Cula Naga Pendekar Sakti - LIONG KAK SIN HIAP
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 17
"Hemmm, aku ingin memberitahukan kepadamu, anakmu ini sudah mencuri burung walet yang kubawa..."
"Dusta !" teriak Siarigkoan Giok Lin tanpa menunggu Giok Han habis bicara. "Mana mungkin anakku mencuri burung... burung waletmu ?"
"Kau tidak percaya ?" tanya Giok Han mengejek. "Hemmm, dengarkan dulu! Dia telah mencuri dua ekor burung walet yang kubawa bersusah payah, karenanya aku datang kemari ingin membuktikannya. Berlutung aku sudah bisa bertemu dengannya..!"
"Dusta ! Kau jangan bicara kurang ajar!" bentak Siangkoan Giok Lin dengan tubuh menggigil menahan murka, tapi dia tidak bisa menerjang maju, biarpun ilmunya tinggi sebab jiwa anaknya terancam kalau sampai ia menerjang untuk menyerang Giok Han.
"Mari kita dengarkan pengakuannya !" kata Giok Han. "Nanti kita bisa membuktikan secara bersama-sama. benarkah dia pencuri burung waletku itu !"
Siangkoan Giok Lin tahu alasan yang di kemukakan Giok Han mengada-ada, tapi dia tidak berdaya, hanya menahan gusar yang meluap sampai dirasakannya berdenyut di kepala. Dia cuma mengawasi dengan mata yang tajam.
Giok Han mencengkeram pundak Siangkoan Ok, yang waktu itu tiarap di lantai tanpa berdaya. Selain ia tertotok jalan darah Hong-hu-hiatnya, juga pundaknya kena dicengkeram keras sekali, justera pada jalan darah Bie-hiong-hiatnya, sehingga begitu kena dicengkeram sakitnya bukan main, sampai keringat mengucur berketel-ketel sebesar biji jagung.
"Ei, pencari tak bermalu, apakah kau yang sudah mencuri kedua ekor burung waletku ?" bentak Giok Han.
"Ti... ti..." Tapi pundaknya dicengkeram Giok Han semakin keras, sakitnya sampai terasa ke sumsum tulang-tulang-nya. Dia meringis, dan akhirnya tak kuat menahan rasa sakit itu ketika Giok Han mengerahkan tenaga pencetan yang lebih kuat.
"Cepat mengakui perbuatan hina dinamu !" bentak Giok Han.
"Be... benar... aku yang mencuri burung waletmu itu !" terpaksa Siangkoan Ok membenarkan tuduhan Giok Han.
"Berapa ekor ?" tanya Giok Han lagi.
"Bukankah kau tadi bilang .... dua ekor?" Siangkoan Ok merintih karena rasa sakit yang semakin hebat.
Muka Siangkoan Giok Lin merah padam. Dia menjejak kakinya, tubuhnya melesat kepada Giok Han, tangannya menyambar kuat sekali kearah kepala Giok Han.
Tapi Giok Han waspada, tangan kirinya masih tetap mencengkeram pundak Siangkoan Ok, tangan kanannya menangkis pukulan tangan Siangkoan Giok Lin. "Dessss...!" dua kekuatan beradu di tengah udara.
Tubuh Siangkoan Giok Lin terpental sampai tiga tombak, tapi dia hinggap di lantai dengan tidak kurang suatu apa. Mukanya saja yang jadi pucat, karena segera dia tahu pemuda kurus berbaju putih yang tampaknya lemah ini memiliki kekuatan yang tidak boleh diremehkan.
Tubuh Giok Kan juga tergetar akibat tangkisannya terhadap pukulan Siangkoan Giok Lin. Hemm, tua-bangka ini tidak boleh dipandang ringan...!" pikir Giok Han. Dia mengerahkan tenaga mencengkeram lagi pundak Siangkoan Ok sambil tertawa dingin. "Bukankab kedua burung waletku itu telah kau makan?" bentaknya lagi pada Siangkoan Ok.
"Ya... ya... aduhhhh, ampunilah aku... aduhhhh."
Jawab yang pasti, apakah kedua burung waletku itu telah kau masak dan makan?"
"Ya... ya, aku telah makan!" menyahuti Siangkoan Ok sekenanya karena rasa sakit yang dideritanya hampir-hampir tidak tertahan lagi.
Giok Han mendengus mengejek memandang Siangkoan Giok Lin. "Nah, kau sudah mendengar pengakuan anakmu, bukan ?" Kita semua sudah mendengarnya! Dialah pencuri hina dina !"
Siangkoan Giok Lin mengetahui pemuda baju putih ini berkepandaian tinggi, menahan rasa gusarnya, dia merangkapkan kedua tangannya. "Siauw-hiap," katanya. "Kalau anak ku bersalah, maafkanlah. Berapa kerugianmu, akan kuganti sepuluh kali lipat. Lepaskanlah anakku, mari kita bicara...!"
"Hemm, enak saja kau bicara ! Kedua burung waletku itu adalah walet-walet ajaib. Kedua burung walet itu bisa bicara, bisa tertawa, bisa menangis ! Sekarang kedua burung yang begitu bagus telah digares bangsat hina dina ini, kau ganti selaksa tahil pun tidak bisa memadai kehebatan kedua burung itu ! Aku tidak akan puas kalau belum membuktikan sendiri, apakah benar-benar dia sudah gegares kedua burung waletku, atau memang dia hanya menyembunyikan kedua burung waletku itu"
Dan tangan kanannya membetot baju Siangkoan Ok, "breeettttt !" baju itu robek lebar dan tampak perut Siangkoan Ok yang putih mulus agak gendut. "Akan kubelek perut ini, apakah benar-benar dia sudah gegares burung-burungku itu!"
Muka Siangkoan Giok Lin jadi pucat pias. Semua orang yang berada di ruang itu pun jadi memandang pucat dengan mulut ternganga. Tubuh Siangkoan Giok Lin menggigil menahan kegusaran yang sudah meluap.
Tapi dengan anaknya berada dalam ancaman di tangan Giok Han, apa yang bisa dilakukannya. Keringat sudah mengucur deras di muka Siangkoan Giok Lin.
"Sahabat, sebutkan apa yang kau kehendaki ! Katakanlah, janganlah mempermainkan kami seperti ini !" kata Siangkoan Giok Lin dengan suara penuh kegusaran. "Kalau kau kehabisan uang dalam perjalanan, asal kuperintahkan orang-orangku untuk menyediakannya. Janganlah kau bergurau seperti ini !"
Giok Han tertawa dingin.
"Siapa yang bergurau dengan kau ? Aku bersungguh-sungguh ingin melihat dan membuktikan apakah di perutnya terdapat daging burung-burungku itu...!" setelah berkata begitu. Giok Han menggerakkan pedangnya"
"Tahan !" teriak Siangkoan Giok Lin. Tapi Giok Han tidak perduli, dia menggores perut Siangkoan Ok beberapakali, seketika kulit perut itu terluka dan mengucurkan darah.
Siangkoan Ok menjerit-jerit seperti babi hendak dipotong, ketakutan bukan main. Saking ketakutan lenyap malu dai harga dirinya, dia memekik: Thia-thia... oooo, tolong aku... dia ingin membunuhku, ingin membelek perutku !"
Muka Siangkoan Giok Lin jadi merah, pucat dan kehijau-hijauan bergantian, tubuhnya menggigil keras.
"Baiklah !" katanya kemudian sambil membanting kaki. "Sebutkanlah sahabat, dengan apa jiwa anakku bisa ditebus? Aku akan menyetujui apa yang kau inginkan sebagai ganti-tukar jiwa anakku !"
Giok Han tertawa dingin. "Kau berikan aku selaksa tahil perakpun aku tidak akan senang kalau belum membuktikan apakah benar-benar dia sudah makan daging burung waletku !" menyanuti Giok Han.
"Ampunilah aku . . . oooo, jangan belek Perutku ...!"
"meratap Siangkoan Ok. Semua orang di ruang itu jadi kebingungan, mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Sejahat-jahatnya Siangkoan Giok Lin, tapi melihat perut anaknya digores berlumuran darah seperti itu, dan katanya mau dibelek, jadi runtuh semua kesombongannya. Dari kemarahan yang menyala-nyala meluap sampai kekepala, sekarang tubuhnya jadi lemas dan dia berkuatir bukan main.
"Sahabat. kita belum pernah bertemu sebelumnya, kita seperti air taut dengan air sumur yang tidak pernah saling mengganggu. Marilah kita bicara terus terang, kalau kau mau perintah, perintahkanlah, aku pasti akan memenuhi semua permintaanmu!"
"Hemmm, terlalu gampang jika bicara, apakah kau kira kedua burung waletku itu kalah berharganya dengan hartamu ?" bentak Giok Han.
"Bukan begitu maksudku... kau dengar dulu perkataanku, sahabat..."
"Hemmm, lihat, aku ingin membelek perutnya, mari kita buktikan !" kata Giok Han. Dia menggores lagi perut Siangkoan Ok. Semua ini hanya ingin memberi hajaran kepada Siangkoan Giok Lin ayah dan anak, tapi sesungguhnya dia tidak menginginkan jiwa Siangkoan Ok. dia menggores tidak terlalu dalam. Tak urung darah memancur keluar deras sekali, perut yang semula putih mulus jadi merah.
Siangkoan OK kesakitan, ketakutan setengah mati waktu merasa mata pedang melukai perutnya. Dia menjerit-jerit dan akhirnya pingsan tak sadarkan diri akibat ketakutan yang tak tertahankan !
Siangkoan Giok Lin putus asa, dia murka luar biasa, mukanya jadi bengis sekali. "Baiklah ! Kau bunuhlah ! Tapi, kau juga jangan harap bisa meninggalkan tempat ini, tubuhmu akan kucingcang jadi laksaan potong. .. !"
Waktu berkata begitu Siangkoan Giok Lin melangkah maju menghampiri Giok Han, mukanya menyeramkan, telapak tangannya terangkat, memancarkan warna merah, karena ia sudah mengerahkan tenaga khikang pada kedua lengannya, siap menerjang dan menyerang Giok Han.
Melihat Siangkoan Giok Lin menyerangnya juga Siangkoan Ok sudah pingsan. Giok Han melemparkan tubuh putera Siangkoan Giok Lin, tubuh pemuda itu akan terbang kalau saja Siangkoan Giok Lin tidak cepat-cepat mencelat gesit menjambuti tubuh anaknya. Segera dia memberikan kepada dua orang anak buahnya yang telah maju didekatnya. Dengan mata menyala bengis dia menghadapi Giok Han, yang sudah berdiri dengan sikap mengejek.
"Sahabat, kita tidak saling kenal satu dengan lain," kata Siangkoan Giok Lin bengis, "Tapi kau sudah melakukan penghinaan yang melampaui batas! Sepak terjangmu sudah sama perbuatan manusia sinting, aku Siangkoan Giok Lin ingin main-main denganmu, minta petunjukmu..!"
"Manusia terkutuk Siangkoan !" bentak Giok Han dingin. "Kedosaan apapun telah kau lakukan, bahkan sekarang sudah melewati takaran! Dengan pengaruhmu kau menindas yang tak berdaya untuk menerima kesengsaraan. Bahkan kudengar sekarang kaupun sudah menjadi anjingnya Kaisar."
Siangkoan Giok Lin tertawa berkakak-kakak, kini pulih sikap sombongnya. Tanpa dibawah ancaman keselamatan anaknya, dia bisa berlaku tenang. Dengan angkuh dia menyahuti: "Sedikitpun tidak salah ! Kalau kau sudah mengetahui bahwa aku akan diangkat oleh Hongsiang sebagai orang terhormat di Kang-sauw ini, mengapa kau tidak cepat-cepat berlutut meminta pengampunan dariku? Anugerah Hongsiang begitu cemerlang dan dalam waktu dekat akulah satu-satunya orang paling berkuasa di Kang-sauw ini, congtok, tiekoan dan pembesar negeri di propinsi ini harus mematuhi setiap perintahku, karena akulah pengawas yang diangkoat oleh Hongsiang !"
"Anjing rendah hina dina tidak tahu malu!" memaki Giok Han gusar. "Manusia seperti kau harus dilenyapkan, agar berkurang kesengsaraan rakyat."
Giok Han juga baru tahu, mengapa Siangkoan Giok Lin bisa mengharuskan setiap pembesar negeri setiap bulan mengantarkan "upeti" padanya Dia bukan hanya membentak, pedangnya sudah berkelebat menyilaukan mata ke arah tenggorokan Siangkoan Giok Lin, tubuhnya begitu gesit, sehingga orang-orang di ruang itu tidak melihat cara bergeraknya !
Siangkoan Giok Lin kaget, matanya silau oleh sinar pedang, tapi iapun tahu tidak boleh, berdiam diri saja. Cepat-cepat dia melompat ke samping kanan, maksudnya ingin mengelak. Namun, "bretttt!" baju di pundaknya kena disontek ujung pedang Giok Han, robek dan terlihat kulit pundaknya yang merah oleh darah karena kulit pundaknya telah tergores cukup dalam !
Giok Han tidak bertindak sampai di situ saja, tubuhnya melesat cepat dan sudah berdiri di samping Siangkoan Giok Lin, pedangnya berkelebat lagi. Sekali ini pedangnya mengincar pinggang Siangkoan Giok Lin, ia menikam dengan jurus "Tian Ek Mo In" atau "Biruang Sayap Mengusap Awan", satu jurus maut kalau tidak bisa dihindarkan oleh lawannya.
Ancaman itu hebat, Siangkoan Giok Lin menyadarinya, ia tidak menoleh lagi mengelak dengan "Hun Kang Toan Liu" atau "Membendung Sungai Memutuskan Aliran", sambil tubuhnya miring tanpa merobah kedudukan kedua kakinya, kemudian tangannya membarengi merabah pinggangnya, tahu-tahu tangannya sudah menggenggam senjata yang cukup aneh yaitu semacam cambuk, hanya saja cambuk lemas itu penuh oleh duri, sebab senjata itu terbuat dari tulang ikan cucut dilengkapi oleh lapisan baja ! itulah senjata andalan Siangkoan Giok Lin, yang selama ini mengangkat namanya menjagoi di Kang-sauw !
Dalam detik-detik berbahaya untuk keselamatan jiwanya, Siangkoan Giok Lin menotok pedang Giok Han dengan ujung gagang pecutnya itu, berbareng juga tubuhnya berputar tahu-tahu cambuknya yang luar biasa itu menyambar ke arah leher Giok Han. Kalau mengenai sasaran, niscaya leher Giok Han sama saja seperti disate, yang bisa mematikan !
Kaget juga Giok Han melihat senjata lawannya dan cara bergeraknya yang cukup aneh.. Tapi, ia tidak membuang waktu menabas dengan pedangnya. "Tringgg !" pedang membentur cambuk aneh lawan, maksudnya hendak menabas putus, tapi kenyataan cambuk itu merupakan senjata mustika yang tidak dapat dipapas oleh senjata tajan apapun, karena dibuat sedemikian rupa kuatnya!
Siangkoan Giok Lin tertawa mengejek, tangannya tidak berhenti bergerak cambuknya sudah menyambar dengan elukan yang aneh, seperti seekor naga yang memutar tubuhnya dengan ganas ke arah batok kepala Giok Han !
Alis Giok Han berdiri, dia mendongkol karena beberapakali gagal mendesak lawannya. Melihat berbahaya, serangan Siangkoan Giok Lin sekali ini, segera ia merobah cara bersilatnya, sekarang mempergunakan Lo-han Kiam-hoat (Ilniu Silat Pedang Arhad), pedangnya diputar secepat titiran, sinarnya se-peiti menguning Giok Han, bahkan hawa yang dipantulkan dari putaran pedang itu dingin sekali mendesak Siangkoan Giok Lin, yang mau tak mau harus mundur tak kuat untuk menerjang terus.
Mempergunakan lawannya sedang mundur Giok Han membarengi mempergunakan jurus "Lo-han Liu-seng" atau "Arhad Sapu Bintang" dan sama pesatnya seperti melesatnya bintang sapu, pedang Giok Han menyambar.
"Aduhhh !" Tubuh Siangkoan Giok Lin terhuyung mundur sambil tangan kiri memegangi tangan kanannya, mukanya meringis menahan sakit, hampir saja cambuknya terlepas dari genggaman, pergelangan tangannya kena ditikam cukup dalam oleh mata pedang Giok Han.
