang pedagang selalu bersikap ramah tamah. Maka segera mereka balas hormat. "Boleh juga, terima kasih," jawab mereka.
"Sekarang siauwte datang kesini membawa selaksa tail perak." kata Giok Han. tujuanku adalah untuk membeli barang, tapi karena belum mempunyai kenalan, sedang aku sendiri sangat asing dengan keadaan di sini, aku masih merasa sangsi. Sekarang kebetulan bertemu dengan kalian, aku tentu bisa minta pertolongan."
Mendengar "selaksa tahil perak", wajah kedua orang itu lantas saja berseri-seri. "Tentu saja, tentu saja," kata mereka dan mengundang Giok Han duduk semeja dengan mereka.
Giok Han tidak berlaku sungkan. "Tadi jiewie bercakap-cakap dan aku mendengar kata-kata tentang mengambil jiwa manusia karena tindaan pengaruh," kata Giok Han.
"Bolehkah aku mengetahui, urusan apakah itu ?"
Muka kedua pedagang itu berobah. Waktu mereka mau menolak, Giok Han sudah mengulurkan kedua tangannya memencet tangan mereka, hampir berbareng, kedua orang itu mengeluarkan teriakan tertahan. Muka mereka jadi pucat pias. Mendengar teriakan itu beberapa pelayan dan tamu segera menengok ke arah mereka.
"Tertawa !" bentak Giok Han berbisik. Mereka tak berani membantah. Segera tertawa meringis, melihat di situ tak terjadi apa-apa yang luar biasa, semua orang tidak memperhatikan mereka lagi.
Kedua orang itu mengeluarkan keringat dingin, tangan mereka ssolah-olah dijepit dengan jepitan besi, keras dan menyakitkan sekali. "Dulu aku penjahat besar dan bisa bunuh manusia tanpa berkedip. Sekarang aku sudah jadi orang baik-baik, dengan selaksa tahil perak ingin membeli barang. Tapi sayang aku tak mempunyai uang. Aku ingin meminjam dari jiewie, seorangnya lima ribu tahil..."
Mereka kaget. "Aku . . . aku tak punya," jawab mereka hampir bersamaan.
"Baiklah," kata Giok Han. "Tapi kalian harus menceritakan kepadaku bagaimana manusia itu yang dipanggil Siangkoan Loya mengambil jiwa orang dengan menggunakan tindasan pengaruh. Siapa yang menceritakan yang paling jelas, aku membebaskannya dari tugas meminjamkan uang. Aku akan mencari orang lain sebagai gantinya."
Keruan saja kedua pedagang itu manggut-manggut. "Baik, baik, baiklah," jawab mereka terburu-buru.
Giok Han mesem, hatinya geli bukan main. Melihat si gemuk lebih pandai bicara dia bilang: "Yang gemuk bicara lebih dulu baru yang kurus Siapa yang ceritanya tak jelas, dialah yang harus meminjamkan uang padaku."
Sehabis berkata begitu, Giok Han melepaskan cengkeramannya. Dibuka bungkusannya dan memperlihatkan isinya yang hanya beberapa potong baju dan sebilah pedang pendek yang berkilauan. la mengambil sumpit gading dari aias meja, sekali diketukkan pada pedangnya yang dihunus separuh, sumpit itu menjadi empat potong. Keruan saja kedua pedagang itu tambah ketakutan, keringat dingin mengucur cari sekujur tubuh. Hati mereka berdebar-debar.
"Siauwya," kata si saudagar gemuk. "jangan kuatir, aku akan menceritakan seterang-terangnya. Tanggung... aku tanggung lebih jelas dari dia..."
"Mana boleh begitu?" memotong si kurus. "Biarkan aku cerita lebih dulu, pasti lebih jelas."
"Diam !" bentak Giok Han. "Lebih dulu aku mau dengar cerita si gemuk ini !" dan tangannya menunjuk si gemuk.
"Baik, baik," si kurus ketakutan.
"Siauwya," kata Li gemuk. "Biarlah aku mulai. Tapi aku mengharap supaya ceritaku dirahasiakan, jangan sampai diketahui orang lain."
"Jika kau takut, sudahlah ! Biar dia saja yang bercerita !" kata Giok Han. Sambil berkata begitu dia berpaling pada si kurus.
"Cerita, aku mau cerita," kata si gemuk gugup dan tergesa-gesa. "Orang yang biasa dipanggil Siangkoan Loya itu bernama Siang-koan Giok Lin, orang yang paling kaya dalam kota ini. Dia berjuluk Hiat-sin-cu (Si Malaikat Darah). Disini ia membuka rumah perjudian, juga rumah makan ini dan beberapa tempat usaha merupakan toko-toko besar jadi miliknya. la seorang kaya berpengaruh besar, pergaulannya luas, dianggap sebagai ahli silat nomor satu di seluruh Kang-souw. la pun mewajibkan para pembesar negeri, pintu-pintu perguruan silat, atau para pedagang becar, harus setiap bulannya membayar "pajak" padanya. Tapi urusan itu aku tidak begitu jelas..."
"Ya, ya, aku tahu. Dia hartawan kaya merangkap sebagai perampok besar !" kata Giok Han.
"Gedung Siangkoan Giok Lin sudah besar dan luas, tapi belakangan ini sesudah memiliki gundik ke sebelas ia ingin mendirikan sebuah gedung pula yang nama Cap-it-lauw (Ranggon ke sebelas), untuk dijadikan tempat tinggal gundik ke sebelas itu. la bermaksud mendirikan gedung baru di belakang gedungnya yang sudah ada dan tanah yang ia penuju adalah kebun sayur Peng Sieei.
Kebun itu satu-satunya sumber nafkah Peng Sieso dan suaminya, Ho Sun dan keluarganya berjumlah lima orang. Siangkoan Loya memanggil Ho Sun mengatakan mau membeli tanah itu lima tahil perak. Temu saja Ho Sun menolak. Siangkoan Loya menambah dan menanbah lagi jumlah uang itu tamrai sepuluh tahil, tapi tetap ditolak Ho Sun.
Menurut Ho Sun, uang sangat manis, biar seratus tahil sebentar saja akan habis di makan. Tapi kebun sayur tak bisa habis. Asal mau mengeluarkan tenaga, keluarganya tak akan mati kelaparan. Siangkoan Loya jadi gusar dan mengusir dia. Kemarin muncullah peristiwa mencuri ayam." Si gemuk menyusut keringatnya.
Dia melanjutkan lagi. "Di pekarangan belakang gedung Siangkoan Loya dipiara ratusan ekor ayam. Kemarin ia kehilangan seekor. Pelayan-pelayan Siangkoan Loya mengatakan bahwa pencuri ayam iiu anak kedua dan ketiga keluarga Ho. Mereka mencari di kebun sayur dan benar saja di situ kedapatan banyak bulu ayam. Mentah-mentah Peng Sieso menolak tuduhan itu.
la mengatakan anak-anaknya baik-baik dan tak mungkin mencuri barang orang lain. la balas menuduh bahwa bulu ayam itu sudah sengaja dilemparkan dari dalam tembok gedung Siangkoan Loya. Orang-orang Siangkoan Loya mencari kedua anak Ho Sun, mereka menyangkal mencuri ayam. "Eh, apakah pagi ini kau sudah makan?" ta-nya Siangkoan Loya. Anak ketiga manggut-manggut:
"Makan dengan daging ayam tentu enak ! " kata anak itu yang tak tahu urusan "Anak ini sudah mengaku, kau masih bersikeras tak mau mengakui," kata Siangkoan Loya. Lantas ia mengadu pada tiekoan dan beberapa pengawal tiekoan menangkap Ho Sun.
"Peng Sieso yakin seyakin-yakinnya kedua puteranya tak nanti mencuri ayam, dan tahu memang agaknya ingin sekali makan daging ayam" karenanya ia mengatakan kalau makan dengan daging ayam tentu enak, itulah kata-kata anak-anak. la pergi ke gedung Siangkoan Loya mencari keadilan. Tapi yang diperoleh pukulan dan tendangan.
la menemui tiekoan, tapi tiekoan sudah makan uang suapan, berbalik menyiksa Ho Sun, agar mau mengaku. Dengan susah payah akhirnya Peng Sieso bisa menemui suaminya di penjara. Suaminya berlumuran darah, badannya babak belur, sudah tak bisa bicara.Jangan . . . jual . . . tidak curi. . ." suara Ho Sun tak jelas.
Peng Sieso jadi mata gelap. Begitu pulang membawa anaknya yang ketiga dan sebilah golok sayur, memanggil tetangga-tetangganya. ia pergi ke kuil Cung-am-sie. Tetangge-tetangganya menyangka Peng Sieso ingin minta mereka jadi saksi karena mau bersumpah, lantas saja ikut.
Di depan patung Malaikat Pak-tee-ya, Peng Sieso bilang: "Anakku tak nanti mencuri barang orang, tahun ini ia baru-berumur empat tahun. Dia masih belum bisa bicara betul. Di depan Siangkoan Loya dia bilang makan dengan daging ayam sangat enak, hinaan ini tidak bisa kucuci sedang tiekoan sudah makan sogokan tidak berlaku adil. Jalan satu-satunya memohon keadilan Pak-te-yaya." Setelah berkata begitu dia belek perut anaknya yang ke tiga dengan golok sayurnya !"
Giok Han menggidik, hatinya panas. "Apakah betul kejadiannya begitu ?" tanyanya.
Si gemuk dan si kurus ketakutan, manggut-manggut.
Giok Han menghunus padangnya dan menancapkan pedangnya di atas meja. "Cerita terus !" bentaknya.
"Kejadian... kejadian itu tak ada sangkut-pautnya denganku..." kedua pedagang itu ketakutan.
Giok Han berdiri angker, para pelayan tak berani mendekati, hanya berdiri mengawasi dari kejauhan.
"Bilanglah, apakah dalam perut anak Peng Sieso terdapat daging ayam ?" bentak Giok Han.
"Tidak," jawab si gemuk. "Yang kedapatan hanya sayur-sayuran. Mulai saat itu Peng Sieso jadi gila."
"Di mana rumah orang she Siangkoan ?" Belum lagi si gemuk menyahuti, dari arah belakang Giok Han terdengar suara dingin tapi bengis: "Anjing mana yang jual lagak di sini ?" Muncullah enam orang bertubuh tinggi besar. Para pelayan dan pengurus rumah makan ini kaki, tangan Siangkoan Giok Lin, melihat teman mereka ingin menangkap orang yang mengacau di rumah makan, segera mengambil macam-macam senjata untuk membantu.
Orang yang jadi kepala segera memaki: "Hei anjing bau, cepat ikut tuan besarmu !" dia mengebaskan rantai besi.
Giok Han tidak perdulikan dia, menoleh pada kedua pedagang. "Cerita jiewie sangat jelas, dan terima-kasih atas semua ini, aku tidak jadi meminjam uang dari kalian, sekarang kalian boleh pergi I"
Kedua pedagang itu cepat-cepat menyingkir dengan hati masih berdebar-debar ketakutan.
Giok Han menghela napas menoleh kepada si pemimpin kaki tangan Siangkoan Giok Lin yang galak itu, tanpa berkisar dari tempatnya tangan Giok Han menyambar dan tepat sekali menghajar pipi orang tersebut.
Sesudah menggampar dia menotok jalan darah Cie-kiong-hiat dan Hong-hu-hiat, segera juga si galak terpelanting, bergulingan di lantai berkelojotan !
Diambilnya rantai si galak, sekali Giok Han menyabet, rantai itu melibat enam kaki tiga orang lainnya, sekali disentak mereka bertiga jatuh terguling. Pengurus rumah makan mendekati sambil mengebaskan kipasnya, matanya tajam dan mulutnya tersenyum dingin.
"Aku mempunyai mata tak bisa melihat gunung Thaysan yang besar, sehingga aku tak tahu hari ini seorang gagah datang berkunjung !" katanya dengan sikap licik.
"Eh, Siangkoan Giok Lin pernah apa dengan kau ?" tanya Giok Han dingin.
"Aku bekerja di bawah perintahnya... Siangkoan Loya sekarang sedang sibuk mengurus pengangkatan Hongsiang sebagai salah seorang pahlawan Kaisar, maka tak bisa menyambut kedatangan tuan." Dengan berkata begitu, dia mau menggertak Giok Han semakin naik.
"Hemmm, suruh orang she Siangkoan datang menghadap padaku !" perintahnya.
Muka si pengurus rumah berobah, dia orang kepercayaan Siangkoan Giok Lin, diserahi mengurus rumah makan milik Siangkoan Giok Lin. Kepandaiannya tidak seberapa, tapi dia licin sekali. Melihat Giok Han sulit diajak bicara, Kwa Tin Bun, si pengurus rumah makan itu, mengayunkan kipasnya hendak menotok pundak Giok Han.
"En, eh, jangan terlalu hormat," kata Giok Han sembari tertawa, mudah dia menangkap kipas lawan, membetot dan waktu Kwa Tin Bun terhuyung ia menepuk pundak pengurus rumah makan itu, yang lantas jatuh berlutut, karena kedua lututnya mendadak lemas. Menyaksikan ini, anak buah Siangkoan Giok Lin yang lain tidak berani turun langan, hanya berdiri bingung.
Kaki kanan Giok Han menginjak punggung Kwa Tin Bun. Dia celingukan dan melihat seorang pelayan berpakaian sebagai koki rumah makan itu. "Eh, kalau masak daging tulang punggung, kau mengambil daging apa ?"
"Da... daging babi," jawab koki itu "Diambil dari kiri kanan tulang punggung babi. Boleh masak asam manis, boleh masak pakai lada dan garam, semuanya lezat sekali. Apa Siauwya mau sayur itu ?"
Dengan bengis Giok Han merobek baju Kwa Tin Bun. "Di sini ?" tanyanya sembari mengusap-usap tulang punggung orang. Koki itu terkesiap, ia hanya mengawasi dengan mulut ternganga dan tak dapat memberi jawaban.
"Ampun, Siauwya !" Kwa Tin Bun memohon dengan suara serak, meratap tak hentinya.
Memang bukan maksud Giok Han untuk mengambil jiwa Kwa Tin Bun, ia hanya ingin memberi sedikit hajaran, supaya manusia ini merasakan sedikit penderitaan. la mengangkat pedangnya dan menggores punggung Kva Tin Bun.
"Cukup setengah kati?" tanyanya.
"Cu... cukup," jawab koki itu gemetar.
Terbang semangat Kwa Tin Bun, ia merasakan kesakitan luar biasa di punggungnya dan menduga bahwa dagingnya benar-benar sudah dipotong. Sekujur badan Kwa Tin Bun jadi bergemetaran, tak hentinya ia membenturkan jidat di lantai loteng. "Siauya !" ia meratap. "Perintahlah aku, jika kau ingin memerintah, ampunilah selembar jiwaku !"
Giok Han merasa manusia ini sudah cukup mendapat hajaran. "Apakah kau masih berani membantu Siangkoan Giok Lin melakukan kejahatan ?" tanyanya.
"Tidak... tidak berani," jawabnya cepat.
"Baiklah," kata Giok Han. "Sekarang antarkan aku menemui orang she Siangkoan itu !"
"Baik, baik, baik Siauwya...!" menyahuti Kwa Tin Bun tanpa ayal.
Dengan langkah lebar Giok Han mengikuti Kwa Tin Bun menuju ke rumah Siangkoan Giok Lin. Akan tetapi di luar pintu sudah ada beberapa orang tentara berpakaian lengkap melintang tepat di ambang pintu. Pemimpin dari pasukan tentara tiekoan yang mungkin berjumlah belasan orang itu, adalah seorang bertubuh tinggi besar dengan cambang yang lebat.
"itulah gedungnya Siangkoan Loya ...I" menunjuk Kwa Tin Bun ketakutan, tubuhnya masih gemetar dan rasa sakit di punggungnya membuat dia ketakutan memperoleh tambahan hajaran si pemuda kurus tapi galak ini.
Giok Han mengangguk mendengus dan melangkah maju menghampiri pintu gedung itu.
Si pemimpin barisan pengawal tentara yang ada di depan rumah Siangkoan Giok Lin sudah maju memapak, dengan muka yang bengis dia tertawa.
"Bocah, kau baik ?" tanyanya.
"Pembesar bau, kau baik ?" Giok Han balik mencaci.
"Kau pengen dihajar?" tanya pemimpin tentara negeri itu sembari menyengir.
"Tak salah !" jawab Giok Han. Bahkan membarengi dengan perkataannya, tangannya di ulur. Sebelumnya pemimpin barisan tentara ini seorang murid pintu perguruan Kun-lun-pay tingkat ketiga belas, memiliki kepandaian lumayan.
Tapi berhadapan dengan Giok Han, entah mengapa, ia tidak bisa melihat jelas meluncurnya tangan si pemuda kurus berbaju putih ini- yang telah diduga sebagai pengacau di rumah makan milik Siangkoan Giok Lin, seperti yang telah di laporkan tadi oleh orang-orangnya Siangkoan Giok Lin, tahu-tahu tubuhnya terjengkang kena didorong kuat sekali oleh telapak tangan Giok Han.
Dorongan telapak tangan Giok Han pun bukan dorongan sembarangan, sebab begitu terdorong, ada tiga tulang rusuk pemimpin pasukan tentara itu yang patah, terdengar suara "krekkkk, kreekkkk" dan tubuhnya rubuh terjengkang kelojotan sebentar, kemudian pingsan tidak sadarkan diri !
Kawan-kawannya jadi kaget, semuanya menghunus golok dan tombak, mengepung Giok Han. Tapi Giok Han melangkah maju terus, dia mengelak beberapa bacokan, selalu tangannya bergerak sambil ia melangkah maju, maka terlemparlah beberapa tubuh yang terbanting berkelojotan di tanah tidak bisa bangun ! Sisa tentara negeri jadi gentar menyaksikan itu, mereka masih mengurung, tapi tidak berani maju menyerang.
Kwa Tin Bun sudan cepat-cepat angkat kaki begitu ditinggal Giok Han. Sedangkan Giok Han terus melangkah masuk ke ruang dalam gedung Siangkoan Giok Lin yang sangat besar.
"Orang she Siangkoan, keluarlah untuk bicara denganku !" teriak Giok Han. Suaranya bergema dalam gedung yang mewah dan megah itu.
Dari dalam keluar seorang pemuda berpakaian mewah, dengan diiringi empat orang tukang pukul yang masing-masing bersenjata tajam.
"Bocah, siapa kau? A pa yang kau kehendaki mengacau di sini ?" bentak pemuda berpakaian mewah itu setelah datang dekat dengan Giok Han.
Mata Giok Han tajam mengawasi pemuda itu, kemudian kepada anak buah pemuda itu. "Hemmmmm, masih ada hubungan apa kau dengan Siangkoan Giok Lin ?" tanya Giok Han.
"Apa kehendakmu mencari ayahku ?" bentak pemuda itu yang tidak menyahuti pertanyaan Giok Han, malah balik bertanya.
"Bagus ! Rupanya kau anak si bangsat she Siangkoan!" Kata Giok Han.
Pemuda berpakaian mewah itu memang anak Siangkoan Giok Lin, dia bernama Siangkoan Ok. Umurnya hampir duapuluh empat tahun di bulan citgwee mendatang, sejak kecil ia banyak belajar ilmu silat dari berbagai guru, maka dari itu tak pernah kenal takut.
Sekarang biarpun sudah menerima laporan dari anak buahnya tentang pengacauan Giok Han di rumah makan milik ayahnya, dia tidak gentar sedikitpun, apa lagi melihat Giok Han masih berusia begitu muda.
Tapi bukan main kagetnya ketika tahu-tahu tubuh Giok Han segesit burung walet sudah melayang di depannya. Dia sejak kecil sudah meyakinkan ilmu pukulan yang mengandalkan kekuatan gwakwang (tenaga luar), maka kedua tangannya menghantam kuat ke tubuh Giok Han yang tengah meluncur.
Namun, tahu tahu tubuh Giok Han seperti lemasnya sepotong karet, bisa meliuk ke samping, mata Siangkoan Ok berkunang-kunang. karena kena kepalan tangan Giok Han. Saat itu Siangkoan Ok masih berusaha untuk menyelamatkan diri, dia membuang diri ke samping, berputar sambil berseru:
"Tangkap dia...!" Baru habis dia berkata begitu, tengkuknya dirasakan baal, telah ditotok Giok Han, kaki Giok Han pun sudah mendupak pinggangnya, tidak ampun lagi tubuh Siangkoan Ok terjungkel jumpalitan bergulingan di lantai dan sebelum ia sempat tahu apa-apa, tangan Giok Han sudah menotok Hong hu-hiat nya, seketika tubuhnya kejang.
Semua terjadi dalam waktu singkat, tidak lebih dari empat detik ! Orang-orang yang bersama Siangkoan Ok jadi berdiri kesima. Begitu tersadar segera mereka menyerbu dengan senjata masing-masing.
"Mundur !" bentak Giok Han, pedangnya sudan ditandalkan diperut Siangkoan Ok.
Untuk kedua kalinya empat orang itu jadi terkesiap, mereka merandek melihat jiwa majikan muda mereka terancam bahaya, tidak seorangpun berani maju.
"Panggil Siangkoan Giok Lin keluar !" bentak Giok Han lagi dengan suara tawar.
Salah seorang diantara keempat orang.itu segera berlari kedalam. Tak lama kemudian keluar seorang lelaki setengah tua kurus jangkung dengan thungsha mentereng mewah terbuat dari sutera Souwciu yang terkenal, melangkah cepat sekali.Mukanya tampak muram, matanya bersinar tajam. Lengan jubahnya dikebaskan.