Tidak buang waktu Giok Han melompat sambil menikam dengan "Lo-han Tek Seng" atau "Arhad Memetik Bintang". akan menyelesaikan pertempuran itu dengan tikaman maut ke perut lawannya.
Mata Siangtoan Giok Lin terbuka lebar-lebar. la tahu bahaya yang mengancam ke selamatan jiwanya, tapi ia tidak berdaya lagi. Tikaman itu selain cepat dan mengandung maut, juga tangan kanan Siangkoan Giok Lin seperti kaku tak bertenaga sulit diangkat menggerakkan cambuk durinya. Untuk melompat mundur mengelakkan, sudah tidak keburu lagi, inilah detik-detik yang mengandung maut untuk Siangkoan Giok Lin, semua orang yang menyaksikan dengan mata terbuka lebar-lebar kaget tanpa bisa memberikan pertolongan, mereka hanya mengawasi saja pedang Giok Han meluncur dan akan menikam pada sasarannya. Tampaknya sudah tak ada jalan hidup buat Siangkoan Giok Lin.
Giok Han sendiri memang bermaksud menyudahi hidup jago Kangsouw yang selalu bertindak sewenang-wenang ini, melenyapkan penyakit buat orang-orang yang tak berdaya yang selama ini ditindasnya. Dia yakin tikamannya sekali ini tak mungkin bisa di hindarkan oleh lawannya.
"Tranngggg ..." pedang Giok Han mendadak menikam benda keras yang terbuat dari besi, sampai pedang itu melengkung dan mental ke samping. Tangannya tergetar kesemutan, ia kaget dan melompat kesamping kanan dua kaki. Di depannya berdiri seorang Lhama berjubah merah berkepala botak tapi beralis tebal, hidung mancung dan bibir tebal.
Tubuh Lhama itu gemuk dampak, tangannya mengelus-elus mangkok baja yang tadi dipergunakan untuk menahan mata pedang Giok Han yang ingin menikam Siangkoan Giok Lin. Mulutnya tengah tersenyum sambil gumamnya: "Akhhh, hampir saja mangkok sedekahku dibikin rusak. Celaka aku si pendeta miskin kalau mangkok sedekahku rusak, tidak mungkin bisa meminta sedekah lagi!"
Ditimang-timang mangkok baja itu, yang biasa memang dibawa-bawa oleh setiap Lhama, yang dipergunakan untuk meminta derma. Cuma bedanya dari mangkok sedekah Lhama yang Iain, yang terbuat dari kayu, justeru mangkok sedekah Lhama ini, yang mungkin berusia 50 tahun, terbuat dari baja, berkilauan terkena cahaya mengkilap.
Siangkoan Giok Lin seperti baru lolos dari lobang maut, tercengang sejenak, kemudian tanpa buang waktu ia melompat mundur. Melihat Lhama itu, mukanya yang semula pucat pias seketika jadi terang berseri-seri.
"Fat-sang Hoat-ong . . . kebetulan Hoat-ong datang ! Tangkaplah pemberontak itu !" Teriak Siangkoan Giok Lin nyaring.
Lhama itu menoleh tersenyum pada Siangkoan Giok Lin. "Taijin, tugas suci seorang pendeta bukanlah menangkap manusia, tapi menangkap siluman ! Seorang pendeta memiliki kesalehan dan welas asih, kalau dia mau pergi, aku tak akan menahannya !"
Fat-sang Hoat-ong seorang Lhama dari Lhasa yang sengaja diundang oleh Kaisar, menjadi jago andalan Kaisar dalam menghadapi para pendekar silat Tionggoan yang akhir-akhir ini bangkit semakin banyak untuk mendukung pemberontak.
Sebagai Hoat-ong (guru agama). Fat-sang merupakan orang terhormat dan di kagumi oleh semua Mentri maupun para pembantu Kaisar. la memiliki ilmu silat yang tinggi. Tapi, tadi waktu menangkis tikaman pedang Giok Han, ia kaget tak terkira.
Memang tampaknya Fat-sang Hoat ong tenang-tenang saja, sesungguhnya dia heran tangannya sampai tergetar keras dan pedang si pemuda tidak terlepas dari cekalan, bahkan Giok Han tidak kurang sesuatu.
Sebab itu, ia tidak mau sembarangan bentrok dengan Giok Han, ia sengaja memberi jalan kepada Giok Han untuk pergi meninggalkan tempat ini. Kedatangannya di-gedung Siangkoan Giok Lin bertepatan saat ia melihat jiwa Siangkoan Giok Lin terancam di mata pedang Giok Han, ia cepat turun tangan menangkis dengan mangkok sedekahnya sehingga selamatlah jiwa jago Kang-souw itu.
Giok Han sendiri tahu pendeta Lhama ini rupanya bukan pendeta sembarangan, memiliki kepandaian yang tak bisa diremehkan. la penasaran, sebab belum bisa merubuhkan Siangkoan Giok Lin, matanya menatap tajam.
"Siapakah Taisu". tanyanya dingin. Fat-sang Hoat-ong membawa sikap seperti di tempat itu tidak ada seorangpun yang bisa dihormati, ia tersenyum tanpa menoleh kepada Giok Han, hanya mengusap-usap mangkok bajanya.
"Hanya pendeta miskin yang beruntung dianugrahi Hongsiang kedudukan sebagai Guru Negri! Nah, pergilah kau. pendeta selalu memiliki welas asih dan pantang untuk membunuh kalau tidak terpaksa !"
Giok Han tertawa mengejek. "Ooooh, tidak tahunya Guru Negara," dingin suaranya. "Baik, beruntung sekarang aku bertemu dengan Guru Negara, tentu saja akan tidak mau sia-siakan kesempatan untuk minta petunjuk darimu !"
Belum lagi suaranya habis, pedangnya sudah menyambar cepat sekali sekaligus menikam tiga kali. dengan "Lo-han Gin Hong" (Arhad Pelangi Perak), "Lo-han Kian-yo" (Arhad Menuntun kambing) dan "Lo-han Kie-hwee" (Arhad Memangkat obor). Ketiga jurus cari Lo-han kiam hoat ini sama-sama dahsyat, tenaga tikaman yang disertai oleh tenaga dalam yang kuat dan cara menikam yang sulit diterka sebetulnya merupakan jurus-jurus yang tak mudah untuk dielakkan.
Tapi, Fat-sang Hoat-ong tenang-tenang saja, mangkok bajanya seperti memiliki mata waktu ia mengendalikannya, terdengar "tringgggg," tiga kali dan ketiga serangan Giok Han bisa ditangkisnya sama kuatnya.
"Apakah kau tidak mau berterima kasih diberi jalan hidup dan malah memilih jalan kematian ?" bentak Fat sang Hoat-ong nyaring
Giok Han tidak menyahuti, dia menikam beberapakali lebih dahsyat, angin berkesiuras ditimbulkan dari pedangnya yang berputar tak hentinya mengincar bagi yang mematikan di tubuh Fat-sang Hoat-ong.
Tapi Lhama ini benar-benar tangguh, karena ia bisa menghadapi semua serangan Giok Han dengan sangat mudah. Sampai akhirnya barulah Fat-sang Hoat-ong kaget, ketika ia menangkis pedang Giok Han, mendadak pedang itu melejit dan tahu-tahu menikam kearah lehernya ! Untung saja Lhama ini lihai, sehingga cepat bisa menghindarkan tikaman itu.
Tidak-urung hati Fat-sang Hoat-ong berdebar dan keringat dingin mengalir keluar. "Pemuda ini berbahaya.." pikirnya dan ia tidak berani meremehkan lagi, menghadapinya lebih hati-hati.
Semua orang yang menyaksikan perkelahian yang tengah berlangsung jadi mengawali kagum, betapa dua sosok bayangan, yang satu merah dan yang satunya lagi sosok bayangan putih, berkelebat-kelebat lincah sampai sulit diikuti oleh pandangan mata orang biasa.
Siangkoang G.iok Lin sendiri menggidik. Matanya kabur melihat kedua orang yang tengah berkelahi itu. Coba kalau Fai-sang Hoat ong tidak keburu datang, niscaya ia sukar menghadapi Giok Han yang ternyata sangat lihay.
Diam-diam Giok Han mengeluh juga walau pun ia memiliki ilmu pedang yang aneh dan dahsyat, tapi kalah latihan dan pengalaman dibandingkan dengan Fat-sang Hoat-ong. Setelah Lhama itu mencurahkan seluruh perhatian menghadapinya serius, seketika Giok Han merasa agak terdesak.
Benar Fat-sang Hoat-ong seringkali kaget menerima serangan yang aneh dari Giok Han, tapi ia menang tenaga dan pengalaman maka ia bisa balik mendesak Giok Han.
Setelah bertempur lebih dari limapuluh jurus, diam-diam Fat-sang Hoat ong kagum campur heran. "Aneh, siapa bocah ini ? Mengapa ilmunya demikian aneh dan juga tidak rendah ? usianya masih demikian muda kalau dibiarkan dia angkat kaki, kelak merupakan bibit penyakit di depan mata!"
Karena berpikir begitu, Fat sang Hoat-ong merobah cara bertempurnya. Tubuhnya yang gemuk dampak ternyata bisa berkelebat ke sana kemari lincah sekali, mangkok baja nya seperti topi baja yang berulang kali menyambar akan menungkrup kepala Giok Han.
Tentu saja, kepala Giok Han akan pecah jika mangkok baja itu sekali saja bisa menungkrap kepalanya, sebab setiap serangan mangkok baja Lhama itu disertai tenaga khikang yang kuat !
Giok Han terdesak, semakin lama ia semakin berkurang balas menyerang, hanya mengelak dan menangkis setiap serangan Lhama ini. Memang tidak mungkin Lhama itu bisa merubuhkannya dalam seratus atau duaratus jurus, namnn Giok Han pun tampaknya tidak mungkin bisa mendesak pendeta itu.
Sebab itu ia berpikir untuk menyingkir dari tempat ini. karena jika sampai kehabisan tenaga dan Siangkoan Giok Lin serta orang-orangnya ikut mengepungnya, jelas dirinya sulit meloloskan diri. Berpikir begitu Giok Han segera berseru nyaring, pedangnya berkelebat-kelebat dahsyat, dan tahu-tahu tubuhnya melompat terapung ke belakang, berjumpalitan untuk menjauhkan diri dari Fat-sang Hoat-ong.
"He-heh-heh, mau pergi kemana, bocah?" mengejek Fat-sang Hoat-ong, segera tangannya bergerak. Mangkok bajanya itu seperti meteor menyambar pesat ke arah kepala Giok Han, Angin sambaran mangkok baja kuat sekali, mengejutkan Giok Han.
Dia memiringkan kepalanya menghindar, tapi tidak urung waktu mangkos. baja lewat di samping telinganya terasa pedas pedih, menandakan kuatnya tenaga melontar yang dipakai oleh Lhama tersebut! Mangkok baja itu menyambar terus kedepan, amblas ke dalam tembok, sampai terlihat hanya pantat mangkok belaka !
Giok Han tidak membuang waktu melompat ke atas penglari, kemudian melompat lagi ke luar pekarangan, tubuhnya ringan melompati tembok pekarangan. Siangkoan Giok Lin dan orang-orangnya berteriak-teriak waktu melihat Giok Han hendak menyingkir dari situ, mereka beramai-ramai menyerang dengan senjata rahasia. Tapi Giok Han sudah lenyap di balik tembok.
Segera mereka memburu, melompati tembok dan tiba di luar pekarangan. Namun disitu sudah tak tampak bayangan Giok Han lagi.
"Kejar !" teriak Siangkoan Giok Lin. -"Jangan biarkan dia lolos, tangkap mati atau hidup !" ,
Fat-sang Hoat-ong sampai diluar pekarangan dengan sikap yang diagung-agungkan. tubuhnya yang gemuk dampak berjalan perlahan-lahan seakan memang tidak berkeinginan mengejar. "Biarkan dia pergi, aku sengaja membiarkan dia pergi!" Kata Lhama itu, nyaring suaranya.
Siangkoan Giok Lin memandang tercengang kepada Lhama itu. Tampaknya dia tidak puas.
"Hoat-ong, dia... dia pemberontak yang memusuhi Hongsiang. Tadi dia begitu beringas mengetahui aku bekerja untuk negara ..." bilang Siangkoan Giok Lin tidak puas.
"Pendeta selalu welas asih dan penuh prikemanusiaan ! Untuk menangkap dia sangat mudah, sama dengan membalikkan telapak tangan. Tapi dia masih sangat muda, kelak dia bisa merobah pendiriannya... sengaja aku lepaskannya !" menyahuti Fat-sang Hoat-ong sombong.
Siangkoan Giok Lin diam tidak bilang apa-apa lagi, tapi dari mukanya tampak rasa tak puas. Di hatinya dia berpikir: "KaIau memang kau sanggup merubuhkan, tentu tadi kau sudah merubuhkannya ! Justeru kau tidak berdaya apa-apa terhadapnya...!"
Fat-sang Hoat-ong melihat sikap tak puas Siangkoan Giok Lm, dia tertawa dingin. "Sudahlah, Siangkoan Loyacu. Kalau bocah itu kelak berani banyak lingkah lagi di sini akan kubuktikan dalam lima jurus untuk membekuknya !" katanya dengan sikap acuh tak acuh, angkuh.
Siangkoan Giok Lin seorang licik dan cerdik, kalau tidak mana mungkin dia bisa memperoleh kepercayaan Kaisar ? Karena dari itu cepat dia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Dia tertawa bergelak-gelak.
"Ya, kalau Hoat-ong berada di sini, jangan kata bocah tengik itu, biarpun setan iblis akan kabur begitu melihat bayangan Hoat-ong ! Beruntung Hoat-ong datang tepat waktunya, jika tidak kita sudah tak bisa mengobrol lagi ! Ha-ha-ha-hah !"
Kemudian dia repot perintahkan orang-orangnya buat mempersiapkan meja perjamuan untuk menjamu tamu kehormatan tersebut.
"Aku datang kemari membawa pesan rahasia dari Hongsiang," bilang Fat-sang Hoat-ong setelah masing-masing duduk di depan meja perjamuan. "Hongsiang bilang, Siangkoan Loyacu seorang yang setia kepada negara dan pandai bekerja, maka Hongsiang ingin mempercayai untuk melakukan suatu pekerjaan besar untuk Loyacu. Tentu saja, kalau sudah rampung, Loyacu akan dianugerahi pangkat yang pantas dari Hongsiang..!"
Muka Siangkoan Giok Lin berseri-seri. "Walaupun harus terjun dalam minyak panas mendidih, Siangkoan Giok Lin akan mengabdi penuh kesetiaan pada Hongsiang!" Katanya bersemangat.
"Bagus !" mengangguk Fat sang Hoat-ong "Hongsiang mendengar akhir-akhir ini cukup banyak pemberontak yang berkumpul di Kang-souw, mengingat Loyacu memiliki banyak sahabat, maka Loyacu diminta untuk menghimpun mereka, kemudian memberantas mereka. Caranya terserah pada Loyacu, Hong-siang percaya sepenuhnya, ingin mengadu dombakan mereka agar kekuatan pemberontak itu lemah, ataupun juga cara melakukan pemberantas dengan tangan besi. Tentu Loyacu sanggup melaksanakan permintaan Hongsiang, bukan ?"
"Itu urusan gampang, Hoat-ong ! Percayalah, Siangkoan Giok Lin akan melaksanakan tugas itu seperti yang diharapkan Hongsiang. Sekarang, marilah kita tenggak arak kegembiraan !"
Fat-sang Hoat-ong walaupun seorang Lhama, tapi tak segan-segan mengangkat cawan araknya dan meneguk isinya, mereka bercakap-cakap sambil tertawa-tawa.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemana perginya Giok Han ? Ternyata ketika ia melompati tembok dan meloncat turun ke tanah, ada sosok bayangan berkelebat tidak jauh darinya, "sssttrt. ikut aku !" bisik sosok bayangan itu, yang bergerak gesit sekali.