"Siapakah Siauwhiap ? Kudengar kau mencariku ?" tanyanya dengan sikap yang angkuh. "Dan... bersalah apakah anakku sehingga diperlakukan seperti itu oleh Siauwhiap ?"
Giok mengawasi tajam lelaki jangkung kurus tersebut. "Engkaukah Siangkoan Giok Lin ?"
"Tidak salah... kalau Siauwhiap ada persoalan, mari kita bicara baik-baik di ruang dalam..."
Bersambung ke jilid 17
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 16
Toa-congkoan ini tak bisa berbuat apa-apa-apa dia cuma menghela napas jengkel dan penasaran. Tiba-tiba ia merasakan pundaknya sakit, segera dia buka bajunya dan melihat dua tapak biji catur yang berwarna merah di kedua pundaknya. Masih untung senjata itu tak beracun. Kalau beracun tentu kedua tangannya sudah tak dapat digunakan lagi...
Dengan diliputi penasaran yang sangat gusar, Thio Yu Liang melarikan kudanya lagi, dia berusaha untuk mengejar terus. Dia yakin, sejauh-jauhnya pemuda baju putih itu menyingkir, toh akhirnya akan beristirahat juga.
Thio Yu Liang berharap masih bisa mengejar pemuda yang tampaknya masih belum hilang bau pupuknya tapi lihay ilmu silatnya itu...
Yap Cu Siang yang menggemblok di punggung kuda, merasakan seperti juga dibawa terbang di udara. Hatinya berdebar-d-bar, ia tak nyana seekor kuda dapat berlari sedemikian cepat. Selagi ia mau menengok ke belakang untuk menghaturkan terima kasih kepada penolongnya, kuda itu melompati suatu selokan dan hampir-hampir ia jatuh terpelanting. Buru-buru ia menjepit perut kuda terlebih keras dan tidak berani menengok ke belakang.
"Jangan bicara ! Hati-hati !" membentak si baju putih sembari memecut udara dan kuda itu lantas saja lari terlebih keras
Tak lama kemudian fajar sudah menyingsing dan sibaju putih menahan kudanya. "Sekarang sudah boleh berhenti," katanya sembari meloncat turun dari kudanya dengan paras muka tidak berobah dan napasnya juga tidak tersengal-sengal.
"Kuda ini benar-benar kuda yang bagus dan jarang terdapat dalam dunia." memuji Yap Cu Siang kagum memandang kuda itu-Kemudian: "Apa sekarang aku boleh mengetahui nama tuan yang mulia ?"
Pemuda baju putih tak menyahut. Mendadak tangannya dilonjorkan dan golok Bianto yang tergantung di pinggang Yap Cu Siang sudah pindah kedalam tangannya. Bagi seorang ahli silat, melindungi senjatanya adalah satu kebiasaan yang otomatis.
Begitu tangan si baju putih menyambar, tangan Yap Cu Siang pun bergerak, tapi ia kalah cepat dan dilain saat, pemuda itu sudah menyekal Bianto dan mengawasi senjata itu dengan paras muka bersangsi, mukanya berobah. Dia mengamat-amati dua tulisan pada samping gagang golok sebelah bawah: "Yang-kee" (Leluhur Yang).
Yap Cu Siang terkejut.
"Dari mana kau dapat golok mustika ini ?" menanya si baju putih.
"Ini adalah golok Yang Bu In," jawabnya.
Muka si baju putih berobah, matanya tampak berkilat tajam memandang Yap Cu Siang.
"Yang Bu In dari kota Siauw An (sekarang Leng-an) di jalan Yang-ceng ?" menegasi pemuda baju putih.
Yap Cu Siang heran, dia mengawasi si pemuda, kemudian mengangguk.
"Ya," jawabnya kemudian.
Kenapa Yang Bu In menyerahkan golok leluhurnya kepadamu ?" tanya si pemuda.
"Yang Bu In sekeluarga terfitnah, dianiaya orang-orang congtok dan semua itu atas perintah kaisar," menyahuti Yap Cu Siang. Sekeluarga Yang Pehpeh ditangkap dan sekarang ditahan oleh congtok di Leng-an, atas tuduhan Yang Pehpeh diam-diam memihak pada... pada..."
Yap Cu Siang ragu ragu, pemuda baju putih mengawasi tajam. "Pada siapa ?" tanyanya.
"Pada Giam Cu, yang kini tentaranya mulai bergerak dari utara..!" melanjutkan Yap Cu Siang.
"Apakah benar Yang Bu In membantu Giam Cu ?" tanya pemuda baju putih itu.
Yap Cu Siang kembali ragu-ragu. la tidak kenal pemuda baju putih ini. bagaimana ia bisa bicara terus terang ? Tapi, ingat pemuda baju putih ini telah menolongi jiwanya, segera dia bicara terus terang: "Benar ! Setengah tahun yang lalu Yang Pehpeh telah menyumbang selaksa tail untuk mengurangi beban Giam-Cu terhadap belanja tentara pencinta negeri. Bahkan, Yang Pehpeh sudah menjanjikan pada akhir tahun ini akan menyerahkan seluruh harta miliknya yang ada untuk bantu perjuangan Giam Cu, bahkan ia sendiri akan ikut dalam pasukan Giam Cu. Tapi siapa sangka... siapa sangka anjing-anjing Kaisar telah mencium semua itu, sekeluarga Yang Bu In ditangkap..!"
"Hemmm, kapan ditangkapnya?"
"Seminggu yang lalu... itupun atas perintah firman kaisar yang dibawa Kim-cee (utusan Kaisar), yang kini masih berdiam di Leng-an."
"Di mana Yang Bu In ditahan sekarang?" tanya pemuda baju putih itu lagi.
"Di markasnya tiekoan !" menyahuti Yap Cu Siang.
"Selain Yang Bu In, siapa-siapa saja keluarganya yang ditawan ?"
"Yang Pehpeh suami isteri, beberapa orang pelayan, mungkin berjumlah delapan orang."
"Kabarnya Yang Bu In mempunyai seorang puteri, bahkan sudah menikah. Bagaimana dengan puteri dan mantunya ?"
Yap Cu Siang memandang curiga pada pemuda baju putih itu, ia ragu-ragu. Bagaimana pemuda baju putih ini bisa mengetahui begitu jelas tentang keluarga Yang ? Golok leluhurnya, puterinya, mantu dari keluarga Yang..."
"Mereka... mereka sedang berkelana, sehingga lolos dari jaring orang-orang tiekoan dan para pahlawan istana kaisar... yang saat itu ikut mengepung gedung Yang Pehpeh," akhirnya Yap Cu Siang memberikan keterangannya juga. "Hanya sayang, usahaku untuk menolongi Yang Pehpeh dan isterirya gagal, sehingga aku dikejar dan dikuntit oleh anjingnya Kaisar yang tadi telah dihajar oleh In-jin (tuan penolong). Aku bermaksud cepat-cepat memberi laporan kepada Giam Taijin ..."
Pemuda baju putih itu menghela napas, menghunus Bianto yang lalu disabetkan ke udara beberapa kali. la mendongak dan tertawa berkakakan, tertawa yang nadanya menyayatkan hati. la memang pernah melihat golok ini, diperlihatkan oleh Yang Bu In. Benar Yang Bu In mempergunakan pedang sebagai senjatanya, karena ia meyakinkan ilmu pedang, tapi golok Bianto ini adalah golok warisan leluhur yang dihormati keluarga Yang.
Beberapa tahun yang lalu ia pernah bersama Yang Bu In dan keluarganya melihat golok leluhur keluarga Yang beberapakali, karenanya segera ia bisa mengenali golok Bianto ini waktu pertamakali melihatnya di tangan Yap Cu Siang.
"Bagus !" ia berseru. "Biar bagaimana, pun juga Yang Bu In tidaklah mengecewakan, la tidak mensia-siakan harapan rakyat dan juga Giam Cu Tayjin !"
Yap Cu Siang tergoncang hatinya dan mendengar perkataan sipemuda baju putih tampaknya ia mempunyai hubungan yaug rapat dengan keluarga Yang Bu In.
Pemuda itu lalu memasukkan Bian-to ke dalam sarungnya dan gantung senjata itu dipinggangnya sendiri.
"Mohon tuan sudi mengembalikan golok itu kepadaku," kata Yap Cu Siang.
"Kenapa ?" ia menanya.
"Aku dapat mengerti jika In-jin (tuan penolong) menyukai golok ini," kata Yap Cu Siang. "Semenjak dulu orang kata: Golok mustika harus diserahkan kepada orang gagah, pupur wangi harus dipersembahkan kepada wanita cantik. Menurut pantas memang aku harus mempersembahkan senjata itu kepada In-jin. hanya sayang, sungguh sayang, waktu terakhir kali aku bertemu Yang pehpeh sudah berpesan kepadaku supaya menyerahkan golok itu kepada orang lain dan disebelan itu. didalamnya tersembunyi satu urusan besar.
"Urusan apa ?" menanya si baju putih dengan suara tawar.
"Golok ini harus kuserahkan kepada puteri dan mantu Yang Pehpeh, yaitu Yang Lan lihiap dan Khang Thiam Lu, suaminya."
"UntuK apa diserahkan kepada Yang Lan lihiap dan suaminya ?" tanya pemuda baju putih itu.
"Sebagai bukti atas seluruh keterangan yang akan kusampaikan kepadanya, juga meneruskan pesan Yang Pehpeh, agar Yang Lan lihiap bersama suaminya bersama-sama pergi menemui Giam Cu Tayjin, untuk membantu perjuangan Giam Tayjin melawan Kaisar penjajah !"
Pemuda baju putih itu menghela napas, dia menggeleng perlahan. "Biarkan golok ini kuserahkan sendiri kapada Yang Lan lihiap. Sekarang terpenting adalah menolongi Yang Pehpeh !" katanya.
Yap Cu Siang ragu-ragu.
"Siapakah In-jin sebetulnya ?" Tanya Yap Cu Siang akhirnya.
Pemuda baju putih itu memberitahukan namanya sambil bersiap-siap untuk berangkat melompat keatas kudanya. Temyata pemuda baju putih itu tidak lain Giok Han.
"Naiklah," katanya sambil menepuk punggung kudanya menganjurkan Yap Cu Siang. Tanpa berayal lagi Yap Cu Siang melompat kebelakang punggung kuda itu, yang kemudian dilarikan Giok Han mutar kembali menuju ke Leng-an.
Dengan kudanya yang bisa lari sangat cepat, dalam dua hari Giok Han berdua Yap Cu Siang sudah sampai dipintu kota sebelah timur.
Sudah hampir empat bulan Giok Han turun gunung, karena Tai Giok Siansu anggap seluruh kepandaian sudah diwariskan kepadanya dan sudah waktunya pula muridnya ini turun gunung, selain mencari tambahan pengalaman, juga untuk menyelidiki perkembangan terakhir. Yang diutamakan dalam pesan Tai Giok Siansu sebelum keberangkatan Giok Han, muridnya harus menyelidiki keadaan negeri pada saat itu dan apa saja yang dilakukan oleh Tang San Siansu!
Tugas lainnya, kalau memang keadaan memaksa. Giok Han harus segera membantu perjuangan Giam Cu, Tugas yang dipikul oleh Giok Han bukanlah tugas yang ringan, karena selain ia harus menyelidiki tentang Tang San Siansu, juga membantu perjuangan Giam Cu.
Menyelidiki tentang Tang San Siansu memiliki hubungan erat dengan persoalan yang mengancam keselamatan Siauw Lim Sie, sedangkan tugas menghubungi Giam Cu memiliki kepentingan yang jauh lebih penting lagi yaitu untuk membantu perjuangan para pencinta negeri mengusir Kaisar penjajah itu !
Waktu pertama kali turun gunung, yang diingat olch Giok Han adalah Yang Bu In. la bermaksud mengunjungi dan berharap bisa bertemu dengan Lam Sie, pelayan yang setia itu. Juga Khang Thiam Lu diharapkan berada dirumah Yang Bu In, untuk dimintai keterangan sejelas-jelasnya tentang peristiwa pembunuhan keluarga Giok oleh orang-orang Kaisar !
Siapa tahu, dalam perjalanan menuju ke Leng-an, justeru ia melihat Yap Cu Siang tengah terancam oleh Thio Yu Liang, segera ia turun tangan menolongi Yap Cu Siang, yang akhirnya menyebabkan Giok Han mengetahui keluarga Yang telah tertimpa bencana oleh orang-orang Kaisar !
Pada pintu kota sebelah timur tampak banyak sekali serdadu-serdadu penjaga pintu.
Giok Han mengajak Yap Cu Siang ke pintu kota sebelah barat. Disitu tampak gelap dan agak sepi, hanya beberapa orang serdadu penjaga pintu kota.
"Kita pergi kepintu sebelah utara," kata Giok Han dengan suara perlahan. Dengan hati-hati mereka lalu jalan disepanjang tembok, supaya tidak terlihat oleh serdadu-serdadu penjaga. Kuda Giok Han sudah ditambat belasan li jauhnya sebelum mereka tiba dipintu kota Leng-an ini.
Tapi baru saja mau biluk di satu ujung tembok, dari sebelah utara kelihatan mendatangi lima serdadu peronda yang membawa lentera. Mereka kaget dan lalu mepet ke tembok.
Tapi rupanya mereka sudah terlihat oleh para peronda, yang lanta; berhenti dan seorang serdadu yang jalan paling dahulu, angkat lenteranya dan matanya mengawasi keempat penjuru.
"Barusan aku lihat beberapa bayangan hitam, tapi lantas menghilang,"
"katanya pada kawan-kawannya.
"Mana bisa ! Mungkin kau kebanyakan tenggak susu macan!" kata seorang kawannya.
"Jangan bicara main-main ! "kata serdadu itu dengan suara mendongkol. "Aku sama sekali tidak minum arak. Barusan jelas-jelas aku lihat beberapa bayangan. Coba kita cari di bawah tembok." Sehabis berkata begitu ia jalan ke jalan ke arah tembok sembari acungkan lenteranya, diikuti oleh empat kawan-kawannya.
Begitu ia datang dekat, tangan Giok Han menyambar dan tiang lentera jatuh serta padam. Di lain saat, Giok Han sudah menotok jalan darahnya yang membikin ia jadi bungkam tak bersuara. Baru saja tadi ia berteriak: "Penjahat !", empat serdadu lainnya sudah kena dibikin rubuh oleh Yap Cu Siang, yang sudah menotok jalan darah keempat peronda itu.
Penjaga loteng tembok kota rupanya sudah dengar suara ribut-ribut itu. "Penjahat apa ?" seorang berteriak dari atas. Dengan cerdik Yap Cu Siang baru-baru nyalakan lentera yang lantas diangkat tinggi dan menyahut: "Kami ronda malam. Barusan ada beberapa penjahat yang lari ke jurusan selatan!"
Di atas tembok kota lantas muncul beberapa lentera. "Kenapa tidak dikejar ?" berteriak salah seorang di atas.
"Kami juga mau mengejar. Hayo, kalian tolong bantu kami!" berseru lagi Yap Cu Siang. Tingginya tembok kota kurang lebih 3 tombak dan dalam yang gelap, orang-orang yang di atas tentu tidak dapat lihat jelas muka orang-orang yang berada di bawah
Yap Cu Siang lantas saja lari ke arah selatan dan di atas tembok kota segera terdengar suara tindakan yang ramai. Sesudah lari beberapa puluh tindak, Yap Cu Siang kembali berteriak: "Nih, dia ! Hayo lekas ! Cepat !"
Para serdadu yang sudah turun ke bawah lantas mempercepat tindakannya dan lari mengikuti suara Yap Cu Siang.
Selang tidak lama Yap Cu Siang sudah balik dan berkata: "Nah, ini dia penjahat-nya !" Dan dia kerahkan tenaganya, dalam sekejap ia berkelebatan ke sana-sini, maka rubuhlah para pengawal pintu kota itu. Gesit sekali Yap Cu Siang kemudian melompat ke atas tembok kota.
Giok Han pun sudah lompat lincah sekali ke tembok pintu kota. "Kau bersembunyi di sekitar tempat ini, aku akan pergi ke gedung tiekoan" pesan Giok Han.
Sesudah berlari-lari tidak lama di atas genteng-genteng rumah, tibalah Giok Han di gedung tiekoan la memiliki ginkang tinggi, maka mudah saja ia melakukan perjalanan di atas genteng-genteng rumah penduduk tanpa menimbulkan kecurigaan apa-apa. Gedung tiekoan dikurung dengan tembok tinggi.
Giok Han mendekam diatas genteng rumah seorang penduduk dan memandang keadaan di gedung tiekoan, Di bagian belakang pekarangan gedung terdapat tiga atau empat kamar, sedang di sebelah selatan-timur terdapat satu lorong panjang yang di kedua pinggirnya dipasang lankan yang terukir indah sekali.
Giok Han tahu, bahwa itulah ada kamar-kamar yang digunakan oleh keluarga tiekoan. Seperti seekor burung walet, ia hinggap ringan diatas tembok, dan kemudian loncat turun dalam pekarangan gedung tiekoan tanpa mengeluarkan suara. Waktu itu sudah jam dua lewat tengah malam, sedang keadaan di situ sunyi senyap. Hati-hati sekali Giok Han hampiri sebuah kamar yang mempunyai beberapa jendela, terukir dengan kaca yang indah.
la mendekati satu jendela kaca dan mengintip ke dalam kamar yang lampunya masih terang-benaerang. Kamar itu ternyata adalah kamar tulis. Seseorang yang berpakaian indah kelihatan sedang menulis surat, dan tanpa melihat mukanya Giok Han segera dapat pastikan bahwa orang itu adalah tiekoan Leng-an yang bernama Cu Sin Tek.
Sesudah menghunus pedang pendeknya, Giok Han buka pintu, singkap tirai dan loncat ke belakang tiekoan. Melihat api lilin bergoyang. Cu Sin Tek letakkan pitnya dan niat memanggil orang. Tapi pundaknya sudah dicekal dengan tangan yang kuat, sedang sebatang pedang berkelebat di depan matanya. Cu Sin Tek bergidik sebab ia rasakan dinginnya hawa pedang yang sudah menempel pada tenggorokannya.
"Mau mati apa mau hidup ?" tanya Giok Han dengan suara perlahan.
Dengan gemetar sekujur badan dan keringat dingin keluar diri dahinya, Ca Sin Tek manggut-manggutkan kepalanya.
"Beberapa hari berselang, bukankah ada datang satu kim-cee (utusan kaisar) ?" tanya lagi Giok Han.
Cu Sin Tek kembali manggutkan kepalanya.
"Di mana adanya kim-cee itu ?" Giok Han menanya pula. Tiekoan itu menganga dan buat sementara tidak dapat menjawab.
"Kalau kau gagu, tulis saja di atas sepotong kertas," kata Giok Han sembari tertawa.
Cu Sin Tek tahu, ia sekarang sedang berhadapan dengan orang yang berkepandaian tinggi. la tahu, jika membandel, jiwanya bisa melayang. Mengingat begitu, ia lantas angkat pitnya dan menulis di atas kertas.
Giok Han lalu baca bunyinya tulisan yang seperti berikut : "Kim-ce Kui sekarang berdiam di ranggon dalam gedungnya cong-tok Leng-an."
Tanda-tangani !" Giok Han memerintah.
Muka Cut Sin Tek jadi pucat. Melihat ia ayal-ayalan, Giok-Han tandelkan pedang pada lehernya dan membentak : "Lekas !"
Lantaran takut mati, ia terpaksa angkat lagi pitnya dan menulis perkataan : Tiekoan Leng-an Cu Sin Tek." di-bawahnya kertas itu.
Sembari mesem Giok Han lipat kertas itu yang lantas dimasukkan ke dalam kantongnya. "Tiekoan Taijin," kata Giok Han seraya kebaskan pedang di depan mukanya. "Sekarang aku mau minta pertolonganmu. Apa kau dapat menyanggupi ?"
"Bisa, bisa," kata sang tiekoan.
"Bagus ?" kata lagi Giok Han. "Sekarang aku mau tanya: "Apakah kau yang suruh tangkap Yang Bu ln dan keluarganya ?"
Cu Sin Tek manggutkan kepala.
"Mereka merebut kedosaan apa ?" tanya Giok Han lagi.
"Kaisar telah perintah Kim-cee Kui Hoa datang di sini buat membekuk pemberontak. Aku cuma melaksanakan perintah..." menerangkan Cu Sin Tek.
"Dusta !" Giok Han membentak. "Ada orang lihat mereka dirantai dan diseret oleh serdadu-serdadumu dan kau sendiri memperlakukan mereka galak sekali. Mereka adalah keluarga baik-baik, keluarga Yang tidak pernah melakukan kedosaan apapun juga terhadap negara, siapa yang telah fitnah mereka."
"Itu... itulah di luar pengetahuanku. Mohon mohon sudi mengampuni. . ." kata Cu Sin Tek dengan suara meratap.
Giok Han keluarkan suara di hidung dan berkata lagi: "Yah, sudahlah. Sekarang aku mau coret namanya Yang Bu In. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh ganggu lagi keluarga Yang. Juga kauharus perintahkan orang membebaskan mereka, Jika kau membandel, aku akan ambil kepala anjingmu. Kau mengerti ?"
Tiekoan itu jadi gemetar sekujur badan. "inilah firmannya Kaisar," kata ia dengan suara serak. "Dan semua ini atas perintah yang telah disampaikan Kim-cee Taijin. Kalau aku tidak . . . tidak melaksanakan perintah . . . aku sendiri bisa celaka."