Giok Han tercengang sejenak, tapi segera mengempos Ginkang mengikuti sosok bayangan itu, yang mengajaknya menyelinap ke dalam semak belukar. Tampaknya sosok bayangan ini mengenal benar keadaan di tempat tersebut. Di belakang terdengar suara ribut-ribut, terdengar juga suara Siangkoan Giok Lin yang tengah perintahkan orang-orangnya untuk melakukan pengejaran dan mencari Giok Han.
Setelah mengikuti beberapa saat sosok bayangan itu, Giok Han sampai di balik sebidang tembok yang agak kotor, tidak tampak seorang manusiapun di situ. Di sebelah kanan tidak jauh dari situ tampak keranjang-keranjang sampah, yang tidak teratur berantakan. Seekor kucing mengorek-ngorek sampah yang tercecer. Sosok bayangan itu menendang perlahan mengusir kucing itu", kemudian memutar tubuhnya.
Sejak mengikuti, Giok Han melihat bentuk yang ramping dan tidak terlalu tinggi. tapi gerakan sosok bayangan itu sangat gesit. Dia menduga-duga entah siapa orang ini. la yakin sosok bayangan ini seseorang yang tidak bermaksud tak baik padanya, karena ia yang mengajaknya menyingkir dari kejaran Siangkoan Giok Lin dan orang-orangnya.
Sekarang orang ini sudah berdiri menghadap padanya, ia bisa- melihat jelas mukanya. Usia orang ini masih muda, tapi mukanya kotor, pakaiannya pun ternyata kotor, biarpun tidak ada yang robek. Melihat cara berpakaiannya, selintas dapat diambil kesimpulan pemuda ini seorang pengemis. "Terima kasih atas bantuanmu," kata Giok Han memberi hormat, "kau telah membantu aku menyingkir dari kejaran orang she Siangkoan itu !"
Pengemis muda ini mengawasi Giok Han sambil cengar-cengir, katanya: "Siapa perduli dengan urusanmu ? Aku membawamu kemari karena ada pekerjaan yang ingin kuberikan kepadamu."
"Pekerjaan ? Pekerjaan apa ?" tanya Giok Han heran melihat sikap pengemis muda ini. "Siapakah kau ?"
Pengemis muda itu menekan topi butut yang menutupi kepalanya sampai melesak ke dalam menutupi sebagian besar keningnya, mulutnya masih cengar-cengir. "Kulihat kau memiliki tenaga yang cukup kuat, bagaimana kalau sekarang kau membantuku membersihkan sampah-sampah yang tercecer di sini ? Tempat ini terlalu kotor, sebelumnya merupakan tempat peristirahatanku yang paling enak."
Giok Han tersenyum. la tahu, itulah alasan yang dibuat-buat oleh pengemis muda ini, mengelak ucapan terima kasihnya. Dari cara dia berlari cepat tadi sudah bisa dipastikan pengemis muda ini bukanlah sembarang pencemis "Baik. Mari kita bersihkan tempat ini."
Giok Han mengerahkan tenaga dalamnya, disalurkan pada kedua lengannya, kemudi ui menggerak-gerakkan keduatangannya, diputar-putar seperti kitiran, maka kenas maupun kotoran-kotoran lainnya berterbangan. Dalam waktu singkat sebagian tempat itu sudah jadi bersih. Si pengemis muda tertawa "Hehe kau kacung nomor satu di dalam dunia ini !" katanya.
Pengemis muda itu menjatuhkan diri duduk di sisi tembok, menyender di situ, memejamkan matanya dan tidak perduli lagi pada Giok Han.
Melihat lagak pengemis muda ini. Giok Han berdiri ragu-ragu, kemudian dia bilang: "Saudara, kukira tidak ada lagi yang harus kukerjakan, aku mau pergi...!"
Pengemis muda itu tetap menyender di tembok dengan mata terpejam, seakan tidak mendengar perkataan Giok Han. Namun waktu Giok Han melangkah belasan tindak, pengemis muda itu memangggil: "Hei pekerjaanmu belum selesai, mengapa mau pergi cepat-cepat ?"
Giok Han menahan langkah kakinya, menoleh tersenyum pahit. "Maafkan, aku masih punya urusan penting yang harus kuselesaikan. Nanti kalau ada kesempatan kita pasti bertemu lagi dan mengobrol panjang lebar. Akur ?"
Pengemis muda itu meloncat berdiri, bertolak pinggang. "Ooo, jadi kau tidak mau menepati janjimu ?" Matanya mendelik, tapi bola matanya bening dan jernih, mukanya kotor dengan mata melotot seperti itu membuat pengemis muda ini tampaknya lucu.
Giok Han tersenyum.
"Janji ? Aku pernah berjanji apa padamu, saudara ?"
"Bukankah tadi kau sudah berjanji menyatakan sanggup membantuku membersihkan tempat ini ?"
Mendongkol juga Giok Han mendengar jawaban si pengemis. Tadi dia memang mengira si pengemis mau membersihkan tempat ini dan meminta bantuannya, mengingat si pengemis telah memberitahukan jalan lolos dari kejaran Siangkoan Giok Lin dan orang-orangnya, maka Giok Han bersedia membantunya.
Tetapi siapa tahu pengemis muda ini keterlaluan, ia enak-enak mengawasi saja setelah sebagian tempat itu dibersihkan Giok Han, pengemis muda tersebut malah duduk menyender di tembok dan tidur !
"Bukankah aku sudah menepati, janjiku membantumu membersihkan tempat ini ?
Yang sebagian lagi tugasmu untuk membersihkannya. bukankah sejak tadi kau belum ikut membersihkan tempat iai ?" bilang Giok Han.
Muka si pengemis cemberut. Sikapnya benar-benar membuat Giok Han jadi heran. "Aneh, pengemis ini lagaknya seperti seorang gadis remaja yang sedang mengambek. Hu ! Dia terlalu rewel, lebih baik aku meninggalkannya saja..."
"Pemuda malas ! Tubuh saja besar dan tampaknya kuat, tapi kerja ringan seperti ini saja tidak sanggup kau selesaikan!" mengoceh pengemis itu.
"Nanti jika aku memiliki kesempatan datang kemari, akan kubersihkan lagi sebagian tempat ini yang masih kotor. Nah, aku mau pergi dulu !"
"Mau pergi, pergilah ! Siapa yang mau melarangmu ? Pergi ! Hayo pergi ! Aku juga tidak mau melihat mukamu lagi !" pengemis itu tampaknya tidak puas, mukanya cemberut masam. Lagaknya benar-benar mirip seorang gadis yang tengah mendongkol dan ngambek.
Giok Han tak perduli sikap pengemis itu, walaupun hatinya merasa tidak enak, dia mernutar tubuh dan melangkah pergi.
Giok Han bermaksud mencari rumah penginapan, dia berlari-lari melewati beberapa jalan yang sudah sepi, karena hari sudah malam. Tapi ketika ia kebetulan menoleh ke-belakang, Giok Han jadi tercengang.
"Kau . . . ?" dia tidak bisa meneruskan perkataanya.
Pengemis muda itu ternyata sudah berdiri di depannya, dia sejak tadi rupanya mengikuti.
"Kenapa ?" tanya si pengemis aseran. "Apakah aku tidak boleh memakai jalan ini ?"
"Bukan . . . bukan begitu," jawab Giok Han agak tergagap. "Tapi .... kau mengikutiku ..."
"Cisss, pemuda ceriwis ? Siapa yang mengikutimu ?" bentak pengemis itu dengan muka berobah merah. Tampaknya dia gusar.
"Kawan, kalau memang kau mau, mari kita mencari rumah penginapan, nanti kita bisa mengobrol . . " kata Giok Han yang tidak ada pilihan lain, karena dia yakin pengemis ini memang mengikutinya sejak tadi.
"Cuiii, siapa kesudian mengobrol dengan kau? Aku sedang menuju pulang ke rumahku, bukan mengikutimu ! Hmm, apakah kau kira ini jalanan milik kakek moyangmu sehingga hanya kau seorang yang boleh memakainya ?"
"Bukan begitu maksudku . . ."
"Lalu apa maksudmu ?" Pengemis itu mendelik bertolak pinggang dan mulut yang dimonyongkan, lagaknya ini tampak jadi Iucu sekali. Pengemis ini berusaha membawa sikap galak, tapi bukannya tampak galak malah kelihatannya jadi lucu.
Kewalahan juga Giok Han menghadapi sikap si pengemis, dia menggoyang-goyang kepala. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Pergi ! Siapa kesudian menahan-nahan kau ? Hmm, huhuh !" mendengus si pengemis beberapa kali.
Giok Han melanjutkan langkah kakinya tidak perduli dengan sikap si pengemis. Hanya ia merasa aneh. Si pengemis lucu sekali, mempunyai perangai yang aneh. Walaupun si pengemis bersikap kekanak-kanakan seperti itu, Giok Han tidak jadi gusar, malah merasa geli sendirinya.
Setelah melewati dua lorong, dia menoleh. Ternyata si pengemis berada di belakangnya. Melihat Giok Han menoleh, si pengemis menahan langkah kakinya, membuang pandang ke samping kanan seakan-akan sedang mencari sesuatu, Giok Han tersenyum.
"Entah apa maunya dia mengikutiku terus?" Dan dia jadi waspada, karena kuatir justru pengemis ini bermaksud kurang baik padanya. Melihat muka dan lagaknya, pengemis ini jelas bukan pengemis yang tak baik, tapi mengapa dia mengikuti terus.
Giok Han melangkah lagi, dia menikung. Tapi sengaja berdiam di balik tembok tikungan, menanti di situ. Tak lama kemudian muncul si pengemis yang setengah berlari, rupanya kuatir kehilangan jejak Giok Han.
"Apa kabar, kawan ?" sapa Giok Han dan mengejutkan pengemis itu, sampai ia terloncat ke belakang dengan muka yang pucat dan kemudian merah padam, karena kepergok serta tertangkap basah oleh Giok Han. "Apa maksudmu mengikutiku terus menerus ?" tanya Giok Han lagi.
"Kau... kau pemuda ceriwis !" bentak si pengemis dengan muka cemberut, malah tangannya sudah melayang akan menampar muka Giok Han. "Mulutmu harus dihajar agar lain kali tidak berani mengeluarkan kata-kata ceriwis..."
Giok Han miringkan kepalanya mengelak, tapi mendadak dia merasakan dadanya berkesiuran angin. Dia kuatir senjata rahasia, segera si pemuda meloncat ke belakang. Waktu itu si pengemis lewat di sampingnya, ngeloyor pergi.
Giok Han berdiri tertegun di situ beberapa saat, sampai akhirnya menghela napas, menggoyang-goyang kepala karena benar-benar ia merasa heran terhadap kelakuan si pengemis. "Benar-benar aneh pengemis itu..!" pikirnya. Dan ia melanjutkan lagi langkahnya untuk mencari rumah penginapan.
Baru melangkah beberapa tindak, mendadak muka Giok Han berobah, ia berseru kaget dan meraba dadanya. Sekuntum bunga terbuat dari emas murni, menempel di bajunya. Ukurannya tidak besar, seperti kancing baju lainnya, tapi, bunga itu bisa menempel di bajunya merupakan kejadian yang mengejutkan karena pasti bunga emas ini milik si pengemis. Giok Han tambah heran, melihat ini ia tahu kepandaian dan kecepatan tangan pengemis itu luar biasa. Kalau tadi dipergunakan sebagai senjata rahasia, bukankah dia bisa dicelakai si pengemis ?
Kenyataannya, pengemis itu cuma menyantelkan bunga emas itu di bajunya. Apa maksud pengemis itu meninggalkan perhiasan yang mungkin juga bisa dipergunakan sebagai senjata rahasia ini ? Giok Han mengawasi teliti bunga emas itu, akhirnya diputuskan dia harus meminta keterangan dari pengemis itu. Tubuhnya melesat cepat mengejar ke arah depan, tapi bayangan si pengemis sudah lenyap. Mata hidungnya sudah tak terlihat.
Lima lorong jalan yang dilewati Giok Han. tapi si pengemis sudah menghilang tak terlihat bayangannya. Akhirnya Giok Han menghela napas, memasukkan bunga emas ke dalam sakunya. Siapa pengemis muda itu ? Kelakuannya benar-benar aneh.
Berjalan tidak jauh, Giok Han melihat subuah rumah penginapan, seorang pelayan menyambutnya, ketika Giok Han memasuki rumah penginapan tersebut. Kamar yang di berikan cukup bersih dan besar, Giok Han mencuci muka dan rebahkan diri di pembaringan untuk istirahat.
Walaupun ia tidak mau memikirkan tentang diri pengemis muda yang aneh, namun tetap saja pikirannya teringat kepada pengemis yang sangat aneh gerak-geriknya itu. Dia benar-benar jadi diliputi tanda-tanya. apa sebetulnya keinginan si pengemis ? Dia menghilang kemana ? Apa maksudnya meninggalkan bunga emas di bajunya ?
Tapi akhirnya Giok Han tersenyum. Bunga emas itu adalah barang yang cukup berharga. Dia bisa mempergunakan untuk pembayaran sewa kamar di penginapan ini. la jaga berpikir besok untuk mendatangi lagi rumah Siangkoan Giok Lin, guna mengadakan perhitungan. Pemuda ini memejamkan matanya dan tidur pulas.
Keesokan paginya, Giok Han bangun dengan tubuh segar. la mencuci muka, Waktu merapihkan rambutnya, pelayan masuk membawakan santapan untuknya, makanan yang terbuat dari sarang-burung Yan-oh. Giok Han mengerutkan kening melihat makanan itu. "Lo-tiamhoa, aku tidak memesan makanan itu..." memberitahukan Giok Han ragu-ragu, "mungkin kau salah kamar..."
Pelayan penginapan yang berusia lanjut menggoyangkan kepala sambil tertawa. "Tidak, kongcu. Aku tidak salah masuk kamar. Makanan ini memang dipesan untukmu. Malah akan menyusul beberapa makanan lainnya lagi buat kongcu."
Giok Han tertawa. "Lo-tiamhoa, dengarlah. Aku tidak mempunyai banyak uang. Jika kau memaksa makanan ini untukku, nanti setelah kumakan dan tak bisa membayar, kau akan menyesal..."
Pelayan tua itu tersenyum. "Jangan kuatir, kongcu. Kau tidak perlu membayar satu ci juga !"
"Apa ? Aku tak usah membayar?" Pelayan itu mengangguk cepat. "Benarr kongcu tidak usah membayar, karena semua makanan untuk kongcu telah dibayar penuh untuk hari ini. termasuk sewa kamar. Kalau memang kongcu masih memiliki urusan bermaksud menginap lagi satu dua hari, itupun sudah dibayar penuh. Oya. kongcupun diminta setelah bersantap untuk mencoba jubah yang telah selesai dibuatkan untukmu."
Bukan kepalang heran Giok Han. dia jadi mengawasi si pelayan dengan mulut terbuka tak percaya pada apa yang didengarnya. Akhirnya dia nyengir. "Lo- tiamhoa, kau jangan bergurau ...."
Si pelayan memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, katanya: "Mana berani aku bergurau dengan kongcu. Aku telah memberitahukan yang sebenarnya. Silahkan dimakan Yan-oh-nya, kongcu. Kalau dingin tentu berkurang lezatnya ..."
Bingung Giok Han menghadapi kejadian ini. Siapa yang melakukan semua ini, yang telah membayar penuh semua perhitungan sewa kamar termasuk makanan, juga kata si pelayan ia telah dikirimi jubah baru!"
Si pelayan tehh mengundurkan diri. Giok Han berdiri ragu-ragu, namun akhirnya dla tertawa. "Untuk apa aku pusing-pusing ! Orang bermaksud baik padaku dengan membayarkan seluruh perhitunganku pada rumah penginapan ini, kalau nanti bertemu dengannya urusan akan menjadi jelas sendirinya. Tapi, apakah mungkin semua ini pekerjaan Siangkoan Giok Lin, yang sengaja hendak mengambil hati dan coba mempengaruhi aku dengan semua ini ? Tapi, tak mungkin. Siangkoan Giok Lin pasti akan datang dengan senjata tajam bersama orang-orangnya, untuk membunuhku ! Tidak mungkin dia melakukan perbuatan baik seperti ini ! Namun mungkinkah makanan itu sudah dicampur racun ?"
Karena berpikir begitu, segera Giok Han menghampiri pintu. Dia memanggil pelayan tadi, yang segera datang.