Mata Giok Han mendelik. "Aku tak perduli !" ia membentak "Jika kau langgar Yang Bu In dan keluarganya, kau harus tahu Liong Kak Sin Hiap tidak boleh dibuat main-main ! "
Mendengar perkataan Giok Han, hati Cu Sin Tek kuncup.
"Baiklah." katanya. "Kalau memang kau memerintah aku begitu . . . aku akan . . . mematuhi."
Giok Han manggut-manggutkan kepalanya. "Sesudah kau berjanji begini, dan akan menuruti setiap perintahku, akan kuampuni jiwa anjingmu. Tapi kalau nanti kau main gila, aku akan binasakan Kim-cee dan kirim surat yang barusan kau tulis kepada pembesar negeri, dengan mengatakan bahwa pembunuhan itu diperintah olehmu !"
Tiekoan itu mencelos hatinya, kembali keluarkan keringat dingin. "Jangan begitu, hohan. Aku tentu tidak berani main gila," ia meratap dan merintih.
"Sekarang kau perintahkan orangmu untuk membebaskan Yang Bu In dan keluarganya !" bentak Giok Han.
Tiekoan itu ketakutan setengah mati, Giok Han menyeretnya ke dekat tirai, Giok Han berdiri di balik tirai, sedangkan tangan tiekoan dicekal masuk ke balik tirai, mata pedang menandal di punggungnya terhalang hanya tirai. Tiekoan itu menggigil ketakutan, mata pedang yang tajam menembusi jubahnya dan kulitnya lecet perih.
"Cepat kau panggil orangmu dan keluarkan perintahmu agar Yang Bu In dan keluarganya dibebaskan !"
Tiekoan tidak berani main gila, karena sekali pedang itu menghujam, habislah riwayatnya. Segera dia berteriak memanggil orang dengan suara serak, diperintahkan membebaskan Yang Bu In, isterinya dan para pelayannya.
"Perintahkan antar mereka sampai keluar pintu kota !" bisik Giok Han perlahan.
Tiekoan itu tidak berani membantah, dia juga perintahkan orangnya agar mengantarkan Yang Bu ln sekeluarga sampai keluar pintu kota. "Masing-masing diberi seekor kuda !" bisik Giok Han lagi dan tiekoan itupun mengeluarkan perintahnya seperti itu. Orangnya jadi memandang bingung atas sikap tiekoan, tapi tiekoan yang merasa pundaknya sakit karena mata pedang ditekan lebih keras oleh Giok Han, jadi membanting kaki dengan muka meringis: "Cepat laksanakan perintah !" teriaknya ketakutan.
Orang tiekoan tidak berani berayal, segera Yang Bu In sekeluarga dibebaskan, masing-masing diberi seekor kuda dan diantar sampai di luar pintu kota. Di sana Yang Bu In semua disambut oleh Yap Cu Siang, yang girang bukan main. Mereka menjauhi pintu kota, seperti yang telah dipesan Giok Han tadi sebelum ia berpisah dari Yap Cu Siang.
Setelah menunggu setengah jam sejak orang tiekoan melapor perintah telah dilaksanakan, dan setelah pengawal tiekoan mengundurkan diri, Giok Han menyeret tiekoan ke dekat meja tulisnya... Keluarga Yang telah kehilangan hartanya, mereka terpaksa tidak bisa berdiam lagi di Leng-an, berarti rumah dan harta mereka lenyap. Kau perintahkan orangmu untuk mengambil separoh dari hartamu, untuk kubawa dan nanti kuberikan kepada Yang Bu In, agar mereka tidak menjadi susah karena fitnahan ini!"
Kaget Cu Sin Tek. Mendengar Giok Han suruh ia bagi hartanya separuh yang akan dibawa buat Yang Bu In, tubuhnya menggigil keras dan mukanya pucat. Cu Sin Tek sangat kikir mendadak merasakan sesak napasnya dan ia rubuh dalam keadaan pingsan.
"Binatang ini pandang harta seperti juga jiwanya. Benar-benar menyebalkan !" menggerendeng Giok Han. Dengan perasaan mendongkol, ia potong kuping kiri pembesar rakus dan kemudian berlalu dasi kamar itu, buat menyusul Yap Cu Siang.
Yang Bu In dan lain-lainnya di luar pintu kota, yang di ajak untuk berlalu sejauh, mungkin, karena ia yakin dalam waktu dekat pasti ada pasukan tiekoan yang akan mengejar mereka.
Lantaran perasaan sakit, Cu Sin Tek sadar dari pingsannya. Begitu mengetahui hilangnya sebelah kuping, ia segera menjerit sekeras suara. Waktu itu, kepala pengawal tiekoan yang bernama Ciu Leng Kiauw kebetulan baru pulang habis meronda. Hatinya terkesiap mendengar jeritan dari kamar tulisnya tiekoan dan memburu ke situ.
Mendadak ia lihat sesosok bayangan hitam loncat ke atas tembok. "Celaka !" ia berseru dan mengetahui bahwa tiekoan telah disatroni pembunuh, la lantas loloskan gendewanya dari punggungnya dan melepaskan sebutir peluru, tapi bayangan hitam itu, yang gerak kannya luar biasa gesit, sudah loncat turun keluar tembok.
"Ada pembunuh !" Ciu Leng Kiauw berseru buat panggil orang-orangnya. sedang ia sendiri lalu loncat ke atas tembok. la memandang ke bawah, tapi orang itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi. Mendengar teriakan Ciu Leng Kiauw, belasan pengawal yang menjaga di luar kantor tiekoan memburu ke situ, tapi "penjahat" sudah tidak kelihatan mata-hidungnya lagi.
Pada hari-hari biasa, tiekoan Cu Sin Tek larang para pengawalnya, terhitung juga Ciu Leng Kiauw, masuk ke pekarangan belakang, yaitu ke gedung tempat tinggal keluarganya. Malam itu, sehabis pulang meronda, ia bermaksud untuk istirahat, siapa tahu mendengar jeritan tiekoan dan melihat sesosok bayangan tamu tak diundang. Lantaran begitu, ia lalu masuk ke dalam buat melihat keadaan tiekoan dan hatinya berdebar keras.
Sesudah perintah belasan orang pengawal periksa seluruh pekarangan, ia segera loncat turun dari atas tembok dan pergi ke dalam kamar tulis. Api lilin masih terus menyala terang, sedang semua barang tidak ada yang terganggu. Tapi di atas lantai menggeletak tubuhnya sang tiekoan dengan berlumuran -darah dan dalam keadaan pingsan.
Hati Ciu Leng Kiauw mencelos. la tubruk badan majikannya dan raba dadanya yang ternyata masih hangat dan napasnya masih berjalan seperti biasa. la angkat tubuh pembesar itu dan baru tahu bahwa kuping kiri tiekoan telah "dicuri" oleh tamu malam tak diundang itu.
Ciu Leng Kiauw segera dukung tubuh tiekoan yang dibawa keluar dari kamar tulis. Di luar ia bertemu dengan isteri pembesar itu dan pelayan-pelayan yang pada datang lantaran dengar suara ribut-ribut. Sesudah memesan supaya seorang pelayan sediakan somthung, ia bawa tiekoan ke kamar tidurnya, di mana ia lebih dahulu pakaikan obat luka pada kupingnya tiekoan dan kemudian beri makan Seng-hun-yo (obat buat bikin sadar orang pingsan).
Beberapa saat kemudian, Cu Sin Tek sadar dan lalu dikasih minum Som-thung, supaya pulih kekuatannya. Sesudah semangatnya pulih kembali, Cu Sin Tek segera perintah isteri dan pelayan-pelayannya berlalu dan minta Ciu Leng Kiauw seorang berdiam dalam kamarnya.
Sesudah semua orang tinggalkan kamarnya, Cu Sin Tek segera berkata dengan suara di hidung : "Ciu Leng Kiauw, hukuman apa kau harus dapat ?"
Kepala pengawal tiekoan itu jadi gemetar dan buru-buru berlutut seraya berkata : "Toaya, aku tahu, aku berdosa..."
"Kedudukanmu adalah sebagai kepala pengawal dan kau makan gajinya negara, sedang akupun perlakukan kau cukup baik," kata lagi sang tiekoan. "Tapi ternyata, kau tidak mempunyai kebecusan. Sekarang aku.." Mendadak ia ingat satu kupingnya yang di potong Giok Han. Mukanya jadi merah padam lantaran malu dan gusar, sehingga Ciu Leng Kiauw lah yang menjadi korban hawa amarahnya:
"Ciu Leng Kiauw !" ia membentak. "jiwaku hampir-hampir mampus dalam tanganmu! Sekarang aku mau tanya: "Kau mau bicara apa di hadapanku?"
Kepala pengawal yang lacur itu tak berani angkat mukanya. la cama manggut-manggutkan kepalanya-dan terus berlutut.
Melihat yang ditanya tidak menyahut, tiekoan membentak pula: "Binatang ! Aku beri batas waktu tiga hari. Dalam waktu tiga hari kau harus bekuk pembunuh itu !"
"Toaya, mohon Toaya jangan terlalu bergusar." berkata Ciu Leng Kiauw dengan suara gemetar "Aku mohon tanya, bagaimana romannya pembunuh itu ? Apa dia tinggalkan namanya atau tidak?"
"Biasanya kau suka bicara besar dan bilang banyak mengenal orang-orang Kang-ouw. Tapi sekarang. orang itu yang katanya bergelar Liong Kak Sin Hiap kau masih belum tahu !" kata si tiekoan dengan suara gusar.
Mendengar gelaran Liong Kak Sin Hiap, alis Ciu Leng Kiauw mengkerut. la belum pernah mendengar gelaran itu, sungguh mati dia tidak tahu entah siapa orang yang memakai gelaran Liong Kak Sin Hiap itu, yang berusaha coba membunuh cukongnya ini.
"Pergi! Dalam tiga hari kau mesti membereskan perkara ini !" Demikian Cu Sin Tek membentak dengan suara galak.
Ciu Leng Kiauw tak dapat berbuat Iain dari pada berlalu sambil manggut-manggutkan kepalanya.
Kembali ke kantornya, sambil membentak-bentak ia perintahkan para pengawal untuk melakukan pengejaran. Hatinya mendongkol bukan main. Tapi tak lama kemudian belasan pengawal yang diperintahkan pergi menangkap penjahat pulang dengan beruntun dan hasilnya nihil.
Sekarang giliran Ciu Leng Kiauw buat bersikap galak. Sembari mendelik dan menggebrak meja, ia membentak: "Mana penjahatnya ?"
"Kami sudah pergi ke segala pelosok kota Leng-an. tapi tidak dapatkan orang yang dicurigai," jawab salah seorang di antara pengawalnya itu.
Ciu Leng Kiau melampiaskan kemendongkolan hatinya pada para pengawal itu. la gebrak meja sekuat tenaga, sehingga piring mangkok pada terguling.
"Binatang!" ia membentak seperti caranya tiekoan membentak dia tadi. "Aku beri batas waktu tiga hari ! Dalam tiga hari kalian harus bekuk penjahat itu ! Kalau tidak, seorang akan ku persen tigapuluh rotan ! Hayo, pergi !"
Mendengar makian dan batas waktu itu, belasan pengawal tersebut tentu saja jadi sangat ketakutan. Tapi apa mereka bisa berbuat ? Mereka hanya pergi mencari lagi, dan yang menjadi sasaran adalah beberapa orang rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa jadi sasaran kemarahan para pengawal tiekoan ini, yang main bentak dan pukul ! Bahkan ada satu-dua orang yang digusur ke gedung tiekoan buat diperiksa, dengan alasan orang-orang itu harus dicurigai sebagai penjahat!
Sekarang mari kita tengok Giok Han, Dari gedung Tiekoan ia segera menyusul Yap Cu Siang. pertemuan dengan Yang Bu In dan Lam Sie, pelayan tua yang setia itu, mengharukan. Tapi Giok Han sadar mereka tidak boleh buang-buang waktu, segera mengajak mereka berlalu secepat mungkin, semakin jauh semakin baik buat mereka, karenanya rombongan ini tidak beristirahat melakukan perjalanan dua hari dua malam terus menerus.
Barulah akhirnya di sebuah perkampungan kecil mereka beristirahat. Mereka melepaskan rindu. Lam Sie malah sampai memeluk Giok Han sambil menangis, mendengarkan cerita majikan kecilnya, yang kini telah jadi dewasa. Setengah hari mereka melepaskan lelah, akhirnya Giok Han bilang pada Yap Cu Siang: "Yap-toako, kita tak bisa berlama-lama di sini, kalau sampai barisan tiekoan mengejar sampai di sini, kita akan repot. Kita harus segera melanjutkan perjalanan. Yang Pehpeh tentu bersedia ikut dengan Yap-toako pergi menemui Giam Cu Taijin, untuk bergabung dengan mereka ? Aku sendiri harus pergi ke suatu tempat menyelesaikan suatu urusan. Nanti aku akan menyusul kalian bergabung menjadi satu . . .!"
Setelah berunding, memang Yang Bu In dan Yap Cu Siang menyetujui untuk pergi bergabung dengan Giam Cu. Segera mereka berpisah. Lam Sie, berpisah kembali dengan Siauwya nya dengan linangan air mata, rasa rindunya masih belum lagi terpenuhi, sekarang mereka sudah harus berpisah lagi.
Tapi menyadari akan bahaya yang bisa menimpah mereka, maka akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan dengan cepat, dipimpin Yap Cu Siang untuk bergabung dengan Giam Cu. Golok leluhur keluarga Yang sudah dikembalikan Yap Cu Siang pada Yang Bu In.
Giok Han mengantarkan kepergian rombongan teman-temannya itu dengan mata merah karena menahan tangis. la pun sangat rindu pada Lam. Sie, pelayan keluarganya yang sangat setia dan kini sudah tua benar.
Tapi, Giok Han memiliki kepentingan mendesak yang mengharuskan mereka berpisah. Setelah rombongan Yang Bu In lenyap dari pandangan matanya, Giok Han menghela napas, memutar kudanya dan dilarikannya keras-keras . . . .
Giok Han melarikan kudanya cepat sekali ke arah utara, ia menuju ke propinsi Kang-souw. Sesudah melakukan perjalanan beberapa lama ia tiba di Hankouw.
Giok Han masuk ke dalam kota kira-kira tengah-hari dan ia merasa lapar sekali. Selagi mencari-cari tempat penangsel perut, ia melihat sebuah restoran besar dipinggir jalanan yang ramai dan memasang merek Kim-hong-louw (Rumah makan Burung Hong mas) dengan huruf-huruf emas yang besar-besar.
"Rumah-makan itu agak luar biasa," pikir Giok Han. la meraba sakunya, ternyata hanya mempunyai seratus lebih uang tembaga, tak cukup untuk makan dan minum arak.
"Biarlah aku makan saja semangkok mie," pikirnya sambil menambat kudanya pada tempat tambatan kuda.
Sesudah itu dengan membawa bungkusannya, periahan-lahan ia naik ke loteng. Melihat baju pemuda itu yang sederhana dan kotor oleh debu, seorang pelayan lantas saja menghadang di tengah jalan seraya berkata: "Tuan, makanan di atas loteng mahal-mahal harganya . . . tidak ada harganya yang murah ...."
Giok Han mengawasi tawar pada pelayan mendadak ia tertawa besar dan berkata dengan suara nyaring : "Asal makanan enak dan arak sedap, berapapun mahalnya harga makanan itu tak kuhiraukan!"
Si pelayan menyingkir dengan rasa sangsi, ia mengawasi Giok Han terus mendaki tangga loteng. Ruangan loteng itu besar, bersih dan diperlengkapi dengan perabotan yang halus nan indah. Para tamu yang sedang makan minum rata-rata berpakaian mentereng mewah, sebagai tanda bahwa mereka orang-orang beruang. Seperti kawannya yang menghalangi di bawah loteng, pelayan di atas lotengpun memandang rendah kepada Giok Han yang berpakaian sederhana dan kotor. Sesudah beberapa lama duduk di situ, masih saja tak seorang pelayan datang menghampirinya.
Giok Han jadi semakin mendongkol. Selagi ia mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, di tengah jalan tiba-tiba terdengar suara ribut, disusul dengan suara tertawa seorang wanita.
Giok Han duduk di pinggir jendela Iantas saja melongok ke bawah. la melihat seorang perempuan dengan rambut terurai dan muka serta pakaian berlepotan darah, sedang menari-nari di tengah jalan sambil mencekal sebatang golok, sebentar menangis dan sebentar tertawa. "Ah, orang gila," pikir Giok Han.
Lalu lintas terganggu, banyak yang menonton dari sebelah kejauhan, ada yang ketakutan, ada pula yang kelihatannya merasa kasihan, tapi tak seorangpun yang berani mendekati perempuan sinting itu. Mendadak perempuan edan itu menuding merek Kim-hong lauw dan bertepuk tangan sembari tertawa terpingkal-pingkal...
"Siangkoan loya !" ia berteriak. "Biarlah kau berusia sejuta tahun, kaya dan mulia lengkap semuanya. Aku si tua berlutut di sini, supaya Langit yang mempunyai mata, melindungi kau seumur hidup!"
la berlutut dan membenturkan kepalanya diatas tanah, sehingga jidatnya mengeluarkan darah. Tapi agaknya, sedikitpun perempuan edan itu tak merasa sakit.
la terus manggut-manggutkan kepala sembari berteriak-teriak: "Siangkoan Loya ! Di waktu siang, biarlah kau mendapat segantang emas, di waktu malam segantang mutiara ! Kaya besar, kaya-raya, ratusan anak, ribuan cucu."
Dari dalam rumah makan sekonyong-konyong keluar seorang lelaki yang tangannya memegang kipas. Dilihat dari gerak-geriknya lelaki itu seperti pengurus rumah makan.
"Peng Sieso !" ia membentak. "Kalau mau jual lagak gila pergilah ke tempatmu. Pergi ! Jangan mengacau di sini. Kau dengar ?"
Wanita itu tak menggubris bentakan orang, ia masih terus berlutut sembari sesambatan. Si pengurus rumah makan mengulapkan tangannya dan dari dalam rumah makan segera keluar dua orang lelaki bertubuh tinggi besar kekar.
Seorang merampas golok di tangan Peng Sieso, sedang yang seorang lagi mendorongnya dengan keras, sehingga wanita itu terguling-guling jumpalitan ke tepi jalan.
Peng Sieso berdiri terpaku dengan mulut ternganga, untuk sementara tak mengeluarkan sepatah kata. Mendadak ia memukuli dadanya sendiri dengan kedua tangannya dan berteriak-teriak sembari menangisi:
"Ohhh ! Sayangku ! Sungguh menyedihkan cara kebinasaanmu. Langit mempunyai mata, kau tidak mencuri dan gegares daging ayam orang!"
"Kubacok kau jika kau masih terus rewel !" bentak lelaki yang tadi merampas goloknya.
Peng Sieso tak menjadi jeri, ia menangis semakin keras. Si pengurus rumah makan melirik semua penonton dan ia mencapat kenyataan bahwa mereka semua mengunjukkan wajah tak puas. la mengibaskan kipasnya dan tersenyum tawar, ia mengulapkan tangannya dan masuk kembali ke dalam Kim-hong-lauw bersama dua orang anak buahnya yang bertubuh tinggi besar.
Melihat lelaki gagah menghina seorang wanita lemah, lagi pula wanita sinting, Giok Han sebenarnya sudah ingin menyelak. Akan tetapi mengingat wanita itu adalah seorang tidak beres pikirannya, sedapat mungkin ia menahan sabar.
Tiba-tiba ia mendengar pembicaraan dua tamu yang duduk pada meja sebelah belakang. "Dalam urusan ihi Siangkcan Loya keterlaluan." kata seorang di antaranya dengan perlahan. "Apakah dia merasa enak hati sesudah mengambil jiwa manusia yang mati karena tindasan pengaruhnya ?" Giok Han terkejut.
"Tak dapat kita terlalu menyalahkan Siangkoan Loya," kata seorang lain. "Jika seorang kehilangannya apa, tentu saja ia akan menanyakannya. Siapa suruh perempuan itu berotak miring, membelek perut anaknya sendiri ?"
Giok Han tak dapat menahan sabar lagi. Mendadak ia menengok ke belakang dan kedua orang itu kaget, segera berhenti bicara.
Mereka itu, yang satu gemuk dan yang lain kurus, mengenakan thungsha sutera yang mahal harganya dilihat dari dandanan mereka, kedua orang ini adalah orang orang kaya.
Giok Han tahu kaum pedagang paling sungkan banyak urusan dan jika ia menanya secara biasa mereka pasti tak mau memberi keterangan. Berpikir begitu, ia berkata sambil memberi hormat: "Sejak berpisah di Kwitang sudah berapa tahun kita tak bertemu muka, Apa jiewie (tuan berdua) memperoleh banyak keuntungan ?"
Teniu saja mereka heran karena memang tak mengenal Giok Han, Tapi sebagaimana biasa, seorang pedagang selalu bersikap ramah tamah. Maka segera mereka balas hormat. "Boleh juga, terima kasih," jawab mereka.
"Sekarang siauwte datang kesini membawa selaksa tail perak." kata Giok Han. tujuanku adalah untuk membeli barang, tapi karena belum mempunyai kenalan, sedang aku sendiri sangat asing dengan keadaan di sini, aku masih merasa sangsi. Sekarang kebetulan bertemu dengan kalian, aku tentu bisa minta pertolongan."
Mendengar "selaksa tahil perak", wajah kedua orang itu lantas saja berseri-seri. "Tentu saja, tentu saja," kata mereka dan mengundang Giok Han duduk semeja dengan mereka.