"Lo-tiamboa, kau membuatkan Yanoh terlalu banyak, aku membagimu separoh. Nah, makanlah !" kata Giok Han sambil menyodorkan semangkok Yan-oh yang dicampur dengan buah leci, sedangkan semangkok sarang burung walet yang dicampur dengan anggur, dibiarkan saja di meja.
Si pelayan menggoyang-goyangkan tangannya, mukanya berobah dan tampaknya dia jadi sibuk sekali. "Mana boleh begitu ?! Mana boleh begitu ?"
"Hayo makan !" bentak Giok Han.
"Sungguh-sungguhkah kongcu membagi Yan-oh untukku?" tanya si pelayan tua itu akhirnya.
"Ya, makanlah."
"Biar kubawa ke belakang saja, nanii kumakan di sana !"
Giok Han maju mencekal lengan si pelayan. "Makan di sini !"
"Oooo, inilah peristiwa yang belum pernah terjadi di rumah penginapan ini, sejak didirikan sampai sekarang. Tapi, baiklah ! Kongcu tampaknya kuatir makanan ini beracun, bukan ?"
Giok Han diam saja. Si pelayan tua segera memakan habis semangkok Yan-oh, akhirnya mengusap-usap perutnya. "Terima kasih atas kebaikan kongcu." Dia memutar tubuh mau pergi, tapi Giok Han menepuk pundaknya.
"Tunggu dulu, Lotiamhoa. Beritahukan kepadaku, siapa yang telah membayarkan buatku semua ini ?"
"Katanya seorang sahabat baik kongcu..." menyahuti si pelayan.
"Bagaimana keadaan orang itu ?"
"Seorang nona cantik jelita ..."
"Apa ?"
Si pelayan mengawasi heran. "Bukankah kongcu seharusnya sudah mengetahui siapa yang melakukan semua ini?"
Giok Han menggeleng.
"Tidak. Aku pendatang baru di kota ini tidak ada seorang kawanpun juga !"
Kini giliran si pelayan yang jadi terheran-heran.
"Kongcu jangan bergurau.... nona itu bilang kau... kau adalah... adalah calon suaminya !"
"Apa?" Giok Han kaget dan tambah heran. "Celaka, lo-tiamhoa... kau salah kamar ! Semua ini bukan untukku ! Kau pasti salah kamar !"
Si pelayan menggelengkan kepala.
"Tidak ! Tidak mungkin salah kamar ! Nona itu sudah memberitahukan jelas tamu di kamar empat dan melukiskan muka dan keadaan badan kongcu."
Giok Han jadi tambah heran. "Apakah wanita itu tidak memberitahukan namanya ?"
Si pelayan tertawa.
"Kepada seorang pelayan kotor seperti-ku ini mana nona itu mau memberitahukan namanya. Dia cuma bilang, kami harus melayani kongcu sebaik-baiknya... berapapun akan dibayarnya, asal kongcu senang tinggal di sini!"
Giok Han tambah heran dan ragu-ragu. Dia yakin pelayan ini pasti salah kamar.
"Percayalah lo-tiamhoa, yang dimaksudkan wanita itu bukan diriku ! Aku baru datang dari kota lain, di sini tidab ada sahabat atau sanak famili, apa lagi calon isteri. Ayo bawa keluar semua barang santapan itu, aku bukan orang yang dimaksud wanita itu !"
"Tidak mungkin salah !" kata si pelayan dengan pasti. "Dirumah penginapan ini tidak ada pemuda lain, selain kongcu ! Memang ada tamu lain yang datang malam tadi, tapi mereka dua orang wanita dan seorang lelaki sudah tua-renta. Hanya kongcu seorang yang masih muda. Maka dari itu, tidak mungkin salah yang dimaksudkan nona cantik itu adalah kongcu !"
Tidak kepalang heran Giok Han. Siapa wanita itu? Mengapa dia begitu lancang mengakui dirinya sebagai calon suaminya ?
"Maaf, kongcu. Aku harus melayani tamu-tamu Iain..." dan si pelayan keluar meninggalkan Giok Han yang masih berdiri mematung karena benar-benar tak mengerti
Atas kejadian yang berlangsung demikian aneh dan penuh teka-teki. Apakah wanita itu salah mata ? Tapi hal itu tak mungin. Tapi mengapa wanita itu tak memperlihatkan diri ?
Banyak tanda-tanya yang berkumpul di hati Giok Han dan tak terjawab. Perutnya berbunyi lapar, dia segera memakan Yan-oh yang dicampur dengan anggur, enak sekali santapan itu dan memang makanan tersebut tidak mengandung racun. Giok Han kemudian keluar dari kamarnya, dilihatnya pelayan tua tadi tengah duduk di dekat pintu gerbang rumah penginapan dengan kepala melenggut, rupanya dia mengantuk.
Giok Han menghampiri. Dibangunkan pelayan itu, yang segera sibuk bertanya. "Apakah kongcu mau mencoba jubah biru itu? Apakah kongcu mau keluar jalan-jalan melihat keramaian kota? Kalau memang kongcu ingin perintahkan sesuatu padaku, jangan sungkan-sungkan, perintahkan saja..."
"Lo-tiamhoa, apakah wanita yang telah membayarkan sewa kamar dan makanan untukku itu bukan penduduk kota ini ?" tanya Giok Han.
"Aku tak mengenalnya, kongcu, tapi melihat pakaiannya yang mewah mentereng, tampaknya dia seorang putri bangsawan atau hartawan kaya. Sungguh beruntung kongcu mempunyai calon isteri seperti itu, cantik, kaya dan sangat memperhatikan kepentingan kongcu..."
Sedang pelayan itu mengoceh terus. Giok Han justru melihat di luar rumah penginapan seseorang tengah mengamat-amatinya. Dia segera mengenali si pengemis muda yang kemarin bertemu dengannya. "Hei tunggu kawan !"panggil Giok Han meninggalkan si pelayan dan berlari menghampiri si pengemis Si pelayan menandang heran, mulutnya yang semula mengoceh jadi terbuka saja.
Pengemis muda itu melihat Giok Han menghampirinya, segera berlari. Cepat larinya, tapi Giok Han mengejarnya terus. Waktu ini jalan cukup ramai orang-orang heran melihat si pengemis saling kejar cepat dengan Giok Han, yang membuat mereka lebih heran ke-dua orang itu berlari seperti terbang saja !
Giok Han menduga pengemis ini pasti bisa memberikan keterangan sesuatu padanya, sikapnya mencurigakan. Kemarin ia mengikutinya terus menerus, sekarang pun tampaknya tengah mengamat-amati tempat di mana ia menginap.
la mengejar terus, sampai akhirnya si pengemis melompat masuk ke dalam sebuah kuil dengan cara meloncati tembok kuil. Giok Han mengikuti cara si pengemis. Kuil itu ternyata tak berpenghuni sudah rusak di sana-sini. Si pengemis tampak tengah duduk tenang di bangku batu, mengawasi Giok Han dengan mulut tertawa nyengir.
"Hemmm, sekarang sudah terbukti, bukan aku yang mengikutimu ! Lihatlah, justeru kau yang telah mengikutiku!" kata si pengemis masih tetap tertawa nyengir.
"Kemarin pun kau yang ikut ke tempat istirahatku, tapi mulutmu ceriwis dan bilang aku yang mengikutimu ! Hemmm, ayo bilang, kau mengikuti aku atau aku yang mengikuti kau?"
Giok Han tercengang sejenak, tapi akhirnya tersenyum. "Sahabat, mari kita bicara terus terang, aku Giok Han ingin meminta petunjukmu..."
"Meminta petunjukku ? Petunjuk apa ?" tanya pengemis itu pura-pura tak mengerti. "Bicara terang? Sekarang sudah menjadi terang urusannya, kau yang selalu mengikuti aku, bukan aku yang mengikuti kau !"
"Baiklah kalau kau bilang begitu, aku mengakui. Memang dua kali aku yang ikuti kau ! Tapi. beritahukanlah, siapa kau sebenarnya ?!"
"Aku pengemis kotor dan miskin, apa gunanya memberitahukan namaku padamu, karena kau tentu tak akan memandang sebelah mata juga !"
Giok Han tersenyum. "Jangan berkata begitu, sahabat. Walaupun bagaimana kita sama-sama orang kangouw, tentu urusan uang bukanlah urusan yang terlalu penting buat kita. Miskin kaya tidak menjadi persoalan, asal jiwa kita bersih..."
"Hemm, kau bicara dengan lagak seperti seorang pendekar besar !" mengejek si pengemis. "Apakah kau kira dalam kangouw cuma kau saja yang memiliki jiwa bersih dan yang lainnya berjiwa kotor ?"
"Bukan, aku tidak bilang begitu..."
"Hemmm, tidak usah kau putar-balik persoalan, kenyataannya sudah berulangkali kau mengikutiku, tapi sebelumnya kau tak mengakui ! Apakah dengan demikian kau bisa menepuk dada dan mengatakan jiwamu benar-benar bersih ?"
"Sahabat, baiklah aku mengaku salah. Tapi, janganlah kau mempermainkan aku lebih jauh !" kata Giok Han mengalah.
"Cisss, siapa yang mau mempermainkan kau ?" bentak si pengemis sambil berdiri-marah menentang mata Giok Han, matanya bersinar bening dan kalau saja mukanya tidak kotor mesum seperti itu, tentu pengemis ini memiliki muka yang cakap. "Kau menuduhku bahwa selama ini aku mempermainkanmu ?"
"Bukan begitu, yang kumaksudkan kita tidak perlu saling salah menyalahi. Aku seorang pendatang di kota ini, segala apa tidak kuketahui. Tentu kau bisa memberikan petunjuk kepadaku tentang sesuatu hal..."
"Tentang hal apa ?"
"Baru-baru ini aku mengalami suatu kejadian yang benar-benar aneh..."
Si pengemis memperhatikan Giok Han tampaknya dia jadi tertarik, tanyanya : "Aneh bagaimana ?"
"Semalam aku menginap di rumah penginapan yang tadi, siapa tahu, pagi ini waktu pelayan mengantarkan santapan untukku, ia bilang seluruh harga makanan dan sewa kamarku telah dibayarkan seseorang...."
"Aduhhhh ! Aduhhhh . . . ! Enak sekali. Kalau aku bernasib baik seperti kau, tentu aku ucapkan ribuan kali terima kasih kepada Thian !" Berseru si pengemis nyaring. Tapi mendadak mukanya jadi muram, dia menunduk, menggumam perlahan dengan suara sedih:
"Ya, kau memang bernasib baik, tapi aku . . . ? Aku anak celaka bernasib sangat buruk ..."
Giok Han heran melihat kelakuan si pengemis, yang bisa bersikap riang serta nakal, tapi juga mendadak bisa bersedih hati seperti itu. Sedang Giok Han mengawasi heran, si pengemis mengangkat kepalanya, tertawa lebar. "Ayo teruskan ceritamu... ku kira itu cerita yang cukup menarik."
"Aku menanyakan pada si pelayan, siapa orang yang telah membayar semua itu, tapi ia bilang tidak kenal orang tersebut..."
"Lalu bagaimana ?"
"Pelayan itu cuma bilang yang minta padanya untuk melayani aku baik-baik adalah seorang nona ..."
"Aha... luar biasa ! Tentunya kau mempunyai hubungan yang erat dengan wanita itu, sehingga dia demikian memperhatikan semua keperluanmu..."
"Justeru hal ini yang membuatku heran" kata Giok Han, pipinya berobah merah. "Aku pendatang baru di kota ini, baru kemarin aku sampai di sini, juga aku tidak mempunyai sanak famili maupun sahabat..."
"Hu, sejak kemarin kau selalu memanggilku dengan "sahabat, sahabat, tapi sekarang kau bilang tidak punya sahabat ! Sungguh mulutmu itu keterlaluan sekali, selain ceriwis juga selalu berbohong !"
"Jangan salah paham, kau tidak termasuk dalam ceritaku ini. Memang kuakui, biar pun kita baru berkenalan, tapi kau sudah ku anggap satu-sutunya sahabatku di kota ini!"
Merah pipi si pengemis, dia membuang pandang kesamping, tapi jelas dia senang mendengar kata-kata Giok Han yang terakhir.
"Menurut pelayan." Giok Han melanjutkan ceritanya "Nona itu... nona itu sangat cantik dan berpakaian mewah setidak-tidaknya dia puteri hartawan atau anak pembesar negeri ! Yang membuat aku bingung, dia memberitahukan pada pelayan bahwa aku... bahwa aku... adalah... calan suami nya !"
"Cepat kau berterima kasih kepada Thian!" Berseru si pengemis. "Memperoleh keberuntungan seperti itu tidak mudah terjadi pada sembarang orang, kau benar-benar memiliki nasib sangat bagus !"
"Tunggu dulu, dengar ceritaku belum habis," kata Giok Han lagi. "Aku sendiri tidak merasa punya calon isteri di kota ini... maka kuyakin dia salah mata !"
"Hemmm, di kota ini kau bilang tidak punya calon isteri?" tanya si pengemis
"Ya," Giok Han mengangguk. "Aku tidak mempunyai sanak famili, apa lagi calon isteri di kota ini !"
"Hemmmm, kalau di kota-kora lain tentu banyak calon-calon isterimu ?" tanya si pengemis dengan mulut dimonyongkan.
Pipi Giok Han merah. "Kawan, jangan bergurau. Aku bicara sejujurnya, sampai saat ini aku belum mempunyai calon isteri, di kota manapun juga !"
"Cissss ! Perduli apa denganku!? Kau memiliki sepuluh calon isteri atau seratus calon isteri, apa perduliku?" pengemis itu menunduk, mukanya muram dan kembali ia tampak bersedih hati "Aku benar-benar bernasib buruk... tidak ada seorangpun yang memperhatikan diriku... dari kecil sampai sekarang aku tak pernah memperoleh perhatian siapapun juga, tidak bernasib bagus seperti kau..." Dan air matanya mengalir panjang dikedua pipinya.
Giok Han kaget.
"Kawan kenapa kau ?" tanyanya.
Si pengemis tiba-tiba mengangkat kepalanya tertawa. Padahal air mata masih membasahi mukanya. "Ayo teruskan ceritamu, bukankah kau bilang, bahwa urusan sangat aneh ? Kulihat tidak ada keanehannya ! Wajar kalau calon isteri menyambut kedatangan calon suaminya dengan penuh perhatian..."
"Kau keliru! Bukankah tadi sudah kujelaskan bahwa aku tidak memiliki sanak famili dan apa Iagi caIon isteri ! Karena itu, urusan demikian aneh, aku ingin mengetahui siapa wanita itu yang mengaku sebagai calon isteriku ! Aku ingin minta bantuan, sahabat, kalau kau tidak keberatan membantuku, selidikilah siapa wanita itu sebenarnya. Sebagai penduduk lama di kota ini tentu kau bisa melakukan pekerjaan itu dengan mudah..."
"Ehhh, enak saja kau perintahkan aku menjadi pesuruhmu, selidik kesana selidik kemari ! Kau berani membayarku berapa ?" Kata si pengemis.
Giok Han nyengir pahit. "Tentu saja aku tidak mempunyai maksud jelek seperti itu, aku cuma minta bantuanmu untuk menolongku memecahkan teka-teki yang membingungkan ! Tentu kau bersedia membantuku, bukan ?"
"Teka-teki membingungkan ? Kalau kau mau mendengar kata-kataku, janganlah bingung-bingung lagi. Mulai sekarang kau tenang-tenang saja di kamar hotelmu, bukankah peruntungan sangat bagus kalau tidak lama lagi kau bertemu dengan calon isterimu itu? Jangan suka menentang jodoh, nanti kalau Thian marah, jodohmu jadi macet dan seumur hidup tidak kebagian jodoh lagi !"
"Ah, sahabat, kau jangan bergurau ! Aku sungguh-sungguh..." kata Giok Han.
"Siapa bilang aku bergurau ? Aku juga sungguh-sungguh !" menyahuti si pengemis aseran.
Giok Han menarik napas dalam-dalam, susah mengajak bicara pengemis yang sifatnya seperti angin-anginan ini. Biarpun sudah dijelaskan sedemikian rupa, pengemis, itu tetap saja ugal-ugalan dan aseran.
Bersambung ke jilid 18
Oleh: BOE BENG TJOE
Jilid ke 17
"Hemmm, aku ingin memberitahukan kepadamu, anakmu ini sudah mencuri burung walet yang kubawa..."
"Dusta !" teriak Siarigkoan Giok Lin tanpa menunggu Giok Han habis bicara. "Mana mungkin anakku mencuri burung... burung waletmu ?"
"Kau tidak percaya ?" tanya Giok Han mengejek. "Hemmm, dengarkan dulu! Dia telah mencuri dua ekor burung walet yang kubawa bersusah payah, karenanya aku datang kemari ingin membuktikannya. Berlutung aku sudah bisa bertemu dengannya..!"
"Dusta ! Kau jangan bicara kurang ajar!" bentak Siangkoan Giok Lin dengan tubuh menggigil menahan murka, tapi dia tidak bisa menerjang maju, biarpun ilmunya tinggi sebab jiwa anaknya terancam kalau sampai ia menerjang untuk menyerang Giok Han.
"Mari kita dengarkan pengakuannya !" kata Giok Han. "Nanti kita bisa membuktikan secara bersama-sama. benarkah dia pencuri burung waletku itu !"
Siangkoan Giok Lin tahu alasan yang di kemukakan Giok Han mengada-ada, tapi dia tidak berdaya, hanya menahan gusar yang meluap sampai dirasakannya berdenyut di kepala. Dia cuma mengawasi dengan mata yang tajam.
Giok Han mencengkeram pundak Siangkoan Ok, yang waktu itu tiarap di lantai tanpa berdaya. Selain ia tertotok jalan darah Hong-hu-hiatnya, juga pundaknya kena dicengkeram keras sekali, justera pada jalan darah Bie-hiong-hiatnya, sehingga begitu kena dicengkeram sakitnya bukan main, sampai keringat mengucur berketel-ketel sebesar biji jagung.
"Ei, pencari tak bermalu, apakah kau yang sudah mencuri kedua ekor burung waletku ?" bentak Giok Han.
"Ti... ti..." Tapi pundaknya dicengkeram Giok Han semakin keras, sakitnya sampai terasa ke sumsum tulang-tulang-nya. Dia meringis, dan akhirnya tak kuat menahan rasa sakit itu ketika Giok Han mengerahkan tenaga pencetan yang lebih kuat.
"Cepat mengakui perbuatan hina dinamu !" bentak Giok Han.
"Be... benar... aku yang mencuri burung waletmu itu !" terpaksa Siangkoan Ok membenarkan tuduhan Giok Han.
"Berapa ekor ?" tanya Giok Han lagi.
"Bukankah kau tadi bilang .... dua ekor?" Siangkoan Ok merintih karena rasa sakit yang semakin hebat.
Muka Siangkoan Giok Lin merah padam. Dia menjejak kakinya, tubuhnya melesat kepada Giok Han, tangannya menyambar kuat sekali kearah kepala Giok Han.
Tapi Giok Han waspada, tangan kirinya masih tetap mencengkeram pundak Siangkoan Ok, tangan kanannya menangkis pukulan tangan Siangkoan Giok Lin. "Dessss...!" dua kekuatan beradu di tengah udara.
Tubuh Siangkoan Giok Lin terpental sampai tiga tombak, tapi dia hinggap di lantai dengan tidak kurang suatu apa. Mukanya saja yang jadi pucat, karena segera dia tahu pemuda kurus berbaju putih yang tampaknya lemah ini memiliki kekuatan yang tidak boleh diremehkan.
Tubuh Giok Kan juga tergetar akibat tangkisannya terhadap pukulan Siangkoan Giok Lin. Hemm, tua-bangka ini tidak boleh dipandang ringan...!" pikir Giok Han. Dia mengerahkan tenaga mencengkeram lagi pundak Siangkoan Ok sambil tertawa dingin. "Bukankab kedua burung waletku itu telah kau makan?" bentaknya lagi pada Siangkoan Ok.
"Ya... ya... aduhhhh, ampunilah aku... aduhhhh."
Jawab yang pasti, apakah kedua burung waletku itu telah kau masak dan makan?"
"Ya... ya, aku telah makan!" menyahuti Siangkoan Ok sekenanya karena rasa sakit yang dideritanya hampir-hampir tidak tertahan lagi.
Giok Han mendengus mengejek memandang Siangkoan Giok Lin. "Nah, kau sudah mendengar pengakuan anakmu, bukan ?" Kita semua sudah mendengarnya! Dialah pencuri hina dina !"
Siangkoan Giok Lin mengetahui pemuda baju putih ini berkepandaian tinggi, menahan rasa gusarnya, dia merangkapkan kedua tangannya. "Siauw-hiap," katanya. "Kalau anak ku bersalah, maafkanlah. Berapa kerugianmu, akan kuganti sepuluh kali lipat. Lepaskanlah anakku, mari kita bicara...!"
"Hemm, enak saja kau bicara ! Kedua burung waletku itu adalah walet-walet ajaib. Kedua burung walet itu bisa bicara, bisa tertawa, bisa menangis ! Sekarang kedua burung yang begitu bagus telah digares bangsat hina dina ini, kau ganti selaksa tahil pun tidak bisa memadai kehebatan kedua burung itu ! Aku tidak akan puas kalau belum membuktikan sendiri, apakah benar-benar dia sudah gegares kedua burung waletku, atau memang dia hanya menyembunyikan kedua burung waletku itu"
Dan tangan kanannya membetot baju Siangkoan Ok, "breeettttt !" baju itu robek lebar dan tampak perut Siangkoan Ok yang putih mulus agak gendut. "Akan kubelek perut ini, apakah benar-benar dia sudah gegares burung-burungku itu!"
Muka Siangkoan Giok Lin jadi pucat pias. Semua orang yang berada di ruang itu pun jadi memandang pucat dengan mulut ternganga. Tubuh Siangkoan Giok Lin menggigil menahan kegusaran yang sudah meluap.
Tapi dengan anaknya berada dalam ancaman di tangan Giok Han, apa yang bisa dilakukannya. Keringat sudah mengucur deras di muka Siangkoan Giok Lin.
"Sahabat, sebutkan apa yang kau kehendaki ! Katakanlah, janganlah mempermainkan kami seperti ini !" kata Siangkoan Giok Lin dengan suara penuh kegusaran. "Kalau kau kehabisan uang dalam perjalanan, asal kuperintahkan orang-orangku untuk menyediakannya. Janganlah kau bergurau seperti ini !"
Giok Han tertawa dingin.
"Siapa yang bergurau dengan kau ? Aku bersungguh-sungguh ingin melihat dan membuktikan apakah di perutnya terdapat daging burung-burungku itu...!" setelah berkata begitu. Giok Han menggerakkan pedangnya"
"Tahan !" teriak Siangkoan Giok Lin. Tapi Giok Han tidak perduli, dia menggores perut Siangkoan Ok beberapakali, seketika kulit perut itu terluka dan mengucurkan darah.
Siangkoan Ok menjerit-jerit seperti babi hendak dipotong, ketakutan bukan main. Saking ketakutan lenyap malu dai harga dirinya, dia memekik: Thia-thia... oooo, tolong aku... dia ingin membunuhku, ingin membelek perutku !"
Muka Siangkoan Giok Lin jadi merah, pucat dan kehijau-hijauan bergantian, tubuhnya menggigil keras.
"Baiklah !" katanya kemudian sambil membanting kaki. "Sebutkanlah sahabat, dengan apa jiwa anakku bisa ditebus? Aku akan menyetujui apa yang kau inginkan sebagai ganti-tukar jiwa anakku !"
Giok Han tertawa dingin. "Kau berikan aku selaksa tahil perakpun aku tidak akan senang kalau belum membuktikan apakah benar-benar dia sudah makan daging burung waletku !" menyanuti Giok Han.
"Ampunilah aku . . . oooo, jangan belek Perutku ...!"
"meratap Siangkoan Ok. Semua orang di ruang itu jadi kebingungan, mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Sejahat-jahatnya Siangkoan Giok Lin, tapi melihat perut anaknya digores berlumuran darah seperti itu, dan katanya mau dibelek, jadi runtuh semua kesombongannya. Dari kemarahan yang menyala-nyala meluap sampai kekepala, sekarang tubuhnya jadi lemas dan dia berkuatir bukan main.
"Sahabat. kita belum pernah bertemu sebelumnya, kita seperti air taut dengan air sumur yang tidak pernah saling mengganggu. Marilah kita bicara terus terang, kalau kau mau perintah, perintahkanlah, aku pasti akan memenuhi semua permintaanmu!"
"Hemmm, terlalu gampang jika bicara, apakah kau kira kedua burung waletku itu kalah berharganya dengan hartamu ?" bentak Giok Han.
"Bukan begitu maksudku... kau dengar dulu perkataanku, sahabat..."
"Hemmm, lihat, aku ingin membelek perutnya, mari kita buktikan !" kata Giok Han. Dia menggores lagi perut Siangkoan Ok. Semua ini hanya ingin memberi hajaran kepada Siangkoan Giok Lin ayah dan anak, tapi sesungguhnya dia tidak menginginkan jiwa Siangkoan Ok. dia menggores tidak terlalu dalam. Tak urung darah memancur keluar deras sekali, perut yang semula putih mulus jadi merah.
Siangkoan OK kesakitan, ketakutan setengah mati waktu merasa mata pedang melukai perutnya. Dia menjerit-jerit dan akhirnya pingsan tak sadarkan diri akibat ketakutan yang tak tertahankan !
Siangkoan Giok Lin putus asa, dia murka luar biasa, mukanya jadi bengis sekali. "Baiklah ! Kau bunuhlah ! Tapi, kau juga jangan harap bisa meninggalkan tempat ini, tubuhmu akan kucingcang jadi laksaan potong. .. !"
Waktu berkata begitu Siangkoan Giok Lin melangkah maju menghampiri Giok Han, mukanya menyeramkan, telapak tangannya terangkat, memancarkan warna merah, karena ia sudah mengerahkan tenaga khikang pada kedua lengannya, siap menerjang dan menyerang Giok Han.
Melihat Siangkoan Giok Lin menyerangnya juga Siangkoan Ok sudah pingsan. Giok Han melemparkan tubuh putera Siangkoan Giok Lin, tubuh pemuda itu akan terbang kalau saja Siangkoan Giok Lin tidak cepat-cepat mencelat gesit menjambuti tubuh anaknya. Segera dia memberikan kepada dua orang anak buahnya yang telah maju didekatnya. Dengan mata menyala bengis dia menghadapi Giok Han, yang sudah berdiri dengan sikap mengejek.
"Sahabat, kita tidak saling kenal satu dengan lain," kata Siangkoan Giok Lin bengis, "Tapi kau sudah melakukan penghinaan yang melampaui batas! Sepak terjangmu sudah sama perbuatan manusia sinting, aku Siangkoan Giok Lin ingin main-main denganmu, minta petunjukmu..!"
"Manusia terkutuk Siangkoan !" bentak Giok Han dingin. "Kedosaan apapun telah kau lakukan, bahkan sekarang sudah melewati takaran! Dengan pengaruhmu kau menindas yang tak berdaya untuk menerima kesengsaraan. Bahkan kudengar sekarang kaupun sudah menjadi anjingnya Kaisar."
Siangkoan Giok Lin tertawa berkakak-kakak, kini pulih sikap sombongnya. Tanpa dibawah ancaman keselamatan anaknya, dia bisa berlaku tenang. Dengan angkuh dia menyahuti: "Sedikitpun tidak salah ! Kalau kau sudah mengetahui bahwa aku akan diangkat oleh Hongsiang sebagai orang terhormat di Kang-sauw ini, mengapa kau tidak cepat-cepat berlutut meminta pengampunan dariku? Anugerah Hongsiang begitu cemerlang dan dalam waktu dekat akulah satu-satunya orang paling berkuasa di Kang-sauw ini, congtok, tiekoan dan pembesar negeri di propinsi ini harus mematuhi setiap perintahku, karena akulah pengawas yang diangkoat oleh Hongsiang !"
"Anjing rendah hina dina tidak tahu malu!" memaki Giok Han gusar. "Manusia seperti kau harus dilenyapkan, agar berkurang kesengsaraan rakyat."
Giok Han juga baru tahu, mengapa Siangkoan Giok Lin bisa mengharuskan setiap pembesar negeri setiap bulan mengantarkan "upeti" padanya Dia bukan hanya membentak, pedangnya sudah berkelebat menyilaukan mata ke arah tenggorokan Siangkoan Giok Lin, tubuhnya begitu gesit, sehingga orang-orang di ruang itu tidak melihat cara bergeraknya !
Siangkoan Giok Lin kaget, matanya silau oleh sinar pedang, tapi iapun tahu tidak boleh, berdiam diri saja. Cepat-cepat dia melompat ke samping kanan, maksudnya ingin mengelak. Namun, "bretttt!" baju di pundaknya kena disontek ujung pedang Giok Han, robek dan terlihat kulit pundaknya yang merah oleh darah karena kulit pundaknya telah tergores cukup dalam !
Giok Han tidak bertindak sampai di situ saja, tubuhnya melesat cepat dan sudah berdiri di samping Siangkoan Giok Lin, pedangnya berkelebat lagi. Sekali ini pedangnya mengincar pinggang Siangkoan Giok Lin, ia menikam dengan jurus "Tian Ek Mo In" atau "Biruang Sayap Mengusap Awan", satu jurus maut kalau tidak bisa dihindarkan oleh lawannya.
Ancaman itu hebat, Siangkoan Giok Lin menyadarinya, ia tidak menoleh lagi mengelak dengan "Hun Kang Toan Liu" atau "Membendung Sungai Memutuskan Aliran", sambil tubuhnya miring tanpa merobah kedudukan kedua kakinya, kemudian tangannya membarengi merabah pinggangnya, tahu-tahu tangannya sudah menggenggam senjata yang cukup aneh yaitu semacam cambuk, hanya saja cambuk lemas itu penuh oleh duri, sebab senjata itu terbuat dari tulang ikan cucut dilengkapi oleh lapisan baja ! itulah senjata andalan Siangkoan Giok Lin, yang selama ini mengangkat namanya menjagoi di Kang-sauw !
Dalam detik-detik berbahaya untuk keselamatan jiwanya, Siangkoan Giok Lin menotok pedang Giok Han dengan ujung gagang pecutnya itu, berbareng juga tubuhnya berputar tahu-tahu cambuknya yang luar biasa itu menyambar ke arah leher Giok Han. Kalau mengenai sasaran, niscaya leher Giok Han sama saja seperti disate, yang bisa mematikan !
Kaget juga Giok Han melihat senjata lawannya dan cara bergeraknya yang cukup aneh.. Tapi, ia tidak membuang waktu menabas dengan pedangnya. "Tringgg !" pedang membentur cambuk aneh lawan, maksudnya hendak menabas putus, tapi kenyataan cambuk itu merupakan senjata mustika yang tidak dapat dipapas oleh senjata tajan apapun, karena dibuat sedemikian rupa kuatnya!
Siangkoan Giok Lin tertawa mengejek, tangannya tidak berhenti bergerak cambuknya sudah menyambar dengan elukan yang aneh, seperti seekor naga yang memutar tubuhnya dengan ganas ke arah batok kepala Giok Han !
Alis Giok Han berdiri, dia mendongkol karena beberapakali gagal mendesak lawannya. Melihat berbahaya, serangan Siangkoan Giok Lin sekali ini, segera ia merobah cara bersilatnya, sekarang mempergunakan Lo-han Kiam-hoat (Ilniu Silat Pedang Arhad), pedangnya diputar secepat titiran, sinarnya se-peiti menguning Giok Han, bahkan hawa yang dipantulkan dari putaran pedang itu dingin sekali mendesak Siangkoan Giok Lin, yang mau tak mau harus mundur tak kuat untuk menerjang terus.
Mempergunakan lawannya sedang mundur Giok Han membarengi mempergunakan jurus "Lo-han Liu-seng" atau "Arhad Sapu Bintang" dan sama pesatnya seperti melesatnya bintang sapu, pedang Giok Han menyambar.
"Aduhhh !" Tubuh Siangkoan Giok Lin terhuyung mundur sambil tangan kiri memegangi tangan kanannya, mukanya meringis menahan sakit, hampir saja cambuknya terlepas dari genggaman, pergelangan tangannya kena ditikam cukup dalam oleh mata pedang Giok Han.
Tidak buang waktu Giok Han melompat sambil menikam dengan "Lo-han Tek Seng" atau "Arhad Memetik Bintang". akan menyelesaikan pertempuran itu dengan tikaman maut ke perut lawannya.
Mata Siangtoan Giok Lin terbuka lebar-lebar. la tahu bahaya yang mengancam ke selamatan jiwanya, tapi ia tidak berdaya lagi. Tikaman itu selain cepat dan mengandung maut, juga tangan kanan Siangkoan Giok Lin seperti kaku tak bertenaga sulit diangkat menggerakkan cambuk durinya. Untuk melompat mundur mengelakkan, sudah tidak keburu lagi, inilah detik-detik yang mengandung maut untuk Siangkoan Giok Lin, semua orang yang menyaksikan dengan mata terbuka lebar-lebar kaget tanpa bisa memberikan pertolongan, mereka hanya mengawasi saja pedang Giok Han meluncur dan akan menikam pada sasarannya. Tampaknya sudah tak ada jalan hidup buat Siangkoan Giok Lin.
Giok Han sendiri memang bermaksud menyudahi hidup jago Kangsouw yang selalu bertindak sewenang-wenang ini, melenyapkan penyakit buat orang-orang yang tak berdaya yang selama ini ditindasnya. Dia yakin tikamannya sekali ini tak mungkin bisa di hindarkan oleh lawannya.
"Tranngggg ..." pedang Giok Han mendadak menikam benda keras yang terbuat dari besi, sampai pedang itu melengkung dan mental ke samping. Tangannya tergetar kesemutan, ia kaget dan melompat kesamping kanan dua kaki. Di depannya berdiri seorang Lhama berjubah merah berkepala botak tapi beralis tebal, hidung mancung dan bibir tebal.
Tubuh Lhama itu gemuk dampak, tangannya mengelus-elus mangkok baja yang tadi dipergunakan untuk menahan mata pedang Giok Han yang ingin menikam Siangkoan Giok Lin. Mulutnya tengah tersenyum sambil gumamnya: "Akhhh, hampir saja mangkok sedekahku dibikin rusak. Celaka aku si pendeta miskin kalau mangkok sedekahku rusak, tidak mungkin bisa meminta sedekah lagi!"
Ditimang-timang mangkok baja itu, yang biasa memang dibawa-bawa oleh setiap Lhama, yang dipergunakan untuk meminta derma. Cuma bedanya dari mangkok sedekah Lhama yang Iain, yang terbuat dari kayu, justeru mangkok sedekah Lhama ini, yang mungkin berusia 50 tahun, terbuat dari baja, berkilauan terkena cahaya mengkilap.
Siangkoan Giok Lin seperti baru lolos dari lobang maut, tercengang sejenak, kemudian tanpa buang waktu ia melompat mundur. Melihat Lhama itu, mukanya yang semula pucat pias seketika jadi terang berseri-seri.
"Fat-sang Hoat-ong . . . kebetulan Hoat-ong datang ! Tangkaplah pemberontak itu !" Teriak Siangkoan Giok Lin nyaring.
Lhama itu menoleh tersenyum pada Siangkoan Giok Lin. "Taijin, tugas suci seorang pendeta bukanlah menangkap manusia, tapi menangkap siluman ! Seorang pendeta memiliki kesalehan dan welas asih, kalau dia mau pergi, aku tak akan menahannya !"
Fat-sang Hoat-ong seorang Lhama dari Lhasa yang sengaja diundang oleh Kaisar, menjadi jago andalan Kaisar dalam menghadapi para pendekar silat Tionggoan yang akhir-akhir ini bangkit semakin banyak untuk mendukung pemberontak.
Sebagai Hoat-ong (guru agama). Fat-sang merupakan orang terhormat dan di kagumi oleh semua Mentri maupun para pembantu Kaisar. la memiliki ilmu silat yang tinggi. Tapi, tadi waktu menangkis tikaman pedang Giok Han, ia kaget tak terkira.
Memang tampaknya Fat-sang Hoat ong tenang-tenang saja, sesungguhnya dia heran tangannya sampai tergetar keras dan pedang si pemuda tidak terlepas dari cekalan, bahkan Giok Han tidak kurang sesuatu.
Sebab itu, ia tidak mau sembarangan bentrok dengan Giok Han, ia sengaja memberi jalan kepada Giok Han untuk pergi meninggalkan tempat ini. Kedatangannya di-gedung Siangkoan Giok Lin bertepatan saat ia melihat jiwa Siangkoan Giok Lin terancam di mata pedang Giok Han, ia cepat turun tangan menangkis dengan mangkok sedekahnya sehingga selamatlah jiwa jago Kang-souw itu.
Giok Han sendiri tahu pendeta Lhama ini rupanya bukan pendeta sembarangan, memiliki kepandaian yang tak bisa diremehkan. la penasaran, sebab belum bisa merubuhkan Siangkoan Giok Lin, matanya menatap tajam.
"Siapakah Taisu". tanyanya dingin. Fat-sang Hoat-ong membawa sikap seperti di tempat itu tidak ada seorangpun yang bisa dihormati, ia tersenyum tanpa menoleh kepada Giok Han, hanya mengusap-usap mangkok bajanya.
"Hanya pendeta miskin yang beruntung dianugrahi Hongsiang kedudukan sebagai Guru Negri! Nah, pergilah kau. pendeta selalu memiliki welas asih dan pantang untuk membunuh kalau tidak terpaksa !"
Giok Han tertawa mengejek. "Ooooh, tidak tahunya Guru Negara," dingin suaranya. "Baik, beruntung sekarang aku bertemu dengan Guru Negara, tentu saja akan tidak mau sia-siakan kesempatan untuk minta petunjuk darimu !"
Belum lagi suaranya habis, pedangnya sudah menyambar cepat sekali sekaligus menikam tiga kali. dengan "Lo-han Gin Hong" (Arhad Pelangi Perak), "Lo-han Kian-yo" (Arhad Menuntun kambing) dan "Lo-han Kie-hwee" (Arhad Memangkat obor). Ketiga jurus cari Lo-han kiam hoat ini sama-sama dahsyat, tenaga tikaman yang disertai oleh tenaga dalam yang kuat dan cara menikam yang sulit diterka sebetulnya merupakan jurus-jurus yang tak mudah untuk dielakkan.
Tapi, Fat-sang Hoat-ong tenang-tenang saja, mangkok bajanya seperti memiliki mata waktu ia mengendalikannya, terdengar "tringgggg," tiga kali dan ketiga serangan Giok Han bisa ditangkisnya sama kuatnya.
"Apakah kau tidak mau berterima kasih diberi jalan hidup dan malah memilih jalan kematian ?" bentak Fat sang Hoat-ong nyaring
Giok Han tidak menyahuti, dia menikam beberapakali lebih dahsyat, angin berkesiuras ditimbulkan dari pedangnya yang berputar tak hentinya mengincar bagi yang mematikan di tubuh Fat-sang Hoat-ong.
Tapi Lhama ini benar-benar tangguh, karena ia bisa menghadapi semua serangan Giok Han dengan sangat mudah. Sampai akhirnya barulah Fat-sang Hoat-ong kaget, ketika ia menangkis pedang Giok Han, mendadak pedang itu melejit dan tahu-tahu menikam kearah lehernya ! Untung saja Lhama ini lihai, sehingga cepat bisa menghindarkan tikaman itu.
Tidak-urung hati Fat-sang Hoat-ong berdebar dan keringat dingin mengalir keluar. "Pemuda ini berbahaya.." pikirnya dan ia tidak berani meremehkan lagi, menghadapinya lebih hati-hati.
Semua orang yang menyaksikan perkelahian yang tengah berlangsung jadi mengawali kagum, betapa dua sosok bayangan, yang satu merah dan yang satunya lagi sosok bayangan putih, berkelebat-kelebat lincah sampai sulit diikuti oleh pandangan mata orang biasa.
Siangkoang G.iok Lin sendiri menggidik. Matanya kabur melihat kedua orang yang tengah berkelahi itu. Coba kalau Fai-sang Hoat ong tidak keburu datang, niscaya ia sukar menghadapi Giok Han yang ternyata sangat lihay.
Diam-diam Giok Han mengeluh juga walau pun ia memiliki ilmu pedang yang aneh dan dahsyat, tapi kalah latihan dan pengalaman dibandingkan dengan Fat-sang Hoat-ong. Setelah Lhama itu mencurahkan seluruh perhatian menghadapinya serius, seketika Giok Han merasa agak terdesak.
Benar Fat-sang Hoat-ong seringkali kaget menerima serangan yang aneh dari Giok Han, tapi ia menang tenaga dan pengalaman maka ia bisa balik mendesak Giok Han.
Setelah bertempur lebih dari limapuluh jurus, diam-diam Fat-sang Hoat ong kagum campur heran. "Aneh, siapa bocah ini ? Mengapa ilmunya demikian aneh dan juga tidak rendah ? usianya masih demikian muda kalau dibiarkan dia angkat kaki, kelak merupakan bibit penyakit di depan mata!"
Karena berpikir begitu, Fat sang Hoat-ong merobah cara bertempurnya. Tubuhnya yang gemuk dampak ternyata bisa berkelebat ke sana kemari lincah sekali, mangkok baja nya seperti topi baja yang berulang kali menyambar akan menungkrup kepala Giok Han.
Tentu saja, kepala Giok Han akan pecah jika mangkok baja itu sekali saja bisa menungkrap kepalanya, sebab setiap serangan mangkok baja Lhama itu disertai tenaga khikang yang kuat !
Giok Han terdesak, semakin lama ia semakin berkurang balas menyerang, hanya mengelak dan menangkis setiap serangan Lhama ini. Memang tidak mungkin Lhama itu bisa merubuhkannya dalam seratus atau duaratus jurus, namnn Giok Han pun tampaknya tidak mungkin bisa mendesak pendeta itu.
Sebab itu ia berpikir untuk menyingkir dari tempat ini. karena jika sampai kehabisan tenaga dan Siangkoan Giok Lin serta orang-orangnya ikut mengepungnya, jelas dirinya sulit meloloskan diri. Berpikir begitu Giok Han segera berseru nyaring, pedangnya berkelebat-kelebat dahsyat, dan tahu-tahu tubuhnya melompat terapung ke belakang, berjumpalitan untuk menjauhkan diri dari Fat-sang Hoat-ong.
"He-heh-heh, mau pergi kemana, bocah?" mengejek Fat-sang Hoat-ong, segera tangannya bergerak. Mangkok bajanya itu seperti meteor menyambar pesat ke arah kepala Giok Han, Angin sambaran mangkok baja kuat sekali, mengejutkan Giok Han.
Dia memiringkan kepalanya menghindar, tapi tidak urung waktu mangkos. baja lewat di samping telinganya terasa pedas pedih, menandakan kuatnya tenaga melontar yang dipakai oleh Lhama tersebut! Mangkok baja itu menyambar terus kedepan, amblas ke dalam tembok, sampai terlihat hanya pantat mangkok belaka !
Giok Han tidak membuang waktu melompat ke atas penglari, kemudian melompat lagi ke luar pekarangan, tubuhnya ringan melompati tembok pekarangan. Siangkoan Giok Lin dan orang-orangnya berteriak-teriak waktu melihat Giok Han hendak menyingkir dari situ, mereka beramai-ramai menyerang dengan senjata rahasia. Tapi Giok Han sudah lenyap di balik tembok.
Segera mereka memburu, melompati tembok dan tiba di luar pekarangan. Namun disitu sudah tak tampak bayangan Giok Han lagi.
"Kejar !" teriak Siangkoan Giok Lin. -"Jangan biarkan dia lolos, tangkap mati atau hidup !" ,
Fat-sang Hoat-ong sampai diluar pekarangan dengan sikap yang diagung-agungkan. tubuhnya yang gemuk dampak berjalan perlahan-lahan seakan memang tidak berkeinginan mengejar. "Biarkan dia pergi, aku sengaja membiarkan dia pergi!" Kata Lhama itu, nyaring suaranya.
Siangkoan Giok Lin memandang tercengang kepada Lhama itu. Tampaknya dia tidak puas.
"Hoat-ong, dia... dia pemberontak yang memusuhi Hongsiang. Tadi dia begitu beringas mengetahui aku bekerja untuk negara ..." bilang Siangkoan Giok Lin tidak puas.
"Pendeta selalu welas asih dan penuh prikemanusiaan ! Untuk menangkap dia sangat mudah, sama dengan membalikkan telapak tangan. Tapi dia masih sangat muda, kelak dia bisa merobah pendiriannya... sengaja aku lepaskannya !" menyahuti Fat-sang Hoat-ong sombong.
Siangkoan Giok Lin diam tidak bilang apa-apa lagi, tapi dari mukanya tampak rasa tak puas. Di hatinya dia berpikir: "KaIau memang kau sanggup merubuhkan, tentu tadi kau sudah merubuhkannya ! Justeru kau tidak berdaya apa-apa terhadapnya...!"
Fat-sang Hoat-ong melihat sikap tak puas Siangkoan Giok Lm, dia tertawa dingin. "Sudahlah, Siangkoan Loyacu. Kalau bocah itu kelak berani banyak lingkah lagi di sini akan kubuktikan dalam lima jurus untuk membekuknya !" katanya dengan sikap acuh tak acuh, angkuh.
Siangkoan Giok Lin seorang licik dan cerdik, kalau tidak mana mungkin dia bisa memperoleh kepercayaan Kaisar ? Karena dari itu cepat dia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Dia tertawa bergelak-gelak.
"Ya, kalau Hoat-ong berada di sini, jangan kata bocah tengik itu, biarpun setan iblis akan kabur begitu melihat bayangan Hoat-ong ! Beruntung Hoat-ong datang tepat waktunya, jika tidak kita sudah tak bisa mengobrol lagi ! Ha-ha-ha-hah !"
Kemudian dia repot perintahkan orang-orangnya buat mempersiapkan meja perjamuan untuk menjamu tamu kehormatan tersebut.
"Aku datang kemari membawa pesan rahasia dari Hongsiang," bilang Fat-sang Hoat-ong setelah masing-masing duduk di depan meja perjamuan. "Hongsiang bilang, Siangkoan Loyacu seorang yang setia kepada negara dan pandai bekerja, maka Hongsiang ingin mempercayai untuk melakukan suatu pekerjaan besar untuk Loyacu. Tentu saja, kalau sudah rampung, Loyacu akan dianugerahi pangkat yang pantas dari Hongsiang..!"
Muka Siangkoan Giok Lin berseri-seri. "Walaupun harus terjun dalam minyak panas mendidih, Siangkoan Giok Lin akan mengabdi penuh kesetiaan pada Hongsiang!" Katanya bersemangat.
"Bagus !" mengangguk Fat sang Hoat-ong "Hongsiang mendengar akhir-akhir ini cukup banyak pemberontak yang berkumpul di Kang-souw, mengingat Loyacu memiliki banyak sahabat, maka Loyacu diminta untuk menghimpun mereka, kemudian memberantas mereka. Caranya terserah pada Loyacu, Hong-siang percaya sepenuhnya, ingin mengadu dombakan mereka agar kekuatan pemberontak itu lemah, ataupun juga cara melakukan pemberantas dengan tangan besi. Tentu Loyacu sanggup melaksanakan permintaan Hongsiang, bukan ?"
"Itu urusan gampang, Hoat-ong ! Percayalah, Siangkoan Giok Lin akan melaksanakan tugas itu seperti yang diharapkan Hongsiang. Sekarang, marilah kita tenggak arak kegembiraan !"
Fat-sang Hoat-ong walaupun seorang Lhama, tapi tak segan-segan mengangkat cawan araknya dan meneguk isinya, mereka bercakap-cakap sambil tertawa-tawa.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemana perginya Giok Han ? Ternyata ketika ia melompati tembok dan meloncat turun ke tanah, ada sosok bayangan berkelebat tidak jauh darinya, "sssttrt. ikut aku !" bisik sosok bayangan itu, yang bergerak gesit sekali.
Giok Han tercengang sejenak, tapi segera mengempos Ginkang mengikuti sosok bayangan itu, yang mengajaknya menyelinap ke dalam semak belukar. Tampaknya sosok bayangan ini mengenal benar keadaan di tempat tersebut. Di belakang terdengar suara ribut-ribut, terdengar juga suara Siangkoan Giok Lin yang tengah perintahkan orang-orangnya untuk melakukan pengejaran dan mencari Giok Han.
Setelah mengikuti beberapa saat sosok bayangan itu, Giok Han sampai di balik sebidang tembok yang agak kotor, tidak tampak seorang manusiapun di situ. Di sebelah kanan tidak jauh dari situ tampak keranjang-keranjang sampah, yang tidak teratur berantakan. Seekor kucing mengorek-ngorek sampah yang tercecer. Sosok bayangan itu menendang perlahan mengusir kucing itu", kemudian memutar tubuhnya.
Sejak mengikuti, Giok Han melihat bentuk yang ramping dan tidak terlalu tinggi. tapi gerakan sosok bayangan itu sangat gesit. Dia menduga-duga entah siapa orang ini. la yakin sosok bayangan ini seseorang yang tidak bermaksud tak baik padanya, karena ia yang mengajaknya menyingkir dari kejaran Siangkoan Giok Lin dan orang-orangnya.
Sekarang orang ini sudah berdiri menghadap padanya, ia bisa- melihat jelas mukanya. Usia orang ini masih muda, tapi mukanya kotor, pakaiannya pun ternyata kotor, biarpun tidak ada yang robek. Melihat cara berpakaiannya, selintas dapat diambil kesimpulan pemuda ini seorang pengemis. "Terima kasih atas bantuanmu," kata Giok Han memberi hormat, "kau telah membantu aku menyingkir dari kejaran orang she Siangkoan itu !"
Pengemis muda ini mengawasi Giok Han sambil cengar-cengir, katanya: "Siapa perduli dengan urusanmu ? Aku membawamu kemari karena ada pekerjaan yang ingin kuberikan kepadamu."
"Pekerjaan ? Pekerjaan apa ?" tanya Giok Han heran melihat sikap pengemis muda ini. "Siapakah kau ?"
Pengemis muda itu menekan topi butut yang menutupi kepalanya sampai melesak ke dalam menutupi sebagian besar keningnya, mulutnya masih cengar-cengir. "Kulihat kau memiliki tenaga yang cukup kuat, bagaimana kalau sekarang kau membantuku membersihkan sampah-sampah yang tercecer di sini ? Tempat ini terlalu kotor, sebelumnya merupakan tempat peristirahatanku yang paling enak."
Giok Han tersenyum. la tahu, itulah alasan yang dibuat-buat oleh pengemis muda ini, mengelak ucapan terima kasihnya. Dari cara dia berlari cepat tadi sudah bisa dipastikan pengemis muda ini bukanlah sembarang pencemis "Baik. Mari kita bersihkan tempat ini."
Giok Han mengerahkan tenaga dalamnya, disalurkan pada kedua lengannya, kemudi ui menggerak-gerakkan keduatangannya, diputar-putar seperti kitiran, maka kenas maupun kotoran-kotoran lainnya berterbangan. Dalam waktu singkat sebagian tempat itu sudah jadi bersih. Si pengemis muda tertawa "Hehe kau kacung nomor satu di dalam dunia ini !" katanya.
Pengemis muda itu menjatuhkan diri duduk di sisi tembok, menyender di situ, memejamkan matanya dan tidak perduli lagi pada Giok Han.
Melihat lagak pengemis muda ini. Giok Han berdiri ragu-ragu, kemudian dia bilang: "Saudara, kukira tidak ada lagi yang harus kukerjakan, aku mau pergi...!"
Pengemis muda itu tetap menyender di tembok dengan mata terpejam, seakan tidak mendengar perkataan Giok Han. Namun waktu Giok Han melangkah belasan tindak, pengemis muda itu memangggil: "Hei pekerjaanmu belum selesai, mengapa mau pergi cepat-cepat ?"
Giok Han menahan langkah kakinya, menoleh tersenyum pahit. "Maafkan, aku masih punya urusan penting yang harus kuselesaikan. Nanti kalau ada kesempatan kita pasti bertemu lagi dan mengobrol panjang lebar. Akur ?"
Pengemis muda itu meloncat berdiri, bertolak pinggang. "Ooo, jadi kau tidak mau menepati janjimu ?" Matanya mendelik, tapi bola matanya bening dan jernih, mukanya kotor dengan mata melotot seperti itu membuat pengemis muda ini tampaknya lucu.
Giok Han tersenyum.
"Janji ? Aku pernah berjanji apa padamu, saudara ?"
"Bukankah tadi kau sudah berjanji menyatakan sanggup membantuku membersihkan tempat ini ?"
Mendongkol juga Giok Han mendengar jawaban si pengemis. Tadi dia memang mengira si pengemis mau membersihkan tempat ini dan meminta bantuannya, mengingat si pengemis telah memberitahukan jalan lolos dari kejaran Siangkoan Giok Lin dan orang-orangnya, maka Giok Han bersedia membantunya.
Tetapi siapa tahu pengemis muda ini keterlaluan, ia enak-enak mengawasi saja setelah sebagian tempat itu dibersihkan Giok Han, pengemis muda tersebut malah duduk menyender di tembok dan tidur !
"Bukankah aku sudah menepati, janjiku membantumu membersihkan tempat ini ?
Yang sebagian lagi tugasmu untuk membersihkannya. bukankah sejak tadi kau belum ikut membersihkan tempat iai ?" bilang Giok Han.
Muka si pengemis cemberut. Sikapnya benar-benar membuat Giok Han jadi heran. "Aneh, pengemis ini lagaknya seperti seorang gadis remaja yang sedang mengambek. Hu ! Dia terlalu rewel, lebih baik aku meninggalkannya saja..."
"Pemuda malas ! Tubuh saja besar dan tampaknya kuat, tapi kerja ringan seperti ini saja tidak sanggup kau selesaikan!" mengoceh pengemis itu.
"Nanti jika aku memiliki kesempatan datang kemari, akan kubersihkan lagi sebagian tempat ini yang masih kotor. Nah, aku mau pergi dulu !"
"Mau pergi, pergilah ! Siapa yang mau melarangmu ? Pergi ! Hayo pergi ! Aku juga tidak mau melihat mukamu lagi !" pengemis itu tampaknya tidak puas, mukanya cemberut masam. Lagaknya benar-benar mirip seorang gadis yang tengah mendongkol dan ngambek.
Giok Han tak perduli sikap pengemis itu, walaupun hatinya merasa tidak enak, dia mernutar tubuh dan melangkah pergi.
Giok Han bermaksud mencari rumah penginapan, dia berlari-lari melewati beberapa jalan yang sudah sepi, karena hari sudah malam. Tapi ketika ia kebetulan menoleh ke-belakang, Giok Han jadi tercengang.
"Kau . . . ?" dia tidak bisa meneruskan perkataanya.
Pengemis muda itu ternyata sudah berdiri di depannya, dia sejak tadi rupanya mengikuti.
"Kenapa ?" tanya si pengemis aseran. "Apakah aku tidak boleh memakai jalan ini ?"
"Bukan . . . bukan begitu," jawab Giok Han agak tergagap. "Tapi .... kau mengikutiku ..."
"Cisss, pemuda ceriwis ? Siapa yang mengikutimu ?" bentak pengemis itu dengan muka berobah merah. Tampaknya dia gusar.
"Kawan, kalau memang kau mau, mari kita mencari rumah penginapan, nanti kita bisa mengobrol . . " kata Giok Han yang tidak ada pilihan lain, karena dia yakin pengemis ini memang mengikutinya sejak tadi.
"Cuiii, siapa kesudian mengobrol dengan kau? Aku sedang menuju pulang ke rumahku, bukan mengikutimu ! Hmm, apakah kau kira ini jalanan milik kakek moyangmu sehingga hanya kau seorang yang boleh memakainya ?"
"Bukan begitu maksudku . . ."
"Lalu apa maksudmu ?" Pengemis itu mendelik bertolak pinggang dan mulut yang dimonyongkan, lagaknya ini tampak jadi Iucu sekali. Pengemis ini berusaha membawa sikap galak, tapi bukannya tampak galak malah kelihatannya jadi lucu.
Kewalahan juga Giok Han menghadapi sikap si pengemis, dia menggoyang-goyang kepala. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Pergi ! Siapa kesudian menahan-nahan kau ? Hmm, huhuh !" mendengus si pengemis beberapa kali.
Giok Han melanjutkan langkah kakinya tidak perduli dengan sikap si pengemis. Hanya ia merasa aneh. Si pengemis lucu sekali, mempunyai perangai yang aneh. Walaupun si pengemis bersikap kekanak-kanakan seperti itu, Giok Han tidak jadi gusar, malah merasa geli sendirinya.
Setelah melewati dua lorong, dia menoleh. Ternyata si pengemis berada di belakangnya. Melihat Giok Han menoleh, si pengemis menahan langkah kakinya, membuang pandang ke samping kanan seakan-akan sedang mencari sesuatu, Giok Han tersenyum.
"Entah apa maunya dia mengikutiku terus?" Dan dia jadi waspada, karena kuatir justru pengemis ini bermaksud kurang baik padanya. Melihat muka dan lagaknya, pengemis ini jelas bukan pengemis yang tak baik, tapi mengapa dia mengikuti terus.
Giok Han melangkah lagi, dia menikung. Tapi sengaja berdiam di balik tembok tikungan, menanti di situ. Tak lama kemudian muncul si pengemis yang setengah berlari, rupanya kuatir kehilangan jejak Giok Han.
"Apa kabar, kawan ?" sapa Giok Han dan mengejutkan pengemis itu, sampai ia terloncat ke belakang dengan muka yang pucat dan kemudian merah padam, karena kepergok serta tertangkap basah oleh Giok Han. "Apa maksudmu mengikutiku terus menerus ?" tanya Giok Han lagi.
"Kau... kau pemuda ceriwis !" bentak si pengemis dengan muka cemberut, malah tangannya sudah melayang akan menampar muka Giok Han. "Mulutmu harus dihajar agar lain kali tidak berani mengeluarkan kata-kata ceriwis..."
Giok Han miringkan kepalanya mengelak, tapi mendadak dia merasakan dadanya berkesiuran angin. Dia kuatir senjata rahasia, segera si pemuda meloncat ke belakang. Waktu itu si pengemis lewat di sampingnya, ngeloyor pergi.
Giok Han berdiri tertegun di situ beberapa saat, sampai akhirnya menghela napas, menggoyang-goyang kepala karena benar-benar ia merasa heran terhadap kelakuan si pengemis. "Benar-benar aneh pengemis itu..!" pikirnya. Dan ia melanjutkan lagi langkahnya untuk mencari rumah penginapan.
Baru melangkah beberapa tindak, mendadak muka Giok Han berobah, ia berseru kaget dan meraba dadanya. Sekuntum bunga terbuat dari emas murni, menempel di bajunya. Ukurannya tidak besar, seperti kancing baju lainnya, tapi, bunga itu bisa menempel di bajunya merupakan kejadian yang mengejutkan karena pasti bunga emas ini milik si pengemis. Giok Han tambah heran, melihat ini ia tahu kepandaian dan kecepatan tangan pengemis itu luar biasa. Kalau tadi dipergunakan sebagai senjata rahasia, bukankah dia bisa dicelakai si pengemis ?
Kenyataannya, pengemis itu cuma menyantelkan bunga emas itu di bajunya. Apa maksud pengemis itu meninggalkan perhiasan yang mungkin juga bisa dipergunakan sebagai senjata rahasia ini ? Giok Han mengawasi teliti bunga emas itu, akhirnya diputuskan dia harus meminta keterangan dari pengemis itu. Tubuhnya melesat cepat mengejar ke arah depan, tapi bayangan si pengemis sudah lenyap. Mata hidungnya sudah tak terlihat.
Lima lorong jalan yang dilewati Giok Han. tapi si pengemis sudah menghilang tak terlihat bayangannya. Akhirnya Giok Han menghela napas, memasukkan bunga emas ke dalam sakunya. Siapa pengemis muda itu ? Kelakuannya benar-benar aneh.
Berjalan tidak jauh, Giok Han melihat subuah rumah penginapan, seorang pelayan menyambutnya, ketika Giok Han memasuki rumah penginapan tersebut. Kamar yang di berikan cukup bersih dan besar, Giok Han mencuci muka dan rebahkan diri di pembaringan untuk istirahat.
Walaupun ia tidak mau memikirkan tentang diri pengemis muda yang aneh, namun tetap saja pikirannya teringat kepada pengemis yang sangat aneh gerak-geriknya itu. Dia benar-benar jadi diliputi tanda-tanya. apa sebetulnya keinginan si pengemis ? Dia menghilang kemana ? Apa maksudnya meninggalkan bunga emas di bajunya ?
Tapi akhirnya Giok Han tersenyum. Bunga emas itu adalah barang yang cukup berharga. Dia bisa mempergunakan untuk pembayaran sewa kamar di penginapan ini. la jaga berpikir besok untuk mendatangi lagi rumah Siangkoan Giok Lin, guna mengadakan perhitungan. Pemuda ini memejamkan matanya dan tidur pulas.
Keesokan paginya, Giok Han bangun dengan tubuh segar. la mencuci muka, Waktu merapihkan rambutnya, pelayan masuk membawakan santapan untuknya, makanan yang terbuat dari sarang-burung Yan-oh. Giok Han mengerutkan kening melihat makanan itu. "Lo-tiamhoa, aku tidak memesan makanan itu..." memberitahukan Giok Han ragu-ragu, "mungkin kau salah kamar..."
Pelayan penginapan yang berusia lanjut menggoyangkan kepala sambil tertawa. "Tidak, kongcu. Aku tidak salah masuk kamar. Makanan ini memang dipesan untukmu. Malah akan menyusul beberapa makanan lainnya lagi buat kongcu."
Giok Han tertawa. "Lo-tiamhoa, dengarlah. Aku tidak mempunyai banyak uang. Jika kau memaksa makanan ini untukku, nanti setelah kumakan dan tak bisa membayar, kau akan menyesal..."
Pelayan tua itu tersenyum. "Jangan kuatir, kongcu. Kau tidak perlu membayar satu ci juga !"
"Apa ? Aku tak usah membayar?" Pelayan itu mengangguk cepat. "Benarr kongcu tidak usah membayar, karena semua makanan untuk kongcu telah dibayar penuh untuk hari ini. termasuk sewa kamar. Kalau memang kongcu masih memiliki urusan bermaksud menginap lagi satu dua hari, itupun sudah dibayar penuh. Oya. kongcupun diminta setelah bersantap untuk mencoba jubah yang telah selesai dibuatkan untukmu."
Bukan kepalang heran Giok Han. dia jadi mengawasi si pelayan dengan mulut terbuka tak percaya pada apa yang didengarnya. Akhirnya dia nyengir. "Lo- tiamhoa, kau jangan bergurau ...."
Si pelayan memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, katanya: "Mana berani aku bergurau dengan kongcu. Aku telah memberitahukan yang sebenarnya. Silahkan dimakan Yan-oh-nya, kongcu. Kalau dingin tentu berkurang lezatnya ..."
Bingung Giok Han menghadapi kejadian ini. Siapa yang melakukan semua ini, yang telah membayar penuh semua perhitungan sewa kamar termasuk makanan, juga kata si pelayan ia telah dikirimi jubah baru!"
Si pelayan tehh mengundurkan diri. Giok Han berdiri ragu-ragu, namun akhirnya dla tertawa. "Untuk apa aku pusing-pusing ! Orang bermaksud baik padaku dengan membayarkan seluruh perhitunganku pada rumah penginapan ini, kalau nanti bertemu dengannya urusan akan menjadi jelas sendirinya. Tapi, apakah mungkin semua ini pekerjaan Siangkoan Giok Lin, yang sengaja hendak mengambil hati dan coba mempengaruhi aku dengan semua ini ? Tapi, tak mungkin. Siangkoan Giok Lin pasti akan datang dengan senjata tajam bersama orang-orangnya, untuk membunuhku ! Tidak mungkin dia melakukan perbuatan baik seperti ini ! Namun mungkinkah makanan itu sudah dicampur racun ?"
Karena berpikir begitu, segera Giok Han menghampiri pintu. Dia memanggil pelayan tadi, yang segera datang.
"Lo-tiamboa, kau membuatkan Yanoh terlalu banyak, aku membagimu separoh. Nah, makanlah !" kata Giok Han sambil menyodorkan semangkok Yan-oh yang dicampur dengan buah leci, sedangkan semangkok sarang burung walet yang dicampur dengan anggur, dibiarkan saja di meja.
Si pelayan menggoyang-goyangkan tangannya, mukanya berobah dan tampaknya dia jadi sibuk sekali. "Mana boleh begitu ?! Mana boleh begitu ?"
"Hayo makan !" bentak Giok Han.
"Sungguh-sungguhkah kongcu membagi Yan-oh untukku?" tanya si pelayan tua itu akhirnya.
"Ya, makanlah."
"Biar kubawa ke belakang saja, nanii kumakan di sana !"
Giok Han maju mencekal lengan si pelayan. "Makan di sini !"
"Oooo, inilah peristiwa yang belum pernah terjadi di rumah penginapan ini, sejak didirikan sampai sekarang. Tapi, baiklah ! Kongcu tampaknya kuatir makanan ini beracun, bukan ?"
Giok Han diam saja. Si pelayan tua segera memakan habis semangkok Yan-oh, akhirnya mengusap-usap perutnya. "Terima kasih atas kebaikan kongcu." Dia memutar tubuh mau pergi, tapi Giok Han menepuk pundaknya.
"Tunggu dulu, Lotiamhoa. Beritahukan kepadaku, siapa yang telah membayarkan buatku semua ini ?"
"Katanya seorang sahabat baik kongcu..." menyahuti si pelayan.
"Bagaimana keadaan orang itu ?"
"Seorang nona cantik jelita ..."
"Apa ?"
Si pelayan mengawasi heran. "Bukankah kongcu seharusnya sudah mengetahui siapa yang melakukan semua ini?"
Giok Han menggeleng.
"Tidak. Aku pendatang baru di kota ini tidak ada seorang kawanpun juga !"
Kini giliran si pelayan yang jadi terheran-heran.
"Kongcu jangan bergurau.... nona itu bilang kau... kau adalah... adalah calon suaminya !"
"Apa?" Giok Han kaget dan tambah heran. "Celaka, lo-tiamhoa... kau salah kamar ! Semua ini bukan untukku ! Kau pasti salah kamar !"
Si pelayan menggelengkan kepala.
"Tidak ! Tidak mungkin salah kamar ! Nona itu sudah memberitahukan jelas tamu di kamar empat dan melukiskan muka dan keadaan badan kongcu."
Giok Han jadi tambah heran. "Apakah wanita itu tidak memberitahukan namanya ?"
Si pelayan tertawa.
"Kepada seorang pelayan kotor seperti-ku ini mana nona itu mau memberitahukan namanya. Dia cuma bilang, kami harus melayani kongcu sebaik-baiknya... berapapun akan dibayarnya, asal kongcu senang tinggal di sini!"
Giok Han tambah heran dan ragu-ragu. Dia yakin pelayan ini pasti salah kamar.
"Percayalah lo-tiamhoa, yang dimaksudkan wanita itu bukan diriku ! Aku baru datang dari kota lain, di sini tidab ada sahabat atau sanak famili, apa lagi calon isteri. Ayo bawa keluar semua barang santapan itu, aku bukan orang yang dimaksud wanita itu !"
"Tidak mungkin salah !" kata si pelayan dengan pasti. "Dirumah penginapan ini tidak ada pemuda lain, selain kongcu ! Memang ada tamu lain yang datang malam tadi, tapi mereka dua orang wanita dan seorang lelaki sudah tua-renta. Hanya kongcu seorang yang masih muda. Maka dari itu, tidak mungkin salah yang dimaksudkan nona cantik itu adalah kongcu !"
Tidak kepalang heran Giok Han. Siapa wanita itu? Mengapa dia begitu lancang mengakui dirinya sebagai calon suaminya ?
"Maaf, kongcu. Aku harus melayani tamu-tamu Iain..." dan si pelayan keluar meninggalkan Giok Han yang masih berdiri mematung karena benar-benar tak mengerti
Atas kejadian yang berlangsung demikian aneh dan penuh teka-teki. Apakah wanita itu salah mata ? Tapi hal itu tak mungin. Tapi mengapa wanita itu tak memperlihatkan diri ?
Banyak tanda-tanya yang berkumpul di hati Giok Han dan tak terjawab. Perutnya berbunyi lapar, dia segera memakan Yan-oh yang dicampur dengan anggur, enak sekali santapan itu dan memang makanan tersebut tidak mengandung racun. Giok Han kemudian keluar dari kamarnya, dilihatnya pelayan tua tadi tengah duduk di dekat pintu gerbang rumah penginapan dengan kepala melenggut, rupanya dia mengantuk.
Giok Han menghampiri. Dibangunkan pelayan itu, yang segera sibuk bertanya. "Apakah kongcu mau mencoba jubah biru itu? Apakah kongcu mau keluar jalan-jalan melihat keramaian kota? Kalau memang kongcu ingin perintahkan sesuatu padaku, jangan sungkan-sungkan, perintahkan saja..."
"Lo-tiamhoa, apakah wanita yang telah membayarkan sewa kamar dan makanan untukku itu bukan penduduk kota ini ?" tanya Giok Han.
"Aku tak mengenalnya, kongcu, tapi melihat pakaiannya yang mewah mentereng, tampaknya dia seorang putri bangsawan atau hartawan kaya. Sungguh beruntung kongcu mempunyai calon isteri seperti itu, cantik, kaya dan sangat memperhatikan kepentingan kongcu..."
Sedang pelayan itu mengoceh terus. Giok Han justru melihat di luar rumah penginapan seseorang tengah mengamat-amatinya. Dia segera mengenali si pengemis muda yang kemarin bertemu dengannya. "Hei tunggu kawan !"panggil Giok Han meninggalkan si pelayan dan berlari menghampiri si pengemis Si pelayan menandang heran, mulutnya yang semula mengoceh jadi terbuka saja.
Pengemis muda itu melihat Giok Han menghampirinya, segera berlari. Cepat larinya, tapi Giok Han mengejarnya terus. Waktu ini jalan cukup ramai orang-orang heran melihat si pengemis saling kejar cepat dengan Giok Han, yang membuat mereka lebih heran ke-dua orang itu berlari seperti terbang saja !
Giok Han menduga pengemis ini pasti bisa memberikan keterangan sesuatu padanya, sikapnya mencurigakan. Kemarin ia mengikutinya terus menerus, sekarang pun tampaknya tengah mengamat-amati tempat di mana ia menginap.
la mengejar terus, sampai akhirnya si pengemis melompat masuk ke dalam sebuah kuil dengan cara meloncati tembok kuil. Giok Han mengikuti cara si pengemis. Kuil itu ternyata tak berpenghuni sudah rusak di sana-sini. Si pengemis tampak tengah duduk tenang di bangku batu, mengawasi Giok Han dengan mulut tertawa nyengir.
"Hemmm, sekarang sudah terbukti, bukan aku yang mengikutimu ! Lihatlah, justeru kau yang telah mengikutiku!" kata si pengemis masih tetap tertawa nyengir.
"Kemarin pun kau yang ikut ke tempat istirahatku, tapi mulutmu ceriwis dan bilang aku yang mengikutimu ! Hemmm, ayo bilang, kau mengikuti aku atau aku yang mengikuti kau?"
Giok Han tercengang sejenak, tapi akhirnya tersenyum. "Sahabat, mari kita bicara terus terang, aku Giok Han ingin meminta petunjukmu..."
"Meminta petunjukku ? Petunjuk apa ?" tanya pengemis itu pura-pura tak mengerti. "Bicara terang? Sekarang sudah menjadi terang urusannya, kau yang selalu mengikuti aku, bukan aku yang mengikuti kau !"
"Baiklah kalau kau bilang begitu, aku mengakui. Memang dua kali aku yang ikuti kau ! Tapi. beritahukanlah, siapa kau sebenarnya ?!"
"Aku pengemis kotor dan miskin, apa gunanya memberitahukan namaku padamu, karena kau tentu tak akan memandang sebelah mata juga !"
Giok Han tersenyum. "Jangan berkata begitu, sahabat. Walaupun bagaimana kita sama-sama orang kangouw, tentu urusan uang bukanlah urusan yang terlalu penting buat kita. Miskin kaya tidak menjadi persoalan, asal jiwa kita bersih..."
"Hemm, kau bicara dengan lagak seperti seorang pendekar besar !" mengejek si pengemis. "Apakah kau kira dalam kangouw cuma kau saja yang memiliki jiwa bersih dan yang lainnya berjiwa kotor ?"
"Bukan, aku tidak bilang begitu..."
"Hemmm, tidak usah kau putar-balik persoalan, kenyataannya sudah berulangkali kau mengikutiku, tapi sebelumnya kau tak mengakui ! Apakah dengan demikian kau bisa menepuk dada dan mengatakan jiwamu benar-benar bersih ?"
"Sahabat, baiklah aku mengaku salah. Tapi, janganlah kau mempermainkan aku lebih jauh !" kata Giok Han mengalah.
"Cisss, siapa yang mau mempermainkan kau ?" bentak si pengemis sambil berdiri-marah menentang mata Giok Han, matanya bersinar bening dan kalau saja mukanya tidak kotor mesum seperti itu, tentu pengemis ini memiliki muka yang cakap. "Kau menuduhku bahwa selama ini aku mempermainkanmu ?"
"Bukan begitu, yang kumaksudkan kita tidak perlu saling salah menyalahi. Aku seorang pendatang di kota ini, segala apa tidak kuketahui. Tentu kau bisa memberikan petunjuk kepadaku tentang sesuatu hal..."
"Tentang hal apa ?"
"Baru-baru ini aku mengalami suatu kejadian yang benar-benar aneh..."
Si pengemis memperhatikan Giok Han tampaknya dia jadi tertarik, tanyanya : "Aneh bagaimana ?"
"Semalam aku menginap di rumah penginapan yang tadi, siapa tahu, pagi ini waktu pelayan mengantarkan santapan untukku, ia bilang seluruh harga makanan dan sewa kamarku telah dibayarkan seseorang...."
"Aduhhhh ! Aduhhhh . . . ! Enak sekali. Kalau aku bernasib baik seperti kau, tentu aku ucapkan ribuan kali terima kasih kepada Thian !" Berseru si pengemis nyaring. Tapi mendadak mukanya jadi muram, dia menunduk, menggumam perlahan dengan suara sedih:
"Ya, kau memang bernasib baik, tapi aku . . . ? Aku anak celaka bernasib sangat buruk ..."
Giok Han heran melihat kelakuan si pengemis, yang bisa bersikap riang serta nakal, tapi juga mendadak bisa bersedih hati seperti itu. Sedang Giok Han mengawasi heran, si pengemis mengangkat kepalanya, tertawa lebar. "Ayo teruskan ceritamu... ku kira itu cerita yang cukup menarik."
"Aku menanyakan pada si pelayan, siapa orang yang telah membayar semua itu, tapi ia bilang tidak kenal orang tersebut..."
"Lalu bagaimana ?"
"Pelayan itu cuma bilang yang minta padanya untuk melayani aku baik-baik adalah seorang nona ..."
"Aha... luar biasa ! Tentunya kau mempunyai hubungan yang erat dengan wanita itu, sehingga dia demikian memperhatikan semua keperluanmu..."
"Justeru hal ini yang membuatku heran" kata Giok Han, pipinya berobah merah. "Aku pendatang baru di kota ini, baru kemarin aku sampai di sini, juga aku tidak mempunyai sanak famili maupun sahabat..."
"Hu, sejak kemarin kau selalu memanggilku dengan "sahabat, sahabat, tapi sekarang kau bilang tidak punya sahabat ! Sungguh mulutmu itu keterlaluan sekali, selain ceriwis juga selalu berbohong !"
"Jangan salah paham, kau tidak termasuk dalam ceritaku ini. Memang kuakui, biar pun kita baru berkenalan, tapi kau sudah ku anggap satu-sutunya sahabatku di kota ini!"
Merah pipi si pengemis, dia membuang pandang kesamping, tapi jelas dia senang mendengar kata-kata Giok Han yang terakhir.
"Menurut pelayan." Giok Han melanjutkan ceritanya "Nona itu... nona itu sangat cantik dan berpakaian mewah setidak-tidaknya dia puteri hartawan atau anak pembesar negeri ! Yang membuat aku bingung, dia memberitahukan pada pelayan bahwa aku... bahwa aku... adalah... calan suami nya !"
"Cepat kau berterima kasih kepada Thian!" Berseru si pengemis. "Memperoleh keberuntungan seperti itu tidak mudah terjadi pada sembarang orang, kau benar-benar memiliki nasib sangat bagus !"
"Tunggu dulu, dengar ceritaku belum habis," kata Giok Han lagi. "Aku sendiri tidak merasa punya calon isteri di kota ini... maka kuyakin dia salah mata !"
"Hemmm, di kota ini kau bilang tidak punya calon isteri?" tanya si pengemis
"Ya," Giok Han mengangguk. "Aku tidak mempunyai sanak famili, apa lagi calon isteri di kota ini !"
"Hemmmm, kalau di kota-kora lain tentu banyak calon-calon isterimu ?" tanya si pengemis dengan mulut dimonyongkan.
Pipi Giok Han merah. "Kawan, jangan bergurau. Aku bicara sejujurnya, sampai saat ini aku belum mempunyai calon isteri, di kota manapun juga !"
"Cissss ! Perduli apa denganku!? Kau memiliki sepuluh calon isteri atau seratus calon isteri, apa perduliku?" pengemis itu menunduk, mukanya muram dan kembali ia tampak bersedih hati "Aku benar-benar bernasib buruk... tidak ada seorangpun yang memperhatikan diriku... dari kecil sampai sekarang aku tak pernah memperoleh perhatian siapapun juga, tidak bernasib bagus seperti kau..." Dan air matanya mengalir panjang dikedua pipinya.
Giok Han kaget.
"Kawan kenapa kau ?" tanyanya.
Si pengemis tiba-tiba mengangkat kepalanya tertawa. Padahal air mata masih membasahi mukanya. "Ayo teruskan ceritamu, bukankah kau bilang, bahwa urusan sangat aneh ? Kulihat tidak ada keanehannya ! Wajar kalau calon isteri menyambut kedatangan calon suaminya dengan penuh perhatian..."
"Kau keliru! Bukankah tadi sudah kujelaskan bahwa aku tidak memiliki sanak famili dan apa Iagi caIon isteri ! Karena itu, urusan demikian aneh, aku ingin mengetahui siapa wanita itu yang mengaku sebagai calon isteriku ! Aku ingin minta bantuan, sahabat, kalau kau tidak keberatan membantuku, selidikilah siapa wanita itu sebenarnya. Sebagai penduduk lama di kota ini tentu kau bisa melakukan pekerjaan itu dengan mudah..."
"Ehhh, enak saja kau perintahkan aku menjadi pesuruhmu, selidik kesana selidik kemari ! Kau berani membayarku berapa ?" Kata si pengemis.
Giok Han nyengir pahit. "Tentu saja aku tidak mempunyai maksud jelek seperti itu, aku cuma minta bantuanmu untuk menolongku memecahkan teka-teki yang membingungkan ! Tentu kau bersedia membantuku, bukan ?"
"Teka-teki membingungkan ? Kalau kau mau mendengar kata-kataku, janganlah bingung-bingung lagi. Mulai sekarang kau tenang-tenang saja di kamar hotelmu, bukankah peruntungan sangat bagus kalau tidak lama lagi kau bertemu dengan calon isterimu itu? Jangan suka menentang jodoh, nanti kalau Thian marah, jodohmu jadi macet dan seumur hidup tidak kebagian jodoh lagi !"
"Ah, sahabat, kau jangan bergurau ! Aku sungguh-sungguh..." kata Giok Han.
"Siapa bilang aku bergurau ? Aku juga sungguh-sungguh !" menyahuti si pengemis aseran.
Giok Han menarik napas dalam-dalam, susah mengajak bicara pengemis yang sifatnya seperti angin-anginan ini. Biarpun sudah dijelaskan sedemikian rupa, pengemis, itu tetap saja ugal-ugalan dan aseran.
Bersambung ke jilid 18
This entry was posted
on Kamis, Juli 29, 2010
and is filed under
Cerita Silat,
Cula Naga Pendekar Sakti
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.



0 komentar