Giok Han tidak berlaku sungkan. "Tadi jiewie bercakap-cakap dan aku mendengar kata-kata tentang mengambil jiwa manusia karena tindaan pengaruh," kata Giok Han.
"Bolehkah aku mengetahui, urusan apakah itu ?"
Muka kedua pedagang itu berobah. Waktu mereka mau menolak, Giok Han sudah mengulurkan kedua tangannya memencet tangan mereka, hampir berbareng, kedua orang itu mengeluarkan teriakan tertahan. Muka mereka jadi pucat pias. Mendengar teriakan itu beberapa pelayan dan tamu segera menengok ke arah mereka.
"Tertawa !" bentak Giok Han berbisik. Mereka tak berani membantah. Segera tertawa meringis, melihat di situ tak terjadi apa-apa yang luar biasa, semua orang tidak memperhatikan mereka lagi.
Kedua orang itu mengeluarkan keringat dingin, tangan mereka ssolah-olah dijepit dengan jepitan besi, keras dan menyakitkan sekali. "Dulu aku penjahat besar dan bisa bunuh manusia tanpa berkedip. Sekarang aku sudah jadi orang baik-baik, dengan selaksa tahil perak ingin membeli barang. Tapi sayang aku tak mempunyai uang. Aku ingin meminjam dari jiewie, seorangnya lima ribu tahil..."
Mereka kaget. "Aku . . . aku tak punya," jawab mereka hampir bersamaan.
"Baiklah," kata Giok Han. "Tapi kalian harus menceritakan kepadaku bagaimana manusia itu yang dipanggil Siangkoan Loya mengambil jiwa orang dengan menggunakan tindasan pengaruh. Siapa yang menceritakan yang paling jelas, aku membebaskannya dari tugas meminjamkan uang. Aku akan mencari orang lain sebagai gantinya."
Keruan saja kedua pedagang itu manggut-manggut. "Baik, baik, baiklah," jawab mereka terburu-buru.
Giok Han mesem, hatinya geli bukan main. Melihat si gemuk lebih pandai bicara dia bilang: "Yang gemuk bicara lebih dulu baru yang kurus Siapa yang ceritanya tak jelas, dialah yang harus meminjamkan uang padaku."
Sehabis berkata begitu, Giok Han melepaskan cengkeramannya. Dibuka bungkusannya dan memperlihatkan isinya yang hanya beberapa potong baju dan sebilah pedang pendek yang berkilauan. la mengambil sumpit gading dari aias meja, sekali diketukkan pada pedangnya yang dihunus separuh, sumpit itu menjadi empat potong. Keruan saja kedua pedagang itu tambah ketakutan, keringat dingin mengucur cari sekujur tubuh. Hati mereka berdebar-debar.
"Siauwya," kata si saudagar gemuk. "jangan kuatir, aku akan menceritakan seterang-terangnya. Tanggung... aku tanggung lebih jelas dari dia..."
"Mana boleh begitu?" memotong si kurus. "Biarkan aku cerita lebih dulu, pasti lebih jelas."
"Diam !" bentak Giok Han. "Lebih dulu aku mau dengar cerita si gemuk ini !" dan tangannya menunjuk si gemuk.
"Baik, baik," si kurus ketakutan.
"Siauwya," kata Li gemuk. "Biarlah aku mulai. Tapi aku mengharap supaya ceritaku dirahasiakan, jangan sampai diketahui orang lain."
"Jika kau takut, sudahlah ! Biar dia saja yang bercerita !" kata Giok Han. Sambil berkata begitu dia berpaling pada si kurus.
"Cerita, aku mau cerita," kata si gemuk gugup dan tergesa-gesa. "Orang yang biasa dipanggil Siangkoan Loya itu bernama Siang-koan Giok Lin, orang yang paling kaya dalam kota ini. Dia berjuluk Hiat-sin-cu (Si Malaikat Darah). Disini ia membuka rumah perjudian, juga rumah makan ini dan beberapa tempat usaha merupakan toko-toko besar jadi miliknya. la seorang kaya berpengaruh besar, pergaulannya luas, dianggap sebagai ahli silat nomor satu di seluruh Kang-souw. la pun mewajibkan para pembesar negeri, pintu-pintu perguruan silat, atau para pedagang becar, harus setiap bulannya membayar "pajak" padanya. Tapi urusan itu aku tidak begitu jelas..."
"Ya, ya, aku tahu. Dia hartawan kaya merangkap sebagai perampok besar !" kata Giok Han.
"Gedung Siangkoan Giok Lin sudah besar dan luas, tapi belakangan ini sesudah memiliki gundik ke sebelas ia ingin mendirikan sebuah gedung pula yang nama Cap-it-lauw (Ranggon ke sebelas), untuk dijadikan tempat tinggal gundik ke sebelas itu. la bermaksud mendirikan gedung baru di belakang gedungnya yang sudah ada dan tanah yang ia penuju adalah kebun sayur Peng Sieei.
Kebun itu satu-satunya sumber nafkah Peng Sieso dan suaminya, Ho Sun dan keluarganya berjumlah lima orang. Siangkoan Loya memanggil Ho Sun mengatakan mau membeli tanah itu lima tahil perak. Temu saja Ho Sun menolak. Siangkoan Loya menambah dan menanbah lagi jumlah uang itu tamrai sepuluh tahil, tapi tetap ditolak Ho Sun.
Menurut Ho Sun, uang sangat manis, biar seratus tahil sebentar saja akan habis di makan. Tapi kebun sayur tak bisa habis. Asal mau mengeluarkan tenaga, keluarganya tak akan mati kelaparan. Siangkoan Loya jadi gusar dan mengusir dia. Kemarin muncullah peristiwa mencuri ayam." Si gemuk menyusut keringatnya.
Dia melanjutkan lagi. "Di pekarangan belakang gedung Siangkoan Loya dipiara ratusan ekor ayam. Kemarin ia kehilangan seekor. Pelayan-pelayan Siangkoan Loya mengatakan bahwa pencuri ayam iiu anak kedua dan ketiga keluarga Ho. Mereka mencari di kebun sayur dan benar saja di situ kedapatan banyak bulu ayam. Mentah-mentah Peng Sieso menolak tuduhan itu.
la mengatakan anak-anaknya baik-baik dan tak mungkin mencuri barang orang lain. la balas menuduh bahwa bulu ayam itu sudah sengaja dilemparkan dari dalam tembok gedung Siangkoan Loya. Orang-orang Siangkoan Loya mencari kedua anak Ho Sun, mereka menyangkal mencuri ayam. "Eh, apakah pagi ini kau sudah makan?" ta-nya Siangkoan Loya. Anak ketiga manggut-manggut:
"Makan dengan daging ayam tentu enak ! " kata anak itu yang tak tahu urusan "Anak ini sudah mengaku, kau masih bersikeras tak mau mengakui," kata Siangkoan Loya. Lantas ia mengadu pada tiekoan dan beberapa pengawal tiekoan menangkap Ho Sun.
"Peng Sieso yakin seyakin-yakinnya kedua puteranya tak nanti mencuri ayam, dan tahu memang agaknya ingin sekali makan daging ayam" karenanya ia mengatakan kalau makan dengan daging ayam tentu enak, itulah kata-kata anak-anak. la pergi ke gedung Siangkoan Loya mencari keadilan. Tapi yang diperoleh pukulan dan tendangan.
la menemui tiekoan, tapi tiekoan sudah makan uang suapan, berbalik menyiksa Ho Sun, agar mau mengaku. Dengan susah payah akhirnya Peng Sieso bisa menemui suaminya di penjara. Suaminya berlumuran darah, badannya babak belur, sudah tak bisa bicara.Jangan . . . jual . . . tidak curi. . ." suara Ho Sun tak jelas.
Peng Sieso jadi mata gelap. Begitu pulang membawa anaknya yang ketiga dan sebilah golok sayur, memanggil tetangga-tetangganya. ia pergi ke kuil Cung-am-sie. Tetangge-tetangganya menyangka Peng Sieso ingin minta mereka jadi saksi karena mau bersumpah, lantas saja ikut.
Di depan patung Malaikat Pak-tee-ya, Peng Sieso bilang: "Anakku tak nanti mencuri barang orang, tahun ini ia baru-berumur empat tahun. Dia masih belum bisa bicara betul. Di depan Siangkoan Loya dia bilang makan dengan daging ayam sangat enak, hinaan ini tidak bisa kucuci sedang tiekoan sudah makan sogokan tidak berlaku adil. Jalan satu-satunya memohon keadilan Pak-te-yaya." Setelah berkata begitu dia belek perut anaknya yang ke tiga dengan golok sayurnya !"
Giok Han menggidik, hatinya panas. "Apakah betul kejadiannya begitu ?" tanyanya.
Si gemuk dan si kurus ketakutan, manggut-manggut.
Giok Han menghunus padangnya dan menancapkan pedangnya di atas meja. "Cerita terus !" bentaknya.
"Kejadian... kejadian itu tak ada sangkut-pautnya denganku..." kedua pedagang itu ketakutan.
Giok Han berdiri angker, para pelayan tak berani mendekati, hanya berdiri mengawasi dari kejauhan.
"Bilanglah, apakah dalam perut anak Peng Sieso terdapat daging ayam ?" bentak Giok Han.
"Tidak," jawab si gemuk. "Yang kedapatan hanya sayur-sayuran. Mulai saat itu Peng Sieso jadi gila."
"Di mana rumah orang she Siangkoan ?" Belum lagi si gemuk menyahuti, dari arah belakang Giok Han terdengar suara dingin tapi bengis: "Anjing mana yang jual lagak di sini ?" Muncullah enam orang bertubuh tinggi besar. Para pelayan dan pengurus rumah makan ini kaki, tangan Siangkoan Giok Lin, melihat teman mereka ingin menangkap orang yang mengacau di rumah makan, segera mengambil macam-macam senjata untuk membantu.
Orang yang jadi kepala segera memaki: "Hei anjing bau, cepat ikut tuan besarmu !" dia mengebaskan rantai besi.
Giok Han tidak perdulikan dia, menoleh pada kedua pedagang. "Cerita jiewie sangat jelas, dan terima-kasih atas semua ini, aku tidak jadi meminjam uang dari kalian, sekarang kalian boleh pergi I"
Kedua pedagang itu cepat-cepat menyingkir dengan hati masih berdebar-debar ketakutan.
Giok Han menghela napas menoleh kepada si pemimpin kaki tangan Siangkoan Giok Lin yang galak itu, tanpa berkisar dari tempatnya tangan Giok Han menyambar dan tepat sekali menghajar pipi orang tersebut.
Sesudah menggampar dia menotok jalan darah Cie-kiong-hiat dan Hong-hu-hiat, segera juga si galak terpelanting, bergulingan di lantai berkelojotan !
Diambilnya rantai si galak, sekali Giok Han menyabet, rantai itu melibat enam kaki tiga orang lainnya, sekali disentak mereka bertiga jatuh terguling. Pengurus rumah makan mendekati sambil mengebaskan kipasnya, matanya tajam dan mulutnya tersenyum dingin.
"Aku mempunyai mata tak bisa melihat gunung Thaysan yang besar, sehingga aku tak tahu hari ini seorang gagah datang berkunjung !" katanya dengan sikap licik.
"Eh, Siangkoan Giok Lin pernah apa dengan kau ?" tanya Giok Han dingin.
"Aku bekerja di bawah perintahnya... Siangkoan Loya sekarang sedang sibuk mengurus pengangkatan Hongsiang sebagai salah seorang pahlawan Kaisar, maka tak bisa menyambut kedatangan tuan." Dengan berkata begitu, dia mau menggertak Giok Han semakin naik.
"Hemmm, suruh orang she Siangkoan datang menghadap padaku !" perintahnya.
Muka si pengurus rumah berobah, dia orang kepercayaan Siangkoan Giok Lin, diserahi mengurus rumah makan milik Siangkoan Giok Lin. Kepandaiannya tidak seberapa, tapi dia licin sekali. Melihat Giok Han sulit diajak bicara, Kwa Tin Bun, si pengurus rumah makan itu, mengayunkan kipasnya hendak menotok pundak Giok Han.
"En, eh, jangan terlalu hormat," kata Giok Han sembari tertawa, mudah dia menangkap kipas lawan, membetot dan waktu Kwa Tin Bun terhuyung ia menepuk pundak pengurus rumah makan itu, yang lantas jatuh berlutut, karena kedua lututnya mendadak lemas. Menyaksikan ini, anak buah Siangkoan Giok Lin yang lain tidak berani turun langan, hanya berdiri bingung.
Kaki kanan Giok Han menginjak punggung Kwa Tin Bun. Dia celingukan dan melihat seorang pelayan berpakaian sebagai koki rumah makan itu. "Eh, kalau masak daging tulang punggung, kau mengambil daging apa ?"
"Da... daging babi," jawab koki itu "Diambil dari kiri kanan tulang punggung babi. Boleh masak asam manis, boleh masak pakai lada dan garam, semuanya lezat sekali. Apa Siauwya mau sayur itu ?"
Dengan bengis Giok Han merobek baju Kwa Tin Bun. "Di sini ?" tanyanya sembari mengusap-usap tulang punggung orang. Koki itu terkesiap, ia hanya mengawasi dengan mulut ternganga dan tak dapat memberi jawaban.
"Ampun, Siauwya !" Kwa Tin Bun memohon dengan suara serak, meratap tak hentinya.
Memang bukan maksud Giok Han untuk mengambil jiwa Kwa Tin Bun, ia hanya ingin memberi sedikit hajaran, supaya manusia ini merasakan sedikit penderitaan. la mengangkat pedangnya dan menggores punggung Kva Tin Bun.
"Cukup setengah kati?" tanyanya.
"Cu... cukup," jawab koki itu gemetar.
Terbang semangat Kwa Tin Bun, ia merasakan kesakitan luar biasa di punggungnya dan menduga bahwa dagingnya benar-benar sudah dipotong. Sekujur badan Kwa Tin Bun jadi bergemetaran, tak hentinya ia membenturkan jidat di lantai loteng. "Siauya !" ia meratap. "Perintahlah aku, jika kau ingin memerintah, ampunilah selembar jiwaku !"
Giok Han merasa manusia ini sudah cukup mendapat hajaran. "Apakah kau masih berani membantu Siangkoan Giok Lin melakukan kejahatan ?" tanyanya.
"Tidak... tidak berani," jawabnya cepat.
"Baiklah," kata Giok Han. "Sekarang antarkan aku menemui orang she Siangkoan itu !"
"Baik, baik, baik Siauwya...!" menyahuti Kwa Tin Bun tanpa ayal.
Dengan langkah lebar Giok Han mengikuti Kwa Tin Bun menuju ke rumah Siangkoan Giok Lin. Akan tetapi di luar pintu sudah ada beberapa orang tentara berpakaian lengkap melintang tepat di ambang pintu. Pemimpin dari pasukan tentara tiekoan yang mungkin berjumlah belasan orang itu, adalah seorang bertubuh tinggi besar dengan cambang yang lebat.
"itulah gedungnya Siangkoan Loya ...I" menunjuk Kwa Tin Bun ketakutan, tubuhnya masih gemetar dan rasa sakit di punggungnya membuat dia ketakutan memperoleh tambahan hajaran si pemuda kurus tapi galak ini.
Giok Han mengangguk mendengus dan melangkah maju menghampiri pintu gedung itu.
Si pemimpin barisan pengawal tentara yang ada di depan rumah Siangkoan Giok Lin sudah maju memapak, dengan muka yang bengis dia tertawa.
"Bocah, kau baik ?" tanyanya.
"Pembesar bau, kau baik ?" Giok Han balik mencaci.
"Kau pengen dihajar?" tanya pemimpin tentara negeri itu sembari menyengir.
"Tak salah !" jawab Giok Han. Bahkan membarengi dengan perkataannya, tangannya di ulur. Sebelumnya pemimpin barisan tentara ini seorang murid pintu perguruan Kun-lun-pay tingkat ketiga belas, memiliki kepandaian lumayan.
Tapi berhadapan dengan Giok Han, entah mengapa, ia tidak bisa melihat jelas meluncurnya tangan si pemuda kurus berbaju putih ini- yang telah diduga sebagai pengacau di rumah makan milik Siangkoan Giok Lin, seperti yang telah di laporkan tadi oleh orang-orangnya Siangkoan Giok Lin, tahu-tahu tubuhnya terjengkang kena didorong kuat sekali oleh telapak tangan Giok Han.
Dorongan telapak tangan Giok Han pun bukan dorongan sembarangan, sebab begitu terdorong, ada tiga tulang rusuk pemimpin pasukan tentara itu yang patah, terdengar suara "krekkkk, kreekkkk" dan tubuhnya rubuh terjengkang kelojotan sebentar, kemudian pingsan tidak sadarkan diri !
Kawan-kawannya jadi kaget, semuanya menghunus golok dan tombak, mengepung Giok Han. Tapi Giok Han melangkah maju terus, dia mengelak beberapa bacokan, selalu tangannya bergerak sambil ia melangkah maju, maka terlemparlah beberapa tubuh yang terbanting berkelojotan di tanah tidak bisa bangun ! Sisa tentara negeri jadi gentar menyaksikan itu, mereka masih mengurung, tapi tidak berani maju menyerang.
Kwa Tin Bun sudan cepat-cepat angkat kaki begitu ditinggal Giok Han. Sedangkan Giok Han terus melangkah masuk ke ruang dalam gedung Siangkoan Giok Lin yang sangat besar.
"Orang she Siangkoan, keluarlah untuk bicara denganku !" teriak Giok Han. Suaranya bergema dalam gedung yang mewah dan megah itu.
Dari dalam keluar seorang pemuda berpakaian mewah, dengan diiringi empat orang tukang pukul yang masing-masing bersenjata tajam.
"Bocah, siapa kau? A pa yang kau kehendaki mengacau di sini ?" bentak pemuda berpakaian mewah itu setelah datang dekat dengan Giok Han.
Mata Giok Han tajam mengawasi pemuda itu, kemudian kepada anak buah pemuda itu. "Hemmmmm, masih ada hubungan apa kau dengan Siangkoan Giok Lin ?" tanya Giok Han.
"Apa kehendakmu mencari ayahku ?" bentak pemuda itu yang tidak menyahuti pertanyaan Giok Han, malah balik bertanya.
"Bagus ! Rupanya kau anak si bangsat she Siangkoan!" Kata Giok Han.
Pemuda berpakaian mewah itu memang anak Siangkoan Giok Lin, dia bernama Siangkoan Ok. Umurnya hampir duapuluh empat tahun di bulan citgwee mendatang, sejak kecil ia banyak belajar ilmu silat dari berbagai guru, maka dari itu tak pernah kenal takut.
Sekarang biarpun sudah menerima laporan dari anak buahnya tentang pengacauan Giok Han di rumah makan milik ayahnya, dia tidak gentar sedikitpun, apa lagi melihat Giok Han masih berusia begitu muda.
Tapi bukan main kagetnya ketika tahu-tahu tubuh Giok Han segesit burung walet sudah melayang di depannya. Dia sejak kecil sudah meyakinkan ilmu pukulan yang mengandalkan kekuatan gwakwang (tenaga luar), maka kedua tangannya menghantam kuat ke tubuh Giok Han yang tengah meluncur.
Namun, tahu tahu tubuh Giok Han seperti lemasnya sepotong karet, bisa meliuk ke samping, mata Siangkoan Ok berkunang-kunang. karena kena kepalan tangan Giok Han. Saat itu Siangkoan Ok masih berusaha untuk menyelamatkan diri, dia membuang diri ke samping, berputar sambil berseru:
"Tangkap dia...!" Baru habis dia berkata begitu, tengkuknya dirasakan baal, telah ditotok Giok Han, kaki Giok Han pun sudah mendupak pinggangnya, tidak ampun lagi tubuh Siangkoan Ok terjungkel jumpalitan bergulingan di lantai dan sebelum ia sempat tahu apa-apa, tangan Giok Han sudah menotok Hong hu-hiat nya, seketika tubuhnya kejang.
Semua terjadi dalam waktu singkat, tidak lebih dari empat detik ! Orang-orang yang bersama Siangkoan Ok jadi berdiri kesima. Begitu tersadar segera mereka menyerbu dengan senjata masing-masing.
"Mundur !" bentak Giok Han, pedangnya sudan ditandalkan diperut Siangkoan Ok.
Untuk kedua kalinya empat orang itu jadi terkesiap, mereka merandek melihat jiwa majikan muda mereka terancam bahaya, tidak seorangpun berani maju.
"Panggil Siangkoan Giok Lin keluar !" bentak Giok Han lagi dengan suara tawar.
Salah seorang diantara keempat orang.itu segera berlari kedalam. Tak lama kemudian keluar seorang lelaki setengah tua kurus jangkung dengan thungsha mentereng mewah terbuat dari sutera Souwciu yang terkenal, melangkah cepat sekali.Mukanya tampak muram, matanya bersinar tajam. Lengan jubahnya dikebaskan.
"Siapakah Siauwhiap ? Kudengar kau mencariku ?" tanyanya dengan sikap yang angkuh. "Dan... bersalah apakah anakku sehingga diperlakukan seperti itu oleh Siauwhiap ?"
Giok mengawasi tajam lelaki jangkung kurus tersebut. "Engkaukah Siangkoan Giok Lin ?"
"Tidak salah... kalau Siauwhiap ada persoalan, mari kita bicara baik-baik di ruang dalam..."
Bersambung ke jilid 17
This entry was posted
on Kamis, Juli 29, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